• Tidak ada hasil yang ditemukan

Direktori Putusan Mahkamah Agung Republik Indonesia

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "Direktori Putusan Mahkamah Agung Republik Indonesia"

Copied!
56
0
0

Teks penuh

(1)

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Halaman 1 dari 56 hal. Put. Nomor 110 K/Pdt.Sus-Pailit/2016

P U T U S A N

Nomor 110 K/Pdt.Sus-Pailit/2016

DEMI KEADILAN BERDASARKAN KETUHANAN YANG MAHA ESA M A H K A M A H A G U N G

memeriksa perkara perdata khusus gugatan lain-lain pada tingkat kasasi telah memutus sebagai berikut dalam perkara:

WILLIAM EDUARD DANIEL, S.E., S.H., LL.M., M.BL., Kurator PT

Abdi Persada Nusantara (dalam pailit) bertempat tinggal di Office 8, 19th Floor SCBD Lot 28, Jalan Jenderal Sudirman Kavling 52-53, Jakarta Selatan, dalam hal ini memberi kuasa kepada Lumrat Victor Sianturi, S.H., M.H., dan kawan-kawan, para Advokat dan Kpnsultan Hukum William Soeryonegoro dan Partners Law Office, beralamat di Office 8, 19th Floor SCBD Lot 28, Jalan Jenderal Sudirman Kavling 52-53, Jakarta Selatan-12190, berdasarkan Surat Kuasa Khusus tanggal 3 November 2015;

Pemohon Kasasi dahulu Tergugat; L a w a n

GOLDENPOINTE OVERSEAS LIMITED, beralamat di Trident

Chambers, PO Box 146, Road Town, Tortola, British Virgin Islands, yang diwakili oleh Markus Grossmann, Direktur Trident Trust Company (Singapore) Pte. Limited (dahulu bernama Commerzbank International Trust Singapore, beralamat di Trident Chambers, PO Box 146, Road Town, Tortola, British Virgin Islands, dalam hal ini memberi kuasa kepada Prof. Dr. Frans H. Winarta, S.H., M.H., dan kawan-kawan, para Advokat pada kantor hukum Frans Winarta dan partners, beralamat di Kompleks Bukit Gading Mediterania (Florencia), Boulevard Bukit Building Raya Blok A Nomor 15-17, Kelapa Gading Permai, Jakarta Utara-14240, berdasarkan Surat Kuasa Khusus tanggal 16 November 2015;

Termohon Kasasi dahulu Penggugat; Mahkamah Agung tersebut;

Membaca surat surat yang bersangkutan;

Menimbang, bahwa dari surat-surat tersebut ternyata bahwa sekarang Pemohon Kasasi dahulu Tergugat telah mengajukan gugatan lain-lain di depan persidangan Pengadilan Niaga pada Pengadilan Negeri Surabaya, pada pokoknya sebagai berikut:

Disclaimer

Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. Namun dalam hal-hal tertentu masih dimungkinkan terjadi permasalahan teknis terkait dengan akurasi dan keterkinian informasi yang kami sajikan, hal mana akan terus kami perbaiki dari waktu kewaktu. Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui :

Email : [email protected]

(2)

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Halaman 2 dari 56 hal. Put. Nomor 110 K/Pdt.Sus-Pailit/2016

I. Pernyataan Pembukaan (Opening Statement):

1. Pada tanggal 11 Agustus 2008, PT Abdi Persada Nusantaradalam pailit) (“PT APN (dalam pailit)”] dinyatakan pailit melalui Putusan Pengadilan Niaga Surabaya Nomor 10/Pailit/2008/PN Niaga.Sby., tanggal 11 Agustus 2008 (“Putusan Pailit Nomor 10/2008”) (bukti P-1). Dalam perkara kepailitan PT APN (dalam pailit) tersebut, Tergugat ditunjuk sebagai Kurator berdasarkan Putusan Pailit Nomor 10/2008;

2. Selanjutnya, Hakim Pengawas Perkara Kepailitan Nomor 10/2008 mengeluarkan Penetapan Pengadilan Niaga Surabaya Nomor 10/Pailit/2008/PN Niaga Sby tanggal 10 November 2009 (“Penetapan Hakim Pengawas Nomor 10/2009”) (bukti P-2), yang salah satu amarnya menetapkan Penggugat sebagai Kreditor Separatis dan Kreditor Konkuren, serta berhak atas hasil penjualan harta pailit PT APN (dalam pailit) dengan rincian sebagai berikut:

i. Hak selaku Kreditor Separatis: sejumlah Rp19.153.761.334,37 (sembilan belas miliar seratus lima puluh tiga juta tujuh ratus enam puluh satu ribu tiga ratus tiga puluh empat rupiah dan tiga puluh tujuh sen) dan;

ii. Hak selaku Kreditor Konkuren: sejumlah Rp5.028.307.271,71 (lima miliar dua puluh delapan juta tiga ratus tujuh ribu dua ratus tujuh puluh satu rupiah dan tujuh puluh satu sen);

3. Terhadap Penetapan Hakim Pengawas Nomor 10/2009, Penggugat telah mengajukan perlawanan atas Penetapan Hakim Pengawas Nomor 10/2009, yang pada akhirnya diputus oleh Mahkamah Agung RI melalui Putusan Mahkamah Agung RI Nomor 123 K/Pdt.Sus/2010 tanggal 12 Mei 2010 juncto Putusan Pengadilan Niaga Surabaya Nomor 10/Plw-Pailit/2008/PN Niaga Sby juncto Nomor 10/10/Plw-Pailit/2008/PN Niaga Sby tanggal 8 Desember 2009 (“Putusan MARI Nomor 123/2010”) (bukti P-3); 4. Dengan adanya Putusan MARI Nomor 123/2010 yang telah berkekuatan

hukum tetap (in kracht van gewijsde) tersebut, maka Daftar Pembagian Harta Pailit sebagaimana yang ditetapkan dalam Penetapan Hakim Pengawas Nomor 10/2009 harus dilaksanakan. Sehingga, terhitung sejak tanggal 12 Mei 2010, Tergugat selaku Kurator PT APN (dalam pailit) memiliki kewajiban hukum untuk membayarkan hak-hak Penggugat baik selaku Kreditor Separatis maupun selaku Kreditor Konkuren;

Kewajiban hukum Tergugat selaku Kurator PT APN (dalam pailit) tersebut sesuai dengan ketentuan Pasal 201 Undang Undang Nomor 37 Tahun

Disclaimer

Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. Namun dalam hal-hal tertentu masih dimungkinkan terjadi permasalahan teknis terkait dengan akurasi dan keterkinian informasi yang kami sajikan, hal mana akan terus kami perbaiki dari waktu kewaktu. Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui :

Email : [email protected]

(3)

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Halaman 3 dari 56 hal. Put. Nomor 110 K/Pdt.Sus-Pailit/2016

2004 tentang Kepailitan dan Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang (“UU Kepailitan dan PKPU”), yang menyebutkan sebagai berikut:

“Setelah berakhirnya tenggang waktu untuk melihat daftar pembagian sebagaimana dimaksud dalam Pasal 192, atau dalam hal telah diajukan perlawanan setelah putusan perkara perlawanan tersebut diucapkan, Kurator wajib segera membayar pembagian yang sudah ditetapkan”;

5. Akan tetapi, Tergugat tidak melakukan kewajiban hukumnya selaku Kurator, yakni membayar hak-hak Penggugat berdasarkan Penetapan Hakim Pengawas Nomor 10/2009 (vide bukti P-2). Sehingga, Penggugat meminta kepada Tergugat untuk memenuhi hak-haknya atas hasil penjualan harta pailit PT APN (dalam pailit) sesuai dengan Penetapan Hakim Pengawas Nomor 10/2009, berikut dengan hak Penggugat atas penambahan nilai dalam bentuk bunga bank yang timbul akibat disimpannya bagian hak Penggugat tersebut pada Bank Central Asia; Adapun permintaan-permintaan tersebut Penggugat sampaikan secara berulang kali melalui surat-surat sebagai berikut:

i. Surat Law Firm Frans Winarta & Partners Nomor 0219/FWP/JH-AW/V/11 tanggal 20 Mei 2011, Perihal: Pembagian Hasil Penjualan Harta Pailit PT Abdi Persada Nusantara (dalam pailit) (bukti P-4); ii. Surat Law Firm Frans Winarta & Partners Nomor

0404/FWP/PNT-HRB-JH/X/11 tanggal 3 Oktober 2011, Perihal: Tanggapan Atas Surat Kurator PT Abdi Persada Nusantara (dalam pailit) tanggal 31 Mei 2011 (bukti P- 5) dan;

iii. Surat Law Firm Frans Winarta & Partners Nomor 0426/FWP/HRB-JH/X/11 tanggal 24 Oktober 2011, Perihal: Tanggapan Atas Email Kurator PT Abdi Persada Nusantara (dalam pailit) tanggal 12 Oktober 2011 (bukti P-6);

6. Setelah Penggugat berulang kali mengirimkan surat permintaan kepada Tergugat, barulah setelah kurang lebih 1,5 (satu setengah) tahun sejak tanggal diputusnya Putusan MARI Nomor 123/2010 (in casu 12 Mei 2010), tepatnya pada tanggal 4 November 2011, Tergugat membayarkan sebagian hak Penggugat selaku Keditur Separatis, yakni sejumlah USD 1,710,157.00 (satu juta tujuh ratus sepuluh ribu seratus lima puluh tujuh Dolar Amerika Serikat) atau setara dengan Rp14.980.975.320,00 (empat belas miliar sembilan ratus delapan puluh juta sembilan ratus tujuh puluh lima ribu tiga ratus dua puluh rupiah) berdasarkan kurs 1 USD =

Disclaimer

Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. Namun dalam hal-hal tertentu masih dimungkinkan terjadi permasalahan teknis terkait dengan akurasi dan keterkinian informasi yang kami sajikan, hal mana akan terus kami perbaiki dari waktu kewaktu. Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui :

Email : [email protected]

(4)

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Halaman 4 dari 56 hal. Put. Nomor 110 K/Pdt.Sus-Pailit/2016

Rp8.760,00 (delapan ribu tujuh ratus enam puluh rupiah) sebagaimana yang tercantum dalam Surat Tergugat Ref. Nomor 001/APN-Pailit/WED/III/2012 tanggal 6 Maret 2012, Perihal: Tanggapan Atas Surat Rekan tanggal 27 Januari 2012 (“Surat Tergugat Nomor 001/2012”) (bukti P-7);

Atas pembayaran sebagian hak Penggugat selaku Kreditor Separatis yang dilakukan Tergugat tersebut, maka sisa hak Penggugat selaku Kreditor Separatis dan Kreditor Konkuren yang masih harus dibayarkan oleh Tergugat adalah sebagai berikut:

i. Rp3.830.752.266,80 (tiga miliar delapan ratus tiga puluh juta tujuh ratus lima puluh dua ribu dua ratus enam puluh enam rupiah dan delapan puluh sen), selaku Kreditor Separatis;

ii. Rp5.028.307.271,71 (lima miliar dua puluh delapan juta tiga ratus tujuh ribu dua ratus tujuh puluh satu rupiah dan tujuh puluh satu sen), selaku Kreditor Konkuren dan;

iii. Hak Penggugat atas penambahan nilai dalam bentuk bunga yang timbul dari penyimpanan dana yang merupakan hak Penggugat baik selaku Kreditor Separatis maupun Kreditor Konkuren, di dalam rekening PT APN (dalam pailit) pada Bank Central Asia;

7. Oleh karena masih terdapat hak Penggugat selaku Kreditor Separatis dan juga hak Penggugat selaku Kreditor Konkuren yang belum dibayarkan oleh Tergugat, maka Penggugat kembali meminta kepada Tergugat untuk membayar lunas secara segera dan penuh hak-hak Penggugat, melalui surat-surat sebagai berikut:

i. Surat Law Firm Frans Winarta & Partners Nomor 0495/FWP/HRB-JH/XII/11 tanggal 8 Desember 2011, Perihal: Tanggapan Atas Surat Kurator PT Abdi Persada Nusantara (dalam pailit) tanggal 4 November 2011 (bukti P-8);

ii. Surat Law Firm Frans Winarta & Partners Nomor 0046/FWP/JH-KS-RNA/I/12 tanggal 27 Januari 2012, Perihal: Tanggapan Atas Surat Kurator PT Abdi Persada Nusantara (dalam pailit) tanggal 23 Desember 2011 (bukti P-9); dan

iii. Surat Law Firm Frans Winarta & Partners Nomor 0245/FWP/JH-KS-RNA/V/12 tanggal 25 Mei 2012, Perihal: Konfirmasi Pembayaran Seluruh Sisa Tagihan Goldenpointe Overseas Ltd. Atas Hasil Penjualan Harta Pailit PT Abdi Persada Nusantara (bukti P-10);

Disclaimer

Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. Namun dalam hal-hal tertentu masih dimungkinkan terjadi permasalahan teknis terkait dengan akurasi dan keterkinian informasi yang kami sajikan, hal mana akan terus kami perbaiki dari waktu kewaktu. Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui :

Email : [email protected]

(5)

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Halaman 5 dari 56 hal. Put. Nomor 110 K/Pdt.Sus-Pailit/2016

8. Akan tetapi, Tergugat tidak memberikan tanggapan positif atas surat-surat yang dikirimkan oleh Penggugat tersebut. Kemudian, Penggugat menegur Tergugat melalui Surat Law Firm Frans Winarta & Partners Nomor 0338/FWP/JH-KS-RNA/VII/12 tanggal 30 Juli 2012, Perihal: Surat Peringatan (“Surat Peringatan I”) (bukti P-11), yang pada intinya meminta Tergugat untuk memenuhi sisa hak Penggugat selaku Kreditor Konkuren, serta memenuhi hak Penggugat atas penambahan nilai dalam bentuk bunga bank yang timbul dari penyimpanan dana milik Penggugat tersebut; 9. Setelah dikirimkannya Surat Peringatan I (vide bukti P-11), barulah pada

tanggal 1 Agustus 2012, kurang lebih 2 (dua) tahun sejak tanggal diputusnya Putusan MARI Nomor 123/2010 (in casu 12 Mei 2010), Tergugat membayar sebagian hak Penggugat selaku Kreditor Konkuren sejumlah USD 423,436.00 (empat ratus dua puluh tiga ribu empat ratus tiga puluh enam Dolar Amerika Serikat) atau setara dengan Rp4.022.645.817,38 (empat miliar dua puluh dua juta enam ratus empat puluh lima ribu delapan ratus tujuh belas rupiah dan tiga puluh delapan sen) berdasarkan kurs 1 USD = Rp9500,00 sebagaimana yang tercantum dalam surat Tergugat Ref. Nomor 008/APN-Pailit/WED/7/2012 tanggal 31 Juli 2012, Perihal: Tanggapan Atas Surat Peringatan Rekan tanggal 30 Juli 2012 dan tanggal 13 Agustus 2012 (“Surat Tergugat Nomor 008/2012”) (bukti P-12);

Atas pembayaran hak Penggugat selaku Kreditor Konkuren yang dilakukan Tergugat tersebut, maka sisa hak Penggugat selaku Kreditor Separatis dan Kreditor Konkuren yang belum dibayarkan oleh Tergugat adalah sebagai berikut:

i. Rp3.830.752.266,80 (tiga miliar delapan ratus tiga puluh juta tujuh ratus lima puluh dua ribu dua ratus enam puluh enam rupiah dan delapan puluh sen), selaku Kreditor Separatis;

ii. Rp1.005.661.454,33 (satu miliar lima juta enam ratus enam puluh satu ribu empat ratus lima puluh empat rupiah dan tiga puluh tiga sen), selaku Kreditor Konkuren dan;

iii. Hak Penggugat atas penambahan nilai dalam bentuk bunga yang timbul dari penyimpanan dana yang merupakan hak Penggugat baik selaku Kreditor Separatis maupun Kreditor Konkuren, di dalam rekening PT APN (dalam pailit) pada Bank Central Asia;

10. Meskipun Penggugat telah berulang kali meminta kepada Tergugat untuk segera memenuhi hak-hak Penggugat, pada faktanya Tergugat tetap tidak

Disclaimer

Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. Namun dalam hal-hal tertentu masih dimungkinkan terjadi permasalahan teknis terkait dengan akurasi dan keterkinian informasi yang kami sajikan, hal mana akan terus kami perbaiki dari waktu kewaktu. Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui :

Email : [email protected]

(6)

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Halaman 6 dari 56 hal. Put. Nomor 110 K/Pdt.Sus-Pailit/2016

melakukan pembayaran secara lunas atas hak Penggugat selaku Kreditor Separatis dan Kreditor Konkuren sesuai dengan Daftar Pembagian yang telah ditetapkan melalui Penetapan Hakim Pengawas Nomor 10/2009 (vide bukti P-2);

Oleh karena itu, Penggugat kemudian kembali menegur Tergugat melalui Surat Law Firm Frans Winarta & Partners Nomor 0354/FWP/JH-KS-RNA/VIII/12 tanggal 13 Agustus 2012, Perihal: Surat Peringatan II (“Surat Peringatan II”) (bukti P-13), yang intinya meminta agar Tergugat segera memenuhi kewajiban hukumnya selaku Kurator PT APN (dalam pailit) dengan membayar sisa hak Penggugat selaku Kreditor Separatis dan Kreditor Konkuren secara segera dan penuh;

11. Namun demikian, Tergugat tetap tidak mengindahkan Surat Peringatan II dan tetap tidak bersedia untuk melakukan pemenuhan pembayaran hak Penggugat selaku Kreditor Separatis dan Kreditor Konkuren secara lunas dengan berbagai alasan yang tidak berdasar. Hal ini jelas telah menimbulkan ketidakpastian hukum dan kerugian bagi Penggugat yang hak subjektifnya telah dilanggar oleh tindakan Tergugat yang bertentangan dengan kewajiban hukumnya selaku kurator (vide Pasal 201 Undang Undang Kepailitan dan PKPU);

12. Oleh karena adanya ketidakpastian hukum yang Penggugat alami dalam Perkara Kepailitan Nomor 10/2008, Penggugat berupaya untuk memperoleh informasi dan kejelasan mengenai keadaan harta pailit PT APN (dalam pailit) kepada Hakim Pengawas Perkara Kepalitan Nomor 10/2008, melalui Surat Law Firm Frans Winarta & Partners Nomor 0410/FWP/JH-KS-RNA/IX/12 tanggal 26 September 2012, Hal.: Permohonan Informasi Laporan Kurator PT Abdi Persada Nusantara (dalam pailit) dalam Perkara Kepailitan Nomor 10/Pailit/2008/PN Niaga.Sby. di Pengadilan Niaga pada Pengadilan Negeri Surabaya (bukti P-14); 13. Akan tetapi, berdasarkan informasi yang diperoleh Penggugat dari Hakim

Pengawas Perkara Kepailitan Nomor 10/2008 melalui suratnya tanggal 28 November 2012, Perihal: Tanggapan Surat dari - Dr. Frans H. Winarta, S.H., M.H. dkk. Para Advokat pada Law - Firm Frans Winarta & Partners tanggal 26 September 2012 dan tanggal 8 November 2012 (“Surat Hakim Pengawas tanggal 28 November 2012”) (bukti P-15), terungkap bahwa Tergugat selaku Kurator PT APN (dalam pailit) sama sekali belum menyampaikan laporan-laporannya mengenai keadaan harta pailit PT APN (dalam pailit) kepada Hakim Pengawas Perkara Kepailitan Nomor 10/2008.

Disclaimer

Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. Namun dalam hal-hal tertentu masih dimungkinkan terjadi permasalahan teknis terkait dengan akurasi dan keterkinian informasi yang kami sajikan, hal mana akan terus kami perbaiki dari waktu kewaktu. Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui :

Email : [email protected]

(7)

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Halaman 7 dari 56 hal. Put. Nomor 110 K/Pdt.Sus-Pailit/2016

Padahal, Tergugat selaku kurator diwajibkan secara hukum untuk menyampaikan laporannya setiap 3 (tiga) bulan kepada hakim pengawas mengenai keadaan harta pailit dan pelaksanaan tugasnya (vide Pasal 74 ayat (1) Undang Undang Kepailitan dan PKPU);

Dengan fakta tersebut, maka jelas bahwa Tergugat kembali tidak melakukan kewajiban hukumnya selaku kurator (vide Pasal 74 ayat (1) Undang Undang Kepailitan dan PKPU) dalam pengurusan dan pemberesan harta pailit PT APN (dalam pailit) pada Perkara Kepailitan Nomor 10/2008; 14. Atas perbuatan dan sikap Tergugat yang secara melawan hukum telah

melalaikan kewajibannya dalam pengurusan dan pemberesan harta pailit PT APN (dalam pailit) tersebut, Penggugat mengajukan Surat Keberatan kepada Hakim Pengawas Perkara Kepailitan Nomor 10/2008, melalui Surat

Law Firm Frans Winarta & Partners Nomor 0150/FWP/JH-KS-RNA/IV/13

tanggal 24 April 2013, Perihal: Surat Keberatan Terhadap Perbuatan dan Sikap Kurator PT Abdi Persada Nusantara (dalam pailit) Dalam Pengurusan dan Pemberesan Boedel Pailit atas Perkara Kepailitan Nomor 10/Pailit/2008/PN Niaga Sby di Pengadilan Niaga pada Pengadilan Negeri Surabaya (“Surat Keberatan”) (bukti P-16); Melalui Surat Keberatan tersebut, Penggugat menyatakan keberatan atas perbuatan dan sikap Tergugat selaku Kurator, dan memohon kepada Hakim Pengawas Perkara Kepailitan Nomor 10/2008 untuk memerintahkan Tergugat melaksanakan tugasnya sesuai ketentuan hukum yang berlaku, yakni antara lain dengan memerintahkan kepada Tergugat untuk membayarkan hak-hak Penggugat yang masih belum dibayarkan oleh Tergugat;

Menindaklanjuti surat yang dikirimkan oleh Penggugat tersebut, Hakim Pengawas Perkara Kepailitan Nomor 10/2008 telah mengundang Tergugat untuk hadir di Pengadilan Niaga Surabaya guna memberikan klarifikasi atas keberatan yang diajukan oleh Penggugat melalui surat Hakim Pengawas tanggal 6 November 2013 Perihal: Klarifikasi (“Bukti P-17”), dan melalui Surat Hakim Pengawas tanggal 25 November 2013 Perihal: Klarifikasi (“Bukti P-18”);

Akan tetapi, hingga gugatan a quo diajukan, Hakim Pengawas Perkara Kepailitan Nomor 10/2008 masih belum bisa memproses lebih lanjut surat keberatan yang diajukan Penggugat, karena Tergugat tidak pernah memenuhi undangan yang dikirimkan oleh Hakim Pengawas;

15. Dari uraian latar belakang mengenai perkara a quo, maka jelas bahwa Tergugat selaku Kurator Perkara Kepailitan Nomor 10/2008 telah

Disclaimer

Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. Namun dalam hal-hal tertentu masih dimungkinkan terjadi permasalahan teknis terkait dengan akurasi dan keterkinian informasi yang kami sajikan, hal mana akan terus kami perbaiki dari waktu kewaktu. Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui :

Email : [email protected]

(8)

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Halaman 8 dari 56 hal. Put. Nomor 110 K/Pdt.Sus-Pailit/2016

melakukan perbuatan melawan hukum yang merugikan Penggugat karena telah menunda-nunda dan tidak membayarkan secara segera dan penuh hak-hak Penggugat atas hasil penjualan harta pailit PT APN (dalam pailit); Oleh karena itu, Penggugat sangat berharap agar Majelis Hakim yang memeriksa dan memutus perkara a quo dapat memberikan keadilan dan kepastian hukum guna terjaminnya hak dan kepentingan Penggugat sebagai Kreditor Separatis dan Kreditor Konkuren dalam Perkara Kepailitan Nomor 10/2008;

16. Selanjutnya, Penggugat akan menguraikan alasan-alasan dan dasar hukum dari diajukannya gugatan perbuatan melawan hukum ini, sebagai berikut: II. Pengadilan Niaga Surabaya Merupakan Pengadilan Yang Berwenang Untuk

Memeriksa Dan Memutus Perkara Ini;

17. Pengadilan Niaga Surabaya merupakan forum yang berwenang untuk memeriksa dan memutus perkara antara Penggugat selaku Kreditor dengan Tergugat selaku Kurator Perkara Kepailitan Nomor 10/2008 terkait dengan tidak dibayarkannya secara segera dan penuh hak-hak Penggugat selaku Kreditor Separatis dan Kreditor Konkuren, atas hasil penjualan harta pailit PT APN (dalam pailit);

Kompetensi pengadilan niaga ini diatur dalam ketentuan Pasal 300 ayat (1)

juncto Pasal 3 ayat (1) juncto Penjelasan Pasal 3 ayat (1) Undang Undang

Kepailitan dan PKPU juncto Pasal 1 angka 7 Undang Undang Kepailitan dan PKPU, yang masing-masing menyatakan sebagai berikut:

Pasal 300 ayat (1) Undang Undang Kepailitan dan PKPU:

“Pengadilan sebagaimana dimaksud dalam Undang Undang ini, selain memeriksa dan memutus permohonan pernyataan pailit dan Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang, berwenang pula memeriksa dan memutus perkara lain di bidang perniagaan yang penetapannya dilakukan dengan undang-undang”;

Pasal 3 ayat (1) Undang Undang Kepailitan dan PKPU:

“Putusan atas permohonan pernyataan pailit dan hal-hal lain yang berkaitan dan/atau diatur dalam Undang Undang ini, diputuskan oleh Pengadilan yang daerah hukumnya meliputi daerah tempat kedudukan hukum Debitor”;

Penjelasan Pasal 3 ayat (1) Undang Undang Kepailitan dan PKPU:

“Yang dimaksud dengan “hal-hal lain” adalah antara lain, actio pauliana, perlawanan pihak ketiga terhadap penyitaan, atau perkara dimana Debitor, Kreditor, Kurator, atau Pengurus menjadi salah satu pihak

Disclaimer

Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. Namun dalam hal-hal tertentu masih dimungkinkan terjadi permasalahan teknis terkait dengan akurasi dan keterkinian informasi yang kami sajikan, hal mana akan terus kami perbaiki dari waktu kewaktu. Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui :

Email : [email protected]

(9)

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Halaman 9 dari 56 hal. Put. Nomor 110 K/Pdt.Sus-Pailit/2016

dalam perkara yang berkaitan dengan harta pailit termasuk gugatan Kurator terhadap Direksi yang menyebabkan perseroan dinyatakan pailit karena kelalaiannya atau kesalahannya;

Pasal 1 angka 7 Undang Undang Kepailitan dan PKPU:

“Pengadilan adalah Pengadilan Niaga dalam lingkungan peradilan umum”;

18. Berdasarkan ketentuan-ketentuan tersebut di atas, maka jelas bahwa Pengadilan Niaga Surabaya berwenang untuk memeriksa dan memutus perkara a quo dikarenakan Debitor Perkara Kepailitan Nomor 10/2008 [in

casu: PT APN (dalam pailit)] berdomisili di Denpasar, Bali, yang termasuk

daerah hukum (yurisdiksi) Pengadilan Niaga Surabaya berdasarkan ketentuan Pasal 2 ayat (3) Keputusan Presiden Nomor 97 Tahun 1999 Tentang Pembentukan Pengadilan Niaga Pada Pengadilan Negeri Ujung Pandang, Pengadilan Negeri Medan, Pengadilan Negeri Surabaya, dan Pengadilan Negeri Semarang (“Keppres Nomor 97/1999”), sebagai berikut:

“Daerah hukum Pengadilan Niaga pada Pengadilan Negeri Surabaya meliputi Wilayah Propinsi Jawa Timur, Kalimantan Selatan, Kalimantan Tengah, Kalimantan Timur, Bali, Nusa Tenggara Barat, Nusa Tenggara Timur, dan Timor Timur”;

19. Berdasarkan ketentuan-ketentuan Undang Undang Kepailitan dan PKPU, Keppres Nomor 97/1999, serta uraian di atas, maka jelas bahwa Pengadilan Niaga Surabaya memiliki kompetensi untuk memeriksa dan memutus perkara a quo yang timbul akibat ditunda dan tidak dibayarkannya secara segera dan penuh hak-hak Penggugat atas hasil penjualan harta pailit PT APN (dalam pailit) oleh Tergugat selaku Kurator Perkara Kepailitan Nomor 10/2008 kepada Penggugat. Sehingga sudah selayaknya apabila gugatan a quo diterima untuk diperiksa dan diputus oleh Majelis Hakim Pengadilan Niaga Surabaya;

III. Penggugat Dengan Iktikad Baik Telah Mengajukan Keberatan Kepada Hakim Pengawas Terkait Dengan Perbuatan Dan Sikap Kurator Yang Secara Melawan Hukum Telah Melalaikan Kewajibannya Dalam Pengurusan Dan Pemberesan Harta Pailit;

20. Hakim Pengawas memiliki kewenangan untuk melakukan pengawasan terhadap pengurusan dan pemberesan harta pailit yang dilakukan oleh Kurator. Hal tersebut sebagaimana diatur dalam Pasal 65 Undang Undang Kepailitan dan PKPU yang menyatakan sebagai berikut:

Disclaimer

Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. Namun dalam hal-hal tertentu masih dimungkinkan terjadi permasalahan teknis terkait dengan akurasi dan keterkinian informasi yang kami sajikan, hal mana akan terus kami perbaiki dari waktu kewaktu. Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui :

Email : [email protected]

(10)

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Halaman 10 dari 56 hal. Put. Nomor 110 K/Pdt.Sus-Pailit/2016

“Hakim Pengawas mengawasi pengurusan dan pemberesan harta pailit”;

21. Sebagaimana yang telah diuraikan dalam bagian Pernyataan Pembukaan (opening statement), Tergugat telah melalaikan kewajiban hukumnya selaku Kurator PT APN (dalam pailit) dalam membayar hak Penggugat selaku Kreditor Separatis dan Kreditor Konkuren secara segera dan penuh. Selain itu, Tergugat juga telah tidak melaksanakan kewajiban hukumnya selaku Kurator dengan tidak menyampaikan laporan mengenai keadaan harta pailit dan pelaksanaan tugasnya setiap 3 (tiga) bulan kepada Hakim Pengawas Perkara Kepailitan Nomor 10/2008, dan juga tidak memberikan semua keterangan yang diminta oleh Penggugat selaku Kreditor;

22. Atas perbuatan dan sikap Tergugat dalam pengurusan dan pemberesan harta pailit PT APN (dalam pailit) tersebut, Penggugat selaku Kreditor telah mengajukan Surat Keberatan kepada Hakim Pengawas Perkara Kepailitan Nomor 10/2008 (vide bukti P-16);

Dimana melalui Surat Keberatan tersebut, Penggugat menyatakan keberatan atas perbuatan dan sikap Tergugat selaku Kurator dan memohon kepada Hakim Pengawas Perkara Kepailitan Nomor 10/2008 untuk memerintahkan Tergugat melaksanakan tugasnya sesuai ketentuan hukum yang berlaku, yakni antara lain dengan memerintahkan kepada Tergugat untuk membayarkan hak-hak Penggugat yang masih belum dibayarkan oleh Tergugat;

Hal ini sejalan dengan ketentuan Pasal 77 ayat (1) Undang Undang Kepailitan dan PKPU yang menyatakan sebagai berikut:

“Setiap Kreditor, panitia Kreditor, dan Debitor Pailit, dapat mengajukan surat keberatan kepada Hakim Pengawas terhadap perbuatan yang dilakukan oleh Kurator atau memohon kepada Hakim Pengawas untuk mengeluarkan surat perintah agar Kurator melakukan perbuatan tertentu atau tidak melakukan perbuatan yang sudah direncanakan”; 23. Hakim Pengawas Perkara Kepailitan Nomor 10/2008 telah mengundang

Tergugat untuk hadir di Pengadilan Niaga Surabaya guna memberikan klarifikasi atas keberatan yang diajukan oleh Penggugat, melalui surat Hakim Pengawas tanggal 6 November 2013, Perihal: Klarifikasi (vide bukti P-17), dan melalui Surat Hakim Pengawas tanggal 25 November 2013, Perihal: Klarifikasi (vide bukti P-18). Akan tetapi, Hakim Pengawas Perkara Kepailitan Nomor 10/2008 belum bisa memproses lebih lanjut Surat

Disclaimer

Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. Namun dalam hal-hal tertentu masih dimungkinkan terjadi permasalahan teknis terkait dengan akurasi dan keterkinian informasi yang kami sajikan, hal mana akan terus kami perbaiki dari waktu kewaktu. Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui :

Email : [email protected]

(11)

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Halaman 11 dari 56 hal. Put. Nomor 110 K/Pdt.Sus-Pailit/2016

Keberatan yang diajukan Penggugat, karena Tergugat tidak pernah memenuhi undangan yang dikirimkan oleh Hakim Pengawas;

24. Atas hal tersebut, Penggugat kemudian mengirimkan Surat Law Firm Frans Winarta & Partners Nomor 0387/FWP/HRB-JH-KS/X/13 tanggal 10 Oktober 2013 Hal: Permohonan Untuk Menindaklanjuti Surat Keberatan Terhadap Perbuatan dan Sikap Kurator PT Abdi Persada Nusantara (dalam pailit) Dalam Pengurusan dan Pemberesan Boedel Pailit atas Perkara Kepailitan Nomor 10/Pailit/2008/PN Niaga. Sby, di Pengadilan Niaga pada Pengadilan Negeri Surabaya (bukti P-19), yang pada intinya berisi permohonan kepada Hakim Pengawas untuk segera menindaklanjuti surat keberatan yang telah diajukan Penggugat; Namun, Hakim Pengawas masih belum memberikan tanggapan atas permohonan yang diajukan Penggugat tersebut;

25. Berlarut-larutnya proses pembayaran hak Penggugat selaku Kreditor, jelas telah menimbulkan ketidakpastian hukum yang sangat merugikan Penggugat; Sehingga untuk mencegah agar permasalahan hukum yang dialami Penggugat semakin berlarut-larut dan menimbulkan kerugian yang semakin besar bagi Penggugat, maka Penggugat tidak memiliki pilihan lain selain mengajukan gugatan a quo terhadap Tergugat;

IV. Tergugat Telah Melakukan Perbuatan Melawan Hukum Karena Telah Menunda Dan Tidak Membayarkan Secara Segera Dan Penuh Hak-Hak Penggugat Selaku Kreditor Separatis Dan Kreditor Konkuren Atas Hasil Penjualan Harta Pailit PT APN (Dalam Pailit);

26. Sebagaimana telah diuraikan dalam Pernyataan Pembukaan (Opening

Statement) gugatan ini, Tergugat selaku Kurator dalam Perkara Kepailitan

Nomor 10/2008 telah menunda-nunda dan tidak membayarkan secara segera dan penuh hasil penjualan harta pailit PT APN (dalam pailit) kepada Penggugat selaku Kreditor Separatis dan Kreditor Konkuren berdasarkan Penetapan Hakim Pengawas Nomor 10/2009 (vide bukti P-2);

27. Selain itu, Tergugat selaku Kurator dalam Perkara Kepailitan Nomor 10/2008 tidak melaksanakan kewajibannya dalam penyampaian laporan mengenai keadaan harta pailit dan pelaksanaan tugasnya setiap 3 (tiga) bulan kepada Hakim Pengawas Perkara Kepailitan Nomor 10/2008 sebagaimana yang diwajibkan oleh ketentuan Pasal 74 ayat (1) Undang Undang Kepailitan dan PKPU;

28. Perbuatan-perbuatan Tergugat selaku Kurator PT APN (dalam pailit) tersebut telah memenuhi secara kumulatif keempat unsur perbuatan melawan hukum sebagaimana dimaksud dalam ketentuan Pasal 1365

Disclaimer

Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. Namun dalam hal-hal tertentu masih dimungkinkan terjadi permasalahan teknis terkait dengan akurasi dan keterkinian informasi yang kami sajikan, hal mana akan terus kami perbaiki dari waktu kewaktu. Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui :

Email : [email protected]

(12)

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Halaman 12 dari 56 hal. Put. Nomor 110 K/Pdt.Sus-Pailit/2016 Burgelijk Wetboek (“BW”) juncto Arrest Hoge Raad 31 Januari 1919 dalam

perkara Cohen V. Lindenbaum serta berdasarkan doktrin hukum yang dikemukakan oleh R. Setiawan, S.H., dalam bukunya yang berjudul Pokok-pokok Hukum Perikatan, Cetakan Keenam, Penerbit Binacipta, Bandung, 1999, halaman 75 s.d. 88, yakni sebagai berikut:

i. Adanya suatu perbuatan yang melanggar suatu hak subjektif orang lain, atau bertentangan dengan kewajiban hukum si pembuat, atau bertentangan dengan kesusilaan atau kepatutan dalam pergaulan hidup dalam masyarakat perihal memperhatikan kepentingan orang lain; ii. Adanya kesalahan pada diri si pembuat, yang dilakukan dengan

sengaja atau tidak sengaja;

iii. Adanya kerugian pada diri Penggugat; dan

iv. Adanya hubungan kausal (sebab akibat) antara perbuatan si pembuat dengan kerugian yang timbul;

29. Selanjutnya Penggugat akan menguraikan pemenuhan unsur-unsur perbuatan melawan hukum oleh Tergugat selaku Kurator PT APN (dalam pailit) dalam Perkara Kepailitan Nomor 10/2008:

i. adanya suatu perbuatan yang melanggar suatu hak subjektif orang lain, atau bertentangan dengan kewajiban hukum si pembuat, atau bertentangan dengan kesusilaan atau kepatutan dalam pergaulan hidup dalam masyarakat perihal memperhatikan kepentingan orang lain;  Tergugat telah melanggar hak subjektif Penggugat selaku Kreditor

Separatis dan Kreditor Konkuren yang berhak atas pembayaran hasil penjualan harta pailit PT APN (dalam pailit) berdasarkan Penetapan Hakim Pengawas Nomor 10/2009;

Sejak diputusnya perkara perlawanan pada tanggal 12 Mei 2010 oleh Mahkamah Agung RI melalui Putusan MARI Nomor 123/2010 (vide bukti P-3), maka perkara perlawanan telah berkekuatan hukum tetap (in kracht van gewijsde). Oleh karenanya, berdasarkan ketentuan Pasal 201 Undang Undang Kepailitan dan PKPU, Tergugat selaku Kurator PT APN (dalam pailit) wajib dengan segera melakukan pembayaran hasil penjualan harta pailit PT APN (dalam pailit) kepada Penggugat sesuai dengan hak yang dimilikinya berdasarkan Penetapan Hakim Pengawas Nomor 10/2009 (vide bukti P-2), sebagai berikut:

a. Rp19.153.761.334,37 (sembilan belas miliar seratus lima puluh tiga juta tujuh ratus enam puluh satu ribu tiga ratus tiga puluh

Disclaimer

Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. Namun dalam hal-hal tertentu masih dimungkinkan terjadi permasalahan teknis terkait dengan akurasi dan keterkinian informasi yang kami sajikan, hal mana akan terus kami perbaiki dari waktu kewaktu. Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui :

Email : [email protected]

(13)

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Halaman 13 dari 56 hal. Put. Nomor 110 K/Pdt.Sus-Pailit/2016

empat rupiah dan tiga puluh tujuh sen), selaku Kreditor Separatis, dan;

b. Rp5.028.307.271,71 (lima miliar dua puluh delapan juta tiga ratus tujuh ribu dua ratus tujuh puluh satu rupiah dan tujuh puluh satu sen), selaku Kreditor Konkuren;

Adapun Pembayaran hasil penjualan harta pailit PT APN (dalam pailit) berdasarkan Penetapan Hakim Pengawas Nomor 10/2009 merupakan bagian yang wajib diterima oleh Penggugat selaku Kreditor secara penuh dari Tergugat selaku Kurator;

Hal ini sebagaimana diatur dalam ketentuan Pasal 189 Ayat (1) dan (2) Undang Undang Kepailitan dan PKPU yang menyatakan sebagai berikut:

“1. Kurator wajib menyusun suatu daftar pembagian untuk dimintakan persetujuan kepada Hakim Pengawas;

2. Daftar pembagian sebagaimana dimaksud pada ayat (1) memuat rincian penerimaan dan pengeluaran termasuk di dalamnya upah Kurator, nama Kreditor, jumlah yang dicocokan dari tiap-tiap piutang, dan bagian yang wajib diterimakan kepada Kreditor”;

Namun demikian, Tergugat selaku Kurator PT APN (dalam pailit) justru menahan hak-hak Penggugat dengan tidak melaksanakan pembayaran secara segera dan penuh atas hasil penjualan harta pailit PT APN (dalam pailit) kepada Penggugat sesuai dengan hak yang melekat pada Penggugat selaku Kreditor Separatis dan Kreditor Konkuren. Oleh karena itu, Penggugat kemudian menuntut hak-haknya selaku Kreditor Separatis dan Kreditor Konkuren kepada Tergugat secara berulang kali (vide bukti P-4 s.d. bukti P-10); Dalam surat-suratnya tersebut (vide bukti P-4 s.d. bukti P-10), Penggugat meminta agar Tergugat memenuhi hak-hak Penggugat selaku Kreditor Separatis dan Kreditor Konkuren dalam Perkara Kepailitan Nomor 10/2008, serta memenuhi hak Penggugat atas penambahan nilai dalam bentuk bunga yang timbul dari penyimpanan dana yang merupakan hak Penggugat baik selaku Kreditor Separatis maupun Kreditor Konkuren, di dalam rekening PT APN (dalam pailit) pada Bank Central Asia;

Setelah kurang lebih 1.5 (satu setengah) tahun sejak tanggal diputusnya Putusan MARI Nomor 123/2010 (in casu 12 Mei 2010),

Disclaimer

Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. Namun dalam hal-hal tertentu masih dimungkinkan terjadi permasalahan teknis terkait dengan akurasi dan keterkinian informasi yang kami sajikan, hal mana akan terus kami perbaiki dari waktu kewaktu. Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui :

Email : [email protected]

(14)

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Halaman 14 dari 56 hal. Put. Nomor 110 K/Pdt.Sus-Pailit/2016

tepatnya pada tanggal 4 November 2011, Tergugat membayar sebagian hak Penggugat selaku Kreditor Separatis sejumlah USD 1,710,157.00 (satu juta tujuh ratus sepuluh ribu seratus lima puluh tujuh Dolar Amerika Serikat). Dimana jumlah tersebut setara dengan Rp14.980.975.320,00 (empat belas miliar sembilan ratus delapan puluh juta sembilan ratus tujuh puluh lima ribu tiga ratus dua puluh Rupiah) berdasarkan kurs 1 USD= Rp8.760,00 (vide bukti P-7); Selain itu, kurang lebih 2 (dua) tahun sejak tanggal diputusnya Putusan MARI Nomor 123/2010 (in casu 12 Mei 2010), tepatnya pada tanggal 1 Agustus 2012, Tergugat baru membayar sebagian hak Penggugat selaku Kreditor Konkuren sejumlah USD 423,436.00 (empat ratus dua puluh tiga ribu empat ratus tiga puluh enam Dolar Amerika Serikat);

Dimana jumlah tersebut setara dengan Rp4.022.645.817,38 (empat miliar dua puluh dua juta enam ratus empat puluh lima ribu delapan ratus tujuh belas rupiah dan tiga puluh delapan sen) berdasarkan kurs 1 USD = Rp9500,00 (vide bukti P-12);

Adapun kemudian Tergugat berhenti memenuhi hak-hak Penggugat, dan hingga saat gugatan a quo diajukan, Kurator PT APN (dalam pailit) masih menahan dan tidak membagikan hak-hak Penggugat sebagai berikut:

a. Rp3.830.752.266,80 (tiga miliar delapan ratus tiga puluh juta tujuh ratus lima puluh dua ribu dua ratus enam puluh enam rupiah dan delapan puluh sen), selaku Kreditor Separatis; b. Rp1.005.661.454,33 (satu miliar lima juta enam ratus enam

puluh satu ribu empat ratus lima puluh empat rupiah dan tiga puluh tiga sen), selaku Kreditor Konkuren; dan

c. Hak Penggugat atas penambahan nilai dalam bentuk bunga yang timbul dari penyimpanan dana yang merupakan hak Penggugat baik selaku Kreditor Separatis maupun Kreditor Konkuren, di dalam rekening PT APN (dalam pailit) pada Bank Central Asia;

Tindakan Tergugat yang tidak dengan segera dan penuh melakukan pembayaran atas hak-hak Penggugat selaku Kreditor Separatis dan Kreditor Konkuren berdasarkan Penetapan Hakim Pengawas Nomor 10/2009, merupakan tindakan yang melanggar hak subjektif Penggugat sebagaimana dinyatakan oleh Rachmat

Disclaimer

Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. Namun dalam hal-hal tertentu masih dimungkinkan terjadi permasalahan teknis terkait dengan akurasi dan keterkinian informasi yang kami sajikan, hal mana akan terus kami perbaiki dari waktu kewaktu. Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui :

Email : [email protected]

(15)

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Halaman 15 dari 56 hal. Put. Nomor 110 K/Pdt.Sus-Pailit/2016

Setiawan, S.H. dalam bukunya berjudul Tinjauan Elementer Perbuatan Melanggar Hukum, Penerbit Binacipta, Bandung, 1981, halaman 12, sebagai berikut:

“Yang dimaksud melanggar hak orang lain ialah melanggar hak subjektif orang lain;

Hak-hak subjektif yang penting berkenaan dengan perbuatan melawan hukum yang diakui oleh Yurisprudensi ialah hak-hak pribadi seperti hak atas kebebasan, nama baik dan kehormatan dan hak-hak harta kekayaan”;

Dalam hal ini tentunya yang dirugikan adalah hak Penggugat selaku Kreditor Separatis dan Kreditor Konkuren yang tidak dibayarkan secara segera dan penuh oleh Tergugat;

Berdasarkan uraian di atas, jelas tindakan Tergugat selaku Kurator PT APN (dalam pailit) yang menahan dan tidak membayar dengan segera dan penuh hak-hak Penggugat, merupakan tindakan yang melanggar hak subjektif Penggugat selaku Kreditor Separatis dan Kreditor Konkuren berdasarkan Penetapan Hakim Pengawas Nomor 10/2009, yang berhak atas pembagian penuh beserta penambahan nilai dalam bentuk bunga dari hasil penjualan harta pailit PT APN (dalam pailit) (vide Pasal 201 Undang Undang Kepailitan dan PKPU);

 Tergugat tidak melaksanakan kewajiban hukumnya selaku Kurator PT APN (dalam pailit) dengan menahan dan tidak membayarkan secara segera dan penuh hak-hak Penggugat selaku Kreditor Separatis dan Kreditor Konkuren berdasarkan Penetapan Hakim Pengawas Nomor 10/2009;

Tergugat selaku Kurator, mempunyai tugas untuk melakukan pemberesan harta pailit dan wajib segera membayar pembagian yang sudah ditetapkan oleh Hakim Pengawas dalam Penetapan Hakim Pengawas Nomor 10/2009 (vide bukti P-2). Hal ini sebagaimana diatur dalam ketentuan Pasal 69 ayat (1) juncto Pasal 201 Undang Undang Kepailitan dan PKPU, yang masing-masing menyatakan sebagai berikut:

Pasal 69 ayat (1) Undang Undang Kepailitan dan PKPU:

“Tugas Kurator adalah melakukan pengurusan dan/atau pemberesan harta pailit”;

Disclaimer

Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. Namun dalam hal-hal tertentu masih dimungkinkan terjadi permasalahan teknis terkait dengan akurasi dan keterkinian informasi yang kami sajikan, hal mana akan terus kami perbaiki dari waktu kewaktu. Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui :

Email : [email protected]

(16)

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Halaman 16 dari 56 hal. Put. Nomor 110 K/Pdt.Sus-Pailit/2016

Pasal 201 Undang Undang Kepailitan dan PKPU:

“Setelah berakhirnya tenggang waktu untuk melihat daftar pembagian sebagaimana dimaksud dalam Pasal 192, atau dalam hal telah diajukan perlawanan setelah putusan perkara perlawanan tersebut diucapkan, Kurator wajib segera membayar pembagian yang sudah ditetapkan”;

Sebagaimana telah diuraikan sebelumnya, walaupun perkara perlawanan atas Penetapan Hakim Pengawas Nomor 10/2009 (vide bukti P-2) telah diputus Mahkamah Agung RI melalui Putusan MARI Nomor 123/2010 yang telah berkekuatan hukum tetap (in kracht van

gewijsde), Tergugat selaku Kurator PT APN (dalam pailit) tetap

menahan dan tidak membayar secara segera dan penuh hak-hak Penggugat selaku Kreditor Separatis dan Kreditor Konkuren;

Oleh karena itu, jelas Tergugat selaku Kurator PT APN (dalam pailit) tidak melaksanakan kewajiban hukumnya berdasarkan ketentuan Pasal 69 ayat (1) juncto Pasal 201 Undang Undang Kepailitan dan PKPU, dengan menahan dan tidak membayarkan secara segera dan penuh hak-hak yang dimiliki Penggugat selaku Kreditor Separatis dan Kreditor Konkuren berdasarkan Penetapan Hakim Pengawas Nomor 10/2009 (vide bukti P-2);

 Tergugat tidak melaksanakan kewajiban hukum penyampaian laporan mengenai keadaan harta pailit dan pelaksanaan tugasnya setiap 3 (tiga) bulan kepada Hakim Pengawas Perkara Kepailitan Nomor 10/2008, dan Tergugat juga tidak melaksanakan kewajiban hukum untuk memberikan semua keterangan yang diminta oleh Kreditor;

Tergugat selaku Kurator PT APN (dalam pailit) memiliki kewajiban hukum untuk menyampaikan laporan mengenai keadaan harta pailit dan pelaksanaan tugasnya setiap 3 (tiga) bulan kepada Hakim Pengawas Perkara Kepailitan Nomor 10/2008;

Hal ini sebagaimana diatur secara imperatif dalam ketentuan Pasal 74 ayat (1) Undang Undang Kepailitan dan PKPU, sebagai berikut:

“Kurator harus menyampaikan laporan kepada Hakim Pengawas mengenai keadaan harta pailit dan pelaksanaan tugasnya setiap 3 (tiga) bulan”;

Namun demikian, pada faktanya Tergugat selaku Kurator PT APN (dalam pailit) tidak melaksanakan kewajiban hukum dalam

Disclaimer

Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. Namun dalam hal-hal tertentu masih dimungkinkan terjadi permasalahan teknis terkait dengan akurasi dan keterkinian informasi yang kami sajikan, hal mana akan terus kami perbaiki dari waktu kewaktu. Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui :

Email : [email protected]

(17)

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Halaman 17 dari 56 hal. Put. Nomor 110 K/Pdt.Sus-Pailit/2016

ketentuan Pasal 74 ayat (1) Undang Undang Kepailitan dan PKPU tersebut. Hal ini sebagaimana dinyatakan oleh Hakim Pengawas Perkara Kepailitan Nomor 10/2008 melalui Surat Hakim Pengawas tanggal 28 November 2012 (vide bukti P-15), sebagai berikut:

“…, maka dengan ini saya selaku Hakim Pengawas Kepailitan PT Abdi Persada Nusantara (dalam pailit) yang ditunjuk berdasarkan Penetapan Majelis Hakim Pengadilan Niaga pada Pengadilan Negeri Surabaya tanggal 1 November 2011 Nomor 10/Plw.Pailit/2008 juncto Nomor 10/Pailit/2008/PN Niaga Sby dengan ini disampaikan bahwa Kurator Kepailitan PT Abdi Persada Nusantara (Dalam Pailit), sampai saat ini belum menyampaikan laporan-laporannya mengenai keadaan harta pailit PT Abdi Persada Nusantara (dalam pailit) kepada Hakim Pengawas”;

Sehubungan dengan hal tersebut, Penggugat selaku Kreditor Separatis dan Kreditor Konkuren telah berulang kali meminta informasi mengenai Rekening Koran PT APN (dalam pailit) kepada Tergugat;

Hal ini tidak lain untuk mendapatkan informasi mengenai penambahan nilai dalam bentuk bunga yang timbul dari penyimpanan hak-hak Penggugat selaku Kreditor Separatis dan Kreditor Konkuren atas hasil penjualan harta pailit PT APN (Dalam Pailit), sejak tanggal ditetapkannya Penetapan Hakim Pengawas Nomor 10/2009 (vide bukti P-2). Permohonan informasi yang diajukan oleh Penggugat tersebut telah sesuai dengan ketentuan Pasal 143 ayat (1) Undang Undang Kepailitan dan PKPU yang menyatakan sebagai berikut:

“Setelah berakhirnya pencocokan piutang, kurator wajib memberikan laporan mengenai keadaan pailit, dan selanjutnya kepada Kreditor wajib diberikan semua keterangan yang diminta oleh mereka”;

Padahal, Tergugat dalam Poin 7 Halaman 3 Surat Tergugat Nomor 008/2012 (vide bukti P-12), telah menyatakan sebagai berikut:

“… Perlu kami sampaikan bahwa seluruh dokumen-dokumen yang menyangkut kepengurusan harta pailit APN, termasuk rekening koran dan dokumen lain-lain hanya akan kami sampaikan kepada Hakim Pengawas dalam laporan

Disclaimer

Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. Namun dalam hal-hal tertentu masih dimungkinkan terjadi permasalahan teknis terkait dengan akurasi dan keterkinian informasi yang kami sajikan, hal mana akan terus kami perbaiki dari waktu kewaktu. Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui :

Email : [email protected]

(18)

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Halaman 18 dari 56 hal. Put. Nomor 110 K/Pdt.Sus-Pailit/2016

pertanggungjawaban Kurator sesuai dengan ketentuan Undang Undang Kepailitan yang berlaku”;

Pernyataan Tergugat dalam suratnya tersebut jelas sangat bertolak belakang dengan pernyataan Hakim Pengawas Perkara Kepailitan Nomor 10/2008 dalam Surat Hakim Pengawas tanggal 28 November 2012 (vide bukti P-15), yang pada intinya menyatakan bahwa Tergugat belum menyampaikan laporan-laporannya. Hal ini menunjukkan adanya iktikad buruk (te kwaader trouw) dari Tergugat selaku Kurator PT APN (dalam pailit) yang berupaya membuat kabur dan menyembunyikan keadaan penambahan nilai dalam bentuk bunga atas hak-hak yang dimiliki oleh Penggugat;

Selain itu, dengan menolak untuk memberikan informasi kepada Penggugat mengenai penambahan nilai dalam bentuk bunga yang timbul dari penyimpanan hak-hak Penggugat selaku Kreditor Separatis dan Kreditor Konkuren atas hasil penjualan harta pailit PT APN (dalam pailit) sejak tanggal ditetapkannya Penetapan Hakim Pengawas Nomor 10/2009, maka Tergugat juga telah melanggar ketentuan Pasal 143 Ayat (1) Undang Undang Kepailitan dan PKPU yang menyebutkan sebagai berikut:

“Setelah berakhirnya pencocokan piutang, Kurator wajib memberikan laporan mengenai keadaan harta pailit, dan selanjutnya kepada Kreditor wajib diberikan semua keterangan yang diminta oleh mereka”;

Berdasarkan uraian di atas, jelas Tergugat selaku Kurator PT APN (dalam pailit) tidak melaksanakan kewajiban hukumnya berdasarkan ketentuan Pasal 74 ayat (1) Undang Undang Kepailitan dan PKPU, karena tidak menyampaikan laporan-laporan mengenai keadaan harta pailit PT APN (dalam pailit) dan pelaksanaan tugasnya setiap 3 (tiga) bulan kepada Hakim Pengawas Perkara Kepailitan Nomor 10/2008;

 Tindakan Tergugat selaku Kurator PT APN (dalam pailit) yang menunda dan tidak membayarkan secara segera dan penuh hak-hak yang dimiliki Penggugat selaku Kreditor Separatis dan Kreditor Konkuren berdasarkan Penetapan Hakim Pengawas Nomor 10/2009, merupakan tindakan yang bertentangan dengan kepatutan dalam masyarakat;

Disclaimer

Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. Namun dalam hal-hal tertentu masih dimungkinkan terjadi permasalahan teknis terkait dengan akurasi dan keterkinian informasi yang kami sajikan, hal mana akan terus kami perbaiki dari waktu kewaktu. Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui :

Email : [email protected]

(19)

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Halaman 19 dari 56 hal. Put. Nomor 110 K/Pdt.Sus-Pailit/2016

Tergugat selaku Kurator PT APN (dalam pailit) merupakan profesional yang diangkat oleh Pengadilan Niaga Surabaya untuk melakukan pengurusan dan pemberesan harta pailit PT APN (dalam pailit) dalam Perkara Kepailitan Nomor 10/2008;

Selaku kurator, sudah sepatutnya Tergugat menjaga integritas dan kepercayaan publik (masyarakat) terhadap profesi kurator dengan melaksanakan tugas dan kewajiban-kewajibannya sesuai dengan ketentuan hukum yang berlaku dan tidak merugikan masyarakat; Hal ini sebagaimana pendapat R. Setiawan, S.H. dalam bukunya berjudul Tinjauan Elementer Perbuatan Melanggar Hukum, Penerbit Binacipta, Cetakan Pertama, Bandung, 1991, halaman 14 s.d. 15, sebagai berikut:

“Setiap manusia harus menyadari bahwa ia adalah bagian dari anggota masyarakat dan karenanya dalam perbuatan dan tingkah lakunya harus memperhatikan kepentingan-kepentingan sesamanya;

Pada garis besarnya dapat dinyatakan, bahwa suatu perbuatan adalah bertentangan dengan kepatutan jika:

1. perbuatan tersebut sangat merugikan orang lain tanpa kepentingan yang layak;

2. ...”;

Dalam Perkara Kepailitan Nomor 10/2008, Penggugat merupakan anggota masyarakat yang menaruh kepercayaannya terhadap lembaga kepailitan berdasarkan hukum yang berlaku di Indonesia. Dimana Penggugat memiliki harapan bahwa proses kepailitan PT APN (dalam pailit) dapat berjalan dengan memperhatikan hak dan kepentingannya yang dijamin oleh hukum selaku Kreditor Separatis dan Kreditor Konkuren;

Namun, Tergugat selaku Kurator PT APN (Dalam Pailit), tanpa kepentingan yang layak justru telah melakukan perbuatan yang merugikan Penggugat dengan menunda dan tidak membagikan secara segera dan penuh hak-hak yang dimiliki Penggugat selaku Kreditor Separatis dan Kreditor Konkuren berdasarkan Penetapan Hakim Pengawas Nomor 10/2009. Tindakan Tergugat yang merugikan Penggugat ini sudah sepatutnya tidak dilakukan dan tentunya tindakan Tergugat tersebut telah menghilangkan kepercayaan Penggugat atas lembaga kepailitan di Indonesia;

Disclaimer

Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. Namun dalam hal-hal tertentu masih dimungkinkan terjadi permasalahan teknis terkait dengan akurasi dan keterkinian informasi yang kami sajikan, hal mana akan terus kami perbaiki dari waktu kewaktu. Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui :

Email : [email protected]

(20)

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Halaman 20 dari 56 hal. Put. Nomor 110 K/Pdt.Sus-Pailit/2016

Berdasarkan hal tersebut di atas, tindakan Tergugat selaku Kurator PT APN (dalam pailit) yang telah menunda dan tidak membayarkan secara segera dan penuh hak-hak yang dimiliki Penggugat selaku Kreditor Separatis dan Kreditor Konkuren tanpa suatu kepentingan yang layak, merupakan perbuatan yang bertentangan dengan kepatutan dan merugikan Penggugat;

Berdasarkan uraian-uraian di atas, jelas perbuatan Tergugat selaku Kurator PT APN (dalam pailit) terkualifikasi sebagai perbuatan melawan hukum sebagaimana yang dimaksud oleh R. Setiawan, S.H. dalam bukunya berjudul Tinjauan Elementer Perbuatan Melanggar Hukum, Penerbit Binacipta, Cetakan Pertama, Bandung, 1991, halaman 12, sebagai berikut:

“Sejak arrest 1919, suatu perbuatan merupakan perbuatan melawan hukum, apabila:

1. Melanggar hak orang lain, atau

2. Bertentangan dengan kewajiban hukum si pembuat, atau 3. Bertentangan dengan kesusilaan yang baik, atau

4. Bertentangan dengan kepatutan yang terdapat dalam masyarakat terhadap diri atau barang orang lain”;

Dengan demikian, tindakan Tergugat selaku Kurator PT APN (dalam pailit) yang menahan dan tidak membayar secara segera dan penuh hak-hak Penggugat selaku Kreditor Separatis dan Kreditor Konkuren atas hasil penjualan harta pailit PT APN (dalam pailit) telah memenuhi unsur pertama dari keempat unsur-unsur perbuatan melawan hukum; ii. Adanya kesalahan pada diri si pembuat, yang dilakukan dengan

sengaja atau tidak sengaja;

Tergugat selaku kurator mengetahui benar bahwa Penggugat berhak atas pembayaran hasil penjualan harta pailit PT APN (dalam pailit) dan penambahan nilai berupa bunga yang timbul atas ditempatkannya hak tersebut di rekening PT APN (dalam pailit) pada Bank Central Asia; Dalam Surat Tergugat Nomor 001/2012 (vide bukti P-7), Tergugat pada intinya menyatakan akan membayar secara penuh hak-hak Penggugat; Akan tetapi, Tergugat justru secara sengaja menahan dan tidak membagikan secara segera dan penuh hak-hak yang dimiliki Penggugat selaku Kreditor Separatis dan Kreditor Konkuren;

Hal tersebut tetap dilakukan oleh Tergugat hingga gugatan a quo diajukan, walaupun Tergugat sebagai kurator sudah sepatutnya

Disclaimer

Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. Namun dalam hal-hal tertentu masih dimungkinkan terjadi permasalahan teknis terkait dengan akurasi dan keterkinian informasi yang kami sajikan, hal mana akan terus kami perbaiki dari waktu kewaktu. Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui :

Email : [email protected]

(21)

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Halaman 21 dari 56 hal. Put. Nomor 110 K/Pdt.Sus-Pailit/2016

mengetahui dan dapat menduga bahwa tindakannya tersebut adalah bertentangan dengan ketentuan hukum yang berlaku dan kepatutan serta menyebabkan kerugian bagi Penggugat;

Berdasarkan uraian tersebut di atas, jelas bahwa tindakan Tergugat selaku kurator yang menyadari keberadaan hak-hak Penggugat namun dengan sengaja menahan dan tidak membayarkan secara segera dan penuh hak-hak Penggugat selaku Kreditor Separatis dan Kreditor Konkuren dalam Perkara Kepailitan Nomor 10/2008 tersebut, telah memenuhi unsur ke-2 dari keempat unsur-unsur perbuatan melawan hukum, yaitu adanya kesalahan pada diri si pembuat;

iii. Adanya kerugian pada diri Penggugat;

Tindakan Tergugat yang tidak membayar secara segera dan penuh hak-hak Penggugat selaku Kreditor Separatis dan Kreditor Konkuren berdasarkan Penetapan Hakim Pengawas Nomor 10/2009, telah menimbulkan kerugian materiil bagi Penggugat;

Adapun dalam menentukan ganti kerugian karena perbuatan melawan hukum dapat diterapkan ketentuan yang sama dengan ganti kerugian akibat wanprestasi. Hal ini sejalan dengan doktrin hukum Prof. Dr. Rosa Agustina, S.H., M.H., dalam bukunya Perbuatan Melawan Hukum, Penerbit Program Pascasarjana, Fakultas Hukum, Universitas Indonesia 2003, Jakarta, Halaman 52 yang berbunyi menyatakan sebagai berikut:

“untuk penentuan ganti kerugian karena perbuatan melawan hukum dapat diterapkan ketentuan-ketentuan yang sama dengan ketentuan tentang ganti kerugian karena wanprestasi”;

Berikut ini kami uraikan kerugian materiil yang dialami Penggugat: a. Kerugian dalam bentuk sisa hak Penggugat selaku Kreditor

Separatis dan Kreditor Konkuren yang masih belum dibayarkan oleh Tergugat selaku Kurator PT APN (Dalam Pailit);

Sejak Putusan MARI Nomor 123/2010 diputus pada tanggal 12 Mei 2010, Tergugat baru membayarkan sebagian hak Penggugat, yakni:  Hak selaku Kreditor Separatis: sejumlah USD 1,710,157.00 (satu juta tujuh ratus sepuluh ribu seratus lima puluh tujuh Dolar Amerika Serikat) atau setara dengan Rp14.980.975.320,00 (empat belas miliar sembilan ratus delapan puluh juta sembilan ratus tujuh puluh lima ribu tiga ratus dua puluh Rupiah) berdasarkan kurs 1 USD = Rp8.760,00, dan;

Disclaimer

Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. Namun dalam hal-hal tertentu masih dimungkinkan terjadi permasalahan teknis terkait dengan akurasi dan keterkinian informasi yang kami sajikan, hal mana akan terus kami perbaiki dari waktu kewaktu. Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui :

Email : [email protected]

(22)

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Halaman 22 dari 56 hal. Put. Nomor 110 K/Pdt.Sus-Pailit/2016  Hak selaku Kreditor Konkuren: sejumlah USD 423,436.00 (empat ratus dua puluh tiga ribu empat ratus tiga puluh enam Dolar Amerika Serikat) atau setara dengan Rp4.022.645.817,38 (empat miliar dua puluh dua juta enam ratus empat puluh lima ribu delapan ratus tujuh belas rupiah dan tiga puluh delapan sen) berdasarkan kurs 1 USD = Rp9.500,00 (Sembilan ribu lima ratus rupiah);

Dengan demikian, sampai dengan gugatan ini diajukan, Penggugat masih memiliki sisa hak yang belum dibayarkan oleh Tergugat selaku Kurator PT APN (dalam pailit) yakni sejumlah Rp4.836.413.721,13 (empat miliar delapan ratus tiga puluh enam juta empat ratus tiga belas ribu tujuh ratus dua puluh satu rupiah dan tiga belas sen), dengan perincian sebagai berikut:

 Sisa hak selaku Kreditor Separatis: sejumlah Rp3.830.752.266,80 (tiga miliar delapan ratus tiga puluh juta tujuh ratus lima puluh dua ribu dua ratus enam puluh enam rupiah dan delapan puluh sen);

 Sisa hak selaku Kreditor Konkuren: sejumlah Rp1.005.661.454,33 (satu miliar lima juta enam ratus enam puluh satu ribu empat ratus lima puluh empat rupiah dan tiga puluh tiga sen);

b. Kerugian berupa hak Penggugat atas penambahan nilai dalam bentuk bunga bank yang timbul akibat disimpannya bagian hak Penggugat selaku Kreditor konkuren dan Kreditor Separatis pada Bank Central Asia sejak berlakunya Penetapan Hakim Pengawas Nomor 10/2009;

Merujuk pada pernyataan Tergugat dalam Surat Tergugat Nomor 008/2012 (vide bukti P-12), diketahui bahwa hasil penjualan harta pailit PT APN ditempatkan oleh Tergugat dalam rekening PT APN (dalam pailit) pada Bank Central Asia;

Adapun dana tersebut telah menjadi hak dari Penggugat sejak berlakunya Penetapan Hakim Pengawas Nomor 10/2009. Sehingga Penggugat berhak atas penambahan nilai dalam bentuk bunga atas hak Penggugat selaku Kreditor Separatis dan Kreditor Konkuren yang ditempatkan oleh Tergugat dalam rekening PT APN (dalam pailit) pada Bank Central Asia terhitung sejak tanggal diputusnya

Disclaimer

Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. Namun dalam hal-hal tertentu masih dimungkinkan terjadi permasalahan teknis terkait dengan akurasi dan keterkinian informasi yang kami sajikan, hal mana akan terus kami perbaiki dari waktu kewaktu. Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui :

Email : [email protected]

Referensi

Dokumen terkait

Perairan Pesisir Batu Belubang yang merupakan kawasan penangkapan ikan dan berdekatan dengan Kawasan Konservasi Laut Daerah (KKLD) menjadi hal yang akan menambah

12 PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI... 1 0 PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN

Kosambi Laksana Mandiri Jambi dalam mendeteksi kerusakan elektrikal yang terjadi pada mobil proyek jenis Nissan Euro 220 pada saat terjadi kerusakan di tengah

Dari penelusuran yang peneliti lakukan dan berdasarkan data yang telah didapat dari pihak atau pengurus Baitul Maal Amanah PAMA di Kabupaten Tabalong, dijelaskan

[r]

Dimensi pelayanan keagamaan memiliki nilai HSQ-Metrix nol yang berarti para responden memiliki tingkat kepuasan yang standar atau tidak terjadi kesenjangan antara

II/491 Tahun 2009 Tentang SUSCATIN adalah materi-materi yang berkaitan dengan kehidupan rumah tangga seperti tata cara prosedur perkawinan dan pengetahuan agama

Berbagai upaya yang terus dilakukan untuk meningkatkan kunjungan wisatawan tersebut adalah kerjasama resiprokal pembebasan visa masuk Indonesia –