EVALUASI KESEHATAN TANAMAN JATI (Tectona grandis) PADA LAHAN GNRHL DI DESA KARANG LANGIT KALIMANTAN TENGAH. Oleh/By Dina Naemah 1 ABSTRACT

10 

Teks penuh

(1)

EVALUASI KESEHATAN TANAMAN JATI (Tectona grandis) PADA LAHAN GNRHL DI DESA KARANG LANGIT

KALIMANTAN TENGAH

Evaluation healthy of Tectona grandis at farm GNRHL in Karang Langit country, the center of Kalimantan

Oleh/By Dina Naemah1

ABSTRACT

The purpose of this evaluation is to know the storey level health of the crop is chosen type of program GNRHL in the case of damage and damage type that happened at the Tectona grandis.. By using perception method and follow the standard from Environmental Monitoring and Assessment Program (EMAP CENTER INTERNATIONAL) is actually yielded that natural damage storey, level by Tectona grandis is stemming from existence of pest attack in this case insect especially at good leaf shares of] color and transformation of physical with storey damage level 20% - 49%.

Key words : Evaluation, Health, Tectona grandis, GNRHL I. PENDAHULUAN

Hutan memberikan manfaat secara langsung maupun tidak langsung, manfaat langsung dari hutan misalnya pemanfaatan hasil hutan dan pemanfaatan lahan hutan sedangkan manfaat tidak langsung dari hutan misalnya memelihara kesuburan tanah, stabilitas tata air, mencegah banjir atau erosi, serta sarana pengembangan budaya dan penelitian pengetahuan.

GNRHL diselenggarakan untuk memulihkan, mempertahankan dan meningkatkan fungsi hutan dan lahan. Program penyelengaraan GNRHL ini berdasarkan SK Menhut No. 20/Kpts-II/2001 tentang pola umum dan standart serta kriteria rehabilitasi hutan dan lahan/berdasarkan SK Menhut No. 369/Kpts-V/2003 tentang petunjuk pelaksanaan GNRHL tahun 2003 yang memuat penjelasan tentang penyediaan bibit untuk pelaksanaan GNRHL. Bibit merupakan salah satu indikator yang menunjang keberhasilan dalam pelaksanaan penanaman, bibit yang akan digunakan haruslah memiliki kualitas diantaranya adalah dari segi kesehatan tanaman yang ditentukan bebas hama dan penyakit.

Pemerintah Daerah Kabupaten Barito Timur (Bartim) Kalimantan Tengah telah melakukan pengamatan pada lahan yang ada di Barito Timur dimana luas lahan kritis secara keseluruhannya telah mencapai ± 88.780 Ha. Melalui Dinas Kehutanan dan Perkebunan Pemda Bartim mengantisipasi lahan kritis tersebut melalui program GNRHL dengan menanam jenis jati (Tectona grandis) pada kawasan hutan produksi dengan harapan dapat meningkatkan produksi kayu. Pemilihan jenis ini dikarenakan jati memiliki nilai ekonomi yang tinggi sehingga diharapkan hasil produksinya nanti dapat meningkatkan perekonomian masyarakat setempat. (Departemen Kehutanan, 2004).

1) Staf Pengajar Fakultas Kehutanan Unlam

(2)

Untuk menjamin agar penyelenggaraan GNRHL dapat mencapai tujuan dan sasaran yang telah direncanakan maka diperlukan suatu monitoring dan penilaian dari sudut kesehatan tanaman tersebut.

II. TUJUAN DAN MANFAAT PENELITIAN

Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui : a. Kondisi kesehatan tanaman Jati (Tectona grandis) b. Penyebab kerusakan dan tipe kerusakan tanaman Jati.

Manfaat yang diharapkan dalam penelitian ini adalah sebagai acuan pemantauan keberhasilan tanaman yang telah diprogramkan yaitu Jati (Tectona

grandis).

III. METODE PENELITIAN

A. Tempat dan Waktu Penelitian

Penelitian ini dilaksanakan di areal penanaman GNRHL di Desa Karang Langit Kecamatan Dusun Timur Kabupaten Barito Timur Propinsi Kalimantan Tengah. Penelitian ini dilaksanakan selama ± 3 bulan.

B. Obyek dan Peralatan Penelitian

Objek penelitian ini adalah tanaman Jati (Tectona grandis) Peralatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah :

1. Alat tulis menulis untuk mencatat data 2. Meteran untuk mengukur tinggi

3. Kalkulator 4. Jangka sorong 5. Peta lokasi.

6. Kamera sebagai alat dokumentasi C. Pengumpulan Data

Pengambilan data primer dilakukan dengan pengamatan langsung ke lokasi mengamati setiap tanaman Jati yang ada pada lokasi penanaman yang luasnya 1 Ha. Data primer yang diperlukan dalam penelitian ini merupakan semua data yang ada dalam kriteria dan standar hasil penilaian tanaman menurut standar baku dari Environmental Monitoring and Assessment Program. EMAP Center International. Semua data yang diperlukan dalam penelitian ini baik itu data primer maupun data sekunder akan dianalisa secara deskriptif dengan mengikuti standar penilaian baku. D. Analisis Data.

Cara penilaian tanaman adalah dengan menggunakan kodefikasi menurut standar Environmental Monitoring and Assessment Program. EMAP.

(3)

Keterangan : 1. Akar

2. Akar dengan batang bawah 3. Batang bawah

4. Batang atas dan bawah 5. Batang atas

6. Batang tajuk

7. Cabang

8. Tunas & Pucuk

9. Daun.

Gambar 1. Skema lokasi kerusakan pada tanaman. Dengan Kodefikasi Penilaian pada tabel berikut : Tabel 1. Penyebab Kerusakan

Kode Keterangan 001 100 210 200 300 400 500 600 700 800 999 Mati Serangga Luka Penyakit Api Binatang Cuaca Persaingan tumbuhan Kegiatan manusia

Tidak diketahui penyebabnya Selain kriteria yang sudah ada. Tabel 2. Keadaan Tajuk

Kode Keterangan

1 2 3

80 - 100% Tajuk dipenuhi daun 21 - 79% Daun normal

1 - 20% Tajuk dan keadaan daun normal.

Tabel 3. Bagian Pohon Yang Rusak

Kode Keterangan 0 1 2 3 4 5 6 7 8 9

Tidak terjadi kerusakan Akar

Akar dan batang sebelum cabang

Akar dan batang sampai cabang pertama Batang bawah

Batang atas

Batang dalam tajuk Cabang

Pucuk Daun.

(4)

Tabel 4. Tipe Kerusakan Kode Keterangan 01 02 03 04 11 12 13 21 22 23 24 25 31 Kanker

Tubuh buah jamur Luka

Gomusis

Batang atau akar patah Tunas air

Akar patah lebih dari 0,9 m Pucuk mati

Patah dan mati Tunas air berlebihan Daun Rusak

Perubahan warna daun Kerusakan lain.

Tabel 5. Tingkat Keparahan

Kode Keterangan 2 3 4 5 6 7 8 9 20 – 29% 30 – 39% 40 – 49% 50 – 59% 60 – 69% 70 – 79% 80 - 89% 90 – 99%

V. HASIL DAN PEMBAHASAN

A. Hasil Penilaian Tingkat Kesehatan Tanaman Jati

Evaluasi tingkat kesehatan tanaman Jati (Tectona grandis) sebagai berikut : Tabel 6. Rekapitulasi data penilaian tingkat kesehatan tanaman Jati

Rangking 1 2 3

Penyebab kerusakan 100 001 -

Keadaan tajuk 2 - -

Bagian pohon yang rusak

9 - -

Tipe Kerusakan 24 25 21

Tingkat keparahan 3 2 4

Keterangan : (Lihat tabel 1,2,3,4,5)

(5)

di Desa Karang Langit adalah akibat dari serangan dari hama yaitu berupa serangga akibat dari serangan serangga ini tanaman mengalami keadaan yang sangat terganggu hingga daun rusak dengan tingkat keparahan 20 - 29 % dan 30 - 39 % akibat dari kerusakan itu resiko tanaman yang sudah rusak atau tidak sehat untuk tertular penyakit pun dapat dialami, tanaman rusak yang mengakibatkan daun menjadi rusak dan berubah warna dengan tingkat kerusakan 30 - 39 % dan 40 - 49 % dari kerusakan yang ada tanaman yang mengalami keadaan kerusakan daun dan mati pucuk dengan tingkat keparahan 30 – 39 %.

Kerusakan yang terjadi dapat terlihat dari grafik kerusakan yang ada pada gambar 2. kerusakan A sebanyak 238 tanaman, kerusakan B sebanyak 17 tanaman, Kerusakan C sebanyak 2 tanaman, kerusakan D sebanyak 1 tanaman, kerusakan E sebanyak 1 tanaman, kerusakan F sebanyak 17 tanaman, kerusakan G sebanyak 7 tanaman sedangkan untuk H sebanyak 217 tanaman yang mati.

238 17 2 1 1 17 7 217 0 50 100 150 200 250 A B C D E F G H

Tipe Kerusakan dan Tingkat Keparahan

Ju ml ah t a n a man

Gambar 2. Grafik tipe kerusakan dan tingkat keparahan yang menyerang tanaman Jati

(Tectona garandis)

1. Penyebab Kerusakan Tanaman Jati

Penyebab kerusakan pada tanaman Jati (Tectona grandis) pada lokasi penelitian di lahan GNRHL ini penyebab utamanya adalah hama serangga akibat dari seranggan hama ini tanaman Jati (Tectona grandis) mengalami keadaan yang sangat terganggu sehingga akibat dari serangan hama resiko tanaman untuk tertular penyakit pun sangat tinggi. Serangga sangat menyukai tanaman yang masih berumur 1 – 2 tahun yaitu dengan memakan bagian daun yang lunak, setelah bagian daun yang lunak telah habis dimakan oleh serangga maka serangga akan meninggalkan urat-urat daun dan tulang-tulang daun saja.

(6)

Gambar 3. Hama yang menyerang daun Jati.

Serangan serangga apabila semakin dibiarkan akan mengakibatkan munculnya lubang pada batang pohon ataupun cabang pohon. Biasanya tiap serangga pengebor kayu akan mempunyai spesifikasi tertentu, serangga ada yang tinggal dalam kayu sebagai tempat tinggal tetap namun disisi lain hidup dalam batang dan mengerogoti seluruh batang. Umumnya beberapa serangga yang dewasa ada yang merusak pohon yang masih sehat dan ada pula yang merusak pohon yang telah merana. (Sumardi, Widyastuti, 2004).

Berdasarkan hasil rekapan data penyebab kerusakan tanaman Jati

(Tectona grandis) yang kedua adalah tanaman mati (Tipe 001) hal ini setelah di amati

baik itu dari tinggi tanaman dan diameter tanaman ternyata tanaman yang ada tidak mencapai standart tanaman yang ideal dimana standart kekokohan tanaman yang ideal adalah 4 – 5. Ukuran tinggi dan diameter dapat memberikan gambaran tentang kapasitas fotosintesis dan merupakan ukuran yang paling mudah untuk diperoleh atau diamati. Kekokohan tanaman diperoleh dengan membandingkan antara tinggi tanaman dengan diameter tanaman. Hal ini menujukkan ketahanan tanaman bila ditanam di lapangan. Tumbuhan semai dikatakan kokoh jika memiliki keseimbangan antara pertumbuhan tinggi dan diameter, nilai kekokohan tanamanan yang ideal antara 4 – 5 Roller (1977) dikutip oleh Naemah (2003).

Gambar 4. Tanaman Jati (Tectona grandis) yang memiliki tinggi dan diameter yang

tidak ideal.

Banyak sekali tanaman yang memiliki tinggi dan diameter yang tidak seragam hal ini disebabkan karena anggaran dana dari Dinas Kehutanan untuk penanaman keluarnya tidak tepat dengan waktu tanam petani sehingga petani menunda penanaman bibit tanaman sampai dengan masa tanam mereka yang berikutnya, barulah tanaman yang sudah ada mereka tanam. Dari penilaian tanaman yang ada beberapa tanaman yang mati. Tanaman yang mati diduga akibat kesalahan dalam

(7)

yang tidak tepat waktu, tepatnya pada musim kemarau sehingga tanaman yang ada mengalami dehidrasi karena pupuk yang diberikan memberikan efek sampingan yang kurang baik bagi tanaman. Karena kurangnya suplay air bagi tanaman sehingga tanaman mengalami kekeringan. Selain faktor yang ada dapat dilihat bahwa tanaman yang ada pada lokasi penelitian sangat beraneka ragam dari segi diameter atau tidak sesuai.

2. Keadaan tajuk

Keadaan tajuk tanaman Jati (Tectona grandis) berada kondisi 21 – 79 % daun normal. Keadaan tajuk masih menujukan gejala yang tidak begitu parah dikarenakan keadaan daun masih lengkap tidak terjadi kerusakan pada tajuk.

Gambar 5. Kadaan tajuk tanaman Jati (Tectona grandis) 3. Bagian pohon yang rusak

Bagian pohon yang mengalami kerusakan terjadi pada bagian daun (Tipe 9) hal ini disebabkan serangga sangat menyukai tanaman yang masih muda yang berumur 1 – 2 tahun di mana bagian daun masih terasa sangat lunak untuk makan oleh serangga, sehingga bagian daun yang ada akan terus menerus dimakan oleh serangga sampai habis hingga yang tersisa hanya tulang daun saja.

Gambar 6. Daun rusak 4. Tipe Kerusakan

Tipe kerusakan yang terjadi pada tanaman Jati (Tectona grandis) di lokasi penelitian adalah daun rusak (Tipe 24) tanaman lebih banyak mengalami kerusakan pada daun dan perubahan warna daun (Tipe 25), perubahan warna daun terjadi

(8)

diakibatkan tanaman telah mengalami kerusakan sehingga tanaman akan sangat mudah terserang penyakit.

Gambar 7. Daun jati yang telah dimakan hama/serangga Adanya serangan penyakit pucuk daun dapat dilihat dari tanda-tanda seperti: • Munculnya bercak-bercak coklat muda sampai coklat tua

• Daun mengering dan kehilangan turgor • Daun layu dan rontok

• Batang pada permukaan tanah menjadi lunak dan basah.

Gejala yang ada pada daun tanaman Jati yang telah rusak telah membuktikan bahwa tanaman Jati yang ada pada lokasi penelitian telah terinfeksi atau tidak sehat ini diakibatkan tanaman yang ada telah rusak. Hal ini akibat dari serangan hama atau serangga yang telah merusak tanaman Jati sehingga tanaman Jati menjadi sangat rentan atau sangat mudah sekali terserang penyakit. Penyakit menyerang tanaman Jati dikarenakan adanya bagian-bagian dari tanaman yang telah rusak atau luka sehingga dengan adanya luka pada bagian tubuh tanaman maka tanaman akan sangat mudah terserang penyakit. Tanaman Jati yang telah mengalami penurunan daya tahan dalam pertumbuhannya tidak dapat melaksanakan proses fotosintesis dengan lancar.

Gambar 8. Serangan penyakit pada daun Jati

Berdasarkan gejala yang ada tanaman akan mengalami gangguan dalam proses fisiologis yaitu dengan terganggunya absorbsi air dan unsur hara dari tanah berupa berkurangnya absorpsi air dan mineral. Hal ini disebabkan terjadinya infeksi pada akar sehingga akar tidak dapat berfungsi dengan baik sehingga dapat mengurangi jumlah air dan nutrisi yang diserap oleh akar dan proses translokasi kebagian-bagian lain

(9)

proses fotosintesis, daun yang layu mengganggu proses fotosintesis sehingga tidak dapat bekerja secara optimal, hal ini disebabkan karena rusaknya jaringan yang berfotosintesis, selain itu akibat lain yang yang disebabkan layunya daun yaitu jumlah klorofil akan berkurang bahkan akan terus berlanjut dan tidak akan berhenti sebelum tanaman itu layu total. Proses translokasi juga dapat terganggu yang pada akhirnya berdampak pada terganggunya pertumbuhan tanaman dan pada akhirnya dapat mengakibatkan kematian.

Serangan penyakit ini sangat cepat dan dalam waktu yang sangat cepat pula tanaman akan mati. Oleh karenanya upaya pencegahan dan pemberantasan perlu dilakukan. Tindakan pencegahan yang dapat dilakukan untuk menjaga kelembaban lahan menghindari meluasnya penyakit dengan mencabut serta membakar tanaman yang sakit dan tidak menyulamnya kembali.

5. Tingkat Keparahan

Daun rusak dengan tingkat keparahan 20 - 29 % dan 30 - 39 % , sehingga akibat dari kerusakan itu resiko tanaman yang sudah rusak untuk tertular penyakit pun dapat dialami, tanaman yang kurang sehat mengakibatkan daun rusak dan berubah warna dengan tingkat kerusakan 30 - 39 % dan 40 - 49 % dari kerusakan yang ada tanaman yang mengalami keadaan kerusakan daun dan mati pucuk dengan tingkat keparahan 30 – 39 %.

Pencegahan dan pengendalian kerusakan tanaman yang dapat dilakukan secara umum untuk semua jenis kerusakan yaitu pengendalian melalui bercocok tanam di mana tanaman yang ada akan dapat dilihat secara terus menerus karena adanya kegiatan bercocok tanam oleh petani hal ini sudah mulai diterapkan oleh masyarakat setempat. Di mana manfaat sanitasi ataupun eraditasi. Sanitasi dilakukan dengan cara membersihkan lapangan dari bekas tanaman atau tumbuhan liar atau semua jenis serangan dari patogen sedangkan eradikasi dilakukan dengan cara memusnahkan penyebab hama dan penyakit secara bersama-sama dengan sumber tanaman inangnya yang telah terserang Sedangkan untuk pengendalian terhadap inang dapat dilakukan dengan cara membuat tanaman tumbuh baik dan sehat atau dengan memanfaatkan tanaman yang tahan terhadap patogen. Misalnya, pemilihan tanaman yang tahan terhadap serangan atau dengan pengendalian secara kimiawi dengan insektisida.

V. KESIMPULAN DAN SARAN A. Kesimpulan

1. Kerusakan yang terjadi pada tanaman Jati (Tectona grandis) didominasi oleh seranggan hama serangga

2. Tipe kerusakannya adalah daun rusak, daun berubah warna yang tingkat keparahannya dari 20 % sampai dengan 49 %

B. Saran

Beberapa hal yang perlu diperhatikan dan dilaksanakan dalam penanggulangan kesehatan tanaman jati (Tectona grandis)

1. Semua pihak baik itu dari lembaga pemerintahan sendiri maupun dari masyarakat yang ada untuk memperhatikan kesehatan tanaman yang telah ditanam sehingga dicapai hasil yang maksimal dari sudut pertumbuhan tanaman

2. Perlunya penyuluhan yang rutin dari instansi / dinas yang terkait untuk dapat memacu keberhasilan tanaman sekaligus program GNRHL

(10)

DAFTAR PUSTAKA

Center Research Triangle Park Internasional Revision. 1995. Forest Health

Monitoring Field Methods Guide. Us. Environmental Protection Agency

Departemen Kehutanan Direktorat Jendral Rehabilitasi Lahan dan Perhutanan Sosial 2003. Gerakan Nasional Rehabilitasi Hutan dan Lahan (GN-RHL). Banjarbaru. Departemen Kehutanan, 2004. Petunjuk pelaksanan Penilaian Tanaman dan

Bangunan Konservasi Tanah Serta Petunjuk Pelaksanan Pelaporan GN-RHL.

Jakarta

Khaerudin. 1994. Pembibitan Tanaman HTI. PT. Penebar Swadaya. Jakarta

Martawijaya. 1972. Atlas Kayu Indonesia. Badan Penelitian dan pengembangan Hutan. Depatemen Kehutanan Bogor.

Naemah. D. 2002. Pengaruh Introduksi Trichoderma Terhadap Pembentukan Dan

Perkembangan Mikoriza Pinus merkusii Jungh. Et de Vriese. Tesis Pasca

Sarjana Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta.(tidak dipublikasikan).

Sumardi, S.M, Widyastuti. 2004. Dasar-dasar Perlindungan Hutan. Gadjah Mada University.

Figur

Memperbarui...

Referensi

Memperbarui...

Related subjects :