3.1. Waktu dan Lokasi Penelitian
Penelitian ini telah dilaksanakan pada bulan September 2010 sampai dengan Mei 2011, di Kota Bontang, Kalimantan Timur. Secara geografis Kota Bontang terletak di garis lintang 0°01’ - 0°12’ Lintang Utara dan 117°23’ - 117°38’ Bujur Tim ur. Peta wilayah Kota Bontang dapat dilihat pada Gambar 6.
Gambar 6. Peta Lokasi Penelitian
Adapun lokasi penelitian meliputi seluruh kelurahan yang berbatasan langsung dengan pesisir yaitu Kelurahan Bontang Kuala, Kelurahan Bontang Baru, Kelurahan Lhok Tuan, Kelurahan Guntung, Kelurahan Berbas Pantai, Kelurahan Berbas Tengah, Kelurahan Tanjung Laut Indah, Kelurahan Tanjung Laut, dan Kelurahan Belimbing, seperti tersaji pada Tabel 2 berikut:
L LookkaassiiPPeenneelliittiiaann S Suummbbeerr R RTTRRWWKKoottaaBBoonnttaannggTThh..22001100 O Olleehh:: T TaauuffiikkHHaassbbuullllaahh P PrrooggrraammDDookkttoorr P PrrooggrraammSSttuuddiiSSPPLL I InnssttiittuuttPPeerrttaanniiaannBBooggoorr 2 2001111
Tabel 2. Lokasi Penelitian Berdasar jenis Wilayah
Jenis Wilayah
Kecamatan
Bontang Utara Bontang Selatan Bontang Barat
Kelurahan Pesisir
Bontang Kuala Berbas Tengah Belimbing
Bontang Baru Berbas Pantai
Lok Tuan Tanjung Laut
Guntung Tanjung Laut Indah
Kelurahan Non Pesisir
Api-api Satimpo Kanaan
Gunung Elai Bontang Lestari Telihan
Jumlah 6 Kelurahan 6 Kelurahan 3 kelurahan
Sumber : BPS, 2010 diolah
3.2. Metode Penelitian
Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode studi kasus. Metode studi kasus adalah penelitian tentang status subyek penelitian yang berkenaan dengan suatu fase spesifik atau khas dari keseluruhan personalitas (Max Field dalam Nazir, 1986). Kasus yang digunakan dalam penelitian ini adalah program CSR pada PKT Bontang, khususnya dalam kaitannya dengan pemberdayaan ekonomi masyarakat dan pengelolaan wilayah pesisir Kota Bontang.
3.3. Tahapan Penelitian
Penelitian ini dilakukan dalam tiga tahapan, yakni tahap persiapan, pengumpulan data dan tahap analisis data. Tahap persiapan meliputi pembuatan proposal penelitian, pengurusan surat izin penelitian dan studi literatur baik diperpustakaan, internet maupun pada instansi pemerintah dan swasta yang terkait dengan permasalahan yang akan di kaji.
Pada tahap pengumpulan data, kegiatan yang dilakukan adalah mengumpulkan semua data-data yang dibutuhkan dalam penelitian ini baik data primer maupun data sekunder. Data-data tersebut meliputi identifikasi potensi dan permasalahan di wilayah pesisir baik dari aspek ekonomi maupun aspek sumberdaya dan lingkungan pesisir. Aspek ekonomi seperti data PDRB Kota Bontang, pertumbuhan ekonomi, dan keterkaitan antar sektor. Aspek sumberdaya dan lingkungan pesisir seperti data ekosistem wilayah pesisir (mangrove, padang lamun, terumbu karang) dan data sumberdaya perikanan
dan kelautan. Dimensi keberlanjutan meliputi dimensi ekonomi, ekologi, sosial budaya, hukum dan kelembagaan. Indikator CSR seperti kemitraan, bina lingkungan dan bina wilayah.
Pada tahap analisis data, semua data-data yang telah dikumpulkan diatas akan dianalisis dengan menggunakan berbagai metode analisis yang meliputi analisis ekonomi wilayah, analisis biogeofisik, analisis keberlanjutan wilayah dan analisis efektivitas dan presepsi. Alur tahapan penelitian tersaji pada Gambar 7 berikut ;
Gambar 7. Tahapan Penelitian
3.4. Jenis dan Sumber Data
Jenis data yang dikumpulkan dalam penelitian ini meliputi data primer dan data sekunder, terdiri dari data lingkungan dan sumberdaya pesisir serta data sosial ekonomi Kota Bontang. Data primer dikumpulkan melalui metode survei lapang (visual recall) dan wawancara langsung di lokasi penelitian serta dengan menggunakan kuisioner. Sedangkan data sekunder dikumpulkan melalui
T A H A P PER SI A PA N T AHAP P E NG UM P UL AN DAT A T AHAP ANAL IS IS DAT A
DESA IN S TRA TE GI KEB IJA KA N CS R DESA IN S TRA TE GI
P ENGE MBA NGA N WIL. PES IS IR
DESA IN S TRA TE GI CS R DALA M PEM BE RDA YAA N EK ONOM I DAN S UMB ERDAY A P ES IS IR B ONTA NG
A NA LIS IS E FEK TIFITAS DAN P ERS EPS I A NA LIS IS KEB ERLA NJ UTAN
WILAYA H A NA LIS IS EK ONOM I WILA YAH A NA LIS IS B IOGE OFIS IK
IDENTIFIKASI POTENSI DAN MASALAH WILAYAH PESISIR
A SPEK S UM BERDA YA A LAM DAN LINGK UNGAN A SPEK E K ONOMI
PERSIAPAN
S TUDI LITERA TUR P ROP OS AL P ENE LITIAN
DIMENSI KEBERLANJUTAN :
E K OLOGI, EK ONOM I, S OSIAL B UDAYA , TEK HNOLOGI, HUK UM K ELE MBA GA AN M ANGROVE TE RUMB U KA RANG P ADA NG LAM UN P ERIKA NA N, KE LA UTAN, DLL P DRB
P ERTUMB UHAN E K ONOMI K ETERKA ITAN ANTA R SE KTOR
INDIKA TOR P ROGRA M CS R K EM ITRA AN B INA LINGK UNGA N B INA WILA YA H
penelusuran berbagai pustaka yang ada di berbagai instansi yang terkait sesuai permasalahan yang dikaji. Secara lengkap jenis dan sumber data yang dikumpulkan meliputi :
3.4.1. Data Lingkungan dan Sumberdaya Pesisir
Data lingkungan dan sumberdaya alam pesisir diperoleh dengan berbasis pada data sekunder, berupa kondisi umum sumberdaya dapat pulih, sumberdaya tidak dapat pulih, dan Jasa-jasa lingkungan Kelautan di 9 kelurahan pesisir di Kota Bontang. Data diperoleh dari instansi terkait seperti Dinas Perikanan, Kelautan dan Pertanian Kota Bontang, seperti terlihat pada tabel di bawah ini : Tabel 3. Jenis dan sumber data sekunder
No Komponen Jenis Data Sumber Data/Tahun
1. Sumberdaya Dapat
Pulih
1.1. Perikanan
1.2. Padang Lamun dan Budi daya rumput laut 1.3. Terumbu Karang 1.4. Hutan Mangrove DPK Kota Bontang/ 2010 DPK Kota Bontang/ 2010 DPK Kota Bontang/ 2010 DPK Kota Bontang/ 2010 2. Sumberdaya Tidak Dapat Pulih 2.1. Mineral
2.2. Minyak dan Gas Bumi
DPK Kota Bontang/ 2010 DPK Kota Bontang/ 2010 3. Jasa-jasa Lingkungan Kelautan 3.1. Pariwisat a 3.2. Pelabuhan DPK Kota Bontang/ 2010 DPK Kota Bontang/ 2010
3.4.2. Data Sosial Ekonomi 1) Data Primer
Data primer untuk komponen sosial ekonomi diperoleh dari hasil wawancara lapangan dengan berpedoman pada kuisioner yang telah dirancang dilakukan terhadap 90 orang responden, yang terdiri dari 10 orang karyawan PKT, 5 orang keluarga karyawan PKT, 30 orang mitra binaan PKT serta 45 orang masyarakat di 9 kelurahan pesisir. Responden karyawan PKT berasal dari delapan departemen yang berbeda yaitu Hubungan Masyarakat (Humas), Jasa Tekhnik, Kompartemen Hubungan Industri-Sumberdaya Manusia (KHI-SDM), Pelayanan dan Promosi, Keselamatan Kesehatan Kerja & Lingkungan Hidup (K3LH), Program Kemitraan dan Bina Lingkungan (PKBL), Pengembangan Sumberdaya Manusia (PSDM), serta Pengadaan/ Teknik. Secara lengkap data primer yang dikumpulkan dapat dilihat pada Tabel 4 di bawah ini :
Tabel 4. Jenis dan sumber data primer
No Komponen Jenis Data Sumber Dat a
1. Penentuan Responden Masyarakat 1.1. Umur 1.2. Pendidik an 1.3. Pendapatan 1.4. Persepsi/Pemahaman 1.5. Profesi/Mata Pencaharian 1.6. Sikap 1.7. Partisipasi/Kesediaan In situ In situ In situ In situ In situ In situ In situ 2. Penentuan Responden Perusahaan 1.1. Umur 1.2. Pendidik an 1.3. Persepsi/Pemahaman 1.4. Sikap 1.5. Partisipasi/Kesediaan In situ In situ In situ In situ In situ 2) Data Sekunder
Data sekunder yang dikumpulkan berupa kondisi umum Sosial dan Ekonomi Masyarakat di 9 kelurahan pesisir yang ada di Kota Bontang. Secara lengkap data sekunder yang dikumpulkan tersaji pada Tabel 5 di bawah ini : Tabel 5. Jenis dan Sumber Data Sekunder
No. Komponen Jenis Data Sumber Dat a/Tahun
1. Sosial dan Ekonomi
Masyarakat 1.1. Jumlah Penduduk 1.2. Kondisi Demografi 1.3. Mata Pencaharian 1.4. Perekonomian Profil Kelurahan 2010 Profil Kelurahan 2010 Profil Kelurahan 2010 Profil Kelurahan 2010
3.5. Metode Pengumpulan Data
Di dalam pengumpulan data, digunakan teknik berupa metode penelitian kepustakaan (library research), yaitu penelitian yang dilakukan sebelum ke lapangan, dengan cara studi terhadap referensi yang berkaitan dengan kebutuhan penelitian. Metode penelitian lapangan (field research), yaitu penelitian yang dilakukan di lapangan dilakukan melalui pengamatan (observational research) dan tanya jawab (survey research). Pertanyaan dikembangkan melalui kuesioner. Teknik pengambilan sampel yang digunakan dalam penentuan responden adalah purposive sampling. Sampel di 9 Kelurahan pesisir di Kota Bontang yang menjadi mitra binaan atau masyarakat yang pernah mendapatkan Program Kemitraan dan Bina Lingkungan PKT diminta untuk mengikuti wawancara dan mengisi kuesioner.
3.6. Metode Analisis Data
3.6.1. Analisis Kewilayahan Pesisir 1) Analisis Biogeofisik Wilayah
Analisis Biogeofisik Wilayah digunakan untuk menjelaskan kondisi ekologis wilayah pesisir Kota Bontang meliputi potensi perikanan, potensi budidaya rumput laut, kondisi padang lamun, mangrove dan terumbu karang, serta tipikal daratan dan perairan pesisir. Analisis data biofisik dilakukan dengan menggunakan tekhnik analisis data sekunder.
2) Analisis Ekonomi Wilayah
Analisis ekonomi wilayah dilakukan untuk menjelaskan tentang pertumbuhan ekonomi suatu wilayah serta terjadinya ketimpangan dalam pembangunan ekonomi suatu wilayah. Metode analisis ekonomi wilayah yang digunakan dalam penelitian ini adalah model basis ekspor, dimana menggunakan pendekatan Locations Quotient (LQ), Koefisien Multiplier dan Shift Share. Pemilihan metode ini sesungguhnya lebih pada pengelompokan metode basis ekspor (Richardson, 1979).
a) Locations Quotient (LQ)
Metode location quotient atau LQ merupakan perbandingan antara pangsa relatif pendapatan sektor i pada tingkat wilayah terhadap pendapatan total wilayah dengan pangsa relatif pendapatan sektor i pada tingkat nasional terhadap pendapatan nasional. Hal tersebut dapat diformulasikan sebagai berikut (Budiharsono, 2001) : t i t i i V V v v LQ = atau tk ik t i i PDRB PDRB PDRB PDRB LQ = ... (1) Dimana :
vi = Nilai produktifitas sektor i di tingkat daerah vt = Nilai produktifitas seluruh sektor di tingkat daerah Vi = Nilai produktifitas sektor i di tingkat pus at
Vt = Nilai produktifitas seluruh sektor di tingkat pusat
Apabila LQ suatu sektor industri ≥ 1, maka sektor industri tersebut merupakan sektor basis. Jika LQ < 1, maka sektor industri tersebut non basis. Asumsi metode LQ ini adalah penduduk di wilayah yang bersangkutan
mempunyai pola permintaan wilayah sama dengan pola permintaan nasional. Asumsi lainnya adalah bahwa permintaan wilayah akan sesuatu barang akan dipenuhi terlebih dahulu oleh produksi wilayah, kekurangannya diimpor dari wilayah lain. Metode LQ disarankan digunakan dalam menentukan apakah sektor tersebut basis atau tidak. (Glasson, 1978 dalam Budiharsono, 2001).
Teori ekonomi basis ini hanya mengklarifikasi seluruh kegiatan ekonomi ke dalam dua sektor (industri) yaitu sektor basis dan sektor non-basis. Jadi pendapatan sektor basis ditambah pendapatan sektor non basis sama dengan total pendapatan wilayah.
b) Penaksiran Koefisien Multiplier
Untuk melengkapi penerapan kerangka teori model basis eksport tersebut, diperlukan pengukuran besarnya pengaruh sektor basis terhadap pertumbuhan ekonomi wilayah dengan melakukan penaksiran koefisien multiplier wilayah. Hal ini dapat dilakukan dengan menggunakan sistem regresi biasa (ordinary least square) (Sjafrizal, 2008) sebagai berikut:
∆Y = α + β ∆E + ε
... (2) dimana α dan β adalah koefisien regresi yang akan ditaksir dengan hipotesis sebagai berikut:Ho: β = 0 , Ha: β ≠ 0
... (3) Karena persamaan diatas dalam bentuk linier, maka koefisien multiplier wilayah harus dihitung melalui:K = β (∆Yº/∆ Eº) , k > 0 ... (4)
Dimana Yº dan Eº masing-masing adalah PDRB dan ekspor dari daerah yang bersangkutan, sedangkan ∆ adalah tambahan jumlah masing -masing variabel dalam periode tertentu.
c) Shift Share Analysis
Pengukuran besarnya keuntungan komparatif daerah harus dilengkapi dengan analisis shift share, dengan formulasi sebagai berikut ;
Dimana :
∆ yi
y
= perubahan nilai tambah sektor i
i o
y
= nilai tambah sektor i di tingk at daerah pada awal tahun periode
i
Y
= nilai tambah sektor i di tingkat daerah pada akhir tahun periode
i o
Y
= nilai tambah sektor i di tingk at nasional pada awal tahun periode
i t
= nilai tambah sektor i di tingk at nasional pada akhir tahun periode
Dari persamaan tersebut dapat diuraikan (decompose) atas 3 bagian dan akan dapat diketahui komponen pertumbuhan mana yang telah mendorong pertumbuhan ekonomi daerah, dengan uraian sebagai berikut ;
Regional Share [yi (Yt/Yo
Komponen pertumbuhan ekonomi daerah yang disebabkan faktor luar, yakni peningkatan kegiatan ekonomi daerah akibat kebijakan nasional.
– 1)]
Proportionality Shift [yi (Yi t
/Yio) - (Yt/Yo)]
Komponen pertumbuhan ekonomi daerah yang disebabkan oleh struktur ekonomi daerah yang baik, yaitu berspesialisasi pada sektor yang pertumbuhannya cepat seperti sektor industri
Differential Shift [yi (yi/yio) - (Yit/Yio
Komponen pertumbuhan ekonomi daerah karena kondisi spesifik daerah yang bersifat kompetitif, unsur ini yang merupakan keuntungan kompetitif daerah yang dapat mendorong pertumbuhan eksport daerah
)]
d) Analisis Pusat Pembangunan dan Pusat Pertumbuhan Kota Bontang Penentuan pusat pertumbuhan dan pusat pembangunan dapat menggunakan formulasi sebagai berikut :
Pusat Pembangunan (Development Poles)
Investasi pada pusat pembangunan (Development Poles) mempengaruhi pertumbuhan kota pada daerah bersangkutan secara bervariasi. Pengaruh tersebut dapat muncul dalam bentuk peningkatan investasi, penyediaan lapangan kerja, pendapatan dan kemajuan teknologi yang semuanya unsur kemakmuran pada wilayah bersangkutan (Wr). Untuk kemudahannya, kemakmuran ini dapat diketahui dari tingkat pendapatan per kapita atau Indeks Pembangunan Manusia (IPM) bila kemakmuran tersebut juga mencakup aspek sosial seperti pendidikan dan kesehatan, dengan formulasi sebagai berikut:
dimana u adalah pusat perkotaan dan r adalah daerah belakangnya. Atau jika formulasi ini di modifikasi untuk menentukan pusat pembangunan di Kota Bontang, dapat diuraikan sebagai berikut :
wr = (
∆IPM/IPM)/ (∆I/I)
... (7) dimana data IPM dan investasi menggunakan data IPM dan investasi Kecamatan Bontang Utara dan Kecamatan Bontang Selatan tahun 2005 sampai tahun 2009. Kendala yang dihadapi untuk menurunkan formulasi ini adalah kendala data, dimana data-data IPM dan investasi Kota Bontang masih data total, belum dipisahkan per kecamatan. Sehingga formulasi ini baru bisa berjalan jika uraian data per kecamatan dapat di munculkan.Investasi pada pusat pembangunan (Development poles) mempengaruhi pertumbuhan kota pada daerah Kota Bontang secara bervariasi. Pengaruh tersebut dapat muncul dalam bentuk peningkatan investasi, penyediaan lapangan kerja, pendapatan dan kemajuan teknologi yang merupakan indikator kemakmuran di Kota Bontang.
Pusat Pertumbuhan (Growth Centre)
Sejalan dengan formulasi diatas, maka daerah perkotaan dikatakan sebagai berfungsi sebagai pusat pertumbuhan (Growth Centre) bilamana ;
(∆Ir/Ir)/ (∆Iu/Iu) > 0
... (8) Yaitu elastisitas investasi pada daerah hinterland r terhadap investasi di pusat kota u bersifat positif. Untuk menentukan antara Kecamatan Bontang Utara dan Kecamatan Bontang Selatan sebagai pusat pertumbuhan di Kota Bontang, maka data-data investasi yang ada harus dipilah, sehingga muncul data investasi di Kecamatan Bontang Utara dan data investasi di Kecamatan Bontang Selatan.Sejalan dengan dengan konsep pusat pembangunan, maka daerah perkotaan dikatakan berfungsi sebagai pusat pertumbuhan (Growth Centre), jika elastisitas investasi di Kecamatan Bontang Utara terhadap investasi di Kecamatan Bontang Barat dan Kecamatan Bontang selatan adalah positif, maka daerah tersebut dapat dikatakan propulsive region atau sebagai wilayah andalan. Jika dilihat angka elastisitas Kecamatan Bontang Utara terhadap Kecamatan Bontang Selatan dan Kecamatan Bontang Barat lebih besar dari 1. Maka dapat
dikatakan bahwa Bontang Utara sebagai wilayah utama yang kuat (strong
propulsive region).
Adapun matriks ringkasan konsep perhitungan pusat pembangunan dan pusat pertumbuhan dengan menggunakan metode pengukuran elastisitas kemakmuran dan elastisitas investasi beserta kendala dalam pola pengukuran disajikan dalam Tabel 6 berikut ;
Tabel 6. Matriks Ringkasan Konsep Pusat Pembangunan dan Pusat Pertumbuhan
Cara Mengukur Konsep dan Pesan Kendala
Pusat Pembangunan Menggunakan elastisitas kemakmuran dihitung dengan mengukur perubahan pada kemakmuran dengan data indeks pembangunan manusia dibagi dengan perubahan pada investasi Jika: e > 1 berarti pusat pembangunan dominant; 0 <e< 1 berarti pusat pembangunan bersifat sub dominan
Data-dat a indeks pembangunan manusia bersifat umum, perlu upaya lebih untuk memilah data indeks
pembangunan manusia berdasarkan daerah kecamatan. Begitu juga dengan data investasi per kecamatan. Pusat Pertumbuhan Menggunakan elastisitas investasi dihitung dengan menghitung perubahan investasi pada pusat kota dibagi dengan perubahan investasi di daerah hinterland
Jika: e >1. maka daerah perkotaan tersebut dikat akan sebagai pusat pertumbuhan kuat; 0< e < 1, dikatakan sebagai pusat pertumbuhan lemah. Ada kemungkinan pusat pertumbuhan muncul tidak di daerah perkotaan, tetapi di daerah pedesaan. Oleh karena itu muncul konsep sebagai wilayah andalan. Kesulitan memisahkan data elastisitas investasi, terutama perubahan-perubahan investasi di perkotaan dan didaerah hinterland. Suatu daerah dikatakan sebagai wilayah andalan (propulsive region) bilamana elastisitas investasi di pusat kota u terhadap investasi di daerah hinterland, r adalah positif.
3.6.2. Analisis Keberlanjutan Wilayah Pesisir
Tingkat keberlanjutan wilayah pesisir Bontang dianalisis dengan menggunakan metode yang mengacu pada tekhnik RAPFISH (Rapid Appraisal
for Fisheries), yakni tekhnik yang dikembangkan oleh Fisheries Center, University of British Columbia Canada, merupakan analisis untuk mengevaluasi sustainability dari perikanan secara multidisipliner. RAPFISH didasarkan pada
tekhnik ordinansi yaitu menempatkan sesuatu pada urutan attribut yang terukur dengan menggunakan Multi Dimensional Scaling (MDS), tekhnik ini selanjutnya dimodifikasi untuk dapat diterapkan dalam analisis keberlanjutan wilayah pesisir..
Analisis data dengan MDS, meliputi aspek keberlanjutan dari dimensi ekologi, ekonomi, sosial dan budaya, infrastruktur dan teknologi, serta hukum dan kelembagaan. Selanjutnya, dilakukan pula analisis multidimensi dengan menggabungkan seluruh atribut dari lima dimensi keberlanjutan di atas. Analisis data dengan MDS dilakukan melalui beberapa tahapan.
1. Pertama, mereview atribut-atribut pada setiap dimensi keberlanjutan dan mendefenisikan atribut tersebut melalui pengamatan lapangan, serta kajian pustaka. Secara keseluruhan, terdapat 48 atribut yang dianalisis, masing- masing: 10 atribut dimensi ekologi, 10 atribut dimensi ekonomi, 9 atribut dimensi sosial dan budaya, 10 atribut dimensi infrastruktur dan teknologi, dan 9 atribut dimensi hukum dan kelembagaan.
2. Kedua, pemberian skor yang didasarkan pada hasil pengamatan lapangan dan pendapat pakar sesuai dengan persyaratan yang telah ditetapkan. Rentang skor berkisar antara 1 – 4, yang diartikan dari buruk sampai baik atau sebaliknya, tergantung kondisi masing- masing atribut.
3. Ketiga, hasil pemberian skor kemudian dianalisis, dengan menggunakan program MDS, untuk menentukan posisi status keberlanjutan pengelolaan kawasan pesisir pada setiap dimensi dan multidimensi yang dinyatakan dalam skala indeks keberlanjutan. Skala indeks keberlanjutan terletak antara 0 – 100, seperti pada Tabel 7.
Tabel 7. Kategori Status Keberlanjutan berdasarkan Indeks Hasil Analisis MDS
Nilai indeks Kategori
0,00 – 25,00 Buruk (tidak berkelanjutan)
25,01 – 50,00 Kurang (kurang berkelanjutan)
50,01 – 75,00 Cukup (cukup berkelanjutan)
75,01 – 100,00 Baik (sangat berkelanjutan)
Posisi status keberlanjutan sistem yang dikaji diproyeksikan pada garis mendatar dalam skala ordinasi yang berada diantara dua titik ekstrim, yaitu titik ekstrim buruk dan baik yang diberi nilai indeks antara 0 sampai 100 persen,
Dalam analisis MDS dengan menggunakan sorftware RAPFISH yang telah dimodifikasi di komputer, sekaligus dilakukan analisis Leverage, analisis
Monte Carlo , penentuan nilai Stress, dan nilai Koefisien Determinasi (R2
Penentuan atribut yang sensitif dilakukan berdasarkan urutan prioritasnya pada hasil analisis Leverage dengan melihat bentuk perubahan root mean
square (RMS) ordinasi pada sumbu X. Semakin besar nilai perubahan RMS,
maka semakin besar pula peranan atribut tersebut dalam peningkatan status keberlanjutan, atau dengan kata lain, semakin sensitif atribut tersebut dalam keberlanjutan pengelolaan wilayah pesisir di lokasi penelitian. Kedua, analisis
Monte Carlo digunakan untuk menduga pengaruh kesalahan dalam proses
analisis yang dilakukan, pada tingkat kepercayaan 95 persen.
) yang merupakan program satu paket dengan program MDS. Pertama, analisis
Leverage digunakan untuk mengetahui atribut- atribut yang sensitif, ataupun
intervensi yang dapat dilakukan terhadap atribut yang sensitif untuk meningkatkan status keberlanjutan wilayah pesisir.
Hasil analisis dinyatakan dalam bentuk nilai indeks Monte Carlo, yang selanjutnya dibedakan dengan nilai indeks hasil analisis MDS. Apabila perbedaan kedua nilai indeks tersebut kecil, mengindikasikan bahwa : (a) kesalahan dalam pembuatan skor setiap atribut relatif kecil, (b) variasi pemberian skor akibat perbedaan opini relatif kecil, (c) proses analisis yang dilakukan secara berulang-ulang stabil, (d) kesalahan pemasukan data dan data yang hilang dapat dihindari. Ketiga, nilai stress dan koefisien determinasi (R2) berfungsi untuk menentukan perlu tidaknya penambahan atribut, untuk mencerminkan dimensi yang dikaji secara akurat (mendekati kondisi sebenarnya). Nilai ini diperoleh dari pemetaan terhadap dua titik yang berdekatan, dimana titik tersebut diupayakan sedekat mungkin terhadap titik asal dalam skala ordinasi. Teknik ordinasi (penentuan jarak) dalam MDS didasarkan pada Euclidian Distance yang dalam ruang berdimensi n (Fauzi, 2002) dengan persamaan :
... (9)
Titik tersebut kemudian diaproksimasi dengan meregresikan jarak euclidian (d ij) dari titik i ke titik j dengan titik asal ( d ij ) dengan persamaan :
; e adalah error ... (10)
Dalam meregresikan persamaan di atas digunakan teknik least squared bergantian yang didasarkan pada akar dari Euclidian Distance (squared distance) atau disebut metode algoritma ASCAL. Metode ini mengoptimalisasi jarak kuadrat ( squared distance=d ijk ) terhadap data kuadrat (titik asal= o ijk ) yang dalam tiga dimensi ( i,j,k ) yang disebut S-stress dengan persamaan :
... (11) Menurut Kavanagh dan Pitcher (2004), nilai stress yang dapat diperbolehkan adalah apabila berada dibawah nilai 0,25 (menunjukkan hasil analisis sudah cukup baik). Sedangkan nilai R2 diharapkan mendekati nilai 1 (100%) yang berarti bahwa atribut-atribut yang terpilih saat ini dapat menjelaskan mendekati 100 persen dari model yang ada.
3.6.3. Analisis Efektifitas Program CSR Pesisir
Tingkat efektifitas Program CSR terhadap pemberdayaan ekonomi masyarakat pesisir dapat diketahui dengan menggunakan Importance
Performance Analysis (IPA). Metode IPA pertama kali diperkenalkan oleh Martilla
dan James (1977), Analisis ini digunakan untuk melihat kesenjangan antara kinerja CSR dengan harapan masyarakat berdasarkan indikator-indikator yang di analisis. Disamping untuk menunjukkan sejauh mana terjadi kesenjangan antara kinerja dan harapan, IPA juga memberikan rekomendasi program apa yang perlu untuk dilanjutkan, serta program apa yang disarankan untuk ditinggalkan. Melalui analisis ini diidentifikasi program yang baik dan mana program yang tidak baik.
Penerapan teknik IPA dimulai dengan identifikasi atribut-atribut yang relevan terhadap situasi pilihan yang diamati. Daftar atribut-atribut dapat dikembangkan dengan mengacu kepada literatur-literatur, melakukan interview, dan menggunakan penilaian manajerial. Di lain pihak, sekumpulan atribut yang melekat kepada barang atau jasa dievaluasi berdasarkan seberapa penting masing-masing produk tersebut bagi responden dan bagaimana kinerja tersebut dipersepsikan oleh responden. Setelah menentukan atribut-atribut yang layak, responden ditanya dengan dua pertanyaan. Satu adalah atribut yang menonjol dan yang kedua adalah kinerja perusahaan yang menggunakan atribut tersebut. Dengan menggunakan mean, median atau pengukuran ranking, skor kepentingan dan kinerja atribut dikumpulkan dan diklasifikasikan ke dalam kategori tinggi atau rendah; kemudian dengan memasangkan kedua set rangking tersebut, masing-masing atribut ditempatkan ke dalam salah satu dari empat kuadran kepentingan kinerja (Crompton dan Duray, 1985). Skor mean kinerja dan kepentingan digunakan sebagai koordinat untuk memplotkan atribut-atribut individu pada matriks dua dimensi yang ditunjukkan pada gambar berikut:
Gambar 8. Importance Performance Analysis (Crompton dan Duray, 1985)
Keterangan :
A : Faktor yang akan dievaluasi AD : Apa yang diharapkan dari faktor A AE : Fakta-fakta mengenai A
DE : Gap, yaitu perbedaan antara harapan (D) dan kenyataan (E)
KUADRAN II PERTAHANKAN PRESTASI KUADRAN I PRIORITAS UTAMA KUADRAN III PRIORITAS RENDAH KUADRAN IV BERLEBIHAN D E GAP A