DASAR H UK UM NO T ARIS DAL AM PE M B UAT AN SURAT K E T E RANG AN W ARIS
O l e h
G e de Af ri l i a na Sa put r a * , ( I G . A. A Ar i a ni ) * *, ( I De wa G e de Pa l g una ) * * *
Pr og r a m Ma g i st er Ken ot a r i a tan Un i ver si t a s Ud a ya n a E m a il : a fr il i an a sa p u tr a@ ya h o o. c om
A B ST R A C T
There is no provision that explicitly regulate the notaries in making of a declaration of inheritance for the European, Chinese or Tionghoa, Foreign Easterners (except for Arabs Moeslems), although there has been the Regulation of the Minister of State for Agrarian Affairs / Head of National Land Agency Number 3 Year 1997 on the Implementation of the Provisions of the Government Regulation No. 24 of 1997 on Registration, that stipulates about the Certificate of Inheritance made by the public notary. However, this Regulation of the Minister of State is not classified as any type of legislation. In a d d i ti o n t o b e in g i n c l u d e d i n t h e c at e g o ry Regulation of the Minister of State for Agrarian Affairs / Head of National Land Agency Number 3 Year 1997 on the Implementation of the Provisions of the Government Regulation No. 24 of 1997 on Registration ma d e b y t h e M i n i st e r o f st a t e f o r a g ra ri a n a f f a i rs a p p l i e s o n l y i n t e rn a l l y , i n t h e se n se t h a t t he d ec i si o n i s n ot b i n di n g g e ne ra l . Therefore, the researcher will answer and analyze the legal basis for the making of a notary certificate of inheritance, and identify the legal nature of the certificate of inheritance.
Keywords : Legal Basis, Notary, Certificate of Inheritance
* M a h a si s wa P ro g ra m S t u d i M a g i st e r K e n o t a ri a ta n T. A . 2 0 1 2 * * Pe mb i mb i n g I
***Pembimbing II
I. PENDAHULUAN
Keberadaan ahli waris sangat penting dalam hal pewarisan. Dalam praktik, untuk membuktikan kedudukan seseorang sebagai ahli waris, diperlukan suatu dokumen yang berkedudukan sebagai alat bukti yang dapat membuktikan kedudukan tersebut. Dokumen
yang digunakan untuk membuktikan
kedudukan seseorang sebagai ahli waris bagi golongan Eropa, Cina atau Tionghoa, Timur Asing (kecuali orang Arab yang beragama Islam), digunakan Surat Keterangan Waris yang dibuat oleh Notaris, dalam bentuk Surat Keterangan. Bagi Golongan Timur Asing
(bukan Cina/Tionghoa), selama ini
pembuktian mereka sebagai ahli waris berdasarkan Surat Keterangan Waris yang di
buat oleh Balai Harta Peninggalan
(selanjutnya disebut BHP). Sedangkan bagi Golongan Pribumi (Bumiputera), selama ini pembuktian mereka sebagai ahli waris berdasarkan Surat Keterangan Waris yang dibuat dibawah tangan, bermeterai, oleh para
ahli waris sendiri dan diketahui atau dibenarkan oleh Lurah dan Camat sesuai
dengan tempat tinggal terakhir pewaris.1 Bagi
golongan Eropa, Cina atau Tionghoa, Timur Asing (kecuali orang Arab yang beragama Islam), selama ini pembuktian sebagai ahli waris berdasarkan Surat Keterangan Waris yang dibuat oleh Notaris, dalam bentuk Surat Keterangan.
Pembuatan Surat Keterangan Waris oleh Notaris berlangsung hingga saat telah berlakunya Undang-Undang Nomor 30 Tahun 2004 tentang Jabatan Notaris (selanjutnya
disebut UUJN)2. UUJN merupakan peraturan
1 Habib Adje, “Kesetaraan Dalam
Pembuatan Bukti Sebagai Ahli Waris”,
makalah, Makalah disajikan pada Penyegaran dan Pembekalan Pengetahuan Kongres Ikatan Notaris Indonesia XX 2009, tanggal 28-31
Januari 2009 di Surabaya,
http://habibadjie.dosen.narotama.ac.id/files/20
13/08/MAKALAH-WARIS-KONGRES.pdf.,
akses tanggal 20 Desember 2013, hal.2. 2
Undang-Undang Nomor 30 Tahun 2004 tentang Jabatan Notaris (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2004 Nomor 117,
A c t a C o m i t a s ( 2 0 1 6 ) 2 : 2 1 9 – 2 2 9 I S S N : 2 5 0 2 - 8 9 6 0 I e - I S S N : 2 5 0 2 - 7 5 7 3
perundang-undangan utama yang mengatur mengenai jabatan Notaris. UUJN menentukan sejumlah kewenangan Notaris, Dalam Pasal 15 ayat (1) UUJN diatur kewenangan umum Notaris sebagai berikut:
Notaris berwenang membuat akta
otentik mengenai semua perbuatan,
perjanjian, dan ketetapan yang diharuskan
oleh peraturan perundang-undangan
dan/atau yang dikehendaki oleh yang berkepentingan untuk dinyatakan dalam akta otentik, menjamin kepastian tanggal
pembuatan akta, menyimpan akta,
memberikan grosse, salinan dan kutipan akta, semuanya itu sepanjang pembuatan akta-akta itu tidak juga ditugaskan atau dikecualikan kepada pejabat lain atau orang lain yang ditetapkan oleh undang-undang.
Selain kewenangan umum Notaris
sebagaimana dimaksud dalam Pasal 15 ayat (1) UUJN, dalam Pasal 15 ayat (2) UUJN ditentukan kewenangan lain dari notaris sebagai berikut:
Notaris berwenang pula:
a. mengesahkan tanda tangan dan
menetapkan kepastian tanggal surat di bawah tangan dengan mendaftar dalam buku khusus;
b. membukukan surat-surat di bawah
tangan dengan mendaftar dalam buku khusus;
c. membuat kopi dari asli surat-surat di bawah tangan berupa salinan yang memuat uraian sebagaimana ditulis dan digambarkan dalam surat yang bersangkutan;
d. melakukan pengesahan kecocokan
fotokopi dengan surat aslinya;
e. memberikan penyuluhan hukum
sehubungan dengan pembuatan akta;
f. membuat akta yang berkaitan dengan
pertanahan; atau
g. membuat akta risalah lelang.
Dalam Pasal 15 ayat (3) UUJN diatur pula kewenangan yang dapat dimiliki notaris
di luar dari UUJN sebagai berikut, “Selain
kewenangan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2), notaris mempunyai kewenangan lain yang diatur dalam peraturan
Tambahan Lembaran Negara Republik
Indonesia Nomor 4432).
perundang-undangan”. Kewenangan dalam
Pasal 15 ayat (3) UUJN memberikan kemungkinan bagi notaris untuk memiliki kewenangan-kewenangan lain yang akan diatur kemudian dalam produk hukum dalam bentuk peraturan perundang-undangan.
Jika dicermati dalam Pasal 15 ayat (1) dan (2) UUJN tidak diatur secara eksplisit
mengenai kewenangan notaris untuk
membuat Surat Keterangan Waris. Meskipun demikian, sebagaimana telah disebutkan di atas dalam Pasal 15 ayat (3) UUJN dimungkinkan bagi notaris untuk mempunyai kewenangan lain di luar UUJN. Kewenangan tersebut menurut Pasal 15 ayat (3) UUJN harus diatur dalam peraturan perundang-undangan.
Terkait dengan Surat Keterangan Waris, terdapat pengaturan dalam Peraturan Menteri Negara Agraria/Kepala Badan Pertanahan Nasional Nomor 3 Tahun 1997 Tentang Ketentuan Pelaksanaan Peraturan Pemerintah Nomor 24 Tahun 1997 Tentang Pendaftaran Tanah, Dalam Pasal 111 ayat (1) huruf c Peraturan Menteri ini dinyatakan bahwa bagi warganegara Indonesia keturunan Tionghoa: akta keterangan hak mewaris dari Notaris,
Pertanyaan yang muncul kemudian adalah apakah Peraturan Menteri Negara Agraria/Kepala Badan Pertanahan Nasional Nomor 3 Tahun 1997 Tentang Ketentuan Pelaksanaan Peraturan Pemerintah Nomor 24 Tahun 1997 Tentang Pendaftaran Tanah dapat menjadi dasar kewenangan notaris berdasarkan peraturan perundang-undangan sebagaimana ditentukan dalam Pasal 15 ayat (3) UUJN. Oleh karena itu perlu dicermati
kedudukan Peraturan Menteri Negara
Agraria/Kepala Badan Pertanahan Nasional Nomor 3 Tahun 1997 Tentang Ketentuan Pelaksanaan Peraturan Pemerintah Nomor 24
Tahun 1997 Tentang Pendaftaran Tanah sebagai peraturan perundang-undangan.
Dalam Pasal 1 angka 2 Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2011 tentang Pembentukan Peraturan Perundang-undangan (selanjutnya
disebut UU Pembentukan Peraturan
Perundang-undangan)3 dinyatakan,
“Peraturan Perundang-undangan adalah peraturan tertulis yang memuat norma hukum yang mengikat secara umum dan dibentuk atau ditetapkan oleh lembaga negara atau pejabat yang berwenang melalui prosedur yang ditetapkan dalam Peraturan
Perundang-undangan”. Selanjutnya dalam Pasal 7 ayat (1) UU Pembentukan Peraturan Perundang-undangan dinyatakan:
Jenis dan hierarki Peraturan Perundang-undangan terdiri atas:
a. Undang-Undang Dasar Negara
Republik Indonesia Tahun 1945; b. Ketetapan Majelis Permusyawaratan
Rakyat;
c. Undang-Undang/Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang;
d. Peraturan Pemerintah; e. Peraturan Presiden;
f. Peraturan Daerah Provinsi; dan g. Peraturan Daerah Kabupaten/Kota.
Berdasarkan ketentuan-ketentuan
tersebut, maka Peraturan Menteri Negara Agraria/Kepala Badan Pertanahan Nasional Nomor 3 Tahun 1997 Tentang Ketentuan Pelaksanaan Peraturan Pemerintah Nomor 24 Tahun 1997 Tentang Pendaftaran Tanah dibuat oleh Menteri Negara Agraria tidak
termasuk dalam kategori peraturan
perundang-undangan menurut UU
Pembentukan Peraturan Perundang-undangan.
Selain tidak termasuk dalam kategori
peraturan perundang-undangan Peraturan
Menteri Negara Agraria/Kepala Badan
3
Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2011 tentang Pembentukan Peraturan
Perundang-undangan (Lembaran Negara Republik
Indonesia Tahun 2011 Nomor 82, Tambahan
Lembaran Negara Nomor 5234
).
Pertanahan Nasional Nomor 3 Tahun 1997 Tentang Ketentuan Pelaksanaan Peraturan Pemerintah Nomor 24 Tahun 1997 Tentang Pendaftaran Tanah dibuat oleh Menteri Negara Agraria hanya berlaku secara intern, dalam arti keputusan tidak mengikat secara umum.4
Dengan demikian secara normatif,
terdapat permasalahan kekosongan norma
(leemten van normen) karena tidak terdapat
pengaturan yang tegas tentang dasar hukum kewenangan notaris dalam pembuatan Surat Keterangan Waris. Sebab, meskipun telah
terdapat Peraturan Menteri Negara
Agraria/Kepala Badan Pertanahan Nasional Nomor 3 Tahun 1997 Tentang Ketentuan Pelaksanaan Peraturan Pemerintah Nomor 24 Tahun 1997 Tentang Pendaftaran yang menyebutkan mengenai akta keterangan waris yang dibuat oleh notaris, Peraturan Meneteri Negara ini tidak secara tegas termasuk dalam jenis peraturan perundang-undangan dan tidak mengikat secara umum.
Surat Keterangan Waris yang dibuat oleh Notaris atas dasar kehendak atau kepentingan para ahli waris, hal tersebut menimbulkan ketidakjelasan mengenai sifat hukum dari akta notaris tersebut, apakah surat keterangan waris tersebut merupakan akta pejabat atau akta para pihak ? Pembedaan kedua jenis akta tersebut penting karena
pembedaan tersebut menentukan
pertanggungjawaban hukum notaris terkait dengan akta yang dibuatnya. Ber d a sar k an
4
Menteri koordinator dan menteri negara tidak merupakan lembaga-lembaga pemerintah
dalam perundang-undangan sebab dalam
membentuk peraturan perundang-undangan
yang berwenang adalah menteri departemen, sedangkan menteri-menteri lainnya hanya dapat membuat peraturan yang bersifat intern, dalam lingkupnya sendiri, jadi tidak mengikat umum
(Maria Farida Indrati Soeprapto,2002, Ilmu
Perundang-undangan, Dasar-Dasar dan
Pembentukannya, Kanisius, Yogyakarta, hal.
p a d a l at ar bel a k a n g m a sa lah d i a ta s, m a k a d a pa t d ir um u sk an r um u san m a sa l ah seba g a i b er i k u t :
1. Apa yang menjadi dasar hukum notaris
dalam pembuatan surat keterangan waris?
2. Bagaimanakah sifat hukum dari surat
keterangan waris yang dibuat oleh notaris ?
II. LANDASAN TEORITIS
1. Teori Kewenangan
Dalam wewenang terdapat 3 (tiga) komponen, ya i t u p en g ar uh , d a sar h u k u m, dan k on for m i t a s h u k um . Kom p on en p en g ar uh i al ah ba h wa p en g g u n a an we wen a n g d i m a k su d k an un t u k m en g en d a li k an p er i l a k u su b jek h u k u m . Kom p on en d a sa r h u k um ba h wa we wen an g i t u sel a l u h ar u s d a p a t d i t un ju k d a sa r h u k u mn ya . Kom p on en k on f o r m i t a s m en g an d un g m a kn a a d an ya st a n d ar we wen an g ya i t u st a n d ar um u m
( sem u a jen i s we wen a n g ) d an
st a n dar k h u su s ( u n t u k jen i s we wen an g t er t en t u ).
C a r a m em p er ol eh k e wen an g an a d a 3 ( t i g a ) ya i t u :
1. Atribusi : pemberian wewenang yang
baru kepada suatu jabatan
berdasarkan suatu peraturan
perundang-undangan atau aturan
hukum.5
2. Mandat : pelimpahan dari pejabat
atau badan yang lebih tinggi
kepada pejabat atau badan yang lebih rendah.
3. Delegasi : merupakan pemindahan
atau pengalihan wewenang yang ada 5
Habib Adjie, 2011, Hukum Notaris
Indonesia (Tafsir Tematik Terhadap UU. 30
Tahun 2004 Tentang Jabatan Notaris), Refika
Aditama, Bandung, Selanjutnya disebut Habib Adjie I, Hal. 77.
berdasarkan suatu peraturan
perundang-undangan atau aturan
hukum.6
2. Teori Pertanggungjawaban Hukum Secara umum prinsip-prinsip tanggung jawab dalam hukum dapat dibedakan sebagai berikut7 : Prinsip tanggung jawab berdasarkan unsur kesalahan, Prinsip praduga untuk selalu bertanggung jawab,
Prinsip praduga untuk tidak selalu
bertanggung jawab dan Prinsip tanggung
jawab mutlak. Mengenai persoalan
pertanggungjawaban pejabat menurut
Kranenburg dan Vegtig ada dua teori yang
melandasinya yaitu8 : teori fautes
personalles, yaitu teori yang menyatakan
bahwa kerugian terhadap pihak ketiga dibebankan kepada pejabat yang karena
tindakannya itu telah menimbulkan
kerugian dan teori fautes de services, yaitu teori yang menyatakan bahwa
kerugian terhadap pihak ketiga
dibebankan pada instansi dari pejabat yang bersangkutan.
1) Konsep Dasar Hukum : Da sar h u k um a d a l ah n or m a h u k um a t a u k et en t u an d a l a m p er a t ur an p er un d an g -u n d an gan ya n g m en ja d i l an d a san a t a u d a sa r ba g i set i a p p en yel en g g ar a an a ta u t in da k an h u k u m ol eh su b yek h u k u m ba i k or a n g p er or an g an a ta u ba d a n h u k u m.9
2) Konsep Notaris : Dalam Pasal 1 ayat (1)
UUJN dinyatakan, “Notaris adalah pejabat
umum yang berwenang untuk membuat akta otentik dan kewenangan lainnya
6
Ibid.
7
Shidarta, 2006, Hukum Perlindungan
Konsumen Indonesia, Edisi Revisi, Gramedia
Widiasarana Indonesia, Jakarta, hal. 73-79. 8
Ibid, hal. 365. 9
Status Hukum, Pengertian Dasar Hukum, available From : http://statushukum.com/dasar-hukum.html
sebagaimana dimaksud dalam
Undang-Undang ini”.
3) Konsep Surat Keterangan Waris : Surat keterangan waris merupakan akta yang menetapkan siapa ahli-waris pada saat pewaris meninggal dunia dan berapa hak bagiannya atas warisan.10
4) Konsep Sifat Hukum : Menurut Johannes
Wilhelmus Maria Devos11 dalam
bukunya yang berjudul De Notariele
Verklaring Van Erfrecht dikatakan
dalam bab X, bagian B, memberi judul
het juridische karakter van het
document, terjemahan bebasnya : sifat
hukum dari dokumen. Dari pengantar bab X tersebut dijelaskan bahwa :
“De nu volgeude paragfeu vermeldeu
eukele notities over de natuur van ous document waarby iets zae worden gezegd over authenteit, de psitie van de het stuk uitgeveude notaris”
Terjemahan bebasnya:
(Dalam paragraf berikut ini
dikemukakan suatu catatan mengenai
sifat bawaan dari dokumen
terhadapnya dapat dikatakan mengenai keotentikan, posisi dari tulisan yang dikeluarkan oleh notaris)
Dari uraian di atas, penulis perlu
memberikan batasan-batasan mengenai
pengertian dari sifat hukum, yang dimaksud dengan sifat hukum dalam penelitian ini adalah uraian tentang apakah surat keterangan waris itu mempunyai sifat otentik atau di bawah tangan? kalaupun merupakan suatu akta otentik apakah surat
10
Herman, 2010, Surat Keterangan Waris
Dan Permasalahannya, available
from:http://herman-notary.com/2010/03/surat-keterangan-waris-dan-beberapa.html
11
Johannes Wilhelmus Maria De Vos, 1975, De Notariele Verklaring Van Erfrecht, Gouda Quint B.V, Arnhem. hal. 493
keterangan waris merupakan akta pejabat atau akta partij ?
III. PEMBAHASAN
1. Notaris sebagai Pejabat Umum
Jabatan notaris diadakan atau
kehadirannya dikehendaki oleh aturan hukum
dengan maksud untuk membantu dan
melayani masyarakat yang membutuhkan alat bukti tertulis yang bersifat otentik mengenai keadaan, peristiwa atau perbuatan hukum. Notaris berperan melaksanakan sebagaian tugas dalam bidang hukum keperdataan, dan
notaris dikualifikasikan sebagai pejabat
umum yang berwenang untuk membuat akta otentik.12
2. Kewenangan Notaris
Kewenangan notaris tersebut dalam Pasal 15 dari ayat (1) sampai dengan ayat (3)
UUJN, yang dapat dibagi menjadi:13
kewenangan umum notaris terdapat dalam Pasal 15 Ayat 1 UUJN, yang menyebutkan : Notaris berwenang membuat akta otentik mengenai semua perbuatan, perjanjian, dan ketetapan yang diharuskan oleh peraturan
perundang-undangan dan/atau yang
dikehendaki oleh yang berkepentingan untuk dinyatakan dalam akta otentik, menjamin
kepastian tanggal pembuatan akta,
menyimpan akta, memberikan grosse, salinan dan kutipan akta, semuanya itu sepanjang pembuatan akta-akta itu tidak juga ditugaskan atau dikecualikan kepada pejabat lain atau orang lain yang ditetapkan oleh undang-undang.
Kewenangan khusus notaris terdapat dalam Pasal 15 ayat (2) mengatur mengenai wewenang khusus notaris untuk melakukan tindakan hukum tertentu ,seperti :
a. mengesahkan tanda tangan dan
menetapkan kepastian tanggal surat
12
Habib Adjie I, Op.cit. hal. 14 13Ibid, hal. 78
.
dibawah tangan dengan mendaftarkan dalam buku khusus;
b. membukukan surat-surat di bawah tangan dengan mendaftar dalam buku khusus. c. membuat copy dari asli surat-surat di
bawah tangan berupa salinan yang memuat uraian sebagaimana ditulis dan
digambarkan dalam surat yang
bersangkutan
d. melakukan pengesahan kecocokan
fotokopi dengan surat aslinya
e. memberikan penyuluhan hukum
sehungan dengan pembuatan akta f. membuat akta yang berkaitan dengan
pertanahan.
g. membuat akta risalah lelang
Kewenangan notaris yang akan
ditentukan kemudian terdapat dalam Pasal 15
ayat (3) UUJN menyebutkan “Selain kewenangan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2), notaris mempunyai kewenangan lain yang diatur dalam peraturan
perundang-undangan”.
3. Tinjauan Umum Akta
Menurut Sudikno Mertokusumo akta adalah surat yang diberi tandatangan yang memuat peristiwa-peristiwa yang menjadi dasar dari suatu hak atau perkataan yang dibuat sejak semula dengan sengaja untuk
pembuatan.14
Akta dapat diberikan dalam 2 macam yaitu :
1. Akta otentik, menurut Pasal 1868 KUHPerdata akta otentik adalah suatu akta yang dalam bentuk yang ditentukan oleh UU, dibuat oleh atau dihadapan pegawai-pegawai umum yang berkuasa untuk itu di tempat di mana akta dibuat. Akta otentik dibagi dalam 2 macam yaitu
akta pejabat yaitu akta yang dibuat oleh (door) notaris dan akta para pihak yaitu akta yang dibuat di hadapan Notaris yang berisi uraian uraian atau keterangan para
14
Sudikno Mertokusumo, 1979,
Penemuan Hukum Sebuah Pengantar, Liberty,
hal. 106
pihak.15
2. Akta di bawah tangan adalah akta yang sengaja dibuat oleh para pihak untuk pembuktian tanpa bantuan dari seorang
pejabat pembuat akta.16
4. Landasan teoritik kewenangan notaris membuat surat keterangan waris
Menurut teori kewenangan atribusi yang
merupakan merupakan pemeberian
wewenang yang baru kepada suatu jabatan berdasarkan suatu peraturan perundang-undangan atau aturan hukum. Melalui teori kewenangan atribusi ini notaris memperoleh sumber kewenangan dari UUJN. Berdasarkan UUJN Notaris sebagai Pejabat Umum memperoleh wewenang membuat akta dalam ruang lingkup keperdataan.
Dari ketentuan pasal 15 Ayat (1) (2) dan (3) UUJN diatas bahwa kewenangan notaris di bidang keperdataan adalah sangat luas. Untuk mengetahui dasar hukum notaris membuat surat keterangan waris yang terdapat dalam Pasal 15 UUJN maka perlunya interpretasi dalam menelusurinya, , melalui
Metode interpretasi sistematis yaitu
menafsirkan peraturan perundang-undangan dengan menghubungkan dengan peraturan hukum atau undang-undang lain atau dengan
keseluruhan sestem hukum.17 Dengan
menggunakan metode interpretasi sistematis maka dapat dianalisi sebagai berikut :
Pasal 1870 KUHPerdata menyebutkan :
“Bagi para pihak yang berkepentingan
beserta para ahli warisnya atupun bagi 15
Habib Adjie, 2011, Kebatalan dan
Pembatalan Akta Notaris, Refika Aditama,
Bandung, hal. 10 selanjutnya disebut Habib Adjie II. 16 Vi k t or M. Si t u m or an g dan C or m en t yn a Si t an g g an g, 1 9 9 3 , Gro sse A k t a : d al a m p e mb u k u a n d a n e k sek u si , Ri n ek a C i p t a, Ja k ar t a , h a l. 3 6 17 Sudikno Mertokusumo, 2014,
Penemuan Hukum Sebuah Pengantar Edisi
Revisi, Cahaya Atma Pustaka, Yogyakarta, hal.
orang-orang yang mendapatkan hak dari mereka, suatu akta otentik memberikan suatu bukti yang sempurna tentang apa yang
termuat di dalamnya”
Menurut Pasal 1870 KUHPerdata bahwa suatu akta otentik memberikan suatu bukti yang sempurna tentang apa yang termuat di dalamnya, dalam hal kaitanya dengan ahli waris dalam surat keterangan warisnya dibuat
dalam bentuk otentik, selanjutnya
dihubungkan mengenai akta otentik dalam
Pasal 1868 KUHPerdata menyebutkan “Suatu
akta otentik adalah suatu akta yang dibuat dalam bentuk yang ditentukan undang-undang oleh atau dihadapan pejabat umum yang berwenang untuk itu di tempat akta itu
dibuat” maksud dari pasal 1868 KUHPerdata
mengandung 3 unsur, yaitu:
1. Di dalam bentuk yang ditentukan oleh
Undang-Undang.
2. Dibuat oleh dan di hadapan pejabat
umum.
3. Akta yang dibuat oleh atau di hadapan pejabat umum yang berwenang untuk dan di tempat dimana ata itu dibuat. Salah satu unsur yaitu dibuat oleh dan dihadapan pejabat umum yang merupakan notaris, dalam Pasal 1 UUJN menyebutkan
“Notaris adalah pejabat umum yang
berwenang untuk membuat akta otentik dan kewenangan lainnya sebagaimana dimaksud
dalam Undang-Undang ini” mengenai
kewenangan notaris tersebut diatur dalam Pasal 15 ayat 1,2 dan 3 UUJN yang menyebutkan:
Ayat 1 :
Notaris berwenang membuat akta otentik mengenai semua perbuatan, perjanjian, dan ketetapan yang diharuskan oleh peraturan
perundang-undangan dan/atau yang
dikehendaki oleh yang berkepentingan
untuk dinyatakan dalam akta otentik, menjamin kepastian tanggal pembuatan akta, menyimpan akta, memberikan grosse, salinan dan kutipan akta, semuanya itu sepanjang pembuatan akta-akta itu tidak juga ditugaskan atau dikecualikan kepada pejabat lain atau orang lain yang ditetapkan oleh undang-undang.
Melalui hubungan antara keseluruhan peraturan-peraturan yang diuraikan secara sistematis maka surat keterangan waris dapat dibuat dalam bentuk otentik sehingga jabatan notaris sebagai pejabat umum berwenang dalam pembuatan surat keterangan waris dalam bentuk akta otentik.
5. Sifat Hukum Surat Keterangan Waris
Sebagai akta mengingat bahwa surat
keterangan waris ini didasarkan atas
keinginan para pihak (partij acte) dan dibuat oleh notaris (ambtelijke acte) , dan dapatlah dikatakan bahwa surat keterangan waris tersebut mengandung sifat campuran dan
karenanya dapat disebut “Ambtelijke partij acte”18
Menurut Asser19 yang membedakan akta
otentik dengan cara sebagai berikut :
Wi j zo u d e n o p d e v o l g e n d e wi j ze wi l l e n o n d e rsc h e i d e n20: a . a c t e n , wa a rb i j d e i n st ru me n t e e re n d e a mb t e n a a r d e ro l v e rv u l t v a n g e q u a l i f ic e e rd g et u i g e, v o o rzi e n v a n p u b l i c a f i de s, te r wi j l d e p a rt i j e n ee n re c h t sh a n d e l i n g ve rri c h t e n ; 18 M. Slamet, Het Rechtskarakter En De Inhoud Van De Verklaring Van Erfrecht (diterjemahkan oleh : W. Wiranata) , Publikasi No. 2, hal. 4.
19C.Asser's, 1923, Handleiding tot de
beoefening van het Nederlandsch Burgerlijk
Recht, Vijfde deel Van Bewijs, bewerkt door
Mr. Anne Anema, tweede druk, W.E.J.Tjeenk
Willink, Zwolle, hal. 91
20 C.Asser's, 1923, Handleiding tot de beoefening van het Nederlandsch Burgerlijk
Recht, Vijfde deel Van Bewijs, bewerkt door
Anne Anema, tweede druk, W.E.J.Tjeenk
v o o rb e e l d e n : o p e n b a a r t e st a me n t, a c t e v a n k o o p, h u u r, l e e ni n g e n z. ; h u we 1 i j k sv o o r wa a rd e n , v e n n o o t sc h a p sa c te . B . a c te n , wa a rb i j d e p a rt i j e n o p re c h t sg e v o l g e n d oe l e n de v e rk l a ri n g e n af l e g ge n , te r wi j l d e i n st ru me n t e e re n d e a mb t e n a a r zi c h n i e t k a n b e p a le n t o t g et u i g e n, ma a r a c t i e f d e el n e e mt a a n de h a n d e l i n g ze l f , ze lf "v e rk l a ri n g e n ' a f l e g t ; zo o we l p a rt i j e n a l s a mb t e n a a r d o e n h i e r re c h t sh a n d e l i n g e n e n de a mb t e n a a r t re e d t d a a rn a a st a l s g e q u a l i f ic e e rd ge t u i g e o p . Ty pe : d e h u we l i j k s - a c t e , a rt. 4 4 B. W. ; d e p a rt i j e v e rkl a re n o v e re e nk o mst i g a rt . 1 3 5 B . W. , d e a mb t e n a a r v e rk l a a rt o ve re e n k o mst i g a rt . 4 4 B . W. ; v g l. A rt . 4 5, 7 ° B. W. c . a c t e n , wa a rb i j a l l e e n d e a mb t e n a a r re c h t sh a n d e l i n ge n v e rri c h t e n d a a rv a n a c t c o p g e ma a kt , ma a r a l t o o s te n v e rzo e k e o f te n b e h o e ve v a n "p a t i j e n ", d . i . o n mi d d el i jk b e l a n g h e b b e n de , p ri v a te p e rso n e n . Vo o rb e e l d e n : ex p l o it v a n d a g v a a rd i n g , n o t a ri e e le b o e d e l be sc h ri j v i n g, wi sse l p ro t e st e n z. d . a c t e n , o p g e ma a k t d o o r ee n a mb t e n a a r, o m e i g e n e r b e we g i n g a a n o p h e m ru st e n d e we t t e l i j ke p l i c h t e n t e v o l d oe n ; a mb t sh a l ve d u s, zo n d e r d a t e r p a rt i j e n i n h e t sp e l zi j n ; v o o rb e e l d e n : p ro c e sv e rb a a l i n st ra f za k e n , mi n u u t v a n ee n v o n n i s, o o rsp ro n k e l i j k st u k v a n e e n we t o f K o n i nk l i jk Be sl u i t e n z. De a c t e n o n de r a . e n b. b e d o el d zo u d e me n d a n k u n n e n n o e me n p a rt i j -a c t e n ; d e -a ct e n o n d e r -a . k -a n me n d -a n n a d e r b e t i t e le n a l s zu i v e re p a rt i j -a c t e n , d ie o n d e r b . -a l s g e me n g d e p a rt i j - a c t e n. De g ro e p e n c . e n d . k u n n e n sa me n wo rd e n b e g re p e n o n d e r d e n t e rm a mb e l i j ke a c t e n ; bi j c. k a n me n d a n we d e r v a n g e me n g d e , b i j d. v a n zu i v e r a mb t e l i j ke ac t e n sp re k e n . De ze a l l e v o rme n d a n sa me n de g ro e p d e r a u t h e n t i e k e a c te , d i e st a a t t e g e n o ve r d e o n de rh a n d sc h e . T er jem a h an be ba sn ya : k i t a d a p a t m em bed a k a n d en gan ca r a seba g a i ber i k u t : a . a k t e, d i m an a p eja ba t ya n g b er t u g a s m en ja l an kan p er an n ya se ba g a i sa k si a h i i , ya n g m el a k sa n a k an k ep er ca ya a n p u bl i k , sed a n g k an p ih a k - p ih a k m el a k u kan su a t u p er bu a t a n h u k u m; m i sa ln ya : wa si a t t er bu k a , a k t e ju a l - bel i , se wa - m en ye wa , p i n ja m m em in ja m d a n seba g a i n ya ; p er ja n ji an p er k a wi n an , a k t e p er ser oa n t er ba t a s; b. a k t e, d i m an a p ih a k - p ih a k m em ber i k a n p er n ya t a an d en gan t u ju a n m em ber i k an a ki ba t h u k um t er h a d a p p er n ya t a an t er sebu t , sed a n g k an p eja ba t ya n g ber t u g a s t i d a k da p a t d i t en t u k an seba g a i sa k si , m el a in k an a k t i f t u r u t ser ta m en g am bi l ba g i a n da l am p er bu a t a n h u k um i t u sen d ir i, m em bu a t p er n ya t a a n i t u sen d ir i; ba i k p i h a k - pih a k ma u p un p eja ba t d i si n i m el a k u k an p er bu a t an h u k um d a n p eja ba t d i sa m p in g i t u m el a k u k an ( p er an ) seba g a i sa k si a h l i . C on t oh n ya : a k t e p er k a wi n an , p a sal 4 4 B W: p i h a k -p i h a k m en ya t a k a n sa l in g ber ja n ji p a sa l 1 3 5 BW ( 8 0 KUH P er d a t a ); p eja ba t m en ya t a k an p er set u ju a n p a sa l 4 4 B W; ba n d in g k an p a sal 4 5 , 7 ° BW. c. Ak t e. D i m an a h an ya p eja ba t m el a k u k an p er bu a t an h u k u m dan a t a s d a sar it u a k t e d i bu a t , t et a pi sen a n t i a sa / sel a l u a ta s p er m oh on an a t a u un t u k k ep en tin g an p ih a k -p i h a k , ya i t u se ba g a i ya n g b er k ep en t in g an l an g sun g , or an g -or a n g si p il / p er t da t a; C on t oh n ya : p em b er i t ah u an g u ga t an ,
p en ca t a t an bu d el n ot ar i il , pr ot es wi s el d a n seba g a i n ya d . Ak t e, ya n g d i bu a t ol eh p e ja ba t , a t a s t in da k an n ya sen d i r i un t u k m el a k sa n kan k ewa ji ba n ya n g d i be ba n k a n ol eh un d an g - un d an g; ja d i k a r en a ja ba t an , t an pa p er an p ar a p ih a k; con t on ya : ber i t a a ca r a d a la m p er k ar a p i d an a, m in u t a d ar i p u t u san h a k i m, n a sk ah a sl i su a t u Un d an g - un d an g a ta u Ket et a p a n Ra ja , d an seba g a i n ya Ak t e- a k t e d i m a k su d d i ba wa h a d an b , or an g d a p at m en am a k an n ya se ba g a i a k t e p a r t i j; a k t e d i ba wa h a l ebi h l an ju t d a p a t d i ber i t i t el seba g a i a k t e p a r t i j m ur n i , sed an g k an ya n g d i ba wa h b seba g a i a k t e p ar t i j ca m p u r an . Kel om p ok c d a n d sam a - sa ma d a p a t d in a m a kan d en gan i st i lah a kt e p eja ba t ; Di d a l a m c d a p a t d i sebu t ju g a ca m p u r an ; d i k a t a kan se ba g a i a k t e p eja ba t m u r n i. Sem u a ben t u k in i sa m a - sa m a seba g a i a k t e ot en t i k , ya n g b er h a d a p an d en gan a k t e d i ba wa h t an g an ;
Dari uraian diatas Surat Keterangan
Waris termasuk kedalam akta pejabat
campuran, Karena sifat campuran keterangan waris ini membawa akibat bahwa notaris ikut bertanggung jawab dalam pembuatan surat keterangan waris. Maka, Melalui teori fautes
de services dan prinsip tanggung jawab
berdasarkan kesalahan, tanggung jawab
terhadap surat keterangan waris dibebankan kepada jabatan notaris selama Dalam
penerapannya kerugian yang timbul
menyangkut aspek formalitas, Seca r a
f or m a l un t u k m em bu k t i k an k eb en ar an d a n k ep a st i an t en t an g h ar i , tan g g a l, bu l a n , tah un , p u k ul ( wa k t u ) m en gh a d a p, d an p ar a p ih a k ya n g m en gh a d a p, p ar a f d a n tan d a tan g an p a r a p ih a k / p en gh a d a p , sa k si d an Not a r i s, ser t a m em bu k t i k an a p a ya n g d i l ih a t, d i sa k si k an ol eh n ot ar i s d an m en ca t a t kan k et er an gan at a u p er n ya t a an p ar a p ih a k dari surat keterangan waris tersebut, dan tanggung jawab para pihak (ahli waris).
Sel a i n i t u ju g a h ar u s d a p at
m em bu k t i k a n k et i d a k ben ar an
p er n ya t a an a t a u k et er an g an p ar a p ih a k ya n g d i ber i k a n / d i sam p a i kan d i h a da p an Not ar i s, dan k et i d a k ben ar an t an d a t an gan p ar a p ih a k, sa k si , d an Not a r i s a t a u p un a d a pr osed u r p em bu a t a n sur a t k et er an g an wa r i s ya n g t i d a k d i l a k u kan . Den gan k at a l a in , pih a k ya n g m em p er m a sa lah k an a k t a t er sebu t h ar u s m el a k u k an p em bu k t i a n t er ba l i k u n t u k m en ya n g k a l a sp ek f or m a l d ar i a k ta Not a r i s. Ji k a t i d a k m a m p u m em bu k t i k an k et i d a k ben a r an t er sebu t , m a k a a k t a t er sebu t h a r u s d it er im a ol eh si a p a p un .21 IV. Si mp ul a n
Berdasarkan seluruh uraian di atas dapat ditarik kesimpulan sebagai berikut :
1. Dasar Hukum Notaris dalam pembuatan
surat keterangan waris bagi golongan Eropa, Cina atau Tionghoa, Timur Asing (kecuali orang arab yang beragama islam) tersirat dalam Pasal 15 UUJN tentang kewenangan.
2. Sifat Hukum dari surat keterangan waris
adalah sebuah akta otentik yang memiliki sifat campuran, sifat campuran yang dimaksud adalah disatu sisi surat keterangan waris dibuat oleh notaris
21
(hanya memuat keterangan dari satu pihak saja) dan disisi lainya surat keterangan waris ini didasarkan atas kehendak para pihak, serta tanggung jawab yang dibebankan yaitu notaris
hanya bertanggungjawab pada
formalitas akta tersebut sedangkan para pihak bertanggungjawab terhadap isi dari akta tersebut.
5.2 Saran
1. Kepada Lembaga Pembuat
Perundang-undangan agar segera membuat
ketentuan Mengenai kewenangan
Notaris dalam pembuatan surat
keterangan waris agar memberikan
kepastian hukum terkait dengan
kewenangan notaris dalam pembuatan surat keterangan waris.
2. Kepada para Notaris agar selalu cermat
dalam proses pembuatan surat
keterangan waris mulai dari tahap pengumpulan informasi , pembuatan dan
penandatanganan para ahli waris
sehingga tidak terjadi permasalhan dalam surat keterangan waris tersebut.
DAFTAR PUSTAKA Buku Ass er ' s, C , 1 9 2 3, Ha n d l e i di n g t o t de b e o ef e n in g v a n h e t Ne d e rl a n d sc h B u rg e rl ij k R e c h t, Vi j f d e d ee l Va n B e wi j s, b e we rk t d o o r A n n e A n e ma , t we e d e d ru k, W. E . J. T jeen k Wi l l in k, Zwol l e, Ad ji e, Ha bi b, 2 0 1 1 , Hu k u m N o t a ri s I n d o n e si a (Ta f si r Te ma t i k Te rh a d a p UU. 3 0 Ta h u n 2 0 0 4 Te n t a n g J a b a t a n N ot a ri s), R e fi k a Ad i t a ma , Ban d un g ,
---, 2011, Kebatalan dan Pembatalan Akta Notaris, Refika Aditama, Bandung.
So ep r a p t o, Ma r ia Fa r i da I n dr a t i, 2 0 0 2 , I l m u Pe r un d an g - un dan g an , Da sar - Da sar d an Pem ben t u k a n n ya , Kan i si u s, Yog ya k a r t a,
M. Sl am et , M, He t R e c h t sk a ra kt e r E n De I n h ou d Va n De Ve rk l a ri n g Va n E rf re c h t ( d i t er jem a h kan ol eh : W. Wir an at a ) , Pu bl i k a si No. 2 .
Mer t ok u su m o, Su d i k n o, 2 0 1 4 , Pe n e mu a n Hu ku m S e b u a h Pe n g a n t a r E di si Re v i si, C a h a ya At m a Pu st a k a , Yog ya k a r t a
Mer t ok u su m o, Su d i k n o, 1 9 7 9 , Pe n e mu a n Hu k u m S e b u a h Pe n g a n t ar , Li ber t y,
Si t u m or an g , Vi k t or M dan C or m en t yn a Si t an g g a n g, 1 9 9 3 , Gro sse A k t a : d a l a m p e mb u k u a n d a n e k se k u si, Ri n ek a Ci p t a, Ja ka r t a
Shidarta, 2006, Hukum Perlindungan Konsumen Indonesia, Edisi Revisi, Gramedia Widiasarana
Indonesia, Jakarta
Vos, Johannes Wilhelmus Maria De 1975, De Notariele Verklaring Van Erfrecht, Gouda Quint B.V,
Arnhem.
Peraturan Perundang-Undangan
Kitab Undang-Undang Hukum Perdata (Burgelijk Wetboek)
Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 30 Tahun 2004 tentang Jabatan Notaris (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2004 Nomor 117, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4432)
Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2011 tentang Pembentukan Peratur an Perundang-Undangan (Lembar Negara Republik Indonesia Tahun 2011 Nomor 82, Tambahan Lembaran Negara Nomor 5234)
Peraturan Menteri Agraria/Kepala Badan Pertanahan Nasional Nomor 3 Tahun 1997 Tentang Ketentuan Pelaksanaan Peraturan Pemerintah Nomor 14 Tah un 1997
Her m an , 2 0 1 0 , S u ra t K e t e ra n g a n Wa ri s Da n Pe r ma sa l a h a n n y a, a va i l a bl e fr om : h t t p :/ /h er m an n ot ar y. c om / 2 0 1 0 / 0 3 / su r at k et er an g an wa r i s d an
-b e -ber a p a .h t ml
Status Hukum, Pengertian Dasar Hukum, available From :http://statushukum.com/dasar-hukum.html