• Tidak ada hasil yang ditemukan

Rencana Aksi Kegiatan

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "Rencana Aksi Kegiatan"

Copied!
58
0
0

Teks penuh

(1)

BALAI BESAR PELATIHAN KESEHATAN

(BBPK) MAKASSAR

Rencana Aksi

2015 - 2019

Revisi 3

Jalan Moha No.59. Antang Makassar 90234 Telp. (0411) 491975 - 491987

Fax. (0411) 491046 Makassar 90234

Email. [email protected] Website www.bbpkmakassar.or.id

Kegiatan

(2)
(3)
(4)
(5)
(6)
(7)
(8)
(9)

ii

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR ... i

DAFTAR ISI ... ii

KEPUTUSAN KEPALA BALAI BESAR PELATIHAN KESEHATAN BBPK MAKASSAR TENTANG RENCANA AKSI KEGIATAN (RAK) BALAI BESAR PELATIHAN KESEHATAN (BBPK) MAKASSAR TAHUN 2015-2019... iii

KEPUTUSAN KEPALA BALAI BESAR PELATIHAN KESEHATAN BBPK MAKASSAR TENTANG TIM PENYUSUN RENCANA AKSI KEGIATAN (RAK) BALAI BESAR PELATIHAN KESEHATAN (BBPK) MAKASSAR TAHUN 2015-2019 ... iv

BAB I PENDAHULUAN ... A. LATAR BELAKANG ... 1

B. SEJARAH ... 2

C. LANDASAN HUKUM ORGANISASI ... 3

D. VISI BBPK MAKASSAR ... 4

E. MISI BBPK MAKASSAR... 4

F. NILAI ORGANISASI... 4

BAB II ARAH KEBIJAKAN ... A. ARAH KEBIJAKAN BADAN PPSDM ... 5

B. ARAH KEBIJAKAN SATKER ... 5

BAB III ANALISIS LINGKUNGAN BISNIS ... A. FAKTOR EKSTERNAL ... 6

B. FAKTOR INTERNAL ... 11

C. ANALISIS SWOT... 11

D. ASUMSI... 25

E. ISU STRATEGI... 25

BAB IV STRATEGI PENGEMBANGAN ORGANISASI ... A. STRATEGI PENGEMBANGAN... 28

B. SASARAN... 29

C. INDIKATOR KINERJA... 29

(10)

iii

BAB V PROGRAM TAHUN 2015 - 2019 ...

A. PROYEKSI KEBUTUHAN SDM... 38

B. PROYEKSI KEBUTUHAN SARANA DAN PRASARANA... 38

C. PROYEKSI KEBUTUHAN PENGEMBANGAN SUB SISTEM PENDUKUNG... 39

D. PROGRAM TAHUNAN... 39

E. ANGGARAN PROGRAM... 41

BAB VI SIMPULAN DAN MONITORING (mid and end term) ... A. SIMPULAN... 42

B. DEFINISI MONITORING DAN EVALUASI... 42

C. MERENCANAKAN MONITORING DAN EVALUASI... 43

D. KERANGKA KERJA MONITORING DAN EVALUASI... 44

E. RENCANA MONITORING... 44

F. RENCANA EVALUASI... 44

G. SUMBER DAYA UNTUK MELAKUKAN MONITORING DAN EVALUASI... 44

H. KETERLIBATAN STAKEHOLDER UNTUK MONITORING DAN EVALUASI... 45

I. INSTRUMEN UNTUK MELAKUKAN MONITORING DAN EVALUASI... 45

BAB VII PENUTUP... 48

(11)

R A K B B P K M a k a s s a r 2 0 1 5 – 2 0 1 9 R e v i s i I I I Page 1

BAB I PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG ORGANISASI

Undang-Undang Nomor 25 Tahun 2004 tentang Sistem Perencanaan Pembangunan, terutama pada pasal 30 mengamanatkan Pengendalian dan evaluasi pelaksanaan dan rencana pembangunan dan pasal 31 tentang perencanaan pembangunan didasarkan pada data dan informasi yang akurat dan dapat dipertanggungjawabkan. Tujuan yang ingin dicapai pada Sistem Perencanaan Pembangunan Nasional sesuai dengan undang-undang yang ada antara lain untuk mendukung koordinasi antar pelaku pembangunan; menjamin terciptanya integrasi, sinkronisasi, dan sinergi baik antar daerah, antar ruang, antar waktu, antar fungsi pemerintah maupun antara Pusat dan Daerah; menjamin keterkaitan dan konsistensi antara perencanaan, penganggaran, pelaksanaan, dan pengawasan; mengoptimalkan partisipasi masyarakat; dan menjamin tercapainya penggunaan sumber daya secara efisien, efektif, berkeadilan, dan berkelanjutan.

Aksi Kegiatan Kementerian Kesehatan pada periode 2015 – 2019 adalah Aksi Kegiatan Indonesia Sehat dengan sasaran meningkatkan derajat kesehatan dan status gizi masyarakat melalui upaya kesehatan dan pemberdayaan masyarakat yang didukung dengan perlindungan finansial dan pemerataan pelayanan kesehatan. Sasaran pokok RPJMN 2015 – 2019 adalah : (1) meningkatnya status kesehatan dan gizi ibu dan anak; (2) meningkatnya pengendalian penyakit; (3) meningkatnya akses dan mutu pelayanan kesehatan dasar dan rujukan terutama di daerah terpencil, tertinggal dan perbatasan; (4) meningkatnya cakupan pelayanan kesehatan universal melalui Kartu Indonesia Sehat dan kualitas pengelolaan SJSN Kesehatan; (5) terpenuhinya kebutuhan tenaga kesehatan, obat dan vaksin; (6) serta meningkatkan responsitivitas sistem kesehatan.

Aksi Kegiatan Indonesia Sehat dilaksanakan dengan 3 pilar utama yaitu paradigma sehat, penguatan pelayanan kesehatan dan jaminan kesehatan nasional: 1) pilar paradigma sehat dilakukan dengan strategi pengarusutamaan kesehatan dalam pembangunan, penguatan promotif preventif dan pemberdayaan masyarakat; 2) penguatan pelayanan kesehatan dilakukan

(12)

R A K B B P K M a k a s s a r 2 0 1 5 – 2 0 1 9 R e v i s i I I I Page 2

dengan strategi peningkatan akses pelayanan kesehatan, optimalisasi sistem rujukan dan peningkatan mutu pelayanan kesehatan, menggunakan pendekatan continuum of care dan intervensi berbasis risiko kesehatan; 3) Jaminan kesehatan nasional dilakukan dengan strategi perluasan sasaran dan benefit serta kendali mutu dan kendali biaya.

Rencana Aksi Kegiatan dan kegiatan Balai Besar Pelatihan Kesehatan BBPK Makassar diharapkan dapat memberikan panduan dalam melaksanakan rencana yang telah disusun berdasarkan skala prioritas baik ditinjau dari aspek waktu maupun kebutuhan atau kepentingan, disamping merupakan alat kontrol dalam perencanaan maupun pelaksanaan kegiatan.

(13)

R A K B B P K M a k a s s a r 2 0 1 5 – 2 0 1 9 R e v i s i I I I Page 3

C. LANDASAN HUKUM ORGANISASI

Adapun landasan hukum penyusunan Rencana Aksi Kegiatan ini adalah: 1. Landasan Idiil yaitu Pancasila

2. Landasan Konstitusional yaitu UUD 45 3. Landasan Operasional yang terdiri dari :

a. Undang-undang Nomor 25 Tahun 2004 Tentang Sistem Perencanaan Pembangunan.

b. Undang-undang Nomor 17 Tahun 2007 Tentang Rencana Pembangunan Jangka Panjang Nasional 2005 – 2025.

c. Undang-undang Nomor 36 Tahun 2009 Tentang Kesehatan (Lembaran Negara Tahun 2009 Nomor 144, Tambahan Lembaran Negara Nomor 5063).

d. Peraturan Presiden Nomor 72 Tahun 2012 tentang Sistem Kesehatan Nasional.

e. Keputusan Menteri Kesehatan Nomor HK.02.02/MENKES/52/2015 Tentang Rencana Strategis Kementerian Kesehatan Tahun 2015 – 2019.

f. Peraturan Presiden Nomor 2 Tahun 2015 tentang Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional Tahun 2015 – 2019.

g. Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 1144/Menkes/Per/2010 tentang Organisasi dan Tata Kerja Kementerian Kesehatan.

h. Keputusan Menteri Kesehatan Nomor 725/MENKES/SK/V/2003 Tentang Pedoman Penyelenggaraan Pelatihan di Bidang Kesehatan. i. Peraturan Menteri Kesehatan Nomor2361/Menkes/PER XI/2011 tentang

Tata Kerja dan Susunan Organisasi Balai Besar Pelatihan Kesehatan Makassar.

j. Peraturan Menteri Kesehatan Nomor39 Tahun 2018 tentangOrganisasi dan Tata Kerja Balai Besar Pelatihan Kesehatan Makassar.

(14)

R A K B B P K M a k a s s a r 2 0 1 5 – 2 0 1 9 R e v i s i I I I Page 4

D. VISI BBPK MAKASSAR

Tujuan organisasi BBPK Makassar merujuk kepada tujuan Kementerian Kesehatan dan Badan PPSDM Kesehatan, disamping juga menyesuaikan dengan tugas dan fungsinya. Sehingga ditetapkanlah Visi BBPK Makassar yaitu

“Pusat Rujukan Pelatihan Kesehatan yang Bermutu”.

Visi BBPK Makassar tersebut meliputi peningkatan kualitas Diklat aparatur SDM Kesehatan dan masyarakat dilakukan dengan pengendalian mutu diklat yang diselenggarakan oleh BBPK Makassar terutama melalui diklat yang terakreditasi, baik akreditasi institusi maupun akreditasi pelatihan. Untuk peningkatan kuantitas pelatihan dilakukan melalui peningkatan volume pelatihan, baik dengan dana APBN maupun dengan pola PNBP.

E. MISI BBPK MAKASSAR

a. Meningkatkan mutu aparatur dan tenaga kesehatan melalui penyelenggaraan pelatihan yang bermutu.

b. Memberikan pelayanan pelatihan yang bermutu melalui peningkatan sumber daya BBPK Makassar

c. Meningkatkan mutu pelatihan melalui pengendalian, pengkajian dan pengembangan mutu

d. Meningkatkan mutu pelatihan melalui pelayanan informasi

e. Mengembangkan program pelatihan melalui kerjasama lintas sektor

F. NILAI ORGANISASI

Nilai organisasi BBPK adalah JUJUR SAMA DIRI, yaitu: a. Kejujuran

b. Kerja sama c. Disiplin Pribadi d. Keikhlasan e. Kreativitas

(15)

R A K B B P K M a k a s s a r 2 0 1 5 – 2 0 1 9 R e v i s i I I I Page 5

BAB II

ARAH KEBIJAKAN

A. ARAH KEBIJAKAN BADAN PPSDM

Arah kebijakan program Badan Pengembangan dan Pemberdayaan SDM Kesehatan adalah meningkatkan jumlah, jenis, kualitas, dan pemerataan tenaga kesehatan yang mengacu pada arah kebijakan Kementerian Kesehatan.

B. ARAH KEBIJAKAN SATKER

Rencana Aksi Kegiatan BBPK Makassar tahun 2015-2019 merupakan rencana pengembangan Sumber Daya Manusia (SDM) Kesehatan untuk jangka waktu lima tahun ke depan, hal ini ditetapkan dengan maksud agar dapat memberikan arah dan acuan BBPK Makassar dalam pelaksanaan pendidikan dan pelatihan serta upaya pengembangan Sumber Daya Manusia (SDM) BBPK Makassar dalam rangka mendukung percepatan pelaksanaan pembangunan kesehatan guna mewujudkan derajat kesehatan masyarakat yang setinggi tingginya.

(16)

R A K B B P K M a k a s s a r 2 0 1 5 – 2 0 1 9 R e v i s i I I I Page 6

BAB III

ANALISIS LINGKUNGAN BISNIS

Analisis lingkungan dilakukan untuk dapat mengidentifikasi faktor-faktor lingkungan BBPK Makassar yang mempengaruhi kelangsungan pelaksanaan bisnis tersebut.Terdapat 2 analisis lingkungan, yaitu faktor eksternal dan faktor internal.Faktor eksternal meliputi regulasi, segmen pasar, supplier, stakeholder, dan produk substitusi, sedangkan faktor internal meliputi aktivitas utama dan aktivitas pendukung.

a. FAKTOR EKSTERNAL 1) Regulasi

Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 1144/Menkes/Per/2010 tentang Organisasi dan Tata Kerja Kementerian Kesehatan dan Permenkes Nomor 2361/Menkes/PER/XI/2011 tentang Organisasi dan Tata Kerja Unit Pelaksana Teknis di bidang Pelatihan Kesehatan,BBPK Makassar mempunyai tugas melaksanakan pendidikan dan pelatihan serta pengembangan sumber daya manusia kesehatan dan masyarakat.Disamping itu BBPK Makassar menyelenggarakan fungsi sebagai berikut:

a. Penyusunan rencana program dan kegiatan pendidikan dan pelatihan sumber daya manusia kesehatan

b. Pelaksanaan kerjasama nasional maupun internasional di bidang pendidikan dan pelatihan sumber daya manusia kesehatan dan masyarakat;

c. Pelaksanaan advokasi penyelenggaraan pendidikan dan pelatihan sumber daya manusia kesehatan dan masyarakat;

d. Pengembangan metode dan teknologi pelatihan, pemantauan, evaluasi, sistem informasi dan penyusunan laporan penyelenggaraan pendidikan dan pelatihan sumber daya manusia kesehatan dan masyarakat;

e. Penyiapan pengembangan kemitraan;

f. Pengkajian dan pengendalian mutu pelatihan; dan

(17)

R A K B B P K M a k a s s a r 2 0 1 5 – 2 0 1 9 R e v i s i I I I Page 7

Dengan perkembangan dan kebutuhan organisasi maka tahun 2018 Organisasi dan Tata Kerja BBPK Makassar mengalami perubahan sebagaimana tertuang dalam Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 39 Tahun 2018, tentang Organisasi dan Tata Kerja Unit Pelaksana Teknis Bidang Pelatihan Kesehatan di lingkungan Badan Pengembangan dan Pemberdayaan Sumber Daya Manusia Kesehatan Kementerian Kesehatan. Sesuai dengan Permenkes tersebut bahwa Balai Besar Pelatihan Kesehatan mempunyai tugas melaksanakan pengelolaan pelatihan sumber daya manusia kesehatan.

Adapun fungsi Balai Besar Pelatihan Kesehatan adalah menyelenggarakan:

a. penyusunan rencana, program, dan anggaran;

b. pelaksanaan pelatihan sumber daya manusia kesehatan, pelatihan manajemen, dan pelatihan unggulan tertentu;

c. pelaksanaan pengembangan metode dan teknologi pelatihan sumber daya manusia kesehatan;

d. pelaksanaan penjaminan mutu penyelenggaraan pelatihan kesehatan; e. pelaksanaan kerja sama di bidang pelatihan sumber daya manusia

kesehatan;

f. penyelenggaraan kerja sama internasional di bidang pelatihan sumber daya manusia kesehatan;

g. pengelolaan sistem informasi pelatihan sumber daya manusia kesehatan;

h. pelaksanaan bimbingan teknis di bidang pelatihan sumber daya manusia kesehatan;

i. pemantauan, evaluasi, dan pelaporan di bidang pelatihan sumber daya manusia kesehatan; dan

j. pelaksanaan urusan ketatausahaan Balai Besar Pelatihan Kesehatan.

2) Segmen Pasar

Segmentasi pasar adalah kegiatan membagi suatupasar menjadi kelompok – kelompok pembeli yang berbeda yang memiliki kebutuhan, karakteristik, atau perilaku yang berbeda yang mungkin membutuhkan

(18)

R A K B B P K M a k a s s a r 2 0 1 5 – 2 0 1 9 R e v i s i I I I Page 8

produk atau bauran pemasaran yang berbeda.Segmen pasar atau sasaran peserta pelatihan BBPK Makassar yaitu:

a. Unit – unit utama di lingkungan Kementerian Kesehatan.

b. Kementerian/ Lembaga: Kemenristek Dikti, Kementerian Keuangan, LP3TK Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, Kementerian Pertanian.

c. Unit Pelaksana Teknis di lingkungan Kementerian Kesehatan Kementerian/Lembaga

d. Stuned (Studern in Nederland), Safetynett

e. Pemerintah Daerah baik tingkat Provinsi maupun Kab/Kota

f. Rumah Sakit Vertikal, Rumah Sakit Kabupaten Kota – Puskesmas g. Perguruan Tinggi

h. Sekolah Negeri/ swasta

i. Masyarakat (organisasi masyarakat/ organisasi profesi kesehatan)

3) Kompetitor

a. Lembaga Pelatihan Pemerintah Pusat b. Lembaga Pelatihan Pemerintah Daerah c. Lembaga Pelatihan Swasta

d. Organisasi Profesi e. Perguruan Tinggi

f. Rumah Sakit Vertikal dan Daerah g. Hotel

4) Supplier

a) LembagaPelatihanPemerintah Pusat dan Daerah b) Organisasi Profesi

c) Perguruan Tinggi

d) Rumah Sakit Vertikal dan Daerah e) Rindam XIV Hasanuddin

(19)

R A K B B P K M a k a s s a r 2 0 1 5 – 2 0 1 9 R e v i s i I I I Page 9

5) Stakeholders Lain

Menurut Freeman stakeholder adalah suatu kelompok masyarakat ataupun individu yang saling mempengaruhi dan dipengaruhi oleh pencapaian tujuan tertentu dalam organisasi. Berdasarkan hal tersebut disimpulkan bahwa stakeholder internal BBPK Makassar adalah :

a. Manajemen: Kepala BBPK Makassar, struktural eselon 3 dan 4 b. Pegawai (PNS dan PPNPN)

c. Keluarga pegawai

Stakeholder Eksternal adalah :

1. Unit utama dilingkungan Kemenkes; Badan PPSDM Kesehatan, Itjen, Biro Kepegawaian, Biro Keuangan dan BMN, Biro Perencanaan dan Anggaran, Biro Umum, Pusat Data dan Informasi, Pusat Kesehatan Haji, Ditjen Pelayanan Kesehatan.

2. UPT Vertikal Kementerian Kesehatan

3. Kementerian Keuangan; Direktorat Jenderal Anggaran Kementerian Keuangan, Direktorat BLU, Badan Pengawas Keuangan, Direktorat PNBP

4. KPPN Makassar II

5. Badan Kepegawaian Negara (BKN)

6. Kantor Pelayanan Kekayaan Negara dan Lelang (KPKNL)

7. Lembaga Kebijakan Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah (LKPP)

8. Badan Penyelenggara Jaminan Sosial Kesehatan (BPJS) 9. Lembaga Administrasi Negara (LAN) Makassar

10. Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI

11. Wilayah mitra BBPK Makassar; Bapelkes daerah dan Dinkes Prov/Kota/Kab, serta Puskesmas

12. Dinkes Provinsi wilayah mitra : Sulawesi Selatan, Sulawesi Utara, Sulawesi Barat, Sulawesi Tengah, Sulawesi Tenggara, Maluku, Maluku Utara, Gorontalo, Papua, dan Papua Barat

13. Dinas Pemadam Kebakaran Kota Makassar 14. Dinkes Provinsi/Kab/Kota Wilayah Mitra

15. Rumah Sakit dan Puskesmas lokus praktik lapangan 16. Asosiasi Dinas Kesehatan (Adinkes)

(20)

R A K B B P K M a k a s s a r 2 0 1 5 – 2 0 1 9 R e v i s i I I I Page 10

17. Rindam XIV Hasanuddin 18. Ikatan Bidan Indonesia (IBI)

19. Persatuan Obstetri dan Ginekologi (POGI) 20. Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) 21. Persatuan Dokter Gigi Indonesia (PDGI) 22. Ikatan Dokter Indonesia (IDI)

23. Perhimpunan Dokter Spesialis Kardiovaskuler Indonesia (PERKI) 24. Himpunan Ahli Kesehatan Lingkungan (HAKLI)

25. Persatuan Ahli Gizi (PERSAGI)

26. Fakultas Kesehatan Masyarakat UNHAS 27. Organisasi Masyarakat/ profesi

6) Produk Subsitusi

Produk substitusi/produk lainnya di Balai Besar Pelatihan Kesehatan Makassar sebagai berikut:

a. Workshop/Seminar/Magang b. Capacity Building

c. Pemanfaatan SDM

d. Pemanfaatan akomodasi dan kelas/ auditorium e. Poltekkes Sulbar (labskill kebidanan)

7) Faktor Lingkungan Eksternal Lainnya

Faktor lingkungan eskternal lainnya di Balai Besar Pelatihan Kesehatan Makassar sebagai berikut:

a. Kebijakan pusat (efisiensi anggaran)

b. PERKA LAN Nomor 25 Tahun 2015tentang Pedoman Akreditasi Lembaga Pendidikan dan Pelatihan Pemerintah

(21)

R A K B B P K M a k a s s a r 2 0 1 5 – 2 0 1 9 R e v i s i I I I Page 11

b. FAKTOR INTERNAL

1) Aktivitas Utama

Aktivitas utamaBalai Besar Pelatihan Kesehatan Makassar sebagai berikut: a. Pelatihan Teknis Bidang Kesehatan

b. Pelatihan Jabatan Fungsional Bidang Kesehatan c. Pelatihan Manajemen

d. Pelatihan Teknis Non Kesehatan 2) Aktivitas Pendukung

3) Aktivitas pendukungBalai Besar Pelatihan Kesehatan Makassar sebagai berikut:

a. Outbound

b. Saka Bakti Husada c. Study Banding d. Fasilitasi Kemitraan e. Laboratorium Lapangan

f. Trauma HealingPasca Bencana g. Pemanfaatan IT

c. ANALISIS SWOT

Analisis SWOT merupakan metode perencanaan strategsi yang digunakan untuk mengevaluasi kekuatan (strengths), kelemahan (weakness), peluang (opportunities), dan ancaman (threats) yang terdiri atas lingkungan internal dan eksternal meliputi aspek :

1. Aspek layanan 2. Aspek keuangan

3. Aspek organisasi dan SDM 4. Aspek sarana dan prasarana

(22)

R A K B B P K M a k a s s a r 2 0 1 5 – 2 0 1 9 R e v i s i I I I Page 12

Analisis SWOT Faktor Internal

Tabel 1

Analisis SWOT Faktor Internal

No Faktor Kekuatan (Strength) Kelemahan (Weakness)

1. Aspek layanan

1) Mendapatkan sertifikat Akreditasi Institusi berdasarkan Surat Keputusan Kepala Badan PPSDM Kesehatan Nomor: 127/H/A.I/XII/2017

2) Mendapatkan sertifikat Akreditasi dari Lembaga Administrasi Negara (LAN) Nomor: 425/K.I/PDP/09 tertanggal 18 Oktober 2018 dengan kategori :

• Akreditasi B untuk Pelatihan Kepemimpinan Tingkat IV

• Akreditasi A untuk Pelatihan Dasar CPNS

3) Mempunyai pelatihan unggulan di bidang Kesehatan Ibu dan Anak

4) Tersedianya sistem informasi organisasi (website)

5) Tersedianya Sistem Integrasi Pelayanan Kepelatihanan (SINTPEK)

6) Penyelesaian STTPL/ sertifikat tepat waktu

1) Belum semua pelatihan memiliki kurikulum dan modul

2) Belum semua pelatihan dilakukan evaluasi pasca pelatihan

3) Pelatihan unggulan masih terbatas pada pelatihan kesehatan ibu dan anak 4) Belum optimalnya penggunaan teknologi informasi pelayanan kepelatihanan 5) Belum optimalnya penggunaan website sebagai media penyebaran informasi layanan di BBPK Makassar

6) Belum semua pelatihan dilaksanakan di BBPK Makassar

2. Aspek Keuangan

1. Adanya dukungan anggaran dari pemerintah (APBN)

2. Adanya komitmen dari Kepala BBPK Makassar beserta seluruh staf dalam mendukung realisasi anggaran.

3. Adanya peningkatan pendapatan PNBP bidang pelatihan

4. Adanya peningkatan pendapatan penggunaan sarana dan prasarana

1. Sistem SPIP belum dilaksanakan secara maksimal

2. Belum semua kegiatan pelatihan dan operasional terakomodir dalam PP 21 Tahun 2013

3. Belum adanya revisi PP 21 tahun 2013 yang mendukung tuntutan

(23)

R A K B B P K M a k a s s a r 2 0 1 5 – 2 0 1 9 R e v i s i I I I Page 13

peningkatan layanan pendidikan dan pelatihan. 4. Belum optimalnya penggunaan tekhnologi informasi dalam pengelolaan keuangan. 3. Aspek Organisasi dan SDM

1. Adanya SOTK BBPK Makassar (Permenkes No. 39 tahun 2018)

2. Adanya Visi, misi dan nilai-nilai organisasi 3. Adanya struktur organisasi dan Job

Deskripsi yang terstandar dan akuntabel untuk semua komponen SDM BBPK Makassar

4. 84% Widyaiswara pendidikan S2.

5. 1 orang Widyaiswara dengan Pendidikan S3

6. Secara keseluruhan 33 % pegawai BBPK Makassar berpendidikan diatas S1

7. Memiliki tenaga Kepelatihanan dan non Kepelatihanan yang kompeten di bidangnya, dibuktikan dengan adanya sertifikat MOT, TOC, dan TOT

8. Tersedianya anggaran peningkatan kapasitas SDM.

9. Adanya peta jabatan dilingkungan BBPK Makassar

10. Adanya dukungan sistem informasi manajemen kepegawaian

11. Adanya wilayah kemitraan di 10 propinsi (Sulawesi Selatan, Sulawesi Utara, Sulawesi Barat, Sulawesi Tengah, Sulawesi Tenggara, Maluku, Maluku Utara, Gorontalo, Papua, dan Papua Barat) sebagai captive market

1. Belum tersedianya system informasi kualifikasi dan spesifikasi tenaga kepelatihanan (pelatihan dan non pelatihan)

2. Belum tersedianya grand desain pengembangan institusi dan pengembangan kapasitas SDM

3. Spesialisasi widyaiswara belum terpenuhi

4. Aspek Sarana dan

1. Auditorium dengan kapasitas 200 orang. 2. Adanya fasilitas asrama yang memadai

1. Lahan praktek banyak menggunakan lahan di luar

(24)

R A K B B P K M a k a s s a r 2 0 1 5 – 2 0 1 9 R e v i s i I I I Page 14

Prasarana dengan kapasitas 220 orang

3. Memiliki laboratorium lapangan yang memadai.

4. Memiliki ruang kelas sebanyak 7 kelas dengan kapasitas 30 – 40 orang

5. Memiliki ruang makan sebanyak 3 ruang berkapasitas 30 - 150 orang.

6. Memiliki ruang menyusui (Nursery Room) 7. Memiliki ruang P3K

8. Memiliki ruang bermain anak

9. Memiliki fasilitas ibadah berupa Masjid 10. Memiliki sarana olahraga yang cukup

memadai (lapangan bulu tangkis, fitness

center)

11. Memiliki alat praktek kesehatan ibu dan anak

12. Tersedianya fasilitas intenet/wi fi 13. Tersedianya server.

BBPK Makassar

2. Sarana akomodasi belum dapat mengakomodir jumlah peserta lebih dari 200 orang

3. Belum optimalnya penggunaan server dalam memberikan layanan

4. Pengelolaan pelayanan sarana dan prasarana belum menggunakan sistem informasi.

Analisis SWOT Faktor Eksternal

Tabel 2

Analisis SWOT Faktor Eksternal

No. Faktor Peluang (Opportunity) Ancaman (Threats)

1. Aspek layanan

1. Amanat UU ASN yang menjadikan pelatihan sebagai hak dari setiap PNS dengan 20 jam pelajaran tiap tahun 2. Perkembangan teknologi dan metodologi

kepelatihanan

3. Mengembangkan program pelatihan di wilayah mitra

4. Kebutuhan sertifkasi kompetensi untuk tenaga kesehatan dan SDM kesehatan 5. Komitmen pemerintah untuk

pengembangan SDM kesehatan

1. Adanya lembaga non pemerintah yang turut melaksanakan pelatihan bidang kesehatan. 2. Trend peningkatan pembentukan balai pelatihan oleh pemerintah daerah 3. Penigkatan tekhnologi informasi dalam pemberian informasi

(25)

R A K B B P K M a k a s s a r 2 0 1 5 – 2 0 1 9 R e v i s i I I I Page 15

6. Jenis pelatihan yang beragam untuk tenaga kesehatan

7. Mempunyai jejaring lintas sektor dan lintas program

8. Banyaknya permintaan dari pemerintah kab/ kota untuk jenis pelatihan teknis kesehatan

pelayanan

4. Tidak update-nya data dan informasi yang terkait dengan pelayanan pelatihan.

5. Pengembangan program pelatihan tidak berbasis data real dilapangan 6. Berkurangnya jenis dan

jumlah pelatihan yang dikelola

7. Rendahnya SOR dan BOR

2. Aspek Keuangan

1. Dukungan kebijakan dari Kemenkes dalam meningkatkan layanan pendidikan dan pelatihan melalui PK BLU sesuai PP. No. 23 Th. 2005.

2. Adanya dukungan regulasi pengelolaan keuangan

3. Adanya dukungan aplikasi pengelolaan keuangan dari kementerian keuangan 4. Adanya dukungan layanan pengelolaan

keuangan dari pihak perbankan

5. Potensi penerimaan penggunaan jasa layanan serta sarana dan prasarana yang cukup besar

1. Belum dapat meraih predikat WBK dan WBBM

2. Belum adanya update tarif Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP) 3. Belum optimalnya penggunaan layanan perbankan dalam pengelolaan keuangan 3. Aspek SDM dan Organisasi

1. Adanya political wheel dari owner BBPK Makassar (Menteri dan Kepala Badan PPSDM Kesehatan)

2. Kesempatan untuk tugas belajar dan pelatihan (degree dan non degree)

3. Meningkatnya kebutuhan aparatur dan tenaga kesehatan yang profesional melalui pelatihan (Penjenjangan, teknis dan fungsional)

1. Masih rendahnya serapan tenaga kesehatan oleh pemerintah disebabkan regulasi belum optimal. 2. Rendahnya kemampuan

kelembagaan unit pelayanan perpustakaan, informasi, dan

(26)

sarana-R A K B B P K M a k a s s a r 2 0 1 5 – 2 0 1 9 sarana-R e v i s i I I I Page 16

4. Adanya komunikasi dengan organisasi profesi untuk meningkatkan kompetensi tenaga kesehatan

prasarana .

3. Standar kompetensi tenaga kesehatan masih banyak yang belum ditetapkan

4. Aspek Sarana dan Prasarana

1. Pemanfaatan sarana dan prasarana oleh pihak ketiga cukup tinggi.

2. Adanya komitmen dari owner untuk memenuhi kebutuhan sarpras BBPK Makassar

1. Cepatnya perkembangan teknologi sarana dalam bidang pelayanan kesehatan.

2. Tuntutan pelayanan sarana dan sarana berbasis sistem informasi

3. Meningkatnya penyedia sarana dan prasarana pelatihan yang kompetitif

Hasil Analisis SWOT

Tabel 3

Hasil Analisis SWOT (Analisis Kekuatan)

No. Uraian Faktor Sub Faktor Rating Nilai (a) (c) (a x b x c) Uraian Nilai (b) (1 –4) 1 Aspek layanan

35% 1 Mendapatkan sertifikat Akreditasi Institusi berdasarkan Surat Keputusan Kepala Badan PPSDM Kesehatan Nomor: 127/H/A.I/XII/2017

4 1,4

2 Mendapatkan sertifikat Akreditasi dari Lembaga Administrasi Negara (LAN) Nomor: 425/K.I/PDP/09 tertanggal 18 Oktober 2018 dengan kategori :

• Akreditasi B untuk Pelatihan

(27)

R A K B B P K M a k a s s a r 2 0 1 5 – 2 0 1 9 R e v i s i I I I Page 17

Kepemimpinan Tingkat IV • Akreditasi A untuk Pelatihan

Dasar CPNS

3 Mempunyai pelatihan unggulan di

bidang Kesehatan Ibu dan Anak 2 0,7 4 Tersedianya sistem informasi

organisasi (website) 2 0,7

5 Tersedianya Sistem Integrasi

Pelayanan Kepelatihanan (SINTPEK) 2 0,7 6 Penyelesaian STTPL/ sertifikat tepat

waktu 2 1,05

2 Aspek Keuangan

25% 1 Adanya dukungan anggaran dari

pemerintah (APBN) 4 1

2 Adanya komitmen dari Kepala BBPK Makassar beserta seluruh staf dalam mendukung realisasi anggaran.

3 0,75

3 Adanya peningkatan pendapatan

PNBP bidang pelatihan 4 1

4 Adanya peningkatan pendapatan

penggunaan sarana dan prasarana 4 1 3 Aspek SDM dan Organisasi

20% 1 Adanya SOTK BBPK Makassar

(Permenkes No. 39 tahun 2018) 4 0,8 2 Adanya Visi, misi dan nilai-nilai

organisasi 4 0,8

3 Adanya struktur organisasi dan Job Deskripsi yang terstandar dan akuntabel untuk semua komponen SDM BBPK Makassar

3 0,6

4 84 % Widyaiswara pendidikan S2. 4 0,8 5 1 orang Widyaiswara dengan

Pendidikan S3 4 0,8

6 Secara keseluruhan 33 % pegawai BBPK Makassar berpendidikan diatas S1

(28)

R A K B B P K M a k a s s a r 2 0 1 5 – 2 0 1 9 R e v i s i I I I Page 18

7 Memiliki tenaga Kepelatihanan dan non Kepelatihanan yang kompeten di bidangnya, dibuktikan dengan adanya sertifikat MOT, TOC, dan TOT

2 0,4

8 Tersedianya anggaran peningkatan

kapasitas SDM. 2 0,4

9 Adanya peta jabatan dilingkungan

BBPK Makassar 3 0,6

10 Adanya dukungan sistem informasi

manajemen kepegawaian 2 0,4

11 Adanya wilayah kemitraan di 10 propinsi (Sulawesi Selatan, Sulawesi Utara, Sulawesi Barat, Sulawesi Tengah, Sulawesi Tenggara, Maluku, Maluku Utara, Gorontalo, Papua, dan Papua Barat) sebagai captive Market

2 0,4

4 Aspek Sarana dan Prasarana

20% 1 Auditorium dengan kapasitas 200

orang 4 0,8

2 Adanya fasilitas asrama yang memadai dengan kapasitas 220 orang

4 0,8

3 Memiliki laboratorium lapangan yang

memadai. 4 0,8

4 Memiliki ruang kelas sebanyak 7 kelas dengan kapasitas 30 – 40 orang

4 0,8

5 Memiliki ruang makan sebanyak 3 ruang berkapasitas 30 - 150 orang.

4 0,8

6 Memiliki ruang menyusui (Nursery

Room) 2 0,4

7 Memiliki ruang P3K 1 0,2

8 Memiliki ruang bermain anak 1 0,2 9 Memiliki fasilitas ibadah berupa

(29)

R A K B B P K M a k a s s a r 2 0 1 5 – 2 0 1 9 R e v i s i I I I Page 19

10 Memiliki sarana olahraga yang cukup memadai (lapangan bulu tangkis, fitness center)

2 0,4

11 Memiliki alat praktek kesehatan ibu dan anak

4 0,8

12 Tersedianya fasilitas intenet/wi fi 2 0,4

13 Tersedianya server. 2 0,4

Tabel 4

Hasil Analisis SWOT(Analisis Kelemahan)

No. Uraian Faktor Sub Faktor Rating Nilai (a) (c) (a x b x c) Uraian Nilai (b) (1 –4) 1 Aspek layanan

35% 1 Belum semua pelatihan memiliki

kurikulum dan modul 4 1,4

2 Belum semua pelatihan dilakukan

evaluasi pasca pelatihan 4 1,4

3 Pelatihan unggulan masih terbatas pada pelatihan kesehatan ibu dan anak

2 0,7

4 Belum optimalnya penggunaan teknologi informasi pelayanan kepelatihanan

2 0,7

5 Belum optimalnya penggunaan website sebagai media

penyebaran informasi layanan di BBPK Makassar

2 0,7

6 Belum semua pelatihan

dilaksanakan di BBPK Makassar 1 0.35 2 Aspek

Keuangan

25% 1 Sistem SPIP belum dilaksanakan

(30)

R A K B B P K M a k a s s a r 2 0 1 5 – 2 0 1 9 R e v i s i I I I Page 20

2 Belum semua kegiatan pelatihan dan operasional terakomodir dalam PP 21 Tahun 2013

4 1

3 Belum adanya revisi PP 21 tahun 2013 yang mendukung tuntutan peningkatan layanan pendidikan dan pelatihan.

4 1

4 Belum optimalnya penggunaan tekhnologi informasi dalam pengelolaan keuangan 2 0,5 3 Aspek SDM dan Organisasi

20% 1 Belum tersedianya system informasi kualifikasi dan spesifikasi tenaga kepelatihanan (pelatihan dan non pelatihan)

4 0,8

2 Belum tersedianya grand desain pengembangan institusi dan pengembangan kapasitas SDM

4 0,8

3 Spesialisasi widyaiswara belum

terpenuhi 4 0,8

4 Aspek Sarana dan Prasarana

20% 1 Lahan praktek banyak menggunakan lahan di luar BBPK Makassar

4 0,8

2 Sarana akomodasi belum dapat mengakomodir jumlah peserta lebih dari 200 orang

4 0,8

3 Belum optimalnya penggunaan server dalam memberikan layanan

2 0,4

4 Pengelolaan pelayanan sarana dan prasarana belum menggunakan sistem informasi.

(31)

R A K B B P K M a k a s s a r 2 0 1 5 – 2 0 1 9 R e v i s i I I I Page 21

Tabel 5

Hasil Analisis SWOT(Analisis Peluang)

No. Uraian Faktor Sub Faktor Rating Nilai (a) (c) (a x b x c) Uraian Nilai (b) (1 –4) 1 Aspek layanan

35% 1 Amanat UU ASN yang menjadikan pelatihan sebagai hak dari setiap PNS dengan 20 jam pelajaran tiap tahun

4 1,4

2 Perkembangan teknologi dan

metodologi kepelatihanan 3 1,05

3 Mengembangkan program pelatihan

di wilayah mitra 3 1,05

4 Kebutuhan sertifkasi kompetensi untuk tenaga kesehatan dan SDM kesehatan

4 1,4

5 Komitmen pemerintah untuk

pengembangan SDM kesehatan 2 0,7

6 Jenis pelatihan yang beragam untuk

tenaga kesehatan 3 1.05

7 Mempunyai jejaring lintas sektor dan

lintas program 2 0,7

8 Banyaknya permintaan dari pemerintah kab/ kota untuk jenis pelatihan teknis kesehatan

3 1,05

2 Aspek Keuangan

25% 1 Dukungan kebijakan dari Kemenkes dalam meningkatkan layanan pendidikan dan pelatihan melalui PK BLU sesuai PP. No. 23 Th. 2005.

4 1

2 Adanya dukungan regulasi

pengelolaan keuangan 4 1

3 Adanya dukungan aplikasi pengelolaan keuangan dari kementerian keuangan

(32)

R A K B B P K M a k a s s a r 2 0 1 5 – 2 0 1 9 R e v i s i I I I Page 22

4 Adanya dukungan layanan pengelolaan keuangan dari pihak perbankan

2 0,5

5 Potensi penerimaan penggunaan jasa layanan serta sarana dan prasarana yang cukup besar

3 0,75 3 Aspek SDM dan Organisasi

20% 1 Adanya political wheel dari owner BBPK Makassar (Menteri dan Kepala Badan PPSDM Kesehatan)

4 0,8

2 Kesempatan untuk tugas belajar dan

pelatihan (degree dan non degree) 4 0,8 3 Meningkatnya kebutuhan aparatur

dan tenaga kesehatan yang profesional melalui pelatihan (Penjenjangan, teknis dan fungsional)

3 0,6

4 Adanya komunikasi dengan organisasi profesi untuk meningkatkan kompetensi tenaga kesehatan 2 0,4 4 Aspek Sarana dan Prasarana

20% 1 Pemanfaatan sarana dan prasarana

oleh pihak ketiga cukup tinggi. 2 0,4 2 Adanya komitmen dari owner untuk

memenuhi kebutuhan sarpras BBPK Makassar

(33)

R A K B B P K M a k a s s a r 2 0 1 5 – 2 0 1 9 R e v i s i I I I Page 23

Tabel 6

Hasil Analisis SWOT(Analisis Ancaman)

No. Uraian Faktor Sub Faktor Rating Nilai (a) (c) (a x b x c) Uraian Nilai (b) (1 –4) 1 Aspek layanan

35% 1 Adanya lembaga non pemerintah yang turut melaksanakan pelatihan bidang kesehatan.

4 1,4

2 Trend peningkatan pembentukan balai pelatihan oleh pemerintah daerah

4 1,4

3 Penigkatan tekhnologi informasi

dalam pemberian informasi pelayanan 2 0,7 4 Tidak update-nya data dan informasi

yang terkait dengan pelayanan pelatihan.

2 0,7

5 Pengembangan program pelatihan

tidak berbasis data real dilapangan 4 1,4 6 Berkurangnya jenis dan jumlah

pelatihan yang dikelola 3 1,05

7 Rendahnya SOR dan BOR 2 0,7

2 Aspek Keuangan

25% 1 Tidak dapat meraih predikat WBK dan

WBBM 3 0,75

2 Belum adanya update tarif Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP)

4 1

3 Belum optimalnya penggunaan layanan perbankan dalam pengelolaan keuangan 1 0,25 3 Aspek SDM dan Organisasi

20% 1 Masih rendahnya serapan tenaga kesehatan oleh pemerintah disebabkan regulasi belum optimal.

3 0,6

2 Rendahnya kemampuan

(34)

R A K B B P K M a k a s s a r 2 0 1 5 – 2 0 1 9 R e v i s i I I I Page 24

perpustakaan, informasi, dan sarana-prasarana .

3 Standar kompetensi tenaga kesehatan masih banyak yang belum ditetapkan

4 0,6

4 Aspek Sarana dan

Prasarana

20% 1 Cepatnya perkembangan teknologi sarana dalam bidang pelayanan kesehatan

2 0,4

2 Tuntutan pelayanan sarana dan

sarana berbasis sistem informasi 4 0,8 3 Meningkatnya penyedia sarana dan

prasarana pelatihan yang kompetitif 4 0,8

Tabel 7

REKAPITULASI PERHITUNGAN HASIL ANALISIS SWOT

No. Uraian Kekuatan Kelemahan Peluang Ancaman

(Strength) (Weakness) (Opportunity) (Threats)

1. Aspek Pelayanan 5,95 5,95 8,4 7,35 2. Aspek Keuangan 3,75 3,5 3,75 2 3. Aspek SDM dan Organisasi 6,8 2,4 2,6 2 4. Aspek Sarana dan Prasarana 7,2 2,4 1,2 2 Jumlah Jumlah 23,7 14.25 15,95 Sumbu X = (S-W)/2 = 4,72 Sumbu Y = (O-T)/2 = 1,3

(35)

R A K B B P K M a k a s s a r 2 0 1 5 – 2 0 1 9 R e v i s i I I I Page 25

d. ASUMSI

Dengan adanya kompetitor dari berbagai instansi baik dari Pemerintah maupun Swasta semakin memberikan upaya untuk meningkatkan pelayanankepada pelanggan melalui perbaikan sarana dan prasarana, peningkatan kapasitas SDM BBPK Makassar melalui pelatihan atau pendidikan formal.

e. ISU STRATEGIS

Dewasa ini dihadapi permasalahan kurangnya kompetensi aparatur kesehatan dalam mengemban tugas dan tanggung jawab serta fungsinya dalam penyelenggaraan pembangunan dan pelayanan kesehatan.

Dalam upaya meningkatkan, kompetensi dan profesionalisme aparatur kesehatan, pendidikan dan pelatihan mempunyai peran yang strategis. Mengingat aparatur kesehatan bekerja disemua lini dari pusat sampai daerah secara lintas sektor, maka pendidikan dan pelatihan aparatur kesehatan perlu mendapatkan perhatian dari semua pemangku kepentingan. Agar pendidikan dan pelatihan aparatur kesehatan yang diselenggarakan di berbagai

-5 -4 -3 -2 -1 0 1 2 3 4 5 -5 -4 -3 -2 -1 0 1 2 3 4 5 Internal (S-W) Eksternal (O-T) Kuadran II Stabil Kuadran III Bertahan Kuadran I Tumbuh Kuadran IV Diversifikasi

(36)

R A K B B P K M a k a s s a r 2 0 1 5 – 2 0 1 9 R e v i s i I I I Page 26

kementerian dan lembaga dapat dilaksanakan secara sinergis, dengan kualitas yang terstandar.

Dengan memperhatikan masalah kurang memadainya mutu tenaga kesehatan lulusan institusi pendidikan tenaga kesehatan, merupakan tantangan yang perlu dijawab dengan pendidikan dan pelatihan aparatur kesehatan. Apalagi perlunya peningkatan mutu tenaga kesehatan agar mempunyai daya saing yang tinggi untuk memenuhi permintaan tenaga kesehatan dari luar negeri. Namun keterbatasan biaya, sumber daya manusia pendidikan dan pelatihan, dan sarana prasarana yang dibutuhkan menjadi penghambat dalam menjawab tantangan belum memadainya mutu tenaga kesehatan ini.

Selama beberapa dekade, seluruh aparatur baik aparatur kesehatan maupun aparatur non kesehatan mendapatkan pendidikan dan pelatihan dari masing-masing Kementerian dan Lembaga serta TNI/Polri. Pendidikan dan pelatihan yang diberikan kepada aparatur kesehatan meliputi pendidikan dan pelatihan prajabatan/pratugas, kepemimpinan maupun teknis dan fungsional. Kurangnya koordinasi dan sinergisme, mengakibatkaan beragamnyaa kompetensi yang dimiliki aparatur kesehatan pada tugas dan fungsi sejenis.

Seiring dengan pelaksanaan desentralisasi, terjadi perubahan dalam penyelenggaraan pendidikan dan pelatihan. Berbagai urusan dilimpahkan kewenangannya dari Pemerintah kepada pemerintah daerah. Berbagai pendidikan dan pelatihan diselenggarakan oleh Badan Pelatihan Daerah. Kementerian Kesehatan telah berkoordinasi dengan Badan Pelatihan Kementerian Dalam Negeri dan Badan Pelatihan Provinsi dalam penyelenggaraan pendidikan dan pelatihan bagi aparatur daerah yang bertugas di bidang kesehatan. Namun koordinasi tersebut masih perlu ditingkatkan. Demikian pula diperlukan kejelasan pembagian peran dan tanggung jawab antar institusi terkait tersebut.

Dampak lainnya dari desentralisasi, di beberapa daerah pengangkatan ke dalam jabatan struktural belum sepenuhnya memperhatikan kommpetensi yang diperlukan, serta belum ada dan diterapkannya sistem pengembangan karir.

Tantangan kedepan yang dihadapi oleh aparatur kesehatan yang akan mempengaruh pelatihan-pelatihan yang akan diselenggarakan antara lain :

(37)

R A K B B P K M a k a s s a r 2 0 1 5 – 2 0 1 9 R e v i s i I I I Page 27

1. Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi tentunya harus diikuti oleh peningkatan kompetensi aparatur kesehatan agar dapat berkinerja seoptimal mungkin.

2. Globalisasi yang akan mempengaruhi migrasi tenaga kesehatan baik dari dalam ke luar negeri maupun dari luar negeri ke dalam negeri.

Didasarkan Rencana Strategis (Renstra) Kementerian Kesehatan dan pada hasil evaluasi diri BBPK Makassar, maka di dapatkan 5 (lima) isu strategis utama sebagai berikut:

1. Pengembangan Sumber Daya Pelatihan Aparatur dan Tenaga Kesehatan tidak berdasarkan evidence based.

2. Pelayanan belum berorientasi terhadap kepuasan pelanggan, hal ini antara lain disebabkan belum dilaksanakannya secara konsisten Standar Prosedure Operasional di hampir setiap pelayanan yang ada di BBPK Makassar.

3. Pengendalian mutu Pelatihan Kesehatan melalui standarisasi, akreditasi, sertifikasi dan evaluasi, serta akreditasi institusi pelatihan belum sepenuhnya dilaksanakan sesuai kaidah/ pedoman yang ada.

4. Sistem Informasi Pelatihan belum optimal sebagai dasar perencanaan pengembangan SDM kesehatan.

5. Kerjasama lintas sektor dan lintas program tentang kepelatihanan belum optimal.

(38)

R A K B B P K M a k a s s a r 2 0 1 5 – 2 0 1 9 R e v i s i I I I Page 28

BAB IV

STRATEGI PENGEMBANGAN ORGANISASI a. Strategi Pengembangan

Untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan dan menjawab isu strategis BBPK Makassar sampai dengan tahun 2019, ditempuh strategi sebagai berikut:

1. Penguatan perencanaan kebutuhan sumber daya pelatihan aparatur dan tenaga kesehatan. Perencanaan kebutuhan sumber daya pelatihan yang diperlukan untuk mendukung kelancaran penyelenggaraan pelatihan di BBPK Makassar, merupakan suatu rangkaian kegiatan yang strategis dan sebagai kunci awal keberhasilan pencapaian tujuan penyelenggaraan pelatihan yang bermutu yang nantinya akan menghasilkan luaran pelatihan yang bermutu pula. Penguatan perencanaan kebutuhan sumber daya pelatihan dilakukan dengan memantapkan metode perencanaannya, peningkatan kemampuan perencana pengelola Aksi Kegiatan pelatihan serta mengupayakan data dan informasi terkait yang akurat pula.

2. Meningkatkan kualitas pelayanan yang senantiasa berorientasi pada kebutuhan/ kepuasan pelanggan. Pelayanan belum berorientasi terhadap kepuasan pelanggan, hal ini antara lain disebabkan belum dilaksanakannya secara konsisten standar operasional prosedur (SOP) di hampir setiap pelayanan yang ada di BBPK Makassar, untuk itulah maka sangat diharapkan kiranya penerapan SOP maupun standar pelayanan minimal menjadi suatu kewajiban bagi semua unsur yang ada di BBPK Makassar, dan juga hendaknya komitmen mutu menjadi salah satu komitmen institusi. 3. Mengembangkan kerjasama lintas sektor dan lintas program dalam bidang

kepelatihanan.

4. Menyelenggarakan advokasi pendidikan dan pelatihan sumber daya manusia kesehatan dan masyarakat

5. Mengembangkan metode dan teknologi pelatihan, pemantauan, evaluasi, sistem informasi, dan penyusunan laporan penyelenggaraan pendidikan dan pelatihan sumber daya manusia kesehatan dan masyarakat

6. Pengendalian mutu Pelatihan Kesehatan melalui Penyelenggaraan Pendidikan dan Pelatihan Kesehatan dan Masyarakat hendaknya

(39)

R A K B B P K M a k a s s a r 2 0 1 5 – 2 0 1 9 R e v i s i I I I Page 29

dilaksanakan sesuai Pedoman Penyelenggaraan Pendidikan dan Pelatihan Tenaga Kesehatan yang dituangkan dalam Surat Keputusan Menteri Kesehatan RI Nomor : 725/SK/X/2003 dan Standar Operasional Prosedure yang ada di Balai Besar Pelatihan Kesehatan Makassar.

7. Peningkatan kompetensi SDM pengelola pelatihan

Untuk menjalankan hal tersebut diatas, Balai Besar Pelatihan Kesehatan Makassar, senantiasa berpedoman pada kerangka regulasi dan kerangka kelembagaan yang disusun Badan PPSDM Kesehatan dan Kementerian Kesehatan.

b. Sasaran

Sasaran Strategis Balai Besar Pelatihan Kesehatan (BBPK) Makassar adalah sebagai berikut :

1. Meningkatnya mutu aparatur melalui pelaksanaan pelatihan teknis, jabatan, fungsional, penjenjangan, dan prajabatan

2. Meningkatnya mutu tenaga kesehatan melalui pelaksanaan pelatihan bidang kesehatan

3. Meningkatnya mutu pelatihan melalui pelaksanaan pengembangan pelatihan kesehatan

4. Meningkatnya mutu pelatihan melalui pelaksanaan pengendalian mutu kesehatan

5. Meningkatnya mutu pelatihan melalui pelayanan informasi dan teknologi kesehatan

6. Meningkatnya mutu pelatihan melalui pengembangan sumber daya kesehatan

7. Meningkatnya Dukungan Manajemen Pelatihan dan Pelaksanaan Tugas Teknis lainnya melalui Pelaksanaan Manajemen Keuangan dan Perkantoran

c. Indikator Kinerja

Target kinerja kegiatan sebagai penilaian dari pencapaian akhir yang diukur secara berkala dan dievaluasi pada akhir tahun 2019, dan sasaran kinerja kegiatan dihitung secara kumulatif selama lima tahun dan berakhir pada

(40)

R A K B B P K M a k a s s a r 2 0 1 5 – 2 0 1 9 R e v i s i I I I Page 30

tahun 2019. Kegiatan yang dilakukan dalam mendukung kinerja yang ingin dicapai yaitu:

1. Pelaksanaan pelatihan teknis, jabatan fungsional, penjenjangan, dan prajabatan bagi aparatur kesehatan

Sasaran kegiatan ini adalah meningkatnya mutu aparatur melalui pelaksanaan pelatihan teknis, jabatan, fungsional, penjenjangan, dan prajabatan. Indikator pencapaian sasaran adalah :

a. Jumlah aparatur kesehatan yang mengikuti pelatihan teknis sebanyak 9.194 orang.

b. Jumlah aparatur kesehatan yang mengikuti jabatan fungsional sebanyak 2.263 orang.

c. Jumlah aparatur kesehatan yang mengikuti penjenjangan sebanyak 49orang.

d. Jumlah aparatur kesehatan yang mengikuti prajabatan sebanyak 732orang.

2. Pelaksanaan pengembangan Pelatihan Kesehatan

Sasaran kegiatan ini adalah meningkatnya mutu pelatihan melalui pelaksanaan pengembangan pelatihan kesehatan. Indikator pencapaian sasaran adalah :

a. Jumlah kurikulum pelatihan yang dikembangkan sebanyak 1 dokumen b. Jumlah modul pelatihan yang disusun sebanyak 6 dokumen

c. Jumlah kegiatan kemitraan sebanyak 11 kegiatan

3. Pelaksanaan pengendalian mutu pelatihan

Sasaran kegiatan ini adalah meningkatnya mutu pelatihan melalui pelaksanaan pengendalian mutu pelatihan kesehatan. Indikator pencapaian sasaran adalah:

a. Jumlah pelatihan yang terakreditasi sebanyak 101 pelatihan

(41)

R A K B B P K M a k a s s a r 2 0 1 5 – 2 0 1 9 R e v i s i I I I Page 31

4. Pelayanan informasi ilmu pengetahuan dan teknologi kesehatan

Sasaran kegiatan ini adalah meningkatnya mutu pelatihan melalui pelayanan informasi dan teknologi kesehatan. Indikator pencapaian sasaran adalah :

a. Jumlah media informasi IPTEK berbasis Website sebanyak 7 sistem b. Jumlah media informasi IPTEK berbasis Buletin sebanyak 10 dokumen

5. Pengembangan sumber daya kesehatan

Sasaran kegiatan ini adalah meningkatnya mutu pelatihan melalui pengembangan sumber daya kesehatan. Indikator pencapaian sasaran adalah:

a. Jumlah SDM pengelola pelatihan yang dikembangkan kapasitasnya melalui pelatihan adalah semua pegawai tiap tahunnya

b. Jumlah SDM yang dikembangkan kapasitasnya melalui pendidikan formal sebanyak 8 orang

c. Jumlah sarana dan prasarana penunjang pelatihan yang dikembangkan sebanyak 1 unit

6. Pelaksanaan manajemen keuangan dan perkantoran

Sasaran kegiatan ini adalah meningkatnya Dukungan Manajemen Pelatihan dan Pelaksanaan Tugas Teknis lainnya melalui Pelaksanaan Manajemen Keuangan dan Perkantoran. Indikator pencapaian sasaran adalah : a. Jumlah Pembayaran Gaji dan Tunjangan sebanyak 12 bulan tiap

tahunnya

b. Jumlah penyelenggaraan Operasional dan Pemeliharaan Perkantoran sebanyak 12 bulan tiap tahunnya

c. Jumlah Laporan Kinerja yang disusun sebanyak 2 Laporan tiap tahunnya d. Jumlah dokumen Rencana Kerja yang tersusun sebanyak 5 dokumen e. Jumlah peralatan dan fasilitas 943 unit

f. Jumlah sarana dan prasarana yang dibangun 1 unit

g. Jumlah Laporan Manajemen Keuangan dan Kekayaan Negara sebanyak 5 dokumen

(42)

R A K B B P K M a k a s s a r 2 0 1 5 – 2 0 1 9 R e v i s i I I I Page 32

d. Target Tahunan

(43)

R A K B B P K M a k a s s a r 2 0 1 5 – 2 0 1 9 R e v i s i I I I Page 33

No PROGRAM/

KEGIATAN SASARAN INDIKATOR

CARA PERHITUNGAN BASELINE 2014 TAHUN JUMLAH 2015 2016 2017 2018 2019 1. Pengembangan dan Pemberdayaan SDM kesehatan dibidang teknis dan fungsional Meningkatnya Sumber Daya Manusia (SDM) Kesehatan Jumlah SDM kesehatan yang mendapat sertifikat pada pelatihan terakreditasi Berdasarkan jumlah sertifikat yang diterbitkan untuk peserta pelatihan yang telah mengikuti pelatihan terakreditasi 1.649 orang 2.524 orang 4.166 orang 2.514 orang 604 orang 11.457 orang Meningkatnya Mutu Sumber Daya Manusia (SDM) Kesehatan dibidang teknis dan fungsional a. Jumlah aparatur kesehatan yang mendapat sertifikat pada pelatihan teknis Berdasarkan jumlah sertifikat yang diterbitkan untuk peserta pelatihan yang telah mengikuti pelatihan teknis 1.020 orang 1.943 orang 3.681 orang 2.094 orang 456 orang 9.194 orang b. Jumlah aparatur kesehatan yang mendapat sertifikat pada pelatihan jabatan fungsional Berdasarkan jumlah sertifikat yang diterbitkan untuk peserta pelatihan yang telah mengikuti pelatihan jabatan fungsional 629 orang 581 orang 485 orang 420 orang 148 orang 2.263 orang

(44)

R A K B B P K M a k a s s a r 2 0 1 5 – 2 0 1 9 R e v i s i I I I Page 34 2. Pengembangan dan Pemberdayaan SDM kesehatan di bidang manajemen dan teknis non kesehatan Meningkatnya Sumber Daya Manusia (SDM) Kesehata Jumlah SDM kesehatan yang mendapat sertifikat pada pelatihan terakreditasi Berdasarkan jumlah sertifikat yang diterbitkan untuk peserta pelatihan yang telah mengikuti pelatihan terakreditasi 321 orang 235 orang 160 orang 353 orang 30 orang 1.099 orang Meningkatnya Sumber Daya Manusia (SDM) Kesehatan dibidang manajemen a. Jumlah Aparatur kesehatan yang mendapat sertifikat pada Diklat Kepemimpinan Berdasarkan jumlah sertifikat yang diterbitkan untuk peserta pelatihan yang telah mengikuti Diklat kepemimpinan 30 orang 19 orang - - - 49 orang b. Jumlah Aparatur kesehatan yang mendapat sertifikat pada diklat prajabatan /Latsar Berdasarkan jumlah sertifikat yang diterbitkan untuk peserta pelatihan yang telah mengikuti Diklat Prajabatan /Latsar 291 orang 40 orang 78 orang 293 orang - 732 orang Meningkatnya Mutu Sumber Daya Manusia (SDM) Kesehatan Jumlah Aparatur kesehatan yang mendapat sertifikat pada pelatihan teknis non Berdasarkan jumlah sertifikat yang diterbitkan untuk peserta pelatihan yang - 176 orang 82 orang 30 orang 30 orang 318 orang

(45)

R A K B B P K M a k a s s a r 2 0 1 5 – 2 0 1 9 R e v i s i I I I Page 35

dibidang teknis non kesehatan

kesehatan telah mengikuti pelatihan teknis non kesehatan 3 Pelaksanaan pengendalian mutu diklat a. Jumlah pelatihan yang terakreditasi Berdasarkan jumlah dari dokumen akreditasi dan jenis Pelatihan yang dihasilkan

15 pel 42 pel 24 pel 12 pel 8 pel 101 pel

b. Jumlah peserta diklat yang mendapat sertifikat Berdasarkan jumlah dari sertifikat yang diberikan kepada pesertayang mengikuti pelatihan terakreditasi 1.660 orang 6.669 orang 4.324 orang 3.663 orang 2.029 orang 18.345 orang Pelaksanaan pengembangan diklat kesehatan a. Penyusunan Modul Berdasarkan jumlah Kurikulum dan yang dihasilkan

- 2 keg 3 keg 1 keg 1 keg 6 keg

b. Pengembangan Modul Berdasarkan jumlahdan modul yang dihasilkan - 1 keg - - - 1 keg

(46)

R A K B B P K M a k a s s a r 2 0 1 5 – 2 0 1 9 R e v i s i I I I Page 36 c. Kegiatan Kemitraan Menghitung jumlah kegiatan kemitraan yang dilaksanakan

- - 4 keg 3 keg 4 keg 11 keg

Pelayanan informasi ilmu pengetahuan dan teknologi kesehatan a. Jumlah media informasi IPTEK berbasis Website Menghitung jumlah media informasi IPTEK berbasis Website yang dihasilkan 1 sistem 1 sistem 1 sistem 2 sistem 2 sistem 7 sistem b. Jumlah media informasi IPTEK berbasis Buletin Menghitung jumlah media informasi IPTEK berbasis Buletin yang dihasilkan

2 dok 2 dok 2 dok 2 dok 2 dok 10 dok

Pengembangan sumber daya kesehatan a. Jumlah SDM dikembangkan kapasitasnya melalui diklat Menghitung jumlah SDM BBPK Makassar yang ditingkatkan kompetensi 69 orang 69 orang 80 orang 80 orang 79 orang b. Jumlah sarana dan prasarana penunjang diklat yang dikembangkan Menghitung jumlah sarpras yang dikembangkan 154 unit 725 unit 105 unit 325 unit 134 unit 1.433 unit

(47)

R A K B B P K M a k a s s a r 2 0 1 5 – 2 0 1 9 R e v i s i I I I Page 37 Pelaksanaan Manajemen Keuangan dan Layanan Perkantoran a. Jumlah perencanaan dan pengelolaan anggaran Menghitung jumlah dokumen perencanaan dan pengelolaan program dan anggaran

1 dok 1 dok 1 dok 1 dok 1 dok 5 dok

b. Jumlah laporan manajemen keuangan dan kekayaan negara Menghitung jumlah dokumen laporan manajemen keaunagan dan kekayaan negara

2 dok 2 dok 2 dok 2 dok 2 dok 10 dok

c. Jumlah laporan kinerja

Menghitung jumlah dokumen laporan kinerja

2 dok 2 dok 2 dok 2 dok 2 dok 10 dok

d. Jumlah bulan layanan perkantoran Menghitung jumlah dokumen layanan perkantoran 12 bulan 12 bulan 12 bulan 12 bulan 12 bulan

(48)

R A K B B P K M a k a s s a r 2 0 1 5 – 2 0 1 9 R e v i s i I I I Page 38 BAB V PROGRAM TAHUN 2015 – 2019 a. Proyeksi Kebutuhan SDM No Kebutuhan SDM 2015 2016 2017 2018 2019 1 PNS 79 79 80 80 80 2 Honorer 19 17 17 15 15 Jumlah 98 96 97 95 95

b. Proyeksi Kebutuhan Sarana dan Prasarana

Uraian 2015 2016 2017 2018 2019 Peralatan Kantor - PC 7 2 - Laptop/Notebok 7 3 14 4 1 - Printer 15 4 15 8 - Printer Portable 1 - Lemari Arsip 5 5 2 1 - Meja Rapat 1 - UPS 4 - Scanner 1 3 - Kamera 1 2 - Handycam 1

- Mesin Pemotong Rumput 1

- Wireless System 1

- Mesin Penghancur Kertas 2

- Mixer 1 - Speaker 20 Watt 10 - Speaker 10 Watt 2 - Speaker Aktif 1 - WPS 1 - Tensi 2 - CCTV 1 - Hardisk Eksternal 5 Peralatan & Meubelair Asrama - TV untuk asrama 19 27 36 3 - TV untuk lobby 1 1 - Lemari 12 20 - AC 8 23 62 - AC Central 2 - AC Stand Floor 2 - Tempat Tidur 8 36 30 30 30 - Meja Makan - Kursi Tamu 2

(49)

R A K B B P K M a k a s s a r 2 0 1 5 – 2 0 1 9 R e v i s i I I I Page 39

- Kulkas 1

- Dispenser 1 2 6

- Sofa 2 1

- Meja Makan Fullset 8 10 - Tempat Tidur Kamar VIP 3

- Nakas Kamar VIP 6

- Lemari Pakaian VIP 3

- Meja Rias Kamar VIP 3

- Kulkas Mini Kamar VIP 3

ABL Kelas - Kursi Belajar Lipat 90 30 40

- Kursi Belajar Single 148

- Kursi Belajar Susun 40 72

- Kursi Fasilitator 4

- Meja Belajar Single 80 30

- Meja Belajar Double 20 4

- Papan Filpcahrt 5 - Microphone 10 - Sound System 7 - White Board 2 - Meja Baca/Partisi 6 - Lemari Buku 5

c. Proyeksi Kebutuhan Pengembangan Sub Sistem Pendukung

No Kegiatan 2015 2016 2017 2018 2019 1 Website BBPK Makassar 100.000 100.000 100.000 100.000 100.000 2 Sistem Integrasi Pelayanan Kepelatihanan (SINTPEK) 85.000.000 3 Pengembangan Sistem e-diklat 25.000.000 Jumlah 100.000 85.100.000 25.100.000 100.000 100.000 d. Program Tahunan

Program kegiatan tahunan BBPK Makassar yang dijabarkan dalam RKT setiap tahun adalah sebagai berikut :

(50)

R A K B B P K M a k a s s a r 2 0 1 5 – 2 0 1 9 R e v i s i I I I Page 40

Tabel 8

No Sasaran

Strategis Indikator Kinerja 2015 2016 2017 2018 2019

1. Pelaksanaan Pelatihan Sumber Daya Manusia (SDM) Kesehatan

Jumlah Sumber Daya Manusia ( SDM) Kesehatan Yang

Mendapat Sertifikat Pada Pelatihan terakreditasi 1.660 orang 6.669 orang 4.324 orang 3.663 orang 2.029 orang 2. Pelaksanaan pengendalian mutu pelatihan

a. Jumlah pelatihan yang terakreditasi b. Jumlah peserta pelatihan yang mendapat sertifikat 15pel 1282 orang 42pel 2465 orang 24pel 2.944 orang 12pel 2.815 orang 8 pel 2.029 orang 3. Pelaksanaan pengembangan pelatihan kesehatan a. Penyusunan Modul b. Pengembangan Modul c. Kegiatan Kemitraan - - - 2 keg. 1 keg. - 3 keg. - 4 keg. 1 keg. - 3 keg - - 4 keg. 4. Pelayanan informasi ilmu pengetahuan dan teknologi kesehatan a. Jumlah media informasi IPTEK berbasis Website b. Jumlah media informasi IPTEK berbasis Buletin 1 sistem 2 dok 1 sistem 2 dok 1 sistem 2 dok 2 sistem 2 dok 2 sistem 2 dok 5. Pengembangan sumber daya kesehatan a. Jumlah SDM dikembangkan kapasitasnya melalui pelatihan

b. Jumlah sarana dan prasarana penunjang pelatihan yang dikembangkan 69 orang 154 unit 69 orang 715 unit 80 orang 105 unit 80 orang 325 unit 80 orang 134 unit 6. Pelaksanaan Manajemen Keuangan dan Layanan Perkantoran a. Jumlah perencanaan dan pengelolaan anggaran b. Jumlah laporan manajemen keuangan dan kekayaan negara c. Jumlah laporan kinerja d. Jumlah bulan layanan

perkantoran 1 dok 2 dok 2 dok 12 bulan 1 dok 2 dok 2 dok 12 bulan 1 dok 2 dok 2 dok 12 bulan 1 dok 2 dok 2 dok 12 bulan 1 dok 2 dok 2 dok 12 bulan

(51)

R A K B B P K M a k a s s a r 2 0 1 5 – 2 0 1 9 R e v i s i I I I Page 41

e. Anggaran Program

Anggaran program/kegiatan BBPK Makassar bersumber dari APBN dan PNBP.Dalam memperkirakan kebutuhan biaya setiap program indikatif,digunakan minimal asumsi kenaikan linier inflasi yang terjadi pada tahun berjalan. Pemenuhan kebutuhan pembiayaan ini diperoleh dari sumber APBN dan PNBPPerkiraan kebutuhan biaya program indikatif sebagaimana Matriks 2, berikut:

Tabel 9

Rencana Alokasi Anggaran BBPK Makassar Tahun 2015 - 2019

No Kegiatan 2015 2016 2017 2018 2019 1. Pelatihan SDM Kesehatan 17.107.800.000 49.106.142.000 25.121.310.000 25.051.001.000 20.277.115.000 2. Dukungan manajemen dan pelaksanaan tugas teknis lainnya 4.595.780.000 14.973.363.000 20.583.999.000 20.040.863.000 18.313.874.000 Jumlah 21.703.580.000 64.079.505.000 45.705.309.000 45.091.864.000 38.590.989.000

(52)

R A K B B P K M a k a s s a r 2 0 1 5 – 2 0 1 9 R e v i s i I I I Page 42

BAB VI

SIMPULAN DAN MONITORING (mid and end term) a. Simpulan

1) Rencana Aksi Kegiatan (RAK) BBPK Makassar disusun sebagai acuan dalam perencanaan kegiatan di BBPK Makassar

2) Arah kebijakan BBPK Makassar mengacu kepada arah kebijakan Badan PPSDM Kesehatan

3) Tujuan BBPK Makassar diarahkan dalam rangka mendukung pencapaian tujuan Badan PPSDM Kesehatan dan Kementerian Kesehatan.

4) Strategi BBPK Makassar disusun sebagai tahapan pencapaian tujuan BBPK Makassar. Strategi BBPK Makassar disusun untuk rentang waktu2015–2019

5) Indikator kinerja disesuaikan dengan SOTK baru yaitu Permenkes No. 39 tahun 2018 Tentang Organisasi dan Tata Kerja Unit Pelaksana Teknis Bidang Pelatihan Kesehatan di Lingkungan Badan Pengembangan Dan Pemberdayaan Sumber Daya Manusia Kesehatan Kementerian Kesehatan 6) Anggaran kegiatan BBPK Makassar bersumber dari APBN dan PNBD.

b. Definisi Monitoring dan Evaluasi 1) Monitoring

Monitoring adalah aktifitas yang ditujukan untuk memberikan informasi tentang sebab dan akibat dari suatu kebijakan yang sedang dilaksanakan.Monitoring diperlukan agar kesalahan awal dapat segera diketahui dan dapat dilakukan tindakan perbaikan, sehingga mengurangi risiko yang lebih besar.

Monitoring dilakukan dengan cara menggali untuk mendapatkan informasi secara regular berdasarkan indikator tertentu, dengan maksud mengetahui apakah kegiatan yang sedang berlangsung sesuai dengan perencanaan dan prosedur yang telah disepakati. Indikator monitoring mencakup esensi aktivitas dan target yang ditetapkan pada perencanaan program. Apabila monitoring dilakukan dengan baik akan bermanfaat dalam memastikan pelaksanaan kegiatan tetap pada jalurnya (sesuai pedoman dan perencanaan program). Juga memberikan informasi kepada pengelola

(53)

R A K B B P K M a k a s s a r 2 0 1 5 – 2 0 1 9 R e v i s i I I I Page 43

program apabila terjadi hambatan dan penyimpangan, serta sebagai masukan dalam melakukan evaluasi.

2) Evaluasi

Sedangkan Evaluasi adalah kegiatan untuk menilai tingkat kinerja suatu kegiatan.Evaluasi baru dapat dilakukan kalau suatu kegiatan sudah

berjalan cukup waktu. Penilaian (Evaluasi) merupakan tahapan yang

berkaitan erat dengan kegiatan monitoring, karena kegiatan evaluasi dapat menggunakan data yang disediakan melalui kegiatan monitoring. Dalam merencanakan suatu kegiatan hendaknya evaluasi merupakan bagian yang tidak terpisahkan, sehingga dapa tdikatakan sebagai kegiatan yang lengkap.

Evaluasi diarahkan untuk mengendalikan dan mengontrol ketercapaian tujuan. Evaluasi berhubungan dengan hasil informasi tentang nilai serta memberikan gambaran tentang manfaat suatu kebijakan.

Evaluasi bertujuan untuk mengetahui apakah program itu mencapai sasaran yang diharapkan atau tidak. Evaluasi lebih menekankan pada aspek hasil yang dicapai (output). Evaluasi baru bisa dilakukan jika program itu telah berjalan setidaknya dalam suatu periode (tahapan), sesuai dengan tahapan rancangan dan jenis program yang dibuat dalam perencanaan dan dilaksanakan.

c. Merencanakan Monitoring dan Evaluasi

Perencanaan monitoring dan evaluasi Balai Besar Pelatihan kesehatan Makassar dilaksanakan pada pertengahan periode anggaran (mid term) dan diakhir periode anggaran (endterm).

Pelaksanaan monitoring dan evaluasi dilakukan pada pertengahan periode anggaran (Mid term) dimaksudkan untuk melihat mengawal implementasi RAK dalam perencanaan kegiatan di BBPK Makassar. Sedangkan Pelaksanaan monitoring dan evaluasi dilakukan pada akhir periode anggaran (end term) untuk mengevaluasi implementasi RAK dalam apakah perencanaan kegiatan sesuai dengan RAK BBPK Makassar

(54)

R A K B B P K M a k a s s a r 2 0 1 5 – 2 0 1 9 R e v i s i I I I Page 44

d. Kerangka Kerja Monitoring dan Evaluasi

Kerangka kerja monitoring dan evaluasi di Balai Besar Pelatihan Kesehatan Makassar sebagai berikut:

e. Rencana Monitoring No Kegiatan Bulan 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 1 Persiapan 2 Pelaksanan Monitoring f. Rencana Evaluasi No Kegiatan Bulan 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 1 Persiapan 2 Pelaksanan Evaluasi

g. Sumber Daya untuk Melakukan Monitoring dan Evaluasi

Sumber daya untuk melakukan monitoring dan evaluasi di Balai Besar Pelatihan Kesehatan Makassardilakukan oleh Tim Satuan Pengawas Internal

Rencana Aksi Kegiatan (RAK) Proses Perencanaan Monitoring & Evaluasi Penyelesaian/ Perbaikan Umpan Balik

Referensi

Garis besar

Dokumen terkait

2018 tentang Organisasi dan Tata Kerja Unit Pelaksana Teknis Bidang Pelatihan Kesehatan di Lingkungan Badan Pengembangan dan Pemberdayaan Sumber Daya Manusia

024.12.10 Program Pengembangan dan Pemberdayaan Sumber Daya Manusia Kesehatan (PPSDMK) 2079 Dukungan Manajemen dan Pelaksanaan Tugas Teknis Lainnya pada Program Pengembangan

Urusan pemerintahan di bidang kesehatan merupakan tugas Kementerian Kesehatan, namun demikian pelaksanaan urusan pemerintahan ini tidak hanya dilakukan oleh Kementerian

Manajemen Sumber Daya Manusia Daerah mampu memahami dan menganalisa tentang Manajemen Sumber Daya Manusia Daerah  Pengembangan SDM 10 Pemahaman tentang Keuangan

Dengan mempertimbangkan perkembangan dan perubahan lingkungan strategis dalam pembangunan SDM kesehatan, perubahan struktur dan tata kelola organisasi serta perubahan

Alat Kesehatan 2020-2024 TUJUAN SASARAN STRATEGIS INDIKATOR REGULASI TERKAIT Terwujudnya Kemandirian Sediaan Farmasi dan Alat Kesehatan Meningkatnya alat kesehatan

Dalam menetapkan tujuan, Balai Pelatihan Kesehatan Semarang perlu lebih dulu memperhatikan tujuan strategis Kementerian Kesehatan RI dan Badan Pengembagan dan Pemberdayaan Sumber

Sasaran kinerja utama Badan Litbangkes adalah Meningkatnya kualitas penelitian, pengembangan dan pemanfaatan di bidang kesehatan dengan indikator kinerja utama