TESIS
PENGUASAAN SOR SINGGIH BAHASA BALI
DALAM KETERAMPILAN BERBICARA
SISWA KELAS IX SMP NEGERI 3 DENPASAR
TAHUN PELAJARAN 2013/2014
PANDE PUTU PAWITRA ADNYANA
PROGRAM PASCASARJANA
UNIVERSITAS UDAYANA
DENPASAR
2014
PENGUASAAN SOR SINGGIH BAHASA BALI
DALAM KETERAMPILAN BERBICARA
SISWA KELAS IX SMP NEGERI 3 DENPASAR
TAHUN PELAJARAN 2013/2014
PANDE PUTU PAWITRA ADNYANA NIM 1090161026
PROGRAM MAGISTER
PROGRAM STUDI LINGUISTIK
PEMBELAJARAN DAN PENGAJARAN BAHASA
PROGRAM PASCASARJANA
UNIVERSITAS UDAYANA
DENPASAR
2014
PENGUASAAN SOR SINGGIH BAHASA BALI
DALAM KETERAMPILAN BERBICARA
SISWA KELAS IX SMP NEGERI 3 DENPASAR
TAHUN PELAJARAN 2013/2014
Tesis untuk Memperoleh Gelar Magister Pada Program Magister, Program Studi Linguistik,
Program Pascasarjana Universitas Udayana
PANDE PUTU PAWITRA ADNYANA NIM 1090161026
PROGRAM MAGISTER
PROGRAM STUDI LINGUISTIK
PEMBELAJARAN DAN PENGAJARAN BAHASA
PROGRAM PASCASARJANA
UNIVERSITAS UDAYANA
DENPASAR
2014
LEMBAR PENGESAHAN
TESIS INI TELAH DISETUJUI
Tanggal 10 Desember 2014
Pembimbing I, Pembimbing II,
Prof. Drs. I Made Suastra, Ph.D. Prof. Dr. I Wayan Simpen, M.Hum. NIP 19541224 198303 1 001 NIP 19601231 198503 1 028
Mengetahui
Ketua Program Studi Magister Lingustik Direktur
Program Pascasarjana Program Pascasarjana
Universitas Udayana, Universitas Udayana,
Prof. Dr. I Nyoman Suparwa, M.Hum. Prof. Dr. dr. A.A. Raka Sudewi, Sp.S.(K). NIP 19620310 198503 1005 NIP 19590215 198510 2 001
LEMBAR PENETAPAN PANITIA PENGUJI TESIS
Tesis Ini Telah Diuji Tanggal 10 Desember 2014
Panitia Penguji Tesis, berdasarkan SK Rektor
Universitas Udayana Nomor: 977/UN.14.14.I.2/PP/2014 Tanggal 28 Nopember 2014
Ketua : Prof. Drs. I Made Suastra, Ph.D.
Anggota :
1. Prof.Dr.I Wayan Simpen, M.Hum. 2. Prof.Dr. I Nyoman Weda Kusuma, M.S. 3. Dr. I Nyoman Sedeng, M.Hum.
4. Dr. Ni Wayan Sukarini, M.Hum.
PERNYATAAN BEBAS PLAGIAT
Saya yang bertanda tangan di bawah ini.
Nama : Pande Putu Pawitra Adnyana
NIM : 1090161026
Program Studi : Linguistik, Program Pascasarjana Universitas Udayana. Judul Tesis : PENGUASAAN SOR SINGGIH BAHASA BALI
DALAM KETERAMPILAN BERBICARA SISWA
KELAS IX SMP NEGERI 3 DENPASAR TAHUN PELAJARAN 2013/2014
Dengan ini menyatakan bahwa karya ilmiah Tesis ini bebas plagiat. Apabila di kemudian hari terbukti terdapat plagiat dalam karya ilmiah ini, maka saya bersedia menerima sanksi sesuai peraturan Mendiknas RI No. 17 tahun 2010 dan Peraturan perundang-undangan yang berlaku.
Demikian surat pernyataan ini dibuat agar dapat digunakan sebagaimana mestinya.
Denpasar, 10 Desember 2014 Yang membuat pernyataan,
Pande Putu Pawitra Adnyana
UCAPAN TERIMA KASIH
Puji syukur penulis panjatkan ke hadapan Ida Sang Hyang Widhi Wasa/ Tuhan Yang Maha Esa, karena atas asung kerta wara nugraha-Nya tesis yang berjudul “Pembelajaran Keterampilan Berbicara Dalam Penggunaan Sor Singgih Bahasa Bali Siswa Kelas IX SMP Negeri 3 Denpasar Tahun Pelajaran 2013/2014” ini dapat diselesaikan. Penyelesaian penulisan tesis ini dapat terjadi karena adanya bantuan dan dukungan dari berbagai pihak. Oleh karena itu, pada kesempatan ini penulis menyampaikan ucapan terimakasih yang sedalam-dalamnya kepada:
1) Rektor Universitas atas kesempatan yang diberikan kepada penulis dalam menempuh pendidikan pascasarjana di institusi yang beliau pimpin;
2) Direktur Program Pascasarjana Universitas Udayana yang telah memberikan kesempatan kepada penulis lewat pengajaran dan bimbingan para pengajar pada Program Studi Linguistik, Konsentrasi Pembelajaran dan Pengajaran Bahasa;
3) Ketua Program Studi Magister Linguistik,Program Pascasarjana Universitas Udayana Prof. Dr. I Nyoman Suparwa, M.Hum yang telah banyak memberikan arahan dan bimbingan selama penulis menjadi mahasiswa;
4) Prof. Dr. Made Budiarsa, M.A, selaku Pembimbing Akademik yang banyak memberikan motivasi, bimbingan, dan perhatian mendalam bagi penulisan tesis ini;
5) Prof. Drs. I Made Suastra, Ph.D dan Prof. Dr. I Wayan Simpen, M.Hum, selaku Pembimbing I dan Pembimbing II yang dengan penuh perhatian dan kesabaran dalam memberikan bimbingan, saran, dan semangat kepada penulis; serta para penguji yang telah memberikan banyak masukan dan motivasi dalam proses penulisan ini;
6) Para dosen pada Konsentrasi Pembelajaran dan Pengajaran Bahasa, Program Studi Magister Linguistik, Program Pascasarjana Universitas Udayana yang telah banyak memberikan ilmu dan motivasi selama penulis mengikuti perkuliahan;
7) Staf administrasi, Pak Ebuh, Bu Komang, Pak Sadra, dan Bu Gung yang telah banyak membantu segala kelengkapan administrasi selama penulis mengikuti perkuliahan;
8) Teman-teman Konsentrasi Pembelajaran dan Pengajaran Bahasa angkatan 2010, terima kasih atas kerjasama, motivasi, dan dukungannya selama perkuliahan;
9) Kepala Sekolah dan Guru Pamong Bahasa Bali SMP Negeri 3 Denpasar yang telah memberikan kesempatan kepada penulis untuk melakukan penelitian di sekolah SMP Negeri 3 Denpasar;
10) Orang tua tercinta dan adikku tersayang, yang selalu memberikan semangat dan dukungan moral maupun materi sehingga penulis dapat melaksanakan pendidikan di Program Magister (S2) Linguistik hingga selesai;
11) Kekasih tersayang, terima kasih atas segala bentuk perhatian dan dukungan yang diberikan tanpa henti.
Semoga Ida Sang Hyang Widhi Wasa/ Tuhan Yang Masa Esa melimpahkan rahmat-Nya atas segala amal baik kepada semua pihak yang telah membantu dalam pelaksanaan dan penyelesaian tesis ini. Akhir kata, penulis mengharapkan kritik dan saran dari pembaca untuk pencapaian kualitas penulisan yang lebih baik di masa datang khususnya bagi pembelajaran dan pengajaran bahasa.
Denpasar, 10 Desember 2014
Pande Putu Pawitra Adnyana
ABSTRAK
PENGUASAAN SOR SINGGIH BAHASA BALI DALAM KETERAMPILAN BERBICARA SISWA KELAS IX SMP NEGERI 3
DENPASAR TAHUN PELAJARAN 2013/2014
Keberhasilan sebuah pembelajaran dapat diketahui melalui penilaian pembelajaran yang berfungsi untuk mengukur kemampuan siswa setelah melakukan proses pembelajaran. Pembelajaran keterampilan berbicara yang diajarkan guru cenderung tidak memanfaatkan kemajuan media pembelajaran yang telah dipersiapkan oleh pihak sekolah. Guru lebih banyak menggunakan metode ceramah dalam pembelajaran, sehingga terkesan menoton yang menyebabkan siswa kurang aktif dan kurang bergairah mengikuti pembelajaran. Melihat fenomena tersebut maka peneliti menganalisis proses pembelajaran sor
singgih bahasa Bali dalam keterampilan berbicara, menganalisis penguasaan sor singgih bahasa Bali dalam keterampilan berbicara, dan menganalisis faktor-faktor
yang memengaruhi kemampuan siswa untuk menguasai sor singgih bahasa Bali dalam keterampilan berbicara.
Penelitian ini menggunakan data kualitatif. Data didapat dari analisis proses pembelajaran, analisis percakapan siswa dan analisis angket yang diberikan kepada siswa dengan menggunakan metode observasi dan pemberian angket. Data tersebut diambil dengan selektif dan dianalisis secara deskriptif kualitatif. Teori yang digunakan dalam penelitian ini adalah teori sor singgih bahasa Bali dari Narayana (1984), teori berbicara dari Keraf (1977) dan teori pembelajaran keterampilan berbicara dari Saddhono (2012).
Berdasarkan analisis yang dilakukan dapat ditemukan kelemahan dan kekurangan perangkat pembelajaran yang dipakai dalam proses pembelajaran, kesalahan penggunaan sor singgih bahasa Bali yang dipengaruhi oleh bahasa Indonesia. Beberapa hal yang mempengaruhi kemampuan siswa untuk menguasai
sor singgih bahasa Bali meliputi (1) Karakteristik peserta didik yang merupakan
variabel dalam proses pembelajaran. Variabel sebagai aspek atau kualitas siswa berupa bakat, minat, sikap, motivasi belajar, gaya belajar, kemampuan berpikir, dan kemampuan awal yang dimiliki. (2) Bahan ajar. (3) Waktu yang tersedia. (4) Sarana dan prasarana belajar dan, (5) Kemampuan pengajar memilih dan menggunakan strategi pembelajaran bahasa.
Kata kunci: wangsa, sor singgih bahasa Bali, keterampilan berbicara, strategi pembelajaran, proses pembelajaran bahasa.
ABSTRACT
THE PROFICIENCY OF BALINESE “SOR SINGGIH” LANGUAGE IN THE SPEAKING SKILL OF IX GRADE STUDENTS AT SMP NEGERI 3
DENPASAR, IN THE ACADEMIC YEAR OF 2013/2014
The success of learning is able to be known through the learning evaluation functioned to measure the students’ ability after carrying out a learning process. The teaching of speaking skill conducted by a teacher tends not to utilize the development of learning media that have apparently been prepared by the school. Teachers use more lecturing technique of teaching, so that it has been monotonous, in which this lead to students are becoming less active and excited to join to engage in learning. Having a look at that phenomenon, researcher is interested in analyzing the process of learning Balinese “sor singgih” language and analyzing any factors influencing to the students’ ability to master Balinese
“sor singgih” language in terms of the speaking skill
This research used qualitative data. It was taken from the analysis of the learning process, students’ conversation and questionnaire that were given to them by using observation method and questionnaire distribution. The data was selectively taken and analyzed in qualitative way. Theories used in this research were a theory of Balinese “sor singgih” language by Narayana (1984), Keraf’s (1977) speaking theory, and learning of speaking skill by Saddhono (2012).
Based on the analysis, it was found that there were weakness and deficiency of learning equipments used in the process of learning. There were also errors in the use of Balinese “sor singgih” language as the influence of Indonesian. Several things that had influenced the ability of students in mastering Balinese “sor singgih” language, such as: (1) Characteristics of students that had been a variable in the process of learning. Variable as aspects or qualities of students referred to aptitude, interest, attitude, learning motivation, learning style, thought ability, and initial ability owned. (2) Teaching material. (3) Time allocation. (4) Facilities and basic facilities in learning and, (5) Teacher’s ability in choosing and applying language learning strategies.
Key words: wangsa, Balinese “sor singgih” language, speaking skill, learning strategies, language learning process.
DAFTAR ISI
SAMPUL DALAM ... i
PRASYARAT GELAR MAGISTER …. ... ii
LEMBAR PENGESAHAN ... iii
PENETAPAN PANITIA PENGUJI TESIS ... iv
PERNYATAAN BEBAS PLAGIAT ... v
UCAPAN TERIMA KASIH ... vi
ABSTRAK ... ix
ABSTRACT ... x
DAFTAR ISI ... x
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang ... 1
1.2 Rumusan Masalah Penelitian ... 3
1.3 Tujuan Penelitian ... 4 1.3.1 Tujuan Umum ... 4 1.3.2 Tujuan Khusus ... 4 1.4 Manfaat Penelitian ... 5 1.4.1 Manfaat Teoretis ... 5 1.4.2 Manfaat Praktis ... 5 xi
BAB II KAJIAN PUTAKA, KONSEP, LANDASAN TEORI, DAN MODEL PENELITIAN
2.1 Kajian Pustaka ... 6
2.2 Konsep ... 12
2.2.1 Sor Singgih Bahasa Bali ... 12
2.2.2 Berbicara. ... 13
2.2.3 Bercakap-cakap ... 13
2.2.4 Keterampilan Berbicara ... 14
2.2.5 Pembelajaran Keterampilan Berbicara ... 15
2.3 LandasanTeori... 15
2.3.1 Sor Singgih Bahasa Bali ... 16
2.3.2 Berbicara ... …. 26
2.3.3 Keterampilan Berbicara ... 29
2.3.4 Pembelajaran Keterampilan Berbicara ... 30
2.3.5 Faktor-faktor Penunjang Keefektifan Berbicara. ... 32
2.3.6 Faktor-faktor yang Mempengaruhi Pembelajaran Bahasa………… 36
2.4 Model Penelitian ... 40
BAB III METODE PENELITIAN 3.1 Pendekatan Penelitian ... 42
3.2 Lokasi Penelitian ... 42
3.3 Jenis dan Sumber Data ... 43
3.3.1 Jenis Data ... 43
3.3.2 Sumber data ... 44
3.4 Instrumen Penelitian ... 46
3.5 Metode danTeknik Pengumpulan Data ... 47
3.6 Metode danTeknik Analisis Data ... 48
3.7 Metode Penyajian Hasil Analisis Data ... 49
BAB IV PENGUASAAN SOR SINGGIH BAHASA BALI DALAM KETERAMPILAN BERBICARA 4.1 Proses Pembelajaran Sor Singgih Bali dalam Pembelajaran Keterampilan ... 50
4.2 Penguasaan Sor Singgih Bahasa Bali dalam Keterampilan Berbicara Siswa Kelas IX SMP Negeri 3 Denpasar Tahun Pelajaran 2013/2014 ... 71
4.2.1 Kesalahan Penggunaan Kata ( Kruna ) ... 72
4.2.2 Kesalahan Penggunaan Kalimat ( Lengkara ) dalam pemakaian Sor Singgih Bahasa Bali ... 76
4.3 Faktor-faktor yang mempengaruhi Kemampuan Siswa dalam Menguasai Keterampilan Berbicara... 92
4.3.1 Karakteristik Peserta Didik………. ... 93
4.3.2 Bahan Ajar ... 94
4.3.3 Waktu yang Tersedia ... 95
4.3.4 Sarana dan Prasarana Belajar ... 95
4.3.5 Kemampuan Pengajar Memilih dan Menggunakan Strategi Pembelajaran Bahasa….. ... 96
4.3.6 Bahasa Keseharian di Rumah ... 96 xiii
4.3.7 Motivasi Siswa Untuk Belajar Bahasa Bali ... 96
BAB V SIMPULAN DAN SARAN 5.1 Simpulan ... 98
5.2 Saran ... 99
DAFTAR PUSTAKA ... 100
LAMPIRAN – LAMPIRAN ... 103
BAB I PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Bahasa Bali adalah bahasa ibu mayoritas masyarakat Bali yang dipakai dalam kehidupan sehari-hari masyarakat Bali. Bahasa Bali merupakan bukti historis bagi masyarakat Bali yang berkedudukan sebagai wahana ekspresi budaya Bali. Di dalamnya terekam pengalaman estetika, sosial, politik, dan aspek lainnya dalam kehidupan masyarakat Bali. Dalam perkembangannya muncul tingkatan-tingkatan bahasa dalam bahasa Bali yang disebut sor singgih bahasa Bali. Suasta (1997:14) menyebutkan bahwa sor singgih bahasa Bali disebabkan oleh adanya stratifikasi masyarakat Bali. Stratifikasi tersebut terdiri atas dua jenis, yaitu stratifikasi masyarakat suku Bali tradisional dan stratifikasi masyarakat suku Bali modern.
Setiap komunikasi dalam pergaulan, baik di sekolah maupun di lingkungan keluarga ada tata karma menyertainya. Dalam hal ini, tata karma dalam pergaulan diperlukan adanya etika dan kesopansantunan berbahasa. Di lingkungan sekolah, siswa diajarkan berbagai macam keterampilan berbahasa. Keterampilan berbahasa meliputi membaca, menyimak, berbicara, dan menulis, yang memiliki hubungan erat satu sama lain. Keterampilan berbicara merupakan suatu keterampilan bahasa yang perlu dikuasai oleh siswa dengan baik. Keterampilan ini merupakan salah satu indikator terpenting bagi keberhasilan siswa terutama dalam belajar bahasa Bali.
Dengan penguasaan keterampilan berbicara yang baik, siswa dapat mengomunikasikan ide-ide mereka, baik di sekolah maupun di lingkungan tempat tinggalnya. Dalam kesehariannya Bahasa bali yang diajarkan siswa di sekolah hanya mendapatkan porsi yang sangat sedikit, yaitu hanya 2 jam pelajaran perminggu. Hal ini menyebabkan siswa masih mengalami kesulitan untuk menyampaikan gagasan dan perasaannya dalam sor singgih bahasa Bali yang tepat. Dengan waktu yang sangat terbatas inilah, guru dituntut untuk lebih terampil memilih dan mengembangkan strategi pembelajaran yang tepat agar peserta didik dapat mencapai kompetensi dasar ataupun seperangkat indikator yang telah ditetapkan.
Di samping itu, dalam pembelajaran bahasa Bali di sekolah, ada kecenderungan siswa sangat sulit memahami pemakaian bahasa Bali dalam berkomunikasi. Siswa harus memilah dan memilih bahasa yang akan digunakan sesuai dengan siapa lawan bicara (siapa saja yang berbicara), berbicara tentang apa, dank ala apa berbicara (desa kala patra, yaitu tempat, waktu dan keadaan) yang membuat bahasa itu sulit untuk digunakan dalam berkomunikasi. Kurangnya pemahaman penggunaan sor singgih bahasa Bali pada siswa menimbulkan kurangnya kesopansantunan siswa dalam berbicara kepada lawan tutur, seperti dengan guru di sekolah.
Keberhasilan sebuah pembelajaran dapat diketahui melalui penilaian pembelajaran yang berfungsi untuk mengukur kemampuan siswa setelah melakukan proses pembelajaran. Pembelajaran keterampilan berbicara yang diajarkan guru cenderung tidak memanfaatkan kemajuan media pembelajaran
yang telah dipersiapkan oleh pihak sekolah. Guru lebih banyak menggunakan metode ceramah dalam pembelajaran, sehingga terkesan menoton yang menyebabkan siswa kurang aktif dan kurang bergairah mengikuti pembelajaran. Pembelajaran yang terjadi tidak dilakukan secara interaktif, inspiratif, menyenangkan, menantang, memotivasi peseta didik untuk berpartisipasi aktif, serta tidak memberikan ruang yang cukup bagi siswa untuk berkreativitas. Hal ini mengakibatkan kemampuan siswa menjadi rendah.
Dalam proses pembelajaran bahasa Bali, guru diharapkan lebih banyak mengenalkan sor singgih bahasa Bali sebagai alat komunikasi yang dapat menjalin keharmonisan antara pembicara dan lawan bicara. Bertitik tolak dari hal itulah, penulis mencoba meneliti penguasaan sor singgih bahasa Bali dalam keterampilan berbicara pada siswa kelas IX SMPN 3 Denpasar tahun 2013/2014.
1.2 Rumusan Masalah
Berdasarkan uraian pada latar belakang di atas, masalah dalam penelitian ini dapat dirumuskan sebagai berikut.
1) Bagaimanakah proses pembelajaran sor singgih bahasa Bali dalam pembelajaran keterampilan berbicara?
2) Bagaimanakah penguasaan sor singgih bahasa Bali dalam keterampilan berbicara?
3) Faktor-faktor apakah yang memengaruhi kemampuan siswa untuk menguasai
1.3 Tujuan Penelitian
Tujuan yang hendak dicapai penelitian ini dibedakan menjadi (1) tujuan umum dan (2) tujuan khusus. Kedua tujuan ini diuraikan secara ringkas berikut ini.
1.3.1 Tujuan Umum
Secara umum, penelitian bertujuan untuk :
a) mengetahui kondisi bahasa Bali, khususnya tentang sor singgih bahasa Bali di sekolah menengah pertama;
b) melestarikan, mengembangkan, dan memperoleh pemahaman yang jelas tentang sor singgih bahasa Bali dan;
c) mencari dan menentukan model pembelajaran yang tepat. 1.3.2 Tujuan Khusus
Secara khusus, penelitian ini bertujuan untuk :
a) menganalisis proses pembelajaran sor singgih bahasa Bali dalam keterampilan berbicara;
b) menganalisis penguasaan sor singgih bahasa Bali dalam keterampilan berbicara; dan
c) menganalisis faktor-faktor yang memengaruhi kemampuan siswa untuk menguasai sor singgih bahasa Bali dalam keterampilan berbicara.
1.4 Manfaat Penelitian
Manfaat penelitian ini dapat dibedakan menjadi dua jenis, yaitu manfaat teoretis dan manfaat praktis.
1.4.1 Manfaat Teoretis
Secara teoretis, penelitian ini diharapkan bermanfaat untuk:
a) mengembangkan teori pembelajaran sehingga memberikan kontribusi terhadap dunia pendidikan di sekolah dan pendidikan secara nasional; b) memperkokoh dasar pengajaran sor singgih bahasa Bali di sekolah
menengah pertama dan sederajat; dan
c) digunakan sebagai bahan acuan bagi peneliti-peneliti selanjutnya. 1.4.2 Manfaat Praktis
Secara praktis, penelitian ini diharapkan bermanfaat untuk:
a) dapat membantu meningkatkan kemampuan para pendidik dalam usahanya untuk meningkatkan pembinaan dan pengembangan yang berkaitan dengan bahasa;
b) dapat meningkatkan pemahaman para siswa terhadap penggunaan sor
singgih bahasa Bali; dan
c) melestarikan penggunaan bahasa Bali, khususnya sor singgih yang merupakan salah satu aspek kebudayaan Bali.
BAB II
KAJIAN PUSTAKA, KONSEP, LANDASAN TEORI, DAN MODEL PENELITIAN
2.1 Kajian Pustaka
Pustaka-pustaka yang mendasari penelitian ini adalah tulisan hasil penelitian terdahulu yang relevan dengan penelitian ini. Beberapa penelitian yang gayut dengan topik penelitian ini dapat disimak di bawah ini.
Sudarmayanti (2010) dalam penelitian yang berjudul “Kemampuan Memahami Anggah Ungguhing Lengkara Basa Bali Siswa Kelas XII SMA Negeri 1 Nusa Penida, Klungkung Tahun Pelajaran 2009/2010” menjelaskan bahwa bahasa daerah Bali merupakan bahasa daerah yang memiliki tingkat kerumitan yang tinggi menyangkut tingkat-tingkatan bahasanya. Sesungguhnya, tingkat-tingkatan bahasa Bali terjadi karena keadaan stratifikasi sosial masyarakat Bali, baik keadaan stratifikasi masyarakat tradisional berdasarkan masa lalu maupun stratifikasi masyarakat modern atau berdasarkan masa kini.
Penelitian ini merupakan penelitian sampel karena hanya meneliti sebagian dari populasi. Dalam hal ini diambil 114 orang siswa atau 60 % dari jumlah populasi yang berjumlah 190 orang siswa. Pengumpulan data dalam penelitian ini menggunakan metode tes, metode kuesioner, dan metode wawancara. Data tersebut kemudian diolah dengan menggunakan metode statistik deskriptif. Hasil penelitian ini adalah sebagai berikut. Pertama, kemampuan memahami anggah-ungguhing lengkara basa Bali siswa kelas XII SMA Negeri 1
Nusa Penida, Klungkung tahun pelajaran 2009/2010 tergolong cukup. Hal ini ditunjukkan oleh skor rata-rata siswa, yakni 60, sedangkan berdasarkan kriteria ketuntasan minimal (KKM) yang berlaku di SMA Negeri 1 Nusa Penida, Klungkung, yaitu 65 diperoleh hasil bahwa dari 114 orang siswa hanya 38 orang siswa (33,35) dinyatakan tuntas dan 76 orang siswa (66,7%) tidak tuntas. Kedua, Kesulitan-kesulitan siswa dalam memahami anggah-ungguhing lengkara basa
Bali adalah memahami lengkara alus singgih dan alus sor. Para siswa merasa
sulit untuk menentukan dan memilih kata-kata bahasa Bali yang mempunyai nilai rasa yang berbeda sehingga dalam menyusun suatu kalimat sering terbalik antara
lengkara singgih dan alus sor. Ketiga, faktor penyebab kesulitan siswa dalam
memahami anggah-ungguhing lengkara basa Bali adalah faktor keluarga dan masyarakat mereka lebih sering menggunakan lengkara andap, bahkan kasar. Selain itu, kekurangpedulian lingkungan terhadap penggunaan anggah-ungguhing
lengkara basa Bali sehingga pada saat seseorang melakukan kesalahan dalam
penggunaan tingkat-tingkatan kalimat tidak ada yang menegur apalagi memperbaiki. Faktor guru bahasa Bali dalam memberikan pengajaran materi
anggah-ungguhing lengkara basa Bali, baik menyangkut strategi, metode,
maupun penggunaan media juga merupakan salah satu penyebab kesulitan siswa dalam memahami anggah-ungguhing lengkara basa Bali.
Purnama (2010) dalam penelitian yang berjudul ”Kemampuan Memahami
Anggah Ungguhing Basa Bali dalam Teks Drama Gong Lokika Sanggraha Siswa
Kelas XI SMA Negeri 1 Abiansemal Tahun Pelajaran 2009/2010” menjelaskan bahwa bahasa Bali yang merupakan salah satu bahasa daerah di Indonesia
mempunyai tingkatan bahasa atau sor singgih basa Bali. Keberadaannya ditentukan melalui kelahiran atau keturunan yang sering disebut tri wangsa dan
wangsa jaba. Dari adanya perbedaan kasta atau kedudukan inilah permasalahan
perlu diperhatikan mengingat generasi muda dewasa ini kurang paham terhadap
anggah-ungguhing basa Bali. Berkaitan dengan hal tersebut yang menjadi pokok
permasalahan adalah bagaimana kemampuan siswa kelas XI SMA Negeri 1 Abiansemal dalam memahami anggah-ungguhing basa Bali dalam teks drama gong Lokika Sanggraha.
Untuk menunjang penelitian ini digunakan beberapa patokan, yaitu (1) kajian pustaka, (2) pengertian ungguhing basa Bali, (3) konsepsi
anggah-ungguhing basa Bali, (4) basa kasar, (5) basa andap, (6) basa madia, dan (7) basa alus. Metode yang digunakan dalam penelitian ini terdiri atas empat metode,
yaitu (1) metode penentuan subjek penelitian, (2) metode pendekatan subjek penelitian, (3) metode pengumpulan data, dan (4) metode pengolahan data. Pada penentuan subjek penelitian digunakan sampel penelitian yaitu sebesar 100 orang dari jumlah populasi 319 orang. Data tentang kemampuan memahami
anggah-ungguhing basa Bali dalam teks drama gong Lokika Sanggraha diperoleh dengan
metode tes. Data tersebut kemudian diolah dengan metode analisis statistik deskriptif. Hasil pengolahan data menunjukkan skor rata-rata sebesar 73,68. Rata-rata skor ini sudah sudah merupakan skor standar. Sesuai dengan pedoman konversi yang digunakan, skor rata-rata 73,68 (dibulatkan menjadi 74) berada pada rentangan 70…79. Hal ini berarti bahwa kemampuan memahami
anggah-ungguhing basa Bali dalam teks drama gong Lokika Sanggraha, siswa tersebut
dikategorikan cukup.
Pratiwi (2011) meneliti “Peningkatan Keterampilan Berbicara dengan Metode Debat Plus dalam Proses Pembelajaran Bahasa Inggris pada Siswa Kelas XI IPA SMA Pariwisata Kertha Wisata Denpasar”. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui seberapa besar penggunaan metode debat plus mampu meningkatkan keterampilan berbicara bahasa Inggris siswa kelas sebelas di SMA Pariwisata Kertha Wisata Denpasar tahun ajaran 2010/2011.
Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dan kuantitatif yang dilaksanakan dalam bentuk penelitian tindakan kelas yang terdiri atas empat tahapan dalam tiap siklusnya, yaitu perencanaan, tindakan, pengamatan, dan refleksi. Tiap siklus terdiri atas empat sesi, yaitu tiga sesi untuk memberikan
treatment dan satu lagi untuk melaksanakan tes akhir dan kuesioner juga jurnal
kegiatan. Data disajikan dalam bentuk tabel, grafik, dan kalimat deskriptif. Hasil data kuantitatif menunjukkan bahwa penggunaan metode debat plus dapat meningkatkan keterampilan berbicara bahasa Inggris siswa kelas sebelas SMA Pariwisata Kertha Wisata Denpasar. Hal ini dapat dilihat dari hasil yang dicapai oleh siswa pada saat diberikan tes dan peningkatan kemampuan siswa secara teratur selama metode debat plus diterapkan. Nilai rata-rata siswa 43% pada tes awal siklus pertama, meningkat menjadi 64% yang dikategorikan ke dalam level cukup. Pada siklus kedua, rata-rata nilai siswa meningkat menjadi 78% yang dikategorikan ke dalam level baik dan setiap siswa mampu melewati standar nilai 65. Peningkatan level juga didukung oleh data kualitatif. Peningkatan tersebut
berupa peningkatan segi pelafalan, seperti (a) bunyi [t] yang dihasilkan siswa setelah treatment sudah beraspirasi [th]; (b) pelafalan bunyi [f] dan [v] secara tepat; (c) ketepatan pengucapan bunyi [au], [d ], [ ], [o], dan [ ] secara tepat. Dari segi penggunaan tata bahasa, ditemukan adanya peningkatan, yaitu (a) kesesuaian bentuk kata penunjuk dengan kata benda; (b) adanya penanda jamak (suffix s/es); (c) pemakaian kata kerja bantu ‘do/does’; (d) penggunaan to be pada kata nonverbal. Dalam segi pemilihan kosakata juga mengalami peningkatan, seperti pemilihan kata fulfil, improve, meaning, harmonious dan seriously.
Purwantini (2011) dalam penelitian yang berjudul “Penerapan Call dalam Meningkatkan Hasil Belajar Kemampuan Berbicara dalam Bahasa Inggris Siswa Kelas XI SMKN Kubu Bangli Tahun Pelajaran 2010/2011” menjelaskan perkembangan teknologi pendidikan yang banyak memanfaatkan media sebagai sumber belajar sehingga banyak kegiatan pembelajaran menggunakan teknologi informasi. Kemajuan teknologi informasi telah memberikan warna dan mengubah paradigma baru dalam pendidikan dan kegiatan pembelajaran khususnya teknologi computer. Salah satu diantaranya pembelajaran bahasa Inggris adalah
CALL (Computer Assisted Language Learning) penelitian ini dimaksudkan untuk
membantu siswa SMK kelas XI tahun pelajaran 2010/2011 dalam mengatasi kesulitan-kesulitan berbicara bahasa Inggris. Studi mengenai penerapan CALL dalam meningkatkan hasil belajar kemampuan berbicara dalam bahasa Inggris siswa kelas XI tahun pelajaran 2010/2011 diharapkan dapat meningkatkan keterampilan berbicara dan hasil belajar speaking sesuai dengan ketentuan kriteria ketuntasan minimal yang ditetapkan oleh sekolah. Studi ini merupakan penelitian
tindakan kelas. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dan kuantitatif. Penelitian bertempat di SMK N Kubu Bangli. SMK N Kubu Bangli memiliki program keahlian seni tari dan seni karawitan. Subjek penelitian adalah siswa kelas XI tahun pelajaran 2010/2011 yang terdiri atas 21 orang siswa, 10 orang siswa laki-laki dan 11 orang siswa perempuan dari jurusan Seni Tari dan Seni Karawitan. Dalam pengumpulan data digunakan empat jenis metode, yaitu observasi, wawancara, dokumentasi, dan tes. Data dikumpulkan melalui data primer yang dihasilkan dalam penelitian tindakan kelas, antara lain data wawancara dengan guru siswa, data nilai hasil belajar siswa, dan data sesudah pelaksanaan tindakan kelas serta catatan observasi dalam tindakan.
Hasil belajar dari post tes pada siklus I dan siklus II menunjukkan bahwa siswa sangat termotivasi untuk belajar sehingga mampu mengatasi kesulitan-kesulitannya dalam berbicara bahasa Inggris dan mampu mencapai kriteria ketuntasan minimal. Metode ini terbukti efektif dalam pengajaran keterampilan berbicara bahasa Inggris. Dengan menonton tayangan video diharapkan siswa dapat memahami tayangan tersebut dan termotivasi untuk belajar dan mampu berbicara dalam bahasa Inggris.
Penelitian yang dikaji di atas mempunyai pengaruh terhadap penelitian ini. Semua penelitian di atas merupakan PTK, yaitu peneliti secara langsung terjun mengajar di kelas yang hendak dijadikan penelitian. Dalam penelitian ini, peneliti bertindak sebagai observer, yaitu mengamati cara guru mengajarkan sor singgih bahasa Bali. Semua penelitian di atas merupakan penelitian kuantitatif yang mendapatkan data melalui pemberian tes kepada siswa yang diteliti, sedangkan
penelitian ini merupakan penelitian kualitatif. Data kualitatif didapat melalui analisis terhadap proses pembelajaran yang dilakukan oleh guru yang mengajarkan bahasa Bali.
2.2 Konsep
Ada beberapa konsep yang dipaparkan di bawah ini. Konsep yang dimaksud adalah (1) sor singgih bahasa bali, (2) berbicara, (3) bercakap-cakap, (4) keterampilan berbicara, dan (5) pembelajaran keterampilan berbicara.
2.2.1 Sor Singgih Bahasa Bali
Tingkatan-tingkatan bahasa terdapat hampir di semua bahasa yang ada. Bahasa Bali juga memiliki tingkatan. Tingkatan bahasa dalam bahasa bali disebut
sor singgih bahasa Bali. Narayana (1984: 19) menyatakan bahwa “sor singgih basa Bali yang digunakan sebagai alat komunikasi oleh masyarakat suku Bali
mencerminkan tingkatan penutur bahasa tersebut”.
Sejalan dengan pendapat di atas, Suasta (1997: 14) menyebutkan bahwa “sor singgih basa Bali adalah suatu tingkatan bahasa dalam bahasa Bali”. Sor
singgih basa Bali disebabkan oleh adanya stratifikasi dalam masyarakat suku
Bali. Secara tradisional salah satu pembagiannya berdasarkan keturunan, sedangkan secara modern pembagiannya berdasarkan keahlian, pendidikan, kepangkatan, dan kekuasaan. Istilah sor singgih bahasa Bali memiliki berbagai nama atau istilah menurut beberapa ahli. Namun secara substansi, istilah-istilah tersebut memiliki makna yang sama.
2.2.2 Berbicara
Ada berberapa pendapat yang dipaparkan oleh beberapa ahli berkaitan dengan konsep berbicara. Pendapat-pendapat tersebut dipaparkan sebagai berikut. Nurgiyantoro (2001:276) menyatakan bahwa berbicara adalah “aktivitas berbahasa kedua yang dilakukan manusia dalam kehidupan berbahasa, yaitu setelah aktivitas mendengarkan”. Berdasarkan bunyi-bunyi yang didengar itu, kemudian manusia belajar untuk mengucapkan dan akhirnya terampil berbicara.
Sejalan dengan pendapat di atas, Tarigan (1983:15) menyebutkan bahwa “berbicara adalah kemampuan mengucapkan bunyi-bunyi artikulasi atau kata-kata untuk mengekspresikan, menyatakan, serta menyampaikan pikiran, gagasan dan perasaan”. Bentuk atau wujud berbicara disebut sebagai suatu alat untuk mengomunikasikan gagasan yang disusun dan dikembangkan sesuai dengan kebutuhan sang pendengar atau penyimak.
Pendapat di atas juga didukung oleh Assumpta (2002:35) yang menjelaskan bahwa “berbicara merupakan sebuah bentuk penyampaian informasi dengan menggunakan kata-kata atau kalimat. Dengan kata lain, berbicara berarti menggunakan bahasa untuk bermacam-macam tujuan tergantung dari para penuturnya”.
2.2.3 Bercakap-cakap
Berdasarkan kegiatan komunikasi lisan, cakupan kegiatan berbicara sangat luas. Daerah cakupan itu meliputi kegiatan komunikasi lisan yang bersifat informal hingga yang bersifat formal. Semua kegiatan komunikasi lisan yang
melibatkan pembicara dan pendengar termasuk cakupan berbicara. Bercakap-cakap merupakan bagian dari berbicara.
Menurut Tarigan (1987:122), “bercakap-cakap adalah satuan bahasa yang terlengkap dan terbesar di atas kalimat atau klausa dengan kohesi dan koherensi tinggi yang berkesinambungan yang mempunyai awal dan akhir yang disampaikan secara lisan”.
2.2.4 Keterampilan Berbicara
Manusia dilahirkan dalam keadaan normal memiliki potensi berbicara. Potensi tersebut akan menjadi kenyataan bila dipupuk, dibina, dan dikembangkan melalui latihan yang sistematis, terarah, dan berkesinambungan. Tanpa berlatih potensi tersebut akan tetap dan tidak berkembang dengan baik.
Banyak pendapat ahli tentang keterampilan berbicara. Salah satu di antaranya adalah Saddhono (2012:36) yang menyebutkan “keterampilan berbicara merupakan keterampilan yang mekanistis”. Semakin banyak berlatih, semakin dikuasai dan semakin terampil seseorang dalam berbicara. Tidak ada orang yang langsung terampil berbicara tanpa melalui proses berlatih. Dalam keterampilan berbicara, siswa perlu dilatih pelafalan, pengucapan, pengontrolan suara, pengendalian diri, pengontrolan gerak-gerik tubuh, pemilihan kata, kalimat dan intonasinya, penggunaan bahasa yang baik dan benar, dan pengaturan ide atau pengorganisasian ide.
2.2.5 Pembelajaran Keterampilan Berbicara
Keberhasilan sebuah pembelajaran dapat diketahui melalui penilaian pembelajaran yang berfungsi untuk mengukur kemampuan siswa setelah melakukan proses pembelajaran. Menurut Badudu (1993:131), “pelaksanaan pembelajaran berbahasa dari jenjang sekolah dasar sampai sekolah menengah atas masih terkesan bahwa guru terlalu banyak menyuapi materi, guru kurang mengajak siswa untuk lebih aktif menyimak, berbicara, membaca, dan menulis”. Proses pembelajaran di kelas tidak relevan dengan yang diharapkan. Hal itu mengakibatkan kemampuan berbicara siswa menjadi rendah.
2.3 Landasan Teori
Teori dasar yang dipakai dalam penelitian ini adalah teori sor singgih bahasa Bali dari Narayana (1984), Kersten (1983), dan Suarjana (2008), teori berbicara dari Keraf (1977), keterampilan berbicara dari Iskandarwassid (2009), pembelajaran keterampilan berbicara dari Saddhono (2012), faktor- faktor penunjang keefektifan berbicara dari Arsjad dan Mukti (1988), dan faktor yang memengaruhi pembelajaran bahasa dari Iskandarwassid (2009).
Teori pendukung yang dipakai dalam penelitian ini adalah teori berbicara dari Nurgiyantoro (2001), Tarigan (1983), Assumpta (2002), dan teori berbicara dari Richard (2012). Teori pendukung lainnya adalah teori sor singgih bahasa Bali dari Suasta (1997). Teori-teori tersebut diuraikan satu per satu sebagai berikut.
2.3.1 Sor Singgih Bahasa Bali
Suasta (1997: 14) menyebutkan bahwa sor singgih basa Bali disebabkan oleh adanya stratifikasi dalam masyarakat suku Bali. Stratifikasi tersebut terdiri atas dua jenis, yaitu stratifikasi masyarakat suku Bali tradisional dan stratifikasi masyarakat suku Bali modern. Secara tradisional salah satu pembagiannya berdasarkan keturunan, sedangkan secara modern pembagiannya berdasarkan keahlian, pendidikan, kepangkatan, dan kekuasaan. Lebih lanjut dikatakan bahwa
sor singgih basa Bali dapat dilakukan dengan memilih kata-kata yang telah ada,
yang tiap-tiap kata tersebut telah mengandung nilai rasa sosial. Kata-kata tersebut ialah kata alus, andap, mider, dan kasar. Sor singgih basa Bali menurut Suasta (1997: 15--17) akan dijabarkan secara detail seperti berikut.
1) Kata alus berdasarkan rasa bahasanya dapat dibedakan menjadi empat, sebagai berikut.
a) Kata alus singgih adalah kata alus yang pada umumnya digunakan untuk menghormati seseorang yang patut dihormati.
Contoh:
1. Ajin iratune jakti sampun seda?
“Bapakmu benar sudah meninggal?”
2. Bapak Camat sampun kocap mireng gatrane punika.
“Bapak Camat sudah katanya mendengarkan berita itu.
b) Kata alus sor adalah kata alus yang dapat digunakan untuk merendahkan diri dan dapat pula digunakan untuk merendahkan orang yang patut direndahkan.
Contoh:
1. Pekak tiange sampun sue padem.
“Kakek saya sudah lama meninggal dunia”.
2. I Made durung miragi orti punika.
“I Made belum mendengarkan berita itu”.
c) Kata alus mider, adalah kata alus yang dapat digunakan untuk menghormati seseorang yang patut dihormati dan dapat pula digunakan untuk merendahkan orang yang patut direndahkan.
Contoh:
1. Ida Pedanda sampun rauh saking Klungkung.
“Ida Pedanda sudah datang dari Klungkung”.
2. Ipun sampun rauh saking Jawi.
“Ia sudah datang dari Jawa”.
d) Kata alus madia, adalah kata alus yang rasa bahasanya madia, yang pada umumnya digunakan dalam berbicara pada seorang yang belum dikenal, pada seseorang yang hubungan keakrabannya belum begitu akrab.
Contoh:
1. Ratu Peranda jagi lunga kija?
“Ratu Peranda akan pergi kemana?”
2. Ipun nenten polih kija-kija saking dibi.
2) Kata mider adalah kata yang rasa bahasanya netral. Maksudnya kata-kata
mider tidak memiliki rasa bahasa yang berbeda sehingga dalam
pemakaiannya tidak memiliki bentuk yang lainnya. Contoh:
1. Kuping tiange empeng ningehan munyin mercon.
“Kupingku bising mendengarkan suara mercon”.
2. Karnan Idane empeng mirengan suaran mercon.
“Kuping beliau bising mendengarkan suara mercon”.
3) Kata andap adalah kata yang rasa bahasanya biasa saja, yaitu tidak kasar dan tidak halus. Apabila dipertentangkan dengan rasa bahasa kata halus, maka rasa bahasa kata andap ada dalam tingkatan bahasa rendah.
Contoh:
1. Akuda ia ngelah umah jani?
“Berapa dia punya rumah sekarang?”
2. Cai suba ningeh orta?
“Kamu sudah mendegar berita?”
4) Kata kasar adalah kata yang rasa bahasanya kasar. Kata kasar digunakan terutama dalam keadaan atau kondisi marah atau jengkel sehingga sering digunakan dalam pertengkaran.
Contoh:
1. Pragat nidik dogen iba mai.
2. Apa petang iba ento?
“Apa yang kamu katakana itu?”
Suasta mengklasifikasikan sor singgih bahasa Bali berdasarkan kata. Sedangkan Narayana mengklasifikasikan sor singgih bahasa Bali berdasarkan kalimat. Menurut Narayana (1984: 19), yaitu tingkatan sor singgih basa Bali yang digunakan sebagai alat komunikasi oleh masyarakat suku Bali mencerminkan tingkatan penutur bahasa tersebut. Bagi masyarakat suku Bali, baik stratifikasi masyarakat suku Bali tradisional maupun stratifikasi masyarakat modern masa kini, kedua-duanya mempunyai pengaruh yang besar dan kuat terhadap sikap sopan santun basa basi dalam berkomunikasi. Dalam hal ini penutur harus berhati-hati memilih tingkatan bahasa yang baik dan benar serta tepat untuk keperluan itu. Kalimat yang dipakai penutur pada saat berbicara menggunakan sor singgih bahasa Bali ditentukan oleh pilihan kata yang dipakai (unsur yang membentuk kalimat). Selain itu kalimat yang dipakai juga melihat hubungan antara penutur dan petuturnya yang cenderung mengandung hubungan vertikal. Kalimat yang dipakai dalam berkomunikasi harus memperhatikan siapa penuturnya, siapa petuturnya, dan dimana berbicara sehingga akan menimbulkan rasa yang puas antara penutur dan petutur.
Narayana (1984: 21) membagi sor singgih basa Bali menjadi (1) basa
kasar, (2) basa andap, (3) basa madia, dan (4) basa alus. Basa kasar dibedakan
atas dua bagian, yaitu (1) basa kasar pisan dan (2) basa kasar jabag. Basa alus juga dibedakan atas empat bagian, yaitu (a) basa alus singgih, (b) basa alus sor,
(c) basa alus rangkep, dan (d) basa alus mider. Berikut pengertian tingkatan sor
singgih basa yang dikemukakan Narayana (1984:22).
1) Basa kasar ialah tingkatan bahasa Bali yang tidak sopan yang biasa digunakan dalam konteks kejengkelan atau dalam situasi marah. Basa kasar ini dibagi menjadi dua macam, sebagai berikut.
a) Basa kasar pisan, menurut istilah terdahulu disebut dengan bahasa kasar tidak sopan, yaitu tingkatan dalam bahasa Bali yang memang konotasi atau nilai rasa bahasanya sungguh kasar. Bahasa ini umumnya digunakan dalam keadaan marah atau jengkel, diucapkan dengan tidak sopan, misalnya bahasa dalam pertengkaran, perkelahian, caci makian dan sebagainya.
b) Basa kasar jabag, sama halnya dengan basa jabag. Di dalam istilah
jabag sebenarnya sudah terkandung makna kasar, yaitu berkata dengan
tidak wajar atau yang berkonotasi kasar terhadap orang yang patut dihormati.
2) Basa andap, merupakan istilah yang digunakan untuk menggantikan istilah
basa kasar sopan atau bahasa lepas hormat dalam istilah sebelumnya. Bahasa
ini merupakan bahasa yang sopan dalam pergaulan yang sifatnya akrab dalam pergaulan sesama wangsa, sama kedudukan, sama umur, sama pendidikan, kawan sederajat, merupakan bahasa kekeluargaan, yang lebih sering atau lebih dominan dalam wangsa jaba.
3) Basa madia, sebenarnya adalah tingkatan bahasa Bali yang halus, tetapi nilai rasa basa madia tidak terlalu hormat, sangat halus, atau sangat rendah. Dapat
dikatakan bahwa basa madia berada di antara basa alus dan basa andap sehingga merupakan bahasa penengah. Basa madia digunakan apabila wangsa yang lebih tinggi berbicara kepada wangsa yang lebih rendah, tetapi umurnya lebih tua atau lebih disegani atau juga menduduki jabatan di masyarakat ataupun pemerintahan, begitu juga sebaliknya.
4) Basa alus merupakan tingkatan bahasa Bali yang mempunyai nilai rasa tinggi atau sangat hormat. Umumnya basa alus digunakan sebagai alat komunikasi dalam dalam konteks percakapan adat, agama dan pembicaraan resmi terutama dipakai dalam rapat-rapat, seminar, pesamuhan atau sarasehan. Basa
Alus dibedakan atas empat bagian, seperti berikut.
a) Basa alus singgih, yaitu basa alus yang digunakan untuk mengatakan lawan bicara (orang kedua) atau yang dibicarakan (orang ketiga) yang
singgih atau tinggi, terhormat yang hendak dimuliakan.
Catatan : semua kata yang dipakai dalam kalimat alus singgih adalah kata alus singgih dan alus mider. Satu saja kata lain, maka maknanya akan menjadi kalimat lain. Contohnya sebagai berikut.
Ida kari ngrayunan ring perantenan. (kalimat alus singgih)
‘Ida (beliau) masih makan di dapur’.
Ida kari neda ring perantenan. (kalimat kasar)
‘Ida (beliau) masih makan di dapur’.
b) Basa alus sor, yaitu basa alus yang digunakan untuk mengatakan atau mengenai si pembicara atau yang dibicarakan (orang ketiga) yang lebih rendah status sosialnya daripada lawan bicara.
c) Basa alus rangkep, yaitu basa alus yang terdiri dari atas basa alus
singgih dan basa alus sor dijadikan satu, karena di dalamnya terdapat
pengungkapan mengenai hal golongan atas dan golongan bawah. d) Basa alus mider yaitu basa alus yang dapat diterima oleh orang
banyak atau umum. Artinya, bahasa yang digunakan untuk mengatakan atau mengenai umum, baik di dalamnya termasuk golongan atas maupun bawah.
Secara konsep, sebagaimana dipetakan oleh Kersten (1970) tentang pemakaian sor singgih bahasa Bali dapat dikelompokkan menjadi golongan atas dan golongan bawah. Pengelompokan ini dibedakan sebagai berikut.
a. Secara tradisional, yang dikelompokkan sebagai golongan atas adalah
orang-orang yang berstatus tri wangsa, yakni wangsa brahmana,
wangsa ksatriya, dan wangsa wesya. Sebaliknya, yang dikelompokkan
sebagai golongan bawah adalah wangsa jaba.
b. Secara moderen, yang dikelompokkan sebagai golongan atas dan golongan bawah antara tri wangsa dan wangsa jaba memiliki peluang dan kesempatan yang sama. Artinya, status orang itu diklasifikasikan secara pragmatis. Tidak semata-mata karena kelahiran atau keturunan, tetapi juga karena jabatan atau kedudukan dan finansialnya.
Untuk menghindari kesalahan dalam pemakaian sor singgih bahasa Bali, Suarjana (2008:88--92) mengemukakan empat konsep sebagai berikut.
1. Jika pembicara atau orang pertama (O1), yang diajak bicara atau orang kedua (O2), dan yang dibicarakan (O3) semuanya golongan bawah,
maka bahasa Bali yang digunakan oleh pembicara adalah bahasa Bali
andap. Hal ini dapat digambarkan sebagai berikut.
A B O1 O2 O3 (Suarjana, 2008: 88) Contoh:
a. Yan saja I Luh tresna lan jani nganten, Beli suba ngorahang teken I Bapa jumah.
“Kalau benar I Luh cinta mari nikah sekarang, Kakak sudah menyampaikan kepada ayah (saya) di rumah”.
b. I Meme anak suba adung, keto masih reraman I Luhe. “Ibu (saya) sudah sepakat, begitu juga orang tuamu”.
(Suarjana, 2008: 88)
2. Jika pembicara atau orang pertama (O1) sebagai golongan bawah, lawan bicara (O2) dan yang dibicarakan atau orang ketiga (O3) sama-sama sebagai golongan atas, maka bahasa yang digunakan oleh O1 kepada O2 dan bahasa yang digunakan mengenai O3 adalah bahasa
Bali alus singgih. Sebaliknya, untuk orang pertama yang mengenai
dirinya sendiri akan menggunakan bahasa Bali alus sor seperti tampak pada gambar berikut.
O2 O3 A B O1 (Suarjana, 2008:89) Contoh:
a. Ida Bagus Aji lunga ka bangkete nandur pantun. “Ida Bagus Aji pergi ke sawah menanam padi”.
b. Okan idane taler nyarengin lunga makta anaman.
“Putranya juga ikut pergi membawa ketupat”. (Suarjana, 2008:89)
3. Jika orang pertama (O1) sebagai golongan bawah, yang diajak bicara (O2) sebagai golongan atas, dan yang dibicarakan (O3) sebagai golongan bawah, maka bahasa yang digunakan oleh pembicara (O1) kepada (O2) adalah bahasa Bali alus singgih. Di pihak lain yang mengenai O1 dan O3 digunakan bahasa Bali alus sor. Tampak seperti gambar berikut. O2 A B O1 O3 (Suarjana, 2008:91)
Contoh:
a. Titiang pajarina tangkil olih ipun dibi sande.
“Saya disuruh datang oleh dia kemaren malam”
b. Pianak ipun mangkin sampun mapaumahan.
“Anaknya sekarang sudah berumah tangga”. (Suarjana, 2008:91)
4. Jika pembicara atau orang pertama (O1) sebagai golongan bawah, yang diajak bicara (O2) juga golongan bawah, sedangkan yang dibicarakan (O3) golongan atas, maka bahasa yang digunakan oleh O1 kepada O2 adalah bahasa Bali andap, sedangkan bahasa yang mengenai O3 menggunakan bahasa Bali alus singgih. Hal itu tampak seperti gambar berikut.
O3 A B O1 O2 (Suarjana, 2008:92) Contoh:
a. Apa ke jani Luh suba nawang, indik Ida lakar mekerabkambe? “Apakah sekarang Luh sudah tahu, mengenai beliau akan menikah?”
b. Icang ajak cai sing dadi nulak pakayunan ida.
“Saya dan kamu tidak boleh menolak keinginan beliau”. (Suarjana, 2008:92)
2.3.2 Berbicara
Pengajaran bahasa memiliki empat aspek keterampilan yang meliputi keterampilan menyimak, keterampilan berbicara, keterampilan membaca, dan keterampilan menulis. Keempat keterampilan berbahasa di atas merupakan satu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan satu sama lain, tetapi hanya dapat dibedakan. Berbicara merupakan sebuah bentuk penyampaian informasi dengan menggunakan kata-kata atau kalimat. Dalam subbab ini dijelaskan jenis-jenis berbicara, tujuan berbicara dan fungsi berbicara.
Jenis-jenis berbicara terdiri atas banyak ragam dan macamnya. Keraf (1977:189) membedakan jenis bicara ke dalam tiga macam yaitu:
a) Berbicara persuasif, yang termasuk jenis persuasif adalah mendorong, meyakinkan, dan bertindak. Berbicara persuasif menghendaki reaksi dari para pendengar yang beraneka ragam.
b) Berbicara instruktif bertujuan untuk memberitahukan. Berbicara instruktif menghendaki reaksi dari pendengar berupa pengertian yang tepat.
c) Berbicara rekreatif bertujuan untuk menyenangkan. Berbicara rekreatif menghendaki reaksi dari pendengar berupa minat dan kegembiraan.
Tujuan utama berbicara adalah untuk berkomunikasi. Agar dapat menyampaikan pikiran, gagasan, perasaan, dan kemauan secara efektif, maka
harus diketahui tujuan melakukan pembicaraan. Keraf (1980:189--191) menyatakan bahwa tujuan berbicara adalah sebagai berikut.
a) Mendorong pembicara untuk memberikan semangat, membangkitkan kegairahan, serta menunjukkan rasa hormat dan pengabdian.
b) Meyakinkan: pembicara berusaha memengaruhi keyakinan atau sikap mental/intelektual para pendengarnya.
c) Berbuat/bertindak: pembicara menghendaki tindakan atau reaksi fisik dari para pendengar dengan terbangkitkannya emosi.
d) Memberitahukan: pembicara berusaha menguraikan atau menyampaikan sesuatu kepada pendengar dengan harapan agar pendengar mengetahui suatu hal, pengetahuan, dan sebagainya.
e) Menyenangkan: pembicara bermaksud menggembirakan, menghibur para pendengar agar terlepas dari kerutinan yang dialaminya.
Seorang guru harus mengetahui fungsi bahasa yang akan dipakai siswa untuk berinteraksi dalam sebuah komunikasi sehingga memudahkan untuk merancang program pengajaran yang baik demi mencapai tujuan komunikasi tersebut. Richard dalam Pratiwi (2012: 12--14) membagi fungsi berbicara menjadi tiga sebagai berikut.
1) Berbicara sebagai interaksi (talk as interaction)
Fungsi berbicara ini mengacu pada kegiatan percakapan yang biasa dilakukan dan berhubungan dengan fungsi sosial. Tuturan bahasa bisa formal ataupun nonformal. Ada beberapa kemampuan yang ikut dilibatkan dalam kegiatan berbicara sebagaai sebuah interaksi, antara lain membuka
dan menutup percakapan, memilih topik, membuat percakapan-percakapan kecil/ringan, bergurau, menceritakan kejadian dan pengalaman pribadi, dilakukan secara bergantian, adanya interupsi/menyela percakapan, bereaksi terhadap satu sama lain, dan menggunakan gaya berbicara yang sesuai.
2) Berbicara sebagai transaksi (talk is transaction)
Kegiatan ini lebih memfokuskan kepada pesan yang ingin disampaikan dalam kegiatan berbicara. Ada dua tipe dalam kegiatan sebagai sebuah interaksi, yaitu seperti berikut.
a) Kegiatan ini memfokuskan kepada memberikan dan menerima informasi. Ketepatan tidak menjadi fokus utama selama informasi berhasil dikomukasikan dan dimengerti.
b) Kegiatan yang fokus utamanya adalah untuk memeroleh barang atau jasa, misalnya dalam percakapan seseorang yang memesan makanan di restoran.
3) Berbicara sebagai penampilan (talk is performance)
Berbicara sebagai penampilan mengacu pada kegiatan berbicara untuk menyampaikan informasi di depan umum atau peserta. Berbicara model ini lebih cenderung mengarah kepada berbicara satu arah daripada dua arah (dialog) dan lebih terkesan seperti bahasa tulis daripada percakapan. Ciri utama kegiatan berbicara sebagai penampilan adalah (a) fokus pada pesan yang ingin disampaikan kepada peserta, (b) mementingkan bentuk dan ketepatan ucapan, (c) bahasa yang digunakan
terkesan seperti bahasa tulis, (d) lebih sering monolog, dan (e) struktur dan urutannya dapat diprediksi.
Menurut Bygate dalam Pratiwi (2012:14), dalam pembelajaran bahasa ada dua cara mendasar yang kerap kita lakukan yang dapat dikategorikan sebagai keterampilan. Kedua cara yang dimaksud adalah yaitu motor-perceptive skill yang mencakup mengartikan, menghasilkan, serta mengucapkan bunyi dan struktur bahasa yang benar. (2) interaction skill yang mencakup membuat keputusan tentang sebuah komunikasi, misalnya ingin mengungkapkan apa, bagaimana mengatakannya, mengembangkannya dan sesuai dengan yang dimaksudkan oleh orang lain.
2.3.3 Keterampilan Berbicara
Keterampilan berbicara pada hakikatnya merupakan keterampilan mereproduksi arus sistem bunyi artikulasi untuk menyampaikan kehendak, kebutuhan perasaan, dan keinginan kepada orang lain. Dalam hal ini, kelengkapan alat ucap seseorang merupakan persyaratan alamiah yang memungkinkannya untuk memproduksi suatu ragam yang luas bunyi artikulasi, tekanan, nada, kesenyapan, dan lagu bicara. Iskandarwassid (2009:239) menyatakan “keterampilan berbicara mensyaratkan adanya pemahaman minimal dari pembicara dalam bentuk sebuah kalimat. Betapapun kecilnya, memiliki stuktur dasar yang saling bertemali sehingga mampu menyajikan sebuah makna”. Keterampilan ini juga didasari oleh kepercayaan diri untuk berbicara secara wajar,
jujur, benar, dan bertanggung jawab dengan menghilangkan masalah psikologis, seperti rasa malu, rendah diri, ketegangan, berat lidah, dan lain-lain.
Ada beberapan jenis keterampilan berbicara yang dipaparkan oleh Iskandarwassid (2009: 244--245). Keterampilan tersebut meliputi bermain peran, berdiskusi, wawancara, bercerita, berpidato, laporan lisan, membaca nyaring, merekam bicara, bermain drama (bercakap-cakap). Dalam penelitian ini hanya dilakukan penelitian siswa bermain drama (bercakap-cakap).
2.3.4 Pembelajaran Keterampilan Berbicara
Pembelajaran keterampilan berbicara, baik pada jenjang pedidikan dasar, menengah, maupun tinggi memerlukan pemilihan strategi pembelajaran yang tepat agar tujuan pembelajaran tercapai dengan maksimal.
Rancangan program pengajaran untuk mengembangkan keterampilan berbicara dapat memberikan pemenuhan kebutuhan yang berbeda. Saddhono (2012: 56--57) menyatakan bahwa kegiatan-kegiatan pengembangan keterampilan berbicara meliputi hal-hal di bawah ini.
a. Aktivitas mengembangkan keterampilan berbicara secara umum.
b. Aktivitas mengembangkan berbicara secara khusus untuk membentuk model diksi dan ucapan, serta mengurangi penguasaan bahasa nonstandar.
c. Aktivitas mengatasi masalah yang meminta perhatian khusus: 1. peserta didik yang penggunaan bahasa ibunya sangat dominan,
3. peserta didik yang menderita hambatan jasmani yang berhubungan dengan alat-alat bicaranya.
Program pengajaran keterampilan berbicara harus mampu memberikan kesempatan kepada setiap individu mencapai tujuan yang dicita-citakan (Saddhono, 2012: 58--59). Tujuan keterampilan berbicara mencakup pencapaian hal-hal berikut.
1. Kemudahan Berbicara
Peserta didik harus mendapat kesempatan yang besar untuk berlatih berbicara sampai dapat mengembangkan keterampilan ini secara wajar, lancer, dan menyenangkan, baik di dalam kelompok kecil maupun di hadapan pendengar umum yang lebih besar jumlahnya.
2. Kejelasan
Dalam hal ini peserta didik berbicara dengan tepat dan jelas, baik artikulasi maupun diksi kalimat-kalimatnya dan gagasan yang diucapkannya harus tersusun dengan baik.
3. Bertanggung Jawab
Latihan berbicara yang bagus menekankan pembicara untuk bertanggung jawab agar berbicara secara tepat dan dapat dipikirkan dengan sungguh-sungguh mengenai apa yang menjadi topik pembicaraan, tujuan pembicaraan, siapa yang diajak berbicara, serta bagaimana situasi pembicaraan dan momentumnya.
4. Membentuk Pendengaran yang Kritis
Selain berbicara yang baik latihan ini sekaligus mengembangkan keterampilan menyimak secara tepat dan kritis. Artinya peserta didik perlu belajar untuk mengevaluasi kata-kata, niat, dan tujuan pembicara.
5. Membentuk Kebiasaan
Kebiasaan berbicara tidak dapat dicapai tanpa kebiasaan berinteraksi dalam bahasa yang dipelajari, bahkan dalam bahasa ibu. Faktor ini demikian penting dalam membentuk kebiasaan berbicara dalam perilaku seseorang.
Dalam penelitian ini yang dimaksud dengan keterampilan berbicara adalah kemampuan siswa kelas IX SMP Negeri 3 Denpasar dalam mengungkapkan kehendak, kebutuhan perasaan, dan keinginan kepada orang lain di samping itu, mampu mengasosiasikan makna, mengatur interaksi kepada siapa berbicara, mengatakan apa (tata bahasa), kapan, tentang apa (topik pembicaraan), dan di mana pembicaraan berlangsung. Hal ini dimaksudkan agar proses aktivitas berbicara berjalan dengan baik.
2.3.5 Faktor- faktor Penunjang Keefektifan Berbicara
Pembicara yang baik harus mampu memberikan kesan bahwa ia menguasai masalah yang dibicarakan. Penguasaan sor singgih bahasa Bali yang baik akan menumbuhkan keberanian dan kelancaran. Selain itu, seorang pembicara harus berbicara (mengucapkan bunyi-bunyi bahasa) dengan jelas dan tepat. Pengucapan bunyi bahasa yang kurang tepat dapat mengalihkan perhatian pendengar. Arsjad dan Mukti (1988:17) menjelaskan beberapa faktor lain yang
harus diperhatikan dalam berbicara. Faktor- faktor itu adalah faktor verbal dan faktor nonverbal.
1) Faktor Verbal
Faktor-faktor verbal ini meliputi ketepatan ucapan, penempatan tekanan, nada, sendi dan durasi, pilihan kata, dan ketepatan sasaran pembicara. Keempat faktor tersebut dijabarkan sebagai berikut.
a) Ketepatan ucapan
Pembicara yang baik harus membiasakan diri mengucapkan bunyi-bunyi bahasa yang tepat. Pengucapan bunyi-bunyi bahasa yang kurang tepat atau cacat akan menimbulkan kebosanan, kurang menyenangkan, kurang menarik, dan setidaknya dapat mengalihkan perhatian pendengar. Pengucapan bunyi bahasa dianggap cacat kalau menyimpang terlalu jauh dari ragam lisan biasa sehingga terlalu menarik perhatian, dan mengganggu komunikasi.
b) Penempatan tekanan, nada, sendi, dan durasi
Walaupun masalah yang dibicarakan kurang menarik, dengan penempatan tekanan, nada sendi, dan durasi yang sesuai akan menyebabkan masalahnya menjadi menarik. Sebaliknya, jika penyampaiannya datar saja, hampir dapat dipastikan akan menimbulkan kejemuan dan keefektifan tentu berkurang. Penempatan tekanan pada kata atau suku kata yang kurang sesuai akan mengakibatkan kejanggalan. Kesesuaian tekanan, nada, sendi, dan durasi merupakan daya tarik tersendiri dalam berbicara.
c) Pilihan kata
Dalam setiap pembicaraan pemakaian kata-kata populer tentu akan lebih efektif. Kata-kata yang belum dikenal memang mengakibatkan rasa ingin tahu, tetapi akan menghambat kelancaran komunikasi. Pendengar akan lebih tertarik dan senang mendengarkan kalau pembicaranya berbicara dengan jelas dalam bahasa yang dikuasainya. Oleh karena itu, hendaknya dipilih kata-kata yang tepat, jelas, dan bervariasi.
d) Ketepatan sasaran pembicara
Pembicara yang menggunakan kalimat efektif akan memudahkan pendengar menangkap pembicaraannya. Seorang pembicara harus mampu menyusun kalimat efektif, kalimat yang mengenai sasaran sehingga mampu menimbulkan pengaruh, meningalkan kesan, atau menimbulkan akibat.
2) Faktor Nonverbal
Faktor-faktor nonverbal ini meliputi sikap yang wajar, tenang, dan tidak kaku. Pandangan harus diarahkan pada lawan bicara, kesediaan menghargai pendapat orang lain, gerak-gerik dan mimik yang tepat, kenyaringan suara, kelancaran, relevansi/penalaran dan penguasaan topik. Kedelapan faktor tersebut diuraikan seperti berikut.
a) Sikap yang wajar, tenang, dan tidak kaku
Sikap yang wajar saja sebenarnya berarti pembicara sudah dapat menunjukkan otoritas dan integritas dirinya. Sikap ini sangat banyak ditentukan oleh situasi, tempat, dan penguasaan materi. Penguasaan materi
yang baik setidaknya akan menghilangkan kegugupan. Kalau sudah terbiasa, lama-kelamaan rasa gugup akan hilang dan akan timbul sikap tenang dan wajar.
b) Pandangan harus diarahkan pada lawan bicara
Pandangan pembicara hendaknya diarahkan kepada semua pendengar. Pandangan yang hanya tertuju pada satu arah akan menyebabkan pendengar merasa kurang diperhatikan. Hendaknya diusahakan supaya pendengar merasa terlibat dan diperhatikan.
c) Kesediaan menghargai pendapat orang lain
Seorang pembicara hendaknya memiliki sikap terbuka, dalam arti dapat menerima pendapat pihak lain, bersedia menerima kritik, bersedia mengubah pendapatnya kalau ternyata memang keliru.
d) Gerak-gerik dan mimik yang tepat
Gerak-gerik dan mimik yang tepat dapat pula menunjang keefektifan berbicara. Hal-hal penting selain mendapatkan tekanan, biasanya juga dibantu dengan gerak tangan atau mimik. Hal ini dapat menghidupkan komunikasi, artinya tidak kaku. Akan tetapi, gerak-gerik yang berlebihan akan mengganggu keefektifan berbicara.
e) Kenyaringan suara
Tingkat kenyaringan ini tentu disesuaikan dengan situasi, tempat, dan jumlah pendengar. Pembicara harus mengatur kenyaringan suara supaya dapat didengar dengan jelas oleh pendengar.
f) Kelancaran
Pembicara yang lancar berbicara akan memudahkan pendengar menangkap isi pembicaraannya. Sering kali pembicara berbicara terputus-putus, bahkan antara bagian-bagian yang terputus itu diselipkan bunyi-bunyi tertentu yang mengganggu penangkapan pendengar. Sebaliknya, pembicara yang terlalu cepat berbicara juga akan menyulitkan pendengar menangkap pokok pembicaraannya
g) Relevansi/Penalaran
Proses berpikir untuk sampai pada suatu simpulan haruslah logis. Gagasan demi gagasan haruslah disampaikan dengan logis. Hal ini berarti bahwa hubungan bagian-bagian dalam kalimat, hubungan kalimat dengan kalimat harus logis dan berhubungan dengan pokok pembicaraan.
h) Penguasaan Topik
Penguasaan topik yang baik akan menumbuhkan keberanian dan kelancaran. Jadi, penguasaan topik ini sangat penting, bahkan merupakan faktor utama dalam berbicara. Pembicaraan formal selalu menuntut persiapan. Tujuannya adalah supaya topik yang dipilih betul-betul dikuasai.
2.3.6 Faktor-faktor yang Memengaruhi Pembelajaran Bahasa
Banyak faktor yang memengaruhi pembelajaran bahasa. Hal itu harus benar-benar diperhatikan oleh orang-orang yang terlibat dalam pembelajaran, baik langsung maupun tidak langsung. Iskandarwassid ( 2009:168--175) menyebutkan
ada beberapa faktor yang memengaruhi pembelajaran bahasa. Faktor-faktor tersebut diuraikan seperti berikut.
1) Karakteristik Peserta Didik
Peserta didik sebagai orang yang belajar merupakan subjek yang sangat penting dalam proses pembelajaran. Dalam pembelajaran bahasa, pengajar harus memerhatikan karakteristik peserta didik. Karakteristik peserta didik itu, antara lain sebagai berikut.
a) Kematangan Mental dan Kecakapan Intelektual
Tingkat kematangan mental dan kecakapan intelektual peserta didik sangat memengaruhi keberhasilan pembelajaran bahasa. Bila peserta didik telah matang secara mental dan cakap secara intelektual untuk belajar bahasa, peserta didik tersebut akan mudah mengikuti pembelajaran. b) Kondisi Fisik dan Kecakapan Psikomotor
Kondisi fisik merupakan faktor yang memengaruhi proses pembelajaran bahasa. Kecakapan psikomotor menyangkut gerakan-gerakan jasmani, seperti kekuatan, kecepatan, koordinasi, dan fleksibilitas. c) Umur
Umur merupakan hal yang harus dipertimbangkan dalam proses pembelajaran bahasa. Strategi pembelajaran yang digunakan tentu akan berbeda sesuai dengan umur peserta didik.
d) Jenis Kelamin
Meskipun secara prinsip anatara peserta didik perempuan dan laki-laki tidak terdapat perbedaan, dalam hal-hal tertentu terdapat perbedaan,
misalnya minat, cara belajar, kebiasaan, kecakapan, psikomotor, dan perhatian. Jenis kelamin merupakan faktor yang harus diperhatikan dalam proses pembelajaran bahasa.
2) Kompetensi Dasar yang Diharapkan
Kompetensi dasar adalah pernyataan minimal atau memadai tentang pengetahuan, keterampilan, sikap, dan nilai-nilai yang direfleksikan dalam kebiasaan berpikir dan bertindak setelah peserta didik menyelesaikan suatu aspek atau subaspek mata pelajaran tertentu.
3) Bahan Ajar
Bahan ajar merupakan seperangkat informasi yang harus diserap peserta didik melalui pembelajaran yang menyenangkan. Secara umum, sifat bahan ajar dapat dibedakan ke dalam beberapa kategori, yaitu konsep, prinsip, dan keterampilan. Konsep merupakan serangkaian perangsang yang mempunyai sifat-sifat yang sama. Prinsip merupakan suatu pola antara hubungan fungsional di antara prinsip. Keterampilan merupakan suatu pola kegiatan yang bertujuan dan memerlukan peniruan serta koordinasi informasi yang dipelajari.
4) Waktu yang Tersedia
Perhitungan waktu harus benar-benar diperhatikan dalam penyampaian materi pembelajaran. Melalui perhitungan waktu dalam satu tahun ajaran berdasarkan waktu-waktu efektif pembelajaraan bahasa, rata-rata lima jam pelajaran / minggu untuk mencapai dua atau tiga kompetensi