• Tidak ada hasil yang ditemukan

Model Pembelajaran dengan Pendekatan Gaya Belajar M.S Hasibuan, Neila Ramdhani University Gadjah Mada, Yogyakarta, Indonesia

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "Model Pembelajaran dengan Pendekatan Gaya Belajar M.S Hasibuan, Neila Ramdhani University Gadjah Mada, Yogyakarta, Indonesia"

Copied!
12
0
0

Teks penuh

(1)

Model Pembelajaran dengan Pendekatan Gaya Belajar M.S Hasibuan, Neila Ramdhani

University Gadjah Mada, Yogyakarta, Indonesia

1. Introduction

Menurut alan proses pembelajaran merupakan proses untuk mendapatkan pemahaman tentang sesuatu hal yang baru [1]. Proses ini tidak harus dilakukan dalam kondisi formal di dalam kelas, namun dapat juga dilakukan secara non formal. Proses pembelajaran dilakukan untuk mendapatkan pengetahuan. Pengetahuan menurut bloom yakni cara seseorang yang untuk mendapatkan pengetahuan melalui fase seperti gambar 1 dibawah ini [2]

Gambar 1 Taxomony bloom [3]

Fase remember menunjukkan bahwa pelajar hanya memiliki ingatan tentang sesuatu namun masih bersifat umum. Sedangkan fase understand ini sudah memahami sesuatu dan mampu menghubungkannya dengan sesuatu hal lainnya. Selanjutnya tahapan fase apply sesuatu yang diingat dan dipahami dapat di implementasikan dalam bentuk nyata. Fase analyze mampu melakukan analisa tentang sesuai yang sudah diimplementasikan untuk melihat keterhubungannya. Fase evaluasi melakukan pengecekan tentang sesuatu yang sudah dievaluasi yang nantinya dapat menghasilkan fase create yakni fase terakhir membuat sesuatu yang baru.

Fase fase pada Gambar 1 dapat merubah pembelajar dari sisi cognitive, affective dan psychomotor seperti terlihat di tabel 1

Tabel 1

Domain pembelajaran Fase

cognitive Analyze

affective Evaluate

psycomotor Create

(2)

Proses perubahan pada domain pembelajaran pada Tabel 1 memperlihatkan sisi cognitive yang mengalami perubahan dikarenakan pembelajar sudah mampu menganalisis sesuatu berdasarkan remember, understand, apply dan analyze. Proses ini mengubah pembelajar menjadi memiliki pengetahuan baru.

Sedangkan domain affective perubahan melebihi dari cognitive karena sudah masuk ke ranah attitude dari pembelajar. Perubahan yang jelas tampak dari prilaku pembelajar, hal ini disebabkan pembelajar sudah sampai pada tahapan evaluasi. Tahapan domain pembelajar terakhir yakni psikomotorik yang mencerminkan pembelajar bukan hanya memiliki pengetahuan dan perubahan pada prilaku namun juga mampu berbuat sesuatu dengan bekal yang dimilikinya. Gambar 2 dibawah ini merupakan penjabaran dari hubungan domain pembelajaran dengan taxomony bloom.

Gambar 2 hubungan domain pembelajaran dengan taxomony bloom

Dari proses domain pembelajaran psikologi pembelajaran dapat dikelompokkan menjadi 4 kelompok yakni behaviorism, contructivism, cognitivism, [4] dan connectivism [5],[6] seperti terlihat di Gambar 3.

Pendekatan behaviorism dikenalkan sejak tahun 1897 oleh Ivan pavlov’s. Pendekatan Behaviorism lebih kepada stimulus diberikan untuk menambah keterampilan dan pengetahuan. Bentuk dari stimulus ini berupa reward dan punishment. Pemberian stimulus bermaksud memperkenalkan pengetahuan atau ketrampilan yang baru. Sedangkan prilaku constructivism dikenal pada tahun 1896–1980 yang kenalkan oleh Jean Peaget lebih kepada critical thinking dan problem solving merupakan. Pelajaran constructivism membuat pelajar aktif untuk mendapatkan pengetahuan dari pengalaman yang dihadapi. Proses pelajaran constructivism memerlukan pengajar yang interaktif memberikan motivasi kepada pelajar.

(3)

Pelajar diharapkan dapat menggali informasi dari berbagai sumber sehingga akhirnya memahami akar masalah, permasalahan dan solusi.

Sedangkan pelajaran cognitivism fokus bagaimana informasi itu diterima, disusun, disimpan dan kemudian dipahami. Proses cognitivism mengharuskan pengajar menetapkan prior knowledge yang harus dimiliki pelajar. Setelah prior knowledge di ketahui selanjutnya akan dibangun teaching strategi yang nantinya akan mencapai tujuan pelajaran. Pendekatan terakhir yakni connectivism penekanannya lebih kepada bahan ajar yang tersebar di media online. Sehingga pelajar diharapkan mampu mengakses semua bahan ajar tersebut yang sesuai dengan gaya belajar mereka.

Gambar 3. Model Pembelajaran

Gambar 4 dibawah ini menggambarkan hubungan antara psikologi pembelajaran dengan domain pembelajaran.

behaviorism

reward

Punishment

Constructivism

Problem

Solving

Critical

thingking

Cognitivism

prior

knowledge

Teaching

Method

Goal

Connectivism

Connecting learning object via internet

(4)

Gambar 4 Hubungan antar psikologi pembelajaran dan domain

2. Gaya Belajar

Dari keempat theory pembelajaran behaviorism, constructivism, cognitivism dan connectivism tersebut, pointnya ada di pengajar dan pelajar. Pelajar dalam mengikuti pelajaran ini tidak lepas dari gaya belajar yang dimiliki pelajar. Setiap pelajar memiliki perbedaan gaya belajar yang mencerminkan cara belajar. Gaya belajar merupakan sesuatu yang dimiliki pelajar untuk memproses informasi menjadi pengetahuan.

Setiap pelajar memiliki gaya belajar yang berbeda, hal ini disebabkan karena pelajar memiliki latar belakang prior knowledge yang tidak sama. Prior Knowledge merupakan pengetahuan dasar yang dimiliki oleh pelajar.

Menurut Honey et all yang menemukan beberapa faktor yang mempengaruhi pelajar dalam proses belajar mengajar (PBM). Salah satu faktor yang mempengaruhi pelajar adalah gaya belajar. Sedangkan gaya belajar menurut definisi Dunn [7] learning style is a process on how

the learner begins to concentrate, process, and retain new and difficult information. Dari

definisi diatas dapat tarik kesimpulan bahwa gaya belajar merupakan proses pelajaran dimulai dengan bagaimana seseorang mendapatkan informasi, mencerna informasi dan menyimpan informasi yang sudah diproses tersebut.

Honey et all [8] menyatakan hal yang sama “Most learners are unaware of their own

learning style preference but are vaguely aware of what they feel comfortable with, and learn more from, certain activities than others”.

•Psikomotorik

Behaviorism

•Affective

Constructivism

•Cognitive

Cognitivism

•Cognitive •Affective •Psikomotorik

Connectivism

(5)

a. Gaya Belajar Kolbs

Pada model gaya belajar Kolb’s [9] diperoleh berdasarkan proses learner (pelajar) dalam mengikuti pelajaran. Didalam model pelajaran Kolb’s di identifikasikan 4 tipe pelajar, yaitu :

1. Concrete Experience (CE)

Tipe pelajar ini mampu menjawab (merespond) dengan baik penjelasan bahan ajar yang terkait dengan pengalamannya (experience), minatnya (interest) dan karirnya kedepan. Pelajar yang termasuk pada tipe ini biasanya bisa menjelaskan pertanyaan “why”. Tipe pelajar ini mempunyai karakteristik yang lebih menyenangi dalam bidang penelitian di laboratorium, orientasi lapangan atau proses pengamatan dilapangan.

2. Reflective Observation (RO)

Pelajar pada tipe ini memiliki kemampuan berpikir lebih mendalam dari pelajar lain. Pelajar tersebut mampu melakukan analisis yang mendalam dari berbagai sumber masukan. Dalam menganalisis biasanya pelajar akan menemukan berbagai masukan atau ide untuk perkembangan lebih lanjut. Pelajar pada tipe ini lebih menyenangi kegiatan penelitian.

3. Abstract Conceptualization (AC)

Pelajar pada tipe ini lebih mendalami konsep dari pada praktek. Pelajar ini lebih senang dengan materi yang bersifat teoritis dan akhirnya menghasilkan konsep. Berbeda dengan RO yang lebih kepada praktek. Pelajar ini juga umumnya mempunyai daya ingat yang lebih dari pelajar lain. Kebanyakan ciri ciri AC ini terdapat pada profesi dosen, guru dan politikus.

4. Active Experimentation (AE)

Pelajar tipe ini lebih menyenangi pendekatan praktek dari pada teori. Ciri berikutnya mereka lebih menyukai kepada sebuah pendekatan pemecahan masalah (solve problem) dan membuat keputusan berdasarkan hasil dari eksperimen yang telah dilakukan.

Dari tinjauan tipe pelajar diatas disimpulkan bahwa Kolbs membagi pelajar berdasarkan bagaimana seorang pelajar melakukan proses pelajaran untuk mendapatkan informasi baru. Proses ini merupakan alami dan setiap orang pasti berbeda tergantung prior knowledge yang dimiliki. Kemudian Kolb’s menggabungkan ke empat tipe pelajar tersebut menjadi 4 gaya belajar berdasarkan hubungan 2 tipe yang memiliki kesinambungan. Berikut ini merupakan 4 stage cycle dari gaya belajar Kolb’s:

(6)

1. Accommodating (CE/AE)

Pada tahapan accommodating pelajar mendapat pengalaman baru berdasarkan trial and error, learning by doing dan pengamatan. Mereka pada umumnya menggunakan analisa orang lain kemudian bertindak berdasarkan pengalaman. Tahapan Accomodating seperti ini lebih baik bekerja team.

2. Diverging (CE/RO)

Pelajar diverging ini dihasilkan dari gabungan tipe pelajar Concrete experience dan

Reflective observation. Kedua tipe pelajaran ini tergolong kepada tipe teoritis. Pada

tipe ini pelajar melihat sesuatu permasalahan dengan pandangan yang luas dari berbagai sudut pandang. Pelajar ini memiliki sifat sensitive dan sangat teliti sebelum mengambil tindakan. Mereka lebih banyak menggunakan feeling (perasaan). Sehingga pelajar ini sangat baik untuk ilmu sosial dan mereka lebih tepat untuk berkelompok.

3. Assimilating (AC/RO)

Pada tipe Assimilating ini, pendekatan yang dilakukan dengan pemikiran yang logis. Konsep dan ide lebih diutamakan dari pada hal yang lain. Sehingga mereka lebih jelas dalam memberikan pengertian terhadap sesuatu hal yang konsep ketimbang praktek. Pelajar yang berada pada tipe ini lebih cocok masalah yang berkenaan dengan science dan informasi. Mereka ini senang membaca, mengajar, dan menganalisis. Pelajar pada tipe ini dalam mempunyai pemahaman yang lebih terhadap sesuatu. Pelajar ini dalam melakukan PBM lebih kepada pendekatan thinking dan watching.

4. Converging (AC/AE)

Pada tipe Converging ini pelajar lebih menyukai sesuatu yang berkaitan dengan praktek ketimbang teori. Mereka dapat memecahkan permasalahan dari pelajaran situasi dan kondisi sebelumnya. Dalam hal ini mereka lebih mengutamakan hasil dan proses teknisnya tanpa memikirkan kondisi sosial yang dihasilkan. Mereka pada umumnya lebih menyenangi eksperimen dari pada teori dan rumusan ide, kemudian mereka melakukan simulasi dan akhirnya menggunakan aplikasi. Mereka pada umumnya dapat menjadi profesional dibidangnya. Pelajar pada tipe ini dalam melakukan pelajaran menggunakan pendekatan thinking dan doing.

Selanjutnya Kolb’s mengungkapkan bahwa setiap manusia mempunyai gaya belajar yang alami.

(7)

Reflective Observation Watching Concrete Experience Feeling Active Experimentation Doing Abstract Conceptualisation Thinking Processing Continuum

how we do

things

Percepti o n Co nti nuu m

h

o

w we

th

in

k

a

b

o

u

t

th

in

g

s

Assimilating

(think and watch) AC/RO

Diverging

(feel and watch)

CE/RO

Converging

(think and do) AC/AE

Accommodating

(feel and do) CE/AE

Banyak faktor yang mendasari gaya belajar ini. Kolb’s menggunakan kuisener untuk mengidentifikasi gaya belajar seseorang yang diberi nama Experiential Learning Theory

Model (ELT). Gambar 1 dibawah ini merupakan learning cycle dari gaya belajar Kolb’s.

Gambar 5 Kolb’s learning style[9]

Dari gambar diatas dapat dijelaskan bahwa Kolb’s memulai gaya belajarnya dari concrete

experience (CE) dan berakhir ke active experimentation (AE.) Jika diperhatikan dari

lingkaran gambar diatas bahwa awalnya di mulai dari feeling, watching, thinking dan akhirnya doing.

Gaya Belajar Honey dan Mumford Learning Model

Model gaya belajar selanjutnya yakni model Honey and Mumford [8]. Model ini merupakan adopsi dari model gaya belajar Kolb’s “ Kolb’s theory has provided a basis for the work of

Honey and Mumford who revised the Learning Cycle and developed new learning style (Honey & Mumford, 1986, 1992).

(8)

Tabel 2 Persamaan Gaya Belajar Kolb’s dan Honey and Mumford

Gaya Belajar Kolb’s Gaya Belajar Honey and Mumford

Accommodating Activist

Diverging Reflector

Assimilating Theorist

Converging Pragmatist

Pada implementasinya model Honey dan Mumford ini menggunakan Learning Style

Questionnaire (LSQ) yang sama ELT yang dimiliki Kolb’s untuk mengkategorikan gaya

belajar seseorang. Perbedaan antara model Kolb’s dan Mumford terletak pada urutan dari gaya belajar. Pada model Kolb’s berbentuk lingkaran dan semua dimulai dari Concrete Experience dan berakhir di Concrete Experimentation . Sedangkan pada model Honey and Mumford bersifat fleksibel, pelajar tidak harus memulai dari Concrete Experience. Hal ini berdasarkan latar belakang prior knowledge setiap pelajar berbeda beda. Dibawah ini merupakan gambar siklus dari gaya belajar Honey and Mumford.

Gambar 6 Honey and Mumford learning cycle and learning style [8]

Learning Style Model VARK

Model VARK [10] tidak dapat dilepaskan dari model sebelumnya yakni model Gardners,

sebab beberapa hal masih mengadopsi model Gardner’s. Dalam model Gardner’s Multiple

intelligence lebih kepada interaksi seseorang terhadap lingkungan sekitarnya untuk

melakukan proses pelajaran, sedangkan pada model VARK lebih spesifik yakni dengan bahan ajar yang mudah dipahami pelajar dalam melakukan proses pelajaran. Kelebihannya pada

model VARK lebih menekankan kepada pendekatan fisik dalam melakukan proses pelajaran..

(9)

Table 3 Gaya belajar VARK [10] VARK

Information best absorbed with the use of

Visual Charts, graphs, flow charts, symbols, arrows, hierarchies

Audio Lectures, verbal tutorials, tapes, group discussion, speaking, talking things through

Read/write Any text-based input and output

Kinesthetic Experience or practice activity e.g. role playing

Penelitian ini akan menggunakan gaya belajar VARK dalam implementasinya. Hal ini dikarenakan asumsi bahwa pelajar dengan lingkungan sistem elearning memerlukan bahan ajar yang dapat secara langsung direkomendasikan dan mudah dipahami karena sesuai dengan karakteristik gaya belajar yang dimiliki

Felder-Silverman Learning Style Model

Pada tahun 1991 Richard M Felder, seorang professor Teknik Kimia di North Carolina State University dan Barbara A Solomon membuat Index of Learning Styles. Mereka menemukan empat dimensi gaya belajar dari instrumen yang digunakan merupakan hasil adaptasi dari model yang dikembangkan pada tahun 1987 oleh Dr. Felder dan Linda K. Silverman, seorang ahli psikologi pendidikan di University of Denver. Model ini mengklasifikasikan peserta didik menjadi [11]:

 sensing learners = Proses pelajaran berorientasi kepada fakta yang jelas. Sedangkan intuitive learners proses pelajaran lebih berorientasi kepada teori.

 visual learners = Proses pelajaran lebih kepada bahan visual seperti gambar, audio, diagram dan flow chart. Sedangkan verbal learners lebih kepada pendekatan bentuk tertulis dan lisan;

 inductive learners = Proses pelajaran dengan pendekatan dari spesifik ke umum sedangkan deductive learners menggunakan pendekata dari umum kepada bentuk khusus;  active learners = Proses pelajaran dengan sering mencoba dalam sebuah team sedangkan

reflective learners proses pelajaran dengan sendiri;

 sequential learners = Proses pelajaran dengan menggunakan langkah –langkah yang teratur untuk mencapai tujuan pelajaran sedangkan global learners lebih pada pendekatan yang bebas tidak mengikuti langkah atau prosedur.

(10)

No Gaya Belajar Pendekatan Pembelajaran

1. Kolbs Behaviorism

2. Honey and Mumford Cognitivism 3. VARK Learning Style Connectivism 4. Felder Silverman Learning

Style

Contructivism

3. Pembelajar

Pembelajar merupakan seseorang yang mengikuti proses pembelajaran untuk mendapatkan pengetahuan. Pada umumnya menurut Piaget’ stage tabel 5

Period Age Charateristics of the stage

Sensor motor 0-2 years Merupakan perilaku

sederhana

Pre-operational 2-7 years Lebih menggunakan simbol

dan imaginasi dimulai dari umur ini.

Concrete operational 7-11 years Anak anak lebih

menggunakan operasi pyscial

Formal Operational 11+ years Anak anak menggunakan

hipotesis dan abstrak.

Pada tabel 5 bisa dilihat perkembangan model pembelajaran mulai dari berfungsinya sensor motor pada umur 0-2 tahun. Kemudian mengalami perkembangan pada pre operational yakni anak anak sudah mulai belajar dari beberapa simbol. Perkembangan selanjutnya pada concrete operational pada umur 7-11 yang senang dengan pekerjaan fisik (psikomotorik). Selanjutnya pada umur 11 tahun keatas sudah berkembang kemampuannya dalam sebuah hipotesis dan absrak untuk menggambarkan sesuatu. Menurut honey and mumford di dalam [1] menyatakan bahwa gaya belajar seseorang tidak hanya fokus pada satu gaya belajar. Hal inilah yang mendasari penelitian ini.

Dibawah ini merupakan merupakan gambaran hubungan antara bloom taxonomy dengan doman learning,psikologi pembelajaran dan gaya belajar.

(11)

Pembelajar bloom taxonomy domain learning Psikologi Pembelajaran Gaya belajar Pembelajar

Gambar 6.hubungan gaya belajar dengan psikologi pembelajaran 4. Reference

[1] A. Pritchard, Ways of learning, vol. 316, no. 7133. 1998.

[2] P. Armstrong, B. Bloom, M. Englehart, E. Furst, W. Hill, and D. Krathwohl, “Center for Teaching Bloom ’ s Taxonomy The Original Taxonomy ( 1956 ),” pp. 1–4, 1956. [3] K. Kostolányová and J. Šarmanová, “Use of adaptive study material in education in

E-learning environment,” Electron. J. e-Learning, vol. 12, no. 2, pp. 172–182, 2014. [4] D. W. Eccles and P. J. Feltovich, “Implications of Domain-General ‘Psychological

Support Skills’ for Transfer of Skill and Acquisition of Expertise,” Perform. Improv.

Q., vol. 21, no. 2, pp. 43–60, 2008.

[5] S. Downes, “Places to Go : Connectivism & Connective Knowledge,” J. Online Educ., vol. 5, no. 1, pp. 1–6, 2008.

[6] H. Page, “Connectivism : A Learning Theory for the Digital Age,” Int. J. Instr.

Technol. Distance Learn., vol. 2, no. 2005, pp. 1–9, 2012.

Remember understand apply analsys evaluasi created

cognitive affective pshycomotoric

Behaviorism cognitivism constructivism connectivism

kolbs Honey & mumford

Felder

(12)

[7] R. Dunn, K. Burke, and J. Whitely, “What do you know about Learning Styles? A guide for parents of gifted children,” Natl. Assoc. Gift. Child., no. June, pp. 8 – 30, 2000.

[8] J. Canavan, “Personalised E-Learning Through Learning Style Aware Adaptive Systems,” 2005.

[9] A. Y. Kolb and D. a Kolb, “The Kolb Learning Style Inventory — Version 3 . 1 2005 Technical Specifi cations,” LSI Tech. Man., pp. 1–72, 2005.

[10] V. Marcy, “Adult learning styles: How the VARK Learning Styles Inventory can be used to improve student learning,” Perspect. Physician Assist. Educ., vol. 12, no. 2, pp. 117–120, 2001.

[11] R. Felder and L. Silverman, “Learning and teaching styles in engineering education,”

Gambar

Gambar 2 hubungan domain pembelajaran dengan taxomony bloom
Gambar 3. Model Pembelajaran
Gambar 4 Hubungan antar psikologi pembelajaran dan domain
Gambar 5 Kolb’s  learning style[9]
+4

Referensi

Dokumen terkait

senjata, persenjataan yang dimiliki ISIS berasal dari berbagai negara yang berbeda yaitu Rusia, AS, Tiongkok, Iran, Perancis, Serbia, Hongaria dan Jerman. Berikut

Pengelolaan Hutan Rakyat Lestari Dinas Kehutanan Provinsi Jawa Tengah TA APBN 2012 mengumumkan Hasil Kualifikasi Pekerjaan tersebut, adalah sebagai berikut :.. Demikian

Menurut Leighbody (1968) yang dikutip oleh Mimin Haryanti , 2007:26 dalam buku model dan teknik penilaian pada satuan pendidikan menyatakan bahwa penilaian

The landslide susceptibility map of Budong Budong watershed is built with the AHP method and in this method, index of landslide susceptibility in every pixel is calculated by adding

Analisis data di hitung dan di analisis dengan uji hipotesis, yaitu untuk mengetahui pengaruh masing-masing antara budaya perusahaan dan lingkungan kerja terhadap

Penelitian dengan menggunakan model TPB dilakukan pula oleh Laksono (2011), penelitian yang dilakukan dengan melihat faktor-faktor yang mempengaruhi tingkat

Produksi rata-rata tertinggi jamur tiram putih pada media tanam subsitusi ampas tebu yaitu parameter berat segar tubuh buah dan umur mulai panen adalah perlakuan 250

[r]