9 BAB 2
LANDASAN TEORI
2.1 Tinjauan Umum Panti Asuhan 2.1.1 Definisi
Menurut Depsos RI (2004: 4), Panti Sosial Asuhan anak adalah suatu lembaga usaha kesejahteraan sosial yang mempunyai tanggung jawab untuk memberikan pelayanan kesejahteraan sosial pada anak terlantar dengan melaksanakan penyantunan dan pengentasan anak terlantar, memberikan pelayanan pengganti orang tua/wali anak dalam memenuhi kebutuhan fisik, mental dan sosial kepada anak asuh sehingga memperoleh kesempatan yang luas,tepat dan memadai bagi pengembangan kepribadianya sesuai dengan yang diharapkan sebagai bagian dari generasi penerus cita- cita bangsa dan sebagai
insan yang akan turut serta aktif dalam bidang pembangunan nasional. Bardawi Barzan (1999: 5) menjelaskan bahwa: “Panti asuhan adalah
suatu lembaga pelayanan sosial yang didirikan oleh pemerintah maupun masyarakat, yang bertujuan untuk membantu atau memberikan bantuan terhadap individu, kelompok masyarakat dalam upaya memenuhi kebutuhan hidup”.
Panti asuhan anak adalah proyek pelayanan dan penyantunan terhadap anak – anak yatim, yatim piatu, keluarga retak, dan anak terlantar dengan cara memenuhi segala kebutuhan, baik berupa material maupun spiritual, meliputi: sandang panga, papan, pendidikan, kesehatan.
Dengan pengertian tersebut dapat ditarik kesimpulan bahwa peranan panti asuhan bukan hanya menyantuni akan tetapi juga berfungsi sebagai pengganti orang tua yang tidak mampu melaksanakan tugasnya sebagaimana mestinya. Selain itu panti asuhan juga memberikan pelayanan dengan cara membantu dan membimbing mereka ke arah pengembangan pribadi yang wajar dan kemampuan ketrampilan kerja, sehingga mereka menjadi anggota masyarakat yang dapat hidup layak dan penuh tanggung jawab terhadap dirinya, keluarga dan masyarakat.
2.1.2 Sejarah Umum
Dalam sejarah, pertama kalinya rumah yatim piatu di Batavia didirikan secara sederhana yaitu pada tahun 1629 tepatnya pada masa pemerintahan Gubernur Jenderal Jacques Specx. Rumah panti asuhan ini dikelola oleh para diakon (pelayan) Gereja Protestan yang berada di Jalan Kaaimansgracht, kini Jl. Kemukus. Rumah sederhana ini kemudian diganti dengan gedung baru yang konstruksinya terbuat dari batu yang dapat menampung puluhan anak pada tahun 1639 .
Pada tahun 1662, rumah yatim piatu baru yang besar dibangun di Jl.Orpa (dari kata Portugis orfan, artinya anak yatim piatu) kemudian berganti nama menjadi jalan Roa Malaka II. Dalam weeshuis (rumah yatim piatu dalam Bahasa Belanda) ini tinggal anak campuran atau Indo yang lahir di luar pernikahan. Selain itu tinggal pula kurang lebih sepuluh orang lanjut usia dan puluh lima budak yang sebagian besar wanita.
Pada masa pemerintahan Gubernur Jenderal Leonard du Bus de Gisignies (1826-1830) terjadi penutupan rumah yatim piatu. Hal ini dilatarbelakangi oleh keadaan Kota Batavia yang saat itu sudah tidak sehat lagi terbukti dari jumlah angka kematian yang tinggi ditambah dengan banyaknya jumlah anak yatim piatu yang terlantar akibat kurang memadainya yatim piatu ini.
Gereja milik orang Inggris baru mulai merintis weezengestich (rumah untuk menampung orang tidak waras) di Jl. Prapatan yang juga menampung anak-anak yatim piatu pada tahun 1834 yang kemudian dipindah ke bangunan yang kini dipakai oleh Lembaga Administrasi Negara di Jl. Veteran di tahun 1854.
Sebuah rumah panti asuhan yang besar akhirnya dibuka pada tahun 1844 di Jl. Gajah Mada, yang kini menjadi Gedung Arsip Nasional. Rumah tersebut merupakan rumah mewah bekas kediaman Reiner de klerk yang dibeli oleh College van der Hervormde Gemeente (Dewan Gereja Jemaat Pembaharuan), dan diperuntukkan sebagai gereja dan rumah yatim piatu. Namun, rumah yatim piatu itu akhirnya dijual kepada pemerintah Hindia Belanda pada tahun 1900 dikarenakan pendapat dewan gereja yang menyatakan bahwa tempat itu kurang cocok untuk gereja dan rumah yatim
piatu berhubung banyak sekali orang Cina dan Arab yang membangun rumah di daerah Molenvliet. Kurang lebih dua puluh lima anak dipindahkan sementara waktu ke beberapa rumah sederhana di kompleks yang kini dipakai oleh Galeri nasional di Jl. Merdeka Timur pada tahun 1915.
Beberapa panti asuhan juga didirikan, tetapi baru pada awal abad ke-20 sebuah bangunan yang khusus diperuntukkan menjadi panti asuhan didirikan dibawah naungan Perhimpunan Vincentius. Bangunan tersebut menjadi asrama anak laki-laki dan perempuan. Meski sempat diambil alih oleh tentara Jepang untuk digunakan oleh Romusha, namun ketika Jepang kalah perang, gedung-gedung dikembalikan pada tahun 1946 walau dalam keadaan kotor dan rusak.
Sejak tahun 1946, panti asuhan semakin marak didirikan sebagai salah satu solusi untuk menampung anak-anak korban perang. Dan sampai sekarang, beragam jenis panti asuhan telah dibangun menurut kebijakan dan tujuan masing-masing lembaga maupun organisasi yang berkembang di Indonesia.
2.1.3 Tujuan Panti Asuhan
Tujuan penyelenggaraan panti asuhan menurut Departemen Sosial Republik Indonesia ( 1995:4) yaitu:
1. Tersedianya pelayanan kepada anak dengan cara membantu membimbing anak agar menjadi anggota masyarakat yang dapat hidup layak dan penuh tanggung jawab, baik terhadap dirinya, keluarga maupun masyarakat.
2. Terpenuhinya kebutuhan anak akan kelangsungan hidup, untuk tumbuh kembang dan memperoleh perlindungan, antara lain dengan menghindarkan anak dari kemungkinan ketelantaran pertumbuhan dan perkembangan jasmani, rohani, sosialnya sehingga memungkinkannya untuk tumbuh kembang secara wajar 3. Terbantunya anak dalam mempersiapkan pengembangan potensi
dan kemampuannya secara memadai dalam rangka memberikan bekal untuk kehidupan dan penghidupannya dimasa depan.
Menurut Buku Pedoman Pelayanan Kesejahteraan Anak melalui Panti Sosial, tujuan didirikannya Panti Sosial Asuhan Anak adalah agar :
1. Terwujudnya hak atau kebutuhan anak yaitu kelangsungan hidup, tumbuh kembang, perlindungan dan partisipasi.
2. Terwujudnya kualitas pelayanan atas dasar standar professional : a) Dikelola oleh tenaga pelaksana yang memenuhi standar profesi b) Terlaksananya manajemen kasus sebagai pendekatan pelayanan
yang memungkinkan anak memperoleh pemenuhan kebutuhan yang berasal dari keanekaragaman sumber
c) Meningkatnya kualitas kehidupan sehari – hari di lingkungan panti yang memungkinkan anak berintegrasi dengan masyarakat secara serasi dan harmonis
d) Meningkatnya kepedulian masyarakat sebagai relawan sosial. Terwujudnya jaringan kerja dan sistem informasi pelayanan kesejahteraan anak secara berkelanjutan baik secara horizontal maupun vertical.
2.1.4 Fungsi Panti Asuhan
Menurut Departemen Sosial Republik (1997:7) Indonesia panti asuhan mempunyai fungsi sebagai berikut:
1. Sebagai pusat pelayanan kesejahteraan sosial anak. Panti asuhan berfungsi sebagai pemulihan, perlindungan, pengembangan dan pencegahan.
2. Sebagai pusat data dan informasi serta konsultasi kesejahteraan sosial anak.
3. Sebagai pusat pengembangan kepribadian dan keterampilan (yang merupakan fungsi penunjang).
Panti asuhan sebagai lembaga yang melaksanakan fungsi keluarga dan masyarakat dalam perkembangan dan kepribadian anak-anak remaja.
Berdasarkan uraian di atas dapat disimpulkan bahwa fungsi panti
asuhan adalah memberikan pelayanan, informasi, konsultasi, dan
pengembangan keterampilan bagi kesejahteraan sosial anak.
2.1.5 Persyaratan Umum
Standar menggunakan acuan perundang-undangan dan kebijakan lainnya yang terkait yaitu Undang-Undang No. 4 tahun 1979 tentang Kesejahteraan Anak
HAK ANAK Pasal 2
1. Anak berhak atas kesejahteraan, perawatan, asuhan dan bimbingan berdasarkan kasih sayang baik dalam keluarganya maupun di dalam asuhan khusus untuk tumbuh dan berkembang dengan wajar.
2. Anak berhak atas pelayanan untuk mengembangkan
kemampuan dan kehidupan sosialnya, sesuai dengan kebudayaan dan kepribadian bangsa, untuk menjadi warganegara yang baik dan berguna.
3. Anak berhak atas pemeliharaan dan perlidungan, baik semasa dalam kandungan maupun sesudah dilahirkan.
4. Anak berhak atas perlindungan terhadap lingkungan
hidup yang dapat membahayakan atau menghambat pertumbuhan dan perkembangannya dengan wajar.
2.1.6 Aktifitas Kegiatan dan Fasilitas Panti Asuhan
Aktifitas kegiatan yang biasanya dilakukan dalam lingkungan panti asuhan adalah sebagai berikut :
1) Pekerja sosial
Pekerja Sosial Profesional adalah seorang yang bekerja, baik di lembaga pemerintah maupun swasta yang memiliki kompetensi dan profesi pekerjaan sosial, dan kepedulian dalam pekerjaan sosial yang diperoleh melalui pendidikan, pelatihan, dan/atau pengalaman . praktik pekerjaan sosial untuk melaksanakan tugas-tugas pelayanan dan penanganan masalah sosial. Pelayanan yang dilakukan oleh seorang pekerja sosial mencakup lingkup anak-anak sebagai penghuni panti asuhan, pengasuh anakanak panti asuhan, keluarga anak, komunitas dan pemerintah yang diwakili oleh Dinas Sosial/Instansi Sosial.
2) Penghuni a. Pengasuh
Panti asuhan harus menyediakan pengasuh yang
bertangggungjawab terhadap setiap anak asuh dan
tugas lain untuk mengoptimalkan pengasuhan. Setiap pengasuh
harus mempunyai kompetensi dan pengalaman dalam
pengasuhan serta kemauan untuk mengasuh. Pengasuh berperan membantu kehidupan dan kegiatan anak panti asuhan secara kontinu 24 jam yang meliputi kegiatan merawat anak, mengawasi anak, mendampingi anak dan mendukung aktivitas anak dari sisi psikologi dan mental. panti asuhan harus menciptakan lingkungan tempat tinggal yang menyerupai keluarga dan memungkinkan anak asuh untuk memperoleh pengasuhan dari pengasuh tetap/ tidak berubah-ubah seperti halnya dari orang tua dengan perbandingan minimal satu orang pengasuh bagi lima anak. Sebagai pengganti peran orangtua bagi anak-anak asuh, seorang pengasuh perlu mengupayakan terbangunnya relasi dan kedekatan dengan anak secara optimal, mendiskusikan isu dan masalah yang dihadapi anak, mencari solusinya, dan memberikan dukungan individual kepada anak.
b. Anak-anak Asuh
Pada dasarnya seorang anak yang menjadi penghuni panti asuhan tidak diperkenankan/dilarang untuk diperkerjakan dalam pekerjaan di lingkungan Panti Asuhan. Tetapi pada hari-hari tertentu seperti setiap hari Minggu anak-anak ikut berpartisipasi untuk bergotong-royong dalam membersihkan lingkungan di sekitar Panti Asuhan. Selain itu kegiatan wajib bagi anak-anak di Panti adalah sekolah untuk setiap hari Senin sampai Jumat. Kegiatan sehari-hari yang dilakukan oleh anak-anak panti asuhan seperti piket dibatasi pada jenis pekerjaan yang ditujukan untuk meningkatkan keterampilan hidup / life skill seperti membersihkan kamar anak, mencuci dan menyetrika baju pribadi, serta membantu menyiapkan makanan pada hari libur anak. Anak-anak diberi kesempatan untuk mengatur sendiri waktu mereka dengan tetap memberi berbagai pertimbangan waktu secara bertanggung jawab mencakup waktu , waktu sekolah, waktu belajar, waktu ibadah, waktu bermain, waktu beristirahat dan waktu piket secara proporsional.
c. Juru Masak
Menyiapkan menu makanan kepada setiap penghuni panti asuhan sesuai dengan standarisasi nutrisi dan hiegenis.
d. Petugas Kebersihan
Memebersihkan area lingkungan Panti Asuhan.
e. Petugas Keamanan/Security
Menjaga keamanan lingkungan panti asuhan dan memberi perlindungan kepada penghuni panti asuhan, dan melakukan patroli malam di area lingkungan panti asuhan.
Panti asuhan harus menyediakan fasilitas yang lengkap, memadai, sehat, dan aman bagi anak asuh untuk mendukung pelaksanaan pengasuhan.
a. Fasilitas Umum Panti Asuhan
1. Adanya ruang tamu untuk penerimaan tamu yang mengakomodasikan kegiatan pengisian buku tamu bagi orang yang datang berkunjung.
2. Panti asuhan menyediakan toilet umum untuk setiap tamu atau pengunjung yang datang.
b. Fasilitas untuk Anak Panti Asuhan
1. Panti Asuhan menyediakan kamar tidur yang dilengkapi dengan lemari untuk penyimpanan barang pribadi.
2. Panti asuhan menyediakan ruang tidur, dimana ruang tidur dan tempat tinggal anak laki-laki dan perempuan dipisahkan.
3. Panti Asuhan menyediakan kamar mandi untuk anak laki-laki dan permpuan secara terpisah.
4. Panti Asuhan menyediakan lemari pakaian untuk
penyimpanan pakaian masing-masing anak. c. Fasilitas Pendukung Panti Asuhan
Panti Asuhan menyediakan fasilitas pendukung untuk kepentingan bersama di dalam panti yang dapat digunakan oleh siapapun yang berada di lingkungan Panti Asuhan dan bersifat semi Publik.
1. Panti Asuhan menyediakan tempat ibadah di lingkungan panti sebagai prasarana untuk beribadah.
2. Panti Asuhan menyediakan ruang untuk belajar anak dan juga perpustakaan.
3. Panti Asuhan menyediakan ruang bakat untuk anak seperti ruang bermain, ruang kesenian, dan ruang olahraga. Ruang bakat bertujuan untuk mengeksplorisasi bakat dari masing-masing anak.
4. Panti Asuhan menyediakan ruang kesehatan yang
dilengkapi dengan perlengkapan medis dan obat-obatan. 5. Panti Asuhan menyediakan dapur dan ruang makan yang
bersih dan perlengkapan makan.
6. Panti asuhan menyediakan ruangan yang dapat digunakan oleh anak maupun keluarganya untuk berkonsultasi secara pribadi dengan pekerja sosial atau pengurus panti.
2.1.7 Klasifikasi Penghuni dalam Panti Asuhan
Yang tergolong anak berada dalam Panti Asuhan, diantaranya . (Perkembangan Anak :2010)
1. Anak Balita Telantar
Anak berusia 0 – 4 tahun yang karena sebab tertentu, orangtuanya
tidak dapat melakukan kewajibannya ( karena beberapa
kemungkinan miskin/tidak mampu, salah seorang sakit, salah seorang/kedua-duanya meninggal, anak balita sakit) sehingga terganggu kelangsungan hidup, pertumbuhan dan perkembangannya baik secara jasmani, rohani maupun sosial.
Kriteria:
a. Anak (laki-laki/perempuan) usia 0 - 4 tahun.
b. Tidak terpenuhinya kebutuhan dasarnya atau balita yang tidak pernah mendapat ASI/susu pengganti atau balita yang tidak mendapat makanan bergizi (4 sehat 5 sempurna) 2 kali dalam satu minggu atau balita yang tidak mempunyai sandang yang layak sesuai dengan kebutuhannya.26
c. Yatim Piatu atau tidak dipelihara, ditinggalkan oleh orangtuanya pada orang lain, ditempat umum, rumah sakit, dan sebagainya.
d. Apabila sakit tidak mempunyai akses kesehatan modern (dibawa ke Puskesmas, dan lain-lain).
2. Anak Telantar
Anak yang berusia 5 – 18 tahun yang karena sebab tertentu (karena beberapa kemungkinan : miskin/tidak mampu, salah seorang dari orang tuanya/wali pengampu sakit, salah seorang/kedua orang tuanya/wali pengampu atau pengasuh meninggal, keluarga tidak harmonis, tidak ada pengampu atau pengasuh), sehingga tidak dapat terpenuhi kebutuhan dasarnya dengan wajar baik secara jasmani, rohani maupun sosial.
Kriteria:
a. Anak (laki-laki/perempuan) usia 5-18 tahun b. Anak yatim, piatu, yatim piatu
c. Tidak terpenuhi kebutuhan dasarnya
d. Anak yang lahir karena tindak perkosaan, tidak ada yang mengurus dan tidak mendapat pendidikan.
2.1.8 Tinjauan Perkembangan dan Keselamatan Anak 1. Perkembangan Emosi
kecerdasan emosi mencakup unsur-unsur berikut :
Tabel 2.1 Aspek Emosi dan Karakteristik Perilaku
ASPEK KARAKTERISTIK PELAKU
1. Kesadaran diri a. Mengenal dan merasakan emosi diri
sendiri.
b. Memahami penyebab perasaan yang
timbul.
c. Mengenal pengaruh perasaan terhadap tindakan.
2. Mengelola emosi a. Bersikap toleran terhadap frustasi dan mampu mengelola amarah secara baik.
b. Lebih mampu mengungkapkan
amarah dengan tepat.
c. Dapat mengendalikan perilaku agresif yang dapat merusak diri sendiri dan orang lain
3. Memanfaatkan
emosi secara produktif
a. Memiliki rasa tanggung jawab b. Mampu menegendalikan diri dan
tidak bersifat impulsif.
4. Membina
hubungan
a. Dapat menyelesaikan konflik dengan orang lain.
b. Memiliki sikap bersahabat dengan orang lain
c. Mampu menerima sudut pandang
orang lain.
2. Keselamatan Anak Oleh Pengasuh
Yang perlu diperhatikan tentang keselamatan anak di panti asuhan sebagai berikut :
a. Usia 0-4 tahun 1. Tersedak
Dalam pemberian makan sesuai dengan porsi sendok dan ukuran anak tersebut, memberi jeda waktu untuk suapan berikutnya.
2. Tenggelam
Jauhkan anak-anak dari dari sumber air, dan jangkauan air ketika bermain.
3. Jatuh
Jangan membiarkan bayi dan balita berdiri di kursi sendiri. 4. Tercekik
Memakaikan pakaian yang longgar yang sesuai ukuran tubuh anak.
5. Sesak Nafas
Jauhkan kantong plastik dan bungkus bekas dari jangkauan bayi.
b. Usia 4-10 tahun 1. Luka bakar
Jauhkan dari benda-benda yang mudah terbakar. Ajarkan pada anak bahaya tersulut api. Pastikan adanya smoke detector di setiap ruangan.
2. Benda berbahaya
Jauhkan benda-benda seperti bahan kimia, pembersih lantai, obat-obatan.
3. Keracunan 4. Pengaruh media c. Usia 10-17
1. Penyalahgunaan pemakaian zat 2. Benda berbahaya
3. Pengaruh media 4. Olahraga
3. Perkembangan Berat dan Tinggi badan Anak
Pertambahan berat badan dan tinggi badan sesuai umur anak dapat dilihat melalui table berikut :
Tabel 2.2 Berat Badan dan Tinggi Badan Anak
No. Usia Berat Badan Tinggi Badan
1. 0-6 bulan Bertambah 140-220 gr (2XBBL) Bertambah 2,5cm/bulan 2. 6-12 bulan 85-140gr (3XBBL) 1,25cm/bulan
3. Balita 2-3 kg/tahun Pada tahun kedua
kira-kira 12cm Pada tahun ketiga
4 Pra Sekolah 2-3 kg/tahun 6-8 cm/tahun 5. Usia Sekolah 2-3 kg/tahun 5-25 cm/tahun Aktifitas Antropomerti - Duduk - Belajar
Sumber :Data Arsitek (Ernst Neufert)
- Duduk - Berdiri - Menjangkau
Antropomerti anak secara umum
-
Antropomerti anak umur 2-4 tahun
Sumber : Human Dimension & Interior Space
Antropomerti anak umur 5-6tahun
Sumber : Human Dimension & Interior Space - Duduk
- Menjangkau buku
Antropomerti anak usia 3-5 tahun
Sumber : Human Dimension & Interior Space - Duduk
- Menjangkau barang/buku
Antropomerti anak usia 5-7 tahun
2.2 Tinjauan Khusus Hasil Survey 2.2.1 Panti Asuhan Putra Nusa
Panti Asuhan ini berlokasi di Jl. Penjernihan I No 11, Pejompongan Bendungan Hilir, Jakarta Pusat, Daerah Khusus Ibukota Jakarta. Berlokasi di pinggir jalan, berdekatan dengan RS. AL. Mintoharjo, dan Gedung Kementerian Pekerjaan Umum.
Gambar 2.1 Peta lokasi Panti Asuhan Putra Nusa (Sumber: maps.google.co.id)
Bangunan Panti terletak di pinggir jalan, akses sangat mudah di jangkau. Panti Asuhan ini merupakan Panti Asuhan Putra yang dihuni oleh anak laki- laki saja.
a. Sejarah
Panti Asuhan Putra Nusa merupakan salah satu panti asuhan yang ada di ibu kota Jakarta. Panti asuhan ini berdiri pada 9 Juni 1958 dengan akte Notaris R.M. Soerojo No 55. Panti ini sudah terdaftar di Kantor Wilayah Departeman Sosial DKI Jakarta, Dinas Sosial DKI Jakarta dan BKKKS DKI Jakarta.
Panti yang berdiri di atas lahan seluas 2.000 m2 ini masih membutuhkan perhatian dan bantuan dari masyarakat.Berdirinya panti asuhan ini untuk mengusahakan kesejahteraan bagi anak-anak yatim, piatu, yatim piatu, fakir miskin yang terlantar dan anak korban perceraian (broken home). Selain itu, untuk membantu
pemerintah dalam mengatasi masalah sosial seperti anak-anak yang terlantar dan kemiskinan.
Saat ini ada 45 anak asuh (15 siswa SD, 15 siswa SMP, 15 siswa SMK) yang tinggal di panti asuhan ini. Mereka adalah anak-anak yatim, piatu, yatim piatu, fakir miskin yang terlantar dan anak korban broken home.
b. Visi & Misi
Visi dari Panti Asuhan Putra Nusa ialah Sebagai berikut :
1. Mengusahakan kesejahteraan bagi anak yatim, piatu, yatim piatu, dan anak terlantar.
2. Memberikan rasa kenyamanan dan tanggung jawab di dalam kehidupan sehari-hari.
Misi dari Panti Asuhan Putra Nusa ialah sebagai berikut : 1. Sebagai pengganti orang tua yang tidak ada/meninggal.
2. Memupuk, meningkatkan, mencerdaskan, rasa santun dan
kesadaran sosial di kalangan masyarakat.
3. Membantu memecahkan dan mengatasi masalah yang dihadapi anak yatim, piatu, yatim piatu, dan anak terlantar.
4. Membantu usaha-usaha lain yang bertujuan meningkatkan kesejahteraan masyarakat, khususnya anak yatim, piatu, yatim piatu, dan anak terlantar.
c. Struktur Organisasi
Bagan 2.1 Stuktur Organisasi Panti Asuhan Putra Nusa (sumber: Panti Asuhan Putra Nusa, 2015)
d. Data Penghuni dan Pengurus Panti Asuhan.
jumlah anak dalam panti asuhan ialah sekitar 45 putra. Penghuni dan pengasuh dibagi menjadi 3 grup berdasarkan tingkat pendidikan anak-anak panti asuhan, yaitu:
Tabel 2.3 Jumlah penghuni & pengasuh Panti Asuhan Putra Nusa. Jumlah Penghuni Jumlah Pengasuh
SD 23 7
SMP 10 4
STM/SMA 12 4
Total 45 15
Tabel 2.4 Jumlah pengurus & pekerja sosial profesional Panti Asuhan Putra Nusa. Jumlah Pengurus/Pekerja Sosial Profesional Pembina 2 Ketua Yayasan 1 Wakil Ketua 1 Sekretaris 2 Bendahara 2 Pengawas 2 Kepala Panti 1 Ibu Asrama 1 Staf Administrasi 3 Bagian Keuangan 2 Pengasuh 15 Bimbingan Rohani 2 Humas 1 Drver 1 Juru Masak 4 Petugas Kebersihan 7 Total 47 e. Aktifitas Anak
Aktifitas/kegitan sehari-hari anak mulai dari bangun pagi hingga tidur pada malam hari adalah sebagai berikut :
Tabel 2.5 Alur kegiatan sehari-hari anak-anak panti asuhan Putra Nusa.
Aktifitas Waktu
Bangun 4.30 WIB
Mandi 4.45 WIB
Sholat Shubuh 5.00 WIB
Sekolah 6.30 WIB
Makan siang 12.30 WIB
Sholat dzuhur 13.00 WIB
Bermain / Hobby / Olahraga 13.30 WIB
Mandi 16.00 WIB
Sholat Ashar 16.30 WIB
Belajar 17.00 WIB
Sholat Maghrib 18.00 WIB
Makan Malam 19.00 WIB
Sholat Isya 19.30 WIB
Menonton TV 20.00 WIB
Tidur 21.00 WIB
Kegiatan sehari-hari anak-anak Panti Asuhan Putra Nusa apabila memasuki libur sekolah.
Tabel 2.6 Alur kegiatan hari libur/ weekend anak-anak panti asuhan Putra Nusa.
Waktu Waktu
Bangun 4.30 WIB
Mandi 4.45 WIB
Sholat Shubuh 5.00 WIB
Sarapan 7.00 WIB
Gotong royong 08.00 WIB
Mandi 12.30 WIB
Sholat Dzuhur 13.00 WIB
Makan siang 13.30 WIB
Bermain / Hobby / Menonton TV 16.00 WIB
Sholat Ashar 16.30 WIB
Mandi 17.00 WIB
Sholat Maghrib 18.00 WIB
Sholat Isya 19.30 WIB
Tidur 21.00 WIB
Kegiatan para pengasuh sendiri dibagi menjadi 3 shift, mengikuti kegiatan anak-anak panti asuhan karena memang para pengasuh membantu anak-anak panti dalam kehidupan sehari-hari. Pekerjaan pengasuh dilakukan secara bergiliran dalam waktu 24 jam, yaitu:
Tabel 2.7 Jadwal pergantian shift pengasuh Panti Asuhan Putra Nusa.
f.Program Kegiatan Panti Asuhan
1. Keagamaan Belajar Sholat Membaca Albarjanji/Sholawatan Membaca Al-Quran Belajar Fiqih Yasinan / Tahlilan 2. Olah raga Tenis Meja Volly Ball Sepak Bola Berenang Gerak Jalan 3. Kesenian
Shift 1 04.30 WIB - 13.00 WIB
Shift 2 13.00 WIB - 21.00 WIB
Tari-tarian Vokal Group Band Baca Puisi Marawis 4. Keterampilan Menjahit Menyulam Kristik Merangkai Bunga Berwiraswasta Memasak
g. Fasilitas Panti Asuhan putra Nusa
Fasilitas-fasilitas yang mendukung aktifitas pada Panti Asuhan Putra Nusa diantaranya :
1. Kantor Sekretariat
Ruangan ini bergungsi untuk mengurus setiap penerimaan donasi yang masuk dari donatur dan pendaftaran anak-anak ke dalam panti asuhan.
Gambar 2.2 Kantor Sekretariat (Sumber: Selvina Ilona, 2015)
Lantai : keramik warna putih 30x30 cm. Dinding : cat kuning
Ceiling : plafon triplek
2. Ruang tamu
Berfungsi menerima tamu yang berkunjung ke panti asuhan / ruang tunggu untuk para tamu. Ruang tamu pada panti asuhan putra Nusa mempunyai ruangan yang sama dengan kantor sekretariat.
Gambar 2.3 Ruang Tamu (Sumber: Selvina Ilona, 2015)
Lantai : keramik warna putih 30x30 cm. Dinding : cat kuning
Ceiling : plafon triplek 3. Kantor Administrasi
Berfungsi sebagai kantor yang mengurus segala pendataan kebutuhan keuangan , dan pendataan pengeluaran belanja. 4. Gudang Logistic
Berfungsi sebagai tempat penyimpanan bahan/stok makanan.
Gambar 2.4 Gudang Logistic (Sumber: Selvina Ilona, 2015)
Lantai : keramik warna coklat tekstur 30x30 cm. Dinding : cat kuning dan cat biru
Ceiling : plafon triplek 5. Gudang / Service
Berfungsi sebagai tempat penyimpanan alat-alat kebersihan.
Gambar 2.5 Gudang / Service (Sumber: Selvina Ilona, 2015)
6. Aula dan Ruang Makan
Aula berfungsi untuk ruang berkumpul, mengadakan acara-acara tertentu dan sekaligus sebagai ruang makan.
Gambar 2.6 Aula / Ruang Makan (Sumber: Foto Pribadi Selvi, 2015)
Lantai : keramik warna coklat tekstur dan cream 30x30 cm. Dinding : cat kuning dan cat biru
Ceiling : rangka kuda-kuda 7. Musholla
Gambar 2.7 Mushola (Sumber: Selvina Ilona, 2015)
Gambar 2.8 Tempat Wudhu (Sumber: Selvina Ilona, 2015)
Lantai : keramik warna biru 30x30 cm. Dinding : cat putih
Ceiling : rangka kuda-kuda
8. Kamar Mandi
Area kamar mandi yang digunakan oleh anak-anak Panti Asuhan Putra Nusa.
Gambar 2.9 Lorong Kamar Mandi (Sumber: Selvina Ilona, 2015)
Lantai : keramik warna biru tekstur 15x15 cm Dinding : cat kuning dan biru
Ceiling : plafon triplek. 9. Ruang Belajar
Digunakan sebagai tempat belajar dan juga sebagai
perpustakaan anak-anak Panti Asuhan Putra Nusa.
Gambar 2.10 Ruang belajar (Sumber: Selvina Ilona, 2015)
Lantai : keramik warna putih 30x30 cm Dinding : cat kuning dan biru
Ceiling : plafon triplek. 10. Dapur
Sebagai tempat memasak makanan yang dikerjakan oleh dua orang pekerja setiap hari untuk memasak.
Gambar 2.11 Dapur (Sumber: Selvina Ilona, 2015)
Lantai : keramik warna putih 30x30 cm Dinding : cat kuning
Ceiling : plafon triplek.
11. Tempat Cuci / Laundry
Tempat laundry pakaian Panti Asuhan Putra Nusa.
Gambar 2.12 Tempat Cuci / Laundry (Sumber: Selvina Ilona, 2015)
Lantai : keramik warna biru 15x15 cm Dinding : cat hijau
Ceiling : plafon triplek. 12. Kamar Tidur
Sebagai uang tidur para anak-anak panti dengan pemakaian tempat tidur bertingkat.
Gambar 2.13 Kamar Tidur (Sumber: Selvina Ilona, 2015)
Lantai : keramik warna putih 30x30 cm Dinding : cat kuning
13. Lemari Pakaian
Tempat penyimpanan pakaian yang dicampur, dan setiap pakaian diberi tanda untuk mengetahui pakaian masing-masing anak.
Gambar 2.14 Area lemari pakaian (Sumber: Selvina Ilona, 2015)
Lantai : keramik warna putih 30x30 cm Dinding : cat kuning dan biru
Ceiling : plafon triplek.
2.2.2 Panti Asuhan Yayasan Sayap Ibu
Panti Asuhan Sayap Ibu berlokasi di Jl. Barito II No.55 Kebayoran Baru Jakarta Selatan. Terletak di pinggir jalan berdekatan dengan RS. Pusat Pertamina, dan juga kawasan Blok M.
Gambar 2.15 Peta lokasi Yayasan Sayap Ibu (sumber: maps.google.co.id)
Bangunan Panti terletak di pinggir jalan, akses sangat mudah di jangkau. Kawasan Panti Asuhan ini merupakan kawasan perkantoran. Panti Asuhan Sayap Ibu juga berdekatan dengan Rumah sakit Pusat Pertamina.
a. Sejarah
Yayasan Sayap Ibu didirikan pada tahun 1955 oleh ibu Hj. Sulistina Sutomo, istri dari Bung Tomo yang pada waktu itu menjabat sebagai Menteri Sosial. Niat itu dilatarbelakangi dengan fakta melihat ibu-ibu yang berjualan di Pasar Mayestik banyak yang membawa anak-anak mereka yang masih kecil. Atas keprihatinannya melihat kondisi anak-anak balita yang terlantar maka timbullah gagasan dari Ibu Sutomo untuk mendirikan YSI. Jadi pada awalnya, aktifitas YSI lebih berfungsi sebagai day care bagi anak-anak pedagang di pasar Mayestik.
Lembaga ini diserahkan di bawah pengawasan BKKKS (Badan Koordinasi Kegiatan Kesejahteraan Sosial) yang diketuai oleh Ibu Nasution. Dalam kepengurusan baru, Ibu Nasution menjabat sebagai Pembina, sedangkan Ketua dijabat oleh Ibu Ciptaningsih Utaryo.
Pada tahun 1968, YSI berkembang menjadi YSI Cabang Yogya dan Cabang Jakarta Raya, dibawah pengawasan YSI Pusat.
Perjalanan Yayasan Sayap Ibu untuk mengemban misinya tidaklah mudah. Yayasan Sayap Ibu sempat dibubarkan beberapa saat(pada tahun 1968) karena kesulitan keuangan. Namun berkat perjuangan beberapa ibu, terutamam Ibu Nasution, akhirnya Yayasan Sayap Ibu dapat berjalan kembali bahkan mengalami perkembangan yang cukup menggembirakan.
Tahun 1955 penelantaran anak dan pembuangan bayi-bayi di Jakarta, baik yang ditinggal di Rumah Sakit maupun yang kemudian ditemukan di jalan atau di tempat-tempat umum lainnya semakin banyak. Keadaan inilah yang kemudian mendorong beberapa ibu antara lain, Ny. Sutomo, Ny. Soekardi, Ny. Garland Soenaryo mendirikan Yayasan dengan nama Yayasan Sayap Ibu (YSI). Yayasan Sayap Ibu didirikan pada Tanggal 30 September
1955 oleh ibu Hj. Sulistina Sutomo, istri dari Bung Tomo yang pada waktu itu menjabat sebagai Menteri Sosial.
Lembaga ini diserahkan di bawah pengawasan BKKKS (Badan Koordinasi Kegiatan Kesejahteraan Sosial) yang diketuai oleh Ibu Nasution. Dalam kepengurusan baru, Ibu Nasution menjabat sebagai Pembina, sedangkan Ketua dijabat oleh Ibu Ciptaningsih Utaryo.
Awalnya YSI bertujuan menolong anak-anak Batita (Bawah Tiga Tahun), anak-anak tersebut dirawat sambil dicarikan keluarga angkat. Untuk kegiatan saat itu dana dibantu oleh Women International Club, dan kemudian Pemerintah Daerah turut serta di dalamnya.
Tahun 1968 dalam perkembangannya YSI melakukan
restrukturalisasi dan menempatkan diri dibawah Badan Pembina Kegiatan Kesejahteraan Sosial DKI Jakarta yang diketuai oleh Ny. J. S. Nasution. Dalam pengasuhan dan perawatan anak, kriteria anak ditingkatkan menjadi usia 0 – 5 tahun.
Dalam perjalanannya, Yayasan Sayap Ibu sempat mengalami masalah keuangan sehingga harus dihentikan untuk sementara pada tahun 1968 ini. Namun berkat tekad kuat para Ibu, terutama Ibu J.S Nasution, Yayasan Sayap Ibu dapat berjalan kembali dan terus berkembang besar.
Tahun 1976, sebagai akibat banyaknya adopsi anak oleh Warga Negara Asing yang dilakukan hanya dengan akte notaris saja sehingga jual beli anak semakin marak, maka Gurbernur DKI Jakarta Alm. Bapak Ali Sadikin, mengeluarkan izin mengakui Badan Konsultasi Pengangkatan Anak YSI sebagai Lembaga resmi. Kemudian disusul dengan dikeluarkannya Surat Edaran dari Departemen Kehakiman No. JHAI/1/2 tahun 1978 tentang Prosedur Pengangkatan Anak WNI oleh WNA yang menentukan bahwa Notaris tidak boleh membuat Akte adopsi anak WNI oleh WNA harus dilaksanakan dengan Penetapan Pengadilan dan Mahkamah Agung dengan Surat Edaran No.2 tahun 1979 yang kemudian
disempurnakan dengan SEMA No. 6 tahun 1983 tentang Prosedur Pengangkatan Anak WNI oleh WNA dan anak WNA oleh WNI. Tahun 1978 Ny. J.S. Nasution, sebagai Ketua YSI Pusat membentuk 2 (dua) cabang yaitu YSI Cabang Jakarta dengan Ketua Ny. Moch. Said dan YSI Cabang Yogyakarta dengan Ketua Ny. C. Utaryo.
Tahun 1979 dengan semakin meningkatnya jumlah anak terlantar yang harus dirawat di Yayasan Sayap Ibu, gedung YSI di jalan Barito dibangun kembali oleh Gurbernur DKI Jakarta menjadi 2 (dua) lantai. Dan hingga saat ini merupakan tempat perawatan anak Balita terlantar baik yang normal ataupun cacat.
Tahun 1981 Departemen Sosial, melalui Peraturan Pemerintah No.13 tentang Organisasi Sosial yang dapat Menyelenggarakan Usaha Penyantunan Anak Terlantar (termasuk melaksanakan Pengangkatan Anak), ada 5 (lima) organisasi salah satunya adalah Yayasan Sayap Ibu.Hingga saat ini Yayasan Sayap Ibu terus konsisten dalam menjalankan VISI dan MISI demi masa depan anak-anak Indonesia yang lebih baik
b. Visi & Misi
Visi dari Panti Asuhan Yayasan Sayap Ibu :
Anak adalah amanah yang berhak atas perawatan dan perlindungan sejak semasa dalam kandungan dan sesudah dilahirkan.
Misi dari Panti Asuhan Yayasan Sayap Ibu :
Berusaha semaksimal mungkin melaksanakan usaha kesejahteraan anak yang holistik, terpadu, dan berkesinambugan sampai anak dalam asuhannya dapat terentaskan dengan sebaik-baiknya.
c. Struktur Organisasi
Struktur organisasi Panti Asuhan Yayasan Sayap Ibu sebagai berikut .
Bagan 2.2 Stuktur Organisasi Yayasan Kasih Ibu (sumber: Yayasan Kasih Ibu, 2015)
d. Data Penghuni dan Pengurus Panti Asuhan
Jumlah anak dalam Panti Asuhan Yayasan Sayap Ibu sekitar 35 anak. Penghuni dan pengasuh dibagi menjadi 3 grup berdasarkan tingkat .
Tabel 2.8 jumlah penghuni & Pengasuh Yayasan Sayap Ibu
Kategori Jumlah Penghuni Jumlah Pengasuh
Bayi / Balita 14 5
TK 22 3
SD 22 3
SMP 8 2
Tabel 2.9 Jumlah Pekerja Yayasan Sayap Ibu Kategori Jumlah Juru masak 2 Tukang kebersihan 3 Tukang cuci 2 Total 7
Berikut daftar pengurus yang berjumlah 15 orang di Yayasan Sayap Ibu :
Tabel 2.10 Jumlah Pengurus Yayasan Sayap Ibu Jumlah Pengurus
Pimpinan 1
Wakil Ketua 2
Sekretaris 1
Bendahara 2
Bidang Pengentasan Anak 1
Bidang Admin 1 Humas 1 Bidang Logistik 1 Bidang Perencanaan 1 Bidang Panti 1 Kesehatan 1 Bidang Pendidikan 1 Bidang Personalia 1 Total 15 e. Aktifitas Anak
Aktifitas / kegiatan umum yang sehari-hari anak lakukan mulai dari bangun pagi hingga tidur pada malam hari sebagai berikut.
Tabel 2.11 Alur kegiatan sehari-hari anak Yayasan Sayap Ibu
Kegiatan Waktu
Bayi – balita TK - SD SMP
Bangun 6.00 WIB 5.00 WIB 5.00 WIB
Mandi 6.30 WIB 5.30 WIB 5.30 WIB
Sarapan 7.00 WIB 6.00 WIB 6.00 WIB
Sekolah - 6.30 WIB 6.30 WIB
Makan siang 11.00 WIB 12.00 WIB 13.00 WIB
Bermain - 13.00 WB 13.00 WB
Mandi 16.30 WIB 16.00 WIB 16.00 WIB
Belajar - 17.00 WIB 17.00 WIB
Makan Malam 17.00 WIB 17.30 WIB 17.30 WIB
Menonton TV - 18.00 WIB 18.00 WIB
Tidur 20.00 WIB 21.00 WIB 21.00 WIB
Kegiatan para pengasuh sendiri dibagi menjadi 2 shift, mengikuti kegiatan anak-anak panti asuhan karena memang para pengasuh membantu anak-anak panti dalam kehidupan sehari-hari. Pekerjaan pengasuh dilakukan secara bergiliran dalam waktu 24 jam, yaitu:
Tabel 2.12 Jadwal Pergantian Shift Pengasuh Yayasan Sayap Ibu
Shif 1 06.00 – 14.00 WIB
Shift 2 14.00 – 22.00 WIB
f.Program Kegiatan Panti Asuhan 1. Rohani
Belajar Sholat
Doa bersama
2. Non Rohani
Olahraga
Bimbingan Psikologi
Bimbingan Mental
3. Kegiatan Non Rutin
Menyelenggarakan seminar bagi masyarakat
Mengadakan bakti sosial untuk berbagi dengan para korban banjir, kebakaran dan keluarga miskin
Mengadakan kerjasama dengan media melalui tayangan, artikel serta himbauan kerjasama dalam pelayanan balita terlantar.
Memberikan penyuluhan mengenai balita terlantar,
peraturan/perundang-undangan usaha kesejahteraan anak dan konvensi PBB tentang hak anak terrlantar.
g. Fasilitas Yayasan Sayap Ibu
Fasilitas-fasilitas yang mendukung aktifitas Yayasan Sayap Ibu di antaranya :
1. Ruang Tamu
Menerima tamu yang berkunjung ke panti asuhan / ruang tunggu untuk para tamu.
Gambar 2.16 Ruang tamu (Sumber: Selvina Ilona, 2015)
Lantai : keramik warna putih 30x30 cm Dinding : cat hijau tosca
2. Ruang Pertemuan
ruangan yang dapat digunakan oleh anak maupun keluarganya untuk berkonsultasi secara pribadi dengan pekerja sosial atau pengurus panti.
Gambar 2.17 Ruang Pertemuan (Sumber: Foto Selvina Ilona, 2015)
Lantai : keramik warna putih 30x30 cm Dinding : cat putih
Ceiling : plafon triplek 3. Kantor Sekretariat
Ruangan yang digunakan untuk penrimaan tamu yang datang , mengisi data kunjungan tamu.
Gambar 2.18 Kantor Sekretariat (Sumber: Selvina Ilona, 2015)
Lantai : keramik warna putih 30x30 cm Dinding : cat hijau tosca
4. Kamar Tidur Putra
Menggunakan tempat tidur single bed dan lemari pakaian berada dalam satu ruang yang sama.
Gambar 2.19 kamar Tidur Putra (Sumber: Selvina Ilona, 2015)
Gambar 2.20 Area lemari pakaian putra (Sumber: Selvina Ilona, 2015)
Lantai : keramik warna putih 30x30 cm Dinding : cat putih
Ceiling : plafon triplek
5. Ruang Serbaguna
Mempunyai fungsi ganda, sebgai tempat untuk pengadaan acara-acara tertentu dan sebagai ruang belajar sekaligus perpustakaan yang digunakan anak-anak di Yayasan Sayap Ibu.
Gambar 2.21 Ruang Serbaguna (Sumber: Selvina Ilona, 2015)
Lantai : keramik warna putih 30x30 cm Dinding : cat putih
Ceiling : plafon triplek
6. Kamar Bayi
Sebagai ruangan untuk para bayi.
Gambar 2.22 Kamar Bayi (Sumber: Selvina Ilona, 2015)
Lantai : keramik warna putih 30x30 cm Dinding : cat putih, dan wallpaper Ceiling : plafon triplek
7. Kamar Mandi Bayi dan Balita
Kamar mandi ini digunakan oleh bayi dan balita, kamar bayi dan balita terletak bersebelahan dengan kamar mandi.
Gambar 2.23 Kamar Mandi Bayi & Balita (Sumber: Selvina Ilona, 2015)
Lantai : keramik tile tekstur 15x15 cm Dinding : keramik 15x20 cm
Ceiling : plafon triplek 8. Kamar Putri
Menggunakan tempat tidur single bed .
Gambar 2.24 kamar Putri (Sumber: Selvina Ilona, 2015)
Lantai : keramik warna putih 30x30 cm Dinding : cat putih
Ceiling : plafon triplek
9. Ruang Dokter
Digunakan untuk perawatan ketika ada anak-anak yang sakit. Dan juga tersedia obat-obat yang dibutuhkan.
Gambar 2.25 klinik (Sumber: Selvina Ilona, 2015)
10. Gudang Logistik
Tempat penyimpanan bahan-bahan makanan seperti beras dan minyak.
Gambar 2.26 Gudang Logistik (Sumber: Selvina Ilona, 2015)
Lantai : keramik warna putih 30x30 cm Dinding : cat putih
Ceiling : plafon triplek 11. Dapur Susu
Berfungsi hanya untuk membuat susu bayi dan balita.
Gambar 2.27 Dapur Susu (Sumber: Selvina Ilona, 2015)
Lantai : keramik warna biru 15x15 cm Dinding : cat putih
12. Dapur Umum
Digunakan untuk memasak makanan dan ruang makan untuk para pengurus panti.
Gambar 2.28 Dapur Umum (Sumber: Selvina Ilona, 2015)
Lantai : keramik warna biru 15x15 cm Dinding : cat putih
Ceiling : plafon triplek
13. Ruang Makan Anak
Sering digunakan untuk memberi makan anak usia bayi hingga balita.
Gambar 2.29 Ruang Makan Anak (Sumber: Selvina Ilona, 2015)
Lantai : keramik warna putih 30x30 cm Dinding : cat putih
14.Ruang Cuci / Laundry
Gambar 2.30 Ruang Cuci/Laundry (Sumber: Selvina Ilona, 2015)
Lantai : keramik warna biru 15x15 cm Dinding : cat putih
Ceiling : plafon triplek 15. Area Bermain
Area bermain outdoor yang digunakan anak usia balita dan sekolah dasar.
Gambar 2.31 Area Bermain (Sumber: Selvina Ilona, 2015)
Lantai : karpet
16. Toilet Umum
Gambar 2.32 Toilet Tamu (Sumber: Selvina Ilona, 2015)
Lantai : keramik warna cream tekstur 30x30 cm Dinding : keramik 15x20 cm
Ceiling : plafon triplek
2.2.3 Panti Asuhan Kasih Mulia Sejati
Panti Asuhan Kasih Mulia Sejati berlokasi di Jl. Pakis Raya Blok H6 No.11, Bojong Indah, Jakarta Barat. Terletak di kawasan komplek perumahan, lokasinya berdekatan dengan Gereja Katolik St. Thomas Rasul - Paroki Bojong Indah, dan sekolah Katolik Trinitas.
Gambar 2.33 Peta lokasi panti Asuhan Kasih Mulia Sejati (Sumber: maps.google.co.id)
a.Sejarah
Sejarah Panti Asuhan Kasih Mulia Sejati pada mulanya dicetuskan oleh Bpk. David Putronegoro, dengan diawali mendirikan Yayasan Kasih Mulia Sejati.
Yayasan Kasih Mulia Sejati didirikan pada tanggal 18 September 2000 di Bojong Indah, Jakarta. Yayasan ini bergerak dalam bidang sosial dan kemanusiaan dengan pelayanan memberikan tempat bagi anak - anak untuk berlindung, memperoleh kasih sayang, dan mempersiapkan kehidupan mereka dimasa depan agar kelak dapat berkarya didalam kehidupan bermasyarakat dan dapat hidup mandiri.
b. Visi dan Misi
Visi dari Panti Asuhan Kasih Mulia Sejati ialah:
Menjadikan Panti Asuhan Kasih Mulia Sejati Sebagai tempat untuk membentuk dan mewujudkan pribadi - pribadi ciptaan Allah yang hidup penuh syukur, sukacita serta mandiri sehingga mampu berkarya dan melayani sesama dalam kehidupan bermasyarakat. Misi dari Panti Asuhan Kasih Mulia Sejati ialah:
1. Berorientasi kepada pengembangan jasmani dan rohani anak-anak Allah yang dititipkan kepada kami.
2. Memberikan pelayanan dengan tulus dan tanpa pamrih sehingga anak-anak Allah bisa mewujudkan cita-cita mereka. 3. Membentuk pribadi - pribadi yang tetap setia dan bersyukur
kepada Allah. c. Struktur Organisasi
Struktur Organisasi Panti Asuhan Kasih Mulia Sejati sebagai berikut.
Bagan 2.3 Stuktur Organisasi Panti Asuhan Kasih Mulia Sejati (sumber: Yayasan Kasih Mulia Sejati, 2015)
d. Data Penghuni dan Pengurus Panti Asuhan
Jumlah anak dalam Panti Asuhan Kasih Mulia Sejati sekitar 67 anak. Penghuni dan pengasuh dibagi menjadi 3 grup berdasarkan tingkat .
Tabel 2.13 jumlah penghuni & Pengasuh Panti Asuhan Kasih Mulia Sejati
Kategori Jumlah Penghuni Jumlah Pengasuh
Bayi / Balita 8 3 Balita 10 4 TK 9 2 SD 18 2 SMP 10 2 Total 55 13
Berikut daftar pengurus yang berjumlah 15 orang di Yayasan Sayap Ibu :
Tabel 2.14 Jumlah Pengurus Panti Asuhan Kasih Mulia Sejati Jumlah Pengurus Suster Kepala 1 Wakil Suster 2 Bendahara 1 Tukang Kebersihan 2 Juru Masak 1
Tukang cuci pakaian 2
Sopir 2
Total 11
e. Aktifitas Anak
Aktifitas / kegiatan umum yang sehari-hari anak lakukan mulai dari bangun pagi hingga tidur pada malam hari sebagai berikut.
Tabel 2.15 Alur Kegiatan sehari-hari anak Panti Asuhan Kasih Mulia Sejati
KEGIATAN WAKTU
Bangun, mandi, doa pagi 05.00-06.00
Makan Pagi 06.00-06.30 Sekolah 06.30 SD pulang sekolah 11.00 Makan siang 12.00 SMP pulang sekolah 13.20 Makan siang 13.30
Mandi 17.00
Makan malam 18.30
Belajar 19.30
Doa malam 20.30
Tidur 21.00
Kegiatan para pengasuh sendiri dibagi menjadi 2 shift, mengikuti kegiatan anak-anak panti asuhan karena memang para pengasuh membantu anak-anak panti dalam kehidupan sehari-hari. Pekerjaan pengasuh dilakukan secara bergiliran dalam waktu 24 jam, yaitu:
Tabel 2.16 Jadwal Pergantian Shift Pengasuh Kasih Mulia Sejati
Shift 1 05.00 – 13.00 WIB
Shift 2 13.00 – 21.00 WIB
f.Program Kegiatan Panti Asuhan
1. Rohani:
Misa Harian
Doa Bersama /roario
Misa Jumat Pertama
2. Non Rohani
Koor
Kebersihan Umum
Bimbingan Konseling.
g. Fasilitas Panti Asuhan Kasih Mulia Sejati
Fasilitas-fasilitas yang mendukung aktifitas di Panti Asuhan Kasih Mulia Sejati di antaranya :
1. Kantor Pimpinan /Sekretariat
Ruangan ini berfungsi untuk menerima kunjungan tamu yang datang dan juga digunakan oleh Kepala Suster.
Gambar 2.34 Kantor Pimpinan (Sumber: Selvina Ilona, 2015)
Lantai : keramik warna putih 30x30 cm Dinding : cat putih
Ceiling : gypsum
2. Ruang Doa
Ruangan ini berfungsi sebagai tempat untuk kegiatan doa bersama anak-anak di Panti Asuhan Kasih Mulia Sejati, ruangan ini juga memiliki satu ruangan yang sama dengan ruang tamu.
Gambar 2.35 Ruang Doa (Sumber: Selvina Ilona, 2015)
Lantai : keramik warna putih 30x30 cm Dinding : cat putih dan merah muda Ceiling : gypsum
3. Ruang Tamu
Berfungsi sebagai tempat menerima tamu, ruangan ini juga mempunyai kegunaan multifungsi, selain sebagai tempat menerima tamu, juga digunakan sebagai aula tempat untuk acara-acara tertentu, sebagai ruang menonton Tv, dan juga ruangan Doa.
Gambar 2.36 Ruang Tamu (Sumber: Selvina Ilona, 2015)
Lantai : keramik warna putih 30x30 cm Dinding : cat putih dan merah muda Ceiling : gypsum
4. Ruang Komputer
Berfung sebagai ruangan anak-anak menggunakan komputer. Ruang komputer berada di lantai 2, berdekatan dengan kamar tidur pengasuh dan kamar tidur anak TK sampai SMP.
Gambar 2.37 Ruang Komputer (Sumber: Selvina Ilona, 2015)
Dinding : cat putih Ceiling : gypsum 5. Ruang Belajar
Berada di lantai 2 digunakan anak-anak di panti sebagai ruang belajar dan juga sebagai perpustakaan mereka.
Gambar 2.38 Ruang Belajar (Sumber: Selvina Ilona, 2015)
Lantai : keramik warna putih 30x30 cm Dinding : cat putih
Ceiling : gypsum 6. Kamar Tidur Putri
Kamar tidur ini digunakan untuk anak-anak putri di panti. Kamar terpisah dari kamar tidur putra. Penggunaan tempat tidur bertingkat.
Gambar 2.39 Kamar Tidur Putri (Sumber: Selvina Ilona, 2015)
Dinding : cat putih Ceiling : gypsum 7. Kamar Tidur Putra
Digunakan oleh anak-anak putra di panti. Kamar tidur terpisah dari kamar tidur putri. Dan penggunaan tempat tidur bertingkat.
Gambar 2.40 Kamar Tidur Putra (Sumber: Selvina Ilona, 2015)
Lantai : keramik warna putih 30x30 cm Dinding : cat putih
Ceiling : gypsum
8. Kamar Bayi
Ruangan ini berada di lantai 3, dalam satu kamar dapat dihuni oleh 8 orang bayi.
Gambar 2.41 Kamar Tidur Bayi (Sumber: Selvina Ilona, 2015)
Dinding : cat putih Ceiling : gypsum 9. Kamar Tidur Balita
Ruangan ini berdekatan dengan kamar bayi, dalam satu kamar dapat dihuni kurang lebih 10 orang balita.
Gambar 2.42 Kamar Tidur balita (Sumber: Selvina Ilona, 2015)
Lantai : keramik warna putih 30x30 cm Dinding : cat putih
Ceiling : gypsum 10. Kamar Tidur pengasuh
Kamar berdekatan dengan kamar anak-anak panti yang bertujuan untuk mengawasi anak-anak tersebut. Berada di lantai 2 dan 3.
Gambar 2.43 Kamar Tidur Pengasuh (Sumber: Selvina Ilona, 2015)
Lantai : keramik warna putih 30x30 cm Dinding : cat putih
Ceiling : gypsum 11. Lemari Pakaian Anak
Digunakan sebagai tempat penyimpanan pakaian anak- anak panti. Lemari pakaian TK-SMP digunakan satu lemari, terdapat di lantai 1 dan 2. Dan lemari pakaian untuk anak bayi dan balita terdapat di lantai 3 dengan penggunaan satu lemari juga.
Gambar 2.44 Lemari Pakaian TK-SMP (Sumber: Selvina Ilona, 2015)
Gambar 2.45 Lemari Pakaian Bayi dan Balita (Sumber: Selvina Ilona, 2015)
Lantai : keramik warna putih 30x30 cm Dinding : cat putih
Ceiling : gypsum
12. Kamar Mandi
Terdapat 5 kamar mandi yang digunakan oleh pengguna panti asuhan. Tidak adanya pemisahan kamar mandi antara anak
perempuan dan laki-laki. Kamar mandi berdekatan dengan area cuci dan jemur.
Gambar 2.46 Kamar Mandi (Sumber: Selvina Ilona, 2015)
Lantai : keramik tile 15x15 cm Dinding : keramik 15x20cm Ceiling : gypsum
13. Area cuci dan Jemur
Digunakan untuk tempat cuci dan jemur pakaian, terletak di lantai 3 berdekatan dengan kamar mandi .
Gambar 2.47 Area Cuci dan Jemur (Sumber: Selvina Ilona, 2015)
Lantai : keramik 30x30 cm Dinding : cat putih
14. Dapur
Digunakan untuk memasak, dapur berdekatan dengan ruang makan.
Gambar 2.48 Dapur (Sumber: Selvina Ilona, 2015)
Lantai : keramik putih 30x30 cm
Dinding : cat dinding broken white dan keramik Ceiling : gypsum
15. Ruang Makan
Ruang makan ini menyediakan hanya dua meja berukuran memanjang dengan ukuran 100x200 cm. Dan hanya dapat memuat sekitar 8 anak dalam satu meja.
Gambar 2.49 Ruang Makan (Sumber: Selvina Ilona, 2015)