EKSTRAKSI CAIR-CAIR
I. TUJUANDapat menerapkan prinsip perpindahan massa pada operasi pemisahan secara ekstraksi dan memahami konsep perpindahan massa pada operasi stage dalam kolom berpacking.
II. PERINCIAN KERJA
Menentukan koefesien distribusi (K)
Neraca massa dan koefisien perpindahan massa dengan fasa air sebagai fase kontinyu
III. ALAT YANG DIGUNAKAN Corong pemisah 500 ml Gelas ukur 100 ml Erlenmeyer 250 ml Erlenmeyer asah 250 ml Gelas kimia 200 ml, 300 ml, 500ml, 600 ml Bola hisap Corong kaca Piknometer Neraca analitik Buret 50 ml Pipet ukur 10 ml Pipet tetes
Gelas ukur plastik 2000 ml IV. BAHAN YANG DIGUNAKAN
Aquades Indikator PP NaOH 0,1 N Asam asetat pekat Trikloroetan (TCE) V. DASAR TEORI
Ekstraksi adalah operasi pemisahan larutan menjadi beda daya larut komponen-komponen tersebut terhadap pelarut yang ditambahkan (media pemisah). Larutan umpan terdiri dari zat yang terlarut yang disebut solut, dan pelarut yang sering disebut dengan diluen. Sedangkan media pemisah yang juga berupa cairan yang diharapkan dapat melarutkan solut tetapi tidak melarutkan diluen sering disebut sebagai solven. Ekstraksi adalah salah satu cara operasi pemisahan yang dapat dijumpai pada industri kimia. Operasi pemisahan secara ekstraksi dipilih bila:
- Komponen-komponen penyusun mempunyai volatilitas yang hampir sama - Larutan terdegradasi (rusak) pada suhu tinggi
- Larutan hanya sedikit mengandung komponen yang tidak volatil
Ekstraksi cair-cair menggunakan prinsip kesetimbangan dengan perpindahan massa zat terlarut (fasa disperse) dan larutan yang diekstraksi kelarutan yang digunakan sebagai pelarut (fasa kontinu). Menurut Ladda (1976), ekstraksi cair-cair digunakan jika pemisahan dengan operasi lainnya tidak dapat dicapai seperti: distilasi, evaporasi, kristalisasi dan lain-lain. Ekstraksi cair-cair adalah proses pemisahan suatu komponen dari fasa cair ke fasa cair lainnya. Operasi ekstraksi cair-cair terdiri dari beberapa tahap, yaitu:
1. Kontak antara pelarut (solvent) dengan fasa cair yang mengandung komponen yang akan diambil (solute), kemudian solute akan berpindah dari fasa umpan (diluen) ke fasa pelarut.
2. Pemisahan dua fasa yang tidak saling melarutkan yaitu fasa yang banyak mengandung pelarut disebut fasa ekstrak dan fasa yang banyak mengandung umpan disebut fasa rafinat (Ladda, 1976).
Pertimbangan – pertimbangan dalam pemilihan pelarut yang digunakan adalah: - Selektifitas (factor pemisahan = β) .
Β = fraksi massa solute dalam ekstrak/ fraksi massa diluent dalam ekstra Fraksi massa solute dalam rafinat/ fraksi massa diluent dalam rafinat pada keadaan setimbang. Agar proses ekstraksi dapat berlangsung, harga β harus lebih besar dari satu. Jika nilai β = 1 artinya kedua komponen tidak dapat dipisahkan - Koefisien Distribusi,
yaitu konsentrasi solute dalam fasa ekstrak, Y konsentrasi solute dalam fasa
rafinat, X
Sebaiknya dipilih harga koefisien distribusi yang besar, sehingga jumlah solvent yang dibutuhkan lebih sedikit.
- Recoverability (kemampuan untuk dimurnikan)
Pemisahan solute dari solvent biasanya dilakukan dengan cara destilasi, sehingga diharapkan harga “relative volatility” dari campuran tersebut cukup tinggi.
- Densitas
Perbedaan densitas fasa solvent dan fasa diluent harus cukup besar agar mudah terpisah. Perbedaan densitas ini akanberubah selama proses ekstraksi dan mempengaruhi laju perpindahan massa
- Tegangan antar muka (interfasia tention)
Tegangan antar muka besar menyebabkan penggasbungan (coalescence) lebih mudah namun mempersulit proses pendispersian. Kemudahan penggabungan lebih dipentingkan sehingga dipilih pelarut yang memiliki tegangan natar muka yang besar.
- Chemical reactivity
Pelarut merupakan senyawa yang stabil dan inert terhadap komponen – komponen dalam sistem dan material (bahan konstruksi).
- Viskositas, tekanan uap dan titik beku dianjurkan rendah untuk memudahkan penanganan dan penyimpanan.
- Pelarut tidak beracun dan tidak mudah terbakar.
Ekstraksi cair-cair (liquid extraction, solvent extraction): yaitu pemisahan solute dari cairan pembawa (diluen) menggunakan solven cair. Campuran diluen dan solven tersebut bersifat heterogen (immiscible, tidak saling campur), dan jika dipisahkan terdapat 2 fase, yaitu fase diluen (rafinat) dan fase solven (ekstrak).
· Fase rafinat = fase residu, berisi diluen dan sisa solut. · Fase ekstrak = fase yang berisi solut dan solven.
Pemilihan solven menjadi sangat penting. Dipilih solven yang memiliki sifat antara lain:
- Solut mempunyai kelarutan yang besar dalam solven, tetapi solven sedikit atau tidak melarutkan diluen,
- Tidak mudah menguap pada saat ekstraksi,
- Mudah dipisahkan dari solut, sehingga dapat dipergunakan kembali, - Tersedia dan tidak mahal.
Pada ekstraksi cair-cair, satu komponen bahan atau lebih dari suatu campuran dipisahkan dengan bantuan pelarut. Proses ini digunakan secara teknis dalam skala besar misalnya untuk memperoleh vitamin, antibiotika, bahan-bahan penyedap, produk-produk minyak bumi dan garam-garam. logam. Proses inipun digunakan untuk membersihkan air limbah dan larutan ekstrak hasil ekstraksi padat cair.
Ekstraksi cair-cair terutama digunakan, bila pemisahan campuran dengan cara distilasi tidak mungkin dilakukan (misalnya karena pembentukan aseotrop atau karena kepekaannya terhadap panas) atau tidak ekonomis. Seperti ekstraksi padat-cair, ekstraksi cair-cair selalu terdiri atas sedikitnya dua tahap, yaitu pencampuran secara intensif bahan ekstraksi dengan pelarut, dan pemisahan kedua fasa cair itu sesempurna mungkin.
Pada saat pencampuran terjadi perpindahan massa, yaitu ekstrak meninggalkan pelarut yang pertama (media pembawa) dan masuk ke dalam pelarut kedua (media ekstraksi). Sebagai syarat ekstraksi ini, bahan ekstraksi dan pelarut tidak saling melarut (atau hanya dalam daerah yang sempit). Agar terjadi perpindahan masa yang baik yang berarti performansi ekstraksi yang besar haruslah diusahakan agar terjadi bidang kontak yang seluas mungkin di antara kedua cairan tersebut. Untuk itu salah satu cairan distribusikan menjadi tetes-tetes kecil (misalnya dengan bantuan perkakas pengaduk).
Tentu saja pendistribusian ini tidak boleh terlalu jauh, karena akan menyebabkan terbentuknya emulsi yang tidak dapat lagi atau sukar sekali dipisah. Turbulensi pada saat mencampur tidak perlu terlalu besar. Yang penting perbedaan konsentrasi sebagai gaya penggerak pada bidang batas tetap ada. Hal ini berarti bahwa bahan yang telah terlarutkan sedapat mungkin segera disingkirkan dari bidang batas. Pada saat pemisahan, cairan yang telah terdistribusi menjadi tetes-tetes hanis menyatu kembali menjadi sebuah fasa homogen dan berdasarkan perbedaan kerapatan yang cukup besar dapat dipisahkan dari cairan yang lain.
Berbagai jenis metode pemisahan yang ada, ekstraksi pelarut atau juga disebut juga ekstraksi air merupakan metode pemisahan yang paling baik dan popular. Pemisahan ini dilakukan baik dalam tingkat makro maupun mikro. Prinsip distribusi ini didasarkan pada distribusi zat terlarut dengan perbandingan tertentu antara dua zat pelarut yang tidak saling bercampur. Batasannya adalah zat terlarut dapat ditransfer pada jumlah yang berbeda dalam kedua fase terlarut. Teknik ini dapat digunakan untuk kegunaan preparatif, pemurnian, pemisahan serta analisis pada semua kerja. Berbeda dengan proses retrifikasi, pada ekstraksi tidak terjadi pemisahan segera dari bahan-bahan yang akan diperoleh (ekstrak), melainkan mula-mula hanya terjadi pengumpulan ekstrak (dalam pelarut). Suatu proses ekstraksi biasanya melibatkan tahap-tahap berikut:
- Mencampurkan bahan ekstrak dengan pelarut dan membiarkannya saling kontak. Dalam hal ini terjadi perpindahan massa dengan cara difusi pada bidang antar muka bahan ekstraksi dan pelarut. Dengan demikian terjadi ekstraksi yang sebenarnya, yaitu pelarut ekstrak.
- Memisahkan larutan ekstrak dari refinat, kebanyakan dengan cara penjernihan atau filtrasi.
- Mengisolasi ekstrak dari larutan ekstrak dan mendapatkan kembali pelarut. Umumnya dilakukan dengan mendapatkan kembali pelarut. Larutan ekstrak langsung dapat diolah lebih lanjut atau diolah setelah dipekatkan.
VI. PROSEDUR KERJA Percobaan 1
1) Menyiapkan alat dan bahan, 2) Membersihkan alat,
3) Menambahkan 50 ml TCE dan 50 ml aquades ke dalam corong pemisah, 4) Menambahkan 5 ml asam asetat ke dalam corong pemisah,
5) Mengocok corong pemisah selama 5 menit,
6) Meletakkan corong pemisah, kemudian didiamkan sampai terbentuk dua lapisan, 7) Mengambil ekstrak dan rafiinat kemudian dimasukkan ke dalam erlenmeyer, 8) Mengambil masing-masing sampel sebanyak 10 ml,
9) Menambahkan 5 tetes indikator PP,
10) Menitrasi masing-masing sampel dengan NaOH 0,1N sampai larutannya berubah warna menjadi merah muda,
11) Megulangi prosedur kerja dengan volume asam asetat yang berbeda (4 ml, 3 ml, 2 ml dan 1 ml).
Percobaan 2
1) Mengisi tangki dengan TCE sebanyak 8 L dan 50 ml asam asetat ke tangki umpan (tangki paling bawah)
2) Mengisi tangki air dengan aquades
3) Menjalankan pompa air (switch S3). Kemudian mengisi kolom pada laju alir tinggi (valve rotameter dibuka penuh)
4) Mengurangi laju air sampai 200 l/min setelah air mencapai puncak unggun packing.
5) Menjalankan pompa fasa organik (switch F4) pada laju alir 200 l/min dengan mengatur (F2) pada pompa.
6) Menjalankan proses tersebut selama kurang lebih 60 menit sampai terjadi kondisi steady tercapai dan tetap memantau laju alir dalam periode ini untuk meyakinkan bahwa sistem tetap konstan.
7) Mengambil sampel (rafinat dan ekstrak) sebanyak 15 ml setiap 15 menit.
8) Menitrasi sampel dengan 0,1 N NaOH dengan menambahkan indikator phenolpthalin (PP).
VII. DATA HASIL PENGAMATAN
Percobaan 1 (Menentukan Koefisien Distribusi, K) Berat piknometer kosong = 17,2 gram
Piknometer + air = 42,27 gram
Temperatur = 28oC
Densitas air pada suhu 28oC = 0.99594 g/cm3 = 996,23 mg/ml Konsentrasi NaOH = 0,1 N
TABEL DATA PENGAMATAN
N o Asam Asetat ditambahkan (ml) Volume Sampel (ml) Titer NaOH (ml)
Berat Piknometer + Sampel (gram)
Rafinat Ekstrak Rafinat Ekstra k Rafinat Ekstrak 1. 5 54,2 50,0 6,2 143,0 53,58 42,58 2. 4 54,2 48,0 4,1 118,3 53,34 42,59 3. 3 52,0 48,0 2,0 66,9 53,40 42,47 4. 2 51,0 49,0 1,2 48,1 53,63 42,43 5. 1 51,0 48,0 0,9 23,4 53,67 42,30
Percobaan 2 (Neraca Massa dan Koefisien Perpindahan Massa dengan Fasa Air sebagai Fasa Kontinyu)
Laju Alir Fasa Air = 200 l/menit Laju Alir Fasa Organik= 200 l/menit TABEL DATA PENGAMATAN
No
Waktu Rafinat Ekstrak
(menit) Volume Titer NaOH (ml) Volume Titer NaOH (ml) (ml) (ml) 1 15 15 2.1 15 0 2 30 15 1.5 15 8 3 45 15 1.2 15 11.6
4 60 15 1 15 11.9
5 75 15 0.8 15 12.2
DATA HASIL PENGAMATAN
Percobaan 1 (Menentukan Koefisien Distribusi, K) Berat piknometer kosong = 17,2 gram
Piknometer + air = 42,27 gram
Temperatur = 28oC
Densitas air pada suhu 28oC = 0.99594 g/cm3 = 996,23 mg/ml Konsentrasi NaOH = 0,1 N
TABEL DATA PENGAMATAN
N o Asam Asetat ditambahkan (ml) Volume Sampel (ml) Titer NaOH (ml)
Berat Piknometer + Sampel (gram)
Rafinat Ekstrak Rafinat Ekstra k Rafinat Ekstrak 1. 5 54,2 50,0 6,2 143,0 53,58 42,58 2. 4 54,2 48,0 4,1 118,3 53,34 42,59 3. 3 52,0 48,0 2,0 66,9 53,40 42,47 4. 2 51,0 49,0 1,2 48,1 53,63 42,43 5. 1 51,0 48,0 0,9 23,4 53,67 42,30
Percobaan 2 (Neraca Massa dan Koefisien Perpindahan Massa dengan Fasa Air sebagai Fasa Kontinyu)
Laju Alir Fasa Air = 200 l/menit Laju Alir Fasa Organik= 200 l/menit TABEL DATA PENGAMATAN
No
Waktu Rafinat Ekstrak
(menit) Volume Titer NaOH (ml) Volume Titer NaOH (ml) (ml) (ml) 1 15 15 2.1 15 0 2 30 15 1.5 15 8 3 45 15 1.2 15 11.6
4 60 15 1 15 11.9
5 75 15 0.8 15 12.2
VIII. PERHITUNGAN
Percobaan 1 (Menentukan Koefisien Distribusi, K) 1. Menentukan volume piknometer
VolumePiknometer=(beratpiknometer+air)−(beratpiknometerkosong) ρair (280C) ¿(42,27−17,2) gram 0,99594 g cm3 ¿25,172 cm3 ¿0,0252liter 2. Menentukan densitas sampel
a. Rafinat
- Sampel 1 ( asam asetat 5 ml)
ρsampel= (beratpiknometer+air )−(beratpiknometerkosong) Vpiknometer ¿(53,58−17,2) gram 25,172 cm3 ¿1443,651g l ¿1443,651mg ml b. Ekstrak
- Sampel 1 ( asam asetat 5 ml)
ρsampel= (beratpiknometer+air )−(beratpiknometerkosong) Vpiknometer ¿(42,58−17,2) gram 25,172cm3 ¿1,008g l ¿1,008mg ml
Asam Asetat ditambahkan
(ml)
Berat Piknometer + Sampel
(gram) Densitas Sampel (mg/ml) Rafinat Ekstrak Rafinat Ekstrak
5 53,58 42,58 1,445 1,008
4 53,34 42,59 1,436 1,009
3 53,40 42,47 1,438 1,004
2 53,63 42,43 1,447 1,002
1 53,67 42,30 1,449 0,997
3. Menentukan Konsentrasi Asam Asetat Ekstrak
- Sampel 1 (asam asetat 5 ml)
Masamasetat=MNaOHx VNaOH
Vsampel
¿0,1 Mx 143,0 ml
10 ml ¿1,43 M
Konsentrasi asam asetat = 1,43 M
¿1,43mmol ml x 60,05 mg mmol ¿85,872mg ml Rafinat
- Sampel 1 (asam asetat 5 ml)
Masamasetat=MNaOHx VNaOH
Vsampel
¿0,1 Mx 6,2 ml
10 ml ¿0,062 M
Konsentrasi asam asetat = 1,43 M
¿0,062mmol ml x 60,05 mg mmol ¿3,723mg ml
Tabel Konsentrasi Sampel Sesuai Asam Asetat Ditambahkan N o Asam Asetat Ditambahkan (ml) M asam asetat (M atau mmol/ml) Konsentrasi Asam Asetat (mg/ml) Ekstrak Rafinat Ekstrak
(Y) Rafinat (X) 1. 5 1,430 0,062 85,872 3,723 2. 4 1,183 0,041 71,039 2,462 3. 3 0,669 0,020 40,173 1,201 4. 2 0,481 0,012 28,884 0,721 5. 1 0,234 0,009 14,052 0,540
4. Menentukan massa asam asetat Sampel 1
- Ekstrak
Massaasamasetatdalamekstrakdalam 10 ml= Mas. asetatx BMas. asetatx Vsampel ¿1,430mmol ml x 60,05 mg mmolx 10 ml ¿858,751 mg Massatotalasamasetatdalamekstrak=massasampelx Vtotal Vsampel ¿858,751 mgx50 ml 10 ml = 4293,575 mg - Rafinat
Massaasamasetatdalamrafinatdalam10 ml=Mas .asetatx BMas .asetatx Vsampel ¿0,062mmol ml x 60,05 mg mmolx 10 ml ¿37,231mg Massatotalasamasetatdalamrafinat=massasampelx Vtotal Vsampel
¿37,231mgx 54,2 ml 10 ml
= 201,792mg
Tabel Massa Asam Asetat
Asam Asetat Ditambahkan
(ml)
Massa Asam Asetat dalam 10 ml (mg)
Massa Total Asam Asetat (mg)
Ekstrak Refinat Ekstrak Rafinat
5 858,715 37,231 4293,575 201,792
4 710,392 24,6205 3409,879 133,443
3 401,735 12,01 1928,326 62,452
2 288,841 7,206 1415,318 36,751
1 140,517 5,4045 674,482 27,563
5. Menentukan nilai Koefisien Distribusi (K)
K=Y
X
K=85,872 mg/ml
3,723 mg/ml = 23,065
Tabel Koefisien Distribusi Sampel Asam Asetat
ditambahkan (ml)
Konsentrasi Asam Asetat (mg/ml)
Nilai K ( Y/X) Ekstrak (Y) Rafinat (X)
5 85,872 3,723 23,065
4 71,039 2,462 28,854
3 40,173 1,201 33,450
2 28,884 0,721 40,061
0 0.5 1 1.5 2 2.5 3 3.5 4 0 20 40 60 80 100
KURVA KESETIMBANGAN (X Vs Y)
X (mg/ml) Y (mg/ml)6. Menentukan Neraca Massa Asam Asetat Berat jenis asam asetat = 1,05 g/ml
Feed = ekstrak + rafinat + looses 1,05 g ml x 5 mlx 103mg 1 g =4293,58 mg+201,79 mg+looses 5250 mg = 4495,367 mg + looses Looses = 754,633 mg looses=looses feed x 100 ¿ 754,633mg 4293,575 mgx 100 ¿14,374
Tabel Neraca Massa Asam Asetat
Volume asam asetat yang yang digunakan (ml) Feed (mg) Ekstrak (mg) Rafinat (mg) Rafinat + Ekstrak (mg) Looses (mg) % Looses 5 5250 4293,575 201,792 4495,367 754,633 14,374 4 4200 3409,879 133,443 3543,322 656,678 15,635 3 3150 1928,326 62,452 1990,778 1159,222 36,801 2 2100 1415,318 36,751 1452,069 647,931 30,854 1 1050 674,482 27,563 702,045 347,955 33,139
Percobaan 2 (Neraca Massa dan Koefisien Perpindahan Massa dengan Fasa Air sebagai Fasa Kontinyu)
- Menentukan Konsentrasi Asam Asetat 1. Umpan
Masamasetat=MNaOHx VNaOH
Vsampel
¿0.1 Mx 17.3 ml
15 ml
¿0.115333333 M
Konsentrasi asam asetat = 0.115333333 M
¿0.115333333mmol ml x 60.05 mg mmol ¿6.925766667mg ml 2. Sampel 1 - Rafinat
Masamasetat=MNaOHx VNaOH
Vsampel
¿0.1 Mx 2.1ml
10 ml
¿0.014 M
Konsentrasi asam asetat = 0.014 M
¿0.014mmol ml x 60.05 mg mmol ¿0.8407mg ml - Ekstrak
Masamasetat=MNaOHx VNaOH
Vsampel
¿0.1 Mx 0 ml
10 ml
Konsentrasi asam asetat = 0M ¿0mmol ml x 60.05 mg mmol ¿0mg ml
Tabel Konsentrasi Asam Asetat
Waktu Titer NaOH M Asam asetat
Konsentrasi Asam Asetat (mg/ml) (menit) (ml) (M atau mmol/ml)
Rafinat Ekstrak Rafinat Ekstrak Rafinat (X) Ekstrak (Y)
15 2.1 0 0.0140 0.0000 0.8407 0.0000
30 1.5 8 0.0100 0.0533 0.6005 3.2027
45 1.2 11.6 0.0080 0.0773 0.4804 4.6439
60 1 11.9 0.0067 0.0793 0.4003 4.7640
75 0.8 12.2 0.0053 0.0813 0.3203 4.8841
- Menentukan Massa Asam Asetat dalam 10 ml 1. Umpan
Massaumpan=Mas . asetatxBMas . asetatx Vsampel
¿0.115333333 Mx 60.05 mg
mmolx 15 ml
¿103.8865 mg 2. Sampel
- Rafinat
Massarafinat=Mas . asetatxBMas . asetatx Vsampel
¿0.014 Mx 60.05 mg
mmolx 15 ml
¿12.6105 mg
- Ekstrak
Massaekstrak=Mas .asetatxBMas .asetatx Vsampel
¿0 Mx60.05 mg
mmolx 15 ml
Waktu M Asam asetat Massa Asam Asetat dalam 10 ml Sampel (mg)
(menit) (M atau mmol/ml)
Rafinat Ekstrak Rafinat Ekstrak
15 0.0140 0.0000 12.611 0.000
30 0.0100 0.0533 9.008 48.040
45 0.0080 0.0773 7.206 69.658
60 0.0067 0.0793 6.005 71.460
75 0.0053 0.0813 4.804 73.261
- Menentukan Neraca Massa Asam Asetat Sampel 1 Vo
(
X1−X2)
=Vw(Y1−0) Vo = 200 L/min = 3,33L/s = 3333,33 ml/s Vw= 200 L/min = 3,33 L/s = 3333,33 ml/s X1 = 103.8865 mg/ml / 15 ml = 6.925766667 mg/ml (umpan) X2 = 12.611mg/ml / 15 ml = 0.8407 mg/ml (untuk rafinat) Y1 = 0.000 mg/ml 15 ml = 0 mg/ml (untuk ekstrak) 3333,33ml s (6.925766667−0.8407) mg ml=333 3,33 ml s (0−0) mg ml 20284 mg/s = 0 mg/sTabel Neraca Massa Asam Asetat
Waktu Massa Asam Asetat dalam 10 mlSampel (mg) Vo
(
X1−X2)
(mg/s)Vw(Y1−0)
(mg/s)
(menit) Rafinat Ekstrak
15 0.8407 0 20,284 0
30 0.6005 3.202666667 21,084 10,676
60 0.400333333 4.763966667 21,751 15,880 75 0.320266667 4.884066667 22,018 16,280 - MenentukanEfisiensiEkstraksi Tinggi packing = 126 cm Keliling packing = 9,5 cm Keliling = 2πr 9,5 cm = 2πr r= 9,5 cm 2 x 3,14 r=¿ 1,513 cm Volume Packing = r2 t = (3,14)(1,513 cm)2(126 cm) = 905,687 cm3 Logmeandrivingforce=∆ X1−∆ X2 ln∆ X1 ∆ X2 Dimana:
∆ X1 : driving force pada bagian bawah kolom = (X
2-X2*). Untuk X2* = 0
∆ X2 : driving force pada bagian puncak kolom= (X
1-X1*). Untuk X1* ditentukan atau dapat diperoleh dari grafik hasil percobaan 1. Grafik tersebut adalah kurva
0 0.05 0.1 0.15 0.2 0.25 0.3 0.35 0.4 0.45 0.5 0.55 0.6 0.65 0.7 0.75 0.8 0 2 4 6 8 10 12 14 16 18 20 22 24 26 28 30 32 X (mg/ml) y (mg/ml) X1* sampel 1 : 0 X1* sampel 2: X1* sampel 3: X1* sampel 4 : X1* sampel 5 : X (mg/ml)
Sehingga diperoleh: Waktu X2 Y2 X1 X1* ΔX1 ΔX2 15 0.8407 0,000 6.925766667 0 0.8407 6.085066667 30 0.6005 0,000 6.925766667 0.131 0.6005 6.325266667 45 0.4804 0,000 6.925766667 0.19 0.4804 6.445366667 60 0.400333333 0,000 6.925766667 0.195 0.4003333 6.525433333 75 0.320266667 0,000 6.925766667 0.2 0.3202667 6.6055 Logmeandrivingforce=∆ X1−∆ X2 ln∆ X1 ∆ X2 ¿
(
0.8407mg ml)
−(6.085066667 mg ml) ln 0.8407mg ml 6.085066667mg ml ¿2.649529012mg mlKoefisien perpindahanmassa= laju perpindahanasam
volume packing x log mendriving force
¿ V0(X1−X2)
volume packing x log mendriving force
¿ 20283.53527 mg/s
905,687 cm3x 2.649529012 mg/ml
Tabel Efisiensi Ekstraksi Waktu (menit) (mg/ml)∆X1 (mg/ml)∆X2 Log mean driving force (mg/ml) Koefisien perpinda han massa ( s−1 ) Rata-rata Koefisien perpindahan massa 15 0.8407 6.0850667 2.649529012 8.44340426 10.18954904 30 0.6005 6.325266 7 2.431368725 9.56420631 45 0.4804 6.445366 7 2.297312504 10.314507 60 0.400333333 6.525433 3 2.194459935 10.9320755 75 0.320266667 6.6055 2.076730602 11.6935521
IX. PEMBAHASAN
Ekstraksi adalah salah satu proses memisahkan larutan dua komponen dengan menambahkan komponen ketiga (solven) yang larut dengan solut tetapi tidak larut dengan pelarut (diluen). Dengan penambahan solven ini sebagian solut akan berpindah dari fasa diluen ke fasa solven (disebut ekstrak) dan sebagian lagi tetap tinggal di dalam fasa diluen (disebut rafinat).
Percobaan ini bertujuan untuk menentukan koefisien distribusi (K)dan neraca massa dan koefisien perpindahan massa dengan fasa air sebagai fasa kontinyu. Pada percobaan ini dilakukan dengan memisahkan TCE sebagai diluen dengan asam asetat sebagai solut dengan air sebagai solven.
Percobaan ini diawali dengan menentukan koefisien distribusi. Hal pertama yang dilakukan adalah membuat larutan 50 ml trikloroetilen (TCE) dan 50 ml aquadest di dalam corong pisah dan menambahkan 5 ml asam asetat. Larutan tersebut dikocok. Kemudian akan terbentuk dua fase ( fase organik dan fase air). Kedua fase tersebut kemudian dititrasi dengan NaOH 0.1 N untuk menentukan konsentrasi asam asetat dalam fase organik (rafinat) dan fase air (ekstrak). Selain menentukan konsentrasi asam asetat, ditentukan juga densitas kedua fase tersebut.
Percobaan selanjutnya yaitu menentukan koefisien perpindahan massa dengan fasa air sebagai fasa kontinyu. Pada percobaan ini diawali mengisi tangki dengan TCE sebanyak 8 L dan 50 ml asam asetat ke tangki umpan (tangki paling bawah) dan mengisi tangki untuk air kemudian mengatur menjalankan pompa air (switch S3) dan pompa fasa organik (switch F4) dengan laju alir 200 l/min. Sampel (rafinat dan ekstrak) diambil sebanyak 15 ml setiap 15 menit kemudian dititrasi dengan 0,1 N NaOH dengan penambahan indikator PP.
Hasil perhitungan yang diperoleh pada koefisien distribusi dengan persamaan
K=Y
Masamasetat=MNaOHx VNaOH
Vsampel dan hasilnya kemudian dikali dengan BM asam asetat
yaitu 60,05 mmol ). Nilai koefisien distribusi yang diperoleh yaitu:mg Asam Asetat
ditambahkan (ml)
Konsentrasi Asam Asetat (mg/ml)
Nilai K ( Y/X) Ekstrak (Y) Rafinat (X)
5 85,872 3,723 23,065
4 71,039 2,462 28,854
3 40,173 1,201 33,450
2 28,884 0,721 40,061
1 14,052 0,540 26,022
Hasil perhitungan yang diperoleh pada neraca massa dengan persamaan
Vo
(
X1−X2)
=Vw(
Y1−0)
dengan mengetahui nilai massa asam asetat dalam 10 ml. Nilai yang diperoleh dari persamaan tersebut dengan laju alir 200 l/min adalah:Waktu Massa Asam Asetat dalam 10 mlSampel (mg) Vo
(
X1−X2)
(mg/s)Vw(Y1−0)
(mg/s)
(menit) Rafinat Ekstrak
15 0.8407 0 20,284 0
30 0.6005 3.202666667 21,084 10,676
45 0.4804 4.643866667 21,485 15,480
60 0.400333333 4.763966667 21,751 15,880
75 0.320266667 4.884066667 22,018 16,280
Dari tabel diatas dapat diketahui bahwa nilai fasa organik sangat jauh berbeda dengan nilai fasa air dikarenakan adanya floading atau pembanjiran. Pembanjiran tersebut terjadi mungkin karena adanya kebocoran pada alat.
Sedangkan hasil perhitungan yang diperoleh dari koefisien perpindahan massa dengan fasa air sebagai fasa kontinyu dengan persamaan:
Koefisien perpindahanmassa= laju perpindahanasam
dengan mengetahui nilai laju perpindahan asam ( v0(x1-x2)), volume packing ( r2 t ) dan
log mean driving force (
∆ X1−∆ X2
ln∆ X1
∆ X2 ¿
. Nilai koefisien perpindahan massa yang diperoleh
yaitu: Waktu (menit) (mg/ml)∆X1 (mg/ml)∆X2 Log mean driving force (mg/ml) Koefisien perpinda han massa ( s−1 ) Rata-rata Koefisien perpindahan massa 15 0.8407 6.0850667 2.649529012 8.44340426 10.18954904 30 0.6005 6.3252667 2.431368725 9.56420631 45 0.4804 6.4453667 2.297312504 10.314507 60 0.400333333 6.525433 3 2.194459935 10.9320755 75 0.320266667 6.6055 2.076730602 11.6935521 X. KESIMPULAN
Berdasarkan percobaan yang telah dilakukan dapat disimpulkan bahwa :
Ekstraksi adalah salah satu proses memisahkan larutan dua komponen dengan menambahkan komponen ketiga (solven) yang larut dengan solut tetapi tidak larut dengan pelarut (diluen).
Prinsip dari ekstraksi cair-cair yaitu dengan menggunakan komponen ketiga (solvent) untuk memisahkan larutan dua komponen yang larut dengan solute tetapi tidak larut dengan pelarut (diluent).
Neraca massa dan koefisien perpindahan massa yang diperoleh yaitu:
Neraca massa (mg/s) Koefisien perpindahan massa (s-1) Vo
(
X1−X2)
Vw(Y1−0) 20283.53527 0 8.443404262 21084.20114 10676 9.564206308 21484.53407 15480 10.31450699 21751.42269 15880 10.93207552 22018.31132 16280 11.69355214XI. DAFTAR PUSTAKA
http://dokumen.tips/documents/ekstraksi-cair-cair-55993fd68f38d.html http://documents.tips/documents/modul-ekstraksi.html
http://matekim.blogspot.co.id/2010/05/ekstraksi-cair-cair.html