• Tidak ada hasil yang ditemukan

PENDAHULUAN Latar Belakang

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "PENDAHULUAN Latar Belakang"

Copied!
6
0
0

Teks penuh

(1)

Provinsi Sumatera Barat yang identik dengan Minangkabau merupakan satu-satunya daerah di Indonesia yang menganut sistem matrilineal. Masyarakat Minangkabau ini pun merupakan masyarakat matrilineal terbesar di dunia dengan sistemnya yang langka dan unik. Sistem matrilineal adalah suatu sistem yang mengatur kehidupan dan ketertiban suatu masyarakat yang terikat dalam suatu jalinan kekerabatan dalam garis ibu (Thaib 2008). Seorang anak laki-laki atau perempuan merupakan anggota kaum/suku dari perkauman ibunya. Ayah tidak dapat memasukkan anaknya ke dalam kaumnya sebagaimana yang berlaku dalam sistem patrilineal. Oleh karena itu, waris dan pusaka diturunkan menurut garis ibu pula.

Kaum perempuan di Minangkabau memiliki kedudukan yang istimewa sehingga dijuluki dengan Bundo Kandung. Kedudukan dan peranan perempuan Minangkabau di Sumatera Barat salah satunya sebagai pemegang amanah dalam melindungi dan mewujudkan kesejahteraan masyarakat (Hermayulis 2008). Bila ajaran budaya tersebut dapat diterapkan sebagaimana mestinya, maka kesejahteraan dalam keluarga yang merupakan bagian masyarakat akan terwujud. Namun ironisnya, persentase jumlah penduduk miskin Sumatera Barat pada tahun 2011 masih cukup tinggi yaitu 8,99% (BPS 2012). Banyaknya penduduk miskin yang ada di Sumatera Barat merupakan gambaran masih belum berhasilnya pembangunan. Belum berhasilnya pembangunan juga ditandai dengan masih rendahnya Human Development Index (HDI) atau Indeks Pembangunan Manusia (IPM) yang dikeluarkan oleh United Nations Development Program (UNDP). Menurut laporan UNDP, bahwa pada Tahun 2010 Sumatera Barat memiliki nilai HDI sebesar 73,78 dan berada pada posisi 9 dari 33 provinsi yang

ada di Indonesia (BPS 2011). Berbagai kebijakan pembangunan untuk pengentasan kemiskinan telah

dilakukan oleh pemerintah dalam rangka mewujudkan kesejahteraan masyarakat, salah satunya adalah mendorong kesetaraan gender dan pemberdayaan perempuan yang tertuang dalam Millenium Development Goals (MDGs). Dalam hal ini

(2)

perempuan diberi kesempatan dan dibina untuk menjalankan peran di segala bidang termasuk di sektor publik atau ekonomi. Peran perempuan di sektor publik diharapkan dapat membantu mengatasi masalah ekonomi keluarga. Kerjasama yang baik antara suami dan istri dalam menjalankan peran dan fungsi masing-masing juga sangat diperlukan untuk tercapainya tujuan keluarga yaitu terwujudnya kesejahteraan keluarga (Puspitawati 2012). Hasil penelitian terdahulu juga menyatakan bahwa relasi gender atau kerja sama yang baik antara suami istri dalam keluarga memiliki peranan yang penting dalam mewujudkan kesejahteraan keluarga (Muflikhati et al. 2010b; Simajuntak et al. 2008).

Sejalan dengan peran perempuan dalam peningkatan perekonomian keluarga, sektor Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) khususnya kerajinan bordir dan sulaman merupakan salah satu sektor yang cukup potensial untuk dikembangkan di Sumatera Barat. Menurut Hubeis (2010) bahwa peran perempuan dalam UMKM sangat potensial dalam upaya meningkatkan kesejahteraan keluarga. Capaian dalam aspek ini akan mengurangi kemiskinan dan kelaparan yang juga merupakan tujuan pertama yang ingin dicapai dalam MDGs.

Tingkat produktivitas perekonomian sektor kerajinan bordir dan sulaman yang ada di Sumatera Barat pada umumnya masih rendah, hal ini disebabkan terbatasnya golongan ini terhadap berbagai faktor produksi serta rendahnya keterampilan dan keahlian (skill). Rendahnya produktivitas mempunyai implikasi terhadap rendahnya pendapatan. Agar mampu memenuhi seluruh kebutuhan keluarga dengan pendapatan yang terbatas, maka perlu adanya manajemen keuangan keluarga yang merupakan salah satu bentuk manajemen sumberdaya keluarga. Sumberdaya yang dimiliki keluarga mencakup sumberdaya manusia, materi, dan finansial (Bryant & Zick 2006). Ketiga sumberdaya keluarga tersebut memiliki sifat terbatas sehingga perlu dikelola dengan baik untuk mencapai tujuan keluarga yaitu kesejahteraan, dan pada akhirnya keberhasilan pembangunan dapat tercapai.

Menurut Gross et al. (1980) bahwa sumberdaya keluarga tidak hanya berasal dari faktor internal (manusia, materi, finansial), tetapi juga berasal dari faktor eksternal atau lingkungan sekitar (kondisi sosial ekonomi dan budaya

(3)

masyarakat). Budaya sistem matrilineal yang dianut oleh masyarakat Sumatera Barat diduga juga akan mempengaruhi pembagian peran dalam keluarga, manajemen keuangan keluarga serta akan berdampak terhadap kesejahteraan keluarga.

Perumusan Masalah

Tingkat kesejahteraan masyarakat di Sumatera Barat pada umumnya masih belum tercapai. Hal ini terlihat dari belum berhasilnya pembangunan yang dicerminkan oleh masih banyaknya jumlah penduduk miskin di setiap daerah. Tingkat kemiskinan di Kabupaten Lima Puluh Kota dan Kota Bukuttinggi juga masih relatif tinggi. Persentase jumlah penduduk miskin Kabupaten Lima Puluh Kota pada Tahun 2011 sebesar 36,50 persen, sementara itu persentase penduduk miskin di Bukittinggi sebesar 7,60 persen (BPS 2011).

Bila dilihat dari Human Development Index (HDI), HDI Kabupaten Lima Puluh Kota sebesar 71,22 yang berada pada posisi 12 dari 19 Kabupaten/Kota di Sumatera Barat, dan peringkat 244 dari 497 Kabupaten/ Kota di Indonesia. Sementara HDI Kota Bukittinggi sebesar 78,26 yang berada pada peringkat 12 dari 497 Kabupaten/Kota di Indonesia (BPS 2011).

Selanjutnya jika dilihat menurut gender, partisipasi kaum perempuan Sumatera Barat di bidang ketenagakerjaan menunjukkan adanya kesenjangan gender yang cukup besar dalam hal tingkat partisipasi angkatan kerja (TPAK), dimana TPAK perempuan jauh lebih rendah dibandingkan TPAK laki-laki. Keadaan angkatan kerja laki-laki di Sumatera Barat meningkat dari 1,34 juta pada Tahun 2010 menjadi 1,35 juta orang pada Tahun 2011, dan angkatan kerja perempuan justru turun dari 928,9 ribu orang menjadi 925,4 ribu orang pada periode yang sama (BPS 2011).

Berbagai kebijakan pembangunan daerah dalam rangka pengentasan kemiskinan telah dilakukan pemerintah. Indikator pencapaian kebijakan pembangunan pada umumnya diarahkan pada pertumbuhan ekonomi (economic growth). Dalam rangka pencapaian pertumbuhan ekonomi tersebut, indikator makro ekonomi yaitu Gross Domestic Product (GDP) atau Produk Domestik Bruto (PDB) lebih sering dijadikan sebagai indikator yang menggambarkan

(4)

keberhasilan pembangunan. Menurut data BPS, kontribusi Sumatera Barat terhadap GDP Indonesia hanya sebesar 1,6 persen dari 33 Provinsi yang ada di Indonesia (BPS 2011).

Sejalan dengan peran perempuan dalam peningkatan perekonomian keluarga, sektor UMKM merupakan salah satu sektor yang cukup potensial untuk dikembangkan di Sumatera Barat dalam rangka meningkatkan GDP Indonesia. UMKM yang terdapat di wilayah ini salah satunya industri yang dikerjakan dengan skala rumah tangga seperti kerajinan bordir dan sulaman. Menurut Hubeis (2010) bahwa sebagian besar perempuan pengusaha di Indonesia menjalankan kegiatan usaha di sektor UMKM, dan perempuan tersebut sangat potensial dalam upaya meningkatkan kesejahteraan keluaga. Selanjutnya Tanziha et al. (2009) menyatakan bahwa pemberdayaan perempuan dapat dilakukan dengan meningkatkan kewirausahaan wanita dalam bisnis pertanian serta meningkatkan keterampilan dan industri rumah tangga.

Peran perempuan yang semakin meluas di bidang publik sebagai pencari nafkah tambahan dalam keluarga, diharapkan dapat membantu mengatasi masalah ekonomi keluarga. Kerjasama yang baik antara suami dan istri juga sangat diperlukan untuk tercapainya tujuan keluarga dengan baik sehingga terwujudnyaa kesejahteraan dalam keluarga.

Agar tujuan keluarga dapat tercapai, maka dibutuhkan suatu pengelolaan keuangan keluarga yang baik. Guhardja et al. (1992) menjelaskan bahwa konsep manajemen tidak dapat membuat sumberdaya yang tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan dan keinginan menjadi cukup, akan tetapi manajemen dapat membantu menetapkan penggunaan sumberdaya yang terbatas menjadi optimal dalam pemanfaatannya. Manajemen keuangan merupakan salah satu cara yang dapat dilakukan dalam pengelolaan sumberdaya sehingga seluruh kebutuhan keluarga dapat terpenuhi yang berpengaruh pada kesejahteraan keluarga.

Seiring perkembangan zaman, ajaran adat yang terdapat dalam sistem matrilineal banyak mengami pergeseran nilai-nilai. Pelaksanaan atau penerapan ajaran adat sistem matrilineal telah banyak ditinggalkan oleh generasi sekarang dengan berbagai alasan. Bahkan pengetahuan/pemahaman tentang adat budaya matrilineal sudah mulai berkurang bagi kalangan muda. Sedikitnya pengetahuan

(5)

tentang budaya matrilineal tentunya akan mempengaruhi pelaksanaan budaya matrilineal tersebut.

Berdasarkan uraian di atas, penelitian ini akan menjawab permasalahan sebagai berikut :

1. Bagaimana pengetahuan dan penerapan budaya matrilineal pada keluarga pengrajin bordir/sulaman di perdesaan dan perkotaan?

2. Bagaimana pembagian peran gender pada keluarga (pengambilan keputusan dan pembagian kerja dalam aktivitas domestik, publik/ekonomi dan sosial) perdesaan dan perkotaan?

3. Bagaimana aktivitas manajemen keuangan keluarga pengrajin bordir/sulaman di perdesaan dan perkotaan?

4. Bagaimana tingkat kesejahteraan keluarga objektif dan subjektif pengrajin bordir/sulaman di perdesaan dan perkotaan?

5. Faktor-faktor apa saja yang mempengaruhi kesejahteraan keluarga objektif dan subjektif pengrajin bordir/sulaman di perdesaan dan perkotaan?

Tujuan Penelitian Tujuan Umum

Penelitian ini secara umum bertujuan untuk menganalisis peran gender dalam budaya matrilineal, aktivitas manajemen keuangan dan kesejahteraan keluarga pengrajin bordir dan sulaman di Provinsi Sumatera Barat.

Tujuan Khusus

1. Menganalisis pengetahuan dan penerapan budaya matrilineal pada keluarga pengrajin bordir/sulaman di perdesaan dan perkotaan.

2. Menganalisis pembagian peran gender pada keluarga (pengambilan keputusan dan pembagian kerja dalam aktivitas domestik, publik/ekonomi dan sosial) di perdesaan dan perkotaan.

3. Menganalisis aktivitas manajemen keuangan keluarga pengrajin bordir/sulaman di perdesaan dan perkotaan.

4. Menganalisis tingkat kesejahteraan keluarga objektif dan subjektif pengrajin bordir/sulaman di perdesaan dan perkotaan.

(6)

5. Menganalisis faktor-faktor yang mempengaruhi kesejahteraan keluarga objektif dan subjektif pengrajin bordir/sulaman di perdesaan dan perkotaan.

Manfaat Penelitian

Penelitian ini diharapkan dapat memberikan gambaran mengenai aktivitas manajemen keuangan dan peran gender dalam keluarga budaya matrilineal serta tingkat kesejahteraan keluarga pengrajin bordir dan sulaman di Provinsi Sumatera Barat. Beberapa manfaat yang dapat diperoleh dari hasil penelitian ini antara lain : 1. Menambah pengetahuan/referensi khususnya tentang peran gender dalam

keluarga budaya matrilineal dan manajemen keuangan serta dapat menjadi masukan dan inspirasi untuk penelitian-penelitian yang relevan bagi penelitian selanjutnya.

2. Memberikan gambaran mengenai kondisi keluarga pengrajin bordir dan sulaman di Sumatera Barat, khususnya terkait dengan tingkat kesejahteraan keluarga.

3. Sebagai sumbangan pemikiran bagi para pengambil kebijakan atau pimpinan dalam merumuskan berbagai langkah kerja yang tepat berkaitan dengan program-program peningkatan kesejahteraan keluarga khususnya bagi keluarga pengrajin bordir dan sulaman di Sumatera Barat.

Referensi

Dokumen terkait

[r]

Rasio – rasio yang diggunakan dalam total benchmarking meliputi 14 rasio yang terdiri dari rasio Corporate Tax to Turn Over Ratio yang digunakan untuk

penelitian menunjukkan bahwa Orientasi pasar, inovasi, orientasi kewirausahaan, dan pengalaman mempunyai pengaruh yang signifikan terhadap strategi keunggulan

Dengan demikian, biaya pengganti dampak penambangan pasir yang mencakup biaya pengganti dampak kualitas udara dan partikel debu, biaya pengganti penurunan

akurasi adalah nilai dengan skala 0 sampai 1 yang berarti semakin tinggi nilai akurasi, maka algoritma C- tree yang digunakan adalah makin bagus. Dan

Penelitian ini bertujuan untuk pengaruh profesionalisme (pengabdian pada profesi, kewajiban sosial, kemandirian, keyakinan pada profesi, hubungan dengan sesama profesi),

Adalah hasil proses pembuahan sel sperma pada telur yang kita kenal dengan yang kita kenal dengan istilah fertili.. istilah

[r]