• Tidak ada hasil yang ditemukan

DINAS PETERNAKAN DAN KESEHATAN HEWAN PROVINSI SUMATERA BARAT Jl. Rasuna Said No. 68 Telp. (0751) Padang PADANG

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "DINAS PETERNAKAN DAN KESEHATAN HEWAN PROVINSI SUMATERA BARAT Jl. Rasuna Said No. 68 Telp. (0751) Padang PADANG"

Copied!
45
0
0

Teks penuh

(1)

LAPORAN

RENCANA KERJA

TAHUN 2015

DINAS PETERNAKAN DAN

KESEHATAN HEWAN

PROVINSI SUMATERA BARAT

Jl. Rasuna Said No. 68 Telp. (0751) 28077 – 28060 Padang

PADANG

(2)

i

KATA PENGANTAR

Rencana Kerja Tahun 2015 Dinas

Peternakan Provinsi Sumatera Barat

merupakan dokumen yang sangat penting dalam sistem pengelolaan

pembangunan peternakan di Sumatera Barat ke depan. Dokumen ini disusun

berdasarkan Dokumen Pelaksanaan Anggaran Tahun 2013, Rencana Kerja dan

Anggaran (RKA) Tahun 2014

dan Rencana Strategis (Renstra) Dinas

Peternakan Propinsi Sumatera Barat Tahun 2011-2015 serta akan ditindaklanjuti

dengan petunjuk teknis serta jadwal palang pelaksanakan kegiatan sehingga

diharapkan dapat dicapai secara terstruktur/ terjadwal. Dengan tersusunnya

Rencana Kerja Tahun 2015 ini diharapkan pembangunan peternakan Sumatera

Barat akan lebih terarah dan juga menjadi masukan bagi penyusunan dokumen

yang sama di tingkat Kabupaten dan kota.

Disadari bahwa Rencana Kerja Tahun 2015 ini masih belum sempurna, untuk itu

saran dan kritik yang sifatnya membangun sangat kami hargai guna untuk

kesempurnaan rencana kerja ini.

Akhirnya kepada semua pihak yang telah membantu hingga terwujudnya

Rencana Kerja Tahun 2015 ini kami ucapkan terima kasih. Semoga Tuhan Yang

Maha Esa selalu memberkati kita semua.

Semoga bermanfaat adanya. Terima kasih.

Padang,

Januari 2014

KEPALA DINAS PETERNAKAN

PROVINSI SUMATERA BARAT

Drh. ERINALDI, MM

Pembina TK.I

(3)

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR ... i DAFTAR ISI ... ii BAB I. PENDAHULUAN... 1 A. Latar Belakang ... 1 B. Landasan Hukum ... 2

C. Maksud dan Tujuan ... 4

D. Sistematika Penulisan ... 4

BAB II. EVALUASI PELAKSANAAN RENCANA KERJA SKPD 2013 ... 6

a. Evaluasi Pelaksanaan dan Capaian Rentra SKPD ... 6

b. Analisis Kinerja Pelayanan SKPD ... 17

c. Issu Strategis Pembangunan peternakan Sumatera Barat ... 21

d. Review terhadap rancangan Awal SKPD ... 22

e. Penelaahan Usulan program dan Kegiatan ... 23

BAB III. TUJUAN SASARAN DAN PROGRAM KEGIATAN ... 26

a. Telaahan terhadap Kebijakan Nasional ... 26

b. Tujuan dan Sasaran Rencana Kerja ... 26

c. Program dan kegiatan Tahun 2015 ... 27

BAB IV. PENUTUP ... 29

(4)

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Rencana Kerja Pembangunan Peternakan Tahun 2015 memiliki arti penting bagi keberlanjutan pembangunan peternakan dan Dinas Peternakan Provinsi Sumatera Barat, karena tahun 2015 merupakan tahun terkhir Rentra Dinas Peternakan Provinsi Sumatera Barat 2010 2015 serta Rencana Pembangunan Jangka Menengah (RPJM) Daerah Provinsi Sumatera Barat tahun 2010 – 2015. Tahun 2015 menjadi penentu keberhasilan kinerja pembangunan daerah Sumatera Barat yang telah dituangkan pada RPJMD Sumatyera Barat 2010 – 2015 Menyikapi hal tersebut Rancangan Rencana Kerja Pembangunan Peternakan Tahun 2015 dari Dinas Peternakan Provinsi Sumatera Barat, dalam pengembangan peternakan program kerjanya lebih mengedepankan penguatan kemampuan sumberdaya alam dan sumberdaya manusia melalui proses dan mekanisme yang partisipatif, desentralistis dan beberapa kegiatan yang bersifat privatisasi. Dampak yang diharapkan tidak semata – mata peningkatan produksi ternak baik dalam hal peningkatan populasi maupun kualitas produksi, akan tetapi lebih mengarah kepada peningkatan pendapatan dan kesejahteraan masyarakat sesuai dengan tujuan dan cita – cita pembangunan Indonesia ke depan.

Dalam upaya mewujudkan sasaran tersebut perlu pemberdayaan masyarakat peternakan/kelompok tani ternak yang terkait dengan usaha peternakan dan aparatur peternakan yang menjadi ujung tombak dalam pembinaan dan penyampaian informasi dilapangan. Peningkatan pendapatan identik dengan peningkatan dan pemberdayaan usaha peternakan sehingga rancangan program kerja aruslah diarahkan kepada pengembangan agribisnis peternakan.

Sistem pelaksanaan program bertujuan untuk meningkatkan usaha peternak tersebut adalah melalui pola – pola langsung kepada masyarakat sasaran baik berupa peningkatan kemampuan teknis. serta memfasilitasi masuknya investasi sektor peternakan baik lokal maupun dari luar.

Sehubungan dengan itu maka pembangunan peternakan merupakan totalitas kinerja dari sistem, maka program kerja yang dijabarkan melui kegiatan-kegiatan pada Dinas Peternakan Provinsi Sumatera Barat disusun mengacu kepada program prioritas pembangunan daerah yang tertuang dalam Rencana Strategis Pembangunan Peternakan Provinsi Sumatera Barat dan Rencana Pembangunan Jangka Menengah (RPJM) Provinsi Sumatera Barat tahun 2010 – 2015.

B. Landasan Hukum

Sesuai dengan Peraturan Daerah No. 5 tahun 2001 Pasal 60, Dinas Peternakan Provinsi Sumatera Barat mempunyai tugas melaksanakan kewenangan desentralisasi dan tugas dekonsentrasi di bidang peternakan. Dalam menyelenggarakan tugas tersebut, Dinas Peternakan mempunyai fungsi sebagai berikut :

a. Penyusunan kebijakan teknis di bidang Peternakan.

b. Pemberian perijinan dan pelaksanaan pelayanan umum lintas Kabupaten dan Kota di bidang peternakan.

c. Pembinaan teknis di bidang peternakan,

d. Pembinaan Unit Pelaksana Teknis Dinas (UPTD) e. Pelaksanaan Urusan Tata Usaha Dinas.

Berkenaan dengan Peraturan Daerah Provinsi Sumatera Barat No. 4 tahun 2008 tentang struktur Organisasi dan Tata Kerja Dinas Daerah Provinsi Sumatera Barat, maka secara prinsip terjadi perobahan dalam pelayanan yang diberikan berupa peningkatan kontribusi pembangunan peternakan pada pembangunan daerah Sumatera Barat. Pembangunan sub sektor peternakan merupakan bagian

(5)

internal dari pembangunan pertanian, sehingga visi pembangunan peternakan identik dengan visi pembangunan sektor pertanian.

Visi Dinas Peternakan Provinsi Sumatera Barat merupakan suatu gambaran kondisi masa depan yang hendak dicapai dalam pembangunan peternakan. Visi tersebut menggambarkan masa depan dari hasil perencanaan, pelaksanaan pembangunan peternakan yang memberi harapan dan hasil-hasil yang memuaskan. Untuk itu dalam visi tersebut akan memberi arah dan fokus yang jelas bagi Dinas Peternakan Provinsi Sumatera Barat ke arah mana pembangunan peternakan Sumatera Barat ini akan dibawa dengan mempertimbangkan lingkungan internal dan eksternal.

Visi Dinas Peternakan Provinsi Sumatera Barat Tahun 2011 – 2015 adalah :

“ SUMBAR SEBAGAI SENTRA PEMBANGUNAN TERNAK UNGGUL UNTUK MEMPERKUAT KETAHANAN PANGAN HEWANI DAN

KESEJAHTERAAN MASYARAKAT PETERNAKAN ”

Visi tersebut mengandung 3 kata kunci sebagai Berikut : a. SENTARA PENGEMBANGAN TERNAK UNGGUL

Kawasan Utama Produksi dan Pengembangan Ternak Unggul ( Sapi Potong, Kerbau, Kambing dan Unggas ) di Wilayah Sumatera Bagian Tengah ( Sumbar, riau, Kepulauan Riau, Jambi dan Bengkulu ). Ternak Unggas meliputi : Ayam Kampung, Itik, Ayam Ras Pedaging dan Ayam Ras Petelur ) b. KETAHANAN PANGAN ASAL HEWAN

Terpenuhinya keseimbangan produksi dan konsumsi baik kuantitas maupun kualitas yang Aman, Sehat, Utuh dan Halal ( ASUH ) yang melibatkan Jaringan Produksi dan Distribusi yang efisien dari Pangan Hewani secara Berkelanjutan

c. KESEJAHTERAAN MASYARAKAT PETERNAKAN

Masyarakat yang melibatkan dalam agribisnis peternakan memiliki kemampuan secara ekonomi dan social yang sendiri. Dengan demikian masyarakat tersebut memiliki tingkat pendapatan yang cukup untuk memenuhi kebutuhan hidupnya ( sandang, pangan, papan, Kesehatan dan Pendidikan yang memadai. Melindungi Masyarakat dari Penyakit Zoonosis ( Penyakit Menular dari hewan kepada manusia )

Misi merupakan penjabaran lebih lanjut dari visi yang memberi gambaran bagaimana visi itu dapat dicapai. Misi Dinas Peternakan Provinsi Sumatera Barat Tahun 2011 – 2015 adalah :

a. Mengembangakan kawasan utama ternak unggul yang ditetapkan pemerintah Provinsi Sumatera Barat.

b. Meningkatkan Produksi ternak dan konsumsi pangan hewan yang di Sumatera Barat

c. Mendukung terciptanya sistim produksi dan distribusi pangan asal hewan yag efisien dengan kualitas yang aman, Sehat, Utuh dan Halal (ASUH) secara Berkelanjutan.

d. Meningkatkan Pendapatan Masyarakat Peternakan

e. Meningkatkan Sarana dan Prasarana Pengembangan Peternakan f. Meningkatkan kualitas sumberdaya manusia masyarakat peternakan g. Mengembangkan Kelembagaan Sosial dan Ekonomi Peternakan

h. Menerapkan dan menyebarluaskan ilmu Pengetahuan, teknologi dan Seni ( IPTEKS) dalam bidang peternakan

Sejalan dengan itu maka pembangunan peternakan diharapkan dan diarahkan untuk menghasilkan berbagai produk unggulan yang mampu bersaing dipasar domestik, regional dan internasional, memantapkan ketahanan pangan, meningkatkan pendapatan dan kesejahteraan petani peternak dan masyarakat umum.

(6)

Usaha peternakan sebagai suatu industri biologis yang dikelola oleh manusia harus dimantapkan dengan pendekatan agribisnis – agroindustri, yaitu pendekatan sistem agribisnis secara menyeluruh, sejak pra produksi, budidaya, pasca produksi pemasaran. Pendekatan ini menjadi penting dalam rangka mengubah sumberdaya peternakan menjadi komoditas unggulan yang mampu bersaing dalam pasar domestik, regional dan internasional melalui penerapan teknologi pra produksi, produksi, pasca panen yang tepat. Oleh karena itu perubahan dari proses produksi dari sistem usaha tani tradisional ke sistem usaha tani yang berbudaya industri harus menjadi perhatiaan utama dalam misi pembanguan peternakan.

C. MAKSUD DAN TUJUAN

Penyusunan Rencana Kerja Pembangunan Peternakan dari Dinas Peternakan Provinsi Sumatera Barat dimaksudkan untuk menentukan arah kebijakan pembangunan peternakan Sumaterara Barat pada tahun 2014.

Tujuan penyusunan Rencana Kerja Pembangunan Peternakan Sumatera Barat dari Dinas Peternakan Provinsi Sumatera Barat adalah sebagai pedoman dan acuan untuk mencapai sasaran sesuai dengan target yang direncanakan mengacu pada Rentra Dinas Peternakan Sumatera Barat, Renstra Ditjen Peternakan dan Renstra Departemen Pertanian.

D. Sistematika Penulisan

Rencana Kerja Dinas Peternakan Provinsi Sumatera Barat Tahun 2014 disusun dengan sistimatika sebagai berikut:

I. Pendahuluan terdiri dari Latar Belakang, Landasan Hukum, Maksud dan Tujuan dan Sistimatika Penulisan

II. Evaluasi Pelaksanaan Rencana Kerja Dinas Peternakan Tahun 2013 berisikan: Program dan kegiatan pembangunan peternakan, realisasi dan penyerapan anggaran, perkiraan capaian tahun 2014, analisis kinerja (capaian kinerja), issu strategis penyelenggaaan tugas dan fungsi, review Rancangan Awal RKPD serta Penelaahan Usulan Program dan Kegiatan Pembangunan Peternakan

III.Tujuan Sasaran dan Kebijakan Pembangunan Peternakan Sumatera Barat Tahun 2015, meliputi telaahan terhadap kebijakan pembangunan daerah, Tujuan dan sasaran Rencana Kerja Dinas Peternakan Sumatera Barat Tahun 2015 serta program dan kegiatan Pembangunan Peternakan Sumatera Barat Tahun 2015

IV Penutup, merupakan penutup serta kaidah dalam pelaksanaan dari Rencana Kerja Dinas Peternakan Sumatera Barat Tahun 2015

(7)

BAB II

EVALUASI PELAKSANAAN

RENJA DINAS PETERNAKAN TAHUN 2015

Peternakan mempunyai fungsi strategis dalam pembangunan dan sangat berperan dalam menunjang pembangunan daerah diera otonomi daerah. Posisi peternakan dalam pelaksanaan pembangunan di era otonomi daerah dapat dilihat dari kontribusinya terhadap pembentukan produk domestik regional bruto yang terus meningkat. Pembangunan Peternakan disamping dapat memacu laju pertumbuhan ekonomi daerah, juga mempunyai fungsi pokok sebagai penyedia bahan pangan asal ternak berupa daging, telur dan susu.

Program pembangunan peternakan pada hakekatnya adalah serangkaian upaya untuk memfasilitasi, melayani dan mendorong berkembangnya sistem dan usaha agribisnis yang berdaya saing, berkerakyatan berkelanjutan dan desentralistis untuk meningkatkan pendapatan dan kesejahteraan masyarakat. Program Pembangunan Peternakan Sumatera Barat pada tahun 2013 meliputi 16 program, diantaranya 10 program yang terkait langsung kepada teknis peternakan) yaitu; 1) Program Peningkatan Pemasaran Hasil Produksi Peternakan, 2) Program Peningkatan Sarana Prasarana Pembangunan Pertanian, 3) Program Pengembangan Kawasan Sentra Produksi Pertanian 4) Program Pemberdayaan Penyuluh Pertanian 5) Program Pengembangan Teknologi Informasi Pertanian dan Peningkatan Penerapan Teknologi Pertanian, 6) Program Peningkatan Kapasitas Kelembagaan dan SDM Pertanian, 7) Program Peningkatan Produksi dan Mutu Pertanian secara Berkelanjutan 8) Program Peningkatan Nilai Tambah, Daya Saing Produksi Pertanian, 9) Program Pengamanan Sumberdaya Hewani 10) Program Pengembangan Satu Petani Satu Sapi. Selanjutnya program tersebut dijabarkan dalam bentuk kegiatan yang lebih operasional yang didukung kerangka acuan kerja, rencana anggaran biaya serta jadwal pelaksanaan kegiatan

a. Evaluasi Pelaksanaan Program Tahun 2015 dan Capaian Rentra

Dalam mengoperasionalkan kebijakan pembangunan peternakan disusun program beserta kegiatan pembangunan peternakan berwawasan agribisnis yang mengarahkan agar seluruh subsistem dapat secara produktif dan efisien menghasilkan berbagai produk peternakan yang memiliki nilai tambah dan daya saing yang tinggi baik di pasar domestic maupun pasar internasional, sekaligus untuk menjawab tantangan dan tuntutan pembangunan peternakan secara Nasional dalam rangka percepatan pencapaian swasembada daging tahun 2014 serta meningkatkan pendapatan dan kesejahteraan peternak. Program pembangunan peternakan merupakan totalitas kinerja dari sistem yang disusun mengacu kepada program prioritas pembangunan daerah yang tertuang dalam Rencana Strategis Pembangunan Peternakan Propinsi Sumatera Barat dan Rencana Pembangunan Jangka Menengah (RPJM) Propinsi Sumatera Barat tahun 2010 – 2015.

Selanjutnya pada tahun 2015 dalam memacu pertumbuhan pembangunan peternakan telah dialokasikan dana APBD Provinsi sebesar Rp. 37.819.745.980,-dengan realisasi Rp. 34.529.295.997,- (91.30%) yang diimplementasikan pada 10 program. Secara makro program/kegiatan tersebut telah dapat dilaksanakan sesuai target dan sasaran yang ditetapkan dalam upaya meningkatkan nilai tambah yang diterima peternak dan pendapatan serta kesempatan berusaha. Evaluasi capaian kinerja dilakukan untuk menilai keberhasilan atau kegagalan pencapaian kinerja sasaran dengan melihat secara lebih rinci pada capaian target indikator sasaran yang menjadi Indikator Kinerja Utama (IKU) Dinas Peternakan tahun 2013 dengan dukungan data atau informasi hasil sasaran secara menyeluruh.

(8)

Pengungkapan pencapaian kinerja sasaran maupun capaian target indikator sasaran diuraikan secara lengkap dan sistematis berdasarkan urutan sebagaimana dalam rencana kerja.

Lebih lanjut evaluasi capaian kinerja sasaran dipaparkan sebagai berikut: 1. Tercapainya Ketersediaan Pangan Asal Hewan (Daging, Telur, Susu)

Indikator capaian kinerja sasaran ini adalah:

a. Jumlah komoditi yang dikembangkan dalam akses pasar produk peternakan sebanyak 3 komoditi

b. Jumlah produksi hewan/ non pangan dengan keunggulan kompetitif, yaitu Dendeng sebanyak 1,5 ton dan Rendang sebanyak 35 ton, Daging untuk produk olahan lainnya (Bakso, Naget, Sate dll) sebanyak 55 ton, Telur sebanyak 65 ton, Susu sebanyak 1,5 ton,

Tingkat capaian kinerja pada sasaran ini sebesar 161,20%, keberhasilan pencapaian kinerja sasaran ini karena semua target indikator sasaran tercapai sesuai target yang direncanakan bahkan ada yang melebihi target yang ditetapkan yang dapat dilihat pada Tabel 7 berikut:

Tabel 7. Pencapaian Kinerja Sasaran Tercapainya Ketersediaan Pangan Asal Hewan (Daging, Telur, Susu) Tahun 2015

NO INDIKATOR KINERJA TARGET REALISASI PRESENTASI PENCAPAIAN TARGET

TAHUN LALU (2012) 1. Jumlah komoditi yanga

dikembangkan dalam akses pasar produk peternakan 3 Komoditi 3 Komoditi 100% 100% b Jumlah produksi hewan/non pangan dengan keunggulan kompetitif

-Daging 55 ton 55 ton 100% 100%

-Telur 65 ton 65 ton 100% 100%

-Susu 1.5 ton 2.19 ton 146% 100%

-Dendeng 1,5 ton 5,4 ton 360% 100%

-Rendang 35 ton 35 ton 100% 100%

Pencapaian sasaran ini ditetapkan melalui Program Peningkatan Pemasaran Hasil Produksi Peternakan dengan delapan kegiatan masing-masing:

a. Promosi dan Informasi atas Produksi Peternakan Unggulan Daerah b. Pameran Pembangunan Peternakan/ Livestock Expo 2015

c. Akreditasi dan Sertifikasi BIB Tuah Sakato

d. Promosi dan Perluasan Pemasaran Semen beku BIB Tuah Sakato

e. Operasi Pasar Komoditas Peternakan Dalam Rangka Menyambut Hari Besar Keagamaan

f. Promosi Minum Susu Segar dan Olahannya bagi Masyarakat/ anak Sekolah g. Intensifikasi Pemasaran dan Evaluasi Keberhasilan IB Hasil Semen Beku

BIB Tuah Sakato ke Kab/ Kota

h. Visualisasi Pengembangan Usaha Peternakan

Melalui Program Peningkatan Pemasaran Hasil Produksi Peternakan terjadi peningkatan kualitas dan kuantitas kelembagaan peternakan, produksi hewan/ non pangan dengan keunggulan kompetitif, peningkatan skala usaha peternakan industri pedesaan berbasis peternakan juga meningkatkan mutu pasca panen produk peternakan, jaringan pasar komoditi peternakan pada 5 kawasan regional dan 3 wilayah internasional sekaligus meningkatkan investasi dibidang peternakan.

(9)

Secara keseluruhan kegiatan yang terdapat dalam program-program ini capaian kinerjanya sangat baik, hal ini dapat dilihat dari realisasi capaian target indikator sasaran dan anggaran yang dialokasikan program/kegiatan. Realisasi anggaran untuk sasaran ini sebesar Rp. 889.361.415,- dari pagu anggaran Rp. 982.860.000,- atau sebesar 90,49% dan realisasi fisik sebesar 99,67 %.

2. Tersedianya sarana dan prasarana yang cukup terutama dikawasan utama pengembangan ternak unggul.

Indikator capaian kinerja sasaran ini adalah:

Terpenuhinya kebutuhan bibit unggul/ komoditi peternakan : Gedung BIB Tuah Sakato yang representatif sebanyak 1 unit; Jumlah peralatan laboratorium BIB Tuah Sakato sebanyak 8 unit; Jumlah produksi semen beku yang berkualitas sebanyak 100.000 dosis.

Tingkat capaian kinerja pada sasaran ini sebesar 102,72%, keberhasilan pencapaian kinerja sasaran ini karena semua target indikator sasaran (IKU) tercapai bahkan ada yang melebihi target yang direncanakan. Pencapaian target masing-masing indikator sasaran dapat dilihat pada Tabel 8 berikut : Tabel 8. Pencapaian Kinerja Sasaran Tersedianya Sarana Dan Prasarana Yang Cukup Terutama Dikawasan Utama Pengembangan Ternak Unggul

NO INDIKATOR KINERJA TARGET REALISASI PRESENTASI PENCAPAIAN TARGET

TAHUN LALU (2012) 1. Terpenuhinya kebutuhan bibit

unggul/ komoditi peternakan :

-Gedung BIB Tuah Sakato

yang representative 1 Unit 1 Unit 100%

-Jumlah Peralatan Laboratorium BIB Tuah Sakato

8 Unit 8 Unit 100% 100%

-Jumlah Produksi Semen

Beku yang berkualitas 100.000 ds 108.850 ds 108,85% 117%

Pencapaian sasaran ini ditetapkan melalui Program Peningkatan Sarana Prasarana Pembangunan Pertanian dengan delapan kegiatan masing-masing:

a. Pembangunan Pagar Pada Gedung Pusat Pelatihan Peternakan b. Rehab Gedung Kantor BIB Tuah Sakato

c. Penyediaan Alat-alat laboratorium UPTD BIB Tuah Sakato d. Optimalisasi Produksi Semen Beku UPTD BIB Tuah Sakato e. Optimalisasi Bibit Unggul UPTD BPPMT Simpang IV

f. Rehab Atap Gedung Pusat Pelatihan Peternakan (APBD Perubahan)

g. Pemasangan Jaringan Instalasi Listrik Pada Gedung Pusat Pelatihan Peternakan/ITC (APBD Perubahan)

h. Rehab Gedung RPH M. Payakumbuh (APBD Perubahan).

Secara keseluruhan kegiatan yang terdapat dalam program-program ini capaian kinerjanya sangat baik, hal ini bisa dilihat dari realisasi capaian target indikator sasaran melalui hasil dan capaian indikator kinerja kegiatan yang secara lengkap dapat dilihat serapan anggaran sasaran ini sebesar 97,88% atau Rp. 2.520.565.600 dari pagu anggaran Rp. 2.575.061.100,- dan realisasi fisik sebesar 100 %

3. Terbentuknya Kawasan-Kawasan Utama Pengembangan Ternak Unggul di Sumatera Barat.

(10)

Kawasan sentra produksi peternakan sebanyak 8 kabupaten dengan tingkat capaian 11 kabupaten terdiri dari kawasan integrasi dan kawasan prioritas (komoditas unggulan/ pembibitan, agropolitan). Kawasan integrasi terdapat pada Kab. Agam, Pasaman Barat, 50 Kota, Pd. Pariaman Tanah Datar, Solok, Sijunjung Dharmasraya, Solok Selatan dan Pesisir Selatan. Kawasan komoditi unggulan terdapat pada Kab. Agam, Pasaman Barat, 50 Kota, Pd. Pariaman Tanah Datar, Solok, Sijunjung Dharmasraya, Solok Selatan, Pesisir Selatan dan Kota Padang sedangkan kawasan agropolitan terdapat pada Kab. Agam. Tingkat capaian kinerja pada sasaran ini sebesar 137,5%, keberhasilan pencapaian kinerja sasaran ini karena semua target indikator sasaran (IKU) tercapai sesuai dengan target yang direncanakan. Pencapaian target masing-masing indikator sasaran dapat dilihat pada Tabel 9 berikut

Tabel 9 : Pencapaian Kinerja Sasaran Tersedianya Kawasan Sentra Produksi Peternakan

NO INDIKATOR KINERJA TARGET REALISASI PRESENTASIPENCAPAIAN TARGET

TAHUN LALU (2012)

1. Kawasan Sentra Produksi

Peternakan 8 Kab 11 Kab 137,5% 100% Pencapaian sasaran ini ditetapkan melalui Program Pengembangan Kawasan Sentra Produksi Pertanian dengan tiga kegiatan masing-masing:

a. Fasilitasi Pakan Ternak Untuk Kelompok Ternak Sapi Perah; b. Koordinasi dan Pembinaan Kawasan Sentra Produksi Peternakan; c. Pengembangan Kawasan Ternak Kambing,

Secara keseluruhan kegiatan yang terdapat dalam program ini capaian kinerjanya sangat baik, hal ini bisa dilihat dari realisasi capaian target indikator sasaran melalui hasil dan capaian indikator kinerja kegiatan yang secara lengkap dapat dilihat dari realisasi anggaran sasaran ini adalah Rp. 583.675.400,- dari pagu anggaran sebesar Rp. 593.070.000,- atau sebesar (98,42%), sehingga kinerja keuangan sasaran ini dapat dikategorikan berhasil mencapai target yang telah ditetapkan dengan realisasi sebesar fisik 100 %.

Sesuai dengan kebijakan pembangunan peternakan dalam peningkatan produksi dan produktifitas setiap komoditi peternakan, penanganan kesehatan hewan dan pengamanan produk pangan asal ternak melalui kegiatan – kegiatan yang terfokus dalam suatu kawasan yang sesuai dengan spesifik daerah / wilayah. Kawasan peternakan adalah kawasan yang secara khusus diperuntukkan untuk kegiatan peternakan atau terpadu sebagai usaha tani (berbasis tanaman pangan, holtikultura, perkebunan atau perikanan) dan terpadu sebagai komponen ekosistem tertentu (kawasan hutan lindung dan suaka alam) dengan uraian sebagai berikut :

Kawasan Integrasi Ternak Sapi dan Tanaman Perkebunan terdiri dari:

Sumbar 1 ( Integrasi Ternak dengan Sawit dan Cacao)

Sumbar 2 ( Integrasi

Sapi dengan Kakao ) Sumbar 3 ( IntegrasiTernak sapi dg sawit dan Kakao).

Kab. Agam

Kab. Pasaman Barat Kab. 50 Kota

Kab. Padang Pariaman Kab. Tanah Datar Kab. Solok

Kab. Sijunjung, Kab. Dharmasraya. Kab. Solok Selatan. Kab. Pesisir Selatan

(11)

4. Meningkatnya Pengetahuan, Keterampilan dan Pendidikan Aparatur Pemerintahan Dibidang Peternakan dan Kesehatan Hewan

Indikator capaian kinerja sasaran ini adalah:

Jumlah peserta peningkatan kompetensi petugas teknis peternakan (penyuluh peternakan) sebanyak 30 orang.

Tingkat capaian kinerja pada sasaran ini sebesar 128 orang yang terdiri dari peningkatan kompetensi penyuluh : 30 orang, petugas teknis peternakan 98 orang maka tingkat capaian kinerja sasaran sebesar 426,67% yang dapat dilihat pada Tabel 10 berikut :

Tabel 10 : Pencapaian Kinerja Sasaran Meningkatnya Pengetahuan, Keterampilan Dan Pendidikan Aparatur Pemerintahan Dibidang Peternakan Dan Kesehatan Hewan

NO INDIKATOR

KINERJA TARGET REALISASI PRESENTASIPENCAPAIAN TARGET TAHUN LALU (2012) 1. Jumlah peserta peningkatan kompetensi petugas teknis peternakan (penyuluh peternakan) 30 orang 128 orang 426,67% 100%

Pencapaian sasaran ini ditetapkan melalui Program Pemberdayaan

Penyuluh Pertanian dengan satu kegiatan yaitu Peningkatan kapasitas

SDM Penyuluh Pertanian Realisasi Serapan Anggaran Sasaran ini

adalah Rp. 61.093.300,- dari pagu sebesar Rp. 64.000.000,- atau

sebesar 95,46%,

ditambah 98 orang petugas petugas teknis peternakan/Petugas PDSR yang didukung dari dana FAO sehingga kinerja keuangan sasaran ini dapat dikategorikan sangat baik dan berhasil mencapai target yang telah ditetapkan dengan realisasi fisik sebesar 100 %

Untuk mendukung penyelenggaraan penyuluhan pertanian diperlukan penataan penyuluhan pertanian secara komprehensif dengan sasaran yang mencakup aspek kelembagaan, aspek ketenagaan, aspek penyelenggaraan dan aspek pendanaan serta aspek hukum dan perundang-undangan.

5. Meningkatnya Produktifitas Ternak melalui Teknologi Peternakan

Dalam meningkatkan produktifitas dan mutu genetik ternak telah dikembangkan teknologi Embryo Transfer (ET) di masyarakat peternak, saat ini telah banyak dihasilkan ternak – ternak sapi potong hasil embryo trasfer yang manfaatnya untuk replecement bull pada BIB Tuah Sakato dan BIB-BIB Daerah lainnya di Indonesia. Sehubungan prospek ET ini sangat cerah di masa depan yang didukung oleh kultur budaya dan kemampuan masyarakat serta petugas dalam mengaplikasikan teknologi ET maka ke depan kita akan memproduksi Embryo sendiri yang bekerja sama dengan BET Cipelang. Indikator capaian kinerja sasaran ini adalah:

Jumlah akseptor ET untuk meningkatkan mutu genetik ternak sebanyak 30 akseptor.

Tingkat capaian kinerja pada sasaran ini sebesar 123,33%, dengan menggunakan asumsi yang menjadi standart penilaian kinerja yang telah ditetapkan maka sasaran ini berhasil dicapai, keberhasilan Pencapaian kinerja sasaran ini karena target indikator sasaran (IKU) tercapai sesuai dengan target yang direncanakan. Pencapaian target masing-masing indikator sasaran dapat dilihat pada Tabel 11 berikut:

(12)

Tabel 11 : Pencapaian Kinerja Sasaran Meningkatnya Penerapan Teknologi Pertanian Tepat Guna

NO INDIKATOR KINERJA TARGET REALISASI PRESENTASIPENCAPAIAN TARGET TAHUN LALU (2012) 1. Jumlah akseptor ET untuk meningkatkan mutu genetik ternak

30 akseptor 37 akseptor 123,33% 110%

Pencapaian sasaran ini ditetapkan melalui Program Pengembangan Teknologi Informasi Pertanian dan Peningkatan Penerapan Teknologi Pertanian Tepat Guna dengan tiga kegiatan masing-masing:

a. Pelaksanaan Embrio Transfer (ET) di Lokasi Pembibitan Ternak b. Bulan Bakti Peternakan dan Kesehatan Hewan 2015

c. Gelar Teknologi Dalam Rangka Hari Pangan Se Dunia

Secara keseluruhan kegiatan yang terdapat dalam program ini capaian kinerjanya sangat baik, hal ini bisa dilihat dari realisasi capaian target indikator sasaran melalui hasil dan capaian indikator kinerja kegiatan yang secara lengkap dapat dilihat dari realisasi anggaran sasaran ini adalah Rp. 356.828.000,- dari pagu sebesar Rp. 400.000.000,- atau sebesar 89,21% maka kinerja program ini dianggap berhasil mencapai kinerja sasaran dengan realisasi fisik adalah 100 %.

6. Meningkatnya Jumlah Kelembagaan Sosial dan Ekonomi Peternakan.

Indikator capaian kinerja sasaran ini adalah:

a. Jumlah investasi bidang usaha peternakan yaitu : SMD sebanyak 100 orang dan masyarakat sebesar 30%.

b. Peningkatan kualitas kelembagaan peternakan yaitu : PPSKI/ Sapi Perah sebesar 40%, Pedagang ternak sebesar 40%, HPKDI sebesar 40%, Breeder Club sebesar 40%, PPUI sebesar 40%, Asosiasi Peternak Ayam Potong sebesar 40%

Tingkat capaian kinerja pada sasaran ini sebesar 99,85%, keberhasilan pencapaian kinerja sasaran ini karena target indikator sasaran (IKU) tercapai dan pencapaian target masing-masing indikator sasaran dapat dilihat pada Tabel 12 berikut:

Tabel 12 : Pencapaian Kinerja Sasaran Meningkatnya Jumlah Kelembagaan Sosial dan Ekonomi Peternakan

NO INDIKATOR KINERJA TARGET REALISASI PRESENTASIPENCAPAIAN TARGET TAHUN LALU (2012) 1. Jumlah investasia bidang usaha peternakan : -SMD 100 orang 313 orang 313% 100% -Masyarakat 30% 30% 100% 100% b Peningkatan kualitas kelembagaan peternakan :

-PPSKI/ Sapi Perah 40% 40% 100% 100%

-Pedagang Ternak 40% 40% 100% 100%

(13)

-Breeder Club 40% 40% 100% 100% -PPUI 40% 40% 100% 100% -Asosiasi Peternak Ayam Potong 40% 40% 100% 100% c Jumlah peserta pelatihan jiwa kewirausahaan dan kelembagaan petani peternak pada kelompok GPP 156 Orang 156 Orang 100% 100%

Pencapaian sasaran ini ditetapkan melalui Program Peningkatan Kapasitas Kelembagaan dan SDM Pertanian dengan lima belas kegiatan yaitu :

a. Penilaian dan persiapan lomba agribisnis (kelompok peternakan sapi potong, Kambing, unggas dan petugas teknis)

b. Verifikasi dan Validasi Data

c. Pengawalan dan Pembinaan Program Sarjana Membangun Desa d. Pembinaan Kelembagaan Asosiasi Agribisnis Peternakan

e. Pembinaan Pelaksanaan Kemitraan Perunggasan di Sumatera Barat f. Peningkatan Kelembagaan Penangkar Bibit

g. Evaluasi Pengembangan Investasi Non Permanen

h. Penyusunan Data Base Calon Penerima Hibah Bidang Peternakan i. Koordinasi, Pembinaan, Pengawasan Dana Investasi Non Pemerintah j. Peningkatan SDM Petani Tentang Teknis Peternakan dan Kelembagaan

Kelompok (Gerakan Terpadu Pensejahteraan Petani)

k. Managemen Data Base Penyakit Hewan Menular (Penerapan NVS) l. Dukungan Manajemen RPH

Secara keseluruhan kegiatan yang terdapat dalam program ini capaian kinerjanya sangat baik, hal ini bisa dilihat dari realisasi capaian target indikator sasaran melalui realisasi anggaran sasaran ini adalah Rp. 2.152.919.501,- dari pagu sebesar Rp. 2.449.928.000,- atau sebesar 87,88% dan realisasi fisik sebesar 99,85 %.

7. Meningkatnya produksi dan atau harga produk peternakan.

Indikator capaian kinerja sasaran ini adalah:

a. Peningkatan Produksi : Daging 1.134.462 Kg, Telur 1.289.310 Kg dan Susu 10.000 Kg

b. Peningkatan Populasi Ternak : Sapi Potong 11.937 ekor, Sapi Perah 21 ekor, Kerbau 3.535 ekor, Kambing 18.167 ekor, Domba 514 ekor, Ayam Buras 530.914 ekor, Ayam Ras Petelur 370.626 ekor, Ayam Ras Pedaging 550.960 ekor, Itik 105.733 ekor

Tingkat capaian kinerja pada sasaran ini sebesar 100%, keberhasilan pencapaian kinerja sasaran ini karena target indikator sasaran (IKU) tercapai. Pencapaian target masing-masing indikator sasaran dapat dilihat pada Tabel 13 berikut :

Tabel 13 : Pencapaian Kinerja Sasaran Peningkatan Produksi dan Populasi Ternak

NO INDIKATOR KINERJA TARGET REALISASI

PRESENTASI PENCAPAIAN TARGET TAHUN LALU (2012) 7. Peningkatana produksi (Kg) : -Daging 1,134,462 1.207.023 106,40% 82% -Telur 1,289,310 1.395.595 108,24% 101% -Susu 10,000 13.546 135,46% 133% b Peningkatan

(14)

populasi ternak (Ekor) : -Sapi potong 11,937 10.777 90,28% 81% -Sapi perah 21 21 100% 78% -Kerbau 3,535 3.601 101,87% 102% -Kambing 18,167 18.261 100,52% 114% -Domba 514 480 93,39% 100% -Ayam buras 530,914 546.166 102,87% 4%

-Ayam ras petelur 370,626 375.223 101,24% 100%

-Ayam ras pedaging 550,960 573.189 104,03% 100%

-Itik 105,733 106.038 100,29% 100%

Pencapaian sasaran ini ditetapkan melalui Program Peningkatan Produksi dan Mutu Pertanian Secara Berkelanjutan dengan lima belas kegiatan yaitu : a. Penyebaran Ternak Sapi pada Kawasan Terpadu (Gerakan Terpadu

Pensejahteraan Petani)

b. Pengawalan, Pembinaan PPSK, Lumbung Pakan, Poultry Shop dan Kelompok Tani Ternak

c. Peningkatan Produksi Benih/ Bibit Unggul

d. Pembinaan dan Penerapan Good Farming Practice (GFP) pada Kelompok Budidaya Sapi Perah

e. Penggantian Anak ET pada Ternak rakyat untuk Replacement Bull

f. Koordinasi, Pembinaan, Monitoring dan Evaluasi Gerakan Pensejahteraan Petani

g. Bantuan Ternak Sapi Lokal Untuk Gerakan Pemberdayaan Masyarakat Pesisir

h. Koordinasi Evaluasi Pembinaan Perbibitan

i. Fasilitasi Peralatan Pengolahan Hasil Peternakan untuk UMKM j. Fasilitasi Bantuan Pengembangan Pembibitan Sapi

k. Peningkatan Populasi Ternak Kambing l. Peningkatan Populasi Ungas Lokal

m. Fasilitasi Peningkatan Mutu Sapi Pesisir, melalui Penjaringan Ternak di Kelompok

n. Peningkatan Populasi Ternak Sapi

o. Penggantian Bull/ Pejantan yang Afkir BIB Tuah Sakato

Secara keseluruhan kegiatan yang terdapat dalam program ini capaian kinerjanya sangat baik, bisa dilihat dari realisasi capaian target indikator sasaran melalui serapan anggaran sasaran ini adalah Rp. 15.956.291.700,-dari pagu sebesar Rp. 17.711.163.000,- atau sebesar 90,09%. dengan realisasi fisik sebesar 100 %

8. Meningkatnya jenis, mutu produk pasca panen dan pengolahan hasil.

Indikator capaian kinerja sasaran ini adalah:

a. Peningkatan Mutu Pasca Panen Produk : Dadiah sebanyak 5 kelompok, Pengolahan Susu Sapi Perah sebanyak 4 kelompok

(15)

Tingkat capaian kinerja pada sasaran ini sebesar 100%, keberhasilan pencapaian kinerja sasaran ini karena target indikator sasaran (IKU) tercapai. Pencapaian target masing-masing indikator sasaran dapat dilihat pada Tabel 19 berikut:

Tabel 19 : Pencapaian Kinerja Sasaran Peningkatan Mutu Pasca Panen Produk dan Peningkatan Industri Pedesaan Berbasis Peternakan

NO INDIKATOR KINERJA TARGET REALISASI PRESENTASIPENCAPAIAN TARGET

TAHUN LALU (2012) 1. a Peningkatan mutu

pasca panen produk :

Dadiah 5 Kelompok 5 Kelompok 100% 100% Pengolahan susu sapi

perah 4 Kelompok 4 Kelompok 100% 100% b Peningkatan industri

pedesaan berbasis peternakan

5 Kelompok 5 Kelompok 100% 100%

Pencapaian sasaran ini ditetapkan melalui Program Peningkatan Nilai Tambah, Daya Saing Produksi Pertanian dengan tiga kegiatan yaitu :

a. Pengembangan Teknologi dan Usaha Pasca Panen Produk Peternakan b. Peningkatan Produksi dan Pengolahan Susu Sapi pada Kawasan Inkubator c. Sosialisasi Penerapan Good Handling Practise (HGP) dan Good

Manufacturing Practice (GMP) pada Usaha Pengolahan Produk Peternakan (Daging)

Untuk menghasilkan komoditi ternak/ hasil ternak yang memenuhi persyaratan mutu sesuai dengan tuntutan pasar perlu dikembangkan cara-cara pengolahan yang berorientasi pada penerapan teknologi. Kegiatan pengolahan hasil peternakan yang telah berkembang di Sumatera Barat masih dalam skala kecil dan penyebarannya hanya pada daerah/ lokasi tertentu dengan teknologi yang sederhana.

Secara keseluruhan kegiatan yang terdapat dalam program ini capaian kinerjanya sangat baik, hal ini bisa dilihat dari realisasi capaian target indikator sasaran melalui realisasi anggaran sasaran sebesar Rp. 420.888.400,- dari pagu sebesar Rp. 513.000.000,- atau sebesar 82,04% dan reaalisasi fisik : 100 %.

9. Meningkatnya angka kelahiran dan menurunnya angka kematian ternak.

Peningkatan produksi ternak dan jaminan keamanan pangan, peran kesehatan hewan dan kesehatan masyarakat veteriner perlu perhatian yang serius. Apalagi dengan maraknya penularan penyakit ternak saat ini seperti penyakit flu burung/AI, Rabies, SE, Jembrana, Brusellosis, Anthrax, Tetelo, Scabies Orf dan penyakit hewan tidak menular seperti Cacingan, Ganguan reproduksi, defisiensi mineral, Thympani dll. Penyakit-penyakit tersebut sangat berpengaruh terhadap produksi, produktifitas dan reproduktifitas ternak. Melalui Program Pengamanan Sumberdaya Hewani terlihat tingkat capaian yang signifikan.

Indikator capaian kinerja sasaran ini adalah:

a. Jumlah kasus penyakit hewan menular :Rabies turun sebanyak 25 kasus, Flu Burung turun sebanyak 11 jorong, Ngorok/ SE sebanyak 0 kasus klinis, Jembrana sebanyak o kasus klinis dan Antrax sebanyak 0 kasus klinis

(16)

b. Jumlah pelayanan kesehatan ternak : Jumlah penyedia obat hewan sebanyak 4 distributor, Jumlah Pelayanan diagnosa sebanyak 700 ekor Tingkat capaian kinerja pada sasaran ini sebesar 97,69%, keberhasilan pencapaian kinerja sasaran ini karena target indikator sasaran (IKU) tercapai. Pencapaian target masing-masing indikator sasaran dapat dilihat pada Tabel 15 berikut:

Tabel 15 : Pencapaian Kinerja Meningkatnya Angka Kelahiran dan Menurunnya Angka Kematian Ternak

NO INDIKATOR KINERJA TARGET REALISASI PRESENTASI PENCAPAIAN TARGET

TAHUN LALU (2012) 1 Jumlah kasus penyakita

hewan menular:

-Rabies Turun 25

kasus 9 kasus 36% 65%

-Flu burung turun 11

jorong Turun 9jorong 81,82% 115%

-Ngorok/ SE 0 kasus klinis 0 kasus klinis 100% 100%

-Jembrana 0 kasus klinis 0 kasus klinis 100% 100%

-Anthrax 0 kasus klinis 0 kasus klinis 100% 100% b

Jumlah pelayanan kesehatan ternak

-Jumlah penyedia obat

hewan 4 Distributor 4 Distributor 100% 100%

-Jumlah pelayanan

diagnosa 700 ekor 1.300 ekor 185,71% 235% c

Jumlah Pemeriksaan

Salmonella asal hewan 500 sampel 360sampel 72% 142% d

Uji banding BPAH 96 sampel 96 sampel 100% 158%

Pencapaian sasaran ini ditetapkan melalui Program Pengamanan Sumber Daya Hewani dengan dua belas kegiatan yaitu :

a. Peningkatan Pelayanan Laboratorium Kesmavet b. Uji Banding BPAH ke BPPV II Bukittinggi

c. Koordinasi Pengendalian dan Pemberantasan Penyakit Rabies d. Pengawasan Lalulintas Hewan, BAH dan HBAH

e. Pengendalian dan Pemberantasan Penyakit AI/ Flu Burung f. Penanggulangan Penyakit Jembrana

g. Peningkatan pelayanan labor Keswan dan Klinik Hewan h. Pengawasan Obat Hewan

i. Operasional Unit Pelaksana Pengendalian Avian Influenza (AI) Provinsi j. Sosialisasi dan Pengawasan Penyediaan pangan Asal Hewan (PAH) yang

Aman, Sehat, Utuh dan Halal (ASUH) yang Berdaya Saing k. Peningkatan Pelayanan Klinik Hewan Padang

l. Evaluasi dan Pembinaan Hygienis Sanitasi (HS) Unit Usaha Pangan Asal Hewan untuk Memperoleh NKV

Secara keseluruhan kegiatan yang terdapat dalam program ini capaian kinerjanya cukup baik, hal ini bisa dilihat dari realisasi capaian target indikator sasaran melalui realisasi anggaran sasaran ini adalah Rp. 2.468.940.575,- dari pagu sebesar Rp. 2.689.000.000,- atau sebesar 91,82%. dengan realisasi fisik sebesar 97,69 %.

10 Meningkatnya produktivitas ternak melalui penyebaran ternak.

(17)

kepada percepatan pembangunan ekonomi berbasis rumah tangga di nagari, kelurahan dan desa melalui sektor peternakan yang telah dilaksanakan semenjak tahun 2011 yaitu Program Gerakan Terpadu Pensejahteraan Petani (GPP), Satu Petani Satu Sapi dan Integrasi Ternak dengan Tanaman Pertanian/Perkebunan.

Dalam program ini diupayakan petani melakukan diversifikasi usaha. Mereka tidak hanya menjalan satu usaha, bertanam padi saja misalnya, tetapi melakukan usaha terintegrasi dengan peternakan, perikanan, atau perkebunan (integrated farming). Dengan melakukan system integrated farming tersebut tentu pendapatan mereka akan meningkat dan bisa meningkatkan kesejahteraan mereka.

Indikator capaian kinerja sasaran ini adalah tersebarnya ternak dikelompok tani : kelompok sapi potong sebanyak 308 ekor, kelompok sapi perah sebanyak 25 ekor, kelompok kerbau sebanyak 5 ekor.

Tingkat capaian kinerja pada sasaran ini sebesar 100%, keberhasilan pencapaian kinerja sasaran ini karena target indikator sasaran (IKU) tercapai. Pencapaian target masing-masing indikator sasaran dapat dilihat pada Tabel 16 berikut :

Tabel 16 : Pencapaian Kinerja Meningkatnya produktivitas ternak

NO INDIKATOR KINERJA TARGET REALISASI

PRESENTASI PENCAPAIAN TARGET TAHUN LALU (2012) 1. Penyebaran ternak di kelompok tani :

-Kelompok sapi potong 308 ekor 308 ekor 100% 100%

-Kelompok Sapi Perah 25 ekor 25 ekor 100% 100%

-Kelompok Kerbau 5 ekor 5 ekor 100% 100%

Pencapaian sasaran ini ditetapkan melalui Program Pengembangan Satu Petani Satu Sapi dengan tiga kegiatan yaitu :

a. Penyebaran Ternak Sapi

b. Pelatihan Peningkatan manajemen kelompok pada Kawasan Satu Petani Satu Sapi

c. Pengembangan Budidaya Sapi Perah dan Kerbau

Kegiatan yang terdapat dalam program ini capaian kinerjanya sangat baik, hal ini bisa dilihat dari realisasi capaian target indikator sasaran melalui realisasi serapan anggaran adalah Rp. 3.984.127.500,- dari pagu sebesar Rp. 4.302.409.850,- atau sebesar 92,60%. dengan realisasi fisik sebesar 100 %. b. Analisis Kinerja Pelayanan SKPD Dinas Peternakan Sumatera Barat

Penetapan indikator kinerja dimaksudkan untuk memberikan gambaran ukuran keberhasilan pencapaian visi dan misi pembangunan peternakan yang ditunjukan dari akumulasi pencapaian indikator out come program atau indikator capaian kegiatan Indikator kinerja dapat dirumuskan berdasarkan hasil analisis pengaruh dari satu atau lebih capaian kinerja secara makro.

Evaluasi terhadap pelaksanaan kegiatan diamati dari out put yang dicapai dan penyerapan anggaran yang disediakan. Capaian out put dan serapan anggaran mencerminkan kinerja mikro pengelola dalam menjalankan tugas pembangunan peternakan yang telah dijabarkan berdasarkan program dan kegiatan.

(18)

Secara keseluruhan untuk pencapaian target sasaran tidak ditemui masalah namun untuk tetap mempertahankan dan meningkatkan capaian target sasaran kedepan perlu dilakukan beberapa langkah strategis yang dapat ditempuh diantaranya adalah:

a. Meningkatkan promosi dan informasi atas produksi unggulan sektor peternakan baik melalui pameran pembangunan maupun melalui media masa dan elektronik.

b. Mengupayakan UPTD BIB tahun 2014 memperoleh sertifikasi dari Komite Akreditasi Nasional (KAN).

c. Menekan angka inflasi yang disebabkan oleh komoditi peternakan seperti ayam potong, telur dan daging sapi.

1. Sasaran Tersedianya Sarana dan Prasarana yang Cukup terutama Dikawasan Utama Pengembangan Ternak Unggul

Melihat hasil pengukuran dan evaluasi, kinerja pada sasaran ini sebesar 102,72%, dan sasaran ini berhasil dicapai, secara keseluruhan capaian kinerja sasaran dapat terpenuhi karena indikator sasaran melebihi target yang direncanakan. Sasaran yang melebihi target adalah

pada kegiatan optimalisasi produksi semen beku UPTD BIB Tuah Sakato capaian kinerjanya sebesar 108,85%, yang dapat dilihat dari target produksi semen beku sebanyak 100.000 dosis dan terealisasi sebanyak 108.850 dosis.

Secara keseluruhan untuk pencapaian target sasaran tidak ditemui masalah. Namun untuk tetap mempertahankan dan meningkatkan capaian target sasaran kedepan perlu dilakukan beberapa langkah strategis yang dapat ditempuh diantaranya adalah:

a. Perbaikan kualitas dan kuantitas produksi semen beku BIB Tuah Sakato b. Meningkatkan pemanfaatan gedung pusat pelatihan yang ada di UPTD

BIB Tuah Sakato

c. Mengupayakan RPH-M sudah mulai operasional dan memproduksi daging beku tahun 2014.

d. Mengaktifkan kembali SPT Air Runding dengan memperbaiki sarana dan prasarana di SPT tersebut.

e. Menambah bangunan untuk penginapan dan prasana lainnya untuk Gedung Pusat Pelatihan di UPTD BIB Tuah Sakato.

f. Menambah petugas/personil untuk kebersihan dan pengamanan kantor UPTD BIB Tuah Sakato, UPTD RPHM, UPTD BPPMT.

2. Sasaran Terbentuknya Kawasan-Kawasan Utama Pengembangan Ternak Unggul di Sumatera Barat.

Melihat hasil pengukuran dan evaluasi capaian kinerja pada sasaran ini sebesar 137,50%, sehingga pencapaian sasaran ini dapat dikategorikan berhasil mencapai target yang telah ditetapkan.

Secara keseluruhan untuk pencapaian target sasaran tidak ditemui masalah, namun kedepan perlu dilakukan beberapa langkah strategis yang dapat ditempuh diantaranya adalah:

a. Membuat master plan tentang kawasan peternakan berdasarkan ketetapan Provinsi.

b. Menetapkan kawasan sesuai dengan jenis ternak dan kultur budaya masyarakat setempat.

c. Adanya komitmen dari Kabupaten/Kota untuk menetapkan kawasan peternakan melalui Surat Keputusan Bupati/Walikota.

d. Memfasilitasi kelompok-kelompok peternakan di kawasan dengan meningkatkan populasi ternak, perluasan areal hijauan makanan ternak dan pengembangan sumber air.

(19)

3. Sasaran Meningkatnya Pengetahuan, Keterampilan dan Pendidikan Aparatur Pemerintahan di Bidang Peternakan dan Kesehatan Hewan

Merujuk hasil pengukuran kinerja tingkat capaian kinerja pada sasaran ini sebesar 426,67% dan hasil evaluasi yang menilai sasaran ini berhasil dicapai, keberhasilan pencapaian kinerja sasaran ini karena target indikator sasaran (IKU) dapat tercapai melalui pelaksanaan kegiatan Peningkatan Kapasitas SDM Penyuluh Pertanian yang terealisasi sesuai dengan yang ditargetkan yaitu sebanyak 128 orang (426,67%).

Berbagai usaha yang dilaksanakan pemerintah berkenaan dengan penyuluhan dan pelatihan adalah pelaksanaan penyuluhan kepada masyarakat di berbagai kabupaten dan kota di Sumatera Barat baik untuk ternak besar, kecil maupun unggas dengan bekerjasama dengan perguruan tinggi. berbagai pelatihan pemberdayaan ekonomi masyarakat peternakan juga dilakukan dan Pelatihan peningkatan motivasi wirausaha generasi muda peternakan untuk mengembangan pembangunan peternakan di Sumatera Barat.

4. Sasaran Meningkatnya Produktifitas Ternak Melalui Teknologi Peternakan

Hasil Pengukuran dan evaluasi capaian kinerja pada sasaran ini sebesar 123,33% dan sasaran berhasil dicapai dengan sangat baik, keberhasilan Pencapaian kinerja sasaran ini karena semua target indikator sasaran (IKU) tercapai dan bahkan melebihi target yang telah ditetapkan. Hal ini dapat terlihat dari capaian kinerja pelaksanaan embrio transfer yang terealisasi sebanyak 37 akseptor (123,33%) dari target yang ditetapkan sebanyak 30 akseptor.

Untuk mempertahankan dan lebih meningkatkan capaian kinerja tersebut diatas perlu dilakukan upaya-upaya strategis antara lain:

a. Selain Embrio Transfer (ET), perlu melakukan intensifikasi ternak melalui Inseminasi Buatan (IB) dengan meningkatkan jumlah akseptor IB setiap tahun. Dengan semakin intensifnya pelaksanaan IB, maka kualitas dan kuantitas ternak akan ikut meningkat. Kualitas ternak hasil IB akan jauh lebih bagus dari ternak hasil perkawinan alam karena ternak hasil IB merupakan keturunan dari pejantan unggul yang terpilih yang memiliki recording yang jelas jika dibandingkan dengan kualitas ternak dari hasil kawin alam.

b. Melakukan pembinaan terhadap masyarakat berkenaan dengan Inseminasi Buatan (IB), pengawasan terhadap mutu dan handling semen beku.

5. Sasaran Meningkatnya Jumlah kelembagaan Sosial dan Ekonomi Peternakan

Melihat hasil pengukuran dan evaluasi, kinerja pada sasaran ini sebesar 99,85%, dan sasaran ini berhasil dicapai, walaupun ada satu komponen indikator sasaran yang tidak sepenuhnya dapat tercapai.

Indikator kinerja sasaran yang pencapaian kinerjanya tidak sesuai target adalah kegiatan Penilaian dan persiapan lomba agribisnis (kelompok peternakan sapi potong, Kambing, unggas dan petugas teknis) dengan capaian kinerja fisik 83,33%. Tidak maksimalnya pencapaian indikator sasaran di atas disebabkan tidak masuknya kelompok ternak kambing dan unggas dalam penilaian Tim dari Pusat.

Secara keseluruhan untuk pencapaian target sasaran tidak ditemui masalah. Namun untuk tetap mempertahankan dan meningkatkan capaian target sasaran kedepan perlu dilakukan beberapa langkah strategis yang dapat ditempuh diantaranya adalah:

(20)

a. Melakukan berbagai kegiatan dengan melakukan pembinaan dan pelatihan kepada kelompok ternak dan usaha tani agribisnis dalam meningkatkan hasil usaha tani

b. Meningkatkan peran lembaga/asosiasi-asosiasi bidang peternakan

c. Membuka peluang investasi bagi produk-produk olahan peternakan seperti pengolahan daging untuk dijadikan rending, dendeng, bakso dan abon.

d. Membuka akses permodalan dengan membuka kerja sama dengan pihak perbankan dan swasta.

6. Sasaran Meningkatnya Produksi dan atau Harga Produk Peternakan

Hasil pengukuran dan evaluasi, capaian kinerja pada sasaran ini sebesar 100% dan sasaran berhasil dicapai dengan sangat baik, keberhasilan Pencapaian kinerja sasaran ini karena semua target indikator sasaran (IKU) tercapai.

Secara keseluruhan kegiatan yang terdapat dalam program-program dan ditetapkan untuk pencapaian sasaran ini capaian kinerjanya sangat baik (100%).

Keberhasilan pencapaian sasaran ini juga atas kontribusi dan partisipasi kalangan dunia usaha terutama usaha di bidang peternakan sapi potong, ayam ras pedaging dan ayam ras petelur.

Sehubungan dengan hal tersebut diatas maka kedepan perlu dilakukan upaya-upaya strategis untuk lebih memaksimalkan capaian kinerja antara lain:

a. Peningkatan produksi ternak dengan mengoptimalkan sumber daya lokal b. Peningkatan kuantitas dan kualitas benih dan bibit dengan

mengoptimalkan sumber daya lokal

c. Peningkatan produksi pakan ternak dengan pendayagunaan sumber daya lokal

d. Penyelamatan Sapi/Kerbau Betina Produktif.

7. Sasaran Meningkatnya Jenis dan Mutu Produk Pasca Panen dan

Pengolahan Hasil

Hasil pengukuran dan evaluasi, capaian kinerja pada sasaran ini sebesar 100% dan sasaran berhasil dicapai dengan sangat baik, keberhasilan Pencapaian kinerja sasaran ini karena semua target indikator sasaran (IKU) tercapai.

Secara keseluruhan kegiatan yang terdapat dalam program ini capaian kinerjanya sangat baik, hal ini bisa dilihat dari realisasi capaian target indikator sasaran melalui hasil dan capaian indikator kinerja kegiatan yang terealisasi 100%.

Sehubungan dengan hal tersebut diatas maka kedepan perlu dilakukan upaya-upaya strategis untuk lebih memaksimalkan capaian kinerja antara lain:

a. Melakukan berbagai usaha dalam mendorong pengolahan hasil produk peternakan pasca panen antara lain adalah pengembangan dan pembinaan agroindustri pedesaan.

b. Pelaksanaan penjaminan mutu produk, labelisasi produk olahan hasil peternakan dan melakukan sosialisasi konsumsi daging ayam potong ASUH.

8. Sasaran Meningkatnya angka kelahiran dan menurunnya angka

kematian ternak

Melihat hasil pengukuran dan evaluasi, kinerja pada sasaran ini sebesar 97,69%, dan sasaran ini berhasil dicapai, walaupun ada satu komponen indikator sasaran yang tidak sepenuhnya dapat tercapai.

(21)

Indikator kinerja sasaran yang pencapaian kinerjanya tidak sesuai target adalah :

a. Kegiatan Pengawasan Lalulintas Hewan, BAH dan HBAH, dimana capaian kinerja fisiknya sebesar 85 % Hal ini disebabkan karena tidak dilakukan Pelayanan Tindak Medik dan Jaga di pintu check point Kabupaten 50 Kota.

b. Pengawasan Obat Hewan realisasi fisik Pada kegiatan Pengawasan Obat Hewan realisasi fisik 91,25 %. Hal ini disebabkan jumlah sampel obat2-an yobat2-ang dikirim ke BPMSOH tidak sesuai dengobat2-an target yobat2-ang telah ditetapkan

c. Pada kegiatan Sosialisasi dan Pengawasan Penyediaan pangan Asal Hewan (PAH) yang Aman, Sehat, Utuh dan Halal (ASUH) realisasi fisik 85%. Hal ini disebabkan karena keterlambatan realisasi cetak dan penggandaan leaflet untuk Sosialisasi dan Pengawasan Penyediaan pangan Asal Hewan (PAH) yang Aman, Sehat, Utuh dan Halal (ASUH). Sehubungan dengan hal tersebut diatas maka kedepan perlu dilakukan

upaya-upaya strategis untuk lebih memaksimalkan capaian kinerja antara lain:

a. Meningkatkan pengawasan dan penertiban lalu lintas ternak dari dan ke Provinsi Sumatera Barat. Pengawasan dilakukan pada wilayah-wilayah rawan yang dilintasi ternak baik itu ternak yang dipasok ke Provinsi Sumatera Barat.

b. Meningkatkan derajat kesehatan ternak dan masyarakat veteriner dengan melakukan pemantauan, pengamatan, pemberantasan terhadap penyakit hewan menular.

c. Melakukan pembinaan kepada unit usaha Pangan Asal Hewan untuk mendapatkan sertifikat NKV.

9. Sasaran Meningkatnya Produktifitas Ternak Melalui Penyebaran

Ternak

Hasil pengukuran dan evaluasi, capaian kinerja pada sasaran ini sebesar 100% dan sasaran berhasil dicapai dengan sangat baik, keberhasilan Pencapaian kinerja sasaran ini karena semua target indikator sasaran (IKU) tercapai.

Secara keseluruhan kegiatan yang terdapat dalam program ini capaian kinerjanya sangat baik, hal ini bisa dilihat dari realisasi capaian target indikator sasaran melalui hasil dan capaian indikator kinerja kegiatan yang terealisasi 100%.

Sehubungan dengan hal tersebut diatas maka untuk masa yang akan datang masih diperlukan bantuan ternak kepada masyarakat, guna meningkatkan pendapatan dan kesejahteraan masyarakat.

Untuk mencapai sasaran tersebut di atas pada tahun 2013 Dinas Peternakan Provinsi Sumatera Barat dialokasikan Anggaran Pembangunan Peternakan setelah perubahan adalah sebesar Rp. 48.133.308.468,- dengan realisasi Rp. 44.351.586.780,- (92,14%) dan realisasi fisik 98,76% terdiri dari :

a. Belanja Tidak Langsung sebesar Rp. 10.313.562.488,- dengan realisasi sebesar Rp. 9.822.290.783,- (95,24%), dan realisasi fisik 95,24 % terdiri dari :

- Gaji dan Tunjangan sebesar Rp. 7.758.781.488,- dengan realisasi Rp. 7.347.477.890,- (94,70%) dan realisasi fisik 94,70%

- Tambahan Penghasilan PNS sebesar Rp. 2.536.346.000,- dengan realisasi Rp. 2.456.377.893,- (96,85%) dan realisasi fisik 96,85%

- Insentif Pemungutan dengan dana sebesar Rp. 18.435.000,- dengan realisasi Rp. 18.435.000,- (100%) dan realisasi fisik 100%

(22)

b. Belanja Langsung sebesar Rp. 37.819.745.980,- dengan realisasi Rp. 34.529.295.997,- (91,30%), dan realisasi fisik 99,72% terdiri dari 15 (lima belas) program yaitu 5 (lima) program belanja langsung rutin dan 10 (sepuluh) program belanja langsung urusan pilihan (pertanian).

Untuk keberlanjutan pembangunan peternakan, disusunlah Rencana Kerja (Renja) Dinas Peternakan Provinsi Sumatera Barat Tahun 2014 dan selanjutnya setelah pembahasan bersama antara Tim Anggaran Pemerintah Daerah (TAPD) dengan DPRD Sumatera Barat ditetapkan menjadi APBD Provinsi Sumatera Barat Tahun 2014 yang mencantumkan Program/Kegiatan Pembangunan Daerah Sumatera Barat Tahun 2014 yang salah satunya kegiatan pembangunan peternakan Sumatera Barat Tahun 2014 dengan alokasi dana sebesar 43.652.413.480.- dengan rincian sebagai berikut :

No. Program Jumlah Dana Keterangan

1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14

Pelayanan Adm Perkantoran

Peningkatan Sarana Prasarana Aparatur

Peningkatan Disiplin Aparatur

Peningkatan Kapasitas Sumberdaya Aparatur

Peningkatan Pengembangan Sistem Pelaporan Capaian Kinerja

Peningkatan Pemasaran Hasil Produksi Pertanian

Penyediaan Sarana Prasarana Pembangunan Pertanian

Pengembangan Kawasan Sentra Produksi Pertanian

Pengembangan Teknologi Informasi Pertanian dan Penerapan Teknologi Pertanian Tepat Guna

Peningkatan Kapasitas Kelembagaan dan SDM Pertanian

Peningkatan Produksi dan Mutu Pertanian secara Berkelanjutan

Peningkatan Nilai Tambah Daya Saing Produksi Pertanian

Pengamanan Sumberdaya Hewani Pengembangan Satu Petani Satu Sapi

1.741.254.980 2.145.433.000 54.600.000 159.562.000 787.440.000 1.330.060.000 7.133.485.000 929.800.000 291.459.000 3.546.856.000 19.904.859.500 362.000.000 2.381.164.000 2.877.440.000 Sumber dana APBD 2014 Jumlah 43.652.413.000

c. Issu Strategis dalam Penyelenggaraan Tugas dan Fungsi Pembangunan Peternakan

Penataan organisasi yang tepat dan pengelolaan sesuai tugas pokok dan fungsi akan memberikan dampak positif terhadap keberhasilan kegiatan yang dilaksanakan. Mekanisme pengawasan sekaligus jalur pembinaan terhadap implementasi kegiatan berdasarkan program dan anggaran kinerja adalah : 1. Gubernur Sumatera Barat sebagai perwakilan pemerintah didaerah/penerima

penugasan dana Tugas Perbantuan bertanggung jawab terhadap keberhasilan program dan anggaran kinerja pengembangan pengolahan dan pemasaran hasil peternakan serta berkewajiban melaksanakan pengendalian dan evaluasi anggaran kinerja.

2. Kepala Dinas Peternakan Provinsi Sumatera Barat (sebagai Satker) merupakan penanggung jawab/pengguna anggaran berkewajiban

(23)

melaksanakan dan melaporkan kegiatan sesuai ketentuan perundangan yang berlaku.

3. Kepala Bidang/UPTD merupakan penanggung jawab kegiatan harus melaksanakan kegiatan berdasarkan DPA –SKPD Dinas Peternakan Sumatera Barat serta ketentuan yang berlaku sekaligus melaporkan secara berkala kepada Kepala Dinas Peternakan Propinsi Sumatera Barat.

Dalam mendukung sistem anggaran kinerja dan good govermance, tatakerja yang harmonis menjadi prioritas agar pelaksanaan program dan kegiatan sesuai dengan sasaran dan target yang ditetapkan, alokasi kegiatan pembangunan peternakan di Sumatera Barat pelaksanaannya baik fisik maupun keuangan di Kabupaten dan Kota dengan tetap dibawah koordinasi Pemerintah Propinsi Sumatera Barat (Dinas Peternakan) sehingga akan dapat memantapkan perencanaan, pelaksanaan, koordinasi teknis, dan pengendalian kegiatan..

Dengan demikian dalam pelaksanaan kegiatan agar sesuai dengan sasaran yang ditetapkan maka pengendalian dan pengawasan harus dilaksanakan secara terkoordinior dan terpadu antara Kabupaten/Kota dan Propinsi dalam upaya meningkatkan transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan kegiatan yang harus dipertanggung jawabkan kepada masyarakat. Kegiatan evaluasi dilaksanakan dalam rangka mengevaluasi kinerja kegiatan pembangunan peternakan dengan memperhatikan peraturan-peraturan dan berbagai acuan lainnya, baik yang dikeluarkan pemerintah oleh pusat maupun pemerintah daerah.

1) Permasalahan

1. Penurunan populasi ternak sapi potong karena berkurangnya ketersedian betina produktif akibat ; 1) Peningkatan pemotongan dan pengeluaran betina produktif, 2) Gangguan/ kegagalan reproduksi, 3) Tingginya permintaan ternak dan daging dari dalam dan luar daerah

2. Rendahnya penanganan reproduksi

3. Penurunan produktifitas dan reproduktifitas ternak sapi akibat ; 1) Kurang dalam pengelolaan dan penanganan pakan ternak, 2) Penanganan ternak lokal yang masih dikelola secara tradisional (pemeliharaan yang ektensif/dilepas) yang berdampak terhadap penurunan performan (berat, tinggi, efisiensi reproduksi), 3) Rendahnya penanganan reproduksi ternak.

4. Ancaman terhadap mewabahnya penyakit hewan menular akibat ; penyebaran melalui 1) lalulintas ternak, 2) daging & ternak impor 3) endemik (SE, dan Jembrana)

5. Infrastruktur peternakan masih kurang belum mampu mendukung perkembangan sub sektor peternakan seperti ; 1) Puskeswan dan fasilitasnya, 2) Pos IB beserta fasilitasnya, 3) Alat dan mesin peternakan, 4) Padang pengembalaan dan kebun hijauan makanan ternak (HMT), 5) Penanganan sumber air, 6) jalan sebagai sarana transportasi di kawasan peternakan/kawasan industri peternakan,

6. Penanganan pasca panen belum ditangani secara maksimal serta belum memenuhi standar NKV (Nomor Kontrol Veteriner), Good Manufactoring Practice (GMP) dan lain-lain.

7. Penanganan pasca panen yang belum optimal sehingga kebutuhan produk unggas (daging & telur) untuk kebutuhan Hotel/Restoran Waralaba masih didatangkan dari luar.

8. Ancaman penyakit hewan menular (Flu Burung/AI) dan Industri perunggasan menghadapi tantangan karena pemberitaan wabah AI yang berlebihan, tidak diimbangi dengan pemberitaan keamanan mengkonsumsi produk unggas.

9. Bahan baku pakan masih tergantung dari luar, sementara pemanfaatan bahan baku lokal belum optimal karena ketersediaanya sporadis/musiman/tidak kontinue.

(24)

11. Posisi tawar peternak dalam pemasaran sangat lemah

12. Akses peternak/pelaku agribisnis terhadap sumber permodalan sangat terbatas

Dengan memperhatikan kondisi objektif sertai masukan dari stake holder yang menangani fungsi peternakan diketahui peluang dan ancaman bagi sektor pembangunan peternakan Sumatera Barat sebagai berikut :

Peluang

1. Ketersediaan Pasar Lokal, Regional dan Internasional Yang Menampung Produk Peternakan

2. Terbukanya Akses ke Pertumbuhan Segitiga Sijori, IMS-GT, IMT-GT 3. Ketersediaan Tenaga Kerja

4. Pengembangan Bioteknologi Dengan Lembaga Pendukung (BET, LIPI PT ) 5. Sinergitas 6 (enam) SKPD lingkup pemerintahan propinsi Sumatera Barat 6. Minat investor berinvestasi pada sub sektor peternakan di Sumatera Barat

cukup tinggi

7. Adanya dukungan dari Kementrian PDT dan CSR dari Perusahaan. 8. Kredit Program ( Kredit Ketahanan Pangan dan Energi dan KUPS )

9. Adanya lahan Padang pengembalaan pada SPT Air Runding ( 500 Ha ) milik Pemerintah propinsi Sumatera Barat

10. Tersedia Perkebunan Kelapa Sawit,kakau,Sayuran dan limbah produk pertanian lainnya untuk diintegrasikan dengan peternakan sapi. 11. Tersedianya tenaga kerja terdidik.

Tantangan

1. Masuknya wabah penyakit

2. Pemotongan ternak betina produktif (sapi/kerbau)

3. Otonomi daerah menyebabkan terjadinya persaingan antar propinsi. 4. Berkembangnya teknologi di propinsi tetangga.

5. Masuknya daging dan sapi impor

6. Masih kurangnya komintmen dan dukungan sebagian Pemerintah Kab/Kota,

7. Semakin meningkatnya tuntutan masyasyarakat akan daging ASUH

Faktor strategis daerah pada dasarnya merupakan unsur penting yang dapat dimanfaatkan untuk mendorong proses pembangunan daerah yang secara alamiah memiliki potensi lebih dibandingkan daerah lain. Jika faktor strategis tersebut dapat dimanfaatkan dengan baik dan tepat maka hal ini akan dapat mempercepat proses pencapaian tujuan pembangunan daerah yaitu meningkatnya kemakmuran masyarakat secara keseluruhan. Isu-isu pokok pembangunan peternakan yang bersifat strategis yang dimiliki oleh Provinsi Sumatera Barat dewasa ini meliputi :

1. Swasembada daging tahun 2014 2. Penghentian import sapi dari Australia

3. Penurunan data populasi sapi/kerbau berdasarkan hasil Sensus Sapi/Kerbau oleh Badan Pusat Statistik (BPS) tahun 2011

4. Berjangkitnya wabah penyakit hewan menular (Flu Burung dan Rabies) 5. Kenaikan harga daging sapi/kerbau

6. Kalah bersaingnya usaha peternakan sapi dalam negeri dibanding Australia/New Zealand

7. Tingginya animo masyarakat dalam merespon Program Satu Petani Satu Sapi 8. Fluktuasi harga jual ayam broiler

9. Managemen pemasaran sapi potong sangat merugikan peternak

10. Semakin meningkatnya Penganggur Terdidik ( Sarjana Peternakan dan D3 Peternakan)

d. Rancangan Awal Rencana Kerja atau RKPD Tahun 2013

Penyusunan program kegiatan pembangunan mengacu pada Permendagri Nomor 54 tahun 2010 tentang pelaksanaan Peraturan Pemerintah Nomor 8

(25)

Tahun 2008 tentang Tahapan, Tata Cara Penyusunan, Pengendalian dan Evaluasi Pelaksanaan Rencana Pembangunan Daerah. Mekanisme perencanaan pembangunan daerah dituntut untuk mengedepankan pendekatan perencanaan pembangunan partisipatif (participatory planning) dengan tetap memperhatikan program pembangunan secara nasionaal sehingga akan tercipta keseimbangan perencanaan atau Atas bawah (top-down); dan Bawah atas (bottom-up).

Proses perencanaan pembangunan terdiri dari empat (4) tahapan yakni : a. Penyusunan rencana;

b. Penetapan rencana;

c. Pengendalian pelaksanaan rencana; dan d. Evaluasi pelaksanaan rencana;

Mengacu pada Rentra Dinas Peternakan Sumatera Barat 2010 – 2015 ditetapkan program prioritas pembangunan peternakan tahun 2013 dalam upaya meminimalkan dan menyelesaikan permasalahan yang dihadapi dengan mempertimbangkan keuangan sistem penganggaran Pemerintah Sumatera Barat. Berdasarkan program prioritas disusunlah kebutuhan anggaran dalam penyelenggaraan pembangunan peternakan Sumatera Barat yaitu sebesar Rp. 28.741.105.000,- yang diimplementasikan pada 15 program pembangunan daerah. Program kegiatan tersebut disempurnakan dan dikoordinasikan dengan Dinas Peternakan Kab/Kota, instansi terkait dan stoke holder dalam forum Musyawarah Perencanaan Pembangunan (Musrembang) Peternakan Sumatera Barat. Kemudian dilakukan pembahasan pada tingkat TAPD dan DPRD Sumatera Barat sehingga ditetapkan KUA – PPAS APBD Tahun 2013, selanjutnya dilakukan penyempurnaan program dan kegiatan agar lebih aplikatif serta lebih operasional disertai rencana anggaran biaya yang tertuang dalam DPA-SKPD Dinas Peternakan Sumatera Barat Tahun 2013 dengan total anggaran sebesar Rp. 38.049.129.980,- untuk pelaksanaan 15 program pembangunan daerah. Pada tahun berjalan ditemui permasalahan dilapangan yang harus segera disikapi maka dilakukan perubahan/ dan pergeseran kegiatan dan alokasikan anggaran pada APBD Perubahan tahun 2013 sehingga anggaran pembangunan peternakan berubah menjadi Rp.

37.819.745.980,-e. Penelaahan Usulan Program dan Kegiatan

Dalam upaya percepatan pembangunan peternakan Sumatera Barat, peran kelembagaan dan organisasi lebih dominan sehingga terciptanya sinergitas kelembagaan baik secara vertikal (pemerintah dan daerah) maupun antar kab/kota dalam propinsi Sumatera Barat yang akan melahirkan proses perencanaan dan pelaksanaan pembangunan peternakan secara berkesinambungan. Secara bertahap menjadi prioritas pada kebijakan pembangunan peternakan serta sudah merupakan komitmen yang harus diwujudkan. Sebagai langkah strategis dalam mewujudkannya usulan dan penyusunan program/kegiatan dari bidang/UPTD, Kab/Kota dan stoke holder harus berdasarkan Rentra Dinas Peternakan Sumatera Barat, dapat mengatasi atau meminimalisasi permasalahan serta bersifat pengungkit/memotivasi peternak/kelompok usaha peternakan.

Mencermati perkembangan pembangunan subsektor peternakan yang dinamis serta perubahan peraturan pemerintah dibidang peternakan maka untuk terbangunnya sistem perencanaan dan pembangunan peternakan Sumatera Barat yang handal dan mandiri dalam mensejahterakan masyarakat khususnya pada sub sektor peternakan harus mempertimbangkan beberapa aspek yaitu : 1. Perencanaan Strategis Kelembagaan dan Organisasi

Sangat diperlukan penguatan dan pengembangan kapasitas kelembagaan dan aparatur Dinas Peternakan Propinsi Sumatera Barat menuju pembangunan peternakan yang mandiri

2. Perencanaan Strategis pengembangan dan pembangunan Bina Kesehatan Hewan dan Kesehatan Masyarakat Veteriner

(26)

a. Perlunya perencanaan progran dan kebijakan dalam mengantisipasi keterbukaan ekonomi dan perdagangan mendorong lalu lintas produk peternakan dan penyakit hewan yang meningkat

b. Perlunya optimasilisasi pemanfaatan dan pemberian pelayanan serta pengawasan obat hewan untuk kepentingan pembangunan peterakan c. Diperlukan penjaminan kesehatan masyarakat terhadap terjangkitnya

berbagai penyakit hewan

3. Perencanaan Strategis Bina Usaha, pengolahan dan pemasaran hasil Peternakan

a. Perlunya dorongan menjadikan peternakan sebagai usaha sampingan menjadi usaha utama masyarakat pertanian

b. Perlunya pengendalian tata niaga peternakan yang lebih profesional dan moderen

c. Perlunya peningkatan nilai tukar petani ternak di pasar peternakan d. Perlunya aksesibilitas petani ternak terhadap permodalan yang mudah

menuju kemandirian ekonomi.

e. Perlu menjadikan aspek sosial budaya masyarakat sebagai daya tarik investasi peternakan di Sumatera Barat

f. Perlunya pengembangan sistem informasi, promosi peternakan secara profesional dalam rangka meningkatkan kesejahteraan dan kemandirian masyarakat

g. Perlunya perubahan cara pandang pelaku peternakan dalam Pengembangan usaha peternakan yang lebih profesional dalam menjalankan program-program kerja peternakan dari pemerintah.

h. Perlunya sistem pengelolaan pasca panen peternakan secara profesional dan moderen

i. Perlunya Aneka produk peternakan asal hewan pada umumnya belum memiliki standardisasi

j. Diperlukan suatu unit/lembaga dalam menjaga kestabilan harga produk-produk utama peternakan

4. Perencanaan Strategis Pengembangan Produksi Peternakan

a. Perlu perencanaan kebijakan dalam pengelolaan lahan guna pemenuhan kebutuhan pakan secara berkesinambungan

b. Perlu perencanaan pemanfaatan lahan tidur untuk kebutuhan peternakan

c. Perlunya pembangunan dan pengembangan Peralatan kebutuhan perbibitan untuk mengurangi jumlah diimpor dari daerah lain dimasa datang.

d. Perlu pengoptimalan pemanfaatan sarana dan fasilitas perbibitan di Sumatera Barat

e. Diperlukannya pembatasan kebijakan impor peternakan

f. Perlu perencanaan kebijakan dalam pembatasan dan aturan pemotongan sapi betina produktif di Sumbar dalam usaha menuju SWASEMBADA DAGING SAPI 2014

5. Perencanaan Strategis penyuluhan dan Pengembangan kawasan

a. Perlunya optimalisasi dalam pemberdayaan sarjana dan pelaku usaha peternakan lainnya menjadi lebih mandiri dan profesional

b. Perlunya implementasi kebijakan pengembangan kawasan peternakan dengan baik

(27)

c. Perlunya perencanaan dalam optimalisasi penggunaan sarana dan prasarana peternakan secara profesional dan mandiri.

Gambar

Tabel 7.  Pencapaian Kinerja Sasaran Tercapainya Ketersediaan Pangan Asal Hewan (Daging, Telur, Susu) Tahun  2015
Tabel 9 : Pencapaian  Kinerja  Sasaran Tersedianya  Kawasan  Sentra Produksi Peternakan
Tabel 10 : Pencapaian  Kinerja  Sasaran Meningkatnya  Pengetahuan, Keterampilan Dan Pendidikan Aparatur Pemerintahan Dibidang Peternakan Dan Kesehatan Hewan
Tabel 12 : Pencapaian Kinerja Sasaran Meningkatnya Jumlah Kelembagaan Sosial dan Ekonomi Peternakan
+5

Referensi

Dokumen terkait

Berdasarkan permasalahan di atas, dengan menggunakan media audio visual dapat dipandang cocok digunakan sebagai salah satu alternatif dalam proses pembelajaran IPS

Sedangkan menurut Prayudi Atmosudirjo (1998:107), kepribadian sekretaris yang baik yaitu ’’Bersikap Sumeah’’ (Simpatik, menyenangkan hati, menawan), pandai

Pendapat tertinggi terjadi pada item kerjasama antara perusahaan kami dan pemasok dapat meningkatkan hubungan berkelanjutan dengan jumlah mean sebesar 3,97 dalam

Indikator mutu area manajerial adalah cara untuk menilai mutu atau kualitas dari suatu kegiatan dalam hal ini mutu pelayanan di rumah sakit yang

Melalui penerapan metode pembelajaran Problem Solving berbantuan media audio bisa memperlihatkan kepada siswa bahwa mata pelajaran IPS pada dasarnya merupakan cara

(Manumpil, 2015), maka dari itu peran orang tua sangatlah penting dalam kegiatan pembelajaran anak yang menggunakan gadget saat ini. Gadget yang pemakaianya terlalu

a) Mengumpulkan data dan bahan untuk penyusunan kegiatan Sub. Bidang Data Informasi PUG dan Anak sesuai dengan urusan. b) Menyiapkan bahan kebijakan pelaksanaan urusan. c)

[r]