4. ANALISIS DAN PEMBAHASAN
4.1 Gambaran Umum Perusahaan 4.1.1 Sejarah Perusahaan
PT. Papasamsu adalah sebuah perusahaan distributor yang bergerak dibidang hasil industry makanan dan hygiene. Pada mulanya perusahaan ini berdiri dengan nama Toko Karya Remaja pada 28 Oktober 1978 di Kalimantan, Sampit. Setelah berdiri mulai 1983, Toko Karya Remaja dipercaya untuk melakukan distribusi hasil industry makanan sekaligus barang-barang hygiene. Semakin berkembangnya waktu Toko Karya Remaja membuka berbagai cabang di daerah Kalimantan. Pada tahun 1992 membuka cabang di Pangkalan Bun, tahun 1995 membuka cabang di Palangkaraya, dan tahun 1998 membuka cabang di Depo Kerengpangi.
Karena sudah ada jaringan dan cabang di berbagai daerah, Toko Karya Remaja memulai fokus sendiri dalam bidang distributor dan merubah namanya menjadi PT. Papasamsu, pada tanggal 1 Mei 1999. Untuk memperkuat PT. Papasamsu maka Surjapati Kurnia selaku pemilik perusahaan mengajak berbagai teman dan saudara untuk membangun bisnis ini sehingga kekuatan finansialnya menjadi besar. Hal ini dikarenakan PT. Papasamsu sudah berbentuk multi-kota, dimana mempunyai cabang dan jaringan di berbagai daerah. Barang-barang yang didistribusikan antara lain minyak goreng dan margarine yang diperoleh dari PT. Salim Ivomas Pratama. Selain itu, barang yang dipasarkan juga ada susu, makanan bayi, kopi, dan permen dari PT. Nestle Indonesia, dan masih banyak barang lainnya.
Pada tahun 2001, head office PT. Papasamsu berpindah dari Sampit ke Surabaya. Hal ini terjadi karena saat itu ada kerusuhan yang terjadi di Sampit, yang membuat aktifitas perusahaan tidak berjalan sama sekali. Karena fasilitas internet, perbankan, dan kredit lebih mudah di Surabaya akhirnya head office-nya tetap menetap di Surabaya sampai sekarang.
45 4.1.2 Visi dan Misi Perusahaan
Visi dari PT. Papasamsu adalah :
“Menjadi Distribusi Company yang bisa Mengcover Regional” Misi dari PT. Papasamsu adalah :
“Memperbesar Perusahaan dan Maju Bersama dengan All Karyawan”
4.1.3 Tujuan Perusahaan
Tujuan dari dari perusahaan PT. Papasamsu yang terutama untuk mencari profit. Namun, tidak hanya itu saja PT. Papasamsu berusaha untuk mengembangkan perusahaannya lebih lagi, untuk sementara jangka regional yang perlu di cover, tapi jangka panjangnya PT. Papasamsu berusaha untuk menjangkau skala nasional.
Gambar 4.1 Struktur Organisasi PT. Papasamsu Sumber : PT. Papasamsu
4.1.4 Struktur Organisasi PT. Papasamsu
Struktur organisasi dari PT. Papasamsu yang digunakan adalah garis lurus dimana wewenang mengalir dari atas menuju ke bawah. Struktur organisasi ini menunjukkan kerangka dari organisasi, dan hubungan serta tanggung jawab dan wewenang masing-masing anggota dalam organisasi. struktur tersebut bisa dilihat pada gambar 4.1 di bawah ini.
(*) Pak Surjapati Kurnia merangkap sebagai komisaris sekaligus marketing manager
47
Adapun peran, tanggung jawab, dan wewenang dari masing-masing anggota organisasi adalah sebagai berikut :
1. Komisaris
Komisaris berada pada tingkatan tertinggi mempunyai peran mengawasi dan menilai pekerjaan direktur, serta menentukan kebijakan perusahaan.
2. Direktur
Direktur berfungsi untuk memimpin dan mengelola perusahaan, serta bertanggung jawab atas kelangsungan hidup perusahaan. Selain itu, direktur juga mewakili perusahaan dalam berhubungan dengan pihak luar.
Disini direktur langsung mewakili beberapa manajer dibawahnya, adapun tugas dan wewenangnya masing-masing adalah sebagai berikut:
a. Marketing Manager
Merencanakan dan melakukan kegiatan pemasaran.
Menentukan kebijakan penjualan produk dan menyusun rencana penjualan,
Melakukan riset pasar secara berkala.
Membawahi Area Operasional Manager yang berada di daerah Kalimantan. Disini Area Operasional Manager yang berada di daerah Kalimantan membawahi Sales Supervisor dan Kepala Gudang. Sales Supervisor membawahi senior sales yang berada di daerahnya masing-masing. Sedangkan kepala gudang bertugas menjaga barang di gudang dan mengatur keluar masuk barang yang ada di gudang.
b. Accounting Manager
Menyusun laporan keuangan dan operasional secara periodic. Melakukan penggolongan dan pencatatan atas
transaksi-transaksi yang dilakukan.
Membawahi assisten accounting manager yang mempunyai hubungan dengan pihak luar.
c. Financial Manager
Mengelola keuangan perusahaan.
Melakukan pengawasan terhadap penggunaan uang perusahaan.
Memberikan informasi yang diperlukan sehubungan dengan keadaan keuangan perusahaan.
Melakukan pencatatan keuangan perusahaan. Membawahi bagian purchasing dan kasir. d. IT Manager
Membuat sistem informasi manajemen perusahaan.
Melakukan maintenance sistem yang ada di dalam perusahaan jika ada perubahan.
Membuat database perusahan dan menghubungkan database kantor pusat dan kantor perwakilan di berbagai daerah.
Membawahi bagian office manager. 4.1.5 Budaya Perusahaan
PT. Papasamsu adalah sebuah perusahaan distribusi yang bergerak di bidang industri makanan dan hygiene. Perusahaan ini tidak terlalu besar, sehingga budaya yang terlihat dalam perusahaan tersebut masih terlihat budaya kekeluargaannya. Hal ini terlihat bagaimana antara satu karyawan dengan karyawan lain bisa berinteraksi dengan baik dan ramah, tidak jarang pada saat sela-sela pekerjaan terdapat candaan antara karyawan satu dengan lain. Hasilnya suasana yang ditimbulkan dalam perusahaan tersebut semakin dekat dan bisa bekerja dengan tidak berada di bawah tekanan. Selain itu, hubungan antara tingkatan atas dan bawah juga terjalin dengan baik. Hal ini terlihat bagaimana direktur dari PT. Papasamsu berinteraksi dengan karyawan di bawahnya dengan baik, dimana direktur kerap mendatangi meja mereka dan saling mengobrol antara satu dengan yang lain. Dari hal tersebut, bisa terlihat bahwa budaya yang
49
dikembangkan dalam perusahaan kental sekali dengan kekeluargaannya. Memang hal ini ditunjang bahwa PT. Papasamsu merupakan suatu perusahaan keluarga yang pengelolaannya masih bergantung pada keluarga.
Walaupun perusahaan ini tidak terlalu besar dan masih terlihat budaya kekeluargaannya, perusahaan ini menerapakan kedisiplinan yang cukup tinggi. Sebagai contoh mengenai batas keterlambatan yang diterapkan adalah 5 menit. Hal ini ditunjang dengan pemakaian finger
print untuk absensi. Sehingga tidak akan ada kecurangan dalam absensi
tersebut, karena sudah disesuaikan dengan batas keterlambatan yang ada. PT. Papasamsu berusaha untuk menerapkan pada setiap karyawannya bahwa kedisiplinan itu penting. Dengan dihargainya disiplin maka setiap pekerjaan bisa terselesaikan dengan baik dan tepat waktu.
Selain itu, PT. Papasamsu merupakan perusahaan dimana sesuai misinya berusaha untuk mengajak semua karyawannya maju untuk menjadi berhasil bersama. Perusahaan melihat bagaimana kontribusi setiap orangnya jika orang tersebut mau maju dan memberikan kontribusi baik maka ia juga akan mendapat reward yang besar. Menurut Pak Surjapati sistem perusahaannya berdasarkan kontribusi dari tiap karyawan, beliau akan menghargai karyawan yang memberikan kontribusi besar bagi perusahaan sehingga perusahaan dan karyawan sama-sama maju.
Penulis mendapatkan budaya dari perusahaan ini melalui hasil wawancara dengan Pak Pudji dan observasi langsung pada perusahaan tersebut.
4.2 PT. Papasamsu Sebagai Perusahaan Keluarga
Menurut beberapa ahli, definisi dari perusahaan keluarga adalah perusahaan yang dimiliki dan dikelola oleh anggota keluarga dan pengambilan keputusan, kebijaksanaan maupun penyusunan strategi dan kegiatan bisnis dilakukan oleh anggota keluarga, dan ada dua atau lebih anggota keluarga yang mengawasi keuangan perusahaan. Hal ini sesuai dengan kondisi PT. Papasamsu saat ini, dimana setiap keputusan dan kebijakan yang penting
diambil alih secara langsung oleh pemilik atau komisaris dalam perusahaan ini. Selain itu, bagian keuangan dalam perusahan atau posisi finance manager dipegang oleh istri dari pemilik. Menurut, Pak Surjapati selaku komisaris posisi finance manager harus dipegang oleh istrinya karena beliau lebih percaya pada istrinya dibanding apabila posisi tersebut dipegang oleh pihak bukan anggota keluarga dari beliau. Hal ini dikarenakan keuangan memegang kunci yang penting dalam perusahaan, sehingga bagian keuangan lebih banyak dipercayakan pada anggota keluarga dari beliau.
Menurut Susanto, ada 2 jenis perusahaan keluarga yaitu Family Owned
Enterprise (FOE), dan Family Business Enterprise (FBE). Family Owned Enterprise (FOE), yaitu perusahaan yang dimiliki oleh keluarga tetapi
dikelola oleh eksekutif professional yang berasal dari luar lingkaran keluarga. Dalam hal ini keluarga berperan sebagai pemilik dan tidak melibatkan diri dalam operasi di lapangan agar pengelolaan perusahaan berjalan secara professional. Sedangkan Family Business Enterprise (FBE), yaitu perusahaan yang dimiliki dan dikelola oleh anggota keluarga pendirinya. Baik kepemimpinan maupun pengelolaannya dipegang oleh pihak yang sama yaitu keluarga. Perusahaan keluarga tipe ini dicirikan oleh dipegangnya posisi-posisi kunci dalam perusahaan oleh anggota keluarga.
Dalam pengelolaannya PT. Papasamsu adalah perusahaan keluarga jenis FBE. Dimana perusahaan ini masih dipimpin dan dikelola oleh pemiliknya sendiri, dan sering terlihat pemilik atau komisaris masih pergi ke daerah-daerah untuk mengurus operasional di daerah-daerah Kalimantan sana. Selain itu, terlihat juga posisi-posisi penting dalam perusahaan ini dipegang oleh anggota keluarga seperti keuangan yang dikepalai istrinya dan pemasaran yang langsung dikepalai oleh pemiliknya sendiri. Dari hal ini terlihat bahwa PT. Papasamsu masih di control dan dikendalikan oleh anggota keluarga dari pemilik.
Walaupun dalam perusahaan masih ada beberapa posisi yang diisi oleh anggota keluarga, untuk semakin memperkuat pengelolaan dan perkembangan perusahaan, PT. Papasamsu juga masih memerlukan bantuan dari profesional. Hal ini dikarenakan seiring tumbuhnya perusahaan maka pengelolaannya juga
51
tidak mudah, sehingga ada beberapa posisi yang di serahkan pada profesional seperti direktur, bagian IT, serta accounting. Hal ini dikarenakan pemilik tidak terlalu menguasai bagian tersebut, dan ada orang yang lebih ahli dalam hal tersebut.
4.3 Deskriptif Informan
Dalam melakukan penelitian ini, penulis menggunakan 4 informan dari perusahaan. Informan tersebut adalah sebagai berikut :
1. Informan pertama yang saya pilih adalah
komisaris dari PT. Papasamsu. Komisaris dari PT. Papasamsu ini bernama Surjapati Kurnia. Pria berusia 52 tahun ini sudah menjalankan bisnisnya sejak tahun 1978. Selain bertindak sebagai komisaris, ia juga bertindak sebagai marketing manager dimana ia membawahi bagian operasional
manager. Tugas utama dari Pak Surjapati ada melakukan pengawasan
terhadap kinerja perusahaannya, sekaligus ia turun ke daerah untuk melakukan peninjauan terhadap daerah tersebut. Peninjauan tersebut dilakukan untuk mengecek stock yang ada (stock opname) maupun melakukan pengawasan terhadap kinerja yang ada di daerah-daerah.
2. Informan kedua yang saya pilih adalah
direktur dari PT. Papasamsu yang bernama Pudji Yanto. Pria berusia 49 tahun ini bekerja sejak tahun 1999, dan merupakan teman dari Pak Surjapati. Sebagai seorang direktur, tugas dari Pak Pudji adalah melaksanakan segala bentuk aktivitas operasional yang ada di dalam perusahaan. Selain itu, ia juga seringkali turut serta bersama Pak Surjapati untuk terjun bersama ke daerah-daerah perwakilan dari PT. Papasamsu.
3. Informan ketiga yang saya pilih bernama Adif
Yuliana. Pak Adif adalah karyawan bagian divisi accounting, dimana seringkali Pak adif ikut bersama jajaran atas untuk pergi ke Kalimantan untuk melakukan audit maupun pengecekan yang lainnya. Tugas dari Pak Adif adalah membuat laporan keuangan maupun operasional yang penting bagi perusahaan. Pria berusia 37 tahun ini sudah bekerja di PT. Papasamsu sejak tahun 2004.
4.4 Penerapan Good Corporate Governance (GCG) pada PT. Papasamsu
Good Corporate Governance (GCG) merupakan struktur yang oleh
stakeholder, pemegang saham, komisaris, dan manajer menyusun tujuan perusahaan dan sarana untuk mencapai tujuan tersebut dan mengawasi kinerja. Dari sini kita bisa melihat bahwa Good Corporate Governance adalah suatu sistem (input, proses, output) dan seperangkat peraturan yang mengatur hubungan antara berbagai pihak yang kepentingan (stakeholders) terutama dalam arti sempit hubungan antara pemegang saham, dewan komisaris, dan dewan direksi demi tercapainya tujuan perusahaan. Good Corporate
Governance dimasukkan untuk mengatur hubungan-hubungan ini dan
mencegah terjadinya kesalahan-kesalahan signifikan dalam strategi perusahaan dan untuk memastikan bahwa kesalahan-kesalahan yang terjadi dapat diperbaiki segera. Ada 5 prinsip dari GCG (menurut KNKG dalam Wardoyo, 2010), prinsip ini biasa disingkat dengan nama TARIF, yaitu
transparency, accountability, responsibility, independency, dan fairness.
Adapun penerapan prinsip-prinsip GCG dalam perusahaan tersebut akan dijabarkan seperti dibawah ini.
4.4.1 Transparancy
Sesuai dengan teori prinsip dari KNKG mengenai transparansi, maka perusahaan harus bisa menyediakan berbagai informasi yang material dan relevan dengan cara yang mudah diakses dan dipahami oleh berbagai pihak. Perusahaan harus mengambil inisiatif untuk mengungkapkan tidak hanya masalah yang diisyaratkan oleh peraturan perundang-undangan, tetapi juga hal yang penting untuk pengambilan keputusan oleh pemangku kepentingan lainnya. Dalam sisi transparansi ada 2 segi yang disoroti penulis, yaitu informasi dan kebijakan. Dengan melihat kedua segi tersebut maka penulis bisa mengetahu seberapa transparan PT. Papasamsu.
Dari segi informasi. Informasi yang beredar dalam perusahaan sebagian besar didapatkan dari atasan, namun tidak menutup kemungkinan sekiranya
53
ada informasi yang berasal dari bawahan. Jadi sangat fleksibel dalam alurnya dan juga informasi yang didapat akan langsung di share ke bagian divisi masing-masing. Hal ini dilakukan agar tidak memperpanjang birokrasi dan agar tidak ribet ungkap Pak Surjapati selaku Komisaris PT. Papasamsu. Misalnya, informasi mengenai harga dan product knowledge langsung diberikan divisi marketing / sales, informasi mengenai pencatatan utang maupun piutang langsung diberikan pada divisi accounting, informasi mengenai keluar masuknya barang langsung diberikan pada divisi office, dan lain sebagainya. Selain itu, informasi yang didapat tidak serta merta langsung diterima ada beberapa informasi yang perlu diolah lagi. Contohnya, ada informasi mengenai trade promo barang yang ditunjukkan pada karyawan marketing / sales, ada dua trade promo yaitu potong harga dan bonus barang. Kalau potong harga maka informasi tersebut langsung diberikan pada bawahan, sementara kalau yang diberikan supplier berupa bonus barang, maka harus dikalkulasikan dahulu disesuaikan dengan harganya, baru diberikan pada para bawahan, demikian pernyataan yang diungkapkan oleh Pak Pudji selaku Direktur PT. Papasamsu. Dalam penyampaiannya pun informasi disampaikan dari berbagai macam media, yaitu melalui papan informasi, email, BBM, SMS, maupun telepon. Seperti contoh media penyampaian informasi yang digunakan pada PT. Papasamsu di bawah ini.
Gambar 4.2
Papan Informasi (Kiri) dan Grup Chatting (Kanan) Sumber : Observasi penulis secara langsung
Pada gambar di atas bisa terlihat bahwa PT. Papasamsu berusaha menyediakan berbagai media agar komunikasi yang ada di dalam perusahaan berjalan dengan lancar. Apabila ada di dalam perusahaan maka perusahaan menggunakan papan informasi, bila informasi yang perlu dikirim atau diterima berasal dari daerah perwakilan maka bisa diinformasikan melaui grup
chatting. Berbagai macam media ini digunakan karena informasi tersebut
harus cepat disampaikan ke kantor-kantor perwakilan yang berada di daerah cukup jauh. Dari hal ini bisa terlihat bahwa sesuai dengan prinsip transparansi perusahaan berusaha menyediakan informasi agar bisa diketahui berbagai macam pihak secara mudah dan relevan, agar informasi tersebut sampai ke semua orang yang terkait dengan perusahaan. Selain itu, sesuai dengan prinsip transparansi perusahaan harus menyediakan informasi secara akurat dan jelas, disini informasi yang didapat dari perusahaan dilihat dahulu jenis informasinya, ada yang perlu diolah lagi atau tidak, dengan melakukan hal tersebut setiap pemangku kepentingan bisa mendapatkan informasi yang akurat dan jelas.
Dari segi kebijakan. Dalam kebijakan yang dibuat oleh perusahaan, semua kebijakan tersebut ditentukan oleh atasan, komisaris dan direktur dimana komisaris dan direktur membuat kebijakan yang didasarkan pada kepentingan setiap karyawan dalam perusahaan. Kebijakan yang dibuat antara lain kebijakan mengenai peraturan perusahaan, standar operasional perusahaan dari masing-masing divisi, kebijakan personalia, kebijakan mengenai kenaikan jabatan, dan lain-lain. Menurut Pak Surjapati kebijakan yang dibuat berdasarkan proses yang menunjang perusahaan, jika tidak menunjang maka langsung dihapuskan. Setiap kebijakan yang ada dalam perusahaan telah ditulis dan dibagikan ke semua divisi yang ada. Hasil ini diperoleh penulis dari hasil wawancara dan pengamatan di PT. Papasamsu. Salah satu contoh kebijakan berupa peraturan dari PT. Papasamsu seperti di bawah ini.
55
Dari gambar di atas bisa terlihat bahwa PT. Papasamsu berusaha untuk mengkomunikasikan peraturan-peraturan yang ada dengan dibuat secara tertulis dan ditempel agar setiap karyawan mengerti dan memahami peraturan yang ada dalam perusahaan tersebut. Menurut peraturan tersebut, setiap karyawan harus mendapat 1 lembar copy dari peraturan tersebut dan harus ditandatangani oleh admin dan harus di arsip dengan benar, dengan begitu maka setiap karyawan akan mengerti dan mengetahui peraturan perusahaan. Dari hal tersebut, apa yang dilakukan PT. Papasamsu sesuai dengan prinsip transparansi dari GCG bahwa semua kebijakan harus tertulis dan harus dikomunikasikan kepada pemangku kepentingan. Tujuannya agar setiap pihak mengetahui kebijakan tersebut sehingga setiap pemangku kepentingan bisa bekerja dengan maksimal dan benar, tanpa ada yang ditutup-tutupi.
Gambar 4.3 Peraturan Tertulis
4.4.2 Accountability
Akuntabilitas dalam prinsip yang dikemukakan oleh KNKG adalah prinsip dimana perusahaan harus dapat mempertanggungjawabkan kinerjanya secara transparan dan wajar. Untuk itu perusahaan harus dikelola secara benar, terukur dan sesuai dengan kepentingan perusahaan dengan tetap memperhitungkan kepentingan pemegang saham dan pemangku kepentingan lainnya. Ada 2 segi yang disoroti penulis, yaitu dari sisi basis kerja dan audit.
Dari sisi basis kerja. Penulis melihat bagaimana struktur perusahaan yang ada dan sistem dalam perusahaan tersebut. Dilihat dari strukturnya, perusahaan ini sudah membuat struktur organisasi yang cukup baik. Dimana komisaris merupakan bagian paling tinggi, selanjutnya direktur yang membawahi 4 divisi dibawahnya, yaitu divisi Marketing, Accounting,
Financing, dan IT. Namun, dalam penerapannya terjadi penumpukan posisi
dimana posisi marketing manager diisi oleh komisarisnya sendiri. Jelas hal ini dapat membuat perusahaan tidak maksimal, karena terjadi perangkapan jabatan. Selain itu, hal ini tidak sesuai dengan prinsip akuntabilitas dimana setiap organ perusahaan harus mempunyai rincian tugas yang jelas dan tanggung jawab yang jelas agar setiap organ perusahaan bisa berjalan sendiri-sendiri secara maksimal. Dengan adanya penumpukan ini maka tugas komisaris sebagai pengawas akan menjadi tidak maksimal. Dilihat secara fungsionalnya, pembagian tugas dan wewenang dalam perusahaan sudah jelas. Hal ini terlihat bagaiman setiap karyawan mengerti apa yang harus dikerjakan dan kepada siapa mereka harus lapor. Hal ini tentu didukung dengan adanya SOP dalam perusahaan tersebut. Misalnya, bagian sales tentu saja fungsinya memasarkan barang dan melakukan riset penjualan. Selain itu, mereka juga harus melapor pada area operasional manager sebagai atasan mereka. Mereka tidak boleh langsung by-pass melapor pada marketing manager karena menyalahi aturan dan membuat sistem menjadi kacau.
Sementara itu, dari sisi sistem kerja bisa dilihat bahwa tiap divisi mempunyai SOP-nya (Standar Operasional Perusahaan) masing-masing sehingga tahu apa yang menjadi tugas dan tanggung jawab dari divisi-divisi
57
tersebut. Contoh SOP yang ada dalam PT. Papasamsu seperti gambar 4.4 di bawah ini.
Gambar diatas merupakan SOP tertulis dalam perusahaan yang menjelaskan tentang bagaimana seharusnya karyawan mengatasi nota
customer yang sudah overdue (jatuh tempo) dan overlimit. Tujuan dalam
pembuatan SOP ini agar tidak terjadi bad debt dan overdue yang tidak terkontrol yang mengakibatkan keuangan perusahaan tidak sehat. Dengan adanya SOP ini maka karyawan bisa mengerti dan memahami pekerjaannya, sehingga sistem kerja dalam perusahaan menjadi maksimal. Dalam hal pengambilan keputusan dilihat bahwa tiap divisi mempunyai wewenangnya sendiri sesuai SOP ketentuan yang ada dalam SOP. Jika permasalahan yang terjadi tidak ada dalam SOP dan permasalahan tersebut berat, maka pengambilan keputusan langsung dari owner. Dari hal ini kita bisa lihat sisi
Gambar 4.4 SOP Perusahaan
akuntabilitasnya karena jelas siapa yang harus mengambil keputusan dan tanggung jawabnya.
Dari sisi audit. Ada 2 sistem audit yang dilihat, yaitu internal dan eksternal. Berdasarkan hasil wawancara didapati bahwa PT. Papasamsu menggunakan 2 audit ini. Dilihat dari sisi internal, perusahaan ini melakukan audit pada stock dengan melakukan stock opname setahun sekali, dan juga melakukan audit pada bagian keuangan melihat utang maupun piutangnya. Sementara itu, dilihat dari sisi eksternal PT. Papasamsu menggunakan jasa akuntan publik dalam melakukan audit. Dimana PT. Papasamsu mengirim laporan keuangan pada akuntan publik tersebut. Apabila ada kejanggalan dalam laporan tersebut maka akuntan publik langsung turun ke lapangan ungkap Pak Surjapati. Akuntan publik yang digunakan oleh PT. Papasamsu adalah Armandias. Seperti gambar di bawah ini.
Gambar 4.5
Laporan Audit Eksternal Perusahaan yang dilakukan oleh Armandias
59
Dari gambar diatas penulis mengetahui bahwa PT. Papasamsu telah mekakukan audit dengan menggunakan jasa akuntan publik terdaftar yang bernama Armandias. Dari sisi audit ini terlihat bahwa prinsip akuntabilitasnya sudah dijalankan dengan baik dimana perusahaan berusaha mempertanggungjawabkan kinerjanya secara transparan dan wajar.
4.4.3 Responsibility
Dalam penerapan prinsip responsibilitas menurut KNKG perusahaan harus mematuhi peraturan perundang-undangan serta melaksanakan tanggung jawab terhadap masyarakat dan lingkungan sehingga dapat terpelihara kesinambungan usaha dalam jangka panjang dan mendapat pengakuan Good
Corporate Citizen. Ada 2 segi yang bisa dilihat yaitu Corporate Social Responsibility (CSR) dan kepatuhan (compliance) terhadap peraturan
perundang-undangan.
Dari segi CSR. Ada 3 sisi yang bisa dilihat, yaitu lingkungan, masyarakat, dan karyawan. Dari sisi lingkungan, karena PT. Papasamsu merupakan perusahaan distribusi barang jadi makanan dan hygiene, maka perusahaan ini tidak menghasilkan limbah. Sehingga Pak Surjapati merasa bahwa tidak perlu melakukan CSR pada lingkungan, dan juga Pak Surjapati mengungkapkan bahwa perusahaan ini tidak terlalu besar sehingga tidak perlu melakukan hal seperti itu. Dari hal ini prinsip responsibilitas sudah tidak dijalankan karena perusahaan tidak melakukan CSR terhadap lingkungan. Selain itu, hal ini juga tidak sesuai dengan Perda Jatim Nomor 4 Tahun 2011 tentang Tanggung Jawab Sosial Perusahaan dimana perusahaan harus bisa melestarikan fungsi lingkungan hidup di wilayah sekitarnya. Lalu, dari sisi masyarakat PT. Papasamsu sudah melakukan CSR. Hal yang dilakukan adalah dengan memberikan barang-barang sisa yang belum expired tapi masih aging (kurang lebih 3 bulan sebelum expired) untuk diberikan pada panti jompo atau panti asuhan. Lebih baik barang ini diberikan pada yang membutuhkan daripada dimusnahkan ungkap Pak Pudji. Selanjutnya, dari sisi karyawan. Dari hasil wawancara dan pengamatan oleh penulis, kesejahteraan dan tanggung jawab yang diberikan perusahaan pada karyawan selain gaji atau
upah, diberikan juga dalam bentuk jamsostek (Jaminan Sosial Tenaga Kerja) dan berbagai tunjangan yang ada. Contohnya seperti gambar 4.5 di bawah ini.
Gambar di atas merupakan kartu gaji yang dimiliki karyawan PT. Papasamsu. Selain gaji yang diterima karyawan, juga terlihat beberapa tunjangan yang diterima karyawan, yaitu tunjangan beras dimana setiap bulannya karyawan mendapatkan beras 10-25 kg, selanjutnya handphone yang diberikan pada karyawan operasional, transport yang biasanya diberikan untuk menunjang sales, kesehatan, dan juga incentive. Dari hal ini bisa terlihat bahwa perusahaan berusaha untuk mensejahterakan karyawannya. Agar karyawan dalam perusahaan tersebut betah dan bisa kerja dengan maksimal. Selain itu, dengan adanya kartu gaji ini memudahkan manajer keuangan untuk melihat dan mengontrol upah dan tunjangan yang harus diberikan pada karyawannya. Namun, ada beberapa fasilitas yang diberikan pada karyawan kurang memadai, seperti WC yang kurang bersih, lalu juga tempat ibadah bagi karyawan umat muslim. Dilihat dari prinsip responsibilitas terlihat bahwa PT.
Gambar 4.6 Kartu Gaji Karyawan
61
Papasamsu belum terlalu memperdulikan lingkungan sekitarnya, dan juga dari sisi karyawan, masih ada beberapa hal yang belum terlalu diperhatikan. Hal ini dikarenakan masih ada pola pikir bahwa perusahaan tersebut tidak terlalu besar, sehingga tidak perlu akan hal-hal tersebut. Sementara itu, dari sisi masyarakat PT. Papasamsu sudah melaksanakan tanggung jawabnya sebagai perusahaan untuk lebih peduli dengan masyarakat sekitarnya.
Dari segi kepatuhan (compliance) terhadap peraturan perundang-undangan. PT. Papasamsu merupakan perusahaan yang taat membayar pajak. Dilihat bagaimana perusahaan tersebut berusaha untuk terbuka terhadap pajak. Disini PT. Papasamsu menggunakan akuntan pajak atau konsultan pajak dalam perhitungan dan pembayaran pajaknya. Hal ini dilakukan agar tidak terjadi pembuatan 2 buku maupun ada hal yang ingin ditutupi. Selain itu, PT. Papasamsu juga menerapkan UU mengenai tenaga kerja, UMK, UU persaingan, dan UU perlindungan konsumen. Disini UU perlindungan konsumen tidak terlalu signifikan karena bukan perusahaan produksi, tetapi sebagai distributor. Namun, jika keluhan dari konsumen maka perusahaan akan berusaha menyambungkan dengan pihak supplier atau produsen. Dan juga perusahaan tidak akan menjual barang-barang yang telah expired pada konsumen, walaupun masih ada sisa stock barang yang belum terjual. Selain itu, salah satu contoh undang-undang yang telah dipenuhi perusahaan adalah mengenai tenaga kerja, dalam UU no 13 tahun 2003, dalam peraturan tersebut perusahaan sudah memenuhi bahwa jam kerja perusahaan 8 jam sehari, cuti yang diberikan 12 hari dalam setahun, terdapat jam istirahat selama 1 jam, dan upah yang diberikan sesuai dengan upah minimum kabupaten/kota. Disini PT. Papasamsu berusaha mentaati semua UU tersebut agar tidak terjadi kesulitan apabila dilanggar. Dari hal ini penulis melihat bahwa PT. Papasamsu sudah melaksanakan prinsip responsibilitas terhadap peraturan dan perundang-undangan yang ada dengan baik.
4.4.4 Independency
Prinsip independensi yang dikemukakan oleh KNKG adalah prinsip dimana perusahaan harus dikelola secara independen sehingga masing-masing
organ perusahaan tidak saling mendominasi dan tidak dapat diintervensi oleh pihak lain. Jadi, yang dimaksud adalah tidak adanya pengaruh dari orang lain atau orang dalam perusahaan yang didasarkan pada keinginan pribadi untuk mempengaruhi manajemen perusahaan. Ada 2 segi yang disoroti penulis yaitu pengaruh internal dan eksternal.
Dari segi internal. Ada 2 hal yang bisa mempengaruhi internal perusahaan yaitu pemegang saham dan keluarga. Pemegang saham dalam perusahaan ini tidak terlalu aktif, karena masing-masing mempunyai usahanya sendiri. Sebagian besar saham sebesar 75% dimiliki oleh sang pendiri yaitu Pak Surjapati. Karena pemegang saham lain tidak terlalu aktif maka banyak hal yang dipengaruhi pemegang saham mayoritas. Namun, jika ada hal yang penting berkaitan dengan perusahaan maka akan diadakan Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS) sehingga keputusan yang diambil menjadi obyektif. Jika ada RUPS maka setiap pemegang saham akan diberikan undangan seperti gambar di bawah ini.
Gambar 4.7 Undangan RUPS
63
Dari gambar 4.7 bisa terlihat bahwa perusahaan berusaha untuk mengundang semua pemegang saham jika ada permasalahan yang penting, hal ini dilakukan agar keputusan penting tersebut tidak diambil oleh pemiliknya sendiri.
Keluarga yang berperan dalam perusahaan tugas dan kewajibannya jelas, tidak ada 2 kepala dalam 1 divisi. Dan anggota keluarga banyak menduduki posisi keuangan. Hal ini dikarenakan pemilik lebih percaya anggota keluarga sendiri daripada profesional atau orang lain, karena keuangan sangat rawan ungkap Pak Surjapati. Dalam pengambilan keputusan pun keluarga tidak berhak ikut campur, karena banyak faktor yang harus ditimbang bukan semata-mata pendapat keluarga saja. Dari hal tersebut bisa dilihat bahwa prinsip independensi telah dijalankan, khususnya dalam hal keluarga. Dimana keluarga tidak mengintervensi pihak-pihak lain, dan hanya fokus tugas dan tanggung jawabnya.
Dari segi eksternal. Banyak hal dari pihak eksternal yang dapat mempengaruhi perusahaan, seperti regulasi pemerintah, LSM atau pun serikat buruh, dan juga jasa konsultan. Dilihat dari regulasi pemerintah pasti ada yang mempengaruhi perusahaan seperti regulasi pajak maupun mengenai upah minimum. Contohnya seperti upah minimum kota Surabaya akan berbeda dengan kota Palangkaraya, sehingga karyawan yang ada di kantor pusat maupun di daerah perwakilan akan mendapat upah sesuai daerahnya masing-masing. Sementara, dari LSM atau pun serikat buruh tidak terlalu ada pengaruhnya. Dan terakhir dari jasa konsultan dimana PT. Papasamsu menggunakan jasa konsultan pajak, namun dalam pengambilan keputusan konsultan tersebut tidak berwenang. Dilihat dari prinsip independensi maka perusahaan pasti mau tidak mau terpengaruh dengan regulasi pemerintah, namun dari segi eksternal lainnya tidak ada yang mempengaruhi PT. Papasamsu sehingga tidak terlalu ada intervensi dari pihak luar.
4.4.5 Fairness
Sesuai dengan teori dari KNKG mengenai prinsip kesetaraan dan kewajaran maka dalam melaksanaakan kegiatannya, perusahaan harus
senantiasa memperhatikan kepentingan pemegang saham, pemangku kepentingan lainnya dan semua orang yang terlibat didalamnya berdasarkan prinsip kesetaraan dan kewajaran. Ada 2 hal yang disorot penulis, yaitu shareholder dan stakeholder.
Dari segi shareholder. Pembagian hak atas pemegang saham tergantung dari porsi kepemilikan saham. Porsi kepemilikan saham adalah sebagai berikut, Pak Surjapati 75%, Pak Felix Gunawan 10%, Pak Edy Haryanto 10%, dan Pak Hang Ali 5%. Porsi dari kepemilikan ini sudah ada sejak pendirian perusahaan, sehingga pembagian dividen berdasarkan hak tersebut. Jikalau ada RUPS maka semua pemegang saham diharapkan untuk hadir. Apabila tidak bisa hadir maka harus diwakili dengan diberikan surat kuasa ungkap Pak Surjapati. Hal ini dikarenakan agar semua pemegang saham mendapat informasi secara transparan. Selain itu, setiap pemegang saham akan mendapatkan laporan mengenai keadaan perusahaan, baik itu pemegang saham mayoritas maupun minoritas. Laporan yang diberikan setiap 3 bulan sekali, dan selama ini pemegang saham puas dengan kinerja perusahaan dan tidak ada komentar dari pemegang saham lain. Hal ini sesuai dengan prinsip kesetaraan dimana setiap pemegang saham diperlakukan secara adil sesuai dengan haknya, dan setiap pemegang saham berhak mendapatkan informasi secara transparan.
Dari segi stakeholder. Ada 3 bagian yang bisa dilihat yaitu perekrutan,
reward, dan punishment. Karyawan yang direkrut dalam perusahaan harus
lebih dahulu lulus dalam tes tertulis, hal itu merupakan kunci masuk ke perusahaan ungkap Pak Surjapati. Dengan lulus tes tersebut maka karyawan PT. Papasamsu mempunyai keahlian yang merata. Kriteria utama yang dilihat dalam perekrutan adalah umur, pendidikan, dan keahliannya. Dari hal ini bisa terlihat bahwa perusahaan tidak membedakan satu karyawan dengan karyawan lain. Hal ini sesuai dengan prinsip kesetaraan bahwa perusahaan harus menerima karyawan dan melaksanakan tugasnya secara profesional tanpa melihat suku, agama, dan ras. Di bawah ini adalah contoh iklan lowongan pekerjaan untuk merekrut karyawan. Gambar 4.8 dibawah ini memperlihatkan bagaimana perusahaan berusaha untuk merekrut karyawan dengan melihat
65
syarat utama yaitu umur, pendidikan dan keahliannya. Dari iklan tersebut terlihat perusahaan benar-benar mencari seseorang yang ahli di bidang tesebut dan pengalaman dalam pekerjaan tersebut.
Sementara, sistem reward yang diberikan perusahaan ada berbagai macam, ada yang berupa insentif, ada juga reward dari pemasukan perusahaan, ada juga reward dari supplier. Pemberian reward ini sesuai dengan kinerja yang dilakukan oleh karyawan. Dengan begitu maka setiap karyawan bisa adil mendapatkan reward sesuai dengan prestasi kerjanya.
Reward berupa insentif ini merupakan kunci agar karyawan bisa termotivasi
untuk bekerja, semakin besar kontribusinya maka reward yang diberikan semakin besar. Gambar 4.9 dibawah ini adalah salah satu contoh insentif
reward yang diberikan perusahaan. Reward tersebut diberikan karena
karyawan berhasil mempertahankan grade A dalam kinerjanya. Gambar 4.8
Iklan Lowongan Pekerjaan PT. Papasamsu Sumber : Observasi penulis secara langsung
Sistem punishment dari perusahaan dari hasil wawancara ada bermacam-macam seperti SP (Surat Peringatan), bisa juga pemotongan insentif, mutasi, dan bisa juga dipecat. Dengan adanya punishment ini diharapkan para karyawan tidak berbuat pelanggaran yang merugikan perusahaan. Dari hal ini bisa dikatakan bahwa PT. Papasamsu sudah menjalankan prinsip kesetaraan dan kewajaran karena perusahaan sudah berusaha untuk bersikap adil kepada semua karyawannya. Perusahaan berusaha untuk merekrut karyawan yang benar-benar memiliki keahlian tanpa memandang suku, agama, maupun rasnya. Dan juga jika mereka berprestasi pasti akan mendapatkan reward, jika berbuat seenaknya akan mendapatkan punishment.
4.5 Penilaian Good Corporate Governance (GCG) pada PT. Papasamsu dengan Metode Skoring
Untuk menilai apakah PT. Papasamsu sudah menerapkan prinsip GCG dengan baik, maka penulis menggunakan metode skoring. Metode skoring ini disebut dengan metode FCGI Self Assessment Checklist yang dikembangkan
Gambar 4.9
Incentive reward
67
oleh FCGI. Penilaian diberikan pada lima bidang secara objektif, yaitu (Naja, 2004):
1. Hak-hak pemegang saham (20%)
Dalam bidang ini yang dinilai dari sisi hak-hak yang didapat pemegang saham. Ada 3 bagian, yaitu hak untuk memberikan pendapat (6,7%), mendapat bagian dari keuntungan perusahaan (6,7%), dan perlakuan yang sama terhadap pemegang saham (6,7%). Disini penulis mengasumsikan bahwa semua bagian ini harus dijalankan secara setara dan wajar, sehingga dari bobot 20% penulis menetapkan masing-masing bagian sebesar 6,7%. 2. Kebijakan Corporate Governance (15%)
Menilai apakah perusahaaan sudah memiliki pedoman GCG secara tertulis yang menjabarkan hak-hak pemegang saham, tugas dan tanggung jawab setiap organ dalam perusahaan.
3. Praktik-praktik Corporate Governance (30%)
Dalam bidang praktik-praktik Corporate Governance yang dinilai ada 4 bagian, yaitu perencanaan (7,5%), Rapat Umum Pemegang Saham (7,5%), tanggung jawab perusahaan terhadap lingkungan, masyarakat dan karyawan (7,5%), dan kepatuhan perusahaan kepada peraturan perundang-undangan (7,5%). Disini penulis mengasumsikan bahwa semua bagian ini harus dijalankan secara setara dan wajar, sehingga dari bobot 30% penulis menetapkan masing-masing bagian sebesar 7,5%.
4. Pengungkapan (disclosure) (20%)
Mengacu pada apakah perusahaan memberikan penjelasan mengenai resiko usaha, mengungkapkan reminerasi/kompensasi direksi dan komisaris secara memadai, mengungkapkan transaksi antara pihak-pihak yang memiliki hubungan istimewa, dan sebagainya.
5. Fungsi audit (15%)
Pada fungsi audit, akan dinilai apakah perusahaan sudah memiliki fungsi audit yang efektif, komite audit yang efektif, dan menciptakan komunikasi yang efektif .
Selanjutnya, ranking dibuat menggunakan skala likert untuk menilai apakah penerapan GCG yang dilakukan sudah baik atau tidak, dimana (1) sangat buruk, (2) buruk, (3) cukup baik, (4) baik, dan (5) sangat baik.
Dengan bobot dan rangking seperti ini maka penulis akan menilai bagaimana penerapan GCG yang dilakukan di PT. Papasamsu. Hasil dari penilaian tersebut seperti tabel di bawah ini.
Aspek yang dinilai Bobot Ranking Total Catatan (a) (b) (a x b)
Hak-hak pemegang saham (20%)
Hak untuk memberikan pendapat
0.067 4 0.268 Disini hak untuk memberikan pendapat diberikan bagi setiap pemegang saham. Namun, kebanyakan berasal dari pemegang saham mayoritas atau pemilik. Tetapi bila ada masalah penting misalnya penambahan modal, maka akan diadakan RUPS sehingga setiap pemegang saham bisa memberikan pendapatnya. Mendapat bagian dari
keuntungan perusahaan
0.067 5 0.335 Pembagian keuntungan bagi pemegang saham sudah jelas, dimana porsi pembagian keuntungan tersebut disesuaikan dengan porsi kepemilikan masing-masing pemegang saham. Tabel 4.1
69 Perlakuan yang sama
terhadap pemegang saham
0.067 5 0.335 Setiap pemegang saham mendapat perlakuan yang sama. Hal ini ditunjukkan dengan diberikan laporan mengenai
perusahaan setiap 3 bulan sekali pada seluruh pemegang saham. Dan pemegang saham berhak memberikan umpan balik pada laporan tersebut. Kebijakan Corporate
Governance (15%)
Pedoman dan pembagian tugas dan tanggung jawab tiap-tiap jabatan
0.15 3 0.45 Disini perusahaan sudah sangat jelas memberikan pedoman bagi setiap organ perusahaan bagaimana tugas dan tanggung jawabnya. Karena di setiap divisi sudah ada SOP-nya masing-masing. Namun, dilihat dari strukturnya masih ada jabatan yang dirangkap oleh komisarisnya sendiri yaitu sebagai marketing manager. Praktik-Praktik GCG (30%)
Perencanaan 0.075 5 0.375 Dilihat dari
perencanaan perusahaan sudah mempunyai visi dan misi yang jelas. Dari visi dan misi ini perusahaan menjalankan poros bisnisnya. Selain
itu, dalam melakukan perencanaan perusahaan selalu merencanakan dengan baik, dilihat dari rapat yang diadakan tiap divisi seminggu sekali, kecuali untuk divisi area operasional sehari sekali. Rapat Umum Pemegang
Saham ( RUPS)
0.075 4 0.3 Disini perusahaan sudah melakukan RUPS dengan adanya undangan RUPS dan notulen dari RUPS. Namun, RUPS yang
diadakan tidak rutin, tetapi sesuai keperluan yang mendesak atau penting. Tanggung jawab perusahaan terhadap lingkungan, masyarakat dan karyawan 0.075 3 0.225 Tanggung jawab perusahaan terhadap masyarakat sudah dijalankan dengan memberikan barang kebutuhan pada pantin asuhan maupun jompo. Namun, dari sisi lingkungan belum dilaksanakan, dan dari sisi karyawan memang perusahaan sudah memberikan jamsostek dan tunjangan pada karyawan, tetapi fasilitas yang diberikan masih kurang.
71 Kepatuhan perusahaan kepada peraturan perundang-undangan 0.075 5 0.375 Perusahaan sudah melaksanakan tanggung jawabnya untuk patuh pada peraturan
perundang-undangan, seperti taat membayar pajak, dan selalu open pajak. Selain itu perusahaan menggunakan konsultan pajak agar pajak yang dibayar teratur dan tidak terjadi kecurangan seperti pembuatan 2 buku. Lalu, perusahaan juga memenuhi UU tenaga kerja dan juga mengenai UMK. Dan juga mengenai UU konsumen maupun persaingan.
Pengungkapan (20%)
Keterbukaan informasi 0.2 5 1 Disini informasi yang disalurkan di dalam perusahaan sangatlah terbuka dan baik. Hal ini bisa dilihat dari media-media yang digunakan dalam penyampaian informasi sangat beragam dengan tujuan informasi terasampaikan dengan baik. Dan juga informasi yang ada dimengerti setiap pemangku kepentingan karena setiap informasi tersebut diolah lebih dahulu jika memang ada yang perlu diolah. Fungsi audit (15%)
Fungsi audit dalam perusahaan 0.15 5 0.75 Audit yang dilakukan di dalam perusahaan juga terlaksana dengan baik, dilihat bagaimana perusahaan melakukan audit internal setiap setahun sekali, dan juga meminta bantuan dari pihak luar untuk
melakukan audit yang berasal dari akuntan publik.
Total 1 4.413
73
Dilihat dari nilai yang didapat sebesar 4.413 maka bisa dikatakan bahwa penerapan GCG di PT. Papasamsu sudah baik. Karena nilai yang didapatkan lebih dari 3, semakin mendekati angka 5 maka penerapannya semakin baik. Dari hal ini membuktikan bahwa disadari atau tidak perusahaan sudah menerapkan prinsip GCG di dalam perusahaanya, meskipun perusahaan tersebut tidak terlalu besar. Namun, memang masih ada beberapa bagian yang perlu ditingkatkan lagi. Pengungkapan informasi sudah berjalan dengan baik. Dimana perusahaan sudah menyediakan berbagai macam media untuk penyampaian informasi sehingga bisa dimengerti setiap pemangku kepentingan. Lalu, para pemegang saham sudah mendapatkan haknya, dan juga pembagian keuntungan sesuai porsi kepemilikan saham, serta penerimaan laporan perusahaan secara berkala. Selain itu, perusahaan juga pernah mengadakan RUPS sehingga setiap pemegang saham bisa memberikan pendapatnya dan mengambil keputusan secara obyektif. Dari sisi audit juga berjalan dengan baik, ada 2 macam audit yang dijalankan internal dan eksternal. Dalam hal perencanaan juga berjalan dengan baik, dimana perusahaan mempunyai tujuan sesuai visi dan misinya, serta selalu melakukan rapat secara berkala. Kepatuhan perusahaan kepada peraturan perundang-undangan juga sudah dipenuhi, dengan mematuhi UU yang ada. Dari sisi pedoman dan pembagian tugas dan tanggung jawab tiap-tiap jabatan, perusahaan sudah menyediakan pedoman berupa SOP, namun masih ada perangkapan jabatan oleh komisaris. Dari sisi tanggung jawab, bagi masyarakat sudah dilaksanakan dengan baik, namun dari sisi lingkungan dan karyawan, masih harus diperhatikan lebih lagi.
Dari penjelasan dia atas, bisa dikatakan bahwa penerapan prinsip GCG (TARIF) sudah baik di PT. Papasamsu, tetapi belum sempurna. Masih ada beberapa bagian dari prinsip accountability dan responsibility yang perlu diperhatikan.
4.6 Uji Trianggulasi Prinsip GCG Hasil Wawancara Hasil Pengamatan Prinsip GCG oleh KNKG (Zarkasyi,2008) Ket.
Transparancy 1. Informasi yang didapat memang benar berasal dari atasan, tetapi tidak menutup kemungkinan informasi berasal dari bawahan 2. Proses penyampaiann ya direct secara langsung dari atas ke bawah, disalurkan melalui BBM, email, SMS, chatting, papan informasi, dan telepon. 3. Informasi yang didapat terkadang perlu diolah lebih 1. Adanya papan informasi di kantor, dan grup chatting di komputer karyawan 2. Adanya peraturan tertulis yang menempel di dinding kantor 3. Mengadakan rapat seminggu sekali, untuk divisi area operasional tiap hari 4. Cara penyampaian informasi yang paling sering melalui email. Emailnya : papasamsu@gmail. com, untuk daerah perwakilan seperti sampit [email protected] 1. Perusahaan harus menyediakan informasi yang jelas, akurat, tepat waktu, dan mudah diakses oleh pemangku kepentingan sesuai haknya 2. Informasi yang harus diungkapkan harus menyeluruh baik visi, misi, strategi perusahaan, susunan pengurus, dan lain-lain 3. Kebijakan perusahaan Valid Tabel 4.2
75 dan kadang juga tidak, tergantung jenis informasi tersebut 4. Kebijakan perusahaan berasal dari pihak top management / atasan 5. Kebijakan disampaikan melalui kepala divisinya masing-masing, selalin itu di tiap divisi ada SOP-nya harus tertulis dan dikomunikasik an dengan pemangku kepentingan lainnya Accountability 1. Adanya perangkapan jabatan yang dilakukan Pak Surjapati, merangkap komisaris sekaligus marketing manager 2. Setiap divisi mempunyai 1. Struktur organisasi menempel di dinding 2. Adanya perangkapan jabatan dalam struktur tersebut 3. Adanya SOP (Sistem Operasional Perusahaan) 4. Adanya laporan audit dari akuntan
1. Perusahaan harus menetapkan rincian tugas dan tanggung jawab masing-masing organ perusahaan dan karyawan secara jelas 2. Perusahaan harus Valid
SOP-nya masing-masing 3. Struktur yang dibuat jelas, Top-Down 4. Adanya audit internal dari divisi accounting, dan eksternal dari akuntan public armandias
publik, dan terdapat divisi accounting yang menangani audit internal meyakini bahwa semua karyawan mempunyai kompetensi yang sesuai dengan tugas dan tanggung jawabnya masing-masing 3. Perusahaan harus memastikan adanya sistem pengendalian internal yang efektif dalam mengelola perusahaan Responsibility 1. Belum melakukan CSR terhadap lingkungan 2. CSR terhadap karyawan hanya sebatas tunjangan dan jamsostek, fasilitas kurang memadai
1. Adanya kartu gaji yang menunjukkan tunjangan apa saja yang diterima karyawan, baik tunjangan beras, handphone, transport, dan lain-lain
2. Adanya konsultan pajak yang berasal
1. Perusahaan harus melaksanakan tanggung jawab social dengan antara lain peduli terhadap lingkungan dan masyarakat di Valid
77 3. CSR terhadap masyarakat sudah dilakukan, dengan memberikan barang-barang keperluan pada panti asuhan maupun panti jompo 4. Perusahaan taat pajak, tiap tahun selalu membayar pajak
dari luar, namun dianggap sebagai staff perusahaan lingkungan sekitar perusahaan 2. Organ perusahaan harus berpegang terhadap prinsip kehati-hatian dan memastikan kepatuhan terhadap peraturan perundang-undangan Independency 1. Keluarga pemilik hanya mengurusi sebatas keuangan perusahaan, tidak ikut campur dalam pengambilan keputusan perusahaan 2. Biasanya pengambilan keputusan diambil oleh pemegang 1. Adanya undangan RUPS, jika tidak bisa hadir harus diwakili dengan surat kuasa 2. Adanya notulen
rapat hasil RUPS, sehingga semua pemegang saham menyetujui hasil RUPS tersebut 1. Masing-masing organ perusahaan harus menghindari dari terjadinya pengaruh kepentingan tertentu sehingga pengambilan keputusan menjadi obyektif 2. Masing-masing Valid
saham mayoritas, namun jika ada keputusan penting ada RUPS, sehingga keputusan menjadi obyektif anggota perusahaan harus melaksanakan fungsinya dan tidak melempar tanggung jawab sehingga terjadi sistem yang efektif Fairness 1. Pembagian hak
dalam shareholder sesuai dengan porsi kepemilikan sahamnya 2. Sistem perekrutan karyawan yang tidak melihat suku, agama, maupun ras, tetapi keahlian yang dimiliki orang tersebut lewat tes yang diadakan perusahaan 1. Adanya iklan lowongan untuk merekrut karyawan yang mengindikasikan syaratnya umur, pendidikan, dan keahlian orang tersebut 2. Adanya slip incentive reward yang diterima karyawan karena berhasil mempertahankan kinerjanya 3. Adanya hukuman tertulis dalam peraturan tertulis, jika siapapun 1. Perusahaan harus memberikan kesempatan kepada pemangku kepentingan untuk memberikan informasi atau menyampaika n pendapat 2. Perusahaan harus memberikan perlakuan yang setara dan wajar sesuai manfaat dan kontribusi Valid
79 3. Adanya reward yang diberikan pada karyawan yang kinerjanya tinggi 4. Adanya punishment bagi karyawan yang melanggar peraturan perusahaan melanggar akan di PHK atau harus mundur dari perusahaan yang diberikan pada perusahaan 3. Perusahaan harus memberikan kesempatan yang sama dalam penerimaan karyawan tanpa membedakan suku, agama, dan ras
Berdasarkan hasil wawancara dibandingkan dengan hasil observasi dan data perusahaan. Penulis dapat menyimpulkan bahwa tidak ada ketimpangan antara informasi yang diperoleh dari para informan terhadap observasi dan data perusahaan.
4.7 Fungsi Manajemen
Menurut (Bateman & Snell, 2009, p.19), manajemen adalah proses bekerja dengan orang dan sumber daya untuk mencapai tujuan dari organisasi. Manajer yang baik melakukan sesuatu agar keduanya berjalan efektif dan efisien. Dalam pelaksanaannya ada empat fungsi manajemen yang harus dilakukan perusahaan agar mencapai tujuan organisasi secara efektif dan efisien. Empat fungsi manajemen tersebut adalah planning, organizing,
Leading dan controlling. Disini penulis akan membahas fungsi manajemen
dari PT. Papasamsu secara umum, sehingga penulis tahu dengan adanya Sumber : diolah penulis sendiri
penerapan prinsip-prinsip good corporate governance maka secara tidak langsung akan memperbaiki sistem manajemen dalam perusahaan tersebut.
4.7.1 Planning
Menurut Bateman & Snell (2009), planning bertujuan untuk menentukan tujuan yang ingin dicapai dan menentukan langkah-langkah yang dilakukan untuk mencapai tujuan tersebut. Aktivitas yang dilakukan antara lain menganalisa situasi sekarang, mengantisipasi keadaan yang akan datang, menentukan objektif, menentukan aktivitas apa yang akan dilakukan perusahaan, memilih strategi yang digunakan dan menentukan sumber daya yang digunakan untuk mencapai tujuan tersebut. Untuk meneliti fungsi manajemen planning perusahaan, penulis menggunakan indikator visi, misi, strategi, dan sistem pengambilan keputusan.
Pada sub bab 4.1.2 sudah dijelaskan mengenai visi dan misi dari PT. Papasamsu. Visi dari PT. Papasamsu adalah “Menjadi Distribusi Company yang bisa Mengcover Regional”, sementara misinya adalah “Memperbesar Perusahaan dan Maju Bersama dengan All Karyawan”. Dari visi dan misi inilah terbentuk tujuan dari perusahaan tersebut. Untuk mencapai tujuan tersebut tentu diperlukan sebuah strategi. Menurut Pak Surjapati strategi yang dibuat oleh PT. Papasamsu tidak bergantung pada siapapun, seperti hanya bergantung pada karyawan, sistem, komputer, maupun principal. Perusahaan berusaha mengandalkan segala aspek dari perusahaan tersebut, misalnya jika di daerah ada 3 manajer, jika salah satu berhenti maka masih ada 2 yang back
up. Sehingga masing-masing aspek perusahaan saling terkait, keuangan ada
sendiri, operasional ada sendiri, dan tidak mau bergantung hanya pada 1 orang saja. Hal ini tentu sesuai dengan misi dari perusahaan dimana perusahaan ingin maju bersama semua karyawan. Sementara strategi dalam hal produk yang di distribusikan perusahaan tentu membutuhkan informasi sehingga dari informasi teresebut bisa dibuat strategi. Informasi yang didapat berasal dari
supplier yang biasanya memberikan informasi mengenai harga dan product knowledge. Harga yang digunakan biasanya ditetapkan supplier, namun jika
81
produk itu sendiri. Dalam menentukan harga juga dilihat tempat-tempat yang akan distribusikan, terdapat beberapa kategori seperti whole seller, modern
market, retail pasar, dan luar pasar. Jika semakin besar tempat yang akan
didistribusikan maka akan semakin murah harga produk yang ditawarkan. Jadi, dari sini perusahaan akan melihat di kota tersebut ada berapa outlet yang bisa dimasuki, setelah itu menentukan termasuk kategori yang mana, dan terakhir menentukan harga produk sesuai kategori tersebut.
Dalam hal pengambilan keputusan. Biasanya pengambilan keputusan lebih diserahkan pada atasan, seperti direktur dan komisaris. Jika ada keputusan yang penting di daerah perwakilan maka manajer di daerah tersebut akan menyerahkan ke pusat, setelah itu pusat akan mengambil keputusan. Tetapi jika keputusan yang ada tidak terlalu penting dan tidak berpengaruh terlalu besar pada perusahaan maka manajer bisa mengambil keputusan itu sendiri. Untuk melihat apakah keputusan itu penting atau tidak terdapat SOP yang ada di setiap divisi, sehingga dari SOP tersebut bisa tahu permasalahan mana yang harus diberitahukan kepada pusat, dan mana yang tidak.
4.7.2 Organizing
Menurut Bateman & Snell (2009), organizing adalah mengumpulkan dan mengkoordinasi orang, keuangan, fisik, informasi dan sumber daya yang lain untuk mencapai tujuan. Aktivitas yang dilakukan antara lain menarik orang masuk perusahaan, menspesifikasi tanggung jawab pekerjaan, membuat sebuah work unit, mengalokasikan sumber daya dan menciptakan suatu kondisi dimana setiap orang bisa bekerja secara maksimal. Dari sini penulis menggunakan indikator pembentukan struktur perusahaan, job description, alur penyampaian informasi dalam meneliti fungsi manajemen organizing perusahaan tersebut.
Seperti sudah dijelaskan sebelumnya pada sub bab 4.1.4 mengenai struktur organisasi perusahaan, bahwa struktur yang dibuat sudah jelas berbentuk top-down dengan komisaris paling tinggi kedudukannya dan membawahi direktur, sedangkan direktur membawahi beberapa manajer dibawahnya. Dengan adanya struktur ini maka sudah jelas fungsi dan tugas
dari masing-masing karyawannya. Misalnya, bagian marketing bertugas untuk melakukan penjualan, menyusun rencana penjualan, melakukan riset pasar secara berkala, dan melakukan kegiatan pemasaran. Dari sini bisa diketahui bahwa job description masing-masing bagian sudah jelas dan tidak ada yang tidak mengerti tugasnya. Dengan mengerti setiap tugasnya maka proses bisnis bisa berjalan dengan maksimal, sehingga kinerja perusahaan meningkat. Namun, dalam struktur tersebut penulis menemukan masih adanya perangkapan jabatan dimana komisaris merangkap sebagai marketing
manager. Jika dihubungkan dengan prinsip akuntabilitas dari GCG maka hal
ini tidak boleh terjadi, karena akan terjadi ketidakmaksimalan dalam 2 jabatan tersebut dimana seharusnya tiap organ perusahaan mempunyai rician dan tanggung jawab sendiri-sendiri. Dengan adanya perangkapan ini fokus dari komisaris akan sedikit bergeser untuk melaksanakan tugasnya sebagai
marketing manager.
Sementara alur informasi yang ada dalam perusahaan biasanya dari atas ke bawah, namun tidak menutup kemungkinan ada informasi dari bawah ke atas. Alur penyampaiannya dari komisaris ke direktur, setelah itu direktur menyampaikan kepada setiap kepala divisi. Penyampaiannya melalui berbagai media yang ada baik secara langsung maupun tidak langsung. Apabila ada informasi dari bawahan, seperti masalah salah pencatatan penjualan dan nota yang melebihi jatuh tempo, maka karyawan memberikan informasi tersebut kepada kepala divisi, jika bisa diselesaikan kepala divisi maka yang menyelesaikan kepala divisi, jika tidak bisa maka diserahkan pada direktur dan terakhir komisaris. Selain itu, di setiap divisi sudah ada SOP nya masing-masing sehingga informasi yang ada sudah jelas harus sampai kemana alurnya.
4.7.3 Leading
Menurut Bateman & Snell (2009), leading bertujuan menstimulus orang agar performanya tetap tinggi, termasuk memotivasi dan saling mengkomunikasikan dengan karyawan, individu maupun grup. Leading membantu dan menginspirasi individu maupun grup untuk mencapai tujuan
83
organisasi. Untuk melihat fungsi manajemen leading maka penulis menggunakan indikator cara memotivasi karyawan, bentuk tanggung jawab yang diberikan perusahaan terhadap sumber daya manusia.
Berdasarkan wawancara dengan Pak Surjapati cara agar perusahaan memotivasi karyawan adalah dengan memberikan insentif pada karyawan tersebut. Insentif di perusahaan ini memegang peranan penting karena dengan adanya insentif maka karyawan akan semakin terpacu untuk bekerja. Semakin besar kontribusi yang diberikan, maka insentifnya juga semakin besar. Perusahaan menilai kalau karyawan ingin maju maka berikan kontribusi yang terbaik, dan perusahaan akan memberikan insentif yang terbaik juga. Karena dengan adanya reward berupa insentif akan membentuk pola pikir karyawan untuk bekerja lebih giat lagi. Setelah itu, cara yang dilakuka perusahaan untuk meningkatkan motivasi adalah dengan melakukan training, biasanya training ini dikhususkan bagi jabatan supervisor ke atas, dimana training tersebut diadakan setiap 1 tahun sekali.
Selanjutnya mengenai bentuk tanggung jawab yang diberikan perusahaan terhadap sumber daya manusia. Secara tidak langsung dengan adanya pemberian yang diberikan perusahaan terhadap karyawan akan mendongkrak semangat kerja karyawan. Yang terutama tentu saja perusahaan memberikan gaji. Gaji yang diberikan minimal sesuai dengan UMK (Upah Minimum Kabupaten/Kota) dan bisa juga lebih dari itu. Lalu tidak juga lupa perusahaan berusaha memberikan tunjangan-tunjangan yang ada, seperti tunjangan beras, handphone, transport, kesehatan, dan tentu saja insentif yang memberikan dorongan besar bagi karyawan untuk bekerja lebih giat lagi. Namun, masih ada beberapa fasilitas karyawan yang kurang memadai seperti kantin maupun tempat ibadah bagi karyawan muslim.
4.7.4 Controlling
Menurut Bateman & Snell (2009), controlling mempunyai tujuan untuk memonitor performa dan mengimplementasikan perubahan jika dibutuhkan. Dengan controlling manager memastikan sumber daya perusahaan telah dipakai sesuai dengan yang direncanakan dan perusahaan tersebut mencapai
tujuan dengan kualitas yang baik dan aman. Dalam melihat fungsi manajemen
controlling penulis menggunakan indikator sistem evaluasi kinerja
perusahaan, dan sistem punishment dan reward.
Dalam hal sistem evaluasi kinerja perusahaan. Menurut Pak Surjapati evaluasi yang dilakukan dalam melihat kinerja perusahaan cukup mudah yaitu dengan cara melihat apakah keuntungan perusahaan bertambah atau tidak. Setiap hari, setiap minggu dan setiap bulan akan ada laporan yang dibuat oleh divisi accounting untuk diperiksa oleh komisaris. Jika ternyata dalam laporan tersebut omzet naik namun keuntungannya turun, maka ada masalah dan itu harus dipertanyakan apa masalahnya. Jadi disini perusahaan melihat profit yang diterima apakah bertambah atau tidak, untuk menilai kinerja perusahaan baik atau buruk.
Untuk sistem reward dan punishment. Seperti sudah dijelaskan di atas
reward yang diberikan pada perusahaan berupa insentif, dimana insentif
diberikan pada karyawan yang memiliki kinerja baik atau kontribusi yang baik. Sementara hukuman yang diberikan bisa bermacam-macam tergantung jenis pelanggaran, dari mendapat teguran, pemotongan gaji, dan PHK.