• Tidak ada hasil yang ditemukan

Restrukturisasi Kredit Manfaat dan Kendala yang Dihadapi Bagi dan Oleh Perbankan

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "Restrukturisasi Kredit Manfaat dan Kendala yang Dihadapi Bagi dan Oleh Perbankan"

Copied!
6
0
0

Teks penuh

(1)

RESTRUKTURISASI KREDIT

MANFAAT DAN KENDALA YANG DIHADAPI

BAGI DAN OLEH PERBANKAN

(Suatu telaahan/pemahaman yang didasarkan pada regulasi yang ada)

Disusun Oleh : Antonius Ketut D. SH,MH.

Pandangan Umum

Sudah menjadi suatu kesepakatan dan kesepahaman bagi industri perbankan bahwa kelangsungan usaha bank antara lain tergantung dari kemampuan dan efektifitas bank dalam mengelola risiko kredit dan meminimalkan potensi kerugian.

Untuk itu dalam rangka mengelola risiko kredit dan untuk meminimalkan potensi kerugian, bank wajib menjaga kualitas aktiva dan wajib membentuk penyisihan penghapusan aktiva, dimana kewajiban pembentukan penyisihan penghapusan aktiva perlu diberlakukan terhadap baik aktiva produktif maupun aktiva non produktif.

Bank Indonesia selaku banking regulator mendefinisikan Aktiva Produktif sebagai suatu penyediaan dana oleh perbankan dalam bentuk kredit, surat berharga, penempatan dana antar bank, tagihan akseptasi, tagihan atas surat berharga yang dibeli dengan janji dijual kembali (reverse repurchase agreement), tagihan derivatif, penyertaan, transaksi rekening administratif serta bentuk penyediaan dana lainnya yang dapat dipersamakan dengan itu, dengan tujuan untuk memperoleh penghasilan. Sedangkan untuk Aktiva Non Produktif Bank Indonesia mendefinisikan sebagai aset Bank selain Aktiva Produktif yang memiliki potensi kerugian, antara lain dalam bentuk agunan yang diambil alih, properti terbengkalai (abandoned property), rekening antar kantor dan suspense account.

▸ Baca selengkapnya: kendala yang dihadapi saat pkl akuntansi

(2)

Namun demikian dalam melaksanakan pembiayaan dimaksud, bank harus tetap mengelola risiko kredit dan meminimalkan potensi kerugian yaitu dengan menjaga kualitas aktiva dan membentuk penyisihan penghapusan aktiva yang memadai.

Untuk melakukan penilaian atas kualitas aktiva bank dalam rangka mendorong pergerakan sektor riil, Bank Indonesia akan melakukannya dengan mempertimbangkan berbagai hal seprti sistem pengendalian risiko untuk risiko kredit, pemenuhan rasio kewajiban penyediaan modal minimum, dan peringkat komposit tingkat kesehatan bank;

Berkaitan dengan hal tersebut, sebagai salah satu upaya untuk meminimalkan potensi kerugian dari debitur bermasalah, bank dapat melakukan restrukturisasi kredit atas debitur yang masih memiliki prospek usaha dan kemampuan membayar.

(3)

Kendala Restrukturisasi Kredit

Program restrukturisasi kredit bagi Bank Umum Non BUMN dan BUMD sudah jelas dan dapat dilaksanakan dengan berpedoman pada ketentuan yang telah digariskan oleh Bank Indonesia melalui Peraturan Bank Indonesia No. 7/2/PBI/2005 Tentang Penilaian Kualitas Aktiva Bank Umum, maupun Peraturan Bank Indonesia Nomor: 9/6/PBI/2007 Tentang Perubahan Kedua Atas Peraturan Bank Indonesia Nomor 7/2/PBI/2005 Tentang Penilaian Kualitas Aktiva Bank Umum. Dimana antara lain ditegaskan bahwa Bank hanya dapat melakukan Restrukturisasi Kredit terhadap debitur yang memenuhi kriteria sebagai berikut:

a. Debitur yang mengalami kesulitan pembayaran pokok dan atau bunga Kredit; dan b. Debitur yang masih memiliki prospek usaha yang baik dan mampu memenuhi

kewajiban setelah Kredit direstrukturisasi.

Mengingat bahwa Bank Indonesia melarang perbankan melakukan Restrukturisasi Kredit dengan tujuan hanya untuk menghindari:

a. Penurunan penggolongan kualitas Kredit;

b. Peningkatan pembentukan Pencadangan Penghapusan Aktiva; atau c. Penghentian pengakuan pendapatan bunga secara akrual.

(4)

Mari kita bersama telaah isi dan jiwa dari beberapa Undang-Undang dan Peraturan Pemerintah yang ada.

1. Menunjuk Undang-Undang No 19/2003 tentang BUMN pasal 1 Butir 1, yang layak disebut "kekayaan negara yang dipisahkan" adalah modal BUMN. Hal tersebut sesuai pasal 4 UU 19/2003 tentang BUMN yang berbunyi "Modal BUMN merupakan dan berasal dari kekayaan negara yang dipisahkan".

2. Selanjutnya berdasarkan Undang-Undang No 1/1995 tentang Perseroan Terbatas, pemerintah selaku pemegang saham hanya bertanggung jawab sebesar nilai saham yang diambilnya (hal ini juga berlaku bagi BUMD, dimana pemegang sahamnya ada pemerintah daerah). Dengan demikian piutang bank BUMN atau bank BUMD bukan merupakan piutang negara karena merupakan sumber modal dan aset di luar pemerintah (yang disebut dalam pasal UU No.19/2003 merupakan kekayaan Negara yang dipisahkan. Sehingga seharusnya penyelesaian Non Performing Loan (NPL) salah satunya melalui Restrukturisasi Kredit cukup diputuskan oleh manajemen bank BUMN/BUMD dengan persetujuan Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS) atau kewenangan yang melekat pada manajemen bank tersebut. 3. Penerbitan PP No.33/2006 tentang Tata Cara Penyelesaian Piutang Negara dan

Keputusan Menkeu - PMK No 87/2006 tentang Pengurusan Piutang Perusahaan Negara/Daerah. Peraturan Pemerintah dan Keputusan Menteri Keuangan tersebut pada dasarnya memberi kewenangan pada bank BUMN untuk menangani NPL sesuai mekanisme korporasi.

(5)

Hal tersebut diakibatkan adanya satu Undang-Undang yang membatasi kewenangan yang diberikan oleh PP dan Keputusan Menteri Keuangan atau PBI, yaitu : Undang-Undang No 1/2004, tentang Perbendaharaan Negara pasal 1 butir 6 dan 7 yang bunyinya "Piutang negara / daerah adalah jumlah uang yang wajib dibayar kepada pemerintah pusat / daerah dan/atau hak pemerintah pusat / daerah yang dapat dinilai dengan uang sebagai akibat perjanjian atau akibat lainnya berdasarkan peraturan perundang-undangan yang berlaku atau akibat lainnya yang sah".

Dengan demikian, dividen yang akan diterima pemerintah merupakan piutang negara. Piutang BUMN bisa dianggap piutang negara karena memengaruhi besarnya dividen. Karena itu, penyelesaian NPL harus mengikuti ketentuan Bab V dari UU 1/2004, tentang pengelolaan piutang dan utang yang antara lain mengatur bahwa penyelesaian piutang negara/daerah yang timbul sebagai akibat hubungan keperdataan dapat dilakukan melalui perdamaian, kecuali mengenai piutang negara/daerah yang cara penyelesaiannya diatur tersendiri dalam undang-undang.

Kondisi ini penuh ketidakjelasan, mengingat bank BUMN / BUMD sebagai institusi Perbankan, juga harus taat pada peraturan yang telah ditetapkan oleh regulator (Bank Indonesia ) melalui PBI tentang Penilaian Kualitas Aktiva Bank Umum, khususnya BAB VI Restrukturisasi Kredit.

(6)

dimana selaku perseroan yang sahamnya dimiliki oleh pemerintah pusat / daerah dalam operasionalnya harus mengacu pada undang-undang dan PP yang ada, namun sebagai institusi perbankan mereka juga tidak bisa meninggalkan arahan yang telah diberikan oleh regulator perbankan (Bank Indonesia). Untuk itu diperlukan adanya kesamaan pandang antara aparat hukum dan pengawas (BPK, Kejaksaan dan Kepolisian) mengenai UU dan PP/PBI yang ada. Selain itu juga perlu ada keputusan formal di masing-masing instansi itu supaya aparat di bawahnya mengerti dan tidak membuat penafsiran masing-masing.

_______________________

Antonius Ketut D.SH,MH Praktisi Perbankan

Referensi

Dokumen terkait

Adapun yang menjadi permasalahan yang dibahas dalam skripsi ini adalah, bagaimana pelaksaan pemberian Kredit Pemilikan Rumah (KPR) pada Bank Sumut Cabang Pembantu

Peraturan Pemerintah Nomor 37 Tahun 2006 tentang Perubahan Kedua atas Peraturan Pemerintah Nomor 24 Tahun 2004 tentang Kedudukan Protokoler dan Keuangan Pimpinan dan Anggota

Bab IV : TINJUAN YURIDIS TERHADAP PEMBERIAN KREDIT KEPEMILIKAN RUMAH DAN KENDALA YANG DIHADAPI OLEH PIHAK BANK PADA BANK SUMUT CABANG PEMBANTU USU MEDAN

Adapun yang menjadi permasalahan yang dibahas dalam skripsi ini adalah, bagaimana pelaksaan pemberian Kredit Pemilikan Rumah (KPR) pada Bank Sumut Cabang Pembantu

Yang Dihadapi Oleh Pihak Bank, Studi Bank Sumut Cabang Pembantu

Menurut Munir Fuad merumuskan hukum perbankan adalah seperangkat kaidah hukum dalam bentuk peraturan perundang-undangan, yurisprudensi, doktrin, dan lain-lain sumber

Bank secara sederhana dapat diartikan sebagai lembaga keuangan yang kegiatan utamanya adalah menghimpun dana dari masyarakat dan menyalurkannya kembali dana

Loan to Deposit Ratio (LDR) mencerminkan kemampuan bank dalam membayarkembali penarikan dana yang dilakukan deposan dengan mengandalkan kredit yang diberikan