BAB II
TINJAUAN UMUM TENTANG BANK DAN PERJANJIAN
KREDIT
A. Pengertian Bank Dan Hukum Perbankan.
Bank adalah bagian dari sistem keuangan dan sistem pembayaran suatu
negara bahkan pada era globalisasi sekarang ini, bank juga telah menjadi
bagian dari sistem keuangan dan sisitem pembayaran dunia.9 Dalam dunia
Modern sekarang ini, peranan perbankan dalam hal memajukan perekonomian
suatu negara sangatlah besar karena hampir semua sektor yang berhubungan
dengan berbagai kegiatan keuangan selalu membutuhkan jasa bank.
Bagi masyarakat Indonesia mendengar kata bank adalah bukan sesuatu
hal yang asing. Masyarakat sudah sangat familiar dengan apa yang dinamakan
dengan bank. Bagi masyarakat awam mungkin berpikir bahwa bank adalah
sebagai tempat meyimpan uang saja atau tempat untuk menabung, padahal
kenyataanya tidaklah demikian bahwa sebenarnya bank memiliki
fungsi-fungsi lain selain sebagai tempat untuk menabung yang mungkin belum terlalu
dikenal oleh masyarakat.
Menurut Kamus besar Bahasa Indonesia, bahwa Bank adalah usaha dibidang Keuangan yang menarik dan mengeluarkan uang di masyarakat, terutama memeberikan kredit dan jasa di lalu lintas pembayaran dan peredaran Uang. Rumusan mengenai pengertian bank lain, dapat juga kita temui dalam kamus istilah hukum Fockema Andreae yang mengatakan bahwa bank adalah suatu lembaga atau orang pribadi yang menjalankan perusahaan dalam menerima dan memberikan uang dari dan kepada pihak
9
ketiga. Berhubung dengan adanya cek yang hanya dapat diberikan kepada Bankir sebagai tertarik, maka bank dalam arti luas adalah orang atau lembaga yang dalam pekerjaanya secara teratur menyediakan uang untuk pihak ketiga.10
Di Indonesia masalah yang berkaitan dengan bank diatur dalam
Undang-Undang Nomor 7 Tahun 1992 Tentang Perbankan sebagaimana telah
diubah dengan Undang-Undang No 10 Tahun 1998 Tentang Perubahan Atas
Undang Nomor 7 Tahun 1992 Tentang Perbankan. Menurut
Undang-Undang Nomor 10 Tahun 1998 Tentang Perbankan menyebutkan bahwa
pengertian Bank adalah badan usaha yang menghimpun dana dari masyarakat
dalam bentuk simpanan dan menyalurkan kepada masayarakat dalam bentuk
kredit dan/ atau bentuk-bentuk lainnya dalam rangka meningkatkan taraf
hidup rakyat banyak.11
Beberapa pendapat lain mengenai Pengertian bank, yakni :12
1. Perbankan (Banking) pada umumnya ialah kegiatan-kegiatan dalam menjual/belikan mata uang,surat efek dan instrumen-instrumen yang dapat diperdagangkan. Penerimaan Deposito, untuk memudahkan penyimpanannya atau untuk mendapatkan bunga, dan atau pembuatan, pemberian pinjaman-pinjaman dengan atau tanpa barang-barang tanggungan, penggunaan uang yang ditempatkan atau diserahkan untuk disimpan (Abdulrahman; 1991,86).
2. Bank merupakan salah satu badan usaha lembaga keuangan yang bertujuan memberikan kredit dan jasa-jasa. Adapun pemberian kredit itu dilakukan baik dengan modal sendiri atau dengan jalan memeperedarkan alat-alat pembayaran baru berupa uang giral (O.P. Simorangkir;1979,18)
3. Perbankan adalah segala sesuatu yang menyangkut tentang bank, mencakup kelembagaan, kegiatan usaha serta cara dan proses dalam melaksanakan kegiatan usahanya ( Pasal 1 angka 1 UU No. 7/1992 jo UU No 10/1998, Tentang Perbankan).
10
Hermansyah, Hukum Perbankan Nasional Indonesia, (Jakarta: Kencana Prenada Media Group, 2005). hal 8.
11
Undang-Undang No 10 Tahun 1998 Tentang Perbankan Pasal 2 Angka 1.
12
Dari pengertian seperti yang dikutip di atas, secara sederhana dapat
dikemukakan disini bahwa bank adalah suatu badan usaha yang berbadan
hukum yang bergerak dibidang jasa keuangan yang menjalankan kegiatan
menghimpun dana dari masyarakat dan meyalurkannya kembalai kepada
pihak-pihak yang membutuhkan dalam bentuk kredit dan memberikan jasa
dalam lalulintas pembayaran. Bank sebagai badan hukum berarti secara yuridis
adalah merupakan subjek hukum yang berarti dapat mengingatkan diri dengan
pihak ketiga.
Apabila mengacu kepada fungsi ekonomi, bank adalah lembaga yang
menyimpan simpanan, menawarkan rekening dengan hak istimewa dan
membuat pinjaman sebagai bagian yang tak terpisahkan dan peran yang
ditawarkan atau disediakan bank sebagai Financial Intermediary. Bank
berfungsi sebagai Financial Intermediary dengan kegiatan usaha pokok
menghimpun dan menyalurkan dana masyarakat dari unit surplus kepada unit
defisit atau pemindahan uang dari penabung kepada peminjam.13
Peranan bank dalam dunia modern ini bisa dirasakan sangatlah vital dan
sangat berarti, sebab hampir setiap transaksi keuangan yang terjadi diberbagai
sektor dalam masyarakat selalu membutuhkan jasa bank.
Hal tersebut tentunya tidaklah dapat ditolak sebab bank memiliki fungsi
sebagai lembaga keuangan yang sangat vital seperti sebagai tempat untuk
menyimpan uang, tempat untuk menyediakan uang atau dana untuk menunjang
kegiatan usaha, tempat berinvestasi dan lain sebagainya. Bank memiliki
13
peranan yang sangatlah penting dan vital dalam kehidupan di masyarakat. Hal
tersebut tentunya sangatlah ,perlu perhatian dari pemerintah dalam merangkai
suatu kebijakan-kebijakan yang berkaitan dengan dunia perbankan yang dapat
menjadi landasan-landasan bagi dunia perbankan untuk melakukan kegiatan
perbankan sesuai dengan era perekonomian yang tidak lepas dari
perubahan-perubahan.
Dengan demikan perlulah suatu kepastian hukum yang menjadi
landasan hukum yang mengatur mengenai kegiatan-kegiatan yang berkaitan
dengan dunia perbankan. Yang dimaksud hukum disini adalah : “Segala
ketentuan yang mengatur tingkah laku orang, dalam lingkungan bermsayarakat.
Sedangkan hukum yang kita bicarakan disini adalah hukum yang mengatur
tentang kegiatan perbankan sesuai dengan hukum positif yang berlaku di
Indonesia.
Secara sederhana Hukum Perbankan adalah hukum positif yang
mengatur segala sesuatu yang menyangkut tentang bank. Bank merupakan
salah satu Lembaga keuangan yang berfungsi sebagai penghimpun dan
penyalur dana masayarakat. Tentunya untuk memperoleh pengertian yang lebih
mendalam mengenai pengertian yang lebih mendalam mengenai pengertian
hukum perbankan tidaklah cukup hanya dengan memberikan suatu rumusan
yang demikian. Oleh karena itu perlu dikemukakan beberapa pengertian hukum
perbankan dari para ahli hukum perbankan.
Menurut Muhammad Djumhana, hukum perbankan adalah sebagai
yang meliputi segala aspek, dilihat dari segi esensi, eksistensinya, serta
hubungannya dengan bidang Kehidupan.14
Menurut Munir Fuad merumuskan hukum perbankan adalah seperangkat kaidah hukum dalam bentuk peraturan perundang-undangan, yurisprudensi, doktrin, dan lain-lain sumber hukum yang mengatur masalah-masalah perbankan sebagai lembaga, dan aspek kegiatannya sehari-hari, rambu-rambu yang harus dipenuhi oleh suatu bank, perilaku petugas-petugasnya, hak, kewajiban, tugas dan tanggung jawab para pihak yang tersankut dengan bisnis perbankan, apa yang boleh dan tidak boleh dilakukan oleh bank, eksistensi perbankan, dan lain-lain yang berkenanan dengan dunia perbankan.15
Berdasarkan beberapa pengertian diatas dapat dikatakan bahwa hukum
perbankan adalah keseluruhan norma-norma tertulis yang mengatur tentang
bank, mencakup kelembagaan, kegiatan usaha, serta cara, dan proses
melaksanakan kegiatan usahanya.
Adapun peraturan yang digunakan dalam proses pelaksanaan kegiatan
perbankan harus melihat aspek kepentingan umum, dan tidak bertentangan
dengan kaidah-kaidah yang tercantum dalam Pancasila dan Undang-Undang
Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945, demi mewujudkan cita-cita
bangsa Indonesia.
Secara Umum yang menjadi ruang lingkup dari pengaturan hukum
perbankan adalah sebagai berikut :16
1. Asas-asas perbankan, seperti norma efesiensi, keefektifan, kesehatan bank, profesionalisme pelaku perbankan, maksud dan tujuan lembaga perbankan, hubungan, hak dan kewajiban bank. 2. Para pelaku bidang perbankan, seperti dewan komisaris, direksi
dan karyawan, maupun pihak terafiliasi mengenai bentuk badan hukum pengelola, seperti PT, Persero, Perusahaan Daerah, Koperasi
atau Perseroan Terbatas. Mengenai bentuk kepemilikan, seperti milik pemerintah swasta, patungan dengan asing atau bank asing. 3. Kaedah-kaedah perbankan yang khusus diperuntukan untuk
mengatur perlindungan kepentingan umum dari tindakan perbankan, seperti pencegahan persaingan yang tidak sehat, antitrust, perlindungan nasabah dan lain-lain.
4. Yang menyangkut dengan struktur organisasi yang berhubungan dengan bidang perbankan, seperti eksistensi dari Dewan Moneter, Bank Sentral dan lain-lain.
5. Yang mengarah kepada pengamanan tujuan-tujuan yang hendak dicapai oleh bisnisnya bank tersebut, seperti pengadilan, sanksi, insentif, pengawasan, prudent banking, dan lain-lain.
Demikan pentingnya faktor hukum dan peraturan
perundang-undangan yang mengatur tentang perbankan dapat dimengerti sebab
dibandingkan dengan bidang industri lainnya, perbankan menjadi salah satu
bidang yang paling banyak peraturan hukumnya. Sifat hukum perbankan di
Indonesia adalah memaksa, artinya bank dalam menjalankan kegiatannya patuh
terhadap undang-undang. Bank Indonesia memiliki kewenangan dalam
menindak bank yang melakukan pelanggaran dengan menjatuhkan sanksi
administratif seperti mencabut atau membekukan izin usaha. Walaupun
demikian dalam rangka pengawasan intern, bank diperkenankan unutk
membuat ketentuan internal bank sendiri dengan berpedoman pada kebijakan
umum yang telah ditetapkan oleh bank Indonesia, sehingga bank diharapkan
dapat melaksanakan kenijakannya sendiri dengan baik dan penuh
B. Fungsi dan Jenis-Jenis Bank Menurut Aspek Hukum Perbankan.
Mengenai fungsi perbankan daat dilihat dalam ketentuan pada Pasal 3
Undang-Undang No 10 Tahun 1998 Tentang Perbankan yang menyatakan
bahwa “ Fungsi utama Perbankan Indonesia adalah sebagai penghimpun dan
penyalur dana masayarakat”. Dari ketentuan ini tercermin fungsi bank sebagai
perantara pihak-pihak yang memiliki kelebihan dana (Surplus Of Founds)
dengan pihak-pihak yang kekurangan dan memerlukan dana ( lacks of found).17
Menurut Rahmadi Usman fungsi dari bank memiliki fungsi dan tujuan dalam
kehidupan ekonomi nasiona Indonesia : 18
1. Bank berfungsi sebagai “financial intermediary” dengan kegiatan usaha pokok menghimpun dan menyalurkan dana masyarakat atau pemindahan dana masyarakat dari unit surplus kepada unit defisit atau pemindahan uang dari penabung kepada peminjam.
2. Penghimpun dan Penyaluran dana masyarakat tersebut bertujuan menunjang sebagian tugas penyelenggaran negara, yakni :
a. Menunjang pembangunan nasional, termasuk pembangunan daerah; bukan melaksanakan misi pembangunan suatu golongan apalagi perseorangan ; jadi perbankan Indoneisa diarahkan untuk menjadi agen pembangunan (Agent Of Development);
b. Dalam rangka mewujudkan trilogi pembangunan nasional Indonesia yaitu :
1. Meningkatkan pemerataan kesejahteraan rakyat banyak, bukan kesejahteraan segolongan orang atau perseorangan saja; melainkan kesejahteraan seluruh rakyat Indonesia tanpa terkecuali;
2. Meningkatkan pertumbuhan ekonomi nasional Indonesia, bukan pertumbuhan ekonomi segolongan orang atau perseorangan’ melainkan pertumbuhan ekonomi seluruh rakyat Indoneisia, termasuk pertumbuhan ekonomi yang diserasikan.
3. Meningkatkan stabilitas nasional yang sehat dan dinamis; 4. Meningkatkan taraf hidup dan kesejahteraan rakyat banyak,
artinya tujuan yang hendak dicapai oleh perbankan nasional
17
Hermansyah, Op.Cit. hal 20.
18
adalah meningkatkan pemerataan taraf hidup dan kesejahteraan rakyat Indonesia, bukan segolongan atau perorangan saja;
3. Dalam menjalankan fungsi tersebut, perbankan Indonesia harus mampu melindungi secara baik apa yang dititipkan masayarakat kepadanya dengan menerapkan prinsip kehati-hatian dengan cara : a. Efisien , sehat, wajar dalam persaingan yang sehat yang
semakin mengglobal atau mendunia; dan
b. Menyalurkan dana masyarakata tersebut ke bidang-bidang yang produktif bukan konsumtif.
4. Peningkatan perlindungan dana masayarakat yang dipercayakan pada bank, selain melalui penerapan prinsip kehati-hatian, juga pemenuhan ketentuan persayaratan kesehatan bank, serta sekaligus berfungsi untuk mencegah terjadinya praktek-praktek yang merugikan kepentingan masayarakat luas.
Dengan demikian dapat diketahui bahwa fungsi bank tidak
semata-mata sekedar sebagai wadah penghimpun dan penyalur dana masyarakat
tetapi juga fungsinya diarahkan kepada peningkatan taraf hidup rakyat
banyak, agar masyarakat dapat menjadi hidup sejahtera daripada sebelumnya.
Oleh karena itu dalam menjalankan fungsinya, bank seharusnya selalu
mengacu pada tujuan Perbankan Indonesia tersebut.
Dengan Undang-Undang Perbankan yang diubah, kembali
kelembagaan bank di tata dalam struktur yang lebih sederhana, menjadi dua
jenis Bank, yaitu : Bank Umum dan Bank Perkreditan Rakyat, yang lebih
tegasnya diatur pada Pasal 5 Undang-Undang Perbankan yang diubah.
Sebagaimana yang terdapat pada pada Undang-Undang Perbankan
disebutkan bahwa Bank Umum adalah bank yang melaksanakan kegiatan
usaha secara konvensional dan/atau berdasarkan prinsip Syariah yang dalam
kegiatannya memberikan jasa dalam lalu lintas pembayaran.19
19
Yang dimaksud dengan usaha perbankan yang konvensional adalah
usaha perbankan memberi kredit kepada nasabah, baik perorangan maupun
perusahaan.20
Prinsip Syariah adalah aturan perjanjian berdasarkan hukum islam antara bank dengan pihak lainnya yang dinyatakan sesuai dengan prinsip syariah, antara lain pebiayaan berdasarkan prinsip bagi hasil (mudharabah), pembayaran berdasarkan prinsip penyertaan modal (musharakah), prinsip jual beli barang dengan memeperoleh keuntungan (murabahah), atau pembiayaan barang modal berdasarkan prinsip sewa murni tanpa pilihan (ijarah), atau dengan adanya pilihan pemindahan kepemilikan atas barang yang disewa dari pihak bank oleh pihak lain (ijirah wa iqtina).21
Selain itu juga, Bank Umum dapat mengkhususkan diri untuk
melaksanakan kegiatan tertentu atau memberikan perhatian yang lebih besar
kepada kegiatan tertentu.22
Yang dimaksud dengan mengkhususkan diri untuk melaksanakan kegiatan tertentu adalah antara lain melaksanakan kegiatan pembiayaan jangka panjang, kegiatan untuk mengembangkan koperasai, pengembangan pengusaha ekonomi lemah/pengusaha kecil, pengembangan pengusaha ekonomi lemah/ pengusaha kecil, pengembangan ekspor nonmigas, dan pengembangan pembangunan dan perumahan.23
Dalam Pasal Pasal 6 Undang-Undang Nomor 10 Tahun 1998 Tentang
Perbankan dapat diketahui bahwa kegiatan Usaha yang bisa dilakukan oleh
bank umum adalah Meliputi :
a. Menghimpun dana dari masyarakat dalam bentuk simpanan
berupa giro, deposito berjangka, sertifikat deposito, tabungan,
dan/ bentuk lainnya yang dipersamakan.
b. Memberikan kredit.
20
Sentosa Sembiring, Op.Cit. hal 3.
21
Undang-Undang No 10 Tahun 1998 Tentang Perbankan Pasal 1 Angka 3.
22
Hermansyah, Op.Cit.hal 21.
23
c. Menerbitkan surat pengakuan hutang.
d. Membeli,menjual, atau menjamin atas resiko sendiri maupun
untuk kepentingan dan atas perintah nasabahnya:
1. Surat-surat wesel termasuk wesel yang diakseptasi oleh
bank yang masa berlakunya tidak lebih lama daripada
kebiasaan dalam perdagangan surat-surat dimaksud.
2. Surat pengakuan utang dan kertas dagang lainnya yang
masa berlakunya tidak lebih lama dari kebiasaan dalm
perdagangan surat-surat dimaksud.
3. Kertas perbendaharaan negara dan surat jaminan
pemerintah.
4. Sertifikat Bank Indonesia (SBI).
5. Obligasi.
6. Surat dagangan berjangka waktu sampai dengan satu
tahun.
7. Instrumen surat berharga lain yang berjangka waktu
sampai dengan 1 (satu) tahun.
e. Memindahkan uang baik untuk kepentingan sendiri maupun
untuk kepentingan nasabah.
f. Menempatkan dana pada, meminjam dana dari, atau
meminjamkan dana kepada bank lain, baik dengan
mengunakan surat, sarana telekomunikasi maupun dengan
g. Menerima pembayaran dari tagihan atas surat berharga dan
melakukan perhitungan dengan atau antarpihak ketiga.
h. Menyediakan tempat untuk menyimpan barang dan surat
berharga.
i. Melakukan kegiatan penitipan untuk kepentingan pihak lain
berdasarkan suatu kontrak.
j. Melakukan penempatan dana dari nasabah kepada nasabah
lainnya dalam bentuk surat berharga yang tidak tercatat dibursa
efek.
k. Melakukan kegiatan anjak piutang, usaha kartu kredit dan
kegiatan wali amanat.
l. Menyediakan pembiayaan dan/atau melakukan kegiatan lain
berdasarkan Prinsip Syariah, sesuai dengan ketentuan yang
ditetapkan oleh Bank Indonesia.
m. Melakukan kegiatan lain yang lazim dilakukan oleh bak
sepanjang tidak bertentangan dengan undang-undang dan
peratura perundang-undangan yang berlaku.
Berdasarkan uraian di atas dapat diketahui bahwa Bank Umum dapat
melakukan berbagai macam bentuk kegiatan usaha yang sangat luas, namun
demikian pula didalam Undang-Undang Perbankan menegasakan kegiatan
usaha apa saja yang dilarang oleh Bank Umum, yaitu meliput :24
24
a. Melakukan penyertaan modal, kecuali sebagaiman dimaksud
dalam Pasal 7 Huruf b dan huruf c.
b. Melakukan usaha perasuransian.
c. Melakukan usaha lain diluar kegiatan usaha sebagaimana
dimaksud dalam Pasal 6 dan Pasal 7.
Apabila dicerna layanan jasa yang diberikan oleh bank sebagaimana
dijabarkan dalam Pasal 6 diatas, tampak usaha bank semakin luas, dalam arti
tidak hanya memberikan kredit.25 Untuk itu Bank harus melakukan terobosan
dalam memberikan pelayanan jasa perbankan, tidak hanya bersifat pasif tetapi
juga aktif namun tidak menyimpang dari asas-asas perbankan yang berlaku.26
Kemudian yang dimaksud dengan Bank Perkreditan Rakyat adalah
bank yang melaksanakan kegiatan konvensional atau berdasarkan prinsip
syariah yang dalam kegiatannya tidak memberikan jasa dalam lalu lintas
pembayaran.27
Berbeda halnya dengan Bank Umum yang bisa melakukan kegiatan
usaha sebagaimana dikemukakan di atas, maka di Bank Perkreditan Rakyat
kegiatan usaha yang dapat dilakukan terbatas. Jadi dapat terlihat bahwa Bank
Umum dan Bank Perkreditan Rakyat memiliki perbedaan dimana Bank
Perkreditan Rakyat Tidak memeberikan jasa dalam lalu lintas pembayaran.
Sebagaimana yang dijabarkan pada Pasal 13 Undang-Undang Perbankan
bahwa yang menjadi usaha Bank Perkreditan Rakyat hanya meliputi :
25
Sentosa Sembiring, Op.Cit. hal 5.
26
Ibid.
27
a. Menghimpun dana dari masyarakat dalam bentuk simpanan
berupa deposito berjangka, tabungan, dan/atau bentuk lainnya
yang dipersamakan dengan itu.
b. Memberikan kredit.
c. Menyediakan pembiayaan dan penempatan dana berdasarkan
prinsip Syariah, sesuai dengan ketentuan yang ditetapkan oleh
Bank Indonesia.
d. Menempatkan dananya dalam bentuk sertifikat Bank Indonesia,
deposito Berjangka, sertifikat deposito, dan/atau tabungan pada
bank lain.
Selanjutnya dalam Pasal 14 Undang-Undang Perbankan dikemukan
bahwa Bank Perkreditan Rakyat dilarang :
a. Menerima simpanan berupa Giro dan ikut serta dalam lalu lintas
pembayaran;
b. Melakukan kegiatan usaha valuta asing;
c. Melakukan penyertaan modal;
d. Melakukan usaha perasuransian;
e. Melakukan usaha lain diluar usaha lain sebagaimana yang dimaksud
dalm Pasal 13.
Selain dari yang disebutkan diatas, bahwa dilihat dari segi
kepemilikannya bank dapat digolongkan dalam dua jenis, yaitu :
1. Bank Milik Pemerintah ( Negara) artinya bahwa modal bank
2. Bank Milik Swasta :28
a. Swasta Nasional, artinya moda Bank ini dimiliki oelh orang ataupun badan hukum Indonesia;
Contoh bank milik swasta nasional antara lain : 1) BCA
2) Bank Permata. 3) Bank Muamalat. 4) Bank Danamon. 5) Bank Maspion.
b. Swasta Asing, artinya modal bank tersebut dimiliki oleh orang ataupun Badan Hukum Asing. Ada kemungkinan bahwa bank ini adalah merupakan kantor cabang dari negara asal Bank Yang bersangkutan.
c. Contoh Bank Swasta Asing : 1) CitiBank. dengan Bank campuran. Bank Campuran Adalah Bank yang didirikan bersama oleh satu atau lebih bank umum yang berkedudukan di Indonesia dan didirikan oleh warga negara Indonesia dan/atau badan Hukum Indonesia yang dimiliki sepenuhnya oleh Warga Negara Indonesia dengan satu atau lebih Bank yang bekedudukan di Indonesia. Meskipun pemilik Bank campuran adalah perusahaan dalam negeri, akan tetapi kepemilikan sahamnya mayoritas oleh swasta nasional.29
Selain itu dilihat dari segi operasional bidang usahanya, maka bank
dapat dibagi dalam 2 Golongan, yakni:30
1. Bank Devisa. Adalah bank yang memeperoleh surat penunjukan dari bank Indonesia untuk melakukan usaha perbankan dalam valuta asing.
2. Bank Nondevisa, artinya adalah bank yang tidak dapat melakukan usaha dibidang transaksi valuta asing. Transaksi
28
Sentosa Sembiring, Op.Cit. hal 7.
29
Ismail, Manajemen Perbankan Dari Teori Menuju Aplikasi, (Jakarta : Kencana Prenada Media Group, 2010). hal 18.
30
yang dilakukan oleh bank nondevisa masih terbatas pada transaksi dalam negeri dan/ atau mata uang rupiah saja.
Jenis Bank yang selanjutnya yaitu Ditinjau dai Segi Cara Penentuan
Harga dapat dibedakan menjadi 2 (dua) jenis yaitu :31
a. Bank Konvensional, yaitu merupakan Bank yang dalam penentuan harga menggunakan bunga sebagai balas jas. Balas jasa yang diterima oelh bank atas penyaluran dana kepada masyarakat, maupun balas jasa yang dibayar oleh bank Kepada masyarakat atas penghimpunan dana. Disamping itu, untuk mendapatkan keuntungan dari pelayanan jasanya, bank konvensional akan memebebankan fee kepada nasabah.
b. Bank Syariah merupakan bank yang kegiatannya mengacu pada hukum islam, dan dalam kegiatannya tidak membebankan bunga maupun tidak membayar bunga kepada nasabah. Imbalan yang diterima oleh bank syariah, maupun yang dibayarkan kepada nasabah tergantung dari akad dan perjanjian antara nasabah dan bank. Perjanjian tersebut dialalsanakan berdasarkan prinsip-prinsip hukum syariah, baik perjanjian yang dilakukan bank dengan nasbah dalam penghimpunan dana, maupun penyaluran.
Lebih lanjut mengenai Bank Syariah diatur dalam ketentuan Umdang-Undang Perbankan Syariah No.21 Tahun 2008.
C. Pengertian Perjanjian Kredit Menurut Kitab Undang-Undang Hukum
Perdata dan Dasar Hukum Perjanjian Kredit.
Sebelum membahas mengenai pengertian Perjanjian Kredit, perlu
diketahui apa yang dimaksud dengan Kredit. Istilah Kredit bukanlah
merupakan sesuatu yang asing dalam kehidupan kita sehari-hari di
masyarakat sebab sering dijumpai ada anggota masyarakat yang melakukan
transaksi jual beli melalui kredit. Jual beli secara kredit itu tidaklah dilakukan
secara tunai (kontan), melainkan dengan cara menggangsur. Banyak dari
31
anggota masayarakat yang menerima kredit dari koperasi maupun Bank
dalam untuk memenuhi kebutuhannya. Secara umum masyarakat biasa
mengartikan kredit sama dengan utang, karena setelah jangka waktu tertentu
mereka harus membayar lunas.
Secara umum dalam pengertian yang sederhana, kredit adalah
merupakan penyaluran dana dari pihak pemilik dana kepada pihak yang
memerlukan dana yang dilakukan berdasarkan kepercayaan yang diberikan
oleh pemilik dana kepada pengguna dana.
Kata “kredit” sebenarnya berasal dai bahasa romawi, yaitu Credere,
yang artinya adalah “percaya”.32 Bila dihubungkan dengan bank, maka
terkandung pengertian bahwa bank selaku kreditur percaya meminjam kan
uang kepada debitur karena debitur dipercaya kemampuannya untuk
membayar kepada kreditur lunas pinjamannya setelah jangka waktu yang
ditentukan.
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia salah satu pengertian kredit
adalah pinjaman uang dengan pembayaran pengembalian secara
mengangsur atau pinjaman sampai batas jumlah tertentu yang diizinkan oleh
bank atau badan lain.33
Beberapa ahli menerjemahkan kredit sebagai berikut :34
a. “... Kredit itu adalah suatu pemberian prestasi yang balas prestasinya (kontra prestasi) akan terjadi pada suatu waktu dihariyang akan datang...” (Drs. Amir Rajab Batubara).
32
Gatot Supramono, Perbankan Dan Masalah Kredit Suatu Tinjaun Yuridis, (Jakarta : Penerbit Dajmbatan, 1994). hal 28.
33
Hermansyah, Op.Cit. hal 21.
34
b. “ In a general sense credit is based on confidence in Debtors ability to make a money payment at some future time” (Rollin G. Thomas) Apabila defenisikan secara bebas, kreit dalam pnegertian umum merupakan kepercayaan atas kemampuan pihak debitur ( penerima kredit) untuk membayar sejumlah uang pada masa yang akan datang.
Muchdarsyah Sinungan mengatakan, kredit adalah suatu
pemberian prestasi oleh suatu pihak kepada pihak lain dan prestasi itu
akan dikembalikan pada suatu masa tertentu yang akan datang disertai
dengansuatu kontra prestasi berupa bunga.35
Dalam Undang-Undang No 10 Tahun 1998 Tentang Perubahan
atas Undang-Undang No 7 Tahun 1992 Pasal 21 angka 11 menyebutkan
bahwa Kredit adalah penyediaan uang atau tagihan yang dapat
dipersamakan dengan itu, berdasarkan persetujuan atau kesepekatan pinjam
meminjam antara bank dan pihak lain yang mewajibkan pihak peminjam
untuk melunasi utangnya setelah jangka waktu tertentu dengan pemberian
bunga.
Dari beberapa pengertian tersebut diatas dapat diketahui, bahwa kredit
itu adalah merupakan perjanjian pinjam meminjam uang antara bank
sebagai kreditur dengan nasabah sebagai debitur. Dalam perjanjian tersebut
bank sebagai pemberi kredit percaya kepada nasabah dalam jangka wktu
yang telah disepakati akan mengembalikan lunas.
35
1. Pengertian Perjanjian Kredit.
Pengaturan yang berlaku mengenai perjanjian diatur dalam buku
ketiga Kitab Undang-Undang Hukum Perdata yaitu Tentang Perikatan.
Perjanjian diatur dalam buku ketiga Kitab Undang-Undang Hukum Perdata,
karena perjanjian adalah salah satu sumber hukum dari perikatan. Perjanjian
kredit perlu mendapat perhatian yang khusus dari bank sebagai kreditur dan
nasabah sebagai kreditur, karena perjanjian kredit mempunyai fungsi yang
sangat penting dalam pemberian, pengelolaannya maupun penatalaksanaan
itu sendiri.36
Dalam Pasal 1313 Kitab Undang-Undang Hukum Perdata disebutkan
bahwa perjanjian adalah suatu perbuatan dengan mana satu orang atau lebih
mengikatkan dirinya terhadap satu orang lain atau lebih.37
Dalam Undang-Undang Nomor 10 Tahun 1998 tentang Perbankan
tidak mengatur secara jelas mengenai perjanjian Kredit. Untuk mengetahui
Perjanjian Kredit perlu melihat kembali pada Pasal 21 angka 11
Undang-Undang Perbankan Nomor 10 Tahun 1998.
Berdasarkan pengertian tersebut, dapat diketahui bahwa perjanjian
Kredit merupakan perjanjian pinjam meminjam uang antara bank dengan
pihak nasabah. Melihat dari bentuk perjanjiannya dan kewajiban debitur, ,
maka perjanjian kredit tergolong sebagai perjanjian pinjam pengganti. 38
36
Muhammad Djumhana, Hukum Perbankan di Indonesia, (Bandung : PT. Citra Aditya Bakti,1996) hal 241.
37
Kitab Undang-Undang Hukum Perdata Pasal 1313.
38
Meskipun demikian perjanjian kredit merupakan perjanjian khusus, karena
didalamnya terdapat kekhususan dimana pihak kreditur selalu bank dan
objek perjanjian berupa utang 39.
Perjanjian kredit adalah perjanjian pokok (prinsipil) yang bersifat riil.
Arti riil ialah bahwa terjadinya perjanjian kredit ditentukan oleh penyerahan
uang oleh bank kepada nasabah debitur.
Dilihat dari bentuknya perjanjian kredit perbankan pada umumnya
menggunakan bentuk perjanjian Baku (Standart Contract).40 Berkaitan
dengan itu pihak bank sebagi kreditor sebagai penyedia perjanjian tersebut
dan pihak debitor berkewajiban untuk mempelajarinya dengan seksama.
Dalam praktek perbankan bentuk dan format dari perjanjian kredit
diserahkan sepenuhnya kepada bank yang bersangkutan namun demikian
ada hal yang harus diperhatikan yaitu bahwa perjanjian kredit harus jelas,
selain itu juga harus jelas. perjanjian
2. Dasar Hukum Perjanjian Kredit.
Kitab Undang-Undang Hukum Perdata membedakan antara perjanjian
bernama dengan perjanjian yang tidak bernama. Perjanjian bernama adalah
perjanjian yang ditentukan oleh undang-undang secara khusus, yang
terdapat dalam Bab V sampai Bab XVIII buku Ketiga Kitab
Undang-Undang Hukum Perdata. Sedangkan perjanjian tidak bernama adalah
perjanjian yang ada diluar dari jenis-jenis perjanjian yang diatur dalam
39
Ibid.
40
Kitab Undang-Undang Hukum Perdata. Menurut Prof. Subekti, semua
pemberian kredit pada hakekatnya merupakan perjanjiaan pinjam meminjam
sebagaimana yang diatur dalam Pasal 1754/1769 Kitab Undang-Undang
Hukum Perdata.41 Perjanjian pinjam meminjam adalah suatu perjanjian
dengan mana pihak yang satu memberikan kepada pihak yang lain suatu
jumlah tertentu barang-barang yang habis karena pemakaian, dengan syarat
bahwa pihak yang terakhir ini mengembalikan sejumlah yang sama dari
jenis mutu yang sama pula.42 Hal yang sama dikemukakan pula oleh
Mariam Darus Badrulzaman43:
“Dari rumusan yang terdapat di dalam Undang-Undang Perbankan mengenai perjanjian kredit dapat disimpulkan bahwa dasar perjanjian kredit adalah perjanjian pinjam meminjam di dalam kitab Undang-Undang Hukum Perdata Pasal 1754. Perjanjian pinjam meminjam ini juga mengandung makna yang luas yaitu objeknya adalah benda yang menghabis jika verbruiklening termasuk didalamnya uang. Berdasarkan perjanjian pinjam meminjam ini, pihak penerima pinjaman menjadi pemilik yang dipinjam dan kemudian harus dikembalikan dengan jenis yang sama kepada pihak yang memeinjamkan. Karenanya perjanjian kredit ini merupakan perjanjian yang bersifat riil, yaitu bahwa terjadinya perjanjian kredit ditentukan oleh “ penyerahan “ uang oleh bank kepada nasabah”.
Dengan demikian maka perjanjian kredit termasuk kedalam bentuk
perjanjian pinjam meminjam.Oleh karena itu peraturan yang berlaku bagi
perjanjian kredit adalah Kitab Undang-Undang Hukum Perdata sebagai
peraturan Umumnya, dan Undang-Undang Perbankan beserta peraturan
pelaksanaanya sebagai peraturan khususnya. Meskipun secara tegas dalam
41
Subekti, Jaminan-Jaminan untuk Pemberian Kredit Menurut Hukum Indonesia ( Bandung; Citra Aditya Bakti, 1991), hal. 3.
42
Kitab Undang-Undang Hukum Perdata Pasal 1754.
43
dan khusus tidak diatur dalam Kitab Undang-Undang Hukum Perdata,
dalam melaksanakan perjanjian kredit unsur-unsurnya tidak boleh lepas
dari prinsip-prinsip yang diatur dalam Kitab Undang-Undang Hukum
Perdata. Dalam melaksanakan perjanjian kredit harus sesuai dengan Pasal
1320 Kitab Undang-Undang Hukum Perdata.
Dalam ketentuan Pasal 1320 Kitab Undang-Undang Hukum Perdata,
terdapat empat syarat untuk menentukan sahnya perjanjian, yaitu :
a. Adanya kata sepakat.
b. Kecakapan.
c. Hal tertentu,
d. Dan sebab yang halal.
a. Adanya Kata Sepakat.
Adanya kata sepakat adalah persepakatan seia sekata antara
pihak-pihak mengenai pokok (esensi) perjanjian. Apa yang dikehendaki oleh pihak-pihak
yang satu juga dikehendaki oleh pihak yang lainnya.Sebelum adanya
persetujuan, biasanya pihak-pihak mengadakan negosiasi dengan pihak
lainnya untuk beroleh kesepakatan.44
Persetujuan kehendak itu bebas, tidak ada paksaan, tekanan/paksaan
dari piak mana pun, murni atas kemauan sukarela pihak-pihak. Dikatakan
tidak ada paksaan apabila orang yang melakukan perbuatan perjanjian
tersebut tidak berada dalam ancaman, baik dengan kekerasan jasmani
44
maupun dengan upaya menakut-nakuti, misalnya akan membuka rahasia
sehingga dengan demikian orang tersebut terpaksa menyetujui perjanjian.45
b. Kecakapan.
Pada umumnya orang dikatakan cakap dalam melakukan perbuatan
hukum apabila dia sudah dewasa. Dalam Kitab Undang-Undang Hukum
Perdata telah menetapkan siapa-siapa yang tidak cakap hukum dalam
membuat suatu perjanjian. Pasal 1330 Kitab Undang-Undang Hukum
Perdata menyebutkan bahwa orang-orang yang tidak cakap hukum dalam
membuat suatu perjanjian adalah :
1. Orang-orang yang belum dewasa.
2. Mereka yang ditaruh dalam pengampuan
3. Orang-orang perempuan, dalam hal-hal yang ditetapkan oelh undang-undang, dan pada umumnya semua orang kepada siapa undang-undang telah melarang membuat perjanjian-perjanjian tertentu.
Namun untuk poin ketiga Pasal 1330 Kitab Undang-Undang Hukum
Perdata Ini telah dihapuskan berdasarkan Surat Edaran Mahkamah Agung
Nomor 3 Tahun 1963 Tentang Gagasan Menganggap Burgerlijk Wetboek
Tidak Sebagai Undang-Undang.
Kitab Undang-Undang Hukum Perdata sendiri tidak memberikan
perincian siapa saja yang termasuk orang-orang yang belum dewasa.
Ketentuan yang digunakan untuk mengetahui hal tersebut berpedoman pada,
yaitu :46
1. Pasal 1 angka 2 Undang-Undang No 4 Tahun 1979, tentang kesejahteraan anak menyebutkan, bahwa anak adalah seorang yang belum mencapai umur 21 tahun dan belum pernah kawin.
45
Kitab Undang-Undang Hukum Perdata Pasal 1324.
46
2. Pasal 6 angka 2 Undang-Undang No 1 Tahun 1974 Tentang Perkawinan menyebutkan bahwa untuk melangsungkan perkawinan seorang yang belum mencapai umur 21 Tahun harus mendapat izin kedua orang tuanya
c. Hal Tertentu.
Yang dimaksud dengan hal tertentu adalah, dalam suatu perjanjian
harus jelas apa yang menjadi objeknya, supaya perjanjian dapat
dilaksanakan dengan baik
d. Sebab Yang Halal.
Yang dimaksud dengan sebab yang halal disini adalah bahwa suatu
perjanjian itu harus jelas tujuannya untuk apa diperjanjikan, dan suatu
perjanjian tersebut harus sesuai dengan norma dan peraturan hukum yang
berlaku. Semua perjanjian yang tidak memenuhi sebab yang halal akibat
perjanjiannya menjadi batal demi hukum.
Dasar hukum lain yang menjadi dasar hukum perjanjian kredit adalah
berdasarkan Pasal 1338 angka 2 Kitab Undang-Undang Hukum Perdata
yang mengatur asas kebebasan berkontrak. Sehingga dapat dikatakan bank
memiliki kebebasn untuk membuat suatu bentuk perjanjian yang yang
sesuai dengan ketetntuan yang telah diatur oleh kebijakan bank dalam hal
pemberian kredit. Berdasarkan hal tersebut , maka pada umumnya
perjanjian kredit perbankan menggunakan bentuk perjanjian baku sperti
yang sudah dibahas sebelumnya diatas.
Dalam Undang-Undang Perbankan khusunya ketentuan yang
mengatur tentang perkreditan ternyata tidak mengatur tentang bagaimana
mengatur, hal ini merupakan kebebasan kedua belah pihak untuk
menentukan wujud perjanjian kredit yang dikehendaki sebagaimana diatur
dalam Pasal 1338 Kitab Undang-Undang Hukum Perdata.47
Jadi dalam hal ini bank sebagai kreditur yang mengatur atau
menetukan isi perjanjian karena ia kedudukan sosial ekonominya kuat
dibandingkan debiturnya. Disamping itu ada alasan-alasan lain seperti
menghemat waktu, praktis dan untuk memberikan pelayanan yang baik
kepada debitur.48 Apabila debitur menerima semua ketentuan dan
persyaratan yang ditentukan oleh bank, maka ia berkewajiban untuk
menandatangani perjanjian kredit tersebut, tetapi apabila debitur menolak ia
tidak perlu menandatangani kontark/perjanjian kredit tersebut.
Dengan demikian mengenai dasar hukum perjanjian kredit tetap
tunduk kepada Kitab Undang-Undang Hukum Perdata, unsur-unsur
perjanjian kredit tidak boleh bertentangan dengan prinsip-prinsip yang
diatur oleh Kitab Undang-Undang Hukum Perdata.
D. Jenis-Jenis Kredit Bank
Kredit yang disediakan oleh bank ada banyak jenisnya, yang
kemudian digolongkan berdasarkan kriteria yang digunakan. Berdasarkan
hal tersebut kredit dapat dibedakan menjadi beberapa jenis yaitu :
a. Kredit dilihat dari tujuan penggunaan.
47
Gatot Supramono, Op.Cit. hal 45
48
b. Kredit dilihat dari jangka waktunya.
c. Kredit dilihat dari cara penarikannya.
d. Kredit dilihat dari sektor usahanya.
e. Kredit dilihat dari segi jaminan.
f. Kredit dilihat dari segi jumlahnya.
g. Kredit berdasarkan objek yang ditransfer.
a. Kredit Dilihat Dari Tujuan Penggunaan.
Dilihat dari tujuan penggunaan kredit dapat dibedakan menjadi 3
(tiga) yaitu :
1. Kredit Investasi.
Kredit Invesatasi merupakan kredit yang diberikan oleh bank
kepada debitur untuk pengadaan barang-barang modal (aktiva tetap)
yang mempunyai nilai ekonomis lebih dari satu tahun. Secara umum,
kredit ini ditujukan untuk pendirian perusahaan baru atau proyek baru,
maupun pengembangan.
2. Kredit Modal Kerja.
Kredit Modal Kerja adalah merupakan kredit yang digunakan
untuk memenuhi kebutuhan modal kerja yang biasanya habis dalam
satu siklus usaha. Kredit ini biasanya diberikan dalam jangka pendek
yaitu lamanya satu tahun. Kredit ini diberikan untuk membeli bahan
baku, biaya upah, pembelian dagangan, dan kenutuhan lainnya yang
3. Kredit Konsumtif.
Kredit Konsumtif adalah kredit yang diberikan kepada nasabah
untuk memebeli barang dan jasa untuk keperluan pribadi dan tidak
digunakan untuk keperluan usaha.
Beberapa contoh kredit konsumtif antara lain, kredit untuk
pembelian rumah tinggal, kendaraan bermotor untuk dipakai sendiri
dan kredit untuk keperluan lain yang habis pakai.
4. Kredit Dilihat Dari Jangka Waktunya
Apabila melihat dari jangka waktunya, maka pemberian kredit
dapat dibedakan kedalam 3 jenis yaitu :
1. Kredit Jangka Pendek, yaitu kredit yang jangka waktunya tidak
lebih dari satu tahun.
2. Kredit Jangka Menengah, yaitu kredit yang mempunyai jangka
waktu antara 1 sampai 3 tahun.
3. Kredit Jangka Panjang, yaitu merupak kredit yang mempunyai
jangka waktu lebih dari 3 tahun.
5. Kredit Dilihat Dari Cara Penarikannya.
Kredit dapat dibagi sesuai dengan cara penarikannya, maupun
pembayaran kembali menjadi 3 jenis yaitu :
a. Kredit Sekaligus (Aflopend Credit)
Kredit sekaligus ( Aflopend Credit ) adalah kredit yang
Kredit tersebut bisa dicairkan secara tunai, maupun nontunai yaitu
melalui pemindahbukuan.
b. Kredit Rekening Koran.
Kredit Rekening Koran adalah kredit yang dalam hal ini,
baik penyedia dana maupun penarikan dana tidak dilakukan secara
sekaligus, melainkan secara tidak teratur kapan saja dan berulang
kali. Penarikan dana oleh nasabah dilakukan selama plafon kredit
masih tersedia, dilakukan dengan pemindahbukuan, penarikan cek,
bilyet, giro, atau perintah pemindahbukuan lainnya.
c. Kredit Bertahap.
Kredit Bertahap adalah kredit yang pencairan dananya tidak
dilakukan secara sekaligus melainkan bertahap dalam beberapa
termin.pencairan ini dilakuakn sesuai dengan dana yang
dibutuhkan debitur.
d. Kredit Dilihat Dari Sektor Usahanya.
Dilihat dari sektor usahanya, kredit dapat dibagi antara lain sebagai
berikut :
1. Sektor Industri.
Adalah kredit yang diberikan kepada nasabah yang
bergerak dibidang industri, yaitu sektor usaha yang mengubah
bentuk dari bahan baku menjadi barang jadi atau mengubah suatu
barang menjadi barang lain.
Kredit ini diberikan kepada pengusaha yang bergerak
dalam bidang perdagangan, baik perdagangan kecil, menengah,
dan perdagangan besar. Kredit Ini bermaksud untuk memperluas
usaha nasabah dalam usaha perdagangan.
3. Sektor Pertanian, Peternakan, Perikanan, dan Perkebunan.
Kredit Ini diberikan dalam rangka meningkatkan hasil di
sektor pertanian, perkebunan, peternakan, dan perikanan. Kredit
tersebut biasanya diberikan dalam bentuk kredit modal kerja
maupun investasi kepada Pengusaha tambak, petani, dan nelayan.
4. Sektor Jasa.
Kredit ini diberikan oleh bank untuk peruntukan dibidang
sektor jasa seperti jasa pendidikan, jasa rumah sakit, jasa
angkutan, dan jasa lainya.
5. Sektor Perumahan.
Bank memberikan kredit ini kepada debitur yang bergerak
dibidang pembangunan perumahan, yang pada umumnya
diberikan dalam bentuk kredit konstruksi, yaitu kredit untuk
pembangunan rumah.
e. Kredit Dilihat Dari Segi Jaminannya.
Kredit dilihat dari segi jaminan ini dibedakan atas dua jenis, yaitu :
Kredit dengan jaminan merupakan jenis kredit yang didukung
dengan jaminan (angunan). Kredit dengan jaminan ini dapat
digolongkan menjadi jaminan perorangan, benda berwujud, dan
benda tidak berwujud.
a. Jaminan Perorangan.
Jaminan perorangan merupakan jenis kredit yang di
dukung dengan jaminan seorang atau badan sebagai pihak
ketiga yang bertindak sebagai penanggung jawab apabila
terjadi wanprestasi dari pihak debitur.
b. Jaminan Benda Berwujud.
Jaminan benda berwujud merupakan jaminan
kebendaan yang terdiri dari barang bergerak maupun barang
tidak bergerak.
c. Jaminan Benda Berwujud.
Beberapa jenis jaminan yang dapat diterima adalah
jaminan benda tidak berwujud. Benda tidak berwujud
tersebut antara lain, promes, obligasi, saham, dan surat
berharga lainnya. Barang tidak berwujud tersebut dapat
diikat dengan cara pemindahtanganan atau cessie.
2. Kredit Tanpa Jaminan ( Unsecured Loan)
Adalah kredit yang diberikan kepada debitur tanpa di
kepercayaan yang diberikan oleh bank kepada debitur. Kredit
tanpa jaminan ini resikonya tinggi karena tidak ada pengaman
yang dimiliki oleh bank apabila debitur wan prestasi. Bank
dapat memberikan kredit tersebut kepada debitur yang dapat
diyakini bahwa debitur tersebut dapat membayar pinjamannya
dengan lancar.
f. Kredit Dilihat Dari Segi Jumlahnya.
Jenis kredit ini terdiri dari Kredit UMKM ( Usaha Mikro Kecil dan
Menengah), Kredit UKM ( Usaha Kecil dan Menengah ), Kredit
Korporasi.
a. Kredit UMKM
Kredit UMKM merupakan Kredit yang diberikan kepada
pengusaha dengan skala usaha sangat kecil. Misalnya kredit Bank
yang diberikan kepada pengusaha tempe, dan peracangan.
b. Kredit UKM
Kredit ini diberikan kepada pengusaha dengan batasan
antara Rp.50.000.000,- dan tidak melebihi Rp.350.000.000,-.
c. Kredit Korporasi.
Jenis kredit ini merupakan kredit yang diberikan kepada
dengan jumlah besar dan diperuntukkan kepada debitur besar
(Korporasi).
g. Kredit Berdasarkan Objek Yang Ditransfer.
Kredit Ini dibagi kedalam :
1. Kredit Uang ( Money Credit), di mana pemberian dan
pengembalian kredit dilakuakn dalam bentuk uang.
2. Kredit Bukan Uang ( Non Money Credit, Mercantile Credit,
Merchant Credit), dimana diberikan dalam bentuk barang dan