• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB 3 GAMBARAN UMUM KABUPATEN KARO

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "BAB 3 GAMBARAN UMUM KABUPATEN KARO"

Copied!
36
0
0

Teks penuh

(1)

BAB 3

GAMBARAN UMUM KABUPATEN KARO

3.1 Sosial Budaya

Penduduk asli yang mendiami wilayah kabupaten Karo disebut suku bangsa Karo. Suku bangsa Karo ini mempunyai adat istiadat yang sampai saat ini terpelihara dengan baik dan sangat mengikat bagi suku bangsa Karo sendiri. Suku ini terdiri dari Merga Silima, Tutur Siwaluh, Rakut Siteluh.

Merga Silima yakni : 1. Karo – karo 2. Ginting 3. Sembiring 4. Tarigan

5. Perangin – angin

Dari kelima Merga tersebut, masih terdapat sub-sub merga. Berdasarkan merga ini makah tersusunlah pola kekerabatan atau yang dikenal dengan rakut sitelu, tutur siwaluh dan perkaden-kaden sepuluh dua tambah sada.

(2)

2. Kalimbubu 3. Anak Beru

Tutur Siwaluh yakni : 1. Sipemeren 2. Siparibanen 3. Sipengalon 4. Anak beru

5. Anak beru menteri 6. Anak beru singikuri 7. Kalimbubu

8. Puang kalimbubu

Perkaden-kaden Sepuluh Dua yakni : 1. Nini 2. Bulang 3. Kempu 4. Bapa 5. Nande 6. Anak 7. Bengkila 8. Bibi 9. Permen 10. Mama 11. Mami

(3)

12. Bere-bere

Dalam perkembanganya, adat suku bangsa karo terbuka, dalam arti bahwa suku bangsa indonesia lainnya dapat diterima menjadi suku bangsa karo dengan beberapa persayaratan adat yaitu :

1. Masyarakat karo terkenal dengan semangat keperkasaannya dalam pergerakan merebut kemerdekaan Indonesia, misalnya petempuran melawan Belanda, Jepang, politik bumi hangus. Semangat patriotisme ini dapat kita lihat sekarang dengan banyaknya makam para pahlawan di Taman Makam Pahlawan di Kota Kabanjahe yang didirikan pada tahun 1950.

2. Penduduk kabupaten Karo adalah dinamis dan patriotis serta taqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa. Masyarakat Karo kuta berpengang pada adat istiadat yang luhur, merupakan modal yang dapat dimanfaatkan dalam proses pembangunan.

Dalam kehidupan masyarakat Karo, idaman dan harapan yang ingin diwujudkan adalah pencapaian tiga hal pokok yang disebut tuah, sangap, dan menjuah-juah.

1) Tuah berarti menerima berkah dari Tuhan Yang Maha Esa, mendapat keturunan, banyak kawan dan sahabat, cerdas, gigih, disiplin dan menjaga kelestarian sumber daya alam dan lingkungan hidup untuk generasi yang akan datang.

(4)
(5)

serta keseimbangan dan keselarasan antara manusia dengan manusia, antara manusia dengan lingkungan, antara manusia dengan Tuhannya.

3.2 Pemerintahan

Sistem pemerintahan tertua yang dijumpai diwilayah kabupaten Karo adalah penghulu, yang menjalankan pemerintahan dikampung(kuta) menurut adat. Terbentuknya suatu kuta harus memenuhi persayaratan adat antara lain: ada merga pendiri (merga taneh/simatek kuta), ada senina simantek kuta(kalimbubu taneh). Pada masa penjajahan Belanda mulai tahun 1906, sistem pemerintahan di wilayah kabupaten Karo pada dasarnya adalah :

1. Pemerintahan oleh Onderafdeling Karo Landen yang dipimpin oleh Controleur pimpinan pemerintahan selalu dingan bangsa Belanda.

2. Landschaap, yaitu pemerintahan bumi putra. Pemerintahan (landschaap) ini dibentuk berdasarkan perjanjian pendek dengan pemerintah Onderafdeling. Berdasarkan perjanjian pendek (Korte Verklaring) tahun 1907, maka di Tanah Karo terdapat lima Landscaap yang dikepalai oleh Sibayak yang membawahi beberapa Urung yang dikepalai oleh Raja Urung yaitu:

a. Landscaap Lingga, membawahi enan urung : 1. Sepuluh Dua Kuta Di Kabanjahe 2. Telu Kuta di Lingga

(6)

5. Lima Senina di Batu Karang 6. Tiganderket di Tiganderket 7. Namo Haji di kutabuluh 8. Liang Melas di Samperaya

b. Landscaap Sarinembah, membawahi empat urung : 1. Sepuluhpitu Kuta di Sarinembah

2. Perbisi di Perbisi 3. Juhar di Juhar

4. Kuta Bangun di Kuta Bangun

c. Landscaap Suka, membawahi empat urung : 1. Suka di Suka

2. Sukapiring di Serebaya 3. Ajinembah di Ajinembah 4. Tongging di tongging

d. Landscaap Barusjahe, membawahi dua urung : 1. Sipitu Kuta di Barusjahe

2. Sinaman Kuta di Sukanalu

Pada masa penjajahan Jepang susunan pemerintahan di Tanah Karo adalah serupa dengan masa penjajahn Belanda, dengan pergantian orang-orangnya yakni yang setia kepada pejajahan Jepang. Pada masa kemerdekaan RI struktur pemerintahaan di Tanah Karo adalah sebagai berikut :

(7)

1. Pemerintahan Tanah Karo sebagai alat pemerintahaan pusat yang pada saat itu dikepalai oleh Sibayak Ngerajai Meliala

2. Pemerintahan Swapraja yaitu Landscaap : a. Lingga dengan eman urung

b. Barusjahe dengan dua urung c. Suka dengan empat urung

d. Sarinembah dengan empat urung e. Kutabuluh dengan dua urung

Oleh Komite Nasional Indonesia, Tanah Karo dalam sidangnya tanggal 13 Maret 1946, kabupaten Karo diperluas dengan daerah Deli Hulu dan Cingkes, dibagi kedalam tiga Kewedaan dengan masing-masing membawahi lima kecamatan yaitu :

1. Kewedaan Kabanjahe membawahi lima kecamataan yaitu : a. Kabanjahe

b. Tigapanah c. Barusjahe d. Simpang Empat e. Payung

2. Kewedaan Tigabinanga membawahi 5 kecamatan yaitu : a. Tigabinanga

b. Juhar c. Munte

(8)

e. Mardinding

3. Kewedaan Deli Hulu membawahi lima kecamatan yaitu : a. Pancur Batu

b. Sibolangit c. Kutalimbaru d. Biru-biru e. Namo Rambe

3.3 Bentuk dan Susunan Pemerintahan Daerah

Susunan pemerintahan daerah seperti yang diatur menurut UU No.32 tahun 2004 bahwa unsur penyelenggara Pemerintahan Daerah adalah Pemerintahan Daerah dan DPRD, dimana Pemerintah Daerah sebagai Badan Eksekutif dan DPRD sebagai Badan Legislatif. Pemerintah Daerah Kabupaten dipimpin oleh seorang Bupati dan dalam menjalankan tugas dan wewenangnya selaku Kepala Daerah dibantu oleh seorang Wakil Bupati. Sejak terbentuknya Kabupaten Karo hingga saat ini tercatat yang memimpin kabupaten Karo adalah sebagai berikut :

No Nama Bupati Masa Bakti

1 Ngerajai Meliala 1946

2 Rakutta Sembiring Berahmana 1950-1957

3 Raja Purba 1957-1957

(9)
(10)

6 Baharudin Siregar 1966-1969

7 Kol. Tampak Sebayang, S.H 1970-1981

8 Drs. Rukun Sembiring 1981-1986

9 Ir. Menet Ginting 1986-1991

10 Drs. Rupai Perangin-angin 1991-1995

11 Kol. Drs. D.D. Sinulingga 1995-2000

12 Sinar Perangin-angin 2000-2005

13 Drs. D.D. Sinulingga 2005-2010

14 Ukur Karo J Sinulingga 2011-2014

15 Terkelin Brahmana 2014-sekarang

No Nama Ketua DPRD Masa Bakti

1 Selamat Ginting 1950-1955 2 Tokoh Purba 1955-1959 3 Matang Sitepu 1959-1962 4 Tempe Perangin-angin 1962-1965 5 Kolom Bukit 1965-1971 6 Panjang Barus 1971-1977 7 Muli Sembiring 1977-1982 8 Kursi Singarimbun 1982-1987 9 Kursi Singarimbun 1987-1992

10 Musim Firman Taringan 1992-1997

11 Netangsa Suka Tendel 1997-1999

12 Bon Purba 1999-2004

13 R. Ramanus Purba 2004-2009

(11)

15 Effendy Sinukaban, SE 2011-2014

16 Nora Else Surbakti 2014-2019

(12)

Wilayah kabupaten Karo terbagi dalam 13 kecamatan dan 258 desa/kelurahaan yaitu :

1. Kecamatan Kabanjahe, sebanyak 8 desa dan 5 kelurahaan 2. Kecamatan Berastagi, sebanyak 5 desa dan 4 kelurahaan 3. Kecamatan Tigapanah sebanyak 29 desa

4. Kecamatan Merek, Sebanyak 19 desa 5. Kecamatan Barusjahe, sebanyak 19 desa 6. Kecamatan Simpang Empat, sebanyak 40 desa 7. Kecamatan Payung, sebanyak 40 desa

8. Kecamatan Kutabuluh, sebanyak 16 desa 9. Kecamatan Munte, sebanyak 22 desa 10. Kecamatan Juhar, sebanyak 24 desa

11. Kecamatan Tigabinanga, sebanyak 18 desa dan 1 kelurahan 12. Kecamatan Laubaleng, sebanyak 13 desa

13. Kecamatan Mardingding, sebanyak 10 desa

3.4 Penduduk

Hasil sensus tahun 2010 penduduk kabupaten Karo berjumlah 350.960 jiwa, yang mendiami wilayah seluas 2.127,25 Km, kepadaan penduduk diperkirakan 180 jiwa/Km, laju pertumbuhan penduduk Karo tahun 2011-2015 (keadaan tengah tahun) adalah sebesar 2,18 % per tahun. Tahun 2015 di Kabupaten Karo Penduduk laki-laki Berjumlah

(13)

Selanjutnya dengan melihat jumlah penduduk yang berusia dibawah 15 tahun dan 65 tahun ke atas maka diperoleh rasio ketergantungan sebesar 58,15% yang berarti setiap seratus orang usia produktif menanggung 59 orang dari usia dibawah 15 tahun dan 65 tahun ke atas. Beban tanggungan anak sebesar 52 dan beban tanggungan lanjut sebesar 7.

3.5 Iklim dan Geografis

3.5.1 Iklim

Kabupaten Karo beriklim tropis dan mempunyai dua musim yaitu musim hujan dan musim kemarau. Musim Hujan pertama mulai bulan Agustus sampai dengan bulan Januari dan musim kedua pada bulan Maret sampai bulam Mei, sedangkan musim kemarau biasanya pada bulan Februari, Juni, Juli.

Curah hujan di kabupaten Karo pada tahun 2015 tertinggi pada bulan Oktober sebesar 188,5 mm dan terendah pada bulan Agustus sebesar 20 mm sedangkan hari hujan tertinggi pada bulan Oktober dan Nopember sebanyak 22 hari dan terendah pada bulan Maret sebanyak 4 hari. Suhu udara berkisar antara 15,5 C s/d 23,2 C dengan kelembapan udara rata-rata setinggi 89,82 % .

3.5.2 Geografis

(14)

barisan dan sebagian besar wilayahnya merupakan dataran tinggi. Dua gunung berapi aktif di wilayah ini sehingga rawan gempa vulkanik.

Wilayah kabupaten Karo berada pada ketinggian 120 – 1400 meter diatas permukaan laut. Sebelah Utara berbatasan dengan kebupaten Langkat dan kabupaten Deli Serdang, sebelah selatan berbatasan dengan kabupaten Dairi dan kabupaten Toba Samosir, sebelah Timur beebatsaan dengan kebupaten Siamlungun dan sebelah barat berbatassan dengan provinsi Nangroe Aceh Darusalam.

(15)

BAB IV

ANALISIS DATA

4.1 Analisis Data

Data yang diambil dari kantor Badan Pusat Statistika (BPS) Provinsi Sumatera Utara adalah data hasil produksi jeruk, luas lahan jeruk dan curah hujan di Kabupaten Tanah Karo pada tahun 2007-2015. Adapun datanya sebagai berikut :

Tabel 4.1

Data Produksi, Luas Lahan dan Curah Hujan Pada Tahun 2007-2015

Tahun Luas Lahan (ribuan ha) Curah Hujan (mm) Produksi (ribuan ton)

2007 4.39 115.17 33.71 2008 4.75 94.92 37.27 2019 6.34 149.75 49.50 2010 9.78 184.67 47.22 2011 10.02 159.67 54.22 2012 10.03 172.42 58.87 2013 11.41 198.67 61.83 2014 9.73 188.5 40.89 2015 14.12 157.42 76.90

Sumber : Badan Pusat Statistik(BPS) Sumatera Utara

Y = Produksi Jeruk

X 1 = Luas Lahan

(16)

No X1 X2 Y X1^2 X!X2 X2^2 X1Y X2Y Y^2 1 4,39 115,17 33,71 19,2721 505,5963 13264,13 147,9869 3882,381 1136,364 2 4,75 94,92 37,27 22,5625 450,87 9009,806 177,0325 3537,668 1389,053 3 6,34 149,75 49,5 40,1956 949,415 22425,06 313,83 7412,625 2450,25 4 9,78 184,67 47,22 95,6484 1806,073 34103,01 461,8116 8720,117 2229,728 5 10,02 159,67 54,22 100,4004 1599,893 25494,51 543,2844 8657,307 2939,808 6 10,03 172,42 58,87 100,6009 1729,373 29728,66 590,4661 10150,37 3465,677 7 11,41 198,67 61,83 130,1881 2266,825 39469,77 705,4803 12283,77 3822,949 8 9,73 188,5 40,89 94,6729 1834,105 35532,25 397,8597 7707,765 1671,992 9 14,12 157,42 76,9 199,3744 2222,77 24781,06 1085,828 12105,6 5913,61 JLH 80,57 1421,19 460,41 802,9153 13364,92 233808,2 4423,58 74457,59 25019,43

(17)

2

4.2 Persamaan Regresi Linear Berganda

Sehingga didapat dari suatu persamaan :

Y YX1 ∑YX 2 = a0n + a1 ∑ X 1 + a2 ∑ X 2 = a0 ∑ X 1 + a1 ∑ X 1 + a2 ∑ X 1 X 2 = a0n + a1 ∑ X 1 + a2 ∑ X 2

Dapat kita subsitusikan nilai-nilai dari persamaan diatas, sehingga diperoleh :

461 = 9 a0 4447 = 81 a0 + 81 a1 + 811 a1 + 1421 a2 + 13412 a2 74458 = 1421 a0 +13412 a1 + 233808 a2

Setelah persamaan diatas diselesaikan dengan metode subsitusi dan eliminasi, maka diperoleh koefisien-koefisien regresi linear berganda yaitu :

a0 = 28,36

a1 = 4,47

a2 = -0,11

Dengan demikian kita dapat membuat model persamaan linearnya yaitu :

^

(18)

4.3 Menghitung Nilai Kekeliruan Baku Taksiran

Untuk menghitung nilai kekeliruhan baku taksiran diperlukan harga-harga

^

Y yang

diperoleh dari persamaan regresi diatas untuk tiap harga X 1 dan X 2 yang diketahui

Tabel 4.3 Kekeliruan Tafsiran Baku

No X 1 X 2 Y ^ Y ^ (Y − Y ) (Y − Y )^ 2 1 4,39 115,17 33,71 35,31 -1,60 2,57 2 4,75 94,92 37,27 39,15 -1,88 3,54 3 6,34 149,75 49,50 40,23 9,27 85,98 4 9,78 184,67 47,22 51,76 -4,54 20,64 5 10,02 159,67 54,22 55,59 -1,37 1,87 6 10,03 172,42 58,87 54,23 4,64 21,55 7 11,41 198,67 61,83 57,51 4,32 18,67 8 9,73 188,50 40,89 51,12 -10,23 104,61 9 14,12 157,42 76,90 74,16 2,74 7,51 JLH 80,57 1421,19 460,41 459,06 1,35 266,94 ^

Dengan k = 2 ; n = 9 dan ∑(Y − Y )2

Maka didapat ; = 266,94 S 2 yx ^ = ∑(Y − Y ) 12 n − k − 1 = 9 − 2 − 1 266,94 = 266,94 6 S yx12 = 44,49012 = = 6,670092 44,49012 2

(19)

2

Ini berarti bahwa rata-rata jumlah produksi yang sebenarnya akan menyimpang dari rata-rata yang diperkirakan sebesar 6,670092 ribu ton.

4.4 Uji Regresi Linear Ganda

F = (1 − R 2 R / k ) /(n − k − 1) = (1 − 0,82) /(9 − 2 − 1) (0,82) / 2 = 0,41 0,03 = 13,66666666666666 = 13,7 Dimana : n = 9 ; k = 2 v1 = 2 ; v2 = 6

F

0,05( 2,6)

=

5,14

ternyata Fhit > Ftab , berarti H 0 di tolak

Sehingga : Terdapat hubungan-hubungan yang signifikan antara variabel dengan variabel Y yang bersifat nyata terhadap persamaan regresi.

(20)

4.5 Perhitungan Korelasi Linear Ganda

R

2 = a1 ∑ x1 y + a2 ∑ x2 y ∑ y 2 Dimana : ∑ x1 y = ∑ X 1Y − (∑ X 1 n )(∑Y ) ∑ x2 y = ∑ X 2Y − (∑ X 2 n )(∑Y ) ∑ y 2 = ∑Y 2 − (Y ) n ∑ x1 y = ∑ X 1Y − (∑ X 1 n )(∑Y ) = 4447 - (81)(461) 9 = 4447 - 4149 = 298 ∑ x2 y = ∑ X 2Y − (∑ X 2 )(∑Y ) n = 74458 - (1421)(461) 9 = 74458 - 72786,77 = 1671,23 2

(21)

∑ y 2 = ∑Y 2 − (Y ) n = 25019 - 461 2 9 = 25019 - 23613,44 = 1405,56

R

2 = = = = a1 ∑ x1 y + a2 ∑ x2 y ∑ y 2 (4,47)(298) + (−0,11)(1671) 1406 1332,06 − 183,81 1406 1148,25 1406 = 0,816667852 = 0,82

Dari hasil perhitungan didapat korelasi ( R 2 ) positif yaitu sebesar 0,82 yang

menunjukkan bahwa produksi jeruk dipengaruhi oleh factor luas lahan dan curah hujan sebesar 82 % sedang 18 % dipengaruhi oleh factor-faktor lain.

(22)

1

4.6 Perhitungan Koefisien Korelasi

Koefisien Korelasi Produksi dengan Luas Lahan

RYX = = n ∑ X 1Y − ∑ X 1 ∑Y 9(4446) − (81)(461) (9(811) − (81)2 )(9(25019) − (461)2 ) = (7299 − 6561)(225171 − 212521) 4014 − 37341 = 2673 (738)(12650) = 2673 9335700 = 2673 3055,437 = 0,874833943 = 0,875

Nilai positif yang menandakan hubungan yang searah antara jumlah produksi jeruk dengan luas lahan. Artinya, penambahan suatu lahan maka akan meningkatkan jumlah produksi jeruk, sebaliknya penurunan suatu lahan maka akan menurunkan jumlah produksi jeruk. Dimana hubungan antara produksi dengan luas lahan sangat kuat yaitu sebesar 87,75 % .

(n ∑ X 2 − (∑ X )2 )(n ∑Y 2 − (∑Y )2 )

(23)

2

Koefisien Korelasi Produk dengan Curah Hujan

RYX = = n ∑ X 2Y − ∑ X 2 ∑Y 9(74458) − (1421)(461) (9(233808) − (1421)2 )(9(25019) − (461)2 ) = (2104272 − 2019241)(225171 − 212521) 670122 − 644081 = 15041 (85031)(12650) = 15041 1075642150 = 15041 32796,98 = 0,4201755109 = 0,42

Nilai positif yang menandakan hubungan yang searah antara jumlah produksi jeruk dengan curah hujan. Artinya, penambahan curah hujan maka akan meningkatkan jumlah produksi jeruk, sebaliknya penurunan suatu lahan maka akan menurunkan jumlah produksi jeruk. Dimana hubungan antara produksi dengan curah hujan sedang yaitu sebesar 42 % .

(n ∑ X 2 − (∑ X )2 )(n ∑Y 2 − (∑Y )2 )

(24)

BAB 5

IMPLEMENTASI SISTEM

5.1 Pengertian Implementasi Sistem

Implementasi sistem adalah prosedur yang dilakukan untuk menyelesaikan desain sistem yang ada dalam desain yang disetujui, menginstal, dan memulai sistem baru atau sistem yang diperbaiki.

Tahapan implementasi merupakan tahapan penerapan hasil desain tertulis kedalam program. Dalam pengolahan data pada tugas akhir ini penulis menggunakan satu perangkat lunak sebagai implementasi sistem yaitu program SPSS 18.0 for Windows.

5.2 Pengenalan SPSS ( Statistical Product for Service Solution)

SPSS sebagai software statistic, pertama kali dibuat tahun 1968 oleh tiga mahasiswa Stanford University. Pada awalnya SPSS dibuat untuk pengolahan data statistik untuk ilmu sosial (SPSS pada saat itu adalah singkatan dari Statistical Package for the

(25)

riset ilmu-ilmu sains, produksi di pabrik dan lain sebagainya. Sehingga sekarang kepanjangan SPSS adalah Statistical Product for Service Solution.

Untuk memudahkan pengolahan data dan mempercepat pengolahan data-data statistika, banyak kita kenal perangkat lunak computer yang mendukung yang dapat kita gunakan untuk megolah data, serperti paket SPSS, Micrastat, Statgraf, MINITAB dan perangkat lunak lainnya yang menggunakan bahasa pemograman tingkat tinggi seperti PASCAL, FORTRAN, BASIC, dan lain sebagainya.

Dalam hal pengolahan data komputet mempunyai kelebihan dari manusia yaitu kecepatan, ketepatan, dan keandalan dalam memproses data. Dan dengan adanya perangkat lunak computer tersebut kita sangat terbantu karena ada kalanya data yang sangat rumit dan banyak itu tidak dapat dikerjakan secara manual atau dengan menggunakan tenaga manusia yang tentunya membutuhkan waktu dan tenaga yang banyak untuk mengolah data tersebut, disamping itu faktor kesalahan yang dilakukan manusia relative besar. Dan dengan adanya komputer perangkat lunak, diharapkan pekerjaan tersebut dapat dilakukan dengan cepat dan tepat waktu dan dengan tingkat kesalahan yang relative kecil.

Dalam pembahsan data ini penulis menggunakan program computer yaitu SPSS. SPSS adalah suatu program computer khusus statistic yang mampu memproses data statistik secara cepat dan tepat.

SPSS banyak dipakai dalam berbagai riset pasar, pengendalian, dan perbaikan mutu serta riset-riset sains dan banyak digunakan oleh perusahaan untuk membuat dan

(26)

mendistribusikan informasi hasil pengolahan data statistika untuk berbagai pengambilan keputusan strategis perusahaan.

5.3 Langkah-Lagkah Pengolahan Data dengan SPSS

Berikut ini adalah langkah-langkah yang dilakukan dalam menyelesaikan program linear berganda dengan SPSS sesuai dengan data dalam penulisan ini :

1. Aktifkan program SPSS pada windows dengan perintah :

Klik Start lalu All program dan pilih SPSS Inc, pilh PAWS Statistic 18

Gambar 5.1 Aktifkan Program SPSS

2. Setelah diklik tombol tersebut, maka akan muncul tampilan gambar sebagai berikut :

(27)

Gambar 5.2 Evaluation Version

3. Klik tombol Cancel pada kotak dialog tersebut supaya langsung masuk ke data editor seperti gambar 5.3

Gambar 5.3 Tampilan Data Editor

Menamai variable dan property yang diperlukan. Buat nama untuk setiap variable, jenis atau type, label data dan sebagainya. Untuk membuatnya klik

(28)

tab sheet Variabel View yang ada dibagian kiri bawah, atau dapat langsung menekan Ctrl+T. maka akan tampil seperti berikut :

Gambar 5.4 Tampilan Variabel View

3.1 Pengisian :

Name, sesuai kasus, letakkan pointer pada kolom Name, klik ganda pada

sel tersebut dan ketik namanya.

Type,tipe data yang digunakan adalah numeric Width, ketikan 8

Desimal, ketikan 2

Label, label adalah keterangan untuk nama variable yang disertakan Value dan Missing, diabaikan saja

Coloum, ketikan 10

Aligment, adalah posisi data, pilih left

Measure, adalah hal yang terpenting menyangkut tipe variable yang

(29)

3.2 Pengisian Variabel

Variabel Y (Produksi Jeruk)

Oleh karena merupakan variable pertama, tempatkan pointer pada baris pertama

Name, ketikkan produksi jeruk pada sel tersebut Type, pilih numeric

Width, ketikan 8 Decimal, ketikkan 2 Measure, pilih scale Variabel X 1 (Luas lahan)

Oleh karena merupakan variable kedua, tempatkan pointer pada baris kedua

Name, ketikkan luas lahan pada sel tersebut Type, pilih numeric

Width, ketikan 8 Decimal, ketikkan 2 Measure, pilih scale

Variabel X 2 (Curah Hujan)

Oleh karena merupakan variable ketiga, tempatkan pointer pada baris ketiga

Name, ketikkan curah hujan pada sel tersebut Type, pilih numeric

(30)

Measure, pilih scale

Gambar 5.5 Variabel View dalam SPSS

Setelah selesai kemudian tekan Ctrl+T untuk kembali ke data view

3.3 Pengisian Data

Isikan data pada masing-masing sel yang tersedia dan setelah itu simpan data dengan cara telan Ctrl+S kemudian ketikan nama file yang akan disimpan.

(31)

Gambar 5.6 Pengisian Data View dalam SPSS

3.4 Pengolah Data

1. Buka lembar kerja / file yang telah dibuat

Dari menu utama SPSS, pilih menu Analyze, lalu pilih sub menu

Regresion, lalu pilih Linear.

(32)

2. Pengisian

a. Dependent, pilih variabel produksi jeruk, lalu pindahkan ke kolom dependent

b. Independent, pilih variabel luas lahan dan curah hujan, lalu pindahkan ke kolom independent

c. Method, pilih Enter, sehingga hailnya seperti berikut :

Gambar 5.8 Tampilan Jendela Pengisian Regresion Linear

3. Pilih kolom statistic dengan mengklik tab Statistic dan berikan tanda ceklist pada kotak Estimate, Model Fit, Deskriptive, sehingga akan tampil seperti berikut :

(33)

Gambar 5.9 Tampilan Jendela Pengisian Regresion Linear Statistics

4. kemudian klik Continue, untuk melanjutkan pengisian

5. Klik tab Plot, kemudian ceklist Histogram dan Normal Probality

Plot, lalu klik tombol Continue, akan tampak seperti dibawah ini :

6.

(34)

7. Klik Save dan pilih Unstandardizerd, Standardizes dan Adjusted

pada Predicted Value dan Standardizes pada Residual

Gambar 5.9 Tampilan Jendela Pengisian Regresion Linear Save

(35)

BAB VI

PENUTUP

6.1 Kesimpulan

Berdasarkan hasil analisa pada bab sebelumnya serta hasil dari pengumpulan data yang telah dilakukan maka dapat diambil kesimpulan :

^

1. Persamaan estimasinya adalah : Y = 28,36 + 4,47 X 1 - 0,11 X 2

2. Fhit > Ftab berarti H 0 ; ditolak. Terdapat hubungan berarti yang signifikan

antara luas lahan dan gurah hujan terhadap produksi jeruk.

3. Hubungan antara produksi jeruk dengan luas lahan sebesar 87,5 % dan antara hasil produksi jeruk dengan curah hujan sebesar 42 %. Sedangkan hubungan antara luas lahan dan curah hujan terhadap produksi jeruk sebesar 82 %.

(36)

6.2 Saran

1. Berdasarkan analisa diatas penulis menyarankan agar metode regresi dapat digunakan untuk meramalkan data produksi jeruk dimasa yang akan datang.

2. Sebagai bahan masukkan bagi pihak yang ingin meningkatkan hasil produksi jeruk di Kabupaten Tanah Karo dan dapat digunakan untuk mengambil suatu kebijakan.

3. Hasil penelitian saya sangat jauh dari kesempurnaan, bagi teman-teman yang mempunyai kritik dan saran yang membangun agar dikemudian hari hasil penelitian saya dapat lebih baik dari analisa diatas.

Gambar

Tabel 4.3 Kekeliruan Tafsiran Baku
Gambar 5.1 Aktifkan Program SPSS
Gambar 5.2 Evaluation Version
Gambar 5.4 Tampilan Variabel View  3.1 Pengisian :
+5

Referensi

Dokumen terkait

Susilawanto : Analisis Pemasaran Pupuk Di Sumatera Utara (Studi Kasus : Kabupaten Karo Dan...,2006... ANALISIS PEMASARAN PUPUK 01 SUMATERA UTARA (Studi Kasus : Kabupaten Karo

Data Curah Hujan Stasiun Medan Sunggal.. Universitas

Pengantar Ekonomi Pembangunan, Jakarta: ErlanggaLaporan Pertanian Sumatera Utara 2011-2014.. BPS Sumatera

wisatawan untuk berkunjung ke Brastagi di Kabupaten Karo Propinsi Sumatera. Utara. Universitas Sumatera Utara..

Berdasarkan data dari 6 stasiun pengukur yang ada di kabupaten Karanganyar, banyaknya hari hujan selama tahun 2010 adalah 97 hari dengan rata-rata curah hujan 2.601 mm, dimana

masyarakat Karo yang berada pada Desa Lingga yang masih mempertahankan. Universitas

Berdasarkan rata-rata curah hujan mengindikasikan bahwa bulan basah Kota Bandar Lampung pada tahun 2015 terjadi pada bulan November – Maret dengan rerata curah hujan

Laporan ini membahas perencanaan penggunaan lahan di wilayah rawan bencana di Kecamatan Laubaleng, Kabupaten Karo, Sumatera Utara untuk meminimalisir risiko bencana dan mengoptimalkan pemanfaatan