• Tidak ada hasil yang ditemukan

Studi Kasus Kecamatan Laubaleng, Kabupaten Karo, Provinsi Sumatera Utara

N/A
N/A
Fira Aryani

Academic year: 2024

Membagikan "Studi Kasus Kecamatan Laubaleng, Kabupaten Karo, Provinsi Sumatera Utara"

Copied!
4
0
0

Teks penuh

(1)

LAPORAN PROYEK PERENCANAAN PENGGUNAAN LAHAN WILAYAH RAWAN BENCANA

(Wilayah Studi Kecamatan Laubaleng, Kabupaten Karo, Provinsi Sumatera Utara)

Oleh : Kelompok 2 Fira Aryani (20136043) Rasyfa Malfira Salsabilla (20136027)

Stiva Rahmayuan Putri (20136076)

Dosen Pengampu : Dr. Ahyuni, S.T., M.Si.

PROGRAM STUDI S1 GEOGRAFI DEPARTEMEN GEOGRAFI

FAKULTAS ILMU SOSIAL UNIVERSITAS NEGERI PADANG

2023

(2)

PEMBUATAN PETA KESESUAIAN LAHAN “WILAYAH TANAH USAHA”

KECAMATAN LAUBALENG, KABUPATEN KARO, PROVINSI SUMATERA UTARA

A. Pengertian Kesesuaian Lahan “Wilayah Tanah Usaha”

Analisis Persediaan Tanah untuk berbagai jenis penggunaan tanah difokuskan pada tanah-tanah di perdesaan yang cenderung digunakan oleh masyarakat di bidang usaha tani. Kesesuaian Lahan Model “Wilayah Tanah Usaha“ Oleh Dr. I. Made Sandy (1977). Tujuannya adalah untuk mencapai suatu azas penggunaan tanah lestari dengan memperhatikan keseimbangan tetapi hasilnya tetap optimal. Konsep ini dilandasi oleh faktor kemiringan tanah (lereng) dan ketinggian tempat dari permukaan laut sebagai tempat kegiatan masyarakat atau tanah usaha di daerah perdesaan (penggunaan tanah perdesaan).

Pembedaan wilayah lindung dan budidaya telah dirumuskan oleh Sandy (1975) melalui Konsepsi Tanah Usaha. Konsepsi tersebut membagi daerah di Indonesia menjadi kawasan tanah usaha atau budidaya dan kawasan non budidaya atau kawasan lindung.

Kawasan lindung pada umumnya merupakan kawasan yang harus dihutankan. Dalam konsep ini tersurat bahwa daerah dengan lereng lebih dari 40% merupakan kawasan lindung. Daerah dengan lereng kurang dari 40% adalah kawasan budidaya. Kawasan budidaya (tanah usaha) dibedakan menjadi wilayah tanah usaha terbatas 1 dengan ketinggian 0-7 meter dari permukaan air laut dan wilayah tanah usaha terbatas 2 dengan ketinggian lebih dari 1000 meter dari permukaan laut. Konsepsi wilayah tanah usaha tersebut menegaskan bahwa perbedaan tinggi letak suatu tempat memberikan pengaruh pada pertumbuhan tanaman.

Daerah dengan ketinggian lebih dari 1000 meter dari permukaan laut dan lereng lebih dari 40% seyogyanya dijadikan kawasan hutan lindung demi kelestarian tanah usaha pada kawasan di bawahnya.

B. Kriteria Wilayah Tanah Usaha 1. Lereng

 Budidaya <40⁰

 Lindung >40⁰

(3)

2. Ketinggian tempat (Elevasi)

C. Analisis Peta Wilayah Tanah Usaha Kecamatan Laubaleng

(4)

Tabel Luas Wilayah Tanah Usaha Kecamatan Laubaleng Perwilayahan Luas (Ha) Persen %

Tanah Usaha Utama 1

17185.07 83.05%

Tanah Usaha Utama 2

3506.09 16.94%

Zona Lindung 0.52 0.003%

Total 20691.68 100.00%

Dari peta dan tabel diatas, maka dapat diketahui bahwa wilayah tanah usaha

yang ada di Kecamatan Laubaleng terdapat 3 jenis yaitu tanah usaha utama 1, tanah

usaha utama 2, dan zona lindung. Wilayah tanah usaha yang paling dominan yaitu

tanah usaha utama 1 dengan luas 17185.07 Ha dengan persentase 83.05 % dengan

jenis ladang sawah yang cukup baik, pertanian lahan kering seperti jagung,

Sedangkan untuk wilayah tanah usaha yang paling kecil di Kecamatan Laubaleng

yaitu zona lindung dengan kemiringan lereng >40 dengan luas 0,52 Ha atau dengan ⁰

persentase 0,003%.

Referensi

Dokumen terkait

Identifikasi daerah rawan bahaya longsor di Kabupaten Karo berdasarkan kecamatan adalah Kecamatan Tiga Binanga dengan kelas bahaya sangat tinggi (477,27 ha) dan Kecamatan

Universitas Sumatera Utara... Universitas

SISTEM INFORMASI PARIWISATA SUMATERA UTARA KHUSUS KABUPATEN KARO BERBASIS WEB.

Peta Tutupan Lahan Beberapa Kecamatan Kabupaten Karo. Universitas

Penelitian ini dibatasi pada : (1) Pendekatan perilaku politik yang bagaimana yang digunakan masyarakat Karo Kecamatan Medan Selayang pada Pemilihan Gubernur Sumatera

ADE YUNITA : Keanekaragaman Anggrek di Hutan Pendidikan Universitas Sumatera Utara Kabupaten Karo Sumatera Utara, di bawah bimbingan BUDI UTOMO dan YUNASFI.. Anggrek

Perlu digarisbawahi, bahwa perencanaan lanskap berbasis mitigasi bencana melalui penataan ruang dan pemanfaatan vegetasi merupakan langkah meminimalisir risiko terhadap ancaman bencana

Proses pembuatan informasi tentang budaya suku Karo di Sumatera