LAPORAN TUGAS AKHIR. : Peter Angga Branco de Vries Mau : A

101 

Loading.... (view fulltext now)

Loading....

Loading....

Loading....

Loading....

Teks penuh

(1)

Interval Nada

Forward Chaining Method for Chord Naming Based on Note Interval

Diajukan untuk memenuhi salah satu syarat memperoleh gelar Sarjana Teknik Informatika

Disusun Oleh:

Nama

: Peter Angga Branco de Vries Mau

NIM

: A11.2011.05932

Program Studi

: Teknik Informatika-S1

FAKULTAS ILMU KOMPUTER UNIVERSITAS DIAN

NUSWANTORO

SEMARANG

2015

(2)

i

LAPORAN TUGAS AKHIR

Metode Forward Chaining untuk Penamaan Akord Berdasarkan

Interval Nada

Forward Chaining Method for Chord Naming Based on Note Interval

Diajukan untuk memenuhi salah satu syarat memperoleh gelar Sarjana Teknik Informatika

Disusun Oleh:

Nama

: Peter Angga Branco de Vries Mau

NIM

: A11.2011.05932

Program Studi

: Teknik Informatika-S1

FAKULTAS ILMU KOMPUTER UNIVERSITAS DIAN

NUSWANTORO

SEMARANG

2015

(3)

ii

PERSETUJUAN LAPORAN TUGAS AKHIR

Nama Pelaksana : Peter Angga Branco de’Vries Mau

NIM : A11.2011.05932

Program Studi : Teknik Informatika

Fakultas : Ilmu Komputer

Judul Tugas Akhir : Metode Forward Chaining untuk Penamaan Akord Berdasarkan Interval Nada

Tugas akhir ini telah diperiksa dan disetujui,

Semarang, 13 April 2015

Menyetujui : Mengetahui :

Pembimbing Dekan Fakultas Ilmu Komputer

(4)

iii

PENGESAHAN DEWAN PENGUJI

Nama Pelaksana : Peter Angga Branco de’Vries Mau

NIM : A11.2011.05932

Program Studi : Teknik Informatika

Fakultas : Ilmu Komputer

Judul Tugas Akhir : Metode Forward Chaining untuk Penamaan Akord Berdasarkan Interval Nada

Tugas akhir ini telah diujikan dan dipertahankan dihadapan Dewan Penguji pada Sidang tugas akhir tanggal 13 April 2015. Menurut pandangan kami, tugas akhir ini memadai dari

segi kualitas maupun kuantitas untuk tujuan penganugerahan gelar Sarjana Komputer (S.Kom)

Semarang, 13 April 2015

Dewan Penguji :

Anggota I Anggota II

(Bowo Nurhadiyono,S.Si, M.Kom) (Catur Supriyanto, S.Kom, M.CS)

Ketua Penguji

(5)

iv

PERNYATAAN KEASLIAN TUGAS AKHIR

Sebagai mahasiswa Universitas Dian Nuswantoro, yang bertanda tangan di bawah ini, saya :

Nama : Peter Angga Branco de’Vries Mau

NIM : A11.2011.05932

Menyatakan bahwa karya ilmiah saya yang berjudul :

Metode Forward Chaining untuk Penamaan Akord Berdasarkan Interval Nada

Merupakan karya asli saya (kecuali ringkasan dan cuplikan yang masing-masing telah saya jelaskan sumbernya dan perangkat pendukung). Apabila di kemudian hari, karya saya disinyalir bukan merupakan karya asli saya, yang disertai dengan bukti-bukti yang cukup, maka saya bersedia untuk dibatalkan gelar saya beserta hak dan kewajiban yang melekat pada gelar tersebut. Demikian surat pernyataan ini saya buat dengan sebenarnya.

Dibuat di : Semarang

Pada tanggal : 13 April 2015

Yang menyatakan

(6)

v

PERNYATAAN PERSETUJUAN PUBLIKASI KARYA ILMIAH

UNTUK KEPENTINGAN AKADEMIS

Sebagai mahasiswa Universitas Dian Nuswantoro, yang bertanda tangan di bawah ini, saya: Nama : Peter Angga Branco de’Vries Mau

NIM : A11.2011.05932

demi mengembangkan Ilmu Pengetahuan, menyetujui untuk memberikan kepada Universitas Dian Nuswantoro Hak Bebas Royalti Non-Eksklusif (Non-exclusive Royalty-Free Right) atas karya ilmiah saya yang berjudul:

Metode Forward Chaining untuk Penamaan Akord Berdasarkan Interval Nada

beserta perangkat yang diperlukan (bila ada). Dengan Hak Bebas Royalti Non-Eksklusif ini Universitas Dian Nuswantoro berhak untuk menyimpan, mengcopy ulang (memperbanyak), menggunakan, mengelolanya dalam bentuk pangkalan data (database), mendistribusikannya dan menampilkan/mempublikasikannya di internet atau media lain untuk kepentingan akademis tanpa perlu meminta izin dari saya selama tetap mencantumkan nama saya sebagai penulis/pencipta.

Saya bersedia untuk menanggung secara pribadi, tanpa melibatkan Universitas Dian Nuswantoro, segala bentuk tuntutan hukum yang timbul atas pelanggaran Hak Cipta dalam karya ilmiah saya ini.

Demikian surat pernyataan ini saya buat dengan sebenarnya.

Dibuat di : Semarang

Pada tanggal :13 April 2015

Yang menyatakan,

(7)

vi

UCAPAN TERIMA KASIH

Dalam akhir dari proses penulisan dan penelitian untuk menempuh gelar Sarjana Komputer di Universitas tercinta Universitas Dian Nuswantoro Semarang, dengan bangga mengucapkan terima kasih kepada semua rekan dan saudara yang telah memiliki peran penting sehingga laporan tugas akhir dengan judul “Metode Forward

Chaining untuk Penamaan Akord Berdasarkan Interval Nada” sehingga penulisan

laporan ini dapat diselesaikan tepat pada waktunya. Dengan demikian penulis mengucapkan terima kasih kepada :

1. Tuhan Yesus Kristus, dengan segala kasih karunia yang telah membukakan pintu ilmu pengetahuan bagi penulis dengan cara-Nya yang luar biasa.

2. Dr. Ir. Edi Noersasongko,M.Kom, selaku Rektor Universitas Dian Nuswantoro Semarang.

3. Dr. Abdul Syukur, Drs, MM, selaku Dekan Fakultas Ilmu Komputer Universitas Dian Nuswantoro.

4. Dr. Heru Agus Santoso, M.Kom, selaku Ka.Progdi Teknik Informatika. 5. Hanny Haryanto, S.Kom, M.T selaku pembimbing Tugas Akhir yang dengan

kesabaran dan kesediaanya bersedia membimbing jalannya proses penelitian dan penulisan dengan sangat teliti.

6. Semua dosen Fakultas Ilmu Komputer Dian Nuswantoro Semarang yang pernah membimbing penulis dalam segala aspek bidang mata kuliah yang mendukung ilmu pengetahuan dasar dan spesifik dalam teknologi dan informatika.

7. Drs. Yoseph Klemens Mau, M.Hum selaku ayah kandung dan Elisabeth Sri Lestari selaku ibu kandung yang telah menjadi pendidik, mendukung dalam keseharian penulis baik dalam spiritual, intelijen dalam ilmu akademis maupun non-akademis serta tanpa mengenal lelah membiayai penulis dalam studi hingga jenjang perguruan tinggi.

(8)

vii

8. Dr. Chris Pointon (United Kingdom) selaku sponsor pribadi penulis dalam studi sejak 2008 hingga sekarang atas segala dukungan finansial bagi penulis. 9. Christenti Retnalia Puspasari, selaku kekasih tercinta yang telah mendukung

penulis dengan doa dan motivasi yang sangat bermanfaat dalam membangun suasana hati penulis, serta menemani penulis dalam proses penulisan laporan, juga sebagai teman spesial dalam mengekspesikan canda, bahagia, serta perasaan lain dalam keseharian penulis.

10. Mujahid, Rivaldy Erda, Priscila Mellisa, Sito serta teman lainnya yang selama proses penulisan membantu dalam memberikan saran dan kritik atas laporan penulis.

11. Sony Christian, Akbar Seto, Dito Aulia, Burhanudin Yusuf, Intan Putri, Gilang Ardi, Andronicus, A. Fadli, M. Fitrohudin, Yudhistira A., sebagai teman bermain, bertukar pikiran, belajar dan melakukan aktifitas lainnya selama penulis menempuh studi di Universitas Dian Nuswantoro Semarang.

12. Pihak lain yang telah membantu penulis dalam menyelesaikan laporan dan tidak dapat disebutkan satu-persatu.

Semoga atas segala kebaikan dari semua pihak mendapatkan balasan kasih karunia, kesejahteraan dan kehidupan yang lebih layak kedepannya dari Tuhan Yang Maha Esa

Semarang, 13 April 2015

(9)

viii

ABSTRAK

Musik merupakan sebuah ilmu yang memiliki dua sisi berbeda untuk dipelajari, kedua sisi itu adalah obyektifitas dan subyektifitas dimana obyektifitas mengacu pada ilmu pengetahuan yang dapat dijelaskan secara rasional. Akord merupakan salah satu bagian dalam musik yang dapat dijelaskan secara rasional walaupun pada dasarnya akord merupakan sebuah ilmu yang memerlukan pendekatan perasaan. Penamaan akord merupakan bagian terpenting dalam komposisi musik, akord memiliki formula dimana sebuah akord memiliki formula interval nada yang berbeda dengan akord lainnya, penentuan nama akord akan berpengaruh bagi komposer untuk menentukan alur melodi, pendekatan dan lainnya. Pada penelitian ini penamaan akord dikombinasikan dengan sebuah metode yaitu forward chaining dimana pengaplikasiannya akan dibuktikan dalam algoritma yang dikomputerisasi dan diuji keakurasiannya.

Kata Kunci : Akord, Penamaan, Interval Nada, Forward Chaining. xv + 85 Halaman, 52 Gambar, 16 Tabel

(10)

ix

DAFTAR ISI

LAPORAN TUGAS AKHIR ... i

PERSETUJUAN LAPORAN TUGAS AKHIR ... ii

PENGESAHAN DEWAN PENGUJI ... iii

PERNYATAAN KEASLIAN TUGAS AKHIR ... iv

PERNYATAAN PERSETUJUAN PUBLIKASI KARYA ILMIAH UNTUK KEPENTINGAN AKADEMIS ... v

UCAPAN TERIMA KASIH ... vi

ABSTRAK ... viii

DAFTAR ISI ... ix

DAFTAR GAMBAR ... xii

DAFTAR TABEL ... xv BAB I ... 1 PENDAHULUAN ... 1 1.1 Latar Belakang ... 1 1.2 Rumusan Masalah ... 5 1.3 Batasan Masalah ... 5 1.4 Tujuan Penelitian ... 5 1.5 Manfaat Penelitian ... 6 BAB II ... 8 LANDASAN TEORI ... 8 2.1 Tinjauan Studi ... 8 2.2 Tinjauan Pustaka ... 11 2.2.1 Definisi Musik ... 11 2.2.2 Definisi Akord ... 12

2.2.3 Teori Pembentukan Akord ... 14

2.2.4 Kecerdasan Buatan ... 16

(11)

x

2.2.6 Ruang Lingkup Implementasi Kecerdasan Buatan ... 20

2.2.7 Sistem Pakar Sebagai Bagian dari Kecerdasan Buatan ... 21

2.2.8 Implementasi Sistem Pakar dalam Pemecahan Masalah ... 23

2.2.9 Konsep Dasar Sistem Pakar ... 24

2.2.10 Metode dalam Sistem Pakar ... 27

2.2.11 Diagram Kerangka Pemikiran ... 31

BAB III ... 32

METODE PENELITIAN ... 32

3.1 Pemaparan Fungsi Metode dalam Penelitian ... 32

3.2 Instrumen Penelitian ... 32

3.2.1 Software ... 32

3.2.2 Hardware ... 33

3.3 Prosedur Pengambilan Data ... 33

3.4 Teknik Analisa ... 36

3.5 Metode Forward Chaining ... 37

3.6 Pengujian Metode ... 45

BAB IV ... 47

ANALISIS HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN ... 47

4.1 Analisis Penelitian ... 47

4.2 Pembahasan Program Penamaan Akord dengan Metode Forward Chaining.... 48

4.2.1 Logika Penamaan Akord dengan Metode Forward Chaining ... 48

4.2.2 Tabel Logika Forward Chaining untuk Penamaan Akord C ... 52

4.2.3 Basis Data Penamaan Akord Rumpun C dengan Forward Chaining ... 53

4.2.4 Keterkaitan Tabel dalam Basis Data... 56

4.2.5 Runtut Logika Penamaan Akord dengan Forward Chaining dengan Tabel58 4.3 Tampilan Penerapan Metode Forward Chaining untuk penamaan akord C dengan PHP ... 62

4.4 Tingkat Akurasi Penamaan Akord dengan Metode Forward Chaining. ... 64

BAB V ... 81

(12)

xi

5.1 Kesimpulan ... 81 5.2 Saran ... 81

(13)

xii

DAFTAR GAMBAR

Gambar 2.1 Pohon atau Tree ... 28

Gambar 2.2 Graf ... 29

Gambar 2.3 State and Problem Spaces ... 30

Gambar 3.1 Logika Metode Forward Chaining Akord Mayor dan Sixth ... 38

Gambar 3.2 Logika Metode Forward Chaining Akord Minor dan Mayor Minor ... 39

Gambar 3.3 Logika Metode Forward Chaining Akord Dominan ... 39

Gambar 3.4 Logika Metode Forward Chaining Akord Diminished ... 40

Gambar 3.5 Logika Metode Forward Chaining Akord Augmented ... 40

Gambar 3.6 Logika Metode Forward Chaining Akord Suspended dan Power Chord ... 41

Gambar 3.7 Logika Metode Forward Chaining Akord Add ... 42

Gambar 3.8 Flowchart penerapan dan pengujian metode Forward Chaining untuk penamaan akord ... 45

Gambar 4.1 Diagram Pohon penamaan akord berdasarkan interval dengan forward chaining ... 48

Gambar 4.2 Diagram pohon hasil konversi interval ke huruf dalam akord C 49 Gambar 4.3 Basis Data Program Penamaan Akord Rumpun C dengan Metode Forward Chaining ... 54

Gambar 4.4 Hubungan Antar Tabel ... 56

Gambar 4.5 Isi tabel masalah ... 57

Gambar 4.6 Isi tabel solusi ... 57

Gambar 4.7 Tampilan awal program ... 62

Gambar 4.8 Tampilan Proses Lanjut dengan Pilihan Nada Awal Default C 63 Gambar 4.9 Tampilan Proses Lanjut jika Nada yang dipilih E ... 63

Gambar 4.10 Tampilan Output jika Nada yang dipilih C-E-G ... 64

(14)

xiii

Gambar 4.12 Uji akord C Minor ... 65

Gambar 4.13 Uji akord C Minor 7 ... 66

Gambar 4.14 Uji akord C Minor 9 ... 66

Gambar 4.15 Uji akord C Minor 11 ... 67

Gambar 4.16 Uji akord C Minor 13 ... 67

Gambar 4.17 Uji akord C Minor Major 7 ... 68

Gambar 4.18 Uji akord C Add Minor 9 ... 68

Gambar 4.19 Uji akord C Diminished ... 69

Gambar 4.20 Uji akord C Half Diminished 7 ... 70

Gambar 4.21 Uji akord C Diminished 7 ... 70

Gambar 4.22 Uji akord C Major ... 71

Gambar 4.23 Uji akord C Major 7 ... 71

Gambar 4.24 Uji akord C Sixth ... 72

Gambar 4.25 Uji akord C Dominant 7 ... 72

Gambar 4.26 Uji akord C Dominant 9 ... 73

Gambar 4.27 Uji akord C Dominant 11 ... 73

Gambar 4.28 Uji akord C Dominant 13 ... 74

Gambar 4.29 Uji akord C Major 9 ... 74

Gambar 4.30 Uji akord C Major 11 ... 75

Gambar 4.31 Uji akord C Major 13 ... 75

Gambar 4.32 Uji akord C Add 9 ... 76

Gambar 4.33 Uji akord C Augmented ... 76

Gambar 4.34 Uji akord C Augmented 7 ... 77

Gambar 4.35 Uji akord C Augmented 9 ... 77

Gambar 4.36 Uji akord C Suspended 4 ... 78

Gambar 4.37 Uji akord C 7 Suspended 4 ... 78

Gambar 4.38 Uji akord C 9 Suspended 4 ... 79

(15)

xiv

(16)

xv

DAFTAR TABEL

Tabel 2.1 State of the Art ... 10

Tabel 2.2 Tangga Nada Mayor ... 13

Tabel 2.3 Pembentukan Akord Mayor ... 14

Tabel 2.4 Tangga Nada Chromatic... 15

Tabel 2.5 Formula Akord Triad ... 16

Tabel 2.6 Perbedaan Domain Knowledge dan Problem Solving Method ... 22

Tabel 2.7 Pengembangan Perbedaan Domain Knowledge dan Problem Solving Method ... 22

Tabel 2.8 Pengembangan Perbedaan Domain Knowledge dan Problem Solving Method dengan Menambahkan Fakta ... 23

Tabel 2.9 . Perbedaan karakteristik dan kemempuan antara sistem konvensional dengan sitem pakar... 27

Tabel 3.1 Penamaan Akord ... 34

Tabel 3.2 Daftar Literatur sebagai Pembanding Data Akord ... 37

Tabel 4.1 Hubungan interval dan konversi huruf dalam penamaan akord C 50 Tabel 4.2 Logika Penamaan Akord C dengan menggunakan tabel ... 53

Tabel 4.3 Tabel Masalah ... 54

Tabel 4.4 Tabel Solusi ... 55

(17)

1

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Sebagai ilmu pengetahuan, musik telah menjadi bagian dari kehidupan manusia baik dalam aktifitas sakral yaitu sesuatu yang dianggap suci maupun profan berupa hal duniawi, oleh karenanya musik memiliki peran yang sangat penting dalam sejarah manusia sebagai produk kebudayaan, keberadaan musik tidak dapat dipisahkan dari masyarakat karena musik adalah presentasi gagasan manusia sebagai individu maupun masyarakat berupa ungkapan rasa, ekspresi dan indikator eksistensi manusia. [1]. Musik dapat dinilai sebagai sebuah ilmu yang bersifat subyektif dalam implementasinya, tetapi jika dilihat dari kacamata teori musik, maka disiplin ilmu ini dapat dipandang sebagai ilmu yang obyektif dimana teori yang ada dapat dijelaskan secara rasional dengan menggunakan perhitungan matematis.

Teori musik merupakan hal yang luar biasa, karena musik diibaratkan sebagai bahasa manusia pada umumnya. Jika di analogikan dengan bahasa manusia, musik juga memiliki huruf berupa nada yang berdiri secara independen. Nada yang tersusun secara sistematis berupa urutan nada yang telah ditetapkan secara internasional membentuk sebuah abjad yang dikenal sebagai scale atau skala, yang pada umumnya disebut tangga nada. Nada yang terdapat dalam tangga nada jika dikombinasikan akan membentuk sebuah akord yaitu sebuah representasi kata dalam bahasa musik yang terdiri dari tiga nada atau lebih yang dibunyikan bersama dan terdengar harmonis. Kumpulan lebih dari dua akord yang membentuk sebuah pola disebut progresi akord yaitu frasa atau kalimat yang teratur dan dimengerti oleh manusia. Kumpulan

(18)

progresi ini akan membentuk sebuah lagu utuh seperti sebuah cerita yang memiliki pesan moral untuk disampaikan pada pendengarnya [2].

Akord merupakan salah satu permasalahan dasar dalam musik, dimana pemilihan akord menjadi kunci utama dalam membuat sebuah komposisi lagu, penerapan akord sederhana dan akord kompleks dalam sebuah komposisi musik, adalah dasar dalam membuat jalur melodi, jalur melodi inilah yang membuat sebuah komposisi terlihat datar atau terdapat suasana tertentu yang ditekankan secara musikal. Contoh nyata adalah sebuah progresi yang memiliki nada dasar dengan akord C Mayor natural, akord sol normalnya dimainkan dengan G Mayor, posisi G Mayor dapat disubtitusikan dengan akord G7. Walaupun terlihat serumpun tetapi G Mayor dan G7 memiliki susunan nada yang sedikit berbeda, tetapi perbedaan ini dalam hal komposisi musik, penggunaan akord G7 memiliki wawasan yang lebih luas daripada akord sol normal yaitu G Mayor. Subtitusi juga bisa diganti dengan akord lain yang tidak serumpun yang nantinya memperkaya wawasan dalam komposisi yang dibuat. Sebuah akord dinamai dari nada root atau nada akar. Contohnya, root dari G Mayor adalah nada G, nada sisanya mengidentifikasi kualitas, tipe dan akhiran dari akord itu sendiri. Contohnya Bm7b5, B merupakan nada akarnya huruf minor yang diwakilkan oleh simbol “huruf m kecil” merupakan tipenya dan m7b5 merupakan kualitas dari akord itu sendiri serta diakhiri dengan nada sol yang di mol atau dimundurkan setengah nada yang diwakilkan oleh simbol “b5” dibaca mol 5. Teori dasar pembentukan akord yaitu dengan menggunakan interval dari nada root ke nada kedua kemudian diteruskan dari nada ke dua hingga nada ketiga dan seterusnya hingga nada ke-n. Dari interval tersebut dapat diketahui kategori intervalnya yang terdiri dari lima kategori yaitu major,

minor, perfect, augmented, diminished. Contoh pembentukan akord sederhana

misal diketahui interval yang menyatakan hanya ada kategori major dan perfect dalam akord tersebut maka akord tersebut dapat digolongkan sebagai mayor.

(19)

Penggunaan interval yang bermacam ini menghasilkan formula yang dapat membantu dalam penamaan akord lain seperti minor, suspended, augmented,

dominant maupun akord lainnya [3].

Berbicara tentang intelijen dari seorang seniman musik yang telah dipaparkan dalam penentuan nama akord, maka dapat ditarik sebuah hipotesis sederhana bahwa pola pemikiran dari seniman tersebut, terutama dalam penamaan akord dapat dipecahkan dengan metode yang berbasis logika dan dapat diimplementasikan dalam disiplin ilmu kecerdasan buatan. Salah satu masalah yang sesuai dalam pemecahan permasalahan ini adalah dengan logika yang terdapat dalam sistem pakar, dimana kepakaran seseorang yang sudah diakui dapat dikomputerisasikan sehingga memiliki output yang mendekati sempurna dengan pakar aslinya.

Sistem pakar merupakan sistem yang menggunakan pengetahuan manusia yang terekam dalam komputer untuk memecahkan persoalan yang biasanya memerlukan keahlian manusia [4].

Beberapa metode yang berkaitan dengan kecerdasan buatan yaitu metode inference tree adalah mekanisme berfikir dan pola-pola penalaran yang digunakan oleh sistem untuk mencapai suatu kesimpulan. Metode ini akan menganalisa masalah tertentu dan selanjutnya akan mencari jawaban atau kesimpulan yang terbaik. Penalaran dimulai dengan mencocokan kaidah-kaidah dalam basis pengetahuan dengan fakta-fakta yang ada dalam basis data [5].

Forward chaining merupakan metode inference yang melakukan

penalaran dari suatu masalah kepada solusinya, karena inference dimulai dengan informasi yang tersedia dan baru konklusi diperoleh. Jika klausa premis sesuai dengan situasi (bernilai true), maka proses akan menyatakan konklusi

(20)

[5]. Metode ini biasanya diterapkan di beberapa obyek penelitian karena konsep berpikirnya sederhana namun mendapat hasil yang maksimal.

Dalam hal ini forward chaining atau runut maju, merupakan strategi pencarian yang memulai proses pencarian dari sekumpulan data atau fakta, dari data-data tersebut dicari suatu kesimpulan yang menjadi solusi dari permasalahan yang dihadapi [6].

Metode yang diterapkan pada forward chaining ini berkebalikan dengan metode backward chaining. Kelebihan dengan menggunakan metode forward

chaining adalah data baru dapat dimasukkan ke dalam database inferensi dan

adanya kemungkinan untuk melakukan perubahan inference rule [7].

Salah satu metode dalam sistem pakar yang sudah dikenal sebagai metode forward chaining ini merupakan salah satu metode yang sesuai dalam memecahkan penamaan akord, karena memiliki kesamaan cara berpikir.

Penelitian ini menjadi penting karena masih banyak bidang disiplin ilmu musik yang masih belum terjamah oleh teknologi, sehingga dalam keseharian pembelajaran musik masih menggunakan cara yang konvensional. Apabila hasil dari penelitian ini dapat dikembangkan lebih luas lagi, maka implementasinya dapat dirasakan oleh masyarakat awam yang ingin belajar tentang penamaan akord, komposer, pengajar, dan sebagainya.

Dalam penamaan akord, cara menyampaikan pengetahuan selama ini masih dipaparkan dengan penjelasan tulisan, jika ada penyampaian pengetahuan dengan tools yang membantu seseorang dalam penamaan akord, biasanya terdapat pada instrumen alat musik keyboard berupa hardware dimana instrumen ini memiliki harga yang tidak sedikit.

Dalam penelitian ilmiah yang dilakukan penulis, penulis mendapatkan sebuah ide dari logika penamaan akord dan pola berpikir metode forward

(21)

chaining dapat dikombinasikan secara sinergi yang nantinya akan

menghasilkan sebuah algoritma untuk penamaan akord yang dikerjakan secara komputerisasi yang outputnya mendekati sama dengan aturan internasional dalam literatur yang sudah diakui dan dipublikasi.

1.2 Rumusan Masalah

Berdasarkan bahasan yang dipaparkan dalam latar belakang, penulis merumuskan beberapa rumusan permasalahan sebagai berikut :

a. Bagaimana penerapan metode forward chaining dalam pemecahan masalah penamaan akord C berdasarkan interval?

b. Bagaimana akurasi penerapan metode forward chaining dalam komputerisasi penamaan akord C berdasarkan interval?

1.3 Batasan Masalah

Dalam penulisan laporan penelitian ilmiah ini, penulis hanya membatasi permasalahan tentang penerapan metode forward chaining untuk penamaan akord dengan interval yang dibuat oleh penulis. Akord yang tidak diketahui namanya bukan berarti tidak bernama melainkan penamaan disesuaikan dengan literatur internasional yang telah diakui dan pembuatan program semaksimal mungkin membatasi penamaan akord hanya dari literature yang digunakan. Akord yang dipaparkan hanya rumpun akord C. Pembahasan diluar dari metode

forward chaining dan penamaan akord dengan rumpun C dengan menggunakan

interval tidak dipaparkan di laporan penelitian ini ini.

1.4 Tujuan Penelitian

Selain sebagai syarat kelulusan, tujuan penulis melakukan penelitian adalah untuk memanfaatkan metode yang ada dalam sistem pakar, dengan

(22)

melakukan kombinasi formula antara pola berpikir metode forward chaining yaitu konsep logika runtut maju dan pola berpikir penamaan akord dimana susunan interval merupakan sebagai premisnya dan nama akord adalah kesimpulannya, sehingga dari penelitian ini menghasilkan sebuah output yang memiliki kesamaan dengan pakar yang menguasai disiplin ilmu musik. Pengkombinasian dua konsep berpikir ini akan menghasilkan sebuah program yang dikomputerisasi sebagai wujud implementasi dalam aspek ilmu pengetahuan pemrograman dalam komputer. Selain itu tingkat keakurasian program yang dibuat akan diuji dengan menginput beberapa sampel akord yang diinput secara acak berdasarkan pola berpikir seorang komposer dan dihitung keakurasiannya.

1.5 Manfaat Penelitian

1. Bagi Universitas Dian Nuswantoro Semarang

Dengan adanya penelitian ilmiah yang dilakukan oleh mahasiswa semester akhir yang diterapkan dalam memecahkan permasalahan nyata di masyarakat yang berkaitan dengan bidang teknologi dan informasi maka nama Universitas Dian Nuswantoro semakin harum dikenal sebagai Universitas yang mengedepankan teknologi dan informasi di kehidupan masyarakat luas.

2. Bagi Pembaca

1. Pembaca dapat menambah wawasan lebih luas terhadap penerapan teknologi dan informasi yang berkaitan dengan bidang musik khususnya dalam penamaan akord.

2. Pembaca terpacu untuk mengembangkan ide yang serupa dalam

(23)

3. Bagi Masyarakat Luas

1. Dengan menghasilkan sebuah algoritma penentuan nama akord, jika digunakan oleh komposer musik, diharapkan dapat mengurangi beban berpikir komposer tersebut untuk penamaan akord, sehingga seniman komposer karya seni hanya terfokus pada pememilihan jalur melodi dalam sebuah komposisi berdasarkan nama akord yang dihasilkan oleh algoritma dari penelitian penulis. Sehingga muncul sebuah interaksi timbal balik komensalisme antara komposer dan algoritma yang menguntungkan bagi seorang komposer dalam menciptakan komposisi.

2. Masyarakat awam mendapat wawasan lebih luas terhadap teknologi informasi dalam kehidupan bermasyarakat, terutama dalam bidang musik khususnya dalam penamaan akord yang dikombinasi dengan komputerisasi.

3. Bagi Penulis

Penulis sebagai peneliti mendapatkan hasil sebuah penelitian dengan mengkombinasikan dua konsep berpikir yaitu penamaan akord dan metode forward chaining yang memiliki kesamaan logika dan diterapkan dalam algoritma komputer.

(24)

8

BAB II

LANDASAN TEORI

2.1 Tinjauan Studi

Akord merupakan sebuah hal yang kompleks dalam musik sehingga banyak masalah yang bisa dipaparkan. Sebuah studi kasus pembahasan akord dengan sistem tahun 2009 dalam jurnal berjudul An Alignment Based System

for Chord Sequence Retrieval oleh Pierre Hanna, Matthias Robine dan Thomas

Rocher, melakukan sebuah penelitian yang membahas tentang progresi akord yang diterjemahkan oleh sistem, dimana sebuah progresi ini memiliki sifat ambigu yaitu memiliki beberapa makna tetapi beberapa sifat progresi tersebut dapat dijelaskan sehingga membentuk sebuah pola yang nantinya akan berguna dalam pembentukan jalur melodi untuk masing – masing terjemahan progresi dengan sistem [8].

Tahun 2012 dalam studi kasus yang serupa membahas lebih detail tentang akord adalah hasil penelitian oleh Mark Granroth-Wilding dan Mark Steedman dalam jurnal Harmonic Analysis of Jazz MIDI Files Using Statistical

Parsing yang membahas tentang pengenalan akord jazz melalui nada midi atau music instrument digital interface. Midi merupakan sebuah instrument yang

menerapkan sinyal digital, tidak seperti alat musik pada umumnya yang mengeluarkan gelombang dalam sinyal analog. Ini merupakan salah satu bentuk hasil kombinasi yang baik antara seni dan kecerdasan buatan [9].

Studi lain pada 2012 dalam jurnal Hummi-Com: Humming-based Music

Composition System oleh Tetsuro Kitahara, Syohei Kimura, Yuu Suzuki, dan

Tomofumi Suzuki melakukan eksperimen dengan akord yang berkaitan dengan sistem dengan melakukan autocorrect sebuah notasi. Hubungan notasi dengan

(25)

akord adalah notasi merupakan bagian terkecil dari akord dengan kata lain pemilihan notasi berpengaruh dalam pembentukan akord pula [10].

Penelitian terbaru yang berkaitan dengan penerapan sistem komputer dalam akord tahun 2014 adalah A Study on Music Genre Recognition and

Classification Techniques oleh Aziz Nasridinov dan Young-Ho Park yang

bereksperimen tentang klasifikasi sebuah genre musik dengan menerima inputan sinyal audio, dimana bentuk progresi akord tertentu akan menentukan sebuah aliran musik [11].

Beberapa pemaparan studi kasus diatas yang saling terkait dapat ditarik sebuah konklusi bahwa hasil pemikiran sebuah karya komposisi musik masa kini akan berkembang lebih baik jika dikombinasikan dengan sistem pintar yang ada seperti penerjemah progresi, pengenalan akord kompleks dalam jazz serta penamaan akord yang akan diteliti oleh penulis dalam proposal ilmiah ini.

(26)

Tabel 2.1. State of the Art

Permasalahan Penulis Penerbit Tahun Hasil

Menterjemahkan ambiguitas progresi akord dengan sistem Hanna, Pierre Robine, Matthias Rocher, Thomas JCDL 2009 Akord dalam sebuah progresi yang memiliki sifat ambigu, dikelompokkan pada nada dasar yang sesuai Pengenalan akord jazz dengan sinyal digital MIDI Mark Granroth-Wilding dan Mark Steedman Music and Machine Learning Workshop, Edinburgh 2012 Mengetahui nama akord dengan sinyal digital Autocorrect notasi dalam jalur melodi berbasis sistem Kitahara, Tetsuro Kimura, Syohei Suzuki, Yuu Suzuki, Tomofumi

ACM 2012 Notasi yang memiliki kesalahan jalur, diperbaiki ke not yang kemungkinan paling dekat Pengenalan genre musik melalui progresi akord yang digunakan berbasis sistem Nasridinov, Aziz Park, Young-ho International Journal of Multimedia and Ubiquitous Engineering 2014 Progresi akord yang dimainkan dapat menunjukkan beberapa genre yang sudah dimasukkan dalam basis data

(27)

2.2 Tinjauan Pustaka 2.2.1 Definisi Musik

Dalam jurnal musik nasional berjudul Pembelajaran Musik Berbasis Siswa dengan Pendekatan Local Genius yang ditulis oleh Imam Ghozali, mendefinisikan musik sebagai alat komunikasi manusia yang unik, dengan aransemen suara yang terstruktur sangat baik seperti susunan dalam tata bahasa. Mendengarkan musik serupa dengan mendengar orang berbicara dengan bahasa yang tidak dipahami, namun dapat dimengerti dengan interpretasinya, melalui keras - lembut, tinggi - rendah, cepat – lambat nada [12].

Pengertian musik merupakan bunyi yang diatur menjadi sebuah pola untuk menyenangkan manusia melalui indera pendengaran yaitu telinga atau mengkomunikasikan perasaan dan suasana hati. Musik mempunyai ritme, melodi, dan harmoni yang memberikan kedalaman dan memungkinkan penggunaan beberapa instrumen atau bunyi-bunyian [13]

Bernstein & Picker (1972) berpendapat musik adalah kumpulan suara yang terorganisir secara sinergi dalam satuan waktu dan mempunyai unsur estetika serta dapat diimplementasikan sebagai sarana dalam mengekspresikan ide dan emosi dari komposer kepada pendengarnya.

Sebagai ilmu teori pendapat yang dikemukakan oleh Cathrine Schmidt Jones bahwa Musik adalah masalah yang sangat besar dan berisi teori kompleks dimana teori akan dikembangkan menjadi implementasi karya komposisi menurut pemikiran masing - masing individu setelah menguasai teori dasar (Cathrine Schmidt Jones, 2007).

(28)

Cakupan teori dalam musik yang menjadi dasar antara lain, pembentukan akord, tangga nada, pendekatan modes nantinya akan membentuk sebuah aliran musik yang akan dipelajari oleh personal dan menciptakan teori yang lebih dalam tentang masing – masing aliran.

2.2.2 Definisi Akord

Tahun 2010 jurnal berjudul Pengenalan Chord pada Alat Musik Gitar menggunakan CodeBook dengan Teknik Ekstraksi Ciri MFCC oleh Elghar Wisnudisastra dan Agus Buono menjelaskan definisi akord sebagai bentuk pengenalan bahasa dimana akord merupakan rangkaian nada yang membangun keharmonisasian pada musik. Enak tidaknya suatu musik untuk didengarkan, tergantung pada rangkaian akord yang menyusunnya.

Dengan definisi yang hampir serupa menurut Guthrie Govan sebagai salah satu master of voicing chord dalam buku Creative Guitar

1 “Cutting the Edge Techniques” memaparkan akord merupakan nada

yang nadanya diambil dalam sebuah tangga nada dimana sebuah akord memiliki interval nada dan mewakili sebuah not dalam tangga nada tertentu, dan dengan mengkombinasikan kumpulan nada tersebut maka akan menghasilkan sebuah suara yang harmonis. Nada untuk membentuk sebuah Akord minimal triad yaitu tiga nada [14].

Pendapat lain dari Mark dan Jeanne Sternal dalam buku

GUITAR : Probable Chord a “Chord Key Encyclopedia” bahwa akord

merupakan sebuah struktur nada yang dibentuk dengan mengkombinasikan nada dalam sebuah tangga nada [15].

Akord dinamai berdasarkan root atau nada dasarnya biasanya nada pertama digunakan sebagai nada dasar, sedangkan sisa nada yang

(29)

lain merupakan penentu tipe dan kualitas sebuah akord. Untuk membentuk sebuah akord diperlukan aturan tertentu, akord mayor (1,3,5), minor (1,3b,5) dan akord lainnya memiliki perbedaan susunan nada [16]. Nada tersebut diambil dari sebuah tangga nada, berikut adalah tabel 2.2 yang menunjukan tangga nada mayor yang berguna untuk penamaan akord mayor

Tabel 2.2. Tangga Nada Mayor (Sumber : Music Theory by Justin Guitar, 2009)

Pada tabel diatas dijelaskan bahwa tangga nada mayor dapat dimainkan dari beberapa nada berbeda, walaupun dimulai dengan root yang berbeda interval nada selalu sama yaitu 1 - 1 - 12 - 1 – 1 - 1 - 12 . dengan interval ini dapat dibentuk sebuah akord mayor yang penamaannya berdasarkan rootnya.

1 (Root) 2 3 4 5 6 7 1 C D E F G A B C D E F# G A B C# D E F# G# A B C# D# E F G A A# C D E F G A B C D E F# G A B C# D E F# G# A B C# D# E F# G# A# B 1 1 1/2 1 1 1 1/2

(30)

2.2.3 Teori Pembentukan Akord

Setelah mengetahui tentang tangga nada mayor yang dijelaskan pada tabel 2.2, maka seorang komposer dapat membentuk sebuah akord, karena akord sendiri disusun berdasarkan tangga nada dan interval. Pembentukan akord yang paling sederhana adalah triad yaitu tersusun dari tiga buah nada. Akord mayor natural merupakan akord yang disebut triad karena susunan nadanya adalah 1, 3 dan 5. Berdasarkan tabel 2.2 tentang skala tangga nada mayor maka dapat disusun akord mayor pada tabel 2.3

Tabel 2.3 Pembentukan Akord Mayor (Sumber : Music Theory by Justin Guitar, 2009)

Nama Akord 1 (Root) 3 5

C Mayor C E G D Mayor D F# A E Mayor E G# B F Mayor F A C G Mayor G B D A Mayor A C# E B Mayor B D# F# 2 112

(31)

Tabel 2.3 memaparkan bahwa akord mayor disusun oleh nada 1, 3 dan 5 interval antara nada 1 ke nada 3 adalah 2, sedangkan interval antara nada 3 ke nada 5 adalah 112. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa untuk penamaan akord mayor memiliki interval 2 - 112.

Penamaan akord kompleks biasanya berdasarkan tangga nada

chromatic yaitu tangga nada yang interval nadanya tetap sebesar 12. Tabel 2.4 akan mempermudah untuk mengetahui detail dari tangga nada

chromatic.

Tabel 2.4. Tangga Nada Chromatic (Sumber : Music Theory by Justin Guitar, 2009)

1 1#/2b 2 2#/3b 3 4 4#/5b 5 5#/6b 6 6#/7b 7 1

C C#/Db D D#/Eb E F F#/Gb G G#/Ab A A#/Bb B C D D#/Eb E F F#/Gb G G#/Ab A A#/Bb B C C#/Db D E F F#/Gb G G#/Ab A A#/Bb B C C#/Db D D#/Eb E F F#/Gb G G#/Ab A A#/Bb B C C#/Db D D#/Eb E F G G#/Ab A A#/Bb B C C#/Db D D#/Eb E F F#/Gb G A A#/Bb B C C#/Db D D#/Eb E F F#/Gb G G#/Ab A B C C#/Db D D#/Eb E F F#/Gb G G#/Ab A A#/Bb B

Tabel 2.4 menjelaskan detail dari skala tangga nada chromatic. Dengan tabel diatas maka formula akord kompleks dari susunan nada dan interval dapat dihitung. Contoh penerapannya dapat digunakan pada akord triad selain mayor. Akord triad selain mayor dijelaskan pada tabel 2.5.

(32)

Tabel 2.5. Formula Akord Triad (Sumber : Music Theory by Justin Guitar, 2009)

Nama Akord Formula

Mayor 1 3 5

Minor 1 2# atau 3b 5

Augmented 1 3 5# atau 6b

Diminished 1 2# atau 3b 5# atau 6b

2.2.4 Kecerdasan Buatan

Dalam implementasinya sebuah penelitian SampleSearch:

Importance Sampling in presence of Determinism tahun 2010 oleh

Vibhav Gogate dan Rina Dechter yang ditulis dalam sebuah jurnal internasional, Vibhav dan Rina menerapkan kecerdasan buatan dalam pengambilan sampel determinisme dimana dalam penelitian ini menitikberatkan pada kemampuan seseorang dalam berpikir cerdas untuk menarik kesimpulan dari sebuah sampel yang ada berbasis grafik probabilistik dan deterministik [17].

Kasus lain oleh W. T. Luke Teacy beserta tim dalam jurnalnya

An Efficient and Versatile Approach to Trust and Reputation using Hierarchical Bayesian Modelling pada tahun 2012 menggunakan

kecerdasan buatan dengan metode Bayesian untuk menyelesaikan sebuah masalah yaitu penentuan reputasi dan tingkat kepercayaan kepada agen dalam sebuah instansi tertentu, sistem pintar ini bekerja mirip dengan manusia yang menilai seorang agen dari kebiasaan yang dilakukannya [18].

(33)

Kecerdasan Buatan atau yang dikenal dengan Artificial

Intelligent berakar dari kata kecerdasan, dimana kecerdasan sendiri

dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia berarti perkembangan akal budi seperti kepandaian, ketajaman pikiran beberapa jenis kecerdasan yaitu kecerdasan emosional yaitu kecerdasan yang berkenaan dengan hati dan kepedulian antar sesama manusia, makhluk lain, dan alam sekitar, serta kecerdasan intelektual yang menuntut pemberdayaan otak, hati, jasmani, dan pengaktifan manusia untuk berinteraksi secara fungsional dengan yg lain.

Pendapat lain dari M. Tim Jones dalam buku Artificial

Intelligent ”A System Approach” tahun 2008, menyatakan kecerdasan

dapat diartikan secara sederhana sebagai perangkat dari pikiran manusia. Perangkat ini berisi kemampuan untuk merencanakan, memecahkan masalah dalam sebuah masalah umum. Kecerdasan juga diartikan sebagai kemampuan untuk menghasilkan keputusan yang bernilai benar yang berasal dari data inputan mentah yang di dapat kemudian dikembangkan menjadi konklusi dan menghasilkan sebuah aksi [19].

Berdasarkan pernyataan sebelumnya kecerdasan buatan memiliki analogi yang sama, hanya dalam implementasinya kecerdasan buatan dilakukan oleh sistem komputer. Contoh nyata yang ada yaitu pembuatan aplikasi yang diterapkan dalam permainan catur dunia, dimana aplikasi ini dapat menyerupai pola permainan manusia. Beberapa aspek kecerdasan buatan juga diterapkan dalam games dan permasalahan problem solving secara umum.

(34)

2.2.5 Sejarah Kecerdasan Buatan

Selama beberapa tahun para filusuf beusaha mempelajari kecerdasan yang dimiliki manusia. Dari pemikiran tersebut lahirlah

artificial intelligent sebagai cabang ilmu yang berusaha mempelajari

dan meniru kecerdasan manusia. Semenjak itu para peneliti mulai mengembangkan artificial intelligent sebagai teori, dan prinsipnya terus dikembangkan hingga sekarang. Beberapa sejarah lahirnya bidang ilmu ini yang tercatat antara lain sebagai berikut

1. Abad ke-17 hingga ke-19

Merupakan titik awal perkembangan artificial intelligent dengan ditandai beberapa penemuan berikut :

1. René Descartes mengemukakan bahwa semua tidak ada yang pasti, kecuali kenyataan bahwa seseorang bisa berpikir.

2. Blaise Pascal menciptakan mesin penghitung digital mekanis pada tahun 1642.

3. Charles Babbage dan Ada Lovelace membuat mesin penghitung mekanis yang dapat diprogram.

4. Bertrand Russell dan Alfred North Whitehead menerbitkan buku Principia Mathematica, yang membahas logika formal. 5. Walter Pitts menerbitkan “kalkulus logis” pada tahun 1943 yang

merupakan pondasi jaringan syaraf tiruan.

2. Tahun 1950-1970

Tahun 1950 hingga 1970 merupakan tahun pembuka bagi kecerdasan buatan, dimana para ilmuwan dan peneliti mulai memikirkan cara agar mesin dapat melakukan pekerjaannya seperti yang dikerjakan manusia dengan adanya beberapa penemuan seperti berikut :

(35)

1. Februari 1951, University of Manchester berhasil mengembangkan computer elektronik pertama yang dinamai “Ferranti Mark I”.

2. Ditahun yang sama Dietrich Prinz bmembuat program permainan catur.

3. Alan Turing ilmuwan matematika Inggris pertama kali mengusulkan adanya tes untuk melihat bisa tidaknya sebuah mesin dikatakan cerdas. Dari hasil penelitian tersebut dikenal dengan Turing Test, dimana mesin harus bisa menyamar layaknya manusia dalam sebuah permainan yang mampu memberikan respon terhadap serangkaian pertanyaan yang diajukan. Jika mesin tersebut dapat membuat orang percaya bahwa mesin itu bertindak seperti manusia maka mesin itu dikatakan cerdas.

4. John McCarthy membuat istilah kecerdasan buatan pada konferensi pertama yang disediakan untuk pokok persoalan ini pada tahun 1956.

5. Tahun 1967 sebuah program ELIZA mampu melakukan terapi terhadap pasien dengan memberikan pertanyaan.

6. Alain Colmeraurer mengembangkan bahasa computer prolog. 7. Selama 1960-an hingga 1970-an, Joel Moses

mendemonstrasikan kekuatan pertimbangan simbolis untuk mengintegrasikan masalah di di program Macsyma, program berbasis pengetahuan yang sukses dalam bidang matematika.

(36)

3. Tahun 1980 hingga 2004

Tahun ini merupakan tahun dimana kecerdasan buatan berkembang sangat pesat dalam kehidupan, beberapa penemuannya antara lain

1. Tahun 1980-an jaringan syaraf tiruan digunakan secara meluas dengan algoritma perambatan balik. Paul John Werbos merupakan orang perama yang menjelaskannya pada tahun 1974.

2. Penemuan program Deep Blue yang membuat program catur dan mengalahkan juara dunia Gary Kasparov dalam waktu standard sebuah turnamen catur pada 10 Februari 1996.

4. Masa Kini

Tidak dapat dipungkiri kini kecerdasan buatan merambah ke segala aspek kehidupan manusia, sarana umum hingga perangkat

gadget yang dimiliki adalah hasil pengembangan kecerdasan

buatan, dalam kurun waktu yang sangat singkat kecerdasan buatan adalah sebuah aspek yang sangat diperlukan manusia dalam membantu permasalahan umum maupun spesifik [20].

2.2.6 Ruang Lingkup Implementasi Kecerdasan Buatan

Kecerdasan tidak dianggap sebagai sesuatu yang mengherankan karena beberapa lingkup kehidupan telah mengimplementasikan kecerdasan buatan untuk mempermudah manusia. Dalam bidang ilmu

(37)

pengetahuan kecerdasan buatan selalu mengalami pengembangan yang sangat pesat, salah satu contoh yaitu metode tree decision kini telah berkembang menjadi beberapa teori yang lebih spesifik. Salah satu teori pengembangan decision tree yang pernah ditulis dan dipublikasikan adalah Monte-Carlo tree search, yaitu sebuah metode pencarian pohon revolusioner dalam komputer. Pola berpikir dari metode ini pada dasarnya sama dengan metode sebelumnya namun dalam penerapannya beberapa aturan dalam metode ini sangat berguna dalam inputan yang random sehingga dalam proses kerjanya dapat dikatakan lebih efisien [21]

Dalam bidang lain seperti kesehatan kengunaan kecerdasan buatan dalam menentukan penyakit dan mencari solusi pengobatan sangat banyak diaplikasikan, salah satu penelitian dalam negeri yaitu pembuatan sistem pakar untuk menentukan penyakit kulit pada anak dalam jurnal berjudul Perancangan Aplikasi Sistem Pakar Penyakit Kulit pada Anak dengan Metode Expert System Developtment Life

Cycle sangat membantu pihak medis dalam menangani pasiennya [22].

Beberapa bidang lainnya yang telah dikombinasikan dengan kecerdasan buatan yaitu dalam aspek komunikasi, kesehatan, lalu lintas, pertanian, hingga bidang lain yang bersifat spesifik.

2.2.7 Sistem Pakar Sebagai Bagian dari Kecerdasan Buatan

Sebagai bagian dari kecerdasan buatan, sistem pakar telah dikembangkan di berbagai bidang. Bidang kesehatan, komunikasi, hukum serta bidang eksak lainnya dapat dikombinasikan dengan sistem pakar. Salah satu keunggulan dari sistem pakar adalah dapat menggantikan seorang pakar untuk memecahkan sebuah permasalahan walaupun pola pemikiran pada sistem pakar terbatas pada rule yang

(38)

sudah diatur. Sistem pakar terdiri dari dua komponen utama yaitu

domain knowledge dan problem solving method. Dalam beberapa kasus

sederhana domain knowledge merupakan kumpulan fakta, sedangkan

problem solving method adalah pemikiran umum yang sistematis

berdasarkan fakta yang ada [30]. Sebuah contoh sederhana pada tabel 2.6 memaparkan perbedaan kedua komponen ini

Tabel 2.6. Perbedaan Domain Knowledge dan Problem Solving Method (Sumber : Expert System Tools and Techniques MIT, 1980)

Fakta sebagai Domain Knowledge

Problem Solving Method

Marry adalah seorang pasien

Jika pasien mengalami demam, maka pasien mengalami infeksi penyakit

Tabel 2.6 menjelaskan sebuah fakta dimana “Marry adalah seorang pasien” dengan fakta tersebut maka mendapat kondisi, “jika pasien mengalami demam, maka pasien terinfeksi penyakit”. Pengembangan fakta berikutnya akan dijelaskan pada tabel 2.7.

Tabel 2.7. Pengembangan Perbedaan Domain Knowledge dan Problem Solving Method (Sumber : Expert System Tools and Techniques MIT, 1980)

Fakta sebagai Domain Knowledge Problem Solving Method

Marry adalah seorang pasien Jika pasien memiliki gejala penyakit (dalam fakta disebutkan

demam adalah gejalanya), maka pasien tersebut terinfeksi penyakit Demam adalah sebuah gejala infeksi

penyakit

(39)

Tabel 2.7 menjelaskan bagaimana beberapa fakta menghasilkan kesimpulan yang lebih terperinci, berbeda dengan tabel 2.6 dimana

problem solving method tidak sedetail pada tabel 2.7. dengan kata lain

semakin banyak fakta sebagai domain knowledge maka kemungkinan besar semakin detail problem solving method. Tabel 2.8 menjelaskan bagaimana beberapa fakta ditambahkan untuk menghasilkan problem

solving method yang lebih terperinci.

Tabel 2.8. Pengembangan Perbedaan Domain Knowledge dan Problem Solving Method dengan menambahkan fakta (Sumber : Expert System Tools and Techniques MIT, 1980)

2.2.8 Implementasi Sistem Pakar dalam Pemecahan Masalah

Sistem pakar tidak hanya berguna sebagai sarana untuk memecahkan permasalahan yang berhubungan dengan penelitian saja, kini sistem pakar telah digunakan sebagai sarana dalam semua bidang, beberapa contoh kasus dalam negeri adalah pembuatan virtual doctor oleh siswa SMK yang mendapatkan penghargaan di kancah

Fakta sebagai Domain Knowledge Problem Solving Method

Marry adalah seorang pasien Jika obyek menunjukan fitur (detail penyakit) yang dapat diklasifikasikan, maka

obyek akan diklasifikasikan berdasarkan penyakit yang

didapat dari fitur gejala Demam adalah sebuah gejala infeksi

penyakit

Demam adalah gejala infeksi Pasien merupakan obyek Gejala merupakan fitur (detail untuk menjelaskan penyakit yang diderita)

(40)

internasional ini membuktikan bahwa sebenarnya sistem berbasis

expert system sangat diperlukan.

Kasus lain adalah dalam menentukan kualitas batik dengan memberikan beberapa rule yang sudah dikumpulkan dalam bentuk informasi data dalam sebuah jurnal nasional oleh Ishak, Muhammad Zunaidi dan Saniman tahun 2013 dalam jurnalnya Rule Base Expert

System dengan Metode Forward Chaining untuk memprediksi kualitas

Kain batik. Untuk menentukan kualitas dari kain batik itu sendiri dibutuhkan sebuah metode yang tepat, beberapa metode dalam sistem pakar memiliki keunggulan masing – masing. Pemilihan metode pasti memiliki alasan yang kuat mengapa harus menggunakan metode tersebut.

Tidak hanya dalam menentukan kualitas dari sebuah obyek, sistem pakar telah diterapkan dalam beberapa ilmu yang bersifat subyektif lainnya tentu dengan pemilihan metode yang tepat pula.

2.2.9 Konsep Dasar Sistem Pakar 2.2.9.1 Kepakaran

Kepakaran merupakan suatu pengetahuan yang diperoleh dari pelatihan, membaca dan pengalaman. Kepakaran inilah yang memungkinkan seorang ahli dapat mengambil keputusan lebih cepat dan lebih baik daripada seorang yang bukan pakar. Kepakaran meliputi pengetahuan tentang :

1. Fakta – fakta tentang bidang permasalahan tertentu. 2. Teori – teori tentang bidang permasalahan tertentu.

(41)

3. Aturan – aturan dan prosedur menurut bidang permasalahannya.

4. Aturan heuristic yang harus dikerjakan dalam situasi tertentu.

5. Strategi global untuk memecahkan permasalahan. 6. Pengetahuan tentang ilmu pengetahuan.

2.2.9.2 Pakar

Seseorang yang mempunyai pengetahuan, pengalaman dan metode khusus serta mampu menerapkan untuk memecahkan masalah. Seorang pakar harus bisa menjelaskan dan mempelajari hal baru yang berkaitan dengan topic permasalahan, jika perlu harus menyusun kembali pengetahuan yang didapatkan dan dapat memecahkan aturan serta melakukan relevansi kepakarannya. Seorang pakar harus mampu melakukan hal berikut :

1. Mengenali dan memformulasikan permasalahan. 2. Memecahkan permasalahan secara cepat dan tepat. 3. Menerangkan pemecahannya.

4. Belajar dari pengalaman. 5. Merestruksasi pengetahuan. 6. Memcahkan aturan.

7. Menentukan relevansi

2.2.9.3 Pemindahan Kepakaran

Tujuan dari sistem pakar adalah memindahkan kepakaran seorang pakar dalam komputer kemudian

(42)

ditransferkan pada orang lain. Proses ini melibatkan empat kegiatan yaitu :

1. Akusisi pengetahuan. 2. Representasi pengetahuan. 3. Inferensi pengetahuan.

4. Pemindahan pengetahuan ke pengguna.

2.2.9.4 Aturan

Kebanyakan sistem pakar komersial adalah sisteb berbasis rule atau aturan yaitu pengetahuan yang disimpan dalam bentuk aturan pemecahan masalah.

2.2.9.5 Inferensi

Merupaan sebuah prosedur yang mempunyai kemampuan dalam melakukan penalaran. Inferensi ditampilkan pada suatu komponen yang disebut mesininferensi yang mencakup prosedur mengenai pemecahan masalah. Semua pengetahuan yang dimiliki pakar disimpan pada basis pengetahuan oleh sistem pakar.

Tugas mesin inferensi adalah mengambil kesimpulan berdasarkan basis pengetahuan yang dimilikinya.

2.2.9.6 Kemampuan Menjelaskan

Fasilitas lain dari sistem pakar adalah kemampuan untuk menjelaskan saran atau rekomendasi yang diberikannya. Penjelasan dilakukan dalam subsistem yang disebut subsistem

(43)

penjelasan. Bagian dari sistem ini memungkinkan sistem untuk memeriksa penalaran yang dibuatnyya sendiri dan menjelaskan operasinya. Pada tabel 2.9 akan dijelaskan perbedaan karakteristik dan kemampuan yang dimiliki sistem pakar dan sistem kovensional

Tabel 2.9. Perbedaan karakteristik dan kemempuan antara sistem konvensional dengan sitem pakar (Sumber : Kecerdasan Buatan, Andi Yogyakarta, 2011)

Sistem Konvensional Sistem Pakar

Informasi dan pemrosesan biasanya digabungkan dalam satu program

Basis pengetahuan dipisahkan secara jelas dengan mekanisme inferensi

Program tidak membuat kesakahan, yang membuat kesalahan adalah

pengguna

Program dapat membuat kesalahan

Biasanya tidak dijelaskan mengapa data masukan diperlukan atau

bagaimana output hasilnya

Penjelasan merupakan bagian terpenting dari semua sistem pakar

Perubahan program sangat menyulitkan

Perubahan dalam aturan mudah untuk dilakukan

Sistem hanya bisa beroperasi setelah lengkap atau selesai

Sistem dapat beroperasi hanya dengan sedikit aturan

2.2.10 Metode dalam Sistem Pakar

Secara garis besar arti metode berdasarkan Kamus Besar Bahasa Indonesia berarti cara teratur yang digunakan untuk melaksanakan suatu

(44)

pekerjaan agar tercapai sesuai dengan apa yang dikehendaki, arti lain adalah cara kerja yg bersistem untuk memudahkan pelaksanaan suatu kegiatan guna mencapai tujuan yg ditentukan. Metode dalam sistem pakar memiliki analogi yang sama pula, dengan kata lain ada beberapa metode dalam sistem pakar tetapi pemilihan metode yang tepat akan memudahkan untuk mendapatkan pemecahan masalah yang sesuai [31]. Beberapa metode dalam sistem pakar adalah sebagai berikut

2.2.10.1 Pohon dan Graf

Pohon atau tree Merupakan struktur hirarki yang melibatkan node, berisi informasi dan pengetahuan dan cabang untuk mengkoneksikan node yang ada. Node biasanya disebut

vertices dan cabang disebut edge atau link. Pohon memiliki root

atau induk dari node kemudian diturunkan menjadi beberapa level.

Sedangkan Graf merupakan bagian dari tree juga tetapi dalam implementasinya graf bisa terhubung dengan rootnya sedangkan tree tidak bisa. Gambar 2.1 dan 2.2 merupakan gambaran umum pohon dan graf

Gambar 2.1. Pohon atau tree, Sumber : Expert System “Principles and Programming 3rd Edition”, 1998

(45)

Gambar 2.2 Graf, Sumber: Expert System “Principles and Programming 3rd

Edition”, 1998

2.2.10.2 State and Problem Spaces

Graf dapat diaplikasikan dalam beberapa model salah satunya adalah state spaces. Teknik ini serupa dengan graf, perbedaannya adalah state yang terdapat pada metode ini dimana state merupakan cara untuk mendefinisikan suatu obyek dalam bentuk node. Pada teknik ini juga memiliki link atau edge seperti graf. State and Problem Spaces akan digambarkan pada gambar 2.3

(46)

Gambar 2.3. State and Problem Spaces, Sumber: Expert System “Principles and Programming 3rd Edition”, 1998

2.2.10.3 Forward Chaining dan Backward Chaining

Dalam penerapannya teknik ini diterapkan dalam sebuah sistem pangambil keputusan berbasis rule seperti jurnal nasional memprediksi kain batik oleh Ishak, Muhammad Zunaidi dan Saniman tahun 2013 [6].

Metode ini dalam dunia kesehatan juga dapat diterapkan seperti pada jurnal dari Anton Setiawan Honggowibowo 2012 yang menulis jurnal sistem pakar diagnosa penyakit anaman padi berbasis web dengan forward chaining dan backward chaining [4].

Jika diterjemahkan metode ini merupakan sebuah grup

inference rule dengan solusi yang disebut chain atau rantai.

Sebuah logika dengan pemikiran maju dimana mengumpulkan premisnya dan menghasilkan konklusi disebut runtut maju atau

(47)

forward chaining, sedangkan kebalikannya dengan mendapatkan konklusi dan menghasilkan premisnya disebut runtut balik atau backward chaining. Teknik ini merupakan logika yang berkesinambungan sehingga antar premis memiliki keterkaitan satu sama lain. Jika digambarkan dalam graf metode ini memiliki struktur yang serupa [31].

2.2.11 Diagram Kerangka Pemikiran

Penamaan Akord Berbasis Komputer Teori Musik Penamaan Akord

Interval nada sebagai patokan penamaan

Metode Forward Chaining

Forward Chaining untuk Penamaan Akord berdasarkan interval nada

(48)

BAB III

METODE PENELITIAN

3.1 Pemaparan Fungsi Metode dalam Penelitian

Dalam perancangan sebuah penelitian, metode merupakan aspek penting yang berkaitan dengan jalannya proses penelitian. Keakuratan hasil penelitian juga berbanding lurus dengan metode pengambilan sampel dalam sebuah populasi dan bagaimana data sampel tersebut diolah sehingga menghasilkan kesimpulan yang sesuai. Tahapan dan pendekatan merupakan bagian penting dari sebuah metode penelitian sehingga pemilihannya juga dapat berpengaruh dengan hasil. Sehingga untuk menghasilkan hasil akurat maka diperlukan beberapa bagian penting dalam metode penelitian yang bekerja secara sinergi.

3.2 Instrumen Penelitian 3.2.1 Software

Dalam penelitian ini, beberapa software yang dibutuhkan untuk mendukung jalannya penelitian yang utama adalah software sistem operasi Windows dengan versi Windows 7 Home Premium. Software Aplikasi yang digunakan sebagai tools untuk membangun program adalah Dream Weaver yaitu sebuah tools untuk mempermudah pembuatan sebuah project. Bahasa pemrograman yang digunakan adalah bahasa PHP, CSS dan Java Script. Semua obyek penelitian nantinya dijalankan dalam satu komputer dengan software yang telah disebutkan diatas.

(49)

3.2.2 Hardware

Perangkat keras yang mendukung proses penelitian tidak membutuhkan spesifikasi yang tinggi, tidak memerlukan grapic card tambahan, hanya memerlukan prosesor dan RAM kapasitas kecil. Dalam penelitian ini penulis menggunakan computer dengan spesifikasi sebagai berikut

Prosesor : Intel i7 2630QM CPU 2.2 GHz RAM : 2GB x 2, DDR III

VGA : NVIDIA Geforce GT520M 1GB

HDD : Total 500GB, Digunakan Sistem 172GB

3.3 Prosedur Pengambilan Data

Dalam penelitian ini sumber data diperoleh dengan cara mengumpulkan beberapa literatur internasional yang telah diakui sebagai panduan dalam mempelajari akord dalam dunia musik, serta melakukan perbandingan apakah ada perbedaan penamaan akord dalam tiap literatur. Data berupa nama akord yang diambil, merupakan data yang akurat karena merupakan ilmu pasti dalam musik sehingga setiap penamaan akord adalah pasti. Data nama akord akan di paparkan dalam tabel 3.1 yang menjelaskan penamaan akord berdasarkan rumpun dan kualitas nadanya.

(50)

Tabel 3.1. Penamaan Akord, Sumber Hall Leonard - Picture Chord Encyclopedia 2000

Rumpun

Akord Kualitas Nada Susunan Nada

Nama Akord Mayor Natural 1 – 3 – 5 Mayor 7 1 – 3 – 5 – 7 Mayor 7 9 1 – 3 – 5 – 7 – 9 Mayor 9 11 1 – 3 – 5 – 7 – 9 – 11 Mayor 11 13 1 – 3 – 5 – 7 – 9 – 11 – 13 Mayor 13

Power Chord Fifth no Third 1 – 5 5

Sixth 6 1 – 3 – 5 – 6 6 Suspended 4 1 – 4 – 5 Sus 4 2 1 – 2 – 5 Sus 2 7b 1 – 4 – 5 – 7b 7 Sus 4 9 1 – 4 – 5 – 7b – 9 9 Sus 4 13 1 – 4 – 5 – 7b – 9 – 13 13 Sus 4 Add 9 1 – 3 – 5 – 9 Add 9 Minor Natural 1 – 3b – 5 Minor 7 1 – 3b – 5 – 7b Minor 7 9 1 – 3b – 5 – 7b – 9 Minor 9

(51)

11 1 – 3b – 5 – 7b – 9 – 11 Minor 11 13 1 – 3b – 5 – 7b – 9 – 11 – 13 Minor 13

Minor Add 9 1 – 3b – 5 – 9 Add Minor 9

Augmented +5 1 – 3 – 5# + 7b 1 – 3 – 5# – 7b +7 9 1 – 3 – 5# – 7b – 9 +9 Diminished Natural 1 – 3b – 5b Diminished Half 1 – 3b – 5b – 7b Half Diminished 7 Full 1 – 3b – 5b – 7bb Diminished 7

Minor Mayor Minor + 7

Mayor 1 – 3b – 5 – 7 Minor Major 7 Dominan 7 1 – 3 – 5 – 7b Dominan 7 9 1 – 3 – 5 – 7b – 9 Dominan 9 11 1 – 3 – 5 – 7b – 9 – 11 Dominan 11 13 1 – 3 – 5 – 7b – 9 – 13 Dominan 13

Tabel 3.1 menggambarkan penamaan akord berdasarkan susunan nadanya, dimana rumpun akord menjelaskan dalam rumpun mana sebuah akord dapat diberi nama. Kualitas akord menunjukan nada yang paling dominan dimana menunjukan identitas akord secara unik. Dan atribut nama akord

(52)

merupakan cara penamaan secara internasional. Data yang dirangkum dalam tabel 3.1 tersebut merupakan sumber data dalam penelitian ini.

3.4 Teknik Analisa

Data yang diperoleh dalam penelitian merupakan data pasti dan akan selalu sama, sehingga dalam proses analisa data hanya diperlukan kejelian dalam membandingkan dan mengelompokan rumpun akord berdasarkan literatur sebagai panduan. Beberapa penamaan akord altered atau akord yang susunannya sedikit berbeda dengan susunan normalnya dikelompokan dalam satu rumpun yaitu altered chord tanpa menulis detail susunan nadanya. Beberapa akord balikan juga dinamai sesuai rumpunnya yaitu inversion chord. Untuk menganalisa kesamaan antar literatur sedikitnya dibutuhkan empat literatur internasional serta beberapa pernyataan dalam penelitian musik agar penamaan akord yang nantinya akan diterapkan dalam komputer benar – benar sesuai dengan literatur aslinya. Beberapa literatur yang digunakan dalam memperolah penamaan akord dijelaskan dalam tabel 3.2

(53)

Tabel 3.2. Daftar Literatur sebagai Pembanding Data Akord

No Judul Literatur Penerbit Tahun

1 Picture Chord Encyclopedia Hall Leonard Corporation 2000

2 Guitar Probable Chord MJS Music 2006

3 Guthrie Govan Creative Guitar 1

Sanctuary Publising Limited

2002

4 Practical Music Theory by

Justin Guitar www.justinguitar.com

2009

5 Understanding Basic Music Theory

Rice University Huston Texas

2007

Tabel 3.2 menjelaskan judul literatur, penerbit, beserta tahun terbit. Dimana literatur utama adalah Hall Leonard dan Justin guitar sebagai literatur musik yang paling diakui. Literatur lain merupakan tambahan sehingga dalam penamaan akord akan semakin akurat.

3.5 Metode Forward Chaining

Metode forward chaining sebagai logika runtut maju merupakan logika yang sesuai dengan penamaan akord, dimana susunan nada seperti tabel 3.1 dicari interval nadanya satu - persatu dan dinamai berdasarkan logika forward

chaining tersebut. Penjelasan logika forward chaining akan dijelaskan dalam

node yang menggambarkan pohon logika forward chaining penamaan akord. Pohon logika forward chaining dipecah sesuai dengan rumpun akord masing masing.

(54)

1. Mayor dan Sixth

Pada Gambar 3.1 dipaparkan beberapa akord yang terdiri dalam rumpun mayor. Akord mayor pada umumnya terdiri dari tiga nada utama yaitu nada 1, 3 dan 5. Akord Sixth sebenarnya termasuk rumpun mayor karena tersusun atas nada dasar yang sama tetapi penamaannya dibedakan karena nada ke 6 merupakan nada relatif minor sehingga untuk memperjelas penamaan maka akord sixth dibedakan.

1

3

Mayor Mayor 7 Mayor 9

7 9 5 Mayor 11 11 Mayor 13 13 6 Sixth

(55)

2. Minor dan Mayor Minor

Gambar 3.2 menjelaskan akord yang terdiri dalam rumpun minor dimana akord minor terdiri dari tiga nada utama yaitu nada 1, 3b dan 5. Akord mayor minor merupakan pengecualian karena akord ini memberikan suasana minor yang masih terdapat nada mayor yang di tunjukan dengan pemberian nada 7.

3. Dominan

Gambar 3.3. Logika Metode Forward Chaining Akord Dominan

1 Dominan 7 Dominan 9 3 9 Dominan 11 11 5 7b Dominan 13 13

1 Minor Minor 7 Minor 9

3b 9 Minor 11 11 5 7b 13 Minor 13 Mayor Minor 7

(56)

Gambar 3.3 menggambarkan beberapa akord dominan yang tersusun dari empat nada utama 1, 3, 5, 7b dimana nada mayor 1, 3, 5 jika ditambah 7b atau 7 mol menunjukan akord dominan. Penambahan nada lain seperti 9, 11 dan 13 memberikan penamaan berbeda dari akord dominan.

4. Diminished

Akord diminished pada gambar 3.4 terdiri dari akord 1, 3b dan 5b dimana penambahan nada 7b dan 7bb atau 6 memberikan suasana berbeda dalam akord diminished. Perbedaan suasana ini memiliki perbedaan nama pula dalam rumpun akord diminished.

5. Augmented

Gambar 3.5. Logika Metode Forward Chaining Akord Augmented.

1 Diminished Half Diminished 7 3b 7b Diminished 7 5b 7bb 1 + +7 +9 3 5# 7b 9

(57)

Jika dilihat dalam penggambaran node gambar 3.5 yaitu akord

augmented, akord ini memiliki susunan yang hamper serupa dengan akord

mayor natural. Perbedaannya pada nada 5 yang dinaikan setengah menjadi 5# sehingga penamaannya diberi lambang “+” sebagai tanda akord augmented contohnya jika C Mayor natural ditulis dengan lambang “C” atau “CM” atau “C Mayor” maka untuk akord C augmented ditulis dengan lambang “C+”.

6. Suspended dan Power Chord

Gambar 3.6. Logika Metode Forward Chaining Akord Suspended dan Power Chord.

Pada gambar 3.6 dijelaskan bahwa power chord hanya terdiri dari 2 nada yaitu 1 dan 5. Sementara akord suspended pada dasarnya adalah nada mayor yang nada ke 3nya disubtitusi dengan nada lain yaitu nada 2 atau nada

1 Power Chord Suspended 2

5 4 2 7b Suspended 4 7 Suspended 4 9 Suspended 4 9 13 Suspended 4 13

(58)

4. Pengembangan dari akord suspended 4 dapat dilihat dengan pembentukan akord 7 suspended 4, 9 suspended 4 dan 13 suspended 4.

7. Add

Gambar 3.7. Logika Metode Forward Chaining Akord Add.

Gambar 3.7 menjelaskan susunan akord Add dimana akord dengan suasana mayor dan suasana minor hanya memiliki perbedaan pada nada ke 3 seperti perbedaan mayor dan minor pada umumnya. Akord ini menambahkan nada 9 tanpa memberikan nada 7 karena dengan adanya nada 7 nama akord merupakan mayor 9. Dapat disimpulkan akord add 9 merupakan akord mayor 9 atau minor 9 dengan mengeliminasi nada 7.

Dari rule yang terbentuk dapat disimpulkan pula knowledge base atau basis pengetahuan untuk mengelompokan rumpun akord. Pada penelitian ini terdapat 7 rumpun akord yaitu mayor dengan susunan nada dasarnya 1 – 3 – 5, minor 1 – 3b – 5, dominan 1 – 3 – 5 – 7b, diminished 1 – 3b – 5b, augmented 1 – 3 – 5#, suspended terbagi menjadi dua yaitu suspended2 dengan susunan 1 – 2 – 5 dan suspended4 dengan susunan 1 – 4 – 5, keduanya dianggap serumpun

1 Add 9 Minor (Add 9) 3 3b 5 9

(59)

dalam suspended karena mengeliminasi nada 3 sebagai salah satu syarat akord mayor, dan akord add mayor dengan susunan 1 – 3 – 5 – 9 dan minor add dengan susunan 1 – 3b – 5 – 9. Seperti beberapa gambar yang telah dipaparkan diatas maka dapat diperoleh sebuah rule berupa interval nada. Beberapa rule yang dapat disimpulkan antara lain

R1 : IF interval = 1 AND 3 AND 5 THEN mayor R2 : IF mayor AND 7 THEN mayor7

R3 : IF mayor AND 6 THEN sixth R4 : IF mayor7 AND 9 THEN mayor9 R5 : IF mayor9 AND 11 THEN mayor11 R6 : IF mayor11 AND 13 THEN mayor13

R7 : IF interval = 1 AND 3b AND 5 THEN minor R8 : IF minor AND 7b THEN minor7

R9 : IF minor7 AND 9 THEN minor9 R10 : IF minor9 AND 11 THEN minor11 R11 : IF minor11 AND 13 THEN minor 13 R12 : IF minor AND 7 THEN mayor minor

R13 : IF interval = 1 AND 3 AND 5 AND 7b THEN dominan7 R14 : IF dominan7 AND 9 THEN dominan9

R15 : IF dominan9 AND 11 THEN dominan11 R16 : IF dominan9 AND 13THEN dominan13

R17 : IF interval = 1 AND 3b AND 5b THEN diminished R18 : IF diminished AND 7b THEN half diminished7 R19: IF diminished AND 6 THEN diminished7

Figur

Memperbarui...

Referensi

Memperbarui...

Related subjects :