• Tidak ada hasil yang ditemukan

I am 1 in I am 1 of 5000 women

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "I am 1 in I am 1 of 5000 women"

Copied!
7
0
0

Teks penuh

(1)

I am 1 in 5000

I am 1 of 5000 women

Bagaimana rasanya seorang wanita dengan kondisi kandungan yang abnormal? Bagaimana rasanya seorang wanita dengan kondisi yang jika dinalar akan sangat susah memiliki keturunan? Apakah kalian bisa merasakan? Aku bisa. Ya, Perasaan itu sangat Nyata dan Jelas. Aku bisa merasakan kesedihan yang teramat sangat. Kalian tahu kenapa? Karena aku yang mengalaminya !

Panggil aku cut, sebenarnya aku benci panggilan ini. gadis kampung yang memiliki banyak cita – cita. Sebenarnya cita – citaku simpel. Aku hanya ingin melihat orangtuaku bahagia karenaku. Dari cita – cita yang simpel itulah lahir cita – cita lain. Dari kecil aku ingin kuliah dan menjadi dokter. Bagiku dengan menjadi dokter maka aku akan mendapatkan banyak uang dan akan lebih mudah meringankan beban orangtua. Namun takdir berkata lain.

Aku memilih mengikuti permintaan orangtua untuk mengambil prodi kependidikan ketika kuliah. Aku tak ingin mengecewakan mereka kesekian kalinya. Sebelumnya aku gagal mewujudkan mimpi mereka menjadikanku seorang hafidzoh. Karena kau tak mau nyantri di pesantren pilihan ayahku. Kalian tahu kenapa? Karena aku takut seperti ibuku. Aku takut cita – cita ku pupus ditengah jalan karena harus mengabdi kepada suami setelah lulus dari pesantren. Ayah janji akan menyekolahkanku, tapi beliau tak yakin untuk membiayai kuliahku. Aku takut, benar – benar takut menikah muda kala itu, aku tak mau.

Masa SD dan SMP, aku benar benar bersemangat untuk menggapai cita – cita. Aku masuk di SMP favorit kedua di kota, SPP berbulan lumayan mahal kala itu. Gadis umur 12 tahun harus menempuh perjalanan 3 km naik sepeda dan kemudian melanjutkan perjalanan menggunakan bus kota sekitar 7 km. Tujuanku hanya

(2)

satu, mencapai cita – cita. Cemoohan orang – orang sekitarku semakin menambah semangatku. Aku sempat berkali – kali sakit hati dengan selentingan orang di sekitarku, pernah suatu hari ketika matahari bersinar dengan teriknya, aku dan sepeda merahku melaju di atas jalanan yang berbatu dan penuh debu. Ada seseorang yang menertawaiku dan berkata, “Rekasamen to

nduk, mengko yen gede paling yo ning pawon.” Artinya, kok mau

maunya susah nanti juga urusannya sama dapur.

Di lain waktu, ketika mulai memasuki pendaftaran SMA, seseorang juga meminta ayahku untuk tidak memasukkanku di sekolah yang dianggap favorit oleh orang orang di kota. Seseorang yang masih berkerabat dengan ayah itu meminta ayah untuk mencabut pendaftarannya dengan dalih beliau takut ayah tak bisa membiayaiku sampai tuntas.

Masa SMA adalah masa yang penuh gejolak untukku. Bukan masa yang indah seperti kata remaja lainnya. Di masa SMA ini aku seolah benar – benar menjadi pemberontak yang tak tahu diri. Aku mulai banyak bertanya tentang aturan yang dibuat oleh orangtua. Aku mulai malas – malasan mengerjakan tugas. Aku mulai meninggalkan Mengaji bersama di mushola. Aku mulai menjadi pemberontak yang parah ketika aku mulai jatuh cinta untuk pertama kalinya.

Masa SMA memang masa yang sangat penuh dengan gejolak. Di sini lah psikis ku mulai terganggu, terlebih ketika semua teman perempuanku telah mengalami masa menstrusasi. Kalian tahu, siklus bulanan yang hanya di alami oleh wanita?. Ketika dinding rahim meluruh karena pengaruh hormon. Aku tak begitu paham dengan menstruasi dan siklusnya. Aku tak pernah mengalaminya. Teman – teman perempuanku selalu membicarakannya ketika sedang mengalami masa haid nya. Mulai dari mengeluhkan masalah yang ditimbulkan dari haid berupa sakit kepala, pusing, emosi yang meningkat, sampai pentiliner yang dipakai dan keunggulannya. Aku hanya diam, aku tak mengerti.

(3)

Stress juga mendengarkan ocehan mereka tentang siklus istimewa itu, seringkali aku harus berbohong untuk menutupi kekuranganku. Aku menghilang ketika waktu solat tiba. Beberapa hari dalam satu bulan di tanggal yang sama aku melakukannya. Aku menghilang dengan melakukan sholat secara diam – diam agar mereka yakin kalau aku benar – benar sedang haid.

Terkadang aku berpikir, kenapa Tuhan tak segera memberiku siklus istimewa itu, kenapa Tuhan membadakanku dengan Teman – temanku yang lainnya? Kenapa ?

Tak hanya di sekolah, Di lingkungan rumahku pun banyak yang mempertanyakan apakah aku sudah mengalami siklus itu atau belum, padahal aku sudah memasuki usia yang memasuki dewasa. Ketika aku menjawab ‘belum’ pasti sorot mata dan mimik wajah mereka menunjukkan keprihatinan sekaligus simpati, tatapan yang seolah olah ingin mengatakan bahwa aku adalah makhluk yang paling menyedihkan di dunia. Aku tak suka tatapan mata seperti itu.

Mengetahui aku memang berbeda dengan gadis seusiaku, aku kembali berpikir apa yang harus ku lakukan selanjutnya? Apa tujuan awalku? Kenapa aku menjadi pemberontak seperti ini? Kenapa dengan hatiku? Kenapa hatiku terasa sangat gersang? Sejak saat itu aku berubah. Aku menjadi Cut yang selalu semangat dalam menggapai cita – citanya. Tahun terakhirku di SMA, Tuhan memberikan sahabat – sahabat yang luar biasa. Mereka membuatku merasa dianggap di kelas walaupun masih sering menjadi bahan ejekan alias bahan bullyan. Mereka menyenangkan walaupun terkadang menyebalkan. Di tahun ini, aku mendapat nama panggilan baru dari temanku yang paling menyebalkan. Panggilan yang paling aku sukai.

Tahun terakhir sangat melelahkan. Kami diberi banyak sekali materi untuk persiapan ujian. Sekolah mulai mempersiapkan murid – muridnya dengan maksimal. Pernah suatu ketika aku harus berangkat ba’da subuh karena pengayaan

(4)

dilakukan pukul 05.30 padahal jarak sekolah ke rumah lumayan jauh. Di tahun terakhir itulah aku harus memilih jalan untuk masa depanku, akhirnya dengan semua pertimbangan dan mantap aku memilih Universitas Negeri Semarang sesuai arahan orangtua. Mereka menginginkanku menjadi seorang pendidik. Dan aku ingin mewujudkannya.

Ibuku sepertinya mulai gelisah dengan keadaan anak gadi sematas wayangnya. Beliau mulai bertanya kepada para tetangga dan kerabat tentang keadaan yang kualami, mungkin dengan itu ibuku bisa mendapatkan solusi. Suatu pagi yang cerah, ibu mengajakku pergi memeriksakan diri ke Rumah Sakit. Saat itu umurku 17 tahun. Sebenarnya aku malas harus berurusan dengan rumah sakit. Dari kecil aku harus bolak bailk ke rumah sakit untuk memeriksakan hidungku yang bermasalah.

Pertama kali aku cek up, banyak sekali ibu hamil dan suaminya yang mengantri untuk memeriksakan kandungannya. Ada beberapa muda – mudi, mungkin mereka adalah pasangan yang menikah muda, pikirku. Beberapa melihat ke arahku dengan tatapan yang sinis, aku tak suka. Mungkin karena aku hanya bersama ibuku, tidak ditemani oleh seorang laki – laki seperti mereka. Aku memutuskan untuk bertanya kepada ibuku tercinta “Ibu, apa yang mereka pikirkan? Apa ada yang aneh denganku? Apakah mereka menganggapku sebagai korban ‘kecelakaan’ seperti gadis lain yang tidak bisa menjaga interaksinya?” Tanyaku

“Sudahlah, jangan dipikirkan. Mereka tidak membicarakanmu, kamu saja yang PD berlebihan.” Ibu menenangkanku yang masih bertanya tanya.

Antrian hari itu sangat panjang dan membosankan, ibuku tertidur setelah 30 menit mengantri. Setelah satu jam mengantri, tibalah giliranku. Suster memanggil namaku. Sebelum masuk ke dalam ruangan aku harus menimbang berat badan dan mengukur tensi darah. Ruangan itu lebar, dingin dan bercat putih bersih. Disalah satu sudut ruangan terdapat alat disebut

(5)

dengan USG, mungkin dokter akan memeriksaku menggunakan alat itu, pikirku.

“Keluhannya apa buk?” Tanya Dokter setelah mempersilahkan kami duduk

Ibuku menjawab pertanyaan dari dokter sambil sesekali kutambahkan. Kemudian dokter memeriksaku menggunakan alat itu, di monitor nampak gambar rahimku, setelah pemeriksaan selesai dokter hanya mengatakan bahwa rahimku kecil, dan beliau memberikan obat cycloproglinova, obat pengatur siklus menstruasi berharap agar segera mengalami menstruasi. Setiap hari setelah pemeriksaan pertama ku aku berharap kepada Tuham untuk menurunkan mukjizatnya untukku. Aku ingin seperti gadis sepertiku, Tuhan. Aku ingin normal. Tingkah lakuku berubah, tak biasanya. Rasanya malas sekali untuk tersenyum. Hidupku tak bisa tenang. Beberapa kali aku mengalami pemeriksaan. Pemeriksaan terakhir membuatku benar benar mengalami saat – saat yang paling down dalam hidupku. “Abnormal bu, Kemungkinan memang sangat susah memiliki anak.” Kata dokter setelah melakukan pemeriksaan.

Hatiku kelu mendengarnya. Aku ingin menangis ditempat mendapati kenyataan itu. Ibuku tahu, aku pasti tidak baik baik saja. Aku akhirnya menangis di ruang tunggu, mata ku terasa sangat panas dan tiba – tiba mengeluarkan air mata. Setiap aku melihat anak kecil berlari lari dengan lincahnya, aku menangis. Enak ya, bisa punya anak yang sehat seperti mereka, pikirku. Pikiran – pikiran buruk mulai memenuhi pikiranku. Selama beberapa hari setelah kejadian itu aku malas keluar rumah, malas meminum obat yang sekarang diganti menjadi obat Kb. Aku merasa seperti alien, aku abnormal. Aku bisa membayangkan orang – orang diluar sana akan memandangku dengan tatapan memelas dan prihatin. Entahlah, aku benar – benar kalut. Hingga suatu hari, ditengah kekalutanku yang semakin menjadi, datanglah dua orang mahasiswa berjas almamater kuning. Aku terpaksa memasang senyum manis seolah tidak

(6)

terjadi apa – apa.

Salah satu dari mereka bernama Alif, salah satu nama favoritku. Alif terlihat sangat sok kenal. Ia mewawancarai bapakku, menanyakan beberapa hal kepadaku. Kebetulan kami alumni dari sma yang sama dan organisasi yang sama, sehingga mudah baginya untuk membuka pembicaraan. Rasanya malas sekali menanggapi pertanyaan orang ini, wajahku sangat susah untuk tersenyum hari itu.

Singkat cerita, aku diterima di prodi dan Universitas pilihanku. Langkah awal bagiku. Kuliah perdana akan dimulai bulan september, serangkaian kegiatan khusus mahasiswa baru akan diselenggarakan bulan agustus. Alif membantuku di awal – awal proses pendaftaran, memberikan info – info terkait dengan mahasiswa baru. ia sangat membantu, Ia juga yang membantuku memilih tempat tinggal yang cocok.

Tahun Pertama Kuliah,

Alif tipe orang yang cuek sebenarnya, namun entah kenapa Ia menjadi lebih sok kenal semenjak tahun pertama kuliah. Aku menganggapnya biasa saja, toh aku juga punya banyak kakak cowok. Bedanya Alif kuliah, sedangkan kakak – kakakku sudah bekerja, sebagian lain kuliah dan lost contact beberapa bulan. Alif sangat berbeda dengan kakak – kakakku yang lainnya. Bedanya dimana?? Alif ngaji, lebih paham agama dibandingkan kakakku yang lain, kecuali mas ares (mamas paling religius dibanding mamas yang lain).

Kuliah di tahun – tahun pertama kujalani dengan penuh optimis. Aku mengikuti berbagai macam kegiatan, kulupakan sejenak syndrom yang menimpaku. Oh iya, kini aku lebih terbuka, aku berani mengakui bahwa aku memiliki syndrom yang menyebabkanku tidak mengalami menstruasi. Namun keadaan optimis ini tidak berlangsung lama. Semenjak aku mengikuti organisasi pilihanku selama dua tahun, kurasakan tingkat 'kebaperan'ku makin tinggi karena tuntutan profesionalitas

(7)

berbanding terbalik dengan perhatian seorang kakak. Aku merindukan sosok – sosok seperti mas ares dan mbak yuhana. My role model, kakak yang ideal meurutku. Lalu bagaimana dengan Alif??

Well, aku harus menekan dalam – dalam sesuatu yang nggak aku ketahui namanya agar bisa terkontrol dengan baik. Walau bagaimanapun, lingkunganku sekarang berbeda dengan lingkunganku yang dulu. Aku yang sekarang juga berbeda dengan yang dulu. haha, kayak lagu ya.. Adanya Alif seperti mengisi ruang kosong bernama RINDU untuk kakak – kakakku, terutama mas ares dan mbak Yuhana. Alif menempati posisi yang ditinggalkan oleh mereka. Ia menjadi kakak yang kadang menyebalkan tetapi terkadang kurindukan. Gara – gara dia pula aku harus mendapatkan banyak teguran disamping akunya sendiri yang bandel.hehehe. Banyak orang mewanti – wanti agar aku berhati – hati, mungkin saja dia modus seperti yang lainnya. Well, aku sempat berfikir demikian.

Selama dua tahun Alif menjadi tempat paling menyenangkan untuk cerita, yah walaupun terkadang hanya bilang oh, gitu atau hanya dengan emot – emot. Tak heran banyak yang dekat dengannya. dua tahun aku mengenalnya, tak pernah kusebutkan kondisiku. karena aku belum siap jika sewaktu – waktu dia menghilang dan pergi. Hingga suatu hari, mungkin ia bosan atau apa entahlah aku tak tahu, keadaan itu memaksaku untuk menceritakannya. Well, setelah 3 tahun lamanya akhirnya aku mampu menceritakan keadaanku. Lega, bercampur takut Ia akan benar -benar pergi, well tak apa toh dia punya pilihan sendiri dalam hidupnya, tetap menjadi kakakku atau pergi meninggalkanku…

Referensi

Dokumen terkait

VERB PHRASES IN NOVEL’S JODI PICOULT: MY SISTER’S KEEPER INTO PENYELAMAT KAKAKKU. Limitation of

falciparum di Thailand yang menemukan lebih dari tiga kelas alel, namun hasil penelitian ini berbeda dengan penelitian yang dilakukan di Kalimantan dan Sulawesi dimana pada lokus

Hal ini berbeda dengan penelitian yang dilakukan oleh Insiroh (2014) dimana variabel pertumbuhan asset tidak memiliki pengaruh terhadap struktur modal. Variabel

 Pada uji ninhidrin, larutan putih telur, larutan kuning telur, larutan tyrosin dan larutan histidin menunjukkan hasil positif, dimana keempat sampel

yang berbeda, yaitu perubahan sosial pada masyarakat Samin di Desa. Mendenrejo, Kecamatan Kradenan, Kabupaten Blora

Pada zaman ini, remaja tidak lagi mempunyai interest untuk membaca atau mencari tahu tentang isu sosial, mereka cenderung menyukai dan update dengan hal yang

Bacterial vaginosis (BV) adalah suatu kondisi patologis dimana terjadi perubahan ekologi vagina oleh karena pertumbuhan Lactobacillus yang merupakan flora normal dominan

104 Glass Ceiling in The World of Work| Alif Nur Fitriyani & Achmad Khudori Soleh GLASS CEILING IN THE WORLD OF WORK Burhani Epistemology Perspective Alif Nur Fitriyani*, Achmad