1 BAB I PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang
Ambarawa adalah sebuah Kota Kabupaten tepatnya di selatan Kota Semarang, Kota ini meiliki beragam objek wisata yang sangat menarik seperti Wisata Museum Kereta Api, Wisata Water Bluster, Wisata Museum Perjuangan dan lain-lain, Ambarawa memiliki geografis yang berbukit-bukit kawasan ini memiliki cuaca yang cukup bersahabat jika siang hari tidak terlalu panas, akan terasa dingin jika hari sudah sore menjelang malam, juga Kota ini tidak begitu padat penduduk, lalu lintas kendaraan cukup tertib dan lancar, persawahan dan perkebunan yang masih luas menambah asri pemandangan dikawasan itu. Tidak heran apabila Kota Ambarawa dijadikan kawasan berlibur atau istirahat bagi masyarakat yang suka akan berwisata alam terbuka dan umumnya yang datang dari Kota-Kota sekitarnya. Ambarawa memang bukan tempat tujuan wisata, tetapi Ambarawa memiliki beberapa objek wisata yang menarik.
Kawasan Wisata Air Rawa Pening adalah penawaran paket wisata danau dengan luas sekitar 2.670 hektare dan terletak di daerah Ambarawa tepatnya terdapat di antara jalan Raya Semarang – Yogyakarta, awal berdirinya kawasan Wisata Rawa Pening adalah dengan adanya kebijakan Pemerintah Daerah Propinsi Jawa Tengah Diparda Propinsi Jawa Tengah, 2001 yang menjadikan Kawasan Rawa Pening yang berbentuk Danau sebagai kawasan wisata yang ada di Kabupaten Semarang. Kawasan ini dijadikan Daerah Tujuan Wisata karena memiliki pemandangan yang alami disekeliling danau tersebut, sehingga Dinas Pariwisata Provinsi merasa perlu mengelola kawasan tersebut secara optimal dan professional serta memanfaatkan kondisi
2 pemandangan alam yang sudah alami sebagai daya tarik untuk dijadikan kawasan wisata.
Wisata Rawa Pening ini menawarkan paket wisata diantaranya kawasan Danau sebagai objek wisata keliling danau menggunakan perahu. Wisatawan yang berkunjung ke kawasan wisata ini biasanya berdatangan pada pagi hari sehingga wisatawan dapat berkeliling mengitari danau menggunakan perahu sambil menikmati pemandangan disekelilingnya adalah peristiwa yang mengagumkan sambil menikmati kuliner khas yaitu ikan bakar yang langsung diambil dari danau tersebut sehingga dapat menambah kesan bagi para pengunjungnya, sembil mengelilingi danau dengan perahu sekeluarga sambil memancing ikan yang banyak terdapat di danau ini, disamping satu-satunya wisata danau yang ada di Kabupaten Semarang ini, juga memiliki keindahan lingkungan yang sangat luar biasa, kawasan ini banyak dijadikan objek fotografi yaitu disaat sunrise muncul maka pemandangan yang berbentuk fenomena alam dikawasan tersebut menjadi sangat indah untuk diabadikan.
Rawa Pening kini masih bergulat dengan kondisi yang dihadapi dalam meraih pangsa pasar karena kawasan rawa pening mengalami penurunan dari segi pengunjung seperti dituturkan oleh Bapak Sutarno beliau sebagai wakil dari pengelola kawasan Wisata Rawa Pening menuturkan pada kurun waktu 3 tahun terakhir ini kawasan Rawa Pening mengalami penurunan pengunjung 2011: 30 %, 2012: 35%, 2013: 35% dari rata-rata pengunjung 3000 (tigaribu)pengunjung pertahunnya. Namun Rawa Pening juga masih bisa mendapatkan pengunjung yang cukup banyak ketika adanya hari-hari besar seperti Idul Fitri ataupun liburan panjang anak-anak sekolah dan setelah itu rawa pening kembali akan sepi pengujung. Berdasarkan catatan penulis, Wisata Air Rawa Pening tidak memiliki satupun media yang mempromosikan wisata tersebut sehingga masyarakat secara luas tidak mengetahui tentang kondisi wisata air teresebut, selama ini pengunjung yang datang sebatas pengunjung yang sudah lama mengetahuinya.
3 Jika dilihat permasalahan yang sudah dipaparkan oleh Bapak Sutarno bahwa Wiasata Rawa Pening ini kurang promosi sehingga wisatawan yang datang ini pada umumnya mereka yang sudah sering mengunjunginya, tetapi pengunjung baru sangatlah jarang. Oleh sebab itu penulis sebagai desainer komunikasi visual bekerjasama dengan Dinas Pariwisata Daerah Provinsi Jawa Tengah diminta untuk memberikan solusi upaya mengahadapi persoalan yang ada kaitannya dengan media promosi, sehingga nanti setelah terciptanya media promosi, diharapkan masyarakat sebagai calon pengunjung akan mengetahui sebuah kawasan objek Wisata Air Rawa Pening ini, sehingga target pasara yang dicanangkan oleh pihak pengelola sebesar 90% akan tercapai pada tahun pertama promosi diluncurkan.
1.1.Rumusan Masalah
Permasalahan yang timbul dapat dirumuskan sebagai berikut:
1. Bagaimanakah merancang media komunikasi visual yang menarik dan komunikatif dalam upaya meningkatkan jumlah pengunjung.
1.2.Batasan Masalah
Batasan masalah yang akan dibahas meliputi proses perancangan media komunikasi visual sebagai sarana iklan Wisata Air Rawa Pening yang komunikatif sesuai dengan karakter.
1.3. Tujuan dan Manfaat
1.4.1. Tujuan
A. Tujuan Khusus :
Dengan adanya perancangan yang sesuai dengan konsep wisata air ini diharapkan dapat mencapai target pengunjung yang signifikan.
4 B. Tujuan Umum
a. Mendapatkan informasi-informasi yang sesuai untuk digunakan di dalam perancangan media
b. Bagi Mahasiswa diharapkan dapat berinteraksi serta mengembangkan wawasan berpikir sehingga mampu memperkenalkan adanya Wisata Air Rawa Pening kepada masyarakat.
1.4.2. Manfaat Desain
a. Bagi Mahasiswa :
Mahasiswa mampu mengimplementasikan ilmu yang dipelajari dibidang desain komunikasi visual sehingga mampu merancang media iklan secara konseptual.
b. Bagi Lembaga :
Menambah referensi bagi akademis khususnya desain komunikasi visual mengenai perancangan media, serta menjadi bahan masukan untuk penulis selanjutnya.
c. Bagi Dinas Pariwisata Daerah :
Menambah media iklan dan sekaligus memperkenalkan kawasan Wisata Air Rawa Pening kepada masyarakat secara lebih luas.
d. Bagi Masyarakat:
Membantu masyarakat agar mendapatkan informasi tentang kawasan Wisata Air yang bernama Rawa Pening.
5
1.4. Metode Dan Sistematika Perancangan
1.4.1. Metode Perancangan
Dalam menyusun perancangan ini, penulis menggunakan metode sebagai berikut: Metode analisis akan menggunakan analisis deskriptif kualitatif, yaitu dengan cara pengumpulan data yang diperoleh akan diuraikan dan menafsirkan, data yang berkenaan dengan situasi yang terjadi dilapangan yang di kategorikan ataupun dalam bentuk lainnya, seperti foto, dokumen, dan catatan-catatan lapangan pada saat penelitian dilakukan. dimana data yang diperoleh akan dianalisis dengan menggunakan analisis SWOT. Proses analisis adalah usaha untuk menemukan jawaban dari permasalahan dalam perancangan.
1.4.2. Metode Pengumpulan Data
Berdasarkan tujuan perancangan, maka penulisan dalam proses pengumpulan data menggunakan teknik pengumpulan data, antara lain:
a. Studi pustaka ( library research )
Metode pengumpulan data dengan mencari, membaca buku – buku sebagai referensi acuan, dalam perancangan dan memperoleh wawasan yang berhubungan dengan teori-teori tentang iklan komersial dan konsep perancangan iklan komersial.
b. Wawancara ( Interview )
Pengumpulan data dengan melakukan wawancara langsung bersama dengan pihak pengelola Wisata Air Rawa Pening atau yang terkait dengan perusahaan itu, sehingga akan mendapatkan temuan-temuan sebagai bahan dalam menciptakan media dalam lingkup Desain Komunikasi Visual.
6 c. Observasi ( Observation )
Pengumpulan data dengan melakukan kegiatan pengamatan pada pengelola Wisata Air Rawa Pening sampai sejauh mana pihak manajemen perusahaan telah melakukan kegiatan dalam mempromosikan Wisata Air Rawa pening.
d. Metode Analisis Data
Metode analisis akan menggunakan analisis deskriptif kualitatif, yaitu dengan cara pengumpulan data yang diperoleh akan diuraikan dan menafsirkan, data yang berkenaan dengan situasi yang terjadi dilapangan yang di kategorikan ataupun dalam bentuk lainnya, seperti foto, dokumen, dan catatan-catatan lapangan pada saat penelitian dilakukan. dimana data yang diperoleh akan dianalisis dengan menggunakan analisis SWOT. Proses analisis adalah usaha untuk menemukan jawaban dari permasalahan dalam perancangan.
1.5.3 Sistematika Perancangan - BAB I. PENDAHULUAN
Dalam bab ini menjelaskan uraian yang mencakup latar belakang masalah, rumusan masalah, tujuan perancangan, manfaat perancangan, batasan lingkup perancangan, metode perancangan, dalam metode perancangan didalamnya terdapat metode pengumpulan data, sistematika perancangan, serta tinjauan teori yang mendukung perancangan .
- BAB II. IDENTIFIKASI DAN ANALISIS DATA
Dalam bab ini Identifikasi dan analisis data pada perancangan media promosi ini adalah mengumpulkan data-data yang bersifat kualitatif, yaitu berupa wawancara dengan narasumber ahli, dalam hal ini adalah seputar Wisata Air Rawa Pening. dengan Analisis
7 Kelemahan (weakness), kelebihan (streght), peluang (opportunity), ancaman (threats) dan Matrix SWOT,
- BAB III. KONSEP PERANCANGAN
Dalam bab ini menjelaskan uraian mengenai konsep-konsep pokok media promosi, strategi kreatif, program kreatif, perencanaan media dan biaya kreatif.
- BAB IV. VISUALISASI
Dalam bab ini menjelaskan uraian tentang Penjaringan Ide Visual | sketsa kasar, Proses Pengembangan Ide Visual mulai dari desain kasar desain komprehensif , kemudian tahap visual akan dilakukan dan dilaksanakan sehingga terciptanya media-media yang sudah terkonsep akan tervisualisasikan.
- BAB V. PENUTUP
- Dalam bab ini akan dilakukan kesimpulan dan saran mengenai media promosi yang direancang.
1.6.Tinjauan Teori
1.6.1. Tinjauan Sekilas Wisata Air Rawa Pening
Rawa Pening adalah paket wisata danau dengan luas sekitar 2.670 hektare dan terletak di daerah Ambarawa tepatnya terdapat di antara jalan Raya Semarang – Yogyakarta, awal berdirinya kawasan Wisata Rawa Pening adalah dengan adanya kebijakan Pemerintah Daerah Propinsi Jawa Tengah Diparda Propinsi Jawa Tengah, 2001 yang menjadikan Kawasan Rawa Pening seperti Danau, Bukit Cinta dan Rawa Permai sebagai tujuan wiasata alam di kawasan Kabupaten Semarang. Kawasan ini dijadikan Daerah Tujuan Wisata karena memiliki pemandangan yang alami sehingga Dinas Pariwisata Provinsi merasa perlu mengelola kawasan tersebut secara optimal dan professional dan memanfaatkan kondisi yang sudah alami sebagai daya tarik untuk dijadikan kawasan wisata. Wisata
8 Rawa Pening ini menawarkan paket wisata diantaranya kawasan Danau, kawasan Bukit Cinta dan kawasan Rawa Permai yang menawarkan berbagai atraksi permainan bagi anak-anak. Wisatawan yang berkunjung ke kawasan wisata ini biasanya berdatangan pada pagi hari sehingga dapat berkeliling mengitari seluruh paket kawasan wisata yang ditawarkan tadi diatas sehari penuh. Keunikan lainnya yang bisa dilihat dikawasan tersebut ialah pemberdayaan eceng gondok sebagai komodititas kerajinan yang diciptakan oleh masyarakat setempat, sebagai oleh-oleh kerajinan
(Sumber : Pengelola Wisata Air Rawa Pening). 1.6.2. Definisi Pariwisata
a. Definisi yang bersifat Umum
Pariwisata adalah keseluruhan kegiatan pemerintah. dunia usaha dan masyarakat untuk mengatur, mengurus dan melayani kebutuhan wisatawan.
b. Definisi yang lebih Teknis
Pariwisata merupakan rangkaian kegiatan yang dilakukan oleh manusia baik secara perorangan maupun kelompok di wilayah negera sendiri atau di Negara lain. Kegiatan tersebut dengan menggunakan kemudahan, jasa dan faktor penunjang lainnya yang diadakan oleh pemerintah dan atau masyarakat, agar dapat mewujudkan keinginan wisatawan. (Nyoman S. Pendit, 1990). 1.6.2.1 Jenis Pariwisata
a. Wisata Budaya
Seseorang yang melakukan perjalanan wisata dengan tujuan untuk mempelajari adat-istiadat, budaya. tata cara kehidupan masyarakat dan kegiatan budaya lainnya.
b. Wisata Kesehatan
Disebut juga Wisata Pulih Sembuh. Artinya seseorang melakukan perjalanan dengan tujuan untuk sembuh dari
9 sebuah penyakit atau untuk memulihkan kesegaran jasmani dan rohani.
c. Wisata Cagar Alam
Jenis wisata ini adalah berkunjung ke daerah cagar alam. Di sampinng untuk mengunjungi binatang atau tumbuhan yang langka juga untuk tujuan menghirup udara segar dan menikmati keindahan alam.
d. Wisata Maritim (Marina) atau bahari
Wisata Bahari ini sering dikaitkan dengan olah raga air seperti pantai, laut, danau, sungai, kepulauan, termasuk taman laut. Karena kegiatannya di air, wisata ini disebut juga Wisata Tirta.
1.6.3. Tinjauan Pemasaran
1.6.3.1. Pengertian Pemasaran
Pemasaran umumnya dipandang sebagai tugas untuk menciptakan, memperkenalkan dan menyerahkan barang dan jasa kepada konsumen dan perusahaan. Menurut Kotler (2002 : 4) terjemahan, bahwa orang-orang pemasaran melakukan pemasaran dari 10 jenis wujud yang berbeda yaitu barang, jasa, pengayaan, peristiwa, orang, tempat, kepemilikan, organisasi, informasi dan gagasan. Sebuah perusahaan yang didirikan mempunyai tujuan utama, yaitu mencapai tingkat keuntungan tertentu, pertumbuhan perusahaan atau peningkatan pangsa pasar. Di dalam pandangan konsep pemasaran, tujuan perusahaan ini dicapai melalui keputusan konsumen. Keputusan konsumen diperoleh setelah kebutuhan dan keinginan konsumen dipenuhi melalui kegiatan pemasaran yang terpadu. Tujuan pemasaran adalah mengubah orientasi falsafah manajemen pemasaran lain yang ternyata telah terbukti tidak berhasil mengatasi bebagai persoalan, karena adanya perubahan
10 dalam ciri-ciri pasar dewasa ini yang cenderung berkembang. Perubahan tersebut terjadi antara lain karena pertambahan jumlah penduduk, pertambahan daya beli, peningkatan dan meluasnya hubungan atau komunikasi, perkembangan teknologi, dan perubahan factor lingkungan pasar lainnya. Kotler (2002, Hal 15) mengemukakan bahwa pemasaran mempunyai tujuan membangun hubungan jangka panjang yang saling memuaskan dengan pihak-pihak yang memiliki kepentingan utama pelanggan, pemasok, distributor dalam rangka mendapatkan serta mempertahankan referensi dan kelangsungan bisnis jangka panjang mereka. Program pemasaran meliputi tindakan-tindakan pemasaran yang dapat mempengaruhi permintaan terhadap produk, diantaranya mengubah harga, memodifikasi kampanye iklan, merancang promosi khusus, menentukan pilihan saluran distribusi dan sebagainya. Dalam penerapannya, kerap kali berbagai program pemasaran dipadukan atau dilaksanakan secara bersama-sama, dan kadangkala manajer pemasaran harus memilih program pemasaran yang “terbaik” karena keterbatasan sumber daya.
Strategi pemasaran merupakan strategi untuk melayani pasar atau segmen pasar yang dijadikan target oleh seorang pengusaha. Oleh karena itu strategi pemasaran merupakan kombinasi dari bauran pemasaran yang akan diterapkan oleh pengusaha untuk melayani pasarnya. Bauran pemasaran ini haruslah diatur sedemikian rupa sehingga akan dapat berfungsi sebagai senjata yang tepat dalam perbandingannya dipasar melawan pesaing-pesaing. Oleh karena itu maka senjata itu harus disesuaikan dengan keadaan pasar serta kondisi persaingan yang dihadapinya, dimana jenis kombinasi bauran pemasaran yang meliputi : produk, harga, saluran distribusi dan promosi.
Strategi pemasaran pada umumnya mempunyai peranan yang sangat penting untuk menghadapi lingkungan yang dinamis, dan
11 pada akhirnya memperoleh keunggulan tertentu atau berhasil untuk meningkatkan laba tertentu. Strategi pemasaran yang ditetapkan harus ditinjau dan dikembangkan sesuai dengan perkembangan pasar dan lingkungan pasar tersebut. Dengan demikian, strategi pemasaran harus dapat memberi gambaran yang jelas dan terarah apa yang akan dilakukan perusahaan dalam menggunakan setiap kesempatan atau peluang pada beberapa pasar sasaran.
1.6.3.2. Perilaku Pasar Konsumen
Menurut James F. Engel et al dalam bukunya A.A. Anwar (1998 :3) : “Perilaku konsumen (consumer behavior) dapat didefinisikan sebagai kegiatan individu yang secara langsung terlibat dalam mendapatkan dan mempergunakan barang-barang dan jasa, termasuk didalamnya proses pengambilan keputusan pada persiapan dan pembentukan kegiatan-kegaiatan tersebut”.
Perilaku konsumen adalah hal yang tidak teratur, tetapi ilmu perilaku konsumen mencoba membuatnya teratur yang disederhanakan dengan model-model. Perilaku konsumen adalah soal keputusan. Lebih jauh lagi, keputusan adalah soal pilihan. Penjelasan lebih lanjut dikemukakan bahwa keputusan meliputi suatu pilihan “antara dua atau lebih alternatif tindakan atau perilaku”. Terkait dengan itu, Kotler dan Amstrong (2001) mengatakan bahwa pilihan itu meliputi berbagai macam yang digolong-golongkan sebagai respon. Dalam hal ini perilaku konsumen merupakan suatu tindakan yang dilakukan konsumen untuk membeli jasa wisata.
1.6.3.3. Promosi
Tujuan promosi dapat dihubungkan dengan peran khusus setiap komponen dalam bauran pemasaran. Promosi penjualan seperti pameran dapat digunakan untuk mencapai berbagai tujuan
12 dalam bauran promosi. Dari pemaparan diatas dapat ditarik kesimpulan bahwa promosi nampak sangat penting sekali perannya didalam membantu memudahkan serta mempercepat dalam memutuskan untuk membeli.
Promosi adalah bagian dari bauran pemasaran yang besar peranannya. Promosi merupakan kegiatan-kegiatan yang secara aktif dilakukan perusahaan untuk mendorong konsumen membeli produk yang ditawarkan. Karena itu promosi dipandang sebagai arus informasi atau persuasi satu arah yang dibuat untuk mengarahkan seseorang atau organisasi agar melakukan pertukaran dalam pemasaran. Promosi merupakan kegiatan yang ditujukan untuk mempengaruhi konsumen agar mereka dapat menjadi kenal akan produk yang ditawarkan oleh perusahaan kepada mereka dan kemudian merek menjadi senang lalu membeli produk tersebut.
1.6.3.4. Brand Image / Brand Image
Menurut Philip Kotler (2002;349) yaitu: “Brand is a name, term, sign, symbol, or design, or combination of them, intended to identify the goods and services of one seller or group of sellers and differentiance them from those of competitors”.
Citra adalah seperangkat keyakinan, ide, dan kesan yang dimiliki orang terhadap suatu obyek. Sikap dan tindakan orang terhadap suatu obyek sangat ditentukan oleh citra obyek tersebut (Kotler, 2001). Penerapan merek yang tepat pada produk dapat memberikan nilai tersendiri dan akan mejadikan identitas pada produk, yang nantinya akan mempunyai citra, baik itu citra yang positif ataupun citra yang negative. Dengan citra yang positif perusahaan akan diuntungkan karna konsumen akan dengan mudah mengingat merek produk bercitra positif sesuai dengan kebutuhannya, berikut beberapa pengertian citra menurut para ahli.
13 Defenisi di atas dapat diartikan sebagai berikut: “Merek adalah nama, istilah, desain, simbol, atau rancangan, atau kombinasi semua unsur tersebut, yang bertujuan untuk mengidentifikasi produk atau jasa dari individual atau kelompok penjual dan untuk membedakannya dari produk pesaing”.
Menurut Kotler diterjemahkan oleh Molan (2005: 82) tingkatan merek dapat di bagi menjadi enam yaitu:
1. Atribut
Setiap merek memiliki atribut. Atribut ini perlu dikelola dan diciptakan agar pelanggan dapat mengetahui dengan pasti atribut-atribut apa saja yang terkandung dalam suatu merek. 2. Manfaat
Selain atribut, merek juga memiliki serangkaian manfaat. Konsumen tidak saja membeli atribut tetapi juga membeli manfaat.
3. Nilai
Merek juga menyatakan sesuatu tentang nilai bagi produsen. Merek yang memiliki nilai tinggi dan dihargai oleh konsumen sebagai merek yang berkualitas dan berkelas, sehingga dapat mencerminkan siapa pengguna merek tersebut.
4. Budaya
Merek memiliki budaya tertentu yang dapat mempengaruhinya.
5. Kepribadian
Merek memiliki kepribadian, yaitu kepribadian bagi para penggunanya. Jadi diharapkan dengan menggunakan merek, kepribadian si pengguna akan tercermin dengan merek yang digunakan.
14 Merek menunjukan jenis konsumen pemakai merek tersebut. Itulah sebabnya para pemasar selalu menggunakan orang-orang yang terkenal untuk penggunaan mereknya. Tantangan dalam pemberian merek adalah untuk mengembangkan sekumpulan pengertian-pengertian yang mendalam tentang merek. Pada saat ini banyak kesalahan-kesalahan yang sering dilakukan oleh pemasar yaitu dengan hanya mempromosikan merek saja tanpa melihat keunggulan dan manfaat dari suatu produk atau jasa yang ditawarkan. Hal ini dapat mengakibatkan:
- Pembeli tidak tertarik pada atribut merek karena sesungguhnya mereka lebih tertarik pada manfaat merek.
- Pesaing dapat dengan mudah meniru atribut-atribut tersebut. - Atribut yang sekarang ini kelak akan berkurang nilainya.
Dikarenakan oleh hal tersebut merek harus dipromosikan dengan keunggulan dan manfaat dari suatu produk yang ditawarkan. Konsumen mengembangkan keyakinan atas merek (brand beliefs) di mana setiap merek mewakili setiap atribut, sehingga kumpulan dari keyakinan konsumen dan suatu merek akan menghasilkan Citra Merek. Citra Merek mempresentasikan keseluruhan persepsi terhadap merek yang dibentuk dari informasi yang diperoleh dan pengalaman masa lalu terhadap merek tersebut. Citra suatu perusahaan atau suatu merek akan efektif bila melakukan tiga hal yaitu:
1. Menempatkan karakter produk dan usulan nilai.
2. Menyampaikan karakter produk dengan cara yang berbeda sehingga tidak dikacaukan oleh karakter pesaing.
3. Memberikan kekuatan emosional yang lebih dari sekedar citra mental.
15 Dan yang perlu diperhatikan adalah bagaimana caranya untuk mempertahankan dan meningkatkan citra merek yang sudah positif di benak konsumen.
1.6.3.5. Segmentasi Pasar
Segmentasi pasar adalah proses membagi pasar keseluruhan suatu produk atau jasa yang bersifat heterogen ke dalam beberapa segmen, dimana masing-masing segmennya cenderung homogen dalam segala aspek. Pemasar memandang suatu pasar tertentu terdiri dari banyak bagian yang lebih kecil yang masing-masing bagian memiliki karakteristik tertentu tang sama. (Fandy Tjiptono, 2008: 69).
Adapun pengelompokan segmen pasar yang terjadi pada Wisata Air Rawa pening adalah:
a. Segmentasi Geografis
Segmentasi geografis dengan variabel wilayah, ukuran kota, kepadatan dan iklim berdasarkan pengelompokan geografis kawasan Wisata Air Rawa Pening Jawa Tengah
b. Segmentasi Demografis
Segmentasi demografi berdasarkan variabel-variabel usia, jenis kelamin, siklus hidup keluarga, penghasilan, pekerjaan, pendidikan, agama, ras dan kewarganegaraan berdasarkan pengelompokan Demografis segmentasi dari Wisata Air Rawa Peningh adalah wisata keluarga.
c. Segmentasi Psikografis
Segmentasi psikografis mengelompokan pasar dalam variabel kelas sosial, gaya hidup dan kepribadian
d. Segmentasi Perilaku
Segmentasi perilaku dengan variabel berdasarkan peristiwa, manfaat, status pemakai, tingkat pemakaian, status kesetiaan, tahap
16 kesiapan membeli dan sikap terhadap produk. (Fandy Tjiptono, 2008: 73).
1.6.4. Tinjauan Desain Komunikasi Visual 1.6.4.1. Definisi Desain
Secara etemologis desain berasal dari kata designo (italia) yang artinya gambar (Sachari, 2004:4) Keputusan pertama dalam desain adalah menentukan bentuk, ukuran dan proporsi area desain dalam hal ini berkaitan dengan pemilihan media, Pemilihan media yang tepat dan efektif gunanya untuk mencapai sasaran yang dituju (Kusmiati, 1999: 126). Penggunaan bahan kertas sebagai bahan baku turut menentukan bentuk fisik dalam mengeksekusi konsep kreatif. Secara umum, kertas dengan ukuran-ukuran tertentu (A4 hingga A5) inilah yang banyak digunakan. Kata desain dapat diuraikan sebagai berikut, desain merupakan suatu kerangka bentuk, rancangan (Hasan, 2002: 25), yang dibuat dengan sebaik mungkin yang nantinya dapat menginformasikan pesan kepada sasaran secara maksimal dan menarik. Sedangkan pada buku Enseklopedia Nasional Indonesia desain berasal dari kata latin Designore, yang secara umum berarti sketsa atau rencana suatu karya seni, gedung ataupun mesin yang akan dibuat. Desain dapat juga dikatakan kombinasi detail dan bentuk suatu gambar, bangunan atau jembatan, pola benda yang direncanakan secara artistik.
1.6.4.2. Prinsip Desain Komunikasi Visual
Definisi Desain Komunikasi Visual adalah ilmu yang mempelajari konsep komunikasi dan ungkapan kreatif, teknik dan media untuk menyampaikan pesan dan gagasan secara visual, termasuk audio dengan mengolah elemen desain grafis berupa
17 bentuk gambar, huruf dan warna, serta tata letaknya, sehingga pesan dan gagasan dapat diterima oleh sasarannya.
Pesan visual harus kreatif (asli, inovatif dan lancar), komunikatif, efisien dan efektif, sekaligus indah/ estetis. Berbeda dengan prinsip desain grafis. Dalam ilmu desain grafis, selain prinsip-prinsip diatas ada beberapa prinsip utama komunikasi visual dari sebuah karya desain, yaitu:
1. Ruang Kosong
Ruang kosong dimaksudkan agar karya tidak terlalu padat dalam penempatannya pada sebuah bidang dan menjadikan sebuah obyek menjadi dominan.
2. Kejelasan
Kejelasan atau clarity mempengaruhi penafsiran penonton akan sebuah karya. Bagaimana sebuah karya tersebut dapat mudah dimengerti dan tidak menimbulkan ambigu/ makna Desainer.
3. Kesederhanaan
Kesederhanaan menuntut penciptaan karya yang tidak lebih dan tidak kurang. Kesederhanaan seing juga diartikan tepat dan tidak berlebihan. Pencapaian kesederhanaan mendorong penikmat untuk menatap lama dan tidak merasa jenuh. 4. Emphasis
Emphasis atau disebut juga pusat perhatian, merupakan pengembangan dominasi yang bertujuan untuk menonjolkan salah satu unsur sebagai pusat perhatian sehingga mencapai nilai artistic. Rene Arthur( :2009)
18 1.6.4.3. Unsur Desain
Unsur dalam proses desain grafis dan seni terapan terdiri dari bagian-bagian yang bisa dipelajari secara terpisah, seperti dikatakan oleh Titoes Libert (1997) dalam bukunya “Tata Rupa dan Desain”
1. Garis (Line)
Sebuah garis adalah unsur desain yang menghubungkan antara satu titik poin dengan titik poin yang lain sehingga bisa berbentuk gambar garis lengkung (curve) atau lurus (straight). Garis adalah unsur dasar untuk membangun bentuk atau konstruksi desain. Di dalam duni a komunikasi visual seringkali kita menggunakan dotted line, solid line, dan garis putus-putus.
Garis
19 2. Bentuk (Shape)
Bentuk adalah segala hal yang memiliki diameter tinggi dan lebar. Bentuk dasar yang dikenal orang adalah kotak (rectangle), lingkaran (circle), dan segitiga (triangle). Pada desain komunikasi visual kita akan mempelajari betuk dasar dan bentuk turunan. Sementara pada kategori sifatnya, bentuk dapat dikategorikan menjadi tiga, yaitu:
a. Huruf (Character): yang direpresentasikan dalam bentuk visual yang dapat digunakan untuk membentuk tulisan sebagai wakil dari bahasa verbal dengan bentuk visual langsung, seperti A, B, C, dsb. b. Simbol (Symbol): yang direpresentasikan dalam bentuk visual yang
mewakili bentuk benda secara sederhana dan dapat dipahami secara umum sebagai simbol atau lambang untuk menggambarkan suatu bentuk benda nyata, misalnya gambar orang, bintang, matahari dalam bentuk sederhana (simbol), bukan dalam bentuk nyata (dengan detail).
c. Bentuk Nyata (Form): bentuk ini betul-betul mencerminkan kondisi fisik dari suatu obyek. Seperti gambar manusia secara detil, hewan atau benda lainnya.
Bentuk
Gambar 1.2.
3. Tekstur (Texture)
Tekstur adalah tampilan permukaan (corak) dari suatu benda yang dapat dinilai dengan cara dilihat atau diraba. Yang pada prakteknya,
20 tekstur sering dikategorikan sebagai corakdari suatu permukaan benda, misalnya permukaan karpet, baju, kulit kayu, cat dinding, cat canvas, dan lain sebagainya.
Tekstur
Gambar 1.3.
4. Ruang (Space)
Ruang merupakan jarak antara suatu bentuk dengan bentuk lainnya, pada praktek desain dapat dijadikan unsur untuk memberi efek estetika desain dan dinamika desain grafis. Sebagai contoh, tanpa ruang Desainer tidak akan tahu mana kata dan mana kalimat atau paragraf. Tanpa ruang Desainer tidak tahu mana yang harus dilihat terlebih dahulu, kapan harus membaca dan kapan harus berhenti sebentar. Dalam bentuk fisiknya pengidentifikasian ruang digolongkan menjadi dua unsur, yaitu obyek (figure) dan latarbelakang (background).
21
Ruang Maya
Gambar 1.4.
5. Ukuran (Size)
Ukuran adalah unsur lain dalam desain yang mendefinisikan besar kecilnya suatu obyek. Dengan menggunakan unsur ini Desainer dapat menciptakan kontras dan penekanan (emphasis) pada obyek desain Desainer sehingga orang akan tahu mana yang akan dilihat atau dibaca terlebih dahulu.
6. Warna (Color)
Warna merupakan unsur penting dalam obyek desain. Karena dengan warna orang bisa menampilkan identitas, menyampaikan pesan atau membedakan sifat dari bentuk-bentuk bentuk visual secara jelas. Dalam prakteknya warna dibedakan menjadi dua: yaitu warna yang ditimbulkan karena sinar (Additive color/ RGB) yang biasanya digunakan pada warna lampu, monitor, TV dan sebagainya, dan warna yang dibuat dengan unsur-unsur tinta atau cat (Substractive color/ CMYK) yang biasanya digunakan dalam proses pencetakan gambar ke permukaan benda padat seperti kertas, logam, kain atau plastik.
22 Sumber data : Titoes Libert tata rupa dan desain (nirmana)
Gambar 1.5.
Dengan menggunakan unsur-unsur desain tersebut, desainer akan membuat bentuk desain yang diinginkan. Tentunya supaya desain, dari desainer dapat dilihat bagus (sesuai maksud dan tujuan desainer membuatnya), maka desainer harus mengenal unsur-unsur di atas secara baik.
1.6.4.4. Elemen-elemen Desain Komunikasi Visual
Kata-kata yang membangunkan emosi dan membentuk imajinasi akan mempengaruhi pembaca maupun pendengarnya untuk berbuat seperti yang diharapkan si pembuat teks. Kekuatan narasi, teks, atau diksi (pilihan kata) dari sebuah iklan membuat banyak orang terpengaruh untuk berbuat seperti yang dikehendaki pesan iklan tersebut. Itulah kekuatan copywriting, kekuatan teks yang berisi pesan penjualan. Kadang bisa dirasakan halus, sedikit mengajari, satu sisi dirasakan sebagai sebuah perintah (Agus
23 Riyanto, 2001: 3 dan 5). Selain pada isinya sebuah copywriting terletak pada penampilannya, bagaimana ukuran serta cara mendesain tulisan dan judul, agar dapat menunjukan kepada pembaca mana pesan yang paling penting dan mana yang harus dibaca terlebih dahulu. Copywriting dikelompokkan dalam beberapa jenis yaitu:
a. Headline
Headline yang juga sering disebut sebagai judul atau kepala tulisan iklan, merupakan bagian terpenting dalam iklan media cetak. Meskipun letaknya tidak selalu pada awal tulisan, sebuah headline harus mampu menarik perhatian pembacanya sedemikian rupa agar terus mau membaca serta membangkitkan keingintahuan pemirsa terhadap produk atau jasa yang dikomunikasikan. Jika ternyata penggunaan kalimat dalam headline diikuti dengan kalimat subheadline. Menurut James F. Engle (Agus Riyanto, 2001: 303), Headline dapat iklasifikasikan menjadi:
Identification Headline, yang langsung menyebutkan identitas nama atau merk dari produk atau jasa yang ditawarkan.
Advice or Benefit Headline, yang memberikan janji, nasihat, manfaat atau mengarahkan tentang kelebihan produk secara langsung.
Information or News Headline, yang berisi berita atau informasi tentang suatu produk.
Selective Headline, suatu penawaran secara langsung yang ditujukan kepada konsumen khusus, yang menjadi sasaran pesannya.
Command headline, isinya bersifat anjuran atau perintah kepada calon konsumen untuk menggunakan produk yang ditawarkan.
24 Question Headline, yang dikemukakan dengan gaya bertanya. Curiosity or Provocative Headline, untuk membangkitkan kecemasan dan ketakutan pada diri pemirsanya, serta mengundang keingintahuan pemirsa terhadap apa yang ingin disampaikan.
Boast Headline, sifatnya membesar-besarkan atau melebihkan keunggulan suatu produk atau jasa.
b. Sub Judul (Sub Headline)
Adalah lanjutan keterangan dari judul yang menjelaskan makna atau arti dari pada judul dan umumnya lebih panjang dari judulnya. Ukuran huruf dalam sub headline biasanya lebih kecil dari judulnya, isi sub headline biasanya adalah umpan yang menarik untuk memancing pembaca dengan memperluas judul secara menggugah, karena pembaca selalu ingin tahu tentang tulisan yang dibaca, sehingga mereka mau mengabiskan waktu untuk membaca artikel sampai habis.
c. Body copy
Bodycopy merupakan suatu penjelasan tentang produk serta memberitahukan secara lengkap tentang apa yang dijual. Bodycopy merupakan penjabaran yang logis dari ide atau tema sentral yang berada pada headline. Menurut James F. Engle (Agus Rijanto, 2001: 23) bodycopy dapat dikelompokkan menjadi:
Emotif or Mood, yang membawa pembaca pada suasana atau perasaan tertentu, serta membuat pembacanya mengasosiasikan pada peristiwa atau kesan-kesan tertentu.
Factual Hard Selling, langsung menyodorkan kehebatan produk dan langsung menyuruh pembaca untuk membeli atau menggunakan produk yang ditawarkan.
Factual Education, menjelaskan secara rasional dan faktual tentang keuntungan atau kerugian, serta menyodorkan alternatif lain yang memberi manfaat.
25 Narrative, memberikan pDesainerngan serta gambaran tentang suatu produk tanpa pembaca terbawa dalam suasana tertentu, hanya seperti sebuah repotase dalam surat kabar.
Prestige, yang dikemukakan adalah image(citra) dari perusahaan yang membuat produk, akan tetapi bukan produknya itu sendiri. Jadi lebih menggambarkan bonafiditas dari perusahaan produsennya.
Picture and Caption (gambar dan keterangan), yang berisi paduan antara gambar (fotografi, Ilustrasi tangan, peta, diagram atau komik strip) dengan keterangannya.
Monolog or Dialog, berisi percakapan antara seseorang dengan dirinya sendiri atau orang lain.
Gimmick (iming-iming atau memperdaya), mengemukakan tentang suatu hal yang menggiurkan atau menarik hati yang kemudian baru dihubungkan atau diarahkan pada produk yang ditawarkan.
Editorial, meletakkan iklan dalam suatu rubrik dari media yang sesuai dengan iklan tersebut.
Testimonial, mengemukakan pendapat atau pujian dari seorang (tokoh atau public figure) maupun beberapa orang terhadap suatu produk.
Quotation (kutipan), berisi kutipan pendapat atau Desainerngan orang-orang terkenal dimana komentar-komentar itu digunakan serta diangkat sebagai tema sentral iklan.
Back selling (pendukung jumlah), menggunakan pihak ketiga sebagai sarana untuk mencapai sasaran. Misalnya memanfaatkan ibu-ibu atau anak-anak untuk mendesak ayahnya agar membeli suatu produk yang ditawarkan.
d. Slogan
Slogan (Kasali, 1992: 80 dan 106) merupakan kalimat atau kata-kata yang pada umumnya digunakan untuk lebih meyakinkan dan
26 memperkuat sikap calon konsumen untuk memilih produk atau jasa yang ditawarkan. Kalimat yang digunakan harus sederhana dan mudah diingat. Slogan kadangkala juga bisa digunakan sebagai headline atau isi naskah dalam iklan.
27
BAB II
IDENTIFIKASI DAN ANALISIS DATA
1.1. Tinjauan Objek Wiasata
1.1.1. Nama : Wiasata Air Rawa Pening 1.1.2. Lokasi
Lokasi Obyek Wisata Air Rawa Pening Desa Lopait, Kecamatan Tuntang Kabupaten Semarang jaraknya dari Kota Semarang -+ 50 km kearah selatan. Obyek Wisata Air Rawa Pening merupakan salah satu tempat wisata di Kabupaten Semarang dan kebanyakan pengunjung berkunjung saat liburan atau libur ahir pekan.
28 1.1.3. Latar Belakang
Wisata Rawa Pening adalah adanya kebijakan Pemerintah Daerah Propinsi Jawa Tengah Diparda Propinsi Jawa Tengah, 2001 yang menjadikan Kawasan Rawa Pening sebagai tujuan wiasata alam di kawasan Kabupaten Semarang. Kawasan ini dijadikan Daerah Tujuan Wisata karena memiliki pemandangan yang alami sehingga Dinas Pariwisata Provinsi merasa perlu mengelola kawasan tersebut secara optimal dan professional dan memanfaatkan kondisi yang sudah alami sebagai daya tarik untuk dijadikan kawasan wisata. Wisata Rawa Pening ini menawarkan paket wisata danau, Keunikan lainnya yang bisa dilihat dikawasan tersebut ialah pemberdayaan eceng gondok sebagai komodititas kerajinan yang diciptakan oleh masyarakat setempat, sebagai oleh-oleh kerajinan khas wisata kawasan Rawa Pening. disamping itu makanan khas yang bisa dinikmati di kawasan tersebut adalah berupa ikan gurameh bakar yang langsung dikail dari kawasan danau itu. Wisata ini bisa dikatakan tempat wisata bagi keluarga, keindahan lingkungan Rawa Pening sangat luar biasa apabila dipagi hari yaitu saat sunrise muncul maka tidak heran banyak wisatawan yang mengabadikan saat tersebut sebagai objek fotografinya.
1.1.3.1.Pengelola
Obyek Wisata Air Rawa Pening merupakan objek wisata milik Dinas Pariwisata Provinsi Jawa tengah.
1.1.4. Struktur Pengelola
Pengelola : Bp. Ir. Suhartono
(Dinas Pariwisata Provinsi-Jateng) Manager : Bp. Hariawan
29 Marketing : Bp. Sulistyono (Dinas Pariwisata Provinsi-Jateng) Kebersihan : Bp Sujarwo ( Kepala)
Keamanan : Bp. Hariyanto (Kepala)
2.2. Data Produk 2.2.1. Jenis Produk
Kawasan Wisata Air Rawa Pening adalah penawaran paket wisata danau dengan luas sekitar 2.670 hektare dan terletak di daerah Ambarawa tepatnya terdapat di antara jalan Raya Semarang – Yogyakarta, awal berdirinya kawasan Wisata Rawa Pening adalah dengan adanya kebijakan Pemerintah Daerah Propinsi Jawa Tengah Diparda Propinsi Jawa Tengah, 2001 yang menjadikan Kawasan Rawa Pening yang berbentuk Danau sebagai kawasan wisata yang ada di Kabupaten Semarang. Kawasan ini dijadikan Daerah Tujuan Wisata karena memiliki pemandangan yang alami disekeliling danau tersebut, sehingga Dinas Pariwisata Provinsi merasa perlu mengelola kawasan tersebut secara optimal dan professional serta memanfaatkan kondisi pemandangan alam yang sudah alami sebagai daya tarik untuk dijadikan kawasan wisata.
2.2.2. Spesifikasi Produk
Berikut merupakan harga tarif retribusi kawasan Wisata Air Rawa Pening. Retribusi tiket masuk :
No Objek Wisata
Hari Biasa Hari sabtu, Minggu dan hari
libur Hari Raya
Dewasa Anak-anak Dewasa Anak-anak Dewasa Anak-anak
1 Danau Rawa Pening Rp. 5,000 Rp. 3,000 Rp. 7,000 Rp. 5,000 Rp. 10,000 Rp. 8,000 2 Perahu keliling Danau Rawa Pening Rp. 25,000 Rp. 15,000 Rp. 30,000 Rp. 25,000 Rp. 50,000 Rp. 35,000
30 3 Naik Delman Rp. 15,000 Rp. 10,000 Rp. 20,000 Rp. 15,000 Rp. 35,000 Rp. 25,000
. Tabel. 2.1. Daftar retribusi tiket masuk kawasan Wisata Air Rawa Pening Sumber : Managemen Rawa Pening
Gambar 2.2, Perahu Kawasan Danau rawa pening (Foto Anna : 2014 )
31 Gambar 2.3, Danau Rawa Pening
( Foto Anna : 2014)
32 Gambar 2.5. Suasan Danau ( Foto Anna : 2014 )
33 Gambar 2.7. Sirkuit Delman ( Foto Anna : 2014 )
34 2.2.3. USP (Unique Selling Point)
2.2.4. Wisata Rawa Pening ini menawarkan paket wisata diantaranya kawasan Danau sebagai objek wisata keliling danau menggunakan perahu. Wisatawan yang berkunjung ke kawasan wisata ini biasanya berdatangan pada pagi hari sehingga wisatawan dapat berkeliling mengitari danau menggunakan perahu sambil menikmati pemandangan disekelilingnya adalah peristiwa yang mengagumkan sambil melihat hamparan eceng gondok yang mendominasi permukaan danau tersebut secara liar namun tetap menjadi pemandangan yang menarik. Keunikan lainnya yang bisa dilihat dikawasan tersebut ialah pemberdayaan eceng gondok sebagai komodititas kerajinan yang diciptakan oleh masyarakat setempat, sebagai oleh-oleh kerajinan khas wisata kawasan Rawa Pening, kerajinan ini disamping unik juga menjadi identitas wisata ini, disamping itu kawasan wisata ini menawarkan kuliner khas yaitu ikan bakar yang langsung diambil dari danau tersebut sehingga dapat menambah kesan bagi para pengunjungnya.
2.2.5. Produk Positioning
Positioning merupakan suatu proses atau upaya untuk menempatkan suatu produk, brand, perusahaan, atau individu dalam alam pikiran konsumen. Dalam hal ini Obyek wisata air Rawa Pening kurang begitu dikenal secara luas sehingga kebanyakan dari pengunjung adalah mereka yang sudah mengenal dan sering berkunjung ke tempat ini, karena kurangnya informasi yang disebar oleh pihak manajemen sehingga Rawa Pening tertinggal dari competitornya.
Tujuan dari Positioning ini adalah menjadikan obyek wisata air Rawa Pening akan menjadi obyek wisata satu-satunya yang menawarkan keindahan alam yang masih asri. 2.2.6. Data Pemasaran
Market Share atau Omzet pendapatan Rawa Pening
Dari data yang diperoleh dari pengelola Wisata Air Rawa Pening dari seluruh paket wisata ini, pada tahun 2012 adalah sebesar 127.615.000 juta rupiah dan pada tahun 2013 menurut catatan pengelola 120.700.000 juta rupiah.jika dilihat dari besaran laba bersih pendapatan wisata ini masih sangat jauh dari harapan.
35 Gambar 2.9.. Tiket Masuk (Foto Anna 2014)
2.2.6. Jangkauan Pomosi Saat Ini
Ketiadaan promosi yang dilakukan oleh pengelola yang mengakibatkan obyek wisata air Rawa Pening saat ini hanya mencakup wilayah sekitarnya itupun melalui media “lisan” meskipun media lainnya seperti brosur dan banner hanya terdapat di lokasi sedangkan untuk media luar ruang (out door) iklan paket Wisata Air Rawa Pening belum nampak sehingga masyarakat masih asing akan keberadaannya.
36 2.2.7. Advertisement yang Ada
Media iklan yang dipakai saat itu adalah media seperti, flyer
Gambar 2.10 Flyer cetakan 2009 (Foto : Anna 2014)
2.2.8. Hambatan kegiatan promosi
Kurangnya media iklan yang digunakan sehingga masih banyak masyarakat yang belum mengetahui keberadaanya.
Belum adanya program periklanan yang terkonsep sehingga terjadi penghambatan pengunjung.
37 2.2.9. Potensi Market
a. Target Promosi
Target promosi akan dikembangkan untuk wilayah Semarang dan sekitarnya umumnya daerah jalur segitiga pariwisata Solo, Semarang dan Yogya.
b. Volume Pengembangan Jumlah Pengunjung
Dengan promosi maka diharapkan semakin bertambahnya jumlah pengunjung yang berkunjung maka akan membuat obyek wisata air Rawa Pening semakin dikenal oleh masyarakat luas. Segmentasi Pasar (Market Segmentation)
1. Segmentasi Pasar Berdasarkan Segi Geografi
Segmentasi pasar berdasarkan segi geografi dari obyek wisata air Rawa Pening adalah untuk wilayah Semarang dan sekitarnya umumnya Provinsi Jawa Tengah. 2. Segmentasi Pasar Berdasarkan Segi Demografi
Segmentasi pasar berdasarkan segi demografi dari obyek wisata air Rawa Pening terdiri dari target primer dan target sekunder. Target primer dari obyek wisata Rawa Permai adalah bersifat umum adalah keluarga , dan target sekunder dari obyek wisata air Rawa Pening adalah remaja umur 18 tahun keatas, baik laki-laki maupun perempuan dengan pendidikan apapun dan dari masyarakat dengan kehidupan perekonomian apapun.
3. Segmentasi Pasar Berdasarkan Segi Psikografi
Segmentasi pasar berdasarkan segi psikografi dari obyek wisata air Rawa Pening adalah untuk masyarakat yang suka berlibur, sifat ingin tahu yang tinggi, aktif dan sering bepergian dengan gaya hidup yang sederhana dan modern.
4. Segmentasi Pasar Berdasarkan Segi Behaviour
Segmentasi pasar berdasarkan segi behaviour dari obyek wisata air Rawa Pening adalah untuk masyarakat radikal yang cepat bereaksi terhadap suatu produk atau jasa baru, sehingga setiap ada hal baru masyarakat akan mencobanya.
38 2.2.10. Data Pengunjung Rawa Pening
Data Pengunjung Rawa Pening pengunjung Rawa Pening antara tahun 2011-2012 Rata-rata pengunjung dalam petrtahun 65% dari 3000 penunjung.
2.3. Data Kompetitor
2.3.7. Nama Petrusahaan Rawa Permai
2.3.8. Latar Belakang Perusahaan
Obyek wisata Rawa Permai dengan estimasi jarak 40 km kearah selatan Kota Semarang. Obyek wisata ini tepatnya berada dijalur yang dilalui antara Semarang Yogyakarta dan Solo tepatnya berada di Desa Lopait, Kecamatan Tuntang Kabupaten Semarang. Kawasan dengan luas 3,5 ha ini merupakan kawasan yang berada di lereng Gunung Ungaran sehingga tercipta suasana alami sesuai dengan tekstur perbukitan, Obyek wisata Rawa Permai lebih cenderung pada wisata alam karena memanfaatkan suasana pemandangan alam sekitarnya yang hampir mirip dengan Rawa Pening, calon wisatawan akan tertarik pada suasana dan mereka langsung tertuju pada satu kawasan yang indah dan permai. pengertian “wisata alam” untuk masyarakat yang berada di Semarang dan sekitarnya adalah sebuah kawasan yang memberikan suasana nyaman, sejuk dan indah. Maka tidaklah heran bagi masyarakat yang mendapatkan kesibukan setiap harinya karena volume pekerjaan di kantor, tempat ini sangatlah cocok untuk dikunjungi. Disamping lokasi yang jauh dari kota yang padat dan ramai. Kawasan ini juga memiliki udara yang bebas polusi sehingga benar-benar memberikan suasana alam pegunungan yang nyata. Bagi masyarakat yang mengetahui manfaat berkunjung ke Rawa Permai menurut narasumber dari pengunjung ada tiga hal yang didapat setelah mengunjungi wisata tersebut diantaranya: pertama mendapatkan penyegaran pikiran setelah hari-hari disibukan dengan pekerjaan sehingga mendapkan pikiran yang segar kembali, kedua jika berkunjung secara keluarga, dapat memberikan suasana berbeda bagi anak-anak untuk bermain di alam bebas sehingga memberikan pendidikan bagi anak-anak akan pentingnya
39 menjaga lingkungan tetap indah, ketiga kurang tersedianya kawasan hijau diperkotaan sehingga masyarakat cebenderung ingin mendapatkan suasan alami yang masih memiliki udara yang segar tidak terkena polusi, kawasan gunung ungaran juga memiliki tekstur tanah yang bergelombang sehingga terkesan lingkungan perbukitan yang rimbun oleh pepohonan menambah terkesan bagi yang melihatnya.
2.3.2. Data Produk
Rawa Permai dengan estimasi jarak 40 km kearah selatan Kota Semarang. Obyek wisata ini tepatnya berada dijalur yang dilalui antara Semarang Yogyakarta dan Solo tepatnya berada di Desa Lopait, Kecamatan Tuntang Kabupaten Semarang kebanyakan dikunjungi oleh wisatawan dari Semarang, Magelang dan Ambarawa sendiri, menawarkan wahana peramainan anak-anak sebagai berikut: Becak Imoet, Kolam Renang, Gua Baru Klinting.
40 Gambar 2.13. Rawa Permai (Foto Anna2014)
41 Gambar 2.15. Rawa Permai (Foto Anna2014)
a. Nama Obyek Wisata Rawa Permai
b. Tempat Obyek Wisata
Desa Lopait Kecamatan Tuntang Kab, Semarang. c. Jenis Obyek Wisata
Wisata keluarga yang terletak di Desa Lopait Kecamatan Tuntang, yang terletak 40 km dari pusat kota Semarang.
42 d. Pengelola
Obyek wisata Rawa Permai merupakan obyek wisata yang dikelola oleh perorangan yang bekerjasama dengan Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Pemerintah Kota Semarang.
2.3.3. Market Share atau Omzet pendapatan Obyek Wisata Rawa Permai
Dari data Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Semarang dari sektor obyek wisata Rawa permai pada tahun 2013 adalah sebesar 150.143.500 juta rupiah, dengan jumlah kepala rata rata perbulan 1200 pengunjung.
2.3.4. Spesifikasi Produk
Retribusi tiket masuk dan wahana di Obyek wisata Rawa Permai
No Objek Wisata
Hari Biasa Hari sabtu, Minggu dan hari
libur Hari Raya
Dewasa Anak-anak Dewasa Anak-anak Dewasa Anak-anak
1 Rawa Permai Rp. 5,000 Rp. 3,000 Rp. 5,000 Rp. 3,000 Rp. 8,000 Rp. 7,000
2 Masuk Gua ular Rp. 3,000 Rp. 4,000 Rp. 4,000
6 Kolam Renang Rp. 10,000 Rp. 7,000 Rp. 15,000 Rp. 10,000 Rp. 15,000 Rp. 10,000
Tabel 2.3. Daftar retribusi tiket masuk obyek wisata Rawa Permai Sumber : Managemen Rawa Permai
2.3.5. Konsumen
Obyek wisata Rawa Permai merupakan salah satu tempat wisata keluarga di Desa Lopait Kecamatan Tuntang Kab, Semarang kebanyakan pengunjung berkunjung saat hari biasa maupun liburan dengan tujuan utama berwisata sekeluarga dari pengunjung sekitar Ambarawa sendiri maupun dari luar seperti, Semarang, Magelang, Salatiga.
2.3.6. Promosi saat ini
Untuk promosi sendiri Managemen Rawa Permai sampai saat ini masih menggunakan media-media cetak. Poster, Leflet, Stiker, pagelaran musik sebagai daya tarik calon pengunjungnya.
43 2.4. Analisis Data
Analisis data dilakukan dengan cara deskriptif kualitatif, dimana data yang diperoleh akan dianalisis dengan menggunakan analisis SWOT.
2.4.1 Kelemahan dan Kelebihan Produk ( SWOT )
Berdasarkan hasil analisis lingkungan internal perusahaan berupa kekuatan (strengths) dan kelemahan (weaknesses), serta kondisi eksternal perusahaan yang meliputi peluang (opportunities) dan ancaman (threats) yang berpengaruh terhadap Rawa Pening, maka selanjutnya diidentifikasi faktor-faktor kekuatan, kelemahan, peluang dan ancamannya. Hasil analisis tersebut digunakan untuk menetapkan posisi perusahaan dan digunakan untuk merumuskan alternatif strategi usaha dengan menggunakan metode SWOT.
a. Kelemahan Produk
Kualitas dan kuantitas sarana dan fasilitas
Hal ini berkaitan dengan sumber daya financial. tenaga kerja terbatas. Kurangnya promosi
Pihak manajemen Rawa Pening melakukan promosi terbatas melalui iklan, Spanduk yang berlokasi di tempat wisata, sehingga calon target audience tidak mengetahuinya.
Harga Tiket
Jika dibandingkan dengan harga tiket pesaingnya, Rawa Pening relatif Standar. Sumber daya manusia di Rawa Pening
Tingkat pendidikan para karyawan pada umumnya tamatan SD sampai dengan SMA, maka menjadi sebuah beban tersendiri bagi pihak manajemen dalam melakukan sosialisasi kebijakan-kebijakan perusahaan misalnya tidak adanya inisiatif dari para karyawannya untuk membangun Rawa Pening menjadi lebih menarik.
Biaya operasional yang semakin tinggi
Biaya operasionil yang tinggi disebabkan oleh berkurangnya jumlah pengunjung dikarenakan sarana dan prasarana yang belum ditingkatkan.
44 Pemasaran yang belum optimal
Kegiatan pemasaran Iebih banyak pada kegiatan penjualan sedangkan komponen lain yang ada dalam bauran pemasaran (marketing mix), 'yaitu penetapan harga dan promosi belum dioptimalkan untuk meraih pangsa pasar yang masih luas. Saat ini jumlah pengunjung tidak meningkat secara nyata, tetapi tetap mempertahankan pelanggan yang telah ada.
b. Kelebihan Rawa Pening Mutu produk wisata
Produk wisata air yang ada mempunyai kualitas yang baik bagi wisata keluarga dari segi lokasi, suasana, kenyamanan dan panorama lingkungan sekitarnya. Pihak pengelola mempunyai perhatian serius, komitmen yang kuat terhadap mutu sarana dan fasilitas serta pelayanan pada para pengunjung sehingga pengawasan internal dilakukan oleh manjemen Rawa Pening
Tenaga kerja setempat
Sifat pekerjaan yang diterapkan manajemen perusahaan merupakan padat karya. Oleh karena itu, tenaga kerja menjadi faktor penting dalam operasional perusahaan dengan jumlah yang relative banyak. Tenaga kerja yang digunakan berasal dari daerah sekitar Kecamatan Tuntang. Pihak perusahaan merasa diuntungkan dengan mempekerjakan tenaga kerja yang murah,
Pelayanan yang baik terhadap konsumen
Pelayanan yang diberikan terhadap pengunjung (konsumen) sudah dilakukan dengan balk, dengan cara selalu menjaga dan memperhatikan mutu pelayanan sebagaimana yang diminta oleh konsumen/pelanggan. Pelayanan terhadap konsumen juga dilakukan dengan cara menanggapi secara terbuka semua keluhan dari pelanggan. Selama keluhan tersebut disebabkan oleh kesalahan pihak perusahaan, maka keluhan tersebut dilayani dengan baik.
45 2.4.2. Analisis SWOT
STRENGTH
1. Tempat pariwisata yang memiliki keunggulan tersendiri, memiliki pemandangan danau dan perbukitan
OPPORTUNITIES
1. Kebutuhan pariwisata akan sangat dibutuhkan mengingat fisik dan fikiran butuh penyegaran suasana, musim liburan sekolah dan hari raya adalah saat yang tepat untuk berwisata.
WEAKNESS
1. Kurangnya inovasi dalam pengembangan baik sarana dan fasilitas yang sudah ada sehingga daya tarik objek wisata ini tidak tanpa
TREATH
1. Makin banyak berdirinya Obyek Wisata lain yang sejenis sebagai alternatif.
46 2.4.3. Matrix SWOT
Rawa Pening
OPPORTUNITIES
1. Kebutuhan pariwisata akan sangat dibutuhkan
mengingat fisik dan fikiran butuh penyegaran suasana, musim liburan sekolah dan hari raya adalah saat yang tepat untuk berwisata.
TREAT
1. Makin banyak berdirinya Obyek Wisata lain yang sejenis sebagai alternatif.
STRENGTH 1. Tempat pariwisata yang memiliki keunggulan tersendiri, memiliki pemandangan alam danau dan perbukitan S-O Strategi
1. Meningkatkan lagi fasilitas arena bermain anak-anak, meningkatkan kualitas pelayanan, membangun gazebo tempat beristirahat tamu yang lebih menarik.. (o1,s1)
S-T Strategi
1. Aktif bekerjasama dengan : Biro perjalanan,
mengadakan pagelaran music: dangdut, pop dan menampilkan artis-artis terkenal, mengadakan lomba lukis anak-anak(w1,s1) WEAKNESS
1. Kurangnya inovasi dalam
pengembangan baik sarana dan fasilitas yang sudah ada sehingga daya tarik objek wisata ini berkurang.
Strategi W-O
1. Menciptakan media promosi yang bersifat mengundang untuk berwisata ke Rawa Pening sebagai tempat wisata keluarga yang refresentatif.. (s1,s2,w1)
Strategi W-T
1. Merancang program even dalam kegiatan promosi yang sesuai dengan target sasaran dalam menyikapi persaingan produk wisata. (t1,t2,w1)
2.4.4. Kesimpulan analisis SWOT
1. Perlu adanya program even dalam kegiatan promosi yang sesuai dengan target sasaran dalam menyikapi persaingan produk wisata. Sehingga dapat mengundang para calon sasaran.
2. Dalam menyikapi Persaingan antar wisata sejenis di kawasan Kabupaten Semarang selatan yang sangat kompetitif sehingga Manajemen Rawa Pening perlu melakukan promosi yang menarik.
47 3. Kurangnya pengetahuan masyarakat tentang Rawa Pening, membuat masyarakat kurang berminat untuk berwisata ke lokasi ini, akan tetapi bila informasi tentang Rawa Pening sudah berjalan, maka lokasi ini akan lebih diminati calon pengunjung. 4. Semakin ketatnya kompetitif wisata sejenis yang lebih bagus dan menarik, mengharuskan pengelola Rawa Pening membuat program promosi yang menarik perhatian masyarakat.
48
BAB III
KONSEP PERANCANGAN
3.1. Konsep Pemasaran
3.1.1. Tujuan pemasaran Wisata Air Rawa Pening
Tujuan dari pemasaran Rawa Pening adalah untuk mengembalikan citra kawasan ini sebagai objek Wisata Air satu-satunya yang ada di kawasan Kabupaten Semarang juga dalam upaya meningkatkan pengunjung yang selama ini terus menerus turun. Dalam hampir setiap industri, selalu terdapat perusahaan-perusahaan kecil yang mengkhususkan diri pada sebagian dari pasar dan menghindari bentrok dengan perusahaan-perusahaan besar. Perusahaan-perusahaan kecil ini menempati “relung-relung” pasar yang mereka layani dengan efektif melalui spesialisasi dan yang cenderung diabaikan perusahaan-perusahaan besar. Strategi yang ditempuh oleh Rawa Pening ini disebut penggarap relung pasar (market nicher). Menempati sebagian kecil dari keseluruhan pasar ini tidak hanya diminati oleh perusahaan-perusahaan yang lebih besar dan yang belum mampu di industri tertentu. Perusahaan-perusahaan jenis ini mencoba masuk ke satu atau lebih celah-celah pasar yang aman dan menguntungkan.
Strategi pemasaran yang berhasil sangat ditentukan oleh tigkat kepuasaan yang diperoleh konsumen dari kegiatan pemasaran yang dilakukan perusahaan untuk produknya. Atas dasar ini maka dapatlah dikatakan bahwa tujuan dan sasaran pemasaran suatu produk adalah untuk kepuasaan kepada konsumen.
Setiap perusahaan yang bersaing dalam suatu industri mempunyai strategi bersaing. Usaha mengenali dan mempelajari pesaing merupakan masalah utama yang perlu diselesaikan untuk melakukan perencanaan yang efektif. Perusahaan seharusnya membandingkan terus-menerus produk, harga, saluran distribusi, dan promosi mereka dengan yang dilakukan oleh para pesaing dekatnya. Dengan cara ini, perusahaan dapat secara jelas melihat bidang-bidang keunggulan dan kelemahan pesaing potensial. Perusahaan dapat melancarkan serangan yang lebih mengena terhadap pesaingnya selain itu juga menyiapkan langkah pertahanan yang lebih kuat terhadap serangan lawan.
49 3.1.2 Stratrgi Pemasaran Wisata Air Rawa Pening
Rivalitas di kalangan pengusaha Wisata yang ada berbentuk perlombaan untuk mendapat posisi dengan menggunakan taktik-taktik seperti persaingan harga, promosi, pemberian hadiah undian, dan meningkatkan pelayanan atau jaminan kepada pelanggan. Persaingan terjadi Karena satu atau lebih pesaing merasakan adanya tekanan atau melihat peluang untuk memperbaiki posisi bersaingnya.
Secara spesifik, strategi Rawa Pening dalam meningkatkan jumlah wisatawan mencakup sejumlah pendekatan yang mungkin, antara lain:
1. Menempatkan perusahaan dalam posisi sedemikian sehingga kemampuan memberikan pertahanan terbaik untuk menghadapi rangkaian kekuatan persaingan yang ada.
2. Mempengaruhi keseimbangan kekuatan melalui gerakan strategi, dan karenanya memperbaiki posisi relative perusahaan.
3. Mengantisipasi pergeseran pada faktor-faktor yang menjadi penyebab kekuatan persaingan dan menggapainya, sehingga karenanya memanfaatkan perubahan dengan memilih strategi yang cocok dengan keseimbangan persaingan yang baru sebelum lawan menyadarinya.
3.2. Konsep Media
3.2.1. Tujuan Media Wisata Air Rawa Pening
Tujuan pemilihan Media Komunikasi yang dijalankan Rawa Pening adalah:
1. Membantu promosi dalam meningkatkan pemasaran produk wiswata 2. Meningkatkan kepercayaan pada target audience
3. Meningkatkan kembali citra baik perusahaan. 3.2.2 Strategi Media
Komunikasi yang akan dibangun adalah komunikasi visual melalui visual berupa media cetak. Tujuan komunikasi dari media ini adalah menyampaikan, bahwa Wisata Air Rawa Pening merupakan wisata keluarga yang mempunyai karakteristik suasana danau alamiah.
50 Pesan utamanya adalah menginformasikan bahwa Rawa Pening adalah tempat wisata keluarga yang indah yang menyatu antara danau dan alam lingkungannya.. Sedangkan pesan yang ingin disampaikan berupa informasi bahwa dengan melihat visualisasi media promosi, masyarakat akan mengetahui kalau Wisara Air Rawa Pening sebuah objek wisata keluarga yang sangat baik.
3.2.2. Tabel Program Media 3 (tiga ) bulan pertama Tahun 2014
No Media Juni Juli Agustus
I II III IV I II III IV I II III IV 1 Billboard 2 Spanduk 3 Flayer 4 X-banner 5 Kaos 6 Jam Dinding 7 Stiker 8 Iklan Koran 3.2.4. Pemilihan Media
Pemilihan media komunikasi periklanan obyek wisata air Rawa Pening ini agar lebih efektif maka akan dipilih media-media seperti :
a. Billboard
Karena billboard adalah media yang sangat besar dan dapat dibaca oleh para pengguna kendaraan di jalan raya.
51 Kelebihan :
1. Dengan ukuran yang besar maka akan dengan mudah menarik perhatian.
2. Dengan ukuran besar maka akan lebih mudah dibaca oleh para target audiens yang melewatinya, biasanya dijalan besar atau jalan raya.
b. Spanduk
Karena spanduk sebagai media pengingat untuk acara ataupun event-event yang akan diselenggarakan.
Kelebihan :
1. Biaya produksi relatif murah. 2. Masa hidup relatif lebih lama.
3. Meningkatkan brand awareness kepada masyarakat terutama yang berada di sekitar obyek wisata air Rawa Pening.
c. Flayer
Folder merupakan media yang cukup efektif, karena dapat dibaca ulang dan dibawa pulang.
Kelebihan :
1. Berfungsi sebagai informasi kecil tentang obyek wisata air Rawa Pening. 2. Dapat dibawa pulang.
d. X-Banner
Jenis iklan yang dicetak di kain lebar yang dipasang di dalam atau di luar ruangan, maupun di suatu tempat dilaksanakannya event, maka X-Banner dapat dipasang. Kelebihan :
1. Berfungsi sebagai informasi kecil tentang obyek wisata air Rawa Pening. 2. Biaya Produksi yang lebih murah.
e. Kaos
Kaos merupakan media yang cukup efektif karena jika dipakai oleh seseorang, dan orang tersebut berjalan atau bepergian, maka secara tidak langsung orang itu turut mendukung kampanye tersebut.
52 Kelebihan :
1. Merupakan media yang cukup efektif karena jika dipakai oleh seseorang, dan orang tersebut berjalan atau bepergian, maka secara tidak langsung orang itu turut mendukung kampanye dengan sendirinya.
2. Sebagai media promosi yang memiliki masa hidup yang relative lebih lama. f. Jam Dinding
Jam dinding adalah alat penunjuk waktu, yang sewaktu-waktu jika orang ingin mengetahui waktu, maka orang tersebut akan melihat waktu. Maka media jam dinding cukup baik untuk mengkampanyekan promosi ini.
Kelebihan :
1. Jam dinding adalah alat penunjuk waktu, yang sewaktu-waktu jika orang ingin mengetahui waktu, maka orang tersebut akan melihat waktu dan akan ingat dengan Rawa Permai
2. Fungsional
3. Dapat digunakan sebagai merchandise dan media publisitas. g. Stiker
Stiker sendiri adalah media yang dicari orang, karena sebagian orang akan menempatkannya pada tempat yang dimana akan dilihat orang lain. Sehingga secara langsung, media ini sangat baik sebagai media kampanye.
Kelebihan :
1. Biaya produksi relatif murah 2. Aplikatif
h. Surat Kabar / Iklan Koran
Karena media surat kabar merupakan media yang sangat efektif yang dapat menjangkau seluruh wilayah Jawa Tengah.
Kelebihan :
1. Surat kabar dapat dibaca oleh semua golongan
53
3.3 Konsep Kreatif
3.3.1 Tujuan Kreatif
Tujuan kreatif dari perancangan ini adalah untuk mengkomunikasikan obyek wisata air Rawa Pening dengan menggunakan beberapa media promosi yang sesuai dengan target audiems dan target market agar masyarakat lebih mengenal tentang obyek wisata air Rawa Pening.
3.3.2 Strategi Kreatif
Strategi kreatif yang diterapkan untuk mencapai tujuan kreatif maka dibutuhkan strategi yang efektif sehingga dapat meraih perhatian (attention), menumbuhkan minat (interest), merangsang keinginan (desire), dan memperoleh tindakan (action), dengan memanfaatkan daya tarik visual, isi pesan, elemen desain dan perwujudan media semaksimal mungkin agar dapat mengenalkan Rawa Pening kepada target market dan target audien melalui media yang ada. 3.3.3 Isi Pesan
Isi pesan yang ingin disampaikan adalah memberikan informasi tentang obyek wisata air Rawa Pening beserta menonjolkan keindahan alam yang ada di dalamnya. Melalui pesan singkat, padat dan jelas, dengan menunjukkan kenyataan yang ada sehingga mudah dimengerti dan dipahami oleh target audiens dan merasa tertarik untuk berkunjung ke obyek wisata air Rawa Pening
3.3.4 Pesan Verbal
Bentuk pesan verbal merupakan cara penyampaian pesan kepada target audien, bentuk pesan yang disampaikan adalah pesan formal dengan headline sesuai slogan Rawa Pening yang bermaksud menyampaikan pesan informasi tentang keberadaan obyek wisata air Rawa Pening sebagai tempat rekreasi keluarga. Pesan verbal lainnya berisi ajakan yang dapat mempengaruhi para wisatawan serta memberikan keterangan informasi tentang wahana-wahana permainan yang dimiliki obyek wisata air Rawa Pening, pesan verbal dari perancangan ini disampaikan melalui iklan surat kabar, billboard, spanduk, x-banner, folder dan media pendukung lainnya.
54 3.3.5 Isi Pesan
ASYIKNYA NAIK PERAHU
INDAHNYA BERKELILING DANAU NAIK PERAHU DAYUNG SENDIRI
Dari penjabaran tema diatas yang dipilih sebuah sub headline yang berbunyi: ASYIKNYA NAIK PERAHU karena sebuah kalimat tersebut sesuai dengan yang ditawarkan kepada wisatawan..
3.3.6 Pesan Visual
Bentuk pesan visual yang ditampilkan dalam perancangan ini adalah dengan memanfaatkan wahana-wahana yang ada, komponen penting seperti logo, warna corporate identity, dan elemen penyusun lainnya.
3.3.7 Strategi Visual
Strategi visual dalam perancangan ini memanfaatkan unsur-unsur desain komunikasi visual yang dapat menunjang tampilan perancangan media. Berikut adalah unsur-unsur penunjang yang digunakan dalam perancangan ini.
a. Tipografi
Tipografi dalam perancangan ini menggunakan font Custom, Arial Edwardian Script ITC. Pemilihan ketiga huruf tersebut karena bentuknya yang sederhana dan mudah dibaca oleh target audiens dari jarak jauh.
Edwardian Script ITC
ABCDEFGHIJKLMNOPQRSTUVWXYZ
abcdefghijklmnopqrstuvwxyz
55
1234567890
Time New Roman
ABCDEFGHIJKLMNOPQRSTUVWXYZ abcdefghijklmnopqrstuvwxyz
1234567890
b. Warna
Warna adalah salah satu aspek yang sangat berpengaruh. Pemilihan warna perancangan ini menggunakan hijau tua dan hijau muda yang identik dengan suasana alam sesuai corporate Rawa Pening. warna hijau dipilih sebagai warna dominan karena warna ini melambangkan kesejukan, tenang, jernih, segar. Selain warna hijau, pemilihan warna lain adalah Orange yang sering diartikan hangat, kebersamaan, energi, suka cita, ceria.
56 a. Fotografi
Teknik fotografi dipakai dalam perancangan ini terutama pada media iklan di surat kabar, billboard, spanduk, x-banner, sebagai promosi dengan menampilkan wahana-wahana yang berada di obyek wisata air Rawa Pening
b. Logo
Logo sebagai pengikat dari obyek wisata air Rawa Pening ini selalu ada di setiap media promosi, agar indentitas obyek wisata tetap ada. Disetiap media iklan
c. Layout
Layout dapat diartikan sebagai tata letak elemen-elemen desain terhadap suatu bidang dalam media, bidang halaman yang akan ditata tak ubanhnya dengan desain yang harus diisi dengan elemen-elemen grafis sebagai pengisi bidang media. Dalam perancangan ini layout dibuat dengan menyesuaikan media-media yang sudah ditentukan.
d. Program Kreatif
1. Pesan Pokok yang Diangkat
Pesan pokok yang diangkat dalam perancangan ini adalah mengenalkan obyek wisata air untuk keluarga kepada masyarakat yang berdomisili di Kota-kota di Provinsi Jawa Tengah bahwa di obyek wisata air Rawa Pening adalah wisata danau terbuka yang natural, selain berekreasi juga dapat sambil belajar ilmu pengetahuan tentang keindahan Alam semesta. Pesan tersebut diharapkan dapat tertanam dalam benak target audiens .