• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB VII PROGRAM REFORMA AGRARIA DAN PENINGKATAN KESEJAHTERAAN PETANI

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "BAB VII PROGRAM REFORMA AGRARIA DAN PENINGKATAN KESEJAHTERAAN PETANI"

Copied!
14
0
0

Teks penuh

(1)

BAB VII

PROGRAM REFORMA AGRARIA

DAN PENINGKATAN KESEJAHTERAAN PETANI

7.1 Tanggapan Warga Terhadap Program Sertifikasi

Berdasarkan keterangan beberapa responden dan informan yang telah ditemui baik mereka yang menjadi sasaran program sertifikasi maupun yang bukan menjadi sasaran, menyatakan bahwa pemberian sertifikat lahan eks-HGU ini benar-benar menggembirakan dan dapat membantu kehidupan warga. Sebelum mendapatkan sertifikat para penggarap lahan eks-HGU mengaku kurang leluasa menggarap lahannya. Hal ini disebabkan ada kekhawatiran bahwa nanti lahan yang sudah digarapnya bertahun-tahun akan diambil lagi oleh pihak yang sebelumnya memiliki HGU.

Hal ini serupa dengan apa yang diutarakan oleh CH (53 tahun), dia merasa gembira dan lebih bersemangat menggarap lahan yang kini sudah menjadi hak miliknya.

“ Ibu senang sekali mendapatkan sertfikat, Ibu merasa terbantu. Memang Ibu sudah lama menggarap lahan ini, dari sejak masih muda Ibu ikut ADR berkebun di lahan eks-HGU, tapi sebelum mendapatkan sertifikat ibu kadang-kadang merasa was-was. Ibu khawatir lahan yang Ibu garap diambil oleh pihak yang dulu memiliki HGU di sini. Padahal tanaman Ibu sudah banyak, apalagi tanaman Sengon yang sudah lumayan besar. Sekarang sih sudah tenang karena sudah punya sertifikat.”

Pemerintah Desa Pamagersari juga mengutarakan hal serupa seperti, SLH (36 tahun) yang bertugas sebagai staf Kantor Desa Pamagersari mengatakan bahwa program sertifikasi ini benar-benar bermanfaat, warga merasa sangat terbantu. SLH (36 tahun) juga termasuk warga yang menerima bantuan sertifikat, beliau mendapatkan lahan seluas 200 m2.

(2)

Selain itu hal serupa juga diutarakan oleh Kepala Desa Pamagersari yang sekarang masih menjabat.

“seperti yang saya ketahui melalui cerita warga, program ini benar-benar membantu warga yang menerimanya. Selain mendapatkan hak milik atas lahan garapan eks-HGU, menurut saya yang terpenting adalah rasa aman dan tenang yang mereka rasakan dalam menggarap lahan, mereka tidak merasa takut untuk menggarap lahan kapan pun. Pengaruh lain yang saya perhatikan dari pemberian sertifikat ini adalah meningkatnya semangat kerja para petani dalam mengelola lahan yang sudah menjadi hak miliknya.” (NR, 40 tahun)

Selain pernyataan warga yang sebagian besar mengutarakan kegembiraannya terhadap program sertifikasi ini, ada juga beberapa informan yang ditemui dan mengutarakan pandangan yang berbeda, diantaranya adalah AMM (75 tahun).

“Aki juga mengetahui program sertifikasi dari BPN akan dilaksanakan di Desa Pamagersari, namun Aki dengar lahan Aki akan diukur tapi untuk dibagi-bagikan lagi. Menurut Aki ini tidak pantas, masa lahan yang sudah susah payah kita garap harus diberikan kepada orang lain begitu saja.”

Ungkapan ini menunjukkan adanya penolakan AMM (75 tahun) terhadap program sertifikasi, penolakan ini dikarenakan AMM (75 tahun) tidak ingin lahannya dibagi dengan orang lain karena beliau merasa sudah memiliki dan mengolahnya selama berpuluh-puluh tahun dan merasa rugi jika harus dibagi dengan orang lain.

Hal berbeda diutarakan oleh salah seorang tokoh masyarakat Desa Pamagersari. JY (58 tahun) melihat adanya ketidakjelasan prosedural yang terjadi dalam proses pembagian lahan eks-HGU ini. Hal ini terlihat dari adanya sejumlah biaya yang harus dikeluarkan oleh warga untuk menebus sertifikatnya, sementara diketahui bahwa program sertifkasi ini pada walanya merupakan program yang tidak dipungut biaya apapun.

7.2 Pemanfaatan Lahan Eks-HGU Jasinga 7.2.1 Membangun Pemukiman

(3)

Seperti yang dijelaskan di atas, setelah menerima sertifikat lahan sebagian besar petani di Desa Pamagersari merasa senang dan lebih bersemangat dalam menggarap lahannya. Hal ini terlihat dari rutinitas warga menggarap lahan yang semakin meningkat. Semangat kerja yang meningkat juga dapat dilihat dengan adanya perkampungan baru di Blok Citeureup, yaitu salah satu blok perkebunan eks-HGU. Warga yang membangun perkampuangan baru tersebut berjumlah 14 kepala keluarga. Beberapa warga dari mereka mengutarakan bahwa alasan mereka membuat pemukiman di Blok Citeureup agar mereka lebih dekat ke ladang sehingga mempermudah penggarapan dan menghemat biaya. Sebenarnya rumah asli mereka masih di Desa Pamagersari namun jaraknya cukup jauh dari lahan eks-HGU yang mereka miliki. Ketika peneliti berkunjung ke lokasi, masyarakat di kampung Citeureup sedang bergotong royong membangun mushola.

Gambar 5. Pemukiman Citereup

Mengenai pemanfaatan lahan yang digunakan untuk areal pemukiman, OM (50 tahun) mengutarakan bahwa lahan eks-HGU yang dimilikinya memang digunakan untuk membangun rumah.

“Masyarakat di Kampung Citeureup (Blok Citeureup) ini ada yang menggunakan lahannya untuk rumah ada juga yang digunakan untuk berkebun atau ladang. Saya mendapat lahan dari progam sertifikasi hanya digunakan untuk tempat tinggal (didirikan rumah) dengan luas 320 m2 sedangkan untuk lahan lain tidak mendapatkan (yang melalui program sertifikasi). Selain lahan yang digunakan untuk rumah saya juga ada lahan yang

(4)

digunakan untuk berkebun tapi itu belum menjadi hak milik (belum ada suratnya) hanya mendapatkan izin menggarap saja dari Pemda Bogor, lokasinya pun bukan di Pamagersari tapi masuk wilayah Desa Jasinga.”

Rumah yang didirikan di Kampung Citeureup (Blok Citeureup) masih berupa rumah yang sangat sederhana, hal ini terlihat dari dinding rumah yang masih terbuat dari bilik bambu, sebagian besar beratap daun kelapa atau daun ilalang, sebagian besar lantai masih berupa tanah.

7.2.2 Areal Pertanian (berkebun, berladang, dan sawah)

Selain untuk pemukiman ada juga warung kecil, namun sebagian besar lahan dimanfaatkan untuk bertani. Sebenarnya pemanfaatan lahan eks-HGU sebagai lahan pertanian sudah dilakukan jauh sebelum adanya program reforma agraria. Pada umumnya warga memanfaatkan lahan untuk berladang atau berkebun.

Tabel 16 memperlihatkan pemanfaatan lahan eks-HGU berdasarkan jenis pemanfaatan dan lamanya waktu pemanfaatan lahan.

Tabel 16: Pemanfaat Lahan Eks-HGU

No Nama Lamanya menggarap

Bentuk Pemanfatan Komoditas utama 1 Abah Dira > 5 thn Rumah, ladang, dan

kebun

Sengon 2 Aki Momo > 5 thn Ladang dan kebun Sengon 3 Bapak Sukatmo > 5 thn) Ladang dan kebun Sengon 4 Ibu Ciah > 5 thn Rumah, ladang dan

kebun

Sengon 5 Ibu Upik < 5 thn Belum digarap - 6 Bapak Cepi < 5 thn Tidak digarap (dijual) -

(5)

8 Bapak Budi < 5 thn Tidak digarap (dijual) - 9 Bapak Soleh < 5 thn Belum digarap - 10 Bapak Suhedi < 5 thn Belum digarap - 11 Bapak Agus Kosasih < 5 thn Belum digarap - 12 Bapak Afif > 5 thn Ladang dan kebun Sengon 13 Bapak Sarhan < 5 thn Ladang dan kebun Sengon 14 Ibu Oom < 5 thn Rumah, warung, dan

ladang.

Sengon 15 Bapak Oscar < 5 thn Belum digarap - 16 Bapak Suhanda < 5 thn Tidak digarap (dijual) - 17 Bapak Jaya > 5 thn Ladang dan kebun Sengon 18 Bapak Sodik < 5 thn Kebun Sengon 19 Bapak Ajir < 5 thn Ladang dan kebun Sengon 20 Bapak Jajat > 5 thn Ladang dan kebun Sengon dan

Afrika 21 Bapak Ujang > 5 thn Ladang dan kebun Sengon

Terdapat bermacam-macam tanaman yang ada di atas lahan eks-HGU ini. Pada umumnya warga menanam tanaman ladang yang tergolong memiliki usia pendek seperti singkong, ubi, jagung, dan pisang. Beberapa warga juga menanam buah-buahan yang umurnya lebih panjang seperti durian, manggis, rambutan, nangka, dan cempedak. Selain itu, terdapat warga yang menggunakan lahanya untuk areal persawahan dan padi gogo (huma).

Salah satu warga yang memiliki sawah di lahan eks-HGU ini adalah CH (53 tahun), beliau memiliki beberapa petak sawah di belakang rumahnya, sawah ini terletak di Blok Citeureup yang berbatasan dengan Blok Ancol.

“Di belakang juga ada sawah Ibu, tapi tidak banyak cuma ada beberapa petak saja. Lumayan untuk kebutuhan sendiri, jika ada sisa terkadang Ibu gunakan untuk sedekah jika ada tetangga atau saudara yang hajatan6.” (CH 53 tahun)

6

Hajatan adalah sebuah acara yang diadakan oleh sebuah keluarga, semacam kenduri atau acara syukuran. Biasanya hajatan dilakukan jika ada warga yang menikah atau khitanan, terkadang juga sebagai acara pemberian nama pada bayi. Kebiasaan warga di Desa Pamagersari jika ada kerabat (saudar atau tetangga) yang hajatan mereka membantunya dengan memberi sedekah berupa beras atau bahan makanan pokok lainnya.

(6)

Gambar 6: Sawah CH (53 tahun) yang berbatasan dengan Blok Ancol

Akan tetapi, sebagain besar warga menanami lahannya dengan pohon Sengon (Ambon, Jengjeng, Albasia). Semua responden dan informan yang ditemui mengutarakan bahwa lahan mereka ditanami pohon Sengon. Menurut mereka perawatan pohon Sengon cukup mudah, umur 4-5 tahun sudah dapat dipanen. umumnya banyak pemborong yang mencari pohon Sengon untuk dibeli, para pemborong rata-rata membeli sengon yang talah berumur 4-5 tahun dengan harga Rp. 150.000/batang hingga Rp. 300.000/batang. Hal ini tergantung pada kualitas pohonnya. Untuk bibit Sengon itu sendiri harganya cukup murah, harga bibit sengon dengan ukuran 1 meter berkisar Rp. 1.500/poliybag hingga Rp. 2.500/polybag.

Tabel 17: Pemanfaatan Lahan yang Ditanami Pohon Sengon.

Harga bibit/polybag dengan panjang 1 m

Rata-rata lamanya masa

perawatan

Harga jual/batang Persentase penggarap yang menanam Sengon Rp. 1.500 – Rp. 2.500 4 – 5 tahun Rp. 150.000 – Rp. 300.000 75 %

(7)

Gambar 7: Pohon Sengon yang ditanam di atas lahan eks-HGU yang telah disertifikasi

Selain itu, terdapat warga yang tidak/belum menggarap lahan yang diterimanya. Bahkan diantara mereka ada yang sudah mejualnya kepada orang lain. Warga yang belum menggarap mengutarakan bahwa mereka belum memiliki waktu untuk menggarap lahannya karena mereka sudah memiliki pekerjaan lain. contohnya AGK (40 tahun), beliau merupakan mitra Yamaha Motor dan memilki sebuah dealer di depan rumahnya.

“ Saya juga punya lahan, dulu sebelum sertifikasi Saya membeli lahan itu dengan harga Rp. 1500.000 dengan luas 1024 m2, tapi belinya hanya beli garapan. Ketika ada program sertifikasi alhamdulillah saya juga mendapatkan sertifikat. Tapi sampai sekarang lahan itu belum sempat saya garap, rencananya jika ada waktu nanti saya akan tanami

Jengjeng (Sengon).”

Selain itu, terdapat responden yang mengutarakan bahwa mereka sedang mengumpulkan modal untuk berkebun. Hal ini seperti diutarakan oleh SLH (36 tahun) salah seorang staf di kantor Desa Pamagersari yang mendapatkan sertifikat lahan eks-HGU.

“Rencananya saya akan menanam Jati Mas, karena tanah di Pamgersari ini sudah diteliti cocok untuk berkebun Jati Mas. Tapi saya akan mengumpulakan modal terlebih dahulu, harga bibit Jati Mas ckup mahal yaitu Rp. 25.000/polybag.”

Pemaparan mengenai pemanfaatan lahan eks-HGU di atas sejalan dengan apa yang diharapkan oleh pemerintah. Akan tetapi, selain itu ada juga beberapa warga yang telah menjual lahannya setelah mereka mendapatkan sertifikat.

(8)

7.2.3 Sarana Umum

Terdapat beberapa bidang lahan eks-HGU yang digunakan untuk kepentingan umum, diantaranya adalah mushola yang terletak di Perkampungan Citeureup. Mushola ini juga memiliki sertifikat sendiri. Ketika penelitian ini masih berlangsung, warga di Perkampungan Citeureup sedang bergotong royong membangun mushola.

Selain itu, ada juga lahan yang digunakan untuk lokasi lapangan sepak bola yang terletak di Kampung Bojong Reundeu.

7.3 Program Reforma Agraria dan Peningkatan Kesejahteraan Petani

Reforma agraria merupakan salah satu solusi utama untuk menyelesaikan permasalahan agraria yang dihadapi oleh masyarakat Indonesia. Program reforma agraria sangat diharapkan dapat mewujudkan pemerataan hak pemilikan lahan dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat luas. Program land reform yang pernah direncanakan pada masa pemerintahan Soekarno tidak dapat direalisasikan. Hal ini disebabkan berubahnya kebijakan politik agraria dari populis (Soekarno) menjadi kapitalis (Soeharto/ Orde Baru).

Hampir satu dekade pemikiran mengenai pentingnya reforma agraria kembali dicuatkan dan diupayakan agar terwujud. Muaranya adalah pada masa pemerintahan SBY-JK program reforma agraria dapat direalisasikan. Tujuan utama dari program reforma agraria adalah penataan kembali struktur agraria nasional sehingga menjadi lebih adil dan merata. Struktur kepemilikan aset-aset agraria yang adil dan merata disertai dengan pemberian program penunjang berupa kemudahan akses dalam mendapatkan moda produksi (lahan, teknologi, modal finansial, bibit tanaman, dan

(9)

lain-lain) serta peningkatan kapasitas sasarana, diharapkan dapat memberikan dorongan bagi

terwujudnya masyarakat Indonesia yang sejahtera. Hal ini pernah disinggung oleh Presiden RI Bapak DR. H. Susilo Bambang Yudhoyono dalam pidato politiknya7.

“Program reforma agraria…secara bertahap…akan dilaksanakan mulai tahun 2007 ini. Langkah itu dilakukan dengan mengalokasikan tanah bagi rakyat termiskin yang berasal dari hutan konversi dan tanah lain yang menurut hukum pertanahan kita boleh diperuntukkan bagi kepentingan rakyat. Inilah yang saya sebut sebagai prinsip tanah untuk keadilan dan kesejahteraan rakyat…[yang] saya anggap mutlak untuk dilakukan”.

Pada bulan Juni 2007 program reforma agraria dilaksanakan di Kecamatan Jasinga, Kabupaten Bogor. Program ini berupa pemberian sertifikat kepada petani yang menggarap lahan eks-HGU Perkebunan Jasinga, salah satunya diperuntukkan bagi petani di Desa Pamagersari. Secara rasional adanya bantuan berupa pemberian lahan ini akan memberi pengaruh terhadap tingkat kesejahteraan sasaran yang mendapatkannya, dalam hal ini terfokus pada kehidupan petani di Desa Pamagersari.

Berdasarkan informasi yang diperoleh, terdapat beberapa hal yang mengindikasikan bahwa program reforma agraria di Desa Pamagersari belum dapat memberikan dorongan yang signifikan dalam upaya peningkatan kesejahteraan sasaran program (sebagian besar petani).

Beberapa hal yang menyebabkan program reforma agraria di Desa Pamagersari belum dapat memberikan pengaruh yang signifikan terhadap tingkat kesejahteraan sasarannya (petani), antar lain:

a. Waktu pelaksanaan reforma agraria

Program reforma agraria dalam bentuk sertifikasi lahan eks-HGU baru dilaksanakan pada tahun 2007. Jangka waktu ini masih terlalu singkat untuk melihat

7

Penggalan pidato dalam Reforma Agraria (Mandat Politik, Konstitusi. dan Hukum dalam Rangka

(10)

pengaruh yang ditimbulkan, yaitu berupa tingkat kesejahteraan sasaran progarm. Jika setelah mendapatkan sertifikat para petani langsung menggarap lahannya, maka sampai saat ini waktu optimal penggarapan lahan baru berlangsung sekitar 1 sampai 1,5 tahun. Jangka waktu ini hanya cukup untuk menghasilkan tanaman jangka pendek seperti padi, singkong, pisang, ubi, dan jagung.

Beberapa responden mengaku pernah menjual beberapa hasil panen tanamannya, namun hasil penjualan itu tidak begitu besar. Hal ini seperti diutarakan oleh CH (53 tahun).

“Hasil panen antara lain pisang dan singkong, tadi juga baru saja menjual singkong yang ada di depan seharga Rp. 260.000 dengan cara diborongkan, sekarang hasilnya sedang tidak bagus karena terkena hama, biasanya jika tidak ada kuuk (semacam hama di dalam tanah) hasil penjualan singkong saja bisa mencapai Rp. 1500.000. Untuk pisang perminggu bisa menghasilkan hingga Rp. 80.000 s.d. Rp. 100.000. Sebelum dijual saya terlebih dahulu menyisihkan untuk keperluan keluarga (dikonsumsi sendiri). Selain itu ada juga hasil sawah, setahunnya bisa menghasilkan sekitar Rp. 1500.000 (dua kali panen). Namun sekarang hasil sawah jarang dijual, hanya untuk kebutuhan keluarga saja.”

Jika dilakukan penghitungan matematis dari hasil panen yang didapatkan oleh CH (53 tahun), maka rincian uang yang didapatkan dari hasil panen per tahun:

1. Panen Padi : Rp. 1500.000,- (dua kali penen) 2. Panen Singkong : Rp. 1000.000,-

3. Panen pisang : Rp. 4500.000,- +

Jumlah : Rp. 7000.000,-

Jika Rp. 7000.000,- dibagi 12 bulan maka CH (53 tahun) setiap bulannya hanya bisa mendapatkan ± Rp. 580.000,-. Jumlah ini adalah hasil perhitungan kasar, dimana kondisi panen diasumsikan dalam keadaan baik (tidak ada gangguan hama). Jika ada gangguan hama dan ditambah dengan biaya produksi lainnya, tentu saja hasil yang

(11)

didapatkan jauh lebih kecil. Tentu saja hasil panen ini belum bisa membuat CH merasa sejahtera secara ekonomi, mengingat harga kebutuhan pokok pada saat ini sangat tinggi.

“….tapi pak jika lagi paceklik (kondisi sulit) mah, kadang-kadang ibu juga meminjam uang ke saudara atau tetangga.”

Selain pemaparan di atas, ada juga informan yang mengemukakan hal yang serupa mengenai masih singkatnya masa pemberian sertifikat sehingga sulit melihat dampaknya bagi kesejahteraan sasaran. Hal ini seperti disampaikan oleh SKM (62 tahun).

“Sejauh yang bapak amati, warga yang mendapatkan sertifikat belum dapat dikatakan sejahtera sebab program tersebut baru saja dimulai tahun 2007 yang lalu, belum lagi ada warga yang sudah menjual lahnnya.”

Sementara untuk tanaman keras yang memiliki nilai jual cukup tinggi seperti Sengon membutuhkan waktu minimal 3 tahun untuk bisa dipanen. Rata-rata Sengon yang ada saat ini baru berumur 6 bulan hingga 1 tahun, dan ini belum layak untuk dijual sehingga belum bisa memberikan hasil bagi petani.

b. Belum ada pemberian access reform yang memadai.

Access reform merupakan bantuan pelengkap program reforma agraria. Access reform diberikan untuk mengoptimalkan pengusahaan obyek reforma agraria oleh

penerima manfaat. Access reform ini merupakan rangkaian aktivitas yang saling terkait dan berkesinambungan yang meliputi antara lain: (a) penyediaan infrastruktur dan sarana produksi, (b) pembinaan dan bimbingan teknis kepada penerima manfaat, (c) dukungan permodalan, dan (d) dukungan distribusi pemasaran dan dukungan lainnya (BPN RI, 2007).

Bentuk access reform yang pernah diberikan adalah bantuan bibit buah-buahan sebanyak 200 batang untuk Desa Pamagersari. Jumlah ini jauh dari mencukupi,

(12)

selain itu bibit buah-buahan yang diberikan rata-rata memiliki masa panen 4 samapai 5 tahun.

c. Kurang optimalnya pemanfaatan lahan oleh sasaran program

Kurang optimalnya pemanfaatan lahan oleh sasaran program merupakan salah satu sebab kurang signifikannya pengaruh reforma agraria bagi tingkat kesejahteraan petani. Beberapa warga yang termasuk dalam sasaran program mengutarakan bahwa mereka belum sempat menggarap lahan eks-HGU. Hal ini dikarenakan mereka telah memiliki kesibukan dan pekerjaan yang lebih menjanjikan hasilnya daripada menggarap lahan. Salah satunya seperti diutarakan oleh UP (62 tahun).

“Ibu bersyukur bisa dapet sertifikat, tapi sampe sekarang ibu belum sempet ngegarap. Abis gimana, ibu sibuk jualan. Jangankan ngegarap de…ngeliat lahannya aja belum..hehehe…abis lokasinya jauh….di Blok Ciledug sana..”

d. Penjualan lahan yang telah disertifikasi

Beberapa sasaran program yang berhasil ditemui mengaku telah menjual lahan eks-HGU yang diberikan kepadanya. Bahkan lahan itu belum pernah digarap olehnya. Salah satunya adalah CP (43 tahun), beliau mengatakan:

“ …lahan tersebut akhirnya digarap oleh tetangga saya (SHN, 41 tahun). Tanpa sepengetahuan saya lahan tersebut sudah dijual oleh SHN, dan saya diberi uang Rp. 300.000,- tapi ya sudahlah...saya ngga mau ngeributin”

Beda halnya dengan CP (43 tahun) yang membiarkan lahannya dijual oleh SHN (41 tahun). Terdapat warga yang menjual lahan dengan alasan tidak memiliki biaya untuk melanjutkan sekolah anaknya, diantaranya adalah Ibu CH (53 tahun).

“Saya hanya mendapatkan sedikit lahan, sebagian telah dijual kepada AFF tapi masih digarap oleh saya. Sebagian lahan sudah dijual kepada AFF (55 tahun), namun lahan yang masih ada sawahnya saya pertahankan karena dekat kampung dan hanya itu yang benar-benar milik saya.”

(13)

Beberapa faktor di atas nampaknya perlu menjadi perhatian berbagai pihak, diantaranya pemerintah (BPN) sebagai pengampu kebijakan agraria dan warga yang mendapatkan sertifikat. Jika permasalahan-permasalahan di atas tidak dapat terselesaikan, tidak menutup kemungkinan tujuan utama reforma agraria di Indonesia tidak akan pernah tercapai. Walaupun program tersebut sudah berjalan bertahun-tahun lamanaya.

Jika kepemilikan materi ekonomi merupakan salah satu patokan untuk melihat tingkat kesejahteraan sasaran program, maka dari informasi dan perhitungan sederhana di atas dapat diketahui bahwa sebagian besar sasaran program belum dapat dikatakan sejahtera. Akan tetapi, program Reforma Araria di Desa Pamagersari saat ini dapat memberikan pangaruh psikologis (non-material) yang positif. Seluruh subjek program merasa senang dan leluasa menggarap lahannya, dengan memiliki sertifikat para penggarap tidak lagi merasa takut kehilangan lahan garapannya.

Midgley, et al (2000: xi) seperti dikutip oleh Suharto (2006) mendefinisikan kesejahteraan sosial sebagai “…a condition or state of human well-being.” Kondisi

sejahtera terjadi manakala kehidupan manusia aman dan bahagia karena kebutuhan dasar akan gizi, kesehatan, pendidikan, tempat tinggal, dan pendapatan dapat dipenuhi; serta manakala manusia memperoleh perlindungan dari resiko-resiko utama yang mengancam kehidupannya.

Pembagian sertifikat lahan eks-HGU merupakan langkah pemerintah untuk memberikan perlindungan terhadap hak-hak penggarap di Desa Pamagersari sehingga masyarakat merasa senang dan lebih leluasa menggarap lahannya kapan pun.

Berdasarkan pemaparan di atas dapat disimpulkan bahwa dalam kurun waktu dua tahun terlaksananya program Reforam Agraria di Desa Pamagersari, pengaruh yang

(14)

dapat terlihat baru sebatas pengaruh secara psikologis. Dimana sasaran merasa senang, leluasa, dan tidak takut kehilangan lahan garapannya. Kesejahteraan psikologis (non-material) ini merupakan modal dasar untuk mewujudkan kesejahteraan ekonomi yang lebih baik pada masa yang akan datang.

Gambar

Tabel 17: Pemanfaatan Lahan yang Ditanami Pohon Sengon.

Referensi

Dokumen terkait

Dengan diterapkannya program-program dari Balai Pemberdayaan Petani Desa paling tidak dapat mengatasi tiga permasalahan bangsa, yaitu pertanian organik dapat menjadi

belum tepat sebanyak 61% atau 65 responden mereka adalah masyarakat miskin yang menjadi sasaran program sebenarnya tapi tidak merasakan manfaat dari adanya pembangunan

Berdasarkan Tabel 8 dapat diketahui bahwa dari 41 responden, persepsi petani terhadap program kemitraan secara keseluruhan adalah sebesar 57,6 dengan kategori cukup

Hasil penelitian menunjukkan bahwa dari setiap responden yang menjadi sasaran penelitian diperoleh nilai total antar variabel efektivitas program PUAP terhadap

Kebijakan umum merupakan arah kebijakan yang diambil dalam rangka mencapai sasaran yang terukur dari masing-masing sasaran dalam RPJMD Sedangkan program pembangunan

Berdasarkan Tabel 8 dapat diketahui bahwa dari 41 responden, persepsi petani terhadap program kemitraan secara keseluruhan adalah sebesar 57,6 dengan kategori cukup

Fokus utama dalam rangka pencapaian sasaran produksi tahun 2013 adalah pelaksanaan program peningkatan produktivitas padi melalui peningkatan kualitas SL-PTT berbasis pola

Tabel 4.2 : Deskripsi Perilaku Organisasi dan Antar Organisasi Berdasarkan Komitmen dalam Pelaksanaan Program Pusat Pelayanan Kesejahteraan Anak Integatif di Kabupaten Gowa Informan