• Tidak ada hasil yang ditemukan

Meningioma Spinal

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "Meningioma Spinal"

Copied!
32
0
0

Teks penuh

(1)

ISBN 10: 602-0885-13-5 ISBN 13: 978-602-0885-13-1 Bhuana Ilmu Populer (Kelompok Gramedia)

Jl. Palmerah Barat 29-37, Unit 1 - Lantai 2, Jakarta10270 T: (021) 53677834, F: (021) 53698138

(2)

Buku Teks Komprehensif

Meningioma

Prof. Dr. dr. Iskandar Japardi, SpBS(K)

Ketua Departemen Ilmu Bedah Saraf

Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara

RSUP H. Adam Malik

Medan – Sumatera Utara

(3)

Prof. Dr. dr. Iskandar Japardi, SpBS(K)

ISBN 10: 602-0885-13-5

ISBN 13: 978-602-0885-13-1

Editor Kepala: Prof. Dr. dr. Iskandar Japardi, SpBS(K)

Pengayakan Bahasa: Dr. Dwi Widayati, M.Hum

Editing Radiologi: dr. Elvita Rahmi Daulay, M.Ked(Rad), SpRad(K)

Editing Patologi: dr. Sufitni, M.Kes, SpPA. dr. Sufida, SpPA

Penata Letak: Maria Theresa & Aditya Ramadita

©2015, PT Bhuana Ilmu Populer

Jl. Palmerah Barat 29–37, unit 1, lantai 2, Jakarta 10270

Diterbitkan pertama kali oleh

Penerbit PT Bhuana Ilmu Populer

No. Anggota IKAPI: 246/DKI/04

Kuipan Pasal 72:

Sanksi Pelanggaran Undang-Undang Hak Cipta (UU No. 19 Tahun 2002)

1. Barangsiapa dengan sengaja dan tanpa hak melakukan perbuatan se ba-gai mana dimaksud dalam Pasal 2 ayat (1) atau Pasal 49 ayat (1) dan ayat (2) dipidana dengan pidana penjara masing-masing paling singkat 1 (satu) bulan dan/atau denda paling sedikit Rp1.000.000,00 (satu juta rupiah), atau pidana penjara paling lama 7 (tujuh) tahun dan/atau denda paling banyak Rp5.000.000.000,00 (lima miliar rupiah).

2. Barangsiapa dengan sengaja menyiarkan, memamerkan, menge darkan, atau menjual kepada umum suatu Ciptaan atau barang hasil pelanggaran Hak Cipta atau Hak Terkait sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dipidana dengan pidana penjara paling lama 5 (lima) tahun dan/atau denda paling banyak Rp500.000.000,00 (lima ratus juta rupiah).

© Hak Cipta dilindungi Undang-Undang. Diterbitkan oleh PT Bhuana Ilmu Populer

(4)

DAFTAR ISI

Kata Pengantar ... v

Bab 1 Asal Meningioma ... 1

Iskandar Japardi

Bab 2 Biologi Meningioma ... 25

Iskandar Japardi

Bab 3 Biologi Molekular dan Genetik ... 40

Rr Suzy Indharty

Bab 4 Neuropatologi Meningioma ... 61

Iskandar Japardi

Bab 5 Meningioma dan Edema Otak ... 91

Iskandar Japardi

Bab 6 Gejala Klinis Meningioma ... 109

Iskandar Japardi

Bab 7 Angiogenesis Meningioma ... 120

Iskandar Japardi

Bab 8 Prinsip Umum Operasi Meningioma ... 143

Julius July

Bab 9 Meningioma Olfactory Groove ... 153

Iskandar Japardi

Bab 10 Meningioma Fossa Media ... 179

Iskandar Japardi

Bab 11 Meningioma Petroclival Teknik Transpetrosal Fossa Media Anterior ... 188

Iskandar Japardi

Bab 12 Meningioma Petroclival Teknik Petrosal Posterior ... 198

Iskandar Japardi

Bab 13 Meningioma Petroclival Teknik Retrosigmoid Suboccipital ... 209

(5)

Iskandar Japardi

Bab 15 Meningioma Suprasellar ... 229

Iskandar Japardi

Bab 16 Meningioma Tuberculum Sellae ... 240

Iskandar Japardi

Bab 17 Meningioma Clinoidalis Anterior ... 258

Iskandar Japardi

Bab 18 Meningioma Clinoidalis Posterior ... 278

Iskandar Japardi

Bab 19 Meningioma Intrasellar dan Diaphragma Sellae ... 281

Iskandar Japardi

Bab 20 Meningioma Sphenoid Wing ... 290

Iskandar Japardi

Bab 21 Meningioma Foramen Magnum ... 324

Iskandar Japardi

Bab 22 Meningioma Konveksitas ... 346

Rr Suzy Indharty

Bab 23 Meningioma Konveksitas Serebellar ... 377

Iskandar Japardi

Bab 24 Meningioma Parasagittal ... 384

Iskandar Japardi

Bab 25 Meningioma Falx ... 406

Iskandar Japardi

Bab 26 Meningioma Sinus Cavernosus ... 427

Iskandar Japardi

Bab 27 Meningioma Tentorial... 453

Iskandar Japardi

Bab 28 Meningioma Cerebellopontine Angle ... 475

Abdul Gofar Sastrodiningrat

Bab 29 Meningioma Falcotentorial ... 486

Iskandar Japardi

Bab 30 Meningioma Torcular dan Peritorcular ... 500

(6)

Iskandar Japardi

Bab 32 Meningioma Multipel Intrakranial ... 527

Iskandar Japardi

Bab 33 Meningioma pada Anak ... 544

Iskandar Japardi

Bab 34 Invasi Sinus Dural pada Meningioma ... 555

Iskandar Japardi

Bab 35 Invasi Meningioma pada Sinus Sagitalis Superior ... 562

Iskandar Japardi

Bab 36 Meningioma Metastasis ... 573

Iskandar Japardi

Bab 37 Meningioma Orbita ... 586

Rr Suzy Indharty

Bab 38 Meningioma Spinal ... 601

Rr Suzy Indharty

Bab 39 Terapi Radiasi dan Radiosurgery Meningioma Intrakranial ... 627

Iskandar Japardi

Bab 40 Kemoterapi pada Intrakranial Meningioma ... 644

Iskandar Japardi

Bab 41 Peneliian Meningioma ... 652

Adril Arsyaad Hakim dan kawan-kawan

(7)

P E N D A h u l uA N

Meningioma spinal adalah meningioma yang

terletak di bawah setentang vertebra C2.

Meni-ngioma merupakan tumor kedua terbanyak pada

lokasi ini dan kemudian tumor nerve sheath.

Meningioma spinal paling banyak adalah

intra-dural dan extramedullar. Meningioma

ditemu-kan sekitar 25-46% dari semua tumor spinal.

Lokasinya paling sering pada ruang intradural

extramedullar, pertumbuhannya lambat, dan

menyebar ke lateral dalam ruang subarachnoid

sampai menimbulkan gejala. Meningioma

pa-ling sering terjadi di daerah thorasic pada

wa-nita usia menengah. Penderita sering

menge-luh rasa sakit, hilangnya sensorik, kelemahan,

dan gangguan sphincter. Teknik operasi tumor

spinal berkembang sangat maju dengan

da-pat dilakukannya myelography, angiografi, dan

electromyography, computer tomography (CT),

dan magnetic resonance imaging (MRI) untuk

diagnosis suatu tumor intraspinal, memberi

deteksi dini, memperbaiki lokasi anatomi, dan

membantu tindakan reseksi total. Pada 1970

Yasargyl memperkenalkan microneurosurgery,

bersamaan dengan berkembangnya

neuroanas-tesi, rencana computer-assisted untuk operasi,

dan pengetahuan yang baik dari mikroanatomi.

Prognosis penderita dengan meningioma spinal

sangat baik dan penderita dengan status

neu-rologis yang jelek sebelum operasi dapat

mem-beri respon yang baik untuk operasi.

I N S I D E N

Tumor spinal cord primer jarang ditemukan,

yaitu sebesar 1,5 per 100.000 dan hanya sekitar

seperempatnya merupakan meningioma. Lebih

dari 90% meningioma timbul dalam intrakranial

dan paling sering terdapat pada penderita

de-ngan usia 40-70 tahun dan insiden wanita dan

laki-laki berbanding 3:1 kecuali pada anak-anak

yang insidennya hampir sama. Ukuran

meni-ngioma cenderung bertambah pada wanita

hamil dan memberi kesan bahwa meningioma

spinal terjadi lebih sering pada wanita karena

kemungkinan bergantung pada hormon wanita

walaupun masih menjadi kontroversi. Berbagai

tipe-tipe reseptor lain ditemukan, seperti

ste-roid, peptidergic, growth factor, dan aminergic

38

MENINGIOMA SPINAl

(8)

yang memunyai kontribusi pembentukan tumor.

Tumor spinal intradural dapat dikategori

seba-gai tumor intramedullary atau extramedullary.

Insiden tumor intramedullary pada grup anak

cukup tinggi sedangkan tumor extramedullary

insidennya tinggi pada dewasa (70%).1 Insiden

tumor intraspinal primer pertahun adalah

sekitar lima persatu juta pada wanita dan tiga

persatu juta pada laki-laki. Meningioma spinal

lebih jarang ditemukan dibandingkan dengan

intracranial, dan ditemukan sekitar 7,5-12,7%

dari semua meningioma. Insiden meningioma

sangat rendah pada dua dekade pertama dari

kehidupan dan pada awal dekade ke lima lebih

sering terjadi pada cervicalis (39% dari

meni-ngioma spinal).3 Meningioma usia menengah

pada wanita antara dekade ke empat dan ke

lima adalah sekitar 80% dari semua meningioma

spinal.4 Distribusi meningioma sepanjang axis

spinal, yaitu segmentthoracalis (67-84%) lebih

sering ditemukan pada wanita daripada

laki-laki, sedangkan segment cervical (14-27%).

Meningioma spinal sangat jarang pada segment

lumbalis (2-14%).5 Sekitar 3% terletak pada

seg-ment lumbalis, dan 2% pada foramen magnum.

Walaupun kebanyakan penderita meningioma

spinal terletak intradural namun 5-14% terletak

extradural atau extraspinal.6 Secara umum,

le-taknya ke lateral dengan suatu komponen yang

meluas ke lateral. Meningioma lebih sering

ter-letak pada bagian dorsal daripada ventral

da-lam canalis spinalis. Meningioma paling banyak

merupakan suatu tumor jinak yang ditemukan

pada foramen magnum dan jarang pada

cer-vical sebelah bawah. Pada penderita usia di

bawah 50 tahun meningioma paling sering

ter-letak pada bagian cervical (39%). Meningioma

pada thoracal, upper cervical, dan foramen

magnum, selalu ventral atau ventrolateral, dan

melekat dengan arteri vertebralis dekat jalan

masuk intradura dan awal intrakranial.

Walau-pun tumor nerve sheath dapat ditemukan pada

daerah lumbosacral, tetapi pertumbuhan

meni-ngioma caudal ke conus medullaris sangat

ja-rang. Selain itu, jarang ditemukan meningioma

spinal yang multipel. Kebanyakan tumor spinal

intradural jinak dan berpotensi untuk direseksi.

Prognosis setelah operasi memuaskan.7

Tumor primer intraspinal dan spinal

intra-dural extramedullary ditemukan dua pertiga

dari total pada dewasa, dan sekitar 50% pada

anak-anak. Meningioma dan tumor spinalnerve

sheath mayoritas terdapat pada intradural

ex-tramedullary dan meningioma sebesar 25-46%

dari semua tumor primer intraspinal. Sekitar

83-94% merupakan komponen intradural dan

5-14% lagi merupakan komponen extradural.

Sekitar 10% tumor adalah intradural dan

extra-dural atau semuanya extradural. Meningioma

extradural ditemukan 3-9%. Insiden

meningio-ma dan nerve sheath tumor atau schwannoma

hampir sama pada populasi Barat, sedangkan

schwannoma pada populasi Asia lebih banyak

ditemukan di China, yaitu 3,8:1 dan Jepang

3,9:1.

M E N I N G I O M A S P I N A l c O R D

Meningioma spinal cord merupakan tipe kanker

(9)

dari CNS. Merupakan suatu silinder terusan dari

brain stem mulai dari medulla oblongata (

fora-men magnum) dan memanjang sampai ke

co-nus medullaris pada tingkat vertebra L2. Lokasi

dalam kanal tulang vertebra berbentuk tabung

oleh foramina vertebra. Di bawah tingkat L2

masih berisi spinal canal, diketahui sebagai

cau-da equina, yaitu berupa suatu kumparan akar

saraf dalam ruang subarachnoid. Dalam

verte-bracanal berjalan spinal cord, spinal meninges,

dan CSF yang berhubungan dengan pembuluh

darah dan jaringan lemak, serta loose connective

tissue. Spinal meninges merupakan suatu dura,

arachnoid, dan pia mater, yaitu berupa suatu

membran mengelilingi dan menyokong spinal

cord. Ada tiga puluh satu pasang saraf spinal

Yang keluar dari spinal cord, yaitu hubungan

saraf antara perifer dan susunan saraf pusat.

Saraf tersebut melekat pada spinal cord melalui

ventral dan dorsal root, dan keduanya

memu-nyai afferent dan efferent. Oleh karena itu,

spi-nal cord bekerja sebagai jaras utama untuk

ko-munikasi antara otak dan tubuh. Tumor spinal

cord dapat primer atau metastasis. Keba nyakan

tumor spinal cord adalah deposit

metasta-sis dari daerah primer yang lain. Tumor spinal

cord dapat dibagi tiga grup berdasarkan pada

anatomi lokasi dari tumor. Pertama, dibagi

ber-dasarkan hubungannya dengan spinal meninges

dengan tumor intradural atau extradural. Lebih

lanjut, tumor intradural dapat dibagi menjadi

tumor yang timbul dalam substansi spinal cord,

tumor intramedullary ,atau yang timbul dalam

ruang subarachnoid (extramedullary). Tumor

extradural kebanyakan metastasis dan biasanya

timbul dalam vertebra bodies. Tumor ini

keba-nyakan menyebabkan kompresi spinal melalui

efek massa ekstrinsik tetapi bisa juga melalui

invasi intradural.

PATO l O G I S D A N E T I O l O G I S

Meningioma spinal diperkirakan berasal dari

arachnoidcap cell dari neural crest atau ber asal

dari mesodermal yang terletak dalam villi

arach-noid pada entry zone dari nerve root atau

be-rasal dari hubungan ligamentum dentatus dan

duramater yang terdapat pada penetrasi arteri

spinalis. Untuk hal ini, letak spinal meni ngioma

lebih sering pada lateral spinal cord daripada

dorsal dan ventral atau meluas ke lateral yang

berupa lokasi posterolateral (lebih sering) atau

anterolateral. Berbeda dengan meningioma

cervical, lokasinya lebih sering terletak pada

ventral.8 Arachnoid cap cell pada meninges

telencephalic diperkirakan berasal dari sel-sel

neural crest. Meningioma dari axisneural crest

yang diketahui sebagai fibroblast berasal dari

mesodermal dan lokasinya terletak pada bagian

ventral atau dorsal.

Meningioma timbul dari leptomeninges,

kebanyakan tumor ini memunyai perlekatan

yang luas dengan vaskularisasi melalui dura.

Meningioma intramedullary jarang ditemukan.

Keterlibatan tulang juga jarang terjadi atau en

plaque, dan tendensi meningioma tidak

pene-trasi pia.

Meningioma secara makroskopis berbentuk

bulat atau lobulated dan umumnya batas jelas,

(10)

atau lunak, rubbery, firm, dan fibrous. Adanya

kalsifikasi pada mikroskopis atau cukup besar

tampak pada CT yang menambah konsistensi

tumor.

Meningioma yang lebih besar dan mencolok

pada wanita setelah menopause, cen derung

kontroversi terhadap penyebab yang

ber-hubungan antara hormon wanita dengan

meni-ngioma.9 Adanya berbagai tipe reseptor pada

meningioma yang kebanyakan progesteron

di-ikuti estrogen dan lainnya mendukung argumen

hubungan ini. Radiasi ion diketahui merupakan

faktor risiko lain terhadap perkembangan

tu-mor ini.10

Meningioma multipel jarang ditemukan

pada intrakranial dan spinal. Pernah

ditemu-kan perbedaan histopatologis pada

intrakra-nial dengan intraspinal dan tumornya jinak. Ini

mendukung bahwa meningioma kranial atau

spinal berasal dari kloning sel yang sama dan

sebagai dasar teori perkembangan

meningio-ma multipel dari sel-sel tumor yang menyebar

melalui CSF sebagai kemungkinan

mekanisme-nya. Ak hirnya, diperkirakan perbedaan subtipe

histologis.11

Kebanyakan perbedaan histologis yang

penting antara meninges kranial dan spinal

adalah terbentuknya lapisan intermediate dan

yang lain tidak. Pada pemeriksaan mikroskop

elektron terhadap spinal meninges manusia

memperlihatkan lapisan intermediate

leptom-eningeal yang terletak antara arachnoid dan

piamater. Lapisan intermediate ini melekat

de-ngan sebelah dalam arachnoid dan meluas ke

permukaan dorsal spinal cord, nerve root, dan

pembuluh darah.12 Lapisan intermediate tidak

ditemukan pada leptomeningeal otak manusia.

Adanya lapisan intermediate pada meninges

spinal tampak hypointense pada MRI di sekitar

tumor. Selain itu, terdapat juga alasan mengapa

tidak ada penetrasi dan tidak ada edema tumor

pada meningioma spinal yang sering

ditemu-kan pada meningioma intrakranial.12,13

Kesan-nya adalah bahwa perkembangan yang tidak

lengkap dari lapisan intermediate mendasari

ekspansi meni ngioma en plaque dan fasilitasi

keterlibatan lapisan pial.14 Salpietro dan

kawan-kawan12 menjelaskan tanggung jawab lapisan

intermediate terhadap kedua tipe lapisan

antara tumor dan membran pial. Floating

inter-face berhubungan dengan adanya batas

peri-tumoral hypointense pada MRI. Interface ini

khas dengan adanya ruang kecil antara

arach-noid dan lapisan leptomeningeal intermediate

yang membuat diseksi tumor pada spinal cord

menjadi lebih mudah. Pada deep type interface

tidak ada batas hypointense pada MRI. Lapisan

arachnoid sebelah dalam sulit untuk

diidenti-fikasi atau tidak ada sedangkan pembuluh darah

dan spinal root sangat melekat dengan tumor,

se hingga diseksi tumor lebih sulit, walaupun

se-cara umum tidak terdapat kerusakan pial.

Kebanyakan meningioma spinal globoid

tetapi beberapa ditemukan, seperti carpet-like

atau bentuk en plaque. Gambaran histologis

berupa ukuran sel-sel tumor yang bervariasi,

kadar collagen, dan psammoma bodies, serta

konsistensi lunak dan gravel-like.8

Kebanyak-an meningioma masih dalam ruKebanyak-ang intradura

(11)

melalui spinal root sampai jaringan adiposa

dari bagian epidural, dan jarang semata-mata

menyebabkan tumor epidural.15 Lesi ini jarang

infiltrasi sampai jaringan lunak regional dan

struktur tulang.

Walapun meningioma spinal

memperlihat-kan histologis yang sama, seperti meningioma

intrakranial tetapi lesi psammomatous selalu

ada.16 Meningioma spinal, intradura, dan

ke-banyakan subtipe histologis adalah berupa

meningioma meningothelial dan

psamomma-tous. Meningioma spinal tipe atypical (WHO

grade II) dan malignant (WHO grade III) jarang

ditemukan. Insiden terjadi sekitar 1,3% dari

semua meningioma craniospinal.16,17 Variasi

yang jarang, yaitu meningioma clear cell (WHO

grade II) pada spinal, biasanya terdapat pada

daerah lumbal dan berhubungan dengan

prog-nosis yang jelek.18 Kalsifikasi lebih sering pada

meningioma kranial daripada spinal. Kalsifikasi

atau osifikasi timbul dari hydroxyapatite

crys-tal, menerima serabut collagen baru, bersatu

membentuk psamomma bodies, dan akhirnya

menghasilkan kalsifikasi atau osifikasi

meni-ngioma.19 Kitagawa dan kawan-kawan20 tidak

menemukan hubungan antara proses osifikasi

dan densitas psamomma bodies pada

meni-ngioma dan memberi kesan terhadap osifikasi

hasil dari metaplasia dalam sel-sel arachnoid.

Pemeriksaan perubahan genetik telah

di-lakukan pada meningioma spinal. Walaupun

ditemukan penderita dengan meningioma spinal

multipel tanpa kelainan, namun lebih dari 50%

penderita dengan meningioma spinal

ditemu-kan kelainan kromosom baik hilang sebagian

atau total kromosom 22. Kelainan kromosom

yang lain ditemukan termasuk hilangnya 1p, 9p,

10q, 5p dan 17q. Ini sering terdapat pada

meni-ngioma intrakranial tetapi kebanyakan spesifik

dengan meningioma atypical dan anaplastic.

Dengan meningioma spinal terdapat

perubah-an jumlah kopi pada kromosom 9p, 17q, dperubah-an

1p, walaupun terdapat pada tumor jinak.

Ke-san, bahwa tumor yang berhubungan dengan

lokasi gen pada 1p, 9p, 10q, dan 17q bersama

dengan neurofibromatosis tipe2 gen suppresor

kemungkinan terlibat sebagai penyebab

meni-ngioma spinal. Sebaliknya, terhadap

meni-ngioma intrakranial ada atau tanpa kromosom

22 tidak berhubungan dengan rekuren penyakit.

Hilangnya lengan pendek dari kromosom 1

te-lah ditemukan sebagai faktor prognosis pen ting

pada meningioma dengan respek untuk rekuren.

Terjadinya perbedaan susunan kelainan genetik

dan profil ekspresi gen pada meni ngioma

spi-nal dengan kranial memberi pengetahuan baru

dalam jaras molekular yang melibatkan

tumori-genesis dan progresif meni ngioma spinal. Ini

dapat menerangkan gambaran klinis dan

histo-logisnya. Sayagues dan kawan-kawan21

menda-patkan ekspresi yang berbeda dalam 35 gen

pada spinal dan kranial. MN1 adalah encode

dalam kromosom 22 de ngan patogenesis yang

biasa pada meningioma.

G E J A l A K l I N I S

Angka pertumbuhan berjalan lambat pada

tu-mor ini sehingga penderita mengalami gejala

(12)

pada lokasi dan durasi tumor. Dengan

timbul-nya gejala klinis dilakukan MRI rata-rata riwayat

sampai diagnosis sekitar enam bulan dan

pen-derita tidak mengalami defisit neurologis saat

dilakukan operasi.22,23 Tanda dan gejala terjadi

karena efek penekanan langsung terhadap

ja-ringan saraf atau melalui efek tidak langsung

terhadap pembuluh darah dan kelainan

sirku-lasi CSF. Kompresi arteri radikular atau arteri

spinal anterior cenderung menyebabkan

gang-guan fungsi spinal cord yang jaraknya jauh dari

tumor. Gejala ini menggangu aliran darah

ter-hadap elemen-elemen saraf dan dapat

dida-hului gejala kompresi langsung nerve root atau

spinal cord untuk berbulan-bulan se hingga hasil

diagnosisnya terlambat. Insufisiensi vena dapat

terjadi akibat meningioma pada upper cervical

dan foramen magnum. Juga, cenderung nyeri

pada suboksipital, kelemahan lengan bagian

distal dengan atropi, dan kelemahan otot

ta-ngan intrinsik dan clumsiness. Gejala radikular

dapat terjadi dengan meningioma spinal, tetapi

jarang terjadi dibandingkan dengan tumor

nerve sheath. Kompresi dorsal root

menyebab-kan hilangnya sensoris, sedangmenyebab-kan kompresi

ventral nerve root atau kompresi sel-sel

anteri-or hanteri-orn cenderung defisit motoris. Apabila

ter-jadi gangguan tractus corticospinal dapat

ter-jadi defisit upper motor neuron de ngan spastic

paresis terutama karena kompresi yang lama

dan diagnosis yang lambat. Tanda myelopathy

ditemukan pada penderita meningioma spinal

dengan 64% kelemahan, dan 32%

non-ambula-tory. Gejala tumor ini cenderung progresif dan

lambat. Ciri-ciri kompresi spinal cord dengan

awal ganguan motorik adalah disfungsi

sphinc-ter dan hilang nya sensoris secara ascendens.

Tumor extradural terutama menunjukan suatu

tumor spinal cord. Tumor intradural

extrame-dullary cen derung merupakan tumor nerve

sheath (neurofibroma) atau meningioma.

Ke-luhan nyeri dan disfungsi progresif karena

kom-presi spinal cord sering melibatkan nerve root.

Tumor intramedullary biasanya adalah glioma,

ependymoma, dan astrocytoma, tetapi

depos-it metastasis dalam spinal cord itu sendiri

me ningkat. Bentuk kista pada medulla spinal

memberi gambaran klinis syringomyelia

teruta-ma hilangnya fungsi spinothalamic, nyeri, dan

sensasi temperatur.

Gejala pada tingkat pertama adalah

aki-bat iritasi nerve root, sedangkan tingkat kedua

akibat kompresi spinal cord. Pada tingkat

per-tama, gejala nerve root melibatkan sakit dan

keba nyakan merupakan gejala awal selama

be-berapa bulan atau tahun. Rasa sakit radikular

dan khas terdapat pada back pain lokal. Gejala

lain berupa lemah kondisi tubuh dan gangguan

sensorik (hypoesthesia dan paresthesia). Gejala

tingkat kedua setelah tumor mengkompresi

spi-nal cord, tumor berkembang secara progresif

bersamaan dengan sakit. Sebagian kecil

pen-derita tidak mengalami rasa sakit. Lokasi tumor

pada anterolateral akan menimbulkan gejala

sindroma Brown-Sequard berupa hilangnya

mo-torik, kerusakan sensasi yang dalam dan tactile

pada sisi yang sama di bawah tingkat dari lesi,

dan hilang atau berkurangnya rasa sakit dan

persepsi suhu pada sisi berlawanan. Penekanan

(13)

akan menimbulkan pengurangan sensibilitas

dan ataxia.

Total paralisis berada di bawah segmen

tumor dan pada kasus yang berat akibat

ter-jadi kompresi spinal cord yang hebat akan

me-nyebabkan hilangnya fungsi sensorik secara

total. Penderita mengalami hilangnya kontrol

vesical dan rectal sphincter. Harus diingat

bah-wa gejala klinis meningioma spinal tidak spesifik

dan diagnosis banding harus dianggap sebagai

tumor spinal dari semua tipe walaupun setelah

dilakukan teknik pencitraan yang terbaik.24

D I A G N O S I S

Ciri-ciri khas meningioma adalah terlambatnya

antara onset gejala dengan diagnosis. Rata rata

durasi sebelum sampai timbulnya gejala adalah

sekitar satu sampai dua tahun. Pada era

sebe-lum MRI, myelography merupakan pilihan untuk

menegakan diagnosis, dan meningioma spinal

selalu dibingungkan oleh keadaan medis yang

lain, seperti multiple sclerosis, syringomyelia,

dan herniasi diskus.23 Sekitar 33% mengalami

kesalahan diagnosis, terapi terlambat, dan

ke-salahan operasi. Dengan foto radiografi

kalsi-fikasi meningioma dapat dideteksi walaupun

jarang pada spinal atau sekitar 1-5%.

CT-scan lebih baik daripada foto radiografi

dalam memperlihatkan kalsifikasi tumor25

ka-rena sangat sensitif terhadap perubahan dalam

mineral tulang dan berguna dalam evaluasi

ma-triks tulang. Kombinasi dengan MRI memunyai

nilai informasi yang lebih terhadap tumor. Ini

karena dapat menentukan sifat jinak atau

ga-nas dari lesi dengan susunan destruksi tulang.

Umumnya tumor memperlihatkan canal spinal

yang membesar dengan vertebral bodies yang

melekuk, erosi pedicle, dan lamina menipis. CT

scan dengan kontras mampu memperlihatkan

lesi tumor, interaksi dengan struktur tulang,

dan memberi informasi yang lebih baik tanpa

kontras. Myelo-CT walaupun merupakan suatu

prosedur invasi, tetapi masih dapat

diguna-kan untuk memperlihatdiguna-kan tumor intradura,

sedang kan MRI merupakan alat yang kurang

menyenangkan.

MRI merupakan metode pilihan untuk

di-agnosis meningioma spinal. MRI dapat

mem-beri informasi tentang lokasi yang tepat,

ukur-an, dan hubungan dengan struktur sekitarnya

yang dapat membantu diagnosis dan rencana

operasi. Gambaran potongan sagittal memberi

fasilitasi daerah yang lebih luas dari spinal cord

dan memberi hasil diagnosis yang tinggi.

Seba-liknya, potongan axial diperlukan untuk

beri informasi anatomi tambahan dan

mem-bantu dalam rencana operasi.26 Secara kontras,

sensitivitas dan kemampuan multiplanar dan

MRI adalah gold standard untuk diagnosis

meningioma spinal. Kontras enhance pada MRI

menentukan hubungan tumor terhadap spinal

cord, nerve root, dan thecal sac dengan

mem-bedakan tumor dari edema peritumoral dan

kista, menentukan luasnya tumor, dan evaluasi

kelainan tanda intrinsic cord.

Rangkaian rutin adalah termasuk gambaran

T1-weighted, dengan dan tanpa kontras

gado-linium, dan T2-weighted. Rangkaian yang lain,

(14)

yang baik juga digunakan untuk memberi

per-baikan resolusi kontras dan memberi informasi

tentang kista intratumoral, nerve root, atau

ligamentum dentatum. Apabila pemeriksaan

patologi intraspinal pada T1-weighted image

(T1W1) dan T2-weighted image (T2W1) harus

dibuat potongan axial dan sagittal. T1-weighted

juga harus dilakukan dengan pemberian kontras.

Potongan coronal terutama digunakan untuk

situasi tumor ke lateral atau untuk tumor yang

meluas ke longitudinal melebihi tingkat

multi-pel. MRI merupakan petunjuk yang sangat baik

untuk meningioma intradural dan extradural.

Gambaran T1-weighted pada meningioma

spi-nalisointense atau hypointense dan T2

-weight-edisointense dan hyperintense terhadap spinal

cord normal, memperlihatkan intenseenhance

setelah pemberian gadolinium.16,27 Meningioma

spinal extradural memberikan gambaran T2

-weighted dengan intensitas rendah,

kemung-kinan erosi tulang, dan karakteristik penebalan

dan enhance duramater.28 Perlekatan dura

se-lalu luas dan meningioma spinal selalu

homo-gen enhancement dengan gadolinium.29 Mirip

dengan meningioma intrakranial, secara

kon-tras enhancement dapat terjadi sepanjang

per-lekatan dura dan karakteristik membentuk

du-ral tail.30 Meningioma spinal biasanya memiliki

gambaran yang jelas terhadap spinal cord dan

batas yang jelas.

Potongan coronal sangat membantu deteksi

dural tail yang memberi kesan suatu

meningio-ma.31 Tanda dural tail pada awalnya

diperkira-kan memunyai spesifikasi tinggi sebagai suatu

meningioma, tetapi sekarang dianggap hanya

kesan yang tinggi sebagai suatu meningioma

setelah adanya gambaran berlebihan dari lesi

lain pada extraaxial dan intraaxial termasuk

schwanomma. Tanda dural tail dapat

meng-gambarkan gumpalan sel-sel tumor invasi dan

oklusi pembuluh darah kecil pada titik

perlekat-an tumor dengperlekat-an dura dan cenderung kongesti

disekitar dura. Kadang-kadang setelah

pembe-rian kontras dapat menyebabkan dural tail

le-bih menonjol daripada tumor itu sendiri.32

Tan-da dural tail adalah satu dari parameter yang

membantu differensiasi antara meningioma

spinal dan schwannoma. Ini bersamaan dengan

lokasi tumor, tanda intensitas T2, dan susunan

enhancement.

Banyak lesi spinal memperlihatkan gejala

klinis yang hampir sama. Tanpa menggunakan

teknik gambar yang modern akan mudah

meng-alami kesalahan diagnosis. MRI merupakan

teknik neuroimaging yang noninvasif dalam

mencegah kesalahan diagnosis. Pemeriksaan

dengan MRI membuat kemungkinan

membeda-kan tumor jinak dan ganas termasuk parameter,

seperti bentuk tumor, sifat invasi, dan reaksi

edema.16

Meningioma extradural mudah

dibingung-kan dengan tumor lain terutama tumor

metas-tasis, seperti lokasi dan susunan

pertumbuh-an ypertumbuh-ang dapat mirip dengpertumbuh-an sifat kegpertumbuh-anaspertumbuh-an.

Karena adanya perbedaan dasar antara teknik

operasi metastasis dan meningioma, penting

digunakan indeks tinggi dari kecurigaan.

Meningioma dapat juga memunyai

kal-sifikasi yang manifestasi sebagai tanda

(15)

menyebabkan kontras enhancement yang

he-terogen. Apabila penderita menggunakan

me-tal atau penanaman elektronik dalam tubuh,

dapat digunakan CT dengan myelography untuk

menentukan ukuran tumor dan lokasi. Ini

da-pat juga digunakan sebagai tambahan terhadap

MRI untuk membedakan lokasi intramedullary

atau extramedullary apabila tidak jelas pada

MRI.33 Myelography dapat memberi

gambar-an luas terhadap pergesergambar-an spinal cord dan

obstruksi aliran dengan batas bulat intradural

dan lokasi extramedullary dari meningioma

spinal. Kalsifikasi tumor dapat dideteksi

de-ngan CT re solusi tinggi atau 2-5% dede-ngan

radio-logi biasa. Meningioma dengan CT scan dapat

berupa hyperdense 70-75% dari penderita dan

90% me ningioma enhance yang kuat dan

uni-form.34 Tidak seperti meningioma intrakranial,

hiperostosis jarang ditemukan pada

meningio-ma spinal extradural dan ruang yang luas diisi

oleh lemak, plexus venosus, dan spinal nerve

root dalam canalis spinalis.

Ultrasonografi intraoperasi berguna

da-lam identifikasi lokasi tumor, informasi tentang

ukur an, dan tingkat bergesernya spinal cord.

Ciri-ciri Ultrasonografi adalah termasuk

echo-genicity, permukaan yang irregular, dan

per-lekatan dura yang kuat.35

P E R u B A h A N G E N E T I K

Pada pemeriksaan genetik ditemukan hilangnya

sebagian atau total dari kromosom 22 pada

le-bih dari 50% penderita dengan meningioma

spi-nal. Arslantas dan kawan kawan36 menemukan

kelainan gen yang berhubungan dengan kanker

yang terletak pada 1p, 9p, 10q, dan 17q pada

meningioma spinal. Ketter dan kawan kawan37

mendapati bahwa semua meningioma spinal

memunyai kromosom yang normal atau

mono-somy dari kromosom 22. Genotipe ini tidak

me-munyai hubungan dengan rekuren tumor, dan

berlawanan dengan meningioma intrakranial

yang memunyai angka yang tinggi dari tumor

dengan berbagai penyimpangan kromosom dan

berhubungan dengan tingginya angka rekuren.

T E R A P I

Terapi awal penderita dilakukan dengan

kom-presi spinal cord, yaitu dengan pemberian

cor-ticosteroid. Reseksi operasi merupakan terapi

utama meningioma pada spinal cord dan tumor

yang dapat direseksi memunyai hubungan

be-sar dengan prognosis. Terapi terbaik untuk

me-ningioma spinal adalah reseksi total karena

ke-banyakan tumor jinak dengan batas yang jelas

dengan sekitarnya. Penderita usia tua dengan

gejala meningioma spinal atau dengan keadaan

neurologis yang jelek sebelum operasi tetap

di-lakukan tindakan eksisi apabila tidak ditemukan

kontraindikasi anestesi.24

Teknik operasi posterior atau Laminectomy

adekuat untuk meningioma spinal karena

ke-banyakan tumor berada pada lokasi

posterola-teral pada segmentthoracal dan anterola teral

pada segmentupper cervical spine. Leher dibuat

tetap dalam posisi netral dengan pen derita

po-sisi terlungkup dan kepala difiksasi pada

(16)

Lokasi fluoroscopic saat operasi pada

seg-ment laminectomy sangat diperlukan untuk

menghindari dibuangnya lamina yang tidak

se-mestinya dengan risiko tidak stabil dalam

jang-ka panjang. Insisi dibuat cukup baik agar

sebe-lum dan sesudah laminectomy tampak dura di

bawah dan di atas lesi. Tambahan laminectomy

diperlukan untuk melihat jalan masuk setelah

tampak tumor. Apabila akan membuang lamina

dari tumor harus dilakukan dengan sangat

hati-hati untuk menghindari tambahan trauma pada

spinal cord. Khusus operasi meningioma spinal

kemungkinan terdapat kalsifikasi dan

kebanyak-an terdapat pada thoracal dengan spinal canal

yang relatif menyempit. Laminectomy lebih

baik dilakukan dengan dekortikasi seluruh

per-mukaan lamina menggunakan high speed drill.

Setelah dekortikasi, lamina mudah dibuang

dengan bone rongeur untuk mengurangi risiko

trauma pada spinal cord. Ligamentum flavum

dibuang kemudian dura dibuka.

Pada keadaan normal pulsasi dura di atas

lesi dapat dideteksi, tetapi tidak pada bawah

lesi. Ini dapat sebagai petunjuk oleh ahli bedah.

Laminectomy harus dimulai pada lamina yang

berhubungan dengan tumor dan meluas ke

ros-tral sampai tampak pulsasi dura yang

merupa-kan batas atas tumor. Bagian atas dan bawah

segment laminectomy juga dibuang sehingga

jelas sebagai jalan masuk ke arah tumor. Ini

bergantung pada dura yang melekat pada facet

joint atau bagian proximal dari tulang rusuk

dapat direseksi untuk menambah jalan masuk

ke tumor dengan orientasi ke anterior. Prinsip

terbuka maksimal dan kepastian jalan masuk ke

tumor dengan membuang tulang minimal

tan-pa menghalangi biomekanik spinal dapat

me-nyebabkan komplikasi terhadap penyembuhan.

Setelah dura dibuka, kebanyakan

meningio-ma dapat diketahui oleh bentuk yang terdapat

pada sekitar dura. Untuk tumor ukuran kecil,

ultrasonography saat operasi dapat memberi

informasi yang berguna tentang lokasi, ukuran

lesi, dan tingkatan spinal cord yang bergeser.

Gambaran ultrasonography adalah termasuk

echogenicity pada permukaan yang irregular

dan perlengketan dura. Echogenicity dari tumor

dapat membantu membedakan meningioma

dengan tumor nerve sheath bila MRI tidak jelas.

Sebaliknya, neuroma adalah meningioma yang

timbul uniform hyperechoic yang khas dengan

berkurangnya kista intraparenchymal.38

Setelah tumor terlokalisasi, dura harus

dibuka hanya setelah homeostasis tercapai dan

kepala penderita miring ke bawah. Maneuver ini

dapat mencegah darah dan udara masuk ruang

subarachnoid yang dapat menyebabkan

arach-noiditis dan komplikasi emboli udara setelah

operasi. Dura harus dibuka secara longitudinal

pada garis tengah dan retraksi ke lateral dapat

melebihi tumor dengan cara menjahit dura

se-hingga mendapat jalan masuk kedua sisi.

De-ngan menggunakan mikroskop, mudah dilihat

dan dipisahkan serabut arachnoid antara tumor

dan spinal cord. Kebanyakan meningioma

terle-tak pada ruang yang terapung (floating space)

oleh serabut arachnoid ini.12 Ruang ini dapat

dilihat dengan jelas di bawah mikroskop, CSF

berisi tumor, lapisan luar yang rapat, dan suatu

(17)

permukaan pial. Pembuluh darah atau bridging

vessel jarang berjalan dalam ruangan ini.

Pada tingkatan ini tumor bagian belakang

dan samping belakang harus diketahui bagian

yang mengapung dan dilakukan diseksi

sepan-jang daerah ini untuk menghindari tekanan

ter-hadap spinal cord sampai tumor dibuang

ter-masuk dura yang melekat.

Bagi tumor yang terletak di depan atau

ven-tral dari ligamentum dentate harus dipotong

sehingga spinal cord dapat digeser ke samping.

Apabila lapangan operasi sangat sempit karena

ukuran tumor yang besar, satu atau dua nerve

root kemungkinan dipotong untuk mencegah

trauma pada spinal cord karena retraksi.

Pilihan-nya adalah dengan reseksi facet, rib head, dan

pedicle. Setelah itu, dilakukan debulking tumor

terutama terhadap tumor yang terletak di

de-pan. Biasanya tumor perlu dibuang

sedikit-sedikit untuk mencegah traksi berlebihan atau

tekanan pada spinal cord. Untuk itu dipakai

diatermi, microscissor, dan ultrasonic aspirator

atau laser.

Setelah tumor diangkat, spinal cord dapat

diidentifikasi dengan jelas. Ketebalan spinal

cord tampak berkurang lebih dari setengah

ukuran normal. Sepanjang aliran darah tidak

terganggu dapat diprediksi untuk sembuh

sem-purna. Penyembuhan ini terjadi karena

per-tumbuhan tumor yang sedikit demi sedikit

da-pat menyebabkan destruksi dan absorsi myelin

sebelum terjadi kerusakan tangkai akson yang

memunyai kapasitas untuk regenerasi.

Setelah reseksi total dari tumor dilakukan

koagulasi bipolar tehadap dura yang melekat

untuk membasmi sisa sel-sel tumor. Hal ini

masih kontroversi. Pilihan lain adalah dilakukan

eksisi dan rekonstruksi dura dengan eksisi

ping-gir dura. Ini berhubungan dengan rendahnya

angka rekuren daripada koagulasi. (4-8% untuk

kauter pinggir dura dan 0-5,6% untuk insisi

ping-gir dura).39 Ada yang berpendapat bahwa kedua

hal ini memunyai angka rekuren yang sama.

Ke-banyakan tumor intradural ini dapat dilakukan

total reseksi sehingga koagulasi dural tail atau

asal tumor cukup untuk mencegah rekuren.

Walaupun demikian, meningioma yang

me-libatkan duramater yang banyak masih

merupa-kan tantangan operasi. Sulitnya melakumerupa-kan total

reseksi yang berpotensi menimbulkan

komplika-si yang berhubungan dengan luasnya dura yang

dibuang. Eksisi dura radikal yang diikuti

rekon-struksi dura melibatkan penambalan atau graft

fascia lata atau bovine pericardium allograft

efektif yang digunakan untuk rekonstruksi dura

dan jarang terhadap kebocoran CSF.

Kadang-kadang meningioma spinal tumbuh

en plaque atau seperti leher mengelilingi spinal

cord dan menginfiltrasi pia mater. Umumnya

meningioma en plaque merupakan suatu tumor

intradural, tetapi dapat juga suatu

pertumbuh-an komponen extradural.14 Tumor ini cenderung

aneh dan dapat menyebabkan arachnoiditis

dengan reaksi adhesi yang hanya dapat

dide-teksi saat operasi. Gejala lebih mengarah pada

kompresi arachnoiditis daripada pertumbuhan

tumor. Arachnoiditis ini lebih sering pada

meni-ngioma en plaque daripada encapsulated.23

Pada en plaque dural yang terlibat pada

(18)

akhir neurologis setelah operasi kurang

menye-nangkan. Meningioma yang rekuren jarang

meru pakan suatu tumor yang berkapsul.

Arach-noid sheath yang mengapung antara

meningio-ma dan permukaan pial yang cenderung

meng-infiltrasi pia, nerve root, dan sekitar struktur di

dekatnya.23

Setelah intervensi operasi tumor

melibat-kan beberapa tingkatan vertebra terutama

de-ngan teknik anterior, dilakukan corpectomy,

dan spinal yang tidak stabil dilakukan fiksasi

dan fusi.

T E R A P I TA M B A h A N

Walaupun terapi optimal untuk pimer

meni-ngioma spinal dengan reseksi total secara

mikroskopis, beberapa peneliti menganjurkan

terapi tambahan dengan radioterapi pada

pen-derita dengan rekuren tumor.40 Peranan terapi

tambahan setelah reseksi subtotal masih

kon-troversi karena khas tumbuhnya lambat.

Indika-si radioterapi, yaitu setelah ekIndika-siIndika-si primer

subto-tal pada penderita dengan rekuren tumor atau

alternatif operasi memunyai risiko yang tinggi

karena adanya ko-morbiditas atau lokasi

tu-mor. Operasi meningioma spinal yang rekuren

dilakukan sebelum radioterapi. Radioterapi

dan kemoterapi hanya berperan kecil terhadap

terapi meningioma spinal dan meningioma

ja-rang mengalami keganasan. Pada reseksi

sub-total dilakukan radiasi terhadap pinggir reseksi

apabila risiko operasi sangat tinggi karena

pen-derita memunyai penyakit lain atau lokasi

tu-mor. Operasi ulang akan memberi kesempatan

untuk dilakukan reseksi total atau dekompresi

tanpa menambah defisit neurologis. Apabila

terjadi rekuren tumor yang cepat setelah total

reseksi atau adanya sisa tumor, dapat diberi

terapi tambahan dengan radioterapi. Teknik

ra-diosurgery yang baru adalah Cyberknife Robotic

Stereotactic Radiosurgery.41 Radioterapi

ter-batas pada daerah tumor dan ter-batas yang

ber-potensi meluas. Tumor yang rekuren biasanya

diterapi dengan operasi lebih lanjut. Perbaikan

gejala adalah suatu ukuran yang penting. Terapi

radiasi juga dianjurkan pada tumor rekuren,

tetapi masih kontroversi karena pertumbuhan

meningioma spinal umumnya lamban dan jinak.

Pada meningioma atypical atau ganas, peranan

radiasi stereotactic masih berkembang.

Kemo-terapi pada meningioma intrakranial dengan

hydrourea digunakan sebagai terapi tambahan

setelah dilakukan operasi terutama pada

meni-ngioma atypical.42 Pemantauan khusus

dilaku-kan dengan pemeriksaan neurologis serial dan

pencitraan spinal cord. Gejala yang timbul

me-merlukan perhatian karena defisit neurologi

berhubungan dengan efek massa dan sakit

neu-rogenik karena kompresi jaringan saraf.

T E K N I K N E u R O M O N I TO R I N G

Neuromonitoring dapat mengurangi

kemung-kinan defisit neurologi setelah operasi reseksi

meningioma spinal. Modalitas ini memberi data

pada manipulasi jaringan yang luas, tidak

kom-promi terhadap fungsi, dan cenderung

mem-beri potensi untuk mempertahankan fungsi.

(19)

lamanya waktu operasi. Ada dua modalitas

yang sering digunakan, yaitu pemantauan otot

Tc-MEP dan SSEP. Transcranial-MEP’s dilakukan

dengan meletakkan elektroda stimulasi pada

daerah cortex motorik dan aktivitas

elektromi-ografi direkam pada epidural atau ektremitas.43

Metode ini digunakan untuk tumor yang

meli-batkan spinal canal pada bagian anterior dan/

atau anterolateral dan yang menekan tractus

corticospinal. Rekaman SSEP digunakan pada

tumor yang terletak pada aspek posterior atau

posterolateral dari canal dan menekan column

dorsalis.

Keuntungan monitoring otot Tc-MEP adalah

dapat memberi perkiraan fungsi motorik dari

cortex terhadap hubungan neuromuskular.

Tc-MEP dapat merekam langsung otot dari ke

em-pat ekstremitas dan evaluasi dari efek

ekstremi-tas saat manipulasi operasi. Keterbaekstremi-tasan dari

modalitas ini adalah selalu berpotensi

diham-bat setelah induksi anastesi umum. Kegunaan

teknik berbagai (multiple) rangsangan ini dapat

membantu memecahkan masalah ini. Tc-MEP

dengan berbagai rangsangan sangat kurang

sensitif terhadap efek anastesi umum daripada

evoked dengan satu (single) rangsangan.44

Somatosensory evoked potensial

diguna-kan dalam berbagai pemeriksaan untuk

meng-e valuasi fungsi cerebral dalam prosedur yang

melibatkan aneurisma intrakranial dan tumor.45

Baru-baru ini teknik digunakan secara luas

un-tuk tumor spinal cord intramedullary dan tumor

spinal cord extra-axial. Modalitas pemantauan

ini terdiri atas rangsangan saraf median dan

tibia bilateral. Pemantauan ini juga merekam

SSEPs orthodromic dari kedua kortikal dan

spi-nal electrode epidural selama prosedur.43 Saat

reseksi meningioma spinal monitoring ini

digu-nakan untuk perubahan deteksi pada respon

SSEP sebagai suatu real-time feedback untuk

ahli bedah. Manipulasi dari spinal cord

cen-derung mengalami perubahan dalam sinyal

SSEP. Karena itu ahli bedah segera mengurangi

manipulasi atau mengubah teknik, seperti

re-traksi. SSEP ini dapat merekam seluruh

ope-rasi tanpa risiko dari gerakan penderita dan

berhubungan dengan pemeriksaan sensorik

setelah operasi terutama proprioseptif.43 Yang

tidak menguntungkan dari SSEP adalah sirkuit

monitoring yang kaku dan kurang berhubungan

dengan fungsi motorik setelah operasi.46 Saat

reseksi meningioma spinal, jaras-jaras motorik

dan sensorik efeknya dapat dipisahkan.47

P R O G N O S I S

Umumnya prognosis berhubungan dengan

ting-katan tumor dan luasnya reseksi. Meningioma

jinak WHO grade I dengan reseksi total

progno-sisnya sangat baik. Angka reseksi total adalah

sekitar 82-99%. Faktor yang berhubungan

de-ngan reseksi total adalah tidak diperlukannya

penampakan bagian ventral, tidak terlibatnya

tulang dengan ruang spinal epidural yang jelas,

dan adanya lingkaran peritumoral hypointense

pada MRI.12 Meningioma jinak berhubungan

dengan prognosis survival yang sangat baik,

yaitu sekitar 100% dengan survival lima tahun.

Morbiditas berhubungan dengan lokasi tumor

(20)

diagno-sis. Hasil akhir neurologis yang baik setelah

operasi pengangkatan tumor adalah antara

60-98%.16,23,48 Usia tua, defisit neurologis, lamanya

durasi gejala sebelum diagnosis, invasi pial, dan

subtotal reseksi umumnya memprediksi hasil

akhir yang jelek setelah operasi.24,49 Semua

de-fisit neurologis dan disfungsi sphincter

diang-gap sebagai petanda prognosis yang jelek.

Meningioma psammomatous pada spinal

setelah dilakukan operasi memunyai hubungan

dengan hasil akhir neurologis yang kurang baik

dibandingkan dengan meningioma spinal

subti-pe yang lain. Lokasi anterior pada spinal canal,

dekade ke dua dan ke tiga kehidupan, kalsifikasi,

dan en plaque tumor merupakan indikasi

prog-nosis yang jelek.3,6 Sebaliknya, lokasi posterior

atau lateral pada spinal canal di bawah

seg-ment vertebra C4, usia di bawah 60 tahun, dan

durasi gejala yang pendek sebelum operasi

ber-hubungan dengan hasil akhir yang baik. Total

reseksi tumor dengan adanya trauma mekanik

dan iskemia selama operasi merupakan bagian

penting dalam kemungkinan penyembuhan.

Hasil akhir fungsional bergantung pada status

fungsional sebelum operasi dengan perbaikan

hasil akhir observasi pada penderita dengan

berkurangnya defisit neurologis sebelum

ope-rasi.50 Perbaikan fungsional terjadi sekitar

53-95% dan memburuk 0-10% dengan mean

20-180 bulan. Kebocoran CSF adalah antara 0-4%.

Perburukan setelah operasi biasanya bersifat

sementara dan dapat sembuh setelah enam

bulan. Angka mortalitas adalah antara 0-3%

de-ngan penyebab kematian emboliparu,

pneumo-nia aspirasi, stroke, dan myocard infark.

Hasil akhir yang baik umumnya dapat

di-duga pada kebanyakan kasus walaupun

meni-ngioma spinal dengan beratnya defisit

neurolo-gis sebelum operasi. Faktor prognosis yang baik

adalah, seperti operasi sebelum timbul gejala

neurologis yang berat, usia muda, total

resek-si tumor, kompreresek-si spinal cord yang sedang,

tidak ada traksi spinal cord selama operasi, dan

penggunaan teknik microsurgery. Kesan bahwa

beratnya tanda neurologis dan kompresi spinal

cord berhubungan dengan tingkat

penyembuh-an fungsi neurologis. Intervensi operasi selalu

menyebabkan resolusi sakit atau tanda

radiku-lar dan setelah operasi harus mengikuti

prog-ram rehabilitasi.2

Meningioma ganas memunyai prognosis

yang jelek dengan median survival antara satu

hingga tiga tahun walaupun dengan terapi

tam-bahan. Penderita yang terus mengalami

kemun-duran umumnya berhubungan dengan rekuren,

arachnoid scar yang lambat setelah operasi,

syringomyelia atau tidak stabil, dan

myelopa-thy.23

h A S I l

Kemajuan teknik operasi dan alat-alat

diagnos-tik, seperti MRI, ultrasonography,

neuromoni-toring, microsurgery, dan ultrasonic aspirator

dapat memberi hasil perbaikan terapi

meni-ngioma spinal. Karena hasil akhir yang sangat

baik untuk operasi meningioma spinal yang

ji-nak, hubungan antara durasi gejala, hasil akhir

fungsional yang jelek, dan operasi secepatnya

(21)

Diagnosis dini dapat mencegah defisit

neu-rologis yang permanen dan menambah

kemung-kinan penyembuhan fungsi neurologis secara

total. Menurut meta-analisis dari Gottfried dan

kawan-kawan,51 penyebab kematian adalah

ter-masuk emboli paru, aspirasi pneumonia, stroke,

dan myocard infark. Angka rekuren

meningio-ma spinal antara 1,3-10%.23,34 Meni ngioma en

plaque dan rekuren pada tumor spinal

meru-pakan tantangan operasi. Dilaporkan23 bahwa

terdapat 53% total reseksi pada meni ngioma en

plaque dibandingkan dengan 97% meningioma

encapsulated dan memburuknya neurologis

sekitar sebesar 0-10%. Hanya 45% reseksi

to-tal pada tumor yang rekuren dibandingkan

dengan 95% operasi pertama. Arachnoid scar

merupakan masalah penting bagi ahli bedah

pada meningioma en plaque dan rekuren.

Se-cara tidak jelas arachnoid scar cenderung hi lang

dari lapisan intermediate leptomeningeal, yaitu

antara permukaan piamater dan tumor. Dalam

kedua situasi ini arachnoid scar tidak tampak

memunyai dasar spesifik histopatologis. Tipe

histopatologis yang paling sering adalah

meni-ngioma meningotheliomatous (45%),

meningi-oma psamommatous (22%), meningioma

tran-si tional (20%), dan meningioma fibroblastic

(6%).

Klasifikasi meningioma menurut WHO 2007

adalah

Grade

I: Meningothelial, fibroblastic,

transitional, angiomatous, microcystic,

secretory, lymphoplasmacytic,

meta-plastic, dan psammomatous dan tidak

memenuhi kriteria untuk grade II atau

III

Grade

II (Atypical): Chordoid, clear cell;

empat atau lebih sel mitosis per sepuluh

hpf dan/atau tiga atau lebih diikuti

bertambahnya seluleritas, sel kecil,

nekrosis, prominent nucleoli, sheeting,

dan/atau invasi otak yang lainnya dari

tumor grade I

Grade

III (Analplastic): Papillary,

rhabdoid; dua puluh atau lebih mitosis

per sepuluh hpf dan/atau khas sitologis

jelas keganasannya, seperti sel tumor

yang mirip dengan carcinoma, sarcoma,

(22)

Gambar 1. Mri servikal laki-laki 52 tahun potongan sagital, tumor intradural extramedullar pada seinggi C1-C2 hipointens pada t1 dan hiperintens pada t1 kontras.

Gambar 2. Pada T1 kontras potongan koronal terlihat lesi mendorong dan menekan medulla

spinalis seinggi C1-2.

Gambar 3. Mri servikal t2 potongan sagital terlihat lesi intensitas heterogen seinggi C1-2

(23)

Gambar 4. Durante operasi

A B

Gambar 5. Fibroblasic meningioma (whO grade I), A. Tampak sel-sel tumor berjalan sejajar dan

(24)

Intradural Extramedullary tumor l2- 3

Gambar 6. Mri lumbal perempuan 53 tahun potongan t1 sagital (a) dan koronal (b), tampak meningoma intradural

extramedullary daerah lumbal seinggi l2-3.

(25)

Gambar 8. Psammomatous meningioma grade I whO. Tampak banyak struktur psammoma

bodies ditemukan pada sediaan ini (hE, 200X)

Gambar 9. MRI lumbal potongan sagital T2 sebelum operasi terlihat lesi hiperintens

diseinggi l2 dan sesudah operasi potongan sagital t1 idak terlihat lagi gambaran lesi.

Gambar 10. MRI Thorakolumbal perempuan 46 tahun, menunjukan massa meningioma

intradural extramedullar menekan spinal cord di seinggi th10-12 yang terlihat hipointense

(26)

Gambar 11. tampak massa tumor menekan medulla spinalis di seinggi th11-12

potongan aksial hiperintens pada T2 (A), T1 kontras (B,c) yang menyebabkan stenosis kanalis spinalis.

(27)

B A

Gambar 13. Atypical meningioma grade II whO, A Tampak sediaan tumor yang hiperseluler,

sebagian membentuk struktur seperi whorl, sebagian berjalan sejajar dan ke segala arah, serta sebagian tampak tersebar secara difus (hE, 200x), b. sel-sel tumor dengan ini membesar, bentuk bulat, oval, dan elongasi dengan pinggir tumpul. sebagian dengan kromain kasar, dan nukleoli

menonjol, serta sitoplasma eosinoilik. Mitosis ditemukan >5/10 lPb (hE, 400x)

Gambar 14. MRI Thorakolumbal pasien pasca operasi masih terlihat hiperdensitas

pada medulla spinalis dengan stenosis kanalis spinalis di seinggi th 10-11 pada

(28)

Gambar 15. Pada Mri potongan koronal t1 kontras juga

terlihat hiperdensitas pada medulla spinalis.

Gambar 16. MRI spinal perempuan 39 tahun potongan sagital T1 terlihat lesi slight hiperintens ekstraaksial yang menekan medulla spinalis dan slight hipointens pada T2 yang pada potongan

(29)

Gambar 17. Durante Operasi

B A

Gambar 18. Meningothelial meningioma, grade I whO, A. Sel-sel tumor membentuk lembaran

(30)

T I N J A uA N P u S TA K A

Epstein F, Epstein N. Surgical treatment of

1. spinal

cord astrocytomas in childhood: a series of 19

pa-ients. J Neurosurg 1982;57:437-445

Slin’ko EI, Al-Qashqish II, Intradural ventral and ven -2.

trolateral tumors of spinal cord: surgical treatment

and results. Neurosurg Focus 2004;15,17:DCP2

(Re-view)

Cohen-Gadol AA, Zikel OM, Koch CA, et al. Spinal

3.

meningiomas in paients younger than 50 years of

age: a 21-year experience. J Neurosurg

2003;98:258-263

Souweidane MM, Benjamin V.

4. Spinal cord

meni-ngiomas. Neurosurg Clin North Am 1994;5:283-291

Gelabert-Gonzalez M, Garcia-Allut A,

Marinez-5.

Rumbo R. Spinal meningiomas. Neurocirugia(Astur)

2006;17:125-131

Messori A, Rychlicki F, Salvolini U. Spinal epidural 6.

en-plaque meningioma with an unusual patern of calciicaion in a 14-year old girl: case report and re -view of the literature. Neuroradiology

2002;44:256-260

Saydam O, Senol O, Schaaij-Visser TB, Pham TV, 7.

Piersma SR, Stemmer-Rachaminov AO, et al.

Com-paraive protein proiling reveals minichromosome maintenance (MCM) proteins as novel potenial

gtumor markers for meningiomas. J Proteome Res

Progesterone and estrogen receptors: opposing

prognosic indicators in meningiomas. J Neurosurg

2006;105:163-173

Kawahara Y, Niiro M, Yokoyama S, Kuratsu J. Du-10.

ral congesion accompanying meningioma inva -sion into vessels: the dural tail sign. Neuroradiology

2001;43:462-465

Durmaz R, Arslantas A, Artan S, et al. The deleion of

11.

22q13 region in both intracranial and spinal

meni-ngiomas ia a paients (case report). Clin Neurol Neu -rosurg 1998;100:219-223

Salpietro FM, Alafaci C, Lucerna S, et al. Do spinal 12.

meningiomas penetrate the pial layer? Correlaion between magneic resonance imaging and micro

-surgical indings and intracranial tumor interfaces.

Neurosurgery 1997;41:254-258

Neuta HJW, Dolan E, Yasargyl MG. Microsurgical 13.

anatomy of spinal subarachnoid space. Surg Neurol

1983;19:431-437

Caroli E, Acqui M, Roperto R, et al. Spinal en plaque 14.

meningiomas: a contemporary experience.

Neuro-surgery 2004;55:1275-1279

Gambardella G, Toscano S, Staropoli C, et al. Epidu-15.

ral spinal meningioma. Role of magneic resonance in diferenial diagnosis. Acta Neurochir (Wien)

1990;107:70-73

Health Organizaion Grades II and III meningiomas are rare in the cranial base and spine. Neurosurgery

2007;61:1194-1198

Zorludemir S, Scheithauer BW, Hirose T, et al. Clear

18.

cell meningioma: clinopathologic studt of

poten-ially aggressive variant of meningioma. Am J Surg

(31)

Doita M, Harada T, Nishida K, et al. Recurrent cal-19.

ciied spinal meningioma detected by plain radio -graph. Spine 2001;26:E249-252

Kitagawa M, Nakamura T, Aida T, et al. Clinopatho-20.

logic analysis of ossiicaion in spinal meningioma.

Brain Tumor Pathol 1994;11:115-119

Sayagues JM, Tabernero MD, Maillo A, et al. Mi-21.

croarray-based analysis of spinal versus intracranial

meningiomas: diferent clinical, biological, and ge

-neic characterisics associated with disinct pat -terns of gene expression. J Neuropathol Exp Neurol

2006;65:445-454

Peker S, Cerci A, Ozgen S, et al. Spinal meningiomas: 22.

evaluaion of 41 paients. J Neurosurg Sci

2005;49:7-11

Klekamp J, Samii M. Surgical results for spinal meni-23.

ngiomas. Surg Neurol 1999;52:552-562

Morandi X, Haegelen C, Rifaud L, et al. Results in

24.

the operaive treatment of elderly paients with spi -nal meningiomas. Spine 2004;29:2191-2194

Bloomer CW, Ackerman A, Bhaia RG. Imaging for

25.

spine tumors and new applicaion. Top Magn Reson

Imaging 2006;17:69-87

Goldbrunner R. Intradural

26. extramedullary tumors.

In: Tonn JC, Westphal M, Rytka JT, Grossman SA,

tradural meningiomas: MRI indings in two cases. J

Neuroradiol 2004;31:214-219

Hasuo K, Uchino A, Matsuura Y, et al. MRI of intra-29.

dural extramedullary spinal neurinomas and

meni-ngiomas. Nippon Igaku Hoshasen Gakkai

Zasshi-Nippon Acta Radiologica 1993;53:503-510

MRI of spinal meningiomas. J Comput Assist Tomogr

1995;19:890-892

Guermazi A, Laite F, Miaux Y, et al. The dural tail

32.

sign-beyond meningioma. Clin Radiol

2005;60:171-188

Schwartz TH, McCormick PC.

33. Spinal cord tumors

in adults. In: Winn HR, ed. Youmans Neurological

Surgery. Vol 4. Philadelphia: Saunders,

2004;4817-4834

Arslantas A, Artan S, Oner U, et al. Detecion of

34.

chromosomal imbalances in spinal meningiomas

by comparaive genomic hybridizaion, Neurol Med

Chir 2003;43:12-19

Mimatsu K K, Kawakami N, Kato F, et al. Intraopera-35.

ive ultrasonography of extramedullary spinal tu-mour. Neuroradiology 1992;34:440-443

Keter R, Henn W, Niedemayer I, et al. Predicive

36.

value of progression-associated chromosomal

aberraions for the prognosis of meningiomas: a retrospecive study of 198 cases. J Neurosurg

2001;95:601-607

Perrin RG, McBroom RJ. Thoracic spine tumors. Clin 37.

Neurosurg 1992;38:353-372

Misra SN, Morgan HW. Avoidance of structural pit-38.

falls in spinal meningioma resecion. Neurosurg Fo -cus 2003;1514:e1

Horn EM, Deshmukh VR, Lekovic GP, Dickman CA. 39.

Gambar

Gambar 1. Mri servikal laki-laki 52 tahun potongan sagital, tumor intradural extramedullar pada seinggi C1-C2 hipointens pada t1 dan hiperintens pada t1 kontras.
Gambar 4. Durante operasi
Gambar 7. Durante Operasi
Gambar 9. MRI lumbal potongan sagital T2 sebelum operasi terlihat lesi hiperintens diseinggi l2 dan sesudah operasi potongan sagital t1 idak terlihat lagi gambaran lesi.
+5

Referensi

Garis besar

Dokumen terkait

Resusitasi jantung paru merupakan usaha yang dilakukan untuk mengembalikan fungsi pernafasan dan atau sirkulasi pada henti nafas (respiratory arrest) dan atau henti jantung

Sehubungan dengan perlunya percepatan proses pengadaan barang/ jasa di lingkungan PT Angkasa Pura I (Persero) dan sedang dilakukannya revisi pedoman pengadaan barang/

Demam merupakan kenaikan suhu tubuh diatas normal. Demam ter-adi karena pelepasan piro#en dari dalam leukosit !an# sebelumn!a telah teran#san# oleh piro#en ekso#en

Melalui informasi dan data yang penulis peroleh dari Politeknik Negeri Sriwijaya, penulis menemukan masalah yang dihadapi Politeknik Negeri Sriwijaya

Aspek greedy dalam cara tersebut adalah jika setiap lampu yang memiliki jumlah kendaraan terbesar memiliki delay time lampu hijau terbesar maka secara akumulatif lalu lintas

Dari hasil pengujian diatas, dapat dilihat bahwa hasil terbaik selalu pada nilai offset [0 1] dan [0 -1], yang sebenarnya memiliki arah yang sama, yaitu nilai tetangga yang

Laporan perencanaan pembelian bahan baku per produk, yang berfungsi untuk membantu pihak UMKM dalam memberikan informasi mengenai kebutuhan bahan baku apa

Pengolahan data pertama kali dilakukan dengan menggunakan peramalan untuk menentukan jumlah produk yang akan diproduksi berikutnya, sehingga dapat ditentukan banyak