Nurul Azizah
Fakultas Dakwah Institut Agama Islam Ibrahimy Situbondo Jl. Banyuputih Sukorejo No. 1-2 Asembagus 68373
e-mail: [email protected]
Abstrak:
Tulisan ini mengulas peran dan fungsi dari partai politik Islam; sebagai penyerap aspirasi masyarakat dengan studi kasus di DPW PPP Jatim. Adapun Rumusan masalah secara spesifik adalah: (1) bagaimanakah Dewan Pimpinan Wilayah Partai Persatuan Pembangunan (DPW PPP) Provinsi Jawa Timur mengimplementasikan Undang-Undang No. 2/2008 tentang Partai Politik dalam mengaktualisasikan fungsinya sebagai sarana penyalur aspirasi masyarakat; (2) bagaimanakah pola komunikasi politik dalam penjaringan aspirasi masyarakat yang dilakukan Dewan Pimpinan Wilayah Partai Persatuan Pembangunan (DPW PPP) Provinsi Jawa Timur. Perspektif kajiannya adalah sosial politik. Penelitian ini dilakukan di Dewan Pimpinan Wilayah Partai Persatuan Pembangunan Provinsi Jawa Timur. Data dikumpulkan dengan cara wawancara mendalam dan dianalisis menggunakan model fenomenologi. Hasil penelitian ini menunjukkan: (1) Implementasi Undang-Undang No. 02 Tahun 2008 tentang Partai Politik telah dilakukan secara baik oleh Dewan Pimpinan Wilayah Partai Persatuan Pembangunan Provinsi Jawa Timur dalam mengaktualisasikan fungsinya sebagai penyalur aspirasi masyarakat; (2) komunikasi politik Dewan Pimpinan Wilayah Partai Persatuan Pembangunan sebagai penyalur aspirasi masyarakat sebagian besar telah dilakukan oleh para wakil rakyat di Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Provinsi Jawa Timur. Tiga fungsi yang tersebut adalah fungsi legeslatif, fungsi pengawasan (controling), dan fungsi anggaran (budgeting) telah dilaksanakan oleh para anggota DPRD Jatim dari Fraksi Persatuan Pembangunan.
Abstract:
162 | KARSA, Vol. 22 No. 2, Desember 2014
phenomenological model. The results showed: (1) Implementation of Act No. 02/2008 on Political Parties has been done either by the Regional Leadership Council of Partai Persatuan Pembangunan of East Java Province in actualizing its function as the voice of the community; (2) Political communication in Regional Leadership Council of Partai Persatuan Pembangunan of East Java Province as the voice of the community has been largely carried out by the representatives in the East Java parliament. Three functions are legeslatif function, controling function, and budgeting function has been carried out by members of the East Java Parliament of the Partai Persatuan Pembangunan.
Kata-kata Kunci:
Partai politik Islam, Partai Persatuan Pembangunan, aspirasi masyarakat
Pendahuluan
Komunikasi politik perlu dila-kukan oleh sebuah organisasi partai politik, utamanya bagi partai politik baru, karena pada praktiknya komu-nikasi politik berguna bagi kepentingan partai politik itu sendiri. Terutama dalam memperkenalkan profil orga-nisasi, tokoh-tokoh partai yang ber-pengaruh, visi dan misi partai serta berbagai program unggulan partai. Komunikasi politik merupakan salah satu kunci keberhasilan bagi partai da-lam perannya sebagai lembaga arti-kulasi organisasi politik masyarakat, di mana melalui partai inilah masyarakat diharapkan menjadi jembatan dialogis, penyalur aspirasi rakyat, gagasan, serta keinginannya untuk kemudian di-tuangkan menjadi program partai.
Tidak sebatas itu saja, semua aktifitas organisasi partai politik yang berproses melalui partai tersebut selan-jutnya diformulasikan menjadi usulan kebijakan partai yang diperjuangkan kepada pemerintah untuk ditindak-lanjuti menjadi kebijakan masyarakat (public policy). Dengan kata lain, semua
kepentingan masyarakat disalurkan melalui partai politik.
Oleh karena itu, komunikasi politik yang dilakukan oleh organisasi politik tidak lebih adalah untuk ke-pentingan untuk menyosialisasikan program-program partai, di mana par-tai politik dapat mengaktualisasikan fungsinya sebagai penyalur aspirasi masyarakat yang selanjutnya hendak diperjuangkan menjadi kebijakan pe-merintah yang dampaknya bisa dira-sakan untuk kepentingan dan kebu-tuhan rakyat.
Tinjauan Pustaka
Menurut Riant D. Nugraha1, secara umum kebijakan publik adalah kepu-tusan atau tindakan yang berpengaruh terhadap atau mengarah tindakan indi-vidu dalam kelompok masyarakat. Riant membagi kebijakan publik ini menjadi dua. Pertama, regulatif verus deregulatif; atau restriktif versus non-restriktif. Ini merupakan kebijakan yang menetapkan hal-hal yang dibatasi dan hal-hal yang dibebaskan dari pembatasan-pembatasan.
Kedua, alokatif versus distributif/ resdistributif. Kebijakan ini berkenaan dengan anggaran atau keuangan publik. Richard A. Musgrave menjelaskan bahwa fungsi dari kebijakan publik adalah fungsi alokasi yang bertujuan mengalo-kasikan barang-barang publik (public goods) dan mekanisme alokasi barang dan jasa yang tidak bisa dilakukan melalui mekanisme pasar, fungsi distributif yang berkenaan dengan pemerataan kesejah-teraan termasuk di dalamnya perpajakan, fungsi stabilisasi yang berkenaan dengan peran penyeimbang dari kegiatan alokasi dan distribusi tersebut dan fungsi koor-dinasi anggaran yang berkenaan dengan koordinasi anggaran secara horizontal dan vertikal.2
Pendekatan yang digunakan da-lam menganalisis implementasi kebi-jakan tentang konservasi energi adalah teori yang dikemukakan oleh George C. Edwards III. Di mana implementasi dapat dimulai dari kondisi abstrak dan sebuah pertanyaan tentang apakah syarat agar implementasi kebijakan dapat berhasil,
1 Riant D. Nugraha, Kebijakan Publik (Jakarta: Elexmedia, 2003).
2 Richard A. Musgrave, The Theory of Public Finance (Oxford: Oxford University Press, 1959), hlm. 24.
menurut George C. Edwards III3 ada empat variabel dalam kebijakan publik, yaitu komunikasi (communications), sum-ber daya (resources), sikap (dispositions
atau attitudes) dan struktur birokrasi (bureucratic structure).
Pengertian komunikasi politik, me-nurut Gabriel Almond sebagaimana dikutip oleh Blake dan Haroldsen adalah salah satu fungsi yang selalu ada dalam setiap sistem politik sehingga terbuka kemungkinan bagi para ilmuan politik memperbandingkan berbagai sistem po-litik dengan latar belakang budaya yang berbeda.4
Komunikasi politik adalah suatu penyampaian pesan politik yang secara sengaja dilakukan oleh komunikator ke-pada komunikan dengan tujuan membu-at komunikan berperilaku tertentu. Dije-laskan lebih jauh oleh Winddlesham bahwa sebelum suatu pesan politik dapat dikonstruksikan untuk disampaikan ke-pada komunikan dengan tujuan meme-ngaruhinya, di situ harus terdapat ke-putusan politik yang dirumuskan berda-sarkan berbagai pertimbangan.5
Salah satu fungsi partai politik sebagaimana tertuang dalam Bab V pasal 7 ayat C UU No. 2 Tahun 2008 tentang Partai Politik adalah sebagai sarana penyerap, penghimpun, dan penyalur aspirasi masyarakat secara konstitusional dalam merumuskan dan menetapkan kebijakan Negara. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa partai politik merupakan aktor dominan dalam proses
3 George C. Edwards III, Implementing Public Policy (Congresinal: Quarterly Press, 1980).
4Reed H. Blake dan Edwin O. Haroldsen, A Taxonomy of Concepts in Communication (Michigan: Michigan University Press, 2011)
164 | KARSA, Vol. 22 No. 2, Desember 2014 pengambilan kebijakan Negara atau pe-merintah.
Metode Penelitian
Penelitian ini merupakan pene-litian kualitatif dengan model pendekatan fenomenologi. Penelitian fenomenologi mencoba menjelaskan atau mengungkap makna konsep atau fenomena penga-laman yang didasari oleh kesadaran yang terjadi pada beberapa individu. Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif de-ngan model eksploratif. Penelitian ini bermaksud mengeksplorasikan tentang fungsi penyalur aspirasi dan peran ko-munikasi politik Dewan Pimpinan Wila-yah Partai Persatuan Pembangunan Pro-vinsi Jawa Timur.
Penelitian ini dilakukan dalam situasi yang alami, sehingga tidak ada batasan dalam memaknai atau mema-hami fenomena yang dikaji. Menurut Creswell,6 pendekatan fenomenologi menunda semua penilaian tentang sikap yang alami sampai ditemukan dasar tertentu. Penundaan ini biasa disebut
epoche (jangka waktu). Konsep epoche
adalah membedakan wilayah data (sub-jek) dengan interpretasi peneliti. Konsep
epoche menjadi pusat di mana peneliti menyusun dan mengelompokkan dugaan awal tentang fenomena untuk mengerti tentang apa yang dikatakan oleh res-ponden.
Meminjam pendapat Anselm Stra-uss dan Juliet Corbin7 peneliti memiliki
6 J.W. Creswell, Qualitatif Inquiry and Research Design (California: Sage Publications Inc., 1998), hlm. 54.
7Anselm Strauss adalah seorang guru besar sosiologi di Jurusan Ilmu Sosial dan Perilaku, pada Universitas California, San Francisco. Sedangkan Juliet Corbin adalah anggota peneliti di juranan Ilmu Sosial dan Perilaku pada Universitas California, San Francisco.
beberapa alasan mengapa peneliti memi-lih penelitian kualitatif. Pertama, sesung-guhnya apa yang dimaksud penelitian kualitatif itu adalah peneliti maksudkan sebagai jenis penelitian yang temuan-temuannya tidak diperoleh melalui pro-sedur statistik atau bentuk hitungan lainnya.8 Mengingat studi yang peneliti lakukan di sini adalah menyangkut ke-pemimpinan yang dikembangkan oleh priyayi/kiai yang menjadi aktor dalam demokrasi politik lokal. Maka, memilih riset kualitatif bersandar pada kebi-jaksanaan yang secara informal mengem-bangkannya dari pengalaman peneliti sendiri.9
Penelitian ini dilakukan dalam kurun waktu 3 Bulan sejak Novermber 2011 hingga Februari 2012, berlokasi di Dewan Pimpinan Wilayah Partai Persa-tuan Pembangunan Provinsi Jawa Timur, yang berkantor di Jalan Kendang Sari No. 36 Surabaya.
Subjek penelitian dalam penelitian ini adalah DPW PPP Provinsi Jawa Timur, yang beralamat di JL. Kendang Sari No.36 Surabaya Jawa Timur tentang bagaimana komunikasi politik serta pe-ran dan fungsinya sebagai rumah aspirasi masyarakat di Jawa Timur.
Data yang diambil melalui in-dept interview (wawancara secara mendalam), data dokumen, dan observasi. Yang men-jadi informan kunci dalam penelitian ini adalah Ketua DPW PPP Jawa Timur, Drs. H.M. Musyaffa’ Noer, MSi. MM dan Sekretaris DPW , H. Moh. Hasan Asy’ari,
8 Anselm Strauss dan Juliet Corbin, Dasar-dasar Penelitian Kualitatif: Tata Langkah dan Teknik-teknik Teoritisasi Data, terj. Muhammad Sodiq dan Imam Muttaqin (Jogjakarta: Pustaka Pelajar, 2003), hlm. 4.
SH, Wakil Ketua DPW, KH. Mujib Imron, Ketua Fraksi PPP DPRD I Jawa Timur Hj. Munjidah Wahab, BA serta beberapa sumber lainnya.
Dalam hal ini peneliti membatasi informan secara purposif sampai mem-peroleh data dan informan yang bisa dipertanggungjawabkan, komprehensif, tepat, dan akurat.
Informasi yang didapat dari infor-man akan sangat membantu dalam mengoptimalisasi keragaman informasi yang akan dikumpulkan dari para in-forman. Informasi mengenai sesuatu yang bersifat pribadi sebagaimana latar belakang kehidupan sebelum mereka menjadi kepala daerah atau elit politik, latar belakang keluarganya, dan beberapa aktifitas yang tidak tampak dalam keseharian, maka kelompok informan inilah yang akan membantu menda-patkan informasi. Untuk lebih jelasnya lihat tabel di bawah ini:
Tabel.1.1 Informan Penelitian No Nama Jabatan Pendidikan 1. Drs. H.M.
Musyaffa’ Noer, MSi. MM
Ketua DPW PPP Jawa Timur,
S2
2. H. Moh. Hasan Asy’ari, SH
Sekretaris DPW
S1
3. KH. Mujib Imron
Wakil Ketua DPW,
Aliyah
4. Hj. Munjidah Wahab, BA
Ketua Fraksi PPP DPRD I Jawa Timur
Sarjana Muda
Sumber: Informan yang diwawancarai oleh peneliti sejak November 2011 hingga Februari 2012
Sebagaimana dikutip dari Norman K. Denzin and Yvonna S. Lincoln10 ada
beberapa metode dalam pengumpulan data yang dilakukan dalam di dalam penelitian kualitatif, yaitu: pertama, wa-wancara yang merupakan alat re-cheking
atau pembuktian terhadap informasi atau keterangan yang diperoleh sebelumnya. Teknik wawancara yang digunakan da-lam penelitian kualitatif adalah wawan-cara mendalam (in-depth interview) adalah proses memperoleh keterangan untuk tu-juan penelitian dengan tanya jawab sambil bertatap muka antara pewawan-cara dengan informan atau orang yang diwawancarai dengan atau tanpa meng-gunakan pedoman (guide) wawancara, di mana pewawancara dan informan terlibat dalam kehidupan sosial yang relatif lama. Beberapa hal perlu diperhatikan, seorang peneliti saat mewawancarai res-ponden adalah intonasi suara, kecepatan berbicara, sensifitas pertanyaan, kontak mata, dan kepekaan non verbal. Dalam mencari informan, peneliti melakukan dua jenis wawancara, yaitu autoanamnesa
(wawancara yang dilakukan dengan subjek atau responden). Beberapa tips saat melakukan wawancara adalah mulai dengan pertanyaan yang mudah, mulai dengan informasi fakta, hindari per-tanyaan yang multiliple, jangan menanya-kan pertanyaan pribadi selama building report, ulang kembali jawaban untuk kla-rifikasi, kesan positif, dan kontrol emosi negatif.
Kedua, observasi. Beberapa infor-masi yang diperoleh dari hasil observasi adalah ruang (tempat), pelaku kegiatan, objek perbuatan, kejadian atau peristiwa, waktu dan perasaan. Alasan peneliti
166 | KARSA, Vol. 22 No. 2, Desember 2014 melakukan observasi adalah untuk me-nyajikan gambaran relistik pelaku atau kejadian, untuk menjawab pertanyaan, untuk membantu mengerti perilaku ma-nusia, dan untuk evaluasi yaitu mela-kukan pengukuran terhadap aspek ter-tentu, melakukan umpan balik terhadap pengukuran tersebut.
Ketiga, dokumen. Sejumlah besar fakta dan data tersimpan dalam bahan yang berbentuk dokumentasi. Sebagian besar data yang tersedia adalah ber-bentuk surat-surat, catatan harian, cen-deramata, laporan, artefak, foto, dan sebagainya. Sifat utama data ini tidak terbatas pada ruang dan waktu sehingga memberi peluang kepada peneliti untuk mengetahui hal-hal yang pernah terjadi pada waktu silam. Secara detail bahan dokumenter terbagi atas beberapa ma-cam, yaitu otobiografi, surat-surat pri-badi, buku atau cacatan harian, memorial kliping, dokumen pemerintah atau swas-ta, data di server dan flashdisk, data tersimpan di-website, dan lain-lain.
Implementasi Kebijakan di DPW PPP Jawa Timur
Partai Persatuan Pembagunan (PPP) didirikan pada 5 Januari 1973, sebagai hasil fusi politik empat partai Islam, yaitu Partai Nadhlatul Ulama, Partai Muslimin Indonesia (Parmusi), Partai Syarikat Islam Indonesia (PSII) dan Partai Islam Perti. PPP didirikan oleh lima deklarator yang merupakan pim-pinan empat Partai Islam peserta Pemilu 1971 dan seorang ketua kelompok persatuan pembangunan, semacam fraksi empat partai Islam di DPR.11
Hingga saat ini, PPP telah dipim-pin oleh 1 Dewan Presidium dan 5 orang
11 Materi Muktamar VII PPP tanggal 3-7 Juli 2011. di Bandung
ketua, yakni: (1) KH. Idham Chalid (Presiden Partai/NU), Wakil Presiden Partai: Mohamad Syafaat Mintaredja (Parmusi), Thayeb Mohammad Gobel (PSII), Rusli Halil (Perti), Masykur (Ke-lompok Persatuan Pembangunan/ Fraksi di DPR) (1973); (2) H.M.S. Mintaredja (1973-1978); (3) H. Djailani Naro (1978-1989); (4) H. Ismail Hassan Metareum (1989-1998); (5) Hamzah Haz (1998-2007); (6) Suryadharma Ali (2007-2014).12
PPP sudah mengikuti sebanyak enam kali Pemilu sejak 1977 sampai Pe-milu dipercepat 1999 dengan hasil yang fluktuatif, turun naik. Berdasarkan seja-rah perjuangan dan jati diri di atas, maka visi PPP adalah "Terwujudnya masya-rakat yang bertaqwa kepada Allah SWT dan negara Indonesia yang adil, makmur, sejahtera, bermoral, demokratis, tegaknya supremasi hukum, penghormatan terha-dap Hak Asasi Manusia (HAM), serta menjunjung tinggi harkat-martabat kema-nusiaan dan keadilan sosial yang berlan-daskan kepada nilai-nilai keislaman.
Dewan Pimpinan Wilayah Partai Persatuan Pembangunan Provinsi Jawa Timur13 berkantor di Jl. Kendang Sari No. 36 Surabaya, pada masa bakti 2011 – 2015, di bawah kepemimpinan Drs. H. Mu-syaffa’ Noer, sekretaris H. Hasan Asy’ari, SH dan beberapa pengurus harian lain-nya. Dewan Pimpinan Wilayah Partai Persatuan Pembangunan Jawa Timur membawahi tiga puluh delapan (38) Dewan Pimpinan Cabang Partai Persa-tuan Pembangunan Kabupaten/Kota seluruh Jawa Timur.
Prinsip keterwakilan dan kese-taraan antar daerah adalah hal yang penting dalam mengimplementasikan
12 Sumber dari Sejarah DPP PPP 2012
sistem partai karena berkaitan erat de-ngan efektifitas dari sistem pemerintahan. Implementasi dari teknis tersebut di Jawa Timur terbagi menjadi sebelas (XI) daerah pemilihan.
Sejak bergulirnya masa reformasi, Partai Persatuan Pembangunan meng-alami trend penurunan suara yang sangat signifikan, baik secara nasional maupun regional. Kini muncul pertanyaan apakah ini adalah gambaran parpol Islam dengan gaya dan pemikiran yang lama tidak menarik lagi bagi masyarakat.
Periode kebangkitan Partai Persa-tuan Pembangunan yang dimulai sejak 1999 belum menampakkan tanda-tanda yang menggembirakan, di tengah-tengah pergumulan multi parti dan terpaan fragmentasi politik umat. Partai Persa-tuan Pembangunan meraih 58 kursi di DPR RI atau setara 10,17 % suara. Dengan pekikan “PPP Bangkit” pada Pemilu 2009 kembali diuji kesabaran karena kursi di DPR menurun tinggal 38 kursi atau setara 5,33% suara nasional. Bahkan di beberapa daerah, Partai Persatuan Pembangunan tidak bisa mengirimkan wakilnya di DPRD.
Begitu halnya di Jawa Timur, Partai Persatuan Pembangunan mengala-mi penurunan suara yang sangat drastis. Dibuktikan wakil partai yang duduk di DPRD Jatim hanya berjumlah empat orang/empat kursi. Berbeda dengan Pe-milu legislatif 2004 – 2009, PPP Jawa Timur mendapatkan delapan kursi dari sepuluh daerah pemilihan. Jadi suara partai menguap hingga 50 % .
Empat daerah pemilihan yang mendapatkan kursi adalah, daerah pemi-lihan VIII meliputi kabupaten Jombang dan Mojokerto, Munjidah Wahab, Dapil II meliputi Probolinggo dan Pasuruan, Mahdi, Dapil X Pulau Madura, Hasan
Asy’ari, Dapil III Situbondo, Banyuwangi dan Bondowoso, M. Ibrahim Adib.
Agar memperoreh suara yang maksimal di Pemilu 2014 DPW PPP Jawa Timur telah mengadakan musyawarah kerja wilayah sekurang-kurangnya sekali dalam setahun, dengan mengundang seluruh pengurus DPW dan Dewan Pimpinan Cabang PPP se-Jawa Timur. Membahas dan merumuskan secara tepat guna, terukur, mencapai sasaran dan mendapatkan hasil yang maksimal perlu dilakukan kegiatan: pemetaan dan analisis, kelemahan dan kekuatan PPP, pemetaan potensi kekuatan-kelemahan kompetitor, partai-partai lain, segmentasi konstituen, daerah pemilihan, dan pemi-lihan isu-isu strategis baik nasional mau-pun regional.
menyebar-168 | KARSA, Vol. 22 No. 2, Desember 2014 luaskannya. Seperti yang dijelaskan Hasan Asy’ari:14
Saya di partai sudah dua puluh tahun. Jadi, saya mengerti bagai-mana antar pengurus saling men-jegal hanya untuk kepentingan pribadi. Tidak jarang hanya untuk mengambil keputusan dilakukan
voting, saking kerasnya persaingan.
Di samping itu, sumber informasi yang berbeda juga akan melahirkan interpretasi yang berbeda pula. Agar implementasi berjalan efektif, siapa yang bertanggung jawab melaksanakan sebuah keputusan harus mengetahui apakah pengurus harian dapat melakukannya. Sesungguhnya implementasi kebijakan harus diterima oleh semua pengurus dan harus mengerti secara jelas dan akurat mengenai maksud dan tujuan kebijakan partai dan target yang akan dicapai. Jika para pengurus harian pembuat kebijakan telah melihat ketidakjelasan spesifikasi kebijakan sebenarnya mereka tidak me-ngerti apa sesunguhnya yang akan dia-rahkan. Seluruh pengurus harian peng-ambil kebijakan bingung dengan apa yang akan mereka lakukan sehingga jika dipaksakan tidak akan mendapatkan hasil yang optimal. Tidak cukupnya komunikasi kepada para pimpinan dan pengurus harian DPW PPP Jawa Timur secara serius memengaruhi implemen-0tasi kebijakan di internal partai.
Resourses (sumber daya) tidak menjadi masalah bagaimana jelas dan konsisten implementasi program dan ba-gaimana akuratnya komunikasi dikirim. Jika fungsionaris partai yang bertang-gung jawab untuk melaksanakan
14 Hasil Wawancara dengan KH. Hasan Asy’ari, SH., Sekretaris PPP Jatim, di Kantor Fraksi PPP DPRD Jatim, tanggal 12 Maret 2012.
ram kekurangan sumberdaya dalam melakukan tugasnya. Komponen sumber daya ini meliputi jumlah staf, keahlian dari para pelaksana, informasi yang rele-van dan cukup untuk mengimplemen-tasikan kebijakan dan pemenuhan sumber-sumber terkait dalam pelaksa-naan program, adanya kewenangan yang menjamin bahwa program dapat diarah-kan kepada sebagaimana yang diharap-kan, serta adanya fasilitas-fasilitas pendu-kung yang dapat dipakai untuk melaku-kan kegiatan program seperti dana dan sarana prasarana.
Sumberdaya manusia yang tidak memadai (jumlah dan kemampuan) bera-kibat pada tidak dapat dilaksanakannya program secara sempurna karena mereka tidak bisa melakukan pengawasan de-ngan baik. Jika jumlah staf pelaksana kebijakan terbatas, maka hal yang harus dilakukan adalah meningkatkan skill
kemampuan para pelaksana untuk mela-kukan program. Untuk itu, perlu adanya manajemen SDM yang baik agar dapat meningkatkan kinerja program. Hal ini dijelaskan oleh ketua PPP Jawa Timur:
Program kerja dari PPP yang diha-silkan, target yang akan dicapai, sebenarnya sudah jelas dan bagus.
Cuman sekarang masalahnya terle-tak pada kinerja pengurus dan sumber daya manusia yang dimi-liki, sehingga tidak jarang apa yang akan dicapai menjadi gagal atau tidak sesuai dengan yang di-rencanakan. 15
Ada dua bentuk informasi yaitu informasi mengenai bagaimana cara menyelesaikan kebijakan program serta
bagi pelaksana harus mengetahui tinda-kan apa yang harus dilakutinda-kan dan informasi tentang data pendukung kepa-tuhan kepada peraturan pemerintah dan undang-undang. Kenyataan di lapangan menunjukkan bahwa tingkat pusat tidak mengetahui kebutuhan yang diperlukan para pelaksana di lapangan. Kekurangan informasi/pengetahuan tentang bagai-mana melaksanakan kebijakan memiliki konsekuensi langsung, seperti pelaksana tidak bertanggungjawab atau pelaksana tidak ada di tempat kerja, sehingga me-nimbulkan inefisiensi. Implementasi kebi-jakan membutuhkan kepatuhan organi-sasi dan individu terhadap peraturan pemerintah yang ada.
Sumber daya lain yang juga penting adalah kewenangan untuk me-nentukan bagaimana program dilakukan, kewenangan untuk membelanjakan atau mengatur keuangan, baik penyediaan uang, pengadaan staf, maupun penga-daan supervisor. Fasilitas yang diperlukan untuk melaksanakan kebijakan/program harus terpenuhi, seperti kantor, peralatan, ser-ta dana yang mencukupi. Tanpa fasilitas ini mustahil program dapat berjalan.
Dispositions/attitudes (disposisi dan sikap pelaksana) merupakan salah satu faktor yang memengaruhi efektifitas im-plementasi kebijakan di Partai Persatuan Pembangunan Provinsi Jawa Timur, tepatnya adalah sikap fungsionaris partai atau pengurus. Jika pengurus partai se-tuju dengan bagian-bagian isi dari kebi-jakan, maka mereka akan melaksana-kannya dengan senang hati. Tetapi, jika pandangan mereka berbeda dengan pem-buat kebijakan. maka proses implemen-tasi akan mengalami banyak masalah.
Ada tiga bentuk sikap/respons pengurus terhadap kebijakan,16 yaitu ke-sadaran pelaksana, petunjuk/arahan pe-laksana untuk merespon program ke arah penerimaan atau penolakan, dan inten-sitas dari respon tersebut. Para pelaksana mungkin memahami maksud dan sasaran program namun seringkali mengalami kegagalan dalam melaksanakan program secara tepat karena mereka menolak tu-juan yang ada di dalamnya, sehingga secara sembunyi mengalihkan dan meng-hindari implementasi program. Di sam-ping itu dukungan para pejabat pelak-sana sangat dibutuhkan dalam mencapai sasaran program. Situasi ini dibenarkan oleh Musyaffa’:
Adakalanya memang ada pengu-rus yang tidak setuju terhadap kebijakan atau keputusan partai. Karena suaranya minoritas, maka dia menggalang berbagai kekuatan baik secara struktural dan kultural, misalnya membuat surat peno-lakan terhadap DPP dengan me-lampirkan beberapa tanda tangan dari pengurus, tokoh masyarakat, atau konstituen. Inilah dinamika yang ada di partai, memang terlalu banyak kepentingan.17
Dukungan dari pimpinan sangat memengaruhi pelaksanaan program da-lam mencapai tujuan secara efektif dan efisien. Wujud dari dukungan pimpinan ini adalah menempatkan kebijakan men-jadi prioritas program, penempatan pe-laksana dengan orang-orang yang men-dukung program, memerhatikan
16 Mas Roro Lilik Ekowati, Implementasi & Evaluasi Kebijakan atau Program (Surakarta. Pustaka Cakra Solo, 2005)
170 | KARSA, Vol. 22 No. 2, Desember 2014 imbangan daerah, agama, suku, jenis kelamin dan karakteristik demografi yang lain. Di samping itu, penyediaan dana yang cukup guna memberikan insentif bagi para pelaksana program agar mere-ka mendukung dan bekerja secara total dalam melaksanakan kebijakan/prog-ram.
Di sisi lain, dalam membahas badan pelaksana suatu kebijakan, tidak dapat dilepaskan dari struktur birokrasi (bureucratic structure). Struktur birokrasi adalah karakteristik, norma-norma, dan pola-pola hubungan yang terjadi beru-lang-ulang dalam badan-badan eksekutif yang mempunyai hubungan baik poten-sial maupun nyata dengan apa yang mereka miliki dalam menjalankan kebi-jakan. Van Horn dan van Meter me-nunjukkan beberapa unsur yang mung-kin berpengaruh terhadap suatu orga-nisasi dalam implementasi kebijakan, yaitu: (1) kompetensi dan ukuran staf suatu badan; (2) tingkat pengawasan hirarkhis terhadap keputusan-keputusan sub unit dan proses-proses dalam badan pelaksana; (3) Sumber-sumber politik su-atu organisasi, misalnya dukungan di antara anggota legislatif dan eksekutif; (4) vitalitas suatu organisasi; (5) tingkat komunikasi “terbuka”, yaitu jaringan kerja komunikasi horizontal maupun vertikal secara bebas serta tingkat kebe-basan yang secara relatif tinggi dalam komunikasi dengan individu-individu di luar organisasi; (6) kaitan formal dan informal suatu badan dengan badan pembuat keputusan atau pelaksana kepu-tusan.18
Apabila sumber daya cukup untuk melaksanakan suatu kebijakan dan para
18 Lihat Solichin Abdul Wahab, Analisis Kebijakan dari Formulasi ke Implementasi Kebijakan Negara (Jakarta: Bumi Aksara, 1991)
pengurus di Dewan Pimpinan Partai Persatuan Pembangunan mengetahui apa yang harus dilakukan, implementasi masih gagal apabila struktur birokrasi yang ada menghalangi koordinasi yang diperlukan dalam melaksanakan kebija-kan. Hal ini dikatakan oleh Munjidah Wahab:
Percuma saja menerapkan AD/ ART baru hasil muktamar kemarin tentang penggemukan pengurus, utusan dari perwakilan daerah atau dapil, kalau orangnya tidak bisa aktif dan bekerja, biar pun se-dikit tapi kita bisa kerja sama dan kompak, tidak ada saling menja-tuhkan. Kondisi ini sudah berbeda dengan beberapa tahun yang lalu. Kebijakan yang kompleks membu-tuhkan kerja sama banyak orang, serta pemborosan sumber daya akan mempengaruhi hasil imple-mentasi. Perubahan yang dilaku-kan tentunya adilaku-kan mempengaruhi individu dan secara umum akan mempengaruhi sistem dalam bi-rokrasi.19
Aktualisasi Fungsi Komunikasi Politik di DPW PPP Jawa Timur
Dalam fungsinya, sebagai penyalur aspirasi masyarakat, DPW PPP Jawa Timur, di mana Fraksi Persatuan Pemba-ngunan mempunyai fungsi yang sama dengan anggota lainnya. Fungsi-fungsi tersebut adalah fungsi legislasi, fungsi pengawasan (controlling), dan fungsi penganggaran (budgeting).
Mengartikulasikan fungsi sebagai penyalur aspirasi masyarakat, peneliti hanya mengambil beberapa bentuk
ram kerja sebagai sarana penjaringan dan penyalur aspirasi. Peningkatan peran dan partisipasi DPW PPP Jawa Timur baik secara internal maupun eksternal dengan tujuan meningkatkan daya tawar Partai Persatuan Pembangunan melalui peran nyata organisasi di tengah-tengah masya-rakat. Hal ini dilakukan melalui: pertama, peningkatan jalinan komunikasi dan ko-ordinasi dengan instansi pemerintah dan lembaga-lembaga lain, seperti Organisasi Kemasyarakatan (Ormas), Organisasi Po-litik (Orpol), Organisasi Kepemudaan, Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM), pondok pesantren, dan Muspida Provinsi Jawa Timur yang memiliki keterkaitan dengan program dan kebijakan organisasi Partai Persatuan Pembangunan. Kedua, peningkatan jalinan komunikasi dan ko-ordinasi internal organisasi baik secara vertikal maupun horizontal. Ketiga, me-ningkatkan jalinan komunikasi dan ker-ja sama dengan Pimpinan Ranting, pinan Anak Cabang, dan Dewan Pim-pinan Cabang. Keempat, mengupayakan jalinan kemitraan dengan instansi terkait dengan program khusus.
Ada beberapa contoh kasus ba-gaimana Partai Persatuan Pembangunan Provinsi Jawa Timur, mendengar, me-nampung, dan menyalurkan aspirasi ma-syarakat, seperti kunjungan anggota DP-RD ke luar negeri, sebagaimana pem-beritaan media massa terhadap kegiatan dan kinerja anggota legislatif yang sudah semakin tidak proporsional, menjadikan hampir seluruh kegiatan dan kunjungan kerja anggota DPRD ke luar negeri men-jadi sorotan kalangan pers. Pemberitaan yang berlebihan akan semakin membuat terpuruknya citra DPR di masyarakat.
Untuk menghindari timbulnya persepsi masyarakat yang negatif terha-dap anggota dewan dan menghindari penilaian konstituen yang negatif
terha-dap fraksi Partai Persatuan Pembangu-nan Jawa Timur, pimpiPembangu-nan fraksi dan DPW PPP Jawa Timur telah mengambil kebijakan yang menetapkan pelarangan bagi anggota fraksi PPP untuk mela-kukan kunjungan ke luar negeri.
Apabila terdapat keinginan ang-gota yang bersangkutan dan atau kebi-jakan alat kelengkapan dewan dengan alasan tertentu untuk tetap melaksanakan kunjungan kerja ke luar negeri, kepada anggota fraksi PPP yang bersangkutan dapat mengajukan izin tertulis kepada Ketua Dewan Pimpinan Wilayah Partai Persatuan Pembangunan Provinsi Jawa Timur.
Contoh kasus lainnya berkenaan dengan penyaluran aspirasi masyarakat, setelah mendengar dan menampungnya, oleh Partai Persatuan Pembangunan Pro-vinsi Jawa Timur adalah kasus aliran Ahmadiyah. Fraksi Partai Persatuan Pem-bangunan memberikan sikap terhadap keberadaan aliran Ahmadiyah, setelah menerima masukan dari berbagai pihak, baik secara struktural partai maupun menggali langsung dari masyarakat. Akhirnya, FPPP Jawa Timur melalui berbagai kesempatan telah secara tegas menyatakan, “bubarkan Ahmadiyah” karena dinilai telah melanggar Surat Keputusan Bersama (SKB) tiga Menteri yakni tetap menyebarkan ajaran-ajaran-nya dan secara prinsip telah melakukan penodaan agama.
172 | KARSA, Vol. 22 No. 2, Desember 2014 Banyak kalangan mengakui ada-nya kemajuan yang dicapai dalam pelaksanaan pelayanan ibadah haji terse-but, baik dari segi layanan, transportasi, akomodasi, maupun konsumsi. Jumlah jama’ah haji yang dapat menempati pemondokan di Ring I di Mekkah tidak kurang mencapai sekitar 70%, dan pada penyelengaraan haji tahun 2011 juga telah meningkat menjadi sekitar 85 % .
Bagaimana pola komunikasi poli-tik DPW PPP Jatim dalam mengelola aspirasi masyarakat yang telah terjaring.
Di dalam menjalankan penjaringan aspirasi, DPW PPP Jatim menggunakan tiga pola komunikasi politik, yaitu top down model, bottom up model, dan pola konvergensi (combination model). Pola ko-munikasi politik top down dilakukan oleh DPW PPP dengan langsung mengambil
policy tanpa harus dikonfirmasikan kepa-da konstituen terlebih kepa-dahulu. Artinya DPW PPP melalui rapat harian pengurus melakukan tindakan langsung terkait dengan sebuah policy. Ini bisa dikenal dengan istilah kebijakan (policy) dari atas ke bawah, yakni dari DPW diintruksikan ke DPAC, Ranting, dan konstituen partai.
Beberapa kebijakan yang diambil langsung oleh DPW PPP Jatim adalah terkait dengan penentuan sistem dan manajemen partai, termasuk juga dalam hal penataan penyaluran fungsi aspirasi masyarakat.
Komunikasi politik yang dila-kukan dengan pola top down biasanya digunakan dalam hal-hal yang mendesak dan tidak berkenaan langsung dengan konstituen. Sekretaris DPW PPP Jatim KH. Moh. Hasan Asy’ari, SH menga-takan:
Memang sesekali partai mela-kukan komunikasi politik secara
top down, karena memang tidak seluruh keputusan partai harus
dikonsultasikan dengan konstitu-en, ini pun juga terbatas pada hal-hal yang bersifat manajerial partai, termasuk bagaimana kita menjalin komunikasi politik dengan peme-rintah dan lintas partai.20
Pola top down ini juga dilakukan dalam komunikasi politik yang terkait dengan investasi, di mana dalam hal investasi DPW PPP Jatim telah meng-adakan rapat terbatas pengurus harian untuk menentukan rekomendasi apa yang akan disampaikan kepada peme-rintah Provinsi Jawa Timur melalui kepanjangan tangan partai di fraksi Partai Persatuan Pembangunan di DPRD Jawa Timur. Hal ini diungkapkan oleh Musyaffa’, ketua DPW PPP Jawa Timur, berikut ini:
Pola komunikasi politik yang si-fatnya top down ini kami terapkan dalam penanganan masalah-ma-salah yang terkait dengan man-deknya iklim investasi di Jawa Timur, di mana kami dari DPW melihat, ini harus segera ditangani dan kita tidak perlu menunggu laporan-laporan dari konstituen partai yang ada di bawah. Kita bisa langsung melihat dari laporan pertanggungjawaban Gubernur Ja-wa Timur atau data statistik.21
Dewan Pimpinan Wilayah Partai Persatuan Pembangunan Jawa Timur ju-ga menjaring aspirasi masyarakat lang-sung dari bawah yang dikenal dengan
pola komunikasi bottom up. Dulu istilah ini dikenal dengan “jaring asmara” (jaring aspirasi masyarakat). Pola ini digunakan untuk menentukan policy
partai yang sifatnya signifikan, seperti dalam penjaringan calon kepala daerah dan calon wakil kepala daerah, baik di tingkat provinsi maupun di tingkat kabupaten/kota seluruh Jawa Timur.
Pola bottom up memang telah dilakukan oleh DPW PPP Jawa Timur, seperti yang telah dituturkan oleh KH. Mujib Imron, ketua Lembaga Pemena-ngan Pemilu, sebagai berikut:
DPW PPP Jawa Timur dalam menentukan calon kepala daerah maupun wakil kepala daerah dalam pemilihan kepala daerah langsung, telah melakukan kon-vensi, di mana konvensi ini ber-tujuan untuk menentukan bakal calon kepala daerah dan wakil kepala daerah di seluruh Jawa Timur dari Partai Persatuan Pem-bangunan. Pemilihan ini dilakukan secara demokratis, meski kepu-tusan tidak diambil langsung saat konvensi, melainkan setelah itu ada musyawarah sendiri di ma-sing-masing DPC atau kepengu-rusan di tingkat kabupaten/kota.22
Terakhir, berkenaan dengan pola komunikasi konvergensi. Pola komuni-kasi politik konvergensi ini merupakan pola campuran antara top down dengan
buttom up. Dengan pola ini DPW PPP Jawa Timur menyerap aspirasi masya-rakat dan konstituen. Partai kemudian menindaklanjuti dengan rapat harian terbatas. Pola ini sudah dilakukan DPW
22 Wawancara dengan KH. Mujib Imron, Ketua Lembaga Pemenangan Pemilu, di Kantor Fraksi PPP DPRD Jatim, tanggal 14 Desember 2011.
PPP Jawa Timur terutama terkait dengan penentuan calon anggota legislatif di masing-masing daerah pemilihan yang tersebar di sepuluh Dapil di Jawa Timur. Dalam hal ini, DPC PPP di tingkat kabupaten memberikan rekomendasi ke-pada orang-orang untuk memperoleh tempat di setiap daerah pemilihan. Se-mentara DPW PPP Jatim yang akan menggodok, menetapkan, dan memu-tuskan siapa-siapa yang berhak menem-pati nomor urut di masing-masing Daerah Pemilihan (Dapil). Musyaffa’, ketua DPW PPP Jatim, menuturkan:
Memang kita menjaring aspirasi langsung dari DPC PPP, dan ke-mudian kita menentukan orang-orang yang ditempatkan sesuai dengan nomor urut di daerah pe-milihan dan itu wewenang penuh DPW untuk menentukan, meski bahan bakunya dari DPC.23
Pola konvergensi ini juga dilaku-kan oleh DPW PPP Jawa Timur, dalam hal penanganan masalah perizinan di Provinsi Jawa Timur. Dalam hal ini, setelah DPW PPP Jatim memperoleh data-data yang mencukupi barulah DPW PPP mengadakan rapat dan kemudian ditin-daklanjuti oleh fraksi PPP. Bisa jadi temuan data berasal dari konstituen, bisa juga langsung dari DPW PPP Jawa Timur.
Masing-masing pola komunikasi politik memang mempunyai kekuatan dan kelemahan. Untuk pola komunikasi politik top down, pola ini memang relatif sederhana dan tidak memakan banyak waktu dan biaya. Keputusannya pun bisa cepat diambil. Namun kelemahannya
174 | KARSA, Vol. 22 No. 2, Desember 2014 kadangkala ada keputusan atau kebijakan yang tidak tepat, maka seringkali menim-bulkan aksi protes dari DPC PPP atau bahkan konstituen. Karena itu pola top down sangat tepat bila digunakan untuk persoalan-persoalan managerial partai, bukan persoalan yang berdampak besar bagi konstituen. Pola top down ini lebih bagus digunakan untuk menentukan keputusan-keputusan yang sifatnya ku-rang strategis.
Pola bottom up merupakan sebuah pola komunikasi politik yang sangat ideal bagi partai yang mengedepankan demok-rasi, seperti Partai Persatuan Pemba-ngunan ini, sehingga keputusan-kepu-tusan partai berasal dari arus bawah dan kondisi riil para konsituen. Memang pola ini membutuhkan high cost (biaya mahal) dan memerlukan waktu yang panjang, namun hasil akhirnya bisa menjadi kepu-tusan yang bisa memuaskan semua pi-hak, karena keputusan diambil sesuai dengan aspirasi masyarakat/konstituen. Namun bila komunikasi politik dengan pola bottom up tetapi produk keputusan nya tidak memprioritaskan aspirasi ba-wah, maka konflik akan timbul sebagai aksi kekecewaan. Pola ini memang cukup baik bagi sebuah partai tetapi perlu diingat bahwa suara mayoritas juga belum tentu benar.
Untuk pola konvergensi adalah sebuah pola yang paling rumit karena harus berada pada dua track, yaitu atas dan bawah. Pola ini sangat tepat digu-nakan untuk keputusan-keputusan yang sifatnya kompromistis.
Perencanaan komunikasi politik DPW PPP Jawa Timur direncanakan oleh pengurus harian DPW PPP, biasanya dikemas dalam acara rapat pengurus harian DPW. Rapat perencanaan ini dibuka oleh ketua dan dicatat di agenda rapat oleh Sekretaris DPW PPP yang
kemudian hasil akhir dari keputusan rapat akan ditandatangani oleh pengurus harian DPW PPP sebagai peserta rapat dalam sebuah berita acara. Hal ini sesuai dengan apa yang telah dijelaskan oleh Sekretaris DPW PPP, KH. Hasan Asy’ari, SH:
Biasanya kita mengadakan rapat-rapat perencanaan kegiatan partai itu sekitar sebulan sekali yang di-hadiri oleh seluruh pengurus ha-rian. Termasuk di dalamnya kita membahas aspirasi yang masuk dan bagaimana merencanakan as-pirasi tersebut agar bisa diko-munikasikan kepada pihak-pihak yang terkait. Tidak jarang kita juga memanggil anggota dewan di pro-vinsi dan anggota legislatif di seluruh kabupaten/kota se Jawa Timur.24
Setelah direncanakan, kemudian ditindaklanjuti dengan pengorganisasian dengan terlebih dahulu memerinci detail komunikasi politik yang nanti diha-rapkan. Kemudian dibuatkan reko-mendasi siapa yang akan melakukan komunikasi politik tersebut. Bahkan ada juga dibentuk tim yang di-SK oleh DPW PPP Jatim untuk menangani beberapa persoalan yang harus ditangani lebih ekstra. Penjelasan ini sesuai dengan apa yang telah dipaparkan oleh Musyaffa’ kepada peneliti bertempat di Kantor DPW PPP Jawa Timur Jl. Kendang Sari 36 Surabaya:
Perencanaan yang sudah digodok
oleh pengurus harian kemudian baru dicari kira-kira siapa yang pantas mengemban amanat untuk menyampaikan komunikasi
tik. Tidak jarang anggota dewan yang berasal dari komisi yang sesuai dengan permasalahan diin-struksikan untuk all out menangani persoalan-persoalan tersebut, juga seperti kegiatan menjelang pemi-lihan kepala daerah, maka diben-tuklah tim khusus Pilkada. Pe-ngurus yang terpilih menjadi tim adalah orang-orang yang kompe-ten di bidang itu, sehingga diha-rapkan bisa menyelesaikan persoa-lan dan calon yang diusung Partai Persatuan Pembangunan menjadi pemenang.25
Implementasi atau pelaksanaan dari pengorganisasian politik bisa lang-sung ditangani oleh Fraksi Partai Persatuan Pembangunan yang ada di DPRD Jawa Timur. Biasanya FPPP mengadakan rapat terkait dengan isu dan instruksi yang diberikan oleh DPW PPP Jatim, seperti pemaparan dari Munjidah Wahab, ketua FPPP Jatim:
Instruksi yang berasal dari DPW PPP selalu kita follow up di tingkat FPPP dan kita langsung meng-eksekusi instruksi tersebut, bisa kita lakukan dengan mengkritisi berbagai kebijakan pemerintah dan penyelewengan yang berbau KKN, bisa juga dengan kita melakukan
loby dengan pemerintah, karena memang DPRD itu lembaga politik di mana sering kali penyelesaian-penyelesainnya juga secara poli-tik.26
25 Hasil wawancara dengan H. Musyaffa’ Noer, Ketua DPW PPP Jatim di Kantor DPW Jatim Jl. Kendang Sari 36 Surabaya pada tanggal 14 Desember 2011.
26 Hasil wawancara dengan HJ. Munjidah Wahab, BA, Ketua FPPP Jatim, di Gedung Indra Pura
Dewan Pimpinan Wilayah Partai Persatuan Pembangunan Jawa Timur juga melakukan monitoring dan evaluasi terkait dengan instruksi dan saluran aspirasi masyarakat yang sudah diberikan kepada Fraksi Persatuan Pem-bangunan Jatim. Apakah aspirasi-aspirasi dan instruksi sudah ditindaklanjuti dan dikerjakan oleh anggota FPPP DPRD Jatim atau belum. Sejauh manakah keberhasilan FPPP dalam menyalurkan aspirasi politiknya. Hal ini dilakukan de-ngan mengundang langsung FPPP dalam rapat pengurus harian DPW PPP Jatim. KH. Hasan Asy’ari, SH selaku sekretaris DPW mengungkapkan:
DPW sering memanggil anggota FPPP DPRD Jatim terkait dengan aspirasi dan instruksi DPW, apa-kah sudah ditindak lanjuti apa be-lum, termasuk juga apakah kenda-la-kendalanya, kemudian kita juga menanyakan bagaimana tingkat keberhasilannya, bila belum berha-sil kita susun lagi perencanaan dan skenario yang lain.27
DPW PPP Jawa Timur sudah mempunyai manajemen komunikasi poli-tik yang cukup baik, mulai dari peren-canaan program kerja, pengorganisasian, pelaksanaan, dan monitoring dan evaluasi dari komunikasi-komunikasi politik yang dilakukannya.
Di tingkat perencanaan, komu-nikasi politik berasal dari aspirasi masya-rakat dan juga rencana DPW PPP Jawa Timur harus melihat komposisi pengurus harian sebagai tim perencana. Apabila ada beberapa pengurus tidak dilibatkan
Ruang FPPP Jawa Timur tanggal 12 Desember 2011.
176 | KARSA, Vol. 22 No. 2, Desember 2014 dalam hal perencanaan, maka ini merupakan alasan terjadimya ketidak-utuhan partai serta solidaritas yang rendah dari pengurus yang teralienasi.
Sementara itu, pada level peng-organisasian, DPW PPP Jawa Timur sudah melakukan langkah-langkah yang cukup taktis, namun lebih sempurna apabila DPW PPP Jawa Timur melibatkan pakar-pakar dan tim yang berkompeten di bidang ilmu politik, sehingga bisa memberikan arahan dalam pengor-ganisasian, penyaluran aspirasi masya-rakat atau konstituen partai.
Penutup
Monitoring dan evaluasi komu-nikasi politik belum dilakukan dengan baik oleh DPW PPP Jawa Timur, karena beberapa kasus yang belum terselesaikan oleh FPPP juga masih belum ada tindak lanjut dari DPW PPP dan mekanisme pertanggungjawaban penyaluran aspirasi politik belum ada.
Karenanya, akan lebih baik bila manajemen komunikasi politik yang ada di DPW PPP Jawa Timur menggunakan buku pedoman politik sebagai acuan pe-laksanaan dan petunjuk teknis dalam berorganisasi partai khususnya Partai Persatuan Pebangunan, yang kemudian buku ini bisa disebarluaskan ke seluruh kader partai di Jawa Timur. Apabila langkah ini ditempuh oleh DPW PPP Jawa Timur, maka konstituen di grass root
tidak akan menemukan kesulitan untuk menyalurkan aspirasi politiknya.
Kemudian langkah berikutnya adalah pemberian reward bagi pengurus partai yang berhasil menyosialisasikan program kerja partai dan punishment bagi pengurus yang tidak aktif dalam kegiatan berpartai. Sehingga bisa dilihat mana kesuksesan dan mana kekurangan atau kegagalan komunikasi politik.[]
Daftar Pustaka
Almond, Gabriel. “A Developmental Approach to Political System”, dalam Comparative Political System,
ed. Louis J. Cantori. Boston: Holbrook Press, 1965.
Baswedan, Anies. “Kata Pengantar”, dalam Henk Schulte Nordholt dan Gerry van Klinken. Politik Lokal di Indonesia. Jakarta: YOI-KITLV, 2007. Blake, Reed H. & Haroldsen, Edwin O.
Taksonomi Konsep Komunikasi. Sura-baya: Papyrus, 2005.
Budiarjo, Miriam. Dasar-dasar Ilmu Politik. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama, 2003.
Deutsch, Karl W. The Nerver of Government, Glencoe. The free Press,1963.
Dunn, William. Pengantar Analisis Kebija-kan Publik (Edisi Kedua). Yogyakarta: Gadjah Mada University Press, 1999. Edwards III, George C. Implementing Public Policy. Congresinal: Quartely press, 1980.
Efendi, Anong Uchana. Dinamika Komuni-kasi. Bandung: Ramadja Karya, 1986. Ekowati, Mas Roro Lilik. Implementasi &
Evaluasi Kebijakan atau Program. Su-rakarta. Pustaka cakra SOLO, 2005. Gaffar, Affan. Otonomi Daerah. Jogjakarta:
Pustaka Pelajar, 2005.
Hardiman, F. Budi. “Ruang Publik Politis: Komunikasi Politis dalam Masya-rakat Majemuk.” Makalah dalam seminar politik lokal di Percik, 2005. Huntington, Samuel. Tertib Politik pada
Masyarakat yang Sedang Berubah.
Jakarta: Raja Grafindo Persada, 2003. Islamy, M. Irfan. Prinsip-prinsip
Perumu-san KebijakPerumu-sanaan Negara. Jakarta: Bina Aksara, 2001.
Meny, Yves dan Knapp, Andrew.
Government and Politics in Western Europe: Britain, France, Italy, Ger-many, third edition. Oxford: Oxford University Press, 1998.
Michels, Robert. Partai Politik: Kecende-rungan Oligarkis dalam Birokrasi. Jakarta: Penerbit Rajawali, 1984. Moekijat. Analisis Kebijakan Publik.
Ban-dung: Mandar Maju, 1995.
Monica dan Charlot, Jean. “Les Groupes Politiques dans leur Environement” dalam Traite de Science Politique, eds. J. Leca and M. Grawitz. Paris: Politiques, 1985.
Mustopadidjaja AR. Manajemen Proses Kebijakan Publik: Formulasi, Implemen-tasi dan Evaluasi Kinerja. Jakarta: Lembaga Administrasi Negara RI., 2003.
Nordholt, Henk Schulte dan Klinken, Gerry van. Politik Lokal di Indonesia.
Jakarta: Obor dan KITLV, 2007. Nugraha, Riant D. Kebijakan Publik”.
Elexmedia: Jakarta, 2003.
Nur, Zarkasih. Evaluasi pemilu 1999. Makalah dipresentasikan di DPW PPP Jawa Timur, 2000.
Oliver, Dawn. Constitutional Reform in the UK. Oxford: Oxford University Press, 2003.
Priyadi, Arief. “Amnesia Politik Partai Politik”. Analisis CSIS, Vol. 35, No. 1 (2006).
Priyatmoko. “Perubahan Perilaku Birok -rasi dalam Pelayanan Publik,” da -lam Penyiapan Stakeholder Lokal Pelak-sana Otonomi Daerah, ed. M. Asfar. Surabaya: CPPS dan Pusdeham, t.th.
Priyatmoko. “Restrukturisasi dan Pelem -bagaan Organisasi Pemerintah Ka-bupaten/Kota,” dalam Penyiapan Stakeholder Lokal Pelaksana Otonomi Daerah, ed. M. Asfar. Surabaya: CPPS dan Pusdeham, 2005.
Rozikin, Daman. Membidik NU Dilema Percaturan Politik NU Pasca Khittah. Yogjakarta: Gama Media, 2001.
Sanit, Arbi. “Demokrasi, Kekuatan Masyarakat, dan Strategi Alter-natif”. Dalam Reformasi Politik dan kekuatan Masyarakat, eds. Maruto MD dan Anwari MWK. Jakarta: LP3ES, 2002.
Soenarko. Public Policy; Pengertian Pokok Untuk Memahami dan Analisa Kebijak-sanaan Pemerintah. Surabaya: Air-langga University Press, 2000. Surapto, Bibit. Analisis Hasil PKB
Kabu-paten Malang Dalam Pemilu 1999 Dan Strategi Menghadapi Pemilu 2004. Program Master of Science in Mana-gement Notorthern California Glo-bal University, 2002.
Sutopo dan Sugiyanto. Analisis Kebijakan Publik (Bahan Ajar Diklatpim Tingkat III). Jakarta: Lembaga Administrasi Negara, 2001.
Wahab, Solichin Abdul. Analisis Kebijakan dari Formulasi ke Implementasi Kebijakan Negara. Jakarta: Bumi Aksara, 1991.
Winarno, Budi. Sistem Politik Indonesia:
Era Reformasi. Yogjakarta: MedPress, 2008.
Windelesham, Lord. ”What Is Political Communication”, dalam Mass Communication, ed. K.J. McGarry. Linnet Books & Cive Bingley, 1972.