Pemurnian dan
pembaharuan di
PEMURNIAN DAN PEMBAHARUAN DI DUNIA MUSLIM
Sebab-sebab Pemurnian dan Pembaharuan
Pemahaman yang benar terhadap Islam dan aspek yang ada pada-nya terkadang salah dipahami orang. Pada mula penyebarannya agama ini dipandang sebagai sesuatu yang aneh, radikal, dan tampak terbelakang sekali. Maka dalam memberikan pemahaman ini terhadap orang lain diperlukan dua buah proses yang sangat penting yaitu:
1. Memberikan informasi tentang pokok-pokok ajaran Islam yang univer-sal sehingga tidak ada anggapan atas bentuk persoalan keIslaman yang hanya dikuasai oleh segelintir manusia saja (mono Islam)
2. Menunjukkan universalitas gerakan-gerakan Muslim dan berbagai kebijakan yang lahir didalamnya seperti perbedaan pemikiran tentang wacana sosial, ekonomi, politik, dan penetapan hukum yang berbeda yang bertentangan antara aliran yang satu dengan aliran yang lainnya.
Maka dalam perjalanan sejarah peradaban Islam itu sendiri, umat banyak sekali mengalami kelemahan-kelemahan dalam berbagai bidang. Sejak abad 11 Masehi mulailah Islam dan semua gerakannya mengalami kemunduran. Muhammad Abduh menggambarkan kemerosotan tersebut terjadi karena warisan umat Islam yang berharga tidak dipergunakan dengan sebaik-baiknya. Kelemahan kaum Muslim menurutnya disebabkan oleh perpecahan umat Islam menjadi bangsa-bangsa kecil yang beragam sekte, keyakinan, dan saling bertikai demi kesetiaan pada pemimpinnya. Katanya pula, ajaran Islam menunjukkan bahwa nasib yang menimpa kaum Muslim merupakan cobaan dari Allah, sebagai hukuman atas ketidaktaatan mereka. Kemunduran masyarakat Muslim juga merupakan hukuman yang digambarkan dalam Al-Quran. Menurutnya pula inipun disebabkan oleh kebodohan umat Islam dan kesalahan dalam memahami hakekat iman, banyaknya perpecahan sektarian, adanya anggapan tentang tertutupnya pintu ijtihad, serta kesalahan pemimpin dalam mengambil arah kebijakan.
Dan pendapat ini beralasan sekali kalau bercermin kepada pecah-nya umat Islam untuk mempertahankan keyakinannya yang terka-dang hanya untuk membela kepentingannya belaka. Khawarij, Murji’ah, Mu’ta-zilah, Syi’ah, dan ASWAJA adalah bukti sejarah kalau memang telah terjadi kemerosotan-kemerosotan dalam kalangan Muslim. Pembahasan yang mereka kedepankan pun tidak hanya mengenai ekonomi, sosial, dan politik saja tetapi juga menyangkut masalah-masalah pokok yang menga-caukan pemikiran dunia Islam saat itu. Goncangan berat yang terjadi akhirnya membawa Muslim pada masa suram yang tak berkesu-dahan. Apalagi masa suram ini dihiasi denga pendapat yang sangat merugikan dunia Islam “tertutupnya pintu ijtihad”.
tempat mereka menenangkan diri belaka. Islam tidak lagi dipandang sebagai sistem sosial yang mampu menawarkan berbagai perpecahan masalah kemasyarakatan, atau sebagai sistem politik, yang berfungsi untuk menentukan arah kebijakan pemerintah. Gencarnya gerakan kapitalis dan liberalis dan disokong oleh kalangan Kristen, menja-dikan Muslim semakin jauh pada ajaran Islam dan berakhir dengan keti-dakberdayaan atas apa yang akan mereka perbuat. Maka lahirlah dari kalangan tersebut orang yang mencoba meluruskan dan melakukan perubahan kondisi yang ada. Namun dalam perjalanannya pula terkadang terjadi kesalahan-kesalahan yang sangat fatal.
Para guru, pemimpin spiritual, dan tokoh-tokoh tersebut dikultus-kan oleh para penganutnya sebagai orang yang mampu melepaskan penderitaan batin manusia dan sarana mencapai kebahagiaan saja. Ini adalah gejala awal pencaharian yang salah karena memang kalangan Muslim saat itu ada pada kondisi tertekan oleh gerakan-gerakan penin-dasan dari kalangan non Islam, ditambah lagi dengan kemerosotan kemerdekaan berpikir yang menyebabkan penjiplakan Muslimin pada budaya Eropa secara besar-besaran.
Usaha pada kalangan awam hanya pada tingkat pelepasan diri dari kondisi yang menekan saja. Mereka tidak tergugah untuk mencoba kembali pada ajaran Islam yang sesungguhnya. Mereka sangat terpenga-ruh sekali oleh slogan “ dunia adalah penjara orang-orang mukmin dan surga orang-orang-orang-orang kafir, dan orang-orang yang mencari kehidupan dunia adalah ibarat seekor anjing”.
Demikianlah kondisi yang terjadi saat itu. Mereka tidak mampu lagi menggunakan Al-Quran sebagai sumber kehidupan, dan akal sebagai sarana menjawab tantangan zaman. Sehingga pada akhirnya TBC (Takhayul, Bid’ah, dan Churafat ) menjangkit setiap jiwa Muslim. Akhlak masyarakat menjadi rusak dan pondasi akidah pun akhirnya rapuh. Kebenaran dan kebathilan saat itu bercampur aduk antara amalan agama Islam, kebudayaan yang salah dan agama lain. Ini disebabkan umat Islam hidup dalam fanatisme yang sempit. Umat Islam saat itu masih diwarnai oleh formalisme, ta’asub, dan sektarianisme. Inilah beberapa sebab yang mendorng banyak kalangan pada generasi-generasi berikutnya melakukan perubahan dalam wacana ajaran Islam.
Benih-benih Pemurnian dan Pembaharuan
Ketika kondisi mansyarakat yang rapuh dan terjebak dalam kondisi yang serba lemah tersebut, lahirlah sebuah angin pembaharuan yang memberi perubahan besar dalam tubuh Islam hingga akhir sekarang ini.
Muhammad bin Abdul wahab (115 H/1703-1972M) menggemakan suara pembaharuannya di daerah Najad, sebuah negri yang masih murni dalam menjalankan syariat agama Islam. Melihat kondisi umat Islam yang ada pada waktu itu mendesak dirinya untuk berusaha mengeluarkan mereka dari nuansa yang serba gelap tanpa petunjuk. Muslim saat itu terkena penyakit yang sangat parah dan harus segera diobati sebelum ajal menimpa mereka. Maka dengan semangat juang Islamnya ia pun menggerakan semua pemuda untuk memperbaiki dan membangkitkan kembali kemegahan dan kebesaran Umat Islam seperti masa-masa silam, membersihkan tauhid dari penyakit TBC, dan meluruskan amalan-amalan yang tidak bersumber dari Nabi Muhammad SAW dan Al-Quran.
Islam memang telah ada dalam kondisi yang memprihatinkan sekali. Bashrah yang menjadi sasaran dakwahnya menjadikan dirinya semakin kuat untuk menyampaikan ajaran Islam yang sebenarnya. Mereka yang ada pada negri tersebut tersinggung dengan berbagai kebudayaan yang Abdul Wahab anggap salah dan sesat serta telah keluar dari ajaran Islam. Kemarahan tersebut membuat mereka mengusirnya dari daerah tersebut.
Namun Abdul Wahab tetap bertahan dengan kebenaran yang ia sampaikan pada mereka, maka pengusiran pada dirinya pun tak dapat dihindari lagi. Mereka mengancam kepada Abdul Wahab untuk membu-nuhnya. Maka demi menyelamatkan perjuangannya yang belum selesai ia pun mengalah dan menyingkir pergi ke Al-Zabir untuk meminta suaka padanya sekaligus dukungan dalam gerakan pemurnian yang akan ia sampaikan.permintaannya ternyata tak sia-sia. Dengan sepenuh hati Al-Zabir memberikan dukungannya. Dukungan moral tersebut yang ia sampaikan kepadanya untuk sama-sama kembali pada Al-Quran dan Al-Hadis membuat Abdul Wahab kembali berkobar semangatnya untuk terus menyampaikan gagasannya. Ditambah lagi dukungan penuh pengeran Umar bin Muamar padanya semakin menambah wibawa dirinya di mata masyarakat saat itu.
Penghancuran tempat-tempat yang membawa kepada penyakit akidah dan bentuk sarana fisik pun mulai ia lancarkan dengan tanpa pandang bulu lagi. Pohon yang dianggap keramat, kuburan yang dianggap suci, dan semua benda yang dianggap memiliki tuah dan keramat ia han-curkan. Dan gerakan itu banyak sekali mendapat rintangan dari para ma-syarakat yang masih percaya pada tahayul, bid’ah dan churafat. Namun perjuangannya yang tak mengenal lelah mulai menampakkan hasilnya. sedikit demi sedikit umat Islam menyadari rapuhnya akidah yang mereka pegang saat itu. Maka berangsur-angsur mereka pun kembali kepada pada ajaran Islam dan berusaha memahami kebenaran Islam secara baik. Namun belum pulih mereka dalam memahami ajaran Islam, dan tunduk pada apa yang Abdul Wahab sampaikan terjadilah kehebohan yang luar biasa dengan dirajamnya seorang wanita yang melakukan perzinahan oleh Abdul Wahab.
Dalam kondisi pemikiran yang belum sempurna atas pemahaman Islam yang ia sampaikan terhadap mereka, marahlah masyarakat dan mengancam Abdul Wahab untuk mempertanggungjawabkan semuanya. Melihat kondisi yang tak menguntungkan ini akhirnya ia pun mengungsi ke Dahriah dan meminta perlindungan pada Muhammad bin Su’ud yang pada waktu itu menjabat sebagai Gubernur. Mengetahui bagusnya niat Abdul Wahab dalam melakukan dakwah maka ia menyampaikan dukungannya untuk menyebarkan pembaharuan itu di negri yang ia pimpin. Tidak hanya itu ia pun menberikan wewenang penuh untuk megadakan perubahan secara total.
Di sinilah pengaruh Abdul Wahab mulai diterima orang. Kerjasama antara Abdul Wahab dan keluarga Su’ud pada saat itu mulai menampakan hasilnya. Banyak pemuda dan masyarakat yang datang untuk belajar kepadanya. Usaha ini semakin luas setelah Najad dan Hajaz disatukan oleh Abdul Wahab.
Setelah pengaruhnya kuat di Najad ia pun pergi ke Hajaz dan melakukan pemurnian-pemurnian Mekkah yang pada saat itu pun terancuni akidah dan syariahnya. Di bawah pimpinannya ia melakukan pemberangusan besar-besaran dan membuahkan hasil dengan jatuhnya Hajaz yang ada pada kepemimpinan Syarif Hussain.
Islam. Mereka yang datang memandang bahwa keda-tangan Abdul Wahab memang untuk memperbaiki kepincangan-kepin-cangan sosial dan menghapuskan segala perbuatan yang menjerumuskan pada kemusyrikan.
Aspek-aspek Pembaharuan
Setelah kedatangan Abdul Wahab yang menghembuskan angin pembaharuan, maka mulailah lahir para tokoh pembaharuan lainnya yang gencar melakukan pembaharuan pula. Dalam menyampaikan angin ini mereka tidak hanya membawa aspek teologi saja melainkan pula hampir menyentuh ke segala bidang yang ada. Sebab memang pembenahan ini perlu dilakukan seluruhnya akibat rapuhnya kalangan Muslim dalam untuk menentukan masa depannya.
Abduh berpendapat bahwa untuk memulai pembaharuan dalam kalangan umat Islam, harus mengembalikan pada pokok-pokok keimanan yang dipandang sebagai Islam yang sebenarnya. Abduh juga menguman-dangkan agar tidak mengimitasi buta segala bentuk kebudayaan Eropa yang telah mewabah ke segala sektor.
Dan dalam menerapkan ajaran Islam, umat perlu selektif dalam menerapkan ajaran-ajarannya. Artinya, Abduh menyerukan agar umat Islam kembali dan berpegang kepada Al-Qur’an yang sudah pasti menggambarkan semua syariat Allah atas kehidupan manusia. Sebab Al-Quran secara gamblang menerangkan siklus kemunduran, kehancuran, kejayaan, dan kebinasaan suatu bangsa.
Dengan gambaran yang ada tersebut maka umat Islam diharapkan mampu melihat keadaan dan kejadian yang telah silam sebagai cerminan yang akan ia lakukan dikemudian hari. Di samping itu umat Islam juga berpegang teguh pada ajaran Nabi yang telah Beliau sampaikan kepada umatnya. Maka disinilah tugas para pembaharu untuk selalu mengedepan-kan pembaharuannya dan memotivasi umat agar bangkit dari keterpuru-kannya yang sudah begitu lama.
Ini perlu sekali diperhatikan oleh mereka sebab hingga saat ini kaum Muslim di berbagai dunia telah kehilangan kemerdekaan dan kemampuan untuk menentukan atau merancang nasib mereka sendiri. Oleh karena itu perlu sekali ditekanan kepada Al-Mujadid untuk berani tampil di pentas dunia dan membangun dengan gagasan-gagasan Qurani-nya sebagai sebuah sumbangan nyata terhadap peradaban Islam yang besar. Maka dari situlah Muslim akan mampu kembali bangkit dan meraih posisi unggul yang pernah dicapai oleh generasi-generasi sebelumnya pada masa Rasulullah dan para sahabatnya.
Ada beberapa aspek khusus yang perlu diperhatikan oleh setiap mujadid dalam usaha seruan pembaharuannya Al-Maududi menerangkan aspek-aspek tersebut sebagai berikut:
• Setiap Mujadid harus selalu melakukan pengamatan-pengamatan atas kekeliruan yang ada dan memperbaiki dengan cepat setiap macam penyimpangan-penyimpangan yang dilakukan kaum Muslimin.
• Seorang Mujadid harus mampu merencanakan dan merumuskan program yang tepat untuk kebangkitan peradaban Islam
• Mujadid mampu melakukan penafsiran yang teliti atas segala fenomena yang terjadi dalam masyarakat.
• Memberikan bentuk ide praktis pembaharuan yang dapat dipahami oleh masyarakat luas. • Selalu melakukan ijtihad yang menyeluruh yang berlandaskan ajaran-ajaran agama, pada
bidang hukum, kebudayaan, dan perubahan sosial yang terjadi.
• Mampu membela dan mempertahankan Islam dari permasalahan kebudayan dan ancaman berbagai pihak yang ingin menghancurkan eksistensi agama Islam.
• Menyuburkan kembali pola-pola hidup Islami pada seluruh aspek kehidupan. Sebab sistem yang dipakai Islam terbukti telah mampu menjawab semua tantangan dari masa ke masa. • Mujadid mampu menciptakan perubahan secara mendunia. Seorang pembaharu tidak boleh
lekas puas dengan keberhasilan hanya terbatas pada daerahnya saja, sebab keberhasilan pembaharuan belumlah selesai sebelum seluruh pelosok negeri merasakan pembaharuan tersebut. Sebab pembaharauan Islam pada hakekatnya adalah rahmatan lil amain yang mampu memberikan kesejahteraan pada seluruh jagad raya.
Adapun daam pelaksaaannya ada bebarapa target yang harus diperhatikan oleh Mujadid Muslim agar dapat menjadi acuannya dalam keberhasilan pembaharuan tersebut. Bidang itu antara lain:
• Kehidupan beragama, meliputi:
a. Penyuburan akidah umat Islam secara berkesinambungan b. Menegakan tasamuh (toleransi) agama Islam yang tinggi c. Menyelaraskan Akidah dan kemasyarakatan
d. Menjadikan agama sebagai usaha memperbaiki diri
e. Memberikan kebebasan pada semua orang kebebasan berakidah • Akhlak, mencakup di dalamnya:
a. Pembentukan masyarakat yang Humanis
b. Tata sosial masyarakat yang Islami (solideritas Muslim) • Ilmu pengetahuan dan pengembangan wawasan keIslaman • Kebudayaan dan Kesenian
• Ekonomi, Sosial, Politik.
Berhasilnya gerakan dakwah yang gemilang dalam aliran Waha-biyah adalah sebagai titik awal untuk terus kembali melakukan pemurnian-pemurnian akidah dan syariat pada kalangan Muslim di seluruh pelosok negri muslim. Di samping aspek-aspek di atas, ada beberapa prinsip yang harus disampaikan kepada kalangan luas sebagai usaha memberikan informasi yang jelas tentang ajaran Islam. Sebab tidak mungkin pembaharuan akan berjalan dengan baik kalau seandainya suara pembaharuan didengungkan kepada setiap Muslim namun tidak dapat dicerna apa lagi dikenal dengan baik.
Ini pun sebagai tuntutan agama Islam yang selalu menghadapi benturan dari masyarakat lain terutama Eropa dan masyarakat Kristiani. Agama Kristen dan budaya Eropa adalah ancaman yang yang sangat serius bagi kehidupan Muslim di saat saat sekarang ini. Maka seorang Mujadid yang bernama Abduh berusaha mengimbangi serangan mereka dengan memberikan petujuk kembali pada ajaran Islam dan prinsip-prinsipnya yang komprehensip.
Prinsip-prinsip Islam
1. Selalu melandaskan kepada dua sumber yang menunjukan manusia kepada keyakinan yang benar dan mampu menjawab segala bentuk masalah serta perubahannya yaitu Al-Qur’an dan Al-Sunah
3. Membuktikan kebenaran Islam dengan keterbukaannya atas berbagai macam interpretasi agama
4. Segala bentuk kebenaran harus dibuktikan dengan bukti-bukti yang nyata. Sebab kebenaran tanpa fakta terkadang melunturkan keyakinan masyarakat atas kebenaran tersebut
5. Islam memerintahkan untu menumbangkan otoritas agamawan, karena yang berhak menjadi otoriter adalan Allah Allah SWT atas manusia.
6. Melindungi dakwah dan menghentikan fitnah, perselisihan dan perpecahan.
7. Menciptakan solideritas Muslim yang kuat antar negara Muslim yang satu dengan negri lainnya di belahan dunia yang berlandaskan cinta dan kasih sayang.
Kebangkitan Dunia Islam
Secara operasional, kebangkitan Islam tidak lain adalah bahwa Islam-lah yang akan memimpin manusia sehingga tercapai kondisi rahmah bagi seluruh alam atau kondisi sejahtera bagi manusia dan lingkungannya. Bagaimana Islam mampu memimpin manusia? Jawabannya adalah tentu melalui prilaku manusia yang memiliki kemampuan menggerakan arah kehidupan bermasyarakat itu. Manusia tersebut dalam proses kepemimpinannya dengan tegas menerapkan nilai-nilai Ilahiyah yang memang bersumber dari Allah SWT sehingga dinamika kehidupan sosial menjadi kehidupan yang alami. Oleh sebab itu, kebangkitan Islam secara lebih operasioanal diartikan sebagai era/masa dimana pemimpin suatu sistem sosial mengarahkan kehidupan masyarakatnya menuju suasana yang sesuai dengan tuntutan Allah SWT.
Dalam menentukan kebangkitan Islam ada beberapa periode yang dalam perjalanan sejarahnya, umat Islam harus mengetahui dengan baik sehingga menjadi cerminan di masa yang akan datang bahwa mereka (muslim) pernah mengalami jatuh bangun dalam mempertahankan atau kembali merebut masa keemasan yang telah terampas oleh kaum penjajah.
Rasulullah yang telah berhasil menjalin begitu bunga rampai gemi-lang masa kejayaan Islam, serta para Khalifah Al-Rasyidun dengan para sa-habat-sahabat setelahnya telah menjadikan umat Islam terlena dan hanya membanggakan cerita-cerita kejayaan tersebut dan lupa untuk terus mengadakan dan mencapai masa yang gemilang lagi dari para pendahu-lunya.
Akibat pembanggaan buta yang tidak diiringi dengan perbuatan nyata tampaklah betapa Muslim jatuh bangun dalam mewujudkan cita-cita tersebut. Maka fenomena tersebut jelas dalam periodisasi kebangkitan dan keruntuhan perjuangan Islam, serta cita-cita untuk kembali mewujudkan impian revival of Islam.
Adapun secara rinci dapat dilihat bahwa jatuh bangunnya muslim tampak pada pembagian masa tersebut baik jaya atau pun tumbangnya dengan periodisasi tersebut dibawah ini:
Pertama : Abad ke 7-10
masa di mana Islam benar-benar telah menjadi sistem hidup masyarakat dan menjadi landasan hukum ketatanegaraan, konsekwensi kalangan Muslim dalam menjalankan syariat Islam membuat mereka mampu bertahan hingga 300 tahun lamanya. Dan inilah contoh ideal bentuk masyarakat madani yang pernah ada dalam peradaban manusia. Kebebasan beragama, bekerja, dan menca-pai apa yang diinginkan adalah bukti nyata sebuah masyarakat yang telah berperadaban tinggi.
Kedua : Abad 10-11
Gerakan kaum salib yang mengadakan perubahan besar-besaran pada setiap bentuk kebudayaan dan tata sosial masyarakat sangat mempengaruhi sekali pada pola-pola kehidupan Muslim yang telah ada pada saat itu. Contoh masyarakat ideal yang per-nah digambarkan Nabi saat itu dan periode setelah beliau membuat umat Islam lupa pada niat kalangan munafik yang ada dalam tubuh Islam yang hanya sekedar mencari keuntungan dan kemegahan dalam agama tersebut. Penyalahgunaan sistem, hukum, wewenang, dan pemahaman secara sepihak semakin menjauhkan kalangan Muslim untuk menemukan hakekat Islam yang sebenarnya. Dari merekalah terlahir gagasan-gagasan yang sangat merugikan umat Islam. Mereka menyebarkan isu tertu-tupnya pintu ijtihad dan pengaruh bidah, tahayul, serta khurafat hingga pada akhirnya Muslim terjebak dalam masa kegelapan yang diikuti dengan taklid buta atas penjiplakan budaya-budaya Eropa yang sesat.
Ketiga : Abad 11-15
Setelah umat Islam mengalami kejayaan yang luar biasa, mereka lupa untuk terus menata diri agar Islam mampu memberikan eksistensinya pada kalangan luas. Kelupaan yang mendasar demikianlah yang membawa umat Islam terjerembab dalam jurang kebodohan dan kegelapan peradaban. Ditambah lagi dengan pengaruh asing terutama kalangan Kristiani dan Yahudi untuk menekan semua kegiatan muslim dalam bergerak dan berdakwah sebagai ciri agama ini semakin menjadikan muslim semakin terkubur dalam liang yang sangat gelap dan dalam. Kalau pada masa Nabi mereka adalah umat yang berbudaya tinggi, dengan etos kerja yang sangat luar biasa dan kretivitas yang tiada taranya maka pada abad ini mereka adalah penonton-penonton yang hanya bisa mengekor dan menjadi korban kebudayaan. Hampir sekitar empat abad lebih mereka ada pada masa kegelapan ilmu dan peradaban. Penjajahan umat lain terhadap umat Islam menambah mereka akhirnya semakin sulit untuk keluar dari nilai-nilai spirit of Islam. Selama kurun waktu iu pula kaum Muslim benar-benar tidak memiliki ruh jihad lagi untuk keluar dari kondisi seperti itu. Mereka hanya menunggu nasib dan kehancurannya tanpa ada usaha untuk keluar dari belenggu kebodohan. Dan kemunduran itu tidak hanya pada bidang pengetahuan saja, melainkan pula merebak pada hampir seluruh bidang sampai bentuk sosial, budaya, politik bahkan akidah. Pada masa ini pula nilai-nilai Islam mulai pudar, dan sebagai penggantinya kemusyrikan merajalela ke seluruh segi kehidupan.
Keempat : Abad 15-19
terpuruklah umat Islam pada abad-abad tersebut. Ditambah lagi kemampuan Eropa yang berhasil me-ngembangkan kemampuan militer semakin sempurna untuk mengubur umat Islam pada jurang kehancuran. Serta teknologi yang handal dengan berhasilnya dibuat mesin-mesin yang mampu mendorong kerja manusia untuk lebih baik lagi.
Kelima : abad 19 hingga sekarang
Tepat pada akhir-akhir abad 19, ketika penjajahan semakin merajalela, penjarahan terhadap negri Islam yang semakin mem-babi buta, dan penindasan-penindasan di luar kemanusiaan yang dilakukan oleh bangsa-bangsa Barat dan eropa melahirkan berbagai kalangan kalangan yang ingin keluar dari kondisi demi-kian. Diawali oleh Jamaluddin Al-Afgani, ia merintis moderenis-me Islam dan mengobarkan semangat anti penindasan dan penja-jahan mampu memberikan angin segar pada kalangan Arab dan non Arab pada saat itu yang ada dalam cengkeraman kaum penjajah. Semangatnya untuk membebaskan diri dengan semboyan solideritas Muslim internasional melahirkan berbagai gerakan kemerdekaan di seluruh penjuru dunia. Ia pun menyeru Muslim untuk bersatu bahu membahu untuk melawan dan melepaskan diri dari penindasan. Maka mulailah dari situ muncul dan menjamur ide-ide pembaharuan di segala pelosok negri muslim yang terjajah. Mereka yang tercerahkan pemikiran Al-Afgani terus mengumandangakan ide-idenya. Dari situ pula satu persatu semua negri Muslim bangkit dan berhasil dalam melakukan perlawanan-perlawanan terhadap kalangan koloni-alis. Apalagi Abu A‘la Al-Maududi berhasil merumuskan gaga-san-gagasan revival of Islamnya secara internasional. Semakin memberikan kesempatan pada daerah Muslim yang terjajah un-tuk lepas dari kungkungan kekejaman dan kebiadaban mereka.
Dari periodisasi yang telah disebutkan diatas maka tampaklah bahwa kini umat Islam mulai melakukan suatu siasat untuk kembali pada masa keemasan yang telah diraih sebelumnya. Pembaharuan-pembaharuan yang dikumandangkan adalah bukti bahwa memang telah lahir benih-benih untuk kembali pada masa keemasan yang telah direbut bangsa Eropa. Islam dengan segala bentuk sistemnya mulai menampakkan kekuatan dan keunggulannya dalam menjawab segala aspek kehidupan sosial yang ada.
Keuniversalannya dalam menjawab tantangan hidup adalah bukti bahwasanya memang sistem di luar Islam lemah dan tak mampu bertahan kalau tidak disokong oleh kekuasaan yang ada.
Alasan ini bukanlah hanya sebagai usaha memberikan harapan kepada Muslim belaka, tetapi lahir dari musuh-musuh Islam yang secara jujur mengakui keunggulan Islam bila dibandingkan dengan ideologi lainnya di dunia.
Seorang orientalis barat bernama Lothrop Stoddrad mengatakan bahwa Islam memiliki tiga sumber yang mampu menghasilkan tenaga yang luar biasa untuk merubah dunia Islam yaitu pertama: watak bangsa Arab yang tak mau ditindas, dihina, apalagi dijajah kehormatannya. Kedua, ketertekanan bangsa Arab dan non Arab yang menciptakan sebuah solideritas internsioanal serta tujuan yang sama untuk menentang imperialisme dan kolonialisme. Ketiga, inti hakekat ajaran Nabi Muham-mad yang telah mengakar pada setiap jiwa kaum Muslim dalam membela dan mempertahanakan ajaran Islam sampai titik darah penghabisan.
Angin pembaharuan yang dibawakan tokoh-tokoh pembaharuan benar-benar menghasilkan kekuatan yang luar biasa. Di seluruh benua, Muslim mengadakan perubahan tersebut dan berusa kembali menemukan identitas pribadinya yang telah lama tercemar oleh budaya Barat yang kering dan kosong.
yang gemilang dan terbebas dari cengkraman bangsa Eropa. Negara Muslim yang memproklamirkan diri sebagai bangsa yang bebas antra lain:
• Indonesia (1945) dari Belanda
• Iraq (1945) dari Inggris
• Syiria (1946) dari Perancis
• Republik India (1947) • Republik Pakistan (1947)
• Libya (1952)
• Sudan (1955)
• Maroko (1956)
• Malaya & Tuniasia (1957) • Guinea & Mauritania (1958) • Cameroon di Afrika Tengah • Chad , Senegal, Dahomey,
• Pantai Gading, Mali, Teger, Nigeria, • Togo, Volta Hulu dan Somalia
• Al-Zajair (1962)
• Malaya (1963)
• Gambia (1965)
• Bahrun (1971)
• Serawak (1984)
Kemerdekaan bangsa Muslim itulah yang pada akhirnya menum-buhkan solideritas Muslim internasional untuk saling bahu membahu melawan setiap bentuk imperalisme dan kolonialisme bangsa Eropa. Maka mulailah terbuka kalangan Muslim untuk menemukan kembali masa yang telah terampas oleh kalanga penjajah. Ditambah lagi dalam kalangan Muslim mulai tumbuh beberapa kesadaran yang semakin membawa mere-ka ke arah perubahan yang baik. Lahirnya kesadaran di berbagai bidang adalah landasan dari kemajuan tersebut. Adapun kesadaran yang lahir pada saat itu antara lain:
Kesadaran berideologi
Pembenahan yang dilakukan oleh para pembaharu Islam adalah seruan untuk kembali pada ajaran Islam yang sesungguhnya. Seruan ini berupa anjuran untuk menjadikan Islam sebagai way of life Muslim. Muslim yang selama ini ada dalam kungkungan bangsa Eropa menyebabkan mereka melakukan imitasi atas segala kebudayaan yang ada pada bangsa Eropa tersebut. Ditambah lagi Liberalisme dan Kapitalisme semakin menjauhkan umat Islam dari syariat-syariat Islam. Berangkat dari sini pula dan solideritas yang tinggi untuk kembali pada kalimat sama yaitu Pengakuan Terhadap Allah Yang Esa berhasil menumbuhkan kesadaran dan keyakinan yang paripurna.
Kesadaran Berpolitik
Politik sebagai kendaraan Muslim untuk mencapai cita-cita Islam adalah salah satu usaha untuk merealisasikan keinginan tersebut. Tekanan yang kini terbebas dari kalangan Eropa membuat kaum Muslimin berani untuk kembali meluruskan apa yang sebenarnya telah terjadi berupa penyimpangan-pemnyimpangan dalam tubuh pemerintah. Abduh salah seorang pembaharu Islam mengatakan bahwa bukan kondisi pemerintah yang kejam saja dan tak berprikemanusiaan, tetapi juga para pemuka agama yang sudah masuk dalam tubuh pemerintah. Para pemuka agama tersebut tidak lagi berani untuk menegur penguasa yang salah dalam menetapkan kebijakan-kebijakan politik yang diputuskan oleh penguasa.
Di samping itu pula ini adalah kemunduran dalam agama Islam yang tidak mau terjun ke dalam dunia politik. Anggapan yang salah tentang itu terlahir karena dalam politik terkadang mencampuradukan yang hak dan yang bathil. Sebab tak ada teman yang abadi dalam politik, atau pun lawan yang abadi, tetapi kepentingan abadilah yang ada di dalamnya. Abduh mengatakan bahwa sangat penting dalam kehidupan umat adalah persatuan politik dan keadilan. Maka perpecahan yang terjadi dalam Islam adalah karena hilangnya kesadaran pemimpin akan cita-cita Islam yang luhur.
Atas kritikan yang tajam itulah maka umat Islam bahu menbahu membenahi kekuragannya untuk merangkul seluruh kalangan sebagai usaha menuju bentuk masyarakat yang berkeadilan dn berkemanusiaan.
Maka pada tahun 1945 berdirilah sebuah organisasi kenegaraan pertama yang terdiri dari bangsa Arab sebagai usaha menggalang solideritas Muslim internasioanl dan usaha mengembangkan kebudayan serta peradaban Islam yaitu:
• Al-jazair • Bahrain • Mesir • Iraq • Yordania • Aman • Kuwait • Libanon • Lybia • Mauritania • Maroko • Qatar
• Saudi Arabia • Somalia • Sudan • Syiria • Tunisia
• Serikat Emirat Arab • Repulblik Yaman
• Republik Demokrasi Rakyat Yaman
Pada perkembangan selanjutnya mulailah bermunculan berbagai organisasi di dunia Islam yang semuanya bertujuan untuk menciptakan kemajuan-kemajuan Islam. Antara lain
a. World Moslem League yang memfokuskan semua aktifitasnya pada bidang pendidikan
sosial dan dakwah. Organisasi ini didirikan pada tahun 1962.
b. Pada tahun 1970 berdiri pula organisasi penggalangan dana solideritas Muslim untuk membantu meringankan beban negri Muslim yang dilanda krisis. Organisasi ini bernama Islamic Soliderity Funds.
Kesadaran dalam memahami ajaran Islam dan Aspek-aspeknya
Dalam memahami masalah ini umat Islam mampu untuk membe-dakan mana sebuah syariat atau kebudayaan. Hingga pada akhirnya Muslim mampu menjawab segala bentuk dimensi Islam dari berbagai sisi. Mereka memahami bahwa syariat Islam diturunkan Allah untuk manusia agar mereka dapat mencapai kemaslahatan. Tujuan-tujuan tersebut adalah yang disebut Al-Maqasid As-syariyah. Menurut Imam Al-Ghazali, kemas-lahatan bagi manusia akan dapat tercapai apabila terjaga dan terpelihara lima hal yaitu: agama, jiwa, akal, keturunan, dan harta. Kelima hak tersebutlah yang menjadi pokok tujuan syariat berupa: perintah, larangan, dan kebolehan mengerjakan sesuatu yang datang dari Allah dan selalu mengacu pada usaha agar kelima hal tersebut syariat-syariat Islam mem-punyai ciri-ciri khusus, diantaranya adalah sebagai berikut:
a. Hukum-hukum yang diterapkan bersifat umum, sehingga terbuka kemungkinan berijtihad terhadap suatu hukum yang disesuaikan dengan perkembangan zaman dan dinamika masyarakat.
b. Hukum-hukum yang ditetapkan didasarkan atas pertimbangan-pertim-bangan keagamaan dan akhlak
c. Adanya balasan rangkap yang diperoleh karena melaksanakan hukum itu, yaitu balsan di dunia dan di akhirat.
d. Hukum-hukumnya bersifat kolektif, ditetapkan untuk kepentingan dan kemaslahatan umum.
Syariat Islam pada dasarnya tidak memberatkan manusia. Karena, penetapannya ditempuh melalui pertimbangan yang mendasar, diantaranya adalah:
a. Segala hukum yang ditetapkan tidak memberatkan
b. Penetapan suatu hukum yang ditujukan untuk mengubah suatu kebiasaan buruk dalam masyarakat dilakukan secara berangsur-angsur.
c. Penetapan suatu hukum sejalan dengan kebutuhan dan kebaikan orang banyak
d. Hukum ditetapkan berdasarkan persaman hak dan keadilan yang merata bagi semua orang. Selain itu Muslim dalam memandang ajaran ini tidak hanya terpatok pada sebuah bentuk yang ada. Hingga tidak ada kesan bahwa yang dinamakan Islam adalah Shalat saja, atau zakat, atau haji, atau puasa di bulan ramadhan.
Wawasan Muslim sekarang sudah semakin mapan dengan banyaknya kajian-kajian ilmiah yang menerangkan apek-apek Islam seba-gai agama yang mampu memberikan solusi pada setiap perubahan zaman. Sebab dalam Islam ada beberapa aspek yang yang menjadikan agama ini akan selalu sesuai dalam kondisi yang bagaimana pun. Aspek itu adalah:
Aspek Akidah
akidah adalah masalah supranatural yang tak dapat dibuktikan dengan empiris. Manusia hanya di tuntut ketaatannya terhadap apa yang Allah berikan pada para Nabinya berupa risalah kenabian dan kerasulan agar manusia mencari jawaban dari apa yang mereka bawa. Maka diberikanlah agama untuk mengatur semua itu.
Aspek Ibadah
Aspek ibadah yang mempunyai pengertian umum yang mencakup seluruh prilaku manusia yang dilakukan semata-mata untuk mencapai ridha Tuhan dan pengertian khusus yang diwujudkan dalam bentuk amalan-amalan yang secara langsung menyangkut ketaatan kepada Allah SWT. Misalnya, shalat, puasa, dan zakat.
Ibadah dalam Islam bertujuan untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT. Dalam aspek ibadah terdapat banyak madzhab. Di antara mazhab tersebut, ada empat madzhab yang terkenal, yaitu mazhab Maliki, Hanbali, Hanafi, dan Syafi’i. Mazdhab maliki bercorak teradisional dengan mengambil pemikiran imam Malik. Mazhab Hanafi bercorak rasional dengan mengambil pemikiran Abu Hanifah atau Imam Hanafi. Mazhab Hanbali bercorak tradisional dengan mengambil pemikiran Ahmad bin Hanbal atau Imam Hanbali. Mazhan syafi’i menggabungkan pendekatan rasional Imam Hanafi dengan pendekatan tradisional imam Malik.
Timbulnya perbedaan pendapat antara satu mazhab dan mazhab lain disebabkan adanya perbedan pemahaman atau penafsiran terhadap ajaran-ajaran dasar yang terdapat dalam Al-Quran dan Al-Sunah.
Aspek Hukum
Dalam Islam hukum datang dalam bentuk global. Hal ini dimaksudkan agar hukum-hukum itu tidak terlalu kaku dalam mengatur masyarakat. Dengan demikian, hukum-hukum Islam lebih fleksibel, tidak keting-galan zaman, dan dapat diaplikasikan di segala tempat dan aman. Menurut Abdul Wahab Khallaf (guru besar hukum Islam Universitas cairo), ada 368 ayat hukum dari seluruh ayat yang terkandung dalam Al-Quran. Aspek hukum itu mencakup ajaran-ajaran: Hidup, Kekeluargaan, Perkawinan, Perceraian, Hak Waris, Perdagangan, Jual Beli, Sewa-Menyewa, Pinja-Meminjam, Gadai, Perseroan, dan lain-lain.
Aspek Tasawuf
Ajaran-ajaran tasawuf yang membawa manusia lebih mendekatkan diri pada tuhan bertujuan untuk memperoleh hubungan langsung dengan Tuhan, sehingga disadari benar bahwa seseorang berada di hadirat tuhan. Ini dipraktekan oleh orang Islam yang belum merasa puas hanya dengan mendekatkan diri kepada Tuhan melalui ibadah-ibadah seperti shalat, dan puasa. Mereka ingin lebih dekat lagi kepada Tuhan, bahkan bersatu de-ngan Tuhan.
Aspek filsafat
Pemikiran-pemikiran ini terbagi dalam dua aliran, yaitu aliran yang bersifat tradisional dan aliran yang bersifat liberal.
Aspek Politik
Masalah-masalah politik dalam Islam pada mulanya berpangkal dari masalah penentuan pengganti Nabi Muhammad SAW dalam urusan agama dan negara. Dalam hal ini muncul beberapa aliran politik dalam Islam, yaitu Khawariz, Sunni, dan Syiah. Aliran khwariz berpendirian bah-wa Islam adalah agama yang serba legkap dan mengatur segala aspek kehidupan manusia, termasuk kehidupan bernegara. Menurut aliran ini sistem kenegaraan yang harus dikembangkan Islam adalah sistem yang telah dilaksanakan oleh Nabi Muhammad SAW dan Khulafa Rasyidun. Sementara itu, aliran sunni berpendirian bahwa Islam tidak ada hubu-ngannya dengan negara; Nabi Muhammad SAW, sebagai mana rasul-rasul sebelumnya, hanya berfungsi sebagai rasul-rasul, tidak sebagai kepala negara. Adapun aliran Syiah disatu sisi menolak pendapat yang mengatakan bahwa Islam adalah agama yang serba lengkap dan di sisi lain menolak pendapat yang mengatakan bahwa Islam tidak ada hubungannya dengan kehidupan bernegara.
Aspek Sejarah dan Kebudayaan
Dalam hal ini Islam selalu mengikuti zaman dan selalu memberikan sumbangan yang nyata dalam memberikan bentuk kebudayaan Islami. Al-Quran yang hampir seluruhnya menceritakan masalah sejarah dan kisah-kisah masa Islam adalah bukti bahwa memang setiap orang harus berkaca pada apa yang telah lalu untuk menjadi pedoman baginya dalam mela-kukan tindakan di masa yang akan datang. Sebab Al-Quran memberikan contoh kebangkitan suatu bangsa dan kehancurannya, dan lain sebagai-nya.
Aspek pembaharuan dan pemikiran
Pergolakan pemikiran yang ada sekarang adalah menunjukan bahwa Muslim mampu memberikan kontribusi yang besar dalam memba-ngun sejarah peradaban dunia. Bahkan Eropa yang pada saat itu ada dalam masa kegelapan mampu keluar karena tergugah dengan semangat Islam dan kehebatan pola-polanya sebagai agama dan sistem.
Aspek Syariat Dan Perundang-Undangan
Selain itu Islam dengan kesempurnaannya mempunyai karak-teristik yang sangat luar biasa hingga ia tidak lapuk dimakan oleh masa dan kondisi. Ia akan selalu sesuai dengan perubahan zaman dari generasi ke generasi. Aturan dan pandangan hidup yang didalamnya tidak akan basi karena perubahan global yang ada. Karakteristik itulah yang dipan-dang oleh Dr. Yusuf Qardhawi sebagai bukti keotetikan agama Islam dibandingkan dengan agama-agama samawi lainnya yang telah banyak mengalami perubahan. Karakter itu adalah:
Rabani (Ketuhanan)
Syariat Islam punya keistimewaan yang membedakannya dari syariat (undang-undang) buatan manusia, yaitu ia bersifat Rabbaniyah yang bercelupkan diniyah (keagamaan) dimana pengundang-undangan-nya terbungkus oleh kesucian yang tiada taranya dan menanamkan kepa-da para penganutnya rasa cinta dan hormat yang bersumber dari mata air keimanan dengan kesempurnaan, keluhuran dan kelanggengannya, bukan bersumber dari rasa takut terhadap kekuasaan para aparat. Karena pembu-at undang-undang dan hukum ini bukanlah orang atau manusia yang ke-mampuannya terbatas dan terpengaruh oleh kondisi, tempat dan waktu dan terpengaruh oleh hawa nafsu, perasaan, dan pertimbangan kemanu-siaan.
Pembuat undang-undang ini adalah Zat yang mencipta dan memiliki makhluk, pengatur semesta alam ini, yang menciptakan umat manusia, Maha Mengetahui apa yang bermanfaat dan apa-apa yang mashlahat serta yang dapat memperbaiki. Oleh karena itu sifat rabani yang terdapat dalam agama inilah maka tampak pada penganutnya sebagai sebuah ketaatan yang luar biasa. Mereka menghormati undang-undang tersebut dengan penghormatan yang sangat hebat, bahkan sampai mengorbankan nyawa mereka.
Ini adalah hal yang tidak didapatkan dalam hukum dan undang-undang yang sengaja dibuat manusia atau hasil gubahan. Sebab dalam pandangan Muslim kepatuhan dalam menjalankan undang-undangan ini adalah ibadah kepada Allah SWT dan merupakan taqarrub kepada-Nya yang merupakan tuntutan Iman dan Islam. “Maka tidak demi Rabbmu mereka beriman sehingga mereka menjadikanmu sebagai hakim pemutus atas apa-apa yang mereka perselisihkan kemudian mereka tidak mendapatkan rasa sempit dada pada diri mereka dari apa yang kau putuskan itu serta pasrah sepasrah-pasrahnya (Q.S Annisa 65).
Sikap seperti ini dapat dilihat dalam sejarah pada zaman Rasul SAW. Seseorang yang telah lalai dengan Allah dan melakukan perbuatan zina secara sembunyi-sembinyi datang sendiri menghadap Rasul dan mengadukan semua perbuatannya dan rela atas keputusan yang ia dapatkan dari Rasul. Betapa hebat jiwa Rabbani yang mengikat pada dirinya hingga sesuatu yang tidak tampak pada perbuatannya terhadap pandangan manusia ia adukan. Bahkan dengan keimanan yang sangat luar biasa meminta dihukum atas perbuatan itu agar pada hari kiamat nanti ia menghadap Allah dalam keadaan suci.
Begitulah umat Islam hidup di sepanjang masa-masa kejayaan dan kemerdekaannya di bumi mereka, menerima dan mengamalkan syariat ini pada umumnya, khususnya hukum-hukum hudud.
Akhlaqiyyah (Moralitas)
Syariat juga mempunyai keistimewaan membentuk akhlak dan moral dalam seluruh aspeknya, sebagai buah dari sifat rabaniyahnya. Dengan demikian syariat lebih mengutamakan akhlak dengan seluruh apa yang tercakup didalamnya. Ini sesuai dengan firman Allah yang mengata-kan “Sesungguhnya aku diutus untuk menyempurnkan Akhlak”. Disini jelas perbedaan antara syariat dan Qonun dari sisi kandungan dan tujuannya. Kandungan Qonun adalah serangkaian hak-hak pribadi dan perorangan sementara syariat dan fiqih mencakup sekumpulan Taklif ( tugas ).
Adapun dari segi tujuan, Qonun punya tujuan yang bermanfa’at, yaitu langgengnya dan teraturnya muammalah dengan rapih, juga tertatanya hubungan antar sesamanya. Adapun syariat, disamping memelihara kelanggengan masyarakat dan keteraturan hubungan sesama-nya, juga merealisasikan nilai-nilai luhur dalam kehidupan umat manusia, mengangkat ke derajat manusia yang luhur serta memelihara nilai-nilai akhlaq dan rohani yang tinggi. Maka syariat memberikan kepada si mukallaf berbagi sanksi dan hukuman dengan terlebih dahulu menitikbe-ratkan kepada hati nurani (kesadaran). Sanksi-sanksi tersebut mengandung makna ibadah atau ibadah mengandung sanksi dimana tanggungjawab si mukallaf adalah tanggungjawab moralitas. Oleh karena itu, Islam sama sekali dan selamanya tidak mengakui pemisahan pengundang-undangan dari akhlaq sebagaimana tidak menerima pemisahan dari politik dan ekonomi.
Waqi’iy ( Realitas )
Ciri-ciri lain dari sifat Islam adalah realitas dimana perhatian terhadap nilai-nilai luhur akhlaq tidak menghalanginya untuk menaruh perhatian terhadap kenyataan yang ada, mengamati dan mengobati penderita sekaligus memberikan jalan keluarnya. Islam diturunkan Allah untuk manusia sesuai dengan kejadiannya, yang Allah cipatakan dengan fisik dari bumi dan ruh dari langit, dengan rasa cinta yang melambung dan insting yang merendah. Kerealistisan syariat Islam antara lain adalah tidak hanya cukup dengan nasehat keagamaan atau bimbingan akhlaq dalam memelihara hak-hak manusia, tetapi ia juga menetapkan undang-undang kriminal. Karena kenyataannya ada sebagian manusia yang tidak cukup dicegah dengan nasehat dan taujihat saja tetapi harus dengan hukuman dan tindakan kekerasan sesuai dengan tindakan kejahatannya.
Sifat Waqi’iy syariat Islam lainnya mengakui dan membolehkan berbagai kedhorurotan yang menimpa kehidupan manusia baik kehidupan individu maupun masyarakat. Terhadap hal-hal yang darurat ini Islam memberikan rukhshoh kepada pemeluknya.
Selain itu pula perubahan yang terjadi pada umat manusia baik lantaran rusaknya zaman sebagaimana dinyatakan oleh para Fukaha atau karena perkembangan masyrakat maupun karena keadaan darurat ( keterpaksaan ). Sehingga para Fukaha tersebut membolehkan diubahnya fatwa sesuai dengan perubahan zaman dan kondisi dan tempat.
Insaniyyah ( Manusiawi )
Di antara karakteristik syariat Islam bersifat insaniyyah alamiyyah. Makna bersifat insaniyah ini ialah ia diturunkan untuk meningkatkan tarap hidup manusia, membimbing, dan memelihara sifat-sifat humanistiknya serta menjaga dari kedurjanaan sifat hewani agar tidak mengalahkan sifat kemanusiannya. Untuk itu, maka disyariatkanlah semua bentuk ibadah bagi manusia dalam rangka memenuhi kebutuhan rohaninya. Dengan demikian, manusia bukan semata-mata raga yang terdiri dari unsur tanah yang membutuhkan makan dan minum saja, tetapi juga yang luhur yang menempati raga tersebut.
Syariat ini juga memelihara kemuliaan manusia dalam semua hukum yang dibawanya sejak manusia itu lahir sampai mati bahkan sebelum lahir dan setelah mati. Syariat ini diturunkan untuk kepentingan manusia dari segi dirinya sebagai manusia, terlepas dari jenis, ras, kasta, maupun bangsanya. Ini berarti ia juga bersifat alamiah ( menyeluruh ). Jadi ia merupakan syariat yang manusiawi dan mendunia.
Tanaasuq ( Teraturan)
Karakter syariat Islam lainnya adalah tanaasuq. Maksudnya adalah semua bagian-bagiannya masing-masing bekerja teratur, kompak dan seimbang dalam rangka mencapai satu hadaf bersama. Yakni antara yang satu dengan yang lainnya tidak berbenturan tapi sejalan dan seirama, teratur dan rapih. Ini juga dapat dinamakan takamul (konprehensif).
Syumul (Universal)
Di antara karakteristik syariat Islam lainnya adalah Syumul, yaitu menyentuh segala aspek kehidupan. Adapaun kesyumulan tersebut tam-pak dalam :
a. Ibadah yang mengatur hubungan hamba dengan Rabbnya. Permasa-lahan ini dapat dipahami dengan baik manakala seorang Muslim menghayati dengan baik pada pemahaman ilmu fiqhnya.
b. Kerumahtanggaan, seperti menikah, talak, nafkah, wasiat, waris, dan lain sebagainya yang berhubungan dengan kerumahtanggaan.
c. Muamalah berupa transaksi jual-beli, gadai, hibah, utang piutang, pinjam meminjam, dan lain sebagainya.
d. Bidang ekonomi seperti pemasalahan yang berkaitan dengan pengem-bangan kekayaan ataupun pemakaiannya, pengeluaran zakat, harta ghanimah. Juga tentang perkara riba, penimbunan harta dan memakan harta orang lain.
e. Tindak pidana dan hukuman yang berhubungan dengan hudud seperti pencurian, minum minuman keras, menuduh berzina orang baik-baik dan lain sebagainya.
f. Hukum dan kaitannya dengan keputusan, dakwaan, persaksian, ikrar, sumpah dan lainnya yang berfungsi untuk menegakkan keadilan antara sesama individu.
g. Masalah kepemimpinan yakni yang berkaitan dengan peraturan undang-undang dan dasar-dasarnya seperti kewajiban mengangkat pemimpin, dengan mempertimbangkan syarat-syarat yang harus dipenuhi, hubungannya dengan rakyat, hukum mentaatinya serta bagaimana menghadapi pembangkang (oposisi) dan sejenisnya yang mengatur hubungan antara pemimpin dan yang dipimpin.
h. Di dalamnya juga membahas hubungan antara negara Islam dengan negara non Islam, baik perang maupun damai, dan masalah kerjasa-manya.
Dakwah Islam di Nusantara
dan asal-usul
SEJARAH DAKWAH ISLAM DI INDONESIA
Sejarah masuknya Islam di Indonesia melalui babak – babak yang penting: 1. Babak pertama, abad 7 masehi (abad 1 hijriah).
Pada abad 7 masehi, Islam sudah sampai ke Nusantara. Para Dai yang datang ke Indonesia berasal dari jazirah Arab yang sudah beradaptasi dengan bangsa India yakni bangsa Gujarat dan ada juga yang telah beradaptasi dengan bangsa Cina, dari berbagai arah yakni dari jalur sutera (jalur perdagangan) dakwah mulai merambah di pesisir-pesisir Nusantara. Sejak awal Islam tidak pernah membeda-bedakan fungsi seseorang untuk berperan sebagai dai (juru dakwah). Kewajiban berdakwah dalam Islam bukan hanya kasta (golongan) tertentu saja tetapi bagi setiap masyarakat dalam Islam. Sedangkan di agama lain hanya golongan tertentu yang mempunyai otoritas menyebarkan agama, yaitu pendeta. Sesuai ungkapan Imam Syahid Hasan Al-Bana “ Nahnu du’at qabla kulla syai“ artinya kami adalah dai sebelum profesi-profesi lainnya.
Sampainya dakwah di Indonesia melalui para pelaut-pelaut atau pedagang-pedagang sambil membawa dagangannya juga membawa akhlak Islami sekaligus memperkenalkan nilai-nilai yang Islami. Masyarakat ketika berbenalan dengan Islam terbuka pikirannya, dimuliakan sebagai manusia dan ini yang membedakan masuknya agama lain sesudah maupun sebelum datangnya Islam. Sebagai contoh masuknya agama Kristen ke Indonesia ini berbarengan dengan Gold (emas atau kekayaan) dan glory (kejayaan atau kekuasaan) selain Gospel yang merupakan motif penyebaran agama berbarengan dengan penjajahan dan kekuasaan. Sedangkan Islam dengan cara yang damai.
Begitulah Islam pertama-tama disebarkan di Nusantara, dari komunitas-komunitas muslim yang berada di daerah-daerah pesisir berkembang menjadi kota-kota pelabuhan dan perdagangan dan terus berkembang sampai akhirnya menjadi kerajaan-kerajaan Islam dari mulai Aceh sampai Ternata dan Tidore yang merupakan pusat kerajaan Indonesia bagian Timur yang wilayahnya sampai ke Irian jaya.
2. Babak kedua, abad 13 masehi.
Di abad 13 Masehi berdirilah kerajaan-kerajaan Islam diberbagai penjuru di Nusantara. Yang merupakan moment kebangkitan kekuatan politik umat khususnya didaerah Jawa ketika kerajaan Majapahit berangsur-angsur turun kewibawaannya karena konflik internal. Hal ini dimanfaatkan oleh Sunan Kalijaga yang membina di wilayah tersebut bersama Raden Fatah yang merupaka keturunan raja-raja Majapahit untuk mendirikan kerajaan Islam pertama di pulau Jawa yaitu kerajaan Demak. Bersamaan dengan itu mulai bermunculan pula kerajaan-kerajaan Islam yang lainnya, walaupun masih bersifat lokal.
Pada abad 13 Masehi ada fenoma yang disebut dengan Wali Songo yaitu ulama-ulama yang menyebarkan dakwah di Indonesia. Wali Songo mengembangkan dakwah atau melakukan proses Islamisasinya melalui saluran-saluran:
a) Perdagangan b) Pernikahan
c) Pendidikan (pesantren)
Pesantren merupakan lembaga pendidikan yang asli dari akar budaya indonesia, dan juga adopsi dan adaptasi hasanah kebudayaan pra Islam yang tidak keluar dari nilai-nilai Islam yang dapat dimanfaatkan dalam penyebaran Islam. Ini membuktikan Islam sangat menghargai budaya setempat selama tidak bertentangan dengan nilai-nilai Islam.
d) Seni dan budaya
sebelumnya mewarnai wayang tersebut dengan nilai-nilai Islam. Yang menjadi ciri pengaruh Islam dalam pewayangan diajarkannya egaliterialisme yaitu kesamaan derajat manusia di hadapan Allah dengan dimasukannya tokoh-tokoh punakawam seperti Semar, Gareng, Petruk, dan Bagong. Para Wali juga menggubah lagu-lagu tradisional (daerah) dalam langgam Islami, ini berarti nasyid sudah ada di Indonesia ini sejak jaman para wali. Dalam upacara-upacara adat juga diberikan nilai-nilai Islam.
e) Tasawwuf
Kenyatan sejarah bahwa ada tarikat-tarikat di Indonesia yang menjadi jaringan penyebaran agama Islam.
3. Babak ketiga, masa penjajahan Belanda.
Pada abad 17 masehi tepatnya tahun 1601 datanglah kerajaan Hindia Belanda kedaerah Nusantara yang awalnya hanya berdagang tetapi akhirnya menjajah. Belanda datang ke Indonesia dengan kamar dagangnya yakni VOC, semejak itu hampir seluruh wilayah nusantara dijajah oleh Hindia Belanda kecuali Aceh. Saat itu antar kerajaan-kerajaan Islam di nusantara belum sempat membentuk aliansi atau kerja sama. Hal ini yang menyebabkan proses penyebaran dakwah terpotong.
Dengan sumuliayatul (kesempurnaan) Islam yang tidak ada pemisahan antara aspek-aspek kehidupan tertentu dengan yang lainnya, ini telah diterapkan oleh para Ulama saat itu. Ketika penjajahan datang, mengubah pesantren-pesantren menjadi markas-markas perjuangan, santri-santri (peserta didik pesantren) menjadi jundullah (pasukan Allah) yang siap melawan penjajah sedangkan ulamanya menjadi panglima perangnya. Hampir seluruh wilayah di Indonesia yang melakukan perlawanan terhadap penjajah adalah kaum muslimin beserta ulamanya.
Potensi-potensi tumbuh dan berkembang di abad 13 menjadi kekuatan perlawanan terhadap penjajah. Ini dapat dibuktikan dengan adanya hikayat-hikayat pada masa kerajaan-kerajaan Islam yang syair-syairnya berisikan perjuangan. Ulama-ulama menggelorakan Jihad melawan kaum kafir yaitu penjajah Belanda. Belanda mengalami kewalahan yang akhirnya menggunakan strategi-strategi:
• Politik devide et impera, yang pada kenyataannya memecah-belah atau mengadu domba antara kekuatan Ulama dengan adat contohnya perang Padri di Sumatera Barat dan perang Diponegoro di Jawa.
• Mendatangkan Prof. Dr. Snouk Cristian Hourgonye alias Abdul Gafar seorang Guru Besar keIndonesiaan di Universitas Hindia Belanda juga seorang orientalis yang pernah mempelajari Islam di Mekkah, dia berpendapat agar pemerintahan Belanda membiarkan umat Islam hanya melakukan ibadah mahdhoh (khusus) dan dilarang berbicara atau sampai melakukan politik praktis. Gagasan tersebut dijalani oleh pemerintahan Belanda dan salah satunya adalah pembatasan terhadap kaum muslimin yang akan melakukan ibadah Haji karena pada saat itulah terjadi pematangan pejuangan terhadap penjajahan.
4. Babak keempat, abad 20 masehi
seluruh masyarakat melainkan hanya golongan Priyayi (bangsawan), karena itu yang pemimpin-¬pemimpin pergerakan adalah berasalkan dari golongan bangsawan.
Strategi perlawanan terhadap penjajah pada masa ini lebih kepada bersifat organisasi formal daripada dengan senjata. Berdirilah organisasi Serikat Islam merupakan organisasi pergerakan nasional yang pertama di Indonesia pada tahun 1905 yang mempunyai anggota dari kaum rakyat jelata sampai priyayi dan meliputi wilayah yang luas. Tahun 1908 berdirilah Budi Utomo yang bersifat masih bersifat kedaerahan yaitu Jawa, karena itu Serikat Islam dapat disebut organisasi pergerakan Nasional pertama daripada Budi Utomo.
Tokoh Serikat Islam yang terkenal yaitu HOS Tjokroaminoto yang memimpin organisasi tersebut pada usia 25 tahun, seorang kaum priyayi yang karena memegang teguh Islam maka diusir sehingga hanya menjadi rakyat biasa. Ia bekerja sebagai buruh pabrik gula. Ia adalah seorang inspirator utama bagi pergerakan Nasional di Indonesia. Serikat Islam di bawah pimpinannya menjadi suatu kekuatan yang diperhitungkan Belanda. Tokoh-tokoh Serikat Islam lainnya ialah H. Agus Salim dan Abdul Muis, yang membina para pemuda yang tergabung dalam Young Islamitend Bound yang bersifat nasional, yang berkembang sampai pada sumpah pemuda tahun 1928.
Dakwah Islam di Indonesia terus berkembang dalam institusi-institusi seperti lahirnya Nadhatul Ulama, Muhammadiyah, Persis, dan lain-lain. Lembaga-lembaga ke-Islaman tersebut tergabung dalam MIAI (Majelis Islam ‘Ala Indonesia) yang kemudian berubah namanya menjadi MASYUMI (Majelis Syura Muslimin Indonesia) yang anggotanya adalah para pimpinan institusi-institusi ke-Islaman tersebut.
Di masa pendudukan Jepang, dilakukan strategi untuk memecah-belah kesatuan kekuatan umat oleh pemerintahan Jepang dengan membentuk kementrian Sumubu (Departemen Agama). Jepang meneruskan strategi yang dilakukan Belanda terhadap umat Islam. Ada seorang Jepang yang faham dengan Islam yaitu Kolonel Huri, ia memotong koordinasi ulama-ulama di pusat dengan di daerah, sehingga ulama-ulama di desa yang kurang informasi dan akibatnya membuat umat dapat terbodohi.
Pemerintahan pendudukan Jepang memberikan fasilitas untuk kemerdekaan Indonesia dengan membentuk BPUPKI (Badan Penyelidik Usaha-Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia) dan dilanjuti dengan PPKI (Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia) dan lebih mengerucut lagi menjadi Panitia Sembilan, Panitia ini yang merumuskan Piagam Jakarta tanggal 22 Juni 1945. Piagram Jakarta merupakan konsensus tertinggi untuk menggambarkan adanya keragaman Bangsa Indonesia yang mencari suatu rumusan untuk hidup bersama. Tetapi ada kalimat yang kontroversi dalam piagam ini yaitu penghapusan “7 kata “ lengkapnya kewajiban menjalankan syariat Islam bagi para pemeluk-pemeluknya yang terletak pada alinea keempat setelah kalimat Negara berdasarkan kepada Ketuhan Yang Maha Esa.
Babak kelima, abad 20 & 21.
PROSES PENYEBARAN ISLAM DI INDONESIA
Awal Penyebaran Islam di Indonesia 1. Proses Masuknya Islam di Indonesia
Masuknya agama Islam ke Indonesia dapat diketahui dari beberapa sumber yang dapat memberitakannya. Sumber sejarah itu dapat digolongkan menjadi sumber ekstern (dari luar negeri) dan sumber intern (dari dalam negeri).
a. Sumber Eksternal
1) Berita dari Arab
Pada abad ke-7 ketika Kerajaan Sriwijaya sedang berkembang telah banyak pedagang Arab yang mengadakan hubungan dengan masyarakat Kerajaan Zabag/Sriwijaya.
2) Berita dari Eropa
Pada tahun 1292 Marco Polo (Italia) adalah orang Eropa pertama yang menginjakkan kaki di Indonesia ketika kembali dari Cina untuk menuju Eropa melalui jalan laut. Ketika ia singgah di Perlak (Peureulak) penduduknya telah memeluk agama Islam dan telah terdapat kerajaan bercorak Islam, yakni Kerajaan Samudra Pasai.
3) Berita dari India
Para pedagang Gujarat dari India di samping berdagang juga menyebarkan agama Islam di pesisir pantai.
4) Berita dari Cina
Dikatakan oleh Ma Huan (sekretaris Laksamana Cheng Ho) bahwa pada tahun 1400 telah ada pedagang-pedagang Islam yang tinggal di pantai utara Jawa.
b. Sumber Internal
Sumber intern yang menjadi bukti masuknya Islam di Indonesia, antara lain sebagai berikut.
1) Batu Nisan Fatimah binti Maimun (1028) yang bertuliskan Arab di Leran (Gresik). 2) Makam Sultan Malik Al Saleh (1297) di Sumatra.
3) Makam Syeh Maulana Malik Ibrahim (1419) di Gresik.
2. Proses Islamisasi di Indonesia
Islam masuk ke Indonesia pada abad ke-7 dan terus berkembang serta prosesnya lebih demokratis dari pada agama Hindu. Itulah sebabnya pada abad ke-16 telah dapat menggeser kekuasaan Hindu (Kerajaan Majapahit). Adapun proses islamisasi di Indonesia dilakukan dengan berbagai bentuk, antara lain sebagai berikut.
a. Melalui Perdagangan
b. Melalui Perkawinan
Perkawinan putri bangsawan dengan pedagang muslim dilakukan secara Islam dengan mengucapkan kalimat syahadat (perkawinan antara pihak Islam dengan pihak yang belum Islam). Perkawinan merupakan saluran islamisasi yang paling mudah. Dari perkawinan itu pula akan membentuk ikatan kekerabatan antara pihak keluarga laki-laki dan perempuan. Saluran lewat perkawinan antara pedagang, ulama, ataupun golongan lain dengan anak bangsawan, bupati ataupun raja akan lebih menguntungkan. Status sosial ekonomi ataupun politik para bangsawan, bupati, atau raja akan mempercepat proses islamisasi. Banyak contoh yang dapat dikemukakan mengenai proses islamisasi melalui perkawinan, antara lain sebagai berikut.
1) Perkawinan Putri Campa dengan Raja Brawijaya yang melahirkan Raden Patah. 2) Perkawinan Rara Santang (putri Prabu Siliwangi) dengan Syarif Abdullah melahirkan
Syarif Hidayatullah (Sunan Gunung Jati).
3) Perkawinan Putri Blambangan dengan Maulana Ishak mempunyai seorang putra bernama Raden Paku (Sunan Giri).
4) Perkawinan Raden Rahmat (Sunan Ampel) dengan Nyai Gede Manila melahirkan Sunan Bonang (Makdum Ibrahim) dan Sunan Drajat (Syarifudin).
c. Melalui Tasawuf
Ajaran tasawuf adalah ajaran ketuhanan yang telah bercampur dengan mistis atau unsur-unsur magis. Ajaran tasawuf masuk ke Indonesia pada abad ke-13. Di Aceh muncul ahli tasawuf yang terkenal, seperti Hamzah Fansuri, Syamsuddin as Samatrani, dan Nuruddin ar Raniri. Di Jawa di antara Wali Sanga juga ada yang mengajarkan tasawuf ialah Sunan Bonang dan Sunan Kudus.
d. Melalui Pendidikan
Lewat pendidikan terutama dalam pesantre yang diselenggarakan oleh guru-guru agama, kiai-kiai, dan ulama-ulama. Pesantren merupakan lembaga yang penting dalam penyebaran agama Islam karena merupakan tempat pembinaan calon guru-guru agama, kiai-kiai, dan ulama-ulama. Pada masa pertumbuhan Islam di Jawa, kita mengenal beberapa pesantren, di antaranya Pesantren Ampel Denta di Surabaya dan Pesantren Giri di Gresik.
e. Melalui Dakwah
Proses islamisasi di Jawa melalui dakwah dilakukan oleh kelompok para wali yang dikenal dengan sebutan Wali Sanga (songo). Wali artinya wakil atau utusan. Mereka di samping memiliki pengetahuan agama Islam juga memiliki kelebihan yang disebut karomah. Oleh karena itu, mereka diberi gelar sunan artinya yang dihormati. Kesembilan wali tersebut adalah sebagai berikut:
1) Sunan Ampel (Raden Rahmat) di Surabaya (Jawa Timur).
2) Sunan Bonang (Raden Makdum Ibrahim) di Tuban (Jawa Timur).
3) Sunan Drajat ( Raden Syarifuddin) atau raden Qosim di Lawongan, Jawa Timur. 4) Sunan Giri (Raden Paku) di Gresik, Jawa Timur.
5) Syeh Maulana Malik Ibrahim, di Gresik, Jawa Timur.
6) Sunan Kalijaga (Raden Said) di Kadilangu, Semarang, Jawa Tengah. 7) Sunan Kudus (Raden Jafar Shodiq) di Kudus, Jawa Tengah.
8) Sunan Muria (Raden Umar Said) di Muria, Jawa Tengah.
Penyebaran agama Islam di Jawa Tengah bagian selatan dilakukan Sunan Tembayat (Bayat) yang berkedudukan di Klaten. Penyebaran agama Islam di luar Jawa, khususnya di Sulawesi Selatan dilakukan oleh Datuk ri Bandang dan Datuk ri Sulaiman. Di Kalimantan Timur dilakukan oleh Datuk ri Bandang dan Tuan Tunggang ri Parangan. Golongan lain yang mempercepat proses islamisasi ialah mereka yang telah menunaikan ibadah haji.
Agama Islam mudah diterima dan dapat berkembang pesat di Indonesia karena faktor sebagai berikut.
a) Syarat masuk Islam sangat mudah, yakni cukup mengucapkan kalimat syahadat.
b) Agama Islam bersifat demokratis, tidak mengenal perbedaan sosial, tidak membedakan si kaya dan si miskin, tidak membedakan warna kulit, dan sebagainya.
c) Agama Islam tidak mengenal kasta.
d) Agama Islam yang masuk ke Indonesia disesusikan dengan adat dan tradisi bangsa Indonesia, serta bertoleransi tinggi terhadap agama yang ada waktu itu, yakni Hindu dan Buddha.
e) Penyebaran agama Islam dilakukan dengan jalan damai, tanpa paksaan, dan kekerasan.
f) Faktor politik yang turut memperlancar penyebaran agama Islam di Indonesia ialah runtuhnya Kerajaan Majapahit (1478) atau (1526) dan jatuhnya Malaka ke tangan Portugis 1511.
3. Peta Penyebaran Agama Islam
Untuk dapat lebih mengetahui dan memahami lokasi daerah-daerah di Indonesia yang telah mendapat pengaruh Islam dapat dilihat pada peta berikut ini
Peta Penyebaran Agama Islam di Indonesia
4. Proses dan Latar Belakang Munculnya Kerajaan Islam Pertama di Indonesia (Peureulak /Perlak)
Perlak adalah nama kerajaan di wilayah Aceh Timur yang pusat pemerintahannya dekat muara Sungai Peuleula dan merupakan kerajaan Islam pertama di Indonesia. Adapun faktor-faktor yang dapat mendorong Perlak menjadi pusat kerajaan dan perdagangan, antara lain sebagai berikut.
1) Letaknya strategis untuk perdagangan, yaitu di tepi jalur perdagangan internasional. 2) Daerah Aceh merupakan daerah penghasil lada yang merupakan bahan ekspor ke India
3) Mundurnya Kerajaan Melayu sebagai pusat perdagangan memberikan kesempatan kepada Perlak untuk berkembang.
Kapan pastinya Kerajaan Perlak muncul tidak banyak diketahui. Hanya saja sejarah telah mencatat bahwa Raja Perlak yang pertama ialah Sultan Alauddin Syaid Maulana Abdul Aziz Syah atau singkatnya Sultan Alaudin Syah (1161–1186), seorang penganut Islam aliran Syi'ah (golongan dan merupakan sebutan yang dipergunakan oleh pengikut Ali, yaitu suami putri Nabi Muhammad saw bernama Fatimah).
Pelabuhan Perlak dicatat dalam sejarah karena mendapat kunjungan musafir bernama Marco Polo. Ia singgah dalam perjalanan kembali dari Negeri Cina ke Venesia (1292). Dalam beritanya, Marco Polo menceritakan bahwa penduduk di ibu kota kerajaan telah menganut agama Islam. Sebaliknya, penduduk di luar kota masih menganut kepercayaan animisme dan dinamisme.
SEJARAH BERDIRINYA MUHAMMADIYAH
Pendidikan barat yang diperkenalkan kepada penduduk pribumi sejak paruh kedua abad XIX sebagai upaya penguasa kolonial untuk mendapatkan tenaga kerja, misalnya, sampai akhir abad XIX pada satu sisi mampu menimbulkan restratifikasi masyarakat melalui mobilitas sosial kelompok intelektual, priyayi, dan profesional. Pada sisi lain, hal ini menimbulkan sikap antipati terhadap pendidikan Barat itu sendiri, yang diidentifikasi sebagai produk kolonial sekaligus produk orang kafir.
Sememara itu, adanya pengenalan agama Kristen dan perluasan kristenisasi yang terjadi bersamaan dengan perluasan kekuasaan kolonial ke dalam masyarakat pribumi yang telah terlebih dahulu terpengaruh oleh agama Islam, mengaburkan identitas politik yang melekat pada penguasa kolonial dan identitas sosial -keagamaan pada usaha kristenisasi di mata masyarakat umum.
Bagi sebagian besar penduduk pribumi, tekanan politis, ekonomis, sosial, maupun kultural yang dialami oleh masyarakat secara umum sebagai sesuatu yang identik dengan kemunculan orang Islam dan kekuasaan kolonial yang menjadi penyebab kondisi tersebut tidak dapat dipisahkan dari agama Kristen itu sendiri. Hal ini semakin diperburuk oleh struktur yuridis formal masyarakat kolonial, yang secara tegas membedakan kelompok masyarakat berdasarkan suku bangsa. Dalam stratifikasi masyarakat kolonial; penduduk pribumi menempati posisi yang paling rendah, sedangkan lapisan atas diduduki orang Eropa, kemudian orang Timur Asing, seperti: orang Cina, Jepang, Arab, dan India.
Tidak mengherankan jika kebijakan pemerintah kolonial ini tetap dianggap sebagai upaya untuk menempatkan orang Islam pada posisi sosial yang paling rendah walaupun dalam lapisan sosial yang lebih tinggi terdapat juga orang Arab yang beragama Islam. Di samping itu, akhir abad XIX juga ditandai oleh terjadinya proses peng-urbanan yang cepat sebagai akibat dari perkemhangan ekonomi, politik, dan sosial.
Kota-kota baru yang memiliki ciri masing-masing sesuai dengan faktor pendukungnya muncul di banyak wilayah. Perluasan komunikasi dan ransportasi mempermudah mobilitas penduduk. Sementara itu pembukaan suatu wilayah sebagai pusat pemerintahan, pendidikan, industri, dan perdagangan telah menarik banyak orang untuk datang ke tempat tersebut. Sementara itu pula, tekanan ekonomi, politik, maupun sosial yang terjadi di daerah pedesaan telah mendorong mereka datang ke kota-kota tersebut.
Memasuki awal abad XX sebagian besar kondisi yang telah terbentuk sepanjang abad XIX terus berlangsung. Dalam konteks ekonomi, perluasan aktivitas ekonomi sebagai dampak perluasan penanaman modal swasta asing maupun perluasan pertanian rakyat belum mampu menimbulkan perubahan ekonomi secara struktural sehingga kondisi hidup sebagian besar penduduk masih tetap rendah. Di beberapa tempat penduduk pribumi memang berhasil mengembangkan pertanian tanaman ekspor dlan mendapat keuntungan yang besar, akan tetapi ekonomi mereka masih sangat labil terhadap perubahan pasar.
harus bersaing ketat dengan pedagang asing yang terus mendominasi perdagangan lokal, regional, maupun internasional. Dalam perkembangan selanjutnya persaingan ini di beberapa tempat tidak lagi hanya terbatas pada masalah ekonomi, melainkan juga telah berkembang menjadi persoalan sosial, kultural, ataupun politik. Walaupun dalam bidang politik terjadi pergeseran dari kekuasan administratif yang tersentralisasi ke arah desentralisasi pada tingka t lokal, kontrol yang ketat pejabat Belanda terhadap pejabat pribumi masih tetap berlangsung.
Sementara itu, kebijakan Politik Balas Budi atau Politik Etis yang difokuskan pada bidang edukasi, irigasi, dan kolonisasi yang dilaksanakan sejak dekade pertama abad XX, telah memberikan kesempatan yang lebih luas kepada penduduk pribumi mengikuti pendidikan Barat dibandingkan dengan masa sebelumnya melalui pembentukan beberapa lembaga pendidikan khusus bagi penduduk pribumi sampai tingkat desa. Akan tetapi, kesempatan ini tetap saja masih sangat terbatas jika dibandingkan dengan jumlah penduduk pribumi secara keseluruhan.
Kesempatan itu masih tetap diprioritaskan bagi kelompok elit penduduk pribumi, atau kesempatan yang ada hanya terbuka untuk pendidikan rendah, sedangkan kesempatan untuk mengikuti pendidikan menengah dan tinggi masih sangat terbatas. Seperti pada masa sebelumnya, kondisi seperti ini terbentuk selain disebabkan oleh kebijakan pemerintah kolonial, juga dilatarbelakangi sikap antipati dari kelompok Islam, yang menjadi pendukung utama masyarakat pribumi terhadap pendidikan Barat itu sendiri.
Secara umum mereka lebih suka mengirimkan anak-anak mereka ke pesantren, atau hanya sekedar ke lembaga pendidikan informal lain yang mengajarkan pengetahuan dasar agama Islam. Akan tetapi, sebenarnya ada dualisme cara memandang pendidikan Barat ini. Di samping dianggap sebagai perwujudan dari pengaruh Barat atau Kristen terhadap lingkungan sosial dan budaya lokal maupun Islam, pendidikan Barat juga dilihat secara objektif sebagai faktor penting untuk mendinamisasi masyarakat pribumi yang mayoritas beragama Islam.
Pendidikan Barat yang telah diperkenalkan kepada penduduk pribumi secara terbatas ini ternyata telah menciptakan kelompok intelektual dan profesional yang mampu melakukan perubahan-perubahan maupun memunculkan ide-ide baru di dalam masyarakat maupun sikap terhadap kekuasaan kolonial. Perubahan dan pencetusan ide-ide baru itu pada masa awal hanya terbatas pada bidang sosial, kultural, dan ekonomi, akan tetapi kemudian mencakup juga permasalahan politik. Walaupun feodalisme dalam sikap maupun struktur yang lebih makro di dalam masyarakat, khususnya di Jawa masih tetap berlangsung, pembentukan "organisasi modern" merupakan salah satu realisasi yang penting dari upaya perubahan dengan ide-ide baru tersebut.
Pada tahun 1908 organisasi Budi Utomo didirikan oleh para mahasiswa sekolah kedokteran di Jakarta. Walaupun dasar, tujuan, dan aktivitas Budi Utomo sebagai suatu organisasi masih terikat pada unsur-unsur primordial dan terbatas, keberadaan Budi Utomo secara langsung maupun tidak berpengaruh terhadap bentuk baru dari perjuangan kebangsaan melawan kondisi yang diciptakan oleh kolonialisme Belanda. Berbagai organisasi baru kemudian didirikan, dan perjuangan perlawanan terhadap kekuasaan kolonial yang dulu terkosentrasi di kawasan pedesaan mulai beralih terpusat di daerah perkotaan.