• Tidak ada hasil yang ditemukan

Analisis Faktor Industri Hiburan Hollywo

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "Analisis Faktor Industri Hiburan Hollywo"

Copied!
14
0
0

Teks penuh

(1)

1

Analisis Faktor Industri Hiburan Hollywood di Amerika Masih Beroperasi

dan Berkembang Selama Krisis 2008 However, entertainment industry seems continue to operate as usual despite of the recession forged. Motives that make Hollywood entertainment industry survive and remain victorious even seem the same as in previous years like in 1930s and 1960s. Due to that fact, this study will emphasize points of discussion on the factors that keep Hollywood film production process remain victorious in spite of the 2008 economy crisis.

Keywords: 2008 crises, recession, unemployment, supply and demand theory,

entertainment industry, Hollywood.

Abstraksi

Indsutri perfilman Hollywood Amerika tidak dipungkiri menjadi salah satu industri besar yang bahkan disinyalir menjadi sumber pemasukan finansial Amerika Serikat yang cukup besar pula. Sebelumnya, peristiwa krisis ekonomi pada tahun 2008 silam sejatinya telah membawa dampak yang cukup besar bagi Amerika yaitu peningkatan jumlah pengangguran dan ancaman bangkrutnya industri-industri dalam negeri, tidak terkecuali industri perfilman. Bagaimanapun industri hiburan Hollywood tampak tetap beroperasi seperti biasa walaupun ditempa resesi. Motif-motif yang membuat industri hiburan Hollywood bertahan pun nampak sama dengan tahun-tahun sebelumnya. Sehubungan dengan hal tersebut, kajian kali ini akan menekankan poin pembahasan pada faktor-faktor yang menjaga proses produksi perfilman Hollywood tetap jaya walaupun di tengah krisis yang melanda Amerika.

Kata kunci: krisis 2008, resesi, pengangguran, teori permintaan dan penawaran, industri hiburan,

Hollywood.

(2)

2

Dinamika Krisis Indsutri Perfilman Hollywood

Industri perfilman Hollywood tidak dapat dipungkiri merupakan salah satu

perindustrian yang berkembang cukup pesat di Amerika khususnya di wilayah

California. Animo masyarakat terkait dengan industri hiburan selalu menunjukan

angka-angka yang fantastis. Hal itu pun menjadi satu hal yang cukup menarik

untuk dikaji khususnya membahas mengenai kondisi industri hiburan Hollywood

sebelum dan sesudah krisis, mengingat situasi tersebut banyak atau sedikit telah

mempengaruhi operasional industri tersebut. Pada dasarnya, industri perfilman

sudah ada sejak tahun 1800an. Namun, industri perfilman Hollywood pertama kali

melegenda pada saat awal abad ke-20, yang mana menjadi suatu penanda

kemajuan dan kemodernan sosialita Amerika pada saat itu, serta menandai era

kemajuan tekhnologi Amerika yang cukup inovatif dalam bidang industri hiburan.

Sebelumnya, pada tahun 1905 Nickelodeon menawarkan suatu inovasi berupa

hiburan publik yang relatif murah dan mudah didapatkan melalui tontonan

tayangan film (History Cooperative, 2014). Gagasan Nickelodeon tersebut terbukti

praktis mampu mendongkrak perekonomian industri perfilman, yang mana para

produser film mendapatkan untung yang melejit sedangkan masyarakat juga

mendapatkan hiburan dengan harga yang terjangkau pula. Hal ini kemudian

mengalami peningkatan yang cukup signifikan, dimana industri-industri perfilman

mulai banyak bermunculan. Dimulai pada tahun 1912 hingga tahun 1929 telah

tercatat terdapat sekitar 19 perusahaan film yang aktif memproduksi film (Silver,

2007). Dari sekumpulan perusahaan film tersebut terciptalah Hollywood sebagai

rumah produksi film di Amerika.

Tidak dapat dipungkiri, Amerika sebagai negara hegemon dunia telah

mengalami beragam dinamika perekonomian yang berpotensi mempengaruhi

jalannya aktivitas perekonomian dalam negeri bahkan luar negeri sekalipun. Salah

satunya adalah mempengaruhi sektor perindustrian Amerika yang tidak terkecuali

industri perfilmannya sendiri. Tahun 1930 ditengarahi menjadi salah satu krisis

ekonomi yang paling berpengaruh dalam sejarah yang dikenal dengan istilah Great Depression. Dampaknya lantas tentu saja mempengaruhi industri perfilman Hollywood yang terbilang baru tersebut. Bagaimanapun, industri perfilman

(3)

3

satu media penyebar propaganda pada saat Perang Dunia sedang berkecamuk.

Krisis ekonomi selanjutnya terjadi pada tahun 1960an yang membawa industri

perfilman Hollywood berada ditengah-tengah resesi. Ledakan ekonomi yang

dialami Amerika saat itu menyebabkan kenaikan tingkat pengangguran yang cukup

signifikan dari tahun 1960 sampai tahun 1969 hingga mencapai 50 persen

(McLean, 2009). Resesi tersebut pun juga mempengaruhi kelangsungan bisnis

hiburan seperti bioskop. Betapa tidak, nominal pengunjung bioskop sejak resesi

ditengarahi menurun. Dari sebanyak total 60 juta pengunjung per minggu pada

tahun 1950, menurun menjadi 40 juta pengunjung per minggu tahun 1960. Hingga

pada awal tahun 1970an, jumlah pengunjung bioskop saat itu bahkan menurun

cukup drastis menjadi hanya sebesar 17 juta pengunjung bioskop per minggu

(King, 2002).

Dari fenomena resesi tersebut, para pihak pengembang industri film

Hollywood merasakan perlunya merevitalisasi menejemen industrinya agar tetap

jaya. Dengan adanya peningkatan biaya produksi dan penurunan pemasukan, maka

perusahaan-perusahaan studio film memiliki serangkaian strategi yang bisa

menyelamatkan studionya. Pada saat itu acara-acara pertelevisian dinyatakan lebih

mendongkrak peminat daripada film (McLean, 2009). Terbukti bahwa pada tahun

1961 biaya yang dikeluarkan untuk mendukung acara televisi hanya sebesar US$

150.000, sedangkan meningkat menjadi US$ 800.000 pada tahun 1968. Selain

menunjukan kemajuan acara televisi, kenaikan biaya yang cukup signifikan

tersebut juga diakibatkan oleh resesi ekonomi Amerika.

Sebagai salah satu rangkaian usaha strategisnya, pihak komisi survey

menyatakan bahwa data penjualan box-offfice sebesar 48% laku terjual pada

kelompok konsumen berusia kisaran 16-24 tahun (McLean, 2009). Pada tahun

1967 rilis film-film yang bertemakan kehidupan para remaja yang terbilang menuai

kesuksesan yang cukup tinggi. Saat itu, pihak industri hiburan Hollywood

menyadari bahwa usia-usia remaja menjadi tujuan pasar yang cukup menjanjikan.

Hal tersebut lantas didukung dengan pernyatan Jonas Rosenfield selaku wakil

presiden bagian publikasi dan periklanan Twentieth Century Fox yang

mengatakan, “masa depan dunia perfilman Hollywood digantungkan pada pasar

(4)

4

muda agar tetap up to date dan laku di pasaran” (Cook, 2000). Untuk mendukung konsep tersebut, maka studio-studio Hollywood mulai mengedepankan sumber

daya manusia yang masih belia dan memanfaatkan kreativitas para generasi muda

tersebut. Untuk itu, pada tahun 1960an dapat dilihat beberapa perubahan dalam

industri seperti perubahan personil yang lebih muda. Adanya gagasan tersebut

menandai titik balik lahirnya sistem produksi yang baru yang dikenal dengan

istilah Hollywood Renaissance.

Setelah melalui masa resesi tersebut, industri perfilman Hollywood

Amerika kian mengalami kemajuan yang signifikan. Dominasi industri film

Hollywood pun tidak dapat dihindari oleh khalayak masyarakat dunia. Hal ini

terlihat pada tingkat ekspor produksi film Hollywood melampaui impornya sendiri

hingga mendatangkan surplus tersendiri bagi Amerika. Berdasarkan data yang

disampaikan oleh Brookings Institution, Los Angeles sebagai area metropolitan di

Amerika yang memiliki kapasitas ekspor barang dan jasa cukup tinggi hingga

mencapai US$80 Miliyar pada tahun 2010 (LAEDC, 2012). Tayangan film-film

yang diputar di Bioskop menjadi salah satu sarana memperoleh hiburan yang

mudah dan murah.

Kemunduran Sektor-Sektor Industri Amerika

Situsasi krisis finansial atau resesi yang menghantam Amerika sejatinya

tidak dipungkiri membawa suatu kemunduran tersendiri bagi industri-industri

besar yang ada di Amerika. Seperti yang dilansir dalam majalah The American

Prospect, tidak sedikit industri di Amerika yang mengalami gejala-gejala

kemunduran yang berpotensi menghapus gelar dominasi kemajuan industrialnya di

dunia. Gejala kemuduran tersebut pasalnya mulai terlihat sejak tahun 2001

dibarengi dengan ketergabungan Tiongkok dalam WTO, yang mana pada saat itu

Amerika telah kehilangan sebesar 42.000 pabriknya yang mengalami kebangkrutan

(McCormack, 2009). Tahun 2008 bahkan memperparah kondisi kemajuan

industrial Amerika. Industri Amerika mulai berhenti memproduksi barang-barang

seperti baju, computer, elektronik, barang rumah tangga, serta banyak automobile

lainnya. California dan Michigan bahkan sudah bukan lagi basis produksi atau

(5)

5

perdagangan Amerika disinyalir akan terus mengalami defisit. Selain itu, Amerika

akan kian bergantung pada pabrik-pabrik asing.

Limbah kertas dinyatakan menjadi benda ekspor terbesar dari Amerika

(McCormack, 2009). Sebanyak 211.300 kontainer limbah kertas diekspor keluar

Amerika oleh perusahaan – yang ironisnya bukan milik Amerika sendiri –

Tiongkok di Amerika, Chung Nam, ke perusahaan mitranya Nine Dragons Paper.

Apabila dibandingkan dengan kuantitas impornya, hal tersebut tidak sebanding.

Wal Mart mengimpor sebanyak 720.000 kontainer yang berisikan barang-barang

hasil industri yang diproduksi di luar negeri (McCormack, 2009). Selain Wal Mart

juga ada Home Depot sebanyak 365.300 kontainer, dan K-Mart sebanyak 248.600

kontainer. Dengan begitu dapat dilihat bahwa Amerika sejatinya lebih banyak

mengimpor daripada aktivitas ekpornya. Industri-industri Amerika sejak tahun

2001 sudah mengalami kemunduran dan kian parah ketika ditempa resesi 2008,

yang mana perindustriannya sudah tidak mampu memenuhi permintaan konsumen

sehingga harus mengimpor dari luar negeri. Amerika pun tidak dipungkiri sudah

dikalahkan oleh Tiongkok dalam soal ekspor.

Kemunduran produksi dan kuantitas ekspor Amerika ini pasalnya dialami

oleh banyak sektor perindustrian. Diantaranya Amerika telah kehilangan gelar

ekspor terbesar perangkat canggih ketika Tiongkok terbukti mengekspor lebih

banyak piranti-piranti tekhnologi canggih sebesar US$ 180 juta, sedangkan

Amerika hanya sebesar US$ 149 juta (McCormack, 2009). Selain itu industri PCB

(Printed Circuit Board) juga mengalami defisit dari sebesar US$ 11 juta pada tahun 2000 dan menurun menjadi hanya US$ 4 juta pada tahun 2008. Begitu pula

dengan industri alat-alat mesin, industri bahan-bahan material, industri furniture,

serta industri yang memproduksi tekhnologi-tekhnologi canggih lainnya seperti

handphone, laptop, komputer, dan lainnya, dinyatakan kalah saing dengan

Tiongkok. Dengan begitu Amerika terlihat sudah tidak lagi mendominasi pasar

internasional. Hal ini pun menjadi kemunduran bagi perdagangan dan

perekonomian Amerika itu sendiri. Sedangkan dari penjabaran tersebut, terdapat

salah satu industri Amerika yang masih bertahan mendominasi pasaran adalah

industri hiburannya, yang mana hal ini seakan menjadi anomali tersendiri

(6)

seakan-6

akan masih beroperasi secara aktif dan terkesan tidak terlalu terpengaruh dengan

krisis tersebut. Beberapa faktor ditengarahi menjadi penyebab bertahannya industri

hiburan Hollywood tetap jaya yang mana dijelaskan dalam pembahasan

selanjutnya.

Anomali Kondisi Industri Hiburan Hollywood saat Krisis 2008

Tahun 2008, Amerika lagi-lagi dihantam krisis ekonomi yang cukup hebat.

Segala bentuk aktivitas industri yang tengah berlangsung di Amerika pun

mengalami gangguan – tidak terkecuali industri perfilman. Dampak yang dihadapi

oleh industri film Hollywood tersebut dapat dilihat dengan adanya pengurangan

dana produksi, sehingga studio-studio yang tengah beroperasi hanya memproduksi

film dalam jumlah yang terbatas. Pembatasan produksi film tersebut ditengarahi

mencapai 20% dari rata-rata aktivitas produksi normal sebelum masa resesi (Lang,

2011). Walaupun kenyataannya jumlah film yang dirilis pada tahun 2008

mengalami kenaikan dari tahun 2007 sebesar 4,2%, dari sejumlah 611 film rilis

pada tahun 2007 meningkat menjadi sebanyak 638 film dirilis pada tahun 20082.

Keterbatasan produksi film tersebut rupanya dirasakan oleh masyarakat – selaku

konsumen film ciptaan Hollywood – bahwa harga-harga yang dibutuhkan untuk

menikmati hiburan tersebut menjadi kian mahal. Hal itu khususnya berlaku di

Amerika. Harga tiket bioskop saat itupun naik sebesar 1,7% dari harga normal

(Cieply & Barnes, 2009). Uniknya, kenaikan harga tiket bioskop tersebut

ditengarahi tidak menyurutkan minat masyarakat untuk pergi ke bioskop.

Kenyataan tersebut menjadi salah satu faktor yang tetap menunjang kegiatan

produksi industri film Hollywood. Terbukti bahwa keuntungan yang didapatkan

dari penjualan tiket bioskop film tahun 2007 dan 2008 tidak menunjukan

perubahan, bahkan terbilang stagnan pada angka US$ 9,6 Milyar untuk kategori

2D, dan mengalami peningkatan penjualan tiket 3D sebesar 1% sehingga

mendapatkan keuntungan sebesar US$ 200 juta (Motion Picture Association of

America, 2012). Bahkan setelah masa-masa krisis jumlah keuntungan yang diraup

oleh Box Office terus mengalami peningkatan baik di Amerika sendiri maupun

2 Sumber: Rentrak Corporation Box Office Essentials, dalam Motion Picture Association of

(7)

7

dalam taraf internasional sekalipun. Tahun 2008, total pendapatan dari penjualan

semua film Box Office mencapai US$ 27,7 Milyar. Tahun 2009 meningkat

menjadi US$ 29,4 Milyar, dan meningkat lagi pada tahun-tahun berikutnya secara

berurutan menjadi US$ 31,6 Milyar, US$ 32,6 Milyar, dan US$ 34,7 Milyar pada

tahun 2012 (Motion Picture Association of America, 2012). Dari data-data yang

telah diberikan tersebut menunjukan adanya indikasi bahwa industri hiburan

Hollywood di Amerika dapat dipastikan tidak terlalu terpengaruh oleh resesi.

Walaupun kenyataannya beberapa studio melakukan pemangkasan besar-besaran,

namun apabila dilihat dari segi konsumsi masyarakat terlihat bahwa tidak ada

kecenderungan negatif yang menunjukan penurunan jumlah konsumen.

Dalam merujuk pada konsepsi teoritis, kondisi seperti itu dapat dikaitkan

dengan teori permintaan dan penawaran ekonomi. Yang mempengaruhi jalannya

industri film Hollywood disini adalah permintaan masyarakat yang cukup tinggi

akan hiburan-hiburan di tengah situasi masyarakat yang tidak stabil akibat resesi.

Perlu diketahui terlebih dahulu bahwa permintaan (demand) merupakan taraf yang menunjukan keinginan konsumen untuk membeli sesuatu. Dalam hal ini terlihat

bahwa adanya permintaan tersebut memunculkan suatu produksi atau penawaran

yang tak lain adalah produk hiburan. Berdasarkan hukum permintaan, hubungan

antara kuantitas dan harga yang diinginkan adalah dua hal yang tidak bisa

dipisahkan (Mankiw, 2012). Umumnya, ketika harga barang murah atau turun

permintaan akan cenderung naik. Hal ini pun berlaku sebaliknya. Untuk itu, sentra

produksi dan perdagangan itu ditentukan oleh pasar yang mana hukum permintaan

dan penawaran berlaku. Sedangkan melihat realita yang telah dijelaskan

sebelumnya, kenaikan harga fasilitas hiburan yang ditawarkan tidak menyurutkan

minat para konsumen untuk berhenti mengkonsumsi hiburan-hiburan tersebut. Hal

ini seakan menjadi sesuatu yang unik, yang mematahkan konsepsi hukum

permintaan secara umum. Walaupun tidak dipungkiri, terjadi penurunan tingkat

konsumsi hiburan daripada tahun-tahun sebelumnya namun itu hanya sebesar

sekitar 4% saja (Motion Picture Association of America, 2012). Berangkat dari

data tersebut, hal ini menjadi menarik untuk dikaji lebih lanjut dan dicari latar

belakang permintaan masyarakat yang cenderung stabil walaupun terdapat

(8)

8

Situasi krisis yang terjadi di Amerika membuat mental masyarakat diliputi

dengan atmosfir yang resah dan gelisah hingga meningkatkan kadar stress

masyarakat. Untuk itulah saat itu industri hiburan menjadi sarana yang

menjanjikan untuk memperoleh hiburan masyarakat dari situasi yang kelam, serta

sebagai pilar ekonomi Amerika dan masyarakat yang bekerja di bidang industri

hiburan walaupun di tengah krisis yang melanda. Kenaikan harga tiket bioskop di

Amerika tampak berbanding lurus dengan jumlah pengunjung bioskop, yang mana

pengunjung juga disinyalir semakin banyak yang berdatangan tidak peduli apakah

tiket bioskop semakin mahal atau tidak. Penjualan tiket bioskop tersebut dapat

dikatakan menjadi salah satu faktor penyebab mengapa industri film Hollywood

masih aktif berproduksi walaupun ditengah situasi krisis. Hingga pasca krisis pun

kuota penjualan tiket bioskop terlihat masih terus meningkat. Hal itu pun dibarengi

dengan produksi film-film Box Office yang semakin menarik minat masyarakat.

Dapat dikatakan bahwa industri hiburan merupakan salah satu aspek yang

tidak terlalu terkena pengaruh krisis ekonomi di Amerika. Mau tidak mau,

masyarakat masih saja mencari-cari sarana hiburan yang murah dan praktis

didapatkan, yaitu salah satunya adalah menonton film maupun televisi. Walaupun

begitu, animo masyarakat tersebut masih tidak cukup untuk menutupi kebutuhan

biaya produksi sehingga beberapa studio terpaksa memotong anggaran

produksinya, seperti Miramax dan Paramount Vintage yang mengeliminasi

anggaran untuk scoring film (Lang, 2011). Tidak terkecuali, studio-studio raksasa seperti Sony dan Warner Bross juga terpaksa melakukan rasionalisasi hingga

menyebabkan peningkatan jumlah pengangguran pada saat itu. Kebijakan merger yang dilakukan beberapa pihak studio juga menjadi penyebab rasionalisasi lainnya.

Bagaimanapun kebijakan rasionalisasi yang diterapkan oleh beberapa pihak studio

tetap saja, industri hiburan dinyatakan sebagai salah satu industri yang menyerap

tenaga kerja yang cukup banyak dibanding sektor-sektor perindustrian lainnya

bahkan di tengah resesi sekalipun.

Pemasukan dalam sektor industri hiburan tersebut tentu menjadi satu hal

yang penting demi menjamin kelangsungan bisnis. Penjualan DVD film-film

(9)

9

tidak menjanjikan. Kenaikan harga-harga yang merata membuat masyarakat

enggan membeli dan lebih memilih menikmati hiburan yang ditayangkan di

televisi kabel. Melihat kenyataan tersebut, Universal Studio Hollywood sebagai

salah satu produsen film terbesar di Amerika akhirnya melakukan penjualan

film-filmnya pada TV kabel seperti HBO, FOX Movies, dan lain-lain (Gomery &

Pafort-Overduin, 2011). Dalam hal ini, penjualan film dalam TV Kabel disinyalir

menjadi satu-satunya cara yang efektif untuk mendapatkan pemasukan. Mengingat

pengguna TV Kabel sudah mulai marak di berbagai belahan dunia lainnya, maka

beberapa studio melihat hal ini sebagai strategi terdepannya agar masih bisa

bertahan di tengah-tengah resesi.

Pemasukan lainnya sekiranya dapat diperoleh oleh studio produksi dari

dana-dana hutang. Ironisnya, ketika masa resesi bank-bank di Amerika tidak

sanggup memberikan pinjaman bagi terlaksananya produksi film Hollywood.

Untuk itu, Dreamworks sebagai salah satu studio produksi film mendapatkan

suntikan dana pinjaman sebesar kurang lebih US$700 juta dari spekulasinya

dengan grup India’s Reliance (Siklos, 2008). Melihat realita industri film Hollywood tersebut memunculkan kekhawatiran oleh beberapa pihak bahwa

kebijakan hutang luar-negeri yang begitu besar tersebut hanya akan menambah

beban negara. Selain itu, apabila proses pembayaran yang dilakukan tidak lancar

maka dikhawatirkan pada tahun-tahun yang akan datang pinjaman hutang akan

sulit didapatkan karena hutang-hutang sebelumnya belum lunas.

Kekhawatiran yang muncul tersebut senantiasa terhapus oleh meningkatnya

pemasukan industri perfilman Hollywood yang cukup memuaskan. Diketahui

bahwa setiap tahun jumlah pendapatan industri perfilman mengalami peningkatan.

(10)

10

Sumber: Motion Picture Association of America, Inc.*

Dari data grafik tersebut dapat disaksikan kondisi perkembangan industri

hiburan dari tahun ke tahun pasca resesi. Terlihat jelas bahwa total pendapatan

produksi film Box Office selalu menunjukan kenaikan dari tahun ke tahun. Box

Office dalam skala global untuk semua film yang dirilis di setiap negara di seluruh

dunia mencapai US$34,7 Milyar pada tahun 2012, yang mana jumlah tersebut

mengindikasikan kenaikan sebesar 6% dari tahun 2011. Peningkatan ini juga

terjadi karena sebagian besar Box Office internasional (belum termasuk Amerika

dan Kanada) meraup pemasukan sebesar US$23,9 Milyar, naik sebesar 6% dari

tahun 2011, yang juga dipenagruhi oleh pertumbuhan di sebagian besar wilayah

geografis (Motion Picture Association of America, 2012). Dengan begitu dapat

dilihat bahwa Box Office internasional (tidak termasuk Amerika dan Kanada)

mengalami total kenaikan sebesar 32% dalam kurun waktu lima tahun saja.

Kesimpulan

(11)

11

Fenomena krisis ekonomi tahun 2008 yang terjadi di Amerika tidak

dipungkiri merupakan salah satu krisis yang terparah sejak Great Depression tahun 1930 dan era Perang Dunia. Krisis atau resesi yang terjadi di Amerika

menyebabkan dampak yang begitu merugikan bagi masyarakat yang mana

sebagian besar industri ataupun perusahaan melaksanakan kebijakan rasionalisasi

sehingga banyak sumber daya manusia yang menjadi pengangguran dan makin

menambah beban pemerintah serta akan berpotensi meningkatkan taraf

kriminalitas di Amerika. Dari realita tersebut industri hiburan Hollywood

merupakan salah satu bidang industri yang menyerap tenaga kerja yang cukup

banyak, khususnya di California. Industri hiburan menjadi salah satu bagian yang

menentukan taraf pengangguran dan tingkat ekonomi di Los Angeles. Dalam hal

ini, industri hiburan dapat dikatakan sebagai industri yang cukup menentukan bagi

kondisi perekonomian di Los Angeles. Betapa tidak, ada banyak studio besar

disana yang berhasil menghasilkan milyaran dolar tiap tahunnya dari penjualan

film-film di Amerika maupun di negara-negara lain di seluruh dunia. Penjualan

tersebut meliputi aktivitas ekspor yang lebih besar daripada impor yang disinyalir

mendatangkan surplus tersendiri bagi perekonomian Amerika.

Bagaimanapun industri hiburan Hollywood sendiri terkena imbas resesi

yang menyebabkan gangguan atau hambatan terhadap proses produksi film.

Namun gangguan tersebut sekiranya bukanlah suatu perkara yang justru

menghentikan aktivitas produksi secara total. Kenaikan harga tiket bioskop serta

harga jual film tidak lantas menyurutkan pendapatan industri hiburan tersebut.

Masyarakat Amerika yang saat itu diliputi oleh kegelisahan dalam suasana resesi

bahkan cenderung mencari pelampiasan untuk menghapus kekhawatirannya

sejenak. Cara-cara tersebut tak lain bisa didapatkan dengan menonton film ataupun

televisi. Dengan begitu acara-acara hiburan menjadi satu hal yang dinantikan oleh

masyarakat di tengah krisis. Hal itu kemudian menjadi basis argumen mengapa

industri hiburan tetap beroperasi walaupun ditengah resesi, yang mana motif yang

demikian ini cenderung tidak berbeda dengan krisis-krisis sebelumnya pada tahun

1930 dan 1960an. TV kabel dan kebutuhan masyarakat akan hiburan mudah dan

murah lah yang menjadi penyebab bertahannya industri hiburan Hollywood

(12)

12

daya kreativitas yang masih belum bisa ditandingi oleh industri perfilman lainnya,

sehingga produksi film Amerika bertahan menjadi hiburan pilihan masyarakat.

Bagaimanapun, studio-studio film memiliki kebijakan pemangkasan dana agar

tetap bisa mempertahankan bisnisnya. Disisi lain mereka mendapatkan pinjaman

dari pihak asing. Selanjutnya hasil-hasil penjualan filmnya pada akhirnya menutup

kekhawatiran para produsen film. Dengan begitu sudah cukup jelas penyebab

maupun alasan industri hiburan Hollywood merupakan salah satu bisnis yang

cukup menjanjikan di Amerika.

Masa depan industri hiburan Hollywood pasca resesi

Selain dampak negatif dari krisis ekonomi tahun 2008 terhadap industri

perfilman, bagaimanapun industri film Hollywood mulai menunjukan tanda-tanda

kemajuan dibanding sektor-sektor perindustrian lainnya, seperti automobile

misalnya. California sebagai tempat basis produksi industri hiburan dinyatakan

menjadi tempat yang paling banyak menyerap tenaga kerja dalam industri

pertelevisian dan film. Sampai tahun 2011 pun ada sekitar 126.300 orang bekerja

di industri film dan video, yang mana berdasarkan laporan Departemen Tenaga

Kerja California angka tersebut menunjukan peningkatan sebesar 3000 pekerjaan

hanya dalam waktu satu bulan saja, (Lang, 2011). Hal itu merupakan suatu

kemajuan sejak sebelum masa resesi tahun 2007 yang sebesar 117.000 pekerjaan

terdaftar, dan juga mewakili kenaikan dari 105.400 pekerjaan yang tercatat pada

saat pasca resesi bulan Juni 2009 silam (Lang, 2011). Hal seperti itu pun berlaku

pula dalam industri hiburan pertelevisian, yang mana bisnis televisi bisa dikatakan

akan pulih seperti masa-masa pre-resesi.

Walaupun ditimpa krisis yang begitu hebatnya, industri hiburan Hollywood

tampaknya tidak akan mudah surut begitu saja. Produksi film dan serial-serial

televisi di Los Angeles kian meningkat, terutama setelah pemerintah negara bagian

memperpanjang insentif pajak hingga setahun (Lang, 2011). Di New York,

perpanjangan lima tahun insentif pajak film telah mendorong banyaknya produksi

film di New York sendiri. Terbukti bahwa tahun 2011 New York tercatat memiliki

130 proyek pembuatan film yang akan menghasilkan US$ 1,5 Miliyar, sedangkan

(13)

13

Prospek industri hiburan Hollywood menunjukan kemajuan dari tahun ke

tahunnya. Hal itu juga didukung dengan adanya film-film Box Office maupun

remake yang dinanti-nanti oleh para moviegoers. Tidak dipungkiri bahwa dewasa ini ketertarikan masyarakat akan film-film produksi Hollywood semakin

meningkat, sehingga memperkuat dominasi industri hiburan Hollywood di dunia.

Referensi

Cieply, M. & Barnes, B., 2009. In Downturn, Americans Flock to the Movies. The New York Times, [Online]

Tersedia: http://www.nytimes.com/2009/03/01/movies/01films.html?_r=0

[Diakses 15 Juni 2015]

Cook, D. A., 2000. Lost Illusions: American Cinema in the Shadow of Watergate and Vietnam. Berkley: University of California Press.

Gomery, D. & Pafort-Overduin, C., 2011. Movie History: A Survey. Edisi Kedua. New York: Taylor and Francis.

History Cooperative, 2014. The History of the Hollywood Movie Industry. [Online] Tersedia:

http://historycooperative.org/the-history-of-the-hollywood-movie-industry/

[Diakses, 15 Juni 2015]

King, G., 2002. New Hollywood Cinema: An Introduction. New York: Columbia University Press.

LAEDC, 2012. The Entertainment Industry and the Los Angeles County Economy. California: The Kyser Center for Economic Research.

(14)

14

Tersedia:

http://www.thewrap.com/movies/article/hollywoods-recession-how-industry-coping-downturn-31872/

[Diakses, 15 Juni 2015]

Mankiw, N. G., 2012. Principles of Macroeconomics. Edisi keenam. Mason, OH: South-Western Cengage Learning

McCormack, R., 2009. The Plight of American Manufacturing. The American Prospect, [Online] 21 Desember.

Tersedia: http://prospect.org/article/plight-american-manufacturing

[Diakses, 30 Juni 2015]

McLean, D., 2009. The Evolution of the term 'New Hollywood'. North Ryde, NSW: Faculty of Arts, Macquarie University.

Motion Picture Association of America, 2012. Theatrical Market Statistics.

Siklos, R., 2008. Tense times in Hollywood's dream factory. Fortune Magazine, [Online]

Tersedia:

http://archive.fortune.com/2008/10/17/news/economy/siklos_la.fortune/ind

ex.htm

[Diakses, 18 Juni 2015]

Silver, Jonathan D., 2007. Hollywood’s dominance of the movie industry: How did it arise and how has it been maintained?. Ph.D. Queensland: Queensland University of technology.

Referensi

Dokumen terkait

Pada variabel ini, narasumber diberikan beberapa pertanyaan mengenai jenis model pendapatan yang diterima oleh PT INTI dalam menjual produk smart light , sumber

Para akhli Psikologi dan pendidikan pada umumnya berkeyakinan bahwa dua orang anak (yang kembar sekalipun) tidak pernah memiliki respon yang sama persis terhadap situasi

Artikel ini bertujuan untuk memaknai strategi bebas aktif Indonesia guna merespons rivalitas tersebut dalam konteks pengadaan kapal selam Kelas Chang Bogo dari

1) Ketika Islam datang ke Spanyol, komposisi masyarakat yang ada dinegeri itu cukup heterogen yang terdiri dari orang Arab, orang Arab-Spanyol, orang Afrika Utara, dan orang

Mubarak, Achmad, 2000, Solusi Krisis Keruhanian Manusia Modern: Jiwa dalam al-Qur`an, Paramadina, Jakarta. Mujiburrahman, 2008, Mengindonesiakan Islam: Representasi dan

sedikit tersedianya bahan ajar mata pelajaran biologi dengan inovasi baru yaitu disajikan dengan mengaitkan antara materi biologi dengan ayat-ayat Al Qur’an dan Al

Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui bagaimana hubungan antara Triangulasi Cinta dan Keharmonisan Keluarga dengan Kesiapan Menikah pada dewasa muda