• Tidak ada hasil yang ditemukan

Rekayasa Genetika Tumbuhan bidang perkeb

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "Rekayasa Genetika Tumbuhan bidang perkeb"

Copied!
36
0
0

Teks penuh

(1)

Rekayasa Genetika Tumbuhan Bidang Perkebunan dan Pertanian 1

MAKALAH GENETIKA

Rekayasa Genetika Tumbuhan Bidang Perkebunan dan Pertanian

Dosen Pengampu:

Dr. Afreni Hamidah, S. Pt., M.Si

Disusun oleh:

Kelompok VIII Kelompok IV

1.

Rawi Eniya Wati (RRA1C411030) 1. Rizki Widya H. (A1C412018)

2.

Pisca Hana Marsenda (A1C412001) 2. Salamatul Fitri (A1C412027)

3.

Riza Rosita (A1C412008) 3. Sabariah (A1C4120)

4.

Syafnurrahman Oktavian (A1C412012) 4. M. Subhan (A1C412035)

5.

Ria Mawarni (A1C412021) 5. Dewi Anggraini (A1C412040)

6.

Evi Anna Tri Sutrisno (A1C412025) 6. Septiana Puspitasari (A1C412041)

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN BIOLOGI

JURUSAN PENDIDIKAN MATEMATIKA DAN ILMU

PENGETAHUAN ALAM

FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN

UNIVERSITAS JAMBI

(2)

Rekayasa Genetika Tumbuhan Bidang Perkebunan dan Pertanian 2

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Ilmu pengetahuan dalam bidang rekayasa genetika mengalami

perkembangan yang luar biasa. Perkembangannya diharapkan mampu

memberikan solusi atas berbagai permasalahan baik dari segi sandang, pangan,

dan papan. Adanya produk hasil rekayasa tanaman memiliki tujuan untuk

mengatasi kelaparan, defisiensi nutrisi, peningkatan produktivitas tanaman,

ketahanan terhadap cekaman lingkungan yang ekstrim.

Pengetahuan dan perkembangan teknologi pada zaman sekarang semakin

maju dan sangat pesat. Berbagai hal dilakukan dengan sesuatu yang canggih untuk

menghasilkan efek yang bagus dan berkualitas serta proses waktunya sangat

cepat. Adanya cara teknologi yang dilakukan yaitu mutasi gen dan rekayasa

genetika. Pada dasarnya rekayasa genetika tumbuhan ini dapat dilihat dari segi

pertanian ataupun perkebunan.

Rekayasa genetika dalam bidang perkebunan dan pertanian ini dapat

menunjang kebutuhan pada manusia dalam mengolah sumber daya alam dengan

memanfaatkan suatu tanaman menjadi produk yang lebih bermanfaat lagi.

Pemanfaatan suatu tanaman dalam bidang perkebunan dan pertanian ini dapat

dilakukan dengan berbagai metode atau cara-cara dalam pembuatan tanaman

transgenik. Tanaman transgenic yang tahan pada hama ataupun yang berada

dalam kondisi ekstrim. Dimana untuk meningkatkan kualitas tanaman dalam

periode waktu yang lebih singkat.

Penerapan bioteknologi merupakan suatu teknik dengan pendayagunaan

organisme hidup untuk membuat, memodifikasi, meningkatkan, atau memperbaiki

sifat makhluk hidup serta mengembangkan mikroorganisme untuk penggunaan

khusus. Hal ini akan menerapkan suatu prinsip-prinsip ilmu pengetahuan dan

kerekayasaan dalam menangani dan mengelola bahan dengan bantuan agen

biologis untuk menghasilkan bahan dan jasa dengan pencangkokan Gen atau

(3)

Rekayasa Genetika Tumbuhan Bidang Perkebunan dan Pertanian 3 Hal ini yang melatarbelakangi dibuatnya makalah untuk memenuhi tugas

dan mahasiswa mampu dalam memahami dan mengerti apa saja konsep, prinsip

dan permasalahan dalam rekayasa genetika tumbuhan khususnya dalam bidang

tanaman perkebunan. Seyogianya menjadikan pengalaman dasar untuk

pembelajaran selanjutnya. Jadi judul makalah ini “Rekayasa Genetika Tumbuhan

dalam Bidang Perkebunan dan Pertanian”.

1.2 Rumusan Masalah

Adapun rumusan masalah dari penulisan makalah ini adalah sebagai berikut:

1. Pengertian rekayasa genetika?

2. Apa saja prinsip dasar rekayasa genetika?

3. Tujuan rekayasa genetika?

4. Apa saja produk rekayasa genetik bidang perkebunan dan teknik

pembuatannya?

5. Apa saja produk rekayasa genetik bidang pertanian dan teknik

pembuatannya?

6. Bagaimana dampak positif dan negatif dari rekayasa genetika bidang

perkebunan?

7. Bagaimana dampak positif dan negatif dari rekayasa genetika bidang

pertanian?

8. Bagaimana prokontra rekayasa genetika bidang perkebunan dari berbagai

aspek ?

9. Bagaimana prokontra rekayasa genetika bidang pertanian dari berbagai

aspek ?

1.3 Tujuan

Adapun tujuan dari penulisan makalah ini adalah sebagai berikut:

1. Mengetahui pengertian dari rekayasa genetika.

2. Menyebutkan prinsip dasar rekayasa genetika.

3. Mengidentifikasi tujuan dilakukannya rekayasa genetika.

4. Mengetahui produk-produk rekayasa genetik bidang perkebunan dan

(4)

Rekayasa Genetika Tumbuhan Bidang Perkebunan dan Pertanian 4 5. Mengetahui produk-produk rekayasa genetik bidang pertanian dan teknik

pembuatannnya.

6. Menganalisis dampak positif dan negatif dari rekayasa genetika bidang

perkebunan.

7. Menganalisis dampak positif dan negatif dari rekayasa genetika bidang

pertanian.

8. Memprediksi prokontra rekayasa genetika bidang perkebunan dari

berbagai aspek.

9. Memprediksi prokontra rekayasa genetika bidang pertanian dari berbagai

(5)

Rekayasa Genetika Tumbuhan Bidang Perkebunan dan Pertanian 5

BAB II

PEMBAHASAN

2.1 Pengertian Rekayasa Genetika

Rekayasa genetika merupakan transplantasi atau pencangkokan satu gen ke

gen lainnya dimana dapat bersifat antar gen dan dapat pula lintas gen sehingga

mampu menghasilkan produk. Rekayasa genetika juga diartikan sebagai

perpindahan gen. Prinsip dasar teknologi rekayasa genetika adalah memanipulasi

atau melakukan perubahan susunan asam nukleat dari DNA (gen) atau

menyelipkan gen baru ke dalam struktur DNA organisme penerima. Gen yang

diselipkan dan organisme penerima dapat berasal dari organisme apa saja.

Rekayasa genetika adalah suatu proses manipulasi gen yang bertujuan

untuk mendapatkan organisme yang unggul. Secara ilmiah rekayasa genetika

adalah manipulasi genetik atau perubahan dalam susunan genetik dari suatu

organisme. Rekayasa genetika merupakan proses buatan/sintetis dengan

menggunakan Teknologi DNA rekombinan. Hasil dari rekayasa genetika adalah

sebuah organisme yang memiliki sifat yang diingingkan atau organisme dengan

sifat unggul.Organisme tersebut sering disebut sebagai organisme

transgenik.Rekayasa genetika sangat terkait dengan bidang pertanian terutama

dalam upaya meningkatkan hasil panen.

Rekayasa genetika merupakan salah satu teknik yang dilakukan untuk

mengkombinasikan gen yang sudah ada dalam suatu makhluk hidup sehingga

susunan gennya menjadi berubah. Gen yang telah direkayasa susunannya tersebut

dapat menyebabkan suatu makhluk hidup menghasilkan suatu senyawa/produk

tertentu yang diinginkan kita.

Teknologi rekayasa genetika merupakan transplantasi atau pencangkokan

satu gen ke gen lainnya dimana dapat bersifat antar gen dan dapat pula lintas gen.

Rekayasa genetika juga diartikan sebagai perpindahan gen. Misalnya gen

pankreas babi ditransplantasikan ke bakteri Escheria coli sehingga dapat

(6)

Rekayasa Genetika Tumbuhan Bidang Perkebunan dan Pertanian 6 Melalui rekayasa genetika manusia “menciptakan” tanaman, hewan dan mikroorganisme baru. Para ilmuwan telah berhasil mengungkapkan kode genetis

yang menentukan sifat-sifat khusus semua makhluk hidup dan kini telah mampu

mengkombinasikan gen-gen yang kalau secara alami, tidak akan pernah

berkombinasi. Perubahan genetis bukan sesuatu yang baru, karena secara alami

dapat terjadi melalui peristiwa yang disebut mutasi.Teknik yang paling dikenal

untuk mengubah makhluk hidup secara genetik adalah DNA rekombinan (rDNA).

2.2 Prinsip Dasar Rekayasa Genetika

Prinsip dasar teknologi rekayasa genetika adalah memanipulasi atau

melakukan perubahan susunan asam nukleat dari DNA (gen) atau menyelipkan

gen baru ke dalam struktur DNA organisme penerima. Gen yang diselipkan dan

organisme penerima dapat berasal dari organisme apa saja.

Prinsip dasar rekayasa genetika adalah sebagai berikut :

1. Penyisipan informasi genetik ke dalam organisme

2. Replikasi gen

3. Pembelahan (duplikasi) sel dan DNA

4. Mutagenesis (mutasi gen baik yang spontan maupun dengan induksi)

5. DNA rekombinan

6. Pengklonan gen

Misalnya, gen dari bakteri bisa diselipkan di kromosom tanaman,

sebaliknya gen tanaman dapat diselipkan pada kromosom bakteri. Gen serangga

dapat diselipkan pada tanaman atau gen dari babi dapat diselipkan pada bakteri,

atau bahkan gen dari manusia dapat diselipkan pada kromosom bakteri.

Produksi insulin untuk pengobatan diabetes diproduksi di dalam sel

bakteri E. coli di mana gen penghasil insulin diisolasi dari sel pankreas manusia

yang kemudian diklon dan dimasukkan ke dalam sel E. coli. Dengan demikian

produksi insulin dapat dilakukan dengan cepat, massal, dan murah.Teknologi

rekayasa genetika juga memungkinkan manusia membuat vaksin pada tumbuhan,

(7)

Rekayasa Genetika Tumbuhan Bidang Perkebunan dan Pertanian 7 2.3 Tujuan Rekayasa Genetika

Rekayasa genetika pada tanaman mempunyai target dan tujuan antara lain

peningkatan produksi, peningkatan mutu produk supaya tahan lama dalam

penyimpanan pascapanen, peningkatan kandungan gizi, tahan terhadap serangan

hama dan penyakit tertentu (serangga, bakteri, jamur, atau virus), tahan terhadap

herbisida, sterilitas dan fertilitas serangga jantan (untuk produksi benih hibrida),

toleransi terhadap pendinginan, penundaan kematangan buah, kualitas aroma,

nutrisi, dan perubahan pigmentasi.

2.4 Produk-produk Rekayasa Genetik Bidang Perkebunan dan Teknik

Pembuatannya.

2.4.1 Teknik Rekayasa Genetika yang Digunakan

Untuk memproduksi berbagai tanaman perkebunan dengan menggunakan

rekayasa genetika dilakukan berbagai teknik antara lain teknik transgenik.

Transgenik adalah tanaman yang telah direkayasa bentuk maupun kualitasnya

melalui penyisipan gen atau DNA binatang, bakteri, mikroba, atau virus untuk

tujuan tertentu. Organisme transgenik adalah organisme yang mendapatkan

pindahan gen dari organisme lain. Gen yang ditransfer dapat berasal dari jenis

(spesies) lain seperti bakteri, virus, hewan, atau tanaman lain.

Secara ontologi tanaman transgenik adalah suatu produk rekayasa

genetika melalui transformasi gen dari makhluk hidup lain ke dalam tanaman

yang tujuannya untuk menghasilkan tanaman baru yang memiliki sifat unggul

yang lebih baik dari tanaman sebelumnya. Secara epistemologi, proses

pembuatan tanaman transgenik sebelum dilepas ke masyarakat telah melalui

hasil penelitian yang panjang, studi kelayakan dan uji lapangan dengan

pengawasan yang ketat, termasuk melalui analisis dampak lingkungan untuk

jangka pendek dan jangka panjang. Secara aksiologi, berdasarkan pendapat

kelompok masyarakat yang pro dan kontra tanaman transgenik memiliki manfaat

untuk memenuhi kebutuhan penduduk, tetapi manfaat tersebut belum teruji,

(8)

Rekayasa Genetika Tumbuhan Bidang Perkebunan dan Pertanian 8 Tujuan adanya tanaman transgenik yakni untuk menyejahterakan kehidupan

manusia. Diantaranya adalah untuk mendapatkan organisme baru yang memiliki

sifat lebih baik. Keunggulan dari tanaman transgenik tersebut umumnya adalah

tahan terhadap serangan hama.

2.4.2 Prosedur Pelaksanaan Teknik Transgenik

Gen yang telah diidentifikasi diisolasi dan kemudian dimasukkan ke dalam

sel tanaman melalui suatu sistem tertentu, sel tanaman yang membawa gen

tersebut dapat dipisahkan dari sel tanaman yang tidak membawa gen. Tanaman

pembawa gen ini kemudian ditumbuhkan secara normal. Tanaman inilah yang

disebut sebagai tanaman transgenik karena ada gen asing yang telah

dipindahkan dari makhluk hidup lain ke tanaman tersebut.

Tanaman transgenik merupakan hasil rekayasa gen dengan cara disisipi satu

atau sejumlah gen. Gen yang dimasukkan itu disebut transgene bisa diisolasi dari

tanaman tidak sekerabat atau spesies yang lain sama sekali. Transgenik didefinisi

the use of gene manipulation to permanently modify the cell or germ cells of

organism. Karena berisi transgene tadi, tanaman itu disebut genetically modified

crops (GM crops). Atau, organisme yang mengalami rekayasa genetika

(genetically modified organisms, GMOs). Transgene umumnya diambil dari

organisme yang memiliki sifat unggul tertentu.

2.4.3 Produk yang Telah Dihasilkan

Prosedur transgenik yang dilakukan para ahli telah membuahkan hasil

berupa tanamana-tanaman perkebunan dengan sifat yang lebih unggul.

Tanaman-tanaman tersebut antara lain :

a. Kapas Transgenik

Kapas hasil rekayasa genetika diperkenalkan tahun 1996 di Amerika

Serikat. Kapas yang telah mengalami rekayasa genetika dapat menurunkan

jumlah penggunaan insektisida. Diantara gen yang paling banyak

digunakan adalah gen cry (gen toksin)dari Bacillus thuringiensis, gen-gen

dari bakteri untuk sifat toleransi terhadap herbisida, gen yang menunda

(9)

Rekayasa Genetika Tumbuhan Bidang Perkebunan dan Pertanian 9 kapas transgenik adalah menekan penggunaan pestisida atau

membersihkan gulma tanaman dengan herbisida secara efektif tanpa

mematikan tanaman kapas.

Kapas Transgenik

Serangga merupakan kendala utama pada produksi tanaman kapas. Di

samping dapat menurunkan produksi, serangan serangga hama dapat

menurunkan kualitas kapas. Saat ini lebih dari 50 persen areal pertanaman

kapas di Amerika merupakan kapas transgenik dan beberapa tahun ke

depan seluruhnya sudah merupakan tanaman kapas transgenik. Demikian

juga dengan Cina dan India yang merupakan produsen kapas terbesar di

dunia setelah Amerika Serikat juga secara intensif telah mengembangkan

kapas transgenik.

b. Kelapa Sawit Transgenik

Tanaman kelapa sawit (Elaeis guineensis Jacq.) bersumbangsih

penting terhadap pertumbuhan ekonomi nasional, dan memiliki potensi

dalam pembangunan ekonomi dan pengentasan kemiskinan. Pohon

penghasil minyak ini banyak dibudidayakan di Indonesia, dimana sekitar

8,04 juta hektar tersebar di hampir seluruh provinsi di Indonesia. Hal ini

penting bagi industri kelapa sawit, khususnya perkebunan, untuk menjadi

lebih kompetitif dengan meningkatkan produktivitas tanaman per hektar,

serta memperluas nilai tambah dan kualitas minyak sawit.

Rekayasa genetika adalah metode untuk meningkatkan kualitas

tanaman dalam periode waktu yang lebih singkat. Tujuan dari studi ini

(10)

Rekayasa Genetika Tumbuhan Bidang Perkebunan dan Pertanian 10 menggunakan teknologi DNA dan rekayasa genetika. Lingkup pekerjaan

ini adalah mengidentifikasi dan mengumpulkan tanaman induk unggul dan

klon, isolasi DNA dan konstruksi plasmid, transformasi genetik, dan

pengembangan serta perbaikan komposisi minyak yang dihasilkan buah

dan biji kelapa sawit.

Metodologi yang diterapkan meliputi kultur jaringan tanaman

untuk menghasilkan kalus embriogenik dan plantlet berkualitas,

transformasi genetik dengan penembakan partikel dan metode yang

dimediasi Agrobacterium, serta isolasi gen yang terlibat dalam sintesis

minyak. Gen-gen tersebut adalah SAD, PATE/FATB, dan KASII. Laporan

ini menggambarkan hasil yang diperoleh pada tahun pertama kerjasama

penelitian antara Bioteknologi BPPT Pusat, Indonesia dan Fuji Oil Co Ltd,

Jepang pada tahun 2012. Transformasi Agrobacterium tumefaciens

dilakukan terhadap embrio, daun, kalus dan kalus embriogenik

menggunakan strain Agrobacterium LBA 4404, yang mengandung

plasmid pBGGN atau PalSelect (Gambar 1 dan 2), yang membawa gen

penanda seleksi (bar atau MALS) untuk ketahanan terhadap

herbisida(Glucfosinate atau Bispyribac).

Gambar 1. Skema Plasmid PBGGN-GFP

(11)

Rekayasa Genetika Tumbuhan Bidang Perkebunan dan Pertanian 11 Awalnya, material tanaman ditembak menggunakan partikel tanpa

plasmid untuk membuat lubang atau memecah dinding sel untuk

infeksi Agrobacterium. Infeksi terjadi selama 1 jam dalam kondisi gelap.

Setelah dicuci dengan medium cair yang mengandung karbenisilin dan

cefotaxime, bahan tanaman dikeringkan di atas kertas saring, kemudian

dipindahkan pada media ko-kultivasi selama 3 hari (Gambar 3).

Selanjutnya, bahan tanaman disubkultur pada medium yang mengandung

carbenicillin dan cefotaxime. Dua minggu kemudian, observasi dilakukan di

bawah mikroskop.

Gambar 3. Eksplan daun ditransformasi menggunakan pBGGN-GFP dan

PalSelect-GFP

Gambar 4 dan 5 menunjukkan hasil transformasi Agrobacterium.

Bintik-bintik hijau muncul pada kedua perlakuan, yaitu pada eksplan yang

ditransformasi menggunakan pBGGN-GFP dan PalSelect-GFP.

Bintik-bintik hijau pada perlakuan pertama, pBGGN-GFP, jauh lebih intens

daripada pada PalSelect-GFP. Munculnya bintik-bintik hijau ini berlanjut,

sebagaimana diperlihatkan pada pengamatan berikutnya, satu bulan

kemudian.

Gambar 4. GFP terlihat di dalam daun yang ditransformasi menggunakan

(12)

Rekayasa Genetika Tumbuhan Bidang Perkebunan dan Pertanian 12 Gambar 5. GFP ditunjukkan di dalam daun yang ditransformasi

menggunakan PalSelect-GFP

Usmani (2011) dalam penelitiannya melakukan pemanfaatan lahan

marginal untuk perkebunan kelapa sawit menuntut ketersediaan jenis

tanaman kelapa sawit yang tahan terhadap cekaman kekeringan. Rekayasa

genetika dilakukan dengan cara mentransformasi gen P5CS pembawa sifat

ketahanan terhadap cekaman kekeringan ke dalam kalus kelapa sawit.

Penelitian ini bertujuan untuk mentransformasi rakitan gen P5CS ke dalam

kalus kelapa sawit untuk mendapatkan kalus rekombinan yang memiliki

sifat toleran terhadap kekeringan. Tahapan penelitian diawali dengan

transformasi plasmid rekombinan pBI-P5CS dari Escherichia coli XL1

Blue pBIP5CS ke Agrobacterium tumefaciens AGL0. Selajutnya,

dilakukan seleksi A. tumefaciens AGL0 transforman dan deteksi gen P5CS

dengan PCR plasmid pBI-P5CS menggunakan primer P5CS. Metode

transfer gen P5CS ke dalam kalus kelapa sawit melalui A. tumefaciens

AGL0. Seleksi kalus transforman dilakukan pada media de Fossard padat

diikuti pengujian adanya gen P5CS di dalam kalus kelapa sawit

menggunakan PCR dengan bantuan gen nptII sebagai gen penanda.

Keberhasilan transformasi plasmid rekombinan pBI-P5CS ke dalam kalus

kelapa sawit melalui A. tumefaciens AGL0 ditunjukkan dengan adanya

fragmen gen P5CS berukuran sekitar 2,3 Kb serta keberadaan gen penanda

(13)

Rekayasa Genetika Tumbuhan Bidang Perkebunan dan Pertanian 13

c. Karet Transgenik

Karet (Hevea brasiliensis) merupakan komoditi yang memberikan

sumbangsih terbesar bagi perekonomian Indonesia karena merupakan

penghasil devisa tertinggi. Untuk mempertahankan dan meningkatkan

produksi lateks dalam upaya budidaya karet dapat dilakukan dengan

pendekatan teknologi. Aplikasi teknologi in vitro dapat digunakan dalam

efisiensi regenerasi jumlah plantlet secara luas. Penerapan teknologi in

vitro salah satunya adalah embriogenesis somatik.

Kultur in vitro melalui cara embriogenesis somatik banyak

mendapat perhatian karena jumlah propagula yang dihasilkan tidak

terbatas dan dapat diperoleh dalam waktu yang lebih singkat. Disamping

itu, untuk mendukung program pemuliaan tanaman melalui rekayasa

genetika, penggunaan embrio somatik dapat mempercepat keberhasilan

dengan peluang transformasi yang lebih tinggi karena embrio somatik

dapat berasal dari satu sel somatik. Untuk penyimpanan jangka pendek

maupun jangka panjang, embrio somatik dianggap merupakan bahan

tanaman yang ideal untuk disimpan karena bila diregenerasikan dapat

membentuk bibit somatik (Purnamaningsih, 2002).

Perbanyakan tanaman karet secara klonal dan masal dapat

dilakukan dari berbagai macam eksplan seperti potongan daun, hipokotil,

kotiledon, potongan batang atau anther. Kemampuan jaringan membentuk

kalus dan laju pertumbuhan kalus tergantung pada medium, zat pengatur

tumbuh dan beberapa faktor lingkugan lainnya. Nitrogen merupakan faktor

utama dalam memacu morfogenesis yang bersifat totipotensi secara in

vitro.

Embriogenesis somatic merupakan salah satu metode regenerasi

tanaman secara in vitro yang efisien. untuk perbaikan tanaman karet.

Untuk meningkatkan berlangsungnya embryogenesis somatik diperlukan

nutrisi yang tepat, salah satunya adalah kebutuhan nitrogen.

d. Tembakau Transgenik

Tembakau adalah termasuk salah satu tanaman perkebunan yang

(14)

Rekayasa Genetika Tumbuhan Bidang Perkebunan dan Pertanian 14 mengalami kenaikan dari tahun ke tahun, sejalan dengan perkembangan

dan pertumbuhan jumlah penduduk baik Indonesia dan Negara

berkembang. Bagi Indonesia, mengusahakan tanaman tembakau

disamping untuk mencukupi kebutuhan dalam negeri juga bertujuan untuk

merebut pasaran rokok dunia terutama tembakau jenis cerutu.

Tanaman tembakau dengan hasil yang maksimal maka dengan

meningkat hasil produksi dengan kualitas yang baik. Maka diperlukannya

dilakukan rekayasa terhadap lingkungan fisik terutaman iklim mikro dan

dengan pemberian bahan pengkondisi tanah dimana supaya daun

tembakau yang dihasilkan sebagai tanaman tembakau yang berkualitas.

Pengembangan varietas tahan virus merupakan komponen penting

dalam pengendalian virus. Upaya tersebut menghadapi kendala, yaitu

terbatasnya ketersediaan gen-gen penyediaan ketahanan terhadap virus

tersebut. Oleh karenanya, telah dikembangkan varietas-varietas transgenik

yang mengekspresikan gen -gen yang berasal dari genom virus yang

menyerang tanaman dan dihasilkan varietas-varietas tahan virus. Strategi ini

dikenal dengan ‘pathogen-derived resistance’ (PDR). Terjadinya

ketahanan terhadap virus pada tanaman transgenik berlangsung pada level

RNA, dan dikenal dengan istilah „gene silencing’.

Mekanisme ‘gene silencing’ dalam tahap sebelum transkripsi gen

dalam nukleus yang disebut dengan istilah „transcriptional gene silencing‟

(TGS). Gene silencing bisa juga terjadi di dalalm sitoplasma yaitu pada

tahap pasca transkripsi gen yang disebut dengan „post trancriptional gene

silencing‟ (PTGS). PTGS merupakan mekanisme yang paling sering terjadi

dalam hubungannya dengan PDR. Terjadinya PTGS dapat diinduksi oleh

populasi dsRNA dalam nukleus atau sitoplasma yang berasal dari virus yang

tengah bereplikasi, atau sekuens transgene yang berasal dari virus dengan

melibatkan RNA-dependent RNA Polymerase (RdRP) baik yang berasal

dari tanaman sendiri ataupun yang berasal dari genome virus.

Hal ini berkaitan dengan kenyataan bahwa genome virus telah

(15)

Rekayasa Genetika Tumbuhan Bidang Perkebunan dan Pertanian 15 transgenik yang diperoleh melalui mekanisme PTGS. Potensi virus CMV

(Cucumber Mozaic Virus) dalam mematahkan ketahanan terhadap virus

PVY (Potato Virus Y) pada tembakau transgenik yang mengekspresikan

gen Nia. Gen 20 dari CMV telah diidentifikasi peranannya sebagai pematah

ketahanan transgenik atau suppressor. Gen tersebut juga berfungsi sebagai

faktor yang berpengaruh pada pergerakan virus secara sistemik pada inang

tertentu.

Peningkatan selang waktu antara inokulasi CMV dan PVY

meningkatkan proporsi pematahan ketahanan transgenik terhadap PVY.

Inokulasi PVY pada daun baru yang terbentuk setelah inokulasi CMV

menghasilkan pematahan ketahanan total (100%). Hal ini disebabkan oleh

model aksi gen 2b dari CMV yang telah dikenal sebagai supressor melalui

pengagalan inisiasi ketahanan. Hal ini bahwa adanya ditemukan suatu

metode pematahan ketahanan terhadap virus PVY pada tembakau

transgenik, maka peluang untuk menghasilkan varietas unggul tahan PVY

sudah terbuka.

Hasil dari sebuah penelitian menunjukkan bahwa tanaman tembakau

hasil rekayasa genetika ternyata mampu memperbaiki kondisi tanah yang

tercemar TNT atau trinitrotoluene. TNT adalah bahan peledak yang umum

digunakan dalam dunia militer. Kontaminasi tanah oleh TNT adalah

merupakan masalah lingkungan terbesar yang dialami oleh negara-negara

yang terlibat dalam Perang Dunia II, daerah latihan militer dan area di mana

pabrik peledak berdiri. Selain berbahaya, TNT juga bersifat racun dan dapat

mengganggu kesehatan manusia.

Rekayasa genetikanya dengan memasukan enzim bakteri tertentu

ke dalam tanaman tembakau, yang dapat menguraikan TNT. Penelitian ini

membuktikan bahwa setelah dicoba ditanam di tanah yang terkontaminasi

dengan TNT menunjukkan bahwa tanaman tembakau hasil rekayasa

genetika mampu menurunkan kandungan TNT dalam tanah secara

signifikan. Dimana dapat di simpulkan bahwa tanaman hasil rekayasa

(16)

Rekayasa Genetika Tumbuhan Bidang Perkebunan dan Pertanian 16

e. Kopi Transgenik

Pengembangan kopi di Indonesia untuk masa yang akan datang

diarahkan untuk perluasan areal kopi arabika. Akan tetapi kopi arabika

cenderung peka terhadap penyakit karat daun oleh jamur Hemileia

vastatrix, yang dapat menurunkan produksi hingga 50% di Indonesia, 70%

di India dan 30% di Brazil (Mathew, 1978). Sedangkan penyakit penting

yang disebabkan oleh patogen pada tanaman kopi robusta adalah

Rhizoctonia solani, Fomes lamoensis serta nematoda Pratylenchus coffee

yang menyerang perakaran.

Penelitian ini bertujuan melakukan rekayasa genetika tanaman kopi

arabika dengan gen kitinase asal tanaman padi untuk meningkatkan

ketahanannya terhadap penyakit karat dan melalui peningkatan ekspresi

gen tersebut serta tetap menjaga produksi dan kualitas yang tinggi.

Kitinase telah dikenal memiliki peranan antijamur dalam mekanisme

ketahanan tanaman terhadap penyakit oleh jamur patogen. Salah satu

tahapan penting dalam rekayasa genetika tanaman adalah ditemukannya

metode regenerasi secara in vitro dari sel-sel yang tertransformasi menjadi

tanaman.

Prosedur regenerasi untuk kopi robusta telah ditemukan di

laboratorium, namun untuk regenerasi kopi arabika masih relatif sulit.

Oleh karena itu dalam penelitian ini juga dilakukan optimasi kondisi kultur

untuk regenerasi eksplan kopi arabika. Metode riset dilakukan dengan

introduksi gen penyandi kitinase (chi) ke dalam suatu jaringan tanaman

yang dilakukan melalui bantuan Agrobacterium tumefaciens. Sebelum

diintroduksikan ke dalam tanaman, gen tersebut di Hon dalam bakteri

E.coli, kemudian dipindahkan ke dalam sel A. tumefaciens dan selanjutnya

bakteri ini akan memasukkannya ke dalam genom tanaman. Mengingat

bahwa pada tanaman kopi sistem transformasi dan regenerasinya relative

sulit, maka sebelum ditransformasikan ke tanaman kopi arabika, gen anti

(17)

Rekayasa Genetika Tumbuhan Bidang Perkebunan dan Pertanian 17 Penelitian ini terdiri atas beberapa tahapan kegiatan, yaitu:

 Konstruksi bakteri E.coli dan A. tumefaciens yang membawa gen kitinase.

 Evaluasi ketahanan kopi arabika terhadap penyakit karat daun.

 Pengembangan tembakau dan kopi transgenik yang membawa gen kitinase.

 Deteksi ekspresi gen kitinase pada plantlet atau tanaman tembakau atau kopi transgenik secara DotBlot dan Western

blotting.

 Deteksi aktivitas kitinase menggunakan sistem gel substrat SDS-PAGE

 Bioasai tembakau transgenik terhadap P. Nicotianae.

 Pengaruh elisitor etilen terhadap peningkatan ekspresi gen kitinase pada tembakau dan kopi arabika transgenik dan

kontrol.

Berdasarkan hasil percobaan, disimpulkan bahwa rekombinan E.

coli yang ditransformasi dengan konstruksi yang membawa EPE, memiliki

resistensi kanamisin lebih tinggi daripada yang tidak membawa EPE. Gen

kitinase terekspresi baik pada rekombinan bakteri E.coli maupun A.

tumefaciens. Aktifitas enzimatis kitinase pada tembakau transgenik 5-8

kali lebih tinggi daripada non-transgenik dan setelah induksi aktivitas

kitinase pada plantlet kopi arabika transgenik sebesar 105,7 m/ml atau 5,7

kali dibanding kopi arabika normal sebesar 18,5 m/mL.

f. Tebu Produk Rekayasa Genetika (PRG)

Tebu Produk Rekayasa Genetika ( PRG ) toleran kekeringan klon

NXI-4T merupakan varietas tebu baru hasil perakitan melalui proses

transformasi genetika menggunakan bakteri Agrobacterium temefaciens

yang di lakukan oleh PTPN XI ( Persero). Materi genetik yang

digunakan untuk merakit tebu PRG toleran kekeringan NXI-4T adalah

(18)

Rekayasa Genetika Tumbuhan Bidang Perkebunan dan Pertanian 18 dan dikonstruk dalam plamsid pMLH 2113. Dalam konstruk tersebut

terlihat bahwa gen betA dikendalikan oleh promoter DNA 35S-CaMV

dan gen penanda ketahanan terhadap antibiotik hygromicine (hptII).

Konstruk pMLH 2113 yang mengadung gen betA kemudian

ditransformasikan ke sel Agrobacterium tumefaciens strain LBA4404

dan digunakan untuk transformasi genetik tanaman tebu.

Proses perakitan tebu PRG ini dilaksanakan di Laboratorium

Bioteknologi PTPN XI sejak tahun 1999 dan merupakan kerjasama

dengan Ajinomoto company International. Pekerjaan kontruksi gen

dilakukan oleh Ajinomoto transformasi genetika sampai dengan

pengkajian keamanan lingkungan dan pangan dilakukan oleh PTPN XI

(Mahardika, 2013)

Pencarian varietas tebu dengan sifat genetik tahan kering

merupakan salah satu jawaban untuk mengatasi permasalahan rendahnya

produktivitas tebu di lahan kering. Adanya interaksi yang nyata

antara lingkungan tumbuh yang kurang memadai dengan unsur genetik,

harus dipertimbangkan dalam program pemuliaan dan seleksi. Gen yang

mampu mengatasi kendala tumbuh digabungkan dengan gen mutu dan

produksi untuk mengantisipasi adanya pergeseran pertanaman tebu ke

lahan kering, dimana terjadi keterbatasan ketersediaan air dan iklim

yang beragam.

Upaya perbaikan genetik tanaman di Indonesia masih terbatas

melalui metode pemuliaan tanaman konvensional. Contohnya persilangan,

seleksi dan mutasi, dan masih belum secara optimal memanfaatkan aneka

teknologi pemuliaan modern yang saat ini sangat pesat perkembangannya

di negara-negara maju. Tidak terkecuali pada tanaman tebu, seluruh

varietas tebu yang dihasilkan di Indonesia berasal dari pemuliaan

konvensional.

Tujuan dari pengembangan tebu PRG toleran kekeringan adalah

untuk meningkatkan produksi gula tebu utamanya yang terletak pada lahan

marginal cekaman kekeringan. PT Perkebunan Nusantara XI mempunyai

(19)

Rekayasa Genetika Tumbuhan Bidang Perkebunan dan Pertanian 19 lain yang berpotensi mengalami cekaman kekeringan. Tebu PRG

toleran kekeringan sangat berpotensi dibudidayakan pada lahan

marginal tersebut. Selain itu, tebu PRG ini juga diarahkan untuk

tujuan meningkatkan nilai tambah dari by product tetes (molasses), karena

dengan transformasi gen betA tebu akan menghasilkan senyawa betain.

PRG NXI-4T : Merupakan varietas tebu baru dengan mempunyai sifat

toleran terhadap kekurangan air

Varietas NXI-4T untuk ketahanan terhadap serangan hama

penggerek batang dan penggerek pucuk secara alami pada periode uji

multilokasi tahun 2006 – 2011 dibandingkan dengan varietas kontrol

(20)

Rekayasa Genetika Tumbuhan Bidang Perkebunan dan Pertanian 20 Dari hasil keterangan di atas untuk hama dan penyakit

Varietas NXI-4T tergolong agak tahan terhadap penyakit mozaik dan

karat daun.

g. Coklat Transgenik

Gambar Buah Cokelat

Menurut Anonim (2010:4) bahwa cokelat sebagai bahan makanan

dan minuman sudah terkenal sangat lama dan sangat digemari oleh semua

kalangan di seluruh dunia serta mempunyai nilai istimewa. Dunia cokelat

merupakan minuman mewah yang hanya dikonsumsi oleh raja-raja dari

suku Maya dan Aztec (Amerika) yang dijadikan sebagai penambah

stamina dan dapat menjadi awet muda. Pada tahun 1560 kakao jenis

Criollo mulai diperkenalkan bangsa Spanyol ke Indonesia melalui

Minahasa, Sulawesi Utara.

Cokelat mempunyai kandungan fenol dan flavanoid tinggi sebagai

anti oksidan sehingga dapat mengurangi kolestrol pada darah yang mampu

mengurangi resiko terkena serangan jantung, mencegah timbulnya kanker,

(21)

Rekayasa Genetika Tumbuhan Bidang Perkebunan dan Pertanian 21 berguna bagi tubuh seperti vitamin A, B1, C, D dan vitamin E. Selain itu,

cokelat juga mengandung zat maupun nutrisi yang penting untuk tubuh

seperti zat besi, kalium dan kalsium (Litbang Deptan, 2013).

Tanaman kakao (Theobroma cacao L.) sebagai bahan baku cokelat

mempunyai peranan penting dalam perekonomian Indonesia dalam

penyediaan lapangan kerja, sumber pendapatan dan devisa negara.

Indonesia merupakan negara penghasil kakao terbesar ketiga setelah

Pantai Gading dan Ghana, yaitu dengan nilai produksi sebesar 535 ribu ton

pada periode tahun 2009/2010 (ICCO, 2010).

Perkebunan kakao di Indonesia didominasi perkebunan rakyat

sebesar 87,4% dikelola oleh rakyat, perkebunan besar swasta 6,6% dan

perkebunan besar negara 6,0% (Goenadi et al. 2005). Masalah yang

dihadapi kakao Indonesia adalah rendahnya produktivitas tanaman yang

sebagian besar pertanaman kakao belum menggunakan bahan tanam

unggul, pertanaman telah tua, belum diaplikasikannya teknologi budidaya

secara baik, dan serangan hama dan penyakit tanaman.

Menurut Wahyudi (2007) hama dan penyakit tanaman kakao

terpenting di Indonesia adalah penggerek buah kakao (PBK) yang

memberi kontribusi terbesar terhadap kehilangan hasil mencapai 5-80%.

Serangan penyakit busuk buah Phytophthora palmivora dan vascular

streak dieback juga menjadi masalah utama di beberapa daerah produksi

kakao. Penggunaan bahan tanam unggul dapat meningkatkan produktivitas

hasil tanaman menjadi lebih baik. Untuk mendapatkan bahan tanam

unggul dapat dilakukan dengan perbanyakan secara vegetatif, salah satu

cara perbanyakannya dapat dilakukan dengan metode teknik ex-vitro.

Balai Pengkajian Bioteknologi saat ini sedang melakukan

pengkajian dan pengembangan untuk perbanyakan dengan teknik

ex-vitro pada klon-klon kakao yang dianggap unggul berdasarkan

kementerian pertanian. Klon tanaman kakao yang digunakan antara lain

klon Sulawesi 01, Sulawesi 02, ICCRI 03, ICCRI 04 dan Scavina 06.

Kelima klon tersebut mempunyai produktivitas tinggi sebesar 2.000

(22)

Rekayasa Genetika Tumbuhan Bidang Perkebunan dan Pertanian 22

2.5 Produk-produk Rekayasa Genetik Bidang Pertanian dan Teknik

Pembuatannya.

Adapun perlengkapan yang diperlukan untuk rekayasa genetika adalah :

1. Enzim pemotong gen yaitu endonuklease retriksi

2. Enzim penyambung gen yaitu ligase

3. Vektor yang membawa gen yang akan disisipkan yaitu dapat berupa

plasmid bakteri atau virus

4. Inang

Adapun tahap-tahap rekayasa genetika adalah sebagai berikut :

1) Mendapatkan gen yang diinginkan (dimana gen tersebut dipotong dengan

enzim endonuklease retriksi)

2) Menyambungkan gen tersebut dengan enzim ligase

3) Vektor yang membawa gen sisipan tersebut dimasukkan ke dalam inang

4) Vektor dalam sel inang ditumbuhkan

5) Isolasi produk dari inang

6) Penyempurnaan produk

2.5.1 Teknik yang Digunakan

Untuk memproduksi berbagai tanaman pertanian dengan menggunakan

rekayasa genetika dilakukan berbagai teknik antara lain transgenik. Ahli rekayasa

genetika tanaman melakukan transformasi gen dengan tujuan untuk memindahkan

gen yang mengatur sifat-sifat yang diinginkan dari satu organisme ke organisme

lainnya.

Beberapa sifat yang banyak dikembangkan untuk pembuatan tanaman

transgenik misalnya:

 gen resistensi terhadap hama, penyakit dan herbisida,

 gen kandungan protein tinggi,

(23)

Rekayasa Genetika Tumbuhan Bidang Perkebunan dan Pertanian 23

 gen yang mengekspresikan suatu ciri fenotipe yang sangat menarik seperti warna dan bentuk bunga, bentuk daun dan pohon yang eksotik.

Dalam hubungannya dengan pembuatan tanaman transgenik terdapat tiga

komponen penting yaitu:

1) Isolasi gen target

Gen target yang kita inginkan misalnya gen Bt (gen tahan terhadap

penggerek yang diisolasi dari bakteri Bacillus thurigenensis) diekstrak kemudian

dipotong dengan enzim restriksi. Gen yang sudah terpotong-potong kemudian

diseleksi bagian gen mana yang menyandikan gen Bt dan diisolasi. Potongan gen

Bt kemudian disisipkan ke dalam DNA sirkular (plasmid) sebagai vektor

menghasilkan molekul DNA rekombinan gen Bt. Vektor yang sudah mengandung

molekul DNA rekombinan gen Bt dimasukkan kembali ke dalam sel inang yaitu

bakteri untuk diperbanyak. Sel inang akan membelah membentuk progeni baru

yang sudah merupakan sel DNA rekombinan gen Bt

2) Proses transfer gen ke tanaman target.

Agar sel DNA rekombinan get Bt dapat terintegrasi pada inti sel tanaman

maka diperlukan vektor yang lain lagi untuk memindahkan gen Bt ke dalam inti

sel tanaman. Vektor tersebut adalah bakteri Agrobacterium tumefaciens.Bakteri

ini menyebabkan penyakit tumor pada tanaman. Penyakit ini akan terjadi bila

terdapat luka pada batang tanaman sehingga memungkinkan bakteri menyerang

tanaman tersebut. Luka pada tanaman mengakibatkan tanaman mengeluarkan

senyawa opine yang merangsang bakteri untuk menyerang tanaman dimana

senyawa ini merupakan sumber karbon dan nitrogen dari bakteri. Akibat

masuknya bakteri menyebabkan terjadinya proliferasi sel yang berlebihan

sehingga menimbulkan penyakit tumor pada tanaman.

Kemampuan untuk menyebabkan penyakit ini pada tanaman ternyata ada

hubungannya dengan DNA sirkular (plasmid) Ti (Tumor inducing plasmid) dalam

sel bakteri Agrobacterium tumefaciens.Sifat yang menyolok pada plasmid Ti ialah

(24)

Rekayasa Genetika Tumbuhan Bidang Perkebunan dan Pertanian 24 DNAnya berintegrasi dalam DNA kromosom tanaman. Segmen ini dikenal

dengan nama T-DNA (transfer DNA). Metode kerjasama antara tanaman dan

Agrobacterium tumefaciens ini digunakan oleh ahli rekayasa genetika tanaman

untuk memindahkan gen Bt agar dapat terintegrasi dalam sel tanaman. Oleh

karena itu langkah selanjutnya adalah menyisipkan DNA rekombinan yang sudah

membawa gen Bt ke dalam plasmid Ti dari Agrobacterium tumefaciens. Setelah

itu Agrobacterium tumefaciens yang membawa gen Bt diinokulasikan pada

tanaman. Proses inokulasi tersebut dilakukan pada tanaman target yang sedang

diregenerasikan dalam kultur jaringan. Hal ini memudahkan bagi proses transfer

gen Bt ke dalam inti jaringan tanaman dimana tanaman masih dalam proses

pembelahan sel yang sangat aktif .

3. Ekspresi gen pada tanaman transgenik

Gen yang sudah dimasukkan ke dalam tanaman target dalam hal ini adalah

gen Bt yang mengekspresikan tanaman transgenik tahan terhadap hama penggerek

harus dapat diekspresikan. Untuk mengetahui apakah gen tersebut terekspresi atau

tidak digunakan penanda yaitu selectable and scoreable marker, dimana apabila

tanaman target dapat tumbuh pada media yang mengandung antibiotika atau

tanaman target menampakan warna khusus (warna biru untuk penanda gen gus)

maka tanaman target itu adalah tanaman transgenik sehingga setiap tanaman dapat

dibuat menjadi varietas unggul yang membuat hasil tanaman tersebut meningkat,

(25)

Rekayasa Genetika Tumbuhan Bidang Perkebunan dan Pertanian 25 2.5.2 Produk yang Dihasilkan

Berikut ini beberapa tanaman transgenik hasil rekayasa genetika yaitu :

(26)
(27)

Rekayasa Genetika Tumbuhan Bidang Perkebunan dan Pertanian 27 Pepaya Resisten terhadap

virus tertentu, contohnya Papaya ringspot virus (PRSV).

Gen yang menyandikan selubung virus PRSV ditransfer ke dalam tanaman pepaya

Melon Buah tidak cepat busuk.

Gen baru dari bakteriofag T3 diambil untuk mengurangi pembentukan hormon etilen (hormon yang berperan dalam pematangan buah) di melon.

Pembuatan Tumbuhan Yang Mampu Mengikat Nitrogen

Serelia atau tumbuhan rumput-rumputan berbiji merupakan tumbuhan

yang menyuplai 50% makanan pokok penduduk dunia.Namun serelia tidak

memiliki simbion bakteri pada akar-akarnya untuk memfiksasi nitrogen sehingga

kebutuhan nitrogen (N2) diperoleh dari penambahan pupuk buatan. Kelebihan

pupuk buatan yang diberikana dapat terbilas air dan mencemari air yang

dikonsumsi manusia.Nitrogen merupakan unsur esensial dari protein DNA dan

RNA.Pada tumbuhan polong-polongan sering ditemukan nodul pada akarnya.

Dalam nodul tersebut terdapat bakteri Rhizobium yang dapat mengikat

nitrogen bebas dari udara sehingga tumbuhan polong-polongan dapat mencukupi

kebutuhan nitrogennya.Dengan rekaysa genetika para peneliti mencoba

mengembangkan agar bakteri Rhizobium tersebut dapat hidup di dalam akar

(28)

Rekayasa Genetika Tumbuhan Bidang Perkebunan dan Pertanian 28 kemampuan bakteri dalam mengikat mitrogen dengan teknik rekombinasi gen.

Upaya tersebut dilakukan untuk mengurangi penggunaan pupuk nitrogen yang

selama ini banyak digunakan di lahan pertanian dan menimbulkan efek samping

yang merugikan.

Ilmuwan mengembangkan tumbuhan yang akar-akarnya dapat bersimbiosis

dengan Rhizobium. Ide ini melibatkan gen nif yang dapat mengontrol fiksasi

nitrogen. Ilmuwan menyisipkan gen nif pada tumbuha serelia dengan bakteri yang

mampu berasosiasi dengannya.

2.6 Dampak Positif dan Negatif dari Rekayasa Genetika Bidang

Perkebunan

2.6.1. Dampak Positif

Kelapa sawit transgenik dengan minyak sawit berkadar karoten tinggi.

Kapas transgenik Bt dengan serat kapas berwarna dan lebih kuat, serta tahan

terhadap hama. Karet transgenik yang diketahui menghasilkan lateks dengan

kadar protein tinggi sehingga apabila digunakan dalam pembuatan sarung tangan

dan kondom, dapat diperoleh kualitas yang sangat baik.

Tebu Produk Rekaya Genetika (PRG) toleran kekeringan klon

NXI-4T merupakan varietas tebu baru dengan mempunyai sifat toleran terhadap

kekurangan air. Potensi Keunggulan Produksi NXI-4T terlihat dengan hasil

produksi tebu dengan kesesuaian lahan kekeringan dan terdapatnya

peningkatan hasil hablur. Tanaman coklat toleran terhadap penyakit busuk buah

Phytophthora palmivora dan vascular streak dieback.

Tembakau menjadi potensi virus CMV dan tanaman transgenik yang

lainnya pada tanaman kopi arabika dengan gen kitinase asal tanaman padi untuk

meningkatkan ketahanannya terhadap penyakit karat dan melalui peningkatan

(29)

Rekayasa Genetika Tumbuhan Bidang Perkebunan dan Pertanian 29 2.6.2 Dampak Negatif

Jika dilihat dari aspek ekonomi tanaman transgenik menghasilkan mutu

yang lebih baik, salah satunya kelapa sawit transgenik menghasilkan minya

goreng yang berkualitas sehingga mengancam eksitensi industri minyak goreng

konvensional. Selain itu, kapas transgenik yang biasa dijadikan bahan pembalut

dapat menyebabkan penyakit kencing nanah (GO). Adapula terjadinya pergeseran

ekologi organisme transgenik dapat menimbulkan gangguan lingkungan yang

dikenal sebagai gangguan adaptasi. Adanya mutasi pada mikroorganisme

transgenik menyebabkan terbentuknya barrier species yang memiliki kekhususan

tersendiri yang menyebabkan superpatogenitas. Tanaman transgenik berpotensi

mudah diserang penyakit dan lebih disukai oleh serangga.

2.7 Dampak Positif dan Negatif dari Rekayasa Genetika Bidang

Pertanian

2.7.1 Dampak Positif

Rekayasa genetika pada tanaman mempunyai target dan tujuan antara lain:

1. Peningkatan produksi dan peningkatan mutu produk supaya tahan lama

dalam penyimpanan pascapanen

2. Peningkatan kandungan gizi pada tanaman dantahan terhadap serangan

hama dan penyakit tertentu (serangga, bakteri, jamur, atau virus)

3. Menghasilkan tanaman yang tahan terhadap herbisida, sterilitas dan

fertilitas serangga jantan (untuk produksi benih hibrida), toleransi terhadap

pendinginan, penundaan kematangan buah, kualitas aroma dan nutrisi serta

perubahan pigmentasi.

Rekayasa genetika tanaman transgenik dapat menghasilkan produk lebih

banyak dari sumber yang lebih sedikit, rekayasa tanaman transgenik dapat hidup

dalam kondisi lingkungan yang ekstrem dan akan memperluas daerah pertanian

serta mengurangi bahaya kelaparan. Selain itu makanan dapat direkayasa supaya

(30)

Rekayasa Genetika Tumbuhan Bidang Perkebunan dan Pertanian 30 2.7.2 Dampak Negatif

Munculnya bahan kimia baru yang berpotensi menimbulkan pengaruh

toksisitas pada tanaman yang berada di lingkungan pertanian, menimbulkan

gangguan keseimbangan ekosistem akibat musnahnya plasma nutfah organisme di

lingkungan perkebunan dan menimbulkan penyakit baru atau pun menjadi faktor

pemicu bagi penyakit lain

Selain itu, adanya tanaman transgenik dapat menimbulkan penyakit baru ,

antara lain (Genetically Modified Organism) atau Makhluk Hidup hasil Rekayasa

Genetik sangatlah berbahaya karena dapat menyebabkan penyakit baru.

2.8 Prokontra Rekayasa Genetika Bidang Perkebunan dari Berbagai

Aspek

2.8.1 Aspek Ekonomi

Berbagai komoditas perkebunan hasil rekayasa genetika telah memberikan

ancaman persaingan serius terhadap komoditas serupa yang dihasilkan secara

konvensional. Produksi minyak goreng canola dari tanaman rapeseeds transgenik

dapat berpuluh kali lipat bila dibandingkan dengan produksi dari kelapa atau

kelapa sawit sehingga mengancam eksistensi industri minyak goreng

konvensional.

2.8.2 Aspek Kesehatan

A. Potensi menimbulkan penyakit/gangguan kesehatan

WHO pada tahun 1996 menyatakan bahwa munculnya berbagai jenis

bahan kimia baru, baik yang terdapat di dalam organisme transgenik

maupun produknya, berpotensi menimbulkan penyakit baru atau pun

menjadi faktor pemicu bagi penyakit lain. Sebagai contoh, gen aad yang

terdapat di dalam kapas transgenik dapat berpindah ke bakteri penyebab

kencing nanah (GO), Neisseria gonorrhoeae. Akibatnya, bakteri ini menjadi

kebal terhadap antibiotik streptomisin dan spektinomisin. Padahal, selama

ini hanya dua macam antibiotik itulah yang dapat mematikan bakteri

(31)

Rekayasa Genetika Tumbuhan Bidang Perkebunan dan Pertanian 31 lagi dengan adanya kapas transgenik. Dianjurkan pada wanita penderita GO

untuk tidak memakai pembalut dari bahan kapas transgenik.

Contoh lainnya adalah karet transgenik yang diketahui menghasilkan

lateks dengan kadar protein tinggi sehingga apabila digunakan dalam

pembuatan sarung tangan dan kondom, dapat diperoleh kualitas yang sangat

baik. Namun, di Amerika Serikat pada tahun 1999 dilaporkan ada sekitar 20

juta penderita alergi. Hal ini akibat pemakaian sarung tangan dan kondom

dari bahan karet transgenik.

2.8.3 Aspek Lingkungan

A. Potensi pergeseran ekologi

Organisme transgenik dapat pula mengalami pergeseran ekologi.

Organisme yang pada mulanya tidak tahan terhadap suhu tinggi, asam atau

garam, serta tidak dapat memecah selulosa atau lignin, setelah direkayasa

berubah menjadi tahan terhadap faktor-faktor lingkungan tersebut.

Pergeseran ekologi organisme transgenik dapat menimbulkan gangguan

lingkungan yang dikenal sebagai gangguan adaptasi.

B. Potensi terbentuknya barrier species

Adanya mutasi pada mikroorganisme transgenik menyebabkan

terbentuknya barrier species yang memiliki kekhususan tersendiri. Salah

satu akibat yang dapat ditimbulkan adalah terbentuknya superpatogenitas

pada mikroorganisme.

C. Potensi mudah diserang penyakit

Tanaman transgenik di alam pada umumnya mengalami kekalahan

kompetisi dengan gulma liar yang memang telah lama beradaptasi

terhadap berbagai kondisi lingkungan yang buruk. Hal ini mengakibatkan

tanaman transgenik berpotensi mudah diserang penyakit dan lebih disukai

oleh serangga. Sebagai contoh, penggunaan tanaman transgenik yang

resisten terhadap herbisida akan mengakibatkan peningkatan kadar gula di

dalam akar. Akibatnya, akan makin banyak cendawan dan bakteri yang

datang menyerang akar tanaman tersebut. Dengan perkataan lain, terjadi

peningkatan jumlah dan jenis mikroorganisme yang menyerang tanaman

(32)

Rekayasa Genetika Tumbuhan Bidang Perkebunan dan Pertanian 32 memerlukan penggunaan pestisida yang lebih banyak, yang dengan

sendirinya akan menimbulkan masalah tersendiri bagi lingkungan.

2.9 Prokontra Rekayasa Genetika Bidang Pertanian dari Berbagai Aspek

Penggunaan rekayasa genetika khususnya pada tanaman tidak terlepas dari

pro kontra mengenai penggunaan teknologi tersebut. Berikut ini berbagai

pandangan mereka yang pro dan kontra terhadap tanaman transgenik.

2.9.1 Kontra (tidak setuju)

a) Dari segi ekonomi ekonomi:

1. Tanaman transgenik diperkirakan berbahaya, di beberapa Negara telah

mengatur dan menolak produk transgenik, sehingga menutup pasar ekspor

transgenic

2. Produk bebas transgenik memperoleh harga yang lebih baik di pasaran

internasional

3. Perusahaan transgenik memonopoli sistem produksi pangan

4. Perubahan pasar internasional atas produk minyak tangan

b) Dari segi konsumen:

1. Keracunan makanan transgenic

2. Berisiko kanker

3. Alergi terhadap makanan

4. Rusaknya kandungan gizi dan kualitas makanan

5. Kekebalan bibit penyakit terhadap antibiotik

c) Dari segi pertanian:

1. Hasil panen lebih rendah

2. Biaya produksi lebih tinggi

3. Memicu pertanian monokultur yang tidak berkelanjutan

4. Hilangnya varietas local

(33)

Rekayasa Genetika Tumbuhan Bidang Perkebunan dan Pertanian 33 d) Dari segi lingkungan:

1. Polusi genetika

2. Hilangnya keanekaragaman hayati

3. Virus tanaman baru yang lebih berbahaya

4. Dampak negative pada ekologi tanah

5. Gulma super

6. Hama super

2.9.2 Pro (setuju)

1. Tanaman transgenik memiliki kualitas yang lebih tinggi dibanding degan

tanaman konvensional, memiliki kandungan nutrisi yang lebih tinggi,

tahan hama, tahan cuaca sehingga penanaman komoditas tersebut dapat

memenuhi kebutuhan pangan secara capat dan menghemat devisa akibat

penghematan pemakaian pestisida atau bahan kimia serta memiliki

produktivitas yang lebih tinggi.

2. Teknik rekayasa genetika sama dengan pemuliaan tanaman yaitu

memperbaiki sifat-sifat tanaman dengan menambah sifat-sifat ketahanan

terhadap cengkeraman hama maupun lingkungan yang kurang

menguntungkan sehingga tanaman transgenik memiliki kualitas lebih baik

dari tanaman konvensional serta bukan hal yang baru karena sudah lama

dilakukan tetapi tidak disadari oleh masyarakat

3. Mengurangi dampak kerusakan dan pencemaran lingkungan, misalnya

tanaman transgenik tidak perlu pupuk kimia dan pestisida sehingga

(34)

Rekayasa Genetika Tumbuhan Bidang Perkebunan dan Pertanian 34 BAB III

PENUTUP

3.1 Kesimpulan

Adapun kesimpulan yang dapat diambil dari penulisan makalah ini adalah

sebagai berikut :

 Rekayasa genetika merupakan transplantasi atau pencangkokan satu gen ke gen lainnya dimana dapat bersifat antar gen dan dapat pula lintas gen

sehingga mampu menghasilkan produk

 Rekayasa genetika pada tanaman mempunyai target dan tujuan antara lain peningkatan produksi, peningkatan mutu produk supaya tahan lama dalam

penyimpanan pascapanen, peningkatan kandungan gizi, tahan terhadap

serangan hama dan penyakit tertentu.

 Penggunaan tanaman hasil rekayasa genetika memiliki dampak positif dan negatif sehingga penggunaannya harus sesuai dengan aturan.

 Pro kontra masyarakat terhadap genetika tumbuhan bidang perkebunan dapat dilihat dari berbagai aspek diantaranya aspek ekonomi, kesehatan,

(35)

Rekayasa Genetika Tumbuhan Bidang Perkebunan dan Pertanian 35 DAFTAR PUSTAKA

Anonim. 2008. Virus CMV terhadap Tanaman Tembakau Transgenik.

http://www.mediaperkebunan.net/index.php?option= com_content&view= ar

ticle&id= 74:tembakau-transgenik-&catid= 8:product&Itemid= 4 diakses

tanggal 10 Desember 2014

Anonim. . .http://www.mediaperkebunan.net. Diakses pada tanggal 30

November 2014

Anonim. 2010. Perakitan Tanaman Transgenik Kopi Arabika Tahan Terhadap

Penyakit Karat Daun. http://elib.pdii.lipi.go.id/katalog/index.php/

searchkatalog/byId/115505 diakses tanggal 13 Desember 2014

Anonim. 2010. Tembakau Obat Ebola.

http://life.viva.co.id/news/read/526976-tembakau-bisa-jadi-jawaban-untuk-ebola diakses tanggal 10 Desember

2014

Diyasti, Farriza. http://ditjenbun.pertanian.go.id/perlindungan/berita

-346-gmo-makhluk-perfect-tak-berarti-sempurna.html. Diakses pada tanggal 30

November 2014

Fuji, Hirohisa Saga.

http://biotek.bppt.go.id/index.php/produk/bioteknologi-pertanian/85-rekayasa-genetika-tanaman-kelapa-sawit. Diakses pada

tanggal 30 November 2014

Karmana, Wayan I. 2009. Adopsi Tanaman Transgenik dan Beberapa Aspek

Pertimbangannya.

http://unmasmataram.ac.id/wp/wp-content/uploads/3.-I-Wayan-Karmana1.pdf. GaneÇ Swara.Vol. 3 No.2 September 2009. Diakses

pada tanggal 30 November 2014

Ketut Sarna, dkk. 2001. Buku Ajar Genetika. Singaraja : IKIP N Singaraja.

Mahardika, Agung. 2013. Usulan Pelepasan Tebu Rekayasa Genetika (PRG)

Toleran Kekeringan NXI 4-T sebagai Varietas Unggul.

http://www.ptpn11.com/mengenalvarietastebunxi4tsebagaiprodukrekayasagenetika

-di-ptpn-xi-persero.html. Diakses pada tanggal 30 November 2014

Safitri, Esih Susi. 2003. Analisis Komponen Kimia dan Dimensi Serat Kayu Karet

(36)

Rekayasa Genetika Tumbuhan Bidang Perkebunan dan Pertanian 36 http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/16919. Diakses pada tanggal

30 November 2014

Usmani, Alfiah. 2011. Transformasi Gen P5cs (Pyrroline-5-Carboxylate

Synthetase) ke dalam Kalus Kelapa Sawit (Elaeis guineensis Jacq.) melalui

Agrobacterium tumefaciens AGL0. http://eprints.undip.ac.id/27257/

Gambar

Gambar 2. Skema Plasmid PalSelect-GFP Plasmid
Gambar 3. Eksplan daun ditransformasi menggunakan pBGGN-GFP dan PalSelect-GFP
Gambar 5. GFP ditunjukkan di dalam daun yang ditransformasi
Gambar Buah Cokelat

Referensi

Dokumen terkait

Handayani, S (2008).” Pelaksanaan wakaf uang dalam perspektif hukum islam setelah berlakunya Undang-Undang Nomor 41 tahun 2004 tentang wakaf dikota Semarang”..

Hasil penelitian tersebut menunjukkan kandungan pakan yang diberikan tidak mengandung bahan tambahan yang berlebih seperti protein dan lemak (soediaoetomo, 1991) yang

Jika anda memiliki koneksi internet yang memadai anda bisa gunakan repository dari internet untuk instalasi paket-paket yang dibutuhkan dalam mengkonfigurasi PC Server inic. Dalam

Manfaat yang diperoleh dengan adanya kegiatan wisata di Danau Linting: (bisa lebih dari satu)b. Kondisi jalan

Penilaian Pendidikan Karakter yang Dicakup Alokasi Waktu Sumber Belajar Memperoleh informasi sederhana secara lisan Mengung- kapkannya secara lisan atau tertulis

Hasil penelitian sebagian besar remaja memiliki pengetahuan yang kurang yaitu sebanyak 19 orang (54.3%), sebagian besar remaja tidak melakukan pemeriksaan payudara sendiri

Hanya sekitar satu dari tiap 400 kata yang tertulis dalam Bahasa Indonesia memiliki sufiks ini.. membentuk nomina yang menyatakan hasil perbuatan atau keadaan dalam

Abstrak : Pemahaman suatu konsep matematika secara benar mutlak diperlukan oleh seorang guru dan calon guru sebelum mereka mulai mengajarkan pada siswanya. Rendahnya