DALAM TAPE TALAS SEBAGAI SUMBER BELAJAR BIOLOGI DAN DAMPAKNYA TERHADAP KETERAMPILAN MENGINTERPRETASI
DATA PADA SISWA KELAS X SMA
SKRIPSI
Oleh:
BADRISYIYANI EKO WULANDARI K4307021
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN UNIVERSITAS SEBELAS MARET
ii
PENGGUNAAN MODUL HASIL PENELITIAN IDENTIFIKASI FUNGI DALAM TAPE TALAS SEBAGAI SUMBER BELAJAR BIOLOGI DAN DAMPAKNYA TERHADAP KETERAMPILAN MENGINTERPRETASI
DATA PADA SISWA KELAS X SMA
Oleh:
BADRISYIYANI EKO WULANDARI K4307021
Skripsi
Ditulis dan diajukan untuk memenuhi syarat guna mendapatkan gelar Sarjana Pendidikan Program Studi Pendidikan Biologi Jurusan Pendidikan Matematika dan
Ilmu Pengetahuan Alam
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN UNIVERSITAS SEBELAS MARET
iii
Skripsi ini telah disetujui untuk dipertahankan di hadapan Tim Penguji Skripsi Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Sebelas Maret Surakarta.
Persetujuan Pembimbing
Pembimbing I Pembimbing II
Dra. Muzayyinah, M. Si Harlita, S. Si, M.Si
iv
PENGESAHAN
Skripsi ini telah dipertahankan di hadapan Tim Penguji Skripsi Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Sebelas Maret Surakarta dan diterima untuk memenuhi persyaratan mendapatkan gelar Sarjana Pendidikan.
Pada hari :
Tanggal :
Tim Penguji Skripsi
Nama Terang Tanda Tangan
Ketua : Bowo Sugiharto, S.Pd, M.Pd. .………
Sekretaris : Riezky Maya Probosari, S.Si, M.Pd ...
Anggota I : Dra. Muzayyinah, M. Si ………..
Anggota II : Harlita, S. Si, M.Si ………..
Disahkan oleh
Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Sebelas Maret Surakarta Dekan,
v
Badrisyiyani Eko Wulandari. PENGGUNAAN MODUL HASIL PENELITIAN IDENTIFIKASI FUNGI DALAM TAPE TALAS SEBAGAI SUMBER BELAJAR BIOLOGI DAN DAMPAKNYA TERHADAP KETERAMPILAN MENGINTERPRETASI DATA PADA SISWA KELAS X SMA. Skripsi. Surakarta : Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Sebelas Maret Surakarta. Januari 2012.
Penelitian ini merupakan penelitian eksperimen yang hasilnya diimplementasikan pada pembelajaran biologi kelas X SMA. Tujuan penelitian ini adalah: (1) untuk mengetahui genus dari jamur yang terdapat dalam tape talas, (2) untuk mengetahui pengaruh penerapan modul hasil penelitian identifikasi fungi dalam tape talas sebagai sumber belajar biologi dan dampaknya terhadap keterampilan menginterpretasi data siswa kelas X SMA Al Islam 1 Surakarta.
Implementasi hasil penelitian pada pembelajaran biologi kelas X SMA ini merupakan penelitian eksperimen semu (Quasi experiment). Variabel bebas berupa sumber belajar biologi berupa modul dan variabel terikat adalah keterampilan menginterpretasi data siswa. Populasi penelitian identifikasi fungi dalam tape talas adalah fungi yang terdapat dalam tape talas. Populasi implementasi hasil penelitian pada proses pembelajaran pada pokok bahasan fungi adalah seluruh siswa siswa kelas X SMA Al Islam 1 Surakarta semester ganjil tahun pelajaran 2011/2012. Sampel penelitian adalah siswa kelas X.3 sebagai kelompok kontrol dan siswa kelas X.4 sebagai kelompok eksperimen. Teknik pengambilan sampel dengan menggunakan Cluster Random Sampling. Teknik pengumpulan data identifikasi fungi dalam tape talas dengan eksperimen dan dokumentasi sedangkan implementasi hasil penelitian terhadap keterampilan menginterpretasi data pada pokok bahasan fungi dengan lembar observasi. Teknik analisis data dengan menggunakan uji t.
Hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa: (1) identifikasi fungi dalam tape talas (Colocasia esculenta) ditemukan dua jenis yaitu genus Saccharomyces dan genusAspergillus dilihat dari ciri morfologi, (2) pemanfaatan modulhasil penelitian identifikasi fungi dalam tape talas sebagai sumber belajar biologi dan dampaknya berpengaruh nyata terhadap keterampilan menginterpretasi data pengamatan siswa kelas X SMA Al Islam 1 Surakarta tahun pelajaran 2011/2012.
vi ABSTRACT
Badrisyiyani Eko Wulandari. THE IMPLEMENTATION OF RESEARCH RESULTS OF THE FUNGAL IDENTIFICATION IN TARO TAPE AS A MODUL-BASED LEARNING SOURCE TOWARDS THE INTERPRETING DATA SKILL OF THE XTH GRADE OF SMA. Thesis, Surakarta: Biology Education Department of Teacher Training and Education Faculty of Sebelas Maret University of Surakarta, Januari 2012.
Keywords:fungal identification, learning source, interpreting data skill
This research aimed to find out: (1) the kinds genus of fungal in taro tape according to their morphological characteristics, (2) the effect of the utilization of the research result of identification as a modul-based learning source towards the interpreting data skill of the Xgradeof SMA.
This study was a quasi-experimental studies using observation. The independent variable of the research was the modul-based learning source whereas the dependent variable was the interpreting data skill. The population of the study was the entire class X atSMA Al Islam 1 Surakarta Academic Year2011/2012. The sample were taken toward fait control and experiment group. The sample was taken by using cluster random sampling method. The data of implementation of the learning material was taken using documentation procedures and observation. The proposed hypothesis were tested using t-test.
vii
Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai
sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Alloh mengetahui, sedang kamu tidak.
(Al Baqarah: 216)
Jadilah diri sendiri setiap waktu
(Cathie Balck)
Bila kita melihat keadaan dengan kacamata negatif, maka hidup akan tertekan, tapi sebaliknya bila
melihat keadaan dengan kacamata positif maka akan mendapat kepuasan dan kebahagiaan...so belajar
untuk selalu Positive Thingking agar hati tenang, nyaman dan bisa termasuk golongan orang-orang
yang bersyukur.
viii
PERSEMBAHAN
Kupersembahkan karya ini untuk:
Ibu, Ibu, dan Ibuku tersayang wanita terhebat di dunia bagiku..terima kasih tiada terkira untukmu Ibu. Tak akan pernah terputus doa
kupanjatkan untukmu Ibu...
Bapak, atas nasihat, segala pengertian dan kasih sayangnya Bapak…terima kasih sedalam-dalamnya...I Love U
Adik-adikku tersayang ( Trias Angelia Ramadhani dan Dian Indah Sulistyaningrum) yang selalu memberikan warna dalam hari-hariku.
Bu Yayin dan Bu Lita, terima kasih atas bimbingan dan nasehatnya… Ibu Ira, Ibu Michel, murid-muridku, seluruh staf karyawan SMA Al Islam
1 Surakarta yang telah membantu dalam penelitian.
Desy, Peny, Maya, Devy, Mayang, Siti, Raras, Dini, Ana, Nisa, Alyuni yang selalu memberikan semangat dan kekuatan dalam setiap
kebersamaan kita.. our friendship will never die, lingkaran yang kita buat tidak akan pernah ada ujungnya.
Bram, Nining dan Titis, perjuangan kita sungguh indah.. terimakasih untuk semangat yang selalu diberikan..
Bioholic ’07 yang menorehkan banyak kenangan dalam hidupku.. Para inspiratorku, yang selalu membantuku, yang selalu mendoakan
ix
Puji Syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT atas rahmat dan hidayah-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi dengan judul PENGGUNAAN MODUL HASIL PENELITIAN IDENTIFIKASI FUNGI DALAM TAPE TALAS SEBAGAI SUMBER BELAJAR BIOLOGI DAN DAMPAKNYA
TERHADAP KETERAMPILAN MENGINTERPRETASI DATA PADA
SISWA KELAS X SMA.
Skripsi ini disusun untuk memenuhi persyaratan dalam mendapatkan gelar sarjana pada program Pendidikan Biologi Jurusan Pendidikan Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Fakultas Pendidikan dan Keguruan Universitas Sebelas Maret Surakarta. Selama penelitian hingga terselesaikannya laporan ini, penulis menemui berbagai hambatan namun berkat bantuan dan dorongan dari berbagai pihak akhirnya hambatan yang ada dapat teratasi. Untuk itu, dengan segala kerendahan hati penulis mengucapkan terima kasih kepada:
1. Dekan Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Sebelas Maret Surakarta, yang telah memberi ijin dan kesempatan dalam penyusunan skripsi. 2. Ketua Jurusan Pendidikan Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Fakultas
Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Sebelas Maret Surakarta.
3. Ketua Program Pendidikan Biologi Jurusan Pendidikan Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Sebelas Maret Surakarta.
4. Dra. Muzayyinah, M. Si, selaku pembimbing I yang selalu memberikan bimbingan dan motivasi dalam menyelesaikan penyusunan skripsi.
5. Harlita, S. Si, M.Si, selaku pembimbing II yang selalu memberikan bimbingan dan motivasi dalam menyelesaikan penyusunan skripsi.
x
7. Ibu Ira dan Ibu Michel selaku guru mata pelajaran biologi yang telah memberi bimbingan dan bantuan selama penelitian.
8. Siswa kelas X.3 dan X.4 SMA Al Islam 1 Surakarta tahun pelajaran 2011/2012. 9. Siswa kelas X.2 SMA Al Islam 1 Surakarta tahun pelajaran 2011/2012.
10. Bapak dan Ibu yang tak henti-hentinya memberikan support baik moral maupun spriritual.
11. Berbagai pihak yang telah membantu dalam penyusunan skripsi ini yang tidak mungkin disebutkan satu persatu.
Penulis menyadari bahwa dalam menyusun skripsi ini masih jauh dari kesempurnaan. Oleh karena itu kritik dan saran sangat penulis harapkan demi perbaikan dan kesempurnaan skripsi ini. Semoga skripsi ini bermanfaat bagi semua pihak yang berkepentingan.
Surakarta, Januari 2012
xi
Halaman
HALAMAN JUDUL ... i
HALAMAN PENGAJUAN ... ii
HALAMAN PERSETUJUAN ... iii
HALAMAN PENGESAHAN ... iv
HALAMAN ABSTRAK... HALAMAN ABSTRACT ... v vi HALAMAN MOTTO... vii
HALAMAN PERSEMBAHAN ... viii
KATA PENGANTAR ... ix
DAFTAR ISI ... xi
DAFTAR TABEL ... xiii
DAFTAR GAMBAR ... xiv
DAFTAR LAMPIRAN ... xv
BAB I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang... 1
B. Perumusan Masalah ... 3
C. Tujuan Penelitian ... 3
D. Manfaat Penelitian ... 4
BAB II. LANDASAN TEORI A. Tinjauan Pustaka ... 5
1. Fungi Dalam Tape Talas... a. Talas... b. Fermentasi... 1) Pengertian Fermentasi... 2) Mekanisme Fermentasi... c. Tape... 1) Istilah Tape... 2) Proses Pembuatan Tape... d. Fungi dalam Tape... 2. Sumber Belajar... 3. Keterampilan Menginterpretasi Data... 5 5 7 7 9 10 10 11 12 16 20 B. C. Kerangka Pemikiran ... Hipotesis... 22 24 BAB III. METODE PENELITIAN I. Penelitian Pembuatan Tape... 25
A. Tempat dan Waktu Penelitian ... 25
1. Tempat Penelitian ... 25
2. Waktu Penelitian ... 25
B. Metode Penelitian ... 25
xii
D. Teknik Pengumpulan Data... 26
E. Prosedur Penelitian... 26
II. Aplikasi Hasil Penelitian... 27
A. Tempat dan Waktu Penelitian... 1. Tempat Penelitian... 2. Waktu Penelitian... 27 27 27 B. Populasi dan Teknik Pengambilan Sampel ... 1. Populasi Penelitian... 2. Sampel Penelitian... 3. Teknik Pengambilan Sampel... 28 28 28 28 C. D. E. Teknik Pengumpulan Data ... 1. Variabel Penelitian... 2. Metode Pengumpulan Data... 3. Analisis Instrumen... Rancangan Penelitian……… Teknik Analisis Data... 29 29 29 30 31 32 1. Uji Kesetimbangan... 32
2. Uji Hipotesis ... 34
BAB IV. HASIL DAN PEMBAHASAN A. Deskripsi Data ……..………... 1. Data Identifikasi Fungi………... a) Fungi dalam Tape Talas……….. b) Deskripsi Fungi dalam Tape Talas ……… c) Deskripsi Jenis Fungi dalam Tape Talas……… d) Deskripsi Penerapan Hasil Penelitian………. 2. Deskripsi Data Implermerntasi Hasil Penelitian ………….. B. Pengujian Prasyarat Analisis Data ………..……….. C. Pengujian Hipotesis……… D. Pembahasan……… BAB V. SIMPULAN, IMPLIKASI DAN SARAN 35 35 40 40 41 43 44 48 49 50 A. Simpulan ... 56
B. Implikasi ... 56
C. Saran ... 57
DAFTAR PUSTAKA ... 58
xiii
Halaman
Tabel 1. Kandungan Gizi Talas ... 6
Tabel 2. Kandungan Gizi Ragi Tape………... 13
Tabel 3. Kandungan Mikroorganisme dalam Ragi...………...…… 14
Tabel 4. Peranan Mikroorganisme dalam Ragi Tape ... 15
Tabel 5. Rancangan Penelitian ... 31
Tabel 6. Daftar Hasil Identifikasi Fungi dalam Tape Talas.……… 35
Tabel 7. Hasil Identifikasi Fungi dalam Tape Talas... 35
Tabel 8. Karakteristik Isolat Fungi secara Makroskopis ... 36
Tabel 9. Karakteristik Isolat Fungi secara Makroskopis... 36
Tabel 10. Daftar Hasil Identifikasi Fungi dalam Tape Talas……… 40
Tabel 11. Perbandingan Ciri Morfologi Fungi ... 42
Tabel 12. Hasil Analisis Rata-rata Nilai Setiap Indikator LO Keterampilan Menginterpretasi Data Kelas Kontrol... 45 Tabel 13. Hasil Analisis Rata-rata Setiap Indikator LO Keterampilan Menginterpretasi Data Kelas Eksperimen... 46 Tabel 14. Data Nilai rata-rata keterampilan menginterpretasi data siswa... 47 Tabel15 Hasil Uji Normalitas keterampilan menginterpretasi data pengamatan... 49 Tabel 16. Hasil Uji Homogenitas keterampilan menginterpretasi data…….. 49
xiv
DAFTAR GAMBAR
Halaman Gambar 1. Talas …………... 5 Gambar 2.
Gambar 3. Gambar 4. Gambar 5. Gambar 6. Gambar 7. Gambar 8. Gambar 9. Gambar 10. Gambar 11. Gambar 12.
Reaksi fermentasi gula oleh Saccharomyces cereviseae... Alur proses fermentasi………..……… Askus dan askospora………. Paradikma pemikiran……….……… Genus Saccharomyces………..…. Genus Aspergillus………... Spesies a: Aspergillus sp, spesies b: Saccharomyces sp……… Reaksi fermentasi gula oleh Saccharomycess cereviseae…….. Rata-rata Nilai Setiap Indikator Kelas Kontrol……… Rata-rata Nilai Setiap Indikator Kelas Eksperimen…………. Nilai Rata-rata Keterampilan menginterpretasi data...
xv
Halaman Lampiran 1. Instrumen Penelitian
a. Silabus ...………...……….. b. Rencana Pelaksanaan Pembelajaran Kelas Kontrol ... c. Rencana Pelaksanaan Pembelajaran Kelas Eksperimen ……... d. Lembar Kerja Siswa . ... e. Modul Fungi...………. f. Kisi-Kisi Lembar Observasi Keterampilan Menginterpretasi Data.... g. Lembar Observasi Keterampilan Menginterpretasi Data... Lampiran 2. Data Hasil Penelitian
a. Lembar Observasi Keterampilan Menginterpretasi Data Kelas Kontrol……….. b. Lembar Observasi Keterampilan Menginterpretasi Data Kelas Eksperimen... c. Daftar Nilai Awal Siswa Kelas X3 (kontrol)... a. Daftar Nilai Awal Siswa Kelas X4 (eksperimen) ... d. Daftar Nilai Keterampilan Menginterpretasi Data Kelas Kontrol…... e. Daftar Nilai Keterampilan Menginterpretasi Data Kelas Eksperimen. Lampiran 3. Uji Prasyarat
a. Uji Kemampuan Awal ... b. Uji Normalitas Kemampuan Awal ……...………... c. Uji Homogenitas Kemampuan Awal ……..……… d. Uji Kesetimbangan………... e. Uji Normalitas ……….
f. Uji Homogenitas………..
Lampiran 4. Uji Hipotesis
a. Uji t-test……….. Lampiran 5. Dokumentasi Penelitian
a. Identifikasi Fungi……….. ...…... b. Dokumentasi Kelas Kontrol...………...
c. Dokumentasi Kelas Eksperimen……….
Lampiran 6. Perijinan
1 BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Tape merupakan makanan tradisional yang sangat populer di Indonesia. Tape biasanya dibuat dari beras ketan dan ketela pohon yang kaya akan kandungan karbohidrat. Alternatif bahan yang bisa digunakan dalam pembuatan tape selain dari beras ketan dan singkong adalah dari talas (Colocasia esculentaL.) Talas merupakan umbi-umbian yang juga mengandung karbohidrat cukup tinggi, protein, lemak, dan vitamin.
Proses pembuatan tape dimulai dengan proses fermentasi. Proses fermentasi yang terjadi selama pembuatan tape tidak terlepas dari peranan mikroba yang terdapat pada ragi tape, mikroorganisme yang terdapat dalam ragi tape berasal dari golongan kapang, khamir dan bakteri. Identifikasi fungi pada tape sangat perlu dilakukan untuk mengetahui fungi apa saja yang terlibat aktif dalam proses pembuatan tape.
reproduksi jamur, memahami informasi tentang peranan jamur dalam kehidupan dan melakukan praktek pembuatan jenis makanan olahan dengan fermentasi jamur.
Keberhasilan pencapaian kompetensi dasar tersebut sangat terkait dengan proses pembelajaran. Keberhasilan pembelajaran sangat dipengaruhi oleh proses belajar dan aktivitas siswa. Pencapaian kompetensi tersebut diperlukan keterampilan-keterampilan pada proses pembelajaran khususnya biologi karena pada dasarnya pembelajaran biologi tidak lepas dari proses dan keterampilan-keterampilan untuk memahami konsep dan sekaligus sebagai bekal untuk pendidikan yang lebih lanjut dengan adanya keterampilan yang dilatih di sekolah.
Keterampilan-keterampilan proses belajar yang dapat dikembangkan di sekolah dalam pembelajaran biologi khususnya antara lain merencanakan penelitian, menyusun hipotesis, mengendalikan variabel, bereksperimen, observasi, menginterpretasi data, dan mengkomunikasikan hasil pengamatan. Keterampilan menginterpretasi data pengamatan merupakan keterampilan yang seyogyanya dikembangkan dalam proses pembelajaran biologi. Keterampilan menginterpretasi data pengamatan adalah keterampilan dasar yang harus dikuasai oleh siswa dalam mata pelajaran Sains khususnya biologi yang pada dasarnya mata pelajaran ini tidak lepas dari penelitian dan percobaan ilmiah. Keterampilan ini harus dikembangkan dan dilatih kepada siswa agar tidak mengalami kesulitan dan bisa menjadi tolak ukur keberhasilan dalam suatu percobaan ilmiah. Menginterpretasi data pengamatan dapat dilihat melalui kegiatan-kegiatan yang dilakukan antara lain mencatat pengamatan, menjelaskan data pengamatan, mengorganisasikan data dalam tabel/gambar, menentukan pola hubungan sebab akibat, membandingkan data dengan teori, mendefinisikan makna dari gambar, menganalisis data, dan menarik kesimpulan. Hasil penelitian/percobaan di dunia sains bisa dipahami oleh semua orang dengan adanya interpretasi data.
3
penelitian biologi. Modul hasil penelitian yang dipakai dalam pembelajaran biologi di kelas X SMA Al Islam 1 Surakarta ini membahas mengenai fungi meliputi ciri morfologi dan struktur dari fungi khususnya fungi dalam tape talas dan peranan dalam kehidupan sehari–hari yaitu proses pembuatan tape yang melibatkan jamur tersebut.
Berdasarkan latar belakang di atas, maka telah dilakukan penelitian dengan judul :
“PENGGUNAAN MODUL HASIL PENELITIAN IDENTIFIKASI
FUNGI DALAM TAPE TALAS SEBAGAI SUMBER BELAJAR BIOLOGI DAN DAMPAKNYA TERHADAP KETERAMPILAN MENGINTERPRETASI DATA PADA SISWA KELAS X SMA”
B. Perumusan Masalah
Berdasar latar belakang tersebut dapat dirumuskan masalah yaitu: 1. Apa sajakah genus dari jamur yang berperan dalam pembuatan tape talas?
2. Adakah pengaruh penggunaan modul hasil penelitian identifikasi fungi dalam tape talas sebagai sumber belajar biologi dan dampaknya terhadap keterampilan menginterpretasi data siswa kelas X SMA Al Islam 1 Surakarta tahun pelajaran 2011/2012?
C. Tujuan Penelitian Penelitian ini bertujuan untuk:
1. Mengetahui genus dari jamur yang terdapat pada tape talas.
D. Manfaat Penelitian
Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberi manfaat antara lain 1. Bagi Siswa
a. Melatih keterampilan menginterpretasi data sebagai salah satu kompetensi yang harus dimiliki
b. Memberikan alternatif sumber belajar yang dapat memperkaya informasi tentang konsep pembelajaran biologi
2. Bagi guru
a. Masukan bagi guru untuk menyusun sumber belajar alternatif selain buku paket sebagai upaya inovasi pembelajaran
b. Memberi masukan bagi guru dalam mengembangkan keterampilan menginterpretasi data pada siswa
3. Bagi institusi
5 BAB II
LANDASAN TEORI
A. Tinjauan Pustaka 1. Fungi Dalam Tape Talas a. Talas
Talas dalam sistematika tumbuhan menurut Gembong Tjitrosoepomo (1990:342-345) dapat diklasifikasikan sebagai berikut :
Gambar 1. Talas a. Kingdom : Plantae
b. Divisi : Spermatophyta c. Class : Dicotyledoneae d. Ordo : Arales
e. Famili : Araceae f. Genus : Colocasia
g. Spesies : Colocasia esculenta
Talas merupakan tanaman pangan berupa herba menahun. Talas termasuk dalam suku talas-talasan (Araceae), berperawakan tegak, tingginya 1 cm atau lebih dan merupakan tanaman semusim atau sepanjang tahun. Talas mempunyai beberapa nama umum yaitu Taro dan Old cocoyom (Kemal Prihatman, 2000:1)
x 15 cm, berwarna coklat. Daun berbentuk perisai atau hati, lembaran daunnya 20-50 cm panjangnya, dengan tangkai mencapai 1 meter panjangnya, warna pelepah bermacam-macam. Perbungaan terdiri atas tongkol, seludang dan tangkai. Bunga jantan dan bunga betina terpisah. Buah bertipe buah buni. Biji banyak, berbentuk bulat telur, panjangnya 2 mm (Arentyba, 2011:1).
Talas merupakan umbi berbentuk silinder atau lonjong sampai agak bulat. Kulit talas bewarna kemerahan, bertekstur kasar dan terdapat bekas-bekas pertumbuhan akar. Warna daging putih keruh. Kandungan kimia dalam talas dipengaruhi oleh varietas, iklim, kesuburan tanah, dan umur panen. Umbi talas segar sebagian besar terdiri dari air dan karbohidrat. Talas berkembang biak dengan anakan, sulur umbi anakan atau pangkal umbi serta bagian pelepah daunnya (Arie Cyberedan, 2011:1).
Talas merupakan sumber pangan yang penting karena selain merupakan sumber karbohidrat, protein dan lemak, talas juga mengandung beberapa unsur mineral dan vitamin sehingga dapat dijadikan bahan obat-obatan. Komposisi zat yang terkandung dalam 100 gram talas dapat dilihat pada Tabel 1
Tabel 1. Kandungan gizi Talas per 100 gram Bahan
Komponen Satuan T. mentah T. Rebus
Energi Kalori 120 108
Protein Gram 1,5 1,4
Lemak Gram 0,3 0,4
Karbohidrat Gram 28,2 25
Kalsium Miligram 31 47
Fospor Miligram 67 67
Besi Miligram 0,7 0,7
Abu Gram 0,8 0,8
Vitamin C Miligram 2 4 Vitamin B1 Miligram 0,05 0,06 Air Gram 69,2 72,4 Bagian yang dapat % 85,0 Dimakan
7
b. Fermentasi
1) Pengertian Fermentasi
Johan W. von Mollendorff (2008:14) mengungkapkan fermentasi merupakan proses perubahan biokimia dari substrat karena adanya aktivitas dari mikroba dan enzim yang dikeluarkan oleh mikroba tersebut. Pada proses fermentasi terjadi peningkatan nutrisi dan kualitas organoleptik.
Fermentasi dapat terjadi karena adanya aktivitas mikroba penyebab fermentasi pada substrat organik sesuai. Menurut Winarno (1984:10) terjadinya proses fermentasi dapat menyebabkan perubahan sifat pangan sebagai akibat pemecahan kandungan-kandungan bahan pangan tersebut.
Fermentasi pada dasarnya merupakan suatu proses enzimatik dimana enzim yang bekerja mungkin sudah dalam keadaan terisolasi yaitu dipisahkan dari selnya atau masih dalam keadaan terikat di dalam sel. Pada beberapa proses fermentasi yang menggunakan sel mikroba, reaksi enzim mungkin terjadi sepenuhnya di dalam sel mikroba karena enzim yang bekerja bersifat intraselular. Pada proses lainnya reaksi enzim terjadi di luar sel karena enzim yang bekerja bersifat ekstraseluler (Srikandi Fardiaz, 1988:6).
Menurut Hidayat (2000:23) fermentasi tape yang paling baik terjadi pada kondisi mikroaerob, karena pada kondisi anaerob kapang tidak mampu tumbuh sehingga kapang tidak mampu menghidrolisis pati, sedangkan pada kondisi aerob, pertumbuhan kapang dan khamir berlangsung baik tetapi aroma yang dikehendaki tidak muncul.
Keberhasilan proses fermentasi dipengaruhi beragam faktor dan kondisi lingkungan. Winarno dan Fardiaz (1984:63-65) mengungkapkan beberapa faktor yang mempengaruhi keberhasilan fermentasi
a) Keasaman
sangat berpengaruh dalam perkembangan bakteri. Kondisi keasaman yang baik untuk pertumbuhan bakteri adalah 3,5 - 5,5.
b) Mikroba
Fermentasi biasanya dilakukan dengan kultur murni yang dihasilkan di laboratorium. Kultur ini dapat disimpan dalam keadaan kering atau dibekukan. Pembuatan makanan dengan cara fermentasi di Indonesia pada umumnya tidak menggunakan kultur murni sebagai contoh misalnya ragi pasar mengandung beberapa ragi diantaranya Saccharomyces cereviseae yang dicampur dengan tepung beras dan dikeringkan. Kultur murni biasa digunakan dalam fermentasi misalnya untuk pembuatan anggur, bir, keju, sosis, dan lain-lainnya.
c) Suhu
Suhu fermentasi sangat menentukan macam mikroba yang dominan selama fermentasi. Setiap mikroorganisme memiliki suhu maksimal pertumbuhan, suhu minimal pertumbuhan dan suhu optimal. Suhu pertumbuhan optimal adalah suhu yang memberikan pertumbuhan terbaik dan perbanyakan diri tercepat.
d) Alkohol
Mikroorganisme yang terkandung dalam ragi tidak tahan terhadap alkohol dalam kepekatan (kadar) tertentu, kebanyakan mikroba tidak tahan pada konsentrasi alkohol 12 – 15 %
e) Oksigen
9
f) Substrat dan Nutrien
Mikroorganisme memerlukan substrat dan nutrien yang berfungsi untuk menyediakan :
a) Energi, biasanya diperoleh dari substansi yang mengandung karbon, yang salah satu sumbernya adalah gula.
b) Nitrogen, sebagian besar mikroba yang digunakan dalam fermentasi berupa senyawa organik maupun anorganik sebagai sumber nitrogen. Salah satu contoh sumber nitrogen yang dapat digunakan adalah urea.
c) Mineral, yang diperlukan mikroorganisme salah satunya adalah phospat yang dapat diambil dari pupuk TSP.
d) Vitamin, sebagian besar sumber karbon dan nitrogen alami mengandung semua atau beberapa vitamin yang dibutuhkan. Defisiensi vitamin tertentu dapat diatasi dengan cara mencampur berbagai substrat sumber karbon atau nitrogen.
2) Mekanisme Fermentasi
Salah satu substrat utama yang dipecah dalam proses fermentasi adalah karbohidrat, karbohidrat banyak terdapat dalam bahan nabati berupa gula sederhana, heksosa, pentosa, pati, pektin, selulosa dan lignin. Pada umumnya karbohidrat dapat dikelompokkan menjadi monosakarida, oligosakarida dan polisakarida. Monosakarida merupakan suatu molekul yang dapat tediri dari lima atau enam atom carbon (C), oligosakarida merupakan polimer dari 2–10 monosakarida, dan polisakarida merupakan polimer yang terdiri lebih dari 10 monomer monosakarida. Salah satu jenis polisakarida adalah pati yang banyak terdapat dalam serealia dan umbi–umbian. Selama proses pematangan, kandungan pati berubah menjadi gula-gula pereduksi yang akan menimbulkan rasa manis (Winarno, 2002:17-18)
C6H12O6 2 C2H5OH + 2 CO2+ 22 kkal
Gambar 2. Reaksi Fermentasi Gula oleh Saccharomyces cereviseae
Winarno dan Fardiaz (1990:68) berpendapat di dalam proses fermentasi, kapasitas mikroba untuk mengoksidasi tergantung dari jumlah aseptor elektron terakhir yang dapat dipakai. Sel–sel melakukan fermentasi menggunakan enzim– enzim yang akan mengubah hasil dari reaksi oksidasi, dalam hal ini yaitu asam menjadi senyawa yang memiliki muatan lebih positif, sehingga dapat menangkap elektron terakhir dan menghasilkan energi.
Khamir lebih cenderung memfermentasi substrat karbohidrat untuk menghasilkan etanol bersama sedikit produk akhir lainnya jika tumbuh dalam keadaan anaerobik.
Etanol memiliki nama lain alkohol, aethanolum dan etil alkohol merupakan cairan yang bening, tidak berwarna, mudah mengalir, mudah menguap serta mudah terbakar dengan api biru tanpa asap. Etanol dapat larut dalam air, kloroform, eter, gliserol, dan hampir dapat larut dalam semua jenis pelarut organik lainnya.
c. Tape
1) Istilah tape
Tape merupakan makanan tradisional yang banyak dikonsumsi oleh masyarakat Indonesia. Tape dibuat dari bahan makanan yang mengandung karbohidrat seperti singkong, ketan dan bahan-bahan lain yang mengandung tepung/ karbohidrat.
Tape merupakan makanan tradisional hasil fermentasi yang mempunyai rasa manis, beraroma alkohol dan mempunyai tekstur yang lunak seperti pasta. Tape merupakan makanan olahan hasil industri rumah tangga. Substrat yang dipakai biasanya adalah beras ketan atau singkong (Gloria Lim, 1991:89)
Winarno (1984:59) mengungkapkan suatu bahan disebut tape apabila bahan yang telah diragikan berubah menjadi lebih lunak, rasa manis keasam-asaman dan berbau alkohol. Hal ini disebabkan oleh kegiatan mikroba-mikroba tertentu
11
yang dapat menghasilkan enzim yang mampu merombak subtrat menjadi gula dan alkohol.
2) Proses Pembuatan Tape
Proses pembuatan tape dari tinjauan Teknik Kimia merupakan proses konversi karbohidrat (pati) yang terkandung dalam talas menjadi gula kemudian berlanjut menjadi alkohol melalui proses biologi dan kimia (biokimia) berikut:
Hidrolisis Fermentasi
Pati Glukosa Alkohol Proses hidrolisis melalui reaksi sebagai berikut :
Hidrolisis
(C6H10O5)n+ n H2O n(C6H12O6)
Fermentasi oleh ragi, misalnya Saccharomyces cereviseae dapat menghasilkan etil alkohol (etanol) dan CO2 melalui reaksi sebagai berikut :
Ragi
(C6H12O6) 2C2H5OH + 2 CO2 Gambar 3. Alur Proses Fermentasi
1. Hidrolisis (Perebusan)
Hidrolisis adalah suatu proses antara reaktan dengan air agar suatu senyawa pecah atau terurai. Dalam pembuatan tape, tahap hidrolisis diwakili oleh tahap perebusan substrat. Reaksi hidrolisis merupakan reaksi orde satu karena air yang digunakan berlebih, sehingga perubahan air dapat diabaikan.
Reaksi hidrolisis dapat terjadi pada semua ikatan yang menghubungkan monomer yang satu dengan yang lainnya sehingga diperoleh produk berupa glukosa.
Buckle (2003:3) menyatakan bahwa dalam proses fermentasi sederhana dari proses hidrolisis pati yaitu dengan perebusan. Perebusan penting untuk dilakukan untuk mempermudah proses fermentasi dan untuk meningkatkan nilai produksi. 2. Fermentasi Gula Menjadi Alkohol
Enzim yang mampu memecah glukosa menjadi alkohol dan CO2 adalah
Proses ini terus berlangsung dan akan terhenti jika kadar etanol sudah meningkat sampai tidak dapat diterima lagi oleh sel-sel khamir. Tingginya kandungan alkohol akan menghambat pertumbuhan khamir dan hanya mikroba yang toleran terhadap alkohol yang dapat tumbuh.
3. Pembentukan Asam
Apabila proses fermentasi tape terus berlanjut maka terbentuk asam asetat karena adanya bakteri Acetobacter yang sering terdapat pada ragi yang bersifat oksidatif. Metanol yang dihasilkan dari penguraian glukosa akan dipecah oleh Acetobacter menjadi asam asetat, asam piruvat, dan asam laktat. Asam piruvat adalah produk antara yang terbentuk pada hidrolisis gula menjadi etanol. Asam piruvat dapat diubah menjadi etanol dan asam laktat.
4. Pembentukan Ester
Alkohol yang dihasilkan dari penguraian glukosa oleh khamir akan dipecah menjadi asam asetat pada kondisi aerobik. Pada proses fermentasi lanjut, asam-asam organik yang terbentuk seperti asam asetat akan bereaksi dengan etanol membentuk suatu ester aromatik sehingga tape memiliki rasa yang khas. d. Fungi dalam Tape
Tape merupakan makanan hasil dari proses fermentasi. Fermentasi tersebut tidak lepas dari peranan suatu mikroorganisme. Mikroorganisme tersebut terdapat dalam starter dalam pembuatan tape yaitu ragi. Ragi merupakan starter atau inokulum tradisional Indonesia untuk membuat berbagai macam makanan fermentasi seperti tape, brem cair atau padat. Mikroba yang terkandung dalam ragi umumnya berupa kultur campuran (mixed culture) yang terdiri dari kapang, khamir, dan bakteri.
Susanto (1994:31) menyatakan bahwa ragi yang mengandung mikoflora seperti kapang, khamir dan bakteri dapat berfungsi sebagai starter fermentasi. Selain itu ragi juga kaya akan protein yaitu sekitar 40-50% jumlah protein ragi tersebut tergantung dari jenis bahan penyusunnya.
13
alkohol. Mikroorganisme tersebut yang membantu dalam pembuatan tempe, roti, arak, dan kecap.
Ko Swan Djien (1972:976) berpendapat bahwa dalam proses fermentasi tradisional dalam pembuatan tape selalu dibantu dengan penambahan ragi. Ragi tersebut terbuat dari rempah-rempah yang mengandung kapang dan khamir. Kapang dan khamir yang terdapat dalam ragi tersebut ada secara alami.
Prihatiningsih (2000:18) ragi mengandung sejumlah zat gizi antara lain karbohidrat, protein, lemak, vitamin B, dan fosfor. Kandungan gizi ragi dapat dilihat pada Tabel 2.
Tabel 2. Kandungan Gizi Ragi Setiap 100 gram Kandungan gizi Kandungan dalam 100 gram Kalori 136 kal
Protein 43,0 g Lemak 2,4 g Karbohidrat 3,0 g Kalsium 140 mg Fosfor 1900 mg Besi 20,0 mg Vitamin A 0
Vitamin B 16000 mg Air 10 g
Sumber: Direktorat Depkes RI (1981)
Kandungan ragi tersebut sangat memungkinkan untuk fungi yaitu kapang dan khamir serta bakteri dapat hidup baik dengan didukung oleh substrat yang baik pula.
secara umum ragi tape mengandung berbagai jenis mikroorganisme dari golongan kapang, kamir, dan bakteri Kandungan mikroorganisme yang terdapat pada ragi tape merk NKL ( Na Kok Liong) disajikan pada Tabel 3.
Tabel 3. Kandungan Mikroorganisme dalam Ragi tape NKL ( Na Kok Liong) Asal Daerah Jenis Mikroorganisme
Semarang Chlamydomucor oryzae., Saccharomycopsis sp. 1, Saccharomyces sp.
Yogyakarta Chlamydomucor oryzae., Mucor rouxii, Saccharomycopsis sp 1., Saccharomyces sp
Madiun Chlamydomucor oryzae., Saccharomycopsis sp 2 , Saccharomyces sp.
Sumber : Dyah Raharjanti (2006:31)
Hasil penelitian yang dilakukan oleh Dyah Raharjanti (2006:31) menunjukkan sampel ragi tape merk NKL (Na Kok Liong) yang berasal dari tiga daerah yaitu Semarang, Yogyakarta dan Madiun diperoleh 5 jenis kapang dan khamir yang dapat dikelompokkan menjadi 4 genus yaitu Mucor, Chlamydomucor,Saccharomycopsis dan Saccharomyces. Kandungan mikroorganisme dalam ragi dari ketiga daerah tersebut memiliki kesamaan yaitu sama–sama mengandung Chlamydomucor oryzae,Saccharomycopsis sp dan Saccharomyces sp,hanya ragi dari Yogyakarta yang sedikit berbeda yaitu mengandung juga Mucor rouxii.
Mikroorganisme yang berperan banyak dalam proses fermentasi tape terdiri dari golongan kapang dan khamir. Kapang dan khamir termasuk golongan fungi (jamur). Perbedaan utama antara kapang dan khamir adalah kapang mempunyai filamen (miselium), sedangkan khamir merupakan fungi sel tunggal tanpa filamen.
15
Peranan kapang dan khamir yang terdapat di ragi tape akan disajikan pada Tabel 4.
Tabel 4. Peranan Mikroorganisme dalam Ragi Tape
Grup Mikroorganisme Genus Peranan
Kapang amilolitik
Khamir amilolitik
Khamir non amilolitik
Amylomyces Mucor Rhizopus
Endomycopsis / Saccharomycopsis
Saccharomyces Hansenula
Sakarifikasi dan likuifier Sakarifikasi dan likuifier Likuifier (lemah) dan penghasil alkohol
Sakarifikasi dan
penghasil aroma (lemah) Penghasil alkohol Penghasil aroma yang sedap
Endomycopsis / Penghasil aroma spesifik
Saccharomycopsis Penghasil aroma spesifik Candida
Sumber: Dyah Raharjanti (2006:36)
Enzim amilase yang dihasilkan oleh kapang dan khamir mampu memecah pati menjadi gula sederhana.
2. Sumber Belajar
Sumber belajar adalah salah satu komponen penting yang menentukan suksesnya proses pembelajaran. Sumber belajar yang dipakai dalam satu proses pembelajaran hendaknya beraneka ragam sebagai upaya memperkaya informasi yang didapat oleh siswa. Sumber belajar dapat dirumuskan sebagai segala sesuatu yang dapat memberikan kemudahan kepada peserta didik dalam memperoleh sejumlah informasi, pengetahuan, pengalaman, dan keterampilan dalam proses belajar mengajar (Enco Mulyasa, 2006:48). Salah satu alternatif sumber belajar yang dapat dipakai untuk memperkaya informasi adalah modul hasil penelitian.
Modul menurut Enco Mulyasa (2006:148) merupakan paket belajar mandiri yang meliputi serangkaian pengalaman belajar yang direncanakan dan dirancang secara sistematis untuk membantu peserta didik mencapai tujuan belajar. Modul adalah suatu proses pembelajaran mengenai suatu satuan bahasan tertentu yang disusun secara sistematis, operasional, dan terarah untuk digunakan oleh peserta didik, disertai pedoman penggunaannya oleh para guru. Tujuan utama sistem modul adalah untuk meningkatkan efisiensi dan efektivitas pembelajaran di sekolah, baik waktu, dana, fasilitas, maupun tenaga guna mencapai tujuan secara optimal.
Made Wena (2008:231) berpendapat modul adalah paket pembelajaran mandiri berisi satu topik atau unit materi pelajaran dan memerlukan ketentuan waktu untuk mempelajari modul.
17
memperjelas materi-materi yang belum dipahami oleh sebagian siswa melalui pembahasan bersama.
Vembriarto (1985:22) mendefinisikan bahwa modul merupakan paket pembelajaran dari guru untuk peserta didik yang digunakan untuk mencapai tujuan pembelajaran secara khusus dan dalam waktu yang telah ditentukan.
Modul dapat dirumuskan sebagai suatu unit yang lengkap yang berdiri sendiri dan terdiri atas suatu rangkaian kegiatan belajar yang disusun untuk membantu siswa mencapai sejumlah tujuan yang dirumuskan secara khusus dan jelas (Nasution, 1988:203).
Pembelajaran dengan sistem modul memiliki karakteristik seperti yang diungkapkan Enco Mulyasa (2004:148) sebagai berikut:
1) Setiap modul harus memberikan informasi dan memberikan petunjuk pelaksanaan yang jelas tentang apa yang harus dilakukan oleh seorang peserta didik, bagaimana melakukannya, dan sumber belajar apa yang harus digunakan.
2) Modul merupakan pembelajaran individual, sehingga mengupayakan untuk melibatkan sebanyak mungkin karakteristik peserta didik. Dalam hal ini setiap modul harus: memungkinkan peserta didik mengalami kemajuan belajar sesuai dengan kemampuannya; memungkinkan peserta didik mengukur kemajuan belajar yang telah diperoleh; dan memfokuskan peserta didik pada tujuan pembelajaran yang spesifik dan dapat diukur.
3) Pengalaman belajar dalam modul disediakan untuk membantu peserta didik mencapai tujuan pembelajaran seefektif dan seefisien mungkin, serta memungkinkan peserta didik untuk melakukan pembelajaran secara aktif tidak sekedar mebaca dan mendengar, tetapi lebih dari itu, modul memberikan kesempatan untuk bermain peran (role playing), simulasi, dan berdiskusi.
5) Setiap modul memiliki mekanisme untuk mengukur pencapaian tujuan belajar peserta didik, terutama untuk memberikan umpan balik bagi peserta didik dalam mencapai ketuntasan belajar. Pengukuran ini juga merupakan suatu kriteria atau standard kelengkapan kelengkapan modul.
Tugas seorang guru dalam sistem pembelajaran dengan modul adalah mengatur dan mengorganisasi proses belajar agar berjalan baik. Guru sebagai penyusun modul harus membimbing siswa agar mudah memahami isi dari modul tersebut dengan memberikan petunjuk yang jelas. Hal ini untuk menghindari kesulitan peserta didik dalam memahami modul karena Kesulitan mempelajari modul yang dihadapi akan dapat mengakibatkan menurunnya motivasi belajar peserta didik. Motivasi belajar yang menurun akan dapat pula berpengaruh pada tingkat keberhasilan belajar peserta didik (Sudirman Siahaan, 2006:93).
Materi pembelajaran disajikan secara logis dan sistematis, sehingga siswa dapat mengetahui saat memulai dan mengakhiri sebuah modul. Setiap modul memiliki mekanisme untuk mengukur pencapaian tujuan belajar peserta didik, yaitu untuk mengukur pencapaian tujuan belajar peserta didik dalam mencapai ketuntasan belajar serta dapat mengukur tingkat keterampilan siswa dalam proses belajar mengajar.
Pada umumnya pembelajaran dengan sistem modul menurut E. Mulyasa (2006:149) akan melibatkan beberapa komponen sebagai berikut :
1) Lembar kegiatan peserta didik, 2) Lembar kerja,
3) Kunci lembar kerja, 4) Lembar soal,
5) Lembar jawaban, dan 6) Kunci jawaban.
19
1) Pendahuluan
Bagian ini berisi deskripsi umum, seperti materi yang disajikan, pengetahuan, keterampilan, dan sikap yang akan dicapai setelah belajar; termasuk kemapuan awal yang harus dimiliki untuk mempelajari modul tersebut.
2) Tujuan Pembelajaran
Bagian ini berisi tujuan-tujuan pembelajaran khusus yang harus dicapai oleh setiap peserta didik setelah mempelajari modul. Dalam kegiatan ini dimuat pula tujuan terminal dan tujuan akhir, serta kondisi untuk mencapai tujuan.
3) Tes Awal
Tes ini berguna untuk menetapkan posisi peserta didik, dan mengetahui kemampuan awalnya, untuk menentukan dari mana ia harus memulai belajar, dan apakah perlu untuk mempelajari modul tersebut atau tidak.
4) Pengalaman belajar
Bagian ini merupakan rincian materi untuk setiap tujuan pembelajaran khusus, yang berisi sejumlah materi, diikuti dengan penilaian formatif sebagai balikan bagi peserta didik tentang tujuan belajar yang dicapainya.
5) Sumber belajar
Pada bagian ini disajikan tentang sumber-sumber belajar yang dapat ditelusuri dan digunakan oleh peserta didik. Penetapan sumber belajar ini perlu dilakukan dengan baik oleh pengembang modul, sehingga peserta didik tidak kesulitan memperolehnya.
6) Tes akhir
Tes akhir ini instrumennya sama dengan isi tes awal, hanya lebih difokuskan pada tujuan terminal setiap modul.
Penggunaan modul dalam pembelajaran bermanfaat memberikan pengaruh yang signifikan terhadap perbaikan prestasi belajar siswa. Pembelajaran dengan modul juga berpengaruh positif terhadap aktivitas belajar siswa yang ditunjukkan dengan meningkatnya ketekunan dan rasa percaya diri siswa (Acelajado, 2005:310)
3. Keterampilan Menginterpretasi Data
Keterampilan belajar yang dimiliki oleh seorang siswa dapat dilatih dan dikembangkan sesuai dengan tahapan perkembangan pikirannya. Dengan melatih siswa untuk mengembangkan kemampuan belajarnya, siswa tersebut akan terbiasa menemukan dan mengembangkan sendiri fakta dan konsep serta menumbuhkan dan mengembangkan sikap dan nilai yang dituntut.
Menafsirkan (mengintepretasikan) adalah keterampilan menafsirkan sesuatu berupa benda, kenyataan, peristiwa, konsep, atau informasi yang telah dikumpulkan melalui penghitungan, penelitian, atau eksperimen (Moh. Uzer Usman dan Lilis Setyawati ,1993:79). Interpretasi yaitu kemampuan untuk menjelaskan makna yang terdapat dalam simbol, baik simbol verbal maupun yang nonverbal. Kemampuan untuk menjelaskan konsep, atau prinsip atau teori tertentu termasuk dalam kategori ini.seorang dapat menginterpretasikan sesuatu konsep atau prinsip jika ia dapat menjelaskan secara rinci makna, arti suatu konsep atau prinsip, atau dapat membandingkan, membedakan, atau mempertentangkannya dengan sesuatu yang lain (Gulo, 2002:60).
21
Menurut Wenno (2008:73) interpretasi adalah kemampuan siswa memberi arti kepada sesuatu, seperti kepada persamaan matematika, atau kepada grafik. Tujuan kegiatan interpretasi untuk menyimpulkan hasil pengamatan yang telah dilakukan berdasarkan pada pola hubungan antara hasil pengamatan yang satu dengan yang lainnya. Kesimpulan tersebut merupakan konsep yang perlu dimanfaatkan atau digunakan (Suryosubroto, 1997:74).
Interpretasi data biasanya melibatkan organisasi data kedalam tabel, gambar, bagan, atau grafik. Interpretasi data juga dapat dilakukan dengan jalan membuat gambar atau grafik dan hasil pengamatan yang biasanya melibatkan usaha-usaha untuk penulisan hasil observasi, melakukan inferensi menafsirkan data dan membuat kesimpulan (Nono Sutarno, 2009:95)
Hasil-hasil pengamatan tidak akan berguna bila tidak ditafsirkan. Karena itu dari mengamati langsung, lalu mencatat setiap pengamatan secara terpisah, kemudian menghubung-hubungkan hasil hasil pengamatan itu, lalu mungkin ditemukan pola-pola tertentu dalam satu seri pengamatan. Penemuan pola-pola ini merupakan dasar untuk menyarankan kesimpulan-kesimpulan (Susiwi dkk, 2009:90).
Kegiatan-kegiatan siswa yang dapat dilihat dalam mengintepretasikan data menurut Suryosubroto (1997:80-81) adalah sebagai berikut:
1. Mencatat setiap pengamatan
Kegiatan yang dapat diamati : mengutip, menyalin, menuliskan, mengerjakan, merekam.
2. Menghubungkan pengamatan-pengamatan
Kegiatan yang dapat diamati : membandingkan data, menganalisis, menggabungkan, mengintegrasikan, mengorganisasikan, menghubungkan, mengabstraksikan.
3. Menemukan suatu pola dalam satu seri
B. Kerangka Berpikir
Pembelajaran membutuhkan proses dimana aktifitas siswa diutamakan. Pembelajaran biologi pada dasarnya siswa dituntut untuk dapat bereksperimen dan tidak lepas dari suatu proses ilmiah. Data-data hasil percobaan atau pengamatan tidak akan berguna tanpa ditafsirkan terlebih dahulu. Salah satu inovasi pembelajaran di bidang biologi yaitu dengan melakukan proses belajar mengajar yang didalamnya melatih keterampilan menginterpretasikan data yang dapat dilihat melalui kegiatan menuliskan/mencatat pengamatan dalam bentuk tabel,menyalin data pengamatan dalam bentuk gambar, menghubungkan data dalam bentuk grafik, menjelaskan data hasil pengamatan, membandingkan data dengan teori, menganalisis data pengamatan, mendefinisikan makna dari gambar/grafik, menentukan pola hubungan sebab akibat, dan menarik kesimpulan.
Pembelajaran adalah suatu kombinasi yang tersusun meliputi komponen-komponen manusiawi, material, fasilitas, perlengkapan, dan prosedur yang saling mempengaruhi mencapai tujuan pembelajaran. Salah satu komponen dari pembelajaran adalah sumber belajar. Kecenderungan proses pembelajaran selama ini hanya terpaku pada buku paket dan buku pegangan sebagai satu–satunya sumber belajar. Sumber belajar adalah segala sesuatu yang dapat memberikan kemudahan kepada peserta didik dalam memperoleh sejumlah informasi, pengetahuan, pengalaman, dan keterampilan dalam proses belajar mengajar. Pengayaan sumber belajar dengan menggunakan berbagai referensi yang relevan, salah satunya adalah bentuk sumber belajar berupa modul hasil penelitian biologi.
23
Berkaitan dengan permasalahan kurang terlatihnya keterampilan menginterpretasikan data pengamatan siswa dan terbatasnya sumber belajar yang dipergunakan, maka penerapan modul hasil penelitian identifikasi fungi dalam tape talas sebagai sumber belajar biologi diharapkan mampu meningkatkan keterampilan menginterpretasi data siswa sehingga semua siswa dapat menyimpulkan hasil pengamatan yang telah dilakukan berdasarkan pada pola hubungan antara hasil pengamatan yang satu dengan yang lain dan memperkaya sumber belajar untuk mendapat informasi.
Dari uraian di atas, dapat dibuat kerangka pemikiran seperti pada Gambar 5. Hubungan antar variabel dalam penelitian ini dapat digambarkan dalam sebuah paradigma penelitian sebagai berikut:
Gambar 5. Paradigma Penelitian Keterangan:
X : Implementasi hasil penelitian dalam pembelajaran
X1 : Pembelajaran dengan tambahan sumber belajar berupa hasil penelitian (kelompok eksperiment)
X2 : Pembelajaran tanpa tambahan sumber belajar hasil penelitian (kelompok kontrol)
Y : Keterampilan menginterpretasi data
X1Y : Keterampilan menginterpretasi data siswa kelompok eksperimen X2Y : Keterampilan menginterpretasi data siswa kelompok kontrol
X1Y Y
X1
X2Y Y
C. HIPOTESIS
1. Ada beberapa genus fungi yang terdapat pada tape talas berdasarkan ciri morfologi.
25
BAB III
METODOLOGI PENELITIAN
I. Penelitian Pembuatan Tape Talas
A. Tempat dan Waktu Penelitian
1. Tempat Pelaksanaan
Penelitian dilaksanakan di laboratorium Mikrobiologi serta Laboratorium Struktur dan Perkembangan Tumbuhan Program Studi Pendidikan Biologi Jurusan Pendidikan MIPA Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Sebelas Maret Surakarta.
2. Waktu Pelaksanaan
Penelitian pembuatan tape talas dilaksanakan pada bulan April 2011 sampai bulan Juni 2011.
B. Metode Penelitian
Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif dengan eksperimen dan dokumentasi. Hasil penelitian ini ditulis dalam bentuk sumber belajar berupa modul yang digunakan dalam penelitian di kelas X-4 SMA Al Islam 1 Surakarta.
C. Data dan Sumber Data
Data yang dikumpulkan dalam penelitian identifikasi fungi dalam tape talas adalah sebagai berikut:
D. Teknik Pengumpulan Data
Pada penelitian identifikasi fungi dalam tape talas teknik pengumpulan data yaitu dokumentasi yang berupa foto karakteristik morfologi fungi dalam tape talas.
E. Prosedur Penelitian
Penelitian meliputi tahap pembuatan tape dan tahap pengamatan perkembangan kapang dan khamir (dilakukan di akhir isolasi).
1. Pembuatan Tape
1) Sortasi talas, kemudian mencuci sampai bersih dan mengupas talas hingga kulit dan kotoran yang tersisa hilang.
2) Memotong talas menjadi 3 bagian. 3) Mengukus selama 15 menit
4) Mendinginkan talas hingga mencapai suhu kamar
5) Menginokulasikan ragi tape dengan jumlah yang berbeda (0,5 gram, 1 gram, 1,5 gram), masing-masing 3 bagian dan membungkus dengan daun pisang. Jumlah masing–masing substrat adalah 250 gram
6) Memasukkan dalam wadah dari besek.
7) Melakukan fermentasi selama 36 jam, 48 jam dan 60 jam 8) Melakukan pengamatan sesuai parameter yang akan diamati
2. Pengamatan Perkembangan Mikroba (kapang & khamir)
Pengamatan dilakukan di akhir pembuatan tape dengan sebelumnya membuat preparat dari cuplikan jamur yang diambil dari bahan tape, dengan prosedur sebagai berikut :
a. Pembuatan Biakan (Isolasi Bahan)
27
2) Menambahkan 45 ml aquades dan diaduk hingga homogen dengan magnetik stirer
3) Mengambil 1 ml suspensi ekstrak tape
4) Melakukan pengenceran hingga 10-6,10-7,10-8
5) Menuangkan ke dalam cawan petri yang berisi APDA (PDA+asam tartarat 10%) dan meratakannya
6) Menginkubasi selama 3 hari pada suhu 28o-30oC
b. Pengamatan Kapang dan Khamir 1) Mempersiapkan objek dan deg glass
2) Membersihkan objek dan deg glass dengan alkohol 70 %
3) Meneteskan satu tetes zat warna lactopenol cotton bluedi tengah objek glass 4) Mengambil sedikit miselium yang sudah bersporulasi dan diurai dengan hati–hati
di objek glass
5) Meletakkan deg glass dengan hati–hati di atas permukaan preparat 6) Mengamati preparat dengan mikroskop
II. Aplikasi Hasil Penelitian Pembuatan Tape Talas
A. Tempat dan Waktu Penelitian
1. Tempat Penelitian
Penelitian ini dilaksanakan di Sekolah Menengah Atas Al Islam 1 Surakarta kelas X semester ganjil tahun pelajaran 2011/2012.
2. Waktu Penelitian
a. Tahap Persiapan
Tahap persiapan, meliputi: permohonan pembimbing, survey sekolah yang bersangkutan, pengajuan judul skripsi, pembuatan proposal, pembuatan instrumen penelitian, dan perijinan penelitian yang dilaksanakan pada bulan Mei 2011 – Sebtember 2011.
b. Tahap Penelitian
Tahap penelitian, meliputi: Semua kegiatan yang dilaksanakan di tempat penelitian yang meliputi uji coba instrumen penelitian, dan pengambilan data. Dilaksanakan pada bulan Oktober 2011 sampai November 2011.
c. Tahap Penyelesaian
Tahap penyelesaian, meliputi: analisis data dan penyusunan laporan. Dilaksanakan bulan November 2011 sampai Desember 2011.
B. Populasi dan Teknik Pengambilan Sampel
1 Populasi Penelitian
Populasi dalam penelitian ini adalah siswa kelas X SMA Al Islam 1 Surakarta semester ganjil tahun pelajaran 2011/2012.
2 Sampel Penelitian
Sampel merupakan unit analisis yang dipilih di dalam berbagai unit pengambilan sampel dan sampel tersebut selanjutnya akan diteliti. Sampel dalam penelitian ini terdiri dari dua kelas, yaitu kelas kontrol dan kelas eksperimen yang berjumlah 75 siswa.
3 Teknik Pengambilan Sampel
kelompok-29
kelompok unit yang kecil atau “kluster”. Kelas dianggap kelompok sampling yang mewakili populasi. Dari sembilan kelas pada kelas X di SMA Al Islam 1 Surakarta dilakukan pengambilan secara random dua kelompok untuk dijadikan sampel, yaitu satu sebagai kelompok eksperimen dan satu sebagai kelompok kontrol. Hasil pengambilan sampel diperoleh kelas X-3 sebagai kelas kontrol dan kelas X-4 sebagai kelas eksperimen.
C. Teknik Pengumpulan Data
1. Variabel Penelitian
Variabel adalah sesuatu yang menjadi sumber objek pengamatan dan sebagai faktor yang berperan dalam peristiwa yang diteliti.
Penelitian ini terdapat satu variabel bebas dan satu variabel terikat, yaitu: a. Variabel bebas
Variabel bebas merupakan variabel perlakuan yaitu variabel yang dipilih untuk dicari pengaruhnya terhadap variabel terikat. Variabel bebas dalam penelitian ini adalah sumber belajar biologi berupa modul.
b. Variabel terikat
Variabel terikat adalah variabel yang kehadirannya dipengaruhi oleh variabel yang lain. Variabel terikat dalam penelitian ini adalah keterampilan menginterpretasi data.
2. Metode Pengumpulan Data
Dalam penelitian ini teknik yang digunakan untuk mengumpulkan data adalah sebagai berikut:
a. Observasi
secara pasif dimana pengamat hadir di lokasi namun tidak ikut serta dalam kegiatan dan hanya berperan mengamati kegiatan. Pelaksanaan observasi ini juga dilakukan secara terstruktur dengan menggunakan pedoman sebagai instrumen pengamatan proses pembelajaran yang mengukur keterampilan interpretasi data yang berisi garis-garis besar atau butir-butir umum kegiatan umum yang akan diobservasi.
b. Teknik Dokumentasi
Teknik dokumentasi dilakukan dengan mengumpulkan data, mengambil catatan-catatan, dan menelaah dokumen yang ada yang dimiliki kaitan dengan objek penelitian. Data yang dikumpulkan dengan teknik ini adalah Lembar Kegiatan Siswa (LKS) serta foto-foto selama pembelajaran berlangsung.
3. Analisis Instrumen
Instrumen penilaian keterampilan menginterpretasi data yang digunakan adalah lembar observasi yang dilakukan observer untuk menilai keterampilan menginterpretasi data. Instrumen tersebut diuji kelayakan terlebih dahulu sebelum digunakan untuk mengambil data penelitian untuk mengetahui kualitas instrumen. Kelayakan instrumen yang digunakan dalam penelitian ini dilakukan uji kelayakan yang diuji dengan statistik sebagai berikut:
a. Validitas
31
lembar observasi. Penilaian ahli dimaksudkan untuk memberi masukan terhadap kesesuaian indikator dan penjabaran indikator yang telah disusun.
b. Reliabilitas
Reliabel artinya dapat dipercaya. Reliabilitas lembar observasi dengan triangulasi penyelidik, yaitu teknik triangulasi dengan jalan memanfaatkan peneliti atau pengamat lainnya untuk keperluan pengecekan kembali derajat kepercayaan data (Moeleong, Lexy J, 2002:178). Pemanfaatan pengamat lain membantu mengurangi kemelencengan pengumpulan data. Cara yang digunakan adalah dengan membandingkan hasil pengamatan 3 observer yaitu peneliti, guru, dan observer lain.
D. Rancangan Penelitian
Berdasarkan masalah-masalah yang akan dipelajari, maka penelitian ini menggunakan metode eksperimen semu (Quasi exsperimental research) karena peneliti tidak dapat mengontrol semua variabel. Tujuan penelitian eksperimen adalah untuk mencari hubungan sebab akibat dengan memberi perlakuan-perlakuan tertentu pada dua kelompok eksperimen. Rancangan penelitian ini dapat dilihat pada Tabel 5. Tabel 5. Rancangan Penelitian Randomized Control Only Design
Group Treatment Post Test Eksperimen Group (R) X O Control Group (R) - O
Keterangan:
X : Perlakuan yang diberikan kepada kelompok eksperimen yaitu dengan penggunaan modul hasil penelitian
O : Observasi atau pengukuran
E. Teknik Analisis Data
Analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah uji t. Teknik analisis data ini digunakan untuk menguji hipotesis yang telah dikemukakan di depan.
1. Sebelum Penelitian (Uji Keseimbangan)
Uji ini dilakukan pada saat kedua kelompok sebelum dikenai perlakuan bertujuan untuk mengetahui apakah kedua kelompok tersebut seimbang. Secara statistik, apakah terdapat perbedaan mean yang berarti dari dua sampel yang independen. Uji yang digunakan untuk mengetahui apakah kedua kelompok tersebut seimbang digunakan uji-t. Sebelum uji-t, dilakukan uji prasyarat yaitu uji Anderson-Darlinguntuk uji normalitas dan uji Levene’s untuk uji homogenitas.
a. Uji Normalitas
Perhitungan uji normalitas sampel menggunakan ujiAnderson-Darling pada Minitab 16.
1) Hipotesis
H0: µ1= µ2(sampel berasal dari populasi yang terdistribusi normal) H1: µ1≠ µ2(sampel tidak berasal dari populasi yang terdistribusi normal) 2)Taraf signifikan (α) = 0,05
3) Keputusan uji untuk nilai probabiliti (p-value) lebih besar dari nilai signifikasi α = 0,05 sehingga H0diterima
4) Simpulan:
a) Sampel berasal dari populasi yang terdistribusi normal jika H0 diterima b) Sampel tidak berasal dari populasi yang terdistribusi normal jika H0 ditolak.
b. Uji Homogenitas
Perhitungan uji homogenitas sampel menggunakan ujiLevene’s pada Minitab 16.
1) Hipotesis
33
2)Taraf signifikan (α) = 0,05
3) Keputusan uji untuk nilai probabiliti (p-value) lebih besar dari nilai signifikasi α= 0,05, H0diterima
4) Simpulan:
a) Semua variasi sampel homogen jika H0 diterima. b) Tidak semua variasi homogen jika H0 ditolak.
c. Uji Keseimbangan
Perhitungan uji keseimbangan sampel menggunakan T-test pada Minitab 16.
1) Hipotesis
H0: µ1= µ2(kedua kelompok memiliki kemampuan awal yang sama) H1: µ1≠ µ2(kedua kelompok memiliki kemampuan awal yang tidak sama) 2)Taraf signifikan (α) = 0,05
3) Keputusan uji untuk nilai probabiliti (p-value) lebih besar dari nilai signifikasi α= 0,05, H0diterima.
4) Simpulan:
a) Kedua kelompok memiliki kemampuan awal yang sama jika H0 diterima. b) Kedua kelompok memiliki kemampuan awal yang tidak sama jika H0 ditolak.
2. Analisis Data
a. Uji Prasyarat Analisis
1. Uji Normalitas
2. Uji Homogenitas Variansi
Uji homogenitas digunakan untuk mengetahui apakah variansi-variansi dari sejumlah populasi apakah sama atau tidak. Perhitungan uji homogenitas pada penelitian ini menggunakan uji Levene’s.
b. Uji Hipotesis
35 BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
A. Deskripsi Data
1. Data Identifikasi Fungi dalam Tape Talas
Penelitian identifikasi fungi dalam tape talas dilaksanakan di laboratorium
Mikrobiologi serta laboratorium Struktur dan Perkembangan Tumbuhan Program Studi
Pendidikan Biologi Jurusan Pendidikan MIPA Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan
Universitas Sebelas Maret Surakarta. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Mei hingga
Agustus 2011. Data yang diperoleh berupa jenis-jenis jamur/fungi hasil dari identifikasi
yang terdapat pada tape talas yang meliputi ciri morfologinya. Identifikasi fungi dalam
penelitian ini hanya sampai pada genus. Data hasil penelitian identifikasi fungi dalam
tape talas selengkapnya dapat dilihat pada Lampiran 2 dan secara lengkap
terangkum dalam Tabel 6 dan 7.
Tabel 6. Daftar Hasil Isolasi dan Identifikasi Fungi dalam Tape Talas Jenis Tape Jenis Ragi yang Digunakan Isolat fungi
Tape Talas NKL (Na Kok Liong) Aspergillus Saccharomyces
Tabel 7. Hasil Identifikasi Gambar Fungi dalam Tape Talas Fermen
tasi
Jumlah ragi
0,5 gram 1gram 1,5 gram
36 jam
60 jam
Karakteristik isolat fungi dalam tape talas meliputi karakteristik
makroskopis dan mikroskopis. Karakteristik isolat fungi dari tape talas dapat
dilihat pada Tabel 8 dan 9.
Tabel 8. Karakteristik Isolat Fungi dalam Tape Talas secara Makroskopis Penggolongan Fungi Karakteristik isolat Hasil Identifikasi Kapang Lapisan konidiofor bewarna putih Aspergillus
kecokelatan, miselium yang tampak jelas, koloni tampak memiliki lapisan basal berwarna putih
kekuningan, kepala konidia bewarna hitam atau coklat tua, bentuk bulat
Khamir Koloni berwarna putih krem, licin, Saccharomyces tanpa miselium/pseudomiselium
Tabel 9. Karakteristik isolat Fungi dalam Tape Talas secara Mikroskopis Penggolongan Fungi Karakteristik isolat Hasil Identifikasi Kapang Memiliki konidiofor tegak, Aspergillus tidak bersepta dan bercabang,
konidia tersusun 1 sel, ujung konidiofor membengkak membentuk vesikel, bulat membentuk rantai,
Khamir Sel tunggal/ bergerombol, Saccharomyces sel berbentuk oval/bulat,
melakukan budding/pertunasan, membentuk rantai.
Hasil penelitian menunjukkan dalam tape talas ditemukan 2 jenis fungi
dari 2 genus yang berperan dominan dalam fermentasi talas. Fungi yang terdapat
37
Gambar 6. Genus Saccharomyces dalam Tape Talas Klasifikasi :
Kingdom : Fungi Divisi : Ascomycota Class : Hemiascomycetes Ordo : Saccharomycetales Famili : Saccharomycetaceae Genus : Saccharomyces
Gambar 7. GenusAspergillus dalam Tape Talas
Klasifikasi :
Kingdom : Fungi Divisi : Ascomycota Kelas : Euascomycetes Sub – kelas : Plectomycetes Ordo :Moniliales Famili :Moniliaceae Genus : Aspergillus
Kedua jenis fungi inilah yang berperan dalam proses fermentasi tape talas.
Berikut disajikan gambar Saccharomyces sp dan Aspergillus sp sebagai
a. b.
Gambar 8. spesies a: Aspergillus sp, spesies b: Saccharomyces sp Sumber. Tom Volk (2005)
Dwijoseputro (1976) telah melakukan penelitian isolasi mikroorganisme
dari ragi tape yang berasal dari Malang dan Surakarta. Ragi asal Malang yang
diteliti ditemukan kapang Aspergillus oryzae, khamir Candidaparapsilosis, C.
Melinii, Hansenula subpelliculosa, H. Anomala dan H. Malanga nov. Sp.
Sedangkan pada ragi yang berasal dari Surakarta ditemukan adanya kapang
Chlamydomucor oryzae (Amylomyces rouxii)dan C.laktosa.
Dyah Sista Raharjanti (2006) telah melakukan identifikasi
mikroorganisme pada ragi tape dari tiga daerah yaitu DKI Jakarta, Semarang dan
Bandung menemukan kapang dan khamir yang dapat dikelompokkan menjadi 5
Genus yaitu Mucor, Rhizopus, Aspergillus, Saccharomycopsis dan
Saccharomyces.
Sejalan dengan penelitian tersebut Parichat Hongsprabhas dan Ken A.
Bucle (2003) yang melakukan isolasi fungi dari makanan tradisional dari ketela
pohon hasil fermentasi ditemukan kapang Absidia corymbifera, Penicillium
glabrum, Aspergillus nidulans, Chlamydomucor oryzae dari ragi merk NKL dan
A. Nidulans, A. flavus dan A. oryzaedari ragi tape merk Roda Mas.
Jika dibandingkan dengan hasil penelitian Dwijoseputro (1976), Dyah
Sista Raharjanti (2003) dan Hongsprabhas dan Ken A. Bucle (2003), fungi dari
jenis kapang dan khamir yang diperoleh secara umum hampir sama yaitu genus
Aspergillus dan Saccharomyces. Hal ini menunjukkan bahwa kandungan
mikroorganisme yang terdapat dalam tape/ragi tape secara umum tidak berubah
39
Identifikasi fungi dalam tape talas dilakukan dengan tiga tahap yaitu
pembuatan tape talas sebagai penelitian pendahuluan, isolasi kapang dan khamir
dari tape talas dan identifikasi fungi yang tumbuh dari hasil isolasi sebagai
penelitian akhir.
Pembuatan tape talas sebagai penelitian pendahuluan secara ringkas
adalah sortasi terlebih dahulu. Talas dibersihkan dari tanah dan kotoran yang
melekat pada kulitnya serta dilakukan pengupasan. Setelah dikupas, talas dipotong
menjadi tiga bagian lalu dilakukan pencucian. Setelah itu dilakukan pengukusan
selama 15 menit. Talas yang telah dikukus didiamkan agar dingin setelah itu
dilakukan inokulasi ragi tape sesuai dengan jumlah yang sudah ditentukan. Ragi
tape yang dipakai dalam penelitian ini adalah ragi tape merk NKL. Proses akhir
dari pembuatan tape talas ini adalah pemeraman tape selama waktu yang telah
ditentukan yaitu 36 jam, 48 jam dan 60 jam. Hal ini dilakukan untuk mengetahui
jenis-jenis fungi pada setiap lama fermentasi yang telah ditentukan.
Isolasi kapang dan khamir dilakukan setelah selesai waktu fermentasi
dari tape talas tersebut. Isolasi tersebut dilakukan dengan membuat ekstrak tape
talas dengan penambahan akuades sesuai dengan prosedur, setelah itu dilakukan
pengenceran 10-6, 10-7 dan 10-8. Suspensi ekstrak tape talas dipupukkan ke cawan
petri sebanyak 1 ml pada medium APDA (PDA + asam tartarat 10%) secara
merata pada keadaan steril. Setelah itu diinkubasi selama 2-3 hari pada suhu
28-300C.
Identifikasi fungi sebagai penelitian akhir meliputi identifikasi secara
makroskopis dan mikroskopis. Identifikasi secara makroskopis dengan melihat
langsung koloni yang tumbuh dalam media APDA hasil dari isolasi. Identifikasi
secara mikroskopis dengan pengamatan menggunakan mikroskop dengan pewarna
lactopenol cotton blue agar kapang dan khamir tersebut mudah diamati dan
terlihat jelas miseliumnya. Fungi yangi sudah teramati dalam mikroskop
a. Fungi dalam Tape Talas
Dari hasil penelitian dilaporkan ditemukan 2 jenis fungi yang dapat
dikelompokkan menjadi 2 genus yang terdapat dalam tape talas. Jenis fungi hasil
identifikasi dapat dilihat pada Tabel 10.
Tabel 10. Daftar Hasil Isolasi dan Identifikasi Fungi dalam Tape Talas Jenis Tape Jenis Ragi yang Digunakan Isolat fungi
Tape Talas NKL (Na Kok Liong) Aspergillus Saccharomyces
b. Deskripsi Fungi dalam Tape Talas
Tape talas merupakan makanan hasil dari proses fermentasi. Fermentasi
tersebut tidak lepas dari peranan suatu mikroorganisme karena dalam
pembuatannya ditambahkan ragi tape sebagai starternya. Ragi tape yang
digunakan dalam penelitian ini adalah ragi merk NKL. Tanpa penambahan ragi
tape talas tidak akan menjadi tape karena tidak ada fermentasi hasil aktivitas
kimia dari mikroorganisme tersebut.
Mikroba yang terkandung dalam tape talas berupa kultur campuran
(mixed culture) yang terdiri dari fungi dan bakteri. Dalam penelitian ini hanya
pengamatan fungi yang dilakukan. Fungi sendiri digolongkan menjadi kapang dan
khamir. Perbedaan utamanya adalah kapang merupakan fungi yang mempunyai
filament/miselium, sedangkan khamir merupakan fungi sel tunggal tanpa filamen.
Fungi dalam tape talas tersebut dapat tumbuh dan berkembang dengan
cara menyerap dan menguraikan zat-zat yang terdapat dalam substrat yaitu talas
sehingga bisa dikatakan fungi tersebut bersifat saproba. Zat yang diambil berupa
karbohidrat yang terdapat dalam talas sehingga dapat disimpulkan bahwa semua
bahan makanan yang mengandung cukup karbohidrat bisa diolah atau
difermentasikan. Hal ini sejalan dengan Srikandi Fardiaz (1989:75) yang
mengatakan bahwa fungi dapat mensintesa protein dengan mengambil sumber
karbon dari karbohidrat, sumber nitrogen dari bahan organik atau anorganik,
mineral dari subtratnya.
Fungi dalam tape talas yang diamati terdiri atas 2 jenis yang dapat
41
Identifikasi kapang dilakukan dengan melihat morfologinya secara mikroskopis
dan makroskopis. Identifikasi khamir juga didasarkan pada bentuk sifat
morfologinya yaitu bentuk sel vegetatif dan reproduksi vegetatifnya. Berikut
adalah kunci identifikasi fungi yang termasuk dalam ke