• Tidak ada hasil yang ditemukan

Usaha Kecil-November 2008

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "Usaha Kecil-November 2008"

Copied!
59
0
0

Teks penuh

(1)

VOLUME VI NOVEMBER 2008

(2)

Berkhas merupakan salah satu media Akatiga yang menyajikan kumpulan berita dari berbagai macam surat kabar, majalah, serta sumber berita lainnya. Jika pada awal penerbitannya kliping yang ditampilkan di Berkhas dilakukan secara konvensional, maka saat ini kliping dilakukan secara elektronik, yaitu dengan men-download berita dari situs-situs suratkabar, majalah, serta situs-situs berita lainnya.

Bertujuan untuk menginformasikan isu aktual yang beredar di Indonesia, Berkhas diharapkan dapat memberi kemudahan kepada pihak-pihak yang berkepentingan dalam pencarian data atas isu-isu tertentu. Berkhas yang diterbitkan sebulan sekali ini setiap penerbitannya terdiri dari isu Agraria, Buruh, dan Usaha Kecil.

(3)

D a f t a r I si

Kredit UKM Bekasi Senilai Rp 3,7 Miliar Macet --- 1

Semen Padang Bantu UKM Rp 1,2 Miliar --- 2

Kredit UKM Bekasi Senilai Rp 3,7 Miliar Macet --- 3

'Kebijakan kemitraan UKM perlu dirombak' --- 4

Fukuda Dorong UKM di Indonesia--- 5

Samarinda prioritaskan UKM --- 7

UMKM butuh lembaga penjamin --- 8

80 UMKM didorong masuk Carrefour --- 9

Kadin: Pembatasan produk impor ganggu pasok ritel sesaat--- 10

Penyaluran KUR tertekan dampak krisis global --- 11

UKM Center salurkan kredit --- 12

Pemerintah Seleksi UKM Ikut Pameran--- 13

Perajin Ukir Sepi Pembeli --- 14

Pengusaha batako batasi produksi --- 16

Renovasi 63 Pasar Tradisional Rampung 2010 --- 17

'7-Eleven agar masuk lewat waralaba' --- 19

UKM dipacu manfaatkan teknologi informasi --- 20

Banten sediakan jaminan kredit --- 21

Juklak perpasaran difinalisasi --- 22

'Minimarket asing harus waralaba'--- 23

Usaha kecil berpeluang isi kekosongan garmen di pusat grosir --- 24

Akankah Mendag membatasi trading term? --- 25

Bengkulu terima dana Rp81,97 miliar --- 27

Dekopin buka akses pasar internasional --- 28

Program Kredit Usaha Kecil DKI Tidak Maksimal --- 29

Bahana siapkan UMKM Award --- 30

Aprindo setuju batasan biaya trading term --- 31

Kredit mikro Nagari serap pekerja --- 32

UKM Motor Utama Pertumbuhan Industri Manufaktur --- 33

(4)

KPPU: Listing fee merupakan praktik tidak adil --- 37

Rendah, Kesadaran UKM Terapkan COC --- 39

2009,BII Fokus ke UKM --- 40

Akses pasar UKM dipacu dengan CSR --- 41

Gapmmi: Jangan lakukan aksi borong --- 42

PNM siapkan pembiayaan Rp1,5 triliun --- 43

Perajin cual keluhkan harga --- 45

Perajin cual keluhkan harga --- 46

Menyikapi dilema private label --- 47

Nampa: Peritel agresif tekan pemasok --- 49

Perajin kesulitan kayu albasia --- 51

Peritel minta pajang produk asing tak dilarang--- 52

UMKM tahan hadapi krisis --- 53

(5)

Tempo I nteraktif Minggu, 02 November 2008

Kr e d it UKM Be k a si Se n ila i Rp 3 ,7 M ilia r M a ce t

Minggu, 02 November 2008 | 11:53 WIB

TEMPO Interaktif, Jakarta: Kredit dana bantuan bergulir Pemerintah Kabupaten Bekasi senilai Rp 3,7 miliar macet. Dana itu adalah pinjaman usaha kecil/mikro dan menengah (UKM) sejak 2002 lalu.

Kepala Bidang Ekonomi, Kusmawan, kredit diberikan kepada tiga jenis UKM. Sektor pertanian, kerajinan, dan kemasan. "Nilai kredit Rp 3 juta- Rp 5 juta setiap UKM," kata Kusmawan, ketika dihubungi Tempo, Minggu (2/11).

Jumlah keseluruhan kreditor sekitar 600 UKM, tetapi hanya 180 UKM atau 30 persennya saja yang membayar. Total dana bantuan bergulir dari anggaran pendapatan dan belanja daerah (APBD) 2002, sekitar Rp 5,4 miliar. Tetapi yang kembali hanya Rp 1,3 miliar.

Menurut Kusmawan, pengambilan kredit seluruh UKM melalui Bank Jawa Barat Cabang Bekasi. Jaminanannya, sertifikat rumah dan lahan. Saat ini, kata Kusmawan, pihaknya telah melakukan penagihan melalui surat yang ditujukan langsung kepada UKM yang masih menunggak. Tetapi, belum ada yang membayar.

UKM yang tersangkut kredit macet itu, terang Kusmawan, akan diganjar sanksi. Jaminan kreditnya tidak dilepas, dan tidak lagi diberi pinjaman. "Black list," katanya. Kusmawan tidak menyebut nama-nama UKM bermasalah itu.

(6)

Tempo I nteraktif Sabtu, 01 November 2008

Se m e n Pa d a n g Ba n t u UKM Rp 1 ,2 M ilia r

Sabtu, 01 November 2008 | 08:53 WIB

TEMPO Interaktif, Padang: PT Semen Padang menggelontorkan bantuan untuk 85 usaha kecil dan menengah (UKM) di Sumatera Barat senilai Rp 1,276 miliar. Pada 2008, Semen Padang menganggarkan sekitar Rp3 miliar untuk bantuan UKM yang dianggarkan dari program Corporate Social Responsibility (CSR).

"Jadi ini bantuan tahap dua, sebelumnya diberikan pada awal tahun," kata Kepala Hubungan Masyarakat PT Semen Padang Hasfi Rafik, Sabtu (1/11). Dari 85 UKM yang mendapat bantuan, 57 UKM yang baru pertama kali mendapat bantuan, sedangkan 28 UKM lainnya merupakan binaan Semen Padang sebelumnya yang pernah mendapat bantuan.

"Ini pinjaman bergulir, tidak dikenai bunga, kalau mereka sukses mengembalikan bisa diberi pinjaman lagi," kata Hasfi Rafik. Ia mengatakan, sejauh initidak banyak UKM yang nakal yang tidak mengembalikan pinjaman.

Selain memberi bantuan pinjaman lunak, Semen Padang juga memberi pelatihan manajemen serta sering melibatkan UKM untuk mengikuti berbagai pameran sebagai media menjual produknya.

(7)

Tempo I nteraktif Minggu, 02 November 2008

Kr e d it UKM Be k a si Se n ila i Rp 3 ,7 M ilia r M a ce t

Minggu, 02 November 2008 | 11:53 WIB

TEMPO Interaktif, Jakarta: Kredit dana bantuan bergulir Pemerintah Kabupaten Bekasi senilai Rp 3,7 miliar macet. Dana itu adalah pinjaman usaha kecil/mikro dan menengah (UKM) sejak 2002 lalu.

Kepala Bidang Ekonomi, Kusmawan, kredit diberikan kepada tiga jenis UKM. Sektor pertanian, kerajinan, dan kemasan. "Nilai kredit Rp 3 juta- Rp 5 juta setiap UKM," kata Kusmawan, ketika dihubungi Tempo, Minggu (2/11).

Jumlah keseluruhan kreditor sekitar 600 UKM, tetapi hanya 180 UKM atau 30 persennya saja yang membayar. Total dana bantuan bergulir dari anggaran pendapatan dan belanja daerah (APBD) 2002, sekitar Rp 5,4 miliar. Tetapi yang kembali hanya Rp 1,3 miliar.

Menurut Kusmawan, pengambilan kredit seluruh UKM melalui Bank Jawa Barat Cabang Bekasi. Jaminanannya, sertifikat rumah dan lahan. Saat ini, kata Kusmawan, pihaknya telah melakukan penagihan melalui surat yang ditujukan langsung kepada UKM yang masih menunggak. Tetapi, belum ada yang membayar.

UKM yang tersangkut kredit macet itu, terang Kusmawan, akan diganjar sanksi. Jaminan kreditnya tidak dilepas, dan tidak lagi diberi pinjaman. "Black list," katanya. Kusmawan tidak menyebut nama-nama UKM bermasalah itu.

(8)

Bisnis I ndonesia Senin, 03 Nov

'Ke b ij a k a n k e m it r a a n UKM p e r lu d ir om b a k '

JAKARTA: Pemerintah harus merombak kebijakan di sektor perdagangan, industri, moneter ataupun fiskal untuk mengembangkan bisnis usaha mikro, kecil menengah, dan koperasi melalui kemitraan.

Hendri Saparini, ekonom Econit Advisory Group, mengatakan langkah tersebut diperlukan sebagai wujud kebijakan pendukung rencana kemitraan pengusaha besar dengan koperasi, pengusaha kecil, dan menengah.

"Pemerintah mau mengembangkan koperasi, pengusaha kecil, dan menengah, tetapi kebijakan perdagangannya masih liberal. Bagaimana mungkin bisa mengembangkannya sementara pasarnya digerogoti," kata Saparini pada workshop Pengembangan Investasi Koperasi dan UKM melalui Kemitraan, pekan lalu.

Menurut dia, harus ada kebijakan yang komprehensif sebagai pengawalannya, baik kebijakan perombakan perdagangan, industri, moneter maupun fiskal. "Kalau tidak ada pembatasan impor, bagaimana mungkin UKM bisa maju."

Saparini menegaskan di sektor industri juga tidak ada perencanaan pengembangan, termasuk bidang industri pendukung sebagai pencipta bahan baku, bahan setengah jadi. Jika tidak memiliki perencanaan itu, industri besar dan kecil tidak akan bisa bermitra.

"Kemitraan yang dimaksud Kementerian Negara Koperasi dan UKM bukan seperti kemitraan yang kita harapkan bahwa bisa meningkatkan value added. Siapa pun pasti bermitra dengan orang lain, tapi tidak akan optimal tanpa ada perencanaan."

Kalau pemerintah ingin mendorong kemitraan, harus dilakukan penataan kebijakan-kebijakan, termasuk investasi. Langkah semacam itu sudah dilakukan setiap negara. Jika mengabaikannya hanya akan menjadi kebijakan tanpa isi.

Apalagi, menurut Saparini, jika pemerintah tidak memiliki strategi industri, berarti pemilihan bidang-bidang kemitraan itu bukan yang prospektif. Dia menilai otomotif tidak dijadikan sektor kemitraan oleh pemerintah, karena memiliki linkage yang sangat panjang.

Kelanjutan

Herustiati, Asisten Deputi Kemitraan dan Jaringan Usaha Kementerian Negara Koperasi dan UKM, mengatakan gagasan perombakan kebijakan sangat positif untuk melanjutkan rencana kemitraan antara usaha besar dengan UMKM dan koperasi.

"Rencana ini merupakan bagian dari implementasi Peraturan Presiden Nomor 76 Tahun 2007 untuk bidang usaha yang dicadangkan bagi UMKM dan koperasi dan bidang usaha terbuka dengan syarat kemitraan."

Melalui workshop melibatkan berbagai pakar di bidangnya diharapkan mampu mengeksplorasi upaya-upaya peningkatan investasi berbasis kemitraan dan meningkatkan kesepahaman perspektif dalam pengembangan UMKM dan koperasi dengan usaha besar, baik dari investor lokal maupun luar negeri.

(9)

Kompas Senin, 03 November 2008

Wawancara

Fu k u d a D or on g UKM d i I n d on e sia

KOMPAS/LUKI AULIA / Kompas Images

Senin, 3 November 2008 | 03:00 WIB

Nur Hidayati dan Luki Aulia

Presiden Asosiasi Indonesia-Jepang Yasuo Fukuda mengunjungi Indonesia akhir pekan lalu. Ia berkunjung untuk menghadiri pembukaan Indonesia-Japan Expo yang diselenggarakan harian Kompas dan harian ekonomi Jepang, Nikkei, 1-9 November 2008, dalam rangkaian peringatan 50 tahun hubungan diplomatik kedua negara.

Yasuo Fukuda (72) sempat mengundurkan diri dari jabatan Presiden Asosiasi Indonesia-Jepang untuk menghindari konflik kepentingan ketika ia menjabat sebagai Perdana Menteri Jepang.

Bulan September 2008, setelah lengser dari jabatan perdana menteri, ia kembali meneguhkan niatnya untuk bekerja keras meningkatkan hubungan baik Indonesia-Jepang.

Yasuo Fukuda meneruskan nama besar sang ayah, Perdana Menteri Takeo Fukuda, yang dikenal dengan pemikiran politik Doktrin Fukuda.

Doktrin yang diumumkan tahun 1977 itu memberi arah pada politik luar negeri Jepang dalam membangun kerja sama dengan negara-negara Asia, termasuk dalam bidang perekonomian.

Mengawali wawancara khusus dengan Kompas, Sabtu (1/11) petang, Fukuda mengomentari suhu ruangan hotel tempatnya menginap di Jakarta.

Suhu ruangan itu dibuat terlalu rendah dibandingkan dengan suhu luar ruangan. Ia mengatakan, di Jepang, kini pemerintah bahu-membahu dengan masyarakat untuk memperkecil perbedaan suhu di dalam dan luar ruangan. Keterbatasan sumber daya energi mendasari upaya itu.

”Indonesia kaya akan sumber energi, tetapi suatu saat nanti, entah kapan, sumber-sumber yang tidak terbarukan juga akan habis. Selain itu, dampak lingkungan dari penggunaan energi juga tidak bisa diabaikan. Saya berharap upaya hemat energi di Jepang, termasuk teknologi yang dikembangkan untuk itu, juga bisa diterapkan di sini,” ungkapnya.>w 9736m<

Kerja sama ekonomi Indonesia-Jepang, menurut Fukuda, bersifat saling melengkapi. Indonesia kaya dengan sumber daya alam dan energi.

Struktur industri Jepang

Populasi penduduk Indonesia juga tumbuh cukup tinggi. Sebaliknya, Jepang menguasai teknologi, tetapi miskin sumber daya alam. Populasi penduduknya pun menua.

Akan tetapi, hubungan komplementer itu tidak berarti Indonesia harus selalu menjadi pemasok komoditas mentah dan energi, tanpa menyerap teknologi Jepang.

Menanggapi persepsi sebagian kalangan tentang keengganan Jepang mentransfer teknologi dalam kerja sama industrial dengan pihak lain, Fukuda bertutur tentang struktur industri Jepang yang ditopang oleh usaha kecil dan menengah.

(10)

Kompas Senin, 03 November 2008

Sekitar 97 persen perusahaan di Jepang berskala kecil dan menengah. Meski skala usahanya kecil, mereka memiliki keahlian dan menguasai teknologi tinggi hingga bisa memasok suku cadang berkualitas ke perusahaan-perusahaan besar. Jepang dikenal dengan penerapan standar industri yang sangat ketat.

”Perusahaan kecil dan menengah ini mengembangkan teknologinya masing-masing selama puluhan tahun. Bahkan, ada yang lebih dari 100 tahun. Perusahaan kecil dan menengah itulah yang sebenarnya menopang perekonomian Jepang,” tuturnya.

Fukuda tidak melengkapi jawabannya dengan gambaran tentang usaha kecil menengah (UKM) di Indonesia.

Perusahaan berskala kecil menengah juga mendominasi unit usaha di Indonesia. Namun, penerapan standar nasional masih amat lemah, terlebih lagi bagi kalangan UKM.

”Saya juga mendengar tahun lalu peraturan investasi di Indonesia diperketat. Saya kira transfer teknologi juga terkendala aturan ini. UKM Jepang yang ingin berinvestasi atau membuka pabriknya di Indonesia terhambat. Namun, saya bisa memahami kekhawatiran masuknya investasi UKM ini akan mempersulit kompetisi. Persoalan ini perlu lebih dikomunikasikan,” ujarnya.

Meski demikian, Fukuda menegaskan, Pemerintah Jepang berkomitmen kuat mendorong peningkatan teknologi dalam kegiatan produksi di Indonesia.

Pada Persetujuan Kemitraan Ekonomi Indonesia-Jepang yang mulai berlaku 1 Juli 2008, kedua negara menyepakati adanya pusat pengembangan industri manufaktur (manufacturing industry development center) yang meliputi rangkaian program berkelanjutan di 13 sektor industri.

Kajian pendalaman struktur industri saat ini tengah disusun untuk mendasari implementasi MIDEC. Tujuannya, memperkuat struktur industri di Indonesia dengan membangun lagi integrasi sektor hulu dan hilir yang selama ini lebih banyak terputus-putus.

Agar tidak sekadar menjadi perakit dalam proses produksi otomotif, misalnya, dibutuhkan penguasaan konsep dan desain produk. Dibutuhkan pula penguasaan teknologi, bukan untuk mengoperasikan mesin, tetapi membuat cetakan mesin atau komponen itu sendiri.

Fukuda menegaskan, kekayaan demografi Indonesia serta potensi ekonominya membuat Indonesia selayaknya mengambil kepemimpinan di ASEAN, juga dalam bidang perekonomian.

Arti penting Indonesia itu, kata Fukuda, membuat Jepang meyakini kerja sama kedua negara juga akan memberi kontribusi yang berarti bagi kawasan Asia.

”Indonesia bukan saja layak mengambil kepemimpinan di ASEAN, tetapi juga bisa. Saya ingin menyampaikan pesan agar Indonesia lebih bersemangat untuk maju karena potensi Indonesia untuk berkembang sangat besar,” ujarnya.

(11)

Bisnis I ndonesia Selasa, 04 November 2008

Sa m a r in d a p r ior it a sk a n UKM

SAMARINDA: Pemerintah Kota Samarinda akan lebih memerhatikan peningkatan sektor koperasi, usaha kecil dan menengah pada 2009.

"Bukan berarti perhatian Pemkot Samarinda terhadap UKM tahun ini tidak optimal," ujar Pelaksana Tugas (Plt) Kabag Humas Sekretariat Kota Samarinda M. Faisal kemarin.

Selama ini, pengembangan dan pembinaan terhadap UKM dan Koperasi dinilai berhasil, terbukti dari penghargaan Bintang Satya Lencana Wira Karya bidang Koperasi yang diberikan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono di Jakarta pada 12 Juli 2004 kepada Wali Kota Samarinda Achmad Amins.

Terkait dengan kemungkinan adanya peningkatan anggaran UKM yang akan dikucurkan pada 2009, Plt Kabag Humas Sekkot Samarinda itu mengatakan pembinaan UKM tidak mesti harus dilakukan dengan cara memberi bantuan modal.

(12)

Bisnis I ndonesia Selasa, 04 November 2008

UM KM b u t u h le m b a g a p e n j a m in

MATARAM: Usaha mikro kecil dan menengah (UMKM) membutuhkan lembaga penjamin untuk mengakses kredit dari perbankan.

"Untuk menyikapi kebutuhan UMKM itu maka harus dibentuk lembaga penjamin di daerah agar kendala permodalan itu teratasi," kata Wakil Gubernur Nusa Tenggara Barat Badrul Munir ketika menyampaikan pendapat atas Raperda Usul Inisiatif DPRD NTB, pekan lalu.

Salah satu raperda usul inisiatif DPRD NTB itu, yakni Raperda tentang Penjamin Kredit Koperasi dan UMKM.

Munir berharap, pembahasan raperda itu segera rampung hingga disahkan agar dapat diimplementasikan pada 2009.

(13)

Bisnis I ndonesia Rabu, 05 November 2008

8 0 UM KM d id or on g m a su k Ca r r e fou r

JAKARTA: Pemerintah memfasilitasi pertemuan 80 usaha mikro, kecil dan menengah (UMKM) menjadi mitra Carrefour Indonesia untuk meningkatkan akses pasar modern.

Ikhwan Asrin, Deputi Bidang Pemasaran Dan Jaringan Usaha Kementerian Negara Koperasi dan UKM, mengatakan fasilitasi untuk mendorong pertambahan UMKM mitra pengusaha besar.

"Ke-80 UKM ini merupakan hasil binaan Yayasan Dharma Bhakti Astra (YDBA) dan kami fasilitasi melalui warung bisnis (warbis) Kementerian Koperasi dan UKM," kata Ikhwan kemarin.

(14)

Bisnis I ndonesia Kamis, 06 November 2008

Ka d in : Pe m b a t a sa n p r od u k im p or g a n g g u p a sok r it e l

se sa a t

JAKARTA: Kadin Indonesia mendukung kebijakan Depdag membatasi impor produk garmen, alas kaki, elektronik, mainan anak-anak, dan produk makanan dan minuman, meski berpotensi menghambat pasokan barang ke toko modern dalam sesaat.

Ketut Suardhana Linggih, Wakil Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia bidang Perdagangan dan Distribusi, memperkirakan potensi terhambatnya pasokan sejumlah produk ke toko modern hanya sesaat, yaitu kurang dari 1 bulan.

"Pengusaha itu pintar. Tentunya ketimbang tokonya kosong peritel akan cepat menggantikan pemasoknya dari importir terdaftar. Karena itu saya perkirakan potensi hambatan pasokan ke toko hanya akan berlangsung kurang dari satu bulan," kata Ketut, kemarin.

Menurut dia, potensi terhambatnya pasokan ke toko karena selama ini importir tidak terdaftar aktif menjadi pemasok.

Akan tetapi, importir itu tidak bisa dikatagorikan melakukan bisnis ilegal. Karena ada yang patuh menyelesaikan berbagai ketentuan administrasi dan membayar kewajibannya.

"Meski berpotensi ada hambatan pasokan, toko modern tidak akan merugi karena peritel secepat mungkin untuk mencari importir terdaftar," kata Ketut.

Kadin Indonesia mendukung langkah yang dilakukan Depdag, karena bisa mengetahui importir produk asing yang dijual di pasar, sehingga jika ditemukan pelanggaran mudah menelusuri pelakunya.

"Kebijakan Depdag itu membantu pasar modern lebih bagus nantinya. Kalau ada pelanggaran belum tentu peritelnya yang salah, bisa saja pemasoknya atau produsennya," kata Ketut.

Seperti diketahui Depdag menerbitkan aturan pembatasan impor garmen, alas kaki, elektronik, mainan anak-anak, dan produk makanan dan minuman, karena selama ini pasar dalam negeri selalu dibanjiri produk sejenis sehingga mengancam keberadaan industri domestik.

Aturan pembatasan impor terdapat dalam Peraturan Menteri Perdagangan No: 44/ M-DAG/PER/10/2008 tentang Ketentuan Impor produk tertentu yang importirnya harus terdaftar di Departemen Perdagangan. Aturan itu mulai diberlakukan pada 15 Desember 2008 hingga Desember 2010 (Bisnis, 5 Nov. 2008).

(15)

Bisnis I ndonesia Kamis, 06 November 2008

Pe n y a lu r a n KUR t e r t e k a n d a m p a k k r isis g lob a l

JAKARTA: Kementerian Negara Koperasi dan UKM melaporkan tren penyaluran kredit usaha rakyat (KUR) turun sejak dampak krisis perekonomian global mulai merambah Indonesia.

Akhmad Djunaedi, Asisten Deputi Urusan Restrukturisasi Usaha Kementerian Negara Koperasi dan UKM, mengatakan penurunan memang terjadi jika dibandingkan dengan bulan sebelumnya memasuki krisis global.

"Jika dalam dua bulan terakhir peningkatan debitor mencapai 1.600%, setelah krisis global akses permodalan dari pelaku usaha mikro, kecil dan menengah (UMKM), mulai datar," kata Akhmad Djunaedi pada seminar Benarkah KUR Tanpa Jaminan?, kemarin

Di samping dampak krisis global, jumlah terbatas SDM perbankan peserta KUR juga dinilai menjadi penyebab datarnya jumlah debitor yang memanfaatkan dana dengan penjaminan pemerintah itu.

Dia mengharapkan bank peserta penyalur KUR perlu diperluas sehingga tidak hanya mengandalkan enam bank saja, yakni Bank Mandiri, Bank Mandiri Syariah, Bank BTN, Bank Bukopin, Bank BRI dan Bank BNI.

Terkait keluhan calon debitor KUR terhadap jaminan tambahan yang masih diwajibkan bank penyalur, Akhmad Djunaedi pada seminar yang dilaksanakan Jurnal Nasional tersebut menjelaskan persyaratan itu sesuai dengan kebijakan Bank Indonesia.

"Tapi agunan tambahan itu hanya sebagai bentuk dari keyakinan bank bahwa debitor memiliki kelayakan usaha untuk mengembalikan pinjaman atau kredit yang mereka ajukan melalui program KUR."

Keluhan terbesar disampaikan calon debitor terhadap pelayanan Bank BRI yang memiliki kantor pelayanan terbesar dari enam bank peserta. Bank ini memiliki kantor pelayanan lebih dari 5.000 unit.

Jaminan tambahan

Nining I. Soesilo, Direktur UKM Center Universitas Indonesia, mengemukakan jaminan tambahan yang masih diberlakukan bank terhadap calon debitor tidak bisa dihindari karena bisnis perbankan berdasarkan kepercayaan.

Namun, dalam proses penyaluran bank kepada calon debitor kerap terjadi asimetri informasi yang berdampak terhadap kurang harmonisnya hubungan kedua belah pihak.

"Bank ibaratnya seorang pria ganteng, sedangkan UKM merupakan seorang gadis cantik. Keduanya memiliki hati yang baik dan beriman, tapi karena sama-sama memiliki penilaian, mereka tidak sampai ke jenjang pernikahan. Seperti itulah bank dan UKM dalam program KUR," kata Nining.

Karena itu dia minta pemerintah melakukan sosialisasi KUR sampai pada masyarakat paling bawah.

(16)

Bisnis I ndonesia Kamis, 06 November 2008

UKM Ce n t e r sa lu r k a n k r e d it

JAKARTA: Pusat Usaha Kecil Menengah (UKM Center) Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia menyalurkan kredit kepada 35 debitor binaan dengan memanfaatkan sumber dana dari Program Kemitraan dan Bina Lingkungan (PKBL) BUMN.

Direktur UKM Center Universitas Indonesia Nining I.Soesilo mengatakan penyaluran ini merupakan bagian dari pelayanan yang wajib perguruan tinggi bagi masyarakat yang perlu dukungan permodalan.

Program itu dimulai pada 2007 dengan besaran pinjaman hingga Rp100 juta. "Kami menyalurkan dana sesuai dengan besaran bunga yang ditetapkan, yakni 6% per tahun. Biaya operasional kami ambil dari program bina lingkungan," kata Nining kemarin.

(17)

Jurnal Nasional Kamis, 06 November 2008

Ekonomi | Jakarta | Kamis, 06 Nov 2008 07:15:00 WIB

Pe m e r in t a h Se le k si UKM I k u t Pa m e r a n

PEMERINTAH melakukan seleksi bagi produk-produk Usaha Kecil dan Menengah (UKM) yang akan difasilitasi mengikuti pameran-pameran tingkat internasional dengan mengutamakan produk-produk dengan kualitas yang diminta pasar luar negeri.

Menteri Perdagangan Mari Elka Pangestu dalam sambutan pada Rapat Kordinasi Nasional bidang Kerjasama Ekonomi Internasional di Jakarta, mengatakan, strategi tersebut diharapkan mampu meningkatkan daya saing produk UKM di luar negeri.

"Mungkin kita harus bedakan produk-produk UKM, jadi harus ada seleksi yang baik untuk produk yang bisa diekspor, dan kita akan memfasilitasinya," kata Mendag.

Langkah itu, lanjutnya, perlu dukungan penuh dari pemerintah daerah serta institusi lintas departemen seperti Kementerian Koperasi dan UKM, Departemen Perindustrian dan Departemen Perdagangan.

"UKM-UKM yang akan diajak itu akan kita buat standar, demikian pula minimal harus banyak UKM yang dilibatkan dalam pameran agar tidak diikuti oleh UKM yang itu-itu saja," kata Mendag.

Kepala Badan Pengembangan Ekspor Nasional (BPEN)Depdag, Bachrul Chairil mengakui, produk-produk UKM yang layak dipamerkan di tingkat dunia masih membutuhkan perbaikan dari segi kualitas dan kuantitas.

(18)

Kompas Kamis, 06 November 2008

Pe r a j in Uk ir Se p i Pe m b e li

Terhambat Kenaikan Harga Bahan Baku

Kamis, 6 November 2008 | 03:00 WIB

Palembang, Kompas - Perajin kayu ukir Palembang mengeluhkan sepinya pembeli. Hal tersebut diperkirakan sebagai dampak tidak langsung menurunnya harga karet dan kelapa sawit. Selama ini, sebagian pembeli kayu ukir Palembang merupakan petani karet dan kelapa sawit.

Dimas Dany, perajin kayu ukir di Kawasan 19 Ilir, Kecamatan Bukit Kecil, Palembang, Rabu (5/11), mengatakan, kayu ukir produksinya dijual dalam bentuk pintu dan joglo (pelaminan). Selain ke Palembang, kayu ukir juga dijual ke Lampung dan Jambi.

Ia tidak mengukir kayu sendiri, tetapi membeli ukiran kayu mentah dari perajin di Kecamatan Sukarami, Kota Palembang, serta dari perajin ukir di Jepara. Kayu yang digunakan di antaranya kayu jati, medang, dan durian.

Menurut Dimas, sejak sebulan lalu, permintaan kayu ukir menurun. Biasanya, mampu menjual dua hingga tiga kayu ukir per hari. Namun, saat ini maksimal hanya satu kayu per hari. ”Bahkan, kadang-kadang tidak ada pembeli,” ujarnya.

Penurunan permintaan tersebut diperkirakan sebagai dampak menurunnya penghasilan para petani karet dan kelapa sawit. Saat ini, kondisi mereka juga sedang terpuruk, akibat anjloknya harga kedua komoditas tersebut.

Padahal, sebagian pembelinya adalah petani karet dan sawit. Selain itu, penurunan permintaan juga diperkirakan karena masyarakat sudah menghabiskan uang mereka untuk kebutuhan Lebaran. ”Menjelang Lebaran, permintaan kayu ukir sangat banyak,” katanya.

Harga bahan naik

Dimas mengatakan, turunnya permintaan mengakibatkan pendapatan perajin berkurang. Padahal, sejak kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) beberapa waktu lalu, mereka sudah terkendala kenaikan harga bahan baku, berupa kayu ukir mentah, cat, melamin, perada (cat warna emas), dan varnish.

Harga cat naik dari Rp 36.000 menjadi Rp 50.000 per kilogram, harga melamin naik dari Rp 34.000 menjadi Rp 38.000 per kaleng isi 0,9 liter, harga varnish naik dari Rp 21.500 menjadi Rp 23.500 per kaleng ukuran sama, sedangkan harga perada naik dari Rp 36.000 menjadi Rp 40.000 per ons. ”Kenaikan harga kayu ukir mentah sekitar 10 persen,” ujar Dimas.

Meskipun terjadi kenaikan harga bahan baku, perajin tidak menaikkan harga jual kayu ukir Palembang. Harga satu pintu ukir Rp 900.000, sedangkan harga satu set joglo dengan tujuh pintu Rp 15 juta.

Dadang Irawan, perajin kayu ukir lainnya di Kawasan 19 Ilir juga mengeluhkan sepinya pembeli. Ia menjual ukiran dalam bentuk bufet atau lemari, dengan harga Rp 4 hingga Rp 5,5 juta per unit. ”Kadang dalam sehari laku satu, kadang tidak sama sekali,” katanya.

Menurut dia, berdasarkan pengalaman tahun-tahun sebelumnya, permintaan kayu ukir biasa turun setelah Lebaran. Meskipun demikian, kondisinya tidak separah tahun ini.

(19)

Kompas Kamis, 06 November 2008

(20)

Bisnis I ndonesia Jumat, 07 November 2008

Pe n g u sa h a b a t a k o b a t a si p r od u k si

PANGKALPINANG: Pengusaha batako di Pangkalpinang membatasi produksi, seiring dengan meningginya biaya produksi akibat kenaikan harga material, seperti semen dan pasir, sedangkan permintaan turun drastis tertekan dampak krisis ekonomi.

Firman, pengusaha batako di Pangkalpinang, mengatakan terpaksa mengurangi produksi batako karena tinggi harga bahan baku dan pemasaran batako sulit seiring dengan lesunya perekonomian masyarakat.

"Kami terpaksa mengurangi produksi dari 10.000 per hari menjadi 2.000 batako per hari, karena tidak sebanding dengan biaya produksi batako dan keuntungan sehingga kami rugi," ujarnya kemarin.

(21)

Suara Pembaruan Sabtu, 08 November 2008

Re n ov a si 6 3 Pa sa r Tr a d ision a l Ra m p u n g 2 0 1 0

[JAKARTA] PD Pasar Jaya akan meningkatkan daya saing pasar tradisional di Jakarta, dengan melakukan peremajaan atas 63 pasar tradisional. Peremajaan 55 pasar tradisional dan delapan bekas Pasar Inpres itu ditargetkan akan rampung tahun 2010 mendatang.

"Dari target 63 pasar itu, sekarang ini 15 pasar sedang dalam peremajaan. Selebihnya sedang tahap sosialisasi," kata Direktur Utama PD Pasar Jaya Uthand Halomoan Sitorus, kepada Antara di sela-sela peringatan HUT ke-42 PD Pasar Jaya, di Lapangan Arcici, Rawasari, Jakarta, Kamis (7/11).

Menurut Uthand, pasar-pasar yang akan direnovasi tersebut terdiri atas 55 pasar tradisional dan delapan bekas pasar Inpres. Ditargetkan peremajaan pasar-pasar tersebut rampung 2010 mendatang.

Tahap sosialisasi, kata Uthand, membutuhkan waktu sekitar 1-2 tahun, yakni menyatukan persepsi seluruh pedagang di setiap pasar, karena yang dibahas tidak hanya soal renovasi dan fasilitas saja, tetapi juga soal kesepakatan harga kios yang baru.

"Jadi biar tidak ada permasalahan pada kemudian hari baik soal harga, tempat, maupun desain bangunannya," katanya.

Selama sosialisasi berlangsung, Uthand berharap kepada seluruh manajer area pasar tradisional tetap menjaga kebersihan dan ketertiban di lingkungan pasar. Sehingga, kesan kumuh yang selama ini melekat pada pasar tradisional bisa ditepis.

"Kalau ada manajer area atau supervisor yang tidak becus mengurus pasar, sebaiknya mundur saja. Masih banyak orang yang mau memimpin pasar di wilayah. Pokoknya kalau ada manajer atau supervisor malas kerja dan pasarnya kumuh, akan saya pecat," tegasnya.

Rampung 2010

Sebanyak 15 dari target 63 pasar di DKI Jakarta yang akan diremajakan, kini sudah dilaksanakan, selebihnya masih dalam tahap sosialisasi. Direktur Utama PD Pasar Jaya Uthand Halomoan Sitorus menjelaskan pasar tersebut adalah 55 pasar tradisional dan delapan bekas Pasar Inpres. Peremajaan akan rampung tahun 2010 mendatang.

Sosialisasi peremajaan pasar itu, kata Uthand, membutuhkan waktu sekitar 1-2 tahun. Hal itu karena untuk menyatukan persepsi seluruh pedagang di setiap pasar itu tidak mudah. Yang dibahas tidak hanya soal renovasi dan fasilitas, tetapi juga soal kesepakatan harga kios yang baru.

"Jadi biar tidak ada permasalahan di kemudian hari baik soal harga, tempat, maupun desain bangunannya," kata Uthand.

Selama sosialisasi berlangsung, Uthand berharap seluruh manajer area pasar tradisional tetap menjaga kebersihan dan ketertiban di lingkungan pasar sehingga kesan kumuh yang selama ini melekat pada pasar tradisional bisa ditepis. Demikian pula kebersihan pasar usai diremajakan juga harus tetap dijaga sehingga ke depan pasar tradisional mampu bersaing dengan pasar-pasar modern.

(22)

Suara Pembaruan Sabtu, 08 November 2008

(23)

Bisnis I ndonesia Rabu, 10 November 2008

'7 - Ele v e n a g a r m a su k le w a t w a r a la b a '

JAKARTA: Asosiasi Franchise Indonesia (AFI) mengharapkan convenience store asal Jepang 7-Eleven masuk ke Indonesia dengan format bisnis waralaba, agar penerima waralaba dalam negeri bisa belajar tentang perkembangan franchise.

"AFI mengharapkan 7-Eleven masuk ke Indonesia dengan sistem bisnis waralaba, supaya terjadi modernisasi dan belajar perkembangan franchise dari mereka," kata Ketua Asosiasi Franchise Indonesia (AFI) Anang Sukandar, pekan lalu.

Namun, Anang pesimistis kedatangan raksasa ritel toko kecil dunia ke Indonesia melalui format bisnis waralaba, karena pernah diinformasikan oleh pejabat perdagangan Jepang keinginan pebisnis 7-Eleven masuk dengan bentuk usaha patungan.

(24)

Bisnis I ndonesia Senin, 10 November 2008

UKM d ip a cu m a n fa a t k a n t e k n olog i in for m a si

JAKARTA: Kementerian Negara Koperasi dan UKM mengambil langkah strategis untuk meningkatkan daya saing dan akses pasar koperasi dan usaha mikro, kecil menengah (KUMKM) melalui pemanfaatan teknologi informasi dan komunikasi.

Ikhwan Asrin, Deputi Bidang Pemasaran dan Jaringan Usaha Kementerian Koperasi dan UKM, mengemukakan pemanfaatan teknologi informasi dan komunikasi (TIK) itu juga mengantisipasi dampak krisis finansial global.

"Kami menyadari ada keterbatasan koperasi dan UMKM dalam penguasaan TIK sehingga perlu dilakukan peningkatan kemampuan. Dalam program ini kami bekerja sama dengan Federasi Teknologi Informasi Indonesia (FTII)," kata Ikhwan Asrin.

Untuk meningkatkan kapasitas penguasaan ilmu dunia maya tersebut, Kementerian Koperasi dan UKM mengaitkannya dengan Pekan Solusi TIK bagi KUMKM (SME ICT Week Solution 2008) pada 24-27 November di Smesco Promotion Center, Jakarta Selatan.

Kegiatan tersebut dilakukan secara terpadu dengan beberapa kegiatan, a.l. forum pengambil keputusan untuk menyinergikan pengembangan dan pemanfaatan TIK di Indonesia, khususnya bagi pengembangan bisnis koperasi dan UMKM.

Selanjutnya ada seminar pemanfaatan TIK bagi koperasi dan usaha kecil untuk memperkaya wawasan dan pengetahuan seperti penerapan TIK dan strategi online marketing guna mempromosikan produk KUMKM ke pasar global.

Tak direspons

Asdep Urusan Informasi dan Publikasi Bisnis Kementerian Koperasi dan UKM Emilia Suhaemi menambahkan KUMKM dewasa ini wajib mengenal TIK untuk mengembangkan usahanya.

"Bisnis melalui dunia maya tidak bisa dihindari. Kalau mereka tidak menguasainya, usaha sukar berkembang. Kami memasukkan data usaha mereka ke jaringan trading board, tapi tidak ada respons ketika ada buyer hendak bertransaksi. Ini disebabkan oleh kurang paham tentang TIK," kata Emilia.

Saat ini tercatat 400 pembeli lokal dan asing yang melakukan transaksi melalui trading board Kementerian Koperasi dan UKM melalui www.indonesia-products.biz. Untuk melayani pembeli instansi tersebut memfasilitasi peningkatan wawasan TIK KUMKM.

Menurut Emilia, proses transaksi pemasaran dan penjualan produk agak lamban karena hanya dikerjakan ahli Kementerian Koperasi dan UKM. Ke depan pelaku koperasi dan UMKM diharapkan mampu melakukan transkasi secara langsung agar prosesnya lebih cepat.

"Koperasi dan UMKM yang menggunakan TIK sebagai andalannya sudah ada, tapi kami belum mempunyai data base jumlahnya," papar Emilia.

Forum peningkatan kualitas TIK KUMKM ini akan diwakili pejabat dari Departemen Komunikasi dan Informasi, Departemen Perindustrian, Bappenas, Departemen Perdagangan, Bank Indonesia, BPPT serta Kementerian Koperasi dan UKM.

(25)

Bisnis I ndonesia Selasa, 11 November 2008

Ba n t e n se d ia k a n j a m in a n k r e d it

SERANG: Pemerintah Provinsi Banten memberikan jaminan kredit bagi usaha kecil mikro dan menengah (UMKM) kepada Bank Jabar sebesar Rp3,5 miliar.

"Jaminan yang diberikan 10% dari kredit yang bisa dikucurkan sehingga dana yang bisa diserap oleh UMKM di Banten Rp35 miliar," kata Ketua Komisi II DPRD Provinsi Banten Mediawarman, pekan lalu.

Menurut dia, mekanisme pengucuran kredit tersebut adalah Pemprov Banten menandatangani nota kesepahaman dengan Bank Jabar-Banten dan Askrindo, sedangkan besaran kredit yang dikucurkan kepada UMKM masing-masing Rp5 juta - Rp10 juta.

(26)

Bisnis I ndonesia Selasa, 11 November 2008

Ju k la k p e r p a sa r a n d ifin a lisa si

JAKARTA: Departemen Perdagangan akan segera menerbitkan petunjuk pelaksanaan Peraturan Presiden (Perpres) No.112/2007 tentang Pengaturan Pasar/Toko Moderen dan Pasar Tradisional sehingga tidak ada lagi permasalahan antara pemasok dan peritel.

Direktur Jenderal Perdagangan Dalam Negeri Departemen Perdagangan Subagyo mengatakan rancangan Permendag tersebut sudah difinalisasikan di Biro Hukum Depdag dan akan segera diterbitkan setelah ditandatangani Menteri Perdagangan.

"Kami akan usahakan terbit minggu ini. Kalau hari ini ditandatangani, ya terbit besok," ujarnya kemarin.

Hal senada juga disampaikan oleh Sekretaris Direktorat Perdagangan Dalam Negeri Gunaryo yang mengatakan semua poin yang ada dalam juklak itu sudah disepakati oleh pihak yang berkaitan, terutama antara ritel dan pemasok.

Menurut dia, paparan yang terdapat dalam juklak tersebut merupakan peraturan pelaksanaan dari Perpres 112/2007.

Ketua Asosiasi Pengusaha Pemasok Pasar Modern Indonesia (AP3MI) Susanto mengatakan dengan disegerakannya penerbitan juklak tersebut memperlihatkan niat baik pemerintah untuk menciptakan suasana yang kondusif dalam rangka mendukung sektor rill karena ada trading term.

"Harus kami hargai itu sebagian poinnya. Lagi pula hasil pembahasan tersebut sudah ada faktanya dan sudah didiskusikan, kondisinya sudah diceritakan, kendalanya juga sudah dikeluarkan sehingga tidak ada lagi yang tertutup," ujarnya kemarin.

Juklak tersebut membahas masalah batas maksimum untuk syarat perdagangan seperti biaya pendaftaran barang serta pemberian diskon. Menurut dia, besaran maksimum yang disepakati untuk listing fee adalah sebesar 1% dan conditional rebate-nya atau diskon sewaktu-waktu hanya sebesar 1,5% dari omzet pemasok.

Pembatasan terhadap other income itu akan menciptakan keadilan serta persaingan yang sehat antara ritel lokal dan ritel asing sehingga tidak lagi menimbulkan masalah yang selama ini terjadi. (12)

(27)

Bisnis I ndonesia Selasa, 11 November 2008

'M in im a r k e t a sin g h a r u s w a r a la b a '

JAKARTA: Menteri Perdagangan menegaskan minimarket asing hanya dapat masuk ke Indonesia melalui sistem waralaba karena Peraturan Presiden (Perpres) No.111/2007 melarang investasi langsung minimarket asing.

"Investasi langsung minimarket asing secara aturan tidak boleh. Mungkin dia masuk sebagai franchise [waralaba]," kata Mari Elka Pangestu menanggapi rencana masuknya minimarket asal Jepang 7-Eleven ke Indonesia, kemarin.

(28)

Bisnis I ndonesia Selasa, 11 November 2008

Usa h a k e cil b e r p e lu a n g isi k e k oson g a n g a r m e n d i

p u sa t g r osir

JAKARTA: Asosiasi Pemasok Garmen dan Aksesoris Indonesia (APGAI) memprediksi usaha kecil dan menengah (UKM) yang memproduksi pakaian jadi dan alas kaki kembali bangkit, menyusul kemungkinan terjadi kekosongan barang di pusat grosir.

Ketua APGAI Suryadi Sasmita mengatakan dalam enam bulan ke depan diperkirakan stok barang impor di pusat grosir yang ada di Indonesia akan menipis, karena aturan Depdag yang membatasi impor garmen dan alas kaki.

"Bisa dikatakan 90% barang yang ada di pusat grosir itu adalah produk ilegal dari luar negeri terutama China. Jadi dengan aturan harus importir terdaftar dan hanya masuk melalui lima pelabuhan kemungkinan stok di pusat grosir akan menipis dalam enam bulan ke depan,"kata Suryadi kepada Bisnis, kemarin.

Baru terasanya dampak pengetatan impor garmen dan alas kaki oleh pemerintah itu setelah enam bulan ke depan, jelas dia, karena selama ini pedagang grosir umumnya memiliki toko yang relatif kecil tapi gudang besar.

Dengan semakin terbatasnya produk ilegal di pusat grosir karena ada Permendag No. 44/2008 yang ditandatangani 31 Oktober, jelas dia, akan memberi peluang bagi industri pakaian jadi dalam negeri untuk memenuhi kebutuhan barang di pusat grosir. Termasuk industri garmen dan alas kaki skala UKM.

UKM garmen dan alas kaki sempat mencapai ribuan jumlahnya untuk memenuhi permintaan barang untuk konsumen menengah ke bawah di pusat grosir di Indonesia.

Namun, dengan semakin maraknya produk ilegal berharga murah dengan kualitas bersaing, industri UKM garmen dan alas kaki yang sebelumnya bisa menjalankan usahanya hanya bermodal tiga hingga lima mesin jahit terus menyusut jumlahnya.

"Sebelum ada Permendag No. 44/2008, produk impor bisa masuk melalui lebih dari 100 pelabuhan. Setelah peraturan itu cuma melalui lima pelabuhan dan harus dilakukan oleh importir terdaftar."

Menurut dia, peraturan itu dibuat untuk mencapai tiga tujuan. Pertama, untuk melakukan pengawasan atas barang ilegal. Kedua, guna mengendalikan devisa yang ke luar. Ketiga, agar pelaku UKM tidak terpukul dan tetap bisa melakukan kegiatannya.

(29)

Bisnis I ndonesia Rabu, 12 November 2008

Ak a n k a h M e n d a g m e m b a t a si t r a d in g t e r m ?

Setelah melakukan rapat secara berkesinambungan, akhirnya Departemen Perdagangan memastikan juklak Perpres No. 112/2007 akan diterbitkan pekan ini.

Ada yang menarik dalam rapat pada Jumat 7 November 2008, yang membahas isi draf permendag sebagai juklak Perpres Penataan dan Pembinaan Pasar Tradisional, Pusat Perbelanjaan dan Toko Modern.

Dalam rapat di Depdag yang melibatkan banyak pemangku kepentingan itu, pasal demi pasar dibahas. Tapi ada satu pasal dilewatkan, yakni pasal enam yang mengatur batasan biaya syarat perdagangan.

Sekretaris Direktorat Perdagangan Dalam negeri Gunaryo mengatakan semua poin sudah disepakati oleh pihak terkait, terutama peritel dan pemasok.

Akan tetapi, katika hal itu dikonfirmasi kepada wakil pemasok dan peritel yang mengikuti rapat itu, masing-masing memberitahukan batasan versi masing-masing.

Pemasok yang diwakili aliansi dari sembilan asosiasi memiliki versi tersendiri, begitu juga dengan Asosiasi Pengusaha Ritel Indonesia (Aprindo) memberikan pembeberan versi peritel. Artinya belum ada kata sepakat dalam hal pembatasan biaya syarat perdagangan.

Kalau Gunaryo mengatakan ada kesepakatan antara peritel dan pemasok, mungkin yang dimaksudkan pejabat Depdag itu adalah satu suara untuk menyerahkan keputusan kepada Mendag Mari Elka Pangestu.

Tiga syarat dagang

Mentoknya upaya untuk mencapai kata sepakat, terkait dengan tiga jenis biaya syarat perdagangan, yakni potongan harga tetap, potongan harga khusus, dan biaya administrasi pendaftaran barang.

Perpres No. 112/207 yang membolehkan peritel modern mengutip tujuh jenis syarat perdagangan, dirasakan pemasok tidak memberikan pengaruh positif pada bisnis mereka. Terbukti biaya syarat perdagangan yang ditetapkan peritel untuk kontrak 2008 masih naik seperti tahun-tahun sebelumnya.

Jenis syarat perdagangan yang ditetapkan peritel juga lebih dari tujuh. Caranya antara lain dengan menganakcucukan tujuh jenis biaya syarat perdagangan yang direstui pemerintah.

Harapan pemasok akan ada perbaikan muncul ketika Depdag mengemukakan wacananya membatasi tiga jenis biaya syarat perdagangan, yakni fixed rebate sebesar 1%, listing fee Rp10.000 per jenis barang per gerai hingga Rp 5 juta per item produk.

Di sisi lain, peritel menggunakan asas kebebasan berkontrak untuk melawan pembatasan itu. Aprindo mengemukakan pembatasan biaya syarat perdagangan melanggar kebebasan berkontrak yang diatur Pasal 1338 KUH Perdata.

(30)

Bisnis I ndonesia Rabu, 12 November 2008

Aprindo minta tidak ada batasan pada fixed rebate, tetapi menawarkan conditional rebate maksimal 10%, dan listing fee Rp 500.000 per produk per gerai. Adapun usulan aliansi adalah fixed rebate 1%, conditional rebate maksimal 1,5%, dan listing fee maksimal Rp 500.000 per produk per gerai.

Sampai saat ini baik kalangan pemasok maupun peritel berkukuh dengan pendapatnya. Entah bagaimana dengan sikap pemerintah. Kita tunggu saja. ([email protected])

(31)

Bisnis I ndonesia Rabu, 12 November 2008

Be n g k u lu t e r im a d a n a Rp 8 1 ,9 7 m ilia r

BENGKULU: Kementerian Negara Koperasi dan UKM dalam kurun waktu 2000-2007 menyalurkan bantuan untuk permodalan bagi koperasi dan usaha kecil mikro di Provinsi Bengkulu Rp81,97 miliar.

Kepala Dinas Koperasi dan UKM Provinsi Bengkulu Zainal Abiddin mengatakan total bantuan itu sebesar Rp76,26 miliar diberikan pada koperasi dan nonkoperasi Rp6,71 miliar.

(32)

Bisnis I ndonesia Rabu, 12 November 2008

D e k op in b u k a a k se s p a sa r in t e r n a sion a l

JAKARTA: Dewan Koperasi Indonesia (Dekopin) fasilitasi koperasi dan usaha kecil menengah (KUKM) membuka akses pasar internasional melalui ekspor berbagai produk ke China dan Uni Emirat Arab dengan jaminan produk pasti terjual.

Herbeth Mindo Sitorus, Direktur Jaringan Usaha Koperasi (JUK) Dekopin, mengemukakan sebanyak dua kontainer produk kerajinan tangan dan batik KUKM sudah diekspor ke dua negara tersebut pada Oktober.

"Dalam ekspor ini kami memberi jaminan bahwa produk mereka pasti terjual. Karena itu kami berani memberi pembayaran di depan sebesar 50% dari nilai barang mereka," kata Mindo pada pameran JUK di Jakarta City Center (JaCC), kemarin.

Dalam transaksi tersebut JUK berani memastikan produk KUKM terjual habis karena menggunakan jasa kurator untuk menentukan jenis produk yang dikirim sesuai dengan selera pasar negara tujuan.

Menurut Mindo, jika dalam jangka waktu 3 bulan produk yang diekspor tidak dibeli konsumen, ada jaminan beli kembali dari JUK terhadap produk tersebut setelah mencapai jangka waktu 3 bulan.

JUK juga memberi jaminan pasar atas produk KUKM yang dikirim ke kota-kota besar Indonesia. Jaminan beli kembali atas produk tersebut juga diberlakukan, tetapi jangka waktunya lebih panjang, yakni 6 bulan.

"Jadi kami bisa memastikan tidak akan ada KUKM yang rugi dalam transaksi bisnis dengan JUK. Namun, down payment atau uang tanda jadi produk yang dipasarkan di dalam negeri hanya 30% dari nilai produk," papar Mindo Sitorus.

Adapun dana JUK memberi tanda jadi kepada produsen kerajinan tangan dan batik, bersumber dari simpanan sukarela anggota mereka yang kini sudah tersebar di 28 provinsi.

Dalam 3 bulan terakhir, JUK berhasil menghimpun dana Rp1,7 miliar.

JUK belum berencana melakukan ekspansi pasar ekspor produk KUKM ke negara lain karena tidak mau terburu-buru untuk mencari pasar yang tepat. Tapi untuk pasar lokal pihaknya telah menandatangani kontrak dengan 16 pengelola mal untuk pemasaran produk KUKM.

Terkait dengan pameran dan temu bisnis yang dilakukan sejak kemarin hingga 16 November, Mindo mengatakan telah fasilitasi sejumlah 120 KUKM untuk bisa membuka sendiri akses pasarnya. Baik untuk lokal maupun luar negeri.

JUK yang mengikuti pameran berasal dari NAD, Sumatera Utara, Jambi, Riau, Sumatra Barat, Sumatra Selatan, Lampung, Banten, DKI Jakarta, Jawa Barat, Jawa Tengah, dan Yogyakarta.

Selain itu, Kalimantan Tengah, Kalimantan Selatan, Kalimantan Timur, Sulawesi Selatan, Sulawesi Tengah, Sulawesi Tenggara, Sulawesi Utara, dan Gorontalo.

(33)

Jurnal Nasional Rabu, 12 November 2008

Jakarta dan Sekitarnya Jakarta | Rabu, 12 Nov 2008

Pr og r a m Kr e d it Usa h a Ke cil D KI Tid a k M a k sim a l

by : Aliyudin Sofyan

Program Kredit Usaha Kecil atau KUK di DKI Jakarta dinilai tidak berjalan secara maksimal dan tidak sampai ke masyrakat yang membutuhkan. Salah satu penyebabnya, alokasi APBD Provinsi DKI Jakarta untuk program tersebut masih kecil dan kurang disosialisasikan dengan baik. Demikian menurut Calon Anggota Legislatif (Caleg) Provinsi DKI Jakarta dari Partai Damai Sejahtera (PDS) Dwi Ryanta Soerbakti kepada Jurnal Nasional, di Jakarta, kemarin (11/11).

Ryanta mengatakan, kebijakan dan peraturan yang ada sekarang masih belum bisa mengakomodasi kepentingan masyarakat ekonomi lemah. Padahal, kelompok ini merupakan golongan mayoritas. "Hal seperti inilah yang turut mendorong keinginan saya untuk berkiprah di legislatif. Dengan menjadi anggota legislatif, saya bisa membantu menciptakan peraturan-peraturan dan kebijakan-kebijakan yang lebih pro kepada rakyat kecil," kata Caleg nomor urut satu daerah pemilihan Jakarta Selatan ini.

Menurutnya, sebagai individu, dia memiliki idealisme agar ada persamaan hak dan kewajiban bagi seluruh warga negara Indonesia. Sayangnya, idealisme tersebut tidak bisa tersalurkan secara baik karena terkait dengan tugas dan tanggung jawabnya pengusaha. "Dalam menjalankan bisnis, idealisme terkadang berbenturan dengan situasi dan kondisi persaingan usaha yang ada. Makanya saya terjun ke politik. Memang banyak juga orang yang menggunakan yayasan, koperasi atau lembaga sosial lainnya sebagai tempat penyaluran idealisme," tutur Managing Director Lorena Group itu.

Ryanta mengaku sengaja memilih legislatif di tingkat provinsi terlebih dahulu. Pasalnya, selain merasa masih relatif muda, Jakarta juga dinilai sebagai barometer dan cerminan dari Indonesia. Keberhasilan program-program pemerintah provinsi DKI dapat menjadi acuan bagi pemerintah provinsi-provinsi lain di Indonesia untuk melakukan program-program yang berdayaguna bagi masyarakat umum di provinsi masing-masing.

Dia juga yakin, latar belakangnya sebagai pengusaha tidak akan berpengaruh negatif pada posisinya sebagai anggota legislatif kelak. Meskipun demikian, dia tidak pungkiri kalau masih ada sebagian masyarakat yang memandang negatif terhadap pengusaha yang terjun ke politik. "Pandangan negatif seperti itu sah-sah saja. Karena mungkin ada beberapa oknum yang melakukannya. Namun, tolong jangan menyamaratakan semua orang. Masih banyak kok orang yang peduli dengan negara ini dan masih banyak yang mempunyai hati nurani dan itikad baik," tegasnya.

(34)

Bisnis I ndonesia Jumat, 14 November 2008

Ba h a n a sia p k a n UM KM Aw a r d

JAKARTA: PT Bahana Artha Ventura untuk pertama kalinya akan memberikan penghargaan Bahana Ventura UMKM Award kepada tiga perusahaan pasangan usaha (PPU) yang menunjukkan kinerja terbaik.

Direktur Utama PT Bahana Artha Ventura Hesty Purwanti mengatakan saat ini sudah terjaring sembilan nominator dari 220.000 PPU.

"Mereka akan menjalani seleksi akhir untuk menentukan peringkat pertama hingga ketiga untuk menerima piala pada puncaknya 18 November," kata Hesty Purwanti kemarin.

(35)

Bisnis I ndonesia Senin, 17 November 2008

Ap r in d o se t u j u b a t a sa n b ia y a t r a d in g t e r m

JAKARTA: Asosiasi Pengusaha Ritel Indonesia (Aprindo) menyokong Departemen Perdagangan jika memutuskan penetapan batasan biaya syarat perdagangan (trading term) hanya ditujukan untuk pemasok skala kecil, mengikuti ketetapan Perpres No. 112/2007.

Menurut Ketua Harian Aprindo Tutum Rahanta dalam pertemuan asosiasi peritel itu dengan Mendag baru-baru ini, Mari Elka Pangestu sempat melontarkan usulannya untuk melakukan pembatasan biaya syarat perdagangan hanya untuk pemasok skala kecil.

"Setelah mendengar cerita kami, akhirnya Bu Menteri [Perdagangan] secara otomatis mengusulkan, kalau begitu bagaimana yang diatur [pelaku usaha yang memberikan kontribusi] 20% [atas total omzet toko/pemasok kecil]. Itu menteri yang ngomong, semua dengar," kata Tutum kepada Bisnis, pekan lalu.

Seperti diketahui saat ini Depdag tengah memfinalisasi permendag, yang salah satu pasalnya mengatur wacana ketetapan pembatasan biaya syarat perdagangan.

Tutum mengemukakan jika permendag yang menjadi pedoman atau petunjuk pelaksanaan (juklak) Perpres Penataan dan Pembinaan Pasar Tradisional, Pusat Perbelanjaan dan Toko Modern, memang seharusnya mengikuti ketetapan dalam Perpres No. 112/2007.

Dalam perpres yang diterbitkan pada 27 Desember 2007 itu, pemerintah hanya menetapkan pembebasan biaya syarat perdagangan bagi usaha kecil. Peritel diinstruksikan untuk tidak memungut biaya administrasi pendaftaran barang (listing fee) dari pemasok usaha kecil.

Perpres 112/2007 juga menginstruksi pembayaran kepada pemasok usaha kecil dilakukan secara tunai, atau dengan alasan teknis tertentu dapat dilakukan dalam jangka waktu 15 hari, setelah seluruh dokumen penagihan diterima dengan memperhitungkan biaya risiko dan bunga.

Aprindo menjelaskan kepada Mendag selama ini 80% dari omzet toko modern diperoleh dari penjualan barang yang dipasok oleh perusahaan besar, sementara penjualan produk dari pemasok skala kecil hanya memberi kontrbusi 20% kepada peritel.

Namun dari segi jumlah, pemasok sala besar hanya 25% dari total pemasok satu toko modern. Sementara pemasok skala kecil yang hanya memberi kontribusi 20% jumlah perusahaannya banyak.

(36)

Bisnis I ndonesia Jumat, 14 November 2008

Kr e d it m ik r o N a g a r i se r a p p e k e r j a

PADANG: Realisasi penyaluran kredit mikro Nagari digelar di Kabupaten Agam tercatat sebagai salah satu program kredit paling berhasil di Sumatra Barat karena mampu menyerap 6.755 orang tenaga kerja.

"Penyaluran kredit mikro nagari di Agam adalah salah satu contoh keberhasilan terbaik dari program ini," kata Gubernur Sumbar Gamawan Fauzi, Jumat.

Penyaluran kredit mikro Nagari dilaksanakan Pemprov Sumbar bersama pemerintah kabupaten kota di provinsi ini sejak 2007 dengan kredit disalurkan Rp30 miliar dari APBD Sumbar ditambah dana pendamping dari APBD setiap kabupaten kota.

(37)

Jurnal Nasional Selasa, 18 November 2008

Ekonomi - Keuangan - Bisnis Even | jakarta | Selasa, 18 Nov 2008

UKM M ot or Ut a m a Pe r t u m b u h a n I n d u st r i M a n u fa k t u r

by : Sapariah

USAHA kecil dan menengah (UKM) dianggap menjadi motor utama pertumbuhan industri manufaktur pada triwulan III dengan tumbuh 4,73 persen dibanding triwulan III tahun lalu. Kedaan ini menunjukkan, pemerintah harus memberi peranan pada usaha yang banyak bergerak di sektor informal itu.

"Komposisi usaha kecil dan menengah dalam sektor industri pengolahan memang kecil, tapi pertumbuhan share mereka sangat besar pada triwulan ini. Apalagi, saat bulan puasa," kata Kepala Badan Pusat Statistik, Rusman Heriawan, di Jakarta, Senin (17/11), seperti dikutip Antara.

Jika dibandingkan triwulan sebelumnya, BPS mencatat pertumbuhan sektor ini mencapai 3,28 persen. Secara nominal, nilai tambah bruto yang diberikan atas dasar harga berlaku pada triwulan III 2008 sebesar Rp371,8 triliun atau 27,7 persen dari total PDB.

"Nah, kelompok UKM memang hanya menyumbang dua persen dari total PDB. Tapi itu sudah pertumbuhan yang sangat besar dibanding periode sebelumnya," kata Rusman.

Direktur Neraca Produksi BPS, Supriyanto menjelaskan, komposisi UKM dalam perhitungan industri manufaktur nasional nonmigas mencapai 28,81 persen, sisanya kelompok usaha besar.

"Dalam situasi menjelang Lebaran, kelompok itu memang jauh lebih cepat tumbuhnya, misalnya usaha-usaha kecil dalam meramaikan bulan puasa seperti pembuatan makanan buka puasa dan kue-kue Lebaran.”

(38)

Kompas Selasa, 18 November 2008

Pe la k u UM KM Pe r lu Ke n a l Ek oe fisie n si

Selasa, 18 November 2008 | 01:39 WIB

Yogyakarta, Kompas - Pendekatan budaya bisa dipakai untuk mengenalkan konsep ekoefisiensi kepada pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah atau UMKM. Di Yogyakarta, konsep ekoefisiensi itu bisa digali dari petuah leluhur untuk berperilaku gemi, nastiti, lan ngati-ati atau hemat, tepat, dan berhati-hati.

Ketua Forum Ekoefisiensi DI Yogyakarta Wuryadi, Senin (17/11), menjelaskan, melalui petuah itu, masyarakat Jawa dinasihati untuk selalu hemat, tepat, dan berhati-hati dalam mengelola sumber daya yang terbatas. Nasihat semacam itu sangat sesuai dengan konsep ekoefisiensi yang akhir-akhir ini diwacanakan dalam dunia usaha.

”Setelah digali, ternyata budaya Jawa sangat menghargai lingkungan. Hal-hal semacam inilah yang harus terus digali dan kemudian diangkat kembali dalam masyarakat,” kata Wuryadi dalam talkshow Penerapan Ekoefisiensi pada Usaha Katering, Senin di Yogyakarta.

Seluruh proses produksi, baik yang dilakukan industri besar, industri kecil, dan UMKM, menurut Wuryadi, berpotensi merusak lingkungan. Namun, berbeda dengan industri besar yang diwajibkan memiliki analisis mengenai dampak lingkungan (amdal) dan unit pengolahan limbah, upaya penyadaran untuk menjaga lingkungan belum sampai ke UMKM.

Kegiatan UMKM yang masif dan massal akan berdampak berat pada lingkungan. Pelaku UMKM juga tidak punya biaya untuk mengolah limbah yang dihasilkan. Konsep ekoefisiensi yang digali dari tradisi lokal tepat dikenalkan pada UMKM. ”Melalui pendekatan budaya, konsep ekoefisiensi yang menggunakan istilah asing lebih mudah dipahami pelaku UMKM,” kata Wuryadi.

Ketua Badan Pengendalian Dampak Lingkungan Daerah DI Yogyakarta Harnowati mengatakan, dengan menerapkan ekoefisiensi, pelaku UMKM akan memanfaatkan sumber daya seefisien mungkin. Selain menghemat biaya produksi, penerapan konsep itu akan mengurangi limbah produksi sehingga berdampak positif bagi lingkungan.

(39)

Bisnis I ndonesia Rabu, 19 November 2008

'Ba t a sa n t r a d in g t e r m a g a r se r a g a m '

JAKARTA: Sembilan asosiasi pemasok dan pedagang pasar tradisional meminta batasan biaya syarat perdagangan (trading term) diberlakukan ke semua pemasok, guna meredam perang harga antartoko modern yang makin menyudutkan pasar tradisional.

Menurut Putri K. Wardani, juru bicara sembilan asosiasi, justru yang saat ini banyak dipromosikan toko modern dengan menjual harga murah adalah jenis barang laku yang dipasok oleh produsen skala besar.

"Jika pembatasan trading term hanya bagi UMKM, toko modern akan tetap bisa menjual produk dengan diskon 30%-50%, karena yang mereka 'mainkan' dari penerimaan syarat perdagangan," katanya, kemarin.

(40)

Bisnis I ndonesia Rabu, 19 November 2008

D e k op in : Pe r la n ca r k r e d it UM KM

JAKARTA: Dewan Koperasi Indonesia (Dekopin) meminta pemerintah terus menggerakkan sektor riil serta memperlancar kredit agar usaha mikro, kecil menengah (UMKM) tidak terpuruk lebih dalam.

Ketua Umum Dekopin Adi Sasono mengatakan langkah itu harus dilakukan pemerintah untuk meng antisipasi imbas krisis finansial global yang diperkirakan menerpa Indonesia pada Februari-Maret 2009.

"Sebaiknya pemerintah jangan memperketat kredit yang bisa mempersulit dan membunuh sektor riil," kata Adi seusai diskusi Membaca Krisis dan Merumuskan Langkah Peyelamatan Ekonomi Rakyat, kemarin.

(41)

Bisnis I ndonesia Rabu, 19 November 2008

KPPU: List in g fe e m e r u p a k a n p r a k t ik t id a k a d il

JAKARTA: Komisi Pengawas Persaingan Usaha (KPPU) menilai listing fee sebagai uang administrasi pendaftaran barang menjadi hambatan masuk (entry barrier) bagi pemasok ke toko modern, dan merupakan praktik tidak adil karena hanya menguntungkan peritel modern.

Wakil Ketua KPPU Tresna P. Soemardi mengatakan dalam praktik bisnis selalu ada dasar ekonomi trade off, yang berarti jika seseorang membayar harus mendapatkan sesuatu sesuai dengan nilai uang yang dikeluarkan.

"Kalau listing fee hanya sebagai uang yang disetor untuk menjadi pemasok toko modern itu artinya merupakan entry barrier [yang diciptakan toko modern kepada pemasok]. Berarti hanya pemasok yang punya uang yang bisa masuk ke toko modern," kata Tresna kepada Bisnis, kemarin.

KPPU bisa menerima penetapan listing fee jika fungsinya sebagai uang jaminan mutu atau kepatuhan jadwal pengiriman barang. Artinya jika pemasok mengirimkan produk yang tidak sesuai dengan mutu dan waktu yang disepakati, peritel modern bisa mengenakan denda dengan memotongnya dari listing fee yang disetor.

Artinya, jelas Tresna, peritel modern menetapkan listing fee karena ada faktor risiko. Dengan begitu dibuat kesepakatan agar pemasok menyetujui untuk membayar di muka, sebagai komitmen memberikan barang bermutu dan pengiriman tepat waktu.

Selanjutnya, jika pemasok ingin mundur sebagai pendistribusi barang jika sebelumnya tidak pernah melakukan kesalahan, maka toko modern harus mengembalikan uang listing fee yang sudah diminta dari pemasok.

KPPU menilai penetapan biaya syarat perdagangan boleh saja dikutip oleh peritel modern, asalkan relevan dengan bisnis. Jika listing fee sebagai bentuk jaminan bagi pemasok untuk bisa menjual barangnya di toko modern, dinilai masuk dalam wilayah persaingan tidak sehat.

"Kalau ada ketetapan listing fee sebagai uang jaminan mutu, jaminan mendistribusikan barang tepat waktu, dan pemberian servis yang baik itu biasa, tapi bukan sebagai uang pedaftaran sehingga membebani pemasok apalagi skala kecil," kata Tresna.

Sebelumnya, Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia menilai biaya administrasi pendaftaran barang (listing fee) yang dikenakan peritel modern telah menghambat penyebaran distribusi produk lokal di berbagai toko modern di Indonesia.

Ketua Komite Tetap Pengembangan dan Pemasaran Produk Kadin Indonesia Thomas Darmawan menolak usulan pencantuman batasan listing fee dalam permendag yang menjadi petunjuk pelaksanaan Perpres No. 112/2007, dihitung berdasarkan per gerai, karena berarti nilai listing fee yang harus dibayar pemasok berdasarkan hasil pengalian dengan jumlah toko yang akan dimasuki.

"Sekarang ini sejumlah kota di Indonesia membangun mal, supaya kotanya indah dan nyaman. Harusnya produk lokal dari berbagai daerah juga bisa tersebar ke mal di sejumlah kota. Namun, pemasok kalah karena high cost economy, yang salah satu bentuknya adalah listing fee," tegas Thomas.

(42)

Bisnis I ndonesia Rabu, 19 November 2008

Listing fee adalah biaya administrasi pendaftaran barang, yaitu biaya dengan besaran yang wajar untuk biaya pencatatan barang pada toko modern yang dibebankan kepada pemasok. ([email protected])

(43)

Kompas Rabu, 19 November 2008

Daya Saing

Re n d a h , Ke sa d a r a n UKM Te r a p k a n COC

Rabu, 19 November 2008 | 11:31 WIB

Bandung, Kompas - Kesadaran para pelaku usaha kecil dan menengah menerapkan code of conduct atau pola tindak untuk menaikkan daya saing masih sangat rendah. Padahal, pelaksanaan acuan itu dapat meningkatkan nilai produk UKM.

Executive Director Perkumpulan untuk Peningkatan Usaha Kecil (Pupuk) Bastian A Saputra di Bandung, Selasa (18/11), mengatakan, tidak sampai 5 persen dari 7,4 juta usaha kecil dan menengah (UKM) di Jabar yang sudah menerapkan code of conduct (COC).

Rendahnya tingkat kesadaran disebabkan kurangnya sosialisasi yang dilakukan pemerintah, asosiasi pengusaha, dan berbagai pihak lain. Pemerintah kabupaten/kota dan provinsi belum memiliki program menggalakkan COC. Akibatnya, informasi tentang COC sangat minim.

Menurut Bastian, ada 10 faktor yang harus diperhatikan dalam penerapan COC, seperti kesehatan serta keselamatan, lingkungan, dan perlindungan konsumen.

Jika terlaksana, kualitas produk akan meningkat dan pelaku UKM dapat memasuki ceruk pasar yang lebih tinggi.

"Pemasaran di tingkat lokal naik menjadi provinsi, tingkat provinsi menjadi nasional, dan seterusnya hingga regional seperti ASEAN atau internasional," katanya.

Contoh pelaksanaan COC adalah makanan tidak mengandung melamin atau formalin, pekerja dilengkapi alat pengaman, dampak usaha tidak merusak lingkungan, waktu kerja yang teratur, dan tidak menerima pekerja di bawah umur. Harus dilakukan

Bastian mengatakan, pelaku UKM yang sudah memanfaatkan COC pun belum tentu melakukannya dengan detail dan secara keseluruhan. Pelaku UKM perlu melakukan pendokumentasian usaha dan melaporkan kepada lembaga terkait, seperti Balai Besar Pengawas Obat dan Makanan serta dinas tenaga kerja, untuk mendapatkan keabsahan.

Menurut Bastian, ketika UKM berinteraksi dengan level konsumen yang lebih tinggi, mereka baru menyadari pentingnya COC. Pemesan seperti itu menuntut standar produk yang semakin ketat. Akhirnya, pelaku UKM belum siap meski tersedia permintaan.

"Afrika Selatan, misalnya, meminta bermacam produk seperti kerajinan dari anyaman, dan perlengkapan kantor, tetapi pelaku UKM tidak siap," katanya.

Menurut Bastian, wilayah ASEAN akan menjadi daerah perdagangan bebas pada 2015. Saat itu distribusi produk akan sangat bebas. Pelaku usaha harus siap bersaing menghadapi kondisi tersebut.

Konsultan PPM Manajemen Yanto Sidik Pratiknyo mengatakan, ketidaksesuaian COC dalam perekrutan tenaga kerja, contohnya, ketika perusahaan mencantumkan laki-laki dalam syarat lowongan kerja. Syarat tersebut menunjukkan diskriminasi.

(44)

Seputar I ndonesia Kamis, 20 November 2008

2 0 0 9 ,BI I Fok u s k e UKM

Thursday, 20 November 2008

JAKARTA(SINDO) – PT Bank International Indonesia Tbk (BII) memfokuskan pertumbuhan kredit sektor UKM dan komersial pada 2009.

Perseroan menilai kredit ke UKM lebih tahan terhadap terpaan krisis ekonomi. BII berencana mengalokasikan 38% dari total outstanding kreditnya tahun ini yang mencapai Rp38,05 triliun. ”Saat ini kredit ke sektor UKM sekitar 34,5% dari total kredit BII yang mencapai Rp38,05 triliun,” kata Wakil Presiden Direktur BII Sukatmo Padmosukarso seusai paparan publik kinerja kuartal III/2008 di Jakarta kemarin.

Sukatmo menuturkan, hingga kuartal III/2008, pertumbuhan kredit yang dibukukan BII mencapai 25% dibandingkan periode yang sama 2007 yang mencapai Rp30,42 triliun. Dari total tersebut, sebesar 34,5% atau sekitar Rp13,31 triliun merupakan kredit UKM/komersial, sedangkan selebihnya merupakan kredit korporasi sebesar Rp9,3 triliun dan kredit konsumer Rp15,43 triliun.

Menurut Sukatmo, sektor UKM terbukti menjadi sektor yang bertahan di saat krisis 1998. Fokus ke sektor ini juga dilandasi pertimbangan perkiraan manajemen mengenai tingkat inflasi maupun kenaikan harga barang dan jasa pada pertengahan 2008 dan memperhatikan sentimen bisnis dan konsumen sudah mulai melemah.

”Dari hasil stress test,kami meyakini kondisi ketahanan UKM/komersial tahun ini dan tahun mendatang masih lebih baik lagi,”ujarnya. Guna menindaklanjuti penyaluran kredit kepada sektor UKM/komersial tersebut, manajemen terus menjalankan linkage program dengan bank perkreditan rakyat (BPR).

Hingga kini BII telah bekerja sama dengan sekitar 100 BPR di seluruh Indonesia. Namun,imbuh dia,perseroan tidak memberikan target tambahan jumlah BPR yang akan ikut dalam program tersebut. Mengenai kinerja, Sukatmo mengatakan bahwa hingga September 2008, BII mencatat laba bersih sebesar Rp392 miliar, turun dibanding Rp439 miliar pada periode yang sama 2007.

Pendapatan bunga mencapai Rp4,29 triliun meningkat hanya sekitar 3% dari sebelumnya Rp4,16 triliun.Pada saat bersamaan, perseroan berhasil meningkatkan dana pihak ke tiga (giro, tabungan, deposito) sekitar 21% menjadi Rp41,99 triliun, dari sebelumnya Rp34,82 triliun.

Dengan demikian, rasio kredit terhadap dana masyarakat (loan to deposit ratio/ LDR) mencapai 89,09% pada September 2008, naik dari 86,32% pada September 2007. Sementara rasio kecukupan modal (capital adequacy ratio/CAR) mencapai 17,79% yang mencerminkan perputaran modal perseroan cukup efektif.

Direktur Keuangan BII Prem Kumar mengatakan, kinerja perseroan akan semakin membaik dengan penunjukan perseroan oleh Maybank untuk menangani transaksi pengiriman uang (remittance) tenaga kerja Indonesia (TKI) di Malaysia ke Indonesia. Kontribusi terhadap fee based income diperkirakan mencapai jutaan dolar AS.

(45)

Bisnis I ndonesia Jumat, 21 November 2008

Ak se s p a sa r UKM d ip a cu d e n g a n CSR

JAKARTA: Pemerintah akan meningkatkan jumlah usaha kecil menengah (UKM) yang bermitra dengan peritel nasional melalui program coroporate social responsibility (CSR) untuk memperbesar akses pasar.

Herustiati, Asisten Deputi Kemitraan dan Jaringan Usaha Kementerian Koperasi dan UKM, mengatakan CSR untuk UKM itu akan mendorong jumlah produk yang dihasilkan.

(46)

Bisnis I ndonesia Jumat, 21 November 2008

Ga p m m i: Ja n g a n la k u k a n a k si b or on g

JAKARTA: Gabungan Pengusaha Makanan dan Minuman Seluruh Indonesia (Gapmmi) memperkirakan peritel modern akan marak melakukan program diskon di gerainya sampai akhir tahun, sebagai langkah awal produsen menurunkan harga pasca merosotnya nilai komoditas dunia.

Ketua Umum Gapmmi Thomas Darmawan mengimbau agar masyarakat tidak melakukan aksi borong, mengingat sebagian produsen sudah merencanakan akan menurunkan harga jual produknya pada Januari 2009.

"Tidak usaha borong, karena memang akan ada harga baru mulai Januari 2009. Sekarang ini saja sebagian produsen sudah ada yang menetapkan harga baru, dan peritel tahu itu, lalu mereka melakukan diskon," ujar Thomas, kemarin.

Masa transisi untuk melakukan penurunan harga, kata dia, sekaligus dimanfaatkan peritel modern dan pemasok untuk melakukan promosi, apalagi saat daya beli yang menurun akibat kekhawatiran dari dampak krisis ekonomi global. Peritel di berbagai negara saat ini juga melakukan obral untuk mendongkrak omzet.

Program potongan harga tersebut sekaligus memanfaatkan masa akan tutup tahun. Karena biasanya pebisnis berupaya menggenjot penjualannya pada akhir tahun dan menghabiskan stok, agar penutupan tahunan laporan penjualannya menjadi tinggi angkanya.

"Jadi seperti tahun-tahun sebelumnya, biasanya pada November dan Desember itu masa melakukan diskon untuk menyokong laporan kinerja akhir tahun," kata Thomas.

Turun harga

Menurut dia, seharusnya harga sejumlah barang sudah turun, karena anjloknya harga komoditas yang menjadi bahan bakunya besarannya signifikan. Komoditas yang anjlok harganya seperti CPO dan gandum turun lebih dari 50%.

Sementara itu, harga susu bubuk dan kedelai turun 40%, jagung turun 30%-40%, biji kopi harganya merosot lebih dari 20%, dan sejumlah komoditas lain.

Namun, produsen berupaya menahannya, mengingat stok barang masih ada yang dibuat dengan bahan baku saat harganya melambung. Begitu juga dengan peritel modern yang telah membeli dari pemasok saat produk harganya melambung, terutama pada Juni-Juli 2008.

Di samping itu, produsen juga menahan turunnya harga jual produk karena ada kekhawatiran dampak dari menguatnya nilai tukar dolar AS atas rupiah dalam 3 bulan terakhir ini.

Referensi

Dokumen terkait

Sebagai konsultan idealnya BDS harus mendapatkan jasa dari layanan yang diberikan kepada UMKM, karena tidak mudah untuk menarik biaya konsultasi dari UMKM maupun

(1) Importir sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2 ayat (1) yang telah mendapatkan persetujuan impor barang modal bukan baru wajib menyampaikan laporan realisasi secara tertulis kepada

Dengan memberikan harga yang terlampau murah, seharusnya Australian Jetstar Destination bisa membuat biaya-biaya yang dikeluarkan menjadi efektif dan efisien tanpa mengurangi

Merupakan biaya yang diberikan oleh suatu pihak atau kelompok dengan tujuan untuk mendapatkan keuntungan dikemudian. Biaya investasi dikeluarkan pada awal tahun

Harga transfer maksimum adalah $ 28,- Devisi Barang tidak akan bersedia membayar lebih tinggi dari harga pemasok eksternal. Ya, transfer internal seharusnya terjadi ; Biaya

Karena apabila investor melakukan penanaman modal asing di suatu negara maka tingkat suku bunga domestik di negara tersebut akan menambah biaya dan mengurangi keuntungan yang

 Laporan Laba Rugi , yang menggambarkan kondisi perusahaan dalam. suatu periode tertentu, apakah selama periode tersebut menderita rugi atau

Keuntungan diperoleh dari selisih harga jual dan biaya produksi untuk masing-masing kelima jenis rempeyek, yaitu: Tabel 2 Keuntungan Rempeyek 3.2 Pembentukan Masalah ke dalam Model