• Tidak ada hasil yang ditemukan

ProdukHukum Perdagangan

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "ProdukHukum Perdagangan"

Copied!
5
0
0

Teks penuh

(1)

PETUNJUK TEKNIS PEMERIKSAAN FISIK BARANG IMPOR

(Surat Edaran Direktur Jenderal Bea dan Cukai No.: SE-05/BC/2003 tanggal 31 Januari 2003)

Yth. :

1. Para Kepala Kantor Wilayah

2. Para Kepala Kantor Pelayanan di Lingkungan Direktorat Jenderal Bea dan Cukai

Sehubungan dengan ditetapkannya Keputusan Direktur Jenderal Bea dan Cukai Nomor : KEP-07/BC/2003 tentang Petunjuk Pelaksanaan Tatalaksana Kepabeanan di Bidang Impor dan untuk kelancaran pelaksanaan kegiatan pemeriksaan fisik barang impor, dipandang perlu menerbitkan petunjuk teknis pemeriksaan fisik barang impor sebagai berikut :

A. Ketentuan Umum

1. Pengertian

a. Pemeriksaan fisik adalah kegiatan yang dilakukan oleh Pejabat Pemeriksa

Barang untuk mengetahui jumlah dan jenis barang impor yang diperiksa;

b. Petikemas (countainer) adalah alat pengemas yang merupakan bagian dari

sarana pengangkut.

2. Tujuan

Tujuan pemeriksaan Fisik Barang adalah dalam rangka memperoleh data barang secara lengkap agar dapat digunakan untuk :

a. mencegah adanya uraian barang yang tidak jelas/benar (misdescription);

b. mencegah adanya barang yang tidak diberitahukan (unreported);

c. mencegah kesalahan pemberitahuan negara asal barang;

d. mencegah pemasukan barang larangan dan pembatasan;

e. menetapkan klasifikasi dan Nilai Pabean dengan benar.

3. Pemeriksaan fisik barang untuk setiap PIB dilakukan oleh 1 (satu) orang Pejabat

Pemeriksa Barang yang ditujukan secara langsung melalui Sistem Aplikasi atau oleh Pejabat Pemeriksa Dokumen.

4. Pejabat Pemeriksa Dokumen dapat menunjuk Pejabat Pemeriksa Barang lebih

dari satu orang, dalam hal jumlah dan atau jenis barang yang akan diperiksa mempunyai tingkat kesulitan yang tinggi, sehingga membutuhkan waktu yang cukup lama, dan menghambat kecepatan penyelesaian suatu importasi.

5. Apabila dalam pemeriksaan barang impor dibutuhkan pengetahuan teknis

tertentu, maka Pejabat Pemeriksa Barang dapat meminta bantuan pihak lain (internal maupun eksternal) yang memiliki pengetahuan teknis tersebut, dan hal tersebut dicatat dalam Laporan Hasil Pemeriksaan (LHP).

6. Apabila pemeriksaan fisik barang dilakukan bersama dengan pejabat dari instansi

lain berdasarkan ketentuan di bidang impor yang berlaku, Pejabat Pemeriksa Barang mencatat hal tersebut dalam LHP.

B. Pemeriksaan Fisik Barang.

1. Tingkat Pemeriksaan :

a. Tingkat Pemriksaan 10 (sepuluh) %, adalah pemeriksaan fisik barang

(2)

10% dari setiap jenis barang yang tertulis dalam fotocopy invoice dan atau packing list dengan jumlah minimal 2 (dua) koli;

b. Tingkat pemeriksaan 30 (tigapuluh) %, ada lah pemeriksaan fisik barang

dengan jumlah kemasan yang dibuka adalah jumlah yang dapat mewakili 30% dari setiap jenis barang yang tertulis dalam fotocopy invoice dan atau packing list dengan jumlah minimal 2 (dua) koli;

c. Tingkat pemeriksaan 100 (seratus) %, adalah pemeriksaan fisik barang

dengan jumlah kemasan yang dibuka adalah seluruh kemasan setiap jenis barang;

2. Mekanisme Pemeriksaan :

a. Dalam hal barang impor diangkut dalam petikemas (container), Pejabat

Pemeriksaan Barang :

1) mencocokkan nomor, ukuran, jumlah dan jenis petikemas barang

impor yang akan diperiksa;

2) memeriksa segel petikemas barang impor yang adakan diperiksa;

3) mengawasi stripping barang dari dalam petikemas;

4) Menghitung jumlah kemasan dan mencocokkan jenis kemasan dari

setiap petikemas barang impor yang akan diperiksa:

a. Dalam hal jumlah dan jenis kemasan kepadatan sesuai :

(1) untuk party barang impor yang terdiri dari 1 (satu) jenis

barang yang dikemas dalam kemasan standar (standard of packing), kemasan yang dibuka untuk dilakukan pemeriksaan fisik barang adalah sebesar 10% (sepuluh persen) atau 30% (tiga puluh persen) dari jumlah kemasan yang terdapat dalam setiap petikemas barang impor yang akan diperiksa;

(2) untuk party barang impor yang lebih dari 1 (satu) jenis

barang, kemasan yang dibuka untuk dilakukan pemeriksaan fisik barang adalah sebesar 10% (sepuluh persen) atau 30% (tiga puluh persen) dari tiap jenis barang yang terdapat dalam setiap petikemas barang impor yang akan diperiksa;

(3) apabila hasil pemeriksaan fisik barang kedapatan jumlah

dan atau jenis barang tidak sesuai, maka pemeriksaan fisik barang ditingkatkan menjadi 100% (seratus persen);

(4) Terhadap jenis barang yang memerlukan penanganan

khusus (diangkut dengan reefer container) pemeriksaan dapat dilakukan di gudang/tempat penimbunan milik importir;

b. Dalam hal barang impor diangkut dalam kemasan lain dari

petikemas, Pejabat Pemeriksa Barang;

1) mencocokkan nomor, merek, ukuran dan jenis kemasan

barang impor yang akan diperiksa;

2) Menghitung/mencocokkan jumlah dan jenis kemasan

barang impor yang akan diperiksa :

(3)

(1) untuk party barang impor yang terdiri dari 1 (satu) jenis barang yang dikemas dalam kemasan standar (standar of packing), pemeriksaan fisik barang dilakukan sebesar 10% (sepuluh persen) atau 30% (tigapuluh persen) dari jumlah kemasan barang impor yang akan diperiksa;

(2) untuk party barang impor yang lebih dari 1 (satu)

jenis barang, pemeriksaan fisik barang dilakukan sebesar 10% (sepuluh persen) atau 30% (tiga puluh persen) dari setiap jenis barang yang akan diperiksa;

(3) apabila hasil pemeriksaan fisik barang, kedapatan

jumlah dan atau jenis barang tidak sesuai, maka pemeriksaan fisik barang ditingkatkan menjadi 100% (seratus persen).

c. Dalam hal barang impor dalam bentuk curah, Pejabat Pemeriksa

Barang :

1) menghitung/mengukur jumlah atau volume barang;

2) mencocokkan jenis barang dengan copy invoice dan packing

list yang telah dilegalisir oleh Pejabat Penerima Dokumen.

d. Dalam melakukan pemeriksaan fisik barang, disamping

menghitung jumlah barang dan mencocokkan jenis barang dengan copy invoice dan atau packing list yang telah ditandasahkan oleh Pejabat Penerima Dokumen, Pejabat Pemeriksa Barang wajib memeriksa data teknis atau spesifikasi barang yang diperiksa, dengan memperhatikan hal- hal sebagai berikut :

1) jumlah satuan barang dari setiap jenis barang yang diperiksa;

2) merk, tipe, ukuran, data teknis atau spesifikasi barang yang

diperiksa;

3) memberikan paraf pada kemasan yang telah dibuka dan telah

dilakukan pemeriksaan fisik;

4) dalam hal jumlah satuan dan atau jenis barang kepadatan

tidak sesuai, pemeriksaan fisik barang ditingkatkan menjadi 100 % (seratus persen);

5) dalam hal copy invoice dan atau packing list tidak dapat

digunakan sebagai dasar pemeriksaan fisik barang, maka pemeriksaan ditingkatkan menjadi 100% (seratus persen).

e. Dalam hal jenis atau data teknis atau spesifikasi barang yang

diperiksa tidak jelas, diajukan contoh barang dan atau photo barang untuk keperluan penetapan klasifikasi dan atau penetapan nilai pabean;

f. Pengambilan contoh barang dilakuk an dengan membuat Berita

(4)

contohnya (untuk itu dim intakan keterangan yang berasal dari negara asal barang).

C. Laporan Hasil Pemeriksaan (LHP)

Pejabat Pemeriksa Barang menuangkan hasil pemeriksaan fisik barang ke dalam LHP yang memuat :

1. Uraian jenis barang secara lengkap dan jelas, yang meliputi :

a) uraian barang, sesuai dengan penyebutan umum barang tersebut;

b) Merek dan tipe barang, apabila ada;

c) Spesifikasi teknis sesuai dengan kegunaan barang, misalnya :

1. kuantitas barang sesuai Standar Nasional Indonesia (SNI);

2. kondisi barang (baru, bekas, scrap);

d) keterangan lain yang dapat memperjelas penge nalan barang.

2. Jumlah barang dalam satuan yang umum digunakan untuk barang

bersangkutan.

3. Jenis kemasan barang;

4. Kesimpulan tentang kesesuaian jumlah dan jenis barang yang diperiksa

dengan copy invoice dan atau packing list;

5. Dalam hal hasil pemeriksaan memerlukan penelitian lebih lanjut dan

Laboratorium, memberikan keterangan tentang hal tersebut pada LHP;

6. Dalam hal hasil pemeriksaan memerlukan keterangan dari instansi terkait,

memberikan keterangan tentang hal tersebut pad LHP;

7. Dalam hal hasil pemeriksaan merupakan hasil pemeriksaan bersana,

memberikan keterangan tentang hal tersebut pada LHP;

8. Memperikan catatan nomor PIB, nomor petikemas/kemasan, tanggal

pemeriksaan dan mencantumkan nama dan NIO serta membutuhkan tanda tangan pada contoh barang dan atau foto barang.

Demikian disampaikan untuk dilaksanakan dengan penuh rasa tanggang jawab.

DIREKTUR JENDERAL. ttd

EDDY ABDURRACHMAN NIP.060044459

(5)

Referensi

Dokumen terkait

Menetapkan pengenaan Pajak Penjualan atas Barang Mewah dengan tarif sebesar 20% (dua puluh persen) atas impor atau penyerahan kendaraan bermotor dengan kabin ganda (Double Cabin),

(2) Kelompok Barang Kena Pajak Yang Tergolong Mewah yang berupa kendaraan bermotor yang dikenakan Pajak Penjualan Atas Barang Mewah dengan tarif sebesar 20% (dua puluh persen),

(2) Kelompok Barang Kena Pajak yang Tergolong Mewah yang berupa kendaraan bermotor yang dikenakan Pajak Penjualan atas Barang Mewah dengan tarif sebesar 20% (dua puluh persen),

(3) Hasil pengujian disampaikan kepada Kepala Unit Kerja untuk dilakukan evaluasi. barang dan/atau jasa telah memenuji persyaratan SNI yang berlaku atau standar lain yang dipersyaratan

(4) Kelompok Barang Kena Pajak Yang Tergolong Mewah yang berupa kendaraan bermotor yang dikenakan Pajak Penjualan Atas Barang Mewah dengan tarif sebesar 40% (empat puluh per

(1) Pengawasan pemenuhan ketentuan standar sebagaimana dimaksud dalam Pasal 4 ayat (1) huruf a angka 1 dilakukan terhadap barang dan/atau jasa yang beredar di pasar, yang

Re-ekspor dilaksanakan dengan menggunakan PEB yang mendapat kemudahan ekspor dan dilakukan pemeriksaan fisik oleh Kantor Pelayanan Bea dan Cukai terdekat dengan lokasi pabrik yang

Pejabat pemeriksa barang melakukan pemeriksaan fisik barang dan mengambil contoh barang jika diperlukan, membuat Laporan Hasil Pemeriksaan (LHP) dan membuat