5. HASIL PENELITIAN. 5.1 Dinamika Kebijakan Pengelolaan Hutan

61 

Loading....

Loading....

Loading....

Loading....

Loading....

Teks penuh

(1)

5. HASIL PENELITIAN

5.1 Dinamika Kebijakan Pengelolaan Hutan

Menurut Pasal 2 Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 10 Tahun 2010 tentang Tata Cara Perubahan Peruntukan dan Fungsi Kawasan Hutan, perubahan peruntukan dan fungsi kawasan hutan dilakukan untuk memenuhi tuntutan dinamika pembangunan nasional serta aspirasi masyarakat dengan tetap berlandaskan pada optimalisasi distribusi fungsi, manfaat kawasan hutan secara lestari dan berkelanjutan, serta keberadaan kawasan hutan dengan luasan yang cukup dan sebaran yang proporsional. Ruang lingkup peraturan ini meliputi perubahan peruntukan kawasan antara lain dengan prosedur tukar menukar kawasan dan pelepasan kawasan dan melalui perubahan fungsi kawasan hutan.

Dinamika kebijakan peruntukan dan perubahan fungsi kawasan hutan terjadi karena peningkatan kebutuhan hasil hutan dan lahan hutan, pertumbuhan ekonomi bangsa dan desakan pengelolaan hutan lestari. Permintaan pasar terhadap produk non-kehutanan seperti hasil tambang, pertanian dan perkebunan mengakibatkan permintaan lahan terus meningkat sehingga mempengaruhi ekonomi bangsa dan sekaligus sebagai ancaman keberadaan hutan dan kelestarian potensi hutan. Permintaan dan desakan baik secara internal maupun eksternal merubah paradigma pengelolaan kawasan hutan yang sekaligus mempengaruhi mental

stakeholder sebagai aktor yang merubah pengelolaan hutan. Mengacu pada uraian di atas, dijelaskan dinamika kebijakan pengelolaan hutan yang dibagi atas 2 (dua) tipe waktu yakni waktu lampau yaitu waktu pelaksanaan kebijakan sampai dengan diganti atau dinyatakan tidak berlaku lagi. Tipe waktu kedua yakni waktu kini yaitu pelaksanaan peraturan pengganti atau peraturan baru pada bidang yang sama.

5.1.1 Ijin pinjam pakai kawasan hutan

5.1.1.1 ijin pinjam pakai kawasan hutan sebelum tahun 2008

Sebelum terbit Peraturan Menteri Kehutanan Nomor P.43/Menhut-II/2008 tentang ijin pinjam pakai kawasan, peraturan Menteri Kehutanan sebelumnya yakni P.14/Menhut-II/2006 yang kemudian diubah dengan P.64/Menhut-II/2006

(2)

tentang Pedoman Pinjam Pakai Kawasan Hutan. Menurut kedua Peraturan Menteri Kehutanan tersebut bahwa pinjam pakai kawasan hutan adalah penggunaan atas sebagian kawasan hutan kepada pihak lain untuk kepentingan pembangunan di luar kegiatan kehutanan tanpa mengubah status, peruntukan dan fungsi kawasan tersebut.

Kawasan hutan yang diatur dengan Peraturan Menteri ini adalah hutan dengan fungsi lindung dan produksi. Adapun ijin ini diterbitkan untuk kepentingan pembangunan strategis dan kepentingan umum. Ijin ini dapat bersifat ekonomi maupun tidak yang kemudian dengan perubahan P.46/Menhut-II/2006 menegaskan bahwa perlu adanya lahan kompensasi atas ijin tersebut.

Ijin pinjam pakai kawasan diberikan kepada kegiatan-kegiatan yang sifatnya strategis dan untuk kepentingan terbatas, seperti penggunaan kawasan hutan untuk kepentingan religi, pertahanan keamanan, pertambangan, pembangunan ketenagalistrikan dan instalasi teknologi energi terbarukan, pembangunan jaringan telekomunikasi atau pembangunan jaringan instalasi air. Penggunaan untuk kepentingan umum terbatas adalah penggunaan kawasan hutan untuk kepentingan seluruh lapisan masyarakat yang meliputi antara lain jalan umum dan jalan (rel) kereta api, saluran air bersih dan atau air limbah, pengairan, bak penampungan air, fasilitas umum, repiter telekomunikasi, stasiun pemancar radio atau stasiun relay televisi. Adapun prosedur ijin ini pinjam pakai kawasan hutan disajikan pada gambar 4.

(3)

Gambar 4. Prosedur ijin pinjam pakai kawasan sebelum tahun 2008

Perencanaan ijin berawal dari persetujuan dan rekomendasi pemerintah daerah yang didasarkan pertimbangan-pertimbangan teknis dari instansi yang mengurusi kehutanan dan disesuaikan dengan rencana kerja pemerintah daerah (RKPD). Bupati akan menerbitkan rekomendasi bila kawasan yang diinginkan adalah kawasan yang berada di Kabupaten yang sama dan Gubernur akan menerbitkan rekomendasi atas dasar rekomendasi Bupati dan pertimbangan teknis instansi kehutanan di tingkat provinsi baik itu kawasan berada dalam 1 kabupaten atau lebih.

Besarnya peran yang dimiliki aktor di level pimpinan daerah dalam pengurusan ijin ini bisa saja selaras dengan ijin lanjutan misalnya dari segi pertambangan. Sesuai dengan UU Nomor 4 tahun 2009 tentang Pertambangan Mineral dan Batubara bahwa Gubernur dan atau Bupati berkewenangan untuk mengeluarkan ijin usaha pertambangan. Namun bila evaluasi ijin pinjam pakai kawasan tidak disetujui oleh Menteri Kehutanan maka apakah dengan sendirinya dapat menghapus IUP yang merupakan kewenangan Gubernur atau Bupati sebagaimana UU tentang pertambangan tadi. Hal ini justru akan menimbulkan

PEMOHON PEMKAB PEMPROV MENHUT Tim kaji

Persetujuan

Pelaksanaan Kegiatan

2 tahun

Lama Izin 5 tahun (P.46 2006)

Pimpinan Instansi Pemerintah/ Direksi perusahaan/ Koperasi Permohonan rekomendasi rekomendasi Evaluasi Hasil penilaian Persetujuan/ penolakan Amdal dan Izin Tambang

(4)

polemik dan berpotensi konflik lintas sektoral dari sektor kehutanan yang mengatur ijin penggunaan kawasan hutan bila usaha tersebut dalam kawasan dan ijin pertambangan.

Rekomendasi ijin pinjam pakai kawasan dari Bupati dan Gubernur selanjutnya sebagai syarat kelengkapan permohonan untuk kegiatan pinjam pakai kawasan yang diajukan ke Menteri Kehutanan dengan tembusan pada jajaran eselon 1 Kemenhut. Setiap eselon 1 baik itu BPK, RLPS, Baplan dan PHKA melakukan analisis yang mengurai tentang kemungkinan-kemungkinan yang akan timbul ketika ijin tersebut diterbitkan. Kajian ini dilakukan dalam suatu tim terpadu yang dipimpin oleh Direktur Jenderal Badan Planologi. Hasil penilaian selanjutnya merupakan masukan persetujuan prinsip Menteri Kehutanan atas ijin tersebut. Dari izin prinsip yang ada selanjutnya pemohon harus melakukan tata batas, survey potensi dan kegiatan lainnya dan kemudian merupakan bahan untuk diterbitkan izin oleh Menteri Kehutanan.

Pemohon ijin pinjam pakai kawasan berkewajiban untuk membayar seluruh kegiatan akibat perijinan dan sekaligus menjamin dan memberikan kemudahan bagi aparatur untuk melakukan monitoring dan evaluasi baik itu dari Dinas Kehutanan kabupaten, Dinas Kehutanan provinsi maupun dari UPT Kemenhut dan Inspektorat Jenderal Kehutanan. Biaya yang ditimbulkan sangat tinggi karena pemohon tidak hanya berhenti pada perijinan namun selama kegiatan tersebut berlangsung, dalam setiap periode 1 tahun dilakukan monitoring oleh aparatur yang berbeda yang mungkin dapat mengunjungi perusahaan tersebut lebih dari 1 kali karena terdapat beberapa instansi yang berbeda dengan kewenangan yang berbeda pula.

Selain itu terdapat beberapa kewajiban lainnya yang memang membutuhkan sumberdaya yang besar. Kewajiban yang timbul adalah membayar nilai tegakan pengganti dalam bentuk PSDH dan DR, melakukan reklamasi dan rehabilitasi kawasan, menjamin keamanan kawasan dan menjaga kawasan dari kebakaran dan lain-lain. Tentunya tingginya biaya yang dikeluarkan selama proses perijinan harus dikembalikan ketika ijin itu ada baik dengan menjual hasil tambang misalnya bila ijin itu untuk pertambangan atau menjual nilai tegakan dalam areal ijin atau melakukan eksploitasi hasil hutan sebesar-besarnya dari kawasan yang

(5)

bukan merupakan kawasan ijin. Hal inilah yang merupakan faktor penyebab terjadinya degradasi dan deforestasi hutan ketika ijin pertambangan ada.

Adapun contoh perijinan pertambangan yang telah diterbitkan IUP dari Bupati maupun Gubernur namun belum mendapatkan ijin penggunaan kawasan dari Menteri Kehutanan adalah sebagaimana disajikan pada Tabel 8.

Tabel 8. Rekapitulasi IUP di Provinsi Jambi

NO. KABUPATEN KP. PU KP. EKSPLORASI KP. EKSPLOITASI TOTAL JUMLAH LUAS (Ha) JML KP LUAS (Ha) JML. KP LUAS (Ha) JML. KP 1 Batanghari 5.000 1 161.933 96 1.741 4 101 2 Muara Jambi 0 0 54.100 29 13.470 9 38 3 Tanjung Jabung Barat 0 0 4.486 4 1.927 4 8 4 Tebo 10.000 2 97.532 39 1.761 5 46 5 Bungo 0 0 0 0 6595 28 28 6 Sarolangun 0 0 170.562 54 20.935 14 68 7 Merangin 15.854 5 59.233 13 256 2 20 8 Kerinci 4.982 1 0 0 0 0 1 Jumlah 35.836 9 645.326 236 40.090 66 311

Sumber: Dinas Pertambangan, Energi dan Sumberdaya Mineral Provinsi Jambi (2010)

Berdasarkan statistik Semester II Tahun 2009 Dinas Kehutanan Provinsi Jambi, luas wilayah pertambangan yang telah diajukan dan mendapatkan ijin Bupati atau Gubernur Jambi adalah seluas 97.047 hektar dengan jumlah pemegang ijin 18 unit usaha. Berdasarkan delineasi kedudukannya terhadap tata guna hutan kesepakatan, usaha pertambangan dalam kawasan mencapai 43.978,5 hektar atau mencapai 45% dari luas areal usaha dan yang terdapat di luar kawasan

hutan mencapai 47.187,75 hektar atau mencapai 49% dari luas areal usaha. Dari 18 unit usaha pemegang izin pertambangan, terdapat 1 pemegang izin pinjam

pakai kawasan yang telah diterbitkan oleh Kemenhut yakni PT. Wahana Alam Lestari yang mengeksplorasi batubara di kabupaten Tebo dengan luas areal mencapai 5.243 hektar antara lain di dalam kawasan terdapat 3.106 hektar dan di luar kawasan mencapai 2.136,75 hektar.

(6)

5.1.1.2 Pinjam Pakai Kawasan Hutan Berdasarkan P.43/Menhut-II/2008

Peraturan Menteri Kehutanan ini mengganti Peraturan Menteri Kehutanan sebelumnya yang mengatur pedoman ijin pinjam pakai kawasan. Materi pertimbangan timbulnya peraturan ini adalah ijin akan diterbitkan dengan memperhatikan perbandingan luas hutan dan luas daratan yang kemudian dipadukan dengan PNBP dan lahan pengganti sebagaimana diatur dalam PP Nomor 2 tahun 2008.

Pinjam pakai kawasan hutan dapat berbentuk (a) Pinjam pakai kawasan hutan untuk kepentingan pembangunan di luar kegiatan kehutanan yang bersifat non komersial pada provinsi yang luas kawasan hutannya di atas 30% dari luas

daratan provinsi, dengan kompensasi PNBP Penggunaan Kawasan Hutan Rp. 0,00 (nol rupiah), (b) Pinjam pakai kawasan hutan untuk kepentingan

pembangunan di luar kegiatan kehutanan pada provinsi yang luas kawasan hutannya di atas 30% (tiga puluh perseratus) dari luas daratan provinsi, dengan kompensasi PNBP Penggunaan Kawasan Hutan dan (c) Pinjam pakai kawasan hutan untuk kepentingan pembangunan di luar kegiatan kehutanan pada provinsi yang luas kawasan hutannya kurang dari 30% (tiga puluh perseratus) dari luas daratan provinsi, dengan kompensasi lahan bukan kawasan hutan. Ijin ini mengatur pinjam pakai kawasan hutan produksi dan hutan lindung dengan batasan bahwa di hutan lindung tidak dilakukan pola penambangan terbuka dan hanya dilakukan di hutan produksi. Bila luas kawasan hutan lebih besar dari 30% maka kompensasi lahan ditiadakan dan pemohon hanya membayar PNBP. Namun bila luas hutan kurang dari 30% luas daratan maka pemohon harus menyediakan lahan kompensasi yang berada pada 1 DAS atau Pulau dan juga harus membayar PNBP. Adapun prosedur ijin disajikan pada gambar berikut 5.

(7)

Gambar 5. Prosedur pinjam pakai kawasan hutan berdasarkan P.48/Menhut-II/2008

Terbitnya peraturan ini tidak mengubah sama sekali konsideran ijin

sebelumnya namun hanya merangkum dan menyesuaikan dengan PP Nomor 2 tahun 2008 tentang PNBP. Justru dengan timbulnya aturan ini penekanan pada

kewajiban pemohon untuk membayar atas keinginan dalam memanfaatkan kawasan makin tinggi dengan membayar PNBP dan penyediaan lahan pengganti dan belum menjelaskan kedudukan peraturan ijin pinjam pakai kawasan dengan ijin-ijin lain yang timbul dari instansi berbeda sebagai langkah lanjut tujuan pinjam pakai kawasan misalnya untuk pertambangan sebagaimana telah dijelaskan di atas.

Peran aktor di level kabupaten maupun provinsi yang besar dan tingkat pemahaman serta kerjasama lintas sektoral sangat diperlukan agar kesepahaman penggunaan kawasan sama. Sama dalam arti bahwa di sektor pertambangan misalnya Bupati dan Gubernur berwenang menerbitkan IUP dan rekomendasi Bupati dan Gubernur atas ijin ini dapat merupakan pertimbangan kunci ketika

to la k Persetujuan Pelaksanaan Kegiatan 2 tahun Hasil penilaian Persetujuan/ penolakan

PEMOHON PEMKAB PEMPROV MENHUT Tim

kaji TIM AMDAL Instansi Pemerintah/ perusahaan/ koperasi Permohonan rekomendasi rekomendasi Nilai AMDAL

(8)

evaluasi dilakukan. Untuk itu dalam perijinan pinjam pakai kawasan hutan, evaluasi baiknya dilakukan secara saksama ketika peninjauan lokasi sebelum permohonan tersebut direkomendasikan oleh Gubernur atau Bupati sehingga rekomendasi Bupati dan Gubernur memang merupakan tinjauan teknis sektor kehutanan level daerah dan pusat yang merupakan tinjauan teknis atas ijin tersebut. Hal ini penting karena cenderung memicu konflik sektoral. Provinsi Jambi sendiri memiliki potensi tambang yang besar dan sebagian besar tersebar dalam kawasan hutan, sebagaimana dijelaskan pada gambar 6.

Gambar 6. Peta sebaran potensi tambang di Jambi (Sumber: data peta digital ICRAF 2010)

5.1.2 Pelepasan Kawasan

5.1.2.1Sebelum Terbitnya PP Nomor 10 Tahun 2010

Perhatian untuk mengalokasikan sebagian lahan hutan untuk pembangunan sektor non-kehutanan sudah ada sejak tahun 1990 dengan diterbitkannya Surat Keputusan Bersama Menteri Kehutanan, Menteri Pertanian dan Kepala Badan Pertanahan Nasional Nomor 364/Kpts-II/90, 519/Kpts/HK.050/90 dan 23 – VIII – 1990 tentang Ketentuan Pelepasan Kawasan Hutan Dan Pemberian Hak Guna Usaha Untuk Pengembangan Usaha Pertanian.

Definisi pelepasan kawasan hutan dalam SK bersama ini adalah pengubahan status kawasan hutan menjadi tanah yang dikuasai langsung oleh negara untuk

(9)

keperluan Usaha Pertanian. Definisi usaha pertanian adalah usaha di bidang tanaman pangan, perkebunan, peternakan dan perikanan. Kawasan hutan yang dapat dilepaskan menjadi tanah usaha pertanian adalah kawasan hutan yang berdasarkan tanahnya cocok untuk usaha pertanian dan menurut tata guna hutan tidak dipertahankan sebagai kawasan hutan tetap atau kawasan untuk keperluan lainnya. Dapat dibayangkan bahwa seluruh lahan yang cocok dan dianalisis baik untuk pengembangan usaha pertanian seperti tanaman pangan, perkebunan, peternakan dan perikanan akan dilepas menjadi lahan pertanian maka hutan yang berada di daerah dataran rendah, dengan ciri-ciri fisik baik untuk usaha pertanian dilepas sehingga laju deforestasi yang terjadi akan sangat tinggi di masa itu. Pertimbangan kondisi tanah sebagai parameter tunggal diartikan sebagai pengabaian faktor fisik lainnya seperti potensi tegakan dan topografi menjadikan pembabatan hutan terus berlangsung tinggi. Pelepasan kawasan selanjutnya diatur dalam suatu level perundang-undangan yang lebih tinggi yakni Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 70 Tahun 2001 tentang Penetapan Kawasan Hutan, Perubahan Status dan Fungsi Kawasan Hutan menyebutkan bahwa suatu kegiatan untuk mengubah status sebagian kawasan hutan menjadi bukan kawasan hutan.

Berdasarkan data statistik Kemenhut bahwa pelepasan kawasan hutan untuk budidaya non-kehutanan di Provinsi Jambi terjadi mulai tahun 1994 – 1999,

sekitar 18.090,5 hektar dan kemudian pada periode 2004 – 2007 terdapat 369 hektar. Ini artinya bahwa rata-rata luas kawasan hutan yang telah dilepas

untuk kepentingan budidaya sektor bukan kehutanan adalah sebesar 18.116 hektar per tahun. Hal ini dapat dilihat pada gambar 7.

(10)

1994 1995 1996 1997 1998 1999 2000 2001 2002 2003 2004 2005 2006 2007 Luas 17881 51,3 22,3 14,3 76,4 45,2 - - - - 10.8 12.0 - 345, 0 50000 100000 150000 200000 250000 300000 350000 400000 lu as ( H a)

Pelepasan kawasan hutan untuk budidaya non kehutanan

Gambar 7. Grafik pelepasan kawasan hutan untuk budidaya sektor bukan kehutanan (sumber: Statistik Kemenhut)

Bila dalam pengelolaan kawasan hutan yang dipertimbangkan adalah nilai ekonomi sumberdaya dan pendapatan negara akibat kegiatan tersebut maka bukan mustahil luas kawasan hutan di Provinsi Jambi akan lebih kecil 30% dari luas daratan dan pendapatan negara dan daerah akan terus meningkat seiring laju pelepasan yang mencapai 18.116 hektar per tahun.

Keinginan untuk memanfaatkan ruang yang tidak bernilai ekonomi mengakibatkan fasilitasi yang memungkinkan kawasan hutan dilepas menjadi kawasan budidaya perkebunan, mengakibatkan luas kawasan hutan terus menurun dan pertumbuhan perkebunan yang tinggi. Hal ini disebabkan oleh nilai ekonomi konversi hutan menjadi kebun yang tinggi karena selain mendapatkan hasil penjualan komoditi perkebunan juga hasil kayu yang diperoleh dari hasil pembukaan lahan dengan sistem land clearing. Untuk mengetahui peran

stakeholder dalam perijinan pelepasan kawasan dapat digambarkan sebagai berikut.

(11)

Gambar 8. Prosedur ijin pelepasan kawasan hutan sebelum tahun 2010

Dari gambar di atas, pelepasan kawasan hutan untuk usaha pertanian dapat dilakukan jika memenuhi persyaratan yang ditetapkan dan memperoleh persetujuan dari Kementerian Pertanian dan Kemenhut. Kementerian Pertanian berwenang menerbitkan persetujuan prinsip usaha pertanian dan Kemenhut berwenang untuk menerbitkan ijin lokasi dan kemudian ditetapkan dengan Hak Guna Usaha yang merupakan kewenangan Badan Pertanahan Nasional di Provinsi. Terdapat 3 (tiga) lembaga berbeda dengan tugas pokok dan fungsi tertentu sehingga motivasi yang diusung masing-masing Kementerian mempengaruhi kinerja ijin usaha pertanian dan proses pelepasan kawasan hutan.

Hal ini tentunya diserahkan pada pemahaman dan preskripsi setiap Kementerian dalam memanfaatkan lahan termasuk kawasan hutan serta sangat bergantung pada nilai investasi saat itu. Pemahaman akan manfaat hutan baik langsung dan tidak langsung serta nilai hutan selain kayu merupakan hal mendasar ketika dibandingkan dengan tawaran investasi lainnya yang memang memiliki nilai yang terukur dan dapat diperoleh dalam waktu singkat. Bila nilai investasi lebih besar dari pendapatan daerah akibat dipertahankan sebagai hutan maka pelepasan kawasan akan berlangsung dengan mudahnya sebagai bagian dari tujuan sebagaimana diatur dalam PP ini. Namun tindakan ini dikendalikan dengan diterbitkannya Surat Keputusan Menteri Kehutanan Nomor 146/Kpts-II/2003

HGU

PEMPROV MENTAN MENHUT

pencadangan lahan Persetujuan Prinsip Permohonan Telaah Teknis Tim Terpadu BPN SK Persiapan Usaha PEMOHON Pengukuran Tanah Membayar Biaya Kadastaral

(12)

tentang Pedoman Evaluasi Pengggunaan Kawasan Hutan/Eks Kawasan Hutan Untuk Pengembangan Usaha Budidaya Perkebunan. Dalam SK Menteri ini disebutkan bahwa kawasan yang diijinkan dilepas untuk usaha budidaya perkebunan adalah kawasan hutan yang tidak berhutan dan apabila di dalam kawasan tersebut ketika pencadangan dilakukan telah terdapat kebun maka kegiatan ini disebut dengan kejahatan kehutanan. Definisi lahan tidak berhutan menurut keputusan Menteri Kehutanan ini adalah kawasan hutan yang memiliki

kondisi penutupan lahan terdiri dari tanah kosong, semak belukar, padang alang-alang.

Terkait pertimbangan teknis dari instansi yang mengurusi hutan dan kehutanan, Dinas Kehutanan saat itu masih merupakan bagian dari Kemenhut

dalam bentuk kantor wilayah di level provinsi dan kantor di level kabupaten. Hal ini menunjukkan bahwa peran aktor yang ada di Kemenhut telah memainkan

perannya sejak usulan dan penilaian ijin berlangsung. Sehingga materi yang diteruskan ke Bupati dan selanjutnya disetujui atau tidak oleh DPRD merupakan tinjauan teknis dari Kemenhut. Bila yang diusulkan adalah kawasan yang bukan HPK maka hal ini akan dievaluasi 2 (dua) kali oleh Kemenhut yakni yang pertama oleh aparatur yang ada di daerah dan yang kedua di pusat. Bila ini berjalan dengan normal tanpa penciptaan situasi yang membuat tidak normal maka efisiensi seperti ini sangat baik karena tidak melibatkan banyak lembaga. Jumlah lembaga yang terlibat disini adalah sekurang-kurangnya 7 lembaga dan sekurang-kurangnya 5 langkah. Pengurusan izin pelepasan selanjutnya diperjelas dengan diterbitkannya Keputusan Menteri Kehutanan sebagaimana dijelaskan dengan Keputusan Menteri Kehutanan Nomor 146/Kpts-II/2003 dan Peraturan Menteri Kehutanan Nomor 31/Menhut-II/2005.

Berdasarkan data dari Dinas Perkebunan Provinsi Jambi bahwa sampai dengan saat ini telah diterbitkan ijin lokasi perkebunan seluas 1.333.203,75 hektar sebagaimana dicantum pada tabel 10 berikut. Trend cenderung meningkat mengingat permintaan komoditi perkebunan baik itu untuk pemenuhan bahan baku industri atau sebagai bahan pelengkap. Meningkatnya permintaan ini akan direspon positif oleh pengusaha dengan melibatkan masyarakat sekitar hutan untuk mengubah bentang alam menjadi areal perkebunan.

(13)

Tabel 9. Rekapitulasi Ijin Lokasi Perkebunan di Provinsi Jambi

No. Kabupaten

Ijin Lokasi (IL) Perusahaan (BH) Koperasi Klp. Tani Jumlah IL (BH) Luas (Ha) 1. Batanghari 21 - 5 36 2. Muaro Jambi 36 6 - 60 212.314 3. Sarolangun 26 - - 36 216.523 4. Tebo 15 1 - 20 161.166 5. Bungo 17 - - 20 143.409 6. Merangin 17 1 0 28 253.969 7. Tanjung Jabung Barat 16 6 - 32 93.577 8. Tanjung Jabung Timur 12 - - 14 84.135 9. Kerinci - - - - - JUMLAH 160 14 5 246 1.333.204

Sumber: Dinas Perkebunan Provinsi Jambi (2010)

Berdasarkan data dari Dinas Kehutanan Provinsi Jambi, terdapat 160 perusahaan, 5 kelompok tani dan 14 koperasi yang memiliki ijin lokasi dan hanya sekitar 58 perusahaan yang memiliki HGU. Ini artinya dari sekitar 179 pemegang ijin lokasi hanya 32% pemegang ijin yang telah terbit HGU. Sebaran pemegang izin terbanyak terdapat di Muaro Jambi dengan luas areal garapan mencapai 212.314,51 hektar dan yang telah memperoleh HGU (hak guna usaha) hanya 40.129,69 hektar oleh 20 perusahaan dan 8 kelompok tani dan koperasi.

Selain pelepasan kawasan hutan untuk perkebunan, berdasarkan keputusan bersama Menteri Kehutanan dan Menteri Transmigrasi dan Pemukiman Perambahan Hutan Nomor SKB 126/MEN/1994 dan Nomor 422/Kpts-II/1994, perlu adanya penyiapan dan pelepasan kawasan untuk kepentingan transmigrasi dengan ketentuan pokok :

a. Areal hutan yang dapat dilepas untuk pembangunan pemukiman transmigrasi adalah hutan produksi yang dapat dikonversi (HPK).

b. Areal HPK yang akan dilepas diutamakan areal yang tidak berhutan (semak, belukar, alang-alang, dan tanah terbuka).

Berdasarkan keputusan bersama tersebut maka dilakukan pelepasan kawasan hutan untuk urusan transmigrasi sebagaimana disajikan pada Tabel 10 berikut.

(14)

Tabel 10. Rekapitulasi pelepasan kawasan hutan untuk transmigrasi

Tahun

Realisasi pelepasan menurut fungsi

HL H.SA HPT HP HPK APL

2000 - - - - 50.167,53 25.533

2001 2.712

2002 27.675 22.357 345.564,56 37.198

Sumber: Statistik Kemenhut (diolah)

Dari tabel tersebut menunjukkan bahwa praktek pelepasan kawasan hutan untuk transmigrasi tidak hanya di HPK sesuai dengan SKB Menteri, namun juga terjadi di HPT dan HP. Di tahun 2001, dilepas HP seluas 2.712 hektar sedangkan di tahun 2002 dilepas HPT seluas 27.675 hektar dan 22.357 hektar di HP. Dengan demikian telah terjadi pelanggaran SKB sebesar 52.774 hektar.

5.1.2.2Ijin Pinjam Pakai Kawasan Hutan Setelah PP. No. 10 Tahun 2010

Ijin pelepasan kawasan yang terbaru adalah sebagaimana diatur dengan PP Nomor 10 tahun 2010 yang merupakan penyesuaian dari berbagai pra kondisi menuju pengelolaan hutan lestari. Dalam ijin ini terdapat beberapa pertimbangan sebagai berikut:

1) Pelepasan kawasan hutan hanya bisa dilakukan di HPK;

2) Kawasan hutan produksi yang dapat dikonversi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) tidak dapat diproses pelepasannya pada provinsi yang luas kawasan hutannya kurang dari 30% (tiga puluh perseratus), kecuali dengan cara tukar menukar kawasan hutan.

3) Hutan produksi yang dapat dikonversi sebagaimana dimaksud pada ayat (1), baik dalam keadaan berhutan maupun tidak berhutan.

4) Pelepasan kawasan hutan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan untuk kepentingan pembangunan di luar kegiatan kehutanan.

5) Jenis kepentingan pembangunan di luar kegiatan kehutanan sebagaimana dimaksud pada ayat (4) ditetapkan oleh Menteri

Adapun prosedur ijin berdasarkan PP Nomor 10 Tahun 2010 terkait ijin pelepasan kawasan hutan disajikan dalam gambar 9.

(15)

Gambar 9. Prosedur ijin pelepasan kawasan hutan berdasarkan PP No. 10 Tahun 2010

Dari gambar di atas, mutlak ijin pelepasan kawasan hutan hanya berlangsung di HPK dan tidak ada pertimbangan lain bagi kawasan hutan dengan fungsi seperti fungsi lindung, fungsi produksi dan konservasi. Untuk itu tahapan yang melibatkan unsur legislatif untuk ikut terlibat diabaikan. Hal ini bisa dibenarkan pada suatu provinsi yang memang memiliki luas kawasan HPK yang besar dan mampu menampung aspirasi pembangunan sektor non-kehutanan.

Namun sebaliknya, seperti di Jambi yang sejak dikeluarkan SK Menteri Kehutanan Nomor 421/Kpts-II/1999 tanggal 15 Juni 1999 telah tidak

mengalokasikan HPK dan sudah dilepas dalam bentuk APL. Tentu fenomena yang nantinya akan membatasi peruntukan lahan hutan untuk pembangunan sektor non-kehutanan. Tentunya untuk mengakomodasi keperluan ini, maka perlu adanya proses tukar menukar kawasan. Sehingga untuk urusan pembangunan di luar sektor kehutanan seperti perkebunan harus didahului dengan proses tukar menukar kawasan. d it o la k PEMOHON MENHUT permohonan Meneliti Izin Prinsip  Mengamankan hutan

 Melaksanakan tata batas

diterima

BPN

Sertifikasi Hak Tanah

(16)

Ijin pelepasan kawasan hutan melibatkan 3 lembaga dan 6 langkah perijinan. Suatu prosedur yang singkat dengan keterbatasan yang tinggi. Hal ini menunjukkan bahwa bukan hal yang rumit untuk mempertahankan luas kawasan hutan tetap dan semua yang lepas dari kawasan hutan harus disertifikasi kepemilikannya sehingga status tanah merupakan tanah milik.

Adapun teknis pelaksanaan pelepasan kawasan HPK diatur dalam Peraturan Menteri Kehutanan Nomor P.33/Menhut-II/2010 tentang Tata Cara Pelepasan Kawasan Hutan Produksi yang Dapat Dikonversi. Dalam peraturan Menteri ini menegaskan bahwa HPK yang dapat dilepas hanya pada provinsi dengan luas kawasan hutan di atas 30%. Adapun kewajiban pemohon pelepasan HPK adalah menanggung biaya perijinan dan melakukan tata batas yang dapat dikontrakan kepada konsultan.

5.1.3 Tukar Menukar Kawasan

Kebijakan yang mengatur izin tukar menukar kawasan dimulai dengan diterbitkannya Surat keputusan Menteri Kehutanan Nomor 292/Kpts-II/1995 tentang Tukar Menukar Kawasan Hutan dan selanjutnya hanya terjadi perbaikan-perbaikan selama 5 (lima) kali tanpa menghapus atau mengganti peraturan terdahulu sehingga dalam membahas kebijakan tukar menukar kawasan hutan ini hanya dibatasi pada perbaikan-perbaikan oleh peraturan Menteri Kehutanan yang memperbaiki Keputusan Menteri Kehutanan Nomor 292/Kpts-II/1995.

5.1.3.1SK Nomor 292/Kpts-II/1995

Definisi tukar menukar kawasan adalah suatu pelepasan kawasan hutan tetap untuk kepentingan pembangunan di luar sektor kehutanan yang diimbangi dengan memasukkan tanah pengganti menjadi kawasan hutan dan kegiatan pelepasan kawasan hutan tersebut tidak dapat dilakukan dengan cara realokasi fungsi hutan produksi konversi (HPK) menjadi hutan produksi tetap (HP). Dengan demikian proses tukar menukar kawasan dimaknai dengan terjadinya proses pelepasan kawasan hutan tetap menjadi bukan kawasan hutan dan kemudian memasukan lahan bukan kawasan hutan menjadi kawasan hutan. Namun hal ini bukan berarti mengubah fungsi HPK menjadi HP.

(17)

Dari definisi jelas bahwa HPK merupakan kawasan hutan tidak tetap sehingga dalam proses tukar menukar tidak merupakan bagian untuk digunakan dalam proses tukar menukar kawasan namun bila membutuhkan lahan untuk proses pelepasan kawasan berupa lahan HPK maka terlebih dahulu dilakukan tukar menukar kawasan hutan tetap menjadi kawasan hutan tidak tetap atau bukan kawasan hutan. HPK adalah kawasan hutan dan kawasan yang boleh dalam tukar menukar kawasan seperti areal penggunaan lain (APL).

Dasar ijin tukar menukar kawasan adalah kegiatan pelepasan kawasan hutan untuk pembangunan di luar sektor kehutanan dengan tidak mengakibatkan menurunkannya luas kawasan hutan yang telah ditetapkan sebagai hutan tetap. Meskipun nilai kegiatan tersebut sangat penting namun kepastian luas kawasan harus tetap dipertahankan. Yang dimaksudkan dengan pembangunan di luar sektor kehutanan adalah kepentingan pembangunan yang bersifat strategis dan menyangkut kepentingan umum yang terpaksa harus menggunakan kawasan hutan, menghilangkan enclave dalam rangka memudahkan pengelolaan kawasan hutan, menyelesaikan pendudukan tanah kawasan hutan tanpa izin Menteri Kehutanan (okupasi) dan untuk memperbaiki kawasan hutan.

Dengan membatasi bahwa kawasan yang boleh ditukar adalah kawasan hutan produksi tetap dan tidak boleh adanya proses perubahan fungsi kawasan dari HPK menjadi HP melainkan APL menjadi HP dengan demikian peran aktor adalah menetapkan APL yang mungkin untuk dijadikan kawasan hutan dengan batasan bahwa APL tersebut harus berbatasan dengan kawasan hutan, berada dalam suatu Sub DAS atau DAS atau dalam pulau yang sama di suatu provinsi tertentu serta memiliki ciri fisik untuk hutan lindung. Para aktor yang berperan adalah aktor yang berada di suatu provinsi dan mampu menginventarisir kawasan APL yang memiliki ciri fisik yang dapat dijadikan fungsi lindung serta memiliki potensi hutan sehingga ketika proses tukar menukar kawasan terjadi maka dapat dihutankan dengan cara konvensional.

Pada periode ini, belum terdapat otonomi daerah sehingga sistem pemerintahan masih sentralistik pada Kemenhut beserta UPT (Unit Pelaksana Teknis) yang berada di daerah serta kantor wilayah Kemenhut di provinsi. Adapun prosedur perijinan ini disajikan pada gambar 10.

(18)

Gambar 10. Prosedur ijin tukar menukar kawasan hutan berdasarkan SK Menhut Nomor 292/Kpts-II/1995

Dari Gambar di atas, terlihat bahwa ijin tukar menukar merupakan pekerjaan yang dikendalikan dari Kemenhut beserta jaringan kerjanya yang berada di Provinsi lokasi kegiatan berlangsung. Aktor yang berperan dalam ijin ini adalah Kantor Wilayah Kehutanan di Provinsi dan Eselon 1 Kemenhut seperti Direktur Jenderal (Dirjen) Pemanfaatan Hutan (PH) dan Badan Planologi Kehutanan. Peran aktor dibatasi oleh ketentuan status kawasan dan fungsi juga besarnya rasio perbandingan lahan pengganti berdasarkan tujuan peruntukan ijin tukar menukar. Bila ijin tersebut untuk kepentingan umum terbatas oleh Pemerintah maka lahan rasio kawasan yang diijinkan dengan lahan pengganti adalah 1:1, namun jika untuk peningkatan perekonomian nasional dan kesejahteraan umum maka rasionya 1:2 dan bila untuk okupasi, enclave dan pendudukan lahan oleh masyarakat tanpa izin Menteri Kehutanan serta proyek strategis Pemerintah maka rasionya adalah 1:3. Ketentuan-ketentuan ini merupakan faktor pembatas yang sangat mempengaruhi kinerja pembangunan di luar sektor kehutanan dan berlawanan dengan semangat UUD 1945 pasal 33 bahwa seluruh hasil bumi baik itu tanah dan air dimanfaatkan sebesar-besarnya untuk kesejahteraan rakyat. Untuk memanfaatkan sumberdaya alam yang terdapat

PEMOHON GUBERNUR MENHUT SEKJEN ESELON 1

KEMENHUT PERMOHONAN REKOMENDASI PERTIMBANG KEPUTUSAN Kewajiban:

1. Menyediakan dan menyerahkan lahan pengganti dalam tempo 2 (dua) tahun;

2. Membayar IHH atau IHH dan DR; 3. Membayar ganti rugi sarana dan prasarana;

(19)

di kawasan hutan sehingga dapat meningkatkan ekonomi nasional dan kesejahteraan umum, dibutuhkan lahan pengganti mencapai 2 sampai 3 kali luas kawasan hutan yang dimohonkan untuk ditukar. Bila areal itu tidak tersedia maka akankah ijin tersebut tidak terbit? Hal ini merupakan faktor pokok yang memicu tingginya tekanan masyarakat dan sektor lainnya pada kawasan hutan sehingga terjadi penyorobotan lahan hutan untuk pembangunan pertanian, pertambangan dan sebagainya.

Perlu dibuat rancangan peruntukan lahan yang sesuai kondisi fisik yang sebenarnya di lapangan serta mengidentifikasi potensi sumberdaya alam yang terkandung serta sosial ekonomi masyarakat sehingga dapat dibatasi kawasan hutan tetap yang tidak didasarkan oleh skor lahan dan kandungan nilai tegakan semata. Karena ketika yang dilihat adalah skor lahan saja yang dipengaruhi oleh ciri topografi, ketinggian tempat, jenis tanah dan curah hujan tidak mewakili kondisi sosial ekonomi dan belum mempertimbangkan potensi-potensi lain selain hutan serta tidak dibandingkan antara nilai hutan ketika dipertahankan sebagai hutan dan bila hutan itu dibuka dan dimanfaatkan sumberdaya yang terkandung di dalamnya secara kontinyu.

5.1.3.2 Peraturan Menteri Kehutanan Nomor 66/Menhut-II/2006

Perubahan yang terjadi dengan terbitnya peraturan Menteri kehutanan ini hanya pada pasal 1 dengan menambah konsideran bahwa untuk tukar menukar kawasan di hutan bakau/mangrove, bila tidak tersedia lahan pengganti maka dapat digantikan dengan lahan kering lainnya yang bukan bakau/mangrove setelah dibuktikan dengan pengujian dan penelitian. Keberadaan lahan pengganti

mangrove tidak dijelaskan apakah sama dengan ketentuan lahan kering sebagaimana rasio antara kawasan yang dimohonkan dengan lahan pengganti atau tidak namun bila hal tersebut untuk kepentingan umum seperti pembangunan pelabuhan laut atau sarana eksploitasi pasir dan tambak maka perlu dibangun ekosistem buatan sehingga ekosistem pantai dan mangrove yang telah ada tidak terganggu secara permanen akibat kegiatan ijin tersebut.

(20)

5.1.3.3 Peraturan Menteri Kehutanan Nomor 26/Menhut-II/2007

Dalam peraturan Menteri Kehutanan ini melakukan perubahan ketiga atas Keputusan Menteri Kehutanan Nomor 292/Kpts-II/1995 yakni pada Pasal 1 dengan merubah prinsip tukar menukar kawasan yang sebelumnya tidak diperbolehkan HPK diubah menjadi HP, maka dengan peraturan ini memperbolehkan HPK dapat dijadikan HP pada proses tukar menukar kawasan. Hal ini merupakan suatu kebijakan positif karena sebagaian besar APL telah diubah menjadi pemukiman dan pertanian lahan kering namun untuk perkebunan, pertambangan dan sebagainya masih terdapat dalam kawasan hutan dan HPK dinilai layak untuk ditukar menjadi HP sebagai kompensasi dari HP yang dilepas.

Kebutuhan lahan untuk pemukiman dan pembangunan sarana prasarana terus meningkat seiring dengan upaya pemekaran wilayah administrasi sehingga tekanan pada kawasan hutan selanjutnya akan meningkat. Kebijakan untuk mengatur kembali rentang kendali administrasi serta tekanan pendirian daerah otonom mengakibatkan tingginya permintaan lahan dan sumberdaya hutan untuk penyediaan lahan serta pemenuhan bahan baku industri.

Dalam peraturan Menteri Kehutanan ini juga telah mengedepankan kriteria lahan yang diperbolehkan untuk proses ijin tukar menukar kawasan hutan. Areal yang diperbolehkan untuk ditukar adalah areal tidak berhutan, tanah kosong, padang alang-alang dan semak belukar serta tidak dibebani izin. Untuk lahan pengganti yang berasal dari HPK maka sebelum dilakukan tukar menukar kawasan maka sebelumnya melakukan proses pelepasan kawasan dari HPK menjadi APL. Selain itu diatur juga bahwa untuk areal pengganti harus dihapus kepemilikannya dari Badan Pertanahan Nasional.

Batasan lain yang harus dijadikan referensi adalah rasio tukar menukar kawasan. Bila tukar menukar kawasan untuk pembangunan kepentingan umum maka 1:1, namun jika untuk kepentingan strategis bagi kemajuan perekonomian nasional dan kesejahteraan umum maka 1:2. Jika untuk okupasi maka 1:1 dan jika untuk budidaya pertanian dan pemekaran wilayah pada provinsi yang luas hutannya lebih dari 50% maka 1:1. Namun bila luas hutan suatu provinsi antara

(21)

30% - 50% maka 1:2 dan jika luas hutan suatu provinsi kurang dari 30% maka 1:3.

Secara umum proses perijinan sama sehingga peran aktor sama. Namun terjadi perubahan birokrasi karena pada era ini telah terbit UU Nomor 32 tahun 2004 tentang pemerintahan daerah sehingga untuk pertimbangan teknis lokasi dapat diurus oleh intansi otonom yang menangani kehutanan. Aktor yang berperan tentunya adalah aktor daerah dengan memperhatikan batasan-batasan yang diatur dalam peraturan ini. Bila hal tersebut dipenuhi maka eselon 1 Kemenhut tidak memiliki alasan yang cukup untuk menolak ijin tersebut. Peran yang tinggi serta tekanan untuk meningkatkan PAD dan penyediaan areal untuk pembangunan/pemekaran wilayah mengakibatkan aktor di daerah melakukan penyimpangan-penyimpangan dengan memberikan ijin pemekaran sebelum ijin tukar menukar kawasan tersebut ada.

5.1.3.4 Peraturan Menteri Kehutanan Nomor 62/Menhut-II/2007

Peraturan ini merupakan perubahan keempat atas Keputusan Menteri Kehutanan Nomor 292/Kpts-II/1995 yang menegaskan pengertian umum terbatas yang berdampak pada peningkatan ekonomi nasional dan kesejahteraan umum seperti jalan umum, saluran air, waduk, bendungan dan bangunan pengairan lainnya, fasilitas pemakaman, fasilitas keselamatan umum, transmigrasi serta penempatan korban bencana alam yang tujuan penggunaannya tidak untuk mencari keuntungan.

5.1.3.4 Peraturan Menteri Kehutanan Nomor 38/Menhut-II/2008

Peraturan ini merupakan perubahan kelima atas Keputusan Menteri Kehutanan Nomor 292/Kpts-II/1995 dengan pertimbangan bahwa pemenuhan terhadap kewajiban tukar menukar kawasan hutan memerlukan proses sementara terdapat kondisi-kondisi tertentu terhadap kawasan yang dimohonkan sehingga diberikan dispensasi penggunaan kawasan tersebut untuk masa paling lama 2 tahun.

Peraturan ini akan berdampak positif bila pengelola lahan atau instansi pemerintahan atau pemerintah setempat mematuhi hal-hal yang menjadi

(22)

kewajiban berikutnya. Namun bila ini terjadi pada masa transisi pemerintahan yang sampai kini belum melihat suatu program pemerintahan sebagai program yang berkelanjutan maka peraturan ini justru akan membiarkan kawasan hutan berkurang dan hilang potensinya begitu saja.

5.1.3.5Peraturan Menteri Kehutanan Nomor 16/Menhut-II/2009

Peraturan ini merupakan perubahan ke-6 atas Keputusan Menteri Kehutanan Nomor 292/Kpts-II/1995 dengan pertimbangan bahwa masih terdapat beberapa kegiatan penggunaan hutan yang belum terakomodir dalam SK Menteri Kehutanan Nomor 292/Kpts-II/1995 dan perubahannya. Salah satunya adalah fasilitas pendidikan.

5.1.4 Ijin Perubahan Fungsi Kawasan Hutan

5.1.4.1Sebelum Terbitnya PP. Nomor 10 Tahun 2010

Perubahan fungsi kawasan hutan adalah merubah sebagian atau seluruh fungsi hutan dalam suatu kawasan hutan. Dari pengertian ini dipahami bahwa kawasan hutan dapat diubah pada bagian-bagian tertentu maupun secara keseluruhan dalam suatu wilayah SubDAS, DAS atau pulau namun terbatas pada fungsi tertentu. Tujuan dari perubahan fungsi kawasan hutan sebagaimana diamanatkan dalam PP Nomor 70 Tahun 2001 bahwa menjaga dan mengamankan keberadaan dan keutuhan kawasan hutan sebagai penggerak perekonomian lokal, regional dan nasional, serta sebagai penyangga kehidupan lokal, regional, nasional dan global. Tujuan lainnya adalah terwujudnya kepastian hukum atas kawasan hutan, serta optimalisasi pemanfaatan lahan/hutan dalam rangka pembangunan nasional, sektoral dan daerah.

Perubahan fungsi kawasan hutan hanya dapat dilakukan apabila kawasan yang akan diubah fungsi memenuhi kriteria dan standar penetapan fungsi hutannya, fungsi kawasan hutan yang akan diubah fungsinya harus didasarkan atas Peta Penunjukan Kawasan Hutan (dan Perairan) Provinsi yang ditetapkan oleh Menteri serta perubahan fungsi kawasan hutan didasarkan hasil penelitian

(23)

yang dilaksanakan oleh Tim Terpadu. Adapun tata cara perubahan fungsi sebagaimana dijelaskan dalam PP ini disajikan pada gambar 11.

Gambar 11. Prosedur ijin alih fungsi kawasan hutan sebelum PP No. 10 Tahun 2010

Dari gambar di atas terlihat bahwa pengajuan permohonan perubahan fungsi hutan di level pemerintah kabupaten dan provinsi merupakan hasil pembahasan antara lembaga eksekutif dan legislatif. Peran stakeholder di daerah sangat kuat dan daerah yang menentukan sendiri pola manajemen lahan dan hutan. Ketika permohonan tersebut disampaikan ke Kemenhut dan diteruskan ke Tim Kaji dalam hal ini Badan Planologi Kehutanan, permohonan tersebut hanya mengalami beberapa tinjauan dari segi kepastian fungsi kawasan dan tidak dilakukan evaluasi makna alih fungsi tersebut. Hal ini dikarenakan pada saat itu, otonomi daerah belum ada sehingga peran Kemenhut di daerah masih sangat kuat sehingga pertimbangan teknis instansi kehutanan kepada pemerintah daerah dan DPRD merupakan kajian teknis kehutanan yang kemudian disesuaikan dengan kepentingan politik ekonomi daerah.

5.1.4.2Setelah Terbitnya PP. No. 10 Tahun 2010

Menurut PP Nomor 10 Tahun 2010 tentang Tata Cara Perubahan Peruntukan dan Fungsi Kawasan hutan, perubahan fungsi kawasan hutan adalah perubahan sebagian atau seluruh fungsi hutan dalam satu atau beberapa kelompok

D is e tu ju i PEMKAB DPRD PEMPROV KAB DPRD PROV MENHUT BAPLAN Permohonan Permohonan Permohonan Diteliti/ siapkan SK SK Alih Fungsi

(24)

hutan menjadi fungsi kawasan hutan yang lain. Perubahan peruntukan dan fungsi kawasan hutan dilakukan untuk memenuhi tuntutan dinamika pembangunan nasional serta aspirasi masyarakat dengan tetap berlandaskan pada optimalisasi distribusi fungsi, manfaat kawasan hutan secara lestari dan berkelanjutan, serta keberadaan kawasan hutan dengan luasan yang cukup dan sebaran yang proporsional. Perubahan fungsi kawasan hutan dapat berlangsung pada kawasan hutan dengan fungsi konservasi, lindung dan produksi yang dapat dilakukan secara parsial atau dalam suatu wilayah provinsi. Namun perubahan kawasan hutan menjadi hutan produksi yang dapat dikonversi tidak dapat dilakukan pada provinsi yang luas kawasan hutannya kurang dari 30%. Perubahan fungsi kawasan hutan meliputi:

 kawasan hutan konservasi menjadi kawasan hutan lindung dan/atau kawasan hutan produksi; dapat dilakukan ketika kawasan ini tidak memenuhi kriteria sebagai kawasan konservasi dan memenuhi kriteria sebagai hutan lindung atau hutan produksi. Selain itu ada beberapa hal yang memungkinkan yakni (a) sudah terjadi perubahan kondisi biofisik kawasan hutan akibat fenomena alam, lingkungan, atau manusia; (b) diperlukan jangka benah untuk optimalisasi fungsi dan manfaat kawasan hutan; atau (c) cakupan luasnya sangat kecil dan dikelilingi oleh lingkungan sosial dan ekonomi akibat pembangunan di luar kegiatan kehutanan yang tidak mendukung kelangsungan proses ekologi secara alami.

 kawasan hutan lindung menjadi kawasan hutan konservasi dan/atau kawasan hutan produksi; dapat dilakukan ketika kawasan ini tidak memenuhi kriteria sebagai kawasan lindung dan memenuhi kriteria sebagai hutan konservasi atau hutan produksi.

 kawasan hutan produksi menjadi kawasan hutan konservasi dan/atau kawasan hutan lindung.

 kawasan cagar alam menjadi kawasan suaka margasatwa,taman nasional, taman hutan raya, taman wisata alam, atau taman buru;

 kawasan suaka margasatwa menjadi kawasan cagar alam, taman nasional, taman hutan raya, taman wisata alam, atau taman buru;

(25)

 kawasan taman nasional menjadi kawasan cagar alam, suaka margasatwa, taman hutan raya, taman wisata alam, atau taman buru;

 kawasan taman hutan raya menjadi kawasan cagar alam, suaka margasatwa, taman nasional, taman wisata alam, atau taman buru;

 kawasan taman wisata alam menjadi kawasan cagar alam, suaka margasatwa, taman nasional, taman hutan raya, atau taman buru;

 kawasan taman buru menjadi kawasan cagar alam, suaka margasatwa, taman nasional, taman hutan raya, atau taman wisata alam.

 hutan produksi terbatas menjadi hutan produksi tetap dan/atau hutan produksi yang dapat dikonversi;

 hutan produksi tetap menjadi hutan produksi terbatas dan/atau hutan produksi yang dapat dikonversi;

 hutan produksi yang dapat dikonversi menjadi hutan produksi terbatas dan/atau hutan produksi tetap.

Adapun prosedur perijinan perubahan fungsi kawasan hutan disajikan pada Gambar 12.

Gambar 12. Prosedur Ijin Alih Fungsi Kawasan Hutan Berdasarkan PP. No. 10 Tahun 2010

Berdasarkan gambar di atas, PP Nomor 10 Tahun 2010 menyebutkan bahwa kewenangan menerbitkan keputusan alih fungsi kawasan hutan merupakan kewenangan Menteri Kehutanan setelah mendapat persetujuan DPR sesuai Pasal 31 dan Pasal 32. Namun pada parkteknya birokrasi yang panjang dan melibatkan lembaga tinggi negara ini terkadang diacuhkan di level pemerintahan daerah baik

Persetujuan Usul

PEMKAB PEMPROV MENHUT

Usul Permohonan Telaah Teknis Tim Terpadu DPR Hasil Telaah d it o la k diterima SK Alih Fungsi

(26)

itu kabupaten maupun provinsi. Hal ini dapat terjadi karena Bupati dan Gubernur diberikan kewenangan untuk menerbitkan ijin perkebunan dan pertambangan yang mungkin saja berada dalam kawasan hutan tetap.

Pelanggaran kehutanan ini terjadi karena ketidakmampuan untuk menerapkan PP ini dalam waktu singkat. Suatu perijinan diajukan ketika melihat gejolak pasar atas komoditi tertentu dan cenderung pendek masa tersebut sedangkan perijinan untuk merubah fungsi terlalu panjang sehingga terkadang hal ini diabaikan. Peran aktor berdasarkan PP Nomor 10 Tahun 2010 adalah pemerintah kabupaten atau provinsi merekomendasikan atau mengusulkan perubahan fungsi kawasan hutan karena kondisi hutan di lapangan telah menjadi

obyek perekonomian masyarakat dan susah untuk dipertahankan fungsinya. Hal ini tentunya telah didasarkan oleh tinjauan-tinjauan berbagai stakeholder di

daerah yang selanjutnya disampaikan ke Menteri kehutanan untuk ditindaklanjuti. Menteri kehutanan membentuk tim terpadu untuk melakukan penelitian dan pengkajian atas usulan tersebut dan selanjutnya dibahas bersama dengan DPR. Selanjutnya DPR berhak untuk memberi masukan atas usulan tersebut dan dilanjutkan dengan keputusan. Setiap aktor di level pemerintahan akan bernegosiasi namun pelaku perubahan fisik lapangan terkadang tidak dapat

menunggu panjangnya garis birokasi dan siapa yang berwenang. Sehingga diprediksikan batas fungsi kawasan bukan lagi pembatas untuk

pengembangan kegiatan di luar kehutanan karena lamanya perijinan yang

dilakukan dan sempitnya waktu untuk mempersiapkan investasi. Adapun peraturan teknis diatur dengan Peraturan Menteri Kehutanan Nomor

P.43/Menhut-II/2010 tentang Tata Cara Perubahan Fungsi Kawasan Hutan.

5.2 Dinamika Pembangunan Sektor Kehutanan

5.2.1 Hak Pengusahaan Hutan (HPH)

HPH merupakan hak yang diberikan Menteri Kehutanan kepada orang perorangan, swasta atau koperasi untuk mengambil hasil hutan di hutan produksi. Kegiatan ini berlangsung sejak tahun 1970 dan telah menjadi sektor yang mampu meningkatkan pendapatan negara. Namun keberhasilan untuk mendongkrak

(27)

ekonomi bangsa tidak diikuti untuk memelihara pabrik yang selama ini menghasilkan uang dan lapangan pekerjaan bagi bangsa ini. Penurunan potensi hutan mengakibatnya menurunnya daya usaha HPH, dan di Provinsi Jambi sendiri menurun tajam dari 30 unit di tahun 1988/1989 menjadi 2 unit di tahun 2009, sebagaimana disajikan pada Tabel 11.

Tabel 11. Jumlah ijin dan luas areal konsesi yang dikelola

Tahun Jumlah Ijin HPH Luas Areal Konsesi

(Unit) (Ha) 1988/1989 30 2.566.000 1991/1992 27 2.120.000 1996/1997 16 1.447.779 1997/1998 15 1.153.499 1998/1999 14 1.113,499 1999/2000 13 859.984 2000/2001 13 859.984 2001 8 545.559 2002 8 545.559 2003 7 455.490 2004 5 328.349 2005 13 792.594 2006 2 45.825 2007 3 133.705 2008 2 45.825

Sumber: Statistik Kemenhut (diolah)

Terlihat bahwa sejak tahun 1988/1989 sampai dengan tahun 2008, jumlah perusahaan pemegang ijin HPH terus menurun dan meningkat di tahun

2005, dari 30 perusahaan IHPH di tahun 1988/1989 menjadi 5 perusahaan IHPH dan meningkat menjadi 13 di tahun 2005 dan di tahun 2008 tersisa 2 perusahaan IHPH. Hal ini ditunjukkan oleh luas area yang diusahakan yang makin menurun dari 2,6 juta hektar di tahun 1988/1989 menjadi 45.825 hektar di tahun 2008. Penurunan jumlah HPH di provinsi Jambi tidak semata terjadi karena potensi yang minim, namun berdasarkan hasil wawancara dengan Bidang Bina Hutan dan Konservasi Alam Dinas Kehutanan Provinsi Jambi bahwa terdapat beberapa alasan sehingga penurunan pemegang HPH menurun, yakni (1) tekanan masyarakat baik terhadap kompensasi lahan, tagihan bantuan sampai dengan

(28)

penyorobotan lahan untuk pembangunan perkebunan kopi dan coklat, (2) pungutan liar yang merajalela sehingga tidak dapat ditutupi oleh nilai kayu

yang dipanen, dan (3) penerbitan SK Menteri kehutanan dan perkebunan tahun 2000 yang memberikan wewenang kepada Bupati untuk menerbitkan izin HPH Mungil (100 Ha) yang cenderung menciptakan kondisi kompetisi yang tidak sehat dan cenderung tidak lestari. Dari segi pemilikan ijin, baik pihak swasta, BUMN dan patungan dari tahun 2000 terbanyak dikuasai oleh pihak swasta sebagaimana digambarkan pada Tabel 12.

Tabel 12. Sebaran HPH menurut status pengelola

Tahun Jenis HPH

Swasta Patungan BUMN

2000 2001 2002 2003 2004 2005 2006 2007 2008 6 8 7 7 6 4 - 3 2 3 3 1 0 1 1 - 0 0 2 2 0 0 0 0 - 0 0 Sumber: Statistik Kemenhut Tahun 2001-2009

Dengan semakin menurunnya potensi hutan Jambi, menggiring keberpihakan pada optimalisasi pemanfaatan hasil hutan kayu dari hutan alam semakin berkurang dan menjadikan kayu lapis dari HTI dan perkebunan karet sebagai primadona program kerja pemerintah daerah provinsi Jambi 2010. Penurunan jumlah HPH pemegang ijin pengelolaan hutan mengindikasikan produksi hasil hutan kayu yang juga menurun.

Dampak penurunan potensi hutan terlihat bahwa semenjak tahun 1977 sampai dengan 2008, hasil hutan kayu yang dihasilkan baik melalui pengolahan maupun industri menunjukkan trend yang terus menurun sehingga menjadi indikator menurunnya nilai potensi hutan. Dampak dari penurunan luas hutan alam serta penurunan potensi hasil hutan kayu, mendorong untuk dibangunnya hutan tanaman untuk memenuhi kebutuhan kayu industri baik untuk pasar lokal maupun regional. Menurunnya produksi kayu didukung oleh menurunnya potensi sebagaimana ditunjukan pada Tabel 13.

(29)

Tabel 13. Rekapitulasi potensi hasil hutan kayu provinsi Jambi

Tahun Seluruh Jenis (m3) Jenis Komersil (m3)

20 50 20 50 >60 2001 262,07 99,74 14,30 4,87 2002 503,50 203,99 55,38 23,79 2003 503,50 203,99 55,38 23,79 2004 729 711,63 293,20 197,34 2005 728 710,63 293,20 197,34 2006 728 710,63 293,20 197,34 2007 164,90 82,60 118,97 48,60 32,75 2008 164,90 82,60 118,97 48,60 32,75 Sumber: Statistik Kemenhut

Keadaan potensi hutan di Jambi berdasarkan hasil enumerasi terdapat penurunan yang sangat signifikan di tahun 2007 -2008 pada semua kelas diameter. Di tahun 2005, kelas diameter > 50 cm untuk semua jenis berada pada angka 710,63 m3/ha turun menjadi 82,60 m3/ha di tahun 2007 dan 2008. Hal serupa terjadi di jenis komersil, di tahun 2005 mencapai 197,34 m3/ha turun menjadi 48,6 m3/ha di tahun 2007 dan 2008.

5.2.2 Hutan Tanaman Industri (HTI)

Sejak tahun 1990, kebutuhan bahan baku industri perkayuan tersebut tidak mungkin lagi dipenuhi dari penebangan Hutan Alam Produksi. Oleh karena itu, perlu kebijakan Pemerintah untuk meningkatkan produktivitas kawasan hutan produksi melalui pembangunan Hutan Tanaman (HTI) dan telah dimulai sejak tahun 1990. Peningkatan potensi di awal tahun 2000 mungkin disebabkan peningkatan pembangunan HTI untuk membantu memenuhi selisih kebutuhan dan pemenuhan kebutuhan kayu. Pembangunan HTI di provinsi Jambi dimulai sejak tahun 1994 sebagaimana disajikan pada Tabel 14.

(30)

Tabel 14. Rekapitulasi realisasi penanaman HTI di Provinsi Jambi

Tahun Luas Sumber data

1994 12.100 Statistik Kemenhut 1995 18.038 Statistik Kemenhut 1996 21.017 Statistik Kemenhut 1997 19.027 Statistik Kemenhut 1998 13.260 Statistik Kemenhut 1999 23.007 Statistik Kemenhut 2000 16.294 Statistik Kemenhut 2001 15.569 Statistik Kemenhut 2002 26.134 Statistik Kemenhut 2003 15.012 Statistik Kemenhut 2004 25.337 Statistik Kemenhut 2005 21.593 Statistik Kemenhut 2006 20.297 Statistik Kemenhut

2007 416.802 Statistik Dishut Prov Jambi 2008 424.914 Statistik Dishut Prov Jambi

2009 424.914 Statistik Dishut Prov Jambi

Luas areal untuk pembangunan HTI terus meningkat dari tahun 1994 di angka 12.100 hektar menjadi 424.914 hektar di tahun 2009. Hal ini dirasakan sangat membantu untuk meningkatkan nilai usaha sektor kehutanan. Peningkatan luas HTI ini mendorong pemenuhan bahan baku industri dan pertukangan serta mampu meningkatkan serapan tenaga kerja. Mungkin yang menjadi pertanyaan bukan berada pada fungsi hutan namun pada bagaimana potensi dalam kawasan hutan tersebut dibenahi untuk selanjutnya dibangun HTI. HTI dibangun dengan

system land clearing sebagaimana diatur dalam aturan pembangunan HTI bahwa HTI dilakukan dengan sistem THPB (tebang habis permudaan buatan) yang cenderung akan menyediakan emisi dan setelah itu dapat menyerap emisi sampai

umur daur. Adapun sebaran spasial HTI di Provinsi Jambi disajikan pada Gambar 13.

(31)

Gambar 13. Peta sebaran ijin HTI di provinsi Jambi (Kemenhut 2009)

Dari gambar di atas, terlihat bahwa sebaran HTI hanya terpusat pada empat kabupaten yakni kabupaten Sarolangun, Batanghari, Tanjung Jabung Barat dan Tanjung Jabung Timur. UPHHK-HT Pemegang IUPHHK-HT di provinsi Jambi

sebanyak 13 (tiga belas) perusahaan, luas konsesi 507.177,77 hektar (Dinas Kehutanan Provinsi Jambi 2010) seperti Tabel 15.

Tabel 15. Daftar perusahaan HTI di Jambi

Jenis HTI/ Nama Perusahaan Luas (Ha) Status  HTI Pulp a) PT. Wirakarya Sakti b) PT. Rimba Hutani Mas c) PT. Tebo Multi Agro

293.812 51.260 19.770 Aktif Aktif Aktif  HTI Trans a) PT. Wanakasita Nusantara b) PT. Wanamukti Wisesa c) PT. Wana Perintis d) PT. Wana Teladan 9.030 9.263 6.900 9.800 Tidak aktif Aktif Tidak aktif Tidak aktif  HTI Pertukangan

a) PT. Dyera Hutani Lestari b) PT. Samhutani

c) PT. Limbah Kayu Utama d) PT. Arangan Hutan Lestari e) PT. Gamasia Hutani Lestari

8.000 35.955 19.300 9.400 15.012 Tidak aktif Aktif Tidak aktif Tidak aktif Aktif

(32)

Dari data di atas terlihat bahwa, HTI yang aktif adalah HTI pulp yang juga merupakan salah satu sektor primadona daerah yang mampu meningkatkan pendapatan daerah selain perkebunan karet dan sawit dari sektor pertanian. Pengembangan HTI pulp masih menjanjikan prospek sehingga kemungkinan ekspansi kawasan akan sangat besar.

5.3 Deforestasi dan Degradasi Hutan Jambi

Fenomena menurunnya luas kawasan hutan dan potensi hasil hutan kayu di Jambi menjadi perhatian utama Pemerintah Daerah dan Pemerintah Pusat.

Beberapa kajian deforestasi dan cadangan karbon telah dilakukan. Budiharto (2009) menyimpulkan bahwa cadangan karbon di provinsi Jambi

selama tahun 1990 – 2003 terus menurun dan untuk periode tahun 2003 – 2006 meningkat. Kajian-kajian deforestasi dan degradasi hutan tidak selamanya memberikan angka yang sama, hal ini dipengaruhi oleh definisi dan metodologi yang digunakan.

Kerusakan hutan di Jambi disebabkan oleh tingginya interaksi stakeholder

akan potensi dan kebutuhan lahan yang terdapat di hutan. HPH, tambang, transmigrasi dan kebun serta penyerobotan lahan hutan oleh masyarakat juga sebagai faktor pemicu lainnya. Berikut disajikan laju deforestasi yang terjadi di Jambi selama tahun 2003 – 2006 (Kemenhut 2008).

Tabel 16. Deforestasi Jambi periode 2003 – 2006

No. DEFORESTASI PADA KELOMPOK HUTAN

KSA-KPA

HL HPT HP JUMLAH

A. Hutan Primer 14,6 0 760.4 20,8 795,8

-. Hutan lahan kering primer

0 0 0 20,8 20,8

-. Hutan rawa primer 14,6 0 760.4 0 775

-. Hutan mangrove primer 0 0 0 0 0

B. Hutan Sekunder 1.451,1 378,2 4.024,6 18.756,8 24.610,7 -. Hutan lahan kering

sekunder

715,1 36,1 3.739,3 13.636,2 18.126,7 -. Hutan rawa sekunder 626,1 342,1 285,3 5.120,6 6.374,1 -. Hutan mangrove

sekunder

109,9 0 0 0 109,9

C Hutan Lainnya 0 0 0 9.381 9.381

(33)

Deforestasi pada hutan tetap Provinsi Jambi mencapai 34.787,5 hektar dan terluas berada pada hutan produksi tetap yang mencapai 28.158,6 hektar atau sekitar 81% dengan laju rata-rata tahunan mencapai 9.386,2 hektar. Bila hal ini terus berlangsung dalam kerangka BAU maka diperkirakan bahwa sampai dengan 2020 nanti hutan akan terdegradasi mencapai 162.341 hektar dengan asumsi laju deforestasi rata-rata tahunan mencapai 11.596 hektar.

Dari tabel di atas terlihat bahwa kerusakan hutan terbesar berada di hutan sekunder dan ini sesuai dengan keterangan yang diperoleh pada Dinas Kehutanan Provinsi Jambi bahwa perilaku merubah dan mengkonversikan hutan terjadi pada areal bekas tebangan HPH yang kemudian di jatah sisa kayunya dan lahannya ditanami kelapa sawit, kopi dan karet. Kecenderungan yang masih akan terus berlangsung mengingat tingginya harga karet dan kelapa sawit serta tidak adanya alokasi lahan untuk pembangunan di luar sektor kehutanan dalam hal ini hutan produksi yang dapat dikonversi (HPK). Adapun sebaran spasial deforestasi hutan Jambi disajikan ada Gambar 14.

Gambar 14. Peta deforestasi periode tahun 2003 – 2006 di provinsi Jambi (Kemenhut 2008)

(34)

Dari gambar tersebut terlihat bahwa sebaran poligon yang menunjukkan areal terdegradasi terbesar berada di daerah kabupaten Tanjung Jabung Barat, Tanjung Jabung Timur dan Kabupaten Tebo. Deforestasi yang terjadi di Kabupaten Tanjung Jabung Barat mencapai 539.672,97 hektar. Adapun rincian deforestasi menurut kabupaten di provinsi Jambi disajikan pada Tabel 17.

Tabel 17. Laju deforestasi menurut Kabupaten di Provinsi Jambi Periode tahun 2003 – 2006

No. Kabupaten Deforestasi

(Ha) Rata-rata deforestasi tahunan (Ha/thn) Laju deforestasi tahunan (%/thn) 1. Batanghari 26.266 8.755 15,85 2. Bungo 4.151 1.384 2,51 3. Kerinci 2.138 713 1,29 4. Merangin 995 332 0,60 5. Muaro Jambi 21.377 7.126 12,90 6. Sarolangun 5.471 1.824 3,30

7. Tanjung Jabung Barat 65.851 21.950 39,75

8. Tanjung Jabung Timur 14.242 4.747 8,60

JUMLAH 165.665 55.222 100

Sumber: Peta deforestasi Kemenhut (2008) dan Peta Administrasi ICRAF (2010) (diolah)

Dari tabel di atas, terlihat bahwa resiko deforestasi tertinggi berada di Kabupaten Tanjung Jabung Barat yang mencapai 39,75% per tahunnya. Artinya dalam 1 satuan luas lahan tiap tahunnya berpeluang untuk dikonversi menjadi areal bukan hutan mencapai 40%. Tentunya perlu adanya tindakan manajemen yang tepat untuk menanggulangi gejala pengrusakan dan ini butuh sinergi dari berbagai pihak dalam pemanfaatan hutan dan lahan di Kabupaten Tanjung Jabung Barat.

Hasil pendugaan deforestasi dan degradasi hutan di Jambi juga dilakukan oleh ICRAF pada tahun 2010 dengan membandingkan kondisi tutupan lahan di Provinsi Jambi. Adapun hasil penelitian tersebut dilihat pada Gambar 15.

(35)

Gambar 15. Cadangan Karbon pada tahun 1990 (ICRAF 2010)

Gambar 16. Cadangan Karbon pada tahun 2000 (ICRAF 2010)

(36)

Gambar 17. Cadangan Karbon pada tahun 2005 (ICRAF 2010)

Dari set gambar di atas, terlihat bahwa di tahun 1990, cadangan karbon sebesar 1000 – 100.000 ton/ha dan lebih dari 1.000.000 ton/ha tersebar merata dan hanya sedikit sekali cadangan karbon yang kurang dari 7,5 – 10 ton/ha. Sebaliknya terjadi pada kondisi tahun 2000 dan di tahun 2005 sebaran cadangan karbon lebih dari 1000 ton/ha semakin sedikit dan sebaliknya didominasi oleh cadangan karbon kurang dari 7,5 – 10 ton/ha. Sisa cadangan karbon yang ada di tahun 2005 hanya terdapat di daerah gambut dan taman nasional Kerinci Seblat.

Perubahan cadangan karbon yang sangat signifikan ini menunjukkan bahwa neraca potensi tegakan hutan di Jambi terus menurun. Penurunan tersebut disebabkan oleh beberapa hal sebagai driven deforestation factor seperti HPH, HTI, Perkebunan, Transmigrasi, Pertambangan dan ijin-ijin lainnya untuk keperluan pembangunan sektor non-kehutanan serta bentuk pembukaan lahan dengan sistem tebas dan bakar. Pendugaan perubahan cadangan karbon di atas didasarkan pada perubahan penggunaan lahan di Provinsi Jambi. ICRAF (2010) menunjukkan perubahan penggunaan lahan pada tiga periode waktu sebagai berikut.

(37)

Gambar 18. Kondisi penggunaan lahan tahun 1990-an (ICRAF 2010)

Gambar 19. Kondisi penggunaan lahan tahun 2000-an (ICRAF 2010)

(38)

Gambar 20. Kondisi penggunaan lahan tahun 2005 (ICRAF 2010)

Terlihat bahwa Gambar 18 menunjukkan kondisi penggunaan lahan Jambi tahun 1990-an hutan virgin masih sangat luas dan kondisi gambutyang masih luas yang ditunjukkan dengan warna ungu. Namun hal ini berubah di tahun 2000-an, tutupan hutan virgin menurun serta telah terjadi pembangunan perkebunan kelapa sawit di daerah gambut. Di tahun 2005, menunjukkan kondisi yang lebih khususnya di gambut yang semakin menurun.

5.4 Pemahaman stakeholder tentang REDD

Isu emisi dari sektor penggunaan lahan yang telah menyumbang emisi antara 18-20% emisi gas rumah kaca di atmosfer kini menjadi perhatian utama melalui skema perdagangan karbon REDD. Pemerintah Indonesia bertekad untuk menurunkan emisi 26% dari sektor penggunaan lahan di tahun 2020 dan bila ada dukungan internasional maka tekad tersebut akan ditingkatkan menjadi 41%. Untuk sektor kehutanan dibebankan 14% untuk menurunkan emisi gas rumah

(39)

1 Februari 2010 bahwa penetapan pencadangan Hutan Tanaman Rakyat (HTR), Hutan Kemasyarakatan (HKm), Hutan Rakyat dan Hutan Desa sebagai salah satu upaya sektor kehutanan berkontribusi menurunkan emisi karbon sebesar 14% dari target yang ditetapkan Presiden RI sebesar 26% pada 2020. Program mitigasi sektor kehutanan ini fokus pada penyerapan CO2 melalui penanaman pohon seluas 500 ribu ha/tahun melalui Hutan Kemasyarakatan (HKm) dan Hutan Desa, 300 ribu hektar Rehabilitasi Hutan dan Lahan (RHL) di Daerah Aliran Sungai (DAS) super kritis, 500 ribu hektar pembangunan Hutan Tanaman Industri (HTI) dan Hutan Tanaman Rakyat (HTR), 300 ribu ha/tahun HPH Restorasi Ekosistem dan 50 ribu hektar Hutan Rakyat Kemitraan dengan industri perkayuan. Selain itu, Kementerian Kehutanan juga meningkatkan pemberantasan illegal logging, pengendalian kebakaran, perambahan hutan dan pengurangan laju konversi hutan.

Suatu perhatian yang perlu diuji di level pelaksanaan program pemerintah di daerah dalam hal ini Provinsi Jambi. Pengujian dilakukan dengan melakukan wawancara mendalam dengan Dinas Kehutanan Provinsi Jambi, Dinas Energi dan Sumberdaya Mineral Provinsi Jambi, Dinas Perkebunan Provinsi Jambi dan Badan Perencanaan Pembangunan Daerah Provinsi Jambi. Wawancara ditekankan pada pengambil kebijakan atau yang mewakili pada masing-masing institusi untuk dievaluasi pengetahuan dan pemahaman pengambil kebijakan terhadap program REDD.

Evaluasi yang dilakukan di Dinas Kehutanan Provinsi Jambi adalah pemahaman keberadaan target penurunan emisi dari skema REDD hanya berada pada level pimpinan yakni pada level eselon III dan II. Inisiatif-inisiatif penentuan penggunaan lahan belum dilakukan dan masih menunggu kebijakan atau pedoman pemerintah pusat. Namun untuk menanggulangi laju penurunan luas dan potensi hutan telah dikembangkan pola budidaya tegakan hutan yakni penanaman buffer zone sekitar kawasan hutan di APL dengan tanaman jelutung dan karet, membuat demplot HTR, pendampingan HTR dengan dana APBD dan OMOT (one man one tree). Untuk kegiatan OMOT dilakukan beberapa kegiatan seperti Pembagian bibit gratis untuk ditanam di tempat kosong, di RT-RT, ada kebun bibit dan Tanaman Unggulan Lokal (TUL) seperti jernang, jelutung, bulian/ulin dan meranti yang semuanya memiliki persemaian atau dibeli dari masyarakat.

(40)

Selain itu Dinas Kehutanan Provinsi Jambi telah memiliki kebun tanaman hutan

yang disebut Kenali Asam yang berada di Km 11 dengan luas mencapai 10,25 hektar. Untuk mengakses wilayah ini maka pengunjung harus membayar

retribusi. Selain itu terdapat juga kebun raya bukit sari dengan luasan mencapai 425 hektar yang dikelilingi oleh kebun sawit.

REDD dianggap sebagai suatu program yang positif dan mampu untuk menjaga keberadaan hutan dan potensinya. Namun penekanan yang diharapkan adalah tindakan manajemen hutan untuk sebesar-besarnya kemakmuran masyarakat sekitar hutan. Karena bila masyarakat di sekitar hutan tidak diperhatikan maka kebocoran atas kredit karbon yang diproyekkan akan terjadi dan bisa saja target penurunan emisi akan gagal. Untuk menyukseskan REDD, terdapat beberapa institusi yang menurut Dinas Kehutanan Provinsi Jambi dapat diajak bekerjasama yakni UPTD Dinas Kehutanan, UPT Kementerian dan Dinas Perkebunan. Sedangkan Dinas Energi dan Sumberdaya Mineral di Kabupaten dianggap sebagai institusi yang sering mengeluarkan ijin yang tidak memperhatikan peruntukan dan penunjukan kawasan hutan sehingga terkadang terdapat ijin pertambangan yang dikeluarkan di dalam kawasan hutan.

Dinas Energi dan sumberdaya mineral merupakan stakeholder lain yang perlu dievaluasi terkait dengan dampak pelaksanaan REDD terhadap usaha pertambangan. Hasil yang ditemukan adalah pemahaman REDD belum memadai namun pemahaman pemulihan areal bekas tambang sebagai konsekuensi pembukaan lahan pertambangan cukup baik. Demikian juga pemahaman akan UU Nomor 4 tahun 2009 tentang Pertambangan Batubara dan Mineral serta UU Nomor 32 Tahun 2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup. Selain kedua produk hukum tersebut terdapat produk hukum lainnya yang

membatasi usaha pertambangan yakni UU no 26 tahun 2007 dan UU Nomor 41 tahun 1999. Dukungan terhadap perlindungan lingkungan hidup adalah melalui

penertiban kegiatan reklamasi lahan pasca tambang serta jaminan bank atas dana reklamasi sebelum kegiatan eksplorasi dilakukan. Namun yang menjadi permasalahan lanjutan adalah institusi apa yang lebih bertanggung jawab dalam mengontrol areal bekas tambang dan apa sanksi atas pelanggaran bila reklamasi areal bekas tambang tidak dapat mengembalikan tutupan lahan? Hal ini yang

Figur

Memperbarui...

Referensi

Memperbarui...

Related subjects :