BAB I PENDAHULUAN
1.1 Gambaran Umum Objek Penelitian 1.1.1 Sejarah SD Plus Al-Ghifari
SD Plus Al- Ghifari adalah usaha jasa pendidikan sekolah tingkat dasar yang bernaung dibawah Yayasan Al- Ghifari. SD Plus Al-Ghifari memiliki muatan plus dalam program pembelajarannya selain kurikulum yang telah ditetapkan oleh Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia. SD Plus Al- Ghifari berlokasi di Jalan Cisaranten Kulon No.140, Kecamatan Arcamanik, Kota Bandung berdiri pada tahun 1997 tetapi SD Plus Al-Ghifari baru mendapat surat izin operasionalnya yang bernomor: 609/102.1/OT/1998 dari Kanwil Depdikbud Jabar pada tanggal 24 Agustus 1998, keterlambatan izin tersebut dikarenakan pada saat itu pihak Dekdikbud Jabar menganggap lokasi SD Plus Al- Ghifari sangat berdekatan dengan SD negeri lainnya di Kecamatan Arcamanik dan dikhawatirkan akan membuat SD negeri lain yang berlokasi di Kecamatan Arcamanik menurun peminatnya tetapi pihak SD Plus Al-Ghifari pada saat itu menjelaskan bahwa mereka memiliki segmentasi pasar yang berbeda dari SD negeri dan berhasil meyakinkan pihak Dekdikbud Jabar untuk mengeluarkan surat izin operasional untuk SD Plus Al-Ghifari.
Berdasarkan hasil wawancara dengan Bapak Tatang Mulyana, S.Ag selaku Pembantu Kepala Sekolah (selanjutnya akan ditulis sebagai PKS) Bidang Kurikulum, SD Plus Al- Ghifari mensegmentasikan pasarnya di golongan ekonomi menengah keatas dan hanya sekitar 14% peserta didiknya yang bertempat tinggal di Kecamatan Arcamanik, sisanya menyebar di daerah lain seperti Ujung Berung, Panyileukan, dan Buah Batu. Hingga tahun 2014 SD Plus Al-Ghifari sudah memiliki 1.524 orang alumni dan telah meraih penghargaan di berbagai bidang. SD Plus Al-Ghifari telah bersertifikat akreditasi “A” dari Badan Sertifikasi Negara Sekolah dan Madrasah sebagai bukti kualitas dan jaminan mutu layanannya sebagai lembaga penyelenggara pendidikan tingkat SD.
1.1.2 Logo SD Plus Al-Ghifari
Logo SD Plus Al- Ghifari dapat dilihat pada gambar 1.1 berikut:
GAMBAR 1.1 LOGO SD Plus Al-Ghifari
Sumber: SD Plus Al-Ghifari, 2014
1.1.3 Visi dan Misi SD Plus Al-Ghifari
Visi dan misi dari SD Plus Al-Ghifari adalah sebagai berikut: A. Visi:
Melahirkan generasi yang kuat memiliki akidah salimah akhlak karimah amaliah shalihahdan akal yang fathonah(cerdas).
B. Misi:
Menjadikan sekolah alternatif yang diharapkan mampu menghasilkan generasi robbanidan mardhatillah.
1.1.4 Ope rasional SD Plus Al-Ghifari
SD Plus Al-Ghifari merupakan SD dengan model pendidikan iklusif. Pendidikan inklusif adalah sistem penyelenggaraan pendidikan yang memberikan kesempatan kepada semua peserta didik yang memiliki kelainan dan memiliki potensi kecerdasan dan/atau bakat istimewa untuk mengikuti pendidikan atau pembelajaran dalam satu lingkungan pendidikan secara bersama-sama dengan peserta didik pada umumnya (Mendiknas, 2009).
SD Plus Al-Ghifari memberi muatan plus yang berisi serangkaian pelajaran yang berhubungan dengan pendidikan agama Islam. Serangkaian mata pelajaran yang termasuk di dalam muatas plus yaitu akidah akhlak, bahasa Arab,
qurhad, tahfidz, iqro/qur’an, pendidikan lingkungan hidup, dan KPS. Muatan plus yang digunakan menambah jam belajar peserta didik SD Plus Al-Ghifari melebihi SD pada umumnya sehingga peserta didik SD Plus Al-Ghifari memiliki jam belajar yang lebih lama di sekolah daripada peserta didik di SD lain.
1.1.5 Struktur Organisasi
Struktur organisasi SD Plus Al-Ghifari dapat dilihat pada gambar 1.2.
GAMBAR 1.2
STRUKTUR ORGANISASI SD Plus Al-Ghifari
Sumber: Data internal SD Plus Al-Ghifari, 2014
1.2 Latar Belakang Penelitian
Finlandia merupakan negara dengan sistem pendidikan terbaik di dunia dan Inggris yang dianggap sebagai sistem tunggal juga dinilai sebagai "di atas rata-rata", lebih baik daripada Belanda, Selandia Baru, Kanada, dan Irlandia. Keempat negara itu juga berada di atas kelompok peringkat menengah termasuk Amerika
: Garis Koordinasi Kepala Sekolah Pembina Yayasan Pengawas Yayasan Dinas Pendidikan Kota Bandung Komite Sekolah PKS Kesiswaan PKS Kurikulum PKS Kerohanian Kabag Tata Usaha Kabag Keuangan Gu ru/Pegawai Peserta Didik : Garis Instruksi Pengurus Yayasan
Serikat, Jerman, dan Perancis (Pearson, 2012). Menurut World Economic Forum (WEF)Finlandia termasuk dalam jajaran negara paling kompetitif dan inovatif di dunia karena keunggulan sistem pendidikannya (WEF, 2012). Anak-anak di Finlandia sudah mengetahui ketika mereka berusia enam tahun dengan sendirinya dan tanpa paksaan mereka meminta untuk masuk sekolah, mencerminkan adanya kepuasan dari masyarakat Finlandia sendiri akan sistem pendidikan di negara mereka (Juusenaho, 2014).
Di Asia, Korea Selatan merupakan negara dengan sistem pendidikan terbaik, lalu diikuti oleh tiga negara di Asia, yaitu Hongkong, Jepang, dan Singapura sedangkan Indonesia berada pada posisi terbawah (Pearson, 2012). Ketua Komnas Perlindungan Anak memandang sistem pendidikan yang diterapkan di Indonesia hanya menciptakan generasi- generasi robot penurut tanpa memiliki kreativitas dan kecerdasan. Menurutnya, masih banyak sistem pendidikan yang tidak ramah anak, termasuk sistem yang bernuansa kekerasan termasuk kekerasan psikologis dimana sistem pendidikan yang tak ramah anak hanya akan menciptakan generasi- generasi robot, yaitu penurut namun tanpa kecerdasan kreativitas dan kecerdasan moral sehingga sistem pendidikan yang ramah anak perlu diberlakukan (Mulyadi, 2013). Menurut Menteri Pendidikan dan Kebudayaan mengungkapkan standar layanan pendidikan di Indonesia yang masih sangat rendah serta mutu pendidikan Indonesia yang masih berada di peringkat bawah negara- negara maju perlu diatasi dengan melakukan perbaikan dalam kualitas mutu pendidikan dan mengembalikan persekolahan menjadi taman, tempat belajar yang menyenangkan. Pendidikan harus membuat para siswa menjadi ketagihan untuk bersekolah (Baswedan, 2014). Menurut Elfindri (2014), salah satu tantangan dalam memperbaiki sistem pend idikan di Indonesia adalah pemerataan pendidikan untuk anak-anak yang sulit dijangkau, dimana pendidikan khusus untuk anak difabel adalah salah satu jawabannya.
Pendidikan khusus untuk anak difabel atau anak berkebutuhan khusus salah satunya adalah pendidikan inklusif yang telah diatur berdasarkan Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Republik Indonesia Nomor 70 Tahun 2009 Tentang Pendidikan Inklusif Bagi Peserta Didik yang Memiliki Kelainan dan Memiliki
Potensi Kecerdasan dan/atau Bakat Istimewa, Menteri Pendidikan Nasional Republik Indonesia menginstruksikan Pemerintah kabupaten/kota menunjuk paling sedikit satu SD, dan satu sekolah menengah pertama pada setiap kecamatan satu satuan pendidikan menengah untuk menyelenggarakan pendidikan inklusif dengan mengeluarkan Peraturan Menteri yang mengatur tentang pendidikan inklusif sebagai alternatif pendidikan lain bagi warga penyandang kelainan fisik dan/atau mental dan warga yang memiliki potensi kecerdasan dan/atau bakat istimewa, dengan pertimbangan bahwa peserta didik yang memiliki memiliki kelainan fisik, emosional, mental, sosial, dan/atau memiliki potensi kecerdasan dan/atau bakat istimewa perlu mendapatkan layanan pendidikan yang sesuai dengan kebutuhan dan hak asasinya. Pengertian pendidikan inklusif yang dimaksud adalah sistem penyelenggaraan pendidikan yang memberikan kesempatan kepada semua peserta didik yang memiliki kelainan dan memiliki potensi kecerdasan dan/atau bakat istimewa untuk mengikuti pendidikan atau pembelajaran dalam satu lingkungan pendidikan secara bersama-sama dengan peserta didik pada umumnya, berbeda dengan pendidikan luar biasa yang telah dibahas sebelumnya dimana peserta didik yang menyandang kelainan fisik dan/atau mental mengikuti pendidikan atau pembelajaran di lingkungan khusus yang berbeda (Mendiknas, 2009). Pendidikan inklusif bertujuan memberikan kesempatan yang seluas- luasnya kepada semua peserta didik yang memiliki kelainan fisik, emosional, mental, dan sosial atau memiliki potensi kecerdasan dan/atau bakat istimewa untuk memperoleh pendidikan yang bermutu sesuai dengan kebutuhan dan kemampuannya, dan untuk mewujudkan penyelenggaraan pendidikan yang menghargai keanekaragaman, dan tidak diskriminatif bagi semua peserta didik (Mendiknas, 2009).
Melihat sistem pendidikan di Indonesia yang kurang baik di era global ini SD Plus Al-Ghifari sebagai lembaga pendidikan yang mengadopsi model pendidikan inklusif perlu meningkatkan mutu pendidikan mereka untuk menjawab tantangan sistem pendidikan negara lain yang jauh lebih baik. Total Quality Management (TQM) sebagai sistem manajemen mutu yang telah diakui secara global dapat menjadi tolak ukur yang baik bagi SD Plus Al-Ghifari dalam
meningkatkan mutu pendidikan mereka di era global ini sehingga dapat memenuhi kepuasan konsumen dan meningkatkan kualitas pelayanan SD Plus Al-Ghifari dan mengetahui sejauh mana SD Plus Al- Al-Ghifari dapat diterima dan akhirnya dipilih oleh warga, khususnya orangtua di Kota Bandung.
Berdasarkan fenomena yang telah dijabarkan, penelitian dengan judul
“Analisis Implementasi TQM dan Pengaruhnya Terhadap Kepuasan
Konsumen dan Service Quality Di SD Plus Al-Ghifari”.
1.3 Perumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang yang telah dipaparkan, terdapat rumusan masalah sebagai berikut:
1. Bagaimana Implementasi TQM di SD Plus Al-Ghifari?
2. Bagaimana kepuasan orangtua peserta didik pada SD Plus Al-Ghifari? 3. Bagaimana service quality di SD Plus Al-Ghifari?
4. Seberapa besar pengaruh TQM terhadap kepuasan orangtua peserta didik pada SD Plus Al-Ghifari?
5. Seberapa besar pengaruh TQM terhadap service quality di SD Plus Al-Ghifari?
1.4 Tujuan Penelitian
Berdasarkan perumusan masalah yang telah didapat, maka terdapat tujuan penelitian sebagai berikut:
1. Mengetahui tanggapan orangtua peserta didik mengenai implementasi TQM secara keseluruhan pada SD Plus Al-Ghifari.
2. Mengetahui tanggapan orangtua peserta didik mengenai kepuasan orangtua peserta didik pada SD Plus Al-Ghifari.
3. Mengetahui tanggapan orangtua peserta didik mengenai service qualitypada SD Plus Al-Ghifari.
4. Mengetahui besarnya pengaruh TQM terhadap kepuasan orangtua peserta didik pada SD Plus Al-Ghifari.
5. Mengetahui besarnya pengaruh TQM terhadap service quaity pada SD Plus Al-Ghifari.
1.5 Kegunaan Penelitian
Hasil penelitian ini diharapkan akan memberikan kegunaan dan manfaat sebagai berikut:
1. Bagi Penulis
Mengembangan wawasan keilmuan dan sebagai sarana penerapan dari ilmu pengetahuan yang selama ini penulis peroleh selama dibangku kuliah.
2. Bagi Perusahaan
a. Digunakan untuk perusahaan sebagai alat untuk mengukur pengimplentasian TQM pada saat ini.
b. Memberikan masukan atau saran yang dapat digunakan untuk meimplentasikan TQM.
3. Bagi Pihak Lain
Sebagai bahan referensi yang diharapkan dapat membantu dalam penelitian selanjutnya.
1.6 Sistematika Penulisan
Sistematika penulisan ini disusun untuk memberikan gambaran umum tentang penelitian yang dilakukan.
BAB I PENDAHULUAN
BAB I berisi mengenai tinjauan tentang objek studi, latar belakang masalah, perumusan masalah, tujuan dari penelitian, manfaat dari penelitian, batasan permasalah penelitian, dan sistematika penulisan skripsi.
BAB II LANDASAN TEORI
BAB II membahas tentang teori-teori dan hasil penelitian terdahulu yang relevan dengan penelitian, yang dapat digunakan sebagai acuan dalam memahami dan memecahkan permasalahan yang diteliti.
BAB III berisi mengenai jenis penelitian, operasional variabel, skala pengukuran, jenis dan teknik pengumpulan data, teknik sampling, uji validitas dan realibilitas, dan analisis data yang digunakan dalam penelitian. BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN
BAB IV menceritakan tentang hasil dan pembahsan mengena karakteristik responden yang dilihat dari berbagai aspek, membahas dan menjawab rumusan masalah serta hasil perhitungan analsis data yang telah dilakukan. BAB V KESIMPULAN DAN SARAN
BAB V menceritakan tentang kesimpulan hasil analisis, dan saran bagi perusahaan dan saran bagi penelitian selanjutnya.