i
PEMBELAJARAN MANDIRI BERBANTUAN KOMPUTER POKOK BAHASAN
GLB dan GLBB KELAS VII B SMP N 3 WONOSARI
SKRIPSI
Diajukan Untuk Memenuhi Salah Satu Syarat
Memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan
Program Studi Pendidikan Fisika
Oleh :
THERESIA RATRI ARIYANTI
NIM: 061424006
PROGRAM STUDI PENDIDIKAN FISIKA
JURUSAN PENDIDIKAN MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS SANATA DHARMA YOGYAKARTA
iv
HALAMAN PERSEMBAHAN
Tak ada manusia, Yang terlahir sempurna Jangan kau sesali, Segala yang telah terjadi Kita pasti pernah, Dapatkan cobaan yang berat Seakan hidup ini, Tak ada artinya lagi
Syukuri apa yang ada, Hidup adalah anugerah Tetap jalani hidup ini, Melakukan yang terbaik
Tuhan pasti kan menunjukkan, Kebesaran dan kuasanya Bagi hambanya yang sabar, Dan tak kenal Putus asa
(lyrik lagu jangan menyerah)
Skripsi ini kupersembahkan untuk :
Bapak dan Ibu tercinta Kedua kakakku tercinta, mas Totok dan mas Bowo
Nicolas Rhiu dan Bayu Kurniawan seluruh keluargaku teman-temanku terkasih
vii ABSTRAK
PEMBELAJARAN MANDIRI BERBANTUAN KOMPUTER DALAM POKOK BAHASAN GLB DAN GLBB KELAS VII B SMP N 3 WONOSARI
Theresia Ratri Ariyanti, “Pembelajaran Mandiri Berbantuan Komputer dalam Pokok Bahasan GLB dan GLBB Kelas VII B SMP N 3 Wonosari”. Program Studi Pendidikan Fisika, Jurusan Pendidikan Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Universitas Sanata Dharma Yogyakarta 2011.
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui (1) perbedaan hasil belajar siswa yang belajar mandiri berbantuan komputer di kelas eksperimen dan yang diajar oleh guru di kelas kontrol, (2) minat siswa terhadap pembelajaran mandiri berbantuan komputer, (3) persepsi siswa terhadap pembelajaran mandiri berbantuan komputer. Penelitian ini mencakup tiga tahapan, yang terdiri dari (1) pra pembelajaran, (2) pelaksanaan penelitian, dan (3) test. Treatmen hanya dilakukan pada kelas eksperimen yaitu siswa belajar mandiri menggunakan simulasi komputer dengan simulasi yang telah ditetapkan oleh peneliti, sedangkan untuk kelas kontrol siswa diajar oleh guru seperti biasa.
Penelitian dilakukan di SMP N 3 Wonosari, pada tanggal 14 – 20 Maret 2011. Sampel penelitian adalah siswa kelas VII B.
Untuk mengetahui perbedaan hasil belajar siswa yang melakukan pembelajaran mandiri berbantuan komputer, dan yang diajar oleh guru, peneliti menggunakan posttest, yang nantinya akan dibandingkan antara kelas kontrol dan kelas eksperimen. Sedangkan tingkat kemampuan awal siswa akan diukur menggunakan pretest yang hasilnya akan dianalisis dengan T-Test Independent. Untuk mengetahui minat siswa terhadap pembelajaran mandiri berbantuan komputer yang sudah dilakukan, diukur dengan menggunakan kuesioner minat, sedangkan untuk melengkapi data dilakukan wawancara terhadap beberapa siswa untuk mengetahui persepsi siswa atas pembelajaran mandiri yang sudah dilakukan.
viii
Mathematics and Natural Sciences Department, The Faculty of Teacher Training and Education, Sanata Dharma University Yogyakarta, 2011.
The research is aimed at (1) knowing the differences of the students’ learning result between the students who conduct self-learning computer assited in an experiment class and the students who are taught by the teacher in controlled class, (2) knowing the students’ interest toward self-learning computer assisted (3) studen,s perception interest toward self-learning computer assisted. The research includes three steps namely, (1) pre-learning, (2) research implementation, and (3) test. The treatment was done only in the experiment class in which the students conduct self-learning computer assisted set by the researcher, while the controlled class, the students were taught by the teacher as usual.
The research was conducted in SMP N 3 Wonosari, from 14 to 20 of March 2011. The research samples were the students grade VII B.
In order to know the differences of the students’ result who are taught by the teacher who conducting self-learning ucomputer assisted method, the researcher conducted posttest which will be compared between the controlled and the experiment class. In order to know the students’ initial ability level, the researcher applied pretest of which the result will be analyzed using the independent T-Test. In order to know the students’ interest toward self-learning using computer simulation which had been done, the researcher have applied questionnaires of the students’ interests. In order to complete the data, the researcher conducted interview to some students to know the students’ perception on self-learning they had done.
ix
KATA PENGANTAR
Puji dan syukur kepada Yesus Kristus atas berkah rahmat dan karuniaNya, sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi ini dengan judul “Pembelajaran Mandiri dengan Simulasi Komputer Pokok Bahasan GLB dan GLBB kelas VII B SMP N 3 Wonosari”.
Penulis menyadari bahwa skripsi ini tidak dapat berjalan dengan baik
tanpa proses yang panjang dan dukungan dari berbagai pihak, baik secara langsung maupun tidak langsung. Maka pada kesempatan yang baik ini, penulis
mengucapkan terimakasih yang setulusnya kepada :
1. Rohandi, Ph.D selaku dosen pembimbing skripsi ,terimakasih atas bantuan,
saran, dan kritiknya dalam menyusun skripsi ini.
2. Segenap dosen program studi Pendidikan Fisika USD yang telah memberikan ilmu dan pengalaman yang sangat berguna bagi masa depan penulis.
3. Pengurus sekretariat JPMIPA Bu Henny, dan Pak Sugeng, terimakasih telah menguruskan berbagai administrasiku selama ini.
4. Ardi Suryanto, SE.MM selaku kepala sekolah SMP N 3 Wonosari, yang telah memberikan ijin penelitian.
5. Triyanto,SPd selaku guru fisika SMP N 3 Wonosari yang telah memberikan
bimbingan dan kesempatan dalam penelitian ini.
x terimakasih atas doa dan dukungannya.
11.Sahabatku Normala Safitri, Ambar Hari Wijaya, Fajar Sri Widodo, Nani dan Enita Makasih atas kesetiakawanan yang sudah kalian beri, akhirnya aku bisa teman. Bu Nuning, ayo Bu, Ibu pasti bisa.
12.Teman-teman Pendidikan Fisika angkatan 2006 : Yulista, Fajar, Suster, Dede, Gagan, Hendrikus, Benny, Dion, Rudy, Miranda, Lia, Dessy, Ratna, Nana,
Mela, Lusi. Terimaksih atas kebersamaan dan kerjasamanya selama kuliah. 13.Teman – teman GFC Bexcur, Ebenx, Diren, Vebri, ayo teman kalian pasti bisa
menyusulku, Apo, Mbak Erna, Lestha, Novia, dan Apri terimakasih atas
kerjasama dan kelucuan kalian yang menghiburku dikala penat.
14.Mas Eko yang mau membantuku dalam membuat simulasi, terimakasih atas
bentuannya dan semangatnya.
15.Mas Teguh dan Vincent, terimakasih bantuannya dalam menterjemahkan abstrak.
xii C. Penggunaan Komputer dalam Pembelajaran
1. Komputer Sebagai Media Pembelajaran... 2. Peran Komputer dalam Pembelajaran Fisika...
3. Komputer untuk Pembelajaran Mandiri dalam Fisika…..…………
xiii
D. Kajian Materi Tentang Gerak Lurus…………... 23
BAB III. METODOLOGI PENELITIAN
A. Jenis Penelitian ... B. Populasi dan Sampel... C. Tempat dan Waktu Penelitian ... D. DesainPenelitian ... BAB IV. DATA & ANALISIS DATA dan PEMBAHASAN
A. Data dan Analisis Data
1. Keadaan Awal…………. ………...
2. Keadaan Akhir………...………
3. Minat Siswa………... B. Pembahasan
1. Kemampuan Awal Siswa………... 2. Perbandingan Hasil Belajar Siswa Antara Kelas Kontrol dan Kelas
Eksperimen………...
BAB V. KESIMPULAN & SARAN
xiv
DAFTAR TABEL
Tabel 3.1 Distribusi soal pretest dan posttest…………... 40
Tabel 3.2 Distribusi soal kuesioner sikap menurut indikator………... 41
Tabel 3.3
Tabel 3.4
Tabel 4.1
Klasifikasi dan interval skor………..
Klasifikasi dan interval skor minat siswa...
Data statistik untuk pretest ...
46
49
51
Tabel 4.2 T-Test Independent untuk pretest……… 52
Tabel 4.3
Data pretest dan posttest untuk kelas kontrol...
Data pretest dan posttest untuk kelas eksperimen...
54
55
56
57
Tabel 4.7 Data hasil kuisioner minat siswa……….. 58
xv
DAFTAR GAMBAR
Gambar 3.1 Menu utama simulasi………... ... 31
Gambar 3.2 Pengertian GLBB……… ... 32
Gambar 3.3 Grafik percepatan……….. ... 33
Gambar 3.4 Perlambatan……….……… . 34
Gambar 3.5 Grafik perlambatan……... 35
Gambar 3.6 Persamaan GLBB……….. 35
Gambar 3.7 Analisa Grafik……….………... 36
Gambar 3.8 Contoh grafik………. 37
Gambar 3.9
Gambar3.10
Contoh soal………
Contoh soal………
38
xvi
DAFTAR LAMPIRAN
Lampiran 1 Analisis skor pretest untuk kelas kontrol ... 77
Lampiran 2 Analisis skor pretest untuk kelas eksperimen ... 79
Lampiran 3 Analisis skor posttest untuk kelas kontrol ... 81
Lampiran 4 Analisis skor posttest untuk kelas eksperimen……… . 83
Lampiran 5 Analisis hasil wawancara... 85
Lampiran 6 Silabus……… 89
Lampiran 7 Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP)………... 90
Lampiran 8 Soal pretest……… 93
Lampiran 9 Soal posttest……….. 95
Lampiran 10 Pedoman jawaban soal pretest dan posttest... 97
Lampiran 11 Daftar pertanyaan kuisioner minat ... 100
Lampiran 12 Daftar pertanyaan wawancara... 103
1 BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
Perkembangan zaman yang semakin pesat ditandai pula dengan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi canggih. Hal ini merupakan salah satu penyebab untuk meningkatkan mutu dan kualitas dalam dunia
pendidikan. Mutu pendidikan sangat bergantung kepada kualitas pelaksanaan pendidikan di sekolah-sekolah, tercermin dalam keberhasilan
belajar siswa.
Fenomena yang ada saat ini memperlihatkan banyaknya orang yang beranggapan bahwa belajar dengan metode yang monoton itu sulit untuk
diterima dan membosankan khususnya ilmu fisika. Bahkan bagi siswa SMP dan SMA, fisika merupakan momok yang menakutkan dan merupakan mata
pelajaran bagi para siswa pintar saja. Mereka seolah tidak mau berkenalan dengan ilmu fisika. Untuk menyikapi persoalan itu, maka pengajar dituntut untuk mengajar dengan cara yang menarik agar berhasil menarik minat
siswa belajar fisika dan merubah kesimpulan dari “pelajaran fisika adalah
pelajaran yang membosankan” menjadi “pelajaran fisika adalah pelajaran
yang menyenangkan” seperti diungkap oleh Royana (2010 : 1).
(1991:189) dengan menggunakan media pengajaran, tenaga pengajar dapat memperkaya dan memperdalam proses belajar mengajar di kelas.
Komputer adalah salah satu media yang dapat mentransformasi berbagai simbol dalam informasi dari bentuk yang satu ke bentuk lainnya.
Siswa dapat mengetik teks, dan komputer yang canggih dapat mentransformasikannya ke dalam bentuk lain, misalnya gambar bahkan suara. Komputer dapat mentransformasikan angka-angka ke dalam bentuk
grafik atau kurva (Sirodjuddin:2007). Penggunaan komputer dalam pembelajaran merupakan aplikasi teknologi dalam pembelajaran. Pada
dasarnya teknologi dapat menunjang proses pencapaian tujuan pendidikan (Belalangtue:2010). Ditambahkan lagi dalam artikel tersebut namun sementara ini, komputer sebagai produk teknologi khususnya di
sekolah-sekolah kurang dimanfaatkan secara optimal, hanya sebatas word processing saja. Kini yang perlu diperhatikan adalah bagaimana menjadikan
teknologi (komputer) dapat bermanfaat bagi kemajuan pendidikan.
Hampir semua sekolah yang ada di negara ini sudah mempunyai fasilitas komputer dalam menunjang proses pembelajaran, namun
pemanfaatannya belum optimal. Banyak sekolah yang hanya menggunakan komputer untuk mata pelajaran informatika, padahal dalam pembelajaran
dapat menggunakan media komputer tidak hanya untuk mata pelajaran TI, namun juga mata pelajaran yang lain, khususnya fisika. Pengajaran fisika berbantuan komputer dapat dibuat lebih menarik lagi dengan menggunakan
kemudian dipadukan dalam program powerpoint (Belalangtue:2010). Penggunaan komputer ini diharapkan dapat menjadi salah satu alat untuk
menyusun dan mengembangkan bahan ajar yang menarik, inovatif dan merangsang serta menantang rasa ingin tahu siswa yang kemudian dapat
meningkatkan hasil belajar siswa.
Pengajaran dengan bantuan komputer atau komputer assisted instruction (CAI), adalah pengajaran yang menggunakan komputer sebagai
alat bantu (Nasution 2005:60). Disebutkan pula oleh Nasution (2005:61) bahwa komputer membuka berbagai macam kemungkinan yang dapat
dimanfaatkan guna pendidikan. Komputer mempunyai banyak kelebihan, dibandingkan dengan metode yang biasa digunakan oleh guru, seperti dikatakan oleh Roestiyah (2001 : 154 ) secara teori, suatu komputer
memiliki kekuatan keahlian yang lebih daripada seorang guru. Karena komputer dapat :
1. Menyimpan pendapat dari beberapa informasi 2. Memilih informasi tersebut dengan kecepatan tinggi
3. Menyajikan pada siswa dengan tanda diagram yang menantang
4. Memberi jawaban tipe kebutuhan siswa
5. Memberi umpan balik kepada siswa secara individual secepatnya
6. Memiliki sejumlah perbedaan, dengan siswa yang berbeda-beda. Namun dalam kenyataan di dunia pendidikan saat ini, belum banyak yang menggunakan komputer dalam pembelajaran. Penggunaan komputer
menjadi media dalam pembelajaran yang mengasyikkan. Namun media ini belum banyak digunakan oleh guru. Kebanyakan pengajar masih
mengguakan metode ceramah dalam memberikan materi kepada siswa. Terlebih dalam pembelajaran fisika, kebanyakan guru masih menggunakan
metode ceramah sehingga banyak menimbulkan kebosanan pada anak. Berdasarkan uraian permasalahan di atas peneliti ingin meneliti tentang pembelajaran mandiri berbantuan komputer.
B. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang yang telah diuraikan, maka rumusan
masalah dalam penelitian ini adalah:
1. Bagaimana perbedaan hasil belajar siswa yang belajar antara kelas eksperimen (kelas yang melakukan pembelajaran
mandiri berbantuan komputer) dan kelas kontrol ( kelas yang diajar oleh guru)?
2. Bagaimanakah minat siswa terhadap pembelajaran mandiri berbantuan komputer?
3. Bagaimana persepsi siswa terhadap pembelajaran mandiri
berbantuan komputer?
C. Tujuan Penelitian
Tujuan penelitian ini adalah:
1. Untuk mengetahui perbedaan hasil belajar belajar mandiri berbantuan komputer di kelas eksperimen dan siswa yang diajar oleh
2. Untuk mengetahui minat siswa terhadap pembelajaran mandiri berbantuan komputer.
3. Untuk mengetahui persepsi siswa terhadap pembelajaran mandiri berbantuan komputer?
D. Batasan Masalah
Perbandingan hasil belajar siswa hanya dilihat dari nilai posttest.
Untuk melihat kesamaan kemampuan awal siswa hanya digunakan
pretest.
Materi yang diajarkan menggunakan media simulasi komputer
hanya mencakup pada GLBB dan GLB
Minat siswa berdasarkan pada kuisioner sikap didukung dengan
wawancara yang dilakukan oleh peneliti kepada beberapa siswa
seusai pambelajaran.
E. Manfaat Penelitian 1) Bagi peneliti :
Memberikan wawasan baru bagi pengembangan ilmu pendidikan, khususnya dalam pengembangan teori pendidikan bagi pelaksanaan pendidikan, khususnya dalam mempersiapkan diri menjadi calon guru.
2) Bagi guru :
a) Sebagai sumbangan bagi guru dan para calon guru dalam
dalam menerapkan metode simulasi dengan menggunakan media komputer.
b) Dapat menambah wawasan dan pengetahuan khususnya dalam penyusunan rancangan pembelajaran fisika.
3) Bagi siswa:
a) Dapat menciptakan iklim belajar yang kondusif, yang diharapkan mampu meningkatkan hasil belajar siswa.
b) Membuat siswa lebih tertarik dalam proses pembelajaran.
c) Menghilangkan rasa bosan karena proses bembelajaran yang
7 sampai tua manusia masih selalu belajar untuk mendapatkan perubahan.
Begitu pula dalam proses pembelajaran, belajar merupakan aspek yang sangat dominan didalam pembelajaran untuk mendapatkan perubahan
menuju perkembangan yang lebih baik. Berikut disajikan pengertian belajar dari beberapa tokoh dalam dunia pendidikan.
1) Thorndike dalam Muchith ( 2008 : 51) mengatakan bahwa belajar
adalah proses interaksi antara stimulus dan respon
2) Winkel ( 1991 : 36) mengatakan bahwa Belajar merupakan suatu
aktivitas mental/ psikis, yang berlangsung dalam interaksi aktif dengan lingkungan, yang menghasilkan sejumlah perubahan dalam pengetahuan-pemahaman, keterampilan dan nilai sikap. Perubahan itu
bersifat secara relatif konstan dan berbekas.
3) Belajar adalah usaha secara sistematis untuk melakukan perubahan
dari yang negatif menjadi positif. ( Muchith 2008 : 96).
4) Belajar adalah perubahan yang relatif permanen dalam perilaku atau potensi perilaku sebagai hasil dari pengalaman atau latihan yang
5) Belajar adalah suatu aktivitas atau suatu proses untuk memperoleh pengetahuan, meningkatkan keterampilan, memperbaiki perilaku,
sikap, dan mmengokohkan kepribadian. (Suyono dan Hariyanto 2011:9).
Dari pengertian para ahli diatas dapat disimpulkan bahwa belajar pada hakekatnya merupakan suatu usaha, suatu proses perubahan tingkah laku yang terjadi pada diri individu sebagai hasil pengalaman atau sebagai
hasil interaksinya dengan lingkungan. Perubahan itu tidak hanya berkaitan dengan penambahan dalam kecakapan, keterampilan, pengetahuan, sikap
pengertian, harga diri, minat, watak dan penyesuaian diri tetapi juga pada pola respon baru terhadap lingkungan, emosi dan jasmani.
Belajar tidak langsung terjadi begitu saja, tetapi melalui beberapa
proses. Seperti diungkap oleh Royana (2010:8) Proses belajar terdiri dari (1) menemukan pemecahan yang asli atau berpikir, (2) mengingat, (3) menjadi
efisien menerapkan pemecahan masalah itu terhadap suatu problem atau membentuk kebiasaan.
Namun belajar bukanlah hanya sekedar menjejali siswa dengan teori
– teori pada mata pelajaran. Belajar juga tidak hanya terpusat pada guru saat
melakukan pembelajaran, sehingga siswa tidak berproses dengan sendirinya
dan tidak menemukan pemahaman terhadap pembelajaran yang dilakukan. Namun dalam dunia pendidikan saat ini hal itulah yang sering teradi pada siswa, seperti dikatakan oleh Suyono dan Hariyanto ( 2011:10) faktanya
pengajaran, guru menjadi dominan, siswa seolah gelas kosong yang harus selalu didisi air. Padahal belajar yang sesungguhnya dimaknai sebagai
kegiatan aktif siswa dalam membangun makna atau pemahaman (Suyono dan Hariyanto 2011:14). Jadi dalam proses pembelajaran, sudah tidak
selayaknya lagi siswa hanya dijejali pengetahuan oleh guru tanpa menemukan pemahamannya sendiri. Belajar membutuhkan keterlibatan siswa secara aktif. Belajar barulah efisisen apabila bermakna pembelajaran
itu terhadap siswa dan oleh siswa. Dengan begitu PBM akan menjadi suatu proses yang benar-benar efisisen, dan terjadi pemahaman belajar oleh siswa.
2. Konstruktivisme dalam Pembelajaran
Menurut Gagne dan Briggs dalam Tanlain, W (2005:33) pembelajaran (instruksi) adalah suatu rangkaian peristiwa eksternal yang
mempengaruhi siswa sedemikian rupa, sehingga proses belajarnya dapat berlangsung dengan mudah .
Sedang menurut Von Glasersfeld dalam Suparno, (1997:21) konstruktivisme adalah salah satu filsafat pengetahuan yang menekankan bahwa pengetahuan siswa adalah konstruksi (bentukan) siswa sendiri, ia
menegaskan bahwa pengetahuan bukan suatu tiruan dari kenyataan. Sedangkan menurut Tran Vui (dalam Surianto:2009) Konstruktivisme
adalah suatu filsafat belajar yang dibangun atas anggapan bahwa dengan memfrekuensikan pengalaman-pengalaman sendiri.
Sehingga pembelajaran yang konstruktivisme adalah pembelajaran
sendiri kompetensi, pengetahuan atau teknologi, dan hal lain yang diperlukan guna mengembangkan dirinya sendiri.
Menurut Surianto (2009) Secara garis besar, prinsip-prinsip Konstruktivisme yang diterapkan dalam belajar mengajar adalah:
1. Pengetahuan dibangun oleh siswa sendiri
2. Pengetahuan tidak dapat dipindahkan dari guru ke murid, kecuali hanya dengan keaktifan murid sendiri untuk menalar
3. Murid aktif mengkonstruksi secara terus menerus, sehingga selalu terjadi perubahan konsep ilmiah
4. Guru sekedar membantu menyediakan saran dan situasi agar proses
konstruksi berjalan lancar.
5. Menghadapi masalah yang relevan dengan siswa
6. Struktur pembalajaran seputar konsep utama pentingnya sebuah pertanyaan
7. Mencari dan menilai pendapat siswa
8. Menyesuaikan kurikulum untuk menanggapi anggapan siswa.
Dari prinsip-prinsip konstruktivisme dapat diambil kesimpulan
prinsip yang paling penting adalah guru tidak boleh hanya semata-mata memberikan pengetahuan kepada siswa. Siswa harus membangun
kesempatan kepada siswa untuk menemukan atau menerapkan sendiri ide-ide dan dengan mengajak siswa agar menyadari dan menggunakan
strategi-strategi mereka sendiri untuk belajar. Seperti dikatakan oleh Suparno (1997:81). yang sangat penting dalam teori konstruktivisme adalah bahwa
dalam proses belajar siswalah yang harus mendapatkan tekanan. Merekalah yang harus aktif mengembangkan pengetahuan mereka, bukannya guru ataupun orang lain. Sehingga dalam pembelajaran yang konstruktivis,
kreativitas guru sangat diperlukan untuk membuat siswa menjadi aktif. Dalam bukunya Suparno (1997:83) juga mengatakan bahwa dalam sistem
belajar mengajar konstruktivis, sangat penting bahwa guru diberi kebebasan untuk mengembangkan kelasnya berdasarkan situasi perkembangan berpikir anak didik. Guru diberi keleluasaan untuk mencoba bermacam – macam
cara dan pola membantu keaktifan murid menuntut situasi murid. Guru perlu diberi kebebasan macam – macam prasarana yang cocok untuk lebih
meningkatkan kreativitas siswa dalam membentuk pengetahuan mereka. 3. Belajar Mandiri
Belajar mandiri bukan berarti belajar sendiri tetapi dalam belajar
mandiri siswa atau peserta didik mencoba menemukan konsep sendiri dan berusaha mengerti sehingga peserta didik tidak lagi tergantung oleh guru,
teman atau bantuan siapapun.
Pengertian tantang belajar mandiri sampai saat ini belum ada kesepakatan dari para ahli. Ada beberapa variasi pengertian belajar mandiri
1) Belajar mandiri adalah usaha individu untuk melakukan kegiatan belajar secara sendirian maupun dengan bantuan orang lain
berdasarkan motivasinya sendiri untuk menguasai suatu materi dan atau kompetensi tertentu sehingga dapat digunakannya untuk
memecahkan masalah yang dijumpainya di dunia nyata. (Sunarto : 2008).
2) Belajar mandiri dipandang sebagai suatu sifat yang sudah ada pada
setiap orang dan situasi pembelajaran (Astuti :2009)
3) Belajar mandiri bukan berarti memisahkan diri dengan orang lain.
Dengan belajar mandiri, siswa dapat mentransfer hasil belajarnya yang berupa pengetahuan dan keterampilan ke dalam situasi yang lain. (Astuti : 2009)
Dari pendapat diatas diketahui bahwa belajar mandiri sangat bermanfaat. Belajar mandiri melatih siswa untuk mengurangi
ketergantungan terhadap guru atau tutorial, sehingga dalam belajar mandiri guru hanya menjadi fasilitator bukan sebagai instruktur yang selalu membimbing siswa dalam proses pembelajaran. Siswa lebih bisa mengerti
apa yang mereka pelajari karena siswa menemukan sendiri apa tujuan dari proses belajar yang diperoleh.
Dalam belajar mandiri materi harus disajikan secara khusus seperti
diungkap oleh Prawiradilaga (dalam musyawarahipa’s blog (2010),
beberapa syarat yang harus dipenuhi oleh materi ajar ini adalah:
2. Materi ajar dikembangkan setahap demi setahap, dikemas mengikuti alur desain pesan, seperti keseimbangan pesan verbal dan visual.
3. Materi ajar merupakan sistem pembelajaran lengkap, yaitu ada rumusan tujuan belajar, materi ajar, contoh/bukan contoh, evaluasi
penguasaan materi, petunjuk belajar dan rujukan bacaan.
4. Materi ajar dapat disampaikan kepada siswa melalui media cetak, atau komputerisasi seperti CBT, CD-ROM, atau program audio/video.
5. Materi ajar itu dikirim dengan jasa pos, atau menggunakan teknologi canggih dengan internet (situs tertentu) dan e-mail; atau dengan cara
lain yang dianggap mudah dan terjangkau oleh peserta didik.
6. Penyampaian materi ajar dapat pula disertai program tutorial, yang diselenggarakan berdasarkan jadwal dan lokasi tertentu atau sesuai
dengan kesepakatan bersama.
B. Media Pembelajaran
Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia media disebutkan sebagai perantara atau penghubung. Lebih lengkap dijelaskan oleh Santoso S. Hamidjojo dalam Latuheru (1988;11) mengartikan bahwa media adalah
semua bentuk perantara yang digunakan oleh manusia untuk menyampaikan atau menyebar ide, sehingga ide, pendapat, atau gagasan yang dikemukakan
atau disampaikan itu bisa sampai perantara.
Pengertian media pembelajaran tidak jauh berbeda dengan pengertian media dalam proses komunikasi. Briggs dalam Latuheru (1988:14)
menyampaikan isi atau materi pembelajaran seperti : buku, film, video dan sebagainya. Dari pendapat di atas disimpulkan bahwa media pembelajaran
adalah segala sesuatu yang dapat menyalurkan pesan, dapat merangsang fikiran, perasaan, dan kemauan peserta didik sehingga dapat mendorong
terciptanya proses belajar pada diri peserta didik.
Media pembelajaran memiliki beberapa nilai praktis seperti yang dukatakan Rahadi dalam Sirojuddin (2007), diantaranya:
1) Media pembelajaran dapat mengatasi perbedaan pengalaman siswa
2) Media pembelajaran dapat membangkitkan semangat belajar yang baru dan membangkitkan motivasi serta merangsang kegiatan siswa dalam belajar
3) Media pembelajaran dapat mempengaruhi abstraksi
4) Media pembelajaran dapat memperkenalkan, memperbaiki,
meningkatkan, dan memperjelas pengertian konsep dan fakta 5) Media dapat membantu mengatasi keterbatasan indera
manusia
6) Media dapat mengatasi kendala keterbatasan ruang dan waktu
Royana (2010:12-14) menggolongkan media ke dalam beberapa jenis yaitu:
a) Media Visual
Media visual adalah media yang hanya mengandalkan indera
penglihatan. Contohnya grafik, diagram, chart, bagan, poster, kartun, komik
b) Media Audiovisual
Media audiovisual adalah media yang mempunyai unsur suara dan unsur gambar. Contohnya, televisi, video, film atau demonstrasi
langsung.
Media audiovisual dapat dibedakan menjadi :
Audiovisual diam
Audiovisual diam adalah media yang menampilkan suara dan gambar diam (tidak bergerak).
Audiovisual gerak
Audiovisual gerak adalah media yang dapat menampilkan unsur
suara dan gambar yang bergerak. Contohnya, film suara dan video kaset.
c) Media yang Diproyeksikan
Media yang termasuk media yang diproyeksikan : Overhead transparansi (OHT)
OHT merupakan media yang paling banyak digunakan karena
relatif mudah dalam penyediaan materinya, karena hanya dibutuhkan bahan transparansi dan alat tulis.
Slide
Slide adalah media visual yang penggunaannya diproyeksikan ke layar lebar, dengan menggunakan slide gambar yang disampaikan
sangat realistis. Hal itu disebabkan materi atau bahan slide adalah film fotografi yang berbentuk transparan.
d) Media Video
Media video dapat digunakan sebagai alat bantu mengajar pada berbagai bidang studi. Media ini dapat memberikan gambaran kepada
peserta didik tentang dunia luar. e) Media Berbasis Komputer
Media komputer saat ini sudah sangat luas dimanfaatkan oleh
dunia pendidikan. Media komputer mampu menampilkan unsur audio-visual yang bermanfaat untuk meningkatkan minat belajar siswa, atau
C. Penggunaan Komputer dalam Pembelajaran a. Komputer Sebagai Media Pembelajaran
Pembelajaran tidak harus dengan ceramah dan berada di dalam kelas dengan hanya menulis, membaca bersentuhan dengan spidol dan
whiteboard. Proses seperti ini hanya akan membuat siswa bosan, mengantuk bahkan cenderung melakukan kegiatan lain di dalam kelas, sehingga pembelajaran menjadi tidak efektif lagi. Untuk mengatasi permasalahan ini
diperlukan adanya media dalam pembelajaran, salah satu media yang bisa digunakan adalah komputer. Komputer juga merupakan salah satu mediasi
dalam proses konstruktivis. Dengan menggunakan komputer sebagai media, siswa akan cenderung aktif, tidak hanya menerima transfer pengetahuan dari guru.
Putranti (2007) dalam artikelnya memaparkan tujuan penggunaan komputer dalam kegiatan pembelajaran adalah sebagai berikut:
Untuk Tujuan Kognitif
Komputer dapat mengajarkan konsep-konsep aturan, prinsip,
langkah-langkah, proses, dan kalkulasi yang kompleks. Komputer juga dapat menjelaskan konsep tersebut dengan sederhana dengan penggabungan
visual dan audio yang dianimasikan.
Untuk Tujuan Psikomotor
pesawat, simulasi perang dalam medan yang paling berat dan sebagainya.
Untuk Tujuan Afektif
Bila program didesain secara tepat dengan memberikan potongan klip
suara atau video yang isinya menggugah perasaan, pembelajaran sikap/afektif pun dapat dilakukan mengunakan media komputer.
Dengan digunakannya komputer sebagai media pembelajaran diharapkan tujuan pembelajaran akan tercapai, siswa akan lebih antusias dalam mengikuti pembelajaran karena siswa dapat mengoperasikan sendiri
media pembelajarannya jadi tidak hanya sekedar mendengarkan atau bahkan hanya mencatat yang membuat mereka bosan . akan tetapi dalam setiap
penggunaan media dalam pembelajaran tentunya ada suatu keuntungan dan kelemahan.
Adapun keuntungan pembelajaran menggunakan media komputer
seperti diungkapkan oleh Suparno (2007:110) antara lain :
1. Dapat dilakukan oleh siswa kapan pun termasuk di rumah sehingga
mereka dapat belajar lebih lama dan mengulangi bahan lebih lama tanpa terikat guru, jam, atau waktu.
2. Dapat menyajikan simulasi dari percobaan yang sulit dan alatnya mahal, dengan cara yang mudah dan murah bahkan dapat dilihat mahasiswa lebih jelas.
4. Di internet banyak sekali percobaan dengan simulasi yang dapat dijadikan tugas siswa untuk mengamati dan mempelajarinya.
5. Para ahli miskonsepsi menemukan bahwa simulasi komputer dapat membantu menghilangkan miskonsepsi siswa karena siswa dapat
membandingkan pemikirannya yang tidak benar dengan simulasi yang mereka lakukan dan ihat.
b. Peran komputer dalam pembelajaran fisika
Sudah menjadi pendapat umum bahwa fisika merupakan salah satu mata pelajaran yang kurang diminati. Salah satu penyebabnya adalah fisika
banyak mempunyai konsep yang bersifat abstrak sehingga sukar membayangkannya. Oleh sebab itu banyak siswa yang menganggap fisika adalah mata pelajaran yang membosankan dan menjadi momok dalam
pembelajaran.
Dengan bantuan komputer yang dapat mengubah konsep-konsep
yang semula abstrak menjadi suatu yang seolah nyata dengan ditampilkan menggunakan media komputer, siswa dapat menjadi lebih mengerti tentang fisika dan mengubah pendapat dari yang semula menganggap fisika itu
momok menjadi sebuah anggapan bahwa fisika itu asyik. Komputer dapat menampilkan pembelajaran fisika dengan berbagai macam animasi dan
Royana (2010:16), simulasi komputer mempunyai beberapa keuntungan, antara lain:
kemampuan dalam memberikan umpan balik yang segera.
bekerja dengan komputer sebagai sesuatu yang baru bagi siswa,
menimbulkan motivasi bagi mereka untuk lebih menekuni materi yang akan disajikan.
dengan adanya warna, musik, dan grafik yang di animasi dapat
menambahkan realisme, dan merangsang untuk mengadakan latihan-latihan, kerja, kegiatan laboratorium, simulasi, dan sebagainya.
Sedangkan kelemahan dalam penggunaan simulasi komputer adalah:
Sering ada masalah-masalah tumpang tindih. Sering perangkat lunak
(software) yang disiapkan untuk digunakan pada satu komputer tidak
cocok digunakan untuk komputer lain.
Komputer dapat memadamkan kreatifitas siswa.
Media ini cukup mahal dibandingkan dengan media lain.
Namun dalam penggunaanya pun ada beberapa hal yang harus diperhatikan, karena tidak semua materi dapat disampaikan hanya dengan menggunakan simulasi, ada beberapa materi yang akan lebih jelas jika siswa
langsung mempraktekannya dalam laboratorium dengan alat peraga. Sarana dan prasarana yang menunjang pada sekolah untuk terwujudnya
terpenting yang perlu dipertimbangkan dalam menggunakan program pembelajaran fisika berbasis komputer yaitu:
ketersediaan program pembelajaran untuk suatu topik tertentu.
Maksud dan tujuan. Penggunaan program pembelajaran akan efektif
bila sudah dirumuskan terlebih dahulu tujuan yang akan dicapai
kesiapan siswa untuk mengoperasikan program pembelajaran tersebut
dan
ketersediaan komputer pendukung.
Dalam penelitian yang dilakukan, peneliti memilih materi Gerak Lurus
Berubah Beraturan (GLBB) , dikarenakan:
a. Dengan simulasi komputer perbedaan antara Gerak Lurus Beraturan (GLB) dan Gerak Lurus Berubah Beraturan (GLBB) dapat dilihat lebih
jelas, sehingga seolah-olah siswa langsung menghadapi kepada kejadian nyata bukan hanya mengingat kejadian atau membayangkan.
b. Dengan simulasi komputer konsep GLBB akan lebih dimengerti siswa karena GLBB jarang ditemui dalam situasi kelas.
c. Dengan simulasi komputer siswa lebih bisa memahami GLBB karena hanya dengan ceramah siswa kurang bisa mengerti, apalagi konsep gerak yang begitu banyak.
c. Komputer untuk pembelajaran mandiri dalam fisika
Kualitas pembelajaran menjadi kunci dalam peningkatan sumber
yang terjadi secara insidental (incidental learning) (Barnawi:2011). Diungkap pula dalam artikel tersebut bahwa perkembangan model
pembelajaran dewasa ini sangat dipengaruhi oleh pemikiran Jean Piaget, John Dewey, Vygotsky, David Ausubel, dan Savin. Dari pemikiran
tokoh-tokoh tersebut muncul berbagai model pembelajaran seperti CTL (contextual teaching and learning, pembelajaran bermakna, pembelajaran sosial,pembelajaran berbasis masalah dan pembelajaran kooperatif). Dari
sekian banyak model pembelajaran tersebut, model computer assisted instruction paling intensif dikembangkan seiring dengan pesatnya program
aplikasi komputer. Model computer assisted instruction memiliki banyak keunggulan antara lain:
1) Siswa dapat belajar mandiri
2) Pembelajaran lebih terasa fun
3) Siswa langsung mengetahui skor yang diperoleh (authentic value)
4) Menambah motivasi belajar
5) Aplikasi dan pemanfaatan teknologi
6) Sangat potensial untuk pengembangan home schooling
7) Sebagai bentuk integrasi teknologi dan agama
Fisika merupakan sebuah mata pelajaran yang menurut sebagian
orang sulit, terlebih untuk belajar sendiri tanpa bantuan dari guru. Komputer merupakan salah satu alat yang dapat digunakan oleh siswa dalam belajar mandiri. Karena sifat komputer yang lebih personal/individu, dapat
langsung dari gurunya. Guru dalam hal ini (pembelajaran dengan komputer) dapat melaksanakan pembelajaran tanpa tatap muka secara langsung.
Dengan kata lain, dengan atau tanpa gurupun pembelajaran secara mandiri tetap bisa berlangsung.
Banyak hasil penelitian yang mengungkap bahwa komputer dapat digunakan dalam pembelajaran mandiri khususnya pelajaran sains. Seperti penelitian yang dilakukan oleh Raditya (2010), hasil penelitian
memperlihatkan bahwa kualitas media pembelajaran fisika berbantuan komputer (CAI) dinilai baik oleh para reviewer sehingga software tersebut
dapat dijadikan sebagai alternative sumber belajar mandiri. Demikian juga media ini dapat digunakan dalam kegiatan belajar mengajar di kelas.
Animasi yang menarik dapat membuat siswa untuk lebih memahami
sains yang dianggap sulit dan susah dibayangkan hanya dengan bantuan buku. Dengan komputer gambar dapat dibuat menjadi bergerak. Alat peraga
yang harganya mahal pun dapat dibuat menjadi lebih murah dengan bantuan komputer.
D. Kajian Materi Tentang Gerak Lurus
Kajian materi tentang gerak lurus ini merupakan materi dalam handout yang digunakan oleh siswa yang disusun oleh Drs. Triyanto selaku
guru IPA kelas VII SMP N 3 Wonosari.
1. Gerak Lurus Beraturan
a. Apakah Gerak Lurus Beraturan itu?
Gerak Lurus Beraturan (GLB) adalah gerak suatu benda yang menempuh lintasaan garis lurus di mana dalam setiap selang waktu yang sama, benda
menempuh jarak yang sama.
Ciri-ciri GLB:
Lintasan lurus
Kecepatan tetap (v konstan)
Percepatan nol (a=0)
b. Grafik Jarak terhadap Waktu untuk GLB s
t
2. Gerak Lurus Berubah Beraturan a. Percepatan (acceleration)
Perubahan kecepatan adalah selisih antara kecepatan akhir dengan kecepatan awal. Jika notasi percepatan adalah a (acceleration), perubahan
kecepatan adalah v, dan selang perubahan kecepatan adalah t, maka
dengan perubahan kecepatan (v) = kecepatan awal – kecepatan akhir.
Satuan percepatan dalam SI adalah meter/sekon2(m/s2) Percepatan dibagi menjadi dua:
Percepatan positif
Menghasilkan kecepatan yang semakin meningkat dan kecepatan akhir
lebih besar dari pada kecepatan awal.
Percepatan negatif (perlambatan)
Menghasilkan kecepatan yang makin berkurang dan kecepatan akhir lebih kecil dari pada kecepatan awal.
b. Pengertian Gerak Lurus Berubah Beraturan (GLBB)
Gerak Lurus Berubah Beraturan adalah gerak suatu benda yang menempuh lintasan garis lurus di mana kecepatannya selalu mengalami perubahan
yang sama setiap sekon. Ciri-ciri:
Kecepatan berubah (v berubah)
Percepatan konstan (a=konstan)
c. Grafik kecepatan terhadap waktu
v
t
3. Penerapan GLB dan GLBB dalam Kehidupan Sehari-hari
Dalam kehidupan sehari-hari, konsep GLB agak sulit dijumpai. Hal ini disebabkan pada gerak suatu benda, GLB hanya berlangsung pada waktu
tertentu, selanjutnya kecepatannya berubah tergantung pada situasi jalan yang dilalui.
GLBB banyak kita jumpai dalam kehidupan sehari-hari. Banda yang
jatuh, seperti penerjun yang meloncat dari pesawat, bergerak turun dalam kecepatan yang semakin bertambah. Jika pengaruh gaya gesekan diabaikan
kecepatan benda yang jatuh bebas akan bertambah 9,8 m/s2 untuk setiap detik benda itu bergerak turun. Gerak jatuh bebas merupakan gerak lurus
27 BAB III
METODOLOGI PENELITIAN
A. Jenis Penelitian
Jenis penelitian yang digunakan adalah kuantitatif, dimana penelitian ini menggunakan data berupa angka-angka yang dianalisis dengan stastitika, dan kualitatif, dimana penelitian menggunakan data wawancara.
B. Populasi dan Sampel
Populasi
Menurut Suharsimi dalam Setyawan (2008 : 51) populasi adalah keseluruhan subjek penelitian. Populasi dalam penelitian ini
adalah seluruh siswa kelas VII SMP N 3 Wonosari.
Sampel
Sampel adalah sebagian dari individu yang menjadi obyek penelitian (Mardalis dalam Safitri, 2010 : 37). Sampel yang
digunakan untuk penelitian ini adalah kelas VIIB SMP N 3 Wonosari dan kelas pembandingnya adalah kelas VIIC. Masing-masing kelas siswanya berjumlah 32 orang. Dasar pertimbangan
C. Tempat dan Waktu Penelitian
Tempat Penelitian : SMP Negeri 3 Wonosari
Waktu Penelitian : 14 – 20 Maret 2011
D. Desain penelitian
Penelitian dibagi menjadi beberapa tahap, karena keterbatasan waktu yang tidak memungkinkan penelitian dilakukan dalam waktu satu
pertemuan.
Adapun tahapan penelitian adalah sebagai berikut: 1. Pra penelitian
a. Pada tahap ini, peneliti menjelasakan kepada siswa tentang apa saja
yang akan dipelajari, dan menjelaskan langkah-langkah dalam belajar menggunakan simulasi komputer. Pra penelitian ini
dilakukan untuk melatih siswa cara menggunakan simulasi komputer, sehingga pada waktu penelitian siswa tidak mengalami
kesulitan dalam pengoperasian simulasi. Siswa berlatih menggunakan simulasi komputer secara mandiri dengan materi pengukuran sebagai contoh simulasi.
b. Setelah siswa bisa menggunakan simulasi komputer, peneliti memberikan soal pretest dengan bab GLB dan GLBB sesuai
2. Pelaksanaan penelitian
Pada tahapan ini dilakukan proses belajar mandiri berbantuan
komputer. Siswa belajar mandiri tanpa bantuan dari peneliti dengan menggunakan simulasi komputer dengan materi GLBB. Proses
pembelajaran dilakukan selama 2 x 40 menit. 3. Test
a. Setelah jangka waktu yang ditentukan habis, peneliti memberikan
soal posttest tentang materi yang bersangkutan yaitu GLB dan GLBB. Hal ini untuk mengetahui hasil belajar siswa setelah
melakukan belajar mandiri berbantuan komputer. Selanjutnya hasil belajar siswa akan dibandingkan hasilnya dengan siswa kelas kontrol yang belajar GLB dan GLBB dengan diajar oleh guru
seperti biasanya.
b. Siswa mengerjakan kuisioner minat untuk mengetahui sejauh mana
minat mereka terhadap pembelajaran mandiri berbantuan komputer.
c. Wawancara dilakukan kepada siswa dengan kriteria siswa sangat
berminat, cukup berminat,berminat dan kurang berminat.
Berikut adalah skema penelitian yang dilakukan oleh peneliti : Pret treatment post
Kelas eksperimen eks simulasi E’
Dari tabel diatas kelas eksperimen akan diberi treatmen yaitu belajar mandiri berbantuan komputer, sedangkan kelas kontrol akan
tetap belajar seperti biasa, yaitu dengan diajar oleh guru. Sebelum pembelajaran dimulai kedua kelas akan diberikan pretest. Pretest
bertujuan untuk mengetahui kemampuan awal siswa. Setelah selesai pembelajaran kedua kelas akan diberikan posttest untuk melihat hasil
akhir belajar siswa Apabila E’ > C’ maka akan didapatkan hasil yang
significan yang berarti bahwa belajar mandiri berbantuan komputer membawa hasil yang lebih baik daripada belajar dengan diajar oleh
guru. E. Treatmen
Dalam penelitian ini digunakan metode belajar mandiri berbantuan
komputer. Pembelajaran dengan bantuan komputer dilakukan di lab TI karena fasilitas komputer hanya berada di lab TI. Masing- masing siswa
berhadapan dengan komputer masing-masing. Siswa belajar mandiri mengenai bab GLBB dan GLB, menggunakan simulasi macromedia flash player. Penggunaan simulasi pada bab GLBB dan GLB sangatlah mudah,
dan siswa tidak merasa kesulitan. Siswa tinggal menekan tombol - tombol menu yang sudah tersedia, dan tombol anak panah untuk melanjutkan.
Gambar 3.1: Menu utama simulasi
Simulasi GLBB ini menggunakan macromedia flash player 8 yang
diunduh pada tanggal 2 September 2010 dalam http://www.e-dukasi.net/index.php?mod=script&cmd=Bahan%20Belajar/Materi%20Poko
k/view&id=454
Adapun penyususn simulasi ini adalah penulis oleh R. Tony Prasetyanto, pengkaji materi oleh Drs. Eko Siswono, pengkaji media oleh
Pada menu utama simulasi ( lihat pada gambar 3.1) terdapat beberapa menu lagi yaitu materi, simulasi dan test. Pada materi terdapat
empat menu yaitu pengertian, percepatan, analisa grafik, contoh GLBB. Pada menu percepatan terdapat menu perlambatan, persamaan – persamaan
GLBB, dan contoh soal. Pada menu contoh GLBB terdapat menu gerak jatuh bebas, gerak vertikal ke atas dan contoh soal. Ada juga tombol panah di sudut kanan bawah untuk melanjutkan ke halaman selanjutnya.
Diharapkan dengan adanya beberapa menu yang dengan mudah dapat ditekan dengan tombol klik untuk memilih menu dan melanjutkan ke
halaman selanjutnya siswa dapat lebih mudah belajar menggunakan simulasi tampa mengalami kesulitan, dan dapat langsung memilih menu mana yang siswa mau, dan mengembalikan ke menu awal sesuai dengan
materi yang siswa inginkan.
Pada menu pengertian (lihat Gambar 3.2) dijelaskan tentang pengertian dari GLBB. Untuk memperjelas pengertian dari GLBB juga
terdapat animasi mobil yang berjalan, sehingga diharapkan siswa dapat lebih mudah memahami pengertian dari GLBB tanpa mengalami kesulitan
untuk membayangkan kejadian nyatanya. Pada menu percepatan ini juga terdapat grafik untuk percepatan (lihat gambar 3.3). Grafik dibuat dengan simulasi yang bergerak sehingga siswa dapat lebih mudah memahami grafik
dari percepatan, sehingga bisa membedakan mana grafik dari percepatan dan perlambatan. Berikut dalah contoh simulasi grafik dari GLB dan GLBB
Gambar 3.4 : Perlambatan
Pada menu perlambatan (lihat gambar 3.4) terdapat pengertian dari perlambatan yang diperjelas dengan animasi mobil yang dapat digerakkan.
Pada menu ini juga terdapat grafik dari perlambatan (lihat gambar 3.5), sehingga diharapkan siswa lebih mudah mengerti dan mudah membedakan antara perlambatan dan percepatan. Berikut adalah contoh grafik dari
Gambar 3.5 : Grafik perlambatan
Menu persamaan GLBB berisi tentang persamaan – persamaan matematis yang digunakan pada materi GLBB (lihat gambar 3.6).
Diharapkan dengan adanya menu tersebut siswa dapat dengan mudah memahami persamaan yang digunakan untuk perhitungan dalam GLBB
setelah melihat pada materi sebelumnya.
Gambar 3.7: Analisa grafik
Pada menu tersebut ( lihat gambar 3.7) terdapat hasil rekaman dari
ticker timer untuk GLB dan GLBB. Dengan adanya menu ini siswa tidak perlu dengan susah melakukan percobaan menggunakan ticker timer, namun sudah ada hasil rekaman dari ticker timer. Dalam menu berikut juga terdapat
mobil yang bergerak, dan siswa dapat memilih percepatan dari grafik yang diinginkan dan dapat berlatih membuat grafik sendiri. Berikut
contoh dari simulasi:
Gambar 3.9 :Contoh soal
Pada menu ini (lihat gambar 3.9 ; 3.10) terdapat beberapa contoh soal beserta jawaban yang sudah ada. Sehingga diharapkan siswa dapat
menerapkan persamaan matematis pada GLBB dalam perhitungan matematis. Siswa juga dapat mencoba mengerjakan soal dan memcocokkna
dengan jawaban yang sudah ada.
Selain menggunakan bantuan komputer untuk belajar mandiri, siswa juga menggunakan bantuan buku pegangan yang diberikan sekolah untuk
belajar mandiri, sehingga siswa akan lebih mudah menemukan dan menangkap konsep dari materi yang dipelajari.
F. Peran Peneliti
Dalam penelitian peneliti hanya berperan sebagai fasilitator untuk kelas eksperimen. Peneliti hanya membantu siswa pada tahap pra penelitian,
mengajarkan siswa dalam penggunaan simulasi meggunakan macromedia flash player, karena siswa sebelumnya belum pernah mengguanakan
simulasi seperti simulasi yang akan digunakan untuk belajar mandiri. Namun pada saat penelitian peneliti tidak membantu siswa, baik dalam belajar mandiri untuk memahami materi ataupun dalam pengerjaan soal.
G. Instrument Penelitian
Instrument penelitian yang digunakan adalah :
a. Soal-soal
Soal yang digunakan oleh peneliti baik soal pretest maupun
soal posttest mengacu pada materi yang diberikan. Soal kemudian dikonsultasikan oleh guru dan soal yang menggunakan perhitungan mendapat pembetulan dari guru dikarenakan tingkat kesulitan
terlalu tinggi, sehingga nantinya siswa tidak kesulitan dalam pengerjaan soal. Hal ini termasuk dalam validitas ahli, dimana guru
menjadi pedoman dalam pembuatan soal.
Table 3.1 : Distribusi soal pretest dan posttest
No Materi
1,2,4,6,8,9 GLB
3,5,7,10 GLBB
Adapun pemberian soal pretest dan posttest bertujuan untuk: 1.Peneliti menggunakan soal pretest untuk melihat
kemampuan awal siswa, sehingga dapat diketahui kemampuan awal pada setiap kelas sama atau berbeda.
pembanding antara siswa yang belajar mandiri dengan berbantuan komputer dan siswa yang belajar dengan diajar
oleh guru bidang studi tanpa menggunakan metode simulasi komputer.
b. Lembar kuisioner pengamatan siswa
Kuisioner ini diberikan dengan tujuan untuk mengetahui apakah pembelajaran mandiri dengan bantuan komputer dapat
membuat siswa lebih positif terhadap pembelajaran fisika. Untuk distribusi soal kuisioner sikap menurut indikator dapat dilihat
dalam table.
Tabel 3.2 : Distribusi Soal Kuesioner Sikap Menurut Indikator
No Komponen Indikator
1,2,8,10 Suasana kelas Perasaan senang dan keasyikan siswa dalam belajar
9 Ketertarikan Ketertarikan siswa
terhadap pembelajaran
3,11 Pemahaman Pemahaman siswa
No Komponen Indikator
5 Keseriusan Keseriusan siswa
saat pembelajaran
7,4,12,13 Persepsi siswa Pendapat siswa tentang
pembelajaran
c. Wawancara
Peneliti melakukan wawancara dengan beberapa siswa
untuk mengetahui pendapat dari perwakilan siswa. Peneliti tidak melakukan wawancara kepada semua siswa dikarenakan batas waktu yang diberikan oleh sekolah. Siswa yang diwawancarai
dipilih berdasarkan nilai kuisioner minat, dengan kriteria : a) Siswa yang sangat berminat
b) Siswa yang cukup berminat c) Siswa yang berminat
d) Siswa yang kurang berminat
H. Metode Pengumpulan Data a) Pretest
pula, yaitu belajar mandiri berbantuan komputer dan diajar oleh guru seperti biasa.
b) Posttest
Posttest digunakan untuk melihat hasil akhir belajar siswa yang
nantinya akan dibandingkan dengan kelas kontrol. c) Kuisisoner minat
Kuisioner minat diberikan setelah siswa selesai mengerjakan posstest
untuk melihat seberapa besar minat siswa dalam belajar mandiri berbantuan komputer.
d) Wawancara
Wawancara dilakukan hanya kepada beberapa perwakilan siswa. Wawancara dilakukan setelah peneliti mengetahui minat siswa.
Sampel siswa yang diwawancara dilihat dari hasil kuisioner minat, yaitu siswa yang tergolong sangat berminat, cukup berminat, berminat
dan siswa yang kurang berminat. I. Metode Analisis Data
1.Perbandingan hasil belajar siswa yang belajar dengan diajar oleh guru
dan belajar mandiri berbantuan komputer
Setelah siswa melakukan pembelajaran dengan metode
Data hasil penelitian akan dianalisis dengan langkah-langkah sebagai berikut :
A. Menganalisis jawaban pretest dan posttest
Hasil pretest akan digunakan untuk melihat
kemampuan awal siswa dari kelas kontrol dan kelas eksperimen dengan berbantuan komputer untuk belajar mandiri. Dari hasil pretest akan diketahui kemampuan
awal siswa dari kedua kelas apakah sama atau berbeda. Sedangkan hasil posttest digunakan untuk melihat hasil
belajar siswa setelah diberi treatmen yang nantinya akan dibandingkan dengan kelas kontrol. Jawaban setiap soal dinyatakan dalam skor yang telah ditentukan terlebih
dahulu. Soal pretest sama dengan soal yang digunakan untuk posttest. Jumlah skor maksimum untuk pretest
maupun posttest adalah 30 yang terdiri dari 10 soal uraian. Skor maksimal soal satu dengan soal yang lain tidak sama (tergantung tingkat kesulitan soal).
Setelah didapatkan skor setiap siswa kemudian dicari persentase dengan cara membagi skor yang dicapai
dengan skor maksimum kemudian dikalikan 100%
%
diklasifikasikan dalam skala klasifikasi seperti dibawah ini sangat baik, baik, cukup, kurang, dan sangat kurang.
Adapun penentuan interval skor dan skala klasifikasi sebagai berikut :
a) Menentukan passing skor
Passing skor adalah skor terendah untuk nilai cukup. Ditetapkan passing skor untuk nilai cukup adalah
65%. Apabila ditetapkan lebar untuk setiap klasifikasi
sama maka setiap klasifikasi menempati interval skor yang lebarnya = 36 : 3 = 12. Jadi klasifikasi
Untuk kelompok bawah ditetapkan skor minimal
yang menempati klasifikasi kurang adalah skor pada interval 50% - 64% dan skor yang
menempati klasifikasi sangat kurang adalah 0 – 49%.
Klasifikasi dan interval skor tersebut dapat dilihat pada tabel:
Tabel 3.3: Klasifikasi dan interval skor
Interval Skor (%) Klasifikasi 0 – 49 Sangat Kurang
50 – 64 Kurang
65 – 76 Cukup
77 – 88 Baik
89 – 100 Sangat Baik
B. Menganalisis hasil belajar
Hasil pretest dan posttest selanjutnya akan dianalisis
menggunakan T-Test. T-Test ini digunakan untuk mengetes dua kelompok yang independent, tidak saling tergantung. Dua kelompok independent merupakan dua kelompok yang
Dari hasil analisis, kita dapat menyimpulkan :
Apabila p = 0 .000 < α = 0.05 maka signifikan
Apabila p = 0 .000 > α = 0.05 maka tidak signifikan
Sedangkan untuk melihat adanya peningkatan hasil
belajar siswa, akan dianalisis menggunakan T-test dependent. 2.Minat siswa terhadap belajar mandiri berbantuan komputer
Untuk mengetahui minat siswa terhadap pembelajaran dengan
simulasi komputer pada pokok bahasan GLB dan GLBB, maka peneliti memberikan kuesioner minat setelah post test.
Data skor pada kuesioner adalah sebagai berikut: 1. Untuk jawaban A diberi skor 4
2. Untuk jawaban B diberi skor 3
3. Untuk jawaban C diberi skor 2 4. Untuk jawaban D diberi skor 1
5. Untuk jawaban E diberi skor 0 Kemudian skor akan dihitung dengan cara
%
. Setelah dihitung persentase minat siswa, kemudian persentase yang diperoleh siswa tersebut diklasifikasikan dalam skala klasifikasi seperti dibawah ini sangat berminat, cukup berminat,
a. Menentukan passing skor
Passing skor adalah skor terendah untuk nilai cukup.
Ditetapkan passing skor untuk nilai cukup adalah 50%. b. Menentukan aturan konversi
Untuk kelompok atas
Untuk kelompok atas banyaknya klasifikasi ada 3 yaitu cukup, berminat, dan sangat berminat. Lebar
interval untuk kelompok atas adalah 100 – 49 = 51. Apabila ditetapkan lebar untuk setiap klasifikasi
sama maka setiap klasifikasi menempati interval skor yang lebarnya = 51 : 3 = 17. Jadi klasifikasi cukup menempati interval 50% - 66%, klasifikasi
berminat menempati interval 67% - 83% , dan klasifikasi sangat berminat menempati interval 84%
- 100%.
Untuk kelompok bawah
Skor yang menempati klasifikasi kurang adalah skor
Klasifikasi dan interval skor tersebut dapat dilihat pada tabel:
Tabel 3.4: Klasifikasi dan interval skor
minat siswa
Interval Skor (%) Klasifikasi
0 – 32 Todak berminat
33– 49 Kurang berminat
50 – 66 Cukup berminat
67 – 83 Berminat
84 – 100 Sangat Berminat
3.Pendapat siswa terhadap belajar mandiri berbantuan komputer
Untuk mengetahui pendapat siswa terhadap belajar mandiri
berbantuan komputer, peneliti mengajukan 7 butir pertanyaan kepada beberapa siswa. Wawancara dilakukan hanya dengan beberapa siswa dengan kriteria siwa yang nilai kuisioner minatnya sangat berminat,
Hasil wawancara akan digunakan untuk mendukung data
51 BAB IV
DATA, ANALISIS DATA, DAN PEMBAHASAN
A. Data dan Analisis Data
Pada penelitian ini peneliti mengambil beberapa data yaitu : pretest untuk mengetahui pengetahuan awal siswa, posttest untuk membandingkan antara kelas eksperimen dan kelas kontrol,dan sebaran
minat siswa serta wawancara. 1. Keadaan Awal
a) Data hasil pretest siswa terlampir
b) Untuk mengetahui tingkat kemampuan awal siswa, dalam penelitian digunakan pretest baik dalam kelas control maupaun
kelas eksperimen. Setelah diperoleh data pretest, diharapkan kemampuan awal antara kedua kelas sama sebelum dilakukan
treatmen, untuk itu dilakukan pengujian data pretest yang akan dianalisis menggunakan SPSS T-Test independent.
Berikut adalah data pretest kelas yang diajar oleh guru dan pretest
Tabel 4.1: Data statistik untuk pretest
Group Statistics
Kode N Mean
Std.
Deviation
Std. Error
Mean
Skor 1 32 5.44 2.862 .506
2 32 5.38 2.697 .477
Kode 1 merupakan kelas yang diajar oleh guru seperti biasa,
sedangkan kode 2 merupakan kelas yang melakukan pembelajaran mendiri dengan simulasi komputer.Pada tabel means dapat dilihat nilai means untuk
kelas yang diajar oleh guru adalah 5.44 dengan standar deviasi 2.862 sedangkan untuk kelas yang melakukan pembelajaran mandiri adalah 5.38
Tabel 4.2: T-Test independent untuk pretest
Independent Samples Test
Levene's Test
for Equality of
Variances t-test for Equality of Means
F Sig. T Df belajar mandiri dengan simulasi komputer dengan kelas yang diajar
2. Keadaan Akhir
a) Data hasil posttest siswa terlampir
b) Untuk mengetahui hasil belajar akhir siswa digunakan posttest. Hasil posttest akan dibandingkan antara kedua kelas.
Setelah diperoleh data posttest, kemudian hasil posttest akan dianalisis menggunakan SPSS T-Test independent. Uji T ini digunakan untuk membandingkan hasil belajar siswa antara kelas
kontrol dan kelas eksperiment. Sedangkan untuk melihat adanya peningkatan hasil belajar siswa untuk kedua kelas akan dianalisis
menggunakan spss T-Test dependent dengan membandingakan hasil pretest dan posttest baik kelas kontrol maupun kelas eksperiment.
Adapun hasil analisis menggunakan SPSS ditunjukkan dalam tabel berikut :
Tabel 4.3 : Data statistik untuk posttest
Group Statistics
Kode N Mean
Std.
Deviation
Std. Error
Mean
Skor 1 32 19.59 4.592 .812
2 32 22.94 3.388 .599
Pada tabel T-Test independent untuk hasil posttest siswa dapat diketahui means perbedaannya agak mencolok. Untuk kelas dengan diajar oleh guru adalah 19.59 dengan standart deviasi 4.592,
sedangkan untuk kelas eksperiment adalah 22.94 dengan standar deviasi 3.388. dari perbedaan means tersebut diketahui bahwa
pembelajaran mandiri dengan simulasi komputer memberikan hasil belajar yang lebih baik daripada pembelajaran yang dilakukan oleh
Tabel 4.4 : T-Test independent untuk posttest
Independent Samples Test
Levene's Test for Equality of
Variances t-test for Equality of Means
F Sig. t Df
Pada tabel T-Test independent dapat dilihat bahwa t = -3.314 , p : .002 < α =.05; maka significan, sehingga dapat diambil kesimpulan
bahwa ada perbedaan antara kelas yang diajar oleh guru dan kelas yang belajar mandiri dengan simulasi komputer.
Untuk melihat adanya peningkatan hasil belajar siswa, baik kelas eksperien maupun kelas kontrol, digunakan T-Test dependent. Berikut adalah tabel T-Test untuk melihat peningkatan hasil belajar
Dari data pada tabel T-Test dependen di atas diketahui bahwa t = -24.762, p =.000 < α = .05 ; maka significan. Sehingga dapat
disimpulkan bahwa nilai posttest lebih baik daripada nilai pretest.
Tabel 4.6 : Data pretest dan posttest kelas eksperimen
Paired Samples Statistics
Mean N
Std.
Deviation
Std. Error
Mean
Pair 1 Pretest 5.38 32 2.697 .477
Posttest 22.94 32 3.388 .599
Paired Samples Correlations
N
Correlatio
n Sig.
Pair 1 pretest &
posttest
Paired Samples Test
Dari data pada tabel T-Test dependen di atas diketahui bahwa t= -30.182, p =.000 < α = .05 ; maka significan. Sehingga dapat
disimpulkan bahwa nilai posttest lebih baik daripada nilai pretest 3. Minat siswa
Tabel 4.7: Data hasil kuisioner minat siswa
No Kode Siswa Total skor Persentase Klasifikasi
1. 01 37 71.1 Berminat
2. 02 41 78.8 Berminat
3. 03 39 75 Berminat
4. 04 43 82 Berminat
No Kode Siswa Total skor Persentase Klasifikasi
6. 06 52 100 Sangat berminat
7. 07 37 71.1 Berminat
8. 08 31 59.6 Cukup
9. 09 43 82 Berminat
10. 10 41 78.8 Berminat
11. 11 38 73.07 Berminat
12. 12 39 75 Berminat
13. 13 39 75 Berminat
14. 14 39 75 Berminat
15. 15 24 46.1 Kurang berminat
16. 16 32 61.5 Cukup
17. 17 52 100 Sangat berminat
18. 18 40 76.9 Berminat
19. 19 39 75 Berminat
20. 20 38 73.07 Berminat
21. 21 39 75 Berminat
22. 22 43 82.6 Berminat
23. 23 34 65.3 Cukup
24. 24 34 65.3 Cukup
25. 25 39 75 Berminat
No Kode Siswa Total skor Persentase Klasifikasi
27. 27 39 75 Berminat
28. 28 24 46.1 Kurang berminat
29. 29 39 75 Berminat
30. 30 52 100 Sangat berminat
31. 31 39 75 Berminat
32. 32 39 75 Berminat
Setelah diperoleh data dari kuisioner minat, maka minat siswa yang belajar mandiri dengan simulasi komputer, dapat digolongkan
dalam klasifikasi minat siswa. Berikut adalah tabel dari klasifikasi minat siswa
B. Pembahasan
1) Kemampuan awal siswa
Pretest digunakan untuk melihat persamaan kemampuan awal siswa antara kelas kontrol yang diajar oleh guru dan kelas eksperimen
yang belajar mandiri dengan simulasi komputer. Pada saat pemberian pretest kedua kelas sama-sama belum pernah mendapatkan materi yang akan diajarkan, yaitu GLB dan GLBB. Hasil pretest siswa
dihitung menggunakan spss didapatkan hasil t = .090 , p : .929 > α =.05; maka tidak significan, dari hasil tersebut maka dapat diketahui
bahwa kemampuan awal siswa antara kedua kelas sama. Semua nilai siswa saat pretest dibawah standart yang ditetapkan guru yaitu 65.
2) Perbandingan Hasil Belajar Siswa Antara Kelas Kontrol dan Kelas Eksperimen
Dari hasil perhitungan T-Test independent menggunakan SPSS didapatkan hasil t = -3.314 , p : .002 < α =.05; maka significan sehingga dapat disimpulkan bahwa ada perbedaan antara kelas yang
diajar oleh guru dan kelas yang belajar mandiri dengan simulasi komputer. Kelas eksperimen yang belajar mandiri dengan simulasi
komputer mempunyai hasil belajar yang lebih baik daripada kelas kontrol, hal ini dapat diketahui dari rata-rata kelas eksperimen lebih tinggi yaitu 22.94 dengan presentase 76.46% daripada kelas kontrol
mengalami peningkatan yang lebih tinggi dari presentase rata-rata 17.93% menjadi 76.46%, sedangkan untuk kelas kontrol dari 18.13%
menjadi 65.3%. Pada kelas kontrol ada 17 siswa yang nilainya berada dibawah kkm, yaitu 65 sesuai dengan kkm yang diterapkan oleh guru.
Sedangkan pada kelas eksperimen hanya terdapat 4 siswa yang nilainya di bawah kkm. 1 siswa tergolong sangat berminat, 2 siswa tergolong berminat, dan 1 siswa tergolong cukup.
Adanya perbedaan hasil belajar antara kelas eksperiman dan kelas kontrol kemungkinan dikarenakan adanya perbedaan proses
belajar mengajar (PBM) antara dua kelas. Adapun perbedaan kedua model pembelajaran diantara kedua kelas dipengaruhi oleh beberapa faktor, yaitu:
a) Kedaan siswa di kelas kontrol:
Siswa yang belajar di kelas kontrol cenderung bosan
dengan metode pembelajaran guru, disini guru menggunakan metode ceramah dan latihan soal, sehingga menimbulkan kecenderngan ramai di kelas, hanya sebagian
siswa yang betul-betul memperhatikan penjelasan guru. Konsentrasi siswa pun tidak penuh pada pelajaran yang