• Tidak ada hasil yang ditemukan

Pengembangan Mikropon Optik Sebagai Alternatif Dalam Komunikasi Serat Optik

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "Pengembangan Mikropon Optik Sebagai Alternatif Dalam Komunikasi Serat Optik"

Copied!
14
0
0

Teks penuh

(1)

Oleh: Herman Dwi Surjono

Abstrak

Jaringan komunikasi serat optik yang sudah diguna-kan di beberapa negara mempunyai berbagai keuntungan dibanding dengan saluran kawat. Meskipun terdapat pula kerugiannya, namun hal itu disebabkan karena keterbata-san teknologi pada saat ini. Dengan pesatnya kemajuan teknologi, lambat laun kerugian tersebut akan dapat teratasi.

Dalam rangka mengoptimalkan sistem komunikasi serat optik terutama untuk sinyal audio, maka perlu dikembangkan mikropon optik. Mikropon optik merupakan sensor akustik yang dapat mengubah getaran akustik men-jadi variasi gelombang cahaya. Untuk itu perlu dilaku-kan proses pemodulasian intensitas energi cahaya dengan menggunakan “moving gate” dan membran. Dari prototipe mikropon optik diperoleh bahwa sensitivitasnya lebih baik dari pada mikropon konvensional.

Pendahuluan

Serat optik di beberapa negara maju sudah mulai menggantikan kedudukan kawat dalam sistem komunikasi. Hal ini disebabkan karena serat optik memberikan be-berapa keuntungan dibanding dengan saluran kawat. Ke-untungan tersebut antara lain: mampu memberikan lebar band yang sangat lebar dengan kecepatan transmisi data hingga 1 Gbit/s, bebas dari gangguan medan elektromak-netik dan gelombang radio, tidak terjadi hubungan

(2)

ke-listrikan antara ujung-ujung saluran, sangat sulit menyadap informasi sepanjang saluran, dan lebih ringan (Roddy, 1984; Tomasi, 1992).

Disamping keuntungan-keuntungan tersebut, pe-makaian serat optik dalam sistem komunikasi mempunyai beberapa kerugian, yakni antara lain biaya lebih mahal, lebih sulit melakukan penyambungan, perbaikan, dan pen-saklaran. Kerugian-kerugian tersebut lambat laun akan dapat teratasi dengan semakin pesatnya kemajuan teknologi di bidang serat optik. Dengan demikian pe-manfaatan serat optik dalam komunikasi di masa men-datang akan lebih luas lagi terutama di negara-negara berkembang dimana masalah biaya menjadi pertimbangan utama.

Sejauh ini serat optik banyak dimanfaatkan untuk komunikasi data dalam jaringan kabel serat optik bawah tanah dan bawah laut, karena kemampuannya dalam men-trasmisikan data dalam jumlah besar. Disamping itu karena kekebalannya terhadap gangguan derau dan ukuran-nya yang kecil dan ringan, serat optik juga mulai digu-nakan untuk saluran komunikasi di dalam pesawat udara dan kapal laut (Schweber, 1996).

Pemakaian saluran serat optik dalam pesawat udara dan kapal laut tersebut sepenuhnya menggantikan posisi saluran kawat tembaga yang selama ini digunakan. Untuk

(3)

memperoleh sistem komunikasi yang optimal, maka pe-makaian serat optik perlu didukung oleh komponen lain yang relevan dan setaraf dengan serat optik. Salah satu komponen penting dalam komunikasi sinyal audio adalah mikropon. Mikropon merupakan transduser yang digunakan untuk mengubah variabel akustik menjadi vari-abel elektrik.

Untuk menunjang komunikasi melalui serat optik, maka dikembangkan suatu mikropon khusus yang kemudian disebut dengan mikropon optik. Mikropon optik ini di-harapkan mempunyai unjuk kerja yang lebih baik dari pada mikropon biasa dalam sistem komunikasi serat op-tik, sehingga diperoleh kualitas komunikasi yang opti-mal.

Prinsip Mikropon Optik

Meskipun dalam dua puluh tahun terakhir ini teknologi sensor optik pada umumnya sudah mencapai pada kemajuan yang menggembirakan, namun pengembangan mikro-pon optik belum dilakukan secara proposional. Akan tetapi berbagai penelitian menunjukkan bahwa teknologi mikropon optik juga mempunyai prospek yang baik (Buchholz, 1995; Holmes, 1995; Ciamberlini, 1995; Buni-movlch, 1995; Ning, 1995; Othonos, 1995; Chi Wu, 1995).

(4)

Secara prinsip mikropon optik merupakan sensor akustik yang berfungsi mengubah getaran akustik menjadi variasi gelombang cahaya. Getaran akustik yang diter-ima tidak secara langsung diubah menjadi gelombang ca-haya, melainkan melalui proses pemodulasian terlebih dahulu. Energi cahaya tetap dibangkitkan oleh suatu sumber cahaya tersendiri, sedangkan getaran akustik me-rupakan sinyal informasi yang akan memodulasinya. Proses untuk memperoleh gelombang cahaya termodulasi tersebut tidak melalui perantara kelistrikan, sehingga keluaran dari mikropon optik langsung bisa disalurkan ke jaringan serat optik.

Menurut cara pemodulasiannya, mikropon optik dapat dikategorikan menjadi tiga, yaitu: modulasi intensitas, modulasi polarisasi, dan modulasi phasa. Hal ini karena ketiga karakteristik cahaya tersebutlah yang da-pat divariasi. Meskipun demikian semua proses pemodu-lasian tersebut harus diturunkan menjadi variasi inten-sitas, karena hanya dengan variasi intensitas inilah dioda photo dapat merespon secara langsung (Nykolai, 1997).

Diantara ketiga jenis mikropon optik tersebut, jenis modulasi intensitas lebih banyak dikembangkan karena lebih sederhana dibanding dua jenis yang lain. Dengan alasan yang sama, maka pembahasan pada tulisan

(5)

ini akan dibatasi pada mikropon optik jenis modulasi intensitas tersebut. Modulasi intensitas dalam mikro-pon optik menyiratkan adanya penghilangan secara selek-tif bagian energi cahaya dari jalur optik.

Mikropon Optik “Moving Gate” dan Membran

Gambar 1 menunjukkan metode pemodulasian inten-sitas dengan memanfaatkan “moving gate”. “Moving gate” adalah suatu celah (lubang) cahaya yang dapat bergerak naik turun sesuai dengan variasi intensitas suara. Ge-taran akustik diterima oleh suatu balok yang secara mekanik dihubungkan ke “moving gate” sedemikian rupa sehingga menghalangi jalannya berkas cahaya dalam serat optik. Gerakan “moving gate” naik dan turun yang dise-babkan oleh variasi getaran akustik tersebut mem-pengaruhi perbandingan cahaya yang dilewatkan dengan cahaya yang dipantulkan kembali (diserap). Dengan demikian intensitas cahaya yang diteruskan (keluaran) akan sebanding dengan kekuatan getaran akustik yang diterima.

Sketsa yang ditunjukkan pada gambar 1 tersebut bu-kan merupabu-kan struktur yang sesungguhnya, melainbu-kan hanya sketsa untuk menunjukkan cara kerja mikropon op-tik. Mikropon optik membutuhkan sumber cahaya yang be-rupa LED atau dioda laser yang menjadi satu kesatuan

(6)

dengan mikropon optik. Demikian pula penerimaan pada ujung serat optik tentu saja membutuhkan dioda photo. Sejauh ini mikropon optik jenis “moving gate” telah banyak digunakan dalam hidrophone.

Kelemahan utama dari metode pemodulasian inten-sitas dengan “moving gate” tersebut adalah massa dari balok dan “moving gate”nya yang relatif berat, sehingga sensitivitas terhadap getaran akustik kurang baik. Me-tode lain yang lebih banyak dilakukan penelitian adalah dengan menggunakan membran (selaput tipis) seperti di-tunjukkan pada gambar 2.

Berkas cahaya masuk menuju serat optik mengenai suatu membran (selaput tipis) dan cahaya dipantulkan oleh membran tersebut kemudian diterima oleh serat op-tik lain (keluaran). Apabila pada sisi membran yang lain diberikan getaran akustik, maka posisi dan keleng-kungan membran akan bervariasi. Dengan demikian ber-kas cahaya pantul yang menuju serat optik keluaran akan bervariasi intensitasnya, karena ada sebagian cahaya yang tidak bisa ditangkap oleh serat optik tersebut. Posisi kedua serat optik dan membran diatur sedemikian rupa sehingga pada saat tidak ada getaran akustik semua cahaya pantul diterima oleh serat optik keluaran.

Variasi lain yang sudah dieksperimenkan oleh para ahli tentang mikropon optik membran ini adalah dengan

(7)

menggunakan beberapa buah serat optik baik untuk cahaya datang maupun pantul serta diberikan lensa untuk memfo-kuskan cahaya sebelum mengenai membran (Nykolai, 1997).

Kelebihan mikropon optik jenis membran dibanding jenis “moving gate” adalah sensitivitasnya yang lebih tinggi. Hal ini karena bahan yang dipakai untuk bran lebih ringan. Bahkan sensitivitas mikropon mem-bran dapat ditingkatkan lagi dengan cara menggabungkan beberapa buah serat optik sekaligus baik untuk cahaya datang maupun pantul.

Spesifikasi Mikropon Optik

Spesifikasi penting dari suatu mikropon optik antara lain adalah sensitivitas, respon frekuensi, dan getaran akustik minimum dan maksimum yang bisa diterima (jangkah dinamik). Diantara ketiga parameter tersebut sensitivitas merupakan parameter yang paling penting, sehingga lebih banyak porsi kajiannya.

Pada mikropon konvensional proses konversi dari getaran suara menjadi sinyal listrik atau yang disebut dengan proses transduksi terjadi dalam dua tahap, yaitu: (1) dari tekanan akustik menjadi pergeseran mem-bran, dan (2) dari pergeseran membran menjadi sinyal listrik. Tahap pertama dari proses transduksi tersebut berkaitan dengan karakteristik mekanis dari mikropon

(8)

dan hal ini mempengaruhi tanggapan frekuensi dan sensi-tivitas. Tahap kedua berkaitan dengan jenis-jenis mik-ropon konvensional seperti dinamik, kondenser, pi-esoelektrik, dan karbon.

Pada mikropon optik tahapan proses tersebut lebih rumit, yakni paling tidak meliputi tiga tahap, yaitu: (1) dari tekanan akustik menjadi pergeseran membran, (2) dari pergeseran membran menjadi variasi intensitas cahaya, dan (3) dari variasi intensitas cahaya menjadi sinyal listrik. Bahkan pada jenis transduser modulasi phasa, tahap 2 masih dibagi menjadi dua lagi, yaitu: (2a) dari pergeseran membran menjadi pergeseran phasa, dan (2b) dari pergeseran phasa menjadi variasi inten-sitas cahaya.

Sebagaimana pada mikropon konvensional, tahap per-tama dari transduser ini juga berkaitan dengan sifat-sifat mekanis. Tahap kedua sebagai transduksi mekanis optis dan ketiga sebagai konversi opto-elektrik. Tahap ketiga biasanya tidak dianggap sebagai bagian dari mik-ropon optik, karena dilakukan ditempat terpisah. De-ngan demikian secara keseluruhan perjalanan sinyal da-lam mikropon optik melewati sampai lima tahapan, yakni: akustik (tekanan), mekanis (pergeseran), phasa , optis (intensitas), dan elektris (tegangan).

(9)

Sensitivitas mikropon optik dipengaruhi oleh semua tahapan dalam proses transduksi tersebut. Dalam metode modulasi intensitas terdapat tiga macam sensitivitas yang ditunjukkan pada tabel 1. Konsep sensitivitas dalam tabel tersebut masih berupa usulan berdasarkan beberapa hasil penelitian yang sudah dilakukan oleh para ahli (Nykolai, 1997).

Tabel 1. Sensitivitas mikropon optik

Transduksi Nama (diusulkan)

Dimensi Satuan Simbol

Akustik => mekanis Sensitivitas Pergeseran

panjang/tekanan m/Pa Sam

Mekanis => optis Sensitivitas Pensaklaran

1/panjang m-1 Smo

Optis => elektris Sensitivitas Penerimaan

tegangan mV Soe

Prototipe mikropon optik yang sudah dikembangkan ternyata mempunyai sensitivitas yang jauh lebih baik dari pada mikropon konvensional. Disamping itu keun-tungan lainnya adalah diperoleh dari pemakaian serat optik dalam sistem komunikasi sinyal audio dimana mik-ropon optik sebagai salah satu komponennya. Sedangkan kekurangannya adalah timbulnya derau opto-elektris yang berlebihan. Namun karena tahapan proses ini berada di-luar mikropon, maka perbaikan sistem komunikasi secara keseluruhan menjadi sangat berpengaruh.

(10)

Untuk mengoptimalkan jaringan sistem komunikasi serat optik terutama untuk komunikasi sinyal audio adalah dengan memperbaiki unjuk kerja semua komponen-nya, termasuk diantaranya adalah mikropon optik. Pengem-bangan mikropon optik meskipun masih dalam taraf uji coba (penelitian), namun menunjukkan kemajuan yang menggembirakan. Hal ini ternyata dimulai dari berbagai penelitian para ahli yang sebagian besar dari kalangan perguruan tinggi. Oleh karena itu peranan perguruan tinggi sangat penting dalam upaya pengembangan bidang telekomunikasi serat optik.

Keuntungan pemanfaatan mikropon optik dalam sistem telekomunikasi terkait dengan keuntungan yang diperoleh dari jaringan serat optik itu sendiri. Beberapa keun-tungan tersebut antara lain adalah: memungkinkannya pengiriman data dengan kecepatan sangat tinggi karena bandwidth yang lebar; terbebas dari gangguan medan elektromaknetik atau frekuensi radio; dan keamanan ke-bocoran sinyal sangat terjaga. Oleh karena itu kini jaringan telekomunikasi serat optik semakin banyak di-pakai untuk menggantikan saluran kawat maupun satelit. Mikropon optik merupakan sensor akustik yang dapat mengubah getaran akustik menjadi variasi gelombang ca-haya. Untuk itu perlu dilakukan proses pemodulasian intensitas energi cahaya oleh getaran akustik dengan

(11)

menggunakan “moving gate” dan membran (selaput tipis). Keduanya pada dasarnya merupakan alat perantara antara getaran suara dengan cahaya. Apabila terdapat getaran suara, maka kedua alat tersebut (“moving gate” dan mem-bran) akan mengubah jalannya cahaya sehingga inten-sitasnya berubah. Variasi intensitas cahaya ini ke-mudian dideteksi dan disalurkan ke jaringan berikutnya.

Daftar Pustaka

Buchholz, M. 1995. Fiber Boost For High Speed Copper. Telecommunications. June 1995. pp.81-82.

Bunimovlch, D. 1995. Fiber Optic Evanescent Wave Infra-red Spectroscopy of Gases in Liquids. Review of Scientific Instruments. Vol 66 (4) April 1995.

Chi Wu. 1995. Fiber Optic Angular Displacement Sensor. Review of Scientific Instruments. Vol 66 (6) June 1995.

Ciamberlini, C, etc. 1995. An optoelectronic Prototype for The Detection of Road Surface Conditions. Re-view of Scientific Instruments. Vol 66 (3) March 1995.

Francesco, A. etc. 1994. Optical Sensors for Electric Substations. IEEE transactions on Instrumentation and Measurement. Vol 43 (3). June 1994.

Herman, D.S. 1993. Pemakaian Serat Optik Dalam Komuni-kasi. Cakrawala Pendidikan. November 1993.

Holmes, NC. 1995. Fiber-Coupled Optical Pyrometer for Shock Wave Studies. Review of Scientific Instru-ments. Vol 66 (3) March 1995.

Ning, YN. etc. 1995. Recent Progress in Optical Current Sensing Techniques. Review of Scientific Instru-ments. Vol 66 (5) May 1995.

(12)

Nykolai, B. 1997. Optical Mikropon Transduction Tech-niques. Applied Acoustics, Vol 50 (1) Jan 1997. pp.35-63.

Othonos, A. etc. 1995. Narrow Linewidth Excimer Laser for Inserting Bragg Grattings In Optical Fibers. Review of Scientific Instruments. Vol 66 (5) May 1995.

Roddy, D. 1984. Electronic Communication. 3rd ed. Englewood Cliffs, NJ: Prentice-Hall, Inc.

Schweber, W. 1996. Electronic Communication Systems: A Complete Course. 2nd ed. Englewood Cliffs, NJ: Prentice-Hall, Inc.

Tomasi, W. 1988. Telecommunications: Voice/data With Fiber optic Applications. Englewood Cliffs, NJ: Prentice-Hall, Inc.

Tomasi, W. 1992. Advanced Electronic Communication Sys-tems. 2nd ed. Englewood Cliffs, NJ: Prentice-Hall, Inc.

Usher, MJ. 1985. Sensors and Transducers. London: McMillan Publisher, ltd.

(13)

getaran akustik

“moving gate”

cahaya masuk cahaya keluar termodulasi

Gambar 1. Mikropon optik modulasi intensitas dengan “moving gate”

getaran akustik

membran

cahaya masuk cahaya keluar termodulasi

Gambar 2. Mikropon optik modulasi intensitas dengan membran

(14)

Elektronika, FPTK IKIP Yogyakarta tahun 1986. Lulus Master of Sience dalam major Industrial Education and Technology, Iowa State University tahun 1994 dengan thesis “The Development of Computer-Assisted Instruction (CAI) Using the ABC Authoring System for Teaching Basic Electronics”. Mengajar di TTUC (Technical Teacher Upgrading Center) Bandung tahun 1986-1987. Mengajar di FPTK IKIP Yogyakarta pada jurusan Pendidikan Teknik Elektronika tahun 1987 sampai sekarang. Mengikuti beberapa Internship dan Workshop di PAU Mikroelek-tronika ITB tahun 1988-1989. Bidang penelitian yang diminati adalah tele-komunikasi dan pengembangan CAI. Publikasi 5 th

terakhir: Pemakaian Serat Optik Dalam Komunikasi

(Cakrawala Pendidikan, November 1993), Pengembangan Program Pengajaran Berbantuan Komputer untuk pela-jaran elektronika (Jurnal Kependidikan, No.2 Th.

1995), Pengembangan Program Pengajaran Berbantuan

Komputer (CAI) Dengan Sistem Authoring (Cakrawala Pendidikan, Juni 1996), Eksperimen Pengiriman Sinyal Televisi Dengan Pemancar TV dan CCTV (Jurnal PTK, Desember, th 1996).

Gambar

Tabel 1. Sensitivitas mikropon optik
Gambar 2. Mikropon optik modulasi intensitas   dengan membran

Referensi

Dokumen terkait

Hasil penelitian menunjukkan bahwa: (1) tahapan pengembangan SSPdilaksanakan dalam empat tahap, yaitu pemeriksaan pendahuluan meliputi analisis kebutuhan guru di

Hasil penelitian menunjukkan bahwa: (1) tahapan pengembangan SSPdilaksanakan dalam empat tahap, yaitu pemeriksaan pendahuluan meliputi analisis kebutuhan guru di

Penelitian ini menggunakan desain pengembangan Plomp yang memiliki tiga tahapan, yaitu: 1 Tahap pendahuluan bertujuan untuk mengumpulkan data yang menjadi karakteristik model yang

perpustakaan.uns.ac.iddigilib.uns.ac.idcommit to user86.Sawi Monumen Sawi monumen tubuhnya amat tegak dan berdaun kompak. Penampilan sawi jenis ini sekilas mirip dengan petsai. Tangkai daun berwarna putih berukuran agak lebar dengan tulang daun yang juga berwarna putih. Daunnya sendiri berwarna hijau segar. Jenis sawi ini tegolong terbesar dan terberat di antara jenis sawi lainnya. D.Syarat Tumbuh Tanaman Sawi Syarat tumbuh tanaman sawi dalam budidaya tanaman sawi adalah sebagai berikut : 1.Iklim Tanaman sawi tidak cocok dengan hawa panas, yang dikehendaki ialah hawa yang dingin dengan suhu antara 150 C - 200 C. Pada suhu di bawah 150 C cepat berbunga, sedangkan pada suhu di atas 200 C tidak akan berbunga. 2.Ketinggian Tempat Di daerah pegunungan yang tingginya lebih dari 1000 m dpl tanaman sawi bisa bertelur, tetapi di daerah rendah tak bisa bertelur. 3.Tanah Tanaman sawi tumbuh dengan baik pada tanah lempung yang subur dan cukup menahan air. (AAK, 1992). Syarat-syarat penting untuk bertanam sawi ialah tanahnya gembur, banyak mengandung humus (subur), dan keadaan pembuangan airnya (drainase) baik. Derajat keasaman tanah (pH) antara 6–7 (Sunaryono dan Rismunandar, 1984). perpustakaan.uns.ac.iddigilib.uns.ac.idcommit to user9E.Teknik Budidaya Tanaman Sawi 1.Pengadaan benih Benih merupakan salah satu faktor penentu keberhasilan usaha tani. Kebutuhan benih sawi untuk setiap hektar lahan tanam sebesar 750 gram. Benih sawi berbentuk bulat, kecil-kecil. Permukaannya licin mengkilap dan agak keras. Warna kulit benih coklat kehitaman. Benih yang akan kita gunakan harus mempunyai kualitas yang baik, seandainya beli harus kita perhatikan lama penyimpanan, varietas, kadar air, suhu dan tempat menyimpannya. Selain itu juga harus memperhatikan kemasan benih harus utuh. kemasan yang baik adalah dengan alumunium foil. Apabila benih yang kita gunakan dari hasil pananaman kita harus memperhatikan kualitas benih itu, misalnya tanaman yang akan diambil sebagai benih harus berumur lebih dari 70 hari. Penanaman sawi memperhatikan proses yang akan dilakukan misalnya dengan dianginkan, disimpan di tempat penyimpanan dan diharapkan lama penyimpanan benih tidak lebih dari 3 tahun.( Eko Margiyanto, 2007) Pengadaan benih dapat dilakukan dengan cara membuat sendiri atau membeli benih yang telah siap tanam. Pengadaan benih dengan cara membeli akan lebih praktis, petani tinggal menggunakan tanpa jerih payah. Sedangkan pengadaan benih dengan cara membuat sendiri cukup rumit. Di samping itu, mutunya belum tentu terjamin baik (Cahyono, 2003). Sawi diperbanyak dengan benih. Benih yang akan diusahakan harus dipilih yang berdaya tumbuh baik. Benih sawi sudah banyak dijual di toko-toko pertanian. Sebelum ditanam di lapang, sebaiknya benih sawi disemaikan terlebih dahulu. Persemaian dapat dilakukan di bedengan atau di kotak persemaian (Anonim, 2007). 2.Pengolahan tanah Sebelum menanam sawi hendaknya tanah digarap lebih dahulu, supaya tanah-tanah yang padat bisa menjadi longgar, sehingga pertukaran perpustakaan.uns.ac.iddigilib.uns.ac.idcommit to user10udara di dalam tanah menjadi baik, gas-gas oksigen dapat masuk ke dalam tanah, gas-gas yang meracuni akar tanaman dapat teroksidasi, dan asam-asam dapat keluar dari tanah. Selain itu, dengan longgarnya tanah maka akar tanaman dapat bergerak dengan bebas meyerap zat-zat makanan di dalamnya (AAK, 1992). Untuk tanaman sayuran dibutuhkan tanah yang mempunyai syarat-syarat di bawah ini : a.Tanah harus gembur sampai cukup dalam. b.Di dalam tanah tidak boleh banyak batu. c.Air dalam tanah mudah meresap ke bawah. Ini berarti tanah tersebut tidak boleh mudah menjadi padat. d.Dalam musim hujan, air harus mudah meresap ke dalam tanah. Ini berarti pembuangan air harus cukup baik. Tujuan pembuatan bedengan dalam budidaya tanaman sayuran adalah : a.Memudahkan pembuangan air hujan, melalui selokan. b.Memudahkan meresapnya air hujan maupun air penyiraman ke dalam tanah. c.Memudahkan pemeliharaan, karena kita dapat berjalan antar bedengan dengan bedengan. d.Menghindarkan terinjak-injaknya tanah antara tanaman hingga menjadi padat. ( Rismunandar, 1983 ). 3.Penanaman Pada penanaman yang benihnya langsung disebarkan di tempat penanaman, yang perlu dijalankan adalah : a.Supaya keadaan tanah tetap lembab dan untuk mempercepat berkecambahnya benih, sehari sebelum tanam, tanah harus diairi terlebih dahulu. perpustakaan.uns.ac.iddigilib.uns.ac.idcommit to user11b.Tanah diaduk (dihaluskan), rumput-rumput dihilangkan, kemudian benih disebarkan menurut deretan secara merata. c.Setelah disebarkan, benih tersebut ditutup dengan tanah, pasir, atau pupuk kandang yang halus. d.Kemudian disiram sampai merata, dan waktu yang baik dalam meyebarkan benih adalah pagi atau sore hari. (AAK, 1992). Penanaman dapat dilakukan setelah tanaman sawi berumur 3 - 4 Minggu sejak benih disemaikan. Jarak tanam yang digunakan umumnya 20 x 20 cm. Kegiatan penanaman ini sebaiknya dilakukan pada sore hari agar air siraman tidak menguap dan tanah menjadi lembab (Anonim, 2007). Waktu bertanam yang baik adalah pada akhir musim hujan (Maret). Walaupun demikian dapat pula ditanam pada musim kemarau, asalkan diberi air secukupnya (Sunaryono dan Rismunandar, 1984). 4.Pemeliharaan tanaman Pemeliharaan dalam budidaya tanaman sawi meliputi tahapan penjarangan tanaman, penyiangan dan pembumbunan, serta pemupukan susulan. a.Penjarangan tanaman Penanaman sawi tanpa melalui tahap pembibitan biasanya tumbuh kurang teratur. Di sana-sini sering terlihat tanaman-tanaman yang terlalu pendek/dekat. Jika hal ini dibiarkan akan menyebabkan pertumbuhan tanaman tersebut kurang begitu baik. Jarak yang terlalu rapat menyebabkan adanya persaingan dalam menyerap unsur-unsur hara di dalam tanah. Dalam hal ini penjarangan dilakukan untuk mendapatkan kualitas hasil yang baik. Penjarangan umumnya dilakukan 2 minggu setelah penanaman. Caranya dengan mencabut tanaman yang tumbuh terlalu rapat. Sisakan tanaman yang tumbuh baik dengan jarak antar tanaman yang teratur (Haryanto et al., 1995). perpustakaan.uns.ac.iddigilib.uns.ac.idcommit to user12b.Penyiangan dan pembumbunan Biasanya setelah turun hujan, tanah di sekitar tanaman menjadi padat sehingga perlu digemburkan. Sambil menggemburkan tanah, kita juga dapat melakukan pencabutan rumput-rumput liar yang tumbuh. Penggemburan tanah ini jangan sampai merusak perakaran tanaman. Kegiatan ini biasanya dilakukan 2 minggu sekali (Anonim, 2007). Untuk membersihkan tanaman liar berupa rerumputan seperti alang-alang hampir sama dengan tanaman perdu, mula-mula rumput dicabut kemudian tanah dikorek dengan gancu. Akar-akar yang terangkat diambil, dikumpulkan, lalu dikeringkan di bawah sinar matahari, setelah kering, rumput kemudian dibakar (Duljapar dan Khoirudin, 2000). Ketika tanaman berumur satu bulan perlu dilakukan penyiangan dan pembumbunan. Tujuannya agar tanaman tidak terganggu oleh gulma dan menjaga agar akar tanaman tidak terkena sinar matahari secara langsung (Tim Penulis PS, 1995 ). c.Pemupukan Setelah tanaman tumbuh baik, kira-kira 10 hari setelah tanam, pemupukan perlu dilakukan. Oleh karena yang akan dikonsumsi adalah daunnya yang tentunya diinginkan penampilan daun yang baik, maka pupuk yang diberikan sebaiknya mengandung Nitrogen (Anonim, 2007). Pemberian Urea sebagai pupuk tambahan bisa dilakukan dengan cara penaburan dalam larikan yang lantas ditutupi tanah kembali. Dapat juga dengan melarutkan dalam air, lalu disiramkan pada bedeng penanaman. Satu sendok urea, sekitar 25 g, dilarutkan dalam 25 l air dapat disiramkan untuk 5 m bedengan. Pada saat penyiraman, tanah dalam bedengan sebaiknya tidak dalam keadaan kering. Waktu penyiraman pupuk tambahan dapat dilakukan pagi atau sore hari (Haryanto et al., 1995). perpustakaan.uns.ac.iddigilib.uns.ac.idcommit to user13Jenis-jenis unsur yag diperlukan tanaman sudah kita ketahui bersama. Kini kita beralih membicarakan pupuk atau rabuk, yang merupakan kunci dari kesuburan tanah kita. Karena pupuk tak lain dari zat yang berisisi satu unsur atau lebih yang dimaksudkan untuk menggantikan unsur yang habis diserap tanaman dari tanah. Jadi kalau kita memupuk berarti menambah unsur hara bagi tanah (pupuk akar) dan tanaman (pupuk daun). Sama dengan unsur hara tanah yang mengenal unsur hara makro dan mikro, pupuk juga demikian. Jadi meskipun jumlah pupuk belakangan cenderung makin beragam dengan merek yang bermacam-macam, kita tidak akan terkecoh. Sebab pupuk apapun namanya, entah itu buatan manca negara, dari segi unsur yang dikandungnya ia tak lain dari pupuk makro atau pupuk mikro. Jadi patokan kita dalam membeli pupuk adalah unsur yang dikandungnya (Lingga, 1997). Pemupukan membantu tanaman memperoleh hara yang dibutuhkanya. Unsur hara yang pokok dibutuhkan tanaman adalah unsur Nitrogen (N), Fosfor (P), dan Kalium (K). Itulah sebabnya ketiga unsur ini (NPK) merupakan pupuk utama yang dibutuhkan oleh tanaman. Pupuk organik juga dibutuhkan oleh tanaman, memang kandungan haranya jauh dibawah pupuk kimia, tetapi pupuk organik memiliki kelebihan membantu menggemburkan tanah dan menyatu secara alami menambah unsur hara dan memperbaiki struktur tanah (Nazarudin, 1998). 5.Pengendalian hama dan penyakit Hama yang sering menyerang tanaman sawi adalah ulat daun. Apabila tanaman telah diserangnya, maka tanaman perlu disemprot dengan insektisida. Yang perlu diperhatikan adalah waktu penyemprotannya. Untuk tanaman sayur-sayuran, penyemprotan dilakukan minimal 20 hari sebelum dipanen agar keracunan pada konsumen dapat terhindar (Anonim, 2007). perpustakaan.uns.ac.iddigilib.uns.ac.idcommit to user14OPT yang menyerang pada tanaman sawi yaitu kumbang daun (Phyllotreta vitata), ulat daun (Plutella xylostella), ulat titik tumbuh (Crocidolomia binotalis), dan lalat pengerek daun (Lyriomiza sp.). Berdasarkan tingkat populasi dan kerusakan tanaman yang ditimbulkan, maka peringkat OPT yang menyerang tanaman sawi berturut-turut adalah P. vitata, Lyriomiza sp., P. xylostella, dan C. binotalis. Hama P. vitatamerupakan hama utama, dan hama P. xylostella serta Lyriomiza sp. merupakan hama potensial pada tanaman sawi, sedangkan hamaC. binotalis perlu diwaspadai keberadaanya (Mukasan et al., 2005). Beberapa jenis penyakit yang diketahui menyerang tanaman sawi antara lain: penyakit akar pekuk/akar gada, bercak daun altermaria, busuk basah, embun tepung, rebah semai, busuk daun, busuk Rhizoctonia, bercak daun, dan virus mosaik (Haryanto et al., 1995). 6.Pemanenan Tanaman sawi dapat dipetik hasilnya setelah berumur 2 bulan. Banyak cara yang dilakukan untuk memanen sawi, yaitu: ada yang mencabut seluruh tanaman, ada yang memotong bagian batangnya tepat di atas permukaan tanah, dan ada juga yang memetik daunnya satu per satu. Cara yang terakhir ini dimaksudkan agar tanaman bisa tahan lama (Edy margiyanto,

perpustakaan.uns.ac.iddigilib.uns.ac.idcommit to user86.Sawi Monumen Sawi monumen tubuhnya amat tegak dan berdaun kompak. Penampilan sawi jenis ini sekilas mirip dengan petsai. Tangkai daun berwarna putih berukuran agak lebar dengan tulang daun yang juga berwarna putih. Daunnya sendiri berwarna hijau segar. Jenis sawi ini tegolong terbesar dan terberat di antara jenis sawi lainnya. D.Syarat Tumbuh Tanaman Sawi Syarat tumbuh tanaman sawi dalam budidaya tanaman sawi adalah sebagai berikut : 1.Iklim Tanaman sawi tidak cocok dengan hawa panas, yang dikehendaki ialah hawa yang dingin dengan suhu antara 150 C - 200 C. Pada suhu di bawah 150 C cepat berbunga, sedangkan pada suhu di atas 200 C tidak akan berbunga. 2.Ketinggian Tempat Di daerah pegunungan yang tingginya lebih dari 1000 m dpl tanaman sawi bisa bertelur, tetapi di daerah rendah tak bisa bertelur. 3.Tanah Tanaman sawi tumbuh dengan baik pada tanah lempung yang subur dan cukup menahan air. (AAK, 1992). Syarat-syarat penting untuk bertanam sawi ialah tanahnya gembur, banyak mengandung humus (subur), dan keadaan pembuangan airnya (drainase) baik. Derajat keasaman tanah (pH) antara 6–7 (Sunaryono dan Rismunandar, 1984). perpustakaan.uns.ac.iddigilib.uns.ac.idcommit to user9E.Teknik Budidaya Tanaman Sawi 1.Pengadaan benih Benih merupakan salah satu faktor penentu keberhasilan usaha tani. Kebutuhan benih sawi untuk setiap hektar lahan tanam sebesar 750 gram. Benih sawi berbentuk bulat, kecil-kecil. Permukaannya licin mengkilap dan agak keras. Warna kulit benih coklat kehitaman. Benih yang akan kita gunakan harus mempunyai kualitas yang baik, seandainya beli harus kita perhatikan lama penyimpanan, varietas, kadar air, suhu dan tempat menyimpannya. Selain itu juga harus memperhatikan kemasan benih harus utuh. kemasan yang baik adalah dengan alumunium foil. Apabila benih yang kita gunakan dari hasil pananaman kita harus memperhatikan kualitas benih itu, misalnya tanaman yang akan diambil sebagai benih harus berumur lebih dari 70 hari. Penanaman sawi memperhatikan proses yang akan dilakukan misalnya dengan dianginkan, disimpan di tempat penyimpanan dan diharapkan lama penyimpanan benih tidak lebih dari 3 tahun.( Eko Margiyanto, 2007) Pengadaan benih dapat dilakukan dengan cara membuat sendiri atau membeli benih yang telah siap tanam. Pengadaan benih dengan cara membeli akan lebih praktis, petani tinggal menggunakan tanpa jerih payah. Sedangkan pengadaan benih dengan cara membuat sendiri cukup rumit. Di samping itu, mutunya belum tentu terjamin baik (Cahyono, 2003). Sawi diperbanyak dengan benih. Benih yang akan diusahakan harus dipilih yang berdaya tumbuh baik. Benih sawi sudah banyak dijual di toko-toko pertanian. Sebelum ditanam di lapang, sebaiknya benih sawi disemaikan terlebih dahulu. Persemaian dapat dilakukan di bedengan atau di kotak persemaian (Anonim, 2007). 2.Pengolahan tanah Sebelum menanam sawi hendaknya tanah digarap lebih dahulu, supaya tanah-tanah yang padat bisa menjadi longgar, sehingga pertukaran perpustakaan.uns.ac.iddigilib.uns.ac.idcommit to user10udara di dalam tanah menjadi baik, gas-gas oksigen dapat masuk ke dalam tanah, gas-gas yang meracuni akar tanaman dapat teroksidasi, dan asam-asam dapat keluar dari tanah. Selain itu, dengan longgarnya tanah maka akar tanaman dapat bergerak dengan bebas meyerap zat-zat makanan di dalamnya (AAK, 1992). Untuk tanaman sayuran dibutuhkan tanah yang mempunyai syarat-syarat di bawah ini : a.Tanah harus gembur sampai cukup dalam. b.Di dalam tanah tidak boleh banyak batu. c.Air dalam tanah mudah meresap ke bawah. Ini berarti tanah tersebut tidak boleh mudah menjadi padat. d.Dalam musim hujan, air harus mudah meresap ke dalam tanah. Ini berarti pembuangan air harus cukup baik. Tujuan pembuatan bedengan dalam budidaya tanaman sayuran adalah : a.Memudahkan pembuangan air hujan, melalui selokan. b.Memudahkan meresapnya air hujan maupun air penyiraman ke dalam tanah. c.Memudahkan pemeliharaan, karena kita dapat berjalan antar bedengan dengan bedengan. d.Menghindarkan terinjak-injaknya tanah antara tanaman hingga menjadi padat. ( Rismunandar, 1983 ). 3.Penanaman Pada penanaman yang benihnya langsung disebarkan di tempat penanaman, yang perlu dijalankan adalah : a.Supaya keadaan tanah tetap lembab dan untuk mempercepat berkecambahnya benih, sehari sebelum tanam, tanah harus diairi terlebih dahulu. perpustakaan.uns.ac.iddigilib.uns.ac.idcommit to user11b.Tanah diaduk (dihaluskan), rumput-rumput dihilangkan, kemudian benih disebarkan menurut deretan secara merata. c.Setelah disebarkan, benih tersebut ditutup dengan tanah, pasir, atau pupuk kandang yang halus. d.Kemudian disiram sampai merata, dan waktu yang baik dalam meyebarkan benih adalah pagi atau sore hari. (AAK, 1992). Penanaman dapat dilakukan setelah tanaman sawi berumur 3 - 4 Minggu sejak benih disemaikan. Jarak tanam yang digunakan umumnya 20 x 20 cm. Kegiatan penanaman ini sebaiknya dilakukan pada sore hari agar air siraman tidak menguap dan tanah menjadi lembab (Anonim, 2007). Waktu bertanam yang baik adalah pada akhir musim hujan (Maret). Walaupun demikian dapat pula ditanam pada musim kemarau, asalkan diberi air secukupnya (Sunaryono dan Rismunandar, 1984). 4.Pemeliharaan tanaman Pemeliharaan dalam budidaya tanaman sawi meliputi tahapan penjarangan tanaman, penyiangan dan pembumbunan, serta pemupukan susulan. a.Penjarangan tanaman Penanaman sawi tanpa melalui tahap pembibitan biasanya tumbuh kurang teratur. Di sana-sini sering terlihat tanaman-tanaman yang terlalu pendek/dekat. Jika hal ini dibiarkan akan menyebabkan pertumbuhan tanaman tersebut kurang begitu baik. Jarak yang terlalu rapat menyebabkan adanya persaingan dalam menyerap unsur-unsur hara di dalam tanah. Dalam hal ini penjarangan dilakukan untuk mendapatkan kualitas hasil yang baik. Penjarangan umumnya dilakukan 2 minggu setelah penanaman. Caranya dengan mencabut tanaman yang tumbuh terlalu rapat. Sisakan tanaman yang tumbuh baik dengan jarak antar tanaman yang teratur (Haryanto et al., 1995). perpustakaan.uns.ac.iddigilib.uns.ac.idcommit to user12b.Penyiangan dan pembumbunan Biasanya setelah turun hujan, tanah di sekitar tanaman menjadi padat sehingga perlu digemburkan. Sambil menggemburkan tanah, kita juga dapat melakukan pencabutan rumput-rumput liar yang tumbuh. Penggemburan tanah ini jangan sampai merusak perakaran tanaman. Kegiatan ini biasanya dilakukan 2 minggu sekali (Anonim, 2007). Untuk membersihkan tanaman liar berupa rerumputan seperti alang-alang hampir sama dengan tanaman perdu, mula-mula rumput dicabut kemudian tanah dikorek dengan gancu. Akar-akar yang terangkat diambil, dikumpulkan, lalu dikeringkan di bawah sinar matahari, setelah kering, rumput kemudian dibakar (Duljapar dan Khoirudin, 2000). Ketika tanaman berumur satu bulan perlu dilakukan penyiangan dan pembumbunan. Tujuannya agar tanaman tidak terganggu oleh gulma dan menjaga agar akar tanaman tidak terkena sinar matahari secara langsung (Tim Penulis PS, 1995 ). c.Pemupukan Setelah tanaman tumbuh baik, kira-kira 10 hari setelah tanam, pemupukan perlu dilakukan. Oleh karena yang akan dikonsumsi adalah daunnya yang tentunya diinginkan penampilan daun yang baik, maka pupuk yang diberikan sebaiknya mengandung Nitrogen (Anonim, 2007). Pemberian Urea sebagai pupuk tambahan bisa dilakukan dengan cara penaburan dalam larikan yang lantas ditutupi tanah kembali. Dapat juga dengan melarutkan dalam air, lalu disiramkan pada bedeng penanaman. Satu sendok urea, sekitar 25 g, dilarutkan dalam 25 l air dapat disiramkan untuk 5 m bedengan. Pada saat penyiraman, tanah dalam bedengan sebaiknya tidak dalam keadaan kering. Waktu penyiraman pupuk tambahan dapat dilakukan pagi atau sore hari (Haryanto et al., 1995). perpustakaan.uns.ac.iddigilib.uns.ac.idcommit to user13Jenis-jenis unsur yag diperlukan tanaman sudah kita ketahui bersama. Kini kita beralih membicarakan pupuk atau rabuk, yang merupakan kunci dari kesuburan tanah kita. Karena pupuk tak lain dari zat yang berisisi satu unsur atau lebih yang dimaksudkan untuk menggantikan unsur yang habis diserap tanaman dari tanah. Jadi kalau kita memupuk berarti menambah unsur hara bagi tanah (pupuk akar) dan tanaman (pupuk daun). Sama dengan unsur hara tanah yang mengenal unsur hara makro dan mikro, pupuk juga demikian. Jadi meskipun jumlah pupuk belakangan cenderung makin beragam dengan merek yang bermacam-macam, kita tidak akan terkecoh. Sebab pupuk apapun namanya, entah itu buatan manca negara, dari segi unsur yang dikandungnya ia tak lain dari pupuk makro atau pupuk mikro. Jadi patokan kita dalam membeli pupuk adalah unsur yang dikandungnya (Lingga, 1997). Pemupukan membantu tanaman memperoleh hara yang dibutuhkanya. Unsur hara yang pokok dibutuhkan tanaman adalah unsur Nitrogen (N), Fosfor (P), dan Kalium (K). Itulah sebabnya ketiga unsur ini (NPK) merupakan pupuk utama yang dibutuhkan oleh tanaman. Pupuk organik juga dibutuhkan oleh tanaman, memang kandungan haranya jauh dibawah pupuk kimia, tetapi pupuk organik memiliki kelebihan membantu menggemburkan tanah dan menyatu secara alami menambah unsur hara dan memperbaiki struktur tanah (Nazarudin, 1998). 5.Pengendalian hama dan penyakit Hama yang sering menyerang tanaman sawi adalah ulat daun. Apabila tanaman telah diserangnya, maka tanaman perlu disemprot dengan insektisida. Yang perlu diperhatikan adalah waktu penyemprotannya. Untuk tanaman sayur-sayuran, penyemprotan dilakukan minimal 20 hari sebelum dipanen agar keracunan pada konsumen dapat terhindar (Anonim, 2007). perpustakaan.uns.ac.iddigilib.uns.ac.idcommit to user14OPT yang menyerang pada tanaman sawi yaitu kumbang daun (Phyllotreta vitata), ulat daun (Plutella xylostella), ulat titik tumbuh (Crocidolomia binotalis), dan lalat pengerek daun (Lyriomiza sp.). Berdasarkan tingkat populasi dan kerusakan tanaman yang ditimbulkan, maka peringkat OPT yang menyerang tanaman sawi berturut-turut adalah P. vitata, Lyriomiza sp., P. xylostella, dan C. binotalis. Hama P. vitatamerupakan hama utama, dan hama P. xylostella serta Lyriomiza sp. merupakan hama potensial pada tanaman sawi, sedangkan hamaC. binotalis perlu diwaspadai keberadaanya (Mukasan et al., 2005). Beberapa jenis penyakit yang diketahui menyerang tanaman sawi antara lain: penyakit akar pekuk/akar gada, bercak daun altermaria, busuk basah, embun tepung, rebah semai, busuk daun, busuk Rhizoctonia, bercak daun, dan virus mosaik (Haryanto et al., 1995). 6.Pemanenan Tanaman sawi dapat dipetik hasilnya setelah berumur 2 bulan. Banyak cara yang dilakukan untuk memanen sawi, yaitu: ada yang mencabut seluruh tanaman, ada yang memotong bagian batangnya tepat di atas permukaan tanah, dan ada juga yang memetik daunnya satu per satu. Cara yang terakhir ini dimaksudkan agar tanaman bisa tahan lama (Edy margiyanto,