• Tidak ada hasil yang ditemukan

PERBANDINGAN EFEKTIFITAS PEMBERIAN PERASAN RIMPANG TEMULAWAK (Curcuma xanthorriza, Roxb) DENGAN MEBENDAZOL TERHADAP VIABILITAS TELUR CACING Ascaridia galli SECARA IN VITRO Repository - UNAIR REPOSITORY

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2019

Membagikan "PERBANDINGAN EFEKTIFITAS PEMBERIAN PERASAN RIMPANG TEMULAWAK (Curcuma xanthorriza, Roxb) DENGAN MEBENDAZOL TERHADAP VIABILITAS TELUR CACING Ascaridia galli SECARA IN VITRO Repository - UNAIR REPOSITORY"

Copied!
66
0
0

Teks penuh

(1)

SKRIPSI

PERBANDINGAN EFEKTIFITAS PEMBERIAN PERASAN RIMPANG TEMULAWAK (Curcuma xanthorriza, Roxb) DENGAN MEBENDAZOL

TERHADAP VIABILITAS TELUR CACING Ascaridia galli SECARA IN VITRO

Oleh:

INDAH TRI SUSANTI SURABAYA − JAWA TIMUR

FAKULTAS KEDOKTERAN HEWAN UNIVERSITAS AIRLANGGA

(2)

PERBANDINGAN EFEKTIFITAS PEMBERIAN PERASAN RIMPANG TEMULAWAK (Curcuma xanthorriza, Roxb) DENGAN MEBENDAZOL

TERHADAP VIABILITAS TELUR CACING Ascaridia galli SECARA IN VITRO

Skripsi sebagai salah satu syarat guna memperoleh gelar

Sarjana Kedokteran Hewan

pada

Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Airlangga

Oleh:

INDAH TRI SUSANTI

NIM. 060112940

Menyetujui

Komisi Pembimbing,

Dr. M. Zainal Arifin, MS., Drh Prof. Dr. Setiawan Koesdarto, MSc., Drh

(3)

Setelah mempelajari dan menguji dengan sunguh-sungguh, Kami berpendapat

bahwa tulisan ini ruang lingkup maupun kualitasnya dapat diajukan sebagai

skripsi untuk memperoleh gelar SARJANA KEDOKTERAN HEWAN.

Menyetujui,

Tim Penguji,

Sri Agus Sudjarwo, Ph.D., Drh. Ketua

Tutik Juniastuti, M.Kes., Drh. Ririen Ngesti Wahyuti, M.Kes., Drh.

Sekretaris Anggota

Dr. M. Zainal Arifin, M.S., Drh. Prof. Dr. Setiawan Koesdarto, M.Sc., Drh.

Anggota Anggota

Surabaya, 8 Februari 2006 Fakultas Kedokteran Hewan

Universitas Airlangga Dekan,

(4)

PERBANDINGAN EFEKTIFITAS PEMBERIAN PERASAN RIMPANG TEMULAWAK (Curcuma xanthorriza, Roxb) DENGAN MEBENDAZOL

TERHADAP VIABILITAS TELUR CACING

Ascaridia galli SECARA IN VITRO

INDAH TRI SUSANTI

ABSTRAK

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efektifitas pemberian perasan rimpang temulawak (Curcuma xanthorriza, R) sebagai antelmintik terhadap

viabilitas telur cacing Ascaridia galli secara in vitro.

Sampel yang digunakan untuk penelitianini adalah telur cacing A.galli yang

diperoleh dengan mengumpulkan cacing A.galli dewasa dari usus halus ayam

buras. Rancangan percobaan yang digunakan adalah Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan enam perlakuan yaitu perendaman telur A.galli dalam larutan

NaCL fisiologis (P0), perendaman telur cacing A.galli dalam perasan rimpang

temulawak 2% (P1), perendaman telur cacing A.galli dalam perasan rimpang

temulawak 3% (P2), perendaman telur cacing A.galli dalam perasan rimpang

temulawak 4% (P3), perendaman telur cacing A.galli dalam perasan rimpang

temulawak 5% (P4), perendaman telur cacing A.galli dalam larutan mebendazol

(P5). Masing masing perlakuan terdiri dari empat ulangan, dengan pengamatan

hasil dilakukan setiap hari mulai hari pertama sampai hari ke-10 perendaman. Peubah yang diamati adalah kerusakan sel telur cacing A.galli atau tidak

adanya perkembangan sel telur cacing A.galli. Data disajikan dalam bentuk

persentase dan ditransformasikan ke dalam Arcsin √persentase (%). Data dianalisis dengan uji F dan dilanjutkan dengan Uji Jarak Berganda Duncan untuk mengetahui perlakuan yang terbaik.

Hasil penelitian menunjukkan hasil terbaik pada perlakuan perendaman telur cacing A.galli dalam larutan mebendazol (P5) yang tidak berbeda nyata dengan

perasan rimpang temulawak 5% (P4) yang merupakan hasil terbaik kedua.

Perlakuan perendaman telur A.galli dalam perasan rimpang temulawak 4% (P3)

dapat merusak telur A.galli dan merupakan hasil terbaik ketiga. Perlakuan yang

lain dapat pula merusak telur cacing A.galli dengan hasil terendah pada

(5)

KATA PENGANTAR

Puji syukur yang tak terhingga penulis panjatkan kehadirat Allah SWT berkat

rahmat dan hidayah-NYA serta shalawat serta salam bagi junjungan kita Nabi

Muhammad SAW sehingga penelitian dan penulisan skripsi dengan judul

"Perbandingan Efektifitas Pemberian Perasan Rimpang Temulawak (Curcuma

xanthorriza, R) dengan Mebendazol terhadap Viabilitas Telur Cacing Ascaridia

galli secara in vitro" dapat terselesaikan dengan baik.

Penulis menyadari bahwa keberhasilan penelitian hingga penulisan skripsi

tidak lepas dari bantuan dan dukungan dari semua pihak. Dengan rasa hormat,

penulis menyampaikan ucapan terima kasih dan penghargaan kepada :

 Prof. Dr. Ismudiono, MS., Drh selaku Dekan Fakultas Kedokteran

Hewan Universitas Airlangga.

 Dr. M. Zainal Arifin, MS., Drh selaku Dosen Pembimbing pertama dan

Prof. Dr. Setiawan Koesdarto, MSc., Drh selaku Dosen Pembimbing

kedua yang telah bersedia meluangkan waktu, tenaga dan pikirannya

untuk memberikan bimbingan dan pengarahan selama pelaksanaan

penelitian dan penulisan skripsi ini.

 Sri Agus Sudjarwo, Ph.D., Drh, Tutiek Juniastuti, M.Kes., Drh dan

Ririen Ngesti Wahyuti, M.Kes., Drh selaku Tim penguji yang telah

memberikan saran dan masukan yang sangat berguna bagi penyelesian

(6)

 Keluarga besar Yayasan Tunas Paratama Bhakti yang telah

memberikan bimbingan, bantuan moril dan materiil sejak Sekolah

Dasar hingga Perguruan Tinggi.

 Ibunda Sri Asih dan Ayahanda Miselan Alm. serta Kakak-kakakku

Mas Koko dan Mas Aris tercinta, atas segala bantuan, dorongan

semangat dan doa restu yang diberikan selama pendidikan sampai

berakhir.

 Andi Kristian Maranatha Purba yang telah meluangkan waktu, doa,

dukungan dan kesabarannya mulai penelitian hingga selesainya

penulisan skripsi ini.

 Acie’, Dido, Irma, Novia, Diana, Alitha, Uwi’, Mb.Dahlia, Pi 5,

teman-teman angkatan 2001 dan Asrama AABU, serta semua pihak

yang tidak dapat penulis sebutkan satu persatu yang telah memberikan

bantuan, baik secara langsung maupun tidak langsung hingga

terselesaikannya skripsi ini.

Akhirnya penulis menyadari bahwa penulisan skripsi ini masih jauh dari

sempurna. Semua kritik dan saran sangat penulis harapkan demi kesempurnaan

skripsi ini. Penulis berharap semoga skripsi ini dapat bermanfaat bagi

perkembangan dunia Kedokteran Hewan pada khususnya dan ilmu pengetahuan

pada umumnya.

Surabaya, Januari 2006

(7)

DAFTAR ISI

Halaman

DAFTAR TABEL ……… ix

DAFTAR GAMBAR ……… xi

DAFTAR LAMPIRAN ……….. xii

BAB I PENDAHULUAN………... 1

1.1 Latar Belakang ……… 1

1.2 Perumusan Masalah ……… 3

1.3 Landasan Teori ………... 4

1.4 Tujuan Penelitian ………... 4

1.5 Manfaat Penelitian ………. 4

1.6 Hipotesis Penelitian ……… 5

BAB II TINJAUAN PUSTAKA ……… 6

2.1 Temulawak(Curcuma xanthorriza, R) ……….. 6

2.1.1 Sistematika Temulawak ………... 6

2.1.2 Nama Daerah dan Ekologi Penyebaran …….. 6

2.1.3 Morfologi Tanaman Temulawak ………. 7

2.1.4 Ciri-ciri Rimpang Temulawak ……….. 8

2.1.5 Kandungan Rimpang Temulawak ……… 8

(8)

2.1.6 Kegunaan dan Pemanfaatan Temulawak …….. 9

2.2 Ascaridiasis ………...… 9

2.2.1 Klasifikasi Ascaridia galli ……… 10

2.2.2 Habitat dan Morfologi ………... 10

2.2.3 Telur Ascaridia galli ………. 11

2.2.4 Siklus Hidup ……….. 11

2.2.5 Patogenesis dan Gejala Klinis Infeksi Ascaridia galli ……… 13

2.2.6 Daya Tahan Ayam terhadap Infeksi Ascaridia galli………. 14

2.2.7 Pengendalian Infeksi Ascaridia galli ………… 15

2.3Mebendazol ……….. 15

BAB III MATERI DAN METODE PENELITIAN ... 17

3.1 Tempat dan Waktu Penelitian ……….. 17

3.2 Materi Penelitian ……….. 17

3.2.1 Sampel Penelitian ……….. 17

3.2.2 Bahan Penelitian ……… 17

3.2.3 Alat-alat Penelitian ……… 17

3.3 Metode Penelitian ………. 18

3.3.1 Penentuan Rentang Konsentrasi Perasan Rimpang Temulawak ………. 18

3.3.2 Pembuatan Perasan Rimpang Temulawak …… 19

(9)

3.3.4 Penentuan Karakteristik Telur Cacing

yang Rusak ……….... 20

3.3.5 Prosedur Penelitian ………. 20

3.3.6 Peubah yang Diamati ………... 21

3.3.7 Rancangan Percobaan dan Analisis Data ……… 22

BAB IV HASIL PENELITIAN ………24

BAB V PEMBAHASAN ……….. 29

BAB VI KESIMPULAN DAN SARAN ………... 33

6.1 Kesimpulan ……….. 33

6.2 Saran ………. 33

RINGKASAN ………. 34

DAFTAR PUSTAKA ………. 36

(10)

DAFTAR TABEL

Tabel Halaman

1. Persentase Rata-rata dan Standar Deviasi Kerusakan Telur Cacing A.galli pada berbagai Perlakuan Sebelum

Transformasi ... 24

2. Persentase Rata-rata dan Standar Deviasi Kerusakan Telur Cacing A.galli pada berbagai Perlakuan Sesudah

Transformasi ………. 25

3. Sidik Ragam Pengaruh Perlakuan terhadap Kerusakan

Telur A.galli pada Perendaman Hari ke-1 ……….. 39 4. Perbedaan Rata-rata Jumlah Telur Cacing A.galli yang

Rusak Hasil Perlakuan Berdasarkan Uji Jarak Berganda

Duncan ………. 39

5. Sidik Ragam Pengaruh Perlakuan terhadap Kerusakan

Telur A.galli pada Perendaman Hari ke-2 ………... 40 6. Perbedaan Rata-rata Jumlah Telur Cacing A.galli yang

Rusak Hasil Perlakuan Berdasarkan Uji Jarak Berganda

Duncan ………. 40

7. Sidik Ragam Pengaruh Perlakuan terhadap Kerusakan

Telur A.galli pada Perendaman Hari ke-3 ………... 41 8. Perbedaan Rata-rata Jumlah Telur Cacing A.galli yang

Rusak Hasil Perlakuan Berdasarkan Uji Jarak Berganda

Duncan ………. 41

9. Sidik Ragam Pengaruh Perlakuan terhadap Kerusakan

Telur A.galli pada Perendaman Hari ke-4 ………... 42 10. Perbedaan Rata-rata Jumlah Telur Cacing A.galli yang

Rusak Hasil Perlakuan Berdasarkan Uji Jarak Berganda

(11)

11. Sidik Ragam Pengaruh Perlakuan terhadap Kerusakan

Telur A.galli pada Perendaman Hari ke-5 ………... 43 12. Perbedaan Rata-rata Jumlah Telur Cacing A.galli yang

Rusak Hasil Perlakuan Berdasarkan Uji Jarak Berganda

Duncan ………. 43

13. Sidik Ragam Pengaruh Perlakuan terhadap Kerusakan

Telur A.galli pada Perendaman Hari ke-6 ………... 44 14. Perbedaan Rata-rata Jumlah Telur Cacing A.galli yang

Rusak Hasil Perlakuan Berdasarkan Uji Jarak Berganda

Duncan ………. 44

15. Sidik Ragam Pengaruh Perlakuan terhadap Kerusakan

Telur A.galli pada Perendaman Hari ke-7 ………... 45 16. Perbedaan Rata-rata Jumlah Telur Cacing A.galli yang

Rusak Hasil Perlakuan Berdasarkan Uji Jarak Berganda

Duncan ………. 45

17. Sidik Ragam Pengaruh Perlakuan terhadap Kerusakan

Telur A.galli pada Perendaman Hari ke-8 ………... 46 18. Perbedaan Rata-rata Jumlah Telur Cacing A.galli yang

Rusak Hasil Perlakuan Berdasarkan Uji Jarak Berganda

Duncan ………. 46

19. Sidik Ragam Pengaruh Perlakuan terhadap Kerusakan

Telur A.galli pada Perendaman Hari ke-9 ………... 47 20. Perbedaan Rata-rata Jumlah Telur Cacing A.galli yang

Rusak Hasil Perlakuan Berdasarkan Uji Jarak Berganda

Duncan ………. 47

21. Sidik Ragam Pengaruh Perlakuan terhadap Kerusakan

Telur A.galli pada Perendaman Hari ke-10 ………. 48 22. Perbedaan Rata-rata Jumlah Telur Cacing A.galli yang

Rusak Hasil Perlakuan Berdasarkan Uji Jarak Berganda

(12)

DAFTAR GAMBAR

Gambar Halaman 2 Tanaman Temulawak (Curcuma xanthorriza, R) dan

Rimpang Temulawak ………... 7

3 Bagan Alir Penelitian ……….. 23

4.1 Grafik Persentase Kerusakan Telur Cacing Ascaridia galli dalam Berbagai Perlakuan Pada Perendaman Hari ke-1 sampai Hari ke-10 ………... 27

4.2 Telur Cacing Ascaridia galli dalam Larutan NaCl Fisiologis

yang Mengalami Perkembangan ……… 28

(13)

DAFTAR LAMPIRAN

Lampiran Halaman 1. Analisis Statistik Kerusakan Telur Cacing A.galli dari

berbagai Perlakuan pada Perendaman Hari ke-1 ……… 39 2. Analisis Statistik Kerusakan Telur Cacing A.galli dari

berbagai Perlakuan pada Perendaman Hari ke-2 ……… 40 3. Analisis Statistik Kerusakan Telur Cacing A.galli dari

berbagai Perlakuan pada Perendaman Hari ke-3 ……… 41 4. Analisis Statistik Kerusakan Telur Cacing A.galli dari

berbagai Perlakuan pada Perendaman Hari ke-4 ……… 42 5. Analisis Statistik Kerusakan Telur Cacing A.galli dari

berbagai Perlakuan pada Perendaman Hari ke-5 ……… 43 6. Analisis Statistik Kerusakan Telur Cacing A.galli dari

berbagai Perlakuan pada Perendaman Hari ke-6 ……… 44 7. Analisis Statistik Kerusakan Telur Cacing A.galli dari

berbagai Perlakuan pada Perendaman Hari ke-7 ……… 45 8. Analisis Statistik Kerusakan Telur Cacing A.galli dari

berbagai Perlakuan pada Perendaman Hari ke-8 ……… 46 9. Analisis Statistik Kerusakan Telur Cacing A.galli dari

berbagai Perlakuan pada Perendaman Hari ke-9 ……… 47

10. Analisis Statistik Kerusakan Telur Cacing A.galli dari

(14)

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Penelitian

Peningkatan pendapatan penduduk dan bertambahnya pengertian masyarakat

terhadap peranan gizi bagi kesehatan saat ini meningkatkan kebutuhan masyarakat

akan protein hewani. Bagi peternak, untuk mengimbangi pemenuhan kebutuhan

tersebut adalah dengan meningkatkan produksi dan kesehatan ternak. Salah satu

faktor yang penting adalah usaha penanggulangan penyakit. Beberapa jenis

penyakit yang disebabkan oleh cacing dinilai cukup merugikan, meskipun jarang

menimbulkan kematian namun bersifat kronik, antara lain dapat mengakibatkan

penurunan bobot badan dan terhambatnya pertumbuhan.

Di Indonesia, tingkat kejadian penyakit oleh parasit cacing cukup tinggi.

Kondisi lingkungan Indonesia yang beriklim tropis dengan temperatur dan

kelembaban tinggi merupakan lingkungan yang sangat baik dan menguntungkan

untuk perkembangan cacing terutama yang memerlukan tanah untuk penularannya

(Tjitra, 1991). Infeksi cacing yang sering menyerang ternak ayam dan cukup

banyak menimbulkan kerugian adalah Ascaridiasis yang disebabkan oleh

Ascaridiagalli (Soulsby, 1986).

Upaya pengendalian infeksi cacing dengan obat cacing yang ada di pasaran

sampai saat ini hasilnya belum optimal, karena obat cacing umumnya terbukti

mampu membunuh cacing dewasa, namun belum tentu secara optimal mampu

(15)

cacing yang mati akibat obat cacing belum tentu membuat telur yang berada bebas

dalam usus halus induk semang mati dan kemungkinan besar masih efektif

sebagai sumber penular pada unggas lainnya (Oka, 2003). Saat ini telah banyak

obat sintetik yang berkhasiat untuk pengobatan penyakit cacing dan telah beredar

di pasaran diantaranya adalah mebendazol, yang merupakan benzimidazol sintetik

yang mempunyai aktifitas antelmintik berspektrum luas dan insiden efek samping

yang rendah (Katzung, 1994). Namun keadaan sosial masyarakat yang umumnya

masih relatif rendah, maka pemakaian obat sintetik masih mengalami banyak

hambatan, diantaranya harga yang relatif mahal dan kesulitan dalam

mendapatkannya.

Pengobatan tradisional merupakan budaya yang tetap digunakan oleh

masyarakat dari berbagai tingkatan ekonomi di seluruh dunia, dalam upaya

menyembuhkan penyakit dan menjaga kesehatan diri dan hewan peliharaannya.

Dewasa ini pemanfaatan tanaman obat semakin digalakkan, karena selain

memberikan alternatif atas kebutuhan obat yang mudah diperoleh, murah

harganya dan berkhasiat juga dapat sekaligus memanfaatkan bahan yang tersedia

di alam terutama di lingkungan peternak. Hal ini menguntungkan bagi masyarakat

peternak di Indonesia, yang mayoritas tinggal di desa. Di Indonesia terdapat

kurang lebih 40.000 jenis tumbuhan, dan baru sekitar 1000 jenis tumbuhan

(2,5 %) yang sudah dimanfaatkan sebagai tanaman obat (Sumarni, 1994).

Beberapa tanaman obat yang dipergunakan sebagai obat cacing antara lain

rimpang temulawak (Curcuma xanthorriza, R). Mulyaningsih (1989) yang dikutip

(16)

mematikan cacing tambang pada anjing secara in vitro. Subekti (1990)

menyatakan bahwa perasan temulawak dapat menurunkan jumlah Egg Per Gram

(EPG) pada ayam yang terinfeksi cacing A.galli. Wibawa (1992) juga menyatakan

dalam penelitiannya bahwa jika ditinjau dari segi efektifitasnya perasan rimpang

temulawak dengan konsentrasi 100% dan 50% cukup efektif mematikan cacing

Haemonchus spp. Di dalam rimpang temulawak terdapat suatu zat yang

berkhasiat sebagai antelmintik yaitu minyak atsiri dan kurkumin. Berdasarkan

manfaatnya sebagai obat cacing, perlu dilakukan pengkajian lebih lanjut mengenai

pengaruh pemberian perasan rimpang temulawak terhadap viabilitas telur cacing

A.galli secara in vitro dibandingkan dengan mebendazol sebagai kontrol obat.

1.2 Perumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang, maka dirumuskan permasalahan sebagai berikut:

1. Berapa besar konsentrasi efektif dari berbagai tingkatan konsentrasi perasan

rimpang temulawak yang dapat mempengaruhi viabilitas telur cacing

A.galli dibandingkan dengan mebendazol secara in vitro?

2. Hari ke berapa berbagai tingkatan konsentrasi perasan rimpang

temulawak sudah dapat mempengaruhi viabilitas telur cacing A.galli

dibandingkan dengan mebendazol secara in vitro?

1.3 Landasan Teori

Alternatif pengobatan Ascaridiasis dengan obat tradisional diperlukan untuk

(17)

satu bahan antelmintik yang berasal dari dari tumbuh-tumbuhan yang dapat

dipakai untuk memberantas infeksi cacing adalah rimpang temulawak (Subekti,

1990). Rimpang temulawak selain kaya akan zat pati juga mengandung kurkumin

dan minyak atsiri yang mempunyai kegunaan antara lain sebagai bahan antiseptik,

analgesik, sedatif maupun obat cacing {Guenter (1988) yang dikutip Setiawan

(1994).

1.4 Tujuan Penelitian

Penelitian ini bertujuan untuk :

1. Mengetahui konsentrasi efektif dari berbagai tingkatan konsentrasi

perasan rimpang temulawak yang dapat mempengaruhi viabilitas telur

cacing A.galli dibandingkan dengan mebendazol secara in vitro.

2. Mengetahui hari ke berapa berbagai tingkatan konsentrasi perasan

rimpang temulawak sudah dapat mempengaruhi viabilitas telur cacing

A.galli dibandingkan dengan mebendazol secara in vitro.

1.5 Manfaat Penelitian

Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan informasi kepada

masyarakat tentang manfaat rimpang temulawak sebagai salah satu obat

alternatif untuk mencegah dan membasmi cacing A.galli beserta telurnya dalam

upaya peningkatan kesehatan ternak ayam untuk menghasilkan produksi yang

(18)

1.6 Hipotesis Penelitian

Hipotesis yang diajukan dalam penelitian ini adalah :

1. Terdapat perbedaan efektifitas dari berbagai tingkatan konsentrasi perasan

rimpang temulawak terhadap viabilitas telur cacing A.galli dibandingkan

dengan mebendazol secara in vitro.

2. Terdapat perbedaan waktu dari berbagai tingkatan konsentrasi perasan

rimpang temulawak terhadap viabilitas telur cacing A.galli dibandingkan

(19)

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Temulawak (Curcuma xanthorriza, Roxb)

Temulawak diperkenalkan pertama kali oleh Roxburg pada tahun 1810 dengan

nama Curcuma xanthorriza. Tanaman ini mudah dibedakan dari temu-temu lain,

karena mempunyai induk rimpang terbesar diantara familinya (IPTEKnet, 2002).

2.1.1 Sistematika Temulawak

Sistematika tanaman temulawak menurut Backer dan Bakhuizen (1968) yang

dikutip oleh Wibawa (1992) adalah sebagai berikut:

Filum : Spermatophyta

Sub Filum : Angiospermae

Kelas : Monocotyledonae

Ordo : Zingiberales

Famili : Zingiberaceae

Genus : Curcuma

Spesies : Curcuma xanthorriza, Roxb

2.1.2 Nama Daerah dan Ekologi Penyebaran

Temulawak merupakan tanaman asli Indonesia, kemudian menyebar ke

Malaysia, Thailand, Birma, India, Philipina. Di Indonesia, tanaman ini dapat

(20)

termasuk Bali. Di pulau Jawa, temulawak dapat tumbuh liar di hutan jati maupun

dibudidayakan di padang alang-alang dan tegalan. Nama daerah dari temulawak

antara lain: temu lawak (Melayu), koneng gede (Sunda), temulawak (Jawa), temu

labak (Madura) (IPTEKnet, 2002).

2.1.3 Morfologi Tanaman Temulawak

Temulawak termasuk tanaman tahunan merumpun, tanaman ini berbatang

semu dan habitusnya dapat mencapai ketinggian 2-2,5 meter. Tiap rumpun

tanaman terdiri atas beberapa tanaman (anakan) dan tiap tanaman memiliki 2-9

helai daun. Daun tanaman temulawak bentuknya panjang dan agak lebar. Lamina

daun dan seluruh ibu tulang daun bergaris hitam, tiap helai daun melekat pada

tangkai daun yang posisinya saling menutupi secara teratur (IPTEKnet, 2002).

A B Gambar 2. A. Tanaman Temulawak (Curcuma xanthorriza, R)

(21)

2.1.4 Ciri-ciri Rimpang Temulawak

Rimpang temulawak berukuran paling besar diantara rimpang-rimpang dari

semua jenis Curcuma. Bentuk rimpang membulat dan dari luar berwarna kuning

tua atau coklat kemerahan. Induk rimpang bercabang-cabang banyak dan kuat.

Anak rimpang beraneka ragam dan umumnya berwarna lebih muda dibandingkan

dengan rimpang induk. Bidang irisan berwarna jingga kecoklatan, melengkung

tidak beraturan dan sering ada tonjolan melingkar pada batas antara silinder pusat

dengan korteks. Zat warna kuning kecoklatan rasanya pahit tajam (IPTEKnet,

2002).

2.1.5 Kandungan Rimpang Temulawak

Rimpang temulawak segar mengandung 75 persen air, minyak atsiri, lemak,

zat warna (pigmen), resin, selulose, pentosa, pati, mineral, zat penyebab rasa pahit

dan beberapa kandungan senyawa kimia antara lain berupa fellandrean dan

tumerol (minyak menguap), kemudian kamfer, glukosida, foluymetik karbinol dan

kurkumin (IPTEKnet, 2002). Efek farmako yang ditimbulkan antara lain: anti

sembelit, tonikum, diuretik, fungstatik dan bakteriostatik (Anonimus, 2005).

2.1.5.1 Tinjauan tentang Minyak Atsiri

Minyak Atsiri mengandung flavonoida yang berkhasiat menyembuhkan

radang, minyak atsiri juga membunuh mikroba (Anonimus, 2005). Malingre

(22)

temulawak (Curcuma xanthorriza, R) yang terdiri dari: p-tolimetilkarbinol, alfa

zingiberen, sikloisoprenmirsen, kurlon, turmeron, ar-tumeron,

tetrahidro-p-asetil-toluol, santonizol dan isofuranogermaliren.

Berdasarkan gejala yang ditimbulkan oleh cacing diduga cara kerja minyak

atsiri adalah dengan menghambat hantaran neuromuskuler, yaitu dengan

mendepolarisasikan motor and plate, disertai eksitasi pada cacing, kemudian

mencegah repolarisasi sehingga menyebabkan depolarisasi terus menerus, yang

akhirnya terjadi paralisa otot cacing lalu mati (Setiawan, 1994).

2.1.6 Kegunaan dan Pemanfaatan Temulawak

Sebagai obat tradisional, rimpang temulawak banyak digunakan untuk

pengobatan kejang-kejang, malaria, diare, asma, meningkatkan nafsu makan,

produksi ASI, radang ginjal, peluruh batu empedu dan cacing tambang. Selain itu

temulawak juga dapat digunakan sebagai obat flu burung (IPTEKnet, 2002).

2.2 Ascaridiasis

Ascaridiasis adalah salah satu penyakit cacing yang menyerang bangsa unggas

dan menyebabkan kerugian ekonomi yang tinggi. Penyakit ini disebabkan oleh

cacing Ascaridia galli yang berinduk semang pada ayam, kalkun, burung dara, itik

dan angsa. Selain A.galli ditemukan beberapa spesies lain yang berinduk semang

pada berbagai jenis unggas diantaranya A.dissimilis yang berinduk semang pada

(23)

ditemukan pada burung puyuh, A.bonasae yang berinduk semang pada sejenis

ayam hutan dan A.numidae yang ditemukan pada burung merak. Infeksi A.galli

dapat menyerang ternak ayam pada semua umur terutama ayam umur 1-3 bulan

(Soulsby, 1986).

2.2.1 Klasifikasi Ascaridia galli

Nama lain dari A.galli adalah A.perspicillum atau A.lineata. Cacing ini disebut

juga Heterakis lineata atau Heterakis inplexa (Schrank, 1780; yang dikutip oleh

Hofstad et al. 1984).

Soulsby (1986) mengklasifikasikan cacing A.galli secara taksonomi dengan

sistematika sebagai berikut :

Filum : Nemathelmintes

Kelas : Nematoda

Sub kelas : Phasinidia, Chitwood dan Chitwood (1933)

Ordo : Ascaridida, Skrjabin dan Schula (1940)

Sub ordo : Ascaridata, Skrjabin (1915)

Super famili : Ascaridoedea, Railliet dan Henry (1915)

Famili : Ascaridea, Daird (1953)

Genus : Ascaridia

(24)

2.2.2 Habitat dan Morfologi

Ascaridia galli merupakan cacing Nematoda unggas yang cukup besar. Bentuk

tubuhnya gilig dengan warna putih kekuningan yang rata. Mempunyai tiga bibir

besar dan esofagusnya tidak mempunyai bulbus posterior (Soulsby, 1986). A.galli

menyerang usus halus unggas dan kadang-kadang bisa ditemukan pada esofagus,

tembolok, ventrikulus dan saluran telur (Hofstad etal, 1984). Populasi cacing

A.galli di dalam usus halus ayam lebih banyak betina daripada jantan (Suweta

dkk, 1980).

Cacing jantan berukuran panjang 30-80 mm dan diameter 0,5-1,2 mm. Cacing

ini mempunyai ciri precloacal sucker berbentuk sirkuler dengan kutikula yang

tebal. Mempunyai papila-papila pada tepi tubuh posterior. Bagian ekor

mempunyai lapisan yang halus dan memiliki 10 pasang papila yang pendek dan

tebal. Spikula sama panjang berukuran 1-2,4 mm. Sedangkan cacing betina

berukuran panjang 60-120 mm dengan diameter 0,9-1,8 mm. Vulva terdapat pada

bagian anterior tubuh (Levine, 1990).

2.2.3 Telur Ascaridia galli

Telur berbentuk oval berukuran 75-80 x 45-50 µm berselubung halus

dan tidak bersegmen ketika dikeluarkan. Pada tempat lembab, bersuhu

32,2-38,8 °C dan terhindar dari sinar matahari, telur cacing akan mengalami

(25)

optimal, telur cacing dapat bertahan hidup selama 249 hari dan telur yang infektif

dapat bertahan sampai 3 bulan (Urquhart et al, 1987).

2.2.4 Sikus Hidup

Siklus hidup Ascaridia pada ayam berlangsung 35 hari (Akoso, 1998). Siklus

hidup cacing ini tidak membutuhkan induk semang perantara. Penularan cacing

tersebut biasanya melalui pakan, air minum, litter atau bahan lain yang tercemar

oleh feses yang mengandung telur infektif. Telur A.galli dikeluarkan

bersama-sama feses induk semang dan berkembang menjadi stadium infektif di tempat

terbuka dalam waktu 10 hari atau lebih. Temperatur yang cukup tinggi serta

kelembaban dan kadar oksigen yang tinggi mempercepat perkembangan larva

stadium kedua yang sangat resisten terhadap kondisi yang tidak menguntungkan

akan mampu bertahan hidup lebih dari 3 bulan di lingkungan yang teduh

(Urquhart et al, 1987).

Infeksi terjadi karena telur infektif tertelan bersama pakan atau minuman,

selain itu dapat melalui cacing tanah yang menelan telur A.galli, kemudian cacing

tersebut termakan ayam. Telur cacing termakan oleh induk semang akan menetas

dan berkembang menjadi larva stadium ke tiga di dalam usus halus ayam pada

hari ke delapan setelah infeksi, kemudian larva hidup bebas di dalam usus halus.

Pada hari ke 9-10 larva stadium ke tiga menembus mukosa usus halus dan

berkembang menjadi larva stadium ke empat pada hari ke 14-15 setelah infeksi

(Subekti dkk, 2002). Hari ke 17-18 cacing muda akan keluar dari mukosa menuju

(26)

Levine, 1990). Cacing dewasa mulai bertelur pada hari ke 100 dan telur-telur

cacing dikeluarkan bersama feses dari induk semang. Seekor cacing dewasa

mampu bertelur lebih kurang 250.000 butir setiap hari (Dunn, 1978).

2.2.5 Patogenesis dan Gejala Klinis Infeksi Ascaridia galli

Penetrasi larva pada mukosa usus akan mengakibatkan kerusakan dinding usus

dan perdarahan usus sehingga ayam akan mengalami anemia dan diare. Cacing

dewasa dalam usus halus akan memakan isi usus dan merusak mukosa usus.

Pada infeksi berat akan menyebabkan penyumbatan lumen usus sehingga

mengganggu peristaltik usus dan mengakibatkan perforasi usus serta dapat

mengakibatkan kematian dari induk semangnya (Soulsby, 1986).

Gejala klinis yang terlihat pada ayam yang menderita Ascaridiasis adalah

nafsu makan menurun, lemah, bulu rontok dan kusam, sayap terkulai serta

mengakibatkan penurunan produksi dan berat badan (Ramadan, 1991).

Soulsby (1986) mengemukakan bahwa gejala klinis yang biasanya tampak

pada ayam yang terinfeksi cacing A.galli adalah: 1) pada ayam-ayam muda

mengakibatkan terjadinya anemia, diare dan menurunnya nafsu makan yang

diakibatkan toksin yang dihasilkan oleh cacing serta rasa haus yang berlebihan; 2)

pada ayam yang sedang berproduksi menyebabkan penurunan produksi telur

sampai berhenti sama sekali, bulu rontok, kusam, kepucatan dan sayap terkulai,

(27)

3) pada infeksi yang berat dapat menyebabkan kematian. Sedangkan gejala

patologis pada ayam yang menderita ascaridiasis adalah lesi yang meliputi

perdarahan dan enteritis, yang terjadi akibat adanya penetrasi larva cacing pada

mukosa duodenum. Ayam yang terinfeksi A.galli dalam jumlah besar akan

terjadi kekurangan darah, menurunnya gula darah, peningkatan asam urat,

pengecilan glandula thymus, pertumbuhan terhambat, kelemahan, kekurusan,

diare dan kadang-kadang terjadi kematian (Tabbu, 2002).

2.2.6 Daya Tahan Ayam terhadap Infeksi Ascaridia galli

Tiap individu ayam mempunyai daya tahan yang berbeda-beda terhadap

infeksi cacing tergantung umur, jenis kelamin, genetika, kondisi gizi ayam dan

jumlah cacing A.galli pada lumen duodenum ayam (Subekti dkk, 2002).

Ayam berumur 3 bulan keatas lebih tahan terhadap infeksi cacing A.galli

dibanding ayam muda (kurang dari 3 bulan), hal ini karena adanya peningkatan

jumlah mukus pada saluran usus halus, peningkatan sel-sel goblet dan sel-sel

leukosit pada mukosa usus ini merupakan perkembangan dari respon tubuh untuk

membentuk ketahanan terhadap perkembangan cacing (Hofstad et al, 1984).

Hewan betina lebih tahan terhadap infeksi cacing Nematoda daripada hewan

jantan. Hal ini karena adanya hormon kelamin betina (estrogen) yang dapat

menstimulir pembentukan lapisan penutup mukosa pada dinding usus,

(28)

juga menstimulir Reticulo Endothelial System (RES) yang bertanggung jawab

terhadap pembentukan antibodi {Dobson (1965) yang dikutip Yunus (1994)}.

Soulsby (1986) menyatakan bahwa makanan yang kurang mengandung

vitamin A, vitamin B kompleks, mineral dan protein merupakan faktor

predisposisi infeksi A.galli. Faktor predisposisi yang lain adalah populasi ayam

yang terlalu padat dan litter yang lembab (Tabbu, 2002).

2.2.7 Pengendalian Infeksi Ascaridia galli

Ternak ayam diberikan pakan yang cukup mengandung vitamin A, vitamin B

kompleks, mineral dan diet protein hewan tinggi. Peralatan kandang terutama

tempat pakan dan minum dijaga kebersihannya. Litter kandang dijaga

kebersihannya dan diganti secara periodik. Penggunaan kandang individu

mengurangi infeksi cacing A.galli. Pemberian obat cacing sekali sebulan untuk

mencegahnya (Subekti dkk, 2002). Namun mengingat bahwa lalat dapat bertindak

sebagai vektor mekanik dari telur A.galli, maka pengendalian yang terbaik

terhadap infeksi A.galli adalah kombinasi antara pengobatan preventif dan

manajemen yang optimal, meliputi sanitasi atau desinfeksi ketat dan pembasmian

(29)

2.3 Mebendazol

Mebendazol diperkenalkan pertama kali pada tahun 1972 sebagai antelmintik

berspektrum luas untuk cacing Nematoda dan merupakan turunan dari senyawa

benzimidazole sintetik (Anonimus 1995).

Cara kerjanya terhadap cacing adalah: 1) menghambat sintesis mikrotubulus

sehingga parasit mati perlahan-lahan dan dikeluarkan dari usus secara

berangsur-angsur dalam beberapa hari; 2) menghambat glukosa uptake secara irreversibel

sehingga terjadi pengosongan (deplesi) glikogen pada cacing; 3) menghambat

asetilkolinesterase yang menyebabkan terjadinya pemupukan asetilkolin dalam

tubuh cacing sehingga terjadi kekejangan pada tubuh cacing; 4) menurunkan

penyediaan Adenosin Tri Phospat (ATP) untuk hidup cacing mengakibatkan

mobilitas lemah dan cacing akan mati (Katzung, 1994).

Mebendazol dapat menimbulkan sterilitas pada telur cacing Trichuris

trichuria, cacing tambang dan Ascaris sehingga telur cacing gagal berkembang

(Anonimus, 1995).

Mebendazol tidak menyebabkan efek toksik sistemik sehingga aman diberikan

pada penderita dengan anemia maupun malnutrisi. Efek samping terhadap

pemakaian mebendazol hampir tidak ada, hanya kadang-kadang penderita

ascariasis berat terjadi mual, muntah dan nyeri perut. Di pasaran mebendazol

tersedia dalam bentuk tablet dan sirup dengan nama dagang Antelmox®, Vermon®,

Vermoran®, Vermox®. Untuk terapi larva migrans, mebendazol dapat dicobakan

(30)

BAB III

MATERI DAN METODE PENELITIAN

3.1 Tempat dan Waktu Penelitian

Penelitian dilaksanakan di Laboratorium Helmintologi Fakultas Kedokteran

Hewan Universitas Airlangga Surabaya. Penelitian dimulai pada tanggal

11 Juli 2005 sampai dengan 14 Agustus 2005.

3.2 Materi Penelitian 3.2.1 Sampel Penelitian

Penelitian ini menggunakan telur cacing A.galli yang diperoleh dengan

mengumpulkan cacing A.galli dewasa dari usus halus segar ayam buras yang

dibeli dari pasar tradisional di Surabaya.

3.2.2 Bahan Penelitian

Bahan-bahan yang digunakan pada penelitian ini terdiri atas rimpang

temulawak, NaCl Fisiologis, Mebendazol sebagai kontrol obat atau pembanding,

Aquades dan Tween 80 sebagai suspensator.

3.2.3 Alat Penelitian

(31)

pinset, pipet, gelas Beaker, alat pengaduk, gelas ukur, timbangan, inkubator,

termometer, penyaring, sarung tangan dan mikroskop.

3.3 Metode Penelitian

Penelitian ini dibagi menjadi dua tahap yang meliputi penelitian pendahuluan

dan penelitian sesungguhnya.

Penelitian pendahuluan adalah menentukan rentang konsetrasi perasan

rimpang temulawak yang akan digunakan pada penelitian sesungguhnya, serta

menentukan bagaimana karakteristik telur yang dikatakan rusak.

Penelitian sesungguhnya dilakukan secara in vitro dengan menggunakan

berbagai konsentrasi perasan rimpang temulawak (Curcumaxanthorriza, R) yang

telah ditentukan pada tahap pendahuluan dan dibandingkan dengan obat jadi

mebendazol yang memiliki nama dagang Vermox500 (Janssen, Pharmaceutica)

sebagai antelmintik terhadap viabilitas telur cacing A.galli.

3.3.1 Penentuan Rentang Konsentrasi Perasan Rimpang Temulawak

Dilakukan uji pendahuluan untuk mengetahui rentang perasan rimpang

temulawak yang akan digunakan dalam penelitian sesungguhnya. Uji pendahuluan

dilakukan dengan prinsip:

1. Menggunakan seri dosis dengan pengenceran berkelipatan ganda

(32)

3. Dosis diatur sedemikian rupa sehingga memberikan efek dari 0% sampai

100% (Depkes RI, 1979; dikutip Sujoni 2002).

Menurut Thomson (1995) dalam Sujoni (2002), untuk memperoleh

penyebaran data yang baik perlu ditentukan faktor penyebaran dosis yang

menyebabkan kematian 0% sampai 100%. Faktor penyebaran selanjutnya dapat

digunakan untuk menentukan interval dosis yang akan digunakan pada tahap

penelitian sesungguhnya.

3.3.2 Pembuatan Perasan Rimpang Temulawak

Rimpang temulawak segar dicuci dengan air hingga bersih, kemudian

diangin-anginkan hingga kering kurang lebih selama 3 jam, ditimbang baru diparut. Hasil

parutan diperas dan disaring dengan kertas saring, sehingga didapatkan sari

temulawak dengan konsentrasi 100%. Pada penelitian ini dari hasil penimbangan

90 gram temulawak didapatkan 100 ml perasan.

Pada penelitian ini konsentrasi perasan rimpang temulawak yang digunakan

adalah 2%, 3%, 4% dan 5%. Cara membuat perasan rimpang temulawak 2%

adalah sebagai berikut: Sari temulawak dengan konsentrasi 100%, diambil dengan

pipet sebanyak 2 ml dan dimasukkan dalam gelas Beaker kemudian ditambahkan

NaCl fiologis ad 100 ml. Setelah itu diaduk sampai rata. Cara yang sama

dilakukan pula pada konsentrasi yang lain sehingga diperoleh konsentrasi larutan

(33)

3.3.3 Penyiapan Telur cacing Ascaridia galli

Cacing A.galli diperoleh dari usus halus segar ayam buras yang menderita

Ascaridiasis. Cacing-cacing tersebut dikumpulkan dalam cawan petri yang

berisi NaCl fisiologis, kemudian di inkubasi pada suhu 37˚C. Setelah 4 jam

inkubasi, telur cacing dipanen. Telur-telur cacing selanjutnya disimpan di

dalam lemari es (4°C) untuk menghambat perkembangan telur, setelah itu dibagi

dalam 24 cawan petri kecil masing-masing sebanyak 100 butir, kemudian baru

diberikan perlakuan. Cara penghitungan telur sebanyak 100 butir sebelumnya

dilakukan percobaan pada penelitian pendahuluan sebanyak 3-4 kali dengan

menghitung jumlah telur dari satu tetes suspensi telur dalam cawan petri kecil dan

dihitung di bawah mikroskop dalam satu lapang pandang.

3.3.4 Penentuan Karakteristik Telur Cacing yang Rusak

Uji pendahuluan dilakukan untuk mengetahui sampai berapa lama sel telur

cacing A.galli mampu berkembang dan bertahan hidup dalam berbagai perlakuan,

serta untuk menentukan kerusakan struktur telur cacing karena pengaruh

masing-masing perlakuan. Gambaran kerusakan telur cacing dapat meliputi kerusakan

dinding sel, kretinasi, piknosis, karyoreksis atau cytolisis. Parameter ini yang

(34)

3.3.5 Prosedur Penelitian

Pada penelitian ini volume tiap-tiap perlakuan pada cawan petri adalah 10 ml.

Setiap cawan petri berisi 100 butir telur cacing A.galli. Ulangan yang dilakukan

pada masing-masing perlakuan sebanyak 4 kali. Penelitian ini dibagi menjadi

enam macam perlakuan, yaitu :

Perlakuan I (P0) : Perendaman telur cacing dalam 10 ml larutan NaCl

fisiologis.

Perlakuan II (P1) : Perendaman telur cacing dalam 10 ml perasan rimpang

temulawak dengan konsentrasi 2%.

Perlakuan III (P2) : Perendaman telur cacing dalam 10 ml perasan rimpang

temulawak dengan konsentrasi 3%.

Perlakuan IV (P3) : Perendaman telur cacing dalam 10 ml perasan rimpang

temulawak dengan konsentrasi 4%.

Perlakuan V (P4) : Perendaman telur cacing dalam 10 ml perasan rimpang

temulawak dengan konsentrasi 5%.

Perlakuan VI (P5) : Perendaman dalam 10 ml larutan mebendazol.

Pembuatan larutan mebendazol sebagai kontrol obat pembanding adalah

dengan menggerus tablet Vermox 500 mg hingga halus, kemudian disuspensikan

dalam NaCl fisiologis 100 ml dan diberikan Tween 80 sebanyak 1% (dari volume

100 ml) sebagai suspensator. Konsentrasi mebendazol yang digunakan adalah

(35)

NaCl fisiologis ad 100 ml. Masing-masing media diaduk dengan batang pengaduk

kaca sampai merata.

Inkubasi masing-masing perlakuan dalam inkubator dengan suhu 37ºC.

Pengamatan dilakukan untuk mencatat persentase telur cacing yang rusak atau

yang tidak mengalami perkembangan dan dilakukan pada hari pertama

perendaman sampai telur menjadi infektif (10 hari).

3.3.6 Peubah yang Diamati

Banyaknya telur cacing yang rusak dihitung setiap kali pengamatan (hari

pertama sampai 10 hari perendaman). Pemeriksaan telur cacing yang rusak atau

tidak mengalami perkembangan dilakukan dengan cara pengamatan telur-telur

tersebut di bawah mikroskop dengan perbesaran 100x, setiap hari.

3.3.7 Rancangan Percobaan dan Analisis Data

Rancangan penelitian yang digunakan adalah Rancangan Acak Lengkap

(RAL) dengan enam perlakuan dan empat ulangan untuk masing-masing

perlakuan. Data yang diperoleh dianalisis dengan Analisis Varian (Anava)

berdasarkan Uji F. Apabila terdapat pengaruh yang nyata dilanjutkan dengan Uji

(36)

Usus ayam buras terinfeksi A.galli

Cacing A.galli (dewasa)

Inkubasi (37°C) dalam NaCl fisiologis selama 4 jam

Panen telur cacing A.galli

Simpan dalam almari es (4°C) untuk menghambat perkembangan telur

Suspensi telur A.galli dibagi yang dipersiapkan untuk 6 perlakuan

(masing-masing perlakuan ada 4 ulangan)

Inkubasi semua perlakuan di dalam inkubator (37°C)

Pengamatan terhadap perlakuan mulai hari 1− 10 perendaman

Dihitung (%) jumlah telur cacing yang mengalami kerusakan

Analisis secara statistik

(37)

BAB IV

HASIL PENELITIAN

Hasil penelitian mengenai Perbandingan efektifitas pemberian perasan

Rimpang Temulawak (Curcuma xanthorriza, R) dengan Mebendazol terhadap

viabilitas Telur Cacing Ascaridia galli secara in vitro diperoleh hasil seperti pada

Tabel 1.

Hasil persentase kerusakan telur cacing tersebut menunjukkan sebaran yang

tidak normal karena terdapat data di bawah 30% dan di atas 70% maka data

tersebut harus ditransformasikan untuk memperoleh sebaran yang normal

(Kusriningrum, 1989). Hasil transformasi selengkapnya tercantum pada Lampiran

1-10, sedangkan Tabel 1 dan Tabel 2 menunjukkan persentase rata-rata kerusakan

telur cacing A.galli sebelum dan sesudah transformasi beserta standar deviasinya

(% ± SD).

Tabel 1. Persentase Rata-rata dan Standar Deviasi Kerusakan Telur Cacing A.galli Pada Berbagai Perlakuan Sebelum Transformasi (% ± SD)

Superskrip yang berbeda pada baris yang sama menunjukkan perbedaan yang nyata (p<0,05)

Tabel 2. Persentase Rata-rata dan Standar Deviasi Kerusakan Telur Cacing A.galli pada berbagai Perlakuan Sesudah Transformasi (% ± SD)

(38)
(39)

Pada Tabel 1 perendaman dalam NaCl fisiologis (P0), rata-rata kerusakan telur

cacing A.galli tertinggi (11,25%) terdapat pada hari ke-10. Perendaman telur

cacing A.galli dalam perasan rimpang temulawak 2% (P1), rata-rata kerusakan

paling tinggi (52,50%) terdapat pada hari ke-10. Rata-rata kerusakan telur cacing

A.galli dalam perasan rimpang temulawak 3% (P2) tertinggi (56%) juga terdapat

pada hari ke-10. Perendaman dalam perasan rimpang temulawak 4% (P3),

rata-rata kerusakan telur cacing A.galli tertinggi (70,75%) pada hari ke-10.

Perendaman telur cacing A.galli dalam perasan rimpang temulawak 5% (P4),

rata-rata kerusakan paling tinggi (76%) terdapat pada hari ke-10. Rata-rata-rata kerusakan

telur cacing A.galli dalam perendaman dengan larutan mebendazol (P5) yang

tertinggi (79%) juga terdapat pada hari ke-10.

Tabel 1 menunjukkan bahwa pada pengamatan hari ke-1, hasil terbaik

ditunjukkan pada perendaman telur cacing dalam perasan rimpang temulawak 5%

(P4) yang tidak berbeda nyata dengan perlakuan perendaman dalam perasan

temulawak 4% (P3) (p≥0,05). Pada hari ke-2 perendaman, jumlah telur cacing

yang rusak tertinggi masih terdapat pada perasan rimpang temulawak 5%

(P4) namun berbeda nyata dengan perlakuan perasan rimpang temulawak 4% (P3),

3% (P2), 2% (P1), mebendazol (P5) dan NaCl fisiologis (P0). Pada hari ke-3 sampai

ke-6 jumlah telur cacing yang rusak terbanyak adalah perasan rimpang temulawak

5% (P4) kemudian perasan rimpang temulawak 4% (P3) dan disusul mebendazol

(40)

Perendaman selama 7 hari, hasil tertinggi pada perendaman dalam perasan

rimpang temulawak 5% (P4), namun berbeda nyata dengan perendaman dalam

larutan mebendazol (P5) sebagai hasil tertinggi kedua.

Hari ke-8 sampai hari ke-10 perendaman menunjukkan jumlah telur cacing

yang rusak terbanyak terdapat pada perlakuan larutan mebendazol (P5) yang tidak

berbeda nyata dengan perlakuan perasan rimpang temulawak 5% (P4).

Perlakuan perasan rimpang temulawak 5% (P4) dan mebendazol (P5) dengan

perasan rimpang temulawak 4% (P3), 3% (P2), 2% (P1) menunjukkan hasil yang

berbeda nyata (p<0,05). Jumlah kerusakan telur cacing terendah terdapat pada

perlakuan NaCl fisiologis (P0).

0.00

Hari-1 Hari-2 Hari-3 Hari-4 Hari-5 Hari-6 Hari-7 Hari-8 Hari-9 Hari-10

Waktu Pengam atan (hari)

NaCl Fis Perasan Temulaw ak 2% Perasan Temulaw ak 3%

Perasan Temulaw ak 4% Perasan Temulaw ak 5% Mebendazol

Gambar 4.1 Grafik Persentase Kerusakan Telur Cacing A.galli dalam

berbagai Perlakuan pada Perendaman Hari ke-1 sampai Hari ke-10.

Gambar-gambar hasil pengamatan telur cacing A.galli pada berbagai macam

(41)

A B

Gambar 4.2 Telur Cacing A.galli pada Larutan NaCl Fisiologis yang Mengalami Perkembangan, perbesaran 100x

Keterangan:

A. Perkembangan telur pada stadium 16 sel B. Perkembangan telur pada stadium morula

C D

Gambar 4.3 Telur Cacing A.galli dalam berbagai Perlakuan yang Tidak Mengalami Perkembangan atau Rusak setelah Perendaman, perbesaran 100x

Keterangan:

(42)

BAB V PEMBAHASAN

Pada penelitian ini digunakan rimpang temulawak sebagai medium untuk

perendaman pada telur cacing A.galli yang dilakukan secara in vitro. Selanjutnya

dilakukan penghitungan terhadap kerusakan telur cacing A.galli akibat

perendaman dengan medium perasan tesebut. Sel telur yang mengalami kerusakan

akibat perlakuan menunjukkan tanda perubahan bentuk struktur lapisan membran

dalam, kretinasi dinding telur, pelarutan sel (cytolisis) dan pecahnya dinding telur.

Hasil analisis statistik menunjukkan bahwa perasan rimpang temulawak

mempunyai efek yang nyata terhadap viabilitas telur cacing A.galli secara in vitro.

Semakin tinggi konsentrasi perasan rimpang temulawak yang diberikan semakin

besar pula jumlah telur A.galli yang mengalami kerusakan. Hal ini membuktikan

perasan rimpang temulawak mempunyai daya antelmintik yang semakin tinggi

dengan bertambah besarnya konsentrasi yang diberikan. Perasan rimpang

temulawak 5% merupakan konsentrasi perasan rimpang temulawak terbaik yang

sebanding dengan mebendazol dalam merusak telur cacing A.galli sedangkan

perasan rimpang temulawak 4% merupakan konsentrasi perasan rimpang

temulawak terbaik kedua (Tabel. 1 dan 2). Pada penelitian ini digunakan

mebendazol sebagai pembanding untuk mengetahui konsentrasi perasan rimpang

temulawak yang paling efektif dalam mempengaruhi viabilitas telur cacing A.galli

(43)

Daya antelmintik perasan rimpang temulawak diduga terdapat pada zat yang

terkandung dalam rimpang temulawak yakni minyak atsiri. Hal ini sesuai

pendapat Guenter (1988) yang dikutip oleh Setiawan (1994) bahwa rimpang

temulawak mengandung kurkumin dan minyak atsiri yang mempunyai kegunaan

antara lain sebagai antiseptik, analgesik, sedatif, maupun obat cacing

(antelmintik).

Dari hasil pengamatan kerusakan telur cacing A.galli yang terbanyak adalah

perubahan bentuk struktur lapisan membran dalam dengan tanda-tanda pelarutan

sel (cytolisis). Sel telur dan struktur lapisan membran dalam mengalami

pengkerutan dan kemudian larut pada keesokan harinya. Telur yang tidak berisi

sel (kosong) dan berdinding tipis pada keesokan harinya semakin melebar dan

hilang atau larut pada hari berikutnya, seperti terdapat kebocoran pada dinding sel

telur cacing A.galli. Dari hasil pengamatan diduga kerusakan membran sel telur

cacing tersebut yang menyebabkan kematian sel. Kerusakan membran sel

menyebabkan ion anorganik esensial, nukleotida, koenzim, dan asam amino

merembes ke luar sel. Kerusakan tersebut juga menyebabkan hambatan masuknya

materi esensial yang dibutuhkan sel, kemudian terjadi kematian sel (Volk dan

Wheeler, 1988).

Diduga permeabilitas selektif membran sel telur cacing A.galli terganggu karena

pengaruh pemberian perasan rimpang temulawak. Kandungan flavonoida minyak

atsiri yang merupakan derivat fenol bekerja mendenaturasi protein dan merusak

membran sitoplasma sel telur yang terdiri dari protein dan lemak sehingga terjadi

(44)

kemudian mengganggu fungsi membran mitokondria sebagai alat pengangkutan

elektron dan enzim. Organel sel seperti mitokondria merupakan organ yang

mensuplai lebih dari 95% energi sel. Energi pada sel digunakan untuk proses

transportasi, pertumbuhan dan pembelahan. Masuknya fenol dalam mitokondria

akan menyebabkan terdenaturasinya ensim-ensim reaksi pernafasan pada

membran mitokondria. Kejadian tersebut mengakibatkan berkurangnya energi

untuk proses pembelahan dan perkembangan sel telur cacing A.galli menjadi

terhambat, sehingga akhirnya embrio tidak terbentuk {Guyton (1991); Ganong

(1991) yang dikutip oleh Novianto (2002)}

Efektifitas mebendazol sebagai antelmintik yang berspektrum luas adalah

menyebabkan kerusakan struktur sub-seluler dan menghambat sekresi

asetilkolinesterase cacing. Obat ini juga menghambat ambilan glukosa secara

ireversibel. Sehingga terjadi pengosongan (deplesi) glikogen pada cacing,

sehingga cacing akan mati perlahan-lahan (Katzung, 1994).

Digunakan larutan NaCl fisiologis dalam penelitian ini dengan maksud untuk

menyetarakan kondisi telur cacing dalam cairan tubuh hewan tanpa pemberian

makanan. Ion natrium sangat diperlukan oleh makhluk hidup, fungsi utamanya

dalam tubuh adalah mempertahankan tekanan osmotik cairan tubuh, yang

berlebihan.

Pada media NaCl fisiologis beberapa telur cacing A.galli dapat bertahan hidup dan

mengalami perkembangan hingga terbentuk larva pada hari ke enam, hal ini

menunjukkan bahwa NaCl fisiologis adalah media yang sesuai bagi

(45)

pembanding. Meskipun telah terjadi kerusakan telur cacing A.galli dalam kontrol

NaCl fisiologis pada hari pertama namun kerusakan tersebut menunjukkan hasil

yang sangat berbeda nyata dengan perlakuan perasan rimpang temulawak 2%

sebagai konsentrasi terendah dalam penelitian tersebut, hal ini menunjukkan

bahwa kerusakan memang disebabkan oleh perlakuan dengan perasan rimpang

temulawak. Kerusakan telur cacing A.galli dalam kontrol NaCl fisiologis tersebut

mungkin disebabkan kelalaian peneliti dalam menjaga kelembaban saat proses

penyiapan telur cacing A.galli dan menjaga suhu inkubator agar tetap stabil.

Sesuai dengan pendapat Levine (1990) bahwa salah satu faktor yang

mempengaruhi perkembangan telur infektif adalah suhu dan kelembaban.

Ditinjau dari efektitasnya, perasan rimpang temulawak dengan konsentrasi 5%

mempunyai kemampuan yang optimal dalam mempengaruhi kerusakan sel telur

cacing A.galli sebesar (76%) yang sebanding dengan mebendazol (79%). Hal ini

membuktikan bahwa perasan rimpang temulawak mempunyai daya antelmintik

yang baik terhadap viabilitas telur cacing A.galli secara in vitro.

(46)

BAB VI

KESIMPULAN DAN SARAN

6.1 Kesimpulan

Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan, maka disimpulkan:

1. Pemberian perasan rimpang temulawak konsentrasi 5% (hari ke-8

sampai dengan hari ke-10 perendaman) mempunyai efektifitas terhadap

viabilitas telur cacing A.galli yang sebanding dengan mebendazol secara

in vitro.

2. Kerusakan telur cacing A.galli yang direndam dalam berbagai perlakuan

sudah ditemukan sejak pengamatan hari pertama, namun peningkatan

jumlah kerusakan telur cacing A.galli dalam berbagai perlakuan

mengalami perbedaan setiap harinya.

6.2 Saran

Saran yang dapat diajukan adalah:

1. Perlu dilakukan penelitian lebih lanjut mengenai bahan aktif dalam

rimpang temulawak yang mampu merusak telur cacing A.galli, sehingga

dapat digunakan untuk keperluan pengobatan pada telur cacing dari genus

yang lain.

Diperlukan rangkaian tentang dosis respon, efek samping, toksisitas, bentuk dan sediaan yang tepat dari rimpang temulawak sehingga dapat meningkatkan efisiensi

(47)

RINGKASAN

INDAH TRI SUSANTI. Perbandingan Efektifitas Pemberian Perasan

Rimpang Temulawak (Curcuma xanthorriza, R) dengan Mebendazol terhadap

Viabilitas Telur Cacing Ascaridia galli secara in vitro dibawah bimbingan

Dr. M.Zainal Arifin, MS., drh sebagai dosen pembimbing pertama dan Prof.Dr. Setiawan Koesdarto, MSc., drh sebagai dosen pembimbing kedua.

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efektifitas perasan rimpang

temulawak sebagai antelmintik terhadap viabilitas telur cacing A.galli. Penelitian

dilakukan selama 5 minggu, dimulai pada tanggal 11 Juli 2005 sampai tanggal 14

Agustus 2005 di Laboratorium Helmintologi Fakultas Kedokteran Hewan

Universitas Airlangga Surabaya.

Sampel dalam penelitian ini adalah telur cacing A.galli yang diperoleh dengan

mengumpulkan cacing A.galli dewasa dari usus halus ayam buras. Cawan petri

masing-masing diberi 100 butir telur cacing A.galli kemudian diberikan

perlakuan, yaitu perasan rimpang temulawak 2%, 3%, 4% dan 5%. Sebagai

kontrol dengan pemberian NaCl fisiologis dan sebagai pembanding menggunakan

larutan mebendazol. Pengamatan terhadap kerusakan telur cacing A.galli

dilakukan setiap hari di bawah mikroskop mulai dari hari pertama sampai hari

(48)

Peubah yang diamati adalah kerusakan dinding sel telur cacing A.galli atau

tidak adanya perkembangan sel telur A.galli. Penelitian ini menggunakan

Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan enam perlakuan dan empat ulangan.

Data disajikan dalam bentuk persentase sebelum ditransformasikan, kemudian

dianalisis dengan Analisis Varian menggunakan Uji F dan dilanjutkan dengan Uji

Jarak Berganda Duncan untuk mengetahui perlakuan yang terbaik.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa perasan rimpang temulawak sebagai

antelmintik setelah dianalisis dengan Uji F berpengaruh nyata terhadap viabilitas

telur cacing A.galli secara in vitro. Setelah dilanjutkan dengan Uji Jarak Berganda

Duncan menunjukkan bahwa perasan rimpang temulawak dengan konsentrasi 5%

mempunyai nilai efisiensi tertinggi diantara konsentrasi yang lain dan sebanding

dengan mebendazol. Berdasarkan hasil penelitian maka perasan rimpang

(49)

DAFTAR PUSTAKA

Akoso, B.T. 1998. Kesehatan Unggas. Penerbit Kanisius. Yogyakarta. 116-120.

Anonimus. 1995. Farmakologi dan Terapi. Edisi IV. Fakultas Kedokteran

Anonimus. 2005. Temulawak. http://www.Aneka Instant/id 17=m.htm

Dunn,A.M. 1978. Veterinary Helminthology 2nd Edition. William Heinemann

Medical Books LTD. London.

Hofstad, M.S.,H.J Barnes, B.W. Calnek, W.N Reid and H.W.Jr Yoder. 1984. Disease of Poultry. 8th Ed.Iowa State University Press.Iowa.USA.

IPTEKnet. 2002. Tanaman Obat Indonesia. Cakrawala IPTEKnet. http://www.iptek.net.id/ind/cakra_obat/tanamanobat.php?id=1

Katzung, B.G. 1994. Farmakologi Dasar dan Klinik – Edisi IV. Penerbit Buku Kedokteran EGC. Jakarta. 844 - 845.

Kusriningrum, R. 1989. Dasar Perancangan dan Percobaan Acak Lengkap. Fakultas Kedokteran Hewan. Universitas Airlangga. Surabaya. 89-142.

Levine, N.D. 1990. Parasitology Veteriner. Gadjah Mada University Press. Yogyakarta.

Novianto, T. 2002. Pengaruh pemberian Perasan Daun Ketepeng Cina (Cassia alata Linn) sebagai Anthelmintika terhadap viabilitas telur cacing Ascaris suum secara in vitro. Skripsi Fakultas Kedokteran Hewan.

Universitas Airlangga. Surabaya.

Oka, I.B.M. 2003. Ovisidal dan Vermisidal Bawang Putih terhadap Telur dan Cacing Ascaridia galli pada Ayam Kampung (Abstr).. Lab.

Parasitologi Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Udayana.

(50)

Prihandini, A. 2005. Perbandingan Efektifitas Pemberian Infusa Biji Pinang Sirih (Areca catechu L) dengan Mebendazol terhadap Viabilitas Telur Cacing Ascaridia galli secara in vitro, Skripsi Fakultas Kedokteran Hewan .

Universitas Airlangga. Surabaya.

Ramadan, H.H, 1991. Some Phatologicals Biochemical Studies On Experimental Ascariasis in Chichers Exp. Parasitologi 35 (1). (Abstrak).

Retno, F.D. Jahja, J. Suryani, T. 1998. Penyakit-penyakit Penting Pada Ayam. Edisi 4. Penerbit Medion. Bandung

Setiawan, B. 1994. Perbandingan Daya Anthelmintika Minyak Atsiri Rimpang

Temulawak (Curcuma xanthorriza), Temu Ireng (Curcuma

aeruginosa), Temu Giring (Curcuma heyneana) dengan Piperazin

sitrat terhadap cacing Ascaris suum secara in vitro. Skripsi Fakultas

Kedokteran Hewan Universitas Airlangga. Surabaya.

Soulsby, E.J.L. 1986. Helminth, Arthopods and Protozo of Domestic Animal. 7th

Ed. Bailiere Tindall and Cassel. London.

Subekti, S. 1990. Khasiat pemberian Temulawak (Curcuma xanthorriza, R) terhadap Ascariasis pada Ayam. Lembaga Penelitian Universitas Airlangga. Surabaya.

Subekti, S. Koesdarto, S. Mumpuni, S. Puspitawati, H. dan Koesnoto, 2002. Diktat Kuliah Ilmu Penyakit Nematoda Veteriner. Fakultas Kedokteran Hewan. Universitas Airlangga. Surabaya.

Sujoni, 2002. Uji in vitro Ekstrak Buah Pepaya (Carica papaya) terhadap

Mortalitas Cacing Mecistocirrus digitatus. Skripsi Fakultas

Kedokteran Hewan Universitas Airlangga. Surabaya.

Sumarni, S. 1994. Pengujian Manfaat Bahan Alam untuk Pengobatan Cacing Nematoda Usus. Phyto Medika Vol I (IV) : 303-312.

Suweta, I.G.P., I.G.P Putra., I.G Wirat dan A.A.M Ambarwati. 1980. Pengaruh Infestasi 150-950 Telur Cacing A.galli dan Vitamin B-12 terhadap

Performa Ayam Jantan. Risalah (Proceedings) Seminar Penyakit Reproduksi dan Unggas. Institut Pertanian Bogor. Tugu Bogor.

(51)

The PoultrySite.com. 2005. The large Roundworm (Ascaridia galli).

http:www.roundworm-large-Ascaridia_Poultry Disease at the PoultrySite_com.htm

Tjitra, E. 1991. Pendidikan penelitian “Soil Transmitted Helminthology di Indonesia”. Cermin Dunia Kedokteran 73: 3-5.

Urquhart, G.M. Armour, J. Duncan, J.L. Dunn, A.M. Jennings, F.W. 1988. Veterinary Parasitology. Departement of Veterinary Parasitology, The Faculty of Veterinary Medicine. The University of Glaskow. Scotland.

Volk, W. A. Wheeler, M.P. 1988. Mikrobiologi Dasar. 5th Edition. Alih Bahasa

Merkham, M.Sc. Penerbit Erlangga.

Wibawa, S.S. 1992. Pengaruh Pemberian Perasan Rimpang Temulawak (Curcuma xanthorriza Roxb) terhadap cacing Haemonchus spp. secara in vitro.

Skripsi Fakultas Kedokteran Hewan. Universitas Airlangga. Surabaya.

Yunus, M. 1994. Efektifitas Interval Pemberian Piperasin Sitrat terhadap

Ascaridia galli pada Ayam Ras Petelur. Lembaga Penelitian

(52)
(53)

Lampiran 1. Analisis Statistik Kerusakan Telur Cacing A.galli dari berbagai

Jumlah Kuadrat Sisa = 778,2504 – 648,7878 = 129,4626

Kuadrat Tengah Perlakuan = 648,7878 = 129,7575

6 − 1

Kuadrat Tengah Sisa = 129,4626 = 7,1923

6(4−1)

F hitung = 129,7575 = 18,041

7,1923

Tabel 3. Sidik Ragam Pengaruh Perlakuan terhadap Kerusakan Telur Cacing A.galli pada Perendaman Hari ke-1

Tabel 4. Perbedaan Rata-rata Jumlah Telur Cacing A.galli yang Rusak Hasil Perlakuan Berdasarkan Uji Jarak Berganda Duncan.

Lampiran 2. Analisis Statistik Kerusakan Telur Cacing A.galli dari berbagai Perlakuan pada Perendaman Hari ke-2

n 5 648,7878 129,7575 18,0411** 2,77 4,25

Sisa 18 129,4626 7,193

(54)

Jumlah Kuadrat Perlakuan = (34,49 2 + 80,14 2 + … + 69,45 2 ) – FK = 981,0975

4

Jumlah Kuadrat Sisa = 1097,4704 – 981,0975 = 116,3729

Kuadrat Tengah Perlakuan = 981,0975 = 196,2195

6 − 1

Kuadrrat Tengah Sisa = 116,3729 = 6,4651

6(4−1)

F hitung = 196,2195 = 30,3505

6,4651

Tabel 5. Sidik Ragam Pengaruh Perlakuan terhadap Kerusakan Telur Cacing A.galli pada Perendaman Hari ke-2

Tabel 6. Perbedaan Rata-rata Jumlah Telur Cacing A.galli yang Rusak Hasil Perlakuan Berdasarkan Uji Jarak Berganda Duncan.

(55)

Lampiran 3. Analisis Statistik Kerusakan Telur Cacing A.galli dari berbagai

Jumlah Kuarat Sisa = 1255,1495 – 1176,7552 = 78,3943

Kuadrat Tengah Perlakuan = 176,7552 = 235,3510 6 − 1

Kuadrat Tengah Sisa = 78,3943 = 4,3552

6(4−1)

F hitung = 235,3510 = 54,0390

4,3552

Tabel 7. Sidik Ragam Pengaruh Perlakuan terhadap Kerusakan Telur Cacing A.galli pada Perendaman Hari ke-3

n 5 1176,7552 235,351 54,039** 2,77 4,25

Sisa 18 78,3943 4,3552

Total 23 1255,149

(56)

Tabel 8. Perbedaan Rata-rata Jumlah Telur Cacing A.galli yang Rusak Hasil Perlakuan Berdasarkan Uji Jarak Berganda Duncan.

Lampiran 4. Analisis Statistik Kerusakan Telur Cacing A.galli dari berbagai Perlakuan pada Perendaman Hari ke-4

Faktor Koreksi = 646,912 = 17437,1895

6 x 4

Jumlah Kuadrat Total = (12,922 + 8,132 + …. + 26,562) – FK = 1473,3768

Jumlah Kuadrat Perlakuan = (46,77 2 + 103,32 2 +…+ 108,22 2 )– FK= 1425,7459

4

Jumlah Kuadrat Sisa = 1473,3768 − 1425,7459 = 47,6309

Kuadrat Tengah Perlakuan = 1425,7459 = 285,1492 6 − 1

Kuadrat Tengah Sisa = 47,6309 = 2,6461

6(4−1)

F hitung = 285,1492 = 107,762

2,6461

Tabel 9. Sidik Ragam Pengaruh Perlakuan terhadap Kerusakan Telur Cacing A.galli pada Perendaman Hari ke-4

n 5 1425,7459 285,1492 107,7620** 2,77 4,25

(57)

se = √ KTS = √ 2,6461 = 0,8133

n 4

LSR = se x SSR

Tabel 10. Perbedaan Rata-rata Jumlah Telur Cacing A.galli yang Rusak Hasil Perlakuan Berdasarkan Uji Jarak Berganda Duncan.

Lampiran 5. Analisis Statistik Kerusakan Telur Cacing A.galli dari berbagai Perlakuan pada Perendaman Hari ke-5

Faktor Koerksi = 725,872 = 21953,,6357

6 x 4

Jumlah Kuadrat Total = (15,342 + 9,982 +….+ 31,952) – FK = 1608,2132

Jumlah Kuadrat Perlakuan = (54,67 2 + 119,98 2 +…+ 128,98 ) – FK=1560,95772

4

Jumlah Kuadrat Sisa = 1608,2132 − 1560,9577 = 47,2555

Kuadrat Tengah Perlakuan = 1560,9577 = 312,1915 6 − 1

Kuadrat Tengah Sisa = 47,2555 = 2,6253

6(4−1)

F hitung = 312,1915 = 118,9165

(58)

Tabel 11. Sidik Ragam Pengaruh Perlakuan terhadap Kerusakan Telur

Tabel 12. Perbedaan Rata-rata Jumlah Telur Cacing A.galli yang Rusak Hasil Perlakuan Berdasarkan Uji Jarak Berganda Duncan.

Lampiran 6. Analisis Statistik Kerusakan Telur Cacing A.galli dari berbagai Perlakuan pada Perendaman Hari ke-6

Faktor Koreksi = 805,952 = 27064,8084

6 x 4

n 5 1560,9577 312,1915 118,9165** 2,77 4,25

Sisa 18 47,2555 2,6253

Total 23

(59)

Jumlah Kuadrat Sisa = 1977,8771 – 1928,1768 = 49,7002

Kuadrat Tengah Perlakuan = 1928,1768 = 385,6353

6 – 1

Kuadrat Tengah Sisa = 49,7002 = 2,7611

6(4–1)

F hitung = 385,6353 = 139,6672

2,7611

Tabel 13. Sidik Ragam Pengaruh Perlakuan terhadap Kerusakan Telur Cacing A.galli pada Perendaman Hari ke-6

Tabel 14. Perbedaan Rata-rata Jumlah Telur Cacing A.galli yang Rusak Hasil Perlakuan Berdasarkan Uji Jarak Berganda Duncan.

(60)

Faktor Koreksi = 898,82 = 33660,06

6 x 4

Jumlah Kuadrat Total = (16,432 + 14,182 +….+ 43,852) – FK = 2595,8192

Jumlah Kuadrat Perlakuan = (64,5 2 + 142,65 2 +…+ 176,55 ) – FK = 2563,10342

4

Jumlah Kuadrat Sisa = 2595,8192 − 2563,1034 = 32,7158

Kudrat Tengah Perlakuan = 2563,1034 = 512,6206

6 − 1

Kuadrat Tengah Sisa = 32,7158 = 1,8754

6(4−1)

F hitung = 512,6206 = 273,3393

2,7611

(61)

Tabel 16. Perbedaan Rata-rata Jumlah Telur Cacing A.galli yang Rusak Hasil PerlakuanBerdasarkan Uji Jarak Berganda Duncan.

Lampiran 8. Analisis Statistik Kerusakan Telur Cacing A.galli dari berbagai Perlakuan pada Perendaman Hari ke-8

Faktor Koreksi = 985,172 = 40439,997

6 x 4

Jumlah Kuadrat Total = (17,462 + 15,342 + ….+ 50,772) – FK = 3470,0095

Jumlah Kuadrat Perlakuan = (67,67 2 + 154 2 + … + 204,94 2 ) – FK = 3428,7941

4

Jumlah Kuadrat Sisa = 3470,0095 − 3428,7941 = 41,2154

Kuadrat Tengah Perlakuan = 3428,7941 = 685,7588

6 − 1

Kuadrat Tengah Sisa = 41,2154 = 2,2897

6(4−1)

F hitung = 685,7588 = 299,4972

2,2897

Gambar

Tabel                                                                                                          Halaman
Gambar                                                                                                      Halaman
Gambar 3. Bagan Alir Penelitian
Tabel 1. Hasil persentase kerusakan telur cacing tersebut menunjukkan sebaran yang
+7

Referensi

Dokumen terkait

Penulisan Tugas Akhir ini bertujuan untuk mengetahui lebih dalam tentang sistem pengadaan barang yang dilaksanakan di PDAM Tirta Satria mulai dari permintaan dan

Selanjutnya dilakukan pencarian di Google Scholar dan Mendeley untuk menemukan paper yang berhubungan dengan input paper yang dimasukkan dengan parameter atribut

Other than the non-visual programming, the biggest difference between creating components and using them is that when you create a new component you need to derive a new object

Motivasi positif: motivasi produsen tidak saja memberikan dalam bentuk sejumlah uang tapi juga bisa memotivasi dengan memberi diskon, hadiah, pelayanan yang optimun

Proses pemasaran ikan nila pada saluran II, petani melibatkan lembaga pemasaran yaitu pedagang pengumpul. Petani menjualnya ke pedagang pengumpul agar hasil

Konsep Islam berbeda secara mendasar dengan ajaran welfare state , dimana sistem Islam dalam tujuannya adalah untuk mengemplementasikan kesejahteraan material dan spritual

Untuk data-data curah hujan, salju, debit sungai, dan suhu termasuk sebagai data spasial yang merupakan data multivariat karena diamati pada beberapa lokasi, oleh

Sebagai kelanjutan proses pelelangan ini, kami mengundang saudara untuk menghadiri tahapan verifikasi dan pembuktian kualifikasi paket pekerjaan Pembangunan Pipa dan SR Kec..