• Tidak ada hasil yang ditemukan

PENDIDIKAN AGAMA ISLAM PADA ANAK NELAYAN RAWA PENING DI DESA ROWOBONI KABUPATEN SEMARANG TAHUN 2016 SKRIPSI

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2019

Membagikan "PENDIDIKAN AGAMA ISLAM PADA ANAK NELAYAN RAWA PENING DI DESA ROWOBONI KABUPATEN SEMARANG TAHUN 2016 SKRIPSI"

Copied!
143
0
0

Teks penuh

(1)

PENDIDIKAN AGAMA ISLAM

PADA ANAK NELAYAN RAWA PENING

DI DESA ROWOBONI KABUPATEN SEMARANG

TAHUN 2016

SKRIPSI

Disusun Untuk Memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan (S.Pd.)

Oleh :

FAIZ KHUZAIMAH NIM: 111-12-058

JURUSAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM

FAKULTAS TARBIYAH DAN ILMU KEGURUAN

INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI (IAIN)

SALATIGA

(2)
(3)
(4)
(5)
(6)

MOTTO

Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, keras, dan tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang

(7)

PERSEMBAHAN

Alhamdulillahirobbil’alamin dengan rahmat dan hidayah Allah SWT skripsi ini

telah selesai. Skripsi ini saya persembahkan kepada:

1. Ibu Purtiningsih dan Bapak Muh. Khafidz yang senantiasa memberikan nasehat

dan telah mendidikku dari kecil sampai menikmati kuliah S1 di IAIN Salatiga

ini, serta tidak lelah mendoakan tanpa henti untuk menjadi pribadi yang

bermanfaat untuk sesama.

2. Adik-adiku tersayang Faizal Fahmi Arrida’i, Farhan Abror, dan Muhammad

Fadlan Sururi yang selalu memberikan semangat untuk terus menjadi pribadi

yang tangguh.

3. Kummi, Umami, Nurjanah, Mbak Alfi, Wardati, Ika Fitri, Puput, Titir, dan

seluruh sahabatku yang selalu membersamai dalam setiap langkah.

4. Bapak Kyai H. Samsyurro’yi dan Ibu Hj. Istiwanah yang selalu sabar dan

membimbing dalam memperdalam ilmu agama.

5. Keluarga PAI B, Keluarga PPL SMK Diponegoro Salatiga, Kelompok KKN

posko 23, GRAVART Generation, IKAMASUTA Salatiga, dan segenap

teman-teman Pondok Pesantren Al-Riyadloh Kesongo Tuntang Semarang yang

(8)

KATA PENGANTAR

Puji syukur senantiasa penulis panjatkan kehadirat Allah SWT yang telah

memberikan banyak rahmat dan hidayah-Nya, sehingga bisa menikmati indahnya

Islam di dunia ini. Sholawat serta salam selalu tercurahkan pada junjungan Nabi

Agung Muhammad SAW yang telah membimbing manusia dari zaman kegelapan

hingga zaman yang terang benderang dan yang selalu dinantikan syafaatnya di

hari kiamat kelak. Segala syukur penulis panjatkan sehingga penulis dapat

menyelesaikan tugas akhir skripsi dengan judul “PENDIDIKAN AGAMA

ISLAM PADA ANAK NELAYAN RAWA PENING DI DESA ROWOBONI

KABUPATEN SEMARANG TAHUN 2016”

Skripsi ini disusun sebagai syarat untuk memperoleh gelar S1 Fakultas

Tarbiyah dan Ilmu Keguruan, Jurusan Pendidikan Agama Islam Institut Agama

Islam Negeri (IAIN) Salatiga. Dalam penyusunan skripsi ini penulis menyadari

bahwa masih banyak sekali kekurangan di dalamnya. Penulis menyadari bahwa

tanpa bantuan dari berbagai pihak penulis tidak akan bisa menyelesaikan skripsi

ini dengan lancar. Oleh karena itu pada kesempatan ini penulis ingin

mengucapkan terimakasih kepada :

1. Bapak Dr. H. Rahmat Haryadi, M.Pd. selaku Rektor IAIN Salatiga

2. Bapak Suwardi, M.Pd. selaku Dekan Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan

(9)

4. Ibu Dra. Siti Asdiqoh, M.Si. selaku Dosen Pembimbing skripsi yang telah

mencurahkan pikiran, tenaga, dan pengorbanan waktunya dalam upaya

membimbing penulis untuk menyelesaikan skripsi ini.

5. Bapak Dr. H. Miftahuddin, M.Ag. selaku Pembimbing Akademik.

6. Seluruh dosen dan karyawan IAIN Salatiga yang telah banyak membantu

selama kuliah hingga menyelesaikan skripsi ini.

7. Kepala Desa Rowoboni beserta perangkatnya, bapak/ibu Dusun Rowoganjar,

dan anak-anak Dusun Rowoganjar yang telah memberikan ijin serta

membantu penulis dalam melakukan penelitian di desa tersebut.

8. Bapak, ibu, keluarga, dan seluruh pihak yang selalu mendorong dan

memberikan motivasi dalam menyelesaikan kuliah di IAIN Salatiga.

Akhir kata, semoga skripsi ini dapat bermanfaat bagi penulis

khususnya dan bagi semua orang pada umumnya. Saran dan kritik yang

membangun sangat diperlukan dalam kesempurnaan skripsi ini.

Salatiga, 15 September 2016 Penulis

(10)

ABSTRAK

Khuzaimah, Faiz. 2016. “Pendidikan Agama Islam Pada Anak Nelayan Rawa

Pening Di Desa Rowoboni Kabupaten Semarang Tahun 2016”

Pembimbing: Dra. Siti Asdiqoh, M.Si.

Kata kunci: Pendidikan Agama Islam, Anak Nelayan, Rawa Pening

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pendidikan agama Islam pada anak nelayan Rawa Pening di Desa Rowoboni. Pertanyaan yang ingin dijawab melalui penelitian ini adalah: 1) bagaimana pendidikan agama Islam pada anak nelayan di Desa Rowoboni. 2) kendala yang dihadapi keluarga dalam pendidikan agama Islam pada anak nelayan di Desa Rowoboni. 3) upaya orang tua memenuhi kebutuhan pendidikan agama Islam anak nelayan di Desa Rowoboni.

Penelitian ini menggunakan jenis penelitian deskriptif dengan metode kualitatif. Teknik pengumpulan data adalah observasi dan wawancara. Subyek penelitian adalah orang tua (ayah atau ibu) dan anak keluarga nelayan. Peneliti membatasi keluarga nelayan yang memiliki anak usia 6-15 tahun yaitu anak usia sekolah dasar dan menengah.

Temuan penelitian menunjukkan bahwa 1) Definisi PAI menurut orang tua nelayan di Desa Rowoboni adalah proses pendidikan berisi pedoman hidup dan nilai-nilai agama Islam yang membimbing serta mengarahkan anak menuju jalan yang benar sesuai ajaran Islam sehingga terwujud perbuatan ihsan terhadap Allah dan orang tua. Tujuan PAI pada anak nelayan adalah mendekatkan diri kepada Allah SWT, mewujudkan generasi yang berakhlak mulia, mendapatkan ketenangan keluarga dan masyarakat, serta mendapatkan kebahagiaan dunia dan akhirat. Pihak yang terlibat dalam PAI pada anak nelayan adalah orang tua, sekolah, guru-guru diniyah, TPA. Metode PAI yang digunakan adalah dengan mengajari al-qur’an dan akhlak menanamkan tauhid dengan cara mengenalkan sifat-sifat Allah dan Rasul serta penanaman akhlak sejak dini, serta melalui nasehat dan cerita-cerita pada anak. Materi pendidikan agama Islam yang ditanamkan pada anak nelayan adalah zakat, sholat, haji, al-qur’an, tauhid, hadist, hafalan surat, bahasa arab, fikih, thaharah, SKI, dan BTA. 2) Kendala yang dihadapi adalah sikap anak yang malas, sulit dididik serta sulitnya menghafal dan adanya gangguan dari saudara. 3) Upaya yang dilakukan orang tua adalah

menasehati dan menceritakan kisah-kisah, mengulang-ulang pelajaran,

melaksanakan sistem pemberian reward, dan memberi semangat pada anak.

(11)

DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL ... i

HALAMAN BERLOGO ... ii

HALAMAN NOTA PEMBIMBING ... iii

HALAMAN PENGESAHAN ... iv

PERNYATAAN KEASLIAN TULISAN ... v

MOTTO ... vi

A. Latar Belakang Masalah ... 1

B. Fokus Masalah... 4

C. Tujuan Penelitian... 5

D. Manfaat Penelitian... 6

E. Penegasan Istilah ... 7

F. Metode Penelitian ... 8

G. Sistematika Penulisan ... 13

BAB II KAJIAN PUSTAKA ... 15

A. Pendidikan Agama Islam ... 15

(12)

BAB III PAPARAN DATA DAN TEMUAN PENELITIAN ... 36

A. Gambaran Umum ... 36

B. Temuan Penelitian ... 43

1. Gambaran Informan ... 43

2. Pendidikan Agama Islam pada Anak Nelayan di Desa Rowoboni ... 46

3. Kendala yang Dihadapi Keluarga dalam Pendidikan Agama Islam pada Anak Nelayan di Desa Rowoboni ... 56

4. Upaya Orang Tua Mememnuhi Kebutuhan Pendidikan Agama Islam Anak Nelayan di Desa Rowoboni ... 59

BAB IV PEMBAHASAN ... 61

A. Pendidikan Agama Islam pada Anak Nelayan di Desa Rowoboni Kecamatan Banyubiru Kabupaten Semarang Tahun 2016 ... 61

B. Problematika yang Dihadapi Keluarga dalam Pendidikan Agama Islam pada Anak Nelayan di Desa Rowoboni Kecamatan Banyubiru Kabupaten Semarang Tahun 2016 ... 68

C. Upaya Orang Tua Memenuhi Kebutuhan Pendidikan Agama Islam Anak Nelayan di Desa Rowoboni Kecamatan Banyubiru Kabupaten Semarang Tahun 2016 ... 69

BAB V PENUTUP ... 73

A. Kesimpulan... 73

(13)

DAFTAR PUSTAKA ... 76

RIWAYAT HIDUP PENULIS ... 78

(14)

DAFTAR TABEL

Tabel 3.1 Jumlah Penduduk Menurut Mata Pencaharian

Tabel 3.2 Jumlah Penduduk Menurut Agama

Tabel 3.3 Jumlah Penduduk Berdasarkan Kelompok Umur dan Jenis Kelamin

Tabel 3.4 Jumlah Penduduk Berdasarkan Tingkat Pendidikan

Tabel 3.5 Sarana dan Fasilitas Pendidikan

Tabel 3.6 Sarana Ibadah

Tabel 3.7 Perumahan Penduduk

(15)

DAFTAR LAMPIRAN

1. Daftar SKK

2. Nota Pembimbing Skripsi

3. Surat Permohonan Izin Melakukan Penelitian

4. Surat Keterangan Melakukan Penelitian

5. Lembar Konsultasi

6. Instrumen Pengumpulan Data

(16)

BAB I

PENDAHULUAN

A.Latar Belakang Masalah

Setiap individu membutuhkan pendidikan sebagai bekal hidup.

Pendidikan dapat membantu menumbuhkembangkan potensi dan kodrat

seorang manusia. Menurut Ki Hajar Dewantoro pendidikan yaitu tuntunan di

dalam hidup tumbuhnya anak-anak. Maksudnya pendidikan itu menuntun

segala kekuatan kodrat yang ada pada anak-anak itu agar mereka sebagai

manusia dan sebagai anggota masyarakat dapatlah mencapai keselamatan dan

kebahagian yang setingginya. Pendidikan mencakup berbagai aspek kehidupan,

salah satunya pendidikan agama Islam (Samino, 2010:36).

Pendidikan agama Islam berfungsi untuk mengembangkan fitrah setiap

manusia. Pendidikan agama Islam merupakan suatu proses pembelajaran yang

bertujuan untuk mendidik dan memahamkan kepada anak agar mereka paham

dan dapat menjalankan setiap ajaran yang diberikan. Sehingga manusia tidak

hanya terdaftar dalam Islam KTP saja, namun bisa menjalankan setiap ajaran

yang benar.

Pendidikan agama Islam merupakan kebutuhan dalam setiap manusia.

Pendidikan agama Islam ini juga dapat mengembangkan fitrah keberagaman

(17)

wawasan Islam dengan pendidikan yang lain. Pendidikan ini mengandung

proses belajar yang mengkhususkan dalam memahami dan mengamalkan

ajaran-ajaran Islam yang sudah diajarkan. Pendidikan agama Islam harusnya

diberikan sejak dini, agar manusia lebih bisa tahu dan dapat mengamalkan

ajarannya sedini mungkin.

Hal ini membuat pendidikan agama Islam sangat penting bagi kehidupan.

Pendidikan agama Islam diharapkan dapat mencapai suatu tujuan pendidikan,

yaitu untuk memahami, menghayati dan mengamalkan ajaran-ajaran Islam.

Adanya pendidikan agama Islam dapat melatih dan mendidik anak agar dapat

lebih tertata tingkah laku, sopan santun, perilaku dan akhlaknya. Anak juga

perlu dibekali dengan berbagai wawasan pengetahuan yang dapat digunakan

untuk menghadapi tantangan hidup.

Tidak hanya di lingkungan rumah dan sekolahnya saja anak dapat

mendapatkan pendidikan agama Islam, melalui keluarganya anak juga

membutuhkan pendidikan agama Islam, bahkan keluargalah pendidikan anak

pertama. Perkembangan agama anak sangat ditentukan oleh keluarganya,

sesuai sabda Rasulullah dalam hadist :

ُهاَوَ بَأَف ِةَرْطِفْلا ىَلَع ُدَلْوُ ي َّلا ِإ ٍدْوُلْوَم ْنِم اَم

ْنَا

ِوِناَسِّجَُيُ ْوَأ ِوِناَرِّصَنُ يْوَأ ِوِناَدِّوَهُ ي

(18)

Orang tua juga berperan dalam menjaga anak-anaknya dari pedihnya api

nereka, sesuai dalam Qur’an surat at tahrim ayat 6.

Artinya: Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, keras, dan tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.

Selain berkewajiban terhadap keberlangsungan kondisi anak, orangtua

juga berkewajiban untuk bekerja supaya kebutuhan keluarga terpenuhi.

Menurut beberapa dasar di atas dapat disimpulkan bahwa profesi apapun yang

digeluti orang tua, ia tetap memiliki tanggung jawab dalam memperhatikan

pendidikan anak.

Desa Rowoboni merupakan salah satu desa yang teletak di sekitar Rawa

Pening. Penduduk di desa ini memiliki profesi yang bermacam-macam, salah

satunya sebagai nelayan. Berprofesi sebagai nelayan merupakan pilihan

kebanyakan warga di desa Rowoboni, karena selain letak geografis yang dekat

dengan danau Rawa Pening, hasil ekonomi yang mereka dapatkan cukup

menjanjikan. Selain itu profesi ini dipilih karena tidak membutuhkan

pendidikan dan biaya yang tinggi untuk bergelut di dunia tersebut. Mereka

(19)

Di sisi lain, sebagai seorang nelayan hampir seluruh waktunya

dihabiskan di rawa. Hal ini menyebabkan nelayan kekurangan waktu untuk

bersama anaknya. Bahkan mereka juga kurang memperhatikan pendidikan

anaknya. Kurangnya perhatian dari orangtua mengakibatkan kebutuhan materi

anak terpenuhi, tapi segi psikisnya tidak. Hal ini yang membuat orang tua

kurang maksimal dalam memberi pendidikan kepada anaknya baik pendidikan

umum maupun pendidikan agama. Walhasil, sebagian anak nelayan kurang

paham dalam pendidikan agama Islam.

Namun dari observasi awal dapat dilihat bahwa kondisi keagaamaan

warga khususnya anak-anak di desa ini cukup baik. Di desa ini banyak terdapat

lembaga keagamaan seperti Taman Pendidikan Al Qur'an dan sekolah diniyah

sore yang tidak sepi dari peserta didik yang berusia 4-13 tahun. Lantas

bagaimana orang tua yang berprofesi sebagai nelayan ini dapat memberikan

pendidikan agama Islam kepada anaknya sehingga kondisi keagamaan di desa

ini terlihat kondusif.

Berdasarkan latar belakang di atas, penulis berkeinginan untuk meneliti

permasalahan dengan judul “PENDIDIKAN AGAMA ISLAM PADA

ANAK NELAYAN RAWA PENING DI DESA ROWOBONI,

KECAMATAN BANYUBIRU, KABUPATEN SEMARANG TAHUN

(20)

B. Fokus Masalah

Berdasarkan latar belakang diatas peneliti merumuskan masalah sebagai

berikut:

1. Bagaimana pendidikan agama Islam pada anak nelayan di desa Rowoboni,

Kecamatan Banyubiru, Kabupaten Semarang tahun 2016?

a. Apa tujuan pendidikan agama Islam pada anak nelayan di Desa

Rowoboni, Kecamatan Banyubiru, Kabupaten Semarang tahun 2016?

b. Siapa pihak yang terlibat dalam pendidikan agama Islam pada anak

nelayan di Desa Rowoboni, Kecamatan Banyubiru, Kabupaten

Semarang tahun 2016?

c. Bagaimana metode orang tua dalam pendidikan agama Islam pada

anak nelayan di Desa Rowoboni, Kecamatan Banyubiru, Kabupaten

Semarang tahun 2016?

2. Apa saja kendala yang dihadapi keluarga dalam pendidikan agama Islam

pada anak nelayan di desa Rowoboni, Kecamatan Banyubiru, Kabupaten

Semarang tahun 2016 ?

3. Bagaimana upaya orang tua memenuhi kebutuhan pendidikan agama Islam

anak nelayan di desa Rowoboni, Kecamatan Banyubiru, Kabupaten

Semarang tahun 2016?

C. Tujuan Penelitian

Adapun tujuan yang ingin dicapai dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:

1. Untuk mengetahui pendidikan agama Islam nelayan di desa Rowoboni,

(21)

a. Mengetahui tujuan pendidikan agama Islam pada anak nelayan di Desa

Rowoboni, Kecamatan Banyubiru, Kabupaten Semarang tahun 2016?

b. Mengetahui pihak yang terlibat dalam pendidikan agama Islam pada

anak nelayan di Desa Rowoboni, Kecamatan Banyubiru, Kabupaten

Semarang tahun 2016?

c. Mengetahui metode orang tua dalam pendidikan agama Islam pada

anak nelayan di Desa Rowoboni, Kecamatan Banyubiru, Kabupaten

Semarang tahun 2016?

2. Untuk mengetahui kendala yang dihadapi keluarga dalam pendidikan

agama Islam dalam keluarga nelayan di desa Rowoboni, Kecamatan

Banyubiru, Kabupaten Semarang tahun 2016.

3. Untuk mengetahui upaya orang tua dalam memenuhi kebutuhan

pendidikan agama Islam anak nelayan di desa Rowoboni, Kecamatan

Banyubiru, Kabupaten Semarang tahun 2016.

D. Manfaat Penelitian

Dari hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan informasi yang

jelas dan diharapkan dapat memberi manfaat secara praktis maupun teoritis,

antara lain:

a. Manfaat teoritis

Penelitian ini diharapkan dapat memberikan masukan untuk

pengembangan kualitas pendidikan agama Islam anak di keluarga

nelayan dan menghasilkan informasi mengenai pendidikan agama Islam

(22)

b. Manfaat praktis

Penelitian ini diharapkan dapat menyebarluaskan pendidikan agama

Islam di daerah Rawa pening.

E. Penegasan Istilah

1. Pendidikan Agama Islam

Menurut Nasir pendidikan agama Islam adalah usaha yang berupa

pengajaran, bimbingan dan asuhan terhadap anak agar kelak selesai

pendidikannya dapat memahami, menghayati, dan mengamalkan agama

Islam, serta menjadikannya sebagai jalan kehidupan, baik pribadi maupun

kehidupan masyarakat (Nasir. 2008:15-16).

Jadi, pendidikan agama Islam adalah usaha yang dilakukan berupa

pengajaran, bimbingan dan asuhan terhadap anak agar anak dapat

memahami, menghayati dan mengamalkan agama Islam menuju jalan

yang benar.

2. Nelayan

Nelayan adalah seorang yang mata pencaharian utamanya

menangkap ikan di laut.Menurut KBBI (kamus besar bahasa Indonesia)

orang yang mata pencaharian utamanya dari usaha menangkap ikan(di

laut) ( Tim penyusun kamus pusat tim pembinaan dan pembinaan

bahasa,1990:612).

Jadi, judul skripsi ini adalah suatu usaha berupa pengajaran,

(23)

Islamnya kurang diperhatikan orang tuanya agar lebih memahami,

menghayati, dan mengamalkannya di dalam kehidupannya, terutama

dalam lingkungan sekitarnya, yaitu masyarakat.

F. Metode Penelitian

1. Pendekatan dan Jenis Penelitian

Dalam penulisan skripsi ini, penulis menggunakan pendekatan

deskriptif kualitatif. Pendekatan ini digunakan karena data yang

dikumpulkan berupa kata-kata, dan bukan angka-angka. Sedangkan

menurut Bogdan dan Taylor (dalam Moleong,2012:3) prosedur penelitian

yang melibatkan data diskriptif berupa kata-kata tertulis atau lisan dari

orang dan pelaku yang dapat diamati..

2. Kehadiran Peneliti

Sesuai dengan pendekatan yang digunakan, yakni deskriptif

kualitatif maka kehadiran peneliti di kancah menjadi mutlak adanya.

Karena dalam penelitian kualitatif, peneliti menjadi “key instrumen” atau

alat peneliti utama. Peneliti mengadakan sendiri pengamatan atau

wawancara tak berstruktur, sering hanya menggunakan buku catatan.

Selain itu guna menunjang perolehan informasi yang valid, peneliti akan

menggunakan alat rekam atau kamera, dan peneliti tetap memegang

peranan utama sebagai alat penelitian.

3. Lokasi

Lokasi penelitian berada di desa Rowoboni, kecamatan Banyubiru,

(24)

Pening, sehingga sebagian besar penduduknya bermata pencaharian

sebagai nelayan.

4. Sumber Data

Ada dua sumber yang digunakan peneliti yaitu :

a. Data Primer

Sumber data primer adalah data dalam bentuk verbal atau

kata-kata yang diucapkan secara lisan, gerak-gerik atau perilaku

yang dilakukan oleh subjek yang dapat dipercaya (Arikunto,

2010:22). Sumber data langsung yang peneliti dapatkan berasal dari

orang tua (ayah atau ibu) dan anak keluarga nelayan. Peneliti

membatasi keluarga nelayan yang memiliki anak usia 6-15 tahun

yaitu anak usia sekolah dasar dan menengah.

b. Data Sekunder

Sumber data sekunder adalah data yang diperoleh dari

dokumen-dokumen grafis (tabel, catatan, notulen rapat, SMS, dan

lain-lain), foto-foto, film, rekaman video, dan benda-benda yang

dapat memperkaya data primer (Arikunto, 2010:22). Peneliti

menggunakan data sekunder ini untuk memperkuat dan melengkapi

informasi yang telah dikumpulkan melalui wawancara. Adapun

sumber data sekunder yang digunakan adalah foto keadaan keluarga

(25)

5. Teknik Pengumpulan Data

Teknik pengumpulan data yang digunakan peneliti adalah :

a. Wawancara

Wawancara adalah suatu cara menggali data. Hal ini harus

dilakukan secara mendalam untuk mendapatkan data yang detail

dan valid (Asmani, 2011:122). Kegiatan penelitian ini akan

dilaksanakan dengan wawancara terbuka dan terstruktur karena

informan atau narasumber mengetahui bahwa mereka sedang

diwawancarai dan tahu pula tujuan dari wawancara. Selain itu pada

saat wawancara, peneliti sudah menetapkan dan menyiapkan

pertanyaan-pertanyaan yang tersusun secara sistematis.

Wawancara akan dilakukan kepada narasumber diantaranya

adalah anak dan orang tua (bapak dan ibu) keluarga nelayan.

b. Dokumentasi

Dokumentasi yaitu mencari data mengenai hal-hal atau

variabel yang berupa catatan, transkip, buku, surat kabar, majalah,

prasasti, notulen rapat, lengger, agenda, dan sebagainya (Arikunto,

2010:274). Peneliti mencari data mengenai hal-hal yang berkaitan

dengan objek penelitian berupa foto terkait kegiatan pendidikan

agama Islam dalam keluarga nelayan.

6. Analisis Data

Menurut Moleong analisis data adalah proses mengorganisasaikan

(26)

sehingga dapat ditemukan tema dan dapat dirumuskan hipotesis kerja

seperti yang disarankan oleh data (Moleong, 2008:280).

Pada tahapan ini, peneliti menganalisis data yang terkumpul yang

terdiri dari hasil wawancara dan dokumentasi. Pekerjaan analisis data

dalam hal ini adalah mengatur, mengurutkan, mengelompokkan,

memberikan kode, dan mengkategorisasikannya.

7. Pengecekan Keabsahan Data

Menurut Moleong ada empat kriteria yang digunakan yaitu:

kepercayaan (credibility), keteralihan (transferability), ketergantungan

(dependability), dan kepastian (confirmability) (Moleong, 2008:324).

Pada penelitian ini, peneliti memakai kriteria kepercayaan

(credibility). Kriteria kepercayaan ini berfungsi untuk melakukan

penelaahan data secara akurat agar tingkat kepercayaan penemuan dapat

dicapai. Peneliti memperpanjang penelitian dengan melakukan observasi

secara terus menerus sampai data yang dibutuhkan cukup. Kemudian

peneliti menggunakan teknik triangulasi data yaitu teknik pemerikasaan

keabsahan data yang memanfaatkan sesuatu yang lain (Moleong,

2008:330). Pada teknik ini peneliti melakukan triangulasi dengan teknik

yaitu dengan jalan membandingkan data hasil pengamatan dengan data

hasil wawancara dan triangulasi dengan sumber yaitu dengan cara

membandingkan data hasil wawancara antar narasumber terkait serta

(27)

8. Tahap-Tahap Penelitian

Pelaksanaan penelitian terdiri dari empat tahap yaitu: tahap sebelum

ke lapangan, tahap pekerjaan lapangan, tahap analisis data, dan tahap

penulisan laporan yang ditempuh sebagai berikut:

a. Tahap sebelum ke lapangan

Tahap ini meliputi kegiatan penentuan fokus, penyesuaian

paradigma teori, penjajakan alat peneliti, permohonan izin kepada

subyek yang diteliti, dan konsultasi fokus penelitian.

b. Tahap Pekerjaan Lapangan

Tahap ini meliputi pengumpulan bahan-bahan yang berkaitan

dengan pola pendidikan agama Islam dalam keluarga nelayan. Data

ini diperoleh dengan observasi, wawancara, dan dokumentasi.

c. Tahap Analisis Data

Menurut Miles dan huberman yang dikutip Sugyiono

(2007:337) aktivitas dalam analisis data yaitu reduksi data,

penyajian data, dan penarikan kesimpulan.

1) Mereduksi atau merangkum data, memilih hal-hal pokok,

memfokuskan pada hal-hal yang penting, dicari tema dan

polanya serta membuang yang tidak perlu.

2) Penyajian data dalam uraian singkat, bagan, hubungan antar

kategori, dan sejenisnya secara naratif.

3) Penarikan kesimpulan berupa penemuan baru yang belum

(28)

d. Tahap Penulisan Laporan

Tahap ini meliputi kegiatan penyusunan hasil penelitian dari

semua rangkaian kegiatan pengumpulan data sampai pemberian

makna data. Setelah itu melakukan konsultasi hasil penelitian

dengan dosen pembimbing untuk mendapatkan perbaikan,

saran-saran demi kesempurnaan skripsi yang kemudian ditindaklanjuti

hasil bimbingan tersebut dengan penulis skripsi yang sempurna.

G. Sistematika Penulisan

Dalam penelitian ini, penulis menyusun kedalam 5 (lima) bab yang

rinciannya adalah sebagai berikut:

BAB I: PENDAHULUAN. Pada bab pendahuluan ini berisi latar belakang

masalah, fokus masalah, tujuan penelitian, manfaat penelitian, penegasan

istilah, metodologi penelitian, dan sistematika penulisan.

BAB II: KAJIAN PUSTAKA.

A. Pendidikan Agama Islam

1. Pengertian Pendidikan Agama Islam

2. Tujuan Pendidikan Agama Islam

3. Pihak yang Terlibat dalam Pendidikan Agama Islam Anak

4. Metode Pembelajaran Pendidikan Agama Islam

B. Ruang lingkup Pendidikan Agama Islam

(29)

BAB III: PAPARAN DATA DAN TEMUAN PENELITIAN. Berisi

gambaran umum dan pendidikan agama Islam dalam keluarga nelayan di desa

Rowoboni, kecamatan Banyubiru, kabupaten Semarang.

BAB IV: PEMBAHASAN. Meliputi analisis pendidikan agama Islam dalam

keluarga nelayan di desa Rowoboni, kecamatan Banyubiru, kabupaten

Semarang..

(30)

BAB II

KAJIAN PUSTAKA

A. PENDIDIKAN AGAMA ISLAM

1. Pengertian Pendidikan Agama Islam

Dalam Kamus Umum Bahasa Indonesia, pendidikan berasal dari

kata didik, dengan awalan “pe” dan akhiran “an”, yang berarti “proses

pengubahan sikap dalam usaha mendewasakan manusia melalui upaya

pengajaran dan latihan. Pendidikan itu sendiri artinya proses

pengubahan sikap dan tata laku seseorang atau kelompok orang dalam

usaha mendewasakan manusia melalui upaya pengajaran dan

pelatihan(Tim Penyusun Kamus Pusat Bahasa, 2007:263). Sedangkan

arti mendidik itu sendiri adalah memelihara dan memberi latihan

(ajaran) mengenai akhlak dan kecerdasan pikiran. Pendidikan itu

sendiri suatu proses untuk mengubah sikap seseorang agar lebih bisa

mendewasakan dirinya.

Pendidikan awal dari sebuah proses belajar mengajar. Pendidikan

agama juga sangat dibutuhkan untuk menguatkan iman dan ketakwaan

seseorang terhadap Tuhannya. Pendidikan agama merupakan usaha

untuk memperkuat iman dan ketakwaan terhadap Tuhan Yang Maha

Esa sesuai dengan agama yang dianut oleh peserta didik yang

(31)

agama lain dalam hubungan kerukunan antar umat beragama dalam

masyarakat untuk mewujudkan persatuan nasional (Muhaimin,

2002:75). Pendidikan dapat membantu menguatkan iman dan

ketakwaan, karena dengan pendidikan dapat memeperluas pengetahuan

dan mengetahui apapun yang belum diketahui.

Pendidikan adalah bimbingan yang diberikan kepada seseorang

agar ia berkembang secara maksimal (Tafsir, 2001:27). Pendidikan

dalam pengertian ini bermakna membantu mengembangkan bakat

seseorang menjadi lebih baik.

Sedangkan agama adalah ajaran, sistem yang mengatur tata

keimanan (kepercayaan) dan peribadatan kepada Tuhan Yang Maha

Kuasa serta tata kaidah yang berhubungan dengan pergaulan manusia

dan manusia serta lingkungannya (Kamus Besar Bahasa Indonesia,

2007:12). Agama dalam pengertian ini bermakana kepercayaan yang

dimiliki pada setiap orang.

Islam adalah kedamaian, kesejahteraan, keselamatan, penyerahan

diri, ketaatan, dan kepatuhan (Ali, 2008:49). Islam mengajarkan antar

individu supaya damai yang akan bermuara pada kesejahteraan dan

keselamatan.

Agama Islam dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia adalah

agama yang bersumberkan wahyu Tuhan (Kamus Besar Bahasa

(32)

Agama Islam merupakan satu sistem akidah dan syari’at serta

akhlak yang mengatur hidup dan kehidupan manusia dalam berbagai

hubungan (Ali, 2008:51).

Dalam Islam, iman dapat berjalan dengan diiringi amal yang

shaleh dan hubungan antar umat manusia yang baik pula, agar

menghasilkan iman yang takwa dan maksimal. Iman yang takwa

kepada Allah dapat menentukan derajatnya kelak dihadapan Allah

SWT. Begitu pentingnya pendidikan agama itu. Maka setiap anak

harus mendapatkan pendidikan tersebut.

Menurut A. Malik Fadjar yang dikutip Mujtahid (2011:56)

pendidikan agama Islam adalah proses pendidikan yang mampu

mengunggah kesadaran peserta didik untuk menjadi pribadi muslim

sejati.

Menurut Nasir pendidikan agama Islam adalah usaha yang

berupa pengajaran, bimbingan dan asuhan terhadap anak agar kelak

selesai pendidikannya dapat memahami, menghayati, dan

mengamalkan agama Islam, serta menjadikannya sebagai jalan

kehidupan, baik pribadi maupun kehidupan masyarakat (Nasir,

2008:15-16).

Menurut Darajat pendidikan agama Islam adalah pendidikan

yang melalui ajaran-ajaran agama Islam, yaitu berupa bimbingan dan

asuhan terhadap anak didik agar nantinya setelah selesai dari

(33)

ajaran-ajaran agama Islam itu sebagai suatu pandangan hidupnya demi

keselamatan di dunia maupun di akhirat kelak (Darajat, 2011:86).

Pengertian pendidikan agama Islam adalah usaha yang lebih

khusus ditekankan untuk mengembangkan fitrah keberagaman peserta

didik agar lebih mampu, memahami, menghayati, dan mengamalkan

ajaran-ajaran Islam.

Dari beberapa pengertian di atas dapat disimpulkan bahwa

pendidikan agama Islam adalah usaha yang dilakukan berupa

pengajaran, bimbingan dan asuhan terhadap anak agar anak dapat

memahami, menghayati dan mengamalkan agama Islam menuju jalan

yang benar.

2. Tujuan Pendidikan Agama Islam

Tujuan adalah sesuatu yang penting untuk dicapai manusia.

Tujuan pendidikan agama Islam adalah untuk mencapai keseimbangan

pertumbuhan kepribadian manusia. Secara menyeluruh dan seimbang

yang dilakukan melalui latihan jiwa, akal pikiran, diri manusia yang

rasional, perasaan dan indra, karena itu, pendidikan hendaknya

mencakup pengembangan seluruh aspek fitrah peserta didik, aspek

spiritual, intelektual, imajinasi, fisik, ilmiah dan bahasa, baik secara

individual maupun kolektif,dan mendorong semua aspek tersebut

berkembang ke arah kebaikan dan kesempurnaan. Tujuan terakhir

pendidikan muslim terletak pada perwujudan ketundukan yang

(34)

seluruh umat manusia (Nizar, 2002:38). Dengan tujuan ini pendidikan

agama Islam dapat menyeimbangkan kebutuhan kepribadian

seseorang. Sehingga, dapat lebih tunduk dan mendekatkan diri kepada

Allah SWT.

Menurut Muhammad Munir seperti yang dikutip Mujtahid

(2011:54) adalah tercapainya manusia seutuhnya, tercapainya

kebahagiaan dunia akhirat, menumbuhkan kesadaran manusia

mengabdi dan patuh terhadap perintah dan menjauhi larangan Nya.

Menurut Daradjat, dkk pendidikan agama mempunyai

tujuan-tujuan yang berintikan tiga aspek, yaitu aspek iman, ilmu, dan amal,

yang pada dasarnya berisi:

a. Menumbuh suburkan dan mengembangkan serta membentuk

sikap positif dan disiplin serta cinta terhadap agama dalam

pelbagai kehidupan anak yang nantinya diharapkan menjadi

manusia yang bertakwa kepada Allah SWT taat kepada

perintah Allah SWT dan Rasul Nya. Memang untuk mencapai

tujuan ini agak sulit dan memerlukan banyak kesabaran,

karena hasilnya tidak segera tampak mengingat hal tersebut

menyangkut pendidikan mental dan kepribadian. Dari sikap

yang demikian itulah justru kadar keimanan dapat diukur dan

dengan keimanan itu pulalah nantinya anak akan menjadi

manusia dewasa yang dalam hidupnya mengindahkan dan

(35)

dari berbagai godaan dunia yang bertentangan dengan ajaran

agamanya serta bertanggung jawab terhadap baik buruknya

suatu masyarakat dan Negara di mana ia berada.

b. Ketaatan kepada Allah SWT dan Rasul Nya merupakan

motivasi intrinsik terhadap pengembangan ilmu pengetahuan

yang harus dimiliki anak. Dengan kata lain, tujuan pada aspek

ilmu ini adalah pengembangan pengetahuan agama, yang

dengan pengetahuan itu dimungkinkan pembentukan pribadi

yang berakhlak mulia, yang bertaqwa kepada Allah sesuai

dengan ajarana agama Islam dan mempunyai keyakinan yang

mantap kepada Allah SWT.

c. Menumbuhkan dan membina keterampilan beragama dalam

semua lapangan hidup dan kehidupan serta dapat memahami

dan menghayati secara mendalam dan bersifat menyeluruh

sehingga dapat digunakan sebagai pedoman hidup, baik dalam

hubungan dirinya dengan Allah SWT melalui ibadat salat

umpamanya dan dalam hubungannya dengan sesama manusia

yang tercermin dalam akhlak perbuatan serta dalam hubungan

dirinya dengan alam sekitar melalui cara pemeliharan dan

pengolahan alam serta pemanfaatan hasil usahanya. (Daradjat

(36)

Melihat tujuan di atas, ada beberapa fungsi pendidikan agama

Islam, salah satunya agar lebih menambah ketaatan kepada Allah dan

bisa lebih mendekatkan diri kepada Allah.

Tujuan pendidikan merupakan hal yang dominan dalam

pendidikan, Breiter mengungkapkan dalam buku James Maclellan

bahwa “pendidikan adalah persoalan tujuan dan fokus. Mendidik anak

berarti bertindak dengan tujuan agar mempengaruhi perkembangan

anak sebagai seseorang secara utuh. Apa yang dapat anda lakukan

bermacam-macam cara, anda kemungkinan dapat dengan cara

mengajar dia, anda dapat bermain dengannya, anda dapat menyensor

nonton tv, atau anda dapat memberlakukan hukuman agar dia jauh dari

penjara”(Majid dan Andayani, 2005:136).

Menurut beberapa pendapat di atas dapat diambil kesimpulan

bahwa tujuan pendidikan agama Islam yaitu untuk mencapai

keseimbangan kepribadian setiap individu, dan untuk mencapai tujuan

tersebut orang tua harus memilih cara atau metode yang tepat sesuai

karakter anaknya.

3. Pihak yang Terlibat dalam pendidikan agama Islam anak

Pada umumnya dalam mendidik anak tentang pendidikan agama

Islam membutuhkan beberapa orang untuk mencetak anak yang bisa

lebih baik dan bisa mengerti lebih dalam tentang agama Islam. Salah

satu yang sangat berperan penting dalam pendidikan agama Islam anak

(37)

anak-anaknya, karena dari merekalah anak mula-mula menerima

pendidikan (Daradjat, 2011:35)

Ayah dan ibu memiliki peranan yang sangat penting dalam

mendidik anak-anaknya. Anak pertama kali dipegang dan

digulowenthah oleh ibunya. Sejak anak lahir selalu ibu yang berada di

sampingnya. Maka pendidikan ibu pertama kali yang akan ditiru oleh

anaknya. Ayah juga ikut andil dalam pendidikan anak, karena ayah

yang mengajarkan anak tentang sebuah pengorbanan yang hebat. Ayah

sebagai penolong bagi anaknya, entah yang besar maupun yang kecil.

Dilihat dari hubungan dan tanggung jawab orang tua terhadap

anak, maka tanggung jawab pendidikan itu pada dasarnya tidak bisa

dipikulkan kepada oranglain, sebab guru dan pemimpin umat

umpamanya, dalam memikul tanggung jawab pendidikan hanyalah

merupakan keikutsertaan. Dengan kata lain, tanggung jawab

pendidikan yang dipikul oleh pendidik selain orang tua adalah

pelimpahan dari tanggung jawab orang tua yang karena satu dan lain

hal tidak mungkin melaksanakan pendidikan anaknya secara sempurna

(Darajat, 2011:38). Dari sini telihat bahwa orang tualah yang sangat

berperan penting dalam pendidikan awal anaknya.

Di sisi lain, ada pihak yang terlibat dalam pendidikan agama Islam

anak, yaitu guru. Guru juga memiliki peranan penting dalam

pendidikan agama Islam. Guru adalah pendidik professional,

(38)

memikul sebagian tanggung jawab pendidikan yang terpikul di pundak

para orang tua (Daradjat, 2011:39). Guru rela membantu orangtua

dalam mendidik anak agar bisa menjadi anak yang baik. Padahal, anak

yang mereka didik bukanlah anak mereka, tapi setiap guru pasti akan

menganggap murid/peserta didik mereka seperti anaknya sendiri. Guru

akan mendidik murid/peserta didiknya sebaik mungkin, agar

murid/peserta didiknya bisa mengetahui berbagai ilmu yang belum

mereka ketahui dan mereka bisa lebih luas pengetahuannya. Tidak

hanya dalam pendidikan formal saja, pendidikan non formal juga bisa

membantu, seperti: Taman Pendidikan Alqur’an (TPA), diniyah, dan

guru ngaji di desa/dusun.

Tidak hanya guru, masyarakat juga memiliki peranan untuk

mendidik pendidikan agama Islam pada anak. Masyarakat ikut andil

dalam tanggung jawab memikul beban pendidikan anak. Secara umum,

masyarakat memiliki tujuan yang sama dengan para orangtua dan guru.

Hal itu yang membuat masyarakat ikut andil dalam memikul beban

tersebut. Masyarakat sangat berpengaruh besar dalam memberi arah

terhadap pendidikan anak.

Menurut Darajat, dkk (2011:45) masyarakat besar pengaruhnya

dalam memberi arah terhadap pendidikan anak, terutama para

pemimpin masyarakat atau penguasa yang ada di dalamnya. Setiap

pemimpin atau penguasa terutama yang muslim pastinya memiliki

(39)

generasi yang baik dan bisa lebih taat ketakwaannya terhadap Allah

SWT. Tanggung jawab anak juga menjadi tanggung jawab masyarakat,

sebagaimana disebutkan dalam Q.S. Ali Imron:110:

beriman, dan kebanyakan mereka adalah orang-orang yang fasik.”

Pada ayat ini dijelaskan bahwa setiap individu memiliki tanggung

jawab untuk beramar ma’ruf. Apabila diterapkan dalam kehidupan

sehari-hari, Ayat ini dapat dijadikan dasar kewajiban setiap masyarakat

memiliki tanggung jawab untuk andil dalam kehidupan masyarakat.

Pada Q.S. Ali Imron ayat 104 dijelaskan bahwa:





menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma'ruf dan

mencegah dari yang munkar merekalah orang-orang yang beruntung”.

Jadi, jelas sekali bahwa alqur’an juga mengajak untuk berbuat

kebajikan dan mendidik anak untuk melakukan hal-hal yang ma’ruf.

Teman juga bisa mempengaruhi pendidikan agama Islam anak.

(40)

temannya yang baik. Begitu sebaliknya, apabila anak memilih teman

yang kurang baik juga bisa terjerumus mengikuti temannya yang

kurang baik itu. Dengan begitu anak juga harus bisa dikontrol oleh

orang tuanya dalam memilih teman agar tidak ikut terperosok ke dalam

jurang kesesatan dan bisa mengikuti teman yang baik saja.

4. Metode pembelajaran Pendidikan Agama Islam dalam Keluarga

Metode adalah cara teratur yang digunakan untuk melaksanakan

suatu pekerjaan agar tercapai sesuai dengan yang dikehendaki (Tim

Penyusun Kamus Pusat Bahasa, 2007:740). Metode ini suatu cara

untuk mengatur dan menyusun suatu pekerjaan agar dapat tercapai

sesuai apa yang diharapkan. Untuk mendesain kurikulum pendidikan

agama Islam yang menarik dan bermanfaat, dibutuhkan metode yang

relevan dengan isi konteks sosial. Syukri Zarkasyi, pengasuh pondok

modern Gontor pernah menyatakan bahwa Metode itu lebih penting

daripada materi, akan tetapi guru lebih penting daripada metode, dan

jiwa guru lebih penting dari guru itu sendiri (Mujtahid, 2011:55).

Ungkapan ini menegaskan bahwa metode yang diperanan pendidik

sangat menentukan keberhasilan proses dari interaksi pendidikan

khususnya pendidikan agama Islam.

Menurut A. Malik Fadjar yang dikutip Mujtahid (2011:55)

metode yang perlu digunakan haruslah memiliki landasan motivasional

yaitu pemupukan sifat individu peserta didik untuk menerima ajaran

(41)

dalam kehidupan sehari-hari. Selanjutnya, landasan yang harus

dimiliki juga adalah landasan moral yaitu tertanamnya nilai keagamaan

dan keyakinan peserta didik sehingga perbuatannya selalu mengacu

pada jiwa dan semangat akhlak karimah.

Hasan Langgulung yang dikutip Ahid (2010:142) mengatakan

bahwa cara-cara praktis yang patut digunakan oleh keluarga untuk

menanamkan semangat keagamaan pada diri anak adalah sebagai

berikut:

a. Memberitahukan yang baik kepada mereka tentang kekuatan

iman kepada Allah dan berpegang kepada ajaran-ajaran

agama dalam bentuknya yang sempurna dalam waktu

tertentu.

b. Membinasakan mereka menunaikan syiar-syiar agama

semenjak kecil hingga penunaian itu menjadi kebiasaan

yang mendarah daging, mereka melakukannya dengan

kemauan sendiri dan merasa tentram sebab mereka

melakukannya.

c. Menyiapkan suasana agama dan spiritual yang sesuai di

rumah dan di mana mereka berada.

d. Membimbing mereka membawa bacaan-bacaan agama yang

berguna dan memikirkan ciptaan-ciptaan Allah untuk

menjadi bukti kehalusan sistem ciptaan itu dan atas wujud

(42)

e. Menggalakkan mereka turut serta dalam aktivitas-aktivitas

agama dan lain-lain.

Sedangkan menurut Abdul Mustaqim (2005:116) metode

pendidikan agama Islam yang dapat diterapkan dalam keluarga adalah

dengan cara peneladanan, pembiasaan, pembentulan yang salah,

melerai yang bertengkar dengan adil, dan memperingatkan yang lupa.

Menurutnya sebagian besar perilaku individu diperoleh sebagai hasil

belajar melalui pengamatan atas tingkah laku yang ditampilkan oleh

oranglain yang dijadikan sebagai model.

Ada beberapa metode yang patut digunakan dalam menurut

Fuaddudin(1999:30-37), antara lain:

a. Pendidikan melalui pembiasaan

Orang tua diharapkan membiasakan diri melaksanakan

hal-hal yang baik seperti melaksanakan shalat, membaca

Al-Qura’an, dan mengucapakan hal-hal yang baik. Karena dilakukan

setiap hari, anakmengalami proses internalisasi, pembiasaan dan

akhirnya menjadi bagian dari hidupnya. Sesuaia dengan firman

Allah dalam QS. Thoha:132

(43)

mengerjakannya. Kami tidak meminta rezki kepadamu, kamilah yang memberi rezki kepadamu. dan akibat (yang

baik) itu adalah bagi orang yang bertakwa”(Kemenag RI,

2014:321).

Menurut ayat diatas bahwasanya orang tua hendaknya

mengajarkan kepada keluarganya untuk melaksanakan shalat

dan bersabar dalam menjalankannya. Pelaksanaan shalat yang

diajarkan sejak kecil akan menjadikan keluarga terbiasa shalat

tanpa diperintahkan dan tanpa dipaksakan. Demikian,

pembiasaan hal baik sejak kecil akan menjadikan anak terbiasa

melakukan hal yang baik pula.

b. Pendidikan dengan keteladanan

Anak-anak khususnya pada usia dini selalu meniru apa yang

dilakukan orang disekitarnya. Apa yang dilakukan orang tua

akan ditiru dan diikuti anak. Metode keteladanan memerlukan

sosok pribadi yang secara visual dapat dilihat, diamati, dan

dirasakan sendiri oleh anak, sehingga mereka ingin menirunya.

Rasulullah SAW bersabda :

َلاَق ْنَم

)دمحى هاور( ٌةَبْذِك َيِهَف ِوِطْعُ ي َْلَ َُّثُ )ْذُخ ْىَا( َكاَى َلاَعَ ت : ِِّبَِصِل

(44)

Hadist tersebut menjelaskan bahwa orag tua tidak boleh

berbohong atau membohongi anaknya, karena anaknya akan

meniru hal tersebut. Penanaman nila-nilai moral, kejujuran,

tolong-menolong, disiplin dan kerja keras, dapat dilakukan,

melalui tindakan nyata orang tua. Orang tua dapat langsung

mempraktikkan hal tersebut dalam kehidupan sehari-sehari di

rumah agar anak dapat melihat langsung, sehingga anak akan

meniru hal tersebut.

c. Pendidikan melalui nasihat dan dialog

Terkadang anak-anak merasa jenuh, malas, tidak tertarik

terhadap apa yang diajarkan, bahkan mungkin menentang dan

membangkan. Orang tua sebaiknya memberikan perhatian,

melakukan dialog dan berusaha memehami persoalan-persoalan

yang dihadapi anak. Orang tua diharapkan mampu menjelaskan,

memberikan pemahaman yang sesuai dengan tingkat berpikir

mereka.

Allah SWT berfirman dalm QS. Luqman : 13-17

(45)

Artinya :“Dan (ingatlah) ketika Luqman berkata kepada

anaknya, di waktu ia memberi pelajaran kepadanya: "Hai

anakku, janganlah kamu mempersekutukan Allah,

Sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kezaliman yang besar". Dan Kami perintahkan kepada manusia (berbuat baik) kepada dua orang ibu- bapanya; ibunya telah mengandungnya dalam Keadaan lemah yang bertambah- tambah, dan menyapihnya dalam dua tahun. bersyukurlah kepadaku dan kepada dua orang ibu bapakmu, hanya kepada-Kulah kembalimu. Dan jika keduanya memaksamu untuk mempersekutukan dengan aku sesuatu yang tidak ada pengetahuanmu tentang itu, Maka janganlah kamu mengikuti keduanya, dan pergaulilah keduanya di dunia dengan baik, dan ikutilah jalan orang yang kembali kepada-Ku, kemudian hanya kepada-Kulah kembalimu, Maka Kuberitakan kepadamu apa

yang telah kamu kerjakan”(Kemenag RI, 2014:412).

Ayat tersebut menjelaskan bahwa Luqman melakukan

(46)

dalam proses mendidik anaknya. Hal tersebut mengajarkan

bahwa mendidik anak dapat dilakukan dengan cara berdialog

dan menasihati, karena dalam proses tersebut orang tua dan anak

melakukan komunikasi secara langsung. Komunikasi secara

langsung ini dapat membuat kedekatan anak dengan orang tua

akan lebih akrab dan anak akan lebih terbuka dengan orang

tuanya.

d. Pendidikan melalui pemberian penghargaan atau hukuman

Penghargaan perlu diberikan kepada anak yang memang

harus diberi penghargaan. Metode ini secara tidak langsung

menanamkan etika perlunya menghargai orang lain.

Rasulullah SAW bersabda:

Artinya :“Serulah anak-anakmu (perempuan dan laki-laki)

menjalankan salah jika mereka sudah berusia tujuh tahun. Dan jika sudah berusia sepuluh tahun, maka pukullah mereka jika tidak

mau melaksanakannya dan pisahkanlah tempat tidurnya”.(HR. Al

-Hakim dan Abu Dawud)

Hadist tersebut menjelaskan bahwa mendidik anak selain

menggunakan penghargaan perlu juga adanya hukuman. Sebelum

melakukan hukuman sebaiknya ditegur atau dinasihati terlebih

dahulu. Apabila hal tersebut tidak membuat anak jera maka perlu

hukaman yang lainya, tetapi hukuman tersebut yang sesuai kondisi

(47)

bertujuan untuk membuat jera anak agar lebih bisa mentaati dan

nurut dengan orang tuanya.

5. Ruang Lingkup Pendidikan Agama Islam

Pendidikan agama Islam memiliki tujuannya, yaitu untuk menjadi

manusia yang semakin baik. Untuk mencapai tujuan tersebut maka ada

beberapa ruang lingkup materi yang diperlukan. Pada dasarnya ruang

lingkup pendidikan agama Islam ada tujuh unsur pokok, yaitu

Al-Qur’an-Hadis, keimanan, syariah, ibadah, muamalah, akhlak, dan

tarikh (sejarah Islam) (Muhaimin, 2002:79). Setiap dari tujuh unsur

tersebut memiliki bagiannya masing-masing.

Alqur’an-Hadis merupakan sumber utama ajaran Islam, dalam arti

merupakan sumber akidah (keimanan), syari’ah, ibadah, muamalah, dan

akhlak sehingga kajiannya berada di setiap unsur tersebut. Akidah

(ushuludddin) atau keimanan merupakan akar atau pokok agama. Ibadah,

muamalah, dan akhlak bertitik tolak dari akidah, dalam arti sebagai

manifestasi dan konsekuensi dari akidah(keimanan dan keyakinan hidup).

Syariah merupakan system norma(aturan) yang mengatur hubungan

manusia dengan Allah, dengan sesama manusia, dan dengan makhluk

lainnya. Dalam hubungannya dengan Allah diatur dalam ibadah dalam arti

khas (thaharah, salat, zakat, puasa, dan haji) dan dalam hubungannya

dengan sesama manusia dan lainnya diatur dalam muamalah dalam arti

luas. Akhlak merupakan aspek sikap hidup atau kepribadian hidup

(48)

manusia dengan Allah(ibadah dalam arti khas) dan hubungan manusia

dengan manusia dan lainnya(muamalah) itu menjadi sikap hidup dan

kepribadian hidup manusia dalam menjalankan sistem

kehidupannya(politik, ekonomi, sosial, pendidikan, kekeluargaan,

kebudayaan/seni, iptek, olahraga/kesehatan, dan lain-lain) yang dilandasi

oleh akidah yang kokoh. Sedangkan tarikh (sejarah-kebudayaan) Islam

merupakan perkembangan perjalanan hidup manusia muslim dari masa ke

masa dalam usaha bersyariah(beribadah dan bermuamalah) dan berakhlak

serta dalam mengembangkan sistem kehidupannya yang dilandasi oleh

akidah(Muhaimin, 2002:80).

Setiap unsur pokok di atas memiliki manfaat dan fungsi yang

berbeda-beda. Islam telah mengajarkan segala hal melalui adanya

pendidikan agama Islam dalam pendidikan formal. Berbagai macam unsur

ini yang bisa membantu seseorang dalam menatap masa depan yang lebih

baik dan maksimal.

Menurut Ali komponen agama Islam: akidah, syari’ah, dan akhlak

(2008:344). Menurut Rachmat Djatnika perkataan akhlak dalam bahasa

Indonesia berasal dari bahasa Arab akhlaq, bentuk jamak kata khuluq atau

al-khulq, yang secara etimologis(bersangkutan dengan cabang ilmu bahasa

menyelidiki asal-usul kata serta perubahan-perubahan dalam bentuk dan

makna) antara lain berarti budi pekerti, perangai, tingkah laku atau tabi’at(

(49)

Begitu Islam mengajarkan akhlak seseorang agar bisa tata cara

bermasyarakat yang baik serta bisa mengayomi sesama. Dalam

kepustakaan, akhlak diartikan juga sikap yang melahirkan perbuatan(

perilaku, tingkah laku) mungkin baik, mungkin buruk, seperti telah disebut

di atas. Dapat juga dikatakan bahwa perangai adalah sifat dan watak yang

merupakan bawaan sesorang. Pembentukannya kea rah baik atau buruk,

ditentukan oleh berbagai faktor, terutama faktor orangtua dalam

berkeluarga (Ali, 346-347).

Masing-masing pokok sub-bab sudah membagi dan meletakkan

peranannya sesuai dengan yang dibutuhkan anak dalam setiap langkahnya,

contoh saja, ada pembelajaran muamalah yang akan mengajari anak

bagaimana cara bermasyarakat yang baik dan cara berinteraksi dengan

yang lain. Ada juga fiqih yang akan mengajarkan cara berwudhu dan

lainnya sesuai dengan Islam yang diajarkan oleh Rasulullah SAW. Hadist

yang akan mengajarkan pada anak apa saja yang bisa mereka pelajari dari

qoul Nabi.

B. PROBLEMATIKA PENDIDIKAN AGAMA ISLAM di KELUARGA NELAYAN

Pada setiap proses kehidupan pasti selalu terdapat problematika,

tidak terkecuali dalam proses pendidikan agama Islam. Setiap kendala

yang ada, pasti memiliki solusinya masing-masing. Apabila bisa

menemukan solusinya, maka akan mempermudah pembelajaran dan dapat

(50)

dalam proses pendidikan menurut Muhaimin adalah keterbatasan sumber

belajar yang ada, keterbatasan alokasi waktu, dan keterbatasan dana yang

tersedia (Muhaimin, 2002:150).

Nelayan merupakan salah satu profesi yang memiliki ketelatenan

tersendiri. Kebanyakan dari nelayan menghabiskan sebagian besar

waktunya untuk mencari ikan atau hasil perairan lainnya, sehingga waktu

untuk berkumpul bersama keluarga pun berkurang. Padahal telah diketahui

bahwa orang tua merupakan pendidik pertama dan utama anak, khususnya

pendidikan agama Islam.

Sebagai pendidikan yang menjadi pedoman dunia maupun akhirat,

pendidikan agama Islam memiliki arti penting tersendiri untuk para

pendidik, khususnya orang tua. Sesibuk apapun orang tua biasanya mereka

tetap memikirkan pendidikan anaknya. Ketelatenan dan didikan orang tua

yang kurang, bisa membuat kurangnya pendidikan agama Islam anak,

karena kurangnya perhatian orangtua akan membuat anak malas dan tidak

mau belajar, terutama dalam hal agama. Padahal agama dapat menuntun

anak menuju kehidupan yang nyaman, damai, dan bisa lebih mendekatkan

diri kepada Allah.

Selain dari segi alokasi waktu, nelayan merupakan salah satu

profesi yang tidak menentu, sehingga hasil nafkah pun tergantung rejeki

yang mereka peroleh pada hari itu. Hal ini berdampak pula terhadap

(51)

BAB III

PAPARAN DATA DAN TEMUAN PENELITIAN

A. Gambaran Umum 1. Lokasi Penelitian

Desa Rowoboni berdiri sejak pertengahan abad XVI. Desa

yang terletak di pesisir sebelah selatan Rawa Pening ini awal mulanya

berasal dari kata Rowo dan Boni. Rowo mempunyai arti air dan Boni

mempunyai arti Sumber, atau dengan kata lain Rowoboni berarti

Sumber Air. Sampai sekarang tak heran apabila di sekitar Desa

Rowoboni di Dusun manapun terdapat sumber mata air. Salah satunya

sebagai sumber yang terbesar di desa ini yaitu Sumber Air di Dusun

Muncul, yang hingga saat ini terkenal dengan Pemandian Muncul.

Dahulu Desa Rowoboni diperintah oleh Ki Demang Suryo

Mangun Broto yang memiliki empat istri. Salah satu istrinya yang

terkenal yaitu Nyi Ageng Pandanwangi. Istrinya ini bertempat tinggal

di Dukuh Rowoganjar. Selain dukuh itu, ada dukuh yang lain, yaitu

Dukuh Rowokancing, Rowopotro, Rowosuyud, Rowogono, dan

Muncul. Ki Demang Suryo Mangun Broto dan keluarganya seorang

pemerintah yang bijaksana. Istrinya, Nyi Ageng Pandanwangi

memiliki kebiasaan menjemur sebagian kekayaannya yang berupa

emas berlian setiap hari Jumat Kliwon. Setiap tahunnya, seusai panen

raya mereka melakukan tasyakuran dengan mengadakan pagelaran

(52)

giliran untuk menggarap sawah Ki Demang. Kebiasaan tahunan

lainnya yaitu setiap menjelang bulan Ramadhan tiba, masyarakat

menggelar Ritual Megengan, yang sekarang lebih dikenal dengan

sebutan Padusan. Kebiasaan ini bertujuan untuk membersihkan diri

dan mansucikan diri sebelum melaksanakan Puasa di Bulan Suci

Ramadhan. Namun, suatu ketika terjadi luapan Rawa Pening pada

tahun 1933 yang berdampak kepada pindahnya sebagian dukuh yang

terletak di pesisir Rawa Pening. Hingga sekarang Desa Rowoboni

memiliki enam dusun yaitu Dusun Muncul, Rowoganjar, Rowokasam,

Candisari, Gondangsari, dan Dusun Sentul.

2. Kondisi Geografis

Desa Rowoboni adalah salah satu dari sepuluh desa yang

berada di wilayah Kecamatan Banyubiru Kabupaten Semarang. Desa

ini terletak di dekat Rawa Pening dan diantara desa-desa yang lain.

Desa Rowoboni seluas 512,80 Ha, yang terdiri dari tanah irigasi

sederhana 97,35 ha, tanah kering 55,25 ha yang mencakup

pekarangan/perumahan 25,25 ha dan tegalan 30 ha, ada juga tanah

rawa seluas 350 ha dan lain-lainnya 10,20 ha.

3. Iklim

Iklim di Desa Rowoboni itu beriklim sedang karena terletak

diketinggian 450 m dari permukaan air laut, curah hujan rata – rata

2.000 sampai dengan 3.000 mm tiap tahun. Di desa ini sering terjadi

(53)

4. Batas Wilayah

Desa Rowoboni terletak di Kecamatan Banyubiru dengan batas–batas:

a. Sebelah Utara : Rawa Pening

b. Sebelah Barat : Desa Tegaron dan Desa Kebondowo

c. Sebelah Selatan : Desa Kebumen dan Desa Gedong

d. Sebelah Timur : Desa Kalibeji Kecamatan Tuntang

5. Kondisi Demografi

Jumlah penduduk di Desa Rowoboni sebanyak 2.456 yang

terdiri atas laki-laki 1.236 jiwa dan perempuan 1.220 jiwa. Penduduk

ini terdiri dari 723 kepala keluarga yang terbagi atas 6 Rukun Warga

(RW) dan 15 Rukun Tetangga (RT).

Berikut ini jumlah penduduk berdasarkan beberapa kategori:

a. Jumlah Penduduk menurut mata pencaharian:

Tabel 3.1

Jumlah Penduduk Menurut Mata Pencaharian

No. Mata Pencaharian Jumlah Penduduk

(54)

b. Jumlah Penduduk menurut agama:

Tabel 3.2

Jumlah Penduduk Menurut Agama

No. Agama Jumlah Penduduk

1 Islam 2442

2 Katolik 13

3 Kristen 1

4 Hindu 0

5 Budha 0

c. Jumlah Penduduk berdasarkan kelompok umur dan jenis kelamin:

Tabel 3.3

(55)

d. Penduduk berdasarkan tingkat pendidikan:

Tabel 3.4

Jumlah Penduduk Berdasarkan Tingkat Pendidikan

No. Tingkat Pendidikan Jumlah Penduduk

1 TK/Play Group 108

7 Tamat Akademik/Diploma 61

8 Sarjana ke atas 40

6. Sarana dan Fasilitas Pendidikan

Tabel 3.5

Sarana dan Fasilitas Pendidikan

No. Sekolah Jumlah Gedung Jumlah Guru Jumlah Siswa

(56)

No. Jenis Jumlah

10.Penyelenggaraan Organisasi Pemerintah Desa

(57)

B. Temuan Penelitian

1. Gambaran Informan

Berdasarkan jumlah beberapa responden yang diteliti

masing-masing subjek terdiri dari orang tua dan anak-anak yang bestatus

siswa Sekolah Dasar, Sekolah dan Menengah Pertama. Berikut ini

penjelasan mengenai profil masing-masing orang tua dan anak yang di

jadikan responden oleh peneliti, sebagai berikut :

a. Bapak MN

Bapak MN berumur 50 tahun, yang kuat dan tangguh dalam

merawat anak-anaknya agar bisa menjadi anak yang berpendidikan

tinggi. Bapak MN ayah dari anak MA. Pekerjaan Bapak MN

seorang nelayan. Setiap pagi dan sore Bapak MN ke Rawa untuk

mencari ikan, guna dijual dan bisa mendapatkan uang.

b. Bapak MR

Bapak MR berumur 35 tahun. Bapak MR bekerja sebagai

nelayan. Setiap pagi harinya bapak MR mencari ikan ke Rawa.

Bapak MR memiliki dua orang anak. Anak yang pertama AF duduk

di bangku kelas 4MI. Dan anak keduanya masih kecil. Bapak MR

sangat gigih dan bersemangat dalam bekerja, karena keinginan

orang tua untuk bisa menyekolahkan anaknya hingga ke jenjang

(58)

c. Bapak MRQ

Bapak MRQ berumur 37 tahun. Bapak MRQ bekerja sebagai

nelayan. Anakny MAA duduk di bangku Madrasah Ibtidaiyah. Jerih payah

Bapak MRQ sangatlah hebat, keinginan bapak untuk mencari uang guna

menyekolahkan anaknya hingga ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi.

Apalagi dalam mencari ilmu di bidang Agama.

d. Ibu I

Ibu I berumur 35 tahun. Ibu I yang membantu pekerjaan suaminya

sebagai nelayan. Ibu I yang juga ikut serta mecari cara agar bisa membantu

suaminya bekerja supaya bisa mendapatkan uang. Ibu I memiliki anak

bernama MRH yang kini duduk di bangku kelas 1SMP.

e. Ibu HE

Ibu HE ini memiliki anak bernama MNF yang kini duduk di kelas 5

SD. Ibu ini bekerja sebagai ibu rumah tangga dan membantu saudaranya

untuk menjaga bayinya. Terkadang juga membantu suaminya dalam

bekerja. Seringnya, Ibu HE berada di rumah. Keinginan Bu HE dalam

menyekolahkan anaknya sangatlah tinggi, terutama dalam belajar agama.

Karena menurut Ibu Heni pendidikan agama ini sangatlah penting untuk

kehidupan dunia dan akhirat.

f. MA

MA berumur 12 tahun yang kini duduk di kelas 6 SD. MA putra dari

bapak MN. MA anaknya baik, pintar, dan rajin. MA sekolah di Madrasah

(59)

Setiap sore hari MA juga mengikuti TPA dan mengaji di tempat guru ngaji

dan masjid, guna menimba ilmu agama.

g. AF

AF berumur 10 tahun yang kini duduk di kelas 4 SD. AF putra dari

bapak MR. Anak yang baik dan pintar. AF menjadi juara di kelasnya.

Menduduki peringkat pertama di kelasnya. Anaknya cantik dan pemalu

pada orang yang belum dia kenal. Tiap sore hari dia pergi mengaji dan

belajar agama di masjid.

h. MAA

MAA berumur 8 tahun duduk di bangku kelas 2 SD. Putra dari

bapak MRQ yang pekerjaannya sebagai nelayan. Anaknya aktif sekali,

banyak tingkahnya. MAA tidak berbeda dengan yang lain, biasanya tiap

sore selalu belajar mengaji dan TPA di masjid dan guru ngajinya untuk

belajar agama.

i. MRH

MRH duduk di bangku kelas 1 SMP yang berumur 13 tahun. MRH

putra dari ibu I yang bapaknya juga bekerja sebagai nelayan. Biasanya

MRH belajar agama dari sekolahnya di MTS. Pagi hingga siang MRH

belajar di MTS dan di rumah di ajari mengaji oleh guru ngajinya di dusun.

j. MNF

MNF berumur 11 tahun yang duduk di bangku kelas 5 SD. MNF

(60)

pintar dan periang. Setiap sorenya MNF belajar agama di guru ngaji dan

TPA di masjid.

Sesuai dengan hasil wawancara dan dokumentasi di lokasi penelitian yaitu

di desa Rowoboni, ditemukan beberapa hal sebagai berikut:

2. Pendidikan Agama Islam pada Anak Nelayan di Desa Rowoboni

Kegiatan pendidikan agama Islam pada anak nelayan tidak

terlepas dari pengertian orang tua mengenai arti dari pendidikan

agama Islam itu sendiri. Ketika ditanya mengenai pengertian, banyak

diantara orang tua mengartikan pendidikan agama Islam sebagai

pendidikan yang mengarahkan anak pada nilai-nilai agama Islam dan

bertujuan untuk mendekatkan diri kepada Allah, sesuai yang

dikemukakan MN:

Mungkin pendidikan agama Islam itu pendidikan

yang bisa mendekatkan diri pada Allah” (21 Agustus 2016).

Hal yang serupa juga di sampaikan oleh I tentang pendidikan

Agama Islam, dibuktikan dengan hasil wawancara, sebagai berikut :

“Pendidikan yang mengarahkan diri untuk

(61)

Hal yang serupa juga di sampaikan oleh HE, tentang

pendidikan agama Islam, dibuktikan dengan hasil wawancara dengan

HE sebagai berikut :

Pendidikan yang mengarahkan dan membimbing

menuju nilai-nilai agama Islam untuk mendekatkan diri

kepada Allah.” (21 Agustus 2016).

Sedikit berbeda pendapat, beberapa orang tua berpendapat

bahwa pendidikan agama Islam adalah pendidikan yang menuju

pada rahmatan lil alamin, sebagaimana diutarakan MR

“Pendidikan agama Islam itu Rahmatan lil’alamin.”

(21 Agustus 2016).

Selain beberapa pendapat di atas, ada yang berpendapat

lain. MRQ berpendapat bahwa pendidikan agama Islam merupakan

proses membimbing dan mengarahkan anak menuju jalan yang

benar dan sesuai dengan ajaran Islam.

“Pendidikan agama Islam itu membimbing,

mengarahkan ke arah jalan yang benar sesuai dan

norma-norma ajaran Islam.” (21 Agustus 2016).

Berbeda dengan orang tua, beberapa anak nelayan justru

(62)

yang terdapat di disiplin ilmu ini seperti akidah, tauhid, akhlak,

al-qur’an, hadist, bahasa arab, fikih, BTA, sholat, zakat, cara

bermasyarakat, haji.

Jawaban tersebut diperkuat dengan hasil wawancara dengan

anak dari MN yaitu MA dari wawancara sebagai berikut :

“Pendidikan agama Islam itu pelajaran agama yang

menyangkut akidah dan tauhid.” (21 Agustus 2016).

MNM juga mengemukakan pendapat yang hampir sama tentang

pendidikan agama Islam:

“Pendidikan yang mengajarkan tentang akhlak,

alqur’an, hadist, dan tauhid.” (21 Agustus 2016)

Pendapat MRH yang hampir sama dengan yang lain, bahwa

pendidikan agama Islam itu:

“Pendidikan yang mengajarkan tentang sholat,

tauhid, dan akhlak serta cara bermasyarakat.” (21 Agustus

2016)

Tidak berbeda jauh dengan MRH, AF juga berpendapat bahwa

pendidikan agama Islam itu pelajaran yang mengajarkan tentang

(63)

Pelajaran yang mengajarkan tentang zakat, sholat,

haji, dan lainnya”. (W/A/AF/21-08-2016/10.38WIB)

Hal yang serupa juga diungkapkan oleh MNF tentang pendidikan

agama Islam, sebagai berikut:

“Pendidikan yang mengajarkan sholat dan

mengajarkan tentang adanya Allah.” (21 Agustus 2016)

Akan tetapi ada juga anak nelayan yang berpendapat bahwa

pendidikan agama Islam adalah pendidikan yang mendekatkan diri

kepada petunjuk Allah.

Jawaban tersebut diperkuat dengan hasil wawancara dengan

MAA dari wawancara sebagai berikut :

Pendidikan yang mendekatkan diri kepada

Allah.(21 Agusus 2016)

Proses pendidikan selalu memiliki tujuan, tidak terkecuali

pendidikan agama Islam. Tujuan dari pendidikan agama Islam

pada anak nelayan terlihat dari pernyataan MN yaitu untuk mencari

ketenangan kepada keluarga dan masyarakat:

Menurut saya tujuan dari PAI itu untuk mencari

ketenangan kepada keluarga dan masyarakat” (21 Agustus

Gambar

Tabel 3.1 Jumlah Penduduk Menurut Mata Pencaharian
Tabel 3.2
Tabel 3.6 Sarana Ibadah
Tabel 3.8 Sarana Perhubungan/Jalan

Referensi

Dokumen terkait

Variabel penelitian dan pengembangan pada penelitian ini dilambangkan dengan RnD dan merupakan variabel dummy, dimana jika perusahaan memiliki data mengenai biaya

governance ) yang baik sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2, semua pelayanan medis yang dilakukan oleh setiap staf medis di rumah sakit dilakukan atas.. penugasan klinis

Hasil Penelitian ini adalah pemetaan produktivitas panen dalam bentuk sistem informasi geografis untuk mempermudah melakukan pemantauan produktivitas panen, juga

40 Article 30 point (1) and (2) Governemnet Regulation Number 101 of 2014 on Waste Management and Toxic Material (State Gazette of the Republic of Indonesia Year 2014 Number

Ada tiga macam perancangan yaitu : (1) asli yaitu merupakan desain penemuan yang benar-benar didasarkan pada penemuan belum pernah ada sebelumnya, (2)

Jumlah koloni mikroba diRuang Isolasi Imunitas Menurun Rumah Sakit Kanker “Dharmais” Jakarta, 2013-2014, yang memenuhi nilai ambang batas sesuai dengan yang telah ditetapkan

HONORARIUM PANITIA PELAKSANA KEGIATAN; HONORARIUM PEGAWAI HONORER / TIDAK TETAP; BANTUAN TRANSPORT NARASUMBER DAN BANTUAN TRANSPORT PESERTA; HONORARIUM NARASUMBER; BELANJA

Seperti pada perhitungan momen inersia batang, dengan analisa dimensi kita peroleh momen inersia segitiga terhadap sumbu yang melalui pusat massanya adalah:.. I pm = cma 2