PENDIDIKAN AGAMA ISLAM
PADA ANAK NELAYAN RAWA PENING
DI DESA ROWOBONI KABUPATEN SEMARANG
TAHUN 2016
SKRIPSI
Disusun Untuk Memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan (S.Pd.)
Oleh :
FAIZ KHUZAIMAH NIM: 111-12-058
JURUSAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM
FAKULTAS TARBIYAH DAN ILMU KEGURUAN
INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI (IAIN)
SALATIGA
MOTTO
Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, keras, dan tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang
PERSEMBAHAN
Alhamdulillahirobbil’alamin dengan rahmat dan hidayah Allah SWT skripsi ini
telah selesai. Skripsi ini saya persembahkan kepada:
1. Ibu Purtiningsih dan Bapak Muh. Khafidz yang senantiasa memberikan nasehat
dan telah mendidikku dari kecil sampai menikmati kuliah S1 di IAIN Salatiga
ini, serta tidak lelah mendoakan tanpa henti untuk menjadi pribadi yang
bermanfaat untuk sesama.
2. Adik-adiku tersayang Faizal Fahmi Arrida’i, Farhan Abror, dan Muhammad
Fadlan Sururi yang selalu memberikan semangat untuk terus menjadi pribadi
yang tangguh.
3. Kummi, Umami, Nurjanah, Mbak Alfi, Wardati, Ika Fitri, Puput, Titir, dan
seluruh sahabatku yang selalu membersamai dalam setiap langkah.
4. Bapak Kyai H. Samsyurro’yi dan Ibu Hj. Istiwanah yang selalu sabar dan
membimbing dalam memperdalam ilmu agama.
5. Keluarga PAI B, Keluarga PPL SMK Diponegoro Salatiga, Kelompok KKN
posko 23, GRAVART Generation, IKAMASUTA Salatiga, dan segenap
teman-teman Pondok Pesantren Al-Riyadloh Kesongo Tuntang Semarang yang
KATA PENGANTAR
Puji syukur senantiasa penulis panjatkan kehadirat Allah SWT yang telah
memberikan banyak rahmat dan hidayah-Nya, sehingga bisa menikmati indahnya
Islam di dunia ini. Sholawat serta salam selalu tercurahkan pada junjungan Nabi
Agung Muhammad SAW yang telah membimbing manusia dari zaman kegelapan
hingga zaman yang terang benderang dan yang selalu dinantikan syafaatnya di
hari kiamat kelak. Segala syukur penulis panjatkan sehingga penulis dapat
menyelesaikan tugas akhir skripsi dengan judul “PENDIDIKAN AGAMA
ISLAM PADA ANAK NELAYAN RAWA PENING DI DESA ROWOBONI
KABUPATEN SEMARANG TAHUN 2016”
Skripsi ini disusun sebagai syarat untuk memperoleh gelar S1 Fakultas
Tarbiyah dan Ilmu Keguruan, Jurusan Pendidikan Agama Islam Institut Agama
Islam Negeri (IAIN) Salatiga. Dalam penyusunan skripsi ini penulis menyadari
bahwa masih banyak sekali kekurangan di dalamnya. Penulis menyadari bahwa
tanpa bantuan dari berbagai pihak penulis tidak akan bisa menyelesaikan skripsi
ini dengan lancar. Oleh karena itu pada kesempatan ini penulis ingin
mengucapkan terimakasih kepada :
1. Bapak Dr. H. Rahmat Haryadi, M.Pd. selaku Rektor IAIN Salatiga
2. Bapak Suwardi, M.Pd. selaku Dekan Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan
4. Ibu Dra. Siti Asdiqoh, M.Si. selaku Dosen Pembimbing skripsi yang telah
mencurahkan pikiran, tenaga, dan pengorbanan waktunya dalam upaya
membimbing penulis untuk menyelesaikan skripsi ini.
5. Bapak Dr. H. Miftahuddin, M.Ag. selaku Pembimbing Akademik.
6. Seluruh dosen dan karyawan IAIN Salatiga yang telah banyak membantu
selama kuliah hingga menyelesaikan skripsi ini.
7. Kepala Desa Rowoboni beserta perangkatnya, bapak/ibu Dusun Rowoganjar,
dan anak-anak Dusun Rowoganjar yang telah memberikan ijin serta
membantu penulis dalam melakukan penelitian di desa tersebut.
8. Bapak, ibu, keluarga, dan seluruh pihak yang selalu mendorong dan
memberikan motivasi dalam menyelesaikan kuliah di IAIN Salatiga.
Akhir kata, semoga skripsi ini dapat bermanfaat bagi penulis
khususnya dan bagi semua orang pada umumnya. Saran dan kritik yang
membangun sangat diperlukan dalam kesempurnaan skripsi ini.
Salatiga, 15 September 2016 Penulis
ABSTRAK
Khuzaimah, Faiz. 2016. “Pendidikan Agama Islam Pada Anak Nelayan Rawa
Pening Di Desa Rowoboni Kabupaten Semarang Tahun 2016”
Pembimbing: Dra. Siti Asdiqoh, M.Si.
Kata kunci: Pendidikan Agama Islam, Anak Nelayan, Rawa Pening
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pendidikan agama Islam pada anak nelayan Rawa Pening di Desa Rowoboni. Pertanyaan yang ingin dijawab melalui penelitian ini adalah: 1) bagaimana pendidikan agama Islam pada anak nelayan di Desa Rowoboni. 2) kendala yang dihadapi keluarga dalam pendidikan agama Islam pada anak nelayan di Desa Rowoboni. 3) upaya orang tua memenuhi kebutuhan pendidikan agama Islam anak nelayan di Desa Rowoboni.
Penelitian ini menggunakan jenis penelitian deskriptif dengan metode kualitatif. Teknik pengumpulan data adalah observasi dan wawancara. Subyek penelitian adalah orang tua (ayah atau ibu) dan anak keluarga nelayan. Peneliti membatasi keluarga nelayan yang memiliki anak usia 6-15 tahun yaitu anak usia sekolah dasar dan menengah.
Temuan penelitian menunjukkan bahwa 1) Definisi PAI menurut orang tua nelayan di Desa Rowoboni adalah proses pendidikan berisi pedoman hidup dan nilai-nilai agama Islam yang membimbing serta mengarahkan anak menuju jalan yang benar sesuai ajaran Islam sehingga terwujud perbuatan ihsan terhadap Allah dan orang tua. Tujuan PAI pada anak nelayan adalah mendekatkan diri kepada Allah SWT, mewujudkan generasi yang berakhlak mulia, mendapatkan ketenangan keluarga dan masyarakat, serta mendapatkan kebahagiaan dunia dan akhirat. Pihak yang terlibat dalam PAI pada anak nelayan adalah orang tua, sekolah, guru-guru diniyah, TPA. Metode PAI yang digunakan adalah dengan mengajari al-qur’an dan akhlak menanamkan tauhid dengan cara mengenalkan sifat-sifat Allah dan Rasul serta penanaman akhlak sejak dini, serta melalui nasehat dan cerita-cerita pada anak. Materi pendidikan agama Islam yang ditanamkan pada anak nelayan adalah zakat, sholat, haji, al-qur’an, tauhid, hadist, hafalan surat, bahasa arab, fikih, thaharah, SKI, dan BTA. 2) Kendala yang dihadapi adalah sikap anak yang malas, sulit dididik serta sulitnya menghafal dan adanya gangguan dari saudara. 3) Upaya yang dilakukan orang tua adalah
menasehati dan menceritakan kisah-kisah, mengulang-ulang pelajaran,
melaksanakan sistem pemberian reward, dan memberi semangat pada anak.
DAFTAR ISI
HALAMAN JUDUL ... i
HALAMAN BERLOGO ... ii
HALAMAN NOTA PEMBIMBING ... iii
HALAMAN PENGESAHAN ... iv
PERNYATAAN KEASLIAN TULISAN ... v
MOTTO ... vi
A. Latar Belakang Masalah ... 1
B. Fokus Masalah... 4
C. Tujuan Penelitian... 5
D. Manfaat Penelitian... 6
E. Penegasan Istilah ... 7
F. Metode Penelitian ... 8
G. Sistematika Penulisan ... 13
BAB II KAJIAN PUSTAKA ... 15
A. Pendidikan Agama Islam ... 15
BAB III PAPARAN DATA DAN TEMUAN PENELITIAN ... 36
A. Gambaran Umum ... 36
B. Temuan Penelitian ... 43
1. Gambaran Informan ... 43
2. Pendidikan Agama Islam pada Anak Nelayan di Desa Rowoboni ... 46
3. Kendala yang Dihadapi Keluarga dalam Pendidikan Agama Islam pada Anak Nelayan di Desa Rowoboni ... 56
4. Upaya Orang Tua Mememnuhi Kebutuhan Pendidikan Agama Islam Anak Nelayan di Desa Rowoboni ... 59
BAB IV PEMBAHASAN ... 61
A. Pendidikan Agama Islam pada Anak Nelayan di Desa Rowoboni Kecamatan Banyubiru Kabupaten Semarang Tahun 2016 ... 61
B. Problematika yang Dihadapi Keluarga dalam Pendidikan Agama Islam pada Anak Nelayan di Desa Rowoboni Kecamatan Banyubiru Kabupaten Semarang Tahun 2016 ... 68
C. Upaya Orang Tua Memenuhi Kebutuhan Pendidikan Agama Islam Anak Nelayan di Desa Rowoboni Kecamatan Banyubiru Kabupaten Semarang Tahun 2016 ... 69
BAB V PENUTUP ... 73
A. Kesimpulan... 73
DAFTAR PUSTAKA ... 76
RIWAYAT HIDUP PENULIS ... 78
DAFTAR TABEL
Tabel 3.1 Jumlah Penduduk Menurut Mata Pencaharian
Tabel 3.2 Jumlah Penduduk Menurut Agama
Tabel 3.3 Jumlah Penduduk Berdasarkan Kelompok Umur dan Jenis Kelamin
Tabel 3.4 Jumlah Penduduk Berdasarkan Tingkat Pendidikan
Tabel 3.5 Sarana dan Fasilitas Pendidikan
Tabel 3.6 Sarana Ibadah
Tabel 3.7 Perumahan Penduduk
DAFTAR LAMPIRAN
1. Daftar SKK
2. Nota Pembimbing Skripsi
3. Surat Permohonan Izin Melakukan Penelitian
4. Surat Keterangan Melakukan Penelitian
5. Lembar Konsultasi
6. Instrumen Pengumpulan Data
BAB I
PENDAHULUAN
A.Latar Belakang Masalah
Setiap individu membutuhkan pendidikan sebagai bekal hidup.
Pendidikan dapat membantu menumbuhkembangkan potensi dan kodrat
seorang manusia. Menurut Ki Hajar Dewantoro pendidikan yaitu tuntunan di
dalam hidup tumbuhnya anak-anak. Maksudnya pendidikan itu menuntun
segala kekuatan kodrat yang ada pada anak-anak itu agar mereka sebagai
manusia dan sebagai anggota masyarakat dapatlah mencapai keselamatan dan
kebahagian yang setingginya. Pendidikan mencakup berbagai aspek kehidupan,
salah satunya pendidikan agama Islam (Samino, 2010:36).
Pendidikan agama Islam berfungsi untuk mengembangkan fitrah setiap
manusia. Pendidikan agama Islam merupakan suatu proses pembelajaran yang
bertujuan untuk mendidik dan memahamkan kepada anak agar mereka paham
dan dapat menjalankan setiap ajaran yang diberikan. Sehingga manusia tidak
hanya terdaftar dalam Islam KTP saja, namun bisa menjalankan setiap ajaran
yang benar.
Pendidikan agama Islam merupakan kebutuhan dalam setiap manusia.
Pendidikan agama Islam ini juga dapat mengembangkan fitrah keberagaman
wawasan Islam dengan pendidikan yang lain. Pendidikan ini mengandung
proses belajar yang mengkhususkan dalam memahami dan mengamalkan
ajaran-ajaran Islam yang sudah diajarkan. Pendidikan agama Islam harusnya
diberikan sejak dini, agar manusia lebih bisa tahu dan dapat mengamalkan
ajarannya sedini mungkin.
Hal ini membuat pendidikan agama Islam sangat penting bagi kehidupan.
Pendidikan agama Islam diharapkan dapat mencapai suatu tujuan pendidikan,
yaitu untuk memahami, menghayati dan mengamalkan ajaran-ajaran Islam.
Adanya pendidikan agama Islam dapat melatih dan mendidik anak agar dapat
lebih tertata tingkah laku, sopan santun, perilaku dan akhlaknya. Anak juga
perlu dibekali dengan berbagai wawasan pengetahuan yang dapat digunakan
untuk menghadapi tantangan hidup.
Tidak hanya di lingkungan rumah dan sekolahnya saja anak dapat
mendapatkan pendidikan agama Islam, melalui keluarganya anak juga
membutuhkan pendidikan agama Islam, bahkan keluargalah pendidikan anak
pertama. Perkembangan agama anak sangat ditentukan oleh keluarganya,
sesuai sabda Rasulullah dalam hadist :
ُهاَوَ بَأَف ِةَرْطِفْلا ىَلَع ُدَلْوُ ي َّلا ِإ ٍدْوُلْوَم ْنِم اَم
ْنَا
ِوِناَسِّجَُيُ ْوَأ ِوِناَرِّصَنُ يْوَأ ِوِناَدِّوَهُ ي
Orang tua juga berperan dalam menjaga anak-anaknya dari pedihnya api
nereka, sesuai dalam Qur’an surat at tahrim ayat 6.
Artinya: Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, keras, dan tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.
Selain berkewajiban terhadap keberlangsungan kondisi anak, orangtua
juga berkewajiban untuk bekerja supaya kebutuhan keluarga terpenuhi.
Menurut beberapa dasar di atas dapat disimpulkan bahwa profesi apapun yang
digeluti orang tua, ia tetap memiliki tanggung jawab dalam memperhatikan
pendidikan anak.
Desa Rowoboni merupakan salah satu desa yang teletak di sekitar Rawa
Pening. Penduduk di desa ini memiliki profesi yang bermacam-macam, salah
satunya sebagai nelayan. Berprofesi sebagai nelayan merupakan pilihan
kebanyakan warga di desa Rowoboni, karena selain letak geografis yang dekat
dengan danau Rawa Pening, hasil ekonomi yang mereka dapatkan cukup
menjanjikan. Selain itu profesi ini dipilih karena tidak membutuhkan
pendidikan dan biaya yang tinggi untuk bergelut di dunia tersebut. Mereka
Di sisi lain, sebagai seorang nelayan hampir seluruh waktunya
dihabiskan di rawa. Hal ini menyebabkan nelayan kekurangan waktu untuk
bersama anaknya. Bahkan mereka juga kurang memperhatikan pendidikan
anaknya. Kurangnya perhatian dari orangtua mengakibatkan kebutuhan materi
anak terpenuhi, tapi segi psikisnya tidak. Hal ini yang membuat orang tua
kurang maksimal dalam memberi pendidikan kepada anaknya baik pendidikan
umum maupun pendidikan agama. Walhasil, sebagian anak nelayan kurang
paham dalam pendidikan agama Islam.
Namun dari observasi awal dapat dilihat bahwa kondisi keagaamaan
warga khususnya anak-anak di desa ini cukup baik. Di desa ini banyak terdapat
lembaga keagamaan seperti Taman Pendidikan Al Qur'an dan sekolah diniyah
sore yang tidak sepi dari peserta didik yang berusia 4-13 tahun. Lantas
bagaimana orang tua yang berprofesi sebagai nelayan ini dapat memberikan
pendidikan agama Islam kepada anaknya sehingga kondisi keagamaan di desa
ini terlihat kondusif.
Berdasarkan latar belakang di atas, penulis berkeinginan untuk meneliti
permasalahan dengan judul “PENDIDIKAN AGAMA ISLAM PADA
ANAK NELAYAN RAWA PENING DI DESA ROWOBONI,
KECAMATAN BANYUBIRU, KABUPATEN SEMARANG TAHUN
B. Fokus Masalah
Berdasarkan latar belakang diatas peneliti merumuskan masalah sebagai
berikut:
1. Bagaimana pendidikan agama Islam pada anak nelayan di desa Rowoboni,
Kecamatan Banyubiru, Kabupaten Semarang tahun 2016?
a. Apa tujuan pendidikan agama Islam pada anak nelayan di Desa
Rowoboni, Kecamatan Banyubiru, Kabupaten Semarang tahun 2016?
b. Siapa pihak yang terlibat dalam pendidikan agama Islam pada anak
nelayan di Desa Rowoboni, Kecamatan Banyubiru, Kabupaten
Semarang tahun 2016?
c. Bagaimana metode orang tua dalam pendidikan agama Islam pada
anak nelayan di Desa Rowoboni, Kecamatan Banyubiru, Kabupaten
Semarang tahun 2016?
2. Apa saja kendala yang dihadapi keluarga dalam pendidikan agama Islam
pada anak nelayan di desa Rowoboni, Kecamatan Banyubiru, Kabupaten
Semarang tahun 2016 ?
3. Bagaimana upaya orang tua memenuhi kebutuhan pendidikan agama Islam
anak nelayan di desa Rowoboni, Kecamatan Banyubiru, Kabupaten
Semarang tahun 2016?
C. Tujuan Penelitian
Adapun tujuan yang ingin dicapai dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:
1. Untuk mengetahui pendidikan agama Islam nelayan di desa Rowoboni,
a. Mengetahui tujuan pendidikan agama Islam pada anak nelayan di Desa
Rowoboni, Kecamatan Banyubiru, Kabupaten Semarang tahun 2016?
b. Mengetahui pihak yang terlibat dalam pendidikan agama Islam pada
anak nelayan di Desa Rowoboni, Kecamatan Banyubiru, Kabupaten
Semarang tahun 2016?
c. Mengetahui metode orang tua dalam pendidikan agama Islam pada
anak nelayan di Desa Rowoboni, Kecamatan Banyubiru, Kabupaten
Semarang tahun 2016?
2. Untuk mengetahui kendala yang dihadapi keluarga dalam pendidikan
agama Islam dalam keluarga nelayan di desa Rowoboni, Kecamatan
Banyubiru, Kabupaten Semarang tahun 2016.
3. Untuk mengetahui upaya orang tua dalam memenuhi kebutuhan
pendidikan agama Islam anak nelayan di desa Rowoboni, Kecamatan
Banyubiru, Kabupaten Semarang tahun 2016.
D. Manfaat Penelitian
Dari hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan informasi yang
jelas dan diharapkan dapat memberi manfaat secara praktis maupun teoritis,
antara lain:
a. Manfaat teoritis
Penelitian ini diharapkan dapat memberikan masukan untuk
pengembangan kualitas pendidikan agama Islam anak di keluarga
nelayan dan menghasilkan informasi mengenai pendidikan agama Islam
b. Manfaat praktis
Penelitian ini diharapkan dapat menyebarluaskan pendidikan agama
Islam di daerah Rawa pening.
E. Penegasan Istilah
1. Pendidikan Agama Islam
Menurut Nasir pendidikan agama Islam adalah usaha yang berupa
pengajaran, bimbingan dan asuhan terhadap anak agar kelak selesai
pendidikannya dapat memahami, menghayati, dan mengamalkan agama
Islam, serta menjadikannya sebagai jalan kehidupan, baik pribadi maupun
kehidupan masyarakat (Nasir. 2008:15-16).
Jadi, pendidikan agama Islam adalah usaha yang dilakukan berupa
pengajaran, bimbingan dan asuhan terhadap anak agar anak dapat
memahami, menghayati dan mengamalkan agama Islam menuju jalan
yang benar.
2. Nelayan
Nelayan adalah seorang yang mata pencaharian utamanya
menangkap ikan di laut.Menurut KBBI (kamus besar bahasa Indonesia)
orang yang mata pencaharian utamanya dari usaha menangkap ikan(di
laut) ( Tim penyusun kamus pusat tim pembinaan dan pembinaan
bahasa,1990:612).
Jadi, judul skripsi ini adalah suatu usaha berupa pengajaran,
Islamnya kurang diperhatikan orang tuanya agar lebih memahami,
menghayati, dan mengamalkannya di dalam kehidupannya, terutama
dalam lingkungan sekitarnya, yaitu masyarakat.
F. Metode Penelitian
1. Pendekatan dan Jenis Penelitian
Dalam penulisan skripsi ini, penulis menggunakan pendekatan
deskriptif kualitatif. Pendekatan ini digunakan karena data yang
dikumpulkan berupa kata-kata, dan bukan angka-angka. Sedangkan
menurut Bogdan dan Taylor (dalam Moleong,2012:3) prosedur penelitian
yang melibatkan data diskriptif berupa kata-kata tertulis atau lisan dari
orang dan pelaku yang dapat diamati..
2. Kehadiran Peneliti
Sesuai dengan pendekatan yang digunakan, yakni deskriptif
kualitatif maka kehadiran peneliti di kancah menjadi mutlak adanya.
Karena dalam penelitian kualitatif, peneliti menjadi “key instrumen” atau
alat peneliti utama. Peneliti mengadakan sendiri pengamatan atau
wawancara tak berstruktur, sering hanya menggunakan buku catatan.
Selain itu guna menunjang perolehan informasi yang valid, peneliti akan
menggunakan alat rekam atau kamera, dan peneliti tetap memegang
peranan utama sebagai alat penelitian.
3. Lokasi
Lokasi penelitian berada di desa Rowoboni, kecamatan Banyubiru,
Pening, sehingga sebagian besar penduduknya bermata pencaharian
sebagai nelayan.
4. Sumber Data
Ada dua sumber yang digunakan peneliti yaitu :
a. Data Primer
Sumber data primer adalah data dalam bentuk verbal atau
kata-kata yang diucapkan secara lisan, gerak-gerik atau perilaku
yang dilakukan oleh subjek yang dapat dipercaya (Arikunto,
2010:22). Sumber data langsung yang peneliti dapatkan berasal dari
orang tua (ayah atau ibu) dan anak keluarga nelayan. Peneliti
membatasi keluarga nelayan yang memiliki anak usia 6-15 tahun
yaitu anak usia sekolah dasar dan menengah.
b. Data Sekunder
Sumber data sekunder adalah data yang diperoleh dari
dokumen-dokumen grafis (tabel, catatan, notulen rapat, SMS, dan
lain-lain), foto-foto, film, rekaman video, dan benda-benda yang
dapat memperkaya data primer (Arikunto, 2010:22). Peneliti
menggunakan data sekunder ini untuk memperkuat dan melengkapi
informasi yang telah dikumpulkan melalui wawancara. Adapun
sumber data sekunder yang digunakan adalah foto keadaan keluarga
5. Teknik Pengumpulan Data
Teknik pengumpulan data yang digunakan peneliti adalah :
a. Wawancara
Wawancara adalah suatu cara menggali data. Hal ini harus
dilakukan secara mendalam untuk mendapatkan data yang detail
dan valid (Asmani, 2011:122). Kegiatan penelitian ini akan
dilaksanakan dengan wawancara terbuka dan terstruktur karena
informan atau narasumber mengetahui bahwa mereka sedang
diwawancarai dan tahu pula tujuan dari wawancara. Selain itu pada
saat wawancara, peneliti sudah menetapkan dan menyiapkan
pertanyaan-pertanyaan yang tersusun secara sistematis.
Wawancara akan dilakukan kepada narasumber diantaranya
adalah anak dan orang tua (bapak dan ibu) keluarga nelayan.
b. Dokumentasi
Dokumentasi yaitu mencari data mengenai hal-hal atau
variabel yang berupa catatan, transkip, buku, surat kabar, majalah,
prasasti, notulen rapat, lengger, agenda, dan sebagainya (Arikunto,
2010:274). Peneliti mencari data mengenai hal-hal yang berkaitan
dengan objek penelitian berupa foto terkait kegiatan pendidikan
agama Islam dalam keluarga nelayan.
6. Analisis Data
Menurut Moleong analisis data adalah proses mengorganisasaikan
sehingga dapat ditemukan tema dan dapat dirumuskan hipotesis kerja
seperti yang disarankan oleh data (Moleong, 2008:280).
Pada tahapan ini, peneliti menganalisis data yang terkumpul yang
terdiri dari hasil wawancara dan dokumentasi. Pekerjaan analisis data
dalam hal ini adalah mengatur, mengurutkan, mengelompokkan,
memberikan kode, dan mengkategorisasikannya.
7. Pengecekan Keabsahan Data
Menurut Moleong ada empat kriteria yang digunakan yaitu:
kepercayaan (credibility), keteralihan (transferability), ketergantungan
(dependability), dan kepastian (confirmability) (Moleong, 2008:324).
Pada penelitian ini, peneliti memakai kriteria kepercayaan
(credibility). Kriteria kepercayaan ini berfungsi untuk melakukan
penelaahan data secara akurat agar tingkat kepercayaan penemuan dapat
dicapai. Peneliti memperpanjang penelitian dengan melakukan observasi
secara terus menerus sampai data yang dibutuhkan cukup. Kemudian
peneliti menggunakan teknik triangulasi data yaitu teknik pemerikasaan
keabsahan data yang memanfaatkan sesuatu yang lain (Moleong,
2008:330). Pada teknik ini peneliti melakukan triangulasi dengan teknik
yaitu dengan jalan membandingkan data hasil pengamatan dengan data
hasil wawancara dan triangulasi dengan sumber yaitu dengan cara
membandingkan data hasil wawancara antar narasumber terkait serta
8. Tahap-Tahap Penelitian
Pelaksanaan penelitian terdiri dari empat tahap yaitu: tahap sebelum
ke lapangan, tahap pekerjaan lapangan, tahap analisis data, dan tahap
penulisan laporan yang ditempuh sebagai berikut:
a. Tahap sebelum ke lapangan
Tahap ini meliputi kegiatan penentuan fokus, penyesuaian
paradigma teori, penjajakan alat peneliti, permohonan izin kepada
subyek yang diteliti, dan konsultasi fokus penelitian.
b. Tahap Pekerjaan Lapangan
Tahap ini meliputi pengumpulan bahan-bahan yang berkaitan
dengan pola pendidikan agama Islam dalam keluarga nelayan. Data
ini diperoleh dengan observasi, wawancara, dan dokumentasi.
c. Tahap Analisis Data
Menurut Miles dan huberman yang dikutip Sugyiono
(2007:337) aktivitas dalam analisis data yaitu reduksi data,
penyajian data, dan penarikan kesimpulan.
1) Mereduksi atau merangkum data, memilih hal-hal pokok,
memfokuskan pada hal-hal yang penting, dicari tema dan
polanya serta membuang yang tidak perlu.
2) Penyajian data dalam uraian singkat, bagan, hubungan antar
kategori, dan sejenisnya secara naratif.
3) Penarikan kesimpulan berupa penemuan baru yang belum
d. Tahap Penulisan Laporan
Tahap ini meliputi kegiatan penyusunan hasil penelitian dari
semua rangkaian kegiatan pengumpulan data sampai pemberian
makna data. Setelah itu melakukan konsultasi hasil penelitian
dengan dosen pembimbing untuk mendapatkan perbaikan,
saran-saran demi kesempurnaan skripsi yang kemudian ditindaklanjuti
hasil bimbingan tersebut dengan penulis skripsi yang sempurna.
G. Sistematika Penulisan
Dalam penelitian ini, penulis menyusun kedalam 5 (lima) bab yang
rinciannya adalah sebagai berikut:
BAB I: PENDAHULUAN. Pada bab pendahuluan ini berisi latar belakang
masalah, fokus masalah, tujuan penelitian, manfaat penelitian, penegasan
istilah, metodologi penelitian, dan sistematika penulisan.
BAB II: KAJIAN PUSTAKA.
A. Pendidikan Agama Islam
1. Pengertian Pendidikan Agama Islam
2. Tujuan Pendidikan Agama Islam
3. Pihak yang Terlibat dalam Pendidikan Agama Islam Anak
4. Metode Pembelajaran Pendidikan Agama Islam
B. Ruang lingkup Pendidikan Agama Islam
BAB III: PAPARAN DATA DAN TEMUAN PENELITIAN. Berisi
gambaran umum dan pendidikan agama Islam dalam keluarga nelayan di desa
Rowoboni, kecamatan Banyubiru, kabupaten Semarang.
BAB IV: PEMBAHASAN. Meliputi analisis pendidikan agama Islam dalam
keluarga nelayan di desa Rowoboni, kecamatan Banyubiru, kabupaten
Semarang..
BAB II
KAJIAN PUSTAKA
A. PENDIDIKAN AGAMA ISLAM
1. Pengertian Pendidikan Agama Islam
Dalam Kamus Umum Bahasa Indonesia, pendidikan berasal dari
kata didik, dengan awalan “pe” dan akhiran “an”, yang berarti “proses
pengubahan sikap dalam usaha mendewasakan manusia melalui upaya
pengajaran dan latihan. Pendidikan itu sendiri artinya proses
pengubahan sikap dan tata laku seseorang atau kelompok orang dalam
usaha mendewasakan manusia melalui upaya pengajaran dan
pelatihan(Tim Penyusun Kamus Pusat Bahasa, 2007:263). Sedangkan
arti mendidik itu sendiri adalah memelihara dan memberi latihan
(ajaran) mengenai akhlak dan kecerdasan pikiran. Pendidikan itu
sendiri suatu proses untuk mengubah sikap seseorang agar lebih bisa
mendewasakan dirinya.
Pendidikan awal dari sebuah proses belajar mengajar. Pendidikan
agama juga sangat dibutuhkan untuk menguatkan iman dan ketakwaan
seseorang terhadap Tuhannya. Pendidikan agama merupakan usaha
untuk memperkuat iman dan ketakwaan terhadap Tuhan Yang Maha
Esa sesuai dengan agama yang dianut oleh peserta didik yang
agama lain dalam hubungan kerukunan antar umat beragama dalam
masyarakat untuk mewujudkan persatuan nasional (Muhaimin,
2002:75). Pendidikan dapat membantu menguatkan iman dan
ketakwaan, karena dengan pendidikan dapat memeperluas pengetahuan
dan mengetahui apapun yang belum diketahui.
Pendidikan adalah bimbingan yang diberikan kepada seseorang
agar ia berkembang secara maksimal (Tafsir, 2001:27). Pendidikan
dalam pengertian ini bermakna membantu mengembangkan bakat
seseorang menjadi lebih baik.
Sedangkan agama adalah ajaran, sistem yang mengatur tata
keimanan (kepercayaan) dan peribadatan kepada Tuhan Yang Maha
Kuasa serta tata kaidah yang berhubungan dengan pergaulan manusia
dan manusia serta lingkungannya (Kamus Besar Bahasa Indonesia,
2007:12). Agama dalam pengertian ini bermakana kepercayaan yang
dimiliki pada setiap orang.
Islam adalah kedamaian, kesejahteraan, keselamatan, penyerahan
diri, ketaatan, dan kepatuhan (Ali, 2008:49). Islam mengajarkan antar
individu supaya damai yang akan bermuara pada kesejahteraan dan
keselamatan.
Agama Islam dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia adalah
agama yang bersumberkan wahyu Tuhan (Kamus Besar Bahasa
Agama Islam merupakan satu sistem akidah dan syari’at serta
akhlak yang mengatur hidup dan kehidupan manusia dalam berbagai
hubungan (Ali, 2008:51).
Dalam Islam, iman dapat berjalan dengan diiringi amal yang
shaleh dan hubungan antar umat manusia yang baik pula, agar
menghasilkan iman yang takwa dan maksimal. Iman yang takwa
kepada Allah dapat menentukan derajatnya kelak dihadapan Allah
SWT. Begitu pentingnya pendidikan agama itu. Maka setiap anak
harus mendapatkan pendidikan tersebut.
Menurut A. Malik Fadjar yang dikutip Mujtahid (2011:56)
pendidikan agama Islam adalah proses pendidikan yang mampu
mengunggah kesadaran peserta didik untuk menjadi pribadi muslim
sejati.
Menurut Nasir pendidikan agama Islam adalah usaha yang
berupa pengajaran, bimbingan dan asuhan terhadap anak agar kelak
selesai pendidikannya dapat memahami, menghayati, dan
mengamalkan agama Islam, serta menjadikannya sebagai jalan
kehidupan, baik pribadi maupun kehidupan masyarakat (Nasir,
2008:15-16).
Menurut Darajat pendidikan agama Islam adalah pendidikan
yang melalui ajaran-ajaran agama Islam, yaitu berupa bimbingan dan
asuhan terhadap anak didik agar nantinya setelah selesai dari
ajaran-ajaran agama Islam itu sebagai suatu pandangan hidupnya demi
keselamatan di dunia maupun di akhirat kelak (Darajat, 2011:86).
Pengertian pendidikan agama Islam adalah usaha yang lebih
khusus ditekankan untuk mengembangkan fitrah keberagaman peserta
didik agar lebih mampu, memahami, menghayati, dan mengamalkan
ajaran-ajaran Islam.
Dari beberapa pengertian di atas dapat disimpulkan bahwa
pendidikan agama Islam adalah usaha yang dilakukan berupa
pengajaran, bimbingan dan asuhan terhadap anak agar anak dapat
memahami, menghayati dan mengamalkan agama Islam menuju jalan
yang benar.
2. Tujuan Pendidikan Agama Islam
Tujuan adalah sesuatu yang penting untuk dicapai manusia.
Tujuan pendidikan agama Islam adalah untuk mencapai keseimbangan
pertumbuhan kepribadian manusia. Secara menyeluruh dan seimbang
yang dilakukan melalui latihan jiwa, akal pikiran, diri manusia yang
rasional, perasaan dan indra, karena itu, pendidikan hendaknya
mencakup pengembangan seluruh aspek fitrah peserta didik, aspek
spiritual, intelektual, imajinasi, fisik, ilmiah dan bahasa, baik secara
individual maupun kolektif,dan mendorong semua aspek tersebut
berkembang ke arah kebaikan dan kesempurnaan. Tujuan terakhir
pendidikan muslim terletak pada perwujudan ketundukan yang
seluruh umat manusia (Nizar, 2002:38). Dengan tujuan ini pendidikan
agama Islam dapat menyeimbangkan kebutuhan kepribadian
seseorang. Sehingga, dapat lebih tunduk dan mendekatkan diri kepada
Allah SWT.
Menurut Muhammad Munir seperti yang dikutip Mujtahid
(2011:54) adalah tercapainya manusia seutuhnya, tercapainya
kebahagiaan dunia akhirat, menumbuhkan kesadaran manusia
mengabdi dan patuh terhadap perintah dan menjauhi larangan Nya.
Menurut Daradjat, dkk pendidikan agama mempunyai
tujuan-tujuan yang berintikan tiga aspek, yaitu aspek iman, ilmu, dan amal,
yang pada dasarnya berisi:
a. Menumbuh suburkan dan mengembangkan serta membentuk
sikap positif dan disiplin serta cinta terhadap agama dalam
pelbagai kehidupan anak yang nantinya diharapkan menjadi
manusia yang bertakwa kepada Allah SWT taat kepada
perintah Allah SWT dan Rasul Nya. Memang untuk mencapai
tujuan ini agak sulit dan memerlukan banyak kesabaran,
karena hasilnya tidak segera tampak mengingat hal tersebut
menyangkut pendidikan mental dan kepribadian. Dari sikap
yang demikian itulah justru kadar keimanan dapat diukur dan
dengan keimanan itu pulalah nantinya anak akan menjadi
manusia dewasa yang dalam hidupnya mengindahkan dan
dari berbagai godaan dunia yang bertentangan dengan ajaran
agamanya serta bertanggung jawab terhadap baik buruknya
suatu masyarakat dan Negara di mana ia berada.
b. Ketaatan kepada Allah SWT dan Rasul Nya merupakan
motivasi intrinsik terhadap pengembangan ilmu pengetahuan
yang harus dimiliki anak. Dengan kata lain, tujuan pada aspek
ilmu ini adalah pengembangan pengetahuan agama, yang
dengan pengetahuan itu dimungkinkan pembentukan pribadi
yang berakhlak mulia, yang bertaqwa kepada Allah sesuai
dengan ajarana agama Islam dan mempunyai keyakinan yang
mantap kepada Allah SWT.
c. Menumbuhkan dan membina keterampilan beragama dalam
semua lapangan hidup dan kehidupan serta dapat memahami
dan menghayati secara mendalam dan bersifat menyeluruh
sehingga dapat digunakan sebagai pedoman hidup, baik dalam
hubungan dirinya dengan Allah SWT melalui ibadat salat
umpamanya dan dalam hubungannya dengan sesama manusia
yang tercermin dalam akhlak perbuatan serta dalam hubungan
dirinya dengan alam sekitar melalui cara pemeliharan dan
pengolahan alam serta pemanfaatan hasil usahanya. (Daradjat
Melihat tujuan di atas, ada beberapa fungsi pendidikan agama
Islam, salah satunya agar lebih menambah ketaatan kepada Allah dan
bisa lebih mendekatkan diri kepada Allah.
Tujuan pendidikan merupakan hal yang dominan dalam
pendidikan, Breiter mengungkapkan dalam buku James Maclellan
bahwa “pendidikan adalah persoalan tujuan dan fokus. Mendidik anak
berarti bertindak dengan tujuan agar mempengaruhi perkembangan
anak sebagai seseorang secara utuh. Apa yang dapat anda lakukan
bermacam-macam cara, anda kemungkinan dapat dengan cara
mengajar dia, anda dapat bermain dengannya, anda dapat menyensor
nonton tv, atau anda dapat memberlakukan hukuman agar dia jauh dari
penjara”(Majid dan Andayani, 2005:136).
Menurut beberapa pendapat di atas dapat diambil kesimpulan
bahwa tujuan pendidikan agama Islam yaitu untuk mencapai
keseimbangan kepribadian setiap individu, dan untuk mencapai tujuan
tersebut orang tua harus memilih cara atau metode yang tepat sesuai
karakter anaknya.
3. Pihak yang Terlibat dalam pendidikan agama Islam anak
Pada umumnya dalam mendidik anak tentang pendidikan agama
Islam membutuhkan beberapa orang untuk mencetak anak yang bisa
lebih baik dan bisa mengerti lebih dalam tentang agama Islam. Salah
satu yang sangat berperan penting dalam pendidikan agama Islam anak
anak-anaknya, karena dari merekalah anak mula-mula menerima
pendidikan (Daradjat, 2011:35)
Ayah dan ibu memiliki peranan yang sangat penting dalam
mendidik anak-anaknya. Anak pertama kali dipegang dan
digulowenthah oleh ibunya. Sejak anak lahir selalu ibu yang berada di
sampingnya. Maka pendidikan ibu pertama kali yang akan ditiru oleh
anaknya. Ayah juga ikut andil dalam pendidikan anak, karena ayah
yang mengajarkan anak tentang sebuah pengorbanan yang hebat. Ayah
sebagai penolong bagi anaknya, entah yang besar maupun yang kecil.
Dilihat dari hubungan dan tanggung jawab orang tua terhadap
anak, maka tanggung jawab pendidikan itu pada dasarnya tidak bisa
dipikulkan kepada oranglain, sebab guru dan pemimpin umat
umpamanya, dalam memikul tanggung jawab pendidikan hanyalah
merupakan keikutsertaan. Dengan kata lain, tanggung jawab
pendidikan yang dipikul oleh pendidik selain orang tua adalah
pelimpahan dari tanggung jawab orang tua yang karena satu dan lain
hal tidak mungkin melaksanakan pendidikan anaknya secara sempurna
(Darajat, 2011:38). Dari sini telihat bahwa orang tualah yang sangat
berperan penting dalam pendidikan awal anaknya.
Di sisi lain, ada pihak yang terlibat dalam pendidikan agama Islam
anak, yaitu guru. Guru juga memiliki peranan penting dalam
pendidikan agama Islam. Guru adalah pendidik professional,
memikul sebagian tanggung jawab pendidikan yang terpikul di pundak
para orang tua (Daradjat, 2011:39). Guru rela membantu orangtua
dalam mendidik anak agar bisa menjadi anak yang baik. Padahal, anak
yang mereka didik bukanlah anak mereka, tapi setiap guru pasti akan
menganggap murid/peserta didik mereka seperti anaknya sendiri. Guru
akan mendidik murid/peserta didiknya sebaik mungkin, agar
murid/peserta didiknya bisa mengetahui berbagai ilmu yang belum
mereka ketahui dan mereka bisa lebih luas pengetahuannya. Tidak
hanya dalam pendidikan formal saja, pendidikan non formal juga bisa
membantu, seperti: Taman Pendidikan Alqur’an (TPA), diniyah, dan
guru ngaji di desa/dusun.
Tidak hanya guru, masyarakat juga memiliki peranan untuk
mendidik pendidikan agama Islam pada anak. Masyarakat ikut andil
dalam tanggung jawab memikul beban pendidikan anak. Secara umum,
masyarakat memiliki tujuan yang sama dengan para orangtua dan guru.
Hal itu yang membuat masyarakat ikut andil dalam memikul beban
tersebut. Masyarakat sangat berpengaruh besar dalam memberi arah
terhadap pendidikan anak.
Menurut Darajat, dkk (2011:45) masyarakat besar pengaruhnya
dalam memberi arah terhadap pendidikan anak, terutama para
pemimpin masyarakat atau penguasa yang ada di dalamnya. Setiap
pemimpin atau penguasa terutama yang muslim pastinya memiliki
generasi yang baik dan bisa lebih taat ketakwaannya terhadap Allah
SWT. Tanggung jawab anak juga menjadi tanggung jawab masyarakat,
sebagaimana disebutkan dalam Q.S. Ali Imron:110:
beriman, dan kebanyakan mereka adalah orang-orang yang fasik.”
Pada ayat ini dijelaskan bahwa setiap individu memiliki tanggung
jawab untuk beramar ma’ruf. Apabila diterapkan dalam kehidupan
sehari-hari, Ayat ini dapat dijadikan dasar kewajiban setiap masyarakat
memiliki tanggung jawab untuk andil dalam kehidupan masyarakat.
Pada Q.S. Ali Imron ayat 104 dijelaskan bahwa:
menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma'ruf dan
mencegah dari yang munkar merekalah orang-orang yang beruntung”.
Jadi, jelas sekali bahwa alqur’an juga mengajak untuk berbuat
kebajikan dan mendidik anak untuk melakukan hal-hal yang ma’ruf.
Teman juga bisa mempengaruhi pendidikan agama Islam anak.
temannya yang baik. Begitu sebaliknya, apabila anak memilih teman
yang kurang baik juga bisa terjerumus mengikuti temannya yang
kurang baik itu. Dengan begitu anak juga harus bisa dikontrol oleh
orang tuanya dalam memilih teman agar tidak ikut terperosok ke dalam
jurang kesesatan dan bisa mengikuti teman yang baik saja.
4. Metode pembelajaran Pendidikan Agama Islam dalam Keluarga
Metode adalah cara teratur yang digunakan untuk melaksanakan
suatu pekerjaan agar tercapai sesuai dengan yang dikehendaki (Tim
Penyusun Kamus Pusat Bahasa, 2007:740). Metode ini suatu cara
untuk mengatur dan menyusun suatu pekerjaan agar dapat tercapai
sesuai apa yang diharapkan. Untuk mendesain kurikulum pendidikan
agama Islam yang menarik dan bermanfaat, dibutuhkan metode yang
relevan dengan isi konteks sosial. Syukri Zarkasyi, pengasuh pondok
modern Gontor pernah menyatakan bahwa Metode itu lebih penting
daripada materi, akan tetapi guru lebih penting daripada metode, dan
jiwa guru lebih penting dari guru itu sendiri (Mujtahid, 2011:55).
Ungkapan ini menegaskan bahwa metode yang diperanan pendidik
sangat menentukan keberhasilan proses dari interaksi pendidikan
khususnya pendidikan agama Islam.
Menurut A. Malik Fadjar yang dikutip Mujtahid (2011:55)
metode yang perlu digunakan haruslah memiliki landasan motivasional
yaitu pemupukan sifat individu peserta didik untuk menerima ajaran
dalam kehidupan sehari-hari. Selanjutnya, landasan yang harus
dimiliki juga adalah landasan moral yaitu tertanamnya nilai keagamaan
dan keyakinan peserta didik sehingga perbuatannya selalu mengacu
pada jiwa dan semangat akhlak karimah.
Hasan Langgulung yang dikutip Ahid (2010:142) mengatakan
bahwa cara-cara praktis yang patut digunakan oleh keluarga untuk
menanamkan semangat keagamaan pada diri anak adalah sebagai
berikut:
a. Memberitahukan yang baik kepada mereka tentang kekuatan
iman kepada Allah dan berpegang kepada ajaran-ajaran
agama dalam bentuknya yang sempurna dalam waktu
tertentu.
b. Membinasakan mereka menunaikan syiar-syiar agama
semenjak kecil hingga penunaian itu menjadi kebiasaan
yang mendarah daging, mereka melakukannya dengan
kemauan sendiri dan merasa tentram sebab mereka
melakukannya.
c. Menyiapkan suasana agama dan spiritual yang sesuai di
rumah dan di mana mereka berada.
d. Membimbing mereka membawa bacaan-bacaan agama yang
berguna dan memikirkan ciptaan-ciptaan Allah untuk
menjadi bukti kehalusan sistem ciptaan itu dan atas wujud
e. Menggalakkan mereka turut serta dalam aktivitas-aktivitas
agama dan lain-lain.
Sedangkan menurut Abdul Mustaqim (2005:116) metode
pendidikan agama Islam yang dapat diterapkan dalam keluarga adalah
dengan cara peneladanan, pembiasaan, pembentulan yang salah,
melerai yang bertengkar dengan adil, dan memperingatkan yang lupa.
Menurutnya sebagian besar perilaku individu diperoleh sebagai hasil
belajar melalui pengamatan atas tingkah laku yang ditampilkan oleh
oranglain yang dijadikan sebagai model.
Ada beberapa metode yang patut digunakan dalam menurut
Fuaddudin(1999:30-37), antara lain:
a. Pendidikan melalui pembiasaan
Orang tua diharapkan membiasakan diri melaksanakan
hal-hal yang baik seperti melaksanakan shalat, membaca
Al-Qura’an, dan mengucapakan hal-hal yang baik. Karena dilakukan
setiap hari, anakmengalami proses internalisasi, pembiasaan dan
akhirnya menjadi bagian dari hidupnya. Sesuaia dengan firman
Allah dalam QS. Thoha:132
mengerjakannya. Kami tidak meminta rezki kepadamu, kamilah yang memberi rezki kepadamu. dan akibat (yang
baik) itu adalah bagi orang yang bertakwa”(Kemenag RI,
2014:321).
Menurut ayat diatas bahwasanya orang tua hendaknya
mengajarkan kepada keluarganya untuk melaksanakan shalat
dan bersabar dalam menjalankannya. Pelaksanaan shalat yang
diajarkan sejak kecil akan menjadikan keluarga terbiasa shalat
tanpa diperintahkan dan tanpa dipaksakan. Demikian,
pembiasaan hal baik sejak kecil akan menjadikan anak terbiasa
melakukan hal yang baik pula.
b. Pendidikan dengan keteladanan
Anak-anak khususnya pada usia dini selalu meniru apa yang
dilakukan orang disekitarnya. Apa yang dilakukan orang tua
akan ditiru dan diikuti anak. Metode keteladanan memerlukan
sosok pribadi yang secara visual dapat dilihat, diamati, dan
dirasakan sendiri oleh anak, sehingga mereka ingin menirunya.
Rasulullah SAW bersabda :
َلاَق ْنَم
)دمحى هاور( ٌةَبْذِك َيِهَف ِوِطْعُ ي َْلَ َُّثُ )ْذُخ ْىَا( َكاَى َلاَعَ ت : ِِّبَِصِل
Hadist tersebut menjelaskan bahwa orag tua tidak boleh
berbohong atau membohongi anaknya, karena anaknya akan
meniru hal tersebut. Penanaman nila-nilai moral, kejujuran,
tolong-menolong, disiplin dan kerja keras, dapat dilakukan,
melalui tindakan nyata orang tua. Orang tua dapat langsung
mempraktikkan hal tersebut dalam kehidupan sehari-sehari di
rumah agar anak dapat melihat langsung, sehingga anak akan
meniru hal tersebut.
c. Pendidikan melalui nasihat dan dialog
Terkadang anak-anak merasa jenuh, malas, tidak tertarik
terhadap apa yang diajarkan, bahkan mungkin menentang dan
membangkan. Orang tua sebaiknya memberikan perhatian,
melakukan dialog dan berusaha memehami persoalan-persoalan
yang dihadapi anak. Orang tua diharapkan mampu menjelaskan,
memberikan pemahaman yang sesuai dengan tingkat berpikir
mereka.
Allah SWT berfirman dalm QS. Luqman : 13-17
Artinya :“Dan (ingatlah) ketika Luqman berkata kepada
anaknya, di waktu ia memberi pelajaran kepadanya: "Hai
anakku, janganlah kamu mempersekutukan Allah,
Sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kezaliman yang besar". Dan Kami perintahkan kepada manusia (berbuat baik) kepada dua orang ibu- bapanya; ibunya telah mengandungnya dalam Keadaan lemah yang bertambah- tambah, dan menyapihnya dalam dua tahun. bersyukurlah kepadaku dan kepada dua orang ibu bapakmu, hanya kepada-Kulah kembalimu. Dan jika keduanya memaksamu untuk mempersekutukan dengan aku sesuatu yang tidak ada pengetahuanmu tentang itu, Maka janganlah kamu mengikuti keduanya, dan pergaulilah keduanya di dunia dengan baik, dan ikutilah jalan orang yang kembali kepada-Ku, kemudian hanya kepada-Kulah kembalimu, Maka Kuberitakan kepadamu apa
yang telah kamu kerjakan”(Kemenag RI, 2014:412).
Ayat tersebut menjelaskan bahwa Luqman melakukan
dalam proses mendidik anaknya. Hal tersebut mengajarkan
bahwa mendidik anak dapat dilakukan dengan cara berdialog
dan menasihati, karena dalam proses tersebut orang tua dan anak
melakukan komunikasi secara langsung. Komunikasi secara
langsung ini dapat membuat kedekatan anak dengan orang tua
akan lebih akrab dan anak akan lebih terbuka dengan orang
tuanya.
d. Pendidikan melalui pemberian penghargaan atau hukuman
Penghargaan perlu diberikan kepada anak yang memang
harus diberi penghargaan. Metode ini secara tidak langsung
menanamkan etika perlunya menghargai orang lain.
Rasulullah SAW bersabda:
Artinya :“Serulah anak-anakmu (perempuan dan laki-laki)
menjalankan salah jika mereka sudah berusia tujuh tahun. Dan jika sudah berusia sepuluh tahun, maka pukullah mereka jika tidak
mau melaksanakannya dan pisahkanlah tempat tidurnya”.(HR. Al
-Hakim dan Abu Dawud)
Hadist tersebut menjelaskan bahwa mendidik anak selain
menggunakan penghargaan perlu juga adanya hukuman. Sebelum
melakukan hukuman sebaiknya ditegur atau dinasihati terlebih
dahulu. Apabila hal tersebut tidak membuat anak jera maka perlu
hukaman yang lainya, tetapi hukuman tersebut yang sesuai kondisi
bertujuan untuk membuat jera anak agar lebih bisa mentaati dan
nurut dengan orang tuanya.
5. Ruang Lingkup Pendidikan Agama Islam
Pendidikan agama Islam memiliki tujuannya, yaitu untuk menjadi
manusia yang semakin baik. Untuk mencapai tujuan tersebut maka ada
beberapa ruang lingkup materi yang diperlukan. Pada dasarnya ruang
lingkup pendidikan agama Islam ada tujuh unsur pokok, yaitu
Al-Qur’an-Hadis, keimanan, syariah, ibadah, muamalah, akhlak, dan
tarikh (sejarah Islam) (Muhaimin, 2002:79). Setiap dari tujuh unsur
tersebut memiliki bagiannya masing-masing.
Alqur’an-Hadis merupakan sumber utama ajaran Islam, dalam arti
merupakan sumber akidah (keimanan), syari’ah, ibadah, muamalah, dan
akhlak sehingga kajiannya berada di setiap unsur tersebut. Akidah
(ushuludddin) atau keimanan merupakan akar atau pokok agama. Ibadah,
muamalah, dan akhlak bertitik tolak dari akidah, dalam arti sebagai
manifestasi dan konsekuensi dari akidah(keimanan dan keyakinan hidup).
Syariah merupakan system norma(aturan) yang mengatur hubungan
manusia dengan Allah, dengan sesama manusia, dan dengan makhluk
lainnya. Dalam hubungannya dengan Allah diatur dalam ibadah dalam arti
khas (thaharah, salat, zakat, puasa, dan haji) dan dalam hubungannya
dengan sesama manusia dan lainnya diatur dalam muamalah dalam arti
luas. Akhlak merupakan aspek sikap hidup atau kepribadian hidup
manusia dengan Allah(ibadah dalam arti khas) dan hubungan manusia
dengan manusia dan lainnya(muamalah) itu menjadi sikap hidup dan
kepribadian hidup manusia dalam menjalankan sistem
kehidupannya(politik, ekonomi, sosial, pendidikan, kekeluargaan,
kebudayaan/seni, iptek, olahraga/kesehatan, dan lain-lain) yang dilandasi
oleh akidah yang kokoh. Sedangkan tarikh (sejarah-kebudayaan) Islam
merupakan perkembangan perjalanan hidup manusia muslim dari masa ke
masa dalam usaha bersyariah(beribadah dan bermuamalah) dan berakhlak
serta dalam mengembangkan sistem kehidupannya yang dilandasi oleh
akidah(Muhaimin, 2002:80).
Setiap unsur pokok di atas memiliki manfaat dan fungsi yang
berbeda-beda. Islam telah mengajarkan segala hal melalui adanya
pendidikan agama Islam dalam pendidikan formal. Berbagai macam unsur
ini yang bisa membantu seseorang dalam menatap masa depan yang lebih
baik dan maksimal.
Menurut Ali komponen agama Islam: akidah, syari’ah, dan akhlak
(2008:344). Menurut Rachmat Djatnika perkataan akhlak dalam bahasa
Indonesia berasal dari bahasa Arab akhlaq, bentuk jamak kata khuluq atau
al-khulq, yang secara etimologis(bersangkutan dengan cabang ilmu bahasa
menyelidiki asal-usul kata serta perubahan-perubahan dalam bentuk dan
makna) antara lain berarti budi pekerti, perangai, tingkah laku atau tabi’at(
Begitu Islam mengajarkan akhlak seseorang agar bisa tata cara
bermasyarakat yang baik serta bisa mengayomi sesama. Dalam
kepustakaan, akhlak diartikan juga sikap yang melahirkan perbuatan(
perilaku, tingkah laku) mungkin baik, mungkin buruk, seperti telah disebut
di atas. Dapat juga dikatakan bahwa perangai adalah sifat dan watak yang
merupakan bawaan sesorang. Pembentukannya kea rah baik atau buruk,
ditentukan oleh berbagai faktor, terutama faktor orangtua dalam
berkeluarga (Ali, 346-347).
Masing-masing pokok sub-bab sudah membagi dan meletakkan
peranannya sesuai dengan yang dibutuhkan anak dalam setiap langkahnya,
contoh saja, ada pembelajaran muamalah yang akan mengajari anak
bagaimana cara bermasyarakat yang baik dan cara berinteraksi dengan
yang lain. Ada juga fiqih yang akan mengajarkan cara berwudhu dan
lainnya sesuai dengan Islam yang diajarkan oleh Rasulullah SAW. Hadist
yang akan mengajarkan pada anak apa saja yang bisa mereka pelajari dari
qoul Nabi.
B. PROBLEMATIKA PENDIDIKAN AGAMA ISLAM di KELUARGA NELAYAN
Pada setiap proses kehidupan pasti selalu terdapat problematika,
tidak terkecuali dalam proses pendidikan agama Islam. Setiap kendala
yang ada, pasti memiliki solusinya masing-masing. Apabila bisa
menemukan solusinya, maka akan mempermudah pembelajaran dan dapat
dalam proses pendidikan menurut Muhaimin adalah keterbatasan sumber
belajar yang ada, keterbatasan alokasi waktu, dan keterbatasan dana yang
tersedia (Muhaimin, 2002:150).
Nelayan merupakan salah satu profesi yang memiliki ketelatenan
tersendiri. Kebanyakan dari nelayan menghabiskan sebagian besar
waktunya untuk mencari ikan atau hasil perairan lainnya, sehingga waktu
untuk berkumpul bersama keluarga pun berkurang. Padahal telah diketahui
bahwa orang tua merupakan pendidik pertama dan utama anak, khususnya
pendidikan agama Islam.
Sebagai pendidikan yang menjadi pedoman dunia maupun akhirat,
pendidikan agama Islam memiliki arti penting tersendiri untuk para
pendidik, khususnya orang tua. Sesibuk apapun orang tua biasanya mereka
tetap memikirkan pendidikan anaknya. Ketelatenan dan didikan orang tua
yang kurang, bisa membuat kurangnya pendidikan agama Islam anak,
karena kurangnya perhatian orangtua akan membuat anak malas dan tidak
mau belajar, terutama dalam hal agama. Padahal agama dapat menuntun
anak menuju kehidupan yang nyaman, damai, dan bisa lebih mendekatkan
diri kepada Allah.
Selain dari segi alokasi waktu, nelayan merupakan salah satu
profesi yang tidak menentu, sehingga hasil nafkah pun tergantung rejeki
yang mereka peroleh pada hari itu. Hal ini berdampak pula terhadap
BAB III
PAPARAN DATA DAN TEMUAN PENELITIAN
A. Gambaran Umum 1. Lokasi Penelitian
Desa Rowoboni berdiri sejak pertengahan abad XVI. Desa
yang terletak di pesisir sebelah selatan Rawa Pening ini awal mulanya
berasal dari kata Rowo dan Boni. Rowo mempunyai arti air dan Boni
mempunyai arti Sumber, atau dengan kata lain Rowoboni berarti
Sumber Air. Sampai sekarang tak heran apabila di sekitar Desa
Rowoboni di Dusun manapun terdapat sumber mata air. Salah satunya
sebagai sumber yang terbesar di desa ini yaitu Sumber Air di Dusun
Muncul, yang hingga saat ini terkenal dengan Pemandian Muncul.
Dahulu Desa Rowoboni diperintah oleh Ki Demang Suryo
Mangun Broto yang memiliki empat istri. Salah satu istrinya yang
terkenal yaitu Nyi Ageng Pandanwangi. Istrinya ini bertempat tinggal
di Dukuh Rowoganjar. Selain dukuh itu, ada dukuh yang lain, yaitu
Dukuh Rowokancing, Rowopotro, Rowosuyud, Rowogono, dan
Muncul. Ki Demang Suryo Mangun Broto dan keluarganya seorang
pemerintah yang bijaksana. Istrinya, Nyi Ageng Pandanwangi
memiliki kebiasaan menjemur sebagian kekayaannya yang berupa
emas berlian setiap hari Jumat Kliwon. Setiap tahunnya, seusai panen
raya mereka melakukan tasyakuran dengan mengadakan pagelaran
giliran untuk menggarap sawah Ki Demang. Kebiasaan tahunan
lainnya yaitu setiap menjelang bulan Ramadhan tiba, masyarakat
menggelar Ritual Megengan, yang sekarang lebih dikenal dengan
sebutan Padusan. Kebiasaan ini bertujuan untuk membersihkan diri
dan mansucikan diri sebelum melaksanakan Puasa di Bulan Suci
Ramadhan. Namun, suatu ketika terjadi luapan Rawa Pening pada
tahun 1933 yang berdampak kepada pindahnya sebagian dukuh yang
terletak di pesisir Rawa Pening. Hingga sekarang Desa Rowoboni
memiliki enam dusun yaitu Dusun Muncul, Rowoganjar, Rowokasam,
Candisari, Gondangsari, dan Dusun Sentul.
2. Kondisi Geografis
Desa Rowoboni adalah salah satu dari sepuluh desa yang
berada di wilayah Kecamatan Banyubiru Kabupaten Semarang. Desa
ini terletak di dekat Rawa Pening dan diantara desa-desa yang lain.
Desa Rowoboni seluas 512,80 Ha, yang terdiri dari tanah irigasi
sederhana 97,35 ha, tanah kering 55,25 ha yang mencakup
pekarangan/perumahan 25,25 ha dan tegalan 30 ha, ada juga tanah
rawa seluas 350 ha dan lain-lainnya 10,20 ha.
3. Iklim
Iklim di Desa Rowoboni itu beriklim sedang karena terletak
diketinggian 450 m dari permukaan air laut, curah hujan rata – rata
2.000 sampai dengan 3.000 mm tiap tahun. Di desa ini sering terjadi
4. Batas Wilayah
Desa Rowoboni terletak di Kecamatan Banyubiru dengan batas–batas:
a. Sebelah Utara : Rawa Pening
b. Sebelah Barat : Desa Tegaron dan Desa Kebondowo
c. Sebelah Selatan : Desa Kebumen dan Desa Gedong
d. Sebelah Timur : Desa Kalibeji Kecamatan Tuntang
5. Kondisi Demografi
Jumlah penduduk di Desa Rowoboni sebanyak 2.456 yang
terdiri atas laki-laki 1.236 jiwa dan perempuan 1.220 jiwa. Penduduk
ini terdiri dari 723 kepala keluarga yang terbagi atas 6 Rukun Warga
(RW) dan 15 Rukun Tetangga (RT).
Berikut ini jumlah penduduk berdasarkan beberapa kategori:
a. Jumlah Penduduk menurut mata pencaharian:
Tabel 3.1
Jumlah Penduduk Menurut Mata Pencaharian
No. Mata Pencaharian Jumlah Penduduk
b. Jumlah Penduduk menurut agama:
Tabel 3.2
Jumlah Penduduk Menurut Agama
No. Agama Jumlah Penduduk
1 Islam 2442
2 Katolik 13
3 Kristen 1
4 Hindu 0
5 Budha 0
c. Jumlah Penduduk berdasarkan kelompok umur dan jenis kelamin:
Tabel 3.3
d. Penduduk berdasarkan tingkat pendidikan:
Tabel 3.4
Jumlah Penduduk Berdasarkan Tingkat Pendidikan
No. Tingkat Pendidikan Jumlah Penduduk
1 TK/Play Group 108
7 Tamat Akademik/Diploma 61
8 Sarjana ke atas 40
6. Sarana dan Fasilitas Pendidikan
Tabel 3.5
Sarana dan Fasilitas Pendidikan
No. Sekolah Jumlah Gedung Jumlah Guru Jumlah Siswa
No. Jenis Jumlah
10.Penyelenggaraan Organisasi Pemerintah Desa
B. Temuan Penelitian
1. Gambaran Informan
Berdasarkan jumlah beberapa responden yang diteliti
masing-masing subjek terdiri dari orang tua dan anak-anak yang bestatus
siswa Sekolah Dasar, Sekolah dan Menengah Pertama. Berikut ini
penjelasan mengenai profil masing-masing orang tua dan anak yang di
jadikan responden oleh peneliti, sebagai berikut :
a. Bapak MN
Bapak MN berumur 50 tahun, yang kuat dan tangguh dalam
merawat anak-anaknya agar bisa menjadi anak yang berpendidikan
tinggi. Bapak MN ayah dari anak MA. Pekerjaan Bapak MN
seorang nelayan. Setiap pagi dan sore Bapak MN ke Rawa untuk
mencari ikan, guna dijual dan bisa mendapatkan uang.
b. Bapak MR
Bapak MR berumur 35 tahun. Bapak MR bekerja sebagai
nelayan. Setiap pagi harinya bapak MR mencari ikan ke Rawa.
Bapak MR memiliki dua orang anak. Anak yang pertama AF duduk
di bangku kelas 4MI. Dan anak keduanya masih kecil. Bapak MR
sangat gigih dan bersemangat dalam bekerja, karena keinginan
orang tua untuk bisa menyekolahkan anaknya hingga ke jenjang
c. Bapak MRQ
Bapak MRQ berumur 37 tahun. Bapak MRQ bekerja sebagai
nelayan. Anakny MAA duduk di bangku Madrasah Ibtidaiyah. Jerih payah
Bapak MRQ sangatlah hebat, keinginan bapak untuk mencari uang guna
menyekolahkan anaknya hingga ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi.
Apalagi dalam mencari ilmu di bidang Agama.
d. Ibu I
Ibu I berumur 35 tahun. Ibu I yang membantu pekerjaan suaminya
sebagai nelayan. Ibu I yang juga ikut serta mecari cara agar bisa membantu
suaminya bekerja supaya bisa mendapatkan uang. Ibu I memiliki anak
bernama MRH yang kini duduk di bangku kelas 1SMP.
e. Ibu HE
Ibu HE ini memiliki anak bernama MNF yang kini duduk di kelas 5
SD. Ibu ini bekerja sebagai ibu rumah tangga dan membantu saudaranya
untuk menjaga bayinya. Terkadang juga membantu suaminya dalam
bekerja. Seringnya, Ibu HE berada di rumah. Keinginan Bu HE dalam
menyekolahkan anaknya sangatlah tinggi, terutama dalam belajar agama.
Karena menurut Ibu Heni pendidikan agama ini sangatlah penting untuk
kehidupan dunia dan akhirat.
f. MA
MA berumur 12 tahun yang kini duduk di kelas 6 SD. MA putra dari
bapak MN. MA anaknya baik, pintar, dan rajin. MA sekolah di Madrasah
Setiap sore hari MA juga mengikuti TPA dan mengaji di tempat guru ngaji
dan masjid, guna menimba ilmu agama.
g. AF
AF berumur 10 tahun yang kini duduk di kelas 4 SD. AF putra dari
bapak MR. Anak yang baik dan pintar. AF menjadi juara di kelasnya.
Menduduki peringkat pertama di kelasnya. Anaknya cantik dan pemalu
pada orang yang belum dia kenal. Tiap sore hari dia pergi mengaji dan
belajar agama di masjid.
h. MAA
MAA berumur 8 tahun duduk di bangku kelas 2 SD. Putra dari
bapak MRQ yang pekerjaannya sebagai nelayan. Anaknya aktif sekali,
banyak tingkahnya. MAA tidak berbeda dengan yang lain, biasanya tiap
sore selalu belajar mengaji dan TPA di masjid dan guru ngajinya untuk
belajar agama.
i. MRH
MRH duduk di bangku kelas 1 SMP yang berumur 13 tahun. MRH
putra dari ibu I yang bapaknya juga bekerja sebagai nelayan. Biasanya
MRH belajar agama dari sekolahnya di MTS. Pagi hingga siang MRH
belajar di MTS dan di rumah di ajari mengaji oleh guru ngajinya di dusun.
j. MNF
MNF berumur 11 tahun yang duduk di bangku kelas 5 SD. MNF
pintar dan periang. Setiap sorenya MNF belajar agama di guru ngaji dan
TPA di masjid.
Sesuai dengan hasil wawancara dan dokumentasi di lokasi penelitian yaitu
di desa Rowoboni, ditemukan beberapa hal sebagai berikut:
2. Pendidikan Agama Islam pada Anak Nelayan di Desa Rowoboni
Kegiatan pendidikan agama Islam pada anak nelayan tidak
terlepas dari pengertian orang tua mengenai arti dari pendidikan
agama Islam itu sendiri. Ketika ditanya mengenai pengertian, banyak
diantara orang tua mengartikan pendidikan agama Islam sebagai
pendidikan yang mengarahkan anak pada nilai-nilai agama Islam dan
bertujuan untuk mendekatkan diri kepada Allah, sesuai yang
dikemukakan MN:
“Mungkin pendidikan agama Islam itu pendidikan
yang bisa mendekatkan diri pada Allah” (21 Agustus 2016).
Hal yang serupa juga di sampaikan oleh I tentang pendidikan
Agama Islam, dibuktikan dengan hasil wawancara, sebagai berikut :
“Pendidikan yang mengarahkan diri untuk
Hal yang serupa juga di sampaikan oleh HE, tentang
pendidikan agama Islam, dibuktikan dengan hasil wawancara dengan
HE sebagai berikut :
“Pendidikan yang mengarahkan dan membimbing
menuju nilai-nilai agama Islam untuk mendekatkan diri
kepada Allah.” (21 Agustus 2016).
Sedikit berbeda pendapat, beberapa orang tua berpendapat
bahwa pendidikan agama Islam adalah pendidikan yang menuju
pada rahmatan lil alamin, sebagaimana diutarakan MR
“Pendidikan agama Islam itu Rahmatan lil’alamin.”
(21 Agustus 2016).
Selain beberapa pendapat di atas, ada yang berpendapat
lain. MRQ berpendapat bahwa pendidikan agama Islam merupakan
proses membimbing dan mengarahkan anak menuju jalan yang
benar dan sesuai dengan ajaran Islam.
“Pendidikan agama Islam itu membimbing,
mengarahkan ke arah jalan yang benar sesuai dan
norma-norma ajaran Islam.” (21 Agustus 2016).
Berbeda dengan orang tua, beberapa anak nelayan justru
yang terdapat di disiplin ilmu ini seperti akidah, tauhid, akhlak,
al-qur’an, hadist, bahasa arab, fikih, BTA, sholat, zakat, cara
bermasyarakat, haji.
Jawaban tersebut diperkuat dengan hasil wawancara dengan
anak dari MN yaitu MA dari wawancara sebagai berikut :
“Pendidikan agama Islam itu pelajaran agama yang
menyangkut akidah dan tauhid.” (21 Agustus 2016).
MNM juga mengemukakan pendapat yang hampir sama tentang
pendidikan agama Islam:
“Pendidikan yang mengajarkan tentang akhlak,
alqur’an, hadist, dan tauhid.” (21 Agustus 2016)
Pendapat MRH yang hampir sama dengan yang lain, bahwa
pendidikan agama Islam itu:
“Pendidikan yang mengajarkan tentang sholat,
tauhid, dan akhlak serta cara bermasyarakat.” (21 Agustus
2016)
Tidak berbeda jauh dengan MRH, AF juga berpendapat bahwa
pendidikan agama Islam itu pelajaran yang mengajarkan tentang
“Pelajaran yang mengajarkan tentang zakat, sholat,
haji, dan lainnya”. (W/A/AF/21-08-2016/10.38WIB)
Hal yang serupa juga diungkapkan oleh MNF tentang pendidikan
agama Islam, sebagai berikut:
“Pendidikan yang mengajarkan sholat dan
mengajarkan tentang adanya Allah.” (21 Agustus 2016)
Akan tetapi ada juga anak nelayan yang berpendapat bahwa
pendidikan agama Islam adalah pendidikan yang mendekatkan diri
kepada petunjuk Allah.
Jawaban tersebut diperkuat dengan hasil wawancara dengan
MAA dari wawancara sebagai berikut :
“Pendidikan yang mendekatkan diri kepada
Allah.(21 Agusus 2016)
Proses pendidikan selalu memiliki tujuan, tidak terkecuali
pendidikan agama Islam. Tujuan dari pendidikan agama Islam
pada anak nelayan terlihat dari pernyataan MN yaitu untuk mencari
ketenangan kepada keluarga dan masyarakat:
“Menurut saya tujuan dari PAI itu untuk mencari
ketenangan kepada keluarga dan masyarakat” (21 Agustus