• Tidak ada hasil yang ditemukan

HASIL DAN PEMBAHASAN

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "HASIL DAN PEMBAHASAN"

Copied!
19
0
0

Teks penuh

(1)

HASIL DAN PEMBAHASAN

Neutrofil pada Mencit Jantan

Berdasarkan Tabel 2, rata-rata persentase neutrofil ketiga perlakuan infusa

A. annua L. dari hari ke-2 sampai hari ke-8 setelah infeksi cenderung lebih tinggi

dibandingkan kelompok KN. Pada hari ke-9 setelah infeksi, rata-rata persentase neutrofil ketiga perlakuan cenderung lebih rendah dibandingkan kelompok perlakuan KN. Pada hari ke-10 setelah infeksi, rata-rata persentase neutrofil kelompok AR3 cenderung lebih tinggi dibandingkan kelompok KN. Hasil dari penghitungan dan analisa statistik rata-rata persentase neutrofil dari berbagai kelompok perlakuan pada mencit jantan disajikan pada Tabel 2, sedangkan diagram batang dari tabel tersebut disajikan pada Gambar 10 di bawah ini.

Gambar 10 Rata-rata persentase neutrofil dari mencit jantan yang diinfeksi

P. berghei dan diberi infusa A. annua L. KNO: Kontrol Normal;

KN: Kontrol Negatif; AR1, AR2, dan AR3: Infusa A. annua L. dengan pengenceran 1×10-2 (9.6 mg/ml), 1×10-4 (0.096 mg/ml), 1×10-6 (0.00096 mg/ml).

Neutrofil pada Mencit Betina

Hasil dari penghitungan dan analisa statistik rata-rata persentase neutrofil dari berbagai kelompok perlakuan pada mencit betina disajikan pada Tabel 3. Diagram batang dari Tabel 3 disajikan pada Gambar 11.

0 10 20 30 40 50 0 2 4 6 8 9 10 11 Persen tase Hari Pengamatan KNO KN AR1 AR2 AR3

(2)

Tabel 2 Rata-rata persentase neutrofil dari mencit jantan yang diinfeksi P. berghei dan diberi infusa A. annua L.

Perlakuan Hari Pengamatan (Setelah Infeksi)

0 2 4 6 8 9 10 11

KNO 30.33 ± 10.41 abcd 39.00 ± 0.00 bcd 39.67 ± 8.92 bcd 37.33 ± 3.79 abcd 38.67 ± 12.50 bcd 39.00 ± 14.00 bcd 33.33 ± 19.01 abcd 28.00 ± 5.00 abc

KN 30.00 ± 8.54 abcd 28.67 ± 1.53 abcd 32.67 ± 5.03 abcd 21.00 ± 2.65 a 31.00 ± 8.72 abcd 39.33 ± 16.20 bcd 35.33 ± 3.06 abcd 37.00 ± 10.82 abcd

AR1 34.00 ± 8.66 abcd 36.00 ± 0.00 abcd 36.33 ± 10.26 abcd 23.33 ± 2.52 ab 38.33 ± 13.05 abcd 36.33 ± 6.11 abcd 36.33 ± 14.22 abcd 35.00 ± 1.00 abcd

AR2 34.67 ± 6.66 abcd 34.67 ± 2.08 abcd 33.00 ± 3.61 abcd 33.00 ± 4.36 abcd 30.33 ± 1.53 abcd 32.67 ± 7.37 abcd 30.33 ± 9.61 abcd 41.67 ± 12.06 cd

AR3 32.50 ± 7.50 abcd 34.67 ± 3.21 abcd 45.33 ± 5.86 d 36.00 ± 4.36 abcd 43.00 ± 0.00 cd 33.67 ± 5.51 abcd 40.33 ± 2.89 cd 31.67 ± 9.29 abcd

*Keterangan: Huruf superskrip berbeda menyatakan perbedaan yang nyata pada taraf P<0.05; KNO: Kontrol Normal; KN: Kontrol Negatif; AR1, AR2, dan AR3: Infusa A. annua L. dengan pengenceran 1×10-2(9.6 mg/ml),1×10-4(0.096 mg/ml), 1×10-6(0.00096 mg/ml).

Tabel 3 Rata-rata persentase neutrofil dari mencit betina yang diinfeksi P. berghei dan diberi infusa A. annua L.

Perlakuan Hari Pengamatan (Setelah Infeksi)

0 2 4 6 8 9 10 11

KNO 26.33 ± 3.21 abcdefghi 29.67 ± 15.89 abcdefghij 31.00 ± 6.56 abcdefghij 33.00 ± 5.29 cdefghij 41.67 ± 4.51 j 30.67 ± 3.21 abcdefghij 27.33 ± 6.03 abcdefghij 41.66 ± 13.58 j

KN 25.67 ± 1.53 abcdefghi 38.67 ± 2.08 ghij 21.33 ± 9.07 abcd 39.00 ± 9.54 ghij 39.67 ± 3.21 hij 41.50 ± 1.50 j 40.00 ± 1.00 ij 42.00 ± 0.00 j

AR1 24.33 ± 4.93 abcdefg 34.33 ± 8.39 defghij 32.67 ± 3.51 bcdefghij 37.33 ±13.87 efghij 30.00 ± 2.00 abcdefghij 37.00 ± 2.00 efghij 37.67 ± 4.62 fghij 35.33 ± 8.50 defghij

AR2 37.00 ± 2.65 efghij 36.00 ± 16.52 defghij 18.00 ± 7.00 ab 23.50 ± 13.50 abcdef 36.00 ± 7.00 defghij 16.50 ± 2.50 a 32.50 ± 3.50 bcdefghij 26.00 ± 3.00 abcdefghi

AR3 24.67 ± 0.56 abcdefg 41.33 ± 8.08 j 22.67 ± 1.53 abcde 23.67 ± 6.11 abcdef 21.33 ± 2.51 abcd 18.67 ± 6.87 abc 25.00 ± 10.00 abcdefgh 30.33 ± 11.15 abcdefghij

*Keterangan: Huruf superskrip berbeda menyatakan perbedaan yang nyata pada taraf P<0.05; KNO: Kontrol Normal; KN: Kontrol Negatif; AR1, AR2, dan AR3: Infusa A. annua L. dengan pengenceran 1×10-2(9.6 mg/ml),1×10-4(0.096 mg/ml), 1×10-6(0.00096 mg/ml).

(3)

26 Pada hari ke-2 setelah infeksi (Tabel 3), hanya AR3 yang memiliki persentase rata-rata neutrofil lebih tinggi dibandingkan kelompok KN. Pada hari ke-4 setelah infeksi, rata-rata persentase kelompok perlakuan AR1 dan AR3 cenderung lebih tinggi dibandingkan kelompok KN. Rata-rata persentase neutrofil ketiga kelompok perlakuan infusa A. annua L. pada hari ke-6 sampai ke-11 setelah infeksi cenderung lebih rendah dibandingkan kelompok KN.

Gambar 11 Rata-rata persentase neutrofil dari mencit betina yang diinfeksi

P. berghei dan diberi infusa A. annua L. KNO: Kontrol Normal;

KN: Kontrol Negatif; AR1, AR2, dan AR3: Infusa A. annua L. dengan pengenceran 1×10-2 (9.6 mg/ml), 1×10-4 (0.096 mg/ml), 1×10-6 (0.00096 mg/ml).

Monosit Pada Mencit Jantan

Berdasarkan Tabel 4, pada hari ke-2 setelah infeksi, rata-rata persentase monosit ketiga kelompok perlakuan infusa A. annua L. cenderung lebih rendah dibandingkan kelompok KN. Hal sebaliknya terjadi pada hari ke-4 setelah infeksi, persentase rata-rata monosit ketiga kelompok perlakuan A. annua L. cenderung lebih tinggi dibandingkan kelompok KN. Pada hari ke-6 dan ke-8 setelah infeksi, rata-rata persentase monosit AR3 cenderung lebih tinggi dibandingkan kelompok KN. Pada hari ke-9 dan ke-10 setelah infeksi, rata-rata persentase monosit AR3 cenderung lebih rendah dibandingkan kelompok KN, sedangkan kelompok

0 10 20 30 40 50 0 2 4 6 8 9 10 11 Pe rse n tase Hari Pengamatan KNO KN AR1 AR2 AR3

(4)

27 perlakuan AR1 dan AR2 cenderung lebih tinggi dibandingkan kelompok KN. Hasil dari penghitungan dan analisa statistik rata-rata persentase monosit dari berbagai kelompok perlakuan di mencit jantan disajikan pada Tabel 4, sedangkan diagram batang dari tabel tersebut disajikan pada Gambar 12 di bawah ini..

Gambar 12 Rata-rata persentase monosit dari mencit jantan yang diinfeksi

P. berghei dan diberi infusa A. annua L. KNO: Kontrol Normal;

KN: Kontrol Negatif; AR1, AR2, dan AR3: Infusa A. annua L. dengan pengenceran 1×10-2 (9.6 mg/ml), 1×10-4 (0.096 mg/ml), 1×10-6 (0.00096 mg/ml).

Monosit pada Mencit Betina

Berdasarkan Tabel 5, pada hari ke-2 setelah infeksi, rata-rata persentase monosit ketiga perlakuan infusa A. annua L. cenderung lebih tinggi dibandingkan kelompok KN. Pada hari ke-4 setelah infeksi, hanya AR2 yang memiliki rata-rata persentase monosit lebih tinggi dibandingkan kelompok KN. Hari ke-6 setelah

infeksi, rata-rata persentase monosit ketiga kelompok perlakuan infusa

A. annua L. cenderung lebih rendah dibandingkan rata-rata persentase kelompok

KN. Rata-rata persentase monosit AR3 pada hari ke-9 dan ke-10 setelah infeksi cenderung lebih tinggi dibandingkan kelompok KN. Hasil dari penghitungan dan analisa statistik rata-rata persentase monosit dari mencit betina disajikan pada Tabel 5, sedangkan diagram batang dari tabel tersebut disajikan pada Gambar 13.

0 10 20 0 2 4 6 8 9 10 11 Persen tase Hari Pengamatan KNO KN AR1 AR2 AR3

(5)

28 Tabel 4 Rata-rata persentase monosit dari mencit jantan yang diinfeksi P. berghei dan diberi infusa A. annua L.

Perlakuan Hari Pengamatan (Setelah Infeksi)

0 2 4 6 8 9 10 11

KNO 4.00 ± 2.65 ab 11.33 ± 4.51 abc 8.33 ± 2.08 abc 4.67 ± 4.62 ab 12.67 ± 7.57 abc 11.67 ± 3.21 abc 10.00 ± 5.00 abc 13.00 ± 2.00 abc

KN 2.33 ± 0.57a 12.33 ± 5.13 abc 7.67 ± 4.51 abc 8.33 ± 4.93 abc 3.67 ± 1.54 ab 6.33 ± 8.39 ab 5.00 ± 6.25 ab 3.33 ± 1.53 a

AR1 5.33 ± 2.08 ab 11.67 ± 12.50 abc 12.00 ± 1.00 abc 7.67 ± 4.73 abc 9.67 ± 6.11 abc 8.33 ± 4.04 abc 15.00 ± 6.08 bc 18.00 ± 7.00 d

AR2 2.67 ± 1.53 a 3.67 ± 1.53 ab 12.33 ± 3.05 abc 4.67 ± 2.08 ab 2.67 ± 1.53 a 9.67 ± 4.73 abc 9.67 ± 7.51 abc 9.67 ± 5.77 abc

AR3 9.50 ± 6.5 abc 3.33 ± 2.52 a 13.67 ± 6.43 bcd 10.00 ± 8.72 abc 10.00 ± 3.46 abc 3.67 ± 3.05 ab 4.33 ± 2.08 ab 11.00 ± 16.46 abc

*Keterangan: Huruf superskrip berbeda menyatakan perbedaan yang nyata pada taraf P<0.05; KNO: Kontrol Normal; KN: Kontrol Negatif; AR1, AR2, dan AR3: Infusa A. annua L. dengan pengenceran 1×10-2(9.6 mg/ml),1×10-4(0.096 mg/ml), 1×10-6(0.00096 mg/ml).

Tabel 5 Rata-rata persentase monosit dari mencit betina yang diinfeksi P. berghei dan diberi infusa A. annua L.

Perlakuan Hari Pengamatan (Setelah Infeksi)

0 2 4 6 8 9 10 11

KNO 3.00 ± 1.73 abcd 6.33 ± 1.53 abcdefghi 9.00 ± 8.54 defghi 12.33 ±1.53 ghi 8.33 ± 2.31 bcdefghi 9.33 ± 3.06 defghi 9.67 ± 4.13 defghi 6.00 ± 2.00 abcdefghi

KN 1.67 ± 0.58 abc 3.33 ± 2.31 abcde 6.00 ± 4.36 abcdefghi 8.67 ± 3.06 cdefghi 5.67 ± 5.69 abcdefgh 3.00 ± 1.00 abcd 8.00 ± 2.00 abcdefghi 9.50 ± 0.50 defghi

AR1 3.67 ± 1.53 abcde 13.00 ± 3.61 i 1.00 ± 1.00 a 4.00 ± 3.61 abcdef 1.33 ± 0.58 ab 1.33 ± 0.58 ab 9.00 ± 3.61 defghi 12.67 ± 2.89 hi

AR2 4.33 ± 3.21 abcdef 6.00 ± 3.61 abcdefghi 8.50 ± 0.50 bcdefghi 5.50 ± 1.50 abcdefgh 8.50 ± 7.50 bcdefghi 5.50 ± 4.50 abcdefgh 6.50 ± 0.50 abcdefghi 6.50 ± 2.50 abcdefghi

AR3 4.67 ± 3.79 abcdef 11.00 ± 1.00 fghi 5.33 ± 1.53 abcdefg 6.33 ± 7.51 abcdefghi 5.33 ± 4.61 abcdefg 9.33 ± 6.43 defghi 10.33 ± 4.16 efghi 8.67 ± 3.79 cdefghi

*Keterangan: Huruf superskrip berbeda menyatakan perbedaan yang nyata pada taraf P<0.05; KNO: Kontrol Normal; KN: Kontrol Negatif; AR1, AR2, dan AR3: Infusa A. annua L. dengan pengenceran 1×10-2(9.6 mg/ml),1×10-4(0.096 mg/ml), 1×10-6(0.00096 mg/ml).

(6)

29 Gambar 13 Rata-rata persentase monosit dari mencit betina yang diinfeksi

P. berghei dan diberi infusa A. annua L. KNO: Kontrol Normal;

KN: Kontrol Negatif; AR1, AR2, dan AR3: Infusa A. annua L. dengan pengenceran 1×10-2 (9.6 mg/ml), 1×10-4 (0.096 mg/ml), 1×10-6 (0.00096 mg/ml).

Limfosit pada Mencit Jantan

Rata-rata persentase limfosit ketiga kelompok perlakuan infusa A. annua L. pada hari ke-4 dan ke-6 setelah infeksi berdasarkan Tabel 6 cenderung lebih rendah dibandingkan kelompok KN. Pada hari ke-8 dan ke-10 setelah infeksi, kelompok AR2 memiliki rata-rata persentase limfosit paling tinggi dibandingkan kelompok perlakuan lainnya. Pada hari ke-9 setelah infeksi, rata-rata persentase limfosit ketiga kelompok perlakuan cenderung lebih tinggi dibandingkan kelompok KN, dan kelompok AR3 memiliki rata-rata persentase limfosit tertinggi dibandingkan dua kelompok perlakuan infusa A. annua L. lainnya. Hasil dari penghitungan dan analisa statistik rata-rata persentase limfosit dari berbagai kelompok perlakuan pada mencit jantan disajikan pada Tabel 6, sedangkan diagram batang dari tabel tersebut disajikan pada Gambar 14 berikut ini.

0 10 20 0 2 4 6 8 9 10 11 Pe rse n tase Hari Pengamatan KNO KN AR1 AR2 AR3

(7)

30 Gambar 14 Rata-rata persentase limfosit dari mencit jantan yang diinfeksi

P. berghei dan diberi infusa A. annua L. KNO: Kontrol Normal;

KN: Kontrol Negatif; AR1, AR2, dan AR3: Infusa A. annua L. dengan pengenceran 1×10-2 (9.6 mg/ml), 1×10-4 (0.096 mg/ml), 1×10-6 (0.00096 mg/ml).

Limfosit pada Mencit Betina

Berdasarkan Tabel 7, pada hari ke-2 setelah infeksi, rata-rata persentase limfosit ketiga kelompok perlakuan infusa A. annua L. cenderung lebih rendah dibandingkan kelompok KN. Pada hari ke-4 dan ke-6 setelah infeksi, rata-rata persentase limfosit kelompok AR2 dan AR3 cenderung lebih tinggi dibandingkan kelompok KN. Pada hari ke-8 setelah infeksi, rata-rata persentase limfosit kelompok AR1 dan AR3 cenderung lebih tinggi dibandingkan kelompok KN. Rata-rata persentase limfosit ketiga kelompok perlakuan A. annua L. pada hari ke-9 sampai ke-11 setelah infeksi cenderung lebih tinggi dibandingkan kelompok KN. Hasil dari penghitungan dan analisa statistik rata-rata persentase limfosit dari berbagai kelompok perlakuan di mencit betina disajikan pada Tabel 7, sedangkan diagram batang dari tabel tersebut disajikan pada Gambar 15.

0 10 20 30 40 50 60 70 80 0 2 4 6 8 9 10 11 P er sen tase Hari Pengamatan KNO KN AR1 AR2 AR3

(8)

31 Tabel 6 Rata-rata persentase limfosit dari mencit jantan yang diinfeksi P. berghei dan diberi infusa A. annua L.

Perlakuan Hari Pengamatan (Setelah Infeksi)

0 2 4 6 8 9 10 11

KNO 60.00 ± 16.37 abcde 47.67 ± 4.16 abcde 47.33 ± 10.50 abcd 55.00 ± 3.00 abcde 46.67 ± 17.50 abcd 45.33 ± 15.04 abc 54.00 ± 20.30 abcde 58.00 ± 3.00 abcde

KN 66.33 ± 9.54 cde 52.33 ± 6.81 abcde 56.33 ± 9.81 abcde 68.67 ± 7.02 e 62.00 ± 9.54 bcde 52.33 ± 27.21 abcde 55.00 ±12.49 abcde 55.33 ± 13.65 abcde

AR1 58.33 ± 10.12 abcde 49.00 ± 14.93 abcde 49.67 ±10.69 abcde 67.67 ± 7.51 de 51.33 ± 17.62 abcde 57.00 ± 6.93 abcde 46.00 ± 14.11 abcd 45.33 ± 7.51 abc

AR2 59.67 ± 6.66 abcde 59.67 ± 2.52 abcde 53.67 ± 2.52 abcde 61.00 ± 5.57 bcde 65.67 ± 0.58 cde 57.67 ± 8.33 abcde 57.00 ± 8.66 abcde 48.67 ± 8.08 abcde

AR3 57.50 ± 14.50 abcde 57.33 ± 5.86 abcde 38.67 ± 4.72a 53.00 ± 9.64 abcde 41.33 ± 8.50 ab 61.00 ± 4.58 bcde 54.33 ± 2.52 abcde 56.33 ± 6.66 abcde

*Keterangan: Huruf superskrip berbeda menyatakan perbedaan yang nyata pada taraf P<0.05; KNO: Kontrol Normal; KN: Kontrol Negatif; AR1, AR2, dan AR3: Infusa A. annua L. dengan pengenceran 1×10-2(9.6 mg/ml),1×10-4(0.096 mg/ml), 1×10-6(0.00096 mg/ml).

Tabel 7 Rata-rata persentase limfosit dari mencit betina yang diinfeksi P. berghei dan diberi infusa A. annua L.

Perlakuan Hari Pengamatan (Setelah Infeksi)

0 2 4 6 8 9 10 11

KNO 67.33 ± 2.89 fghijk 62.33 ± 14.15 bcdefghijk 58.00 ±12.17abcdefghij 50.00 ± 2.00 abcde 47.00 ± 4.36 abc 56.00 ± 1.73 abcdefghij 61.67 ± 5.51 bcdefghijk 48.33 ± 13.79 abcd

KN 71.33 ±1.15 jk 57.00 ± 3.46 abcdefghij 69.33 ± 15.01 hijk 46.00 ± 15.72 ab 53.67 ± 4.04 abcdefghi 54.00 ± 3.00 abcdefghi 48.50 ± 2.50 abcd 46.00 ± 1.00 ab

AR1 68.33 ± 5.03 ghijk 50.67 ± 5.51 abcde 63.33 ± 2.08 cdefghijk 55.33 ± 17.89 abcdefghij 67.33 ± 2.51 fghijk 59.00 ± 3.00 abcdefghij 52.33 ± 7.37 abcdefg 51.00 ± 7.81 abcdef

AR2 57.67 ± 7.57 abcdefghij 56.00 ± 17.09 abcdefghij 70.00 ± 8.00 ijk 68.50 ± 14.50 ghijk 53.00 ± 0.00 abcdefgh 76.50 ± 1.50 k 60.50 ± 3.50 abcdefghijk 66.00 ± 6.00 efghijk

AR3 68.33 ± 3.78 ghijk 44.67 ± 9.71 a 69.33 ± 1.53 hijk 68.33 ± 9.71 ghijk 69.33 ± 3.51 hijk 71.33 ± 7.23 jk 64.33 ± 6.66 defghijk 61.00 ± 8.72 abcdefghijk

*Keterangan: Huruf superskrip berbeda menyatakan perbedaan yang nyata pada taraf P<0.05; KNO: Kontrol Normal; KN: Kontrol Negatif; AR1, AR2, dan AR3: Infusa A. annua L. dengan pengenceran 1×10-2(9.6 mg/ml),1×10-4(0.096 mg/ml), 1×10-6(0.00096 mg/ml).

(9)

32 Gambar 15 Rata-rata persentase limfosit dari mencit betina yang diinfeksi

P. berghei dan diberi infusa A. annua L. KNO: Kontrol Normal;

KN: Kontrol Negatif; AR1, AR2, dan AR3: Infusa A. annua L. dengan pengenceran 1×10-2 (9.6 mg/ml), 1×10-4 (0.096 mg/ml), 1×10-6 (0.00096 mg/ml).

Eosinofil pada Mencit Jantan

Berdasarkan Tabel 8, rata-rata persentase eosinofil ketiga kelompok perlakuan disemua hari pengamatan, kecuali hari ke-0 dan ke-8 setelah infeksi, cenderung lebih rendah dibandingkan kelompok KN. Pada hari ke-2, ke-4 dan ke-9 setelah infeksi, rata-rata persentase eosinofil kelompok AR3 cenderung lebih tinggi dibandingkan kedua perlakuan infusa A. annua L. lainnya. Pada hari ke-8 setelah infeksi, hanya kelompok AR3 yang memiliki rata-rata persentase eosinofil lebih tinggi dibandingkan kelompok KN.

Hasil dari penghitungan dan analisa statistik rata-rata persentase eosinofil dari berbagai kelompok perlakuan pada mencit jantan disajikan pada Tabel 8, sedangkan diagram batang dari tabel tersebut disajikan pada Gambar 16 berikut ini. 0 10 20 30 40 50 60 70 80 0 2 4 6 8 9 10 11 Persen tase Hari Pengamatan KNO KN AR1 AR2 AR3

(10)

33 Gambar 16 Rata-rata persentase eosinofil dari mencit jantan yang diinfeksi

P. berghei dan diberi infusa A. annua L. KNO: Kontrol Normal; KN:

Kontrol Negatif; AR1, AR2, dan AR3: Infusa A. annua L. dengan pengenceran 1×10-2 (9.6 mg/ml), 1×10-4 (0.096 mg/ml), 1×10-6 (0.00096 mg/ml).

Eosinofil pada Mencit Betina

Hasil dari penghitungan dan analisa statistik rata-rata persentase eosinofil dari berbagai kelompok perlakuan di mencit betina disajikan pada Tabel 9, sedangkan diagram batang dari tabel tersebut disajikan pada Gambar 17.

Gambar 17 Rata-rata persentase eosinofil dari mencit betina yang diinfeksi P.

berghei dan diberi infusa A. annua L. KNO: Kontrol Normal; KN:

Kontrol Negatif; AR1, AR2, dan AR3: Infusa A. annua L. dengan pengenceran 1×10-2 (9.6 mg/ml), 1×10-4 (0.096 mg/ml), 1×10-6 (0.00096 mg/ml). 0 10 0 2 4 6 8 9 10 11 Persen tase Hari KNO KN AR1 AR2 AR3 0 15 0 2 4 6 8 9 10 11 Persen tase Hari Pengamatan KNO KN AR1 AR2 AR3

(11)

34 Tabel 8 Rata-rata persentase eosinofil dari mencit jantan yang diinfeksi P. berghei dan diberi infusa A. annua L.

Perlakuan Hari Pengamatan (Setelah Infeksi)

0 2 4 6 8 9 10 11

KNO 5.00 ± 2.65 de 2.00 ± 1.00 abcde 4.67 ± 3.79 cde 2.67 ± 2.08 abcde 2.00 ± 0.00 abcde 4.00 ± 1.73 bcde 2.67 ± 1.53 abcde 1.00 ± 0.00 abc

KN 1.33 ± 0.58 abcd 8.33 ± 4.73 h 3.00 ± 1.00 abcde 2.00 ± 2.65 abcde 3.33 ± 1.53 abcde 2.00 ± 2.65 abcde 3.33 ± 4.16 abcde 3.33 ± 0.58 abcde

AR1 2.33 ± 1.15 abcde 3.33 ± 2.52 abcde 2.00 ± 1.73 abcde 1.33 ± 1.53 abcd 0.67 ± 0.58 ab 0.00 ± 0.00 a 2.67 ± 2.08 abcde 1.50 ± 0.50 abcd

AR2 3.00 ± 0.00 abcde 2.00 ± 1.00 abcde 1.00 ± 1.00 abc 1.33 ± 0.58 abcd 1.33 ± 0.58 abcd 0.00 ± 0.00 a 2.00 ± 2.00 abcde 0.00 ± 0.00 a

AR3 0.55 ± 0.50 ab 4.67 ± 0.58 cde 2.33 ± 0.58 abcde 1.00 ± 1.73 abc 5.67 ± 5.13 ef 1.67 ± 1.53 abcd 1.00 ± 1.00 abc 1.00 ± 1.73 abc

*Keterangan: Huruf superskrip berbeda menyatakan perbedaan yang nyata pada taraf P<0.05; KNO: Kontrol Normal; KN: Kontrol Negatif; AR1, AR2, dan AR3: Infusa A. annua L. dengan pengenceran 1×10-2(9.6 mg/ml),1×10-4(0.096 mg/ml), 1×10-6(0.00096 mg/ml).

Tabel 9 Rata-rata persentase eosinofil dari mencit betina yang diinfeksi P. berghei dan diberi infusa A. annua L.

Perlakuan Hari Pengamatan (Setelah Infeksi)

0 2 4 6 8 9 10 11

KNO 3.00 ± 1.73 bcdefg 1.67 ± 0.58 abcdef 2.00 ±1.00 abcdefg 4.67 ± 2.08 gh 2.33 ± 2.52 abcdefg 3.67 ± 2.08 defgh 1.33 ± 1.53 abcdef 4.00 ± 2.00 fgh

KN 1.33 ± 0.58 abcdef 1.00 ± 1.00 abcde 3.33 ± 3.21 cdefgh 6.00 ± 3.61 h 1.00 ± 1.00 abcd 1.50 ± 0.50 abcdef 3.50 ± 1.50 defgh 2.50 ± 0.50 abcdefg

AR1 3.67 ± 0.58 efgh 2.00 ± 1.00 abcdefg 3.00 ± 2.65 bcdefg 3.33 ± 1.53 cdefgh 1.33 ± 0.58 abcdef 2.67 ± 1.15 abcdefg 1.00 ± 1.00 abcd 1.00 ± 1.00 abcd

AR2 0.67 ± 1.15 abcd 2.00 ± 1.00 abcdefg 2.00 ± 0.00 abcdefg 2.50 ± 0.50 abcdefg 2.50 ± 0.50 abcdefg 1.50 ± 0.50 abcdef 0.50 ± 0.50 abc 1.50 ± 0.50 abcdef

AR3 2.33 ± 1.53 abcdefg 3.00 ± 1.00 bcdefg 2.67 ± 0.58 abcdefg 1.67 ± 1.53 abcdef 4.00 ± 2.00 fgh 0.67 ± 0.58 abcd 0.33 ± 0.58 ab 0.00 ± 0.00 a

*Keterangan: Huruf superskrip berbeda menyatakan perbedaan yang nyata pada taraf P<0.05; KNO: Kontrol Normal; KN: Kontrol Negatif; AR1, AR2, dan AR3: Infusa A. annua L. dengan pengenceran 1×10-2(9.6 mg/ml),1×10-4(0.096 mg/ml), 1×10-6(0.00096 mg/ml)

(12)

35 0 5 0 2 4 6 8 9 10 11 Persen tase Hari Pengamatan KNO KN AR1 AR2 AR3 Berdasarkan Tabel 9, pada hari ke-2 setelah infeksi, rata-rata persentase eosinofil ketiga kelompok perlakuan infusa A. annua L. cenderung lebih tinggi dibandingkan kelompok KN, diantara ketiga kelompok perlakuan infusa tersebut, kelompok AR3 cenderung memiliki rata-rata persentase eosinofil paling tinggi. Pada hari ke-4 dan ke-6 setelah infeksi, rata-rata persentase ketiga kelompok perlakuan infusa A. annua L. cenderung lebih rendah dibandingkan kelompok KN. Rata-rata persentase eosinofil kelompok AR3 pada hari ke-6 setelah infeksi lebih rendah dibandingkan semua kelompok perlakuan.

Pada hari ke-8 setelah infeksi (Tabel 9), rata-rata persentase eosinofil ketiga kelompok perlakuan infusa A. annua L. cenderung lebih tinggi dibandingkan kelompok KN, diantara ketiga kelompok perlakuan infusa tersebut, kelompok AR3 memiliki rata-rata persentasae eosinofil paling tinggi. Pada hari ke-10 dan ke-11 setelah infeksi, rata-rata persentase eosinofil ketiga kelompok perlakuan infusa A. annua L. cenderung lebih rendah dibandingkan kelompok KN.

Basofil pada Mencit Jantan

Rata-rata persentase basofil ketiga kelompok perlakuan infusa A. annua L. di semua hari pengamatan menunjukkan nilai nol (Tabel 10). Hasil dari penghitungan dan analisa statistik rata-rata persentase basofil dari mencit jantan disajikan pada Tabel 10, sedangkan diagram batang dari tabel tersebut disajikan pada Gambar 18 berikut ini.

Gambar 18 Rata-rata persentase basofil dari mencit jantan yang diinfeksi

P. berghei dan diberi infusa A. annua L. KNO: Kontrol Normal; KN:

Kontrol Negatif; AR1, AR2, dan AR3: Infusa A. annua L. dengan pengenceran 1×10-2 (9.6 mg/ml), 1×10-4 (0.096 mg/ml), 1×10-6 (0.00096 mg/ml).

(13)

36 0 5 0 2 4 6 8 9 10 11 Persen tase Hari Pengamatan KNO KN AR1 AR2 AR3

Basofil pada Mencit Betina

Berdasarkan Tabel 11, rata-rata persentase basofil ketiga kelompok perlakuan infusa A. annua L. pada hari ke-2 sampai ke-11 setelah infeksi menunjukkan nilai nol. Hasil dari penghitungan dan analisa statistik rata-rata persentase basofil dari berbagai kelompok perlakuan di mencit betina disajikan pada Tabel 11, sedangkan diagram batang dari tabel tersebut disajikan pada Gambar 19 berikut ini.

Gambar 19 Rata-rata persentase basofil dari mencit betina yang diinfeksi

P. berghei dan diberi infusa A. annua L. KNO: Kontrol Normal; KN:

Kontrol Negatif; AR1, AR2, dan AR3: Infusa A. annua L. dengan pengenceran 1×10-2 (9.6 mg/ml), 1×10-4 (0.096 mg/ml), 1×10-6 (0.00096 mg/ml).

(14)

37 Tabel 10 Rata-rata persentase basofil dari mencit jantan yang diinfeksi P. berghei dan diberi infusa A. annua L.

Perlakuan Hari Pengamatan (Setelah Infeksi)

0 2 4 6 8 9 10 11 KNO 0.67 ± 1.15 abc 0.00 ± 0.00 a 0.00 ± 0.00 a 0.33 ± 0.58 ab 0.00 ± 0.00 a 0.00 ± 0.00 a 0.00 ± 0.00 a 0.00 ± 0.00 a KN 0.00 ± 0.00 a 0.00 ± 0.00 a 0.33 ± 0.58 ab 0.00 ± 0.00 a 0.00 ± 0.00 a 0.00 ± 0.00 a 1.33 ± 1.53 c 1.00 ± 1.73 bc AR1 0.00 ± 0.00 a 0.00 ± 0.00 a 0.00 ± 0.00 a 0.00 ± 0.00 a 0.00 ± 0.00 a 0.00 ± 0.00 a 0.00 ± 0.00 a 0.00 ± 0.00 a AR2 0.00 ± 0.00 a 0.00 ± 0.00 a 0.00 ± 0.00 a 0.00 ± 0.00 a 0.00 ± 0.00 a 0.00 ± 0.00 a 0.00 ± 0.00 a 0.00 ± 0.00 a AR3 0.00 ± 0.00 a 0.00 ± 0.00 a 0.00 ± 0.00 a 0.00 ± 0.00 a 0.00 ± 0.00 a 0.00 ± 0.00 a 0.00 ± 0.00 a 0.00 ± 0.00 a

*Keterangan: Huruf superskrip berbeda menyatakan perbedaan yang nyata pada taraf P<0.05; KNO: Kontrol Normal; KN: Kontrol Negatif; AR1, AR2, dan AR3: Infusa A. annua L. dengan pengenceran 1×10-2(9.6 mg/ml),1×10-4(0.096 mg/ml), 1×10-6(0.00096 mg/ml).

Tabel 11 Rata-rata persentase basofil dari betina jantan yang diinfeksi P. berghei dan diberi infusa A. annua L.

Perlakuan Hari Pengamatan (Setelah Infeksi)

0 2 4 6 8 9 10 11 KNO 0.33 ± 0.58 ab 0.00 ± 0.00 a 0.00 ± 0.00 a 0.00 ± 0.00 a 0.67 ± 1.15 b 0.33 ± 0.58 ab 0.00 ± 0.00 a 0.00 ± 0.00 a KN 0.00 ± 0.00 a 0.00 ± 0.00 a 0.00 ± 0.00 a 0.33 ± 0.58 ab 0.00 ± 0.00 a 0.00 ± 0.00 a 0.00 ± 0.00 a 0.00 ± 0.00 a AR1 0.00 ± 0.00 a 0.00 ± 0.00 a 0.00 ± 0.00 a 0.00 ± 0.00 a 0.00 ± 0.00 a 0.00 ± 0.00 a 0.00 ± 0.00 a 0.00 ± 0.00 a AR2 0.33 ± 0.58 ab 0.00 ± 0.00 a 0.00 ± 0.00 a 0.00 ± 0.00 a 0.00 ± 0.00 a 0.00 ± 0.00 a 0.00 ± 0.00 a 0.00 ± 0.00 a AR3 0.00 ± 0.00 a 0.00 ± 0.00 a 0.00 ± 0.00 a 0.00 ± 0.00 a 0.00 ± 0.00 a 0.00 ± 0.00 a 0.00 ± 0.00 a 0.00 ± 0.00 a

*Keterangan: Huruf superskrip berbeda menyatakan perbedaan yang nyata pada taraf P<0.05; KNO: Kontrol Normal; KN: Kontrol Negatif; AR1, AR2, dan AR3: Infusa A. annua L. dengan pengenceran 1×10-2(9.6 mg/ml),1×10-4(0.096 mg/ml), 1×10-6(0.00096 mg/ml).

(15)

38

Pembahasan

Tanaman A. annua L. mengandung beberapa senyawa antimalaria. Menurut Dharani et al. (2010), senyawa seskuiterpen lakton endoperoksida yang terkandung di dalam tanaman A. annua L. aktif mengatasi serangan malaria. Dharani et al. (2010), juga menyatakan bahwa flavonoid (quecetagetin 4-metil eter) telah berhasil diisolasi dari tanaman ini, dan dapat meningkatkan aktivitas antimalaria dari artemisinin secara signifikan.

Penggunaan herbal A. annua L. (diseduh seperti teh) dengan takaran 5-9 g herbal/liter air/hari yang dikonsumsi selama 7 hari menunjukkan kemanjuran dalam menanggulangi malaria pada manusia dengan tingkat keberhasilan mencapai 74% (Kardinan 2008). Seskuiterpen lakton endoperoksida dan flavonoid yang terdapat di dalam A. annua L. bersifat skizontisida darah, sehingga penggunaan A. annua L. sebagai antimalaria dapat mengurangi jumlah parasit

(Plasmodium spp.) di dalam darah (Dharani et al. 2010).

Mekanisme kerja tubuh terhadap parasit malaria sangat kompleks, karena melibatkan hampir semua komponen imun, baik imunitas yang timbul secara alami maupun dapatan, karena adanya imunitas non spesifik maupun spesifik. Sel leukosit merupakan sel yang berperan baik dalam imunitas non spesifik dan spesifik, sehingga dengan mengetahui rata-rata persentase dari tiap-tiap jenis leukosit diharapkan dapat mengetahui reaksi tubuh yang sedang terjadi terhadap adanya parasit (P. berghei) yang masuk ke dalam tubuh.

Neutrofil

Rata-rata persentase neutrofil di dalam darah mencit normal adalah 6-40% (Malole & Pramono 1989). Neutrofil berfungsi sebagai sel pertahanan pertama terhadap patogen-patogen yang masuk ke dalam tubuh (Oberholzer et al. 2001). Patogen tersebut akan mengeluarkan bahan kemotaktik yang dapat menarik neutrofil untuk datang, kemudian neutrofil akan datang ke daerah asal kemotaktik tersebut dan melakukan fagositosis (Meyer et al. 1992). Parasit akan dicerna oleh enzim lisozim yang terdapat di dalam neutrofil, kemudian neutrofil akan mengalami autolisis setelah proses fagositosis selesai. Histamin dan faktor leukopoietik (sitokin dan interleukin) yang dilepaskan setelah lisisnya neutrofil

(16)

39 akan meransang sumsum tulang melepaskan cadangan neutrofil, sehingga produksi neutrofil akan meningkat (Hafizhiah 2008).

Rata-rata persentase neutrofil mencit jantan ketiga kelompok perlakuan infusa A. annua L. pada hari ke-2 sampai ke-8 setelah infeksi cenderung lebih tinggi dibandingkan kelompok KN. Rata-rata jumlah parasit mencit jantan di ketiga kelompok perlakuan infusa A. annua L. pada hari ke-4 sampai ke-11 setelah infeksi lebih rendah dibandingkan kelompok KN (Ditya 2009). Berdasarkan rata-rata persentase neutrofil dan rata-rata jumlah parasit pada mencit jantan, dapat diketahui bahwa pemberian infusa A. annua L. dapat meningkatkan rata-rata persentase jumlah neutrofil, sehingga rata-rata jumlah parasit dapat ditekan. Rendahnya rata-rata parasit pada mencit jantan pada ketiga perlakuan infusa juga disebabkan oleh kandungan artemisinin dan flavonoid yang bersifat antiplasmodial terdapat pada A. annua L. (Ditya 2009), sehingga kerjasama antara neutrofil dan antiplasmodial dapat menekan jumlah parasit di dalam tubuh mencit. Menurut Ditya (2009), kelompok AR3 mencit betina pada hari ke-2 setelah infeksi memiliki rata-rata jumlah parasit paling tinggi dibandingkan kelompok perlakuan lainnya, namun pada hari ke-4 setelah infeksi, AR3 merupakan kelompok dengan rata-rata jumlah parasit paling rendah dibandingkan perlakuan lainnya. Berdasarkan Tabel 3, hari ke-2 setelah infeksi, pada mencit betina, hanya AR3 yang cenderung memiliki rata-rata persentase neutrofil lebih tinggi dibandingkan kelompok KN. Pada hari ke-4 setelah infeksi, rata-rata persentase neutrofil mencit mencit betina kelompok AR1 dan AR3 lebih tinggi dibandingkan kelompok KN. Tingginya rata-rata persentase neutrofil AR3 pada hari ke-2 dan ke-4 setelah infeksi inilah yang membantu tubuh dalam mengeliminasi jumlah parasit selain karena pemberian infusa A. annua L.

Data pada Tabel 3 menunjukkan bahwa pada hari ke-6 sampai ke-11 setelah infeksi, rata-rata persentase neutrofil ketiga kelompok perlakuan cenderung lebih rendah dibandingkan kelompok KN. Ditya (2009) menyatakan bahwa rata-rata jumlah parasit mencit betina ketiga perlakuan infusa A. annua L. pada hari ke-6 sampai ke-11 setelah infeksi lebih rendah dibandingkan kelompok KN. Rendahnya rata-rata persentase neutrofil mencit betina di ketiga kelompok perlakuan infusa A. annua L. pada hari-hari terakhir ini dapat disebabkan oleh

(17)

40 fungsi neutrofil yang berperan sebagai pemberi tanda pertama untuk membunuh parasit hanya memiliki paruh waktu selama 2 hari dan hanya efektif pada hari-hari pertama terjadinya serangan parasit (Hargono 1996).

Monosit

Rata-rata persentase monosit mencit normal adalah 0,7-14% (Malole & Pramono 1989). Ditya (2009) menyatakan bahwa rata-rata jumlah parasit mencit

jantan pada hari ke-4 setelah infeksi di ketiga kelompok perlakuan infusa

A. annua L. lebih rendah dibandingkan kelompok KN. Berdasarkan Tabel 4, pada

hari ke-4 setelah infeksi, rata-rata persentase monosit mencit jantan ketiga kelompok perlakuan infusa A. annua L. cenderung lebih tinggi dibandingkan kelompok KN. Tingginya rata-rata persentase ini dapat disebabkan oleh senyawa flavonoid yang terkandung di dalam A. annua L. (Dharani et al. 2010). Flavonoid berpotensi sebagai antioksidan pada pertumbuhan tumor dan mampu meningkatkan respon imun (Depkes RI 1985). Monosit merupakan salah satu sel yang berperan penting dalam respon imun, baik berperan fungsional dalam fagositosis maupun perannya sebagai antigen presenting cells (APC) (Bratawidjaja 2003). Dengan demikian, pemberian infusa A. annua L. dapat meningkatkan jumlah monosit di dalam tubuh.

Ditya (2009) menyatakan bahwa rata-rata jumlah parasitemia mencit jantan kelompok AR3 pada hari ke-6 setelah infeksi lebih rendah dibandingkan kelompok KN, pada hari ke-8 setelah infeksi, kelompok AR3 mencit jantan memiliki rata-rata jumlah parasitemia paling rendah dibandingkan kelompok lainnya. Berdasarkan Tabel 4, pada hari ke-6 dan ke-8 setelah infeksi, rata-rata persentase monosit AR3 cenderung lebih tinggi dibandingkan kelompok KN. Rata-rata persentase monosit mencit jantan hari ke-6 dan ke-8 setelah infeksi cenderung tinggi pada kelompok perlakuan infusa A. annua L. dan rata-rata jumlah parasitemia cenderung rendah pada ketiga kelompok perlakuan infusa

A. annua L. Hal ini diduga karena flavonoid (salah satu kandungan A. annua L.)

berpotensi bekerja terhadap limfokin yang dihasilkan oleh sel T, sehingga akan meransang sel-sel fagosit (monosit) untuk melakukan respon fagositosis (Kusmardi 2006). Dengan adanya flavonoid, jumlah monosit di dalam tubuh akan

(18)

41 meningkat. Monosit tersebut akan memfagosit parasit yang ada, sehingga jumlah parasit di dalam tubuh dapat menurun.

Limfosit

Rata-rata persentase limfosit mencit normal adalah 36-90% (Malole & Pramono 1989). Berdasarkan Tabel 6, pada hari ke-4 dan ke-6 setelah infeksi, rata-rata persentase limfosit mencit jantan ketiga kelompok perlakuan infusa A.

annua L. cenderung lebih rendah dibandingkan kelompok KN. Ditya (2009)

menyatakan bahwa rata-rata jumlah parasitemia mencit jantan kelompok AR2 dan AR3 pada hari ke-4 setelah infeksi lebih rendah dibandingkan kelompok KN dan hari pengamatan sebelumnya (hari ke-2 setelah infeksi). A. annua L mengandung seskuiterpene laktone endoperoksida yang bersifat antiplasmodial (Dharni et al.

(2010), sehingga jumlah parasit yang terdapat di dalam tubuh dapat ditekan dengan pemberian tanaman ini.

Berdasarkan Tabel 6, pada hari ke-9 setelah infeksi, rata-rata persentase limfosit mencit jantan ketiga kelompok perlakuan infusa A. annua L. cenderung lebih tinggi dibandingkan kelompok KN, dan kelompok AR3 cenderung memiliki rata-rata persentase limfosit tertinggi dibandingkan perlakuan lainnya. Pada Tabel 7, rata-rata persentase limfosit ketiga kelompok perlakuan infusa A. annua L. mencit betina hari ke-9 sampai ke-11 setelah infeksi cenderung lebih tinggi dibandingkan kelompok KN. Ditya (2009) menyatakan bahwa rata-rata jumlah parasitemia mencit jantan ketiga kelompok perlakuan infusa A. annua L. pada hari ke-9 setelah infeksi lebih rendah dibandingkan kelompok KN, hal yang sama terjadi pada mencit betina, rata-rata jumlah parasitemia mencit betina ketiga kelompok perlakuan infusa A. annua L. pada hari ke-9 sampai ke-11 setelah infeksi cenderung lebih rendah dibandingkan kelompok KN.

Rata-rata persentase limfosit kelompok perlakuan infusa A. annua L. mencit jantan dan mencit betina yang tinggi pada hari-hari terakhir pengamatan dapat disebabkan oleh kandungan flavonoid pada A. annua L. yang masih ada pada tubuh mencit. Jiao (2005) menyatakan bahwa flavonoid dapat meningkatkan aktivitas IL-2 dan meningkatkan proliferasi limfosit. Ganong (2002) menyatakan bahwa adanya benda asing (P. berghei) akan meransang terbentuknya antigen

(19)

42 limfosit T. Ganong (2002) juga menyatakan bahwa IL-2 akan diproduksi dengan adanya sel limfosit T, IL-2 ini akan meransang sel T sitotoksik untuk menghancurkan benda asing (P. berghei) yang masuk ke dalam tubuh. Pemberian infusa A. annua L. meningkatkan jumlah limfosit, sehingga dengan adanya kerjasama antara sistem kekebalan tubuh dan infusa A. annua L. dalam tubuh mencit dapat mengeliminasi jumlah parasit yang ada.

Eosinofil

Rata-rata persentase eosinofil mencit normal adalah 0-15% (Malole & Pramono 1989). Berdasarkan Tabel 9, pada hari ke-8 setelah infeksi, rata-rata persentase eosinofil mencit betina ketiga kelompok perlakuan infusa A. annua L. cenderung lebih tinggi dibandingkan kelompok perlakuan KN, diantara ketiga kelompok perlakuan infusa tersebut, kelompok AR3 cenderung memiliki rata-rata persentase eosinofil paling tinggi. Ditya (2009) menyatakan bahwa pada hari ke-8 setelah infeksi, kelompok AR3 pada mencit betina memiliki rata-rata jumlah parsitemia lebih rendah dibandingkan kelompok perlakuan lainnya. Guyton (1996) menyatakan bahwa eosinofil berperan dalam proses imun tubuh terhadap adanya infeksi parasit seperti cacing, protozoa dan lain-lain. Franklin (1991) menyatakan adanya eosinofil dalam jumlah besar cenderung terjadi karena adanya infeksi cacing daripada protozoa. Saptanto (2004) menyatakan bahwa terdapat hubungan yang bermakna antara adanya eosinofil dalam jumlah besar terhadap kehadiran parasit malaria (Plasmodium spp.), namun tidak terdapat hubungan yang bermakna antara eosinofil dalam jumlah besar terhadap jumlah parasit yang ada pada penderita malaria. Dengan demikian, rata-rata persentase eosinofil tidak dapat dikaitkan dengan jumlah parasit (P. berghei) yang ada di dalam tubuh mencit. Rata-rata persentase eosinofil yang tinggi pada kelompok AR3 mencit betina mungkin dapat disebabkan oleh A. annua L. yang bekerja meningkatkan rata-rata persentase eosinofil.

Basofil

Basofil pada mencit normal memiliki persentase 0-3% (Malole & Pramono 1989). Basofil memiliki peran utama dalam berbagai proses alergi dan penutupan luka serta basofil kurang berperan terhadap adanya parasit (Campbell et al. 2004).

Gambar

Gambar 10   Rata-rata  persentase  neutrofil  dari  mencit  jantan  yang  diinfeksi
Tabel 2  Rata-rata persentase neutrofil dari mencit jantan yang diinfeksi P. berghei dan diberi infusa A
Gambar 11   Rata-rata  persentase  neutrofil  dari  mencit  betina  yang  diinfeksi
Gambar 12   Rata-rata  persentase  monosit  dari  mencit  jantan  yang  diinfeksi
+7

Referensi

Dokumen terkait

Peneliti disini menggunakan Analisis kesalahan sebagai pendekatan untuk mengetahui kesalahan-kesalahan yang terdapat pada pengetahuan dan penggunaan wazan shorof dan pemahaman

yang pertama adalah untuk merekam dan mendokumentasikan setiap diskrepansi antara hubungan oklusal pada kontak awal gigi dengan oklusi penuh pasien atau oklusi

Sedangkan dalam Peraturan Standar Akuntansi Keuangan (PSAK) N0.102 tentang akuntansi mura&gt;bah}ah dijelaskan bahwa mura&gt;bah}ah adalah menjual barang dengan harga jual

Jika benar-benar di Indonesia berkaitan dengan isu ketidakadilan ekonomi, maka yang paling memungkinkan untuk melakukan bom bunuh diri itu adalah orang-orang

Beberapa tips untuk menghadapi ini adalah kuasai diri (dengan persiapan yang matang), penampilan yang menarik dan  perhatian penuh terhadap audiens (buat audiens tertarik

Terhadap perkara-perkara/ kasus-kasus KDRT, di mana pokok kasusnya tidak meresahkan masyarakat umum, dan disisi lain korban dari tinak pidana tersebut dapat “dikondisikan”

Hasil pengukuran menggunakan power analyzer pada beban airport lighting system yang menggunakan lampu LED menunjukan bahwa harmonik arus yang diukur melebihi dari standar

62 Keesokan harinya, yaitu sesudah hari persiapan, datanglah imam-imam kepala dan orang-orang Farisi bersama-sama menghadap Pilatus, 63 dan mereka berkata: &#34;Tuan, kami