4.1. Waktu dan Lokasi Penelitian
Penelitian lapangan dilaksanakan selama 3 (tiga) bulan, yaitu pada bulan Oktober sampai dengan Desember 2004. Lokasi penelitian adalah provinsi Jawa Barat. Penentuan lokasi penelitian ini adalah secara sengaja dengan pertimbangan sebagaimana telah dikemukakan pada bab terdahulu.
4.2. Jenis dan Sumber Data
Data yang digunakan untuk penelitian ini adalah data sekunder yang sebagian besar bersumber dari Badan Pusat Statistik (BPS) provinsi Jawa Barat. Adapun secara spesifik data yang digunakan tersebut mencakup, Pertama, data
time series berupa PDRB, jumlah tenaga kerja, jumlah penduduk, ekspor dan impor provinsi Jawa Barat yang dipublikasikan oleh BPS provinsi Jawa Barat tahun 1993-2003. Secara lengkap data-data tersebut dapat dilihat pada Lampiran 1. Diperlukan data-data ini terkait dengan analisis ekonometrik untuk menjawab tujuan penelitian pertama, yaitu analisis pola perubahan struktural ekonomi dari sisi output dan tenaga kerja.
Kedua, data IO tahun 1993 dan 2003. Data-data tersebut diambil dari Tabel IO 21x21 sektor berdasarkan transaksi domestik atas harga produsen yang dipublikasikan dari BPS provinsi Jawa Barat. Secara lengkap Tabel IO tersebut dapat dilihat pada Lampiran 3 dan 5. Digunakan data IO tersebut terkait analisis dekomposisi IO untuk menjawab tujuan penelitian kedua.
Ketiga, data SAM atau data Sistem Neraca Sosial Ekonomi (SNSE) tahun 1993 dan 2003. Sehubungan data SAM Propinsi Jawa Barat yang tersedia adalah
publikasi tahun 1999, oleh karena itu dalam studi ini dibangun tabel SAM Tahun 1993 dan 2003. Untuk membangun tabel SAM tersebut diantaranya dibutuhkan data : IO, Susenas, Statistik Keuangan Pemerintah Daerah Tingkat I dan II dan Perpajakan, Survei Industri dan Survei Khusus Pembentukan Modal (SKPM) provinsi Jawa Barat untuk masing-masing tahun 1993 dan 2003. Secara lengkap data-data tersebut dapat dilihat pada Lampiran 6 dan 11. Data SAM tersebut digunakan untuk analisis : (1) pola perubahan struktural dari sisi distribusi pendapatan rumahtangga, yaitu untuk menjawab tujuan penelitian pertama, (2) keterkaitan, yaitu untuk menjawab tujuan penelitian ketiga, (3) pengganda, dekomposisi pengganda dan Struktural Path Analysis (SPA), yaitu untuk menjawab tujuan penelitian keempat, dan (4) simulasi, yaitu untuk menjawab tujuan penelitian kelima.
4.3. Tahapan Membangun SAM Provinsi Jawa Barat
Tabel SAM propinsi Jawa Barat pada dasarnya merupakan sebuah matriks yang merangkum neraca sosial dan ekonomi di Jawa Barat secara agregat. Neraca SAM provinsi Jawa Barat dikategorikan menjadi dua kelompok neraca besar, yakni neraca endogen dan neraca eksogen. Untuk neraca endogen dikelompokkan menjadi tiga blok neraca, yaitu blok neraca faktor produksi, blok neraca institusi, dan blok neraca aktivitas produksi. Sedangkan neraca eksogen dapat dipisahkan menjadi neraca kapital, neraca pajak tak langsung dan neraca luar negeri (luar propinsi Jawa Barat dan luar negeri). Tabel 4 menunjukkan klasifikasi neraca SAM provinsi Jawa Barat yang disusun lebih rinci sebagaimana diperlukan dalam studi ini.
Uraian Kode
Faktor Produksi Tenaga Kerja
Pertanian 1 Industri 2 Lainnya 3 Modal 4 Institusi R.umah Tangga Buruh Tani 5 Pengusaha Pertanian 6
Golongan Rendah di Desa 7 Penerima Pendapatan di Desa 8
Golongan Atas Desa 9
Golongan Rendah di Kota 10 Penerima Pendapatan di Kota 11 Golongan Atas di Kota 12
Perusahaan 13
Pemerintah 14
Sektor Produksi
Tanaman Bahan Makanan 15
Perkebunan 16
Peternakan 17
Kehutanan 18
Perikanan 19
Pertambangan dan Penggalian 20
Industri Makanan, Minuman dan Tembakau 21 Industri Tekstil, Pakaian Jadi, Kulit dan Alas Kaki 22 Industri Kayu, Bambu, Rotan dan Furnitur 23 Industri Kertas, Percetakan dan Penerbitan 24 Industri Kimia, Bahan Kimia, Kertas dan Plastik 25 Industri Pengilangan Minyak Bumi 26 Industri Barang Mineral Bukan Logam 27 Industri Logam Dasar dan Barang Jadi Logam 28
Industri Pengolahan Lainnya 29
Listrik, Gas dan Air Bersih 30
Bangunan/Kontruksi 31
Perdagangan, Hotel dan Restoran 32
Pengangkutan dan Komunikasi 33
Keuangan, Persewaan dan Jasa Perusahaan 34
Jasa-Jasa 35
Neraca Kapital 36
Pajak Tak Langsung Netto 37
Membangun neraca endogen dan neraca eksogen sebagaimana terlihat pada Tabel SAM provinsi Jawa Barat tersebut dibutuhkan beberapa tahapan. Secara berurutan tahapan-tahapan yang dimaksud adalah : (1) penetapan tahun dasar, (2) pendefinisian klasifikasi, khususnya untuk neraca faktor produksi, neraca institusi, dan neraca aktivitas, (3) tabulasi dan identifikasi sumber data, dan (4) koreksi kesalahan estimasi data dan pembentukan keseimbangan.
4.3.1. Penetapan Tahun Dasar
Tahun dasar pembuatan SAM Jawa Barat ditetapkan dalam penelitian ini adalah Tahun 1993 dan 2003. Yang menjadi suatu pertimbangan bahwa tahun tersebut ditetapkan sebagai tahun dasar adalah, Pertama, tahun 1993 merupakan masa dimulai terjadinya perubahan struktural ekonomi di Provinsi Jawa Barat, dan Kedua, ketersediaan data, terutama data IO Provinsi Jawa Barat yang terbaru dalam publikasi adalah tahun 2003, yang memungkinkan pembuatan SAM berikutnya adalah tahun 2003.
4.3.2. Pendefinisian Klasifikasi
Ketersediaan data merupakan salah satu pertimbangan yang sangat besar dalam proses pembuatan SAM Jawa Barat saat ini. Mengingat data-data yang dibutuhkan sepertinya belum banyak tersedia di propinsi Jawa Barat, sementara penelitian ini hanya memanfaatkan data-data sekunder, sehingga klasifikasi yang ditentukan khususnya dalam neraca faktor produksi dan neraca institusi, sangatlah minim. Meskipun demikian, diharapkan penetapan klasifikasi yang minim tersebut dapat menghasilkan output penelitian yang optimal. Klasifikasi yang ditetapkan mengikuti pola SAM provinsi Jawa Barat Tahun 1999, akan tetapi berbeda pada neraca aktivitas (produksi). Dalam hal ini sektor Pertanian didisagregasi menjadi lima (5), sektor Industri Pengolahan didisagregasi menjadi
sembilan (9) sektor dan sektor yang lainnya tidak, oleh karena itu terdapat 21 sektor produksi. Pendisagregasian ini dilakukan sesuai tujuan penelitian.
4.3.3. Konsep dan Definisi
Secara garis besar konsep dan definisi dari klasifikasi kerangka SAM propinsi Jawa Barat Tahun 1993 dan 2003 dapat dijelaskan sebagai berikut.
4.3.3.1. Klasifikasi Neraca Faktor Produksi
Klasifikasi neraca faktor produksi dibedakan atas faktor produksi tenaga kerja dan bukan tenaga kerja (modal). Selanjutnya faktor produksi tenaga kerja dibedakan menurut jenis dan status pekerjaan dari tenaga kerja.
1. Tenaga Kerja yang Bekerja Di Sektor Pertanian
Termasuk di dalam klasifikasi tenaga kerja yang bekerja di sektor Pertanian adalah tenaga kerja yang bekerja subsektor Perkebunan, Perikanan, Kehutanan, Perburuan dan Penangkapan Hewan dan usaha-usaha yang berhubungan dengan sektor Pertanian (jasa Pertanian). Tenaga kerja di sektor ini dapat berupa tenaga kerja yang bekerja sendiri atau pekerja keluarga (unpaid
workers), atau pekerja yang dibayar (buruh atau paidworkers), baik yang bekerja sebagai manajer, pengawas atau pun sebagai buruh biasa.
2. Tenaga Kerja yang Bekerja Di Sektor Industri Pengolahan
Termasuk di dalam klasifikasi tenaga kerja yang bekerja di sektor Industri Pengolahan adalah tenaga kerja yang bekerja di semua sektor Industri Pengolahan, seperti Industri Tekstil, Industri Garmen, Industri Makanan dan Minuman, Industri Pesawat Terbang, dan sebagainya. Tenaga kerja di sektor ini dapat berupa tenaga kerja yang bekerja sendiri atau pekerja keluarga (unpaid
workers), atau pekerja yang dibayar (buruh atau paid workers), baik yang bekerja sebagai manajer, pengawas atau pun sebagai buruh biasa.
3. Tenaga Kerja yang Bekerja Di Sektor Lainnya
Termasuk di dalam klasifikasi tenaga kerja ini adalah mereka yang bekerja selain di sektor Pertanian dan sektor Industri Pengolahan, biasanya di sektor Jasa seperti Tranportasi, Perdagangan, Hotel dan Restoran, dan sebagainya. Tenaga kerja di sektor ini dapat berupa tenaga kerja yang bekerja sendiri atau pekerja keluarga (unpaid workers), atau pekerja yang dibayar (buruh atau paid workers), baik yang bekerja sebagai manajer, pengawas, atau pun sebagai burah biasa.
4.3.3.2. Klasifikasi Neraca Institusi
Klasifikasi neraca institusi dibedakan atas 3 klasifikasi yaitu : pemerintah, swasta dan rumahtangga.
1. Pemerintah
Yang dimaksud dengan pemerintah di sini adalah pemerintah daerah propinsi Jawa Barat.
2. Swasta
Yang dimaksud dengan swasta di sini adalah swasta yang menjalankan operasi bisnis mereka di propinsi Jawa Barat.
3. Rumahtangga
Yang dimaksud dengan rumahtangga di sini adalah rurnahtangga yang berdomisili di propinsi Jawa Barat. Pengertian rumahtangga dalam kerangka SAM mengikuti konsep rumahtangga yang digunakan oleh Biro Pusat Statistik (BPS), yaitu sekelompok orang yang tinggal dalam satu atap dan makan dari satu dapur.
Selanjutnya rumahtangga dalam SAM propinsi Jawa Barat 1993 dan 2003 ukuran 38 sektor dirinci menjadi 8 golongan rumahtangga mengikuti pola SAM provinsi Jawa Barat Tahun 1999. Adapun pengertian golongan rumahtangga tersebut dinyatakan sebagai berikut :
a. Rumahtangga buruh tani, yaitu rumahtangga dimana kepala rumahtangga bekerja di sektor Pertanian atau penerima pendapatan terbesar diterima dari hasil balas jasa bekerja sebagai buruh tani.
b. Rumahtangga pengusaha Pertanian (agricultural operators), yaitu rumahtangga dimana kepala rumahtangga bekerja di sektor Pertanian atau penerima pendapatan terbesar diterima dari hasil balas jasa bekerja sebagai pengusaha pertanian.
c. Rumahtangga bukan pertanian golongan bawah di desa, yaitu rumahtangga dimana kepala rumahtangga bekeria di sektor bukan pertanian atau penerima pendapatan terbesar diterima dari hasil balas jasa bekerja di sektor bukan pertanian, rumahtangga tersebut berdomisili di desa. Termasuk dalam golongan rumahtangga ini adalah rumahtangga yang memperoleh pendapatan sebagai balas jasa dari bekerja sebagai pedagang keliling, warteg, tenaga tata-usaha golongan rendah, pekerja bebas sektor angkutan (seperti supir bis, kondekur bis), pekerja bebas sektor jasa perorangan, pekerja kasar, atau yang sejenis.
d. Rumahtangga bukan pertanian penerima pendapatan di desa, yaitu rumahtangga dimana kepala rumahtangga sudah tidak bekerja lagi atau telah pensiun, rumahtangga tersebut berdomisili di desa.
e. Rumahtangga bukan pertanian golongan atas di desa, yaitu rumahtangga dimana kepala rumahtangga bekerja di sektor bukan pertanian atau penerima pendapatan terbesar diterima dari hasil balas jasa bekerja di sektor bukan
pertanian, rumahtangga tersebut berdomisili di desa. Termasuk dalam golongan rumahtangga ini adalah rumahtangga yang memperoleh pendapatan sebagai balas jasa dari bekerja sebagai manajer, profesional (seperti akuntan, dokter), militer, guru, dosen/guru besar, pekerja tata usaha dan penjualan golongan atas, atau yang sejenis.
f. Rumahtangga bukan pertanian golongan bawah di kota, yaitu rumahtangga dimana kepala rumahtangga bekerja di sektor bukan pertanian atau penerima pendapatan terbesar diterima dari hasil balas jasa bekerja di sektor bukan pertanian, rumahtangga tersebut berdomisili di kota. Termasuk dalam golongan rumahtangga ini adalah rumahtangga yang memperoleh pendapatan sebagai balas jasa dari bekerja sebagai pedagang keliling, pedagang warteg, tenaga tata-usaha golongan rendah, pekerja bebas sektor angkutan (seperti supir bis, kondektur bis), pekerja bebas sektor jasa perorangan, pekerja kasar, atau yang sejenis.
g. Rumahtangga bukan pertanian penerima pendapatan di kota, yaitu rumahtangga dimana kepala rumahtangga sudah tidak bekerja lagi atau telah pensiun, rumahtangga tersebut berdomisili di kota.
h. Rumahtangga bukan pertanian golongan atas di kota, yaitu rumahtangga dimana kepala rumahtangga bekerja di sektor bukan pertanian atau penerima pendapatan terbesar diterima dari hasil balas jasa bekeda di sektor bukan pertanian, rumahtangga tersebut berdomisili di kota. Termasuk dalarn golongan rumahtangga ini adalah rumahtangga yaiig memperoleh pendapatan sebagai balas jasa dari bekerja sebagai manajer, profesional (seperti akuntan,
dokter), militer, guru, dosen/guru besar, pekerja tata usaha dan penjualan golongan atas, atau yang sejenis.
1) Pendapatan Rumahtangga
Pendapatan rumahtangga adalah pendapatan yang diterima oleh rumahtangga bersangkutan, baik yang berasal dari pendapatan kepala rumahtangga maupun pendapatan anggota-anggota rumahtangga. Pendapatan rumahtangga dapat berasal dari balas jasa faktor produksi tenagakerja (upah dan gaji, keuntungan, bonus dan lain-lain), balas jasa kapital (bunga, dividen, bagi hasil dan lain-lain) dan pendapatan yang berasal dari pernberian pihak lain (transfer).
2) Anggota Rumahtangga
Anggota rumahtangga adalah mereka yang bertempat tinggal dan menjadi tanggungan rumahtangga bersangkutan. Anggota rumahtangga yang telah berdomisili di wilayah lain lebih dari enam bulan dianggap bukan lagi menjadi anggota rumahtangga tersebut.
3) Tabungan Rumahtangga
Tabungan rumahtangga adalah pendapatan rumahtangga yang tidak dikonsumsi habis. Tabungan merupakan selisih pendapatan dengan pengeluaran rumahtangga. Dalam kerangka SAM, tabungan rumahtangga masih merupakan konsep bruto karena masih mengandung unsur penyusutan barang modal yang digunakan untuk usaha rumahtangga.
Klasifikasi sektor produksi dalam kerangka SAM propinsi Jawa Barat tahun 1993 dan 2003 merupakan penggabungan beberapa klasifikasi lapangan usaha yang terdapat pada tabel IO propinsi Jawa Barat menjadi klasifikasi sendiri yang terdiri dari 21 kegiatan/sektor.
4.3.3.4. Klasifikasi Neraca Lainnya
Klasifikasi neraca lain dalam kerangka ini meliputi margin perdagangan dan pengangkutan, neraca kapital, pajak tidak langsung dan neraca luar negeri (atau luar propinsi Jawa Barat).
4.3.4. Tabulasi Data dan Identifikasi Sumber Data
Pada bagian ini dilakukan pengidentifikasian sumber data untuk mengisi tiap-tiap sel transaksi. Secara garis besarnya sel-sel transaksi yang akan diisi dapat dilihat pada Tabel 5. Sumber data utama dalam membangun SAM Jawa Barat adalah tabel IO provinsi Jawa Barat Tahun 1993 dan 2003, oleh karena itu pengisian sel SAM provinsi Jawa Barat dimulai tersebut dengan memasukkan masing-masing Tabel IO provinsi Jawa Barat ke dalam sel matrik T16, T26, T58,
T63, T65, T66,T67, T69,T86,dan T96.
Adapun untuk matrik-matrik lainnya, sumber informasi lain dibutuhkan. Sel matrik T31, T32, T33, T34, dan T73 diperoleh berdasarkan informasi dari SUSENAS atau SKTIR provinsi Jawa Barat, Statistik keuangan Jawa Barat, APBD dan Kantor Pajak Wilayah DJP Jawa Bagian Barat I dan II dibutuhkan untuk mengisi sel matrik T35, T52,T53,T54,T55 dan T72. Survei Industri dan Survei Khusus Pembentukan Modal (SKPM) dibutuhkan untuk mengisi sel matrik T44 dan T74.
Sebagaimana diketahui dalam beberapa kasus sering kali tidak tersedia data untuk mengisi suatu sel matrik transaksi. Salah satu cara estimasi yang dapat dilakukan adalah dengan memanfaatkan sifat keseimbangan tabulasi yang harus dimiliki oleh SAM dan proporsi dari tabel SAM yang telah dipublikasikan sebelumnya, yaitu tabel SAM provinsi Jawa Barat Tahun 1999. Sel matrik yang
Tabel 5. Kerangka Dasar SAM Provinsi Jawa Barat F.Produksi Institusi Sektor Produksi Neraca Kapital Pajak Tak Langsung Neraca Luar Negeri T.Kerja Modal R.Tangga Perusahaan Pemerintah
1 2 3 4 5 6 7 8 9 F.Produksi T.Kerja 1 T16 T19 Modal 2 T26 Institusi R.Tangga 3 T31 T32 T33 T34 T35 T39 Perusahaan 4 T44 Pemerintah 5 T52 T53 T54 T55 T58 Sektor Produksi 6 T63 T65 T66 T67 T69 Neraca Kapital 7 T73 T74 T75
Pajak Tak Langsung 8 T86
diestimasi dengan memanfaatkan sifat keseimbangan tersebut adalah : T91,T93, T97,
T19 dan T39.
Setelah seluruh estimasi data awal dilakukan, maka dilakukan tabulasi dengan pengisian sel-sel matrik yang telah direncanakan. Pada dasarnya setelah proses ini dilakukan, SAM Jawa Barat bentuk awal telah terbentuk. Namun demikian, urutan kegiatan dalam mengisi nilai tiap-tiap sel masih menjadi bahan perdebatan.
4.3.5. Koreksi Kesalahan Estimasi Data Dan Pembentukan Keseimbangan Pada bagian ini dilakukan, Pertama, koreksi terhadap nilai tabulasi dalam SAM yang tidak logis. Pada bagian ini, setiap sel yang ada dalam SAM Jawa Barat diamati. Angka yang tampak tidak logis, misalnya terlalu besar atau kecil, dilakukan pengecekan ulang dengan menggunakan sumber informasi lain. Dan,
Kedua, koreksi untuk menjamin bentuk keseimbangan SAM. Pada bagian ini, setiap sel dalam SAM Jawa Barat harus dikoreksi sehingga jumlah kolom dan jumlah baris untuk setiap neraca sama. Menyeimbangkan seluruh neraca menggunakan perhitungan tangan maupun matematis, seperti program linier atau dengan menggunakan algoritma. Adapun bentuk kesimbangan yang dilakukan dalam hal ini dengan metode Cross-Entropy (CE).
4.3.6. Rekonsiliasi Akhir
Langkah rekonsiliasi ini sebenarnya telah dimulai pada saat mengisi masing-masing blok SAM. Tahap rekonsiliasi yang pertama kali dilakukan adalah menentukan cara estimasi yang sama untuk jumlah rumahtangga dan jumlah populasi pada masing-masing kelompok. Langkah ini dilakukan untuk membuat
perhitungan relatif pendapatan dan pengeluaran per kapita atau per rumahtangga. Tahap rekonsiliasi yang kedua adalah menentukan beberapa blok yang lebih reliabel dari pada yang lain. Penentuan blok yang lebih reliabel atau tidak didasarkan atas sumber data yang diperoleh dalam pembentukan blok tersebut. Blok-blok yang lebih reliabel nantinya akan menjadi pedoman apabila ada langkah-langkah penyesuaian yang perfu dilakukan dalam penyempurnaan SAM. Tahapan rekonsiliasi yang ketiga adalah menyeimbangkan seluruh neraca menggunakan perhitungan tangan maupun matematis, seperti program linier atau dengan menggunakan algoritma. Adapun yang dimaksud dengan rekonsiliasi akhir adalah pengecekan kembali tahapan rekonsiliasi yang dilakukan setelah semua blok dalam SAM sudah terisi.
4.4. Metode Analisis
4.4.1. Analisis Ekonometrika
Analisis ekonometrika digunakan untuk menentukan pola perubahan struktural. Dalam studi ini analisis mengadopsi model yang dikembangkan oleh Daryanto (1999). Model ini dibangun berdasarkan pendekatan ekonometrik berbentuk regresi persamaan tunggal Syrquin-Chenery (1989), tetapi berbeda terutama dalam pendugaan variabel endogennya. Dalam model ini variabel endogen yang diduga adalah terdiri dari sektor Pertanian, Industri Pengolahan dan Jasa (di luar sektor Pertanian dan Jasa). Model ini ditunjukkan sebagai berikut :
lnGDPit = aj + b1i lnYPCt + b2i lnPOPt + b3ilnO + et …………. (4.1)
lnEMPit = aj + b1i lnYPCt + b2i lnPOPt + b3ilnO + et …………. (4.2)
GDPi = share sektor i terhadap PDRB
EMPi = share sektor i terhadap jumlah tenaga kerja
YPC = pendapatan per kapita atas harga konstan 1993
POP = jumlah penduduk
O = pangsa ekspor+impor terhadap PDRB atas harga konstan 1993
i = 1, 2, 3 berturut-turut sektor Pertanian, Industri Pengolahan, dan Jasa (selain sektor Pertanian dan Industri Pengolahan)
t = waktu (1993, 1994, …., 2003)
4.4.2. Analisis IO
Analisis IO digunakan untuk menentukan pertumbuhan dan sumber-sumber pertumbuhan. Dalam studi ini analisis ditujukan baik terhadap output dan maupun tenaga kerja. Metode yang digunakan dalam analisis sumber-sumber pertumbuhan terhadap output merupakan model dekomposisi IO sisi permintaan. Selanjutnya untuk kepentingan dalam studi ini, model diadopsi dari Daryanto (2000). Metode ini mirip terhadap pendekatan yang digunakan oleh Kubo, Robinson dan Syrquin, 1986 dalam Daryanto, 2000 tetapi berbeda dalam memperlakukan komponen impor. Hal itu disebabkan Tabel IO Jawa Barat tidak membedakan penggunaan intermediate dan final impor sehingga impor harus diasumsikan sebagai fungsi dari total permintaan.
Sebagaimana telah disebutkan di bab terdahulu metodologi dekomposisi dari perubahan output didasarkan pada pencatatan identitas permintaan dan penawaran (material balance) dalam kerangka IO sebagai berikut :
i
M
i
E
i
F
i
W
i
X
=
+
+
−
yang selanjutnya dicatat dalam bentuk matrik adalah :
X = AX + F + E − M ... (4.3) dimana W=AX
Sehubungan tabel IO Jawa Barat tidak membedakan penggunaan
intermediate dan final impor sehingga impor harus diasumsikan sebagai fungsi dari total permintaan :
mi = Mi/(Fi + Wi)
Oleh karena itu import, Mi, dicatat :
Mi = mi (Fi + Wi)
dalam notasi matriks dinyatakan :
M = m (F + W) = m(F + AX) ………. (4.4)
Mensubstitusikan (4.4) ke (4.3) diperolah :
X = F + E − m(F + AX) + AX = (1− m)F + (1− m) AX + E
= μF + μAX + E ……… (4.5)
dimana
μ =(1− m)
adalah matriks diagonal dari (1− m).Memproses lebih lanjut dari persamaan (4.5) diperoleh :
X = (I − μA)−1(μF + E)
……….. (4.6) Menetapkan dekomposisi dari perubahan output pada periode tahun 1993 (yang dinyatakan oleh X0) dan 2003 (yang dinyatakan oleh X1)maka :
ΔX = X
1 – X0= (I − μ1A1)−1(μ1F1 + E1) – X0
= R1(μ1F1 + E1) – X0 (dimana R =(I − μ1A1)−1) = R1
μ
1F1 +R1E1 – X0= R1
μ
1F1 +R1E1 + R1μ
1F0 +R1E0− R
1μ
1F0 −R1E0 – X0 (menambahkan dan mengurangkan R1μ
1F0dan R1E0) = R1μ
1(F1 − F0)+R1(E1− E
0) + R1μ
1F0 +R1E0 – X0= R1
μ
1(F1 − F0)+R1(E1− E
0) + R1μ
1F0 +R1E0 – R1R1-1X0 = R1μ
1(F1 − F0)+R1(E1− E
0) + R1μ
1F0 +R1E0 – R1(I − μ1A1)X0 = R1μ
1(F1 − F0)+R1(E1− E
0) + R1μ
1F0 +R1E0 – R1X0 + R1μ
1A1X0 = R1μ
1(F1 − F0)+R1(E1− E
0) + R1μ
1F0 +R1E0 – R1X0 + R1μ
1A1X0 +R1
μ
1A0X0–R1μ
1A0X0 (menambahkan dan mengurankan R1μ
1A0X0) = R1μ
1(F1 − F0) +R1(E1− E
0) + R1μ
1F0 +R1E0 – R1X0 + R1μ
1(A1 – A0)X0 + R1μ
1A0X0 = R1μ
1(F1 − F0) +R1(E1− E
0) + R1μ
1(A1 – A0)X0 + R1μ
1A0X0 + R1μ
1F0 +R1E0 – R1X0 = R1μ
1(F1 − F0)+R1(E1− E
0) + R1μ
1(A1 – A0)X0 + R1μ
1A0X0 + R1μ
1F0 – R1(X0 –E0 ) = R1μ
1(F1 − F0)+R1(E1− E
0) + R1μ
1(A1 – A0)X0 + R1μ
1(A0X0 + F0) – R1(X0 –E0 ) ………. (4.7) Dengan memodifikasi persamaan (4.5) untuk tahun 1993 :X0
− E
0 = μ0F0 + μ0A0X0 = μ0(F0 + A0X0)dan mensubstitusikannya ke persamaan (4.7) akan diperoleh :
= R1
μ
1(F1 − F0)+R1(E1− E
0) + R1μ
1(A1 – A0)X0 + R1μ
1(A0X0 + F0) –R1
μ
0(A0X0 + F0)= R1
μ
1(F1 − F0)+R1(E1− E
0) + R1μ
1(A1 – A0)X0 + R1(μ1 –μ0)(A0X0 + F0)= R1
μ
1ΔF
+R1ΔE + R
1μ
1ΔAX
0 + R1Δμ(A
0X0 + F0) ……….… (4.8)Berdasarkan persamaan (4.6) dapat dinyatakan bahwa :
ΔX = R
1μ
1ΔF
(perubahan permintaan akhir domestik)+ R1
μ
1ΔAX
0 (perubahan permintaan antara)+ R1
Δμ(A
0X0 + F0) (perubahan rasio penawaran domestik atausubstitusi impor)
Dekomposisi sebagaimana dijelaskan di atas didefinisikan dengan versi yang analog dengan Paasche price index. Dekomposisi dapat juga didasarkan atas versi yang analog dengan Laspeyres price index. Dengan mengikuti tahapan aljabar sebagaimana dikemukakan di atas, diperoleh hasil sebagaimana ditunjukkan persamaan (4.8) adalah :
ΔX = R
0μ
0ΔF
+R0ΔE + R
0μ
0ΔAX
1 + R0Δμ(A
1X1 + F1) ………….… (4.9)Untuk kepentingan studi ini selanjutnya dekomposisi terhadap perubahan output ditentukan berdasarkan Laspeyresprice index.
Selanjutnya, ketika total perubahan output sama dengan jumlah perubahan dalam setiap sektor, perubahan total output dapat didekomposisi berdasarkan sektor atau berdasarkan kategori permintaan. Hubungan ini dapat ditunjukkan menurut skema berikut :
DFD1 + ED1 + IS1 + IO1 = ΔX1 DFD2 + ED2 + IS2 + IO2 = ΔX2 . . . . . . . . . . . . . . . DFDn + EDn + ISn + IOn = ΔXn +
dimana :
DFDi = efek perubahan permintaan akhir domestik di sektor i
DFDi = efek perubahan permintaan ekspor di sektor i
ISi = efek perubahan substitusi impor dari barang-barang akhir dan antara di sektor i
IOi = efek perubahan koefesien input-output di sektor i
i = 1, 2, ...., 21 sektor (yang secara lengkap dapat dilihat pada Tabel 4)
Berdasarkan rumusan di atas kolom menentukan komposisi sektoral dari setiap kategori permintaan dan baris menentukan dekomposisi perubahan dalam permintaan sektoral berdasarkan kategori permintaan yang berbeda. Sehubungan dengan itu satu hal yang dapat dilakukan adalah seringkali membagi baris dengan ΔXi. Alternatif lain adalah membagi seluruh tabel dengan
Σ
ΔXi, sehingga seluruh komponen antar sektor dan kategori permintaan berjumlah 100. Cara terakhir selanjutnya digunakan dalam studi ini.Sedangkan analisis dalam dekomposisi pertumbuhan tenaga kerja ditentukan berdasarkan bentuk persamaan sebagai berikut : (Daryanto dan Daryanto, 1994) ] 0 B * t ][B ' 0 e ' t [e 0 ]B ' 0 e ' t [e ] 0 B * t [B ' 0 e ] * t B t [B ' t e 0 E t E − = − + − + − + − − (4.10) dimana :
E0 = vektor multiplier tenaga kerja tahun 0
Et = vektor multiplier tenaga kerja tahun t
et’[Bt
− B
t*] = efek perubahan permintaan akhir domestike0’[Bt*
− B
0] = efek perubahan koefesien input-output[et’− e0’]B0 = efek perubahan koefesien rasio tenaga kerja/output
[et’− e0’][ Bt*
− B
0] = efek perubahan secara simultan dari koefisien input- output dan rasio tenaga kerja-output4.4.3. Analisis SAM
4.4.3.1. Analisis Keterkaitan
Analisis keterkaitan digunakan untuk mengetahui besarnya tingkat keterkaitan suatu sektor terhadap lainnya. Analisis keterkaitan dalam studi ini didasarkan atas kriteria Rasmussen’s dual (Daryanto, 1995). Kriteria ini meliputi pengukuran indeks berdasarkan, pertama, kepekaan penyebaran (sensitivity of
dispersion) dan daya penyebaran (power dispersion), dan kedua, efek keluasan ke depan (forward spread effect index) dan efek keluasan ke belakang (backward
spread effect index).
Kepekaan penyebaran menunjukkan kemampuan suatu sektor untuk mendorong pertumbuhan sektor hilirnya. Indeks kepekaan penyebaran ditentukan sebagai berikut : ∑ = = n 1 i i 2 i i Z n1 Z n 1 U ……….………. (4.11) dimana :
Ui = indeks kepekaan penyebaran
Zi = nilai keterkaitan langsung dan tidak langsung ke depan
Daya penyebaran menunjukkan kemampuan suatu sektor untuk menarik pertumbuhan sektor hulunya. Indeks daya penyebaran ditentukan sebagai berikut :
∑ = = n 1 j j 2 j j Z n1 Z n 1 U ……....……….…………. (4.12) dimana :
Uj = indeks daya penyebaran
Efek keluasan ke depan menunjukkan besarnya keterkaitan ke depan suatu sektor yang disebabkan oleh sejumlah kecil sektor. Indeks efek keluasan ke depan ditentukan sebagai berikut :
∑ = = n 1 i i i i n V V S ……….. (4.13) dimana :
Si = indeks efek keluasan ke depan
Vi = koefisien variasi dari keterkaitan ke depan, yang nilainya ditentukan sebagai berikut : ∑ = ∑ = ∑ = − − = n 1 i ij z n 1 n 1 i n 1 i 2 ) ij z n 1 ij (z 1 n 1 i V
Efek keluasan ke belakang menunjukkan besarnya keterkaitan ke belakang suatu sektor yang disebabkan oleh sejumlah kecil sektor. Indeks efek keluasan ke depan ditentukan sebagai berikut :
∑ = = n 1 i j j j n V V S ……….. (4.14) dimana :
Sj = indeks efek keluasan ke belakang
Vj = koefisien variasi dari keterkaitan ke belakang, yang nilainya ditentukan sebagai berikut :
∑ = ∑ = ∑ = − − = n 1 j ij z n 1 n 1 j n 1 j 2 ) ij z n 1 ij (z 1 n 1 Vj
4.4.3.2. Analisis Pengganda, Dekomposisi Pengganda dan Structural Path
Analysis (SPA)
Mengetahui lebih jauh dampak perubahan struktural ekonomi yang terjadi di provinsi Jawa Barat terhadap peranan sektoral, selanjutnya akan dilakukan analisis berdasarkan : (1) pengganda (multiplier), (2) dekomposisi pengganda, dan
(3) Structural Path Analysis (SPA). Analisis dekomposisi dan SPA dalam studi ini difokuskan hanya terhadap sektor-sektor potensial. Ketiga analisis yang digunakan dalam studi ini merujuk dari konsep yang telah dikemukakan Isard et.al. (1998).
4.4.3.2.1. Analisis Pengganda
Analisis ini mencoba melihat apa yang terjadi terhadap variabel-variabel endogen tertentu apabila terjadi perubahan-perubahan terhadap neraca eksogen. Analisis pengganda yang digunakan dalam penelitian ini adalah pengganda dengan pendekatan rata-rata (Ma). Analisis pengganda yang menjadi fokus dalam studi ini meliputi jenis pengganda : output bruto (gross output/production
multiplier), pengganda tenaga kerja (employment multiplier) dan pengganda pendapatan rumahtangga (household income multiplier).
Pengganda output bruto menunjukkan total dampak terhadap output dalam perekonomian secara keseluruhan akibat adanya peningkatan permintaan output pada suatu neraca i, di mana nilai pengganda ini diperoleh dari penjumlahan koefisien matriks pengganda neraca di blok sektor produksi sepanjang kolom neraca i. ∑ = = n 1 i ij j α X ………. (4.15) dimana :
Xj = pengganda output bruto
α
ij = koefisien matriks pengganda neraca di blok sektor produksiPengganda tenaga kerja (employment multiplier) menunjukkan total dampak terhadap penyerapan tenaga kerja akibat adanya peningkatan pendapatan
pada suatu neraca i. di mana nilai pengganda ini diperoleh dari penjumlahan koefisien matriks pengganda neraca di blok sektor produksi sepanjang kolom neraca i yang terlebih dahulu dikalikan dengan koefisien teknis tenaga kerja.
∑ = = n 1 i ij j L.α E ………. (4.16) dimana :
Ej = pengganda tenaga kerja
α
ij = koefisien matriks pengganda neraca di blok sektor produksiL = koefisien matriks tenaga kerja
Pengganda pendapatan rumahtangga (household income multiplier) menunjukkan total dampak terhadap pendapatan rumahtangga dalam perekonomian akibat adanya peningkatan pendapatan pada suatu neraca i, di mana nilai pengganda ini diperoleh dari penjumlahan koefisien matriks pengganda neraca yang unsur-unsurnya termasuk dalam kelompok rumahtangga sepanjang kolom neraca i. ∑ = = n 1 i ij j β H ………. (4.17) dimana :
Hj = pengganda pedapatan rumahtangga
β
ij = koefisien matriks pengganda neraca di blok institusi rumahtanggaBerdasarkan hasil rangking terhadap urutan sektor yang menempati posisi teratas sampai terbawah dari koefisien pengganda (output bruto, tenaga kerja dan pendapatan rumahtangga) dan keterkaitan (langsung dan tidak langsung) ke depan dan ke belakang kemudian diberikan bobot dimana sektor yang menempati peringkat pertama diberikan skor tertinggi, dalam hal ini 21, urutan berikutnya
diberikan skor 20, dan seterusnya sampai pada peringkat paling rendah diberikan skor 1. Kemudian skor untuk masing-masing sektor dijumlah berdasarkan kategorinya (pengganda dan keterkaitan) kemudian diurutkan, dimana sektor yang memiliki skor total tertinggi ditetapkan sebagai rangking pertama, berikutnya ditetapkan rangking kedua, dan seterusnya sampai pada skor yang terendah ditetapkan rangking paling bawah. Berdasarkan rangking total tersebut selanjutnya diidentifikasi sektor-sektor yang potensial secara ekonomi di provinsi Jawa Barat.
4.4.3.2.2. Dekomposisi Pengganda
Analisis dekomposisi pengganda dimaksudkan untuk menunjukkan proses pengganda secara jelas dan dapat menerangkan kaitan antara neraca endogen dalam model SAM akibat adanya injeksi terhadap neraca eksogen. Dekomposisi pengganda SAM ini terdiri dari tiga bahasan, yaitu: (1) Ma1 disebut sebagai pengganda transfer, yang menunjukkan pengaruh dari satu blok neraca pada dirinya sendiri, (2) Ma2 disebut sebagai pengganda open loop atau cross effect yang menunjukkan pengaruh langsung dari satu blok ke blok lain, dan (3) Ma3 disebut sebagai pengganda closed loop, yang menunjukkan pengaruh dari satu blok ke blok lain, untuk kemudian kembali pada blok semula.
4.4.3.2.3. Analisis SPA
Analisis ini digunakan untuk mengidentifikasi transaksi-transaksi yang mengikuti sebuah sekuens keterkaitan, dari suatu sektor asal ke sektor-sektor tujuan. Di dalam suatu model umumnya pengaruh dipancarkan dari perubahan pada variabel-variabel eksogen ke arah variabel-variabel endogen. Dengan
structural path analysis (SPA) akan dilihat akibat dari perubahan output pada sektor-sektor tertentu, dalam hal ini sektor-sektor potensial, dalam keseluruhan perekonomian sebagai suatu sistem. Analisis ini memerlukan dua buah matriks bentukan baru yaitu matriks average expenditure propensity, An dan accounting
multiplier, Ma yang diperoleh setelah melalui analisis tahapan ke-2 dan ke-3, yaitu analisis pengganda dan dekomposisi. Dalam hal ini peningkatan investasi pada blok produksi merupakan asal pengaruh dipancarkan sedangkan distribusi pendapatan rumahtangga dilihat sebagai tujuan dari pengaruh tersebut. Dengan melihat nilai-nilai yang ada dapat ditelusuri rumahtangga sektor-sektor unggulan mana yang mendapat manfaat paling baik dari investasi yang dilakukan. Semakin tinggi nilai pengaruh yang dipancarkan akan semakin tinggi peningkatan pendapatan dari rumahtangga tersebut.
4.4.3.3. Analisis Simulasi
Analisis dimaksudkan untuk mengetahui bagaimana dampak stimulus ekonomi terhadap pertumbuhan, penyerapan tenaga kerja dan pemerataan pendapatan rumahtangga. Sehingga dari analisis ini akan diperoleh suatu alternatif kebijakan pembangunan ekonomi regional yang bermuara pada pertumbuhan ekonomi, penyerapan tenaga kerja dan pemerataan pendapatan.
Tingkat pemerataan pendapatan dalam penelitian ini diukur juga dengan Koefisien Gini (Gini Coefficient). Adapun Koefisien Gini dihitung berdasarkan rumusan sebagai berikut : (Arsyad, 1992)
)
1
i
Y
i
)(Y
i
X
n
1
(X
i
1
1
KG
=
−
∑
+
−
+
+
……….. (4.18) dimana :KG
= angka Koefisien GiniX
i = proporsi jumlah rumahtangga kumulatif dalam kelasi
Stimulus ekonomi dalam penelitian ini mencakup alternatif : (1) dampak peningkatan investasi sektor-sektor potensial, dan (2) dampak peningkatan pendapatan rumahtangga berpenghasilan rendah. Secara rinci analisis simulasi tersebut meliputi alternatif :
1. Peningkatan investasi sebesar 1 triliun rupiah kepada sektor-sektor potensial
i
(i
= 1, 2, 3, 4 dan 5 yang terdiri dari sektor yang tetap menduduki posisi kelima terbesar di provinsi Jawa Barat selama periode tahun 1993-2003). 2. Peningkatan investasii sebesar 1 triliun rupiah yang didistribusikan secaramerata pada keseluruhan sektor-sektor potensial.
3. Transfer pendapatan ke rumahtangga buruh tani sebesar 1 triliun rupiah. 4. Mendistribusikan secara merata dana sebesar 1 triliun rupiah untuk
peningkatan investasi pada keseluruhan sektor potensial dan transfer pendapatan ke rumahtangga buruh tani.
5. Redistribusi pendapatan dari rumahtangga golongan atas di kota ke rumahtangga buruh tani sebesar 1 triliun rupiah.
6. Kombinasi simulasi 1 dan 5 7. Kombinasi simulasi 2 dan 5
Peningkatan investasi dalam hal ini adalah