BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Sebelum lahirnya Balai Pemasyarakatan, di Indonesia telah dikenal jawatan Reklasering yang didirikan oleh pemerintahan Belanda pada tahun 1927, dengan Gouvermenta Besluit tanggal 5 Agustus 1927 yang berpusat di Departemen Van Justitie di Jakarta, Jawa Tengah, Jawa Timur yang maksudnya untuk kesejahtraan orang-orang Belanda dan Indo yang memerlukan pembinaan khusus. Pemerintah Belanda pada saat itu memberi subsidi kepada badan Reklasering Swasta dan pra yuwana dan memberi tugas kepada sukarelawan perorangan (Volunteer Probation Officer) yang selanjutnya menjadi petugas tehnis pembinaan klien luar lembaga.1
Kemudian pada tahun 1930-1935 yang disebut zaman Melaize dimana pemerintah Belanda kesulitan biaya sehingga sangat mempengaruhi tegaknya jawatan baru tersebut yang akhirnya keluarlah Surat Keputusan Nomor 11, yang mana jawatan Reklasering dan Pendidikan Paksa dihapuskan, dimana tugas-tugas Reklasering dan pendidikan paksa hanya dicantelkan saja pasa jawatan kepenjaraan, yang selanjutnya disebut Inspektorat Reklsering dan Pendidikan paksa, yang tugasnya :2
1
Aminah Aziz, Aspek Hukum Perlindungan Anak, USU Press, 1998, hlm 96
2
a. Menangani lembaga-lembaga Anak yang disebut Rumah Pendidikan Negara (R.P.N)
b. Mengenai Klien Lapas Bersyarat, Pedana Bersyarat dan Pembinaan lanjutan atau After Care serta Anak yang diputus hakim kembali kepada orang tua atau walinya.
Pemerintah Belanda pada tahun 1939 bermaksud menggiatkan lagi dan memperbaharuinya, tetapi terhalang dengan adanya perang dunia ke-II yang mulai melanda dan untuk mengatasinya pada penjara-penjara sampai tahun 1943 masih ada bagian Reklasering, tetapi sifatnya pasif. Selama zamah penjajahan Jepang tadak ada perubahan lagi mengenai perkembangan Reklasering, hanya pelaksanaan Lepas Bersyarat tidak ada lagi.
Setelah Indonesia merdeka, baru pada tanggal 27 April 1964 terjadi prubahan Sisterm Kepenjaraan menjadi sistem Pemasyrakatan. Sistem Pemasyarakatan yang digunakan oleh bangsa indonesia, memiliki tujuan reintergrasi sehat bagi pelanggar hukum (Narapidana dan Anak Didik) dengan masyarakat dengan bersaskan pancasila dan UUD 1945. Untuk terciptannya pembinaan klien pelanggar hukum, dengan Keputusan Presidium Kabinet Ampera No.75/U/Kep/II/66, Struktur Organisasi berubah menjadi Direktorat Jendral Pemasyarakatan dengan dua direktoratnya bertugas membina klien di dalam Lembaga Pemasyarakatan dan membina klien di luar Lembaga Pemasyaraktan yang mencakup pula pembinaan Anak di dalam pemasyarakatan yang disebut Direktorat Bimbingan Kemasyarakatan dan Pengentasan Anak (BISPA).
Setelah lahirnya Undang-undang No. 3 Tahun 1997 tentang Pengadilan Anak, BISPA berubah menjadi BAPAS (Balai Pemasyarakatan). Adapun tugas dari Balai Pemasyarakatan (BAPAS) yaitu memperlancar tugas penyidik, penuntut umum dan hakim dalam perkara Anak Nakal baik di dalam maupun di luar sidang. Selanjutnya membimbing, membantu dan mengawasi anak nakal berdasarkan putusan pengadilan yang dijatuhi hukuman : 3
a. Pidana bersyarat;
b. Pidana pengawasan; c. Pidana denda;
d. Diserahkan kepada Negara (Anak Negara); e. Harus mengikuti latihan kerja;
f. Anak yang memperoleh pembebasan bersyarat dari Lembaga
Pemasyarakatan.
Tugas dari BAPAS salah satunya adalah membantu memperlancar tugas penyidik, penuntut umum, dan hakim dalam perkara anak nakal, baik di dalam maupun di luar siding Anak dengan membuat Laporan Hasil Penelitian Kemasyarakatan (Litmas/Case work).4
3
Darwan Prinst, Hukum Anak Indonesia, PT Citra Aditya Bakti, Bandung, 1997, hlm. 30
4
Purnianti, Mimik Sri Supatmi, Ni Made Martini Tinduk, Analisa Situas Sistem Peradilan Pidana Anak Di Indonesia,Unicef. hlm 8
Laporan hasil penelitian kemasyarakatan ini diajukan oleh pembimbing kemasyaraktan kepada Hakim pada saat sebelum sidang dibuka sebagai mana diatur dalam Undang-undang nomor 3 tahun 1997 tentang Pengadilan Anak Pada pasal 56
1. Sebelum sidang dibuka, Hakim memerintahkan agar Pembimbing Kemasyarakatan menyampaikan laporan hasil penelitian kemasyarakatan mengenai anak yang bersangkutan.
2. Laporan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) berisi :
a. data individu anak, keluarga, pendidikan, dan kehidupan sosial anak; dan
b. kesimpulan atau pendapat dari Pembimbing Kemasyarakatan.
Hakim dalam penjatuhan hukuman pidana anak wajib mempertimbangkan hasil penelitian kemasyarakatan yang dilakukan oleh pembimbing kemasyaraktan sebagaimana diatur dalam Undang-undang nomor 3 tahun 1997 tentang Pengadilan Anak pada Pasal 59 (2) ”Putusan wajib mempertimbangkan laporan penelitian kemasyarakatan dari Pembimbing Kemasyarakatan.”
Putusan Pidana Perkara No. 826/Pid. B/2007/PN.Mdn Hakim tidak mencantumkan pertimbangannya terhadap penelitian kemasyarakatan yang dilakukan oleh pembimbing kemasyarakatan dalam kasus tersebut, sementara dalam putusan tersebut ada dilampirkan laporan hasil penelitian kemasyarkatan. Hal tersebut mengakibatkan putusan Hakim batal demi hukum sebagaimana dijelaskan pada Undang-undang Nomor 3 Tahun 1997 Tentang Pengadilan anak Penjelasan Pasal 59 ayat (3) “ yang dimaksud dengan wajib dalam ayat ini adalah apabila ketentuan ini tidak dipenuhi, mangakibatkan putusan batal demi hukum”.
Berdasarkan uraian diatas tersebut, maka penulis tertarik membahas
mengenai : “PERTIMBANGAH HAKIM TERHADAP PENELITIAN
KEMASYARAKATAN DALAM PENJATUHAN PIDANA TERHADAP ANAK (Studi Putusan No. 826/Pid.B/2007/PN. Mdn)”
B. Indentifikasi Permasalahan
Dari uraian latar belakang masalah di atas maka dapat diidentifikasikan beberapa masalah sebagai berikut :
1. Bagaimana peranan Balai Pemasyarakatan dalam penelitian kemasyarakatan terhadap anak dalam proses peradilan pidana?
2. Bagaimana bentuk penjatuhan pidana oleh hakim terhadap anak?
3. Bagaimana pertimbangan hakim terhadap penelitian kemasyarakatan dalam penjatuhan pidana terhadap anak perkara putusan No. 826/Pid.B/2007/PN. Mdn?
C. Tujuan dan Manfaat penulisan
Tujuan dari penulisan skripsi ini adalah sebagai berikut :
1. Untuk mengetahui bagaimana peranan Balai Pemasyarakatan dalam Penelitian kemasyarakatan terhadap Anak dalam proses peradilan pidana.
2. Untuk mengetahui bagaimana penjatuhan pidana yang diputuskan oleh hakim dalam prakteknya pada kasus pidana anak;
3. Untuk mengetahui bagaimana proses pembuktian dan pertimbangan Hakim dalam persidangan parkara putusan No. 826/Pid.B/2007/PN. Mdn;
Disamping tujuan yang akan dicapai sebagaimana yang dikemukakan di atas, maka penulisan ini juga bermanfaat untuk :
1. Manfaat secara teoritis
Secara teoritis diharapkan dapat memberi masukan terhadap perkembangan Ilmu Hukum Pidana, sekaligus pengetahuan tetang pertimbangan Hakim
terhadap Penelitian Kemasyarakatan dalam praktek peradilan, serta bagaimana proses pertimbangan dalam persidangan perkara putusan No. 826/Pid.B/2007/PN. Mdn.
2. Manfaat secara praktis
Secara praktis diharapkan tulisan ini dapat menjadi reprensi pemikiran kepada :
1. Para praktisi hukum
Tulisan ini diharapkan dapat menjadi suatu masukan bagi aparat penegak hukum untuk dapat lebih teliti mengenai hak-hak klien yang pada kenyataannya saat ini banyak terabaikan akibat dari kurangnya perhatian kita bersama terhadap kasus-kasus khususnya yang menyangkut tentang anak.
2. Masyarakat
Masyarakat Indonesia masih banyak yang awam terhadap hukum, sehingga dengan tulisan ini kirannya dapat menjadi suatu masukan bagi masyarakat untuk lebih memahami tentang hak-haknya di hadapan hukum terutama yang menyangkut anggota keluraganya, upaya apa yang dapat ditempuh ketika berhadapan dengan hukum.
3. Pemerintah
Tulisan ini dapat menjadi suatu masukan bagi pemerintah untuk dapat lebih mengontrol kinerja daripada pemerintahan khusunya yang membidangi tentang hukum terutama yang berkaitan dengan kasus anak, agar anak sebagai generasi penerus bangsa dapat terjaga keberadaannya
baik dari segi kehidupan dimasyarakat terutama yang berhadapan dengan hukum.
4. Aparat penegak hukum
Aparat penegak hukum sebagai pemegang kekuasaan tertinggi dalam hukum kirannya dapat memberikan hak-hak masyarakat dan lebih mengutamakan profesionalisme dalam menjalankan tugas terutama dalam hal penanganan kasus anak.
Disamping itu juga, melalui skripsi ini diharapkan dapat memperoleh gambaran tentang pelaksanaan pemidanaan khususnya pidana di bidang perkara yang menyangkut tentang anak dalam rangka penegakan hukum di Indonesia.
D. Tinjauan Kepustakaan 1. Pengertian anak
a. Pengertian anak dalam segi aspek hukum
Di Indonesia terdapat pengertian yang beraneka ragam tentang anak, dimana dalam berbagai perangkat hukum yang berlaku menentukan batasan usia anak yang berbeda-beda. Hal ini sering membingungkan masyarakat awam mengenai pengertian anak itu sendiri secara hukum. Untuk itu digunakan asas
“lex specialis derogat lex generalis”, artinya bahwa hukum yang bersifat khusus mengesampingkan hukum yang bersifat umum.
Batas usia anak merupakan pengelompokan usia maksimum sebagai wujud kamempuan anak dalam status hukum, sehingga anak tersebut beralih status memjadi usia dewasa atau menjadi seorang subjek hukum yang dapat
bertanggung jawab secara mandiri terhadap perbuatan-perbuatan dan tindakan-tindakan hukum yang dilakukan.
Berikut ini dapat dilihat beberapa pengertian anak dari berbagai peraturan perundang-undangan yang berlaku di Indonesia:
1. Kitab Undang-undang Hukum Perdata (KUHPerdata) Pasal 330 menyatakan bahwa :
“Belum dewasa adalah mereka yang belum mencapai umur genap 21 tahun dan tidak lebih dahulu kawin. Apabila perkawinan itu dibubarkan sebelum umur mereka genap 21 tahun, maka mereka tidak kembali lagi dalam kekudukan belum dewasa.”
2. Kitab Undang-undang Hukum Pidana Pasal 45 Menyatakan bahwa :
“Jika seseorang yang belum dewasa dituntut karena perbuatannya yang dikerjakannya ketika umurnya belum enam belas tahun, hakim boleh memerintahkan supaya sitersalah itu dikembalikan kepada orang tuanya, wali atau pemeliharanya dengan tidak dikenakan suatu hukuman, yakni jika perbuatan itu masuk bagian kejahatan atau salah satu pelanggaran yang diterangkan dalam pasal 489, 490, 496, 503, 514, 517, 526, 531, 532, 536, dan 540. Perbuatan itu dilakukan sebelum lalu dua tahun setelah keputusan dahulu yang menyalahkan dia melakukan slah satu pelanggaran ini atau sesuatu kejahatan atau menghukum anak yang bersalah itu.”
Hukum pidana memandang anak belum dewasa dari segi pidananya. Mereka yang berusia dibawah 16 tahun dalam melaksanakan tindak pidana mendapat perlakuan yang istimewa dari pengadilan. R. Soesilo dalam penjelasannya mengatakan hakim dapat memutuskan salah satu dari tiga kemungkinan terhadap anak yang melakukan tindak pidana yaitu :
1) Anak itu dikembalikan kepada orang tuannya atau walinya dengan tidak dijatuhi hukuman
2) Anak itu tidak dijatuhi hukuman tapi diserahkan pada rumah pendidikan anak-anak nakal untuk dididik sampai berumur 18 tahun
3) Anak itu dijatuhi hukuman seperti biasa dalam hal ini hukuman dikurangi dengan sepertiganya.5
Tetapi dengan berlakunya Undang-undang nomor 3 tahun 1997 tentang Pengadilan Anak maka pasal 45 Kitab Undang-undang Hukum Pidana dinyatakan tidak berlaku lagi.
3. Undang-undang Normor 4 Tahun 1979 Tentang Kesejahtraan Anak Pasal 1 angka 2 yang menentukan:
“Anak adalah seseorang yang belum mencapai umur 21 tahun dan belum pernah kawin.”
4. Undang-undang No. 3 Tahun 1997 Tentang Pengadilan Anak pasal 1 yang menyatakan bahwa:
“Anak adalah orang yang dalam perkara anak nakal telah mencapai umur 8 (delapan) tahun tetapi belum mencapai umu delapan belas tahun dan belum pernah kawin.
5. Pengertian Anak menurut Undang-undang No. 39 tahun 1999 Tentang Hak Asasi Manusia
Diatur pada pasal 1 huruf 5 yang menentukan:
“Anak adalah setiap manusia yang berusia di bawah delapan belas tahun dan belum menikah, termasuk anak yang masih dalam kandungan apabila hal tersebut adalah demi kepentingannya.”
6. Undang-undang No. 23 Tahun 2002 Tentang Perlindungan Anak pasal 1 yang menentukan:
“Anak adalah seseorang yang belum berusia delapan belas tahun, termasuk anak yang masih dalam kandungan.”
5
R. Soesilo, Kitab Undang-undang Hukum Pidana Beserta Dengan Komentar-Komentarnya lengkap Pasal demi Pasal, Politeia, Bogor, 1998, hlm. 61.
7. Menurut Konvensi Hak Anak (Convention on the Right of the Child) yang telah diratifikasi berdasarkan Keputusan Presiden No. 36 Tahun 1990 pasal 1 bagian 1 yang menentukan:
“Seorang anak adalah setiap manusia yang berusia 18 tahun kecuali berdasarkan Undang-undang yang berlaku bagi anak-anak kedewasaan dicapai lebih cepat.”
8. Hukum Adat
Menurut Hukum Adat tidak ada ketentuan yang pasti kapa seseorang dapat dianggap dewasa atau mempunyai wewenang untuk bertindak. Hasil penelitian Mr. Soepomo tentang Hukum Perdata Jawa Barat menjelaskan behwa ukuran kedewasaan seseorang diukur dari segi:6
1) Dapat bekerja sendiri;
2) Cakap untuk melakukan apa yang disyaratkan dalam kehidupan bermasyarakat dan bertanggung jawab;
3) Dapat mengurus harta kekayaan sendiri; 4) Telah menikah.
Oleh karena itu, dapat dikatakan bahwa dalam Hukum Adat ukuran kedewasaan tidak berdasarkan hitungan usia tetapi ciri tertentu yang nyata.
Pengelompokan usia anak ini dimaksud untuk mengenal secara pasti faktor-faktor yang menjadi penyebab terjadinya tanggung jawab anak dalam hal-hal berikut:7
a. Kewenangan bertanggung jawab kepada anak;
6
Irma Setyowati Seomitro, Aspek Hukum Perlindungan Anak, Bumi Aksara, Jakarta, 1990, hlm.16
7
Maulana Hassan Wadong, Advokasi dan Hukum Perlindungan Anak, Gramedia Wirasarana Indonesia, Jakarta, 2000, hlm. 26
b. Kemampuan untuk melakukan peristiwa hukum;
c. Pelayanan hukum terhadap anak yang melakukan tindak pidana; d. Pengelompokan proses pemeliharaan;
e. Pembinaan yang efektif.
2. Pengertian Balai Pemasyarakatan
Balai pemasyarakatan (BAPAS) adalah unit pelaksana teknis pemasyarakatan yang mengenai pembinaan klien pemasyarakatan yang terdiri dari terpidana bersyarat (Dewasa dan Anak), nara pidana yang mendapat pembebasan bersyarat, cuti menjelang bebas, serta anak Negara yang mendapat pembebasan bersyrata atau diserahkan kepada keluarga asuh, anak Negara yang mendapat cuti menjelang bebas serta anak Negara yang diputus oleh Hakim dikembalikan kepada orang tuanya (Keputusan Mentri kehakiman No. M.02.PR.08.03 tahun 1999 tentang pembentukan pertimbangan balai pemasyrakatan dan tim Pengamat Pemasyarakatan) tugas Bapas berkaitan dengan anak-anak adalah :
a. Membantu memperlancar tugas penyidik, penuntut umum, dan hakim dalam perkara anak nakal, baik di dalam maupun di luar siding Anak dengan membuat Laporan Hasil Penelitian Kemasyarakatan (Litmas/Case work).
b. Membimbing, membantu dan mengawasi anak nakal berdasarkan putusan pengadilan dijatuhi pidana bersyarat, pidana pengawasan, pidana denda,
diserahkan kepada Negara dan harus mengikuti latihan kerja atau anak yang memperoleh pembebasan bersyarat dari lembaga pemasyarakatan.8
3. Pengertian Penelitian Kemasyarakatan
Pengertian Litmas berasal dari “Sistem Pelaporan” atau Case Study, adapula yang menyebut Social Case Study. Setelah Bapas berdiri tahun 1970 R. Waliman Hendrosusilo, Bc.SW, SH, Beliau Sarjana Muda pekerja social dari Australia dan Sarjana Hukum yang diperoleh kemudian di Jakarta, bersama staf mencari istilah yang khas yang berbeda dengan yang digunakan instansi lain. Lalu terciptalah “Penelitian Kemasyarakatan” (Litmas) yang dilain instansi menggunakan Laporan Sosial. Litmas ini sebagai catatan atau laporan dapat dipandang sebagai reproduksi dari apa yang terjadi dalam situasi social bagi klien yang bersangkutan yang menglami masalah dalam hidup dan kehidupannya.9
a. Pembimbing Kemasyarakatan dari Departemen Kehakiman;
Undang-undang nomor 3 tahun 1997 tentang Pengadilan Anak pada Pasal 33 dan Pasal 34 disebutkan bahwa :
Pasal 33
Petugas kemasyarakatan terdiri dari :
b. Pekerja sosial dari Departemen Sosial; dan
c. Pekerja sosial Sukarela dari Organisasi Sosial Kemasyarakatan Pasal 34
1. Pembimbing Kemasyarakatan sebagaimana dimaksud dalam pasal 33 huruf a bertugas :
8
Purnianti, Mimik Sri Supatmi, Ni Made Martini Tinduk, Analisa Situas Sistem Peradilan Pidana Anak Di Indonesia,UNICEF. hlm 8
9
Marianti Soewandi, Buku Materi Kuliah Akademi Ilmu Pemasyarakatan Bimbingan Dan Penyululuhan Klien. Jakarta 2003. hlm 74
a. Membantu memperlancar tugas penyidik, Penuntut Umum, dan Hakim dalam perkara Anak nakal, baik di luar sidang anak dengan membuar laporan hasil penelitian kemasyarakatan ; b. Membimbing, membantu, dan mengawasi Anak Nakal yang
berdasarkan putusan pengadilan dijatuhi pidana bersyarat, pidana pengawasan, pidana denda, deserahkan kepada negara dan harus mengikuti latihan kerja, atau anak yang memperoleh pembebasan bersyarat dari pembaga pemasyarakatan.
2. Pekarja sosial sebagaimana dimaksud pada pasal 33 huruf b, bertugas membimbing, membantu, dan mengawasi anak nakal yang berdasarkan putusan pengadilan diserahkan kepada Departemen sosial untuk mengikuti pendidikan, pembinaan, dan latihan kerja
3. dan melaksanakan tugas sebagaimana dimaksud dalam ayat 2 Pekerja sosial mengadakan koordinasi dengan Pembimbing Kemasyarakatan
E. Keaslian Penulisan
Penulisan skripsi ini adalah berdasarkan hasil pemikiran Penulis sendiri. Skripsi ini belum pernah ada yang membuat. Dengan demikian keaslian Penulisan skripsi ini dapat dipertanggung jawabkan secara ilmiah
F. Metode Penelitian
1. Jenis Penelitian
Penelitian ini merupakan penelitian hukum normativ (Juridis normative)
yang dilakukan dan ditujukan pada ketentuan hukum pengadilan pidana anak dan berbagai literature yang berkaitan dengan permasalahan dalam skripsi ini.
2. Lokasi penelitian
Lokasi penelitian dilakukan di Pengadilan Negeri Medan dan Balai Pemasyarakatan (BAPAS) Kelas I Medan, karena putusan yang di analisis dalam penulisan ini adalah putusan Pengadilan Negeri Medan. Penelitian
kemasyarakatan anak yang disidangkan di Pengadilan Negeri Medan Litmasnya ditangani oleh Bapas Kelas I Medan.
3. Jenis Data
Data yang dipergunakan dalam skripsi ini adalah data sekunder yang didukung data primer. Data sekunder yang dimaksud penulis adalah sebagai berikut :10
a. Bahan hukum primer, yaitu semua dokumen peraturan yang mengikat dan ditetapkan oleh pihak-pihak yang berwenang, yakni berupa Undang-Undang, Peraturan Pemerintah dan sebagainya.
b. Bahan hukum sekunder, yaitu semua dokumen yang merupakan informasi atau hasil kajian tentang pertimbangan Hakim terhadap penelitian kemasyarakatan
c. Bahan hukum tersier, yaitu semua dokumen yang berisi konsep-konsep dan keterangan-keterangan yang mendukung bahan hukum primer dan bahan hukum sekunder seperti kamus, ensiklopedia dan lain-lain.
Data primer diperoleh melalui wawancara kepada Hakim dan Petugas Balai Pemasyarakatan
4. Metode pengumpulan data
Metode pengumpulan data dalam Penulisan skripsi ini dilakukan dengan dua metode :
1) penelitian kepustakaan (library research), yaitu melakukan penelitian dengan berbagai sumber bacaan seperti peraturan perundang-undangan,
10
buku-buku, majalah dan bahan lainnya yang berhubungan dengan skripsi ini.
2) Penelitian Lapangan, yaitu melakukan wawancara dengan Hakim Pengadilan Negeri Medan dan Putugas Kemasyarakatan Balai Pemasyarakatan Kelas I Medan.
5. Analisis Data
Data sekunder dan primer yang diperoleh kemudian dianalisis secara kualitatif untuk menjawab permasalahan dalam skripsi ini, yaitu dengan apa yang diperoleh dari penelitian di lapangan dipelajari secara utuh dan menyeluruh untuk memperoleh jawaban dalam skripsi ini.
G. Sistematika Penulisan
Penulisan skripsi ini terdiri dari 5 (lima) bab, dimana tiap-tiap babnya akan mengurai :
Bab I : Pendahuluan, secara berurut memuat tentang Latar Belakang, Identifikasi Permasalahan, Tujuan Dan Manfaat Penulisan, Tinjauan Kepustakaan yang terdiri dari Pengertian Anak, pengertian Balai Pemasyarakatan (BAPAS), Pengertian Penelitian kemasyrakatan, Keaslian Penulisan, Metode Penulisan, serta uraian singkat mengenai Sistematika Penulisan.
Bab II : Peranan Balai Pemasyarakatan Dalam Penelitian Kemasyarakatan Dalam Proses Peradilan Pidana yang memuat, Peranan Balai Pemasyarakatan, Proses Pembuatan Penelitian Kemasyarakatan, Hal-hal yang dimuat dalam Penelitian Kemasyarakatan, Peranan Penelitian Kemasyarakatan Dalam Penjatuhan Pidana Terhadap Putusan
Bab III : Bentuk Pidana Yang Dijatuhkan Hakim Terhadap Anak Terkait Dengan Perkembangan Teori Pemidanaan yang memuat Jenis Pidana secara umum, Teori pemidanaan, Sanksi pidana terhadap Anak menurut Undang-undang Nomor 3 Tahun 1997 Tentang Pengadilan Anak.
Bab IV : Pertibangan Hakim Terhadap Penelitian Kemasyarakatan Dalam Penjatuhan Pidana Terhadap Anak Dalam Kasus Perkara Nomor 826/Pid B/2007/Pn/Mdn yang memuat, Kasus posisi yakni Kronologis dan Dakwaan Jaksa penuntut umum, Pembuktian dalam persidangan, Pembuktian kasus putusan No. 826/Pid.B/2007/PN.Mdn, Fakta-fakta hukum, Pembuktian Hakim atas Fakta, Hasil Penelitian Kemasyarakatan, Putusan Hakim, , Analisis pertimbangan Hakim terhadap penelitian kemasyarakatan.
Bab V : Penutup, memuat kesimpulan terhadap permasalahan yang terurai di dalam bab-bab sebelumnya. Bab V ini akan disampaikan pula mengenai saran penulis yang diajukan untuk perbaikan dari permasalahan yang dibahas dalam penulisan skripsi ini.
Demikian sistematika penulisan skripsi ini, dimana rangkaian dari sub-sub bab tersebut merupakan satu kesatuan yang saling berkaitan dan tidak dapat dipisahkan satu dengan yang lain.