BERPIKIR KRITIS DALAM MEMBACA
Patrisius Istiarto Djiwandono
Universitas Ma Chung
Di jaman dimana wacana yang kita baca lewat media sosial dibanjiri oleh berita-berita palsu (hoax), sangat penting untuk berpikir kritis. Pikiran kritis diperlukan agar kita terhindar dari provokasi atau bujuk rayu pihak-pihak yang pada akhirnya menggiring kita ke perpecahan, permusuhan, atau kerugian. Di bawah ini adalah intisari kemampuan berpikir kritis.
Dalam berpikir kritis, ada beberapa faktor penting yang harus dilakukan:
KEJELASAN INFORMASI: Apakah info cukup jelas? Apakah ada contoh/kasus yg diberikan? Apakah semua kata-katanya tidak ambigu/bermakna ganda?
Contoh: Sebuah artikel yang mengabarkan bahwa pembangunan sebuah pabrik akan menimbulkan kerugian bagi masyakarat sekitar tanpa menjelaskan kerugian itu dalam hal apa adalah contoh yang tidak jelas.
AKURASI: Ketepatan informasi. Apakah info tersebut benar? Apakah info tersebut didukung data/bukti?
Sebuah foto perkelahian yang menyertai sebuah berita tentang kerusuhan ternyata diambil dari lokasi lain, di waktu yang lain, dan dalam peristiwa yang lain. Berita tersebut jelas tidak akurat karena buktinya tidak valid.
RELEVANSI: Apakah info tersebut relevan/terkait dengan bagian-bagian yang lainnya secara masuk akal?
Contoh: sebuah berita dengan judul bombastis “pendekatan baru menjadi kaya dalam waktu singkat” ternyata memuat spesifikasi sebuah produk pelangsing badan yang bisa dibeli dengan harga diskon.
KEDALAMAN: Apakah info tersebut cukup terperinci/mendalam?
Contoh: sebuah artikel tentang banjir di jalan hanya membahas curah hujan yang tinggi sebagai penyebabnya. Jika dikemukakan juga kondisi gorong-gorong di bawah jalan, selokan yang tersumbat, dan habisnya daerah hijau, ulasan itu akan menjadi makin dalam.
KELUASAN: Apakah info/argumen tersebut juga memasukkan pendapat dari pihak lain atau fakta dari sumber lain?
Contoh: sebuah berita tentang kekerasan seorang majikan terhadap pembantunya ternyata hanya bersumber dari keterangan tetangga depan rumah. Tidak ada pihak lain yang diwawancara untuk mendapatkan wawasan lebih luas tentang kasus tersebut.
Contoh: sebuah berita yang menyatakan bahwa banyaknya siswa di daerah pinggiran yang gagal ujian adalah karena ada sebuah mall di pusat kota adalah alur logika yang perlu dipertanyakan.