• Tidak ada hasil yang ditemukan

Analisis Teks Marxis tsk wardana

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "Analisis Teks Marxis tsk wardana "

Copied!
13
0
0

Teks penuh

(1)

PENELITIAN KOMUNIKASI PENDEKATAN KUALITATIF BERBASIS ANALISIS TEKS MODEL MARXIS

Hasyim Ali Imran

Balai Pengkajian dan Pengembangan Komunikasi dan Informatika (BPPKI ) Jakarta, Badan Penelitian dan Pengembangan SDM, Kementerian Komunikasi dan Informatika RI, Kantor : Jln. Pegangsaan Timur No. 19 B Jakarta Pusat. Email : [email protected];

[email protected]; ABSTRAK

Berlatarbelakangkan masih relatif kerapnya dijumpai ketidakjelasan terkait pemahaman di kalangan akademisi menyangkut typologi sumber data penelitian pendekatan kualitatif, artikel ini mencoba menelaah posisi analisis teks dalam konteks penelitian komunikasi dengan pendekatan kualitatif. Penelaahan diorientasikan fokus pada model analisis teks Marxis. Pemfokusan berorientasi pada upaya formatisasi model, praktik cara kerja model, praktik cara menemukan tema minor, praktik cara menyajikan hasil analsis teks dan cara melakukan diskusi hasil penelitian. Dari hasil pembahasan, tulisan ini berhasil menemukan format model analisis teks Marxis beserta contoh wujud dari praktik cara kerja model, cara menginterpretasi dan menemukan tema minor dan cara menyajijkan hasil analisis teks.

Kata-kata kunci : Penelitian komunikasi; Pendekatan kualitatif; Analisis teks Marxis.

PENDAHULUAN

Secara epistemologis, dalam penelitian komunikasi dengan pendekatan kualitatif, sebenarnya diketahui memiliki banyak perangkat alat analisis, baik itu terhadap yang berbasiskan ‘field’ maupun pada riset yang berbasiskan “teks”.

Secara terminologis, dari sejumlah metode penelitian kualitatif yang ada kini, sebenarnya itu telah terkelompokkan mana yang tergolong pada metode penelitian yang pas berbasiskan pada sumber ‘field’ dan mana metode penelitian yang pas berbasiskan pada sumber teks. Untuk mengetahui ini, maka pertama dapat dilakukan dengan cara memahami bagaimana pengelompokan metode penelitian komunikasi kualitatif itu sendiri. Berdasarkan catatan yang ada, maka pengelompokan dimaksud, wujudnya seperti sebagaimana tertera pada bagan 1.

Dalam penelitian komunikasi dengan pendekatan kualitatif, secara epistemologis, sebenarnya diketahui memiliki banyak perangkat alat analisis, baik itu terhadap yang berbasiskan ‘field’ maupun pada riset yang berbasiskan “teks”. Dengan melihat bagan sebagaimana dimaksudkan tadi, maka kini jelas mana metode penelitian yang relevan untuk diterapkan. Relevansi itu setidaknya terkait dengan lokus riset, yakni menyangkut ‘field’ dan “teks”. Dengan demikian, kekeliruan dini terkait pelaksanaan riset pendekatan kualitatif dapat dihindarkan.

(2)

PEMBAHASAN

A. Pendekatan Kualitatif

Sebagai lanjutan dari bagian sebelumnya, maka pada bagian ini bahasannya akan lebih difokuskan pada pembahasan tentang pendekatan kualitatif. Pendekatan ini sebagaimana diketahui dari banyak pembahasan sebelumnya, adalah merupakan salah satu saja dari dua pendekatan penelitian yang ada. Sebagai salah satu pendekatan, maka penelitian pendekatan kualitatif ini bertolak dari keyakinan pada data yang berbasiskan pada prinsip a posteriori.1

Selanjutnya, data yang yang berbasiskan pada prinsip a posteriori itupun, jika ditelusuri lebih jauh lagi, akan diketahui masih dibedakan pula oleh perbedaan-perbedaan prinsipil. Perbedaan mana, pada gilirannya tentunya berwujud pada perbedaan data a posteriori itu sendiri. Karena itu, pemahaman terhadap eksistensi prinsip-prinsip tadipun menjadi wajar harus diketahui dan dipahami.

Salah satu perbedaan prinsip yang kiranya menjadi sangat vital perannya dalam proses penelitian, utamanya terkait proses pengumpulan data a posteriori tadi , yakni terkait dengan masalah paradigma penelitian.

Terkait khusus dengan topik pendekatan penelitian kualitatif ini, maka untuk memudahkan pemahaman, secara umum menyangkut pendekatan dimaksud, dapat dikelompokkan menjadi dua bagian besar, yaitu : 1) Penelitian Pendekatan Kualitatif yang berbasiskan pada paradigma post positivistic; 2) Penelitian Pendekatan Kualitatif yang berbasiskan pada paradigma non post positivistic.

Penelitian Pendekatan Kualitatif yang berbasiskan pada paradigma post positivistic, yaitu penelitian yang data apostheriori-nya diperoleh atau terwujud karena berbasiskan pada paradigma positivistik. Sementara penelitian Pendekatan Kualitatif yang berbasiskan pada paradigma non post positivistic, data apostheriori-nya itu diperoleh atau terwujud karena berbasiskan pada paradigma non positivistik.

Secara terminologis, terdapat sejumlah paradigma penelitian yang tergolong dalam paradigma non positivistik. Varian paradigma itu mencakup : 1) Paradigma Konstruktivis; 2) Paradigma Interpretif ;3) Paradigma Kritikal dan 4) Paradigma Partisipatoris. Jadi, dengan uraian barusan, kiranya jelas mengenai penelitian dengan pendekatan kualitatif itu. Kejelasan dimaksud menunjukkan bahwa ternyata ada penelitian dengan pendekatan kualitatif yang pemahamannya berbasiskan pada paradigma positivistik yang lalu lazim dikenal dengan pendekatan kualitatif post positivistic, dan selain itu ada juga penelitian pendekatan kualitatif yang dasar pemahamannya berbasiskan pada paradigma non positivistic/post positivistic.

Kemudian, berdasarkan pemahaman barusan, jika dipahami lebih jauh lagi, maka penelitian dengan pendekatan kualitatif yang berbasiskan pada paradigma non post positivistic inipun masih dapat dikelompok-kelompokkan kembali. Pengelompokan itu misalnya menurut kriteria sumber data. Menurut kriteria dimaksud, maka penelitian dengan pendekatan kualitatif ini ada yang datanya berbasiskan pada

field dan ada yang berbasiskan pada text.

Pada penelitian dengan pendekatan kualitatif yang datanya berbasiskan pada

field itu berarti cara memperolehnya didasarkan pada sumber –sumber ‘field’. Sumber-sumber ‘field’ ini wujudnya berupa personal/individu yang menjadi subyek penelitian. Mereka itu eksistensinya ada di tengah-tengah masyarakat, bisa sebagai individu yang independen atau bisa juga sebagai bagian dari komunitas tertentu. Perolehan data dari subyek inipun beragam caranya, namun ini mengikuti paradigma penelitian yang

(3)

mendasarinya. Sebagai contoh, misalnya menggunakan paradigma konstruktivis dengan metode fenomenologi dalam penelitian, maka caranya mengumpulkan data penelitian, peneliti harus sebisa mungkin mengalami apa yang dialami subyek selama proses pengumpulan data (lihat, Imran, 2014, 109).

Begitupun misalnya dengan menggunakan paradigma interpretif melalui penggunaan metode etnografi, caranyapun berbeda dengan contoh sebelumnya. Secara nyolok terkait cara itu misalnya menyangkut keterlibatan peneliti dengan subyek peneliti. Dalam kaitan ini, maka kalau menggunakan fenomenologi peneliti memang harus ikut mengalami langsung mengenai apa yang dialami oleh subyek penelitian. Sementara pada etnografi, peneliti tadi tidak harus ikut mengalami langsung mengenai apa yang dialami oleh subyek, melainkan peneliti hanya cukup, misalnya mengobservasi subyek penelitian.

Sementara itu, pada penelitian dengan pendekatan kualitatif yang datanya berbasiskan pada teks, ini dimaksudkan bahwa dalam hal cara memperoleh data penelitiannya didasarkan pada sumber-sumber yang bersifat teks. Sumber-sumber yang bersifat teks itu secara sederhana dapat dimengerti dengan cara memahami bahwa eksistensi teks itu bisa tertera hampir di mana saja. Dengan sederhana dapat dikatakan bahwa teks itu sebenarnya merupakan narasi yang dimediasikan. Berdasarkan pengertian ini maka teks itu bisa bersumberkan dari tubuh manusia, misalnya seperti

tattoo.; dinding-dinding gua, fosil-fosil, atau artefak-artefak. Dalam bentuk lebih modern, teks bisa bersumberkan dari surat-surat; naskah-naskah; dokumentasi-dokumentasi dan lain sejenisnya. Begitu pula pada media-media yang sudah lazim dikenal umum seperti radio, televisi, suratkabar, majalah, bulletin, leaflet, booklet, dan tentunya internet sebagai bentuk media paling baru, juga bisa menjadi sumber yang kaya akan teks-teks.

Secara terminologis, dari sejumlah metode penelitian kualitatif yang ada kini, sebenarnya telah terkelompokkan mana yang tergolong pada metode penelitian yang pas berbasiskan pada sumber ‘field’ dan mana metode penelitian yang pas berbasiskan pada sumber teks. Untuk mengetahui ini, pertama dengan cara memahami pengelompokan metode penelitian komunikasi kualitatif. Berdasarkan catatan yang ada, maka pengelompokan dimaksud, wujudnya seperti sebagaimana tertera pada bagan 1 berikut ini :

Bagan 1.

1) Field Research : Studi Kasus,Fenomenologi,Grounded Theory, Etnometodologi. Etnografi

Biografi , Historical Social Science, Clinical Research. Cultural Studies

MPK Analisis Teks : Semiotika; Kualitatif Marxis; 2) Discourse analysis Framing;

Semiotika Sosial; dll.

Analisis wacana Kritis (CDA) : -Norman Fairclough;

-Ruth Wodak

Sumber : Imran, 2014 : 108.

(4)

kelompok ‘field research’ dan ada yang tergolong menjadi kelompok ‘Discourse analysis’. Berdasarkan pengertian ini, maka dalam kaitan topik sumber data sebelumnya, kiranya metode penelitian komunikasi kualitatif yang pas berbasiskan pada sumber ‘field’, yakni sejumlah metode penelitian yang masuk dalam kelompok ‘field research’. Sementara metode penelitian komunikasi kualitatif yang relevan dengan data yang sumbernya berbasiskan pada sumber ‘teks, yakni sejumlah metode penelitian yang masuk dalam kelompok ‘discourse analysis ’.

B. Pendekatan KualitatifBerbasis Teks

Penelitian komunikasi dengan Pendekatan Kualitatif Berbasis Teks, seperti terlihat dari uraian sebelumnya menunjukkan bahwa pada dasarnya penelitian dimaksud adalah penelitian yang tergolong pada penelitian menyangkut ‘Discourse analysis ’. Pada penelitian yang tergolong dalam sub kelompok ‘analisis teks’, itu sepenuhnya mendasarkan diri pada sumber teks terkait dengan perolehan data penelitian. Pengambilan sikap yang demikian sendiri, itu berhubungan dengan paradigma penelitian yang telah ditetapkan sebelumnya, yakni paradigma konstruktivistik. Secara terminologis, penelitian yang mendasarkan diri pada paradigma dimaksud, dilakukan secara terbatas, yakni hanya terbatas pada level teks atau level satu. Namun ketika sang peneliti ingin untuk meningkatkan penelitian yang lebih jauh, maka ia dengan sendirinya melakukan perubahan terhadap penelitiannya. Dari yang semula melakukan penelitian komunikasi kualitatif ‘Discourse analysis’ pada sub kelompok ‘Analisis Teks’, berubah menjadi penelitian komunikasi kualitatif ‘Discourse analysis’ pada sub kelompok ‘Analisis wacana Kritis’ (Critical Discourse Analysis/CDA).

Persamaan diantara kedua tipelogi pendekatan penelitian komunikasi kualitatif tadi sebenarnya terletak pada teks itu sendiri. Dengan demikian teks mempersamakan kedua tipe penelitian komunikasi kualitatif. Keduanya masing-masing menjadikan teks itu sebagai sumber data penelitian. Teks sebagai sumber data penelitian, itu berarti penelitian tersebut orientasinya terbatas dilakukan pada level satu. Jadi, baik pada penelitian komunikasi kualitatif ‘Discourse analysis’

pada sub kelompok ‘Analisis Teks’ maupun pada sub kelompok ‘Analisis wacana Kritis’, tetap menjadikan teks itu sebagai sumber data penelitiannya. Hanya saja, pada penelitian komunikasi kualitatif ‘Discourse analysis’ pada sub kelompok ‘Analisis wacana Kritis’, memerlukan data lebih dalam untuk memenuhi kepentingan penelitiannya. Data dimaksud yaitu data menyangkut data level dua (discourse practice) dan data level tiga (sociocultural practice) (lihat bagan 2). Data menyangkut kedua level tentunya tidak termasuk lagi pada data berkategori sumber teks, melainkan tergolong pada data yang bersumberkan pada ‘field’. Jadi inilah pembeda antara penelitian komunikasi kualitatif ‘Discourse analysis’ pada sub kelompok ‘Analisis wacana Kritis’ dengan penelitian komunikasi kualitatif

‘Discourse analysis’ pada sub kelompok ‘Analisis Teks’.

(5)

menyangkut pendekatan kualitatif berbasis teks ini, dalam presentasi praktisnya akan dilakukan pembatasan. Pembatasan-pembatasan dilakukan atas pertimbangan praktis dan urgen. Urgensitas itu terutama atas dasar masih kurang populer di kalangan akademisi dan tentunya karena dianggap masih terlalu rumit atau masih kurang akrab di kalangan akademisi. Atas dasar anggapan-anggapan ini, maka dalam artikel ini penyajian praktis menyangkut pendekatan kualitatif berbasis teks

akan dibahas setuntas mungkin menurut satu metode analisis teks saja dari sekian banyak metode analisis teks itu (lihat tabel 1). Metode analisis teks dimaksud yaitu terkait model analisis teks Marxis.

Analisis Teks Analisis wacana Kritis

-Studi Kasus (menjelaskan suatu proses menyangkut obyek peneli-tian terkait unsur what, how and why),

-Fenomenologi (menemukan penggambaran tentang fenomena tertentu berbasis pengalaman manusia)

-Grounded Theory, (mengkon-struksi sebuah penjelasan tentang suatu fenomena yang belum ada penjelasan sebelumnya yang berbasis pada diskusi terkait penggambaran fenomena, data mikro,teori2 dan elaborasi triangulatif lainnya, baik data maupun metode

-Etnometodologi (untuk menggam-barkan cara suatu kelompok melakukan, menjalani dan menghadapi suatu fenomena dan material mempengaruhi kesadaran manusia Ott dan Mack,

(etnis- minoritas-kognisi sosial)

(6)

-Biografi (terkait tentang fenomena yang ada dalam kehidupan sese-orang –tokoh, misalnya soekarno , So Hok Gie),

-Historical Social Science, (terkait tentang sejarah tentang fenomena-fenomena sosial)

-Clinical Research (mencari rekomendasi tentang masalah tertentu)

C. Teori Media Marxis

Media sebagai alat produksi

Menurut Chandler (2007), dalam pemahaman Marxis klasik media massa itu merupakan sebuah alat produksi yang dalam masyarakat kapitalis kepemilikannya ada di pihak penguasa. Berdasarkan posisi dalam teori Marxis klasik, secara sederhana media massa merupakan cara untuk menyebarkan ide-ide serta pandangan dunia dari sisi penguasa, dan menolak atau mematikan ide-ide dari pihak lain. Dengan mengutip Curran et al. (1982: 22), Chandler berpendapat bahwa ini diperkuat oleh pernyataan Marx sendiri bahwa pihak yang menguasai alat-alat produksi pada saat yang bersamaan memiliki kendali atas alat-alat produksi tersebut dan dengan begitu pihak yang tidak menguasai alat produksi akan tunduk pada ide-ide yang berasal dari pihak penguasa alat-alat produksi tersebut.

Berdasarkan hal tersebut, media massa akhirnya difungsikan untuk menghasilkan “kesadaran palsu” di kelas pekerja dan karenanya memunculkan sikap yang ekstrim di mana produk media dianggap sebagai ekspresi monopolitik dari pihak penguasa yang mengabaikan adanya keberagaman nilai di antara pihak penguasa dengan media serta mengabaikan adanya kemungkinan pemahaman yang berbeda dari khalayak media.

Ideologi

Salah satu fitur utama dari teori Marxis adalah sikap “materialis” di mana makhluk sosial adalah pihak yang menentukan kesadaran. Menurut sikap tersebut posisi ideologis merupakan fungsi dari adanya posisi kelas, dan ideologi yang dominan dalam masyarakat adalah ideologi dari kelas yang dominan di dalam masyarakat tersebut. Hal ini berbeda dengan sikap “idealis” yang memberikan prioritas kepada kesadaran (seperti dalam filsafat Hegelian). Marxis memiliki pandangan yang berbeda berkaitan dengan masalah ini, beberapa menafsirkan hubungan antara makhluk sosial dan kesadaran sebagai salah satu penentu langsung; sedangkan yang lainnya menekankan pada hubungan dialektis.

Dengan mengutip Curran et al. (1982: 26), Chandler berpendapat bahwa dalam Marxisme Fundamentalis, ideologi itu merupakan 'kesadaran palsu', yang merupakan hasil dari persaingan ideologi dominan oleh orang-orang yang kepentingannya diabaikan. Dari perspektif ini media massa menyebarluaskan ideologi dominan, berupa nilai-nilai dari pihak yang memiliki dan mengontrol media.

D. PraktikModel Analisis Teks Marxis, Sebuah Contoh Praktis

(7)

tertentu. Secara fisikal model Marxis sendiri tampaknya memang belum ada. Tapi dari penjelasan Fairclogh (2010, 335) sebelumnya, maka penjelasan itu dapat dijadikan petunjuk untuk membangun model Marx tadi. Model Marx sendiri kira-kira bangunannya dapat diwujudkan seperti tampak pada gambar di bawah ini;

1. Model Analisis Teks Marxis

Model Analisis Teks Marxis

Phrase Content

(Petanda/Makna)

Relation

-symbol -intertextual relation -social relation

-production

Tujuan-Menemukan material teks/symbol seperti gambar, tulisan, warna yang terkait dengan teks dari suatu obyek analisis dalam masalah penelitian (lihat contoh hasil analisis dalam tabel)

-Menafsirkan konten berbasis intertekstual dan konteks dari teks subyek penelitian.

Penemuannya dilakukan melalui interpretasi teks.

Catatan :

Relation : -social relation; -production (Tujuan hanya sebatas untuk membongkar skema produksi saja) : Terkait konsep tersebut, maka pertanyaan-pertanyaannya diantaranya adalah seperti : 1) Bagaimana relasi kekuasaan bermain/terbentuk dalam teks ? 2) Representasi dominasi kapitalis melalui relasi kekuasaan dalam teksasi Isu Dahlan Iskan Pada Pemberitaan JPNN ? Untuk ini, maka berdasarkan subyek teks analisis, penemuannya dilakukan melalui interpretasi teks. Tujuan analisis komponen social relation yaitu untuk menemukan relasi sosial berupa relasi kapitalisme dengan bahasa, misalnya berupa bahwa kapitalis media secara deliberatif/sengaja menggunakan bahasa dalam media untuk menjaga kekuasaannya, misalnya memunculkan kata-kata “Dahlan menang konvensi” dan lain-lain.

Catatan : Penelitian kualitatif pada dasarnya bukan pada scanning/pemindaian fenomena, tapi lebih kepada interpretasi terhadap fenomena secara mendalam.

Heteroglosia/intertekstualitas : Kata yang bermakna beda berdasarkan masa-masa lalu , misalnya soal sorban sebagai simbol orang muslim.

2. Formulasi Rumusan Masalah berbasisModel Analisis Teks Marxis

Guna kepentingan pengaplikasian model sebagaimana dimaksud, maka untuk efektif dalam pelaksanaannya, langkah pertama yang kiranya harus disadari adalah menyangkut eksistensi permasalahan yang diformulasikan dalam suatu kegiatan penelitian yang berkenaan dengan analisis teks Marxis. Dalam hubungan ini maka langkah pertamanya adalah mengenal rumusan ideal masalah penelitian dalam konteks studi analisis teks Marxis. Pertanyaan penelitian yang biasa ditemui terkait Marxist analysis teks ini misalnya adalah seperti :

1) Bagaimana relasi dominasi kapitalis media dengan (phrase) bahasa media..? Dalam kaitan phrase (bahasa media) dimaksud, misalnya adalah, “Bagaimana relasi dominasi kapitalis media dalam representasi keunggulan Dahlan Iskan sebagai pemenang konvensi pada berita JPNN?”

2) Ideology apa yang mendominasi pemberitaan tentang Dahlan di JPNN? 3) Bagaimana pertarungan kekuasaan dan ideology dalam pememberitaan ? 4) Bagaimana komodifikasi yang dilakukan media terhadap isu tertentu ? 3. Praktik Analisis TeksModel Analisis Marxis

Baiklah, dalam kaitan kepentingan penjelasan pada bagian ini, maka dalam hubungan sejumlah contoh formulasi pertanyaan sebelumnya, maka penjelasannya akan berbasiskan pada contoh rumusan pertanyaan penelitian nomor “1”, yaitu “Bagaimana relasi dominasi kapitalis media dalam representasi keunggulan Dahlan Iskan sebagai pemenang konvensi pada berita JPNN?” Untuk kepentingan analisis teks dimaksud, maka sebagai contoh kasus teksnya diambil dari teks JPNN dalam genre berita yang berjudul “Lagi, Dahlan Iskan Diprediksi Menang

Konvensi”. (terlampir) - (sumber : JPNN.com http://www.jpnn.com/

(8)

Dengan mengacu pada model sebelumnya, maka selanjutnya di bawah ini disajikan contoh penggunaaan analisis wacana ala Marx. Perlu dicatat bahwa analisis ini sebenarnya adalah analisis sederhana dari Marx untuk menjelaskan hubungan bahasa dan kapitalisme, di mana jelas bahwa bahasa diungkap untuk memberikan penjelasan tentang relasi sosial antara kapitalisme dan abstraksi konsep buruh dan proletarian,

Tema Minor : Dahlan Iskan direpresentasikan sebagai Capres Partai Demokrat yang didukung rakyat. (perumusannya selalu mengacu pada “terkuat” sebagaimana disajikan dalam paragraf 1, “Dahlan Iskan lagi-lagi diunggulkan sebagai yang terkuat memenangkan Konvensi Calon Presiden dari Partai Demokrat 2014.”, merupakan bentuk hiperbola dari dukungan seolah-olah dukungan politik itu mengarah pada dirinya Diprediksi Menang Konvensi”. Ini tentu mencerminkan sikap juga mencer-minkan sikap hiperbo-la awak media terha-dap Dahlan Iskan se-bagai subyek pemilik media yang nota bene menjadi “bos” mere-ka. Sikap hiperbola ini dengan sendirinya menyim-bolkan dukungan media berupa upaya memaknakan sekuat mungkin bahwa

(9)

khalayak luas berikan pendukungannya terhadap pemilik media (Dahlan Iskan).

3) “...Dahlan memperoleh dukungan paling kuat; Dahlan Iskan memeroleh dukungan terkuat publik," (p.3)

3) Bentuk hiperbola melalui

pemakaian phrase “paling

kuat” dan “terkuat publik”, dengan hasil survei, maka Dahlan adalah salah satu tokoh kuat yang dalam pemberitaan, menyim-bolkan tendensi bahwa ditampailkan wartawan dalam teksasi berita pada p. 4. Upaya wartawan/media membangun gaya bahasa hiperbola itu tampak dari teksasi mereka mengenai proposi yang gunakan phrase “jika” dan “maka” dalam content terkait posisi Dahlan Iskan dalam even konvensi

5) Teksasi pada paragraf 8 ini menyimbolkan bahwa Dahlan

(10)

menonjol dari setiap teks yang dijadikan subyek penelitian. Untuk kasus teks sebagaimana dimaksud sebelumnya, maka tema minornya adalah : “Dahlan Iskan direpresentasikan sebagai Capres kuat Partai Demokrat yang didukung rakyat.“ Penyajian deskripsi tema minor, diantaranya dapat disajikan di atas pojok kanan tabel analisis teks. Biasanya deskripsi tema minor itu penyajiannya dimulai dengan kalimat seperti, “Dahlan Iskan direpresentasikan sebagai ... “. Itu kalau mengacu pada contoh kasus teks yang dianalisis tadi dan sekaitan dengan relevansinya pada rumusan masalah pokok penelitian. Rumusan masalah yang diacu tadi sendiri, tatanan sentennya berupa “Bagaimana relasi dominasi kapitalis media dalam representasi keunggulan Dahlan Iskan sebagai pemenang konvensi pada berita JPNN?” Dengan rumusan masalah dimaksud, maka tema minor yang muncul dari hasil analisis teks sebelumnya, rumusannya antara lain misalnya seperti, “Dahlan Iskan direpresentasikan sebagai Capres Partai Demokrat yang didukung rakyat.” Sebagai sebuah temuan penelitian, maka rumusan tema minor ini diletakkan pada bagian atas tabel hasil analisis teks. Langkah yang sama ini tetap dilakukan terhadap teks-teks lain yang menjadi subyek analisis. Jadi, jika misalnya ada 8 teks, maka ada 8 tabel hasil analisis yang sama formatnya terkait aplikasi model analisis teks Marx dalam penelitian komunikasi dengan pendekatan kualitatif berbasis teks.

Menyepakati jumlah 8 tadi sebagai contoh penjelasan dalam bagian ini, selanjutnya yang harus dilakukan adalah proses pengelompokan atau kategorisasi dari sejumlah tema minor yang ditemukan. Karena jumlah teks yang dianilis itu berjumlah 8, maka jumlah tema minornya sudah pasti ada delapan. Sebagai alat bantu, dalam pengelompokan tema minor tadi sebaiknya itu disajikan ke dalam sebuah tabel. Tabel itu misalnya seperti disajikan berikut ini,

Subyek Teks Analisis Tema Minor

Hasil Analisis Teks

Kategorisasi Representasi

Positip Negatip

1) Berita, Judul “Lagi, Dahlan Iskan Di-prediksi Menang Konvensi” (JPNN. com http: //www.jpnn.com/ read /2013/ 10/20/ 196613

Dahlan Iskan direpre-sentasikan sebagai Ca-pres kuat Partai De-mokrat yang didukung rakyat.

Ada relasi positip antara media (kelas buruh) deng-an pemilik media (kapi-talis) dalam mediasi reali-tas Dahlan Iskan terkait konvensi PD. 2)

(11)

5. Interpretasi dan Tema Minor

Langkah berikut setelah selesai kategorisasi yaitu memaparkan hasil penelitian. Hasil penelitian ini pemaparannya dalam format : Bagian pertama mendeskripsikan temuan-temuan hasil analisis teks. Pendeskripsian dilakukan tetap berorientasi pada upaya menjawab masalah penelitian. Masalah penelitian ini yaitu “Bagaimana relasi dominasi kapitalis media dalam representasi keunggulan Dahlan Iskan sebagai pemenang konvensi pada berita JPNN?” Jadi, deskripsi tadi diorientasikan pada upaya menjawab masalah tersebut berdasarkan temuan-temuan penelitian yang muncul dalam riset. Karena itu, sub bab paparannya berjudul yang relevan dengan maslah pokok tadi. Sub Judul itu misalnya, “Representasi Relasi Dominasi Kapitalis Media dalam mediasi JPNN mengenai Dahlan Iskan Pemenang Konvensi PD”. Dalam proses paparan dimaksud, itupun harus dilakukan dalam nuansa Marxis yang memiliki jargon-jargonnya sendiri. Jargon-jargon Marxis

dimaksud, misalnya seperti unconsius; marginalisasi;

inklusi;eksklusi/mengurangi /menghilangkan; kesadaran palsu; dominasi kelas; aleniasi; reifikasi=pemberian nilai, negasi=mengurangi. Setelah fase ini selesai, maka fase berikutnya adalah menyajikan analisis terhadap tema minor2.

Penyajian analisis tema minor juga dilakukan pada sub bab tersendiri. Sub bab ini titelnya kira-kira jadi seperti berikut ini : Dominasi Kapitalis Dalam Pemediasian Dahlan Iskan Pemenang Konvensi PD; Alternatifnya : Dominasi Dalam Relasi Media dan Kapitalis. Sub judul ini tergantung dari apa kira-kira interpretasi yang dapat ditarik dari kategoriasi yang telah dibuat sebelumnya.

Dalam sub bab ini selanjutnya sajikan data, analisis dan interpetasi kita. Dalam proses ini, pakai konsep-konsep teoritik yang terutama berasal dari paradiga teori kritis. Penggunaan konsep teoritik dalam fase ini yaitu sebatas menjelaskan data menurut konsep teoritik. Fungsi konsep teoritik di sini sebagai penjelas temuan data penelitian. Singkatnya, apa kata teori terhadap data. Jadi, teori yang digunakan dalam tahap ini bisa banyak dan itu tergantung pada dinamika analisis dan interpretasi kita terhadap data penelitian. Hal yang demikian terjadi karena mengingat penelitiaan dengan pendekatan kualitatif itu sifatnya tidak bebas konteks. Karena itu sifatnya jadi dinamis 3 dan dengan begitu, penggunaan konsep teoritik

sifatnya jadi bertentakel.

PENUTUP

Dari hasil pemaparan sebelumnya diketahui bahwa dalam penelitian komunikasi dengan pendekatan kualitatif memiliki variasi dalam hal metode. Namun varian metode

2 Tema minor pada prakteknya idealnya harus dijelaskan dalam paragaraf-paragraph atau sebagai sub judul atau judul sebeuah bab kalau perlu. Artinya, bagian ini sebisa mungkin jangan disimplifikasi.

(12)

dimaksud, secara sederhana, setidaknya menurut versi sumber data (subyek penelitian), varian tadi terkelompokkan pada dua domain, pertama pada metode yang pas berbasiskan pada “field” dan kedua berbasiskan pada “teks”.

Salah satu metode yang berbasiskan pada teks itu adalah metode analisis teks Marxis. Dari praktik analisis teks berbasiskan versi Marxis dimaksud diketahui bahwa analisis teks ini pada dasarnya sebenarnya merupakan analisis sederhana yang berupaya menjelaskan hubungan bahasa dan kapitalisme, di mana jelas bahwa bahasa diungkap untuk memberikan penjelasan tentang relasi sosial antara kapitalisme dan abstraksi konsep buruh dan proletarian. Fenomena ini sendiri tampak dikonseptualisasikan menjadi dua yaitu konsep phrase dan content.

ooo

Daftar Pustaka

Chandler, Daniel, Marxist Media Theory. (2007). Taken From : http://www.aber.ac.uk/ media/Documents/marxism/marxism.html, on Peb, 16, 07 by hasyim ali imran.

Fairclough, Norman. (1995) Critical Discourse Analysis : The Critical Study of Language, London and New York, Longman.

Fairclough, N. (1989) Language and Power. New York: Longman.

Foucault, Michel.(2002) Arkeologi Pengetahuan, Yogyakarta, Penerbit Qalam

Halliday, M.A.K., Hasan, Ruqaiya. (1994) Bahasa, Konteks dan Teks, Aspek-Aspek bahasa dalam Pandangan Semiotika Sosial, Yogyakarta, Gadjah Mada University Press.

Imran, Hasyim Ali. (2014) Pengantar Filsafat Ilmu Komunikasi, Jakarta, Grasindo. Ott dan Mack. (2014),

Van Leeuwen, Theo. (2005) Introducing Social Semiotics, London and New York, Routledge Taylor and Francis Group.

LAMPIRAN

Lagi, Dahlan Iskan Diprediksi Menang Konvensi - JPNN.com http://www.jpnn.com/read/2013/10/20/196613

JAKARTA - Dahlan Iskan lagi-lagi diunggulkan sebagai yang terkuat memenangkan Konvensi Calon Presiden dari Partai Demokrat 2014. Lingkaran Survei Indonesia (LSI) merilis, jika pemilihan presiden di antara peserta konvensi dilakukan hari ini maka Menteri Badan Usaha Milik Negara itu akan memenangi persaingan dengan raihan 16,1 persen. (p.1)

Di bawah nama Dahlan ada Pramono Edhie Wibowo (5,3 persen) dan Marzuki Alie (3,2 persen), Gita Wirjawan (2,2 persen). Sedangkan kandidat lainnya seperti Irman Gusman, Anies Baswedan, Sarundajang, Hayono Isman, Endiartono Sutarto, Dino Patti Djalal dan Ali Masykur Musa hanya meraih di bawah 2 persen. (p.2)

Dengan begitu, berdasar survey LSI di antara peserta konvensi, Dahlan memperoleh dukungan paling kuat atau di atas 10 persen. "Maka sesuai hasil survei LSI Oktober 2013 dari 11 nama yang ikut Konvensi Demokrat Dahlan Iskan memeroleh dukungan terkuat publik," kata Peneliti LSI Adjie Alfaraby, Minggu (20/10), dalam paparan hasil survei bertajuk "Indeks Capres Pemilu 2014 : Capres Rill Versus Capres Wacana", di Jakarta. (p.3)

Ia mengungkapkan jika Susilo Bambang Yudhoyono dan PD konsisten dengan hasil survei, maka Dahlan adalah salah satu tokoh kuat yang dicalonkan sebagai presiden oleh partai berlambang bintang mercy ini. (p.4)

(13)

random sampling dengan margin error kurang lebih 2,9 persen. Survei menggunakan kuisioner dengan wawancara tatap muka. Dalam survei ini, LSI menggunakan indikator baru yang disebut Indeks Capres. Ada tiga variabel yang mencakup Indeks Capres, yaitu dicalonkan oleh koalisi atau tiga partai terbesar atau teratas dalam perolehan suara pemilu, pengurus struktural partai atau pemenang konvensi dan dicalonkan secara resmi oleh partai. Karenanya, LSI menyatakan dari survei terbaru Oktober 2013, tiga partai yang berpeluang masuk tiga besar adalah Partai Golkar 20,4 persen, PDI Perjuangan 18,7 persen dan PD 9,8 persen. (p.5)

Menurut Adjie, di luar Golkar, PDIP, PD belum ada satupun partai perserta pemilu 2014 yang elektabilitasnya di atas 10 persen. Dari sejumlah tracking survei LSI sejak 2011, elektabilitas partai-partai tersebut masih di bawah 10 persen. "Jika terjadi "tsunami politik" yang maha dahsyat, Golkar, PDIP, Demokrat tetap punya kans yang lebih kuat untuk menjadi tiga partai perolehan suara terbanyak dengan elektabilitas di atas 10 persen," ujar Adjie. Menurutnya pula, walau dilanda berbagai kasus korupsi yang melibatkan petingginya, PD adalah partai penguasa yang masih banyak "amunisi" untuk tetap bertahan di tiga besar. "Di antaranya adalah jika kinerja pemerintahan dipersepsikan baik dan berbagai program populis yang dibuat menjelang pemilu 2014," kata Adjie. (p.6)

Nah, ia menambahkan, jika hasil survei partai politik di atas disimulasikan ke dalam indeks capres 2014 yang dibuat LSI, maka akan hanya ada tiga nama capres riil. Yakni Aburizal Bakrie (Partai Golkar dan koalisinya), Megawati Soekarnoputri (PDIP dan koalisinya dan pemenang Konvensi Capres PD). Jika Dahlan Iskan menang konvensi dan memeroleh tiket Capres PD, maka sesuai hasil survei LSI Oktober 2013 posisi elektabilitas masing-masing kandidat hanya ada dua yang elektabilitasnya di atas 25 persen. Yakni, Megawati 29,8 persen dan Aburizal 28,6 persen. Sedangkan Dahlan Iskan memeroleh dukungan di bawah 10 persen yakni 9,2 persen. "Namun, masih banyak mereka yang belum menyatakan memilih ketiga tokoh tersebut yaitu 32,4 persen,"ungkap Adjie. (p. 7)

Lebih jauh Adjie mengatakan berdasarkan survei Oktober 2014 capres rill yang memenuhi syarat Indeks Capres 2014 hanya Megawati, Aburizal dan pemenang Konvensi Capres PD. Menurut Adjie, nama Joko Widodo, Prabowo Subianto, Wiranto dan lain-lain hanya menjadi capres wacana karena tidak memenuhi Indeks Capres 2014. Adjie menambahkan, Capres Rill 2014 dapat berubah jika Megawati menolak mencalonkan diri sebagai Capres 2014 . "Dan Demokrat tak mendapatkan dukungan partai lain untuk memenuhi syarat tiket Capres 2014 (yaitu) : 20 persen kursi atau 25 persen suara dalam pemilu legislatif 2014," ungkap Adjie. (boy/gil/jpnn) (p. 8)

Lagi, Dahlan Iskan Diprediksi Menang Konvensi

Lagi, Dahlan Iskan Diprediksi Menang Konvensi -JPNN. comhttp:// www.jpnn.com/

Gambar

Tabel 1 :Metode Penelitian Pendekatan Kualitatif
tabel analisis teks. Biasanya deskripsi tema minor itu penyajiannya dimulai dengan

Referensi

Dokumen terkait

Variasi maltodekstrin berpengaruh terhadap kadar abu, total fenolik, aktivitas antioksidan, waktu larut, dan uji ALT serta tidak berpengaruh terhadap kadar air minuman

sering g adala# tulang&t adala# tulang&tulang pan!ang. Pada ulang pan!ang. Pada anak&a anak&anak" nak" sarkom sarkoma a e$ing merupakan tumor 

Dalam hal ini, peneliti membatasi dalam penelitian jika terdapat satu kalimat yang menggunakan anak kalimat maka berita tersebut dinyatakan kalimat yang kompleks atau

menunjukkan bahwa perlakuan dengan menggunakan bibit IV dengan komposisi lumpur yang berasal dari lumpur selokan tahu 50%, lumpur RPH 25 % dan lumpur sungai Badung 25 %

Karies gigi adalah suatu proses penghancuran setempat jaringan kalsifikasi yang dimulai  pada bagian permukaan gigi melalui proses dekalsifikasi lapisan email gigi yang diikuti

Uji statistik F digunakan untuk menguji apakah semua variabel-variabel independen atau bebas yang dimasukkan ke dalam model mempunyai pengaruh secara

Informatika., Universitas Bhayangkara Jakarta Raya, Judul Skripsi “ Perancangan sistem informasi E-commerce pemesanan jasa cleaning servis berbasis android.. pada cv

Sebelum dilakukan proses pem- belajaran menggunakan scientific approach dengan bantuan BSE, hampir semua siswa memperoleh nilai pretest yang sangat rendah, namun