• Tidak ada hasil yang ditemukan

Pater Donatus Filsafat India jawab soal

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "Pater Donatus Filsafat India jawab soal"

Copied!
44
0
0

Teks penuh

(1)

BAB I

PERSPEKTIF HISTORIS

1. Apa masa-masa utama dalam perkembangan filsafat India? Kemukakan secara ringkas ciri-ciri khas tulisan dari setiap masa itu dan lukiskan perbedaan pokok di antara masa-masa itu.

Masa Veda

(2)

penting, karena teks-teks itu memuat pertanyaan-pertanyaan yang paling mendalam tentang arti hidup. Tiga visi agung tentang hidup yang diwartakan oleh para bijak Upanishad, yang sebagian besar tidak diketahui para pemikir Veda yang lebih awal, telah membentuk pemahaman diri bangsa India selama tiga ribu tahun silam. Visi pertama, diri (self) yang paling dalam, yaitu Atman, adalah satu dengan realitas tertinggi, yaitu Brahman. Kedua, karena hidup dipimpin oleh karma, maka kita dapat menjadi baik hanya dengan melakukan tindakan-tindakan yang baik. Ketiga, hanya pengetahuan meditatif yang membebaskan kita dari lingkaran kematian dan penderitaan.

Masa Cerita Epos

Dua cerita epos besar India, yaitu:

(3)

kemanusiaan dan realitas dengan memperlihatkan cara hidup yang memampukan manusia untuk mencapai kebebasan spiritual melalui tindakan yang sesuai dengan kodrat self-nya yang paling dalam.

b. Ramayana, satu syair indah dalam empat jilid, mengungkapkan tata tertib ideal untuk masyarakat sebagai satu keseluruhan dan cara hidup ideal untuk individu. Syair ini menghadirkan gambaran ideal keperempuanan dalam pribadi dan hidup Sita dan gambaran ideal kelaki-lakian dalam pribadi dan hidup suaminya, yaitu Rama, si pahlawan ilahi dari cerita epos ini. Melalui tarian, drama, cerita rakyat dan film-film, Ramayana dikenal secara luas dan masih terus mengilhami rakyat India malah sampai abad ke-21 ini.

(4)

oleh raja dan lembaga pemerintah. Shastra dari Yajnavalkya menekankan pencapaian keberhasilan dan tata aturan dalam kehidupan keluarga.

Masa Sistem-Sistem Filsafat

Sistem-sistem ini memperlihatkan usaha awal yang semata-mata filosofis di India, karena sistem-sistem itu tidak hanya berusaha menjelaskan kodrat eksistensi, tetapi juga dengan secara sadar dan kritis berusaha memperlihatkan ketepatan jawaban-jawaban mereka dalam analisis yang cermat serta argumentasinya. Ringkasan-ringkasan dari analisis, argumentasi dan jawaban-jawaban itu disimpan sebagai sutras, yang secara harfiah berarti “untaian benang” yang padanya bergantung seluruh sistem filsafat.

(5)
(6)

tafsiran dan pengetahuan, satu teori yang berpusat pada kriteria untuk mengbasahkan pengetahuan, dan dari sana mimamsa berusaha menegakkan kebenaran pernyataan-pernyataan Veda. Vedanta berawal dari kesimpulan-kesimpulan Upanishad lalu berusaha menunjukkan bahwa satu analisis rasional tentang pengetahuan dan realitas akan mendukung kesimpulan-kesimpulan itu.

Masa Komentar-Komentar Besar

Ketika generasi para resi dan cendekiawan mempelajari sutras dari sistem yang berbeda-beda itu, mereka banyak kali menulis komentar-komentar tentangnya. Dengan cara ini muncul komentar-komentar besar Gaudapada (abad ke-6 M), Shankara (abad ke-8), Bhaskara (abad ke-9), Yamuna (abad ke-10), Ramanuja (abad ke-11), Nimbarka (abad ke-12), Madhva (abad ke-13) dan Vallabha (abad ke-15) yang ditulis berkenaan dengan Vedanta Sutras dari Badarayana. Sistem-sistem lain memiliki sejarah komentar serupa.

Masa Modern

(7)

pembaruan atas tradisi kuno ini mulai berkembang pada abad lalu. Gandhi, Tagore, Ramakrishna, Vivekananda dan Radhakrishnan termasuk di antara pemikir-pemikir India modern yang berpengaruh. Kini ketika kita memasuki abad ke-21, India tengah bergembira atas satu renaisans filosofisnya. Penemuan kembali tradisi kuno, tafsiran baru terhadap pemikiran Barat, karya kreatif dalam filsafat perbandingan dan perkembangan visi-visi baru sedang berkembang pesat satu di samping yang lain, malah kerapkali berpengaruh satu sama lain.

2. Apa dasar perbedaan antara sistem “ortodoks” dan “tidak ortodoks”? Dalam arti apa dikatakan bahwa perbedaan antara Carvaka dan semua sistem yang lain bersifat fundamental?

(8)

Samkhya, Yoga, Mimamsa dan Vedanta, khususnya dalam perkembangannya yang lebih kemudian menerima otoritas Veda, dan mereka semua sungguh-sungguh memperlihatkan bahwa analisis dan pernyataan-pernyataan mereka sejalan dengan ajaran-ajaran utama kitab Veda.

 Nyaya menaruh perhatian pada analisis logis tentang sarana pengetahuan.

 Vaisheshika menganalisis hal-hal yang diketahui sambil menyuguhkan satu metafisika yang pluralistis.

 Samkhya merupakan satu sistem dualistis yang berusaha menghubungkan realitas diri dengan dunia luar dan menjelaskan evolusi dunia.

 Yoga menganalisis kodrat realitas diri (self) dan menjelaskan bagaimana realitas Diri yang murni (Self dengan S besar – penterjemah) dapat terwujud. Mimamsa mengembangkan satu teori tafsiran dan pengetahuan, satu teori yang berpusat pada kriteria untuk mengbasahkan pengetahuan, dan dari sana mimamsa berusaha menegakkan kebenaran pernyataan-pernyataan Veda.

(9)

menunjukkan bahwa satu analisis rasional tentang pengetahuan dan realitas akan mendukung kesimpulan-kesimpulan itu.  Pembagian besar bisa juga dibuat antara

Carvaka dan sistem-sistem filsafat yang lain. Carvaka merupakan satu sistem filsafat yang sungguh-sungguh bersifat materialistis; semua sistem filsafat yang lain menyuguhkan ajaran untuk kehidupan rohani. Jainisme misalnya berusaha memperlihatkan jalan keluar dari belenggu karma. Ia menekankan satu hidup dengan sikap “tidak melukai”, dan hidup dengan sikap itu memuncak pada pembebasan akhir dari belenggu melalui perwujudan diri dalam meditasi. Buddhisme menghadirkan analisis tentang kodrat dan sebab-sebab penderitaan manusia serta delapan jalan sebagai usaha untuk menghilangkan penderitaan.

3. Bagaimana konfrontasi dengan penderitaan fisik, mental dan spiritual berujung pada pemikiran filosofis di India?

(10)

Ada dua pendekatan yang berbeda secara mendasar terhadap problem penderitaan. Kedua pendekatan itu mengakui bahwa penderitaan merupakan akibat dari jurang antara siapa dirinya dan apa yang ia miliki, antara seperti apa ia ingin menjadi dan apa yang ia ingin miliki. Jika tidak ada perbedaan antara siapa dirinya dan apa yang ia miliki, antara seperti apa ia ingin menjadi dan apa yang ia ingin miliki, maka tidak akan ada penderitaan. Namun ketika ada perbedaan itu, maka penderitaan tak terelakkan karena kerinduan seorang tidak terpuaskan. Pemecahan untuk persoalan itu tampak jelas, yaitu apa dan apa yang diinginkan harus dibuat identik.

4. Mengapa pengetahuan, khususnya pengetahuan diri, dipandang sebagai pencapaian filosofis tertinggi?

(11)

5. Di mana tempat tanggung jawab untuk kondisi manusiawi dalam pemikiran India?

Sebagai tambahan untuk corak filsafat India yang berasal dari orientasi praktisnya, ada satu tendensi yang menyebar luas dalam pemikiran India, apabila kita kembali kepada konsep Veda tentang rita (tata aturan), untuk menerima adanya keadilan moral universal. Dunia dilihat sebagai satu panggung moral akbar yang dituntun keadilan. Setiap hal yang baik, buruk dan acuh tak acuh mendapat balasan dan patut diganjari. Dampak dari sikap ini ialah menempatkan tanggung jawab pada manusia itu sendiri secara adil demi kepentingan kondisi manusiawi. Kita bertanggung jawab terhadap diri kita untuk siapa kita kini dan siapa kita kelak. Menurut pemikiran India, kita sendirilah yang menentukan masa lampau kita dan menetapkan masa depan kita. Oleh karena perbuatan baik kita maka kita menjadi baik, dan oleh karena perbuatan jahat kita maka kita menjadi jahat.

6. Apa kriteria yang mesti dipenuhi oleh satu teori filosofis yang berhasil?

(12)

seorang mengunggulkan satu filsafat yang “benar” dan menganggap yang lain sebagai yang salah sama sekali. Kebenaran dalam filsafat bergantung pada subjek manusia, dan pengalaman yang lain dapat diketahui hanya sebagai objek. Setidak-tidaknya menurut jalan pengenalan yang biasa, tidak ada pengenalan tentang yang lain sebagai subjek. Alhasil, tidak ada penolakan tentang pengalaman yang lain sebagai yang tidak memadai atau tidak memuaskan.

BAB II

VEDA DAN UPANISAD

1. Apa buktinya bahwa bangsa dari peradaban Indus sudah mencapai satu tingkat yang relatif tinggi dalam budaya dan pemikiran?

(13)

drainasenya memperlihatkan keterampilan teknik yang menakjubkan. Tingkat standarisasi yang dicapai menunjukkan efisiensi kerja departemen perencanaan dan administrasi, sekaligus menyiratkan bahwa bangsa Indus memiliki satu organisasi sosial dan politik sentral yang sangat efisien.

Di antara artefak-artefak yang ditemukan, terdapat hiasan-hiasan permata indah yang menyingkapkan adanya para tukang terampil, dan berbagai macam boneka yang indah dan alat-alat permainan (termasuk catur) memperlihatkan satu kebudayaan yang menghargai permainan dan suka menyenangkan anak-anak. Satu sistem timbang dan ukuran yang teliti dengan menggunakan sistem binair dan desimal yang efisien seturut perhitungan matematis mencerminkan prestasi ilmu matematika maupun penekanannya pada perniagaan. Perdagangannya rupanya tersebar luas, seperti ditemukannya banyak meterai Indus yang biasanya menandakan kepemilikan hingga sejauh wilayah Mesopotamia.

(14)

bukti pencapaian literer, religius atau filosofis. Bukti-bukti materiil, yang ditemukan di ratusan situs yang sudah dikenali sejak Sir John Marshall pertama kali menemukan peradaban Indus 80 tahun silam, menunjukkan bahwa agama memainkan suatu peran utama dalam kebudayaan ini.

2. Apa arti penting Himne Veda tentang Asal Usul?

Hidup dikuduskan dan diberi arti melalui penciptaan kembali eksistensi hidup secara ritual, dan liturgi untuk upacara-upacara penciptaan kosmos dan penciptaan hidup terdiri dari ayat-ayat kitab Veda yang didaraskan, dimadahkan dan dinyanyikan. Dengan demikian, melalui penyertaannya ke dalam upacara-upacara, ayat-ayat itu lalu dipandang sebagai yang memiliki kekuatan untuk memadukan segala sesuatu secara bersama-sama sambil membarui hidup dengan energi suci yang dialirkan oleh upacara-upacara itu. Kitab Veda sendiri menceritakan kepada kita bahwa ketika ayat-ayat itu didaraskan, dimadahkan dan dinyanyikan, mereka justru memampukan semua ciptaan untuk ambil bagian dalam kebijaksanaan dan energi realitas ilahi.

(15)

inheren dalam pribadi kosmis. Orang beranggapan bahwa eksistensi alam semesta muncul dari transformasi eksistensi yang lebih dahulu, dan dalam hal ini eksistensi yang lebih dahulu itu adalah pribadi kosmis. Namun dari mana asal eksistensi yang lebih dahulu itu? Eksistensi macam apa yang mendahuluinya? Dari apa berasalnya esksistensi yang paling awal? Ketika para bijak merefleksikan pertanyaan-pertanyaan itu, mereka menemukan salah satu pemahaman yang paling penting Rig Veda: di balik eksistensi dan non-eksistensi ada satu keseluruhan, yaitu satu realitas yang tak terbagi, realitas yang lebih fundamental daripada realitas ada dan realitas tidak-ada.

3. Apa yang dicari para bijak dalam Upanishad? Pencarian Terhadap Brahman

Dalam mencari realitas tertinggi, para resi itu tidak mempunyai konsep yang jelas tentang apa yang mereka cari; mereka cuma mengetahui bahwa mesti ada sesuatu yang darinya segala sesuatu yang lain dapat ada dan yang telah membuat segala sesuatu yang lain itu menjadi agung. Nama yang diberi kepada “sesuatu” ini adalah Brahman yang berarti “yang membuat menjadi agung”. Nama itu tidak deskriptif, karena ia tidak menamai sesuatu sebagai yang defenitif, entah abstrak atau konkret.

(16)

eksternal tertinggi. Pertama-tama, ada usaha untuk menyerupakan “sesuatu” itu dengan lambang-lambang dan upacara-upacara religius, atau dengan benda-benda alam seperti matahari dan bulan, atau dengan fungsi-fungsi psikologis tertentu dari manusia. Segala usaha untuk menyatakan apa itu Brahman seturut sesuatu yang lain menyiratkan pembatasan atas daya Brahman. Namun jika Brahman itu adalah yang tertinggi, maka tidak mungkin baginya untuk dibatasi, karena tak mungkin ada sesuatu yang melampauinya yang bisa membatasinya. Ketika para resi mulai menyadari dengan semakin jelas bahwa Brahman tidak dapat dilukiskan secara memadai dengan bersandar pada pengalaman mereka tentang dunia yang tampak, maka mereka berusaha untuk mendefisikan realitas ini dengan jalan negatif.

(17)

Tak dapat dilihat, tak dapat dimengerti, tanpa asal usul, tak berwarna, tanpa mata atau telinga, tanpa tangan atau kaki, tak berkesudahan, merang-kum segala sesuatu dan ada di mana-mana, itulah ia yang tidak dapat berubah, yang dipandang si bijak sebagai sumber dari segala sesuatu yang ada.

Jika Brahman itulah yang memungkinkan waktu, ruang dan kausalitas, maka mustahil untuk memandangnya sebagai sesuatu yang dibatasi waktu, ruang dan kausalitas. Berada lebih dahulu daripada ruang, waktu dan kausalitas berarti berada melampaui corak-corak alam semesta yang empiris, dan karenanya berada melampaui perlukisan empiris. Karena Brahman melampaui pemikiran, maka ia tidak dapat ditangkap oleh pemikiran. Alhasil, hakikat Brahman tetap tinggal tak terperikan dan rahasia.

(18)

merupakan satu organisme jasmani? Dan bukankah “aku” yang merenungkan eksistensi jasmani lebih tepat tepat merupakan self alih-alih tubuh jasmani?

Tentu saja para pemikir Upanishad membedakan antara self yang tampak dan Self yang sebenarnya. Pencarian mereka akan hakikat yang paling dalam dari eksistensi manusia dituntun oleh injungsi berikut:

Self (Atman) yang bebas dari kejahatan, yang bebas dari usia lanjut, yang bebas dari kematian, yang bebas dari kesusahan, yang bebas dari lapar dan dahaga, yang menginginkan hanya yang riil, yang memikirkan hanya kebenaran, ia harus dicari, ia sajalah yang harus dihasratkan untuk dimengerti. Ia yang telah menyadari dan mengerti Self ini, ia memperoleh seluruh dunia dan segenap keinginan (Chandogya Upanishad,VII.7.1).

(19)

diserupakan dengan tubuh belaka karena Self lebih dari tubuh; Self itu hidup dan bergerak. Jika Self bukan semata-mata makanan, demikian para resi, maka barangkali Self itu adalah makanan yang hidup. Akan tetapi, mereka melihat bahwa biarpun hal ini membantu mereka untuk membedakan benda hidup dari benda mati, namun hal itu tidak merujuk pada Self tertinggi dari seorang, karena seorang lebih daripada sekadar makanan yang hidup. Pribadi itu bisa melihat, mendengar, merasa, dan sebagainya. Barangkali, demikian alasan mereka lebih lanjut, Self itu harus dipikirkan dalam bingkai kemampuan mental untuk mencerap. Namun hal ini pun tampaknya tidak memadai, karena ihwal berpikir dan mengerti malah sepantasnya lebih merupakan Self daripada persepsi. Bahkan self yang berpikir dan mengerti juga ditolak sebagai Self tertinggi, sebab mesti ada sesuatu di balik yang memberi eksistensi untuk berpikir dan mengerti. Seperti ditandaskan Taittiriya Upanishad, “Berbeda dari dan dalam sesuatu yang merupakan pengertian, itulah Self yang adalah kebahagiaan” (II.5.1).

(20)

menyelimuti self indrawi. Dan lebih dalam dari self indrawi adalah kegiatan intelektual. Namun masih lebih dalam dari kegiatan intelektual adalah kebahagiaan dari kesadaran paripurna. Alhasil, Self tidak boleh disamakan secara ekslusif dengan salah satu bentuk yang lebih rendah dari pribadi, tetapi harus dipikirkan sebagai sesuatu yang berada dalam lapisan-lapisan yang bermacam-macam dari eksistensi. Self itulah yang memberi mereka hidup namun tetap terpisah dari mereka.

Dalam Kena Upanishad, pencarian terhadap Self tertinggi berbentuk sebuah pencarian terhadap agen tertinggi atau pelaku tindakn manusia. Si bijak bertanya: “Atas kehendak dan arahan siapa, pikiran memancarkan cahaya terhadap objek-objeknya? Atas perintah siapa, hidup yang pertama bergerak? Atas kehendak siapa, orang mengucapkan perkataan ini? Dan dewa manakah yang mendorong mata dan telinga?” (I.1)

(21)

berpikir? Namun pertanyaan itu bukan tentang proses fisiologis atau mental, melainkan tentang subjek tertinggi yang mengetahui. Siapa yang mengarahkan mata untuk melihat warna atau mengarahkan akal budi untuk berpikir? Si bijak beranggapan bahwa mesti ada satu pengarah batiniah, yaitu agen batiniah yang mengarahkan berbagai macam fungsi pengetahuan.

4. Bagaimana ajaran Taittiriya tentang tingkat atau lapisan eksistensi mengantar seorang untuk menemukan Atman?

(22)

hal ini membantu mereka untuk membedakan benda hidup dari benda mati, namun hal itu tidak merujuk pada Self tertinggi dari seorang, karena seorang lebih daripada sekadar makanan yang hidup. Pribadi itu bisa melihat, mendengar, merasa, dan sebagainya. Barangkali, demikian alasan mereka lebih lanjut, Self itu harus dipikirkan dalam bingkai kemampuan mental untuk mencerap. Namun hal ini pun tampaknya tidak memadai, karena ihwal berpikir dan mengerti malah sepantasnya lebih merupakan Self daripada persepsi. Bahkan self yang berpikir dan mengerti juga ditolak sebagai Self tertinggi, sebab mesti ada sesuatu di balik yang memberi eksistensi untuk berpikir dan mengerti. Seperti ditandaskan Taittiriya Upanishad, “Berbeda dari dan dalam sesuatu yang merupakan pengertian, itulah Self yang adalah kebahagiaan” (II.5.1).

5. Apa artinya ajaran Uddalaka “Itulah engkau (Tat tvam asi)?”

(23)

“Hakikat yang hampir tak kelihatan” yang dirujuk di sini adalah Brahman, yaitu sumber segala eksistensi. Jadi, ketika Shvetaketu tahu bahwa ia identik dengan self terdalamnya, yaitu Atman, dan bahwa Atman-nya identik dengan Brahman, maka ajaran mistik itu sudah diteruskan kepadanya. Tentu saja Shvetaketu tidak mengetahui Self itu hanya melalui pengertian konseptual tentang ajaran ini. Pengetahuan konseptual selalu bersangkut paut dengan objek, sedangkan Self yang mesti diketahui adalah subjek murni. Yajnavalkya menandaskan hal ini ketika ia memenuhi permintaan Ushasta Cakrayana untuk menjelaskan “Brahman yang serta-merta hadir dan dicerap langsung, yakni Self dalam segala sesuatu”. Yajnavalkya menjelaskan: “Inilah Self-mu yang ada dalam segala sesuatu”. Ketika pertanyaan dilontarkan lagi, “Apa artinya ada dalam segala sesuatu?” Yajnavalkya menjawab, “Engkau tidak dapat melihat pelihat yang melihat, engkau tidak dapat mendengar pendengar yang mendengar, engkau tidak dapat berpikir pemikir yang berpikir, engkau tidak dapat memahami pemaham yang memahami. Ia adalah Self-mu yang ada dalam segala sesuatu”

(24)

kesadaran diketahui, tetapi harus disadari secara langsung dalam pengalaman pencerahan diri.

BAB III VISI JAIN

1. Bagaimana pandangan Jainisme tentang materi karma? Diskusikan aspek massanya, aspek kekuatannya dan anasir-anasir atomiknya.

Kata karma berarti “membuat”, dan dalam Jainisme kata itu merujuk pada pembentukan dan penataan ulang materi karma yang membungkus jiwa. Namun pembentukan dan penataan ulang tersebut bukan sesuatu yang terpisah dari massa dan energi tubuh yang secara senantiasa dibentuk dan ditempa ulang.

(25)

membentuk pancaindra, pikiran kemampuan berbicara dan daya kehendak secara khusus dianggap halus dan indah, dan sama sekali berbeda dari materi kasar yang membentuk objek-objek fisik di dunia. Pandangan tentang karma sebagai satu kekuatan materi membedakan cara pandang Jain dari sisi tilik India lainnya yang melihat karma sebagai satu kekuatan psikologis atau metafisis belaka. Para penganut Jain tidak menyangkal dimensi moral, psikologis dan metafisis dari karma, tetapi mereka bersikukuh bahwa dimensi primer karma adalah satu kekuatan materi yang halus. Jadi, para penganut Jain sepakat dengan para pemikir India lainnya bahwa ide tentang karma adalah faktor penentu eksistensi di masa depan, dan juga sepakat bahwa setiap tindakan meninggalkan satu daya tersisa yang niscaya menampakkan dirinya sebagai faktor penentu eksistensi di masa depan.

(26)

jiwa menodai kebahagiaannya, menghalangi pengetahuannya dan membatasi energinya. Inilah alasannya mengapa materi dilihat sebagai rantai yang membelenggu jiwa.

3. Apa itu belenggu? Bagaimana belenggu itu terjadi? Bagaimana belenggu itu terbentuk?

Untuk mengerti tentang belenggu dan pembebasan, kita harus menyelidiki pandangan-pandangan Jain tentang realitas, pengetahuan dan moralitas. Bagaimana ketidaktahuan menciptakan belenggu yang menjelma dalam penderitaan dan kematian? Jawaban Jain menempatkan tanggung jawab pada pundak manusia sendiri. Pikiran, perkataan dan perbuatan manusia itulah yang menciptakan dan melanggengkan belenggu. Dan kebajikan dan kebijaksanaan manusia itulah yang dapat membebaskannya dari belenggu karma.

4. Dari apa terjadinya pembebasan itu dan bagaimana pembebasan itu dicapai? Diskusikan bagaimana iman, pengetahuan dan tingkah laku berperan bersama-sama untuk memampukan seorang mencapai jenjang pemurnian yang berbeda-beda.

(27)

Bagi seorang penganut Jain yang saleh, pencarian akan pembebasan merupakan pusat utama hidupnya. Empat jenis pengendalian atas tubuh, pancaindra, perkataan dan pikiran, bersama dengan lima kaul agung berupa pantang melukai, tidak mencuri, kemurnian seksual, kejujuran dan tidak loba dijalankan secara sukarela untuk mengontrol peralihan karma. Tambahan lagi, setiap penganut Jain menjalankan berbagai macam ulah tapa untuk membakar kekuatan-kekuatan karma yang sudah terakumulasi.

Kemajuan melalui jenjang-jenjang pemurnian dicapai dengan adanya perpaduan antara iman, pengetahuan yang benar dan tingkah laku yang murni – itulah “tiga permata” praktik Jain yang dapat menghentikan aliran masuk karma-karma destruktif yang disebabkan oleh tipu daya, pandangan-pandangan yang salah dan hawa nafsu.

Iman yang mendalam secara tradisional dipandang sebagai yang pertama dari tiga permata karena perwujudan atasnya menandai saat dalam hidup yang secara menentukan menjauhkan individu dari jalan belenggu lebih lanjut dan menuntunnya menuju pembebasan. Namun pertama-tama kita akan mengkaji pandangan Jain tentang pengetahuan dengan maksud untuk menghargai hakikat iman dan niscayanya iman.

(28)

Menurut metafisika Jain, realitas dibangun oleh substansi-substansi materiil dan spiritual yang tak terhitung jumlahnya; masing-masing substansi merupakan locus dari kualitas-kualitas yang tak terhitung jumlahnya. Tidak hanya ada substansi-substansi yang tak terhitung jumlahnya dan masing-masing substansi dengan kualitas yang tak terhitung jumlahnya, tetapi juga setiap kualitas mudah terkena modifikasi-modifikasi yang tak terbatas. Pengetahuan yang biasa (sifatnya tidak mahatahu) tentu saja tidak dapat mengerti secara penuh realitas yang kompleks ini, karena pengetahuan ini dibatasi oleh pengalaman indrawi dan akal budi, perspektif-perspektif yang dianut orang yang tahu dan oleh kondisi ruang, waktu, terang dan sebagainya.

Dengan menganalisis logika pernyataan bersyarat, para penganut Jain memunculkan satu skema rangkap tujuh untuk menyatakan satu kebenaran tentang satu objek khusus. Misalnya, pernyataan-pernyataan berikut mungkin menyangkut, katakanlah, suhu sebuah gelas air:

1. Mungkin panas (untuk orang yang keluar dari satu tempat dingin).

(29)

3. Mungkin panas, mungkin juga tidak panas, bergantung pada kondisi-kondisi tertentu.

4. Tidak bergantung pada semua kondisi, air tidak dapat dilukiskan (semua pengetahuan bertumpu pada kondisi-kondisi tertentu).

5. Tidak dapat dilukiskan dalam dirinya, air bisa dikatakan panas bergantung pada kondisi-kondisi tertentu (kombinasi 1 dan 4).

6. Tidak dapat dilukiskan dalam dirinya, air bisa dikatakan tidak panas bergantung pada kondisi-kondisi tertentu (kombinasi 2 dan 4).

7. Tidak dapat dilukiskan dalam dirinya, air bisa dikatakan panas dan bisa juga tidak panas bergantung pada kondisi-kondisi tertentu (kombinasi 3 dan 4).

(30)

semua pembatasan terhadap pengetahuan diatasi. Skema rangkap tujuh dari pernyataan bersyarat itu membuat kita mampu untuk mengenal kodrat yang bersifat sebagian dan tidak lengkap dari pengetahuan biasa manusia.

BAB IV

MASYARAKAT DAN INDIVIDU 1. Apa dilema Arjuna dalam Bhagavad Gita?

Arjuna mendapati dirinya tidak mampu menentukan hal benar untuk dilakukan. Pertanyaan khas ialah menyangkut keputusan Arjuna untuk berperang atau tidak berperang agar bisa merebut kembali kerajaan yang secara sah menjadi miliknya. Jawaban yang diberi Krishna, yang menyamar sebagai kusir kereta perang Arjuna, disajikan dalam term-term umum sehingga dapat dikenakan pada setiap pilihan moral tertentu. Jawabannya berkisar di seputar hakikat eksistensi manusia, hakikat realitas dan tujuan hidup.

(31)

tanpa hasil, karena seluruh pencarian pada dasarnya salah sasar.

Namun mengapa Arjuna membuat kekeliruan itu? Menurut Gita, itu karena kegagalannya membedakan antara self yang lebih rendah dan Self yang lebih tinggi. Self empiris yang lebih rendah itu dibentuk oleh aneka guna, yaitu untaian energi-materi (sattva, rajas dan tamas) yang merupakan dasar semua eksistensi psiko-fisik. Self empiris ini menutupi dan menggelapkan Self tertinggi, yaitu Atman. Self empiris itu membuat Arjuna menyangka bahwa self empiris itu adalah Self sejati. Itulah sebabnya mengapa Arjuna, yang berpendapat bahwa sungguh salah untuk terlibat dalam perang besar yang sedang ia persiapkan karena kebinasaan dan pembunuhan yang bakal terjadi, diberi instruksi oleh Krishna untuk mengalihkan perhatiannya kepada Atman yang kekal:

Hai Arjuna, bila seorang mengetahui bahwa Self tak dapat dibinasakan, abadi, tidak dilahirkan dan tak berubah, bagaimana ia membunuh atau menyebabkan orang lain membunuh?

2. Apa hubungan antara Self tertinggi (Atman) dengan self-guna? Mengapa penting pula pemilahan di antara keduanya?

(32)
(33)

tertinggi (Atman)? (Atau dari sudut pandang hal-hal biasa, apa hubungan antara hal-hal biasa dengan realitas tertinggi [Brahman]?); dan (2) Dengan cara apa seorang dapat mewujudkan atau mengalami Self tertinggi itu, yaitu Atman?

(34)

tidak permanen dan yang berubah-ubah, Arjuna mencari pemuasan dalam dunia yang berubah-ubah itu tanpa hasil, karena seluruh pencarian pada dasarnya salah sasar.

Namun mengapa Arjuna membuat kekeliruan itu? Menurut Gita, itu karena kegagalannya membedakan antara self yang lebih rendah dan Self yang lebih tinggi. Self empiris yang lebih rendah itu dibentuk oleh aneka guna, yaitu untaian energi-materi (sattva, rajas dan tamas) yang merupakan dasar semua eksistensi psiko-fisik. Self empiris ini menutupi dan menggelapkan Self tertinggi, yaitu Atman. Self empiris itu membuat Arjuna menyangka bahwa self empiris itu adalah Self sejati. Itulah sebabnya mengapa Arjuna, yang berpendapat bahwa sungguh salah untuk terlibat dalam perang besar yang sedang ia persiapkan karena kebinasaan dan pembunuhan yang bakal terjadi, diberi instruksi oleh Krishna untuk mengalihkan perhatiannya kepada Atman yang kekal:

Hai Arjuna, bila seorang mengetahui bahwa Self tak dapat dibinasakan, abadi, tidak dilahirkan dan tak berubah, bagaimana ia membunuh atau menyebabkan orang lain membunuh?

(35)

dapat terlihat? Inilah pertanyaan praktis yang sangat penting mengenai jalan untuk mewujudkan Atman. Jawaban Gita atas pertanyaan ini ialah bahwa self empiris mesti dikendalikan dan dikontrol sedemikian rupa sehingga ia tidak lagi mampu membingungkan seorang pribadi. Namun jawaban singkat ini tidak cukup, karena titik awal di jalan untuk realisasi Atman selalu ditempati oleh self yang tidak berpengetahuan, yang memandang dirinya dan dunia yang dibentuk aneka guna itu sebagai realitas tertinggi. Krishna perlu menghadirkan jalan-jalan untuk memperoleh pengetahuan tertinggi yang membebaskan, yang bermula di mana individu sungguh-sungguh ada, namun secara progresif mengantar ke pemahaman yang lebih tinggi, sampai seorang secara bertahap dibebaskan seluruhnya dari ketidaktahuan.

3. Apa tujuan-tujuan dasar dalam hidup (purusharthas)?

(36)

Jelaskan masing-masing tujuan itu dan Dharma

(37)

sosial karena ia menyajikan pedoman-pedoman yang mungkin untuk tindakan dalam masyarakat. Dharma memampukan pemenuhan diri individu dan pada waktu yang sama memberi sumbangan untuk pemenuhan diri orang-orang lain.

Artha

Kata artha berasal dari akar kata kerja ri (ejaan yang benar dari huruf devanāgarī ऋ = r, penerjemah) yang berarti secara harfiah “itulah yang menjadi tujuan seorang”. Dari arti dasar “tujuan”, artha lalu merujuk pada sesuatu hal atau keadaan yang menjadi tujuan seorang. Karena setiap orang menghendaki keuntungan dan keberhasilan, maka keberhasilan lalu menjadi arti biasa dari artha.

Pernyataan berikut dari Mahabharata dan Panchatantra, dua sumber nilai yang paling populer di India, mengungkapkan sikap lazim terhadap artha. Dalam Mahabharata, yaitu dalam satu pasal yang tidak hanya mendorong orang untuk mencari kekayaan, tetapi juga mengutuk tindakan-tindakan yang secara moral salah karena merampas kekayaan orang lain, dikatakan demikian:

(38)

satu keadaan berdosa. Segala macam perbuatan bajik mengalir keluar dari pemilikan akan harta kekayaan yang besar, sebagaimana dari kekayaan itu muncul semua tindakan religius, segala kenikmatan dan surga. Kekayaan menyebabkan terjadinya pencapaian kekayaan, seperti gajah-gajah menawan gajah-gajah. Tindakan-tindakan religius, kenikmatan, kebahagiaan, keberanian, nilai, dan pembelajaran, semuanya ini beranjak dari kekayaan. Dari kekayaan bertambahlah jasa seorang. Ia yang tidak memiliki kekayaan tidak memiliki dunia ini dan juga tidak memiliki dunia yang akan datang. Kumpulan cerita yang dikenal sebagai Panchatantra memuat pengamatan berikut.

Semerbak harum kekayaan (artha) sudah cukup untuk membangkitkan penciuman tajam satu makhluk. Dan kenikmatan kekayaan malah lebih dari itu. Kekayaan memberi kekuatan yang stabil, keyakinan dan kuasa. Kemiskinan adalah satu kutukan, lebih buruk daripada kematian. Kebajikan tanpa kekayaan tidak punya pengaruh. Kekurangan uang adalah akar dari segala kejahatan.

(39)

mengerikan sehingga seorang yang menyebabkan kemiskinan orang lain adalah orang terkutuk. Usaha untuk menjamin keberhasilan dan kuasa dipertahankan sebagai satu tujuan utama yang tunduk hanya pada pembatasan penting bahwa tiada artha yang dikejar dengan melanggar dharma.

Kama

Karena kekayaan dan kuasa tidak pertama-tama berharga untuk kepentingannya sendiri, tetapi terutama untuk kenikmatan yang bisa dihasilkannya, maka tujuan kenikmatan, kama, termasuk salah satu dari tujuan dasar dalam hidup manusia. Definisi klasik kama, yang mencakup kenikmatan seksual, namun melampaui arti sempit itu, dan mencakup segala macam kenikmatan, ditemukan dalam ajaran-ajaran Vatsyayana:

Kama adalah kenikmatan akan objek-objek sesuai dengan pancaindra, yaitu mendengar, merasa, melihat, meraba dan mencium, serta dilengkapi oleh pikiran bersama jiwa. Faktor utama dalam hal ini adalah kontak khusus antara alat indra dan objeknya, dan kesadaran akan kenikmatan yang diakibatkan oleh kontak itu disebut Kama.

Moksha

(40)

dengan arti harfiah kata itu, moksha berarti pembebasan Self yang lebih tinggi, yaitu Atman, dari tubuh, pikiran dan dunia. Tujuan hidup ini merefleksikan penekanan yang diletakkan pada kodrat spiritual hidup manusia di India. Menurut ajaran-ajaran Upanishad, Self sejati, Atman, berada di balik lingkungan fisik dan mental. Sesuai dengan konsep tentang kodrat manusia, kesempurnaan tertinggi seorang terletak dalam perwujudan diri, yaitu mewujudkan jati diri yang benar dengan Brahman, sumber tertinggi dan kuasa atas segala realitas. Oleh karena pandangan yang integral tentang eksistensi manusia, orang berpegang teguh pada pendirian bahwa pemenuhan kodrat biologis dan sosial seorang merupakan satu keharusan, meskipun hal itu bukan satu kondisi yang cukup untuk pemenuhan kodrat spiritual seorang. Jadi, pencapaian tiga tujuan pertama hidup manusia, yaitu dharma, artha dan kama, dilihat sebagai satu keharusan untuk mencapai tujuan akhir, yaitu moksha.

bagaimana masing-masing tujuan dihubungkan dengan yang lain?

(41)

mengatur bagaimana orang harus bertindak sehubungan dengan kekayaan dan kuasa termasuk dalam artha. Tata aturan yang mengatur bagaimana orang harus bertindak sehubungan dengan kenikmatan dan kesenangan termasuk kama. Akhirnya, tata aturan yang mengatur bagaimana seorang harus bertindak sehubungan dengan perwujudan dirinya dikelompokkan di bawah nama moksha. Dengan melihat jalan ini, tujuan manusia pada dasarnya untuk menjawab pertanyaan “bagaimana hidup ini harus dihayati?”

4. Mengapa hidup dibagi secara ideal ke dalam empat jenjang hidup (ashramas)?

Jika teori tentang kelas-kelas sosial terarah pada isu tentang bagaimana orang mempertahankan tata tertib sosial sambil bertindak sesuai dengan kodratnya sendiri, maka teori tentang jenjang-jenjang hidup (ashrama) menjawab pertanyaan: Bagaimana kehidupan pribadi seorang individu harus diatur untuk meningkatkan kemajuan dalam mencapai empat tujuan dasar hidup manusia sambil memperbesar sumbangannya untuk masyarakat? Institusi ashrama terdiri dari rangkaian empat jenjang dalam hidup yang diklasifikasi menurut kegiatan-kegiatan yang pantas untuk masing-masing jenjang.

(42)

jenjang-jenjang hidup dan sebagainya, dan ia diperkenalkan dengan seni disiplin diri.

Jenjang-hidup kedua adalah orang yang hidup berkeluarga. Semua teks mengenal pentingnya jenjang ini, karena seluruh masyarakat bergantung pada barang dan jasa yang diberi orang yang berkeluarga. Untuk mempertahankan dan mendukung masyarakat, seorang yang berkeluarga harus memegang teguh dharma, mengamankan ekonomi dan mendukung nilai-nilai budaya. Meskipun membesarkan anak dan memelihara orangtua serta menolong orang yang membutuhkan adalah kewajiban utama yang dihubungkan dengan seorang yang berkeluarga, namun inilah juga satu periode dalam hidup ketika keberhasilan duniawi dan kesenangan hidup harus dinikmati.

Jenjang ketiga, yang secara ideal adalah sepertiga dari masa hidup seorang, ialah orang yang berdiam di hutan. Pada jenjang ini, orang menarik diri dari masyarakat, melepaskan tujuan pengejaran keberhasilan dan kenikmatan, menyiapkan diri untuk tujuan spiritual jenjang keempat, yang di dalamnya moksha adalah tujuan satu-satunya.

(43)

pembebasan dari pikiran, tubuh dan dunia ini – dikenal sebagai moksha.

Usaha meletakkan dasar bagi institusi jenjang-jenjang hidup dan kelas-kelas sosial serta teori tentang tujuan-tujuan manusia, yang di dalamnya institusi-institusi itu menemukan pembenarannya, merupakan kepedulian tetap orang India agar seorang dapat berpartisipasi secara penuh dalam kehidupan sambil memenuhi kodrat spiritualnya melalui usaha untuk mewujudkan Atman. Menurut tradisi India, meskipun tujuan-tujuan itu mungkin tampak bertentangan satu dengan yang lain, namun mereka tidak saling menafikan. Baik partisipasi dalam kehidupan di dunia ini maupun pembebasan dari hidup di dunia ini tetap merupakan unsur-unsur yang perlu dari satu hidup yang ideal.

5. Apa itu empat varna? Bagaimana varna dibedakan dari kasta (jati)?

(44)

Referensi

Dokumen terkait

Skripsi Ai Ratna Ningsih pada tahun 1990 yang berjudul “Kehidupan Sosial Budaya Masyarakat Kampung Pulo Panjang (1976-1990) ini tidak jauh berbeda dengan Skripsi dari Iip

Klasifikasi agregat menjadi kasar, halus dan filler adalah berdasarkan ukurannya yang ditentukan menggunakan saringan. Mutu agregat mempengaruhi kekuatan dan ketahanan konkrit. Adapun

Persilangan dialel lengkap lima tetua terhadap bobot per 100 biji jagung memberikan kesimpulan bahwa tetua P4S3-29-4-4-1 memiliki rata-rata penampilan bobot yang

Sejalan dengan penelitian lain yang dilakukan oleh Ridwan Purnama dan Alfania Riska P (2016) yang menyatakan bahwa pemasaran langsung berpengaruh signifikan

Berdasarkan hasil penelitian diperoleh kesimpulan bahwa pelaksanaan ekstrakurikuler pramuka penggalang di SD Jaranan Banguntapan Bantul dapat dilihat dari 1) perencanaan pihak

‘‘Program ini sudah dilaksanakan di Fakultas Farmasi selama 4-5 tahun, mahasiswa Farmasi UNAIR sudah menjadi anggota dalam International Pharmaceutical Students’

Misi penting dari inisiatif Nabi membuat Piagam Madinah adalah satu sisi Nabi berhasil menyatukan penduduk Madinah dalam perjanjian damai, sedang sisi lain menguntungkan Nabi

diregenerasi atau tidak dengan agen pendesorpsi yang sesuai agar tidak menimbulkan kerusakan pada adsorben yang telah terlepas dari ion logam serapannya sehingga