Langitnya cukup tidak bersahabat untuk

32 

Teks penuh

(1)

Langitnya cukup tidak bersahabat untuk mengawali hari ini. Langit mendung, hujan dan udara dingin membuat malas untuk bergerak dan beraktivitas. “jalanan pasti becek, harus pakai jaket dan kemana-mana bawa payung” seorang perempuan yang masih berada di tempat tidurnya dan melihat suram keluar jendela kamarnya. Uap air menempel pada kaca jendela kamarnya. Dari tempat tidurnya bisa dengan jelas melihat ke langit luar. Perempuan itu menarik selimutnya kembali, menutupi seluruh tubuhnya. Pagi yang cukup membosankan dan membuat semangat hilang. Terlebih bagi mereka yang memang sudah malas untuk bergerak dan melakukan aktivitas rutinnya. HUJAN bisa dijadikan alasan terbaik untuk terlambat datang atau bahkan tidak datang. Beberapa orang bisa saja memakluminya, namun beberapa orang lagi bisa saja tidak menerima dan menolak alasan tersebut.

Kring kring kring kring… bunyi itu membuat berisik dan gaduh. Ruangan itu sangat rapi, semua tersusun rapi dan semua benda dan barang-barang berada pada tempatnya. Hanya tempat tidur yang masih berantakan dan acak-acakkan. Ya, seseorang masih menikmati mimpi indahnya. Dia masih berada dalam alam bawah sadarnya. Bunyi alarm Handphone dan jam beckernya saja tidak membuatnya terbangun. Dia masih saja berada dalam selimut, sementara jam dan handphonenya terus berdering.

(2)

“ mampus telat” perempuan itu langsung bangun dan duduk sambil melihat handphone dan jamnya. “ 28 panggilan tidak terjawab” perempuan itu kaget. Dia bahkan mengabaikan suara ketukan pintu yang sudah mulai berisik dengan suara-suara yang sepertinya memarahi dari luar. Perempuan itu segera bangkit dari tempat tidurnya dan membukakan pintu kamarnya.

“ kamu pikir sekarang jam berapa? Kamu ada acara jam 10.30 di rumah sakit, kamu akan telat. Anak perempuan apa yang bangunnya jam segini….” Suara perempuan yang sebaya dengan perempuan itu terus menerus menghujani perempuan yang sedang sibuk ke kiri dan ke kanan mempersipakan dirinya. Hari gadis dengan piyama berwarna biru itu di awali dengan ceramah pagi dari seorang perempuan yang sudah rapi dengan kemeja dan celana panjangnya. Satu jam kemudian perempuan itu telah siap dengan dirinya. Dia sudah rapi, rambutnya yang acak-acakkan dan wajahnya yang kusut sekarang sudah 180 derajat berubah menjadi segar. Walaupun dia agak sedikit kualahan karena perempuan dengan kemeja berwarna merah marun itu terus menerus menyuruhnya untuk bergegas dan mengingatkan berapa menit lagi tersisa.

“ oke, sekarang aku siap. Ayo berangkat!!!” ucap perempuan yang sudah rapi dengan tas dan jas putihnya yang digandeng sambil tersenyum lebar.

(3)

dan sepotong roti. Perempuan yang memegang jas putih itu meminum susu yang dibawakan perempuan itu.

“ terima kasih RATNA” ucap perempuan itu dan kemudian meminum susunya dan menghabiskannya. “ sekali ini aku terlambat NAD” perempuan itu tersenyum. “ ya… walaumpun sekali ini agak keterlaluan, lagian semalam aku lembur nanad” ucapnya meyakinkan perempuan yang terlihat kesal kepadanya itu karena sangat terlambat.

“ ayo berangkat” ucap perempuan itu dan meninggalkan perempuan dengan jas putihnya. Mereka meninggalkan rumah dan pergi dengan mobil. Perempuan dengan kemeja merah marun itu yang mengendarai mobil, sementara perempuan dengan rambut panjang sepunggung itu duduk di sampingnya, sambil merapikan riasan wajahnya. “ ya ampun, sekali-kali berdandan seperti ini jadinya, lain kali kalau kamu risih dengan dandananmu, jangan dipakai. Biasa saja!!” ucap perempuan dengan kemeja merah marun itu sambil tersenyum.

“ mana tahu nad, nanti di sana aku ketemu pangeranku” ucap perempuan dengan rambut panjang itu sembari terus merapikan dandannannya di cermin. “ AISHA, di rumah sakit jiwa siapa yang mau kamu temui?” ucap perempuan yang menyetir itu sambil tersenyum dan geleng-geleng.

(4)

“ tumben kamu berpikir seperti itu?” Tanya perempuan yang sedang menyetir itu kepada sahabatnya itu. Aisha terdiam sejenak. Dia kemudian tersenyum dan menyelesaikan riasannya yang sudah rapi sedari tadi. “ aku pikir kamu sudah gila karena masih lajang sampai sekarang” tambah perempuan itu lagi dan terus menyetir.

“ enak aja!! Begini begini aku bahagia, walaupun mamaku terus menerus mendesakku untuk mengenalkan calonku pada beliau” jelas perempuan dengan rambut panjang dan baju kemeja lengan pendeknya itu sambil tersenyum. perempuan ini tanpa riasan sebenarnya sudah cantik. Tapi entah kenapa dia ingin berdandan hari ini, mungkin untuk menutupi matanya yang berkantung karena tidak tidur semalaman. Sekarang saja dia masih mengantuk, setidaknya riasan itu menutupi wajahnya yang masih kusut. Hari ini wanita yang dipanggil aisha ini mengisi acara di sebuah rumah sakit jiwa. Dia menjadi pemateri tentang HIV AIDS dan NARKOBA. Maklum saja dia adalah seorang psikolog. AISHA dan NADIA menjadi pemateri dalam acara tersebut. Acara itu dihadiri oleh MAHASISWA dan SISWA SMA dan beberapa orang lagi adalah mantan pecandu narkoba. NADIA adalah seorang dokter. Mereka sebaya dan bersahabat dari kecil. Bahkan orangtua mereka. mereka akhirnya sampai di rumah sakit itu. nadia memarkirkan mobilnya, setelah itu turun bersama Aisha. Seorang dengan seragam dokternya dan jas putihnya datang menghampiri mereka.

(5)

“ tidak masalah dokter” jawab aisha dan mereka berjalan menuju ruangan seminar tersebut. “ ini pertama kalinya saya ke sini” gumam aisha. Nadia dan perempuan berjilbab itu tersenyum mendengarnya. Para peserta sudah duduk rapi ditempat mereka. mereka siap mendengarkan penyampaian materi dari aisha dan nadia. Aisha memperhatikan sekelilingnya. Dia selalu memperhatikan sekelilingnya. Moderator telah siap di depan dan memperkenalkan mereka berdua. Acara itu berjalan lancar. Selama dua jam lebih mereka berbiacara. Banyak pertanyaan yang datang, semua peserta aktif bertanya. Jam 14.00 WIB acara tersebut selesai. Aisha juga penulis buku. Dia menciptakan beberapa novel dan salah satunya menjadi best seller. Peserta yang datang membawa bukunya diberikan tanda tangan. Tidak sia-sia dia menerima tawaran nadia. Pesertanya aktif dan dia sangat menyukainya. Selesai istirahat dan makan siang, aisha dan nadia berpamitan kepada panitia penyelenggara seminar tersebut.

Perhatiannya teralihkan pada sesuatu saat dia dan nadia sedang berbicara dengan dokter yang tadi menyambut mereka di pintu aula rumah sakit itu. aisha bahkan memutar tubuhnya untuk terus bisa melihat hal itu. “ aisha, kamu melihat apa?” Tanya nadia sambil memegang tangan aisha yang terus memperhatikan sesuatu dan kemudian dia seperti mencari sesuatu. Dia seperti kehilangan.

(6)

sekelilingnya. Dia mencari sesuatu. Dia ingin menemukannya. dia terus menulusuri setiap lorong. “ kemana perginya?” gumamnya dan terus memperhatikan sekelilingnya. Saat aisha membalikkan badannya, dia menabrak seseorang.

“ maaf, saya tidak sengaja” aisha membuat minuman yang dibawa orang itu tumpah dan membasahi baju orang yang ditabraknya itu. aisha spontan membersihkan dengan lengan jas putih yang dikenakannya itu. “ ada bekasnya lagi..”minuman itu meninggalkan bekas dibaju kaos berwarna biru yang dikenakan orang itu.

“ sudah, tidak apa-apa. Lengan jas anda bisa kotor juga dokter” ucap orang itu dan dia adalah seorang laki-laki. Tubuhnya jauh lebih tinggi daripada aisha. Ketika mereka berdiri berhadapan seperti itu, aisha setinggi dagu laki-laki itu. aisha merunduk sehingga tidak melihat wajah laki-laki putih dan rambutnya cukup panjang itu. aisha baru sadar kalau lengan jasnya juga kotor dan dia berdiri terlalu dekat dengan laki-laki itu. aisha mundur.

“ sekali lagi saya minta maaf” ucap aisha sambil melihat ke arah laki-laki itu. matanya membesar. Dia deg-deggan. “ketemu” ucap aisha dalam hatinya. “ tidak apa-apa, ini bisa hilang kok kalau dicuci.” Ucap laki-laki itu tersenyum sambil merapikan bajunya. “ apa kita pernah bertemu sebelumnya?” Tanya laki-laki itu kepada aisha.

(7)

“ tunggu dulu, kamu kenapa pakai jas ini? Seingatku, kamu bukan dokter.” Ucap laki-laki itu mengingat kembali kenangannya beberapa tahun silam. Saat mereka masih kuliah.

“ iya, tapi aku bisa memakai jas ini kalau berada di sini” tambah aisha sambil tersenyum.

“ kamu kerja disini?” Tanya laki-laki dengan tubuh yang atletis itu dan terus memperhatikan aisha yang duduk disampingnya. Sudah lama tidak bertemu.

“ tidak, ada seminar di sini, jadi aku menjadi pematerinya. Kamu ngapain di sini?” jelas aisha dan dia mulai bertanya untuk melepaskan rasa penasarannya terhadap laki-laki itu. laki-laki itulah yang dicarinya dari tadi.

“ kamu tahu kan, kalau aku bekas pemakai dulunya dan aku aktif dalam organisasi anti narkoba?” Tanya laki-laki itu kepada aisha. Aisha sepertinya lupa. Dia mencoba mengingatnya kembali dan dia mengangguk. “ sampai sekarang aku masih aktif di sana, ini kunjungan rutinku ke tempat-tempat rehab. Aku mau menyemangati mereka.” jelas laki-laki itu dengan wajah sedihnya dan aisha sepertinya berempati kepada hafih. “ kamu semakin hebat ya sekarang, dari dulu sampai sekarang aku semakin salut sama kamu.” ucap hafih dan membuat aisha menatapnya sambil tersenyum.

(8)

ketika dia melihat wajah aisha yang memerah. “ dan wajah kamu selalu memerah setiap kali di becandain.” Tambah laki-laki itu dan aisha menutup pipinya dengan kedua tangannya. Laki-laki itu tertawa.

“ apa sih kamu…” ucap aisha malu. Aisha memperhatikan sekelilingnya. Rumah sakit itu sangat tenang. Di dekat mereka tidak terlalu banyak aktivitas, mungkin karena sekarang hari libur. Udara di rumah sakit itu sangat sejuk, banyak pepohonan di sana. sementara itu, Nadia sudah mulai gelisah menunggu aisha yang sudah lama tidak datang. Dia terus melihat ke sekelilingnya. Namun tidak ada tanda-tanda aisha akan datang. Aisha juga tidak membawa telepon selulernya. Hingga akhirnya nadia memutuskan untuk mencari aisha. Dia mengelilingi tempat yang sudah tidak asing lagi baginya. Nadia adalah salah seorang dokter yang bekerja di rumah sakit tersebut. Sementara aisha baru sekali ini datang ke rumah sakit tersebut. Nadia takut sahabatnya itu tersesat atau tidak tahu jalan keluar, atau bisa saja keasikkan berbicara dengan seseorang di salah satu bagian rumah sakit dan melupakan dirinya yang sudah lama menunggunya dari tadi.

(9)

“ kalian berdua saling kenal?” Tanya nadia kepada hafih dan aisha. Mereka bertiga saling tatap. Hafih berdiri dari duduknya.

“ dokter sahabatnya aisha?” Tanya hafih seperti tidak percaya dan kemudian tersenyum.

“ kita kenalnya sudah lama nad, tapi baru ketemu sekarang aja.” Jawab aisha. “ oh aku tahu, karena hafih sering ke sini makanya kalian berdua saling kenal.” Tebak aisha. Hafih dan nadia mengangguk. Nadia menatap aisha dengan tatapan aneh. Aisha memegang tangan nadia dan tersenyum sambil melirikkan matanya. “ oh ya, fih. Lain kali kita ngobrol lagi ya? Aku lupa kalau nana dada janji sama suaminya.” Ucap aisha sambil tersenyum dan menarik tangan nadia. Nadia seperti mengerti maksud aisha. Mereka berpamitan dan akhirnya meninggalkan hafih yang terus memperhatikan mereka dari kejauhan. Nadia dan aisha berbisik-bisik kecil sampai mereka masuk ke dalam mobil.

“ aku tebak ya sha, dia adalah cowok yang kamu suka beberapa tahun lalu.” Ucap nadia saat dia mulai menghidupkan mobilnya. “ kamu sok tahu nad” aisha duduk manis disamping kemudi dan memasang sabuk pengamanannya. “ ya ampun sha, apa sih yang aku nggak tahu tentang kamu.” jelas nadia sambil memuta setirnya dan mereka meninggalkan rumah sakit.

(10)

“ sha” nadia menyenggol bahu aisha dengan tangannya. Aisha kaget. “ kenapa kamu? mikirin apa?” Tanya nadia yang penasaran dengan sahabatnya itu. mendadak dia sedikit berubah. Seperti ada yang dipikirkan. “ kamu jatuh cinta lagi?” Tanya nadia kepada aisha sambil tersenyum.

“ enak aja. Aku Cuma kaget aja ketemu dia tadi.” Jawab aisha sambil melihat ke luar jendela. Hujan turun lagi. Jalanan perlahan basah. Awan gelap. Angin bertiup agak kencang. “ ketemunya juga karena tadi kamu mencari dia. Coba kamu abaikan saja dri awal, pasti nggak akan tabrakkan dan akhirnya ketemu.” Celoteh nadia terus mengemudikan mobilnya. “ pakai hujan lagi” gumam nadia dan aisha hanya diam. “ masih jaman galau buk?” Tanya nadia yang kembali heran melihat sikap aisha. Seperti banyak hal yang dipikirkan. Berbeda dari yang tadi pagi. Aisha yang cerewet. Hujannya semakin deras. Jalanan cukup ramai. Mobil jalannya perlahan.

“ aku nggak galau nanad. Kamu kenapa nggak pernah cerita kalau hafih sering ke rumah sakit?” Tanya aisha dengan nada sedikit kesal karena selama ini nadia ternyata sering bertemu dengan hafih dan mereka juga terlihat akrab.

(11)

diam. Aisha lagi-lagi terdiam. “ ya, aku ingat!! Mama kamu pernah marah besar karena itu.” nadia mengingat kembali kenangannya beberapa waktu lalu yang telah berlalu. “ jadi benar?” Tanya nadia kepada aisha. Aisha terdiam. Nadia kaget. Dia sangat paham sahabatnya itu. jika pertanyaan itu sudah menyudutkannya dan dia hanya diam sambil memegang tepian bajunya itu pertanda iya.

“ sudahlah nad, semuanya sudah berlalu juga” ucap aisha dengan nada sedikit kesal bercampur sedih.

(12)

“ aku tidak mampir ya sha?” ucap nadia menghentikan mobilnya begitu sampai di rumah aisha. “ aku ada janji sama MAS ILHAM “ tambah nadia menatap aisha.

Aisha mengambil tas dan jas putinhnya. “ iya nanad, titip salam untuk mas Ilham ya?” aisha membuka pintu mobilnya. “ oya, aku masih nagih oleh-oleh dari italinya.” Gumam aisha sebelum dia keluar dari mobil. ada atap di tempat nadia memarkirkan mobilnya di rumah aisha. Tempat itu sekaligus sebagai bagasi, jadi aisha tidak perlu lagi menyediakan ruang untuk bagasi mobilnya. Sebenarnya bagasi di rumah itu sudah ada, tapi di rombak oleh aisha sebagai perpustakaannya. Tempat dia meletakkan semua koleksi buku-bukunya dan juga tempat bersantai. Seorang perempuan yang kira-kira berumur 36 tahun menghampirinya dan mengambil tas dan jas aisha ketika dia baru masuk. Aisha menghela nafas panjang, dia melihat ke seisi rumah. Rumah itu terasa sangat besar dan luas. Tiba-tiba dia merasa kesepian dan sedih.

“ malam ini, kita nonton flm apa buk?” Tanya perempuan itu sambil tersneyum kepada aisha. Namun aisha tidak mengubris. Dia masih saja terdiam dan melihat ke depan. Memperhatikan setiap sudut. Lagi-lagi dia menghela nafas panjang.

(13)

“ eh iya buk?” ratna kaget dan dia hampir menjatuhkan tas aisha. Aisha mengerutkan dahinya melihat sikap ratna. “ saya bingung mau jawab apa mbak.” Ratna mengerutkan dahinya.

“ mbak ratna sudah masak?” Tanya aisha sambil memperhatikan ratna dari atas sampai bawah. Ratna sedikit kusut. Rambutnya acak-acakkan. “ jangan masak ya mbak? Kita makan di luar saja malam ini.” Ucap aisha kepada ratna. Ratna sepertinya sangat senang karena dia tidak harus masak makan malam ini. “ ada tempat makan baru mbak, kata teman aisha di sana enak. Kita makan di sana saja nanti malam. Habis itu nonton di bioskop.” Aisha seperti bersemangat kembali. Ratna juga sepertinya sangat senang. Dia tersenyum-senyum dari tadi.

“ tapi mbak, sekarang belum akhir bulan?” Tanya ratna kembali bingung. Dia sangat mudah bingung. Aisha terkadang sangat suka mengerjai ratna. Kalau ada mamanya aisha di rumah, dia pasti sudah dimarahi mamanya setiap kali mengerjai mbak ratna. Mbak ratna adalah keponakan dari simbok, orang yang selalu ikut bersama keluarga aisha. sekarang yang menemani aisha kemanapun dia pergi adalah mbak ratna. Mbak ratna sudah ikut dengan aisha selama empat tahun lebih. Dulunya dia pernah menikah, saat umurnya 18 tahun. Namun ketika 8 tahun pernikahan, suaminya meninggal karena kecelakaan. Mbak ratna tidak mempunyai anak dengan suaminya tersebut dan sampai sekarang beliau belum pernah menikah semenjak saat itu. 4 tahun sebelumnya mbak ratna pernah bekerja dengan orang lain, namun dia tidak betah karena majikannya tergolong kasar dan pelit. Hingga akhirnya beliau ikut dengan aisha.

(14)

mbak ratna cengengesan dan mereka berjalan ke kamar aisha. ratna menaruh tas dan aisha di tempatnya, di rak-rak yang sudah di siapkan oleh aisha untuk semua barang-barangnya. Aisha mengganti pakaiannya. Sementara ratna merapikan barang-barang aisha. beliau juga mengambil sampah yang ada di tempat sampah. Aisha mencuci wajahnya dan dia mengambil wudhu untuk sholat aihar. Setelah itu aisha istirahat sejenak karena malamnya dia akan berpetualang dengan mbak ratna. aisha sangat suka mengajak ratna jalan-jalan. Biasanya mereka pergi setiap akhir bulan. Tapi kali ini aisha butuh waktu untuk bersenang-senang. Rasanya satu hari ini dia mengerjakan sesuatu yang berat. Padahal dia hanya jadi pembicara selama 2 jam. Jika dibandingkan dengan waktunya bekerja sehari-hari itu belum seberapa. Jika tidak dihari libur dia bisa bekerja pagi bertemu pagi dan rasanya tidak seberat hari ini. Mungkin ini karena perasaannya yang sangat lelah. Terlebih dia bertemu dengan seseorang dari masalalu. Seseorang yang dulu pernah mampir dalam hidupnya dan mungkin juga pernah mengisi hatinya. Kali ini orang itu hadir kembali, dengan waktu dan keadaan yang berbeda. Sejenak aisha diusik oleh kenangannya, sebelum matanya tertutup dan dia hilang dalam tidurnya.

(15)

tulisannya. Aisha juga mengenakan sandal berwarna putih. Simple dan santai itulah mereka.

“ mbak ratna cantik malam ini.” Puji aisha saat dia turun dari tangga dan menghampiri ratna sambil memberikan dompetnya kepada ratna. ratna orang kepercayaan aisha. dia tidak ragu menitipkan barang berharganya kepada ratna.

“ belum secantik mbak aisha” ratna tersipu malu dan aisha tersenyum. mereka seperti tante dan keponakan. Ratna semenjak bekerja dengan keluarga aisha, beliau merasa seperti muda. Terkadang adik dan kakak aisha juga sering mengajaknya pergi jalan. Mulai dari restaurant paling mahal sampai yang diemperan. Mulai dari mesjid sampai ke diskotik. Dia sudah pernah memasukinya. Malam ini milik mereka berdua. Di bioskop ada beberapa orang yang menggoda mereka, tapi keduanya hanya cuek dan tidak mengacuhkan.

Beberapa hari berlalu. Aisha disibukkan dengan pekerjaannya setiap hari. Dia bekerja di sebuah rumah sakit swasta ternama dan juga pemerintahan. Dia juga mempunyai praktek sendiri. dia juga bekerja di kepolisian. dia juga aktif dalam beberapa kegiatan lainnya. Dia bekerja sering pergi pagi pulang pagi dan terkadang hanya beberapa jam di rumah.

(16)

“ SAFA, maaf saya masih ada yang sedang dikerjakan. Setelah ini selesai, baru saya makan siang.” Ucap aisha kepada perempuan cantik dengan rambut panjangnya yang di lepas. Perempuan muda itu tersenyum. “ oya satu lagi, tolong pesankan saya makan siang saja. Mungkin saya tidak sempat makan di luar.” Jelas aisha kepada perempuan itu lagi.

“ baik mbak, saya permisi kalau begitu.” Ucap gadis perempuan dengan lembut dan aisha kembali melanjutkan pekerjaannya. Ada banyak kertas di meja itu. sepertinya pekerjaan itu harus diselesaikan. Di ruangan kerja yang cukup besar dan lapang itu ada beberapa meja dan beberapa rak buku acuan. Ruangannya rapi dan bersih. Ada sebuah set sofa. Ada sebuah meja besar yang biasa mereka gunakan untuk rapat. Di ruangan itu tidak hanya aisha saja yang ada. Tapi juga ada tiga orang lagi. Perempuan yang tadi mengajaknya makan siang dan ada dua orang laki-laki. aisha masih asisten dari atasannya. Beliau seorang laki-laki. Beliau jarang hadir karena selain bekerja di rumah sakit, beliau seorang dosen di salah satu universitas ternama. Beliau juga dosen aisha dulunya.

Sore menjelang, aisha menyelesaikan pekerjaannya. Dua orang juniornya, safa dan ada satu lagi laki-laki yang sedang mengerjakan sesuatu di mejanya. “ saya pamit duluan, safa laporannya besok pagi saya tunggu.” Ucap aisha yang sudah rapi dengan tas ditangannya dan beberapa berkas di tas satunya lagi dan juga jas abu-abu yang digantung di tas tangannya. Aisha bersiap meninggalkan ruangan itu. dia melangkah keluar dan menuju mobilnya.

(17)

mengerjakan laporan yang diminta oleh aisha. sementara itu jalanan mulai padat. Aisha mengemudikan mobilnya sendiri. dulu dia punya sopir, tapi si bapak masih dikampungnya, sehingga dia menyetir sendiri kemana-mana. Aisha tidak berniat untuk mencari pengganti sopirnya itu. dia masih ingin menunggu sopir lamanya. Aisha harus mengantar hasil pemeriksaannya ke kantor polisi. Ada sebuah kasus yang harus dia selesaikan. Aisha sebagai saksi ahli dalam kasus itu.

“ hey” sapa seseorang saat aisha hendak keluar dari kantor polisi. Dia sibuk mencari kunci mobilnya di tas sambil perlahan berjalan keluar dari kantor polisi sehingga tidak melihat siapa saja yang menyapanya. “ ya” balasnya sambil berlalu dari laki-laki itu. laki-laki dengan putih dan garis-garis hitam, membuat laki-laki yang bertubuh tinggi itu semakin tinggi. Dia mengenakan celana katun hitam. Laki-laki itu terlihat formal dengan pakaian dan sepatu kulitnya yang sedikit stylish. Hanya saja rambutnya yang sedikit panjang, tidak seperti kebanyakan laki-laki dengan baju cokelat yang lalu lalang sambil tersenyum kepadanya di dekat pintu masuk kantor polisi tersebut. Laki-laki itu tersenyum melihat tingkah aisha yang menyahut sapaannya tanpa menoleh ke arahnya. Mereka datang dari arah yang berlawanan. Laki-laki itu mau masuk, sementara aisha baru saja akan meninggalkan kantor itu. laki-laki itu membalikkan badannya dan ingin menyapa aisha.

(18)

Laki-laki itu sepertinya sedikit keberatan. Dia menoleh kebelakangnya, ke tempat tadi dia melihat seorang perempuan yang di sapanya. Perempuan itu hilang. Laki-laki itu sempat mencari di sekelilingnya, sebelum akhirnya dia mengikuti Laki-laki-Laki-laki dengan tubuhnya yang besar itu ke sebuah ruangan.

Beberapa waktu berlalu, malam menjelang. Hafih begitulah nama laki-laki dengan kemeja putih dan garis-garis hitam itu. dia sekarang tidak lagi berada di kantor polisi. Dia sekarang berada di sudut kota lainnya. Di sebuah tempat yang ramai sekali dengan buku. Ada banyak orang yang berada di tempat itu. mereka sibuk dengan pilihannya masing-masing. Hafih juga sama. dia memilih-milih buku bacaan yang cocok dengan seleranya. Dia melihat satu persatu buku yang ada di rak.

(19)

“ kamu yang menulis?” Tanya laki-laki itu tanpa menoleh kebelakangnya. Dia hanya menebak suara siapa yang dibelakangnya. Lalu seorang perempuan dengan celana pendek tiga perempatnya yang berwarna hitam itu pindah ke samping laki-laki itu. perempuan itu menguncir kebelakang rambutnya. Dia tersenyum sambil mengangguk. “ kapan?” Tanya laki-laki itu sepertinya dia takjub dan tidak percaya.

“ beberapa waktu lalu, itu buku ku yang ke tiga.” Jawab perempuan itu sambil melihat rak buku yang ada dihadapannya. Dia juga memilih beberapa buku.

“ semuanya pengalaman?” Tanya laki-laki itu, memegang buku itu dan mengikuti perempuan yang mengelilingi rak buku yang ada di dekat mereka. perempuan itu mengangkat bahunya, pertanda “entahlah”. Laki laki itu terlihat senang. “ menurut ku iya” ucap laki-laki itu mengambil beberapa buku yang ada di dekatnya. “ kalau begitu, ada aku dicerita kamu?” Tanya laki-laki itu spontan. Perempuan itu menghentikan langkahnya. Dia membalikkan badannya dan menghadap laki-laki yang lebih tinggi darinya. Perempuan itu menarik nafasnya dalam-dalam.

“ sok tahu” perempuan itu tersenyum dan membalikkan badannya. “semua cerita ku fksi. Tidak pernah jadi nyata.” Tambah perempuan itu saat membalikkan badannya. dia mengambil dan menemukan sebuah buku. “ aku sudah menemukan yang ku cari” ucapnya sambil memperlihatkan sebuah buku kepada laki-laki yang dari tadi mengikutinya. “kamu?” Tanya perempuan itu sambil melihat ke arah teman laki-lakinya itu.

(20)

memberikan kredit cardnya kepada kasir saat aisha baru saja mengeluarkan dompetnya.

“ nggak usah,..” ucap aisha dan semuanya sudah dibayarkan oleh hafih. Aisha sedikit berberat hati. Dia mengambil bukunya. “terima kasih” ucap aisha sambil tersenyum dan mengambil bukunya. “ aku duluan kalau begitu.” Ucap aisha kepada hafih berpamitan. Hafih mengerutkan dahinya.

“ tidak bisakah kita makan malam dulu? atau mungkin minum bersama?” Tanya hafih dengan nada agak pelan. Dia masih ingin berbicara banyak dengan aisha. aisha seperti terburu-buru. Dia secepatnya ingin pergi dari sana. tidak ingin lebih lama lagi tinggal. Perasaan janggal dan aneh sudah merasukinya. Dia tidak ingin hanyut lagi dalam perasaan aneh dan mengusiknya kembali. Perasaan itu bisa saja merusak semuanya. “ apa kamu sangat sibuk?” Tanya hafih kembali. Wajahnya sedikit sedih dan penuh harapan. Aisha bisa melihat itu. dia tidak bisa menolak kali ini. Di sebelah toko buku itu ada sebuah café dan mereka pergi ke sana. mereka memesan makanan dan membayarnya. Lalu memilih salah satu tempat duduk. Mereka memilih tempat yang nyaman dekat jendela kaca sehingga bisa melihat jalanan dan langit malam. Sebuah sofa berbentuk bundar dan mejanya yang bulat menghadap ke jendela.

“ jadi,” mereka serentak memulai pembicaraan. “ kamu duluan.” Ucap aisha sambil tersenyum.

(21)

“ oke.” Aisha menelan ludahnya. Dia sebenarnya tidak tahu harus memulai dari mana. Pertanyaan seperti apa yang cocok. Ketika di rumah sakit, hafih yang memulai pembicaraan. Mereka hanya berbicara masalah materi yang dibawakan aisha ketika seminar. Berbicara banyak tentang mereka yang mengalami kecanduan. Namun, berbeda dengan sekarang. Malam ini. Aisha tidak tahu harus bertanya dari mana. Hafih sudah siap mendengarkan aisha berbicara.

“ apa kesibukan kamu sekarang?” Tanya aisha kepada hafih. Pertanyaan terlalu formal. Dia takut hafih akan meledeknya.

“ aku sekarang bekerja di perusahaan keluarga. Selain itu, aku juga sibuk membantu mereka yang senasib denganku. Kalau kamu?” Tanya hafih kembali. Aisha sudah menebak percakapan ini akan menjadi kaku.

“ aku bekerja di rumah sakit dan kalau ada waktu senggang aku nulis.” Jelas aisha dan dia tidak tahu lagi bertanya apa. Makanan dan minuman yang mereka pesan datang. Seorang pelayan dengan topi cokelat, celemek berwarna cokelat dan baju seram berwarna putihnya datang membawakan pesanan mereka. “ terima kasih” aisha tersenyum kepada pelayan perempuan itu. hafih memperhatikan dengan wajah yang ikut tersenyum juga.

“ kamu tidak berubah” gumam laki-laki itu dan membuat mereka bertatapan. Jantung aisha berdegup kenjang. Dia mengalihkan pandangannya ke makanan yang dipesan dan minumannya. “ tadi sore, kamu ngapain ke kantor polisi?” Tanya hafih setelah menyeruput minumannya.

(22)

“ aku manggil kamu dan sambil berlalu kamu jawab “ya” “ ucap hafih dengan ekspresinya yang lucu. Bibirnya menjadi kriting dan kepalanya digoyang kiri dan kanan. Aisha tertawa melihat ekspresi itu. “ kenapa kamu tertawa?” hafih heran.

“ ekspresi kamu itu lucu.” Ucap aisha menyelesaikan tawanya. Mata hafih berbinar-binar. Tatapannya tidak berpindah dari aisha. dia sepertinya sangat senang bertemu dengan aisha. “ maaf, tadi aku buru-buru.” Jawab aisha dengan wajah mengiba. Hafih memegang kepala aisha dan mengacak rambutnya. Jantung itu kembali berdegup kencang. Aisha takut wajahnya akan memerah dan hafih melihatnya. Aisha melempar pandangannya ke jendela.

“ apa selama ini kamu baik-baik saja?” Tanya hafih dengan nada pelan setelah beberapa waktu mereka diam untuk sejenak. Hafih menopang dagunya dengan tangan kanannya. Lengan kemejanya yang panjang di angkat sampai mata siku. Dada aisha terasa sesak. Dia terus melihat ke luar. Dia berusaha mengabaikan pertanyaan itu. dia tidak tahu harus menjawab apa. Hafih terus menatap aisha yang memalingkan pandangannya dari dirinya.

“ aku baik-baik saja” ucap aisha setelah beberapa saat mereka terdiam. Malam itu terasa lama. Mereka masih berada di tempat itu. satu dan yang lainnya seperti tidak ingin beranjak. Aisha ingin sekali pergi, tapi ada hal yang menahannya untuk tetap di sana, sampai nanti waktu lagi yang memisahkan mereka.

(23)

“ sudah waktunya kita pulang, café ini akan tutup.” Ucap aisha sambil melihat jam di tangannya.

“ baiklah.” Mereka kemudian berdiri dan berjalan keluar dari café itu. hafih berjalan di depan dan aisha mengikuti di belakangnya. Mereka mendekati mobil masing-masing. Mobil mereka ternyata berdekatan parkirnya. “ aku harap ini bukan yang terakhir.” Ucap hafih sebelum mereka benar-benar berpisah lagi.

“ ya.” Aisha tersenyum tipis. Ada perasaan aneh. Perasaan sedih, lega, entah apa lah namanya.

“ kamu hati-hati di jalan. Semoga kebetulan lagi yang mempertemukan kita.” Ucap hafih sebelum aisha masuk ke dalam mobilnya. Aisha tersenyum dan masuk ke dalam mobilnya.

“aku harap ini yang terakhir dan tidak ada kebetulan lagi.” Ucap aisha saat dia sudah berada di dalam mobil dan meninggalkan hafih yang melihat mobilnya aisha benar-benar hilang dari pandangannya. Aisha terus mengemudikan mobilnya. Jalanan sepi dan dia bisa sesuka hatinya. Ada perasaan aneh. Perasaan itu sangat bertentangan dengan otaknya. Dia tidak tahu harus bagaimana. Perlahan airmata jatuh dari pipinya. Sangat sakit mengingkari rasa itu. rasa yang sebenarnya tidak berkejelasan. Apakah ini rasa yang dulu ada, atau ini hanya bentuk kekecewaan yang belum hilang. Aisha mengenepikan mobilnya. Dia cukup lama diam dan mematikan mobilnya. Dia merundukkan wajahnya dan airmata mengalir dari matanya.

(24)

mereka berpisah tadi. Malam menjadi panjang. Hafih pulang ke rumahnya. Di rumah yang besar dan megah itu hanya ada dia. Laki-laki itu tinggal di rumah yang besar, megah dan mewah itu bersama dengan beberapa orang asiten rumah tangganya, satpam dan tukang kebunnya. Dia masuk ke kamarnya. Ruangan yang sangat besar. Ada ruangan kerja, sofa, tempat tidur, ruangan tempat pakaian dan segala macam atributnya dan juga kamar mandi. Di kamar itu ada sebuah hiasan dinding yang cukup besar dan ditutupi dengan sebuah kain putih. Lukisan itu berada di ruangan kerjanya. Tepat dibelakangnya. Laki-laki itu membuka bajunya. Tubunya berotot. Perutnya six pack. Tubuhnya ideal. Tapi ada bekas luka di punggung sebelah kanannya. Bekas jahitan. Sepertinya luka itu sangat besar dan parah. Dia menghidupkan music instrument dengan rythme pelan.

(25)

dan menjadi dokter di sana. di salah satu rumah sakit. Dahulunya, mereka sering berpindah-pindah antar Negara. Oleh sebab itu aisha sangat tidak menyukainya. Dia lebih memilih tinggal dengaan oma dan opanya.

Sekarang kedua orangtuanya sudah menetap di Belanda. Mereka juga punya rumah sendiri di sana. mamanya aisha sampai sekarang masih bekerja sebagai dokter dan papanya juga masih bekerja. Mereka belum pension. Bahkan sekarang papanya menjadi dosen di salah satu universitas terkenal di belanda. Kakak aisha sudah menikah dengan seorang perempuan keturunan arab Indonesia. Mereka juga menetap di belanda. Sementara adik aisha, si bungsu dia bekerja di perusahaan otomotif terkenal. Kakak tertua aisha adalah seorang dokter spesialis jantung. Sedangkan istrinya adalah spesialis kandungan. Jarak aisha dan kakak laki-lakinya 5 tahun, sedangkan dia dan adiknya hanya 3 tahun. Adik aisha seorang perempuan. Dia sebentar lagi akan menikah dan pulang ke Indonesia, karena setiap kali ada yang menikah itu harus di tanah air. Omanya aisha sudah meninggal. Opanya tinggal di desa bersama dua orang sepupunya yang memilih jalan sama dengan dirinya. Opa disibukkan dengan kegiatan beliau bercocok tanam, berkebun, melukis dan banyak hal lainnya. Sesekali beliau mengunjungi aisha. opa sudah tua. Rambutnya sudah memutih semua. Tapi beliau masih kuat untuk berlari bersama aisha, jika beliau datang berkunjung. Aisha juga sering berkunjung. Jika dia sudah bosan akhir pecan dengan menonton dan putar-putar bersama mbak ratna, mereka pergi ke desa dan menginap di sana, menghabiskan waktu bersama opa dan berkebun.

(26)

Perempuan itu tidak mengenakan jilbab. Perempuan itu kira-kira sebaya mbak Ratna, dia mengenakan dress pendek selutut bermotif dan berwarna cokelat biru. “maaf mbak, saya akan pergi melihatnya.” Ucap perempuan muda itu sambil menutup pintu kembali. Aisha menatapnya dengan tatapan tajam. Perempuan yang sedang menangis itu juga melihat ke arah pintu yang sudah tertutup. Tangisannya berhenti.

“ maaf mbak, atas ketidaknyamanan tadi.” Ucap aisha sambil tersenyum.

“ saya sudah lega mbak.” Ucap perempuan itu sambil menghapus airmatanya yang tersisa. Perempuan itu kemudian bercerita panjang lebar kepada aisha.

Hari itu berlalu, jam pulang akhirnya datang. Jam menunjukkan pukul 17.30 WIB. Meskipun itu sudah lewat dari jam pulang sebenarnya. Aisha keluar bersama perempuan yang tadi masuk ke ruangannya. SAFA. Mereka keluar rumah sakit bersama. Safa di jemput oleh teman laki-lakinya, sementara aisha pulang sendiri dengan mobilnya. Mereka berpisah ketika teman laki-laki safa datang menjemput. Ketika aisha masuk ke dalam mobil, HPnya berdering. MAMA. Sebuah panggilan masuk dari mamanya. Aisha mengangkat telepon itu.

“ assalammualaikum ma” ucap aisha dengan nada pelan, sambil memasang headsetnya, kemudian menghidupkan mesin mobil dan meninggalkan rumah sakit. Seseorang di seberang sana menjawab salam dari aisha.

(27)

“aisha, kamu itu harus banyak waktu untuk istirahat, bersenang-senang dengan teman-teman. Jangan kerja terus.” Ucap perempuan diseberang sana dengan suara lembutnya. “kalau seperti ini terus, bagaimana kamu bisa punya pacar?. Mama saja merinding melihat kamu seperti ini, apa lagi orang lain.” tambah perempuan itu lagi. Aisha menjadi pendengar yang baik. dia hanya menjawab “iya ma” dan terus mengemudikan mobilnya. Menikmati macetnya jalanan. “kamu itu sudah mencapai semua mimpimu, sekarang apa lagi sih nak?. Sebentar lagi adikmu akan bertunangan dan beberapa bulan sesudahnya. Adikmu akan menikah. Kamu bagaimana? Kapan mau menyusul mas mu dan HARIS?.” Tambah suara di seberang telepon. Wajah aisha berubah. Dia terlihat sedih mendengar ucapan mamanya.

“ ma, aisha mengerti. Tapi untuk saat ini aisha belum menemukan pria yang cocok dan tepat untuk aisha ma.” Ucap perempuan itu dengan suara dan nada yang lembut dan pelan.

“sayang, umur kamu itu sudah dua puluh delapan. Untuk seorang wanita itu sudah waktunya menikah. Kalau kamu laki-laki mama juga tidak akan menanyakan ini.” nada suara di seberang sana sudah mulai berubah tegas. “ selagi mama dan papa masih diberi kesehatan sama Gusti Allah, mama dan papa ingin melihat kamu menikah, putri kami satu-satunya. Kalau oma masih hidup, beliau pasti juga menginginkan hal yang sama.” tambah mama aisha. aisha menepikan mobilnya. Matanya berkaca-kaca.

(28)

“kamu mau mama kenalkan dengan anak teman mama dan papa?” Tanya mamanya aisha. aisha mengangkat wajahnya. Dia seperti tidak menerima. “hanya bertemu, jika kamu cocok, lanjutkan. Jika tidak, mama akan kenalkan dengan anak dari teman mama dan papa yang lainnya.” Tambah mama aisha, sebelum dia menyela ucapan mamanya.

“ baiklah ma, aisha akan mencobanya.” Aisha menghembuskan nafasnya. Tidak lama setelah itu mamanya selesai menelpon. Dadanya terasa sesak. Dia mengerti. Dia paham. Memang sudah waktunya untuk menikah. Tapi entah kenapa, dia tidak tahu harus memulai dengan siapa dan bagaimana. Dia takut untuk memilih. Dia tidak takut untuk memulai, tapi dia takut pada akhirnya. Jika rasa itu telah tumbuh dan bertahan sangat lama. Ketika dicabut dan mati, akan sangat sakit terasa. Dia tidak ingin seperti itu lagi. Menikah? Adalah sesuatu yang serius. Tidak bisa main-main. Ketika salah pilih, bisa saja rumah tangga itu bertahan sebentar. Banyak kasus yang dia temui. Banyak kliennya yang seperti itu.

(29)

berdiri di teras mesjid itu dan melihat ke langit lepas. Dia menyanggul rambutnya. Perempuan itu masih berdiri di teras mesjid itu. dia memandang jauh ke depan. Ke jalan. Beberapa jamaah yang melewati perempuan itu, melemparkan senyuman dan menyapanya. Perempuan itu juga membalas dengan seyuman hangat dan ringan. Meskipun bedaknya sudah luntur, tapi wajahnya yang putih bersih masih membuatnya terlihat cantik. Walaupun badannya lelah dan ingin segera pulang ke rumah.

Setelah beberapa saat dia berdiri di teras itu, perempuan itu melangkah meninggalkan mesjid yang terlihat megah dan mewah itu. dia melangkah menuju mobilnya yang sedang berada diparkiran.

“ AISHA” teriak seseorang dari arah belakang perempuan itu, saat dia akan membuka pintu mobilnya. Perempuan cantik itu langsung membalikkan badannya. “tunggu” ucap orang itu saat aisha melihat seorang pria dengan tubuhnya yang tinggi berlari ke arahnya. “ untung ketemu kamu di sini.” Ucap laki-laki itu saat dia dengan nafasnya yang terengah-engah mendekati aisha. dia seperti sangat lega.

“ DINO?” aisha seperti bingung. Dia mengerutkan dahinya. Dia mencoba mengingat kembali. “ iya, kamu dino. Kurusan kamu sekarang?” ucap aisha dan mereka berjabat tangan.

(30)

ke rumah kamu. tapi, mumpung ketemu di sini.” Jelas laki-laki itu dengan wajah yang berbinar-binar. Dia terlihat benar-benar bahagia.

“ selamat din…” aisha menjabat tangan temannya. Dia juga terlihat sangat senang. “ aku pasti datang ke pesta kamu.” aisha tersenyum bahagia.

“ aku tunggu kamu ya. Anak-anak yang lain juga aku undang.” Tambah dino. “ aku mau kado special dari kamu. oke?” dino melirik aisha. aisha mengangguk dan tersenyum. “ awas kalau nggak special??” tambah dino.

“ iya dino. Aku nanti bawa bom ke sana.” mereka tertawa bersama. Dino adalah sahabat aisha waktu SMA dulu. mereka masih sempat ngumpul bersama waktu kuliah dulu. tapi beberapa tahun belakangan ini, karena kesibukkan masing-masing mereka sudah sangat jarang bertemu. Mereka kemudian berpisah dihalaman mesjid itu. aisha pulang ke rumahnya.

“ mbak, tadi opa nelpon. Kapan mbak aisha main ke desa?” ucap mbak ratna saat aisha sudah selesai membersihkan tubuhnya dan mengganti baju. Aisha sedang duduk di depan meja kerjanya. Dia langsung menghentikan pekerjaannya.

“ sudah sebulan lebih kita tidak ke sana ya mbak?” aisha melihat kelender yang yang ada di meja kerjanya. Dia kemudian melihat sebuah buku kecil yang ada di mejanya. “minggu ini kita ke sana ya mbak? Ini bisa di cancel.” Aisha melihat jadwal kegiatannya yang sudah tersusun setiap harinya.

(31)

bandung saja mbak?” Tanya mbak ratna yang juga bingung melihat aisha.. “ atau ketemuannya besok saja mbak, tidak harus akhir pekan kan mbak?” tambah mbak ratna lagi. Aisha tersenyum.

“ mbak ratna, aku sayang mbak. Aku akan telpon mama.” Aisha segera menghubungi mamanya. Dia berbicara panjang lebar dengan mamanya dan mereka bisa bertemu besok malam. Akhirnya dia bisa pergi ke tempat opanya akhir pekan dengan mbak ratna. sekalian mbak ratna pulang kampung. Malam berlalu, rutinitas kembali seperti biasa. Hari itu langit mendung saat aisha berangkat ke sebuah perguruan tinggi. Hari ini dia tidak masuk ke rumah sakit. Dia ada kuliah umum di sebuah perguruan tinggi. Letaknya agak jauh dari rumahnya. Memakan waktu sekitar satu jam. Seperti biasa, dia tidak menggunakan sopir. Aisha menikmati perjalanannya. Sejam berlalu. Aisha sampai di gerbang perguruan tinggi tersebut. Dia memarkirkan mobilnya. Aisha keluar dari mobilnya dan memperhatikan sekelilingnya.

“ tidak berubah” dia menghirup udara yang segar. Hijau setiap dia memandang. Banyak pepohonan. banyak mahasiswa yang sibuk dengan aktivitas mereka masing-masing. Dua orang mahasiswa laki-laki menghampirinya.

“ selamat pagi mbak” sapa mereka kepada aisha yang masih menikmati keberadaannya di kampus itu.

(32)

Ratna menjatuhkan sebuah plastic yang ternyata berisi sebuah kotak saat dia membersihkan bagian atas lemari aisha. aisha yang baru selesai sholat jadi kaget.

“ maaf mbak, saya tidak tahu kalau ada isinya.” Ucap ratna dengan wajah bersalah dan takut sambil melihat isi tas yang dijatuhkannya itu. aisha juga heran kenapa ada kotak di dalamnya. Dia juga tidak ingat pernah menaruh sesuatu di atas lemarinya.tas kain itu juga sedikit berdebu. Sepertinya sudah lama sekali. Selama ini ratna membersihkannya tidak pernah melihat kotak itu.

Figur

Memperbarui...

Referensi

Memperbarui...

Related subjects :