• Tidak ada hasil yang ditemukan

PROSES PENCAPAIAN PEMBANGUNAN MILLENNIUM di indonesia

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "PROSES PENCAPAIAN PEMBANGUNAN MILLENNIUM di indonesia "

Copied!
16
0
0

Teks penuh

(1)

PROSES PENCAPAIAN PEMBANGUNAN MILLENNIUM

DEVELOPMENT GOALS PADA TUJUAN PEMERATAAN

PENDIDIKAN PRIMER UNTUK SEMUA, DI KAWASAN SUB

SAHARAN AFRICA

Oleh:

Abdullah Hafidz Abadi

Ibnu Amin Gani

Fadel Fais Mahri

Muhammad Iqbal Saputera

(Delegasi PSNMHII dari Universitas Al Azhar Indonesia)

FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK

JURUSAN HUBUNGAN INTERNASIONAL

(2)

Abstrak :

Di dalam makalah ini akan membahas mengenai sebuah agenda besar dunia yang dicetuskan oleh United Nations yang di kenal sebagai Millennium Development Goals (MDG’s). Agenda ini membawa dan mempengaruhi seluruh negara untuk bersama-sama mencapai tujuan yang telah di tetapkan oleh MDG’s yang terdiri dari 8 tujuan, di antaranya yaitu pemerataan pendidikan primer untuk semua. Tujuan ini terkait dengan pembahasan judul yang di angkat, yaitu tentang sektor pendidikan. Disini pemakalah mengangkat permasalahannya pada kondisi pendidikan di kawasan Sub Saharan Africa. Masalah yang terjadi adalah kondisi yang terjadi di internal di kawasan ini yang cenderung berbeda dengan kawasan lainnya, kawasan ini dipenuhi dengan kemiskinan dan keterbelakangan. Kemudian ini menjadi menarik untuk dibahas mengenai apakah tujuan MDG’s

dalam pemerataan pendidikan primer dapat terealisasikan di kawasan ini?

Kata Kunci : United Nations, Millennium Development Goals, Sub Saharan Africa, Pendidikan, Kemiskinan.

A. Latar Belakang Masalah

Pada pertemuan Millennium Summit di bulan September 2000, merupakan pertemuan terbesar sepanjang sejarah yang di hadiri oleh kepala-kepala negara di dunia yang membentuk yaitu UN Millennium Declaration. Isi dari deklarasi tersebut adalah seluruh negara di dunia berkomitmen untuk bersama-sama mengurangi kemiskinan, dan membuat target waktu dengan deadline pada tahun 2015 yang kemudian di kenal sebagai Millennium Development Goals 2015. (United Nations Millennium Project n.d.) Millennium Development Goals (MDG’s) adalah sebuah target waktu yang di bentuk sampai 2015 yang di dalamnya terdiri dari target untuk mengatasi kemiskinan ekstrim dalam banyak dimensi seperti kelaparan, penyakit, dan kurangnya perlindungan yang memadai, sementara di samping itu juga mempromosikan kesetaraan gender, pendidikan, dan kelestarian lingkungan. (United Nations Millennium Project n.d.)

(3)

1. Memberantas Kemiskinan dan Kelaparan Ekstrem 2. Mewujudkan Pendidikan Dasar Untuk Semua

3. Mendorong Kesetaraan Gender dan Pemberdayaan Perempuan 4. Menurunkan Angka Kematian Anak

5. Meningkatkan Kesehatan Ibu

6. Memerangi HIV dan AIDS, serta Malaria dan penyakit lainnya 7. Memastikan Kelestarian Lingkungan

8. Mengembangkan Kemitraan Global untuk Pembangunan

Dunia telah membuat kemajuan yang signifikan dalam mencapai banyak tujuan. Antara tahun 1990 dan 2002 rata-rata keseluruhan pendapatan meningkat sekitar 21 persen. Jumlah orang dalam kemiskinan menurun sebesar 1 130 juta perkiraan. Angka kematian anak jatuh dari 103 kematian per kelahiran hidup 1.000 setahun ke 88. Harapan hidup meningkat dari 63 tahun menjadi hampir 65 tahun. Kemudian 8 persen orang di dunia berkembang menerima akses kepada air. Dan 15 persen memperoleh akses ke layanan perbaikan sanitasi. (United Nations Millennium Project n.d.)

Tetapi di antara kemajuan-kemajuan tersebut tidaklah seragam keseluruh kawasan di dunia. Banyak faktor-faktor lain yang kerap menimbulkan kesenjangan dari dalam diri kawasan atau negara tersebut. Banyak dari kemiskinan yang ekstrim berasal dari negara-negara yang bisa di sebut sebagai negara dunia ketiga yaitu negara-negara selepas dari penjajahan yang cenderung masyarakatnya sangat tradisional dan pembangunan negaranya cenderung tidak intensif. Yang mana di dalam makalah ini memfokuskan pada kawasan Sub-Saharan Africa.

(4)

Africa yang terbelakang dan tertinggal tersebut? Karena ini akan terkesan tidak mungkin dengan waktu yang di tentukan 2015 nanti di kawasan yang terbelakang ini dapat mengalami progress kemajuan untuk kesejahteraan masyarakatnya sendiri. maka dari itu pemakalah mengambil topik ini agar dapat memberikan gambaran kepada pembaca apakah MDG’s sebagai program dari United Nations (UN) dapat terealisasi dengan baik di kawasan yang terbelakang ini atau justru sebaliknya? Dalam hal ini fokus target dari kedelapan target akan fokus pada mewujudkan pendidikan dasar untuk semua. Selebihnya akan di bahas lebih detil di sub bab berikutnya

B. Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang masalah yang telah di paparkan maka pemakalah menyimpulkan rumusan masalah :

“Apakah target dari Millennium Development Goals 2015 (MDG’s) mengenai mewujudkan pendidikan dasar untuk semua dapat terealisasikan di kawasan Sub-Saharan Africa?”

C. Tujuan Penelitian

 Untuk memberikan gambaran mengenai mengapa kawasan Sub Saharan Africa ini sangat tertinggal jauh dari kawasan lainnya

 Untuk memberikan gambaran fakta mengenai kondisi yang di alami kawasan Sub Saharan Africa saat ini khususnya dalam bidang pendidikannya

 Untuk memberikan gambaran apakah MDG’s ini benar-benar dapat memberikan efek kemajuan yang besar di bidang pendidikan di kawasan Sub Saharan Africa

D. Landasan Teori

Teori Pembangunan Foucaltdian

(5)

(developmentalism) dan kritik ini mencakup dua teori pembangunan yaitu teori pembangunan modernisasi dan teori strukturalis marxis. Kritik ini merujuk kepada pemikiran abad pencerahan (renaissance) yang menggunakan ukuran universal untuk melihat perkembangan masyarakat yaitu ukuran masyarakat modern. Teori pembangunan modernism melihat faktor utama keterbelakangan adalah faktor internal seperti kemauan masyarakat untuk kemajuan/perubahan. (Yanuardi n.d.)

Kemudian diskursus mengenai developmentalism menurutnya, lahir dari sebuah gagasan pada saat Presiden Amerika Serikat Harry S Truman berpidato bahwa seluruh negara di dunia seharusnya mendapatkan “Fair Democratic Deal” melalui campur tangan Amerika Serikat untuk mengatasi kemiskinan global. Setelah itu lahir kata development yang kemudian di jadikan sebagai kebijakan luar negeri dan doktrin AS. Dan selanjutnya kata development ini terus di reproduksi oleh berbagai instansi-instansi baik domestik maupun internasional seperti Universitas, LSM, IMF, World Bank, dsb. Yang kemudian menjadikan kata tersebut di akui mutlak akan kebenarannya. (Yanuardi n.d., 7)

E. Metodologi Jenis Penelitian:

Didalam penelitian ini penulis akan menggunakan jenis penelitian deskriptif. Jenis penelitan ini digunakan untuk mencari unsur – unsur, ciri – ciri dan sifat – sifat suatu fenomena.1 Jenis penelitian deskriptif ini digunakan untuk menggambarkan bagaimana kinerja negara-negara di kawasan Sub Saharan Africa dalam mencapai tujuannya di Millennium Development Goals.

Rumpun Penelitian:

1 Prof. Dr. Suryana, M. Si., Metodologi Penelitian : Model Praktis

(6)

Rumpun penelitian yang digunakan penulis dalam penelitian ini adalah menggunakan rumpun penelitian Mix Method, yang mana menggabungkan metode Kualitatif dan metode Kuantitatif. Penulis menggunakan Kualitatif sebagai framework di dalam penelitian ini dan menggunakan Kuantitatif sebagai pendukung data didalam penelitian ini.

Dengan metode ini, maka penulis akan menggunakan kalimat dan gambar untuk mendeskripsikan kasus ini, dan akan digunakan pula index, table, atau hard data

lainnya sebagai pendukung pendeskripsian kasus ini.

Bentuk Penelitian:

Bentuk penelitian yang dilakukan oleh penulis adalah dengan menggunakan penelitian library research, dengan objek yang digunakan untuk penelitian adalah melalui media yang berada di perpustakaan. Dengan metode ini penulis memanfaatkan berbagai macam pustaka seperti buku, jurnal yang mengandung data factual dan sesuai dengan isu yang dibahas oleh penulis. Penulis tidak hanya mengambil data penelitian hanya dari media cetak, namun juga memanfaatkan media elektronik seperti website atau jurnal yang di unduh secara online.

Jenis Data :

Data yang dikumpulkan penulis dalam perumusan penelitian ini merupakan data sekunder, dimana data yang digunakan berasal dari sumber secara tidak langsung, karena penulis tidak mengamati kasus secara langsung, namun menggunakan bahan yang dikutip dari pihak lain seperti dari jurnal, buku, website. Jenis data yang dipaparkan dalam penelitian ini adalah dengan metode Triangulasi, yang mana jenis datanya mencakup Kualitatif dan Kuantitatif. Kualitatif berupa

literature review, dan Kuantitatif yang berupa data statistik mengenai grafik pembangunan pendidikan di Afrika

(7)

Teknik pengumpulan data menjelaskan bagaimana sumber diperoleh dan darimana sumber diperoleh. Dalam penelitian ini, penulis menggunakan beberapa teknik pengumpulan data, diantaranya adalah:

a. Studi Literatur, merupakan teknik pengumpulan data studi teks. Dimana penulis akan mengeksplor buku – buku, literature, catatan – catatan, jurnal, website, maupun dokumen – dokumen lainnya yang berhubungan dengan

Millennium Development Goals di Afrika

b. Exsisting Statistic, Penulis akan mengumpulkan data-data statistik yang dipublikasikan oleh instansi-instansi terkait, yang akan mendukung data penelitian. Baik yang didapatkan melalui media cetak maupun diunduh secara On-line

Metode Analisis:

Dalam menganalisa efektifitas Millennium Development Goals di Afrika, dalam penelitian ini penulis menggunakan metode analisis kualitatif. Dimana penulis akan menganalisis data yang dikumpulkan dalam berbagai bentuk, yang dilakukan secara Induktif.

F. Hasil Penelitian

I. Mengapa kawasan Sub Saharan Africa Tertinggal Jauh dari Kawasan Lainnya?

(8)

dan sangat tidak efektif dalam mengorganisirnya, pasar tidak berfungsi dengan semestinya, negaranya yang lemah dan sistem politik yang tidak menghasilkan fasilitas public yang baik. Dan apabila melihat secara goegrafi, kawasan ini berada di kondisi iklim yang gersang dan tanah yang tidak cocok untuk pembangunan produktivitas agrikultur. (Robinson n.d.)

Selain dari itu, faktor yang juga menentukan adalah kolonialisasi bangsa Eropa di kawasan ini. Penjajahan di Afrika bisa di katakan ada sisi pembangunannya, terutama pada bidang transportasi yaitu pembangunan jalan mengingat kawasan Afrika sangat sulit. Tetapi di sisi lain penjajahan di Afrika inilah yang kemudian melahirkan sebuah trend pada masa itu yang disebut dengan slavery trade, yang mana orang-orang kulit hitam di jadikan sebagai budak-budak yang kemudian diperjual-belikan bahkan sampai tercipta kegiatan ekspor budak. Menjadi budak berarti harus melakukan apapun yang di perintah oleh tuannya (sebagai pembeli budak) untuk kepentingan tuannya yang mana tuannya adalah orang berkulit putih. Dari hal ini yang kemudian tercipta kesenjangan sosial yang didasari oleh perbedaan warna kulit. (Robinson n.d., 32) Pengaruhnya perbudakan dengan ketidak-majunya kawasan Afrika adalah terciptanya suatu psikologis kebiasaan sifat dari masyarakatnya, yang terbiasa dengan “terima saja” atau “lakukan saja apa yang di perintah”. Hajia Amina Az-Zubair selaku Penasehat Presiden Nigeria dalam Isu Kemiskinan berkata,

“Colonialism was all about take, not build. And transferred itself into a lot of mindsets”2

Bahkan sampai sekarang dia sering mengalami kesulitan di dalam mendesain program untuk menanggulangi kemiskinan.

"You sit round a table and ask 'What are your needs?' and you get an absolute blank. Because for years, they've been told what they're going to have. So even the ability to engage has been difficult for us."

Jelas disini pengaruh kolonialisasi berdampak pada psikologis dari penduduk sebagian besar di Afrika. Selain dari praktik jual beli perbudakan, tujuan bangsa penjajah datang ke kawasan ini adalah untuk mengeksploitasi sumber daya alam

(9)

yang dimilikinya, kawasan ini di penuhi oleh berbagai macam SDA, secara SDA Afrika dapat di katakan sangat kaya, terutama di bidang minyak dan mineral.

“We have oil and many other minerals, go name it”3 – Barnaba Benjamin, Menteri Kerjasama Sudan Selatan

Setelah Perang Dunia II, dekolonisasi dimulai, Meskipun antusiasme kemerdekaan meningkat, ada kekurangan besar yaitu kurangnya sumber daya manusia yang terdidik dan terlatih untuk mengatur negara-negara baru yang tidak siap untuk kemerdekaan Mereka juga kehilangan infrastruktur dan kesehatan masyarakat fasilitas dasar. Ketika pemerintah memulai untuk menggunakan sistem yang demokratis, banyak yang cepat kemudian menjadi otoriter dan militer menjadi kekuatan utama, ini mungkin telah membantu mengkonsolidasikan negara-negara baru, tapi tidak begitu menguntungkan bagi pembangunan ekonomi mereka. Dan karenanya menjadi sumber konflik dalam dan di antara bangsa-bangsa.

II. Kondisi Pendidikan di Kawasan Sub Saharan Africa

Program Education For All (EFA) di kawasan Sub Saharan Africa telah terjalankan sejak tahun 2000, tetapi masih belum mencapai pemerataan. Langkah untuk menuju pendidikan dasar untuk semua di kawasan ini telah mengalami proses pertumbuhan yang cepat dibandingkan pada tahun 1990, dengan rata-rata kenaikannya dari 57% menjadi 70% dari tahun 1999 ke 2005. Namun, untuk sebagian negara kawasan ini mengalami kehambatan dalam mencapai proses tersebut diantaranya seperti kebutuhan untuk belajar bagi kalangan tua maupun muda, kualitas pendidikan yang masih kurang, inilah hal-hal yang masih kurang perhatian di sebagian negara di kawasan ini. Dan banyak dari negara-negaranya masih sulit untuk menghilangkan perbedaan gender di skala sekolah dasar dan sekolah menengah. Kemudian, kawasan ini masih berada di kondisi dimana sekitar 33 juta anak masih belum mendapatkan pendidikan yang layak. Ketidakseimbangan di dalam sistem pendidikan ini yang masih harus di atasi karena menyebabkan banyak faktor kesenjangan di karenakan sistem yang tidak

(10)

seimbang. (United Nations Educational, Scientific, and Cultural Organization 2008, 1)

Kebijakan untuk pembangunan manusia menghasilkan manfaat langsung dan menciptakan dasar bagi pertumbuhan yang lebih cepat. Namun tujuan pendidikan tidak dapat diperoleh secara baik di banyak negara Afrika karena kendala sosial ekonomi. Ini termasuk perbedaan dalam akses terhadap sumber daya pendidikan dalam suatu negara, kendala fiskal yang mencegah menaikkan gaji guru, dan infrastruktur yang terbatas serta kondisi kehidupan menarik di daerah pedesaan. Semua berkontribusi terhadap penurunan rasio murid-guru, merusak kualitas dan kuantitas pendidikan. (African Development Bank 2002).

Fenomena yang terjadi banyak rumah tangga di daerah pedesaan atau terpencil cenderung kurang memiliki akses terhadap pendidikan dasar: untuk setiap 100 anak-anak perkotaan yang terdaftar, hanya 33 anak-anak pedesaan yang terdaftar di Burkina Faso, 43 di Ethiopia dan 54 di Chad. Juga kemiskinan berperan secara signifikan mengurangi kemungkinan partisipasi sekolah: korelasi negatif yang kuat ada antara kemiskinan rumah tangga dan tingkat kehadiran sekolah dasar di kedua daerah pedesaan dan perkotaan di Burkina Faso, Kamerun, Ethiopia, Ghana, Kenya, Malawi dan Mozambik . Kemungkinan anak cacat tidak berada di sekolah adalah dua sampai tiga kali lebih besar daripada anak yang tidak cacat di Malawi, Zambia dan Zimbabwe.

(11)
(12)

III. Upaya Pencapaian Tujuan Universal Primary Education oleh Negara-negaradi Kawasan Sub Saharan Africa

Sebuah studi baru-baru ini oleh staf Bank Dunia di 33 negara Afrika Sub-Sahara untuk 2001-2015 menggunakan pendekatan yang berbeda, yang melibatkan penggunaan tingkat kelulusan siswa sekolah dasar dan membuat ruang untuk reformasi kebijakan untuk meningkatkan pelayanan sekolah dasar. Studi ini memperkirakan besarnya pendanaan eksternal dengan mempertimbangkan efek dari AIDS dibutuhkan untuk membantu 33 negara termiskin Afrika mencapai Pendidikan untuk Semua (Education for All) tercapai pada tahun 2015. Targetnya adalah untuk memastikan bahwa pada tanggal tersebut semua anak akan memiliki akses ke siklus lengkap sekolah dasar yang berlangsung setidaknya lima tahun atau, jika siklus lebih panjang, enam tahun. Perkiraan menunjukkan bahwa, secara total, pembiayaan eksternal berkisar antara $ 1,6 miliar dan $ 21 miliar per tahun, termasuk pembiayaan untuk membiayai biaya tambahan yang dikenakan pada sistem pendidikan dengan epidemi AIDS sebesar antara $ 433 juta dan $ 557 juta. (African Development Bank 2002)

Sebagaimana tercantum dalam strategi Pendidikan untuk Semua (Education for All) dan dalam pekerjaan selanjutnya, negara-negara di kawasan Sub Saharan Africa dengan tingkat insentif sekolah dasar tertinggi memiliki beberapa karakteristik penyelesaian termasuk:

• Mencurahkan bagian yang lebih tinggi dari sumber daya nasional untuk pendidikan dasar negeri.

• Memiliki biaya per unit yang wajar

• Membayar guru gaji yang kompetitif yang sepadan dengan kualifikasi profesional mereka.

• Memiliki pengeluaran lebih tinggi pada komplementer, input non gaji. • Memiliki pengelolaan yang baik pada rasio murid-guru.

• Memiliki tingkat pengulangan rata-rata di bawah 10 persen.

(13)

dekat dengan tolok ukur yang dapat diterima dengan meningkatkan efisiensi internal, biaya unit yang lebih rendah, meningkatkan kualitas pendidikan, mengurangi tingkat pengulangan, dan meningkatkan tingkat penyelesaian pendidikan dasar. Meskipun tolok ukur ini dapat berfungsi sebagai kerangka acuan umum untuk semua negara di kawasan ini, Tetap perlu memperhatikan kondisi internal dari masing-masing negara agar tidak terjadi kesalahan dalam mengambil sebuah kebijakan. Kemudian untuk mentransformasi perekonomian di negara kawasan Sub Saharan Africa juga harus ditopang oleh di perkuatnya sistem pendidikan yang tinggi dan penciptaan pusat unggulan agar dapat membuat negara di kawasan ini untuk berpartisipasi di dalam pertumbuhan ekonomi global. (African Development Bank 2002)

IV. Analisa

Dari yang telah di uraikan di atas berdasarkan data-data faktual yang terjadi di Afrika, sangat kontras perbedaan yang terjadi di bandingkan dengan kawasan-kawasan lainnya seperti Amerika, Eropa dan Asia. Bahkan di banding Asia, Afrika masih terbilang jauh tertinggal. Terutama dalam hal ini indicator dari tertinggal adalah masyarakatnya yang miskin. Berdasarkan data, kawasan ini merupakan kawasan yang penduduknya masih banyak yang hidup dengan pendapatannya di bawah 1$. Kemudian masuk pada sektor pendidikan, fenomena yang terjadi di kawasan ini masih banyak faktor yang menyebabkan pendidikan tidak mencapai maksimal, di karenakan kemiskinan yang masih melanda besar, kualitas dari lingkungan belajar-mengajar, dan faktor dapat terbilang banyak murid yang mengulang pada tahap sekolah dasar.

(14)

Amerika Serikat, Eropa, Jepang dsb. Yang kemudian wacana pembangunan ini di reproduksi oleh Millennium Development Goals beserta dengan kedelapan targetnya, untuk kemudian wacana pembangunan ini disamaratakan untuk seluruh negara-negara di dunia agar tercipta kondisi dunia yang lebih baik, menurut

MDG’s.

Tetapi kembali lagi bahwa ukuran dari MDG’s ini terlalu universal dan general tanpa memperhatikan hal-hal lain. Bagaimana bisa kawasan Afrika ukurannya di samakan dengan kawasan Eropa? Apa yang terjadi di kondisi internal eropa berbeda dengan kondisi internal Afrika. Masing-masing kawasan memiliki kapabilitas yang berbeda. Dengan kehidupan yang pendapatannya masih di bawa 1 $ dibandingkan dengan kehidupan masyarakatnya yang sudah melebihi 10 $ lebih pendapatannya akan jelas berbeda arah untuk pembangunannya dan akan sulit tercapai jika barometer dari pembangunan yang di maksudkan oleh MDG’s

adalah ukuran masyarakat modern barat. Maka dari itu dapat dikatakan pembangunan untuk pemerataan pendidikan primer di Afrika sulit dicapai untuk 2015 nanti di karenakan faktor-faktor internal kawasan, dan selain dari itu adalah ukuran dari MDG’s sendiri yang masih jauh dari kapabilitas Afrika untuk mencapainya.

G. Kesimpulan dan Saran

(15)
(16)

DAFTAR PUSTAKA

African Development Bank. "Achieving The Millennium Development Goals in Africa, Progress Prospect and Policy Implications." Global Poverty Report, African Development Bank, 2002, 16.

African Development Bank. "Achieving The Millennium Development Goals in Africa. Progress, Prospect and Policy Implications." Global Poverty Report, African Development Bank, 2002, 17.

Robinson, Daron Acemoglue & James A. "Why is Africa Poor?" 22.

Stalker, Peter. "Let's Speak Out For MDG's (Indonesia Report)." United Nations, 2008.

United Nations Educational, Scientific, and Cultural Organization. "Education for All by 2015, Will we make it?" EFA Global Monitoring Report, 2008, 3.

United Nations Millennium Project. http://www.unmillenniumproject.org/goals/index.htm .

Yanuardi. "Revisi Terhadap Teori Pembangunan Foucaultdian: Sebuah Upaya Mengembangkan Teori Deliberatif." (Universitas Gadjah Mada) 5 - 6.

http://news.bbc.co.uk/2/hi/africa/8215083.stm

Referensi

Dokumen terkait

(2012), pemberian dosis yang berbeda setiap perlakuan dalam kemampuan meningkatkan penyerapan unsur hara berbeda karena hifa dari mikoriza dapat menghasilkan enzim

Penelitian ini dilakukan dengan mengamati volume kendaraan di dua lokasi di Surabaya pada durasi dua jam sibuk, yaitu mulai jam 6.20 sampai jam 8.20 kemudian mengkonversikan emisi

Informan masih kanak - kanak ketika ayah intorman melakukan poligami dan kemudian ayah jarang pulang ke rumah, sedangkan pada usia informan sangat dibutuhkan

menurut pendapat mereka tangis itu merupakan ekspresi ketakutan dan keinginan akan regresi. Pada waktu anak masih dalam kandungan, ia berada didalam keadaan yang serba sempurna,

Setiap siswa yang tidak mamatuhi aturan / tata tertib sekolah : Diberi ganjaran/hukuman.. yang sesuai dengan aturan apa yang

Dengan adanya penerapan sistem informasi penggunaan dana kas kecil yang sudah terkomputerisasi, diharapkan pembuatan laporan kas kecil menjadi akurat, tepat dan cepat

 Penetrasi jaringan listrik yang sangat tinggi, sehingga dapat digunakan untuk penyediaan layanan broadband dengan mudah tanpa harus. membangun

Paket teknologi terbaik pada fase vegetatif tanaman jahe umur 4 BST pada kondisi cekaman kekeringan yaitu pada perlakuan P1S2 (perlakuan 150% pupuk kandang pada sistem tanam