KEYAKINAN TERHADAP HUKUM KAMMA SEBAGAI P

15 

Teks penuh

(1)

1 | A b h i d h a m m a P i t a k a I I I

KEYAKINAN TERHADAP HUKUM KAMMA SEBAGAI PONDASI DALAM AGAMA BUDDHA

Oleh Febrian Ariya Passaddhi

Disusun untuk memenuhi tugas Mata Kuliah Abhidhamma Pitaka III yang diampu oleh Kadek Yudi Murdana, B.A., M.A.

Abstrak

Hukum Kamma adalah salah satu ajaran Sang Buddha yang sangat penting

dan sebagai umat Buddha perlu kiranya untuk memahami dan mengerti hukum ini

dengan jelas. Namun demikian, untuk dapat memiliki pengetahuan dan

pemahaman yang cukup mengenai hukum kamma, terlebih dahulu kita harus

mempelajarinya, baik dari kitab suci maupun sumber lainnya. Salah satu

contohnya adalah penggolongan kamma. Kamma dapat dikelompokkan dalam

empat kelompok. Meskipun kita tidak dapat mengetahui kamma individu

seseorang, kita dapat mengelompokkan kamma ke dalam beberapa jenis seperti

yang dijelaskan oleh Buddha. Dengan cara demikian kita dapat memprediksi di

mana dan bagaimana setiap jenis kamma akan menghasilkan akibatnya. Setelah

mempelajari baru kemudian kita mempraktikkannya. Diharapkan dengan

pengetahuan dan pemahaman yang dimiliki barulah kemudian kita dapat mimiliki

keyakinan terhadap hukum kamma.

Kata Kunci: Hukum Kamma, keyakinan.

Pendahuluan

Lebih dari dua puluh lima abad yang lalu Sang Buddha mengajarkan

ajaran-Nya kepada dewa, brahma, dan manusia. Ajaran Sang Buddha sampai saat

ini pun masih tetap eksis bahkan terus berkembang. Diantara beberapa doktrin

yang diajarkan oleh beliau, salah satu yang sangat fundamental adalah tentang

hukum kamma.

Dapat dikatakan keyakinan terhadap hukum kamma merupakan suatu hal

(2)

2 | A b h i d h a m m a P i t a k a I I I

penulis menilai perlu kiranya untuk menyusun sebuah makalah yang bertemakan “Hukum Kamma” dengan judul “Keyakinan Terhadap Hukum Kamma Sebagai Pondasi Dalam Agama Buddha”.

Apakah kamma itu?

Kamma, secara harafiah berarti perbuatan atau tindakan. Perbuatan itu

sendiri dibedakan menjadi tiga, yaitu: perbuatan melalui pikiran, ucapan, dan

jasmani. Perbuatan baik menghasilkan hasil yang baik, sementara perbuatan yang

buruk menghasilkan hasil yang buruk. Kamma melalui jasmani misalnya

memberikan dāna. Kamma melalui ucapan yaitu setiap kata-kata yang kita

ucapkan, misalnya membabarkan Dhamma dan memberikan nasihat. Kemudian

kamma melalui pikiran adalah gagasan-gagasan yang muncul dalam pikiran, antara lain “Bagaimana caranya supaya saya bisa berdana makanan kepada para bhikkhu”, kegembiraan, belas kasih, simpati, sukacita, bermeditasi dan kesedihan juga merupakan bentuk-bentuk kamma pikiran.

Dapat disebutkan bahwa, kamma berarti semua niat (cetanā) yang

bermoral dan tidak bermoral. Niat memiliki akar ketidaktahuan (moha),

keserakahan (lobha) atau kemarahan (dosa) adalah kejahatan. Niat yang ditemani

oleh kemurahan hati (adosa), niat baik (adosa) dan kebijaksanaan (panna), adalah

bajik.

Cetana yang bertanggung jawab, cetana adalah kamma

Ada suatu daya yang mendorong ketiga kamma tersebut untuk dapat

teralisasi, yaitu faktor mental cetanā-cetasika yang muncul dalam batin. Cetana

inilah yang paling sibuk dan paling aktif diantara 52 cetasika. Kemudian cetanā

disebut kamma, karena cetanā mendorong seseorang untuk melakukan perbuatan

entah itu baik ataupun buruk, karena cetanā bertanggung jawab menuntaskan

setiap kamma yang hendak diperbuat.

Dalam bahasa yang sederhana kamma bisa dikatakan seperti ini: jika

seseorang menabur benih yang baik, maka ia akan menuai panen yang baik. Jika

(3)

3 | A b h i d h a m m a P i t a k a I I I

Kamma disebut juga sebagai hukum sebab-akibat, karena setiap sebab

memiliki akibat. Dalam Dhammapada 1-2, dijelaskan:

“Segala yang dialami didahului oleh pikiran, dipelopori pikiran, diciptakan pikiran. Jika seseorang berbicara atau berbuat dengan pikiran yang buruk, maka penderitaan akan mengikutinya, laksana roda mengikuti jejak. Jika seseorang berbicara atau berbuat dengan pikiran yang murni, maka kebahagiaan akan mengikutinya, laksana bayang-bayang yang tak terpisahkan dari bendanya”.

Kamma adalah aksi. Dalam diri seseorang dan setiap makhluk ada

kekuatan yang diberi istilah yang berbeda-beda, seperti naluri dan kesadaran.

Kecenderungan bawaan ini membuat setiap makhluk untuk bergerak dan

bertindak baik secara fisik maupun mental. Gerakan tersebut merupakan aksi.

Pengulangan aksi menjadikan kebiasaan dan kebiasaan akan menjadi watak,

proses ini disebut kamma.

Kita sebagai umat Buddha percaya bahwa kita akan memetik apa yang

sudah kita tabur. Apa yang kita peroleh saat ini adalah hasil dari perbuatan yang

telah kita lakukan sebelumnya, dan kita di masa mendatang adalah hasil dari apa

yang kita perbuat saat ini.

Kamma juga bukan merupakan ketentuan mutlak. Jika semuanya telah

ditentukan, maka tidak akan ada pengembangan moral dan pertumbuhan spiritual.

Buddha juga menyatakan bahwa kamma bukanlah untuk dipahami sebagai

ketentuan kaku maupun ketidaktentuan baku, melainkan sebagai suatu interaksi

dari keduanya.

Kesalahpahaman mengenai kamma

Ada beberapa kesalahpahaman yang berkaitan dengan kamma. Menurut

Sri Dhammananda:

(4)

4 | A b h i d h a m m a P i t a k a I I I

Dalam Aṅguttara Nikāya disebutkan tentang kesalahpahaman tentang

kamma dan seseorang yang bijak akan menyelidiki dan meninggalkan

pandangan-pandangan berikut ini:

 Kepercayaan bahwa segala sesuatu merupakan hasil pada kehidupan

sebelumnya

 Kepercayaan bahwa segala sesuatu merupakan hasil penciptaan oleh sosok

pencipta tertinggi

 Kepercayaan bahwa segala sesuatu timbul tanpa alasan dan sebab

Kesalahpahaman lain tentang kamma adalah bahwa kamma bekerja hanya

bagi mereka yang menganut agama tertentu. Apa pun agama yang dianut, nasib

seseorang bergantung sepenuhnya pada perbuatan yang ia lakukan baik melalui

pikiran, ucapan, maupun perbuatan. Jika kita mengacu pada hukum kamma, maka

nasib seseorang pada kehidupan saat ini maupun kehidupan berikutnya tidak

sedikit pun bergantung pada agama atau kepercayaan yang ia anut.

Kamma tidaklah terbatas pada agama yang dianut, seseorang akan bahagia

selama ia melakukan perbuatan baik dan menjalani hidup yang bermoral dan tidak

tercela, sebaliknya, seseorang akan menderita selama ia melakukan perbuatan

buruk dan menjalani hidup yang tercela. Oleh karena itu, dalam agama Buddha

tidak ada jaminan bahwa mereka yang beragama Buddha pasti mendapatkan

berkah dan pasti masuk surga setelah kematinnya tiba. Seseorang bahagia maupun

menderita disebabkan oleh perbuatan yang dilakukannya, bukan karena agama

yang dianutnya.

Kamma dapat menjawab pertanyaan yang selama ini muncul dalam benak

setiap orang tentang ketidaksetaraan yang ada dalam kehidupan manusia.

Ketidaksetaraan ini terjadi bukan hanya disebabkan oleh keturunan maupun

lingkungan, tetapi yang paling berpengaruh di sini adalah karena kamma. Kamma

merupakan salah satu faktor yang bertanggung jawab atas kesuksesan dan

(5)

5 | A b h i d h a m m a P i t a k a I I I

Dalam bukunya yang berjudul Keyakinan Umat Buddha, Sri

Dhammananda mengatakan bahwa cara kerja hukum kamma dapat diibaratkan

dengan rekening bank:

“Cara kerja hukum kamma juga bisa diibaratkan dengan rekening bank: seseorang yang baik, murah hati, dan penuh kebaikan dalam hidupnya saat ini sama dengan menambahkan tabungan „kamma baik‟. Akumulasi kamma baik ini dapat digunakan untuk menjamin hidup yang bebas dari masalah. Namun demikian, ia harus menggantikan apa yang ia ambil, jika tidak, suatu hari rekeningnya akan berkurang dan ia akan bangkrut. Jadi, seseorang tidak dapat menyalahkan orang lain maupun nasib jika suatu hari rekeningnya berkurang ataupun bangkrut. Dalam Dhammapada 127 Buddha mengatakan, “Tidak ada tempat di dunia ini, yang di sana seseorang bisa terlepas dari akibat perbuatan buruknya”. (Dhammananda, 2012: 133)

Diri sendiri yang bertanggung jawab

Memahami hukum kamma berarti menyadari bahwa kita sendirilah

bertanggung jawab atas kebahagiaan maupun penderitaan yang kita alami.

Buddha menjelaskan bahwa kita mampu untuk menentukan arah hidup kita, selain

itu kita juga memiliki segala kemungkinan untuk membentuk kamma kita sendiri.

Kita bukan budak kamma, karena kita memiliki kekuatan untuk mengubah kamma

kita.

Lalu bagaimana cara untuk menghentikan maupun meminimalisir akibat

dari kamma buruk yang telah terkumpul sebelumnya? Yaitu dengan cara

melakukan lebih banyak perbuatan baik dan memurnikan batin kita. Dengan cara

itulah kita bisa meminimalisir dan menekan akibat dari kamma buruk yang pernah

kita lakukan sebelumnya. Kita sebagai umat Buddha tentu tidak mengandalkan

pemujaan, melakukan ritual atau menyiksa tubuh jasmani untuk mengatasi

dampak kamma buruk yang pernah kita lakukan.

Kamma didasari oleh niat

Kamma berkaitan dengan perbuatan manusia. Namun demikian, setiap

perbuatan yang dilakukan tanpa niat tujuan apa pun tidak dapat menjadi

kusala-kamma (perbuatan baik) maupun akusala-kamma (perbuatan buruk). Oleh karena

(6)

6 | A b h i d h a m m a P i t a k a I I I

berarti, perbuatan baik dan buruk apa pun yang kita lakukan tanpa niat tujuan

bukanlah kamma dan tidak cukup kuat untuk dibawa ke kehidupan yang akan

datang. Walaupun seseorang tidak mengetahui akan keberadaan dan cara kerja

hukum kamma, itu bukanlah alasan untuk membenarkan perbuatan buruk yang

dilakukannya dan menghindari akibat dari kamma buruk yang ia lakukan, jika

perbuatan tersebut dilakukan secara sengaja, pastilah perbuatan tersebut

merupakan kamma dan pasti akan mendatangkan akibat.

Faktor lain yang mendukung kamma

Ada peran yang dimainkan oleh kekuatan alam lainnya. Ada lima proses

hukum alam (niyāma) yang bekerja di alam semesta ini, yaitu:

Utu niyāma (hukum musim) yang berkaitan dengan asas anorganik fisik,

misalnya fenomena musim dari angin dan hujan, dan sebagainya

Bīja Niyāma (hukum biji) yang berkaitan dengan asas benih dan biji

Kamma Niyāma (hukum perbuatan) yang berkaitan dengan kausal moral

atau asas sebab-akibat

Citta Niyāma (hukum batin) yang mengatur proses kesadaran

Dhamma Niyāma (hukum fenomena) yang berkaitan dengan daya listrik,

gerakan gelombang, dan sebagainya

Hukum Kamma hanyalah salah satu dari lima hukum alam yang menjelaskan

keragaman di semesta ini.

Kekuatan yang membantu atau menghalangi kamma

Kekuatan lain yang membantu atau menghalangi kamma adalah kelahiran,

penampakan, waktu, kondisi dan upaya.

Kelahiran yang menguntungkan (gati sampatti) atau kelahiran yang tidak

menguntungkan (gati vipatti) dapat mengembangkan atau mencegah matangnya

kamma. Sebagai contoh, jika seseorang terlahir dalam keadaan bahagia,

kelahirannya yang menguntungkan akan memudahkan kamma baiknya bekerja.

Seseorang yang tidak pandai, yang oleh karena suatu kamma baik, terlahir dalam

(7)

7 | A b h i d h a m m a P i t a k a I I I

Jika orang yang sama terlahir secara kurang menguntungkan, tentu ia tidak akan

bernasib sama.

Penampakan baik (upadhi sampatti) dan penampakan buruk (upadhi

vipatti) adalah dua faktor lain yang menghambat atau mendorong kerja kamma.

Jika karena suatu kamma baik, seseorang memiliki kelahiran yang baik, tetapi

terlahir cacat oleh suatu kamma buruk, maka ia tidak akan dapat sepenuhnya

menikmati manfaat kamma baiknya. Bahkan seorang pewaris takhta yang sah

mungkin tidak akan diangkat ke posisi yang tinggi itu jika ia menderita cacat fisik

atau mental. Kecantikan, di lain pihak, akan menjadi modal bagi pemiliknya.

Anak yang tampan dari orang tua miskin dapat menarik perhatian orang lain dan

mampu menonjolkan dirinya. Juga, kita dapat menemukan kasus orang dari latar

belakang keluarga miskin dan tidak terkenal yang tumbuh menjadi populer seperti

aktor atau aktris film atau ratu kecantikan.

Waktu dan tempat adalah faktor lain yang memengaruhi kerja kamma.

Pada masa kelaparan atau pada masa perang, semua orang tanpa kecuali terpaksa

menderita nasib yang sama. Di sini kondisi yang kurang menguntungkan

membuka kemungkinan kamma buruk bekerja. Kondisi yang menguntungkan,

sebaliknya, akan mencegah bekerjanya kamma buruk.

Usaha atau kepandaian barangkali merupakan faktor terpenting dari semua

faktor yang memengaruhi bekerjanya kamma. Tanpa usaha, kemajuan duniawi

dan spiritual tidak mungkin terjadi. Jika kita tidak berusaha untuk menyembuhkan

penyakit kita, atau menyelamatkan diri kita sendiri dari kesulitan, atau berjuang

dengan tekun demi kemajuan, maka kamma buruk akan menemukan kesempatan

yang cocok untuk mewujudkan efeknya. Akan tetapi, jika kita berikhtiar untuk

mengatasi kesulitan dan masalah, kamma baik kita akan datang menolong.

Misalnya saja, dalam salah satu kelahiran Boddhisatta, ketika pecah di tengah

lautan dalam, beliau berusaha menyelamatkan dirinya sendiri juga ibunya yang

sudah tua, sementara orang lain hanya berdoa kepada dewa dan menyerahkan

nasib mereka di tangan dewa. Hasilnya, Boddhisatta berhasil selamat, sementara

orang lain yang tidak berusaha menyelamatkan diri mereka dan hanya berdoa

(8)

8 | A b h i d h a m m a P i t a k a I I I

Menurut Sri Dhammananda, seseorang bisa saja mengatasi efek dari

kamma dengan melakukan berbagai macam hal, namun mereka tidak akan

sepenuhnya dapat menghindarinya:

“Bagaimanapun, manusia dapat mengatasi efek langsung kamma dengan melakukan metode tertentu, tetapi mereka tidak terbebas sepenuhnya dari efek kamma jika mereka tetap berada dalam saṁsāra – siklus kelahiran dan kematian. Kapan pun kesempatan muncul, efek kamma yang tertahan sementara akan bekerja kembali. Ini adalah ketidakpastian kehidupan duniawi. Bahkan Buddha dan para Arahanta juga dipengaruhi oleh kamma tertentu, sekalipun mereka berada dalam kelahiran terakhir mereka”. (Dhammananda, 2012: 139)

Kenapa orang jahat senang sedangkan orang baik menderita?

Kemudian muncul pertanyaan, “jika kebaikan menghasilkan kebahagiaan

dan kejahatan menghasilkan penderitaan, mengapa banyak orang baik yang hidup

menderita sedangkan banyak orang jahat yang sukses dan bahagia?”

Memang benar bahwa kebaikan menghasilkan kebahagiaan dan kejahatan

menghasilkan penderitaan. Namun kesuksesan dan kebahagiaan yang diraih dan

didapatkan oleh mereka yang jahat tidak hanya disebabkan oleh perbuatan yang

mereka lakukan dalam kehidupan saat ini, namun dipengaruhi juga oleh kamma

masa lampau mereka. Mereka yang bersifat baik namun mengalami penderitaan

dalam kehidupan saat ini tentu ada sebabnya, antara lain mereka belum

mengumpulkan kamma baik yang cukup banyak dalam kelahiran sebelumnya

untuk mengatasi dampak kamma buruk yang dialaminya pada kehidupan saat ini.

Suatu saat pada masa lampau mereka pasti memiliki kekurangan dengan berbuat

kamma buruk. Di lain pihak, mereka yang bersifar jahat, namun tetap dapat

menikmati kesuksesan dan kebahagiaan dalam hidup ini adalah berkat buah

kamma baik yang kuat yang mereka kumpulkan dalam kehidupan yang

sebelumnya.

Sebagai contoh, ada seseorang yang secara alamiah mewarisi jasmani yang

kuat dan sebagai dapat menikmati kesehatan sempurna. Daya tahan fisik mereka

kuat dan tidak rentan terhadap penyakit. Walaupun mereka tidak mengikuti

(9)

9 | A b h i d h a m m a P i t a k a I I I

dan sehat. Sebaliknya, ada orang lain yang mengkonsumsi berbagai obat kuat,

vitamin, makanan bergizi untuk menjaga kondisi tubuh mereka, tetapi di balik

usaha mereka untuk menjadi kuat dan sehat, kesehatan mereka tidak menunjukkan

perbaikan apa pun.

Apakah kita adalah korban dari perbuatan masa lampau?

Bukanlah hal yang mutlak bahwa segala sesuatu yang kita derita atau

nikmati hari ini sepenuhnya disebabkan oleh kamma masa lampau. Walaupun

hidup kita sudah terkondisi oleh kamma masa lampau kita, namun kita tetap dapat

mengubah kondisi itu dan menciptakan kebahagiaan kita saat ini dan masa

mendatang. Kita sebagai umat Buddha tidak menyerah pada nasib dan kita

berpandangan bahwa manusia tidak dikuasai sepenuhnya oleh nasib (fatalisme).

Namun kita memiliki kekuatan untuk membuat kebahagiaan kita sendiri yaitu

dengan cara banyak melakukan perbuatan baik.

Hukum kamma dan hukum newton

Hukum Newton menyatakan: “Untuk setiap aksi, ada reaksi berlawanan yang sama besar”. Maka setiap individu, yang melakukan tindakan yang baik atau buruk, seyogianya mendapatkan reaksi terbalik yang setara, baik dalam kehidupan

saat ini atau di kehidupan mendatang.

Jika diibaratkan dengan bibit sebuah tanaman, maka bibit kamma akan

menghasilkan makhluk yang baru di alam yang sesuai dengan kamma yang

diperbuatnya. Kamma buruk akan mengakibatkan kelahiran kembali di alam yang

menyedihkan seperti alam Peta, Niraya, Tiracchāna, dan Asurā, sedangkan

kamma baik akan mengakibatkan kelahiran kembali di alam bahagia seperti alam

manusia, alam surga, dan alam brahma.

Empat jenis kamma (kamma-catukka)

Kemudian kamma dapat dikelompokkan dalam empat kelompok.

Meskipun kita tidak dapat mengetahui kamma individu seseorang, kita dapat

(10)

10 | A b h i d h a m m a P i t a k a I I I

Buddha. Kemudian kita dapat memprediksinya, di mana dan bagaimana setiap

jenis kamma akan menghasilkan akibatnya.

Empat jenis kamma berdasarkan fungsinya (Kicca-kamma catukka)

1. Janaka-kamma

Kamma penghasil yang menghasilkan kelompok kehidupan mental dan

kelompok kehidupan material pada saat konsepsi dan juga sepanjang

kehidupan dari individu tersebut.

2. Upatthambhaka-kamma

Kamma pendukung yang mendukung janaka-kamma juga efek dari

janaka-kamma sepanjang kehidupan dari individu; ia tidak cukup kuat

untuk menghasilkan kehidupan baru.

3. Upapīlaka-kamma

Kamma penghalang yang melemahkan, menyela, atau memperlambat buah

dari janaka-kamma.

4. Upaghātaka-kamma

Kamma perusak yang tidak hanya memotong efek dari janaka-kamma

tetapi juga merusak janaka-kamma dan menghasilkan efeknya sendiri.

dengan kata lain, seseorang yang mati tiba-tiba dan terlahir kembali adalah

sesuai dengan upaghātaka-kamma.

Sebagai contoh dari bekerjanya keempat kamma di atas, kasus Devadatta

bisa sebagai pilihan. Kamma baik penghasilnya, mengkondisikan ia terlahir di

keluarga kerajaan. Ia menikmati kesenangan dan kesejahteraan semasa kamma

penghasilnya juga kamma pendukung masih bekerja. Kamma penghalang

memainkan perannya pada saat dikucilkan dari kelompok saṅgha dan menjadi

subjek yang dipermalukan. Selanjutnya kamma tidak bermoralnya yang serius

yang menyebabkan perpecahan di dalam saṅgha bekerja sebagai kamma perusak

yang mengirimnya jatuh ke neraka avīci.

Empat jenis kamma berdasarkan prioritas menghasilkan akibatnya

(Pākadānapariyāya-kamma Catukka)

(11)

11 | A b h i d h a m m a P i t a k a I I I

Kamma berat yang sangat kuat sehingga tidak ada kamma lain yang dapat

menghentikan fungsinya di kehidupan yang akan datang. Dengan kata lain,

ia dengan pasti menghasilkan akibatnya di kehidupan yang akan datang.

Kamma buruk yang berat termasuk pañcānantariya kamma, yakni (i)

menyebabkan perpecahan di dalam kelompok saṅgha, (ii) melukai

Buddha, (iii) membunuh Arahat, (iv) membunuh ibu, dan (v) membunuh

ayah. Niyata-micchādiṭṭhi (pandangan salah yang permanen) juga

diistilahkan sebagai kamma yang berat.

Di sisi lain, 5 rūpāvacara-kusala kamma dan 4 arūpāvacara-kusala

kamma adalah kamma baik yang berat. Lokuttara-magga juga merupakan

kamma baik berat yang kuat yang menutup empat pintu alam apāya untuk

selamanya.

2. Āsanna-kamma

Kamma yang terdekat yang dilakukan pada saat menjelang kematian atau

teringat sebelum kematian.

3. Ācinna-kamma

Kamma kebiasaan yang dilakukan secara regular, atau mungkin kamma

yang hanya dilakukan satu kali dan terkenang atau teringat selalu

sepanjang waktu.

4. Kāṭattā-kamma

Kamma yang tidak spesifik yang dilakukan satu kali dan segera

terlupakan.

Dalam bukunya yang berjudul The Essence of Buddha Abhiddhama,

Mehm Tin Mon memberikan sebuah contoh tentang kamma kebiasaan, yaitu

tentang ayah dari Ven. Soṅa di Srilanka. Ayah dari Ven. Soṅa adalah seorang

pemburu selama hidupnya. Pada saat ia sudah terlalu tua untuk berburu, ia

menjadi bhikkhu di vihara milik anaknya. Pada saat ia sakit berat dan melihat

bayangan bahwa anjing-anjing neraka datang dan menaiki bukit untuk

menggigitnya. Begitu ia ketakutan dan memberitahukan kepada anaknya untuk

mengusir anjing-anjing tersebut.

Putranya seorang Arahat, mengetahui bahwa ayahnya memiliki tanda

(12)

12 | A b h i d h a m m a P i t a k a I I I

memanggil murid-muridnya untuk segera mengumpulkan bunga-bunga dan

menebarkannya ke seluruh bagian pagoda di vihara itu. Ven. Soṅa membawa

ayahnya menuju ke pagoda. Ven. Soṅa mengingatkan ayahnya untuk memberi

hormat ke pagoda dan bergembira terhadap persembahan bunga atas kepentingan

dirinya. Bhikkhu tua menjadi tenang, memberi hormat pada pagoda dan

bergembira melihat bunga-bunga yang dipersembahkan di pagoda atas

kepentingan dirinya. Pada waktu itu tanda nasibnya pun berubah. Ia memberitahukan kepada putranya, “Ibu tirimu yang cantik dari alam surgawi datang untuk menjemputnya”. Putranya merasa puas dengan hasil dari usahanya. Ini adalah cara yang terbaik untuk membalas jasa kebajikan kita terhadap orang

tua kita.

Dengan demikian, sangat perlu kiranya untuk mengembangkan kamma

kebiasaan yang baik semasa kita hidup. Kamma kebiasaan yang terbaik adalah

meditasi ketenangan batin atau meditasi pandangan terang yang dapat kita

lakukan sepanjang waktu. Ketika perbuatan tersebut menjadi kebiasaan, maka

perbuatan tersebut akan diingat dan dipraktikkan menjelang kematian kita.

Selain itu dalam masa kehidupan Buddha, Cunda, seorang penjagal,

menjalani hidup dengan menyembelih babi dengan cara yang kejam selama lebih

dari 50 tahun. Pada saat waktunya sudah habis api dari neraka datang

membakarnya dan membuatnya menjerit seperti babi selama tujuh hari. ia akan

berada di neraka segera setelah kematiannya. Maka kamma kebiasaan sering

menjadi kamma yang terdekat dan menghasilkan akibatnya.

Perumpamaan dari kelompok ternak

Ada sebuah perumpamaan yang dapat digunakan untuk menjelaskan

pengelompokkan kamma menurut prioritas dalam menghasilkan akibat, yaitu

dengan menggunakan perumpamaan kelompok ternak.

Jika ada banyak ternak yang dikurung dalam sebuah kandang yang besar

pada malam hari. Pada pagi harinya pintu kandang dibuka dan ternak-ternak akan

(13)

13 | A b h i d h a m m a P i t a k a I I I

Semua ternak-ternak akan keluar sesegera mungkin. Jika ada pemimpin

mereka yang disegani, yang satu ini akan berjalan dengan gagahnya ke pintu da

keluar terlebih dahulu. Layaknya kamma berat yang tidak tersaingi akan

menghasilkan akibatnya di kehidupan mendatang. Sekarang, jika di sana tidak ada

pemimpinnya, ternak yang terdekat dengan pintu yang akan keluar terlebih

dahulu. Ini sama dengan kamma terdekat yang akan membuahkan hasil di

kehidupan akan datang.

Kadang-kadang ada yang lebih waspada, yang secara teratur

memperhatikan kapan waktu pintu dibuka, ia akan berjalan ke dekat pintu

sebelum pintu dibuka dan keluar lebih dulu pada saat setelah pintu dibuka. Ini

sama sepeti kamma kebiasaan yang akan menghasilkan akibatnya pada kehidupan

yang akan datang. Kadang-kadang sesuatu yang lemah dan tidak diperhitungkan,

karena terdorong oleh yang kuat, sehingga ia akan terdesak keluar kandang lebih

dahulu. Ini mirip dengan kasus ketika kamma yang tidak spesifik dan tidak

diharapkan memiliki kesempatan untuk mengkondisikan kehidupan yang akan

datang.

Ratu Malika menjalankan kehidupan dengan benar, tetapi ia teringat akan

perbuatan buruk yang pernah dilakukannya pada waktu yang telah lama berlalu.

Jadi kamma buruk yang tidak spesifik tersebut menjeratnya hingga ia terlahir

kembali ke Neraka Avīci selama tujuh hari.

Empat jenis kamma yang berhubungan waktunya memunculkan hasil

(Pākakāla-kamma catukka)

1. Diṭṭhadhammavadanīya-kamma

Kamma segera efektif yang membuahkan hasilnya pada kehidupan ini

2. Upapajjavedanīya-kamma

Kamma yang efekif pada urutan berikutnya yang membuahkan hasilnya

pada kehidupan akan datang yang berikut (kehidupan kedua)

3. Aparāpariyavedaniya-kamma

Kamma yang tidak dapat dipastikan kapan akan membuahkan hasilnya

mulai dari kehidupan berikut yang ketiga sampai kehidupan terakhirnya

(14)

14 | A b h i d h a m m a P i t a k a I I I

4. Ahosi-kamma

Kamma yang tidak bermanfaat yang tidak akan menghasilkan buahnya

Empat jenis kamma yang berhubungan berhubungan dengan tempat

berbuah (Pākaṭhāna-kamma catukka)

1. Akusala kamma

Kamma tidak bermoral yang menghasilkan akibatnya di empat kediaman

atau alam yang menyedihkan

2. Kāmāvacara-kusala kamma

Kamma bermoral di alam kesenangan indriya yang menghasilkan

akibatnya di tujuh alam kesenangan indriya (kāmaloka)

3. Rūpāvacara-kusala kamma

Kamma bermoral di alam bermateri halus yang menghasilkan akibatnya di

enam belas alam rūpa (rūpaloka)

4. Arūpāvacara-kusala kamma

Kamma bermoral di alam awa-materi yang menghasilkan akibatnya di

empat alam arūpa (arūpaloka)

Kesimpulan

Hukum kamma adalah salah satu ajaran Buddha yang amat fundamental.

Namun demikian, bukan berarti hukum kamma hanya milik agama Buddha saja

dan hanya berlaku bagi mereka yang menganut agama Buddha saja. Hukum

kamma berlaku bagi setiap orang baik itu beragama Buddha maupun bukan

beragama Buddha. Terlebih lagi bagi umat Buddha khususnya amat perlu untuk

mengetahui dan memahami hukum kamma ini secara jelas.

Setelah mempelajari hukum kamma secara teori, diharapkan pemahaman

dan pengertian mengenai hukum kamma yang bertambah dapat memperkuat

keyakinan umat Buddha kepada Buddha, Dhamma, dan Saṅgha. Tidak hanya

sampai di situ, selanjutnya sebagai umat Buddha, perlu kiranya untuk menerapkan

(15)

sehari-15 | A b h i d h a m m a P i t a k a I I I

hari agar menjadi lebih baik dari sebelumnya. Semoga yang belum baik menjadi

baik dan yang sudah baik menjadi jauh lebih baik lagi.

DAFTAR PUSTAKA

- Dhammananda, K. Sri. 2012. Keyakinan Umat Buddha. Tanpa Nama

Kota: Ehipassiko Foundation.

- Janakābhivaṁsa, Ashin. 2005. Abhidhamma Sehari-hari. Tanpa Nama

Kota: Pustaka Karaniya.

- Kaharuddin, Pandit J. Tanpa Tahun. Abhidhammatthasaṅgha. Tanpa

Nama Kota: CV. Yanwreko Wahana Karya.

- Nyanaponika Thera. 2003. Serba-serbi Karma. Klaten: Wisma Sambodhi.

- Tin Mon, Mehm. 2012. The Essence Of Buddha Abhidhamma. Jakarta:

Figur

Memperbarui...

Referensi

Memperbarui...