I. LATAR BELAKANG
Sesuai Peraturan Gubernur Akademi Kepolisian Nomor 2 Tahun 2012 Tentang Peraturan Kehidupan Taruna Akademi Kepolisian, Akademi Kepolisian merupakan lembaga pendidikan kedinasan berwawasan global dan berkualitas untuk mewujudkan Perwira Polri sebagai pimpinan tingkat pertama dan calon pimpinan Polri yang memiliki dan atau menguasai serta mampu mengembangkan taktik, teknik, dan mengatur kepolisian dengan memadukan pengetahuan dan kecakapan akademisi dalam rangka pelaksanaan Tugas Pokok Polri susuai Undang-Undang.
Akademi Kepolisian atau disingkat Akpol adalah sebuah lembaga pendidikan untuk mencetak para Perwira Polri, merupakan unsur pelaksana pendidikan pembentukan Perwira Polri yang berada di bawah Lembaga
Pendidikan Polri (Lemdikpol)1. Berdasarkan Peraturan Kapolri Nomor 21 Tahun
2010 Tentang Susunan Organisasi dan Tata Kerja Satuan Organisasi Pada Tingkat Markas Besar Kepolisian Negara Republik Indonesia, Akademi Kepolisian bertujuan menyelenggarakan pendidikan pembentukan Perwira Polri tingkat Akademi dengan lama pendidikan 4 (empat) tahun serta output berpangkat Inspektur Dua Polisi. Pendekatan pola pendidikan Akademi Kepolisian yaitu melalui metoda pembelajaran, pelatihan dan pengasuhan bagi para peserta didiknya yang kemudian disebut sebagai Taruna Akademi Kepolisian.
Peraturan Gubernur Akademi Kepolisian Nomor 2 Tahun 2013 Tentang Peraturan Kehidupan Taruna Akademi Kepolisian disebutkan bahwa Taruna Akademi Kepolisian adalah Warga Negara Republik Indonesia baik pria maupun wanita yang telah memenuhi syarat dan dinyatakan lulus dalam seleksi secara resmi diterima dan saat disebut sebagai Taruna adalah setelah dilantik sebagai peserta didik di Akademi Kepolisian. Para calon peserta didik yang telah lulus dari seleksi kemudian dilantik serta akan menjalani pendidikan berbasis kepolisian selama 4 (empat) tahun dan dipersiapkan untuk menjadi calon pimpinan tingkat pertama pada Institusi Polri. Diharapkan dengan bekal yang didapat oleh para Taruna selama menjalani proses pendidikan tersebut, dianggap siap sebagai first line supervisor2 dan mampu merencanakan,
1Lembaga Pendidikan Polri (Lemdikpol) merupakan unsur pendukung pelaksana pendidikan pembentukan dan pengembangan anggota Polri.
(Sumber : lemdik.polri.go.id)
2 manajer pada tingkatan lini garis pertama (first line) dan paling rendah dalam suatu organisasi yang memimpin dan mengawasi tenaga-tenaga operasional dimana tidak membawahi manajer yang lain. (Sumber : https://expressknowledges.wordpress.com)
mengorganisasikan, mengatur, serta mengontrol bawahannya untuk menyelenggarakan organisasi kepolisian pada tingkatan pertama.
Peraturan yang sama pun menyebutkan bahwa Pengasuh Akademi Kepolisian merupakan para Perwira yang bertugas dalam kompartemen
Korbintarsis3 Akademi Kepolisian memiliki peran, tugas, serta tanggungjawab
dalam memberikan pelayanan serta pembinaan sikap perilaku dan karakter para peserta didik Taruna Akademi Kepolisian.
Sumber Mata Anggaran Akademi Kepolisian Nomor 060.01.05.5072.001.003.DV.4.3.5.521119 Tentang Belanja Barang Operasional berdasarkan Keputusan Gubernur Akademi Kepolisian Nomor : Kep / 09 / I / 2014 Tanggal 24 Januari 2014 tentang Rencana Pendistribusian Anggaran Akademi Kepolisian Tahun Anggaran 2014, menuliskan bahwa Uang Pengasuhan merupakan kontribusi yang diberikan oleh Gubernur Akademi Kepolisian (atas nama Lemdikpol Akpol) sejumlah Rp. 200.000,- sebagai dana dukungan operasional bagi para Pengasuh Akademi Kepolisian dalam menjalankan tugas serta tanggungjawabnya memberikan pelayanan prima bagi para Taruna Akademi Kepolisian.
Anggaran sejumlah tersebut diatas jelas sangat minim dan tidak dapat meng-cover kejadian-kejadian bersifat kontijensi yang dialami oleh para Taruna asuhan masing-masing Pengasuh Akademi Kepolisian. Pada bulan Januari 2014, akibat terjatuh saat bertanding sepakbola di Stadion Taruna Akademi Kepolisian, seorang Taruna Tk. III Angkatan 46 bernama Brigadir Taruna Marvell Stevanus Ansanay mengalami luka robek pada ligamen4 kakinya.
Terhadap dirinya diperlukan rontgen guna sang dokter membaca kondisi akhir
ligamen kaki Taruna tersebut. Biaya rontgen di RS. Elisabeth Semarang adalah
sebesar Rp. 402.000,-. Jelas merupakan tanggungjawab lembaga (dalam hal ini Pengasuh) untuk membayarkannya. Uang Pengasuhan yang diberikan oleh lembaga hanya sebesar Rp. 200.000,-, lalu bagaimana Pengasuh menutup kekurangan tersebut? Atas dasar analisa inilah penulis membuat tulisan yang
berjudul “KONTRIBUSI LEMBAGA PENDIDIKAN POLRI AKADEMI
KEPOLISIAN DALAM BENTUK DANA KONTIJENSI GUNA MENDUKUNG EFEKTIFITAS KERJA PENGASUH AKPOL DALAM RANGKA PELAYANAN PRIMA KEPADA TARUNA AKADEMI KEPOLISIAN”.
3Adalah kompartemen yang berada dibawah Direktorat Pembinaan Taruna dan Pelatihan Akademi Kepolisian yang bertugas dan bertanggungjawab secara operasional dan administrasi pada bidang ketarunaan. (Sumber: akpol.ac.id)
4 Ligamen atau ligamentum adalah pita mengkilap dan fleksibel dari jaringan ikat yang menghubungkan tulang dengan tulang. (Sumber: http://kamuskesehatan.com/arti/ligamen/)
II. PERMASALAHAN
Bagan 1. Struktur Organisasi
Detasemen Taruna Tk. III / 46 Anindya Yodha5
Sumber : Surat Perintah Kakorbintarsis No. Pol : Sprin / 19 / II / 2014 / KTS Tanggal 20 Januari 2014
Bagan diatas merupakan struktur organisasi kepengasuhan Taruna Akademi Kepolisian sesuai dasar hukum Peraturan Akademi Kepolisian yang dijabarkan dalam bentuk Surat Perintah Kepala Korps Pembinaan Taruna dan Siswa yang diterbitkan pada tahun 2014 silam. Literatur hukum Peraturan Gubernur Akademi Kepolisian Nomor 2 Tahun 2013 Tentang Peraturan Kehidupan Taruna Akademi Kepolisian menyebutkan bahwa Pengasuh Akademi Kepolisian merupakan para Perwira yang bertugas dalam
5Merupakan nama Angkatan yang berasal dari Bahasa Sansekerta yang berarti “Prajurit Tanpa Cela” untuk para Taruna Akpol lulusan tahun 2015
Tugas Man Wasdal Polda Jateng – Akpol
KA DENTAR
AKP RICKY R, S.Ik AKP SUDARSONO, S.IkKASATTAR 2 KASATTAR 2
AKP M. SYAFII, S.Ik AKP ALI. P, S.IkKASATTAR 4
KASATTAR 4 AKP ALI. P, S.Ik
KASATTAR 5 AKP YUSUF, S.Ik
KASATTAR 5
AKP YUSUF, S.Ik AKP FAJAR, S.IkAKP FAJAR, S.IkKASATTAR 6KASATTAR 6 AKP NURHADIANSYAH S.IkKASATTAR 7 AKP TIMUR, S.IkAKP TIMUR, S.IkKASATTAR 8KASATTAR 8 KASATTAR 7
AKP NURHADIANSYAH S.Ik
KASATTAR 9 AKP NANANG, S.Ik
KASATTAR 9
AKP NANANG, S.Ik AKP BENNY, S.IkAKP BENNY, S.IkKASATTAR 10KASATTAR 10 AKP SETIYADI S.IkKASATTAR 11 IPTU SANDHI.WIPTU SANDHI.WKASATTAR 12KASATTAR 12 KASATTAR 11
AKP SETIYADI S.Ik
KASATTAR 13 AKP RETNO, SH
KASATTAR 13
kompartemen Korbintarsis Akademi Kepolisian memiliki peran, tugas, serta tanggungjawab dalam memberikan pelayanan serta pembinaan sikap perilaku dan karakter para peserta didik Taruna Akademi Kepolisian.
Penjelasan akan ketentuan tersebut diatas merupakan pertanggungjawaban hukum para Pengasuh Akademi Kepolsian dalam melaksanakan tugas dan tanggungjawab kerja dalam memerikan pelayanan prima bagi para Taruna Akademi Kepolisian dengan bentuk pembinaan dan arahan serta membentuk karakter dan berbagai doktrin kepolisian. Pengasuh Taruna Akademi Kepolsian bertanggungjawab atas segala hal yang terjadi pada Taruna yang mereka pimpin, baik mengetahui segala perkembangan para Taruna hingga hal-hal yang dialami oleh para Taruna selama menjalankan proses pendidikan di Akademi Kepolisian.
Sekitar bulan Januari 2014 pada saat sedang berlangsung kegiatan Porsimaptar6, akibat terjatuh saat bertanding sepakbola di Stadion Taruna
Akademi Kepolisian, seorang Taruna Tk. III Satuan 12 Angkatan 46 bernama Brigadir Taruna Marvell Stevanus Ansanay mengalami luka robek pada ligamen kakinya. Pada awalnya sang Taruna tidak mengalami hambatan atas permasalahan tersebut. Namun lambat laun, kaki sang Taruna itu membengkak. Melihat kondisinya tersebut, Kepala Satuan Taruna 12 Angkatan 46 Detasemen Anindya Yodha IPTU Sandhi Wiedyanoe berinisiatif melaporkan kejadian tersebut kepada Kepala Detasemen Taruna Tk. III Angkatan 46 Detasemen Anindya Yodha AKBP Rendra Radita Dewayana, S.Ik. Beliau memerintahkan Kasattar 12 untuk membawa sang Taruna ke Rumah Sakit Akpol. Di Rumah Sakit Akpol, dokter menyarankan agar Taruna dirujuk ke RS. Elisabeth Semarang setelah melihat kondisinya, mengingat fasilitas pengobatan yang terdapat di Rumah Sakit Akpol tidak mendukung untuk mendeteksi gejala serta akibat dari kecelakaan yang diderita Taruna saat bertanding sepakbola.
Mendengar penjelasan dari dokter Rumah Sakit Akpol, Kasattar 12 melaporkan perkembangan tadi pada Kadentar serta membawa sang Taruna ke RS. Elisabeth untuk penanganan yang lebih intensif. Ketika berada di RS. Elisabeth, dokter mengatakan bahwa ada kemungkinan ligamen kaki Taruna itu sobek akibat benturan saat bermain sepakbola. Namun untuk lebih memastikan, dokter RS. Elisabeth menyarankan agar dilakukan tindakan rontgen terhadap sang Taruna. Ketika mengajukan permohonan rontgen, biaya
6Porsimaptar merupakan singkatan dari Pekan Olahraga Seni dan Kesamaptaan Taruna, (Sumber: Perduptar Akpol)
yang harus dibayarkan adalah Rp. 402.000,-. Mengetahui hal tersebut merupakan tanggungjawab dinas dari Kasattar 12 selaku pemimpin Taruna Marvell Stevanus Ansanay, Kasattar keesokan harinya membayarkan biaya tersebut dengan menggunakan Uang Pengasuhan yang telah ia terima dari lembaga sejumlah Rp. 200.000,-, untuk kekurangannya ditambah sebesar Rp. 202.000,- oleh Kepala Detasemen Taruna Tk. III Angkatan 46 Detasemen Anindya Yodha.
Akibat kurangnya jumlah Uang Pengasuhan yang diterima oleh Kasattar selaku pengasuh langsung Taruna Marvel Stevanus Ansanay, Taruna tersebut
terpaksa menunda 1 (satu) hari pelaksanaan rontgen pada kakinya. Tentu saja
hal itu menyebabkan penundaan terhadap ‘penanganan segera’ Taruna yang sakit oleh dokter di RS. Elisabeth Semarang. Permasalahan yang coba dikupas oleh penulis adalah belum adanya dana kontijensi yang sedianya dapat dipergunakan untuk keperluan bersifat insidentil dan segera demi memperlancar Proses Belajar Mengajar (PBM) para Taruna Akademi Kepolisian selama menjalankan pendidikan di Akademi Kepolisian.
… Meski demikian, Kapolda Babel Budi H Untung berinisiatif melaksanakan pengamanan awal secara internal dengan menggunakan dana kontijensi milik Polda Babel. Hal ini dilakukan untuk menyikapi maraknya penambangan di lokasi tersebut dan belum dicairkannya dana pengamanan terpadu oleh PT Timah. ..
Demikian diungkapkan Kabid Humas Polda Babel AKBP Riza Yulianto kepada Radar Bangka, kemarin (5/12). "Berdasarkan laporan, di kiri kanan kapal keruk sudah banyak TI Rajuk. Padahal kan lahan tersebut masih dalam “status quo”. Siapapun tidak boleh menambang. Karena masih di wilayah Babel, Kapolda berhak menganalisa kondisi daerahnya sendiri dan mengadakan pengamanan awal ini," paparnya.
"Pertimbangannya memakai dana kontijensi milik Polda, karena dana tersebut belum terpakai untuk tahun 2013 ini. Kan tidak ada kejadian luar biasa selama ini di Babel seperti banjir ataupun bencana alam lainnya, makanya kami beranggapan adalah tepat kalau dana tersebut dipakai untuk pam lahan eks PT Kobatin. Tetapi, tentunya kami akan berkoordinasi ke Mabes Polri, apakah dana ini boleh atau tidak dipakai untuk pam ini. Mengenai besarnya dana, masih dianggarkan," kata Riza. …
http://www.radarbangka.co.id/berita/detail/kamtibmas/18837/mankan-lahan-eks-kobatin-polda-babel-gunakan-dana-kontijensi.html
Portal pemberitaan diatas dikutip oleh penulis dari laman
radarbangka.co.id, menuliskan tentang penggunaan dana kontijensi terhadap kegiatan operasional Polda Bangka Belitung dalam hal pengamanan terhadap kemungkinan terjadinya konflik ditengah-tengah masyarakat yang dapat
mengganggu stabilitas keamanan wilayah setempat. Peraturan Kapolri Nomor 4 Tahun 2014 tertulis pada Pasal (1) huruf h bahwa dukungan dana kontijensi dapat digunakan untuk ; 1. Pengamanan bencana ; 2. Pengamanan gangguan / konflik sosial ; dan 3. Penanganan gangguan kemanan.
Berkaca pada kasus robek ligamen kaki yang dialami oleh Taruna diatas, Pimpinan mungkin dapat menggunakan dana kontijensi atas dasar alasan yang tertera dalam klausa sub-rincian nomor “3. Penanganan gangguan keamanan.” Penulis mencoba menjelaskan bahwa dengan robeknya ligamen kaki sang Taruna, hal tersebut dapat mengancam keamanan Taruna dalam menjalankan proses pendidikan di Akademi Kepolisan. Kebijakan penggunaan dana kontijensi dalam hal ini dapat diwujudkan oleh Pimpinan Akpol guna mendukung baik secara operasional maupun administratif demi kelancaran berlangsungnya Proses Belajar Mengajar (PBM) bagi para Taruna Akademi Kepolisian. Penulis beranggapan bahwa dengan tersedianya dana kontijensi
tadi, Pengasuh dapat dengan mudah membayarkan biaya rontgen bagi sang
Taruna sehingga akibat yang timbul dari kecelakaan tadi dapat segera dieliminir.
Hal tersebut adalah merupakan sebuah tanggungjawab dinas akan keselamatan para Taruna Akademi Kepolisian sebagai peserta didik di Lembaga Pendidikan Akademi Kepolisian. Karena semenjak seseorang dinyatakan lulus oleh Institusi Polri sebagai Taruna Akademi Kepolisian, pada nya merupakan tanggungjawab negara (dalam hal ini Lemdikpol Akpol) dalam hal keamanan serta keselamatan selama dirinya menjalankan proses pendidikan di Akademi Kepolisian. Anggapan tersebut didasari atas kesepakatan bahwa para Taruna merupakan aset Polri dimasa yang akan datang guna menjadi Pimpinan Polri yang harus selalu memelihara kamtibmas, menegakkan hukum, serta memberikan pelindungan, pengayoman, dan
pelayanan terhadap masyarakat.7
Dana kontijensi tadi dapat diserahkan kepada para Kepala Detasemen Taruna (Kadentar) sebagai pengampu serta penanggungjawab para Taruna di masing-masing angkatan. Harapan akan adanya dana kontijensi tadi tentu saja demi memangkas proses birokrasi yang berbelit-belit dalam mengatasi permasalahan para Taruna yang bersifat insidentil dan perlunya kesegeraan.
7Tugas Pokok Polri sesuai isi Pasal 13 dan 14 UU No. 2 Tahun 2002 tentang Kepolisian Negara Republik Indonesia
Penulis menyadari bahwa perwujudan anggaran dengan menggunakan DIPA tidak serta-merta dapat dilaksanakan tanpa adanya perencanaan, pengorganisasian, pelaksanaan, serta pengawasan yang terstruktur demi keefektifan serta memenuhi efisiensi penggunaan anggaran. Oleh karena itu dalam tulisan ini, penulis berusaha memberikan saran masukan kepada pimpinan guna mempertimbangkan akan kebijakan menghadirkan dana kontijensi yang dapat digunakan sewaktu-waktu oleh pejabat pengguna anggaran demi kepentingan operasional maupun administratif bagi para Taruna Akademi Kepolisian, dengan tentu saja dapat dipertanggungjawabkan untuk setiap rupiah biaya yang dikeluarkan.
Gubernur Akademi Kepolisian selaku pejabat Satuan Kerja Lembaga Pendidkan Polri Akademi Kepolisian yang memiliki kuasa penuh atas penggunaan DIPA8 Anggaran Akpol, dalam hal ini dapat mewujudkan dana
kontijensi atas alasan kemudahan tindakan pelayanan prima terhadap para Taruna Akademi Kepolisian dalam segi operasional maupun administratif. Hal ini demi mempercepat proses pelaksanaan tugas yang membutuhkan ketanggapsegeraan serta bersifat mendesak dalam hal administrasi keuangan yang dibutuhkan untuk kepentingan para Taruna Akademi Kepolisian.
Benar bahwa faktor kesehatan, keselamatan, sarana dan prasarana bagi para Taruna selama menjalankan pendidikan di Akademi Kepolisian adalah merupakan tanggungjawab lembaga dalam penanganannya. Namun metoda pembayaran dengan sistem penalangan dana sementara, dianggap kurang efektif bila diterapkan bagi para Taruna Akademi Kepolisian bilamana terjadi hal-hal yang bersifat insidentil, mendesak, serta dibutuhkan kesegeraan dalam penangannya. Studi kasus Taruna Marvell Stevanus Ansanay yang coba diungkapkan oleh penulis adalah contoh ketidak efektif dan efisiennan moteda penalangan dana sementara tadi yang dapat menghambat proses tindakan medis akibat terhambat masalah biaya yang harus dibayarkan oleh lembaga pada pihak rumah sakit.
III. TEMUAN DAN ANALISA III.1 TEMUAN
8 DIPA adalah Daftar Isian Pelaksanaan Anggaran. Sumber: kemenkeu.go.id
Kegiatan operasional maupun administratif pada Lembaga Pendidikan Akademi Kepolisian terkadang terhambat oleh keterbatasan anggaran yang harus dibayarkan terhadap kebutuhan tertentu bilamana menggunakan metoda pembayaran dengan penalangan dana sementara oleh Pengasuh. Proses pencairan anggaran dengan metoda penalangan diawal dianggap kurang efektif dalam mendukung kegiatan pendidikan bagi para Taruna Akademi Kepolisian. Proses pencairan tersebut terkadang harus disertai dengan kebijakan birokrasi yang rumit dan terkesan berbelit-belit. Tentu saja hal ini merugikan para Taruna Akademi Kepolisan yang dalam beberapa kejadian bersifat insidentil memerlukan kesegeraan tindakan oleh Lembaga Pendidkan Akademi Kepolisian.
III.2 ANALISIS
III.2.A. ANALISIS S.W.O.T
Menurut Rangkuti (1997:18) analisis SWOT adalah suatu metoda analisis yang digunakan untuk menentukan dan mengevaluasi, mengklarifikasi dan memvalidasi perencanaan yang telah disusun, sesuai dengan tujuan yang ingin dicapai. Analisis ini merupakan suatu metoda untuk menggali aspek-aspek kondisi yang terdapat di suatu wilayah yang direncanakan maupun untuk menguraikan berbagai potensi dan tantangan yang akan dihadapi dalam pengembangan wilayah tersebut. Kata SWOT itu sendiri merupakan kependekan dari variabel-variabel penilaian,
yaitu : S merupakan kependekan dari Strengths, yang berarti
potensi dan kekuatan pembangunan; W merupakan kependekan dari Weaknesses, yang berarti masalah dan tantangan pembangunan yang dihadapi; O merupakan kependekan dari Opportunities, yang berarti peluang pembangunan yang dapat; dan T merupakan kependekan dari Threats, yang merupakan faktor eksternal yang berpengaruh dalam pembangunan.
Analisis SWOT bertujuan untuk mengidentifikasi berbagai faktor secara sistematis untuk merumuskan suatu
strategi pembangunan daerah. Sebagai sebuah konsep dalam manajemen strategik, teknik ini menekankan mengenai perlunya penilaian lingkungan eksternal dan internal, serta kecenderungan perkembangan/perubahan di masa depan sebelum menetapkan sebuah strategi. Analisis ini didasarkan pada logika yang dapat memaksimalkan kekuatan (Strengths) dan peluang (Opportunities), namun secara bersamaan dapat meminimalkan kelemahan (Weaknesses) dan ancaman (Threats). Sebagai salah satu alat untuk formulasi strategi, tentunya analisis SWOT tidak dapat dipisahkan dari proses perencanaan strategik secara keseluruhan. Secara umum penyusunan rencana strategis melalui tiga tahapan, yaitu : (a) Tahap pengumpulan data; (b) Tahap analisis; dan (c) Tahap pengambilan keputusan. Teknik SWOT akan Penulis gunakan dalam menganalisa faktor-faktor yang mempengaruhi mempengaruhi kualitas dalam tujuan meningkatkan mutu pendidikan bagi para Taruna Akademi Kepolisian. Dengan mengetahui faktor-faktor tersebut, penulis dapat menganalisa dan merumuskan suatu strategi yang sesuai guna meningkatkan kualitas pendidikan tadi serta mempermudah dan menggaransi para Taruna Akademi Kepolisian sebagai peserta didik pada Lembaga Pendidikan Taruna Akademi Kepolisian.
III.2.B ANALISIS P.O.A.C
Teori manajemen menurut George R. Terry terdiri dari :
1) Perencanaan (Planning), mencakup penetapan tujuan,
penegasan strategi, dan pengembangan rencana untuk mengkoordinir kegiatan.
2) Pengorganisasian (Organizing), mencakup tugas-tugas yang
dikerjakan, siapa yang mengerjakan, bagaimana tugas-tugas itu dikelompokkan, bagaimana memenuhi kepuasan atas pelayanan terhadap Taruna baik dalam segi pembinaan fisik,
mental, maupun ilmu pengetahuan demi tercapainya tujuan pendidikan.
3) Mengarahkan (Actuating), mencakup memotivasi bawahan,
mengarahkan orang lain, menyeleksi saluran-saluran komunikasi, dan memecahkan konflik.
4) Pengendalian (Controlling), meliputi memantau kegiatan-kegiatan untuk memastikan kegiatan-kegiatan itu sesuai dengan yang direncanakan dan mengoreksi penyimpangannya (Robbin, 2003:5)
III.2.C ANALISIS UMUM
Dengan menggabungkan kedua teori S.W.A.T dan teori P.O.A.C, manajemen anggaran keuangan pada Lembaga Pendidikan Polri Akademi Kepolisian dirasa mampu memanfaatkan DIPA secara optimal guna mendukung pelaksanaan kegiatan bagi para Taruna Akademi Kepolisian baik secara operasional maupun administratif. Pemanfaatan metoda Pengawasan dan Pengendalian oleh Pimpinan Akpol yang dalam hal ini dapat didelegasikan kewenangannya pada Kepala Korps Pembinaan Taruna dan Siswa (Kakorbintarsis) bertujuan demi memenuhi asas efektif dan efisien dalam penggunaan DIPA anggaran Lembaga Pendidikan Polri Akademi Kepolisian. Penggunaan anggaran harus secara transparan, akuntabel, serta dapat dipertanggungjawabkan.
Kepala Detasemen Taruna (Kadentar) sebagai pejabat yang bertanggungjawab atas pengguna anggaran wajib melaporkan Laporan Pertanggungjawaban Penggunaan Anggaran tadi kepada Kepala Korps Pembinaan Taruna dan Siswa (Kakorbintarsis) dengan menyusun secara tertib administrasi penggunaan anggaran serta melampirkan bukti-bukti pembayaran. Kepala Detasemen Taruna (Kadentar) dalam hal ini dapat menugaskan Perwira Urusan Administrasi (Pa Urmin) pada Detasemennya dalam
menyusun administrasi keuangan tadi, dengan maksud mempermudah proses pelaporan pertanggungjawaban
keuangan Kadentar kepada Kakorbintarsis. Birokrasi HTCK9
ini dapat diterapkan sesuai peran dan fungsi masing-masing Pejabat dengan maksud dan tujuan percepatan dalam mencapai tujuan Lembaga Pendidikan Polri Akademi Kepolisian sebagai The World Class Police Academy. Hal tersebut tentunya sesuai amanat serta pesan dari mantan Presiden Republik Indonesia Dr. H. Susilo Bambang Yudhoyono saat melantik para Perwira Lulusan Akademi Kepolisian di Akpol, Semarang pada tahun 2010 silam.
Hal ini dinilai efektif guna mempermudah dalam mengatasi kebutuhan mendesak bagi para Taruna Akademi Kepolisian saat menjalani proses pendidikan di Akpol. Bahwa pentingnya disipakan dana kontijensi adalah untuk mengantisipasi kejadian insidentil terhadap para Taruna Akademi Kepolisian seperti contohnya yang menimpa Taruna Marvell Stevanus Ansanay diatas. Kesiapan dana kontijensi adalah merupakan salah satu faktor pendukung keberhasilan PBM di Akademi Kepolisian.
IV. KESIMPULAN DAN SARAN
9Hubungan Tata Cara Kerja
IV.1. KESIMPULAN
1. Bahwa penulis menganggap dana kontijensi sangat dibutuhkan demi kelancaran Proses Belajar Mengajar (PBM) para Taruna Akademi Kepolisian sebagai peserta didik pada Lembaga Pendidikan Polri Akademi Kepolisian. Hal ini demi mengatasi kebutuhan insidentil para Taruna yang memerlukan kesegeraan dalam penanganan tindakannya serta memangkas proses birokrasi pencairan anggaran yang rumit dan berbelit-belit demi azas ketanggapsegeraan dalam memberikan pelayanan prima bagi para Taruna Akademi Kepolisian.
2. Dana tersebut dapat dititipkan pada para Kepala Detasemen Taruna (Kadentar) Akademi Kepolisian dimana dalam penggunannya harus seefektif dan efisien mungkin serta dapat dipertanggungjawabkan penggunannya untuk kepentingan para Taruna Akakdemi Kepolisian. Serta Kepala Detasemen Taruna wajib melaporkan pertanggungjawaban setiap rupiah biaya yang dikeluarkan secara administratif kepada Kepala Korps Pembinaan Taruna dan Siswa (Kakorbintarsis).
IV.2. SARAN
1. Berdasarkan pengalaman yang telah diuraikan oleh penulis diatas maka diharapkan pimpinan bisa mendalami sekaligus memberikan perhatian yang lebih dan kebijakan penggunaan anggaran yang dapat mempermudah baik secara operasional maupun administratif terkait penanganan kasus-kasus insidentil yang dialami oleh para Taruna pada saat Proses Belajar Mengajar serta Pelatihan sehingga kelak dapat terwujud suatu perencanaan anggaran terkait dana kontijensi yang mungkin akan dibutuhkan oleh Pengasuh dalam melaksanakan kegiatan pengasuhan kepada para Taruna Akademi Kepolisian.
2. Keberadaan dana kontijensi tersebut bisa direncanakan oleh Bagian Perencanaan Anggaran Lembaga Pendidikan Polri Akademi Kepolisian guna diajukan pada rencana penyerapan DIPA anggaran pada tahun berikutnya.
V. DAFTAR NAMA KELOMPOK
No. N A M A N I M
1. FARIS BUDIMAN 15688832
2. WIDYA RAHMAT JAYADI 15688878
3. ADRI SETYAWAN 15688880
4. SANDHI WIEDYANOE 15688890
5. HERMAN EDCO WIJAYA SIMBOLON 15688899
6. EDDWAR MARTUA PANDJAITAN 15688909
7. AGUNG BASUNI 15688934
Kelompok Diskusi Polda Jawa Tengah – Akpol Semarang, 2015