• Tidak ada hasil yang ditemukan

Belajar dari Pemikiran Ibnu Khaldun

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "Belajar dari Pemikiran Ibnu Khaldun"

Copied!
21
0
0

Teks penuh

(1)

1

Belajar dari Pemikiran Ibnu Khaldun

Abstrak

Paper ini membahas mengenai bab V dari buku Muqaddimah karya Ibnu Khaldun. Pada bagian ini Ibnu Khaldun membahas mengenai bagaimana mencari nafkah serta pemikiran lainnya yang banyak kaitannya dengan ekonomi. Ibn Khaldun juga membahas mengenai karakteristik tenaga kerja pada beberapa sektor ekonomi utama di masa hidupnya, serta disinggung juga mengenai beberapa keahlian dasar yang diperlukan untuk membentuk sebuah peradaban. Secara tersirat Ibnu Khaldun juga menyatakan bahwa ada tahapan tertentu dalam membentuk sebuah peradaban yang memerlukan keahlian dasar yang semakin lama semakin meningkat keperluannya.

Kata Kunci; Ibn Khaldun, ekonomi, peradaban., inflasi, pengangguran, tenaga kerja.

Pendahuluan

Ibnu Khaldun adalah seorang pemikir muslim pada abad ke 14 yang lahir di Tunisia pada tahun 1332 M dan wafat pada tahun 1406 M dengan nama lengkap Abd-al-Rahman Abu Zayd bin Muhammad bin Muhammad bin Khaldun(El-Ashker & Wilson, 2006:273). Ia merupakan seorang cendikiawan muslim dengan pengetahuan multidisiplin (ibid). Ibnu Khaldun juga ditetapkan sebagai “bapak sosiologi” dimana banyak idenya diserap dalam ilmu sosiologi barat (Hodgson, 1974:482). Dalam hidupnya, banyak profesi yang pernah dijalani oleh Ibnu Khaldun, diantaranya sebagai ahli hukum, negarawan, perdana menteri, ilmuwan dan masih banyak lagi (El-Ashker & Wilson, 2006:273). Paper ini membahas bagian dari Muqaddimah yang berada pada bab ke V yang diterjemahkan oleh Willian Rosenthal pada tahun 1958 yang berhubungan dengan kemampuan manusia dalam mencari nafkah, namun ternyata didalamnya juga mengandung beberapa pernyataan penting yang mungkin dapat digunakan pada masa kini.

Ibnu Khaldun dan Keuntungan

(2)

2 pemerintah serta kestabilan untuk meningkatkan produksi dan penyerapan tenaga kerja (Karatas, 2006). Ia menyatakan bahwa manusia merupakan modal yang berharga sebagai tenaga kerja yang mempunyai kecakapan tertentu (El-Ashker & Wilson, 2006). Berdasarkan keahlian ini, manusia akan mendapatkan keuntungan apabila ia memenuhi syarat yaitu, mau berusaha dan gigih dalam mendapatkannya. Keuntungan yang dimaksud disini adalah pendapatan yang dimiliki dari hasil usaha manusia berdasarkan keahliannya, yaitu berupa tambahan berdasarkan hasil kerjanya dan dapat berbentuk apa saja. Hal ini harus dilakukan, karena menurut Ibn Khaldun, manusia secara alamiah memerlukan sesuatu untuk makan dan menyediakan segala sesuatu yang diperlukan mulai dari lahir sampai menuju dewasa dan akhirnya tua (ibid.). Hal yang diperlukan ini harus ditukar dengan sesuatu yang lain yang sama berharganya, karena orang lain mendapatkannya dengan bersusah payah dan tidak boleh ada perampasan (Ibn Khaldun, 1958:). Ibn Khaldun berpendapat bahwa tenaga kerja merupakan titik awal untuk menciptakan kesejahteraan dan pembangunan ekonomi (El-Ashker & Wilson, 2006). Hal ini tersurat dalam pernyataannya bahwa (Ibn Khaldun 1958:480):

“The effort to (obtain sustenance) depends on God's determination and inspiration. Everything comes from God. But human labor is necessary for every profit and capital accumulation.”

Disini Ibn Khaldun menyatakan dengan jelas bahwa Tuhan berperan besar dalam memberikan rejeki kepada umat manusia tetapi bahwa usaha manusia sangat diperlukan dalam mengumpulkan setiap pendapatan dan modal yang diinginkan. Ibn Khaldun juga berpendapat bahwa manusia sudah memiliki pendapatan secara otomatis atau tanpa usaha tertentu melalui siklus alam, yaitu adanya hujan yang menumbuhkan tanaman di ladang (Ibid:479).

(3)

3 Ibn Khaldun juga berpendapat bahwa untuk menilai atau sebagai dasar penilaian modal yang dimiliki oleh manusia sebaiknya menggunakan emas dan perak, karena kedua benda ini tidak akan terkena fluktuasi nilai sementara benda lainnya terkena fluktuasi nilai ( (Ibn Khaldun, 1958:480).

Sebagai tenaga kerja yang memiliki kemampuan, manusia harus dihargai dengan baik sesuai dengan produk yang dihasilkan, nilai yang ada pada produk tersebut harus mencakup nilai si manusia sebagai tenaga kerja. Dengan demikian manusia yang memiliki kemampuan tertentu, dalam pandangan Ibn Khaldun, merupakan sebuah modal yang sangat berharga dalam mengembangkan ekonomi. Karena manusia dihargai keahliannya, maka semakin banyak manusia pada sebuah kota atau peradaban berarti semakin besar modal yang ada pada kota atau peradaban tersebut, yaitu modal manusia. (Ali, 2006).

Ibnu Khaldun dan Mencari Nafkah

Sebagai tenaga kerja yang memiliki keahlian, manusia dapat mencari pendapatan pada beberapa bidang yaitu melalui perburuan termasuk didalamnya memancing, pertanian, produksi barang, perdagangan serta bidang lainnya yang tidak menghasilkan material yang spesifik dan juga melalui retribusi dan perpajakan yang dikumpulkan oleh para penguasa pada saat itu. Pertanian, perburuan, produksi barang serta perdagangan dianggap sebagai cara yang alamiah untuk mendapatkan pendapatan, selain itu terdapat juga profesi yang berhubungan dengan manusia lainnya.

(4)

4 mereka sama halnya dengan memberikan sesuatu kepada Tuhan (Ibn Khaldun, 1958:490).

Jabatan ini tersebar dikalangan masyarakat mulai dari yang paling tinggi sampai ke jabatan yang paling rendah. Kemakmuran seorang pejabat, berkaitan dengan jabatannya, ditentukan oleh penting tidaknya jabatan yang ia emban, semakin penting jabatannya, maka seseorang bisa menjadi semakin makmur, dan sebaliknya semakin tidak penting sebuah jabatan, maka keuntungan yang diperoleh juga tidak besar. Jabatan berarti bahwa seseorang memiliki kekuasaan untuk menguasai banyak orang dibawahnya sehingga si pejabat akan memiliki banyak keuntungan dari superioritasnya tersebut. Hal ini bisa terjadi karena adanya saling keterkaitan antara pejabat tinggkat lebih tinggi dengan pejabat yang memiliki kelas lebih rendah, dimana para pejabat rendah akan mencari dukungan dari pejabat diatasnya sementara pejabat diatasnya akan menguasai pejabat dibawahnya (Ibn Khaldun, 1958:490-491). Satu hal yang perlu diperhatikan bahwa, menurut Ibn Khaldun, seseorang yang patuh dan bisa menyanjung mungkin bisa menduduki jabatan dengan porsi keuntungan yang tinggi (Ibid.). Jabatan yang memiliki keuntungan yang kecil adalah jabatan yang berhubungan dengan bidang agama, seperti guru, muadzin dan sebagainya.

Pertanian merupakan sebuah cara memperoleh nafkah karena ia merupakan sesuatu yang sudah ada sebelum yang lainnya dan hanya memerlukan sedikit keahlian. Termasuk didalam pertanian ini adalah mengumpulkan susu dari hewan ternak, sutra dari ulat sutra serta memanen madu dari lebah. Selain itu juga memanen buah dari pepohonan dianggap sebagai pendapatan dari pertanian. Satu hal yang harus diperhatikan adalah bahwa para petani biasanya akan diikat oleh pajak yang harus disetorkan kepada penguasa, sehingga jika penguasanya seorang yang kejam maka pajak yang diberlakukan bisa semakin tinggi (ibid.:496).

(5)

5 berbahaya. Hal ini akan mengurangi saingan dagang karena tidak banyak pedagang yang mampu melakukan hal tersebut dan jika pedagang sedikit, maka barang akan menjadi sedikit dan langka dan hal ini akan menjamin harga tinggi di tempat tujuan. Demikian juga sebaliknya, jika daerah yang dituju dekat dan perjalanan aman, maka akan banyak pedagang dan barang dagangan akan menjadi berlimpah sehingga harga akan menjadi murah ( (Ibn Khaldun, 1958:498). Satu hal yang menarik adalah bahwa penimbunan barang dianggap sebagai sesuatu yang merugikan karena akan mengakibatkan orang merasa terpaksa untuk membeli barang tersebut dengan harga yang tinggi dan keterpaksaan ini akan menyebabkan kesialan (ibid.:500).

Ibn Khaldun juga berpendapat bahwa harga yang murah bisa menyebabkan hal yang berbahaya kepada para pedagang. Hal ini terjadi jika harga dipasar murah maka para produsen pun akan terkena imbasnya sehingga pada gilirannya akan merusak jaringan suplai barang dari satu produsen ke produsen lainnya, dan pada gilirannya petani, jika yang dijajakan adalah hasil pertanian, tidak akan mendapatkan kesempatanan untuk meningkatkan modalnya, sehingga tidak bisa mengembangkan usahanya. Demikian juga dengan barang dagangan yang lain (Ibn Khaldun, 1958:500).

(6)

6 Hasil pertukangan ini dibagi menjadi dua, yaitu yang sederhana dan yang terdiri dari paduan beberapa material. Hasil kerajinan sederhana biasanya berhubungan dengan kebutuhan sehari-hari dan diperlukan dalam jumlah besar, sementara yang lain berhubungan dengan kemewahan. Barang hasil kerajinan yang berhubungan dengan kemewahan tidak akan berkembang jika peradaban yang ada belum menetap atau baru pada taraf awal pembentukan. Kerajinan ini akan berkembang jika peradaban yang ada sudah berlangsung lama dan sudah bisa memenuhi semua kebutuhan dasar dan modal yang ada masih berlebih maka akan timbul permintaan untuk barang dengan tingkat kerumitan dan keindahan yang lebih tinggi dibandingkan dengan barang untuk keperluan sehari-hari. Pada saat ini kerajinan akan barang mewah akan terlaksana (Ibn Khaldun, 1958:508-5011).

Selain hal yang termasuk cara alamiah untuk memperoleh pendapatan, ada beberapa bidang yang tidak dianggap sebagai bidang yang alamiah untuk memperoleh pendapatan yaitu melalui penggalian harta karun atau harta lainnya serta menjadi pelayan dari penguasa.

Profesi pelayan timbul karena adanya kemalasan dari orang-orang yang berkecukupan yang sudah terbiasa dalam kesenangan dan kewewahan sehingga tidak ingin lagi mengerjakan hal-hal biasa untuk dirinya sendiri tetapi harus dibantu oleh orang lain, yaitu pelayan, yang diberi upah oleh kaum yang berkecukupan tersebut (Ibn Khaldun, 1958:484). Terdapat dua jenis pelayan, yaitu pelayan yang memiliki kemampuan dan dapat dipercaya serta pelayan yang tidak memiliki kemampuan dan tidak dapat dipercaya. Jenis pelayan yang pertama akan sulit untuk mempertahankannya karena akan banyak orang yang menginginkannya dan sang pelayan pun akan menuntut upah yang tinggi sehingga tidak semua orang bisa mempekerjakannya. Sementara untuk jenis kedua dapat dipastikan tidak ada orang yang akan mau mempekerjakannya karena sifatnya tersebut. Untuk itu sebaiknya dicari pelayan yang berkemampuan walaupun tidak dapat dipercaya, karena masih dapat ditanggulangi dengan menempatkan penjaga(ibid.:485).

(7)

7 orang- orang tersebut memiliki penalaran yang lemah yang hanya ingin mencari harta secara cepat dan motif utamanya adalah karena ketidakmampuan mereka untuk mencari penghidupan atau pendapatan di bidang yang lain atau yang alamiah dengan mengandalkan kepada keahlian masing-masing. Jika memang terdapat pemunculan harta karun, maka hal tersebut tidak dapat dikatakan sebagai sebuah hal yang pasti terjadi tetapi hanya merupakan sebuah kebetulan (Ibn Khaldun, 1958:489).

Ibn Khaldun dan Keahlian Tenaga Kerja

Pada bagian lain Ibn Khaldun menyatakan bahwa tenaga kerja pada sektor pertanian merupakan tenaga kerja dengan tingkat keahlian paling rendah dari semua sektor lainnya pada saat itu. Hal ini terjadi karena kesederhanaan prosedur yang diterapkan serta sifat alamiah dari pertanian itu sendiri dan mereka digolongkan dengan kelompok yang berciri kesederhanaan.

Tenaga kerja pada sektor perdagangan diharapkan untuk berani, cerdik, bersedia menghadapi sengketa, cerdas, bisa bertahan dalam perselisihan berkepanjangan, dan memiliki ketekunan yang hebat, atau memiliki pelindung di lingkungan pejabat. Dengan kata lain bahwa tenaga kerja pada sektor ini memiliki keahlian yang lebih tinggi dibandingkan dengan mereka yang berprofesi sebagai petani. Jika seseorang tidak memiliki kualifikasi seperti yang disebutkan diatas, maka sebaiknya ia menghindari diri untuk menjadi pedagang (Ibn Khaldun, 1958:502).

(8)

8 terjadi spesialisasi perajin untuk jenis produk yang berbeda, sehingga mereka yang sudah menjadi spesialis ini nantinya yang diharapkan untuk bisa menghasilkan barang dengan nilai kemewahan yang tinggi (Ibn Khaldun, 1958:512).

Ibn Khaldun dan Keahlian Dasar yang Diperlukan Peradaban

Selain itu, terdapat beberapa keahlian dasar, menurut Ibn Khaldun, yang diperlukan untuk berkembangnya sebuah peradaban. Berikut ini adalah keahlian tersebut:

1. Ahli Pertanian, seseorang harus bisa mengolah tanah, menaburkan bibit, mengolah tanaman, memberi air sampai mencapai tahap siap panen, kemudian memanennya dan memisahkan gandum dari sekamnya. Pertanian merupakan keahlian yang paling tua, karena diperlukan untuk menyediakan makanan yang merupakan faktor utama dalam kehidupan manusia. Keahlian ini muncul terutama di daerah gurun (Ibn Khaldun, 1958:514).

2. Ahli Arsitektur, merupakan keahlian yang pertama dan tertua pada peradaban menetap. Arsitektur merupakan pengetahuan untuk membuat rumah yang disesuaikan dengan kondisi tiap kota yang berbeda-beda keperluannya. Ia juga diperlukan untuk membuat kota yang besar atau monumen yang tinggi, terutama untuk membuat rencana yang bagus dan sempurna secara teknik sehingga arsitektur dapat mencapai level tertingginya. Arsitektur mempunyai beberapa divisi yaitu konstruksi, yang fungsi utamanya membangun rumah. Divisi yang lain adalah dekorasi dan ornamentasi yang fungsinya adalah menghias bagian dalam rumah dengan menggunakan bahan yang dikenal dengan nama gipsum. Keahlian setiap orang yang berkecimpung dalam dunia arsitektur bermacam-macam, ada yang superior, ada juga yang biasa-biasa saja. Keahlian orang yang menguasai arsitektur juga diperlukan oleh pihak yang berwenang, terutama untuk menilai persengketaan yang melibatkan bangunan rumah dan bagian-bagiannya. Arsitek juga menggunakan pendekatan teknologi, terutama untuk mengangkat beban berat dalam sebuah pembangunan dan sejenisnya (Ibn Khaldun, 1958:515-518).

(9)

9 barang yang bermanfaat seperti meja, kursi, pintu rumah, dan lain sebagainya. Pertukangan kayu juga dibutuhkan dalam pembuatan perahu, selain itu juga, sejalan dengan perkembangan peradaban sebuah kota atau negara, maka kebutuhan akan tukang kayu dengan keahlian mengukir akan bertambah, karena orang-orang tidak lagi puas dengan barang-barang yang standar, melainkan juga ingin barang dengan nilai seni yang berwujud ukiran (Ibn Khaldun, 1958:519-520).

4. Ahli Tenun dan Jahit, diperlukan oleh orang-orang yang tinggal didaerah bersuhu sedang untuk membuat pakaian yang sesuai dari benang yang ditenun menjadi kain dan kemudian kain tersebut dibentuk menjadi baju yang dapat dipakai oleh orang-orang. Hal ini dilakukan untuk menjaga tubuh mereka agar tetap hangat (Ibid:521).

5. Ahli Kebidanan, diperlukan untuk untuk membantu seseorang dalam melahirkan anaknya dan mempersiapkan apa saja yang diperlukan untuk kelahiran tersebut. Seorang ahli di bidang ini juga diharapkan untuk bisa menolong kelahiran yang sulit dan berisiko tinggi. Ahli kebidanan ini dikhususkan kepada wanita (ibid.:523).

6. Ahli Kesehatan, diperlukan didaerah perkotaan yang fungsinya adalah untuk menjaga yang sehat tetap sehat dan menyembuhkan mereka yang sakit dengan pertolongan pengobatan. Kebanyakan ahli kesehatan diperlukan di perkotaan karena orang yang sakit kebanyakan ditemui di daerah menetap dan perkotaan, dimana orang-orangnya hidup berkecukupan, tidak pantang terhadap makanan, kurang olahraga dan kualitas udara yang kurang baik. Asal dari penyakit adalah dari makanan dan udara berperan besar dalam membantu badan mempertahankan panas yang dibutuhkan untuk mencerna makanan. Kekurangan udara yang baik, olahraga yang juga jarang dilakukan serta makanan yang berlimpah, membuat banyak orang menjadi sakit sehingga diperlukan ahli kesehatan untuk memulihkan mereka yang sakit melalui pengobatan (Ibn Khaldun, 1958:527-528).

(10)

10 permintaan dapat ditulis dan dibawa ke tempat yang jauh dan dilaksanakan apa permintaannya. Tulisan juga membuat seseorang bisa mempelajari ilmu pengetahuan dengan mempelajari buku-buku kuno yang berisi pengetahuan tersebut. Keahlian ini didapat dengan melalui instruksi atau pembelajaran terlebih dahulu yang cara pembelajarannya berbeda-beda disetiap wilayah. Kualitas sebuah tulisan berhubungan erat dengan organisasi sosial, peradaban dan kompetisi untuk kemewahan dan juga permintaan untuk kesemua hal tersebut diatas. Dengan tulisan dapat diketahui kejayaan bangsa Islam terdahulu dan warisannya. Tulisan ada yang jelas dan ada juga yang hanya bisa diartikan oleh kalangan orang tertentu dengan menggunakan kode tertentu, biasanya digunakan oleh pegawai pemerintah dan kehakiman (Ibn Khaldun, 1958:529-535).

8. Ahli Produksi Buku, keahlian ini terbatas hanya pada kota dengan peradaban besar. Perhatian terhadap produksi buku dimulai dengan perhatian terhadap tulisan para sarjana dan catata-catatan resmi yang di perbanyak, di jilid dan di koreksi dengan tingkat akurasi tinggi. Alasannya adalah untuk kepentingan dinasti yang memerintah dan keberadaan dari hal-hal yang tergantung pada budaya menetap. Hal ini tergantung dari dinasti yang memerintah dan permintaan terhadap buku yang ada. Pada masa ini banyak tulisan para sarjana dan orang-orang berkeinginan untuk menyebarkannya kemana saja sehingga produksi buku berkembang. Sebelum ditemukannya kertas, tulisan-tulisan penting tersebut dilakukan pada sebuah perkamen atau lembaran kulit dan menginggat tidak banyaknya perkamen yang beredar, maka tidak semua hal dicatat, kecuali yang dinilai sangat penting (Ibn Khaldun, 1958:536-537). 9. Ahli Menyanyi dan Musik, berhubungan dengan keahlian seseorang meramu

puisi menjadi musik yang dilakukan dengan menggunakan suara dengan proporsi tertentu yang menghasilkan irama dalam ritmik tertentu. Yang di dapat dari hal ini adalah kesenangan dalam mendengarkan harmoni nada dan kualitas harmoni yang didapat dari suara pengiringnya. Banyak jenis alat musik yang dikenal seperti alat musik yang disebut dengan shabbabah, zulami, bug (sejenis terompet dari perunggu), kemudian ada juga alat musik

(11)

11 khusus dari pendengarnya, karena tidak semua orang memiliki kemampuan yang sama untuk bisa mendengarkan harmoni nada yang disajikan. Khusus untuk keahlian menyanyi, Ibn Khaldun menyatakan bahwa hal ini berasal dari peradaban yang sudah berlimpah ruah dan manusia sudah mulai beralih dari pemenuhan kehidupan sehari-hari ke pemenuhan kenyamanan hidup, kemudian pemenuhan kemewahan dengan diversifikasi kemewahan yang luas ( (Ibn Khaldun, 1958:538-540).

Belajar Ekonomi dari Pemikiran Ibn Khaldun

Ekonomi Sektor Riil

Ibn Khaldun memandang bahwa keuntungan itu harus didapat dengan jalan melakukan sebuah usaha dengan modal utama adalah tenaga kerja, dimana hasil dari tenaga kerja ini disebut sebagai keuntungan. Ali (2006:2) berpendapat bahwa hal ini bukan berarti bahwa Ibn Khaldun mengemukakan teori tentang nilai tenaga kerja tetapi lebih kepada penekanan bahwa tenaga kerja merupakan faktor primer dari produksi. Dengan kata lain bahwa keuntungan itu harus didapat dengan cara usaha melalui sektor riil atau sektor yang langsung berhubungan dengan penyerapan tenaga kerja. Dengan demikian maka secara tidak langsung Ibn Khaldun juga telah menyarankan untuk menggalakkan perkembangan sektor perekonomian melalui pembangunan sektor riil. Keuntungan yang didapat dari hal ini adalah bahwa dengan pengembangan sektor riil akan banyak tenaga kerja yang terserap dan akan mendapatkan pendapatan dari hasil usahanya yang disebut dengan profit oleh Ibn Khaldun. Hasil keuntungan ini akan digunakan untuk memenuhi kebutuhan tenaga kerja dan keluarganya, dan jika masih berlebih, kelebihan tersebut bisa digunakan sebagai tabungan dan atau investasi.

(12)

12 uang beredar atau utang yang harus diambil untuk memenuhi kebutuhan akan uang.

Standar Nilai Alat Tukar dan Hukum Penawaran Permintaan

Salah satu hal yang menarik dari pemikiran Ibn Khaldun adalah pemikiran untuk memberlakukan standar nilai untuk hasil kerja dengan menggunakan emas dan perak. Alasan yang dikemukakan adalah bahwa kedua material ini tidak akan terkena pengaruh turun naiknya harga. Pemikiran ini pun tampaknya bisa dikembangkan pada masa kini, dimana saat ini banyak beredar uang kartal dan uang giral yang tidak berdasarkan pada sebuah sistem penjaminan nilai uang dengan menggunakan nilai standar, dalam hal ini emas atau benda lain yang setara dengan emas, melainkan lebih kepada pemenuhan kebutuhan uang beredar sesuai dengan proyeksi tingkat pertumbuhan yang dimunculkan oleh pemerintah. Hal ini senada dengan yang dikemukakan oleh Meera (2011:73) bahwa ukuran yang stabil sangat diperlukan untuk meningkatkan keadilan, kestabilan dan keberlangsungan dalam ekonomi, terutama dalam perdagangan dan pertukaran mata uang.

Pendapat dari Ibn Khaldun dan Meera diatas tidak berarti menganjurkan penggunaan emas dan perak sebagai mata uang tetapi menganjurkan penggunaan sebuah standar nilai yang memiliki ketetapan dari fisiknya yang tidak terkena imbas dari fluktuasi yang dalam konteks pada masa kini adalah nilai tukar dari mata uang yang dimiliki oleh sebuah negara, sehingga akan menjamin terjadinya keadilan dalam bertransaksi, mengingat bahwa standar yang digunakan tidak berubah dimanapun ia berada.

(13)

13 Jika dibandingkan dengan kondisi saat ini, khususnya di Indonesia, dapat dikatakan bahwa pada praktiknya justru terdapat penimbunan barang yang diperlukan oleh masyarakat. Apakah hal ini disengaja atau tidak, masyarakat tidak pernah mengetahui dengan pasti. Kelangkaan barang ini justru membuat harga barang menjadi meningkat yang akibatnya meningkatkan beban yang harus dipikul oleh masyarakat. Hal yang perlu dilakukan, dalam hal ini oleh Pemerintah, adalah memberikan semacam penyadaran atau pencegahan agar tidak terjadi kenaikan harga untuk hal-hal yang termasuk barang kebutuhan sehari-hari.

Cara Mencari Nafkah

Banyak jalan untuk mencari nafkah, dengan kata lain banyak lapangan pekerjaan yang dapat dibuka dan digunakan untuk menyerap tenaga kerja sesuai dengan kebutuhan dari masing-masing kota.

Beberapa profesi ini dapat digunakan sebagai alat atau perantara untuk mencari pendapatan, yaitu pejabat atau politisi, pertanian, perdagangan dan produksi barang. Ke empat sektor tersebut dianggap sebagai sektor alamiah untuk mencari pendapatan, sementara yang tidak alamiah adalah menjadi pelayan dan menjadi pemburu harta karun.

Berdasarkan pembahasan diatas dapat disimpulkan bahwa Ibn Khaldun sudah menyelidiki kriteria tenaga kerja yang berkarya pada sektor ekonomi yang disebutkan diatas terutama pada sektor pertanian, perdagangan dan kerajinan atau produksi barang. Hal ini dapat dilihat pada tabel berikut:

Tabel 1 Karakteristik Tenaga Kerja pada Masa Ibn Khaldun

Profesi Keahlian

Tenaga Kerja Pendidikan Karakter T.K

Politik Patuh dan Dapat Menyanjung

Tidak diketahui

Loyal pada atasan

Pertanian Rendah Alamiah Sederhana

Perdagangan Lebih Tinggi Lingkungan Cerdik dan tangguh Kerajinan atau

Produksi Barang

Tinggi Formal Menetap dan Tekun

(14)

14 menghitung keuntungan yang dihasilkan yang berasal dari perbedaan harga pada saat barang dibeli dan barang dijual serta dibutuhkan pribadi yang cerdik dan tangguh untuk bisa menjadi seorang pedagang yang sukses. Sektor pertanian, mengingat karakteristik pekerjaannya yang bersifat alamiah dan sederhana, tidak memerlukan banyak pendidikan, kecuali mungkin secara turun temurun, terutama untuk menyemaikan bibit serta beternak dan untuk memanen hasilnya kelak.

Dalam konteks saat ini sektor ekonomi yang dimaksudkan oleh Ibn Khaldun dapat dibandingkan sebagai berikut:

Tabel 2 Sektor Ekonomi Ibn Khaldun dan Sektor Ekonomi Modern

Sektor Ekonomi Ibn Khaldun Sektor Ekonomi Modern

Politik Politik

Pertanian Pertanian

Perdagangan Perdagangan Barang dan Jasa Kerajinan atau Produksi Barang Industri

Untuk sektor pertanian dan perdagangan tidak perlu disangsikan lagi karena memang terdapat sektor demikian pada sektor ekonomi modern, tetapi untuk sektor kerajinan atau produksi barang, dapat dikatakan mempunyai kemiripan dengan sektor industri karena sifat sektor tersebut yang sama-sama menghasilkan barang.

Sektor Politik merupakan sektor yang dapat dikatakan kurang tepat untuk dikatakan sebagai salah satu cara untuk mencari pendapatan di masa kini, khususnya di Indonesia, karena sifat politik saat ini bukanlah sebagai jabatan seumur hidup tetapi lebih kepada pelimpahan tanggung jawab dari partai politik pemenang kepada kader politiknya. Hal ini mungkin dapat diberlakukan kepada para pejabat karir yang bekerja pada dinas tertentu yang memang merintis karir dari awal sampai dengan masa pensiun.

Inflasi dan Pengangguran

(15)

15 tersedia di pasaran. Hal ini tidak terjadi pada masa kini, dimana yang terjadi adalah inflasi.

Inflasi dapat dikatakan sebagai sebuah kondisi dimana daya beli masyarakat menurun yang diakibatkan oleh adanya kenaikan harga barang dan jasa. Terdapat dua tipe inflasi yaitu demand pull inflation dan cost push inflation (Parkin, 2012). Jika terjadi kelebihan suplai uang dan kelebihan permintaan agregat, maka akan terjadi inflasi yang disebut dengan demand pull inflation, sedangkan cost push inflation terjadi jika terjadi kelebihan suplai barang serta meningkatnya ongkos produksi.

Pada kondisi saat ini, meningkatnya jumlah uang beredar di masyarakat diharapkan untuk dapat meningkatkan aktivitas ekonomi yang pada gilirannya akan membutuhkan banyak tenaga kerja walaupun dengan banyaknya jumlah uang beredar akan menurunkan nilai uang yang berarti inflasi. Hal yang mirip terjadi ketika terjadi peningkatan ongkos produksi yang akan membuat suplai agregat barang dan jasa menurun. Jika permintaan agregat barang dan jasa lebih tinggi dibandingkan dengan suplai agregat barang dan jasa, hal ini akan menyebabkan terjadinya penurunan output secara keseluruhan dan jika output produksi barang dan jasa menurun, maka tidak akan dibutuhkan tenaga kerja sebanyak sebelumnya, maka mungkin akan terjadi pengangguran berulang atau bahkan pengangguran alami yang berarti meningkatnya jumlah pengangguran dibandingkan dengan sebelumnya.

(16)

16 masalah kelebihan suplai tenaga kerja dan sektor jasa yang tampaknya banyak menyerap tenaga kerja dengan jenjang pendidikan yang lebih tinggi.

Mengatasi Masalah Pengangguran

Satu hal yang perlu dicatat dari pendapat Ibn Khaldun yaitu bahwa banyaknya tenaga kerja dengan tingkat pendidikan tertentu dapat menjadi modal kerja yang sangat besar, terutama dalam suplai tenaga kerja yang pada akhirnya akan meningkatkan produksi suatu wilayah atau negara. Ibn Khaldun menyatakan bahwa banyaknya suplai suatu barang disebuah daerah, dapat digunakan untuk memenuhi kebutuhan barang tersebut didaerah lain. Selain itu, tenaga kerja dengan tingkat pendidikan tertentu hanya cocok digunakan untuk jenis pekerjaan tertentu pula. Seperti halnya pada klasifikasi pekerja pada tabel 1 diatas, pekerjaan yang berhubungan dengan pertanian tidak membutuhkan tenaga kerja dengan tingkat pendidikan menengah atau tinggi, selama yang dijalankan adalah pertanian yang bersifat alamiah dan dengan prosedur sederhana. Untuk sektor perdagangan dibutuhkan kemampuan yang lebih tinggi, mengingat karakteristik pekerja yang dibutuhkan adalah cerdik dan tangguh, maka yang cocok disini adalah pekerja dengan tingkat pendidikan, paling tidak, mengenyam pendidikan menengah. Sementara untuk produksi barang atau kerajinan, dibutuhkan tenaga kerja dengan tingkat pendidikan tertinggi yang bisa dicapai, mengingat bahwa pada sektor ini akan terjadi spesialisi dan harapan untuk bisa memenuhi kebutuhan barang, tidak hanya pada wilayahnya sendiri tetapi juga pada wilayah lain atau bahkan negara lain yang dapat dijangkau.

Suryadarma et.al (2007) menyatakan bahwa dari sektor ekonomi yang ada di Indonesia, sektor pertanian pada daerah perkotaan memiliki pekerja yang paling sedikit, sementara sektor industri pada daerah perkotaan menyerap pekerja yang paling banyak, pertanian di daerah pedesaan mengalami penurunan tingkat penyerapan tenaga kerja sementara sektor jasa pada daerah perkotaan mengalami peningkatan penyerapan tenaga kerja. Selain itu ternyata bahwa kebanyakan pekerja dengan pendidikan setingkat SMP dan SMA banyak terserap di industri (Suryadarma, Suryahadi, & Sumarto, 2007).

(17)

17 akan mempengaruhi tenaga kerja di area perkotaan, tetapi jika yang berkembang adalah sektor industri di perkotaan, hal ini akan mempengaruhi peningkatan tenaga kerja di daerah perkotaan dengan mengurangi pekerja yang ada di daerah pedesaan.

Berdasarkan pembahasan diatas, maka dapat dimunculkan sebuah solusi untuk mengatasi masalah pengangguran seperti berikut ini:

1. Berdasarkan penelitian dari Suryadarma et.al (2007) dapat diketahui bahwa perkembangan industri di perkotaan akan mempengaruhi tersedianya lapangan pekerjaan di daerah pedesaan, untuk itu

2. Sebaiknya pemerintah harus bisa menciptakan lapangan pekerjaan sesuai dengan tingkat pendidikan yang dimiliki oleh tenaga kerja yang ada di Indonesia.

3. Lapangan pekerjaan tersebut harus tersebar merata di seluruh wilayah Indonesia sehingga tidak menarik pekerja ke wilayah perkotaan dan sebaiknya tingkat pekerjaan.

Untuk itu pada tabel berikut ini dimunculkan sebuah alternatif penyebaran lapangan pekerjaan berdasarkan tingkat pendidikan dan area penyebaran berdasarkan karakteristik pekerja yang dibutuhkan menurut pendapat yang disarikan dari pemikiran Ibn Khaldun:

Tabel 3 Pengembangan Lapangan Pekerjaan berdasarkan Pendapat Ibn Khaldun

Di daerah pedesaan, sebaiknya dikembangkan sektor ekonomi yang berhubungan dengan pertanian, mengingat bahwa pertanian ini tidak memerlukan tenaga kerja yang memiliki pendidikan yang tinggi sehingga karakteristik pekerja yang dibutuhkan disini adalah pekerja yang memiliki tingkat pendidikan dasar sampai ke pendidikan menengah pertama.

Untuk di daerah perkotaan, sebaiknya dimunculkan industri yang mengacu kepada industri kreatif, mengingat bahwa karakteristik pekerja dibidang industri perkotaan ini memerlukan mereka yang memiliki tingkat pendidikan yang tinggi,

Sektor Ekonomi Ibn Khaldun Sektor Ekonomi Modern Daerah Pengembangan Tingkat Pendidikan

Pertanian Pertanian Pedesaan Dasar - Menengah Pertama

Perdagangan Perdagangan Barang dan Jasa Pedesaan dan Perkotaan Menengah

(18)

18 baik formal maupun informal, yang nantinya diharapkan bisa membuat sebuah spesialisasi produk sehingga akan dapat menyerap banyak pekerja dengan keahlian yang spesifik. Dengan adanya pemisahan seperti ini, maka tidak akan terjadi penyerapan tenaga kerja dari daerah pedesaan ke daerah perkotaan karena karakteristik pekerjanya berbeda.

Untuk sektor perdagangan sebaiknya dikembangkan di dua daerah tersebut, yaitu daerah perkotaan dan pedesaan, mengingat bahwa sifat dari pekerjaan ini adalah selalu bergerak dari satu daerah ke daerah lain sehingga dapat menjamin ketersediaan barang dan jasa yang dibutuhkan oleh masyarakat dari kedua daerah tersebut.

Dengan demikian, apabila kondisi diatas diterapkan, diharapkan tidak akan terjadi urbanisasi ke kota-kota, sekaligus juga menjamin terlaksananya pembangunan di daerah yang nantinya akan meningkatkan produksi secara keseluruhan baik di daerah pedesaan maupun didaerah perkotaan. Lebih lanjut lagi, dalam konteks Indonesia, sebaiknya digalakkan pembangunan di provinsi-provinsi di luar Jawa sehingga tidak terjadi arus urbanisasi yang masif dari provinsi di luar jawa ke pulau Jawa. Hal ini diharapkan akan mengurangi kepadatan di pulau Jawa sekaligus meningkatkan kehidupan perekonomian provinsi lainnya.

Peradaban

Syarat utama untuk membangun sebuah peradaban adalah budaya menetap dan dari budaya ini dibutuhkan beberapa keahlian dasar yang diperlukan untuk bisa meningkatkan peradaban tersebut. Dari beberapa keahlian yang disebutkan oleh Ibn Khaldun, dapat disimpulkan, tidak harus semua keahlian harus tersedia pada waktu yang sama, tetapi mengikuti siklus hidup sebuah peradaban.

(19)

19 Untuk peradaban tingkat selanjutnya, selain ke lima keahlian yang disebutkan sebelumnya, diperlukan juga tenaga kesehatan, untuk menjaga kesehatan dan menyembuhkan masyarakt yang sakit dengan teknik pengobatan, serta ahli tulisan untuk mendokumentasikan segala sesuatu yang dianggap penting.

Pada tahap peradaban selanjutnya, diperlukan bantuan dari ahli membuat buku dan ahli musik dan penyanyi. Hal ini diperlukan untuk menyebarkan pengetahuan serta memuaskan keinginan masyarakat untuk hiburan bersifat rohaniah.

Jika kondisi diatas dibandingkan pada kondisi saat ini, maka dapat dikatakan bahwa pada tahap awal pembangunan peradaban, diperlukan sektor pertanian yang kuat, terutama untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari masyarakat dan juga pembangunan sarana dan prasarana untuk menunjang kehidupan bermasyarakat serta adanya fasilitas untuk kesehatan ibu dan anak. Dalam konteks ini, Indonesia sebagai negara agraris dan negara kepulauan seharusnya bisa memiliki kondisi dasar peradaban yang kuat dan tidak bergantung dari negara lain. Dengan kata lain, Indonesia seharusnya bisa berdiri sebagai negara agraris yang mampu memenuhi kebutuhan masyarakatnya dan sekaligus sebagai negara pengekspor bahan makanan, bukan sebagai pengimnpor bahan makanan seperti yang saat ini terjadi. Satu hal yang mungkin perlu menjadi pemikiran kita semua adalah bagaimana kesiapan bangsa ini dalam menghadapi masyarakat ekonomi ASEAN yang secara langsung maupun tidak langsung akan mengancam keberadaan dan keberlangsungan produk lokal Indonesia.

Untuk tahap selanjutnya diperlukan sebuah institusi yang bertugas untuk menjaga kesehatan masyarakat sebelum terkena penyakit dan menyembuhkan orang yang sedang sakit dengan praktik pengobatan. Pada tahap ini juga sebaiknya dimulai tahap riset untuk meningkatkan pengetahuan masyarakat tentang apa saja yang dianggap penting, dalam artian bahwa hasil riset tadi digunakan untuk kesejahteraan masyarakat.

(20)

20 negara atau wilayah yang lain, sementara kondisi masyarakat sendiri sudah beralih ke kondisi yang lebih mementingkan kesejahteraan rohaniah.

Penutup

(21)

21

Daftar Pustaka

Ali, S. S. (2006). Economic Though of Ibn Khaldun. Jeddah: IRTI.

Badan Pusat Statistik. (2013, Mei 6). Berita Resmi Statistik. Keadaan Ketenagakerjaan Februari 2013, hal. 5.

El-Ashker, A., & Wilson, R. (2006). Islamic Economics: A Short History. Leiden: Koninklijke Brill NV.

Hodgson, M. G. (1974). The Venture of Islam Volume 2. Boston: The University of Chicago Press.

Ibn Khaldun, A. A. (1958, March 13). The Muqaddimah: An Introduction to History. New York: Pantheon.

Kamimura, Y. (2010). Employment Structure and Unemployment Insurance in East Asia A Strategy to Establish Social Protection for All Workers. Working Paper, 1-17.

Karatas, S. C. (2006). The Economic Theory of Ibn Khaldun and the Rise and fall of Nations. Manchester: Foundation for Science Technology and

Civilisation.

Katria, S., Bhutto, N. A., Butt, F., Domki, A. A., Khawaja, H. A., & Khalid, J. (-). TRADEOFF BETWEEN INFLATION AND UNEMPLOYMENT.

Proceedings of 2nd International Conference on Business Management (hal. 1-18). -: -.

Meera, A. K. (2011). The Case For The Islamic Gold Dinar. International Journal of Islamic Finance, 73-87.

Mouhammed, A. H. (-). On Ibn Khaldun's Contribution to Heterodox Political Economy. History of Economic Review, 89-104.

Parkin, M. (2012). Macroeconomics 10th Edition. Boston: Pearson.

Gambar

Tabel 1 Karakteristik Tenaga Kerja pada Masa Ibn Khaldun
Tabel 3 Pengembangan Lapangan Pekerjaan berdasarkan Pendapat Ibn Khaldun

Referensi

Dokumen terkait

10 Jan 2019 Penulis diberi tugas untuk melakukan pengecekan komputer yang tidak terhubung dengan jaringan SEGOROAMARTO pada bidang Jaminan Kesehatan Daerah

Menurut hasil pengamatan dan observasi yang telah di lakukan di lapangan dari ketiga variabel tersebut (daya tarik yang dimiliki objek wisata tersebut, aksesbilitas

Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan, dapat disimpulkan sebagai berikut: Hasil belajar bahasa Indonesia materi fakta dan opini dalam paragraf siswa kelas XI Sekolah Menengah

Melalui analisis jalur dalam pencarian hubungan sebab-akibat antara variabel pembelajaran multikultural, pembelajaran sejarah lokal, nasional, global terhadap

Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan, dapat diambil kesimpulan bahwa implementasi dan perbandingan algoritma Naïve Bayes, K-Nearest Neighbor, Decision Tree

Ibrahim berkata: Sesungguhnya Allah telah memilih Islam sebagai agamamu, sebab itu janganlah kamu meninggal melainkan dalam memeluk agama Islam (QS..

Dengan diketahuinya kata- kata yang berkonotasi tidak baik pada siswa SMK di sekitar Terminal Wangon, maka hal ini akan menjadikan tambahan kajian prinsip kesantunan pada

Terkait dengan paparan data mengenai perencanaan dana Bantuan Operasional Sekolah (BOS) di SMA Negeri 4 Seluma dapat disampaikan beberapa temuan sebagai berikut : 1)