commit to user
LABA PADA PERUSAHAAN LQ 45
SKRIPSI
Diajukan Untuk Melengkapi Tugas-Tugas dan Memenuhi Syarat-Syarat Untuk Mencapai Gelar Sarjana Ekonomi Jurusan Akuntansi
Fakultas Ekonomi Universitas Sebelas Maret Surakarta
Oleh:
EKA WIDAYATI CAHYANINGRUM F0308042
FAKULTAS EKONOMI
UNIVERSITAS SEBELAS MARET
SURAKARTA
commit to user
MOTTO
commit to user
Yang Maha Pemurah. Yang mengajar dengan Qalam. Dialah yang
mengajarkan manusia segala yang belum diketahui” (Q.S Al-‘Alaq 1-5).
commit to user My Beloved Family:
commit to user
KATA PENGANTAR
Assalamu’alaikum Wr. Wb.
Puji syukur atas kehadirat Allah SWT yang telah melimpahkan rahmat dan
nikmat-Nya, serta memberikan kemudahan bagi penulis dalam menyelesaikan skripsi
yang berjudul “PENGARUH BEBAN PAJAK TANGGUHAN TERHADAP
MANAJEMEN LABA PADA PERUSAHAAN LQ 45”. Skripsi ini disusun sebagai
salah satu syarat guna memenuhi syarat-syarat untuk mencapai gelar Sarjana Ekonomi
Jurusan Akuntansi Universitas Sebelas Maret.
Penulis menyadari bahwa banyak pihak yang telah memberikan bimbingan
dan bantuan dalam penyusunan skripsi ini. Maka dari itu penulis mengucapkan
terimakasih kepada :
1. Bapak Eko Arief, Drs., M.Si., Ak., selaku Dosen Pembimbing Skripsi yang telah
meluangkan waktu beliau dan membimbing penulis dalam menyusun skripsi ini.
2. Bapak Djoko Suharjanto, Drs., M.COM., Ak., selaku Pembimbing Akademik
yang telah membimbing penulis selama studi di Fakultas Ekonomi Universitas
Sebelas Maret.
3. Bapak Drs. Santoso Tri H., M.Si., Ak. selaku Kepala Jurusan atas bimbingan,
waktu, dan kebaikannya sehingga penulis dapat menyelesaikan studi di Fakultas
Ekonomi Universitas Sebelas Maret.
4. Bapak/Ibu Pimpinan dan Pembantu Pimpinan di Fakultas Ekonomi Universitas
commit to user
Sebelas Maret Surakarta yang telah memberikan bekal ilmu pengetahuannya.
6. Bapak Sugiyarto dan Ibu Sri Mulyani, orangtuaku tercinta yang selalu
mendoakan, sabar dalam mendidik serta memberikan kasih sayang, dukungan,
serta doa kepada penulis agar terus maju serta tidak mudah menyerah.
7. Semua teman-teman akuntansi angkatan 2008, persahabatan yang luar biasa.
Selamanya kita akan menjadi sahabat.
8. Seluruh pihak yang tidak dapat disebutkan satu per satu yang telah memberikan
bantuan selama penyusunan skripsi ini.
Wassalammu’alaikum Wr. Wb.
Surakarta, Juni 2012
commit to user
commit to user
2. Pengaruh Beban Pajak Tangguhan Terhadap Manajemen Laba...20
3. Pegaruh jenis industri terhadap manajmen laba………...…21
C. Kerangka Pikir………... . .22
BAB III METODE PENELITIAN ... 23
A. Desain Penelitian……… .. …...23
B. Populasi dan Sampel Penelitian……… ... ………23
1. Populasi……… ... ……….23
2. Sampel Penelitian………... ………..23
C. Data dan Metode Pengumpulan Data……… .. …25
D Variabel dan Definisi Operasional Variabel... ... ...25
1. Variabel Dependen... ... ...25
2. Variabel Independen... ... ...26
E. Metode Analisi Data... .... ...26
1. Statistik Deskriptif... ... ...26
2. Uji Penyimpangan Asumsi Klasik... ... ...27
3. Pengujian Hipotesis……… ....………....….29
BAB IV HASIL DAN ANALISIS……… .. ………..31
A. Deskripsi Objek Penelitian……… .. …31
B. Analisis Data……… ... ….32
1. Uji Statistik Deskriptif... ... ...32
2. Uji Asumsi Klasik……… ... ………....33
2. Pengujian Hipotesis... ... ...36
C. Interpretasi Hasil... ... ...38
BAB V KESIMPULAN, KETERBATASAN, SARAN DAN IMPLIKASI ... ….40
A. Simpulan……… ....…………...40
B. Keterbatasan……… .. ………..40
commit to user
DAFTAR PUSTAKA……… .. ………...43
LAMPIRAN
commit to user
Halaman
Tabel 4.1 Sampel Penelitian ... 31
Tabel 4.2 Statistik Deskriptif ... 33
Tabel 4.3 Uji Normalitas ... 34
Tabel 4.4 Uji Multikoliniearitas………... 34
Tabel 4.5 Uji Autokolerasi………...………...….….35
Tabel 4.6 Uji Heteroskedastisitas………..…....36
commit to user
commit to user
Halaman
commit to user
i
PENGARUH BEBAN PAJAK TANGGUHAN TERHADAP MANAJEMEN
LABA PADA PERUSAHAAN LQ 45 pendekatan rekayasa discretionary accrual. Beberapa penelitian akuntansi positif juga menyatakan bahwa manajer melakukan manipulasi laba (earning management) dengan menggunakan strategi income smoothing dan strategi discetionary accrual. Sedangkan informasi yang digunakan dalam mendeteksi manajemen laba adalah beban pajak tangguhan yang merupakan komponen pembentuk beban pajak pada laporan laba/rugi perusahaan. Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan bukti empiris apakah pajak tangguhan berpengaruh terhadap manajemen laba.
Data penelitian diperoleh dari perusahaan LQ 45 yang listing di Bursa Efek Indonesia (BEI) selama periode tahun 2006-2010. Jumlah sampel sebanyak 43 perusahaan dengan melewati tahap purposive sample. Teknik analisa yang akan dipakai dalam penelitian ini adalah adalah regresi liear. Hasil penelitian menunjukkan bahwa variabel, beban pajak tangguhan mempunyai koefisien regresi positif dan signifikan, sehingga dapat disimpulkan bahwa beban pajak tangguhan berpengaruh terhadap manajemen laba pada perusahaan LQ 45. Hasil penelitian ini diharapkan bahwa variabel beban pajak tangguhan dapat dijadikan pedoman, baik oleh pihak manajemen perusahaan dalam pengelolaan perusahaan, maupun oleh para investor dalam menentukan strategi investasi.
Kata kunci : Beban Pajak Tangguhan, Akrual, Jenis Perusahaan dan
commit to user
ii
PENGARUH BEBAN PAJAK TANGGUHAN TERHADAP MANAJEMEN
LABA PADA PERUSAHAAN LQ 45
Disusun Oleh:
Eka Widayati Cahyaningrum
F 0308042
The accounting policy selection in earning management practice can be done by both accounting method selection approach and discretionary accrual reengineering approach. Several positive accounting studies also state that the manager performs earning management using income smoothing and discretionary accrual strategies. Meanwhile the information used in detecting the profit management is the postponed tax constituting the tax deferred expense composing component in the company’s cost/profit report. This research aims to get an empirical evidence of whether or not the postponed tax enable the company probability of conducting earning management.
The data of research was obtained from LQ-45 company enlisted in Indonesia Stock Exchange (ISE) during 2006-2010 periods. The sample of research included 43 companies taken using purposive sampling technique. Technique of analyzing data used was linear regression. The result of research showed that variable, tax deferred expense obtained positive significant regression coefficient, so that it could be concluded that the tax deferred expense and accrual size could detect the earning management in LQ-45 companies. The result of research is expected to show that the tax deferred expense variable can be the guidelines for both the company management in managing the company, and the investor in determining the investment strategy.
commit to user
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Salah satu ukuran kinerja perusahaan yang sering digunakan sebagai dasar
pengambilan keputusan bisnis adalah laba yang dihasilkan perusahaan. Informasi laba
merupakan komponen laporan keuangan yang digunakan untuk menilai kinerja
manajemen, membantu mengestimasi kemampuan laba yang representatif dalam jangka
panjang, meramalkan laba, serta untuk menaksir risiko dalam mengamb il keputusan
berinvestasi para pelaku pasar modal. Informasi yang diperlukan tersebut diantaranya
berupa laporan keuangan yang dipublikasikan.
Informasi tentang laba (earnings) mempunyai peran sangat penting bagi pihak yang
berkepentingan terhadap suatu perusahaan. Pihak internal dan eksternal perusahaan sering
menggunakan laba sebagai dasar pengambilan keputusan seperti pemberian kompensasi
dan pembagian bonus kepada manajer, pengukur prestasi atau kinerja manajemen, dan
dasar penentuan besarnya pengenaan pajak. Oleh karena itu kualitas laba menjadi pusat
perhatian bagi investor, kreditor, pembuat kebijakan akuntansi, dan pemerintah.
Akibatnya, manajemen akan berusaha memanipulasi laporan kinerja perusahaan untuk
kepentingannya sendiri misalnya mendapatkan dana atau modal baik yang diperoleh dari
investor maupun kreditur (Morris, 1987).
Manajemen laba dapat diartikan sebagai suatu tindakan manajemen laba yang
mempengaruhi laba yang dilaporkan dan memberikan manfaat ekonomi yang keliru
commit to user
investor dan kreditor, biasanya manajemen melakukan tindakan manajemen laba sehingga
kredibilitas laporan keuangan sangat kurang apabila digunakan untuk pengambilan
keputusan, karena earning management merupakan suatu bentuk manipulasi atas laporan
keuangan yang menjadi sasaran komunikasi antara manajer dan pihak eksternal
perusahaan.
Laporan keuangan dibedakan dua laporan yaitu untuk kepentingan pajak dan untuk
kepentingan komersial. Penghasilan Kena Pajak dihitung berdasarkan Ketentuan
Peraturan Perundang-undangan Perpajakan sedangkan Penghasilan Sebelum Pajak
dihitung berdasarkan standar yang disusun oleh profesi yang dikenal sebagai Standar
Akuntansi Keuangan (SAK). Menurut Worthty 1984, upaya untuk merekayasa atau
memanipulasi laba dapat terjadi karena metode akuntansi memberi peluang bagi
manajemen untuk melibatkan unsur subyektifitas dalam membuat estimasi-estimasi.
Oleh karena itu manajemen berharap untuk mengelola laba agar tercapai beberapa tujuan
yang dikehendaki. Selain itu, manajemen lebih menyukai mengatur laba akuntansi
cenderung meningkat, meskipun tanpa adanya peningkatan laba kena pajak.
Sedangkan informasi yang digunakan dalam mendeteksi manajemen laba adalah
beban pajak tangguhan yang merupakan komponen pembentuk beban pajak pada
laporan laba/rugi perusahaan. Berdasarkan PSAK No. 46, beban pajak tangguhan adalah
selisih antara beban pajak kini dan dan beban pajak komersil. Beban pajak tangguhan
timbul akibat perbedaan temporer antara laba akuntansi dengan laba fiskal. Jika laporan
keuangan perusahaan menunjukkan bahwa laba akuntansi lebih tinggi dibanding laba
fiskal, berarti perusahaan cenderung menaikkan kewajiban pajak tangguhan bersih, dan
commit to user
tangguhan) bermanfaat untuk mendeteksi manajemen laba untuk menghindari laba
menurun.
Alasan mereplikasi penelitian tentang pengaruh beban pajak tangguhan terhadap
manajemen laba karena diharapkan memberi manfaat informasi berkaitan dengan bidang
pembahasan di atas terutama bagi investor dan calon investor yang melakukan investasi
di pasar modal, penelitian ini diharapkan dapat memberikan masukan untuk membuat
keputusan investasi, terutama yang terkait dengan pengaruh manajemen laba. Informasi
akuntansi yang digunakan secara luas oleh investor dan analis keuangan untuk menilai
saham dapat memunculkan keinginan manajemen melakukan manajemen laba dengan
maksud mempengaruhi harga saham jangka pendek. Manajemen laba dapat dideteksi atau
diproxy dengan menggunakan beban pajak tangguhan (deferred tax expense) dan akrual.
Beban pajak tangguhan ini mencerminkan besarnya beda waktu yang telah dikalikan
dengan suatu tarif pajak marginal. Beda waktu timbul karena adanya kebijakan akrual
(discretionary accruals) tertentu yang diterapkan sehingga terdapat suatu perbedaan
waktu pengakuan penghasilan atau biaya antara akuntansi dengan pajak. Mengingat
bahwa kebijakan akrual tersebut merupakan cara manajer melakukan manajemen laba
dan beban pajak tangguhan ini merefleksikan kebijakan akrual tersebut dengan besaran
beda waktu yang dihasilkan, dengan demikian investor dapat melakukan antisipasi
dengan baik.
Dalam penelitian Phillips et al. (2003) tentang earning management, bertujuan untuk
menguji kegunaan dari beban pajak tangguhan dalam mengidentifikasi manajemen laba
untuk memenuhi tiga sasaran laba: (1) untuk menghindari melaporkan penurunan laba,
commit to user
memenuhi konsensus pendapatan analis perkiraan. Berdasarkan Undang-undang Pajak
Amerika Serikat dengan membandingkan antara beban pajak tangguhan (scale earning
changes, scaled earning, dan analysts forecast) dengan tiga model yang dipakai untuk
memprediksi manajemen laba yaitu model accrual, modified jones, dan forward looking
mode.
Hasil dari penelitian yang dilakukan oleh Phillips et al. (2003) ditemukan bahwa
beban pajak tangguhan berguna dalam mendeteksi manajemen laba untuk menghindari
penurunan laba, beban pajak tangguhan adalah bertahap berguna melampaui total accrual
dalam mengidentifikasi manajemen laba untuk menghindari kerugian, hanya akrual total
berguna dalam mendeteksi laba manajemen untuk menghindari gagal memenuhi
perkiraan analis. Didalam temuan Phillips et al. (2003) juga disebutkan bahwa beban
pajak tangguhan lebih superior dibandingkan model akrual untuk menghindari penurunan
pendapatan dan untuk menghindari kerugian namun perhitungan akrual dapat melengkapi
beban pajak tangguhan dalam mendeteksi manajemen laba.
B. Perumusan Masalah
Penelitian yang dilakukan oleh Phillips et al. (2003) didasarkan pada peraturan
pajak yang berlaku di Amerika Serikat yaitu SFAS No.109. Di Indonesia sendiri mulai
tahun 1999 efektif menggunakan PSAK No. 46 terkait dengan pajak tangguhan.
Walaupun PSAK No. 46 tentang Akuntansi PPh diadopsi dari SFAS No. 109 yang
diterapkan di Amerika Serikat, namun adanya perbedaan beberapa ketentuan dalam
perpajakan antara Indonesia dengan Amerika Serikat membuat beberapa hal disajikan
commit to user
pembebanan rugi ke belakang, namun hanya pembebanan ke depan. Jangka waktu alokasi
tersebut juga tidak selama 10 tahun sebagaimana di Amerika Serikat, tetapi 5 tahun saja.
Adanya perbedaan peraturan pajak antar negara di dunia mendorong penelitian ini untuk
membuktikan apakah hasil penelitian akan berbeda di negara lain di luar Amerika
Serikat terutama di Indonesia.
Dalam penelitian ini menggunakan total accrual, karena model ini lebih baik
daripada modified jones, dan forward looking mode yang sudah dibuktikan dalam
penelitian Phillips et al. (2003) bahwa total akrual lebih berguna dalam meneliti
manajemen laba. Penelitian Phillips et al. (2003) tidak memisahkan jenis industri baik
manufaktur atau non manufaktur sehingga tidak bisa dibedakan apakah jenis industri
juga berpengaruh terhadap manajemen laba, sedangkan model dalam penelitian ini
memasukan jenis industri terhadap manajemen laba sehingga akan diketahui apakah
jenis industri berpengaruh terhadap manajemen laba. Penelitian ini hendak menguji
pengaruh beban pajak tangguhan perusahaan terhadap manajemen laba tahun 2006
sampai dengan 2010 dengan mengambil sampel perusahaan LQ 45 karena terkait
dengan pengawasan perusahaan LQ 45 selalu menjadi sorotan umum sehingga
perusahaan yang terdaftar dalam LQ 45 selalu berusaha untuk menjaga kredibilitasnya.
Oleh karena itu perusahaan cenderung melakukan manajemen laba untuk menaikkan
atau memaksimalkan laba perusahaan.
Dengan adanya gap penelitian di atas penelitian ini bermaksud untuk menguji
pengaruh beban pajak tangguhan terhadap manajemen laba di Indonesia. Pertanyaan
commit to user
1. Apakah beban pajak tangguhan berpengaruh terhadap manajemen laba?
2. Apakah jenis perusahaan berpengaruh terhadap manajemen laba?
C. Tujuan Penelitian
Berdasarkan latar belakang dan perumusan masalah, maka tujuan utama
dilakukannya penelitian ini adalah:
1. Untuk mendapatkan bukti empiris bahwa beban pajak berpengaruh
terhadap manajemen laba.
2. Untuk mendapatkan bukti empiris bahwa jenis perusahaan berpegaruh
terhadap manajemen laba.
D. Manfaat Penelitian
Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberi manfaat sebagai berikut:
1. Bagi akademisi, penelitian ini diharapkan dapat memberikan kontribusi bagi
perkembangan studi dengan memberikan bukti empiris terkait dengan earning
management.
2. Bagi peneliti lain, penelitian ini diharapkan dapat menjadi bahan pertimbangan
untuk kajian penelitian selanjutnya, khususnya penelitian di bidang akuntansi
keuangan dan earning management.
3. Bagi investor dan calon investor yang melakukan investasi, penelitian ini
diharapkan dapat memberikan masukan untuk membuat keputusan investasi,
commit to user
AICPA yang dikutip Harahap (2007), laba akuntansi (accounting income) adalah
perubahan dalam ekuitas (net asset) dari suatu entitas selama satu periode tertentu yang
diakibatkan oleh transaksi dan kejadian atau peristiwa yang berasal bukan dari pemilik.
Sedangkan IAI mendefinisikan income sebagai kenaikan manfaat ekonomi selama satu
periode akuntansi dalam bentuk pemasukan atau penambahan aktiva atau penurunan
kewajiban yang mengakibatkan kenaikan ekuitas yang tidak berasal dari kontribusi
penanaman modal.
Menurut Belkaoui yang dikutip Harahap (2007) yang dimaksud dengan laba
akuntansi adalah perbedaan antara revenue yang direalisasi yang timbul dari transaksi
pada periode tertentu dihadapkan dengan biaya-biaya yang dikeluarkan pada periode
tersebut. Definisi tentang laba tersebut mengandung lima sifat, yaitu:
a. laba akuntansi didasarkan pada transaksi yang benar-benar terjadi, yaitu timbulnya
hasil dan biaya untuk mendapatkan hasil tersebut,
b. laba akuntansi didasarkan pada postulat periodik laba itu, artinya merupakan prestasi
perusahaan itu pada periode tertentu,
c. laba akuntansi didasarkan pada prinsip revenue yang memerlukan batasan tersendiri
commit to user
d. laba akuntansi memerlukan perhitungan terhadap biaya dalam bentuk biaya historis
yang dikeluarkan perusahaan untuk mendapatkan hasil tertentu,
e. laba akuntansi didasarkan pada prinsip maching artinya hasil dikurangi biaya yang
diterima/dikeluarkan dalam periode yang sama.
2. Laba Fiskal
Adanya perbedaan antara prinsip akuntansi dengan aturan perpajakan mengharuskan
manajer untuk membuat dua jenis laporan laba rugi, yaitu laporan laba rugi komersil dan
laporan laba rugi fiskal. Laporan laba rugi komersil disusun berdasarkan Standar
Akuntansi Keuangan, sedangkan laporan laba rugi fiskal disusun berdasarkan aturan
perpajakan. Penghasilan kena pajak yang merupakan dasar perhitungan pajak penghasilan
merupakan output dari rekonsiliasi fiskal antara laporan laba rugi komersil dengan
ketentuan pembukuan pajak menurut Undang-Undang Perpajakan. Hal ini menimbulkan
dua jenis penghasilan, yaitu laba sebelum pajak (menurut perhitungan laba rugi
berdasarkan standar akuntansi) dan penghasilan kena pajak (menurut perhitungan laba
rugi fiskal). Terjadinya fenomena book tax gap ini yaitu perbedaan antara laba akuntansi
dan laba fiskal (book tax gap) dapat menimbulkan peluang terjadinya manajemen laba
dan kualitas laba perusahaan.
Laba yang dilaporkan juga menjadi dasar dalam penetapan pajak. Sering kali terjadi
perbedaan antara laba akuntansi dengan laba fiskal. Perbedaan ini disebabkan perbedaan
tujuan masing-masing dalam pelaporan laba. Perbedaan antara laba akuntansi dan laba
commit to user
yang mendasarinya adalah adanya sedikit kebebasan akuntansi yang diperbolehkan dalam
pengukuran laba fiskal.
Beberapa peneliti kualitas laba telah memusatkan perhatiannya pada selisih antara
laba akuntansi dan laba fiskal (Mills et al., 2002 dalam Nissim et al., 2004). Mereka
berpendapat bahwa perbedaan antara laba akuntansi dan laba fiskal (book-tax differences)
dapat memberikan informasi mengenai kualitas laba. Logika yang mendasarinya adalah
adanya sedikit kebebasan akuntansi yang diperbolehkan dalam pengukuran laba fiskal
sehingga perbedaan antara laba akuntansi dan laba fiskal (book-tax differences) dapat
memberikan informasi tentang management discretion dalam proses akrual. Seida (2003)
dalam Hanlon (2005) juga menyatakan bahwa laba fiskal dapat digunakan sebagai
benchmark untuk mengevaluasi laba akuntansi. Apabila angka laba diduga oleh publik
sebagai hasil rekayasa manajemen, maka angka laba tersebut dinilai mempunyai kualitas
rendah, dan konsekuensinya adalah publik akan merespon negatif angka laba yang
dilaporkan tersebut.
Selain itu beberapa literatur analisis keuangan menegaskan peranan book-tax
differences untuk menilai kualitas laba yang dilaporkan oleh manajemen. Contohnya,
Revsine et al. (1999, 633) menyatakan:
“A widening excess of book income over taxable income represents a potential danger signal that should be investigated, because... it might be an indication of deteriorating earnings quality”
Palepu et al (2000) Dalam Hanlon (2005) menyatakan bahwa semakin besar
perbedaan antara laba akuntansi dan laba fiskal menunjukkan red flag bagi pengguna
commit to user
dapat digunakan sebagai diagnosa untuk mendeteksi adanya manipulasi pada biaya utama
suatu perusahaan.
Salah satu kewajiban perusahaan kepada negara adalah menyetor dan melaporkan
pajak penghasilan. Untuk menghitung besarnya pajak penghasilan yang harus dibayar
kepada negara, terlebih dahulu harus diketahui besarnya laba fiskal.
Menurut IAI dalam PSAK No. 46, laba fiskal (taxable profit) adalah laba selama
satu periode yang dihitung berdasarkan peraturan perpajakan dan yang menjadi dasar
penghitungan pajak penghasilan.
Pengelompokan penghasilan dan beban oleh peraturan perpajakan mengakibatkan
laba akuntansi berbeda dengan laba fiskal. Dalam rangka menghitung laba fiskal perlu
dilakukan penyesuaian-penyesuaian terhadap laba akuntansi sebelum pajak penghasilan
berdasarkan ketentuan peraturan Undang-Undang Pajak Penghasilan beserta peraturan
pelaksanaannya yang lebih dikenal dengan istilah rekonsiliasi fiskal.
3. Akrual
Terdapat dua jenis basis pencatatan yaitu basis kas (cash basis) dan basis akrual
(accrual basis). Menurut akuntansi basis kas, pendapatan dicatat hanya pada saat kas
diterima dan beban dicatat pada saat kas dikeluarkan. Akuntansi berbasis akrual,
transaksi-transaksi yang mempengaruhi laporan keuangan perusahaan dicatat pada
periode di mana transaksi tersebut terjadi bukan pada saat kas diterima atau dikeluarkan.
Informasi yang disajikan pada basis akrual mengungkapkan hubungan yang mungkin
commit to user
pengambilan keputusan. Oleh karena itu, basis akrual yang banyak dipakai dan sesuai
dengan prinsip akuntansi.
Satwika dan Damayanti (2005) menyatakan bahwa akrual merupakan jumlah
penyesuaian akuntansi yang dibutuhkan untuk mengubah arus kas operasi menjadi laba
bersih. Akrual kemudian dibagi menjadi dua jenis, antara lain:
a. nondiscretionary accrual (normal accruals) yaitu pengakuan akrual yang wajar dan
tunduk pada saat standar atau peraturan akuntansi yang berlaku umum,
b. discretionary accrual (abnormal accruals) yaitu pengakuan akrual yang bebas, tidak
diatur, dan merupakan pilihan kebijakan manajemen.
Dengan basis akrual akan menyediakan banyak keleluasaan bagi manajer dalam hal
pengakuan pendapatan dan beban. Manajemen perusahaan kemudian dapat melakukan
manipulasi dengan menggunakan discretionary accrual.
Pendapat lain yang dinyatakan oleh Sulistyanto (2008) menyatakan bahwa
discretionary accrual merupakan komponen akrual hasil rekayasa manajerial dengan
memanfaatkan kebebasan dan keleluasaan dalam estimasi dan pemakaian standar
akuntansi. Terdapat beberapa metode yang bisa dipakai manajer perusahaan untuk
merekayasa besar kecilnya discretionary accrual ini sesuai dengan tujuan yang ingin
dicapainya, misalkan kebebasan menentukan estimasi dan memilih metode depresiasi
aktiva tetap, menentukan estimasi prosentase jumlah piutang tak tertagih, memilih metode
penentuan jumlah persediaan, dan sebagainya. Sementara itu, Sulistyanto (2008) juga
menyatakan bahwa pengertian non-discretionary accrual merupakan komponen akrual
commit to user
yang diterima secara umum, misalkan metode depresiasi dan penentuan persediaan yang
dipilih harus mengikuti metode yang diakui dalam prinsip akuntansi.
4. Konsep Akrual
Dalam akuntansi terdapat basis akrual (accrual basis) dan basis kas (cash
basis). Basis akrual mengakui penghasilan (revenue) pada saat diperoleh dan
mengakui beban yang terkait dengan penghasilan tersebut pada periode yang sama,
tanpa memperhatikan saat penerimaan kas dari penghasilan yang bersangkutan.
Dengan dasar akrual, pengaruh transaksi dan peristiwa lain diakui pada saat kejadian
dan dicatat dalam catatan akuntansi serta dilaporkan dalam laporan keuangan pada
periode yang bersangkutan (PSAK, 2002). Sedangkan basis kas mengakui penghasilan
dan beban atas dasar kas tunai yang diterima.
Konsep akrual memenuhi konsep dasar akuntansi yaitu matching of cost with
revenue (membandingkan penghasilan dengan beban/biaya). Menurut konsep ini,
pengakuan beban atau pendapatan harus diakui sesuai dengan hak yang diukur dalam
satu periode akuntansi tanpa mempertimbangkan adanya penerimaan kas tunai.
Dengan demikian, aktiva, kewajiban, ekuitas, penghasilan dan beban diakui pada saat
kejadian, bukan pada saat kas atau setara kas diterima dan dicatat serta disajikan
dalam laporan keuangan pada periode terjadinya. Beban diakui dalam laporan laba
rugi atas dasar hubungan langsung antara biaya yang timbul dengan pos penghasilan
tertentu yang diperoleh (PSAK, 2002). Dengan demikian, pengakuan pendapatan dan
beban menurut standar akuntansi yang diterima umum menggunakan konsep akrual,
commit to user
Konsep akrual ini memungkinkan dilakukannya rekayasa laba atau earning
management oleh manajer untuk menaikkan atau menurunkan angka akrual dalam
laporan laba rugi (Hidayati & Zulaikha, 2003). Perekayasaan laba juga dapat
dilakukan dengan mendistorsi laba dengan cara menggeser periode pengakuan biaya
dan pendapatan (Fischer & Rozenzweig, 1995).
Konsep akrual terdiri atas akrual diskresioner (discretionary accrual) dan
akrual non diskresioner (nondiscretionary accrual). Discretionary accrual adalah
pengakuan laba akrual atau beban yang bebas, tidak diatur, dan merupakan pilihan
kebijakan manajemen, sedangkan nondiscretionary accrual adalah pengakuan laba
akrual yang wajar, tidak dipengaruhi kebijakan manajemen, serta tunduk pada suatu
standar atau prinsip akuntansi yang berlaku umum, dan jika standar tersebut
dilanggar akan mempengaruhi kualitas laporan keuangan (Hidayati & Zulaikha, 2003).
Hasil penelitian Subramanyam pada tahun 1996 menunjukkan bahwa komponen laba
berupa akrual diskresioner dan akrual nondiskresioner tersebut akan direspon oleh pasar
saham.
Untuk melakukan penelitian mengenai manajemen laba digunakan discretionary
accrual yang merupakan akrual tidak normal dan merupakan pilihan kebijakan
manajemen. Selain itu, akrual diskresioner mencerminkan informasi privat yang
diberikan oleh manajer untuk mencerminkan kondisi atau nilai ekonomis suatu
perusahaan, sehingga memungkinkan manajer terlibat dalam pelaporan yang oportunistik
commit to user 5. Manajemen Laba
Manajemen laba adalah suatu tindakan yang dilakukan oleh pihak manajemen yang
menaikkan atau menurunkan laba yang dilaporkan dari unit yang menjadi tanggung
jawabnya yang tidak mempunyai hubungan dengan kenaikkan atau penurunan
profitabilitas perusahaan untuk jangka panjang. Dengan demikian, manajemen laba dapat
diartikan sebagai suatu tindakan manajemen laba yang mempengaruhi laba yang
dilaporkan dan memberikan manfaat ekonomi yang keliru kepada perusahaan, sehingga
dalam jangka panjang hal tersebut akan sangat menggangu bahkan membahayakan
perusahaan. Setiawati dan Na’im (2000) dalam Wisnumurti (2010) menyatakan bahwa
manajemen laba merupakan campur tangan dalam proses pelaporan keuangan eksternal
dengan tujuan untuk menguntungkan diri sendiri. Manajemen laba sendiri dapat
mengakibatkan berkurangnya kredibilitas laporan keuangan, menambah bias dalam
laporan keuangan dan dapat membuat pemakai laporan keuangan mempercayai angka
laba hasil rekayasa tersebut sebagai angka laba tanpa rekayasa. Sugiri (1998) dalam
Widyaningdyah (2001) menyatakan bahwa membagi definisi earnings management
menjadi dua, yaitu:
a. definisi sempit, earnings management dalam hal ini hanya berkaitan dengan
pemilihan metode akuntansi. Earnings management dalam artian sempit ini
didefinisikan sebagai perilaku manajemen untuk mengubah komponen discretionary
accruals dalam menentukan besarnya earnings,
b. definisi luas, earnings management merupakan tindakan manajer untuk
commit to user
manajer bertanggung jawab, tanpa mengakibatkan peningkatan (penurunan)
profitabilitas ekonomi jangka panjang unit tersebut.
Manajemen laba sebagai suatu intervensi dengan maksud tertentu terhadap proses
pelaporan keuangan eksternal dengan sengaja memperoleh beberapa keuntungan pribadi.
Manajemen laba terjadi ketika manajer menggunakan judgment dalam pelaporan
keuangan dan penyusunan transaksi untuk merubah laporan keuangan, sehingga
menyesatkan stakeholder tentang kinerja ekonomi perusahaan atau untuk mempengaruhi
hasil yang berhubungan dengan kontrak yang tergantung pada angka akuntansi yang
dilaporkan. Manajemen laba merupakan pemilihan kebijakan akuntansi untuk mencapai
tujuan khusus.
Schipper (1989) mendefinisikan manajemen laba sebagai suatu intervensi dengan
maksud tertentu terhadap proses pelaporan keuangan eksternal dengan sengaja
memperoleh beberapa keuntungan pribadi. Healy dan Wahlen (1999) menyatakan bahwa
manajemen laba terjadi ketika manajer menggunakan judgement dalam pelaporan
keuangan dan penyusunan transaksi untuk merubah laporan keuangan, sehingga
menyesatkan stakeholder tentang kinerja ekonomi perusahaan atau untuk mempengaruhi
hasil yang berhubungan dengan kontrak yang tergantung pada angka akuntansi yang
dilaporkan. Manajemen laba merupakan pemilihan kebijakan akuntansi untuk mencapai
tujuan khusus (Scott 2000: 351).
Secara umum, manajemen laba dapat dilakukan dengan cara memanfaatkan peluang
untuk membuat estimasi akuntansi, mengubah serta memilih metode akuntansi, dan
commit to user
akuntansi yang dibuat manajemen antara lain estimasi piutang tak tertagih, estimasi kurun
waktu depresiasi aktiva tetap atau amortisasi aktiva tak berwujud, dan lain-lain.
Manajemen juga dapat mengubah meode akuntansi dengan syarat alasan serta dampak
dari perubahan tersebut dijelaskan. Manajemen dapat memilih berbagai metode
akuntansi yang dianggap paling baik bagi manajemen. Selain itu manajemen juga dapat
menggeser periode biaya dan pendapatan. Sebagai contoh, manajemen dapat
mempercepat atau menunda pengeluaran untuk penelitian dan pengembangan, biaya
promosi dan lain-lain.
Banyak penelitian yang dilakukan oleh para peneliti untuk membahas mengenai
manajemen laba. Salah satu diantaranya adalah penelitian yang dilakukan Schipper
(1989) dalam Belkaoui (2004) melihat manajemen laba sebagai suatu intervensi yang
disengaja pada proses pelaporan eksternal dengan maksud untuk mendapatkan beberapa
keuntungan pribadi, yang dapat dilakukan melalui pemilihan metode-metode akuntansi
dalam GAAP (General Accepteccounting Principles) ataupun dengan cara menerapkan
metode-metode yang telah ditentukan dengan cara tertentu. Healy dan Wahlen (1999)
dalam Sutrisno (2002: 164) menyatakan bahwa manajemen laba terjadi ketika manajer
menggunakan pertimbangan dalam pelaporan keuangan dan membentuk transaksi untuk
mengubah laporan keuangan dengan tujuan untuk memanipulasi besaran laba kepada
stakeholders tentang kinerja ekonomi yang mendasari perusahaan atau untuk
mempengaruhi hasil perjanjian yang tergantung pada angka-angka akuntansi yang
dilaporkan. Copeland (1968) dalam Utami (2005) mendefinisikan manajemen laba
sebagai suatu usaha manajemen untuk memaksimumkan atau meminimumkan laba,
commit to user
terhadap manajemen laba mendorong semakin berkembangnya model empiris yang
digunakan untuk mengidentifikasi akivitas rekayasa manajerial ini. Secara umum ada 3
kelompok model empiris manajemen laba yang diklasifikasikan atas dasar basis
pengukuran yang digunakan, yaitu (Sulistyanto, 2008):
a. model berbasis akrual merupakan model yang menggunakan discretionary accruals
sebagai proksi manajemen laba. Model manajemen laba ini dikembangkan oleh
Healy (1985), De Angelo (1986), Jones (1991), serta Dechow et al. (1995),
b. model yang berbasis specific accruals, yaitu pendekatan yang menghitung akrual
sebagai proksi manajemen laba dengan menggunakan item laporan keuangan
tertentu dari industri tertentu pula. Model ini dikembangkan oleh Mc Nichols dan
Wilson (1988) Petroni (1992), Beaver dan Engel (1996), Beneish (1997), serta
Beaver dan Mc Nichols (1998),
c. model distribution of earnings dikembangkan oleh Burgatler dan Dichey (1997),
Degeorge et al. (1999), serta Myers dan Skinner (1999).
Sejauh ini hanya model berbasis agregate accruals yang diterima secara umum
sebagai model yang memberikan hasil paling kuat dalam mendeteksi manajemen laba
karena (Sulistyanto, 2008):
a. model empiris ini sejalan dengan akuntansi berbasis akrual yang selama ini
digunakan dalam pencatatan transaksi. Model akuntansi akrual dapat memunculkan
akun akrual yang mudah untuk dipermainkan nominalnya karena akun ini berasal
dari transaksi-transaksi yang tidak disertai penerimaan dan pengeluaran kas,
b. model aggregate accruals menggunakan semua komponen laporan keuangan untuk
commit to user
Model berbasis aggregate accruals yang digunakan adalah Healy. Model tersebut
dikembangkan oleh Dechow et al. (1995). Komponen total accruals dalam Healy dapat
dipisahkan menjadi dua, yaitu discretionary accruals dan non discretionary
accruals. Discretionary accruals merupakan komponen total accruals yang berasal dari
rekayasa manajerial dengan memanfaatkan kebebasan dan fleksibelitas dalam
menentukan nilai estimasi pada metode akuntansi. Misalnya, kebebasan dalam
menentukan estimasi nilai residu dalam penyusutan aktiva tetap dan estimasi nilai
persentase piutang tidak tertagih. Sementara itu, non discretionary accruals merupakan
komponen total accruals yang diperoleh secara alami dari pencatatan akuntansi dengan
mengikuti standar akuntansi yang diterima secara umum.
6. Beban Pajak Tangguhan
Beban pajak tangguhan ini mencerminkan besarnya beda waktu yang telah
dikalikan dengan suatu tarif pajak marginal. Beda waktu timbul karena adanya
kebijakan akrual (discretionary accruals) tertentu yang diterapkan sehingga terdapat
suatu perbedaan waktu pengakuan penghasilan atau biaya antara akuntansi dengan
pajak. Mengingat bahwa kebijakan akrual tersebut merupakan cara manajer
melakukan manajemen laba dan beban pajak tangguhan ini merefleksikan kebijakan
akrual tersebut dengan besaran beda waktu yang dihasilkan, maka beban pajak
tangguhan ini dijadikan suatu ukuran dalam mendeteksi manajemen laba pada penelitian
ini. Beban pajak tangguhan yang dijadikan variabel dalam penelitian ini diperoleh dari
beban pajak tangguhan pada periode laporan keuangan dibagi dengan total aktiva pada
commit to user
Beban pajak tangguhan timbul akibat perbedaan temporer antara laba akuntansi
(yaitu laba dalam laporan keuangan untuk kepentingan pihak eksternal) dengan laba
fiskal (laba yang digunakan sebagai dasar perhitungan pajak). Perbedaan antara laporan
keuangan akuntansi dan fiskal disebabkan dalam penyusunan laporan keuangan, standar
akuntansi lebih memberikan keleluasaan bagi manajemen dalam menentukan prinsip dan
asumsi akuntansi dibandingkan yang diperbolehkan menurut peraturan pajak. Palepu et
al. (2000) menyatakan bahwa semakin besar perbedaan antara laba yang dilaporkan
perusahaan (laba komersial) dengan laba fiskal menunjukkan bendera merah bagi
pengguna laporan keuangan. Semakin besar persentase beban pajak tangguhan terhadap
total beban pajak perusahaan menunjukkan pemakaian standar akuntansi yang semakin
liberal (Hawkins, 1998).
B. Pengembangan Hipotesis
1. Model Manajemen Laba
Burgstahler dan Dichev (1997), Holland dan Ramsay (2003), Dechow et al. (2003)
menggunakan distribusi laba untuk mendeteksi manajemen laba dalam perusahaan dan
menganggap terpatahnya distribusi frekuensi perusahaan di sekitar ambang batas
pelaporan laba dapat dijadikan proksi dilakukannya manajemen laba. Burgstahler dan
Dichev (1997) dalam Yulianti (2004) menjelaskan bahwa penyimpangan yang terjadi di
sekitar titik nol (ambang batas pelaporan laba) disebabkan keinginan manajemen
menggeser laba dari nilai negatif ke nilai positif. Mereka juga menganggap manajemen
laba yang dilakukan perusahaan adalah untuk memenuhi dua tujuan, yaitu menghindari
commit to user
melakukan pengujian dengan terlebih dahulu membuktikan bahwa
perusahaan-perusahaan yang terdaftar di BEI melakukan manajemen laba untuk menghindari
kerugian dan menghindari penurunan laba.
2. Pengaruh Beban Pajak Tangguhan terhadap Manajemen Laba
Hanlon and Shevlin (2004) dalam Atwood et al. (2007) mengatakan bahwa secara
spesifik sistem perpajakan dirancang untuk meningkatkan pendapatan negara, sebaliknya
sistem akuntansi dirancang untuk menyediakan informasi tentang kinerja perusahaan dan
diharapkan dapat menekan asimetris informasi yang mungkin terjadi antara manajemen
sebagai pihak internal dan pengguna laporan keuangan sebagai pihak eksternal.
Perbedaan yang timbul antara akuntansi pajak dan komersial dapat menyediakan
informasi tambahan bagi pengguna laporan keuangan untuk menilai kualitas current
earnings (Philips et al. 2003 dan Tang, 2005). Alasannya karena peraturan perpajakan
lebih membatasi keleluasaan penggunaan diskresi dalam menghitung penghasilan kena
pajak, itulah sebabnya selisih laba komersial dan laba fiskal (book-tax gap) dapat
menginformasikan tentang diskresi manajemen dalam proses akrual (Hanlon, 2005).
Nugraheni (2008) yang menganalisis beban pajak tangguhan dan akrual dalam
mendeteksi manajemen laba, menemukan bahwa beban pajak tangguhan tidak dapat
menjadi prediktor manajemen laba yang lebih baik dalam menghindari melaporkan
penuruan laba dibandingkan dengan akrual (modified Jones, forward looking model,
Rangan model) dalam laporan keuangan. Selain itu, baik ukuran akrual ataupun beban
pajak tangguhan kurang sesuai digunakan sebagai dasar yang baik dalam mendeteksi
commit to user
menggunakan beban pajak tangguhan (deferred tax expense) dan akrual untuk mendeteksi
manajemen laba. Penelitian-peneltian ini menemukan bahwa perusahaan yang termasuk
dalam kategori small profit firm memiliki rata-rata beban pajak tangguhan lebih tinggi
daripada small loss firm. Yulianti (2005) dan Philips et al. (2003) menduga perusahaan
yang tergolong small profit firm melakukan manajemen laba dengan tujuan melewati
batas pelaporan laba agar tidak melaporkan angka rugi.
Phillips et al. (2003) juga membandingkan antara beban pajak tangguhan dengan
model yang selama ini dipakai untuk memprediksi manajemen laba, yaitu model
akrual, dan menemukan bahwa beban pajak tangguhan dapat memprediksi manajemen
laba secara lebih baik dibandingkan model modified jones, dan dapat dijadikan
pelengkap untuk model total accruals dan forward looking model. Sementara untuk
tujuan menghindari kerugian, beban pajak tangguhan dianggap lebih superior
dibandingkan model akrual dalam memprediksi manajemen laba yang dilakukan
perusahaan.
Berdasarkan penelitian di atas, penelitian ini menghipotesiskan:
H1: Beban pajak tangguhan berpengaruh terhadap manajemen laba.
3. Pengaruh Jenis Industri terhadap Manajemen Laba
Yulianti (2004) menunjukkan bahwa manajemen laba untuk menghindari kerugian
terjadi pada perusahaan-perusahaan yang terdaftar di BEJ antara tahun 1999–2002. Hal
ini ditunjukkan oleh terpatahnya distribusi laba sebagai akibat terlalu sedikitnya jumlah
commit to user
manajemen laba untuk menghindari penurunan laba tidak terbukti terjadi pada
perusahaan-perusahaan yang terdaftar di BEJ antara tahun 1999–2002. Yuliati (2005)
menyebutkan bahwa jenis perusahaan juga memiliki pengaruh terhadap manajemen laba
yang dilakukan perusahaan dimana perusahaan-perusahaan yang berada dalam industri
non manufaktur memiliki probabilitas yang lebih tinggi untuk melakukan manajemen
laba dibanding dengan perusahaan manufaktur. Berdasarkan penelitian tersebut,
penelitian ini menghipotesiskan:
H2: Jenis industri berpengaruh terhadap manajemen laba.
C. Kerangka Pikir
Berdasarkan uraian yang telah dibahas sebelumnya untuk lebih jelasnya maka dapat
dilihat pada bagan kerangka pikir sebagai berikut:
Gambar 2.1. Kerangka Pikir.
Pajak Tangguhan
Manajemen Laba
commit to user
BAB III
METODE PENELITIAN
A. Desain Penelitian
Penelitian ini merupakan penelitian eksplanatory, untuk memperoleh kejelasan
fenomena yang terjadi di dunia empiris (real world) dan berusaha untuk mendapatkan
jawaban (verificative), yang bertujuan untuk menjelaskan hubungan kausalitas antara
variabel-variabel melalui analisis data dalam rangka pengujian hipotesis.
B. Populasi dan Sampel Penelitian
1. Populasi
Populasi merupakan kelompok orang, kejadian atau peristiwa yang menjadi
perhatian para peneliti untuk diteliti (Sekaran, 2003). Populasi yang digunakan sebagai
sampel frame penelitian ini adalah perusahaan LQ 45 terdaftar di BEI dan
mempublikasikan laporan keuangan auditan per 31 Desember secara konsisten dan
lengkap dari tahun 2006–2010. Alasan peneliti mengambil perusahaan yang masuk dalam
kategori LQ 45 karena terkait dengan pengawasan perusahaan LQ 45 selalu menjadi
sorotan umum sehingga perusahaan yang terdaftar dalam LQ 45 selalu berusaha untuk
menjaga kredibilitasnya. Oleh karena itu perusahaan cenderung melakukan manajemen
laba untuk menaikkan atau memaksimalkan laba perusahaan.
2. Sampel Penelitian
Sampel adalah bagian atau anggota dari populasi (Sekaran, 2003). Sampel
commit to user
2006-2010 yang menyediakan data yang dibutuhkan dalam penghitungan, pengukuran
dan penilaian variabel. Cara pengambilan sampel (sample design) pada penelitian ini
menggunakan metode non-probability sampling. Sebab, pengambilan sampel dengan
probability akan membuat sampel memiliki outliers terlalu banyak. Sampling akan
dilakukan secara purposive sampling; yaitu teknik penentuan sample dengan
pertimbangan tertentu (Sugiyono, 2007) dengan tujuan untuk mendapatkan sampel yang
sesuai dengan kriteria yang ditentukan. Kriteria yang ditentukan peneliti dalam
mengambil sampel adalah:
a. perusahaan yang go public atau terdaftar di Bursa Efek Indonesia periode 2006-2010,
b. perusahaan mempublikasikan laporan keuangan tahunan untuk periode 31 Desember
2006-2010 yang dinyatakan dalam rupiah (Rp),
c. perusahaan yang memiliki kelengkapan laporan keuangan, yang dibutuhkan peneliti.
C. Data dan Metode Pengumpulan Data
Penelitian ini menggunakan data sekunder, yaitu informasi yang diperoleh dari pihak
lain (Sekaran, 2000). Alasan menggunakan data sekunder dengan pertimbangan bahwa
data ini mudah untuk diperoleh dan memiliki waktu yang lebih luas. Adapun
pengumpulan data terdiri dari berikut ini:
a. data perusahaan yang listing di Bursa Efek Indonesia (BEI) selama periode
penelitian,
b. website dan alamat website perusahaan yang terdaftar di BEI,
commit to user
D. Variabel dan Definisi Variabel Operasional
1. Variabel Dependen
Dalam mengukur manajemen laba pada penelitian ini, model yang digunakan
adalah total accruals (Healy). Pengujian Healy untuk manajemen laba dengan cara
membandingkan rata-rata total akrual dibagi total aktiva periode sebelumnya. Healy
(1985) menganggap non discretionary accrual (NDA) tidak dapat diobservasi. Model
untuk non discretionary accrual adalah sebagai berikut:
NDA= 0 sehingga TA= NDA
Dalam menghitung total accruals menggunakan metode Healy (1985) adalah:
TAccit= EBEIit – (CFOit – EIDOit)
Keterangan:
TAccit = Total Akrual perusahaan i padatahun t
EBEIit = Income Before Extraordinary item perusahaan i pada tahun t
CFOit = Cash flow from operation perusahaan i pada tahun t
EIDOit= Extraordinary items and discountinued operations dari statement of cash
flows perusahaan i pada tahun t.
Sedangkan untuk mengukur Non Dicretopnary Accrual adalah sebagai berikut:
Σ TAt NDAτ = ──── T
Keterangan:
NDAτ = Estimasi Non Discretionary Accruals
commit to user T = 1,2...T jumlah tahun periode pengamatan
t = jumlah tahun yang mengindikasikan periode peristiwa
τ = tahun subscript yang menunjukkan suatu tahun dalam periode berjalan.
2. Variabel Independen
a. Beban pajak tangguhan
Beban pajak tangguhan ini mencerminkan besarnya beda waktu yang telah
dikalikan dengan suatu tarif pajak marginal. Beda waktu timbul karena adanya kebijakan
akrual tertentu yang diterapkan sehingga terdapat suatu perbedaan waktu pengakuan
penghasilan atau biaya antara akuntansi dengan pajak. Mengingat bahwa kebijakan
akrual tersebut merupakan cara manajer melakukan manajemen laba dan beban pajak
tangguhan ini merefleksikan kebijakan akrual tersebut dengan besaran beda waktu
yang dihasilkan, maka beban pajak tangguhan ini dijadikan suatu ukuran dalam
mendeteksi manajemen laba pada penelitian ini. Beban pajak tangguhan yang dijadikan
variabel dalam penelitian ini diperoleh dari beban pajak tangguhan (deffered tax
asset) pada periode laporan keuangan dibagi dengan total aktiva pada periode tahun
sebelumnya.
E. Metode Analisis Data
1. Statistik Deskriptif
Statistik deskriptif merupakan ilmu yang mempelajari bagaimana cara menyajikan,
menyusun, maupun mengukur nilai-nilai data yang tersedia atau terkumpul dari suatu
commit to user
sehingga mudah dimengerti. Statistik deskriptif ini merupakan suatu landasan analisis
statistik yang cukup penting dalam mempelajari statistik induktif berikutnya (Saleh,
2004).
Berdasarkan penjelasan diatas, statistik deskriptif ini akan digunakan untuk meneliti
variabel-variabel yang ada, dengan tujuan mengetahui rata-rata, median, standar deviasi,
nilai minimum, dan nilai maksimum dari variabel-variabel yang diteliti.
2. Uji Penyimpangan Asumsi Klasik
Hipotesis dalam penelitian ini menggunakan regresi linier berganda, maka terlebih
dahulu dilakukan pengujian asumsi klasik. Model regresi yang baik adalah model yang
lolos dari semua uji asumsi klasik. Uji asumsi klasik meliputi:
a. Uji Normalitas
Menurut Ghozali (2005), uji normalitas data dilakukan dengan tujuan untuk
mengetahui apakah sampel yang diambil telah memenuhi kriteria sebaran dan distribusi
normal. Untuk menguji normalitas data, peneliti menggunakan uji Kormogolov-Smirnov.
Dengan uji ini, diketahui apakah sampel terdistribusi secara normal. Kriteria pengujian
dengan dua arah
(two-tailed test) yaitu dengan membandingkan probabilitas dengan tingkat signifikansi
5%. Jika ρ > 0,05 maka data terdistribusi secara normal, dan jika ρ < 0,05 maka data tidak
terdistribusi secara normal.
b. Uji Multikolinearitas
Uji multikolinearitas digunakan untuk mengetahui adanya keterkaitan hubungan
commit to user
mempengaruhi hasil penelitian sehingga penelitian menjadi tidak berfungsi. Metode
pengujian yang digunakan untuk mendeteksi ada tidaknya multikoliniearitas di dalam
regresi adalah dengan melihat nilai tolerance dan lawannya variance inflation factor
(VIF). Semakin besar nilai VIF maka semakin tinggi kolinearitas antar variabel
independen.
c. Uji Autokorelasi
Pengujian autokorelasi bertujuan menguji apakah dalam model regresi linier ada
korelasi antara kesalahan pengganggu pada periode t dengan kesalahan pengganggu pada
periode t-1 (sebelumnya). Model regresi yang baik adalah regresi yang bebas dari
autokorelasi. Pengujian untuk mendeteksi adanya autokorelasi dalam penelitian ini yaitu
dengan menggunakan run test, adapun pengujiannya dapat dilihat pada hasil residual
terjadi secara random atau tidak, dengan keputusan uji dapat dilihat pada value. Jika
p-value > 0,05 maka tidak adanya autokorelasi (random) dan sebalikya jika p-p-value < 0.05
maka terjadi adanya autokorelasi (tidak random). (Ghozali, 2009).
d. Uji Heteroskedastisitas
Heteroskedastisitas merupakan penyebaran titik data populasi yang berbeda pada
regresi. Pengujian heteroskedastisitas bertujuan untuk menguji apakah dalam model
regresi terjadi ketidaksamaan variance dari residual satu pengamatan ke pangamatan yang
lain. Jika variance dari residual satu ke pengamatan yang lain tetap, maka disebut
homoskedastisitas. Sedangkan jika berbeda, disebut heteroskedastisitas. Model regresi
yang baik adalah yang homoskedastisitas. Untuk mendeteksi heteroskedastisitas dalam
penelitian ini, digunakan pengujian yaitu dengan melihat grafik Scatterplot antara nilai
commit to user
yang terdapat dalam grafik Scatterplot tersebar secara acak dan tidak membentuk pola
tertentu, maka dapat disimpulkan bahwa dalam model regresi tersebut tidak terdapat
heteroskedastisitas.
3. Pengujian Hipotesis
Dalam melakukan pengujian hipotesis penelitian ini, uji statistik yang digunakan
adalah regresi linier.
Model yang digunakan untuk pengujian probabilitas beban pajak tangguhan dalam
mendeteksi manajemen laba adalah:
EM = a + ß DTE + Ind + e
Keterangan:
EM = Skala pengukuran variabel probabilitas perusahaan i (Equity Market Value)
yaitu manajemen laba yang dihitung berdasarkan total accrual diberi
notasi 1 jika perusahaan berada dalam range small profit firms dan 0 jika
perusahaan berada dalam range small loss firm.
DTE it = Deferred Tax Expense (Beban pajak tangguhan) perusahaan i di tahun t
dibagi Total Aset t-1.
Indi = jenis industri, 1 untuk manufaktur dan 0 untuk non-manufaktur.
commit to user a. Koefisien Determinasi (R2)
Koefisien determinasi adalah nilai yang menunjukkan seberapa besar variabel
independen dapat menjelaskan variabel dependennya. Koefisien determinasi dilihat dari
nilai Adjusted R2 pada model summary dalam output regresi.
b. ANOVA
Uji F (ANOVA) merupakan alat yang digunakan untuk menguji apakah variabel
independen berpengaruh secara bersama-sama terhadap variabel dependennya.
c. Uji-T
Uji-T merupakan pengujian yang dilakukan untuk mengetahui apakah
commit to user
BAB IV
HASIL DAN ANALISIS
A. Deskripsi Objek Penelitian
Objek yang dijadikan penelitian adalah Perusahaan yang go public atau terdaftar di
Bursa Efek Indonesia periode 2006-2010, perusahaan mem-publikasikan laporan
keuangan tahunan untuk periode 31 Desember 2006-2010 yang dinyatakan dalam rupiah
(Rp) dan perusahaan yang memiliki kelengkapan laporan keuangan, yang dibutuhkan
peneliti.
Adapun informasi mengenai variabel-variabel penelitian di ambil dari laporan
keuangan tahunan yang diterbitkan oleh perusahaan, antara lain laporan keuangan untuk
periode yang berakhir 31 Desember. Berdasarkan data yang diperoleh dari Indonesian
Capital Market Directory (ICMD), terdapat 45 perusahaan LQ 45 yang terdaftar di
BEI selama periode 2006-2010. Pemilihan sampel dilakukan dengan metode purposive
sampling, dan data yang diperoleh s eb any ak 43 p erus ahaan y an g m emen uh i
p ersy aratan adalah sebagai berikut:
Tabel 4.1 Sampel Penelitian
No. Keterangan Jumlah
1.
Perusahaan L Q 4 5 yang terdaftar di BEI selama
periode tahun 2006-2010. 45
2. Perusahaan LQ 4 5 yang datanya tidak lengkap pada laporan keuangan selama periode pengamatantahun 2006-2010.
2
Jumlah Sampel Akhir 43
commit to user
Dari keseluruhan jumlah perusahaan LQ 45 yang terdaftar di Bursa Efek
Indonesia periode 2006-2010, terdapat 43 perusahaan pada setiap tahunnya yang
memenuhi kriteria yang telah ditetapkan dalam pemilihan sampel sehingga jumlah
observasi (n) dalam penelitian adalah 43 x 5 = 215 perusahaan LQ 45 yang terdaftar
pada Bursa Efek Indonesia. Sebelum membahas terhadap pembuktian hipotesis,
secara deskriptif akan dijelaskan mengenai kondisi masing-masing variabel yang
digunakan dalam penelitian ini. Variabel-variabel yang digunakan dalam penelitian
ini antara lain total akrual perusahaan, total aktiva perusahaan, deffered tax expense,
beban pajak tangguhan, laba bersih, serta cash flow perusahaan.
B. Analisis Data
1 . Uji Statistik Deskriptif
Analisis deskriptif digunakan untuk memperoleh gambaran atau deskripsi suatu
data. Hasil akhir dari pemilihan sampel penelitian ini didapatkan 43 perusahaan yang
memiliki data lengkap yang kemudian di-pooling menjadi 215 observasi. Setelah
diketahui nilai dari discretionary accrual pada tahun 2006 dan 2010, maka dapat
diketahui, nilai minimum, nilai maksimum, rata-rata, dan standar deviasinya, setiap
tahun dari 43 perusahaan tersebut pada analisis statistik deskriptif. Tabel 4.2 berikut
commit to user
Berdasarkan hasil analisis diskriptif diketahui nilai minimum pajak tangguhan
(deferred tax expense) sebesar 0.00 pada perusahaan Elnusa, nilai maksimum 0.63 pada
perusahaan Unilever, mean 0.149 dan standar deviasi 0.16156. Dengan penyebaran
distribusinya dari -0.01556 sampai dengan 0.31056. Nilai minimum manajemen laba
(earning management) sebesar -0.35, pada perusahaan Lippo Karawaci, nilai maksimum
sebesar 0.35 pada perusahaan Barito Pacific, mean sebesar 0.0253 dan standar deviasi
sebesar 0.10920. Dengan penyebaran distribusinya dari -0.0839 sampai dengan 0.1345.
2. Uji asumsi Klasik
a. Uji Normalitas
Uji statistik sederhana dapat dilakukan dengan menilai nilai kurtosis dan skewness
dari residual (Ghozali, 2011: 163). Uji statistik lain yang dapat digunakan untuk menguji
normalitas residual adalah uji statistik non-parametrik Kolmogorov-Smirnov (K-S). Uji
K-S dilakukan dengan membuat hipotesis (Ghozali, 2011: 164):
H₀ : Data residual berdistribusi normal jika p-value > 0.05
commit to user
Hasil uji normalitas menggunakan uji K-S dapat dilihat pada tabel berikut:
Tabel 4.3 Uji Normalitas
Sumber data: Output SPSS
Dari tabel 4.3 dapat dilihat bahwa nilai p-value dari Z K-S lebih besar dari 0.05
sehingga dapat disimpulkan bahwa data berdistribusi normal.
b. Uji Multikoliniearitas
Metode pengujian yang digunakan untuk mendeteksi ada tidaknya multikoliniearitas
di dalam regresi adalah dengan melihat nilai tolerance dan lawannya variance inflation
factor (VIF). Tolerance mengukur variabilitas variabel independen yang terpilih yang
tidak dijelaskan oleh variabel independen lainnya (Ghozali, 2006).. Adapun hasil uji
multikolinearitas dapat dilihat pada tabel berikut:
Tabel 4.4 Uji Multikolinearitas
Sumber data: Output SPSS
Tabel 4.4. menunjukkan bahwa nilai Tolerance > 0,10 dan VIF < 10, hal ini
menunjukkan bahwa pada model regresi tidak terdapat multikolinearitas. Variabel Z K-S p-value Kesimpulan
Unstandart Residual 1.321 0,610 Berdistribusi Normal
Tolerance Variabel VIF Keterangan
DTEit 0.996 1.004 Tidak terjadi Multikolinearitas
commit to user c. Uji Autokorelasi
Pada penelitian ini uji autokorelasi dengan menggunakan run test, adapun
pengujiannya dapat dilihat pada hasil residual terjadi secara random atau tidak, dengan
keputusan uji dapat dilihat pada p-value. Jika p-value > 0,05 maka tidak adanya
autokorelasi (random) dan sebalikya jika p-value < 0.05 maka terjadi adanya autokorelasi
(tidak random). (Ghozali, 2009).
Tabel 4.5 Uji Autokorelasi
Zhitung p-value Keterangan
-0.068 0.946 tidak terjadi autokorelasi
Sumber: Output SPSS
Tabel 4.5. menunjukkan bahwa nilai p-value > 0.05 yang berarti tidak terdapat
autkorelasi pada model regresi yang digunakan dalam penelitian.
d. Uji Heteroskedastisitas
Uji Heteroskedastisitas bertujuan menguji apakah dalam model regresi terjadi
ketidaksamaan varian dari residual satu pengamatan ke pengamatan yang lain. Jika
variance dari residual satu pengamatan ke pangamatan yang tetap, maka disebut
Homoskedasitisitas dan jika berbeda disebut Heteroskedastisitas.
Salah satu uji statistik yang dipergunakan dalam regresi adalah Uji Glejser. Untuk
melakukan Uji Glejser harus mendapatkan nilai residual unstandardized dari persamaan
regresi awal dulu. Jika variabel bebas signifikan mempengaruhi variabel terikat berarti
commit to user
heteroskedastisitas dalam model regresi yang digunakan. Hasil uji heteroskedastisitas
pada tabel berikut:
Tabel 4.6
Uji Heteroskedastisitas
Variabel t hitung P-value Keterangan
__________________________________________________________ DTEit -0.597 0.551 Tidak terjadi heteroskedastistas
Indt 0.526 0.600 Tidak terjadi heteroskedastistas
Sumber data: Output SPSS
Dari tabel 4.6 dapat dilihat bahwa p-value > 0.05 yang berarti variabel DTEit dan
Indt tidak signifikan, sehingga dapat disimpulkan bahwa dalam model regresi yang
digunakan tidak terjadi heteroskedastisitas.
2. Pengujian Hipotesis
Alat analisa yang digunakan dalam penelitian ini adalah model regresi linier
sederhana untuk mengetahui pengaruh variabel independen terhadap variabel dependen.
Model persamaan regresi dari output SPSS sebagai berikut:
commit to user a). Koefisien Determinasi
Koefisien determinasi (R²) pada intinya mengukur seberapa jauh kemampuan
model dalam menerangkan variasi variabel dependen. Nilai koefisien determinasi adalah
antara nol dan satu. Nilai R² yang kecil berarti kemampuan variabel-variabel independen
dalam menjelaskan variasi variabel dependen amat terbatas. Nilai yang mendekati satu
berarti variabel-variabel independen memberikan hampir semua informasi yang
dibutuhkan untuk memprediksi variasi variabel dependen (Ghozali, 2011: 97).
Kelemahan mendasar penggunaan koefisien determinasi adalah bias terhadap
jumlah variabel independen yang dimasukkan ke dalam model. Setiap tambahan satu
variabel independen, maka R² pasti meningkat tidak peduli apakah variabel tersebut
berpengaruh secara signifikan terhadap variabel dependen. Oleh karena itu banyak
peneliti menganjurkan untuk menggunakan nilai Adjusted R² pada saat mengevaluasi
mana model regresi terbaik. Tidak seperti R², nilai Adjusted R² dapat naik atau turun
apabila satu variabel independen ditambahkan ke dalam model (Ghozali, 2011: 97).
Dari hasil pengujian tersebut dapat diambil kesimpulan bahwa Adjusted R² sebesar
0,430 hal ini menunjukkan bahwa sebesar 43,00 % variasi dari Earning Managemen dapat
diterangkan oleh variabel Pajak Tangguhan dan jenis industri sedangkan sisanya sebesar
57,00% diterangkan oleh variabel lain yang tidak d imasukkan dalam persamaan regresi.
b) Uji Signifikansi Simultan (Uji Statistik F)
Uji statistik F pada dasarnya menunjukkan apakah semua variabel independen atau
commit to user
terhadap variabel dependen/terikat (Ghozali, 2011: 98). Dasar dalam pengambilan
keputusannya adalah:
1) bila F-hitung < F-tabel, maka model regresi tidak cocok (hipotesis ditolak),
2) bila F-hitung > F-tabel, maka model regresi cocok (hipotesis diterima).
Hasil F-hitung sebesar 81,777 dengan p-value = 0.000, hal ini menunjukkan bahwa
secara bersama-sama variabel beban pajak tangguhan (DTEit) dan Jenis Industri (Indt)
berpengaruh terhadap Earning Managemen.
c) Uji Signifikansi Parameter Individual (Uji Statistik t)
Uji statistik t pada dasarnya menunjukkan seberapa jauh pengaruh satu variabel
penjelas/independen secara individual dalam menerangkan variasi variabel dependen
(Ghozali, 2011: 98). Dasar pengambilan keputusannya adalah:
- bila t-hitung < t-tabel, maka variabel independen secara individual tidak berpengaruh
terhadap variabel dependen atau dalam hal ini hipotesis ditolak.
Tabel 4.7 menunjukan bahwa variabel DTE mempunyai koefisien regresi positif
sebesar 0 ,104 dengan p-value 0,000 lebih kecil dari 0,05, dengan demikian beban
pajak tangguhan bepengaruh signifikan terhadap earning manajemen. Sedangkan variabel
Indt mempunyai koefisien sebesar 0.001 dengan p-value sebesar 0.929 > 0.05, dengan
demikian jenis perusahaan tidak berbeda secara signifikan terhadap earning manajemen.
C. Interpretasi Hasil
Dalam pengujian terhadap penerimaan atau penolakan hipotesis satu , akan
disimpulkan berdasarkan hasil uji t menunjukkan bahwa variabel independen beban