• Tidak ada hasil yang ditemukan

PENGARUH KECERDASAN INTELEKTUAL KECERDASan spiritual

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "PENGARUH KECERDASAN INTELEKTUAL KECERDASan spiritual"

Copied!
21
0
0

Teks penuh

(1)

PENGARUH KECERDASAN INTELEKTUAL, KECERDASAN EMOSIONAL DAN KECERDASAN SPIRITUAL TERHADAP KINERJA

STAFF DEPARTEMEN QUALITY ASSURANCE PT. PEB BATAM

Sri Langgeng Ratnasari

Fakultas Ekonomi Universitas Batam Jl. Abulyatama No. 5 Batam 29400

E-mail: [email protected]

ABSTRACT

This research aims to determine the effect of intellectual intelligence, emotional intelligence and spiritual intelligence on the performance of staff at Quality Assurance Department PT. PEB Batam.

The samples in this research used census method, where all the population being sampled. The population in this research is all staff who work in Quality Assurance Department PT. PEB Batam. Questionnaires were distributed is 53 respondent. The calibration of hypothesis in this research is using multiple linear regression with SPSS version 23.0. based proceeds data from 53 respondents was discovered that the three independent variables (intellectual intelligence,

emotional intelligence and spiritual intelligence) either partially or

simultaneously have a significant influence on employee performance.

The results of Regression indicate that the coefficient of determination by

observed variables is R 2 = 0.768. The means is intellectual intelligence,

emotional intelligence and spiritual intelligence influence the employees performance as big 76.8%, while the remaining 23.2% is influenced by other variables beyond the model of this research.

(2)

PENDAHULUAN

Departemen Quality Assurance

PT. PEB Batam memiliki visi zero deffect, high quality, and high

assurance terhadap tinta printer yang

dihasilkan PT. PEB Batam.

Untuk mewujudkan visi

tersebut diperlukan peran serta staff Departemen Quality Assurance PT. PEB Batam, karena peran sumber daya manusia sangat menentukan keberhasilan sebuah organisasi. Oleh karena itu, perusahaan harus mengetahui dan memahami faktor-faktor yang mempengaruhi kinerja karyawannya, dalam hal ini adalah staff Departemen Quality Assurance

PT. PEB Batam.

Pemahaman mendalam

mengenai faktor-faktor yang mempengaruhi kinerja karyawan

akan memungkinkan sebuah

manajemen mampu menerapkan kebijakan dan tindakan strategis, sehingga visi-misi perusahaan tercapai dengan cara yang lebih efektif dan efisien.

Berdasarkan catatan pada

Human Resources Department turn

over staff Departemen Quality

Assurance PT. PEB Batam mencapai

30% pertahun, artinya 3 dari 10 orang berhenti bekerja setiap tahunnya. Hal tersebut merupakan masalah serius, mengingat investasi biaya pendidikan untuk pelatihan staff cukup mahal. Fakta yang lain menggambarkan krisis moral yang semakin merosot, dengan adanya berbagai praktik penyimpangan di kalangan staff.

Berdasarkan penelitian

pendahuluan terdapat keluhan dari para staff yang secara umum

menggambarkan; staff terperangkap dalam rutinitas, kurangnya penghargaan dari atasan, penghasilan terbatas, beban pekerjaan tinggi, dan kurang bersemangat yang pada akhirnya menyebabkan disorientasi pekerjaan. Berdasarkan hal tersebut maka terdapat kesenjangan antara kondisi yang ada dengan yang diharapkan.

Ada beberapa peneliti

menyebutkan bahwa budaya

organisasi dan komitmen merupakan faktor yang dapat mempengaruhi kinerja karyawan, ada pula penelitian yang menunjukan bahwa keadilan dalam penggajian dan perilaku individu tidak berpengaruh terhadap kinerja seseorang. Berbagai metode yang ditujukan untuk peningkatan kinerja karyawan tidak akan efektif tanpa mendalami faktor-faktor psikologis secara internal, hal ini menjadikan tugas seorang manajer sumber daya manusia semakin komplek dan rumit. Kemampuan kerja yang sempurna tidak menjadi jaminan atas kualitas kinerja, tetapi

diperlukan juga kemampuan

menguasai dan mengelola diri sendiri serta kemampuan dalam membina hubungan dengan orang lain.

Perusahaan tidak hanya membutuhkan orang yang pandai saja, tetapi juga memiliki kecerdasan emosional dan kecerdasan spiritual yang baik. Terdapat beberapa faktor psikologis yang mendasari hubungan

antara seseorang dengan

(3)

serta melakukan pemikiran yang tenang tanpa terbawa emosi, karena

kecerdasan emosi berperan

memantau dan mengendalikan perasaan sendiri dan orang lain serta menggunakan perasaan-perasaan tersebut untuk memandu pikiran dan tindakan, sedangkan kecerdasan spiritual memungkinkan seseorang untuk melakukan tindakan-tindakan mulia; kejujuran, mengutamakan kepentingan kelompok, loyalitas dan integritas. Dengan demikian maka kecerdasan intelektual, kecerdasan emosional dan kecerdasan spiritual sangat diperlukan untuk mencapai prestasi kinerja dalam tingkatan di atas rata-rata.

Berdasarkan latar belakang masalah tersebut di atas maka peneliti tertarik melakukan penelitian dengan judul ”Pengaruh Kecerdasan Intelektual, Kecerdasan Emosional Dan Kecerdasan Spiritual Terhadap Kinerja Staff Departemen Quality

Assurance PT. PEB Batam”.

TINJAUAN PUSTAKA Kecerdasan Intelektual

Kecerdasan atau Intelligence

ini pada awalnya menjadi perhatian utama bagi kalangan psikologi pendidikan. Wechler dalam Dartisah (2013: 13) mendifinisikan intelegensi sebagai totalitas kemampuan seseorang untuk bertindak dengan tujuan tertentu, berfikir secara rasional, serta menghadapi lingkungan dengan efektif.

Semiawan, 2001 dalam

Suharsono (2007: 81)

mengikhtisarkan berbagai pengertian dan definisi tentang kecerdasan dari

para ahli kedalam tiga kriteria, yakni

judgement (penilaian),

comprehension (pengertian) dan

reasoning (penalaran).

Gardner (2013: 38)

mengemukakan bahwa ada banyak tipe inteligensi spesifik atau kerangka pikiran. Kerangka ini dideskripsikan bersama dengan

contoh perkejaan yang

meerefleksikan kekuatan masing- masing kerangka, antara lain:

1. Kecerdasan musik; sensitif terhadap nada, melodi,

irama, dan suara

(komposer, musisi,

pendengar yang sensitif). 2. Kecerdasan gerakan badan;

kemampuan untuk

memanipulsi objek dan cerdas dalam hal-hal fisik (ahli bedah, pengrajin, penari, atlet).

3. Kecerdasan logika

matematika; kemampuan

untuk menyelesaikan

operasi matematika

(ilmuwan, insinyur,

akuntan).

4. Kecerdasan linguistik; kemampuan untuk berpikir

denga kata dan

menggunakan bahasa untuk mengekspresikan makna

(penulis, wartawan,

pemibcara).

5. Kecerdasan ruang;

kemampuan untuk berfikir tiga dimensi (arsitek, pelukis, pelaut).

6. Kecerdasan antar pribadi;

kemampuan untuk

(4)

secara efektif dengan orang lain (guru teladan, professional kesehaan mental).

7. Kecerdasan intra pribadi;

kemampuan untuk

memahami diri sendiri dan menata kehidupann dirinya secara efektif (teolog, psikolog).

Pendapat-pendapat di atas membuktikan bahwa intelegensi pada karyawan hanya dapat diketahui dari tingkah laku atau

perbuatannya yang tampak.

Intelegensi hanya dapat kita ketahui dengan cara tidak langsung, melalui tindakan kognitif.

Tujuh dimensi indikator menurut Robbins (2006: 58) dalam kecerdasan intelektual adalah:

1. Kecerdasan angka;

merupakan kemampuan

untuk menghitung dengan cepat dan tepat.

2. Pemahaman verbal;

merupakan kemampuan

memahami apa yang dibaca dan didengar.

3. Kecepatan persepsi;

merupakan kemampuan

mengenali kemiripan dan beda visual dengan cepat dan tepat.

4. Penalaran induktif;

merupakan kemampuan

mengenali suatu urutan logis dalam suatu masalah dan kemudian memecahkan masalah itu.

5. Penalaran deduktif;

merupakan kemampuan

menggunakan logika dan

menilai implikasi dari suatu argument.

6. Visualilsasi spasial;

merupakan kemampuan

membayangkan bagaimana suatu obyek akan tampak seandainya posisinya dalam ruang dirubah.

7. Daya ingat; merupakan kemampuan menahan dan

mengenang kembali

pengalaman masa lalu.

Kecerdasan Emosional

Menurut Goleman (2015: 13) kecerdasan emosi merupakan kemampuan pengendalian diri, semangat dan ketekunan, serta kemampuan untuk memotivasi diri sendiri. Kecerdasan emosional bertumpu pada perasaan, watak dan naluri moral. Ada semakin banyak bukti bahwa sikap etik dasar dalam kehidupan berasal dari kemampuan emosional yang melandasinya. Orang-orang yang dikuasai dorongan hati yang kurang memiliki kendali diri akan menderita kekurang mampuan pengendalian moral.

Indikator yang mempengaruhi kecerdasan emosi dapat diukur dari beberapa aspek, Goleman (2015: 16) mengemukakan lima kecakapan dasar dalam kecerdasan emosi, yaitu: a. Kesadaran diri

Merupakan kemampuan sesorang untuk mengetahui perasaan dalam dirinya dan efeknya serta

menggunakannya untuk

(5)

dengan sumber penyebabnya. b. Pengendalian diri

Yaitu merupakan kemampuan menangani emosinya sendiri,

mengekspresikan serta

mengendalikan emosi, memiliki kepekaan terhadap kata hati, untuk digunakan dalam hubungan dan tindakan sehari-hari.

c. Motivasi

Motivasi adalah kemampuan menggunakan hasrat untuk setiap saat membangkitkan semangat dan tenaga untuk mencapai keadaan yang lebih baik serta mampu mengambil inisiatif dan bertindak secara efektif, mampu bertahan menghadapi kegagalan dan frustasi.

d. Empati

Empati merupakan kemampuan merasakan apa yang dirasakan oleh orang lain, mampu memahami perspektif orang lain, dan menimbulkan hubungan saling percaya serta mampu menyelaraskan diri dengan berbagai tipe individu

e. Keterampilan Sosial

Merupakan kemampuan

menangani emosi dengan baik ketika berhubungan dengan orang lain dan menciptakan serta

mempertahankan hubungan

dengan orang lain, bisa

mempengaruhi, memimpin,

bermusyawarah, menyelesaikan perselisihan dan bekerja sama dalam tim.

Kecerdasan Spiritual

Spiritual capital merupakan

inner value manusia yang terletak

pada Godspot berfungsi memberikan

bisikan- bisikan suara hati yang senantiasa mendorong kea rah mulia. Lebih jauh lagi, apabila manusia mengikuti dorongan suara hat spiritual tersebut, maka pada saat itulah manusia mengalami apa yang disebut Ultimate meaning atau makna puncak (nilai spiritual) bahkan pengalaman spiritual, satu menit saja tersentuh maka akan mampu mengubah hidup seseorang selama sepuluh tahun. Hal ini secara ilmiah pernah dibuktikan oleh

Ramachandran dan Michael

Persinger tentang fungsi Got Spot

pada otak manusia, yang menjadi landasan ilmiah kecerdasan ketiga (SQ) ini (Agustian, 2006: 18)

Agustian, (2006: 248)

mengemukakan tentang nilai-nlai dari kecerdasan spritual berdasarkan

komponen-komponen dalam

kecerdasan spiritual, diantaranya adalah;

a. Kejujuran

Kata kunci pertama untuk sukses di dunia bisnis selain berkata benar dan konsisten akan kebenaran adalah mutlak bersikap jujur. Ini merupakan hukum spiritual.

b. Keadilan

Mampu bersikap adil kepada semua pihak, bahkan saat terdesak sekalipun, pada saat seseorang berlaku tidak adil pasti telah mengganggu keseimbangan dunia.

c. Mengenal diri sendiri

(6)

dan dipelajari sebelum seseorang benar-benar sukses

membantu orang-orang

disekitar mereka. d. Fokus pada kontribusi

Terdapat hukum yang lebih

mengutamakan memberi

daripada menerima. Hal ini penting berhadapan dengan kecenderungan manusia untuk menuntut hak ketimbang memenuhi kewajiban. Untuk itulah orang harus pandai membangun kesadaran diri untuk lebih terfokus pada kontribusi.

e. Spiritual non dogmatis

Komponen ini merupakan nilai dari kecerdasan spiritual dimana didalamnya terdapat kemampuan untuk bersikap fleksibel, memiliki tingkat kesadaran yang tinggi, serta

kemampuan untuk

menghadapi dan

memanfaatkan penderitaan, kualitas hidup yang diilhami oleh visi dan nilai.

d. Keterbukaan

Keterbukaan merupakan

sebuah hukum alam, maka logikanya apabila sesorang bersikap fair atau terbuka maka ia telah berpartisipasi di jalan menuju dunia yang baik.

Kinerja Staff

Penilaian kinerja staff adalah upaya mengadakan pengukuran atas kinerja dari setiap staff perusahaan, hal ini dikaitkan dengan tingkat produktivitas dan efektifitas kerja dari staff tersebut dalam

menghasilkan karya tertentu sesuai dengan deskripsi tugas yang diberikan perusahaan yang secara umum akan digunakan sebagai bahan pertimbangan upaya peningkatan produktifitas dan efektifitas, (Budihardjo, 2015: 13).

Budihardjo (2015: 78)

menjelaskan bahwa secara garis besar kinerja seseorang dapat dinilai berdasarkan kriteria-kriteria berikut; a. Kejujuran

Kejujuran merupakan sikap dan kualitas karakter untuk memprioritaskan nilai-nilai kebenaran diatas segala kepentingan didalam lingkungan pekerjaan.

b. Loyalitas

Loyalitas merupakan sikap kesetiaan dan rasa ikhlas dalam menerima perintah dan dalam

membantu menyelesaikan

pekerjan kapanpun waktunya. c. Kedisiplinan

Sikap konsisten yang didasarkan pada kenyataan bahwa karyawan selalu tepat waktu dalam

berbagai kegiatan yang

dilakukannya. d. Kecekatan

Merupakan budaya kerja yang ditandai dengan efisiensi tinggi,

sehingga target waktu

penyelesaian pekerjaan lebih cepat dari waktu normalnya. e. Respnsif dan kepedulian

Merupakan dorongan untuk

bertindak dan segera

(7)

f. Ketepatan waktu

Merupakan kesesuaian dari target penyelesaian yang telah direncanakan.

g. Ketelitian

Merupakan suatu sikap inisiatif untuk mempertahankan kualitas pekerjaan dengan tingkat akurasi tinggi, sehingga kesalahan dapat diminimalisir.

Hipotesis

Ada empat hipotesis yang diajukan dalam penelitian ini, yaitu:

1. Kecerdasan intelektual berpengaruh terhadap kinerja staff Departemen Quality

Assurance PT. PEB Batam.

2. Kecerdasan emosional

berpengaruh terhadap kinerja staff Departemen Quality

Assurance PT. PEB Batam.

3. Kecerdasan spiritual

berpengaruh terhadap kinerja

staff Departemen Quality

Assurance PT. PEB Batam.

4. Kecerdasan intelektual, kecerdasan emosional dan

kecerdasan spiritual

berpengaruh terhadap kinerja staff Departemen Quality

Assurance PT. PEB Batam.

METODE PENELITIAN Jenis dan Sumber Data

Dalam penelitian ini

menggunakan jenis data kuantitatif yang bersumber dari data primer yaitu dari penyebaran angket yang berisi kuesioner kepada karyawan yang dijadikan sampel penelitian. Data yang didapat berupa data ordinal dan jenisnya adalah data cross section yaitu data yang diambil pada waktu itu saja. Sedangkan data

sekundernya adalah profil

perusahaan, jumlah staff, data diri

karyawan (usia, jenis kelamin, dan pendidikan akhir), serta lama

masa kerja.

Populasi dan Sampel

Objek dalam penelitian adalah staff yang bekerja di Departemen Quality

Assurance PT. PEB Batam. terdiri dari populasi sebanyak 53 (lima puluh tiga)

responden. populasi dalam penelitian ini tidak terlalu besar, oleh karena itu menggunakan metode sensus dimana semua populasi dijadikan sampel.

Metode Pengumpulan Data

Pengumpulan data dilakukan dengan metode Angket yang berisi daftar pertanyaan tertutup (jawaban telah tersedia) yang diajukan langsung kepada responden.

Tabel 1

Operasionalisasi Variabel Metode Analisis Data

Uji Instrumen

(8)

Kecerdasan Intelektual (X1)

Robbins, 2006

kemampuan yang

diperlukan untuk menjalankan kegiatan mental, berpikir, menalar dan memecahkan masalah.

1. Kecerdasan angka 2. PemahamanVerbal 3. Kecepatan

persepsi

4. Penalaran induktif 5. Penalaran deduktif 6. Visualilsasi

spasial 7. Daya ingat

Likert

Kecerdasan Emosional (X2)

Goleman, 2015

Kemampuan untuk mengenali perasaan,

meraih dan

membangkitkan perasaan untuk membantu pikiran, memahami perasaan dan maknanya, secara mendalam.

1. Pengenalan diri 2. Pengendalian diri 3. Motivasi

4. Empati 5. Keterampilan

Sosial

Likert

Kecerdasan Spiritual (X3)

Agustian, 2006

Kemampuan untuk memberi makna ibadah terhadap setiap prilaku dan perbuatan melalui

langkah-langkah dan pemikiran.

1. Kejujuran 2. Keadilan

3. Mengenal diri sendiri

4. Fokus pada

Kontribusi

5. Spiritual non Dogmatis

6. Keterbukaan

(9)

Kuesioner yang telah disusun hendaknya dilanjutkan dengan melakukan uji kuesioner. Uji kuesioner secara kuantitatif dapat dilakukan melalui uji validitas dan Reliabilitas.

Uji Validitas

Validitas didefinisikan sebagai ukuran seberapa cermat suatu alat tes melakukan fungsi ukurnya, suatu alat ukur dikatakan valid apabila alat tersebut mengukur apa yang sebenarnya hendak diukur. Validitas berarti taraf keabsahan dalam

mengukur target yang diukur dengan menggunakan data berupa skor hasil uji coba instrumen yang telah disiapkan, pengetesan instrumen dilakukan kepada sejumlah individu yang setara dengan subjek penelitian. Sedangkan uji validitas logis dilakukan dengan cara mencermati isi (content), konstruksi, dan tampilan (face). Setelah kriteria instrumen yang berkualitas diketahui dan memenuhi barulah dapat digunakan untuk

menjaring data penelitian

(Suwartono, 2014: 69).

Validitas dalam penelitian ini dicari dengan criteria internal yaitu mengkorelasikan skor masing-masing dengan skor totalnya. Cara yang digunakan untuk menghitung korelasi skor masing-masing item dengan skor totalnya adalah dengan program SPSS memakai teknik korelasi product moment.

Uji Reliabilitas

Reliabilitas adalah ukuran yang menujukkan bahwa alat ukur yang digunakan dalam penelitian keperilakukan mempunyai keandalan sebagai alat ukur, diantaranya di ukur melalui konsistensi hasil pengukuran dari waktu ke waktu jika fenomena yang diukur tidak berubah (Harrison, dalam Zulganef, 2006: 81). Penelitian memerlukan data yang benar-benar valid dan reliabel. Dalam rangka urgensi ini, maka kuesioner sebelum digunakan sebagai data penelitian primer, terlebih dahulu diujicobakan ke sampel uji coba penelitian. Uji coba ini dilakukan untuk memperoleh bukti sejauh mana ketepatan dan kecermatan alat ukur dalam melakukan fungsi ukurnya, Jika koefisien alpha cronbach > 0,60 maka konstruk variabel dikatakan reliabel (Ghozali, 2005: 68). Kinerja

Staff (Y) Budihardjo, 2015

Tingkat produktivitas dan efektifitas kerja dari staff tersebut dalam menghasilkan karya tertentu sesuai dengan deskripsi tugas yang diberikan perusahaan.

1. Kejujuran 2. Loyalitas 3. Kedisiplinan 4. Kecekatan 5. Kepedulian 6. Ketepatan waktu 7. Ketelitian

(10)

Pengujian reliabilitas dilakukan dengan menggunakan program SPSS versi 16.

Teknik Analisis Data

1. Teknik Analisis Kualitatif

Analisis kualitatif adalah analisis yang tidak menggunakan model matematika, model statistik dan ekonometrik atau model-model tertentu lainnya. Analisa data yang dilakukan terbatas pada teknik pengolahan datanya, seperti pada pengecekan data dan tabulasi, dalam hal ini sekedar membaca tabel-tabel, grafik-grafik atau angka-angka yang tersedia, kemudian melakukan uraian dan penafsiran.

2. Teknik Analisis Kuantitatif Analisis kuantitatif adalah analisis yang menggunakan alat analisis kuantitatif. Alat analisis yang bersifat kuantitatif adalah alat analisis yang menggunakan model-model, seperti model matematika atau model statistik dan ekonometrik. Hasil analisis dalam bentuk angka-angka yang kemudian dijelaskan dan diinterpretasikan dalam suatu uraian.

Uji Asumsi Klasik

Untuk meyakinkan bahwa

persamaan garis regresi yang diperoleh adalah linier dan dapat dipergunakan (valid) untuk mencari peramalan, maka akan dilakukan pengujian asumsi multikolinieritas, heteroskedastisitas, dan normalitas. 1. Uji Multikolinieritas

Uji multikolinieritas bertujuan untuk menguji apakah pada model regresi ditemukan adanya

korelasi antar variabel

independen. Untuk

mendeteksinya dengan cara menganalisis nilai toleransi dan

Variance Inflation Factor (VIF).

Uji multikolinieritas adalah untuk menguji apakah pada model regresi ditemukan adanya korelasi antar variabel bebas

(independen). Apabila terjadi

korelasi, maka dinamakan

terdapat problem

multikolinieritas (Ghozali, 2005). Model regresi yang baik seharusnya tidak terjadi korelasi diantara variabel bebas. Untuk mendeteksi ada atau tidaknya multikolinieritas di dalam model regresi adalah sebagai berikut: a. Nilai R yang dihasilkan oleh

suatu estimasi model regresi empiris sangat tinggi, tetapi secara individual variabel-variabel bebas banyak yang

tidak signifikan

mempengaruhi variabel terikat (Ghozali, 2005). b. Menganalisis matrik korelasi

variabel-variabel bebas. Apabila antar variabel bebas ada korelasi yang cukup tinggi (umumnya diatas 0, 90), maka hal ini merupakan

indikasi adanya

multikolinieritas (Ghozali, 2005).

c. Multikolinieritas dapat dilihat dari (1) nilai tolerance dan lawannya (2) Variance

Inflation Factor (VIF). kedua

(11)

oleh variabel bebas lainnya. 2. Uji Heteroskedastisitas

Uji heteroskedastisitas menguji apakah sebuah grup mempunyai varians yang sama di antara anggota grup tersebut. Jika varians sama, dan ini yang seharusnya terjadi maka

dikatakan adalah

homoskedastisitas. Sedangkan jika varians tidak sama dikatakan terjadi heteroskedastisitas. Alat untuk menguji heteroskedastistas bisa dibagi dua, yakni dengan alat analisis grafik atau analisis residual yang berupa statistik (Rumengan, 2011: 89).

3. Uji Normalitas

Tujuan uji Normalitas adalah ingin mengetahui apakah distribusi sebuah data mengikuti atau mendekati normal, yakni distribusi data dengan bentuk lonceng. Data yang baik adalah data yang mempunyai pola seperti distribusi normal, yakni distribusi data tersebut tidak melenceng ke kiri atau melenceng ke kanan. Uji ini berguna untuk tahap awal dalam metode pemilihan analisis data (Rumengan, 2011:83).

Analisis Regresi Linier Berganda

Setelah data-data terkumpul maka dilakukan suatu analisis data. Analisis data adalah suatu proses mengolah data dari penyebaran angket yang telah dilakukan. Dari analisis data akan didapat hasil yang nantinya dipakai untuk menguji hipotesis. Dalam penelitian ini data yang diperoleh dianalisis dengan menggunakan teknik statistik.

Teknik analisis yang dipakai dalam menguji hipotesis penelitian ini

adalah dengan menggunakan

multiple regression analysis (analisis

regresi berganda). Teknik ini dipakai untuk menganalisis pengaruh beberapa variabel independen terhadap variabel dependen.

Rumus persamaan regresi tersebut adalah sebagai berikut :

Y = α + β1 X1 + β2 X2 + β3

regresi variabel X

е : Error

disturbance

Pengujian Hipotesis Penelitian Uji Statistik t

Uji statistik t digunakan untuk mengetahui seberapa jauh masing-masing variabel kecerdasan intelektual, kecerdasan emosional dan kecerdasan spiritual dalam menerangkan variabel kinerja karyawan.

Penelitian ini dilakukan dengan melihat langsung pada hasil perhitungan koefisien regresi melalui SPSS pada bagian Unstandardized

Coefficients dengan membandingkan

Unstandardized Coefficients B

dengan Standard error of estimate

(12)

dinamakan t hitung. Sebagai dasar pengambilan keputusan dapat digunakan kriteria pengujian sebagai berikut:

1. Apabila t hitung > t tabel dan tingkat signifikansi < α (0,05), maka Ho ditolak dan Ha diterima. Hal ini berarti variabel independen secara individual berpengaruh signifikan terhadap variabel dependen.

2. Apabila t hitung < t tabel dan tingkat signifikansi > α (0, 05), maka Ho diterima dan Ha ditolak. Hal ini berarti variabel independen secara individual tidak signifikan berpengaruh terhadap variabel dependen.

Uji Statistik F

Dalam penelitian ini, uji F digunakan untuk mengetahui tingkat siginifikansi pengaruh variabel-variabel independen secara bersama-sama (simultan) terhadap variabel dependen (Ghozali, 2005). Dalam penelitian ini, hipotesis yang digunakan adalah:

Ho: Variabel-variabel bebas

yaitu kecerdasan

intelektual, kecerdasan

emosional dan

kecerdasan berpengaruh

secara signifikan

bersama-sama terhadap variabel terikatnya yaitu kinerja staff.

Ha: Variabel-variabel bebas

yaitu kecerdasan

intelektual, kecerdasan

emosional dan

kecerdasan spiritual tidak berpengaruh signifikan secara bersama-sama

terhadap variabel

terikatnya yaitu kinerja staff. Menurut Ghozali

(2005), dasar

pengambilan

keputusannya adalah dengan menggunakan angka probabilitas signifikansi, yaitu:

1. Apabila probabilitas signifikansi > 0.05, maka Ho diterima dan Ha ditolak.

2. Apabila probabilitas signifikansi < 0.05, maka Ho ditolak dan Ha diterima.

Analisis Koefisien Determinasi (R²)

Koefisien determinasi (R²) pada intinya mengukur seberapa jauh

kemampuan model dalam

menerangkan variasi variabel terikat (Ghozali, 2005). Nilai koefisien determinasi adalah antara nol dan satu. Nilai (R²) yang kecil berarti kemampuan variabel-variabel bebas (kecerdasan intelektual, kecerdasan emosional dan kecerdasan spiritual) dalam menjelaskan variasi variabel terikat (kinerjastaff) amat terbatas. Begitu pula sebaliknya, nilai yang mendekati satu berarti variabel bebas memberikan hampir semua informasi yang dibutuhkan untuk memprediksi variasi variabel terikat.

Kelemahan mendasar

(13)

tersebut berpengaruh secara signifikan terhadap variabel terikat. Oleh karena itu, banyak peneliti menganjurkan untuk menggunakan nilai adjusted (R²) pada saat mengevaluasi mana model regresi yang terbaik. Tidak seperti (R²) nilai

adjusted (R²) dapat naik atau turun

apabila satu variabel independen ditambahkan ke dalam model.

HASIL PENELITIAN DAN

PEMBAHASAN Data Penelitian

Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan terhadap 53 responden melalui penyebaran kuisioner. Untuk mendapatkan kecenderungan jawaban responden terhadap jawaban masing-masing variabel akan didasarkan pada rentang skor jawaban sebagaimana pada lampiran. Hasil jawaban dari pertayaan akan diolah dan diukur seberapa jauh kesahihannya dengan menguji validitas dan sejauh mana konsistensinya dengan menguji reabilitasnya.

Analisis Validitas

Validitas data ditampilkan berdasar output SPSS versi 23 analisis item atau butir tersebut dapat dilihat dari Corrected Item-Total

Correlation dan batas kritis item

yang valid pada tingkat signifikansi 5% dengan responden berjumlah 53 responden pada table r Product

Moment adalah 0,266. sebelum

melakukan olah data lebih lanjut peneliti terlebih dahulu melakukan uji validitas terhdap kuesioner kecerdasan intelektual (X1) sebanyak 20 butir pertanyaan namun hanya 16 yang valid, kuesioner kecerdasan

emosional (X2) sebanyak 19 pertanyaan, sebanyak 2 pertanyaan tidak valid, kuesioner kecerdasan spiritual (X3) sebanyak 19 pertanyaan, 2 butir tidak valid dan kinerja staff (Y) dari 19 kuesioner, 3 diantaranya tidak valid, untuk itu peneliti membuang item pertanyaan yang tidak valid dan hanya mengambil 16 kuesioner pada masing-masing variabel yang sudah teruji dan dinyatakan valid.

Analisis Reliabilitas

Uji reliabilitas dalam penelitian

ini menggunakan metode

internalconsistency, yaitu metode

untuk melihat sejauh mana konsistensi tanggapan responden terhadap item-item pertanyaan dalam suatu instrumen penelitian. Penelitian ini menggunakan pengukuran konsistensi tanggapan responden (internal consistency) dengan koefisien alpha Cronbach. Ambang batas koefisien alpha yang digunakan dalam penelitian ini adalah > 0,60 sebagaimana disarankan oleh Gozali (2005: 79). batas kritis untuk menunjukkan item yang valid pada tingkat signifikansi 5% dengan responden berjumlah 53 responden pada table r Product

Moment adalah 0,266

Analisis Persamaan Regresi Linear Berganda

Analisis regresi berganda digunakan untuk mengukur pengaruh antara kecerdasan intelektual (X1),

kecerdasan emosional (X2) dan

kecerdasan spiritual (X3) terhadap

(14)

SPSS 23, maka diperoleh nilai-nilai untuk regresi berganda sebagai berikut:

Tabel 2

Perhitungan Hasil Uji Nilai Regresi Berganda

Sumber: Data diolah, 2015

Koefisien yang digunakan adalah Unstandardized coefficients. Dalam penelitian ini variabel yang berpengaruh paling besar terhadap kinerja karyawan adalah kecerdasan emosi. Penelitian ini memiliki persamaan regresi yaitu pengaruh antara kecerdasan intelektual (X1),

kecerdasan emosional (X2),

kecerdasan spiritual (X3), terhadap

kinerja staff (Y). Adapun persamaan regresi berganda nya sebagai berikut: Y = 5,866 + 0.225X1 + 0,428X2+

0.248X3

Hasil analisis ketiga variabel independen menunjukkan bahwa t hitung > t tabel yang berarti variabel tersebut berpengaruh positif dan signifikan. Koefisien regresi menunjukkan tanda positif (+), hal ini berarti ada suatu kondisi yang searah yaitu peningkatan variabel x akan menyebabkan peningkatan variabel y. Persamaan regresi berganda di atas mengandung makna

sebagai berikut:

1. Koefisien regresi kecerdasan intelektual sebesar 0.225 menandakan bahwa kecerdasan

intelektual mempunyai

pengaruh positif dan signifikan

terhadap kinerja karyawan. Dari sini dapat dikatakan

bahwa semakin baik

kecerdasan intelektual yang dimiliki seorang staff akan berdampak pada peningkatan kinerja staff, dengan asumsi variabel-variabel independen lainnya konstan

2. Koefisien regresi kecerdasan emosional sebesar 0.428 berpengaruh positif dan signifikan menunjukkan bahwa kecerdasan emosional yang dimiliki seorang staff akan berdampak pada peningkatan kinerja staff. Sehingga semakin baik kecerdasan emosional seorang staff maka akan berdampak pada semakin baik kinerja yang ditunjukkan oleh staff, dengan asumsi variabel-variabel independen lainnya konstan.

3. Koefisien regresi kecerdasan spiritual sebesar 0.248

Coefficientsa

Model

Unstandardized Coefficients

Standardized Coefficients

t Sig.

Collinearity Statistics

B Std. Error Beta Tolerance VIF

1(Constant) 5.866 4.428 1.325 .191

X1 .225 .081 .275 2.760 .008 .450 2.222

X2 .428 .116 .427 3.700 .001 .334 2.991

X3 .248 .099 .273 2.492 .016 .372 2.691

(15)

menunjukkan pengaruh yang positif dan signifikan terhadap kinerja karyawan. Oleh karena itu, semakin baik kecerdasan spiritual yang dimiliki oleh staff maka akan semakin baik kinerja yang ditunjukan oleh staff, dengan asumsi variabel-variabel independen lainnya konstan.

Koefisien Determinasi (R²)

Koefisien determinasi

merupakan besaran yang

menunjukkan besarnya variasi variabel dependen yang dapat

dijelaskan oleh variable

independennya. Dengan kata lain, koefisien determinasi ini digunakan untuk mengukur seberapa jauh variabel variabel bebas dalam menerangkan variabel terikatnya. Nilai koefisien determinasi ditentukan dengan nilai adjusted R

square sebagaimana dapat dilihat

pada Tabel 3.

Tabel 3 Perhitungan Uji Koefisien Determinan

Descriptive Statistics

a. Predictors: (Constant), X3, X1, X2

kuadrat dari koefisien korelasi (0,884 x 0,884 = 0,782). Standar error of

the estimate adalah 3,206, pada

analisis deskriptif statitik bahwa standar deviasi kecerdasan intelektual (X1) adalah 8,135,

kecerdasan emosional (X2) adalah

6.653 kecerdasan spiritual (X3)

adalah 7.333, ketiga variabel tersebut memiliki nilai standar deviasi lebih besar dari standar error (3,206), maka model regresi dinyatakan sangat baik dalam bertindak sebagai prediktor nilai kinerja staff. Koefisien determinasi (adjusted R2) sebesar 0.768 menginformasikan bahwa variasi kinerja staffdapat dijelaskan oleh ketiga variabel independen dalam penelitian ini yakni kecerdasan intelektual,

kecerdasan emosional, dan

kecerdasan spiritual sebesar 76,8% dan selebihnya, yaitu 23,2%, dijelaskan oleh faktor-faktor lain di luar model regresi linear berganda.

Pengujian Hipotesis

Uji t ( Uji Hipotesis Secara Parsial )

Pengujian terhadap hipotesis yang dirumuskan dilakukan dengan menggunakan analisis regresi berganda baik secara parsial maupun simultan. Hipotesis null (Ho) adalah hipotesis yang menyebutkan antara

variabel independen tidak

berpengaruh terhadap variabel dependen. Hipotesis alternatif (Ha) adalah hipotesis yang menyebutkan adanya pengaruh antara variabel independen dan dependen.

(16)

penelitian ini akan menggunakan probabilitas signifikan berdasarkan nilai alpa yaitu 5 %, apabila probabilitas signifikan < 0,05 maka Ho ditolak dan Ha diterima. Demikian pula sebaliknya, apabila probabilitas signifikan > 0,05 maka Ho diterima dan Ha ditolak. Jika Ha diterima maka variabel independen berpengaruh terhadap variabel dependen, sedangkan jika Ha di tolak maka tidak ada pengaruh variabel independen terhadap variabel independen.

Pengujian hipotesis 1 sampai dengan 3 yang diajukan dalam penelitian ini dilakukan dengan menggunakan uji t. Uji t dimaksudkan untuk mengetahui tingkat signifikansi pengaruh variabel independen secara individual terhadap variabel dependen.

Uji Hipotesis 1

Ho : βi = 0 Kecerdasan

intelektual tidak berpengaruh

terhadap kinerja staff

Departemen Quality

Assurance PT. PEB Batam.

Ha : βi > 0 Kecerdasan

intelektual memiliki

pengaruh terhadap kinerja staff Departemen Quality

Assurance PT. PEB Batam.

Jika t hitung > dari t tabel atau probabilitas < 0,05 maka Ha diterima, jika t hitung < t tabel atau probabilitas > 0,05 maka Ha ditolak. Berdasarkan tabel diatas, dapat dilihat bahwa nilai t hitung untuk kecerdasan intelektual (X1) adalah

2,760 dengan tingkat probabilitas: 0,008, pada t tabel dengan db 53 dan taraf signifikan 0,05 diperoleh 1,674, karena t hitung > t tabel maka Ho ditolak, sedangkan Ha diterima. Artinya kecerdasan intelektual memiliki pengaruh positif terhadap kinerja staff Departemen Quality

Assurance PT. PEB Batam.

Uji Hipotesis 2

Ho : βi = 0 Kecerdasan emosional tidak berpengaruh terhadap kinerja staff Departemen Quality Assurance PT. PEB Batam.

Ha : βi > 0 Kecerdasan emosional memiliki pengaruh terhadap kinerja staff Departemen

Quality Assurance PT. PEB

Batam.

Jika t hitung > dari t tabel atau probabilitas < 0,05 maka Ha diterima, jika t hitung < t tabel atau probabilitas > 0,05 maka Ha ditolak. Berdasarkan Tabel 4 di atas, dapat dilihat bahwa nilai t hitung untuk kecerdasan emosional (X2)

(17)

probabilitas: 0,001, pada t tabel dengan db 53 dan taraf signifikan 0,05 diperoleh 1,674, karena t hitung > t tabel maka Ho ditolak. sedangkan Ha diterima. Artinya kecerdasan emosional memiliki pengaruh terhadap kinerja staff Departemen

Quality Assurance PT. PEB Batam.

Uji Hipotesis 3

Ho : βi = 0 Kecerdasan spiritual tidak berpengaruh terhadap kinerja staff Departemen

Quality Assurance PT. PEB

Batam.

Ha : βi > 0 Kecerdasan spiritual memiliki pengaruh terhadap kinerja staff Departemen

Quality Assurance PT. PEB

Batam.

Jika t hitung > dari t tabel atau probabilitas < 0,05 maka Ha diterima, jika t hitung < t tabel atau probabilitas > 0,05 maka Ha ditolak. Berdasarkan tabel diatas, dapat dilihat bahwa nilai t hitung untuk Kecerdasan spiritual (X3) yaitu

2,492 dengan tingkat probabilitas: 0,016, pada t tabel dengan db 53 dan taraf signifikan 0,05 diperoleh 1,674, karena t hitung > t tabel maka Ho ditolak. sedangkan Ha diterima. Artinya kecerdasan spiritual memiliki pengaruh terhadap kinerja staff Departemen Quality Assurance PT. PEB Batam.

Uji F Pengujian Hipotesis Secara Simultan

Tabel 5 Nilai F hitung

ANOVAb

Model Sum of Squares df Mean Square F Sig.

1 Regression 1803.126 3 601.042 58.469 .000a

Residual 503.704 49 10

Total 2306.830 52

a. Predictors: (Constant), X3, X1, X2

b. Dependent Variable: Y

Sumber: Data Diolah, 2015 Hasil pengujian F statistik menunjukkan nilai sebesar 58.469 dengan signifikan sebesar 0.000. Nilai signifikansi F tersebut lebih kecil dari 0.05. dengan demikian Ho ditolak dan Ha diterima.

Dari Tabel 5 di atas dapat dilihat nilai F hitung yaitu 58,469 dengan signifikansi sebesar 0,000, sedangkan nilai F tabel penyebut (df) 53 dan df regression pembilang 3 dengan siginifikan 0,05 adalah 2,78. Karena F hitung lebih besar dari F tabel, maka Ho ditolak sedangkan Ha diterima hal ini mengindikasikan bahwa kecerdasan intelektual,

kecerdasan emosional dan

kecerdasan spiritual secara simultan berpengaruh signifikan terhadap kinerja staff Departemen Quality

Assurance PT. PEB Batam.

Kesimpulan: tingkat koefisien atau probabilitas nol, maka model regresi dapat dipakai untuk memprediksi kinerja staff dan hipotesis alternatif 4 diterima.

Kesimpulan

1. Kecerdasan intelektual

berpengaruh signifikan terhadap kinerja staff Departemen Quality

Assurance PT. PEB Batam.

Hasil penelitian ini mendukung hasil penelitian Trihandini (2005), Rahmasari (2012), Alfaried (2014), Budi Artana

(2014), Mardijarso dan

(18)

2. Kecerdasan emosional berpengaruh signifikan terhadap kinerja staff Departemen Quality

Assurance PT. PEB Batam.

Hasil penelitian ini mendukung hasil penelitian Trihandini (2005), Rahmasari (2012), Alfaried (2014), Budi Artana (2014), Goleman (2015), Mardijarso dan Indrayani (2015).

3. Kecerdasan spiritual

berpengaruh signifikan terhadap kinerja staff Departemen Quality

Assurance PT. PEB Batam.

Hasil penelitian ini mendukung apa yang dikatakan oleh Trihandini (2005), Agustian, (2006), Rahmasari (2012), Alfaried (2014), Budi Artana (2014), Goleman (2015).

4. Kecerdasan intelektual,

kecerdasan emosional dan kecerdasan spiritual secara simultan berpengaruh signifikan

terhadap kinerja staff

Departemen Quality Assurance

PT. PEB Batam. Hasil penelitian ini mendukung teori kecerdasan majemuk, Gardner (2013: 117) yang mengemukakan bahwa ternyata budaya memperoleh

manfaat dari perbedaan

kecenderungan intelektual yang dijumpai dalam populasinya secara lebih efektif karena adanya profil kecerdasan yang berbeda. Daripada pendekatan seragam yang semakin tidak masuk akal. Dalam hal ini konsep untuk suatu pencapaian

optimal seperti bakat,

kreativitas, keahlian dan genius

tidak dapat didiskriminasikan melalui salah satu kecerdasan saja. Hasil penelitian ini mendukung apa yang dikatakan oleh Trihandini (2005), Agustian, (2006), Rahmasari (2012), Alfaried (2014), Budi Artana (2014), Goleman (2015).

Saran

1. Departemen Quality Assurance PT. PEB Batam disarankan

meningkatkan kecerdasan

intelektual karyawan terkait kemampuan melihat konsekuensi dari setiap keputusan yang diambil, hal ini dikarenakan mayoritas responden menjawab netral sebesar 34,0 % pada butir pernyataan nomor 12 pada Tabel definisi variabel kecerdasan intelektual. Departemen Quality

Assurance PT. PEB Batam

mengiplementasikan filosofi dan

manajemen kaizen, yaitu

memberikan kesempatan,

peluang, tanggung jawab dan kompetensi intelektual kepada seluruh karyawan yang lebih besar dengan tingkat kepercayaan tinggi, melalui konsep utamanya; mengesampingkan semua ide ide yang sudah lama dan baku, memacu karyawan untuk berpikir secara analitis, terstruktur dan terdefinitif.

2. Departemen Quality Assurance PT. PEB Batam disarankan melakukan pelatihan kecerdasan

emosional agar kinerja

(19)

pernyataan nomor 6 Tabel definisi variabel kecerdasan emosional, mayoritas responden yang menjawab setuju hanya sebesar 37,7% juga merupakan butir pernyataan yang ditanggapi dengan jawaban netral terbanyak (sebesar 35,8%). Pelatihan dan pendidikan kecerdasan emosional dapat diimplementasikan melalui

NLP (Neuro Linguistic

Programming) pada dasarnya

NLP adalah manual otak manusia yang intinya adalah mengetahui bagaimana cara kerja otak dan emosi diselaraskan agar seseorang bisa menjadi tuan atasnya, tidak mudah panik dalam situasi kritis, bukan dikendalikan oleh emosi-emosi

negatif dengan

konsep-konsepnya antara lain; Pikiran sadar hanya menguasai 72 bit informasi, sedangkan otak bawah sadar menguasai 2,3 juta bit informasi, oleh karena itu stimulasi berupa afirmasi dapat memanipulasi otak bawah sadar

dan kondisi kecerdasan

emosional seseorang dengan akses cakupan inteligensi tanpa batas.

3. Departemen Quality Assurance PT. PEB Batam disarankan

meningkatkan kecerdasan

spiritual karyawannya, yang berkaitan tentang kebiasaan menggunakan aspek spiritual dalam memandang keberadaan diri sendiri, hal ini dikearenakan pada butir pernyataan nomor 6 Tabel definisi variabel kecerdasan emosional, selain

mayoritas responden yang menjawab setuju hanya sebesar 37,7% juga merupakan butir pernyataan yang ditanggapi dengan jawaban tidak setuju terbanyak (sebesar 18.9%). Aspek peningkatan kecerdasan spiritual dimaksud dapat diterapkan anatara lain menyediakan ruang ibadah di kantor, memberikan terapi gelombang otak seperti SQ

Booster (telah diteliti oleh

Berger, 1938) yaitu seperangkat sound system yang dirancang khusus menstimulasi gelombang otak berupa gelombang gamma, beta, alpha, tetha dan delta sehingga dalam frekwensi tertentu karyawan merasa nyaman dan kondusif untuk memasuki kondisi spiritualitas tinggi.

4. Departemen Quality Assurance PT. PEB Batam disarankan melakukan evaluasi penilaian kinerja yang berkaitan tentang sikap berani mengambil risiko demi membela kepentingan perusahaan hal ini disebabkan karena pada butir pernyataan nomor 5 Tabel definisi variabel kinerja karyawan selain mayoritas responden yang menjawab setuju hanya sebesar 39,6%.juga merupakan butir pernyataan yang ditanggapi dengan jawaban netral terbanyak (sebesar 37,7%).

Bagi staff Departemen Quality

Assurance PT. PEB Batam yang

(20)

maka akan dipromosikan berupa; kenaikan jabatan, kenaikan pangkat, pemberian tunjangan jabatan atau reward berupa; uang penghargaan, dan beasiswa pendidikan. selanjutnya untuk level direksi, pejabat eksekutif, manager dan kepala divisi perlu dilakukan fit and proper test pada saat rekruitment meliputi; kompetensi teknis dan integritas, dilakukan untuk memastikan bahwa pejabat eksekutif, pengendali dan pengurus memiliki kecakapan dalam memimpin.

DAFTAR PUSTAKA

Agustian, Ary Ginanjar 2006.

Rahasia Sukses Membangkitkan

ESQ Power. Cetakan keempat,

Jakarta: Arga.

Alfaried.Z, Weldy. 2014. Pengaruh

Kecerdasan Emosional (EQ),

Kecerdasan Intelektual (IQ), dan

Kecerdasan Spiritual (SQ)

terhadap Kinerja Karyawan

pada LPP TVRI RIAU. Jurnal

Fakultas Ekonomi, Universitas

Islam Negeri Sultan Syarif Kasim Pekanbaru, Riau. Vol.1 Juni 2014.

Buda Artana, I Made. 2014.

Pengaruh Kecerdasan Intelektual

(Iq), Kecerdasan Emosional

(Eq), Kecerdasan Spiritual (Sq), Dan Perilaku Belajar Terhadap Pemahaman Akuntansi (Studi

Kasus Pada Mahasiswa S1

Akuntansi Universitas

Pendidikan Ganesha Singaraja Dan Mahasiswa S1 Universitas

Udayana Denpasar), Jurnal

Fakultas Ekonomi Akuntansi,

Universitas Udayana Denpasar Bali. Vol.2 No.1 Mei 2014. Budihardjo. 2015. Panduan Praktis

Penilaian Kinerja Karyawan,

Jakarta : Raih Asia Sukses. Goleman, Daniel. 2015. Emotional

Intelligence. (Alih bahasa oleh T.

Hermaya), Cetakan kesembilan belas, Jakarta : PT. Gramedia. Gardner, Howard. 2013. Multiple

Intelligence. (Alih bahasa oleh

Alexander sindoro), Tangerang: Interaksara.

Ghozali, Imam. 2005. Aplikasi

Analisis Multivariate dengan

Program SPSS. Semarang:

Badan Penerbit Universitas Diponegoro.

Mardijarso, Djoko dan Indrayani. 2015. Kecerdasan Intelektual, Kecerdasan Emosional Sebagai Prediktor Terhadap Kepuasan Kerja Melalui Kinerja Karyawan PT. Aviari Pratama Di Batam.

Jurnal Zona Manajemen. Volume 7 No. 2. Halaman 51-61.

Program Studi Magister

Manajemen Fakultas Ekonomi Universitas Batam.

Pasiak, Taufiq. 2006. Manajemen

Kecerdasan; Memberdayakan

IQ,ES dan SQ untuk kesuksesan

hidup. . Bandung : PT. Mizan

Pustaka

Rahmasari, Lisda. 2012. Pengaruh

Kecerdasan Intelektual,

Kecerdasan Emosi Dan

Kecerdasan Spiritual Terhadap

(21)

Ekonomi Universitas AKI. Jurnal

Majalah Ilmiah

Informatika.Vol.3 No.1, Januari

2012.

Robbins, P. Stephen, and Judge, A. Timothy. 2006. “Definisi dan

Indikator Kecerdasan

Intelektual”. Jurnal psikologi dan

Biologi, Universitas Diponegoro

Semarang. Vol.2 No.1, Pebruari 2012.

Rumengan, Jemmy 2011.

Metodologi Penelitian, Batam:

Universitas Batam.

Ruky, Achmad. S. 2006. Sistem

Manajemen Kinerja. Jakarta :

PT. Gramedia Pustaka.

Suwartono. 2014. Dasar-dasar

Metodologi Penelitian.

Yogyakarta : Penerbit C.V Andi Offset.

Suharsono. 2007. Melejitkan IQ, IE & IS, Depok : Inisiasi Press Trihandini, Fabiola Meirnayati.

2005. Analisis Pengaruh

Kecerdasan Intelektual,

Kecerdasan Emosi dan

Kecerdasan Spiritual terhadap

Kinerja Karyawan. Jurnal

Magister Manajemen,

Universitas Diponegoro

Semarang.Vol.2 No.1 Maret 2005.

Gambar

Tabel 2 Perhitungan Hasil Uji Nilai

Referensi

Dokumen terkait

Sebanyak kurang lebih 39 % pasien dengan demam reumatik akut bisa terjadi kelainan pada jantung mulai dari gangguan katup, gagal jantung, perikarditis (radang

Anda memakai kunci remote?Kalau kunci anda ketinggalan dalam mobil dan remote cadangannya di rumah, tinggal telpon orang rumah dengan HP, lalu dekatkan HP andakurang lebih

Faktor internal meliputi kesehatan, (I Q ) seseorang, Perhatian siswa, Minat, yaitu kecenderungan dan kegairahan yang tinggi atau keinginan yang besar terhadap

Leuwih écésna Modul Diklat Guru Pembelajar Basa Sunda Kelompok Kompeténsi Gngawengku 10matéri poko, nu ngawengku 4 (opat) matéri poko kompeténsi pédagogik, jeung 6

Kita juga sering kagum dengan akurasi bacaan tarot seseorang yang sangat akurat, namun kita juga pernah terheran – heran dengan orang yang sebenarnya tidak bisa baca tarot,

Berdasarkan latar belakang yang telah diuraikan, maka peneliti tertarik untuk melakukan penelitian dengan judul : Analisis Efektivitas dan Kontribusi Pajak Bumi

DAN DANA BAGI HASIL TERHADAP BELANJA DAERAH (Studi pada Pemerintah Daerah Kabupaten/Kota di Provinsi Jawa Timur)” dengan baikv. Penyusunan skripsi ini ditujukan untuk

Menimbang, bahwa berdasarkan keterangan Pemohon dan saksi-saksi Pemohon tersebut, Majelis Hakim menemukan fakta-fakta bahwa antara Pemohon dan Termohon terjadi perselisihan dan