ANALISIS LAPORAN KEUANGAN PT ADHI KARYA
Disusun Oleh:
Muhammad Farhan Riansyah Putra (1506723654) Aghna Mahardhika (1506726422)
Gerdyan Hidayat S (1506727210) Mochammad Raka Abrar (1506749943) MAKALAH PENGANTAR AKUNTANSI 2
FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS UNIVERSITAS INDONESIA
Statement of Authorship
“Kami yang bertandatangan di bawah ini menyatakan bahwa makalah/tugas terlampir
adalah murni hasil pekerjaan kami sendiri. Tidak ada pekerjaan orang lain yang kami gunakan tanpa menyebutkan sumbernya.
Materi ini tidak/belum pernah disajikan/digunakan sebagai bahan untuk makalah/tugas pada mata ajaran lain kecuali saya/kami menyatakan dengan jelas bahwa kami menyatakan bahwa saya/kami menggunakannya.
Kami memahami bahwa tugas yang kami kumpulkan ini dapat diperbanyak dan atau dikomunikasikan untuk tujuan mendeteksi adanya plagiarisme.”
Judul Makalah/Tugas : Analisis Laporan Keuangan PT Adhi Karya Tanggal : 9 Juni 2016
Dosen : Widhi Astono
Mata Ajaran : Pengantar Akuntansi 2
Nama : Muhammad Farhan Riansyah Putra Nama : Gerdyan Hidayat S
NPM : 1506723654 NPM : 1506727210
Tandatangan : Tandatangan :
Nama : Aghna Mahardhika Nama : Mochammad Raka Abrar
NPM : 1506726422 NPM : 1506749943
Kata Pengantar
Puji syukur kami panjatkan kepada Tuhan yang Maha Esa karena berkat rahmat dan karunia-Nya kami dapat menyelesaikan makalah tentang Analisis Laporan Keuangan PT Adhi Karya dengan baik. Makalah ini kami buat dengan tujuan pemenuhan Tugas Kelompok yang dikumpulkan saat UAS.
Kami berterima kasih kepada Bapak Widhi Astono S.E., MM. yang telah membimbing kami dalam proses pembuatan makalah ini. Kami juga berterima kasih kepada seluruh pihak yang terlibat dalam pembuatan makalah ini.
Kami sangat berharap makalah ini dapat memperluas wawasan pembaca mengenai Analisis Laporan Keuangan suatu perusahaan.
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Profil Perusahaan
PT Adhi Karya merupakan perusahaan yang sangat bersejarah di Indonesia. Perusahaan yang pada mulanya bernama Architecten-Ingenicure-en Annemersbedrijf Associatie Selle en de Bruyn, Reyerse en de Vries N.V. (Assosiate N.V.) ini dinasionalisasi pada 11 Maret 1960 menjadi PN Adhi Karya. Kemudian, berdasarkan pengesahan Menteri Kehakiman Republik Indonesia, pada tanggal 1 Juni 1974, ADHI berubah status menjadi Perseroan Terbatas. Hingga pada tahun 2004 ADHI telah menjadi perusahaan konstruksi pertama yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia.1
1.2 Latar Belakang Pemilihan Perusahaan
Sejak awal mula nasionalisasi hingga saat ini, PT Adhi Karya telah menjadi pemacu pembangunan infrastruktur di Indonesia. Berbagai proyek di Indonesia sudah diselesaikan atau masih dalam proses pembangunan, hingga yang terbaru, pembangunan proyek LRT di DKI Jakarta yang ternyata memberi dampak yang cukup signifikan terhadap kondisi keuangan PT. Adhi Karya. Kami ingin menganalisis kondisi keuangan yang nampaknya berubah cukup signifikan dalam 2 tahun terakhir (2014-2015). Dengan menggunakan berbagai instrumen analisis rasio, kami berharap makalah ini bisa menguraikan analisis sederhana terhadap kondisi keuangan perusahaan ini dan mudah-mudahan juga bisa menjadi sumber informasi dan pembelajaran bagi kami untuk mata kuliah Pengantar Akuntansi 2.
BAB II
ISI
2.1 Analisis Rasio Likuiditas
Rasio likuiditas berfungsi unutk menunjukkan atau mengukur kemampuan peruahaan dalam memenuhi kewajibannya yang sudah jatuh tempo, baik kewajiban kepada pihak luar perusahaan maupun dalam perusahaan (Kasmir, 2015: 110).
2.1.1 Accounts Receivable Turnover
Perputaran piutang (Account Receivable Turnover) merupakan rasio yang mengukur berapa kali dana yang ditanam dalam piutang berputar dalam satu periode. Semakin besar nilainya maka semakin rendah jumlah modal kerja yang ditanamkan dalam piutang. Perputaran Piutang = Pendapatan/Rata-rata Piutang (Kasmir, 2015: 176).
Perputaran piutang 2014 = 8,653,578,309,020/((1,953,900,412,991+ 1,503,438,150,041)/2) = 5.00 kali
Perputaran piutang 2015 = 9,389,570,098,578/((2,231,747,915,506 +1,953,900,412,991)/2) = 4.48 kali
Terjadi penurunan sebesar 0.52 kali pada tahun 2015.
Penurunan perputaran piutang sebesar diakibatkan kenaikan piutang yang mengiringi kenaikan pendapatan. Sebagian kenaikan piutang pada 2015 sebagian disumbang oleh Kementrian Pekerjaan Umum & Perumahan Rakyat dalam perbaikan jalan tol Kanci-Pejagan.
2.1.2 Number of Days’ Sales in Receivables
Rata-rata Jangka Waktu Penagihan Piutang (Number of Days’ Sales in Receivables) adalah rasio yang digunakan untuk mengukur jangka waktu yang dibutuhkan untuk menagih piutang. Rata-rata Jangka Waktu Penagihan Piutang = Rata-rata Piutang/Rata-rata Penjualan per Hari (Warren dkk., 2014: 789).
Rata-rata Jangka Waktu Penagihan Piutang 2015 = ((2,231,747,915,506+1,953,900,412,991)/2)/(9,389,570,098,578/365) = 81 hari
Terjadi penurunan kemampuan menagih piutang selama 8 hari.
Hal ini menunjukkan penurunan kemampuan penagihan piutang oleh PT Adhi Karya. Salah satu yang menjadi sebabnya adalah tersendatnya pembayaran piutang oleh Pemerintah Provinsi Riau untuk proyek Pembangunan Infrastruktur Stadion Utama senilai Rp141 milliar yang kemudian dijanjikan akan dibayarkan dengan APBD 2016.
2.1.3 Inventory Turnover
Perputaran persediaan merupakan rasio yang digunakan untuk mengukur berapa kali dana yang ditanam dalam persediaan (inventory) ini berputar dalam satu periode. Rasio ini menunjukkan berapa kali barang persediaan diganti. Semakin besar, semakin bagus, artinya semakin sering barang persediaan diganti. Perputaran Persediaan = Harga Pokok Penjualan/Rata-rata Persediaan (Kasmir, 2015: 180).
Perputaran Persediaan 2014 = 7,655,376,741,694/((132,013,517,468+161,559,750,775)/2) = 52, 1 kali
Perputaran Persediaan 2015 = 8,414,925,778,081/((162,650,778,629+132,013,517,468)/2) = 57, 1 kali
Terjadi kenaikan Perputaran Persediaan sebesar 5 kali pada tahun 2015.
Kenaikan perputaran persediaan ini diperkirakan terjadi karena PT Adhi Karya menjalankan proyek-proyek besar pada 2015 seperti pembangunan trasnportasi massal light rail transit (LRT). Nilai rasio yang sangat besar ini juga mungkin terjadi karena PT Adhi Karya
merupakan perusahaan jasa yang bergerak di bidang konstruksi, bukan perusahaan dagang.
2.2 Analisis Rasio Solvabilitas
2.2.1 Working capital
Modal Kerja atau Working Capital digunakan untuk menilai kemampuan perusahaan untuk membayar utang jangka pendeknya. Working capital = Current Assets – Current Liabilitiies (Warren dkk., 2014: 786).
Working Capital 2014 = 9,484,298,907,925-7,069,703,612,022 = 2,414,595,295,903
Working Capital 2015 = 14,691,152,497,441-9,414,462,014,334 = 5,276,690,483,107
Terjadi kenaikan working capital sebesar Rp2,862,095,187,204 pada tahun 2015.
Hal ini menunjukkan peningkatan kemampuan membayar utang jangka pendek dari PT Adhi Karya. Kenaikan ini terjadi seiring dengan kenaikan pendapatan usaha pada tahun 2015. Kenaikan pendapatan pada tahun 2015 sebagian besar dikontribusikan oleh masuknya dana hasil Rights Issue senilai Rp2.7 trilliun dan pembangunan trasnportasi massal light rail transit (LRT).
2.2.2 Current ratio
Rasio lancar merupakan rasio untuk mengukur kemampuan perusahaan dalam membayar kewajiban jangka pendek atau utang yang segera jatuh tempo pada saat ditagih secara keseluruhan. Rasio Lancar = Aset Lancar/Liabilitas Jangka Pendek (Kasmir, 2015: 134). Rasio lancar 2014 = 9,484,298,907,925/7,069,703,612,022 = 1.34 kali
Rasio lancar 2015 = 14,691,152,497,441/ 9,414,462,014,334 = 1.56 kali Terjadi kenaikan rasio lancar sebesar 0.22 kali pada tahun 2015.
Hal ini menunjukkan peningkatan kemampuan membayar utang jangka pendek. Kenaikan ini disebabkan peningkatan jumlah aset lancar pada tahun 2015 yang cukup besar, yaitu kurang lebih sebesar Rp5 trilliun. Aset lancar meningkat cukup signifikan disebabkan oleh peningkatan pendapatan pada tahun 2015. Kenaikan pendapatan pada tahun 2015 sebagian besar dikontribusikan oleh masuknya dana hasil Rights Issue senilai Rp2.7 trilliun dan pembangunan trasnportasi massal light rail transit (LRT).
2.2.3 Quick ratio
Rasio lancar 2014 = 9,484,298,907,925/7,069,703,612,022 = 1.34 kali Rasio lancar 2015 = 14,691,152,497,441/ 9,414,462,014,334 = 1.56 kali Terjadi kenaikan rasio lancar sebesar 0.22 kali pada tahun 2015.
Hal ini menunjukkan peningkatan kemampuan membayar utang jangka pendek. Kenaikan ini disebabkan peningkatan jumlah aset lancar pada tahun 2015 yang cukup besar, yaitu kurang lebih sebesar Rp5 trilliun. Aset lancar meningkat cukup signifikan disebabkan oleh peningkatan pendapatan pada tahun 2015. Kenaikan pendapatan pada tahun 2015 sebagian besar dikontribusikan oleh masuknya dana hasil Rights Issue senilai Rp2.7 trilliun dan pembangunan trasnportasi massal light rail transit (LRT).
2.3 Analisis Profitabilitas
Rasio profitablitas adalah rasio yang digunakan untuk menilai kemampuan perusahaan dalam mencari keuntungan atau laba dalam suatu periode tertentu (Kasmir, 2015: 114).
2.3.1 Ratio of Net Sales to Assets
� � � � =� �� � �� �
Ratio of Net Sales to Assets tahun 2015 :
= . . . . − . . .. . + . . . . . . − . . . / = ,
Ratio of Net Sales to Assets tahun 2014 :
= . . . . − . . .. . + .. . . . . − . . . / = , � ��
Rasio ini berfungsi untuk menghitung keefektifan penggunaan aset, Dari perbandingan tahun 2014 dan 2015, terjadi penurunan Ratio of Net Sales to Assets yang cukup signifikan yang menunjukkan bahwa keefektifan penggunaan aset telah menurun dengan pesat. Penyebab pendapatan usaha naik adalah karena meningkatnya pendapatan dari keempat sektor perusahaan ini yaitu :
Jasa Konstruksi sebesar Rp7,9 triliun atau setara 85,1%; EPC senilai Rp635,5 miliar atau setara 6,8%;
Properti sebesar Rp610,6 miliar atau 6,5%;
Sedangkan aset tetap dan aset tidak lancar, dan membuat aset secara umum meningkat secara drastis menurut analisa dan pembahasan manajemen adalah karena perusahaan telah melakukan investasi aset tetap (CAPEX). Namun, jika dilihat dari catatan keuangan, pada bagian aset tetap, kenaikan aset tetap disebabkan terutama oleh revaluasi aset tanah sebesar lebih dari 427 miliar rupiah. Kenaikan aset karena revaluasi ini membuat keefektifan penggunaan aset terkesan menurun padahal aset riil sendiri tidak bertambah secara signifikan.
2.3.2 Rate Earned on Total Assets
� � � � =� �� �� +� � � �
Rate Earned on Total Assets Tahun 2015 :
= . . . . . . . + .+ .. .. .. / = ,
Rate Earned on Total Assets Tahun 2014 :
= . .. .. .. + .+ .. .. .. / = ,
Dalam analisis rasio ini, terlihat bahwa tidak ada penurunan signifikan pada rasio ini yang berarti profitabilitas aset hanya sedikit menurun. Hal ini disebabkan meskipun laba bersih ditambah biaya keuangan naik sekitar 28%, namun terdapat selisih kenaikan aset total lebih dari 6 miliar sehingga average total asset pun naik dengan persentase lebih dari kenaikan laba bersih ditambah biaya keuangan.
Kenaikan laba bersih yang cukup drastis sebagian besar dikontribusikan oleh masuknya dana hasil Rights Issue senilai Rp2,7 triliun serta pembangunan transportasi massal berbasis rel (light rail transit/LRT). Kenaikan tersebut juga didukung oleh pertumbuhan Pendapatan Usaha Perseroan sebesar 48,51% menjadi Rp9,4 triliun dari Rp8,7 triliun di tahun 2014 karena adanya peningkatan perolehan kontrak baru. Kedua hal tersebut berefek positif kepada laba bersih.
2.3.3 Rate Earned on Stockholders’ Equity
� � ℎ ′ � � =� �� � �� ℎ ′ � �
Rate Earned on Stockholder’s Equity Tahun 2015 :
= . . . . , + ., ,. . . / = ,
Rate Earned on Stockholder’s Equity Tahun 2014 :
= . . . . , + ., ,. . . / = , 4
Dalam rasio ini terjadi penurunan yang cukup signifikan (56,22%) yang menandakan profitabilitas dari investasi para stockholders menurun. Hal ini terjadi karena meskipun laba bersih mengalami kenaikan yang cukup drastis, namun ekuitas mengalami peningkatan yang luar biasa (hingga 214,6%) dari 1,63 miliar pada 2014 ke 5,15 miliar pada 2015. Kenaikan ekuitas tersebut diakibatkan terutama oleh peningkatan Tambahan Modal Disetor secara signifikan sebesar Rp2,5 triliun, Saldo Laba yang Ditentukan Penggunaannya sebesar Rp264,3 miliar, serta peningkatan di Saldo Laba belum Ditentukan Penggunaannya sebesar Rp126,8 miliar.
2.3.4 Rate Earned on Common Stockholders’ Equity
Dikarenakan perusahaan ini tidak memiliki saham preferen, maka rasio ini sama dengan
Rate Earned on Stockholder’s Equity.
2.3.5 Earnings per Share on Common Stock
� � ℎ� = ℎ� � − � �� �
Earning Per Share on Common Stock
2015 2014
Less Preferred dividens - -
Total 465,025,548,006 331,660,506,417 Shares of common stock
outstanding 3,560,849,376 1,801,320,000 Earning Per Share on
Common Stock 130.5939 184.12081
Angka ini menilai keuntungan yang didapatkan dari setiap lembar saham biasa. Menurut perhitungan dari tahun 2014 ke 2015 terlihat terjadi penurunan yang cukup signifikan. Hal ini terjadi akibat dari PT Adhi Karya turut andil dalam pembangunan transportasi massal berbasis Light Rail Transit (LRT). Untuk mendukung hal ini PT Adhi Karya membutuhkan dorongan modal dengan Penawaran Umum Terbatas (PUT) Adhi melalui Hak Memesan Efek Terlebih Dahulu (HMETD). Dengan masuknya dana segar melalui HMETD atau Right Issue menyebabkan terjadinya peningkatan dalam Shares of Common Stock Outstanding. Hal ini membuat pembagi dari Net Income semakin besar yang berakibat pada turunnya Earning Per Share on Common Stock pada tahun 2015
2.3.6 Price-earnings Ratio
2.3.7 Dividends per Share 18.2019 rupiah dividen tiap lembar saham. Hal ini disebabkan oleh tambahan saham sebanyak 1.7 milliar lembar pada tahun 2015.
2.3.8 Dividend Yield
Dividend yield merupakan ukuran untuk mengukur tingkat kembalinya common stock melalui cash dividend. Pada tahun 2014 hingga 2015 terjadi penuruan dividend yield dari 2.1% ke 0,59%. Penurunan yang cukup signifikan ini disebabkan oleh tambahan saham beredar sebanya 1.7 milliar lembar saham pada tahun 2015.
2.4 Horizontal Analysis
Jumlah Persen
ASET
Aset Lancar:
Cash 4.317.347 811.411 3.505.936 432,08%
Piutang Usaha 2.231.746 1.953.899 277.847 14,22%
Piutang Retensi 1.079.643 941.745 137.898 14,64%
Tagihan Bruto Pemberi Kerja 3.093.132 2.617.233 475.899 18,18%
Persediaan 162.650 132.013 30.637 23,21%
Uang Muka 175.336 183.607 (8.271) -4,50%
Biaya Dibayar di Muka 1.216.509 814.053 402.456 49,44% Pajak Dibayar di Muka 857.435 622.516 234.919 37,74%
Aset Real Estat 1.557.347 1.089.412 467.935 42,95%
Jumlah Aset Lancar 14.691.152 9.165.894 5.525.258 60,28%
Aset Tidak Lancar:
Aset Pajak Tangguhan 0 14 (14) -100,00%
Piutang Lain-lain Jangka
Panjang 6.396 36.374 (29.978) -82,42%
Aset Real Estat 47.757 5.132 42.625 830,57%
Investasi pada Ventura
Bersama 368.089 363.654 4.435 1,22%
Properti Investasi 329.881 356.221 (26.340) -7,39%
Aset Tetap 1.099.426 496.095 603.331 121,62%
Investasi Jangka Panjang
Lainnya 31.550 7.600 23.950 315,13%
Aset Lain-lain 186.808 27.893 158.915 569,73%
Jumlah Aset Tidak Lancar 2.069.911 1.292.987 776.924 60,09%
JUMLAH ASET 16.761.063 10.458.881 6.302.182 60,26%
LIABILITAS DAN EKUITAS
Liabilitas Jangka Pendek:
Utang Usaha 6.489.309 4.923.211 1.566.098 31,81%
Utang Bank 1.115.499 658.000 457.499 69,53%
Utang Pajak 435.488 279.847 155.641 55,62%
Uang Muka Pemberi Kerja 692.207 494.513 197.694 39,98% Pendapatan Diterima di
Muka 11.043 77.196 (66.153) -85,69%
Beban Akrual 326.019 353.848 (27.829) -7,86%
Utang Retensi 214.287 220.811 (6.524) -2,95%
Liabilitas Jangka Pendek 31 Desember 2015 and 2014 (dalam jutaan Rupiah)
Des. 31 2015 Des. 31 2014 Kenaikan (Penurunan)
Liabilitas Jangka Panjang 2.111 0 2.111
-Liabilitas Pajak Tangguhan 11.413 7.034 4.379 62,25% Uang Muka Pemberi Kerja 84.453 48.155 36.298 75,38% Utang Bank dan Surat Utang
Jangka Menengah 504.736 113.500 391.236 344,70%
Utang Obligasi 1.248.298 1.247.628 670 0,05%
Utang Lain-lain 285 400 (115) -28,75%
Liabilitas Imbalan Kerja 83.169 110.762 (27.593) -24,91%
Utang Sukuk 250.000 250.000 0 0,00%
Jumlah Liabilitas Jangka
Panjang 2.184.469 1.777.482 406.987 22,90%
JUMLAH LIABILITAS 11.598.931 8.818.101 2.780.830 31,54%
EKUITAS
Modal Saham - Nilai Nominal
0,0001 per Saham 356.084 180.132 175.952 97,68%
Tambahan Modal Disetor 2.587.944 50.004 2.537.940 5075,47% Selisih Transaksi dengan
Pihak Non Pengendali 3.117 3.117 0 0,00%
Saldo Laba 1.789.884 1.398.815 391.069 27,96%
Penghasilan Komprehensif Kepentingan Non Pengendali 8.304 6.959.023 (6.950.719) -99,88%
JUMLAH EKUITAS 5.162.131 1.640.780 3.521.351 214,61%
Dari tabel di atas, terlihat bahwa secara umum jumlah aset bertambah pada tahun 2015. Kemudian, kenaikan kas pada tahun 2015 terlihat sangat mencolok. Salah satu penyebab utama kenaikan ini adalah bertambahnya saham yang di-issue sebanyak kurang lebih 1.7 milliar lembar menghasilkan dana segar sebanyak kurang lebih Rp2.7 trilliun.
Pada bagian liabilitas, utang usaha mengalami kenaikan yang cukup besar, yaitu mencapai Rp1.5 trilliun. Utang usaha mengalami kenaikan yang cukup besar diperkirakan karena meningkatnya aktivitas perusahaan pada tahun 2015 yang disebabkan keikutsertaan dalam penanganan proyek besar, seperti LRT.
2.5 Vertical Analysis
Vertical analysis adalah salah satu cara analisis laporan keuangan yang menunjukkan hubungan antara setiap komponen dalam laporan keuangan yang ditunjukkan dalam persentase.
Jumlah Persen Jumlah Persen
ASET
Aset Lancar:
Cash 4.317.347 25,76% 811.411 7,76%
Piutang Usaha 2.231.746 13,32% 1.953.899 18,68%
Piutang Retensi 1.079.643 6,44% 941.745 9,00%
Tagihan Bruto Pemberi Kerja 3.093.132 18,45% 2.617.233 25,02%
Persediaan 162.650 0,97% 132.013 1,26%
Uang Muka 175.336 1,05% 183.607 1,76%
Biaya Dibayar di Muka 1.216.509 7,26% 814.053 7,78%
Pajak Dibayar di Muka 857.435 5,12% 622.516 5,95%
Aset Real Estat 1.557.347 9,29% 1.089.412 10,42%
Jumlah Aset Lancar 14.691.152 87,65% 9.165.894 87,64%
Aset Tidak Lancar:
Aset Pajak Tangguhan 0 0,00% 14 0,0001%
Piutang Lain-lain Jangka
Panjang 6.396 0,04% 36.374 0,35%
Aset Real Estat 47.757 0,28% 5.132 0,05%
Investasi pada Ventura
Bersama 368.089 2,20% 363.654 3,48%
Properti Investasi 329.881 1,97% 356.221 3,41%
Aset Tetap 1.099.426 6,56% 496.095 4,74%
Investasi Jangka Panjang
Lainnya 31.550 0,19% 7.600 0,07%
Aset Lain-lain 186.808 1,11% 27.893 0,27%
Jumlah Aset Tidak Lancar 2.069.911 12,35% 1.292.987 12,36%
JUMLAH ASET 16.761.063 100,00% 10.458.881 100,00%
LIABILITAS DAN EKUITAS
Liabilitas Jangka Pendek:
Utang Usaha 6.489.309 38,72% 4.923.211 47,07%
Utang Bank 1.115.499 6,66% 658.000 6,29%
Utang Pajak 435.488 2,60% 279.847 2,68%
Uang Muka Pemberi Kerja 692.207 4,13% 494.513 4,73% Pendapatan Diterima di
Muka 11.043 0,07% 77.196 0,74%
Beban Akrual 326.019 1,95% 353.848 3,38%
Utang Retensi 214.287 1,28% 220.811 2,11%
Liabilitas Jangka Pendek 31 Desember 2015 and 2014 (dalam jutaan Rupiah)
Liabilitas Jangka Panjang 2.111 0,01% 0 0,00% Liabilitas Pajak Tangguhan 11.413 0,07% 7.034 0,07%
Uang Muka Pemberi Kerja 84.453 0,50% 48.155 0,46%
Utang Bank dan Surat Utang
Jangka Menengah 504.736 3,01% 113.500 1,09%
Utang Obligasi 1.248.298 7,45% 1.247.628 11,93%
Utang Lain-lain 285 0,002% 400 0,004%
Liabilitas Imbalan Kerja 83.169 0,50% 110.762 1,06%
Utang Sukuk 250.000 1,49% 250.000 2,39%
Jumlah Liabilitas Jangka
Panjang 2.184.469 13,03% 1.777.482 16,99%
JUMLAH LIABILITAS 11.598.931 69,20% 8.818.101 84,31%
EKUITAS
Modal Saham - Nilai
Nominal 0,0001 per Saham 356.084 2,12% 180.132 1,72% Tambahan Modal Disetor 2.587.944 15,44% 50.004 0,48% Selisih Transaksi dengan
Pihak Non Pengendali 3.117 0,02% 3.117 0,03%
Saldo Laba 1.789.884 10,68% 1.398.815 13,37%
Penghasilan Komprehensif Kepentingan Non Pengendali 8.304 0,05% 6.959.023 66,54%
JUMLAH EKUITAS 5.162.131 30,80% 1.640.780 15,69%
JUMLAH LABA DAN EKUITAS 16.761.063 100,00% 10.458.881 100,00%
PT Adhi Karya memiliki aset lancar dengan proporsi hampir 90% dari jumlah asetnya. Hal ini menunjukkan bahwa PT Adhi Karya memiliki likuiditas yang sangat baik. Kemudia, proporsi kas pada tahun 2015 meningkat 18% menjadi 25%, penyumbang terbesar pada aset 2015. Hal ini terjadi karena, pada tahun tersebut, PT Adhi Karya baru saja menerbitkan saham sebanyak 1.7 milliar lembar yang menyumbang dana segar sebesar Rp2.7 trilliun. Selain itu, sebagian besar akun-akun pada bagian aset mengalami penuruan jumlah proporsi diakibatkan kenaikan jumlah kas yang sangat besar.
Kesimpulan
Dari analisis yang kami lakukan, terlihat bahwa perubahan yang cukup signifikan terdapat pada aset lancar dan ekuitas. Perubahan pada keduanya sangat mempengaruhi hasil Analisis Rasio maupun Analisis Vertikal dan Analisis Horizontal.
Pada bagian aset lancar, terdapat tambahan kas sebesar Rp3.5 trilliun (430%) yang mayoritas berasal dari hasil penerbitan saham. Hal ini berakibat pada meningkatnya kemampuan perusahaan untuk membayar utang secara umum.
Kemudian, bagian ekuitas sagat terpengaruh oleh tambahan modal dari penerbitan saham yang menghasilkan Rp2.7 trilliun (1500%). Hal ini berakibat pada menurunnya rasio hasil/pendapatan yang dibandingkan dengan aset atau pun modal secara umum.
Analisis Likuiditas Accounts Receivable Turnover Turun 0.52 kali
Number of Days’ Sales in
Receivables
Turun 8 hari Inventory Turnover Naik 8 kali
Analisis Solvabilitas Working capital Naik Rp2.8 trilliun Current ratio Naik 0.22 kali
Quick Ratio Naik 0.22 kali
Analisis Profitabilitas Ratio of Net Sales to Assets Turun 0.16 kali Rate Earned on Total Assets Turun 0.002 kali
Rate Earned on Stockholders’
Equity
Turun 0.0768 kali Earnings per Share on Common
Stock
Turun Rp50
Price-earnings Ratio Naik 7 kali
Dividends per Share Turun Rp49
Daftar Pustaka
Warren, Carl S., and Reeve, James M., and Duchac, Jonathan E. (2014). Accounting. (25th ed). Mason: South-Western Cengage Learning.
Kasmir, 2015. Analisis Laporan Keuangan. Jakarta: PT RajaGrafindo Persada.