• Tidak ada hasil yang ditemukan

TINJAUAN PUSTAKA Botani Tanaman

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2019

Membagikan "TINJAUAN PUSTAKA Botani Tanaman"

Copied!
7
0
0

Teks penuh

(1)

TINJAUAN PUSTAKA Botani Tanaman

Sistem perakaran tanaman padi adalah akar serabut yang terdiri atas 2

jenis akar yaitu, akar seminal dan akar adventif. Akar seminal yang tumbuh dari

akar primer radikula sewaktu berkecambah dan bersifat sementara, dan akar yang

kedua adalah akar adventif yaitu akar barcabang bebas dan tumbuh dari buku

batang muda bagian bawah, akar adventif tersebut menggantikan akar seminal

(Suharno, 2007).

Tanaman padi mempunyai batang yang beruas-ruas. Rangkaian ruas-ruas

batang padi mempunyai panjang yang berbeda-beda. Pada ruas batang bawah

pendek, semakin ke atas mempunyai ruas batang yang semakin panjang. Ruas

pertama dari atas merupakan ruas yang terpanjang. Ruas batang padi berongga

dan bulat. Di antara ruas batang padi terdapat buku, pada tiap – tiap buku duduk

sehelai daun. Batang baru akan muncul pada ketiak daun, semula berupa kuncup.

Kuncup tersebut mengalami pertumbuhan yang akhirnya menjadi batang baru

(Aksi Agraris Kanisius, 1990).

Daun padi tumbuh pada buku – buku dengan susunan berseling– seling.

Pada tiap buku tumbuh satu daun yang terdiri dari pelepah daun, helai daun,

telinga daun (uricle) dan lidah daun (ligula). Daun yang paling atas memiliki

ukuran terpendek dan disebut daun bendera. Daun keempat dari daun bendera

merupakan daun terpanjang. Jumlah daun pertanaman tergantung varietas.

Varietas unggul umumnya memiliki 14-18 daun (Suparyono dan Setyono, 1993).

(2)

yang terletak pada ujung malai akan keluar terlebih dahulu dan tumbuh lebih

vigour, sehingga cenderung mendominasi dalam menarik fotosintat. Sementara

spikelet yang terletak pada pangkal malai akan keluar terakhir dan

pertumbuhannya cenderung lemah, sehingga kalah berkompetensi dalam menarik

fotosintat. Akibatnya pengisian biji tidak penuh dan spikelet tidak bernas (steril)

yang pada akhirnya akan menghasilkan gabah hampa (Sumardi, dkk, 2007).

Bulir – bulir padi terletak pada cabang pertama dan cabang kedua,

sedangkan sumbu utama malai adalah ruas buku yang terakhir pada batang.

Panjang malai tergantung varietas padi yang ditanam dan cara bercocok tanam.

Jumlah cabang pada setiap malai berkisar antara 15-20 buah, yang paling rendah

7 buah cabang, dan yang terbanyak mencapai 30 buah cabang (Rahayu, 2009).

Biji padi sebagian besar terdapat endosperm yang mengandung zat tepung

dan sebagian ditempati oleh embryo (lembaga) yang terletak di bagian sentral

yakni di bagian lemma. Endosperm umumnya terdiri dari zat tepung yang diliputi

oleh selaput protein. Endosperm juga mengandung zat gula, lemak, serta zat-zat

anorganik (Norsalis, 2011).

Syarat Tumbuh Iklim

Lingkungan yang mempengaruhi tanaman adalah lingkungan yang

terdapat dekat di sekitar tanaman yang disebut lingkungan makro. Faktor ini dapat

bervariasi untuk setiap tempat tumbuh sehingga memberi pengaruh yang berbeda

(3)

Padi gogo memerlukan air sepanjang pertumbuhannya dan kebutuhan air

tersebut hanya mengandalkan curah hujan. Tanaman padi memerlukan curah

hujan yang baik, rata – rata 200 mm/bulan atau lebih, dengan distribusi selama

4 bulan. Sedangkan curah hujan yang dikehendaki per tahun sekitar 1500 –

2000 mm (Aksi Agraris Kanisius, 1990).

Temperatur sangat mempengaruhi pengisian biji padi. Tanaman padi dapat

tumbuh dengan baik pada suhu 230

Menurut Babu etai (1996) kekeringan merupakan salah satu kendala utama

produksi padi, selain itu juga berpengaruh terhadap stabilitas hasil. Sepuluh kasus

yang menyebabkan turunnya hasil padi secara berturut turut dan yang tertinggi

yaitu kekeringan di persemaian, kekeringan pada stadia vegetatif, kekeringan pada

masa pembungaan, gulma, penggenangan (banjir), kerebahan, bias, hama

penggerek batang, kahat hara Zn, dan penyakit hawar daun. Kekeringan pada

ketiga masa pertumbuhan padi yang disebabkan oleh faktor iklim/cuaca yang

tidak menentu lebih mempersulit usaha penanggulangan penurunan produksi. C ke atas. Temperatur yang rendah dan

kelembaban yang tinggi pada waktu pembungaan akan mengganggu proses

pembuahan yang mengakibatkan gabah menjadi hampa. Hal ini terjadi akibat

tidak membukanya bakal biji. Temperatur yang rendah pada waktu pengisian biji

juga dapat menyebabkan rusaknya pollen dan menunda pembukaan tepung sari

(Luh, 1991).

Angin mempunyai pengaruh positif dan negatif terhadap tanaman padi.

Pengaruh positifnya terutama pada proses penyerbukan dan pembuahan. Tetapi

(4)

saat tanaman berbunga, buah dapat menjadi hampa dan tanaman roboh. Hal ini

akan lebih terasa lagi apabila penggunaan pupuk N berlebihan, sehingga tanaman

tumbuh terlalu tinggi (Pustaka Departemen Pertanian, 2009).

Tanah

Padi gogo harus ditanam di lahan yang berhumus, struktur remah dan

cukup mengandung air dan udara, tanah yang cocok bervariasi mulai dari yang

berliat, berdebu halus, berlempung halus sampai tanah kasar dan air yang tersedia

diperlukan cukup banyak. Sebaiknya tanah tidak berbatu, jika ada harus < 50%

(Rahayu, 2009).

Padi dapat tumbuh baik pada tanah yang ketebalan lapisan atasnya antara

18 - 22 cm dengan pH tanah berkisar antara 4 – 7. Pada lapisan tanah atas untuk

pertanian pada umumnya mempunyai ketebalan antara 10-30 cm dengan warna

tanah coklat sampai kehitam-hitaman dan tanah tersebut merupakan tanah yang

gembur. Sedangkan kandungan air dan udara di dalam pori-pori tanah

masing-masing 25% (Aksi Agraris Kanisius, 1990).

Varietas Padi Gogo

Perbedaan susunan genetik merupakan salah satu faktor penyebab

keragaman penampilan tanaman. Program genetik yang diekspresikan pada

berbagai sifat tanaman yang mencakup bentuk. dan fungsi tanaman yang

menghasilkan keragaman pertumbuhan tanaman. Keragaman penampilan tanaman

akibat perbedaan susunan genetik selalu mungkin terjadi sekalipun

bahan tanaman yang digunakan berasal dari jenis tanaman yang sama

(5)

Di satu sisi, upaya peningkatan produksi padi dihadapkan kepada berbagai

kendala dan masalah, antara lain: penurunan produktivitas lahan, penyimpangan

iklim, serta cekaman biotik dan abiotik. Di sisi lain, teknologi hasil penelitian

belum banyak dimanfaatkan petani. Padahal, teknologi tersebut diharapkan dapat

mengatasi sebagian masalah yang dihadapi dalam berproduksi. Di antara

teknologi yang dihasilkan melalui penelitian, varietas unggul memberikan

sumbangan yang nyata terhadap peningkatan produksi padi. Dalam penelitian

telah menunjukkan bahwa penanaman varietas unggul menyumbang 5% terhadap

peningkatan produksi padi (Badan penelitian dan pengembangan pertanian, 2007).

Varietas unggul merupakan salah satu komponen teknologi yang memiliki

peran nyata dalam menungkatkan produksi dan kualitas hasil komoditas pertanian.

Selama ini sumbangan varietas unggul terhadap peningkatan produksi padi

nasional cukup besar (Soewito, dkk, 1995).

Beberapa varietas unggul padi gogo yang telah banyak dikenal dan

ditanam petani adalah Situ Bagendit, Situ Patenggang, Towuti, Limboto,

Singkarak dan sebagainya dengan umur panen kisaran 110 – 120 hari

(Yusuf, 2009).

Dalam penelitian Alreza (2011), pertumbuhan tanaman padi gogo

berlangsung cepat mulai 21 hari setelah tanam hingga 28 hari setelah tanam,

namun setelah berumur 35 hari pertumbuhan mulai melambat sampai inisiasi

primodia bunga. Hal ini dikarenakan pada fase vegetatif pertumbuhan tanaman

selain perpanjangan batang juga terpusat untuk memunculkan anakan.

(6)

Jumlai malai ditentukan oleh faktor genetik dan lingkungan dimana untuk

masing – masing varietas mempunya keunggulan tersendiri, seperti pada varietas

Towuti memiliki keunggulan dan jumlah malai per tanaman. Jumlah malai per

tanaman juga dipengaruhi oleh ketersediaan air yang cukup dan suhu yang rendah

pada fase pembungaan. Sebaiknya temperatur rendah pada masa berbunga, karena

berpengaruh baik bagi pertumbuhan dan hasil akan lebih tinggi.

Pupuk Organik Cair

Pupuk cair GNO merupakan pupuk cair organik yang terbuat dari urine

kambing yang telah disterelisasikan sebagai bahan dasar dan campuran bahan

alami lainnya. Pupuk organik ini mengandung komposisi unsur hara esensial yang

dibutuhkan tanaman. Pupuk ini sangat baik untuk semua jenis tanaman

hortikultura, tanaman pangan dan perkebunan. Dari hasil analisis, pupuk cair ini

mengandung N-total 3,71%, P2O5 2,69%, K2O 1,80 %, C-organik 1,16 %, Cu

0,60 ppm, Zn 10,40 ppm, Co 7,90 ppm, Mn 12,80 ppm, Pb 4,20 ppm,

B 169,2 ppm. Pupuk ini berfungsi untuk merangsang pertumbuhan tunas-tunas

baru, merangsang pembentukan bunga, pembesaran buah dan umbi,

meningkatkan produksi dan memperbaiki kualitas hasil panen berupa buah dan

umbi.

Dalam penelitian Siregar (2009), pemberian pupuk organik cair pada

tanaman kedelai berpengaruh nyata yaitu pada tinggi tanaman 4 MST, 5 MST,

6 MST dan 7 MST tetapi belum berpengaruh nyata terhadap semua komponen

hasil yaitu jumlah polong per tanaman, bobot biji per tanaman, dan bobot 100 biji.

Hal ini diduga karena pupuk yang diberikan mampu menyediakan kebutuhan

(7)

pertumbuhan tanaman. Salah satu sifat pupuk organik adalah diperlukan dalam

jumlah yang sangat banyak untuk dapat memenuhi kebutuhan unsur hara.

Penelitian Rosmarkam, dkk (2002) menunjukkan bahwa pemberian pupuk organik

terutama pupuk organik yang belum masak akan terlihat setelah beberapa tahun,

sehingga pada penelitian ini diduga pengaruh positif dari kompos kascing belum

dapat terlihat optimal karena pupuk organik tidak dpat berpengaruh seketika itu

juga untuk mendukung pertumbuhan dan produksi tanaman.

Menurut Litbang Deptan (2010), selain takaran dan bentuk pupuk, waktu

dan cara pemupukan juga berperan penting dalam meningkatkan efisiensi

penggunaan pupuk. Waktu dan cara pemupukan berkaitan erat dengan laju

pertumbuhan tanaman dimana hara dibutuhkan oleh tanaman dan kehilangan

pupuk (dapat terjadi melalui proses pencucian, penguapan dan fiksasi).

Banyak unsur hara yang diserap oleh tanaman melalui daun. Penyerapan

unsur hara oleh daun ternyata lebih cepat dan lebih sempurna. Ada beberapa

kesukaran dalam penggunaan pupuk yang disemprotkan melalui daun, yaitu

pinggir daun terbakar karena larutan terlalu pekat, hara yang dapat diberikan pada

saat pemberian rendah sehingga perlu diberikan beberapa kali untuk dosis pupuk

sedang dan tinggi, dan biaya per satuan hara tinggi walaupun digabungkan dengan

keperluan lainnya misalnya penggunaan bersama-sama dengan pestisida

Referensi

Dokumen terkait

Tanaman kedelai mempunyai dua bentuk daun yang dominan, yaitu stadia kotiledon yang tumbuh saat tanaman masih berbentuk kecambah dengan dua helai daun tunggal dan daun bertangkai

Tanaman kedelai dapat tumbuh baik di daerah yang memiliki curah hujan sekitar 100-400 mm/bulan (Sugeno, 2008). Tanaman kedelai sebagian besar tumbuh di daerah beriklim tropis dan

Kebutuhan air tanaman menurut Doorenbos dan Pruitt (1977) adalah air yang hilang oleh evapotranspirasi dari tanaman yang bebas penyakit, tumbuh di lapangan luas

Pada prinsipnya, terdapat tiga faktor utama yang mempengaruhi pembungaan, yaitu : (1) adanya hormon pembungaan atau florigen atau produksi stimulus pembungaan pada daun

Penghentian pemberian air pada umur 60 hari yaitu pada saat keadaan cuaca sangat kering dan panas dimana panen daun tembakau dilakukan pada umur 71 hari mengakibatkan

Bunga pada tanaman kedelai umumnya muncul/tumbuh pada ketiak daun, yakni setelah buku kedua, tetapi terkadang bunga dapat pula terbentuk pada cabang tanaman yang mempunyai daun..

Pada kisaran tersebut produksi pucuk daun teh optimal tercapai pada saat tanaman berumur tujuh tahun, sedangkan jika ketinggian permukaan lebih dari 1 200 m dpl produksi pucuk daun

Stadia 3,0 Daun ke-12 telah tumbuh sempurna, empat helai daun terbawah mulai coati, batang dan calon btinga jantan tumbuh dengan cepat, akar udara mulai tumbuh pada buku pertama di atas