• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB IV PENATAUSAHAAN PNBP PADA SATUAN KERJA - MODUL PNBP SATKERBABIV

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "BAB IV PENATAUSAHAAN PNBP PADA SATUAN KERJA - MODUL PNBP SATKERBABIV"

Copied!
6
0
0

Teks penuh

(1)

MODUL PENATAUSAHAAN PENERIMAAN NEGARA BUKAN PAJAK (PNBP) 22

BAB IV

PENATAUSAHAAN PNBP PADA SATUAN KERJA

A. KEWAJIBAN SATUAN KERJA DALAM PENATAUSAHAAN PNBP

Setiap kementerian negara/lembaga wajib melaksanakan penatausahaan dan

akuntansi piutang PNBP yang menjadi tanggung jawabnya, sehingga piutang PNBP

dapat disajikan dalam laporan keuangan dan adminsitrasinya seperti penerbitan

surat penagihan dan surat keterangan tanda lunas untuk sewa beli rumah dinas.

Tujuan penatausahaan dan akuntansi piutang PNBP adalah :

1. Menyediakan informasi yang akurat dan tepat waktu mengenai piutang.

2. Mengamankan transaksi piutang PNBP melalui pencatatan, pemrosesan dan

pelaporan transaksi keuangan.

B. TATA CARA PEMUNGUTAN DAN PENCATATAN

1.Tata Cara Pemungutan

Pemungutan PNBP dilakukan berdasarkan tarif yang telah ditetapkan oleh

Menteri/Pimpinan yang bersangkutan setelah mendapat persetujuan Menteri

Keuangan.

Sistem pemungutan PNBP mempunyai ciri dan corak tersendiri dan dapat dibagi

dalam 2 (dua) kelompok sehubungan dengan penentuan jumlah PNBP yang

terhutang, yaitu ditetapkan oleh instansi pemerintah (official assesment) atau

dihitung sendiri oleh wajib bayar (self assesment). Untuk jenis PNBP yang

menjadi terhutang sebelum wajib bayar menerima manfaat atas kegiatan

pemerintah, seperti pemberian hak paten, pelayanan pendidikan, maka

penentuan jumlah PNBP yang terhutang dalam hal ini ditetapkan oleh instansi

(2)

MODUL PENATAUSAHAAN PENERIMAAN NEGARA BUKAN PAJAK (PNBP) 23

menerima manfaat, seperti pemanfaatan sumber daya alam, maka penentuan

jumlah PNBP yang terhutang dapat dipercayakan kepada wajib bayar yang

bersangkutan untuk menghitung sendiri dalam rangka membayar dan

melaporkan sendiri (self assessment).

Pemungutan PNBP pada Satuan Kerja kementerian lembaga/negara dapat

dilakukan oleh Bendahara Penerimaan yang diangkat oleh Kepala Satuan Kerja

selaku Kuasa Pengguna Anggaran. Bendahara Penerimaan mempunyai fungsi

menagih/memungut, menerima, menyimpan, menyetorkan, membukukan dan

melaporkan/mempertanggungjawabkan PNBP. Wewenang bendahara penerimaan

adalah menagih/memungut PNBP yang harus dibayar oleh wajib bayar, yang

tarif jumlahnya telah ditentukan berdasarkan peraturan yang berlaku.

Penunjukan Bendahara Penerimaan dan PNBP dapat disetorkan ke Rekening

Bendahara Penerimaan dalam hal didaerah tersebut tidak terdapat Bank/Pos

Persepsi atau pelayanan Satuan Kerja pada hari libur yang tidak memungkinkan

disetor ke Kas Negara. Bendahara Penerimaan dapat membuka rekening

penerimaan pada Bank Umum setelah mendapat persetujuan Bendahara Umum

Negara. Saldo pada rekening penerimaan wajib disetorkan ke Rekening Kas

Negara pada Bank/Pos Persepsi pada setiap akhir hari kerja. Apabila didaerah

tersebut tidak terdapat Bank/Pos Persepsi maka disetorkan pada hari kerja

berikutnya.

2.Tata Cara Pencatatan

Satuan Kerja penerima PNBP menerima Surat Setoran Bukan Pajak (SSBP) baik

yang berasal dari Wajib Pajak atau melalui potongan SPM maupun dari setoran

Bendahara Penerimaan. Satuan Kerja melakukan pencatatan melalui Sistem

Akuntansi Instansi (SAI). Pencatatan dilakukan sesuai petunjuk yang ada pada

aplikasi SAI.

Untuk pencatatan setoran PNBP yang dipotong melalui SPM LS kepada

Bendahara Pengeluaran, pencatatan adalah sebesar nilai bruto SPM LS pada

(3)

MODUL PENATAUSAHAAN PENERIMAAN NEGARA BUKAN PAJAK (PNBP) 24

Apabila PNBP dikelola oleh Bendahara Pengeluaran, pencatatan PNBP tersebut

dilakukan sebagai berikut:

a. Secara prinsip Bendahara Penerima dilarang menerima uang tunai secara

langsung dari wajib bayar.

b. Dalam hal Bendahara Penerima menerima secara langsung dari wajib bayar,

maka Bendahara Penerima memberikan surat bukti. Selanjutnya Bendahara

Penerima menyetorkan ke Rekening Kas Negara pada akhir hari kerja.

C. TATA CARA PENGEMBALIAN PNBP

PNBP yang telah disetor ke Kas Negara oleh Wajib Bayar/Wajib Setor dapat

dikembalikan kepada Wajib Bayar/Wajib Setor apabila terdapat kelebihan setor

dan/atau kesalahan penyetoran maupun kelebihan/kesalahan pemotongan dalam

Surat Perintah Membayar. Tata Cara Pengembalian PNBP berpedoman kepada

Surat Edaran Direktur Jenderal Perbendaharaan Nomor SE-37/PB/2005 dan

petunjuk pelaksanaannya sebagai berikut :

1. Pengguna Anggaran/Kuasa Pengguna Anggaran penerima PNBP mengajukan

Surat Permintaan Pembayaran Pengembalian kepada Kantor Pelayanan

Perbendaharaan Negara (KPPN) dalam rangkap 3 (tiga) dengan melampirkan:

a. Bukti setor (SSBP/fotokopi SPM lembar ke-2) yang telah dilegalisir oleh

Kepala Satuan Kerja/Satker yang bersangkutan.

b. Surat Ketetapan Pengembalian dari Kepala Satker tentang jumlah yang

dimintakan pengembaliannya.

2. Berdasarkan Surat Permintaan Pembayaran Pengembalian tersebut, KPPN

cq.Seksi Verifikasi dan Akuntansi memeriksa kebenaran setoran tersebut.

Apabila setoran tersebut telah masuk ke Kas Negara, maka Seksi Verifikasi

dan Akuntansi menerbitkan Surat Keterangan Telah Dibukukan (SKTB).

3. Berdasarkan SKTB tersebut, Kepala KPPN menerbitkan Surat Persetujuan

Pembayaran Pengembalian dalam rangkap 3 (tiga)dengan peruntukan:

a. Lembar ke-1 dan ke-2 untuk penerbit SPM.

(4)

MODUL PENATAUSAHAAN PENERIMAAN NEGARA BUKAN PAJAK (PNBP) 25

4. Apabila setoran diterima dan dibukukan oleh KPPN yang bukan mitra kerja

Satker yang bersangkutan, maka KPPN terlebih dahulu meminta SKTB dari

KPPN penerima setoran.

5. Kepala KPPN menyampaikan Surat Persetujuan Pembayaran Pengembalian

kepada PA/KPA dilampiri SKTB.

6. Satker penerima PNBP menerbitkan Surat Perintah Membayar (SPM)

Pengembalian PNBP dalam rangkap 3 (tiga) dengan peruntukan :

a. Lembar ke-1 dan ke-2 disampaikan ke KPPN.

b. Lembar ke-3 sebagai pertinggal Satker.

Dilampiri : SKTB dan Surat Persetujuan Pembayaran Pengembalian.

7. Dalam hal PNBP yang dimintakan pengembalian merupakan PNBP yang disetor

dalam tahun anggaran berjalan, KPPN menerbitkan Surat Perintah Pencairan

Dana (SP2D) sesuai ketentuan.

8. Namun apabila PNBP yang dimintakan pengembalian merupakan PNBP yang

disetor tahun anggaran lalu, KPPN meneruskan Surat Permintaan Pembayaran

Pengembalian, SKTB dan Surat Persetujuan Pembayaran Pengembalian ke

Kantor Pusat cq.Direktorat Pengelolaan Kas Negara. Selanjutnya Direktorat

Pengelolaan Kas Negara menerbitkan SPM dan SP2D sesuai ketentuan.

D. TATA CARA KOREKSI/PERBAIKAN PNBP

1. Terhadap PNBP yang telah disetor ke Kas Negara dapat dilakukan

perbaikan/koreksi. Koreksi/perbaikan Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP)

tersebut dilakukan atas:

a. Kesalahan kode Akun (Mata Anggaran Penerimaan);

b. Kesalahan kode unit organisasi;

c. Kesalahan fungsi, subfungsi, dan program;

d. Kesalahan lain yang tidak mempengaruhi kas.

2. Permintaan koreksi/perbaikan terkait dengan Penerimaan Negara Bukan Pajak

(5)

MODUL PENATAUSAHAAN PENERIMAAN NEGARA BUKAN PAJAK (PNBP) 26

PNBP, Bank/Pos Persepsi, Kantor Pusat Direktorat Jenderal

Perbendaharaan/KPPN atau Direktorat Jenderal Anggaran kepada KPPN.

3. Berdasarkan permintaan koreksi/perbaikan tersebut, Kepala Seksi

Persepsi/Bendahara Umum KPPN menerbitkan Nota Penyesuaian untuk

mendapatkan persetujuan Kepala KPPN.

4. Nota Penyesuaian yang telah mendapat persetujuan Kepala KPPN berfungsi

sebagai dokumen sumber transaksi koreksi/perbaikan. Selanjutnya petugas

Supervisor/Operator Seksi Persepsi/Bendahara Umum melakukan perbaikan

data.

5. KPPN mengirim hasil perbaikan kepada Satuan Kerja penerima PNBP.

6. Permintaan perbaikan/koreksi PNBP yang diajukan oleh Wajib Bayar/Wajib

Setor wajib dilakukan melalui Satker penerima PNBP, untuk selanjutnya Satker

mengajukan permintaan perbaikan/koreksi ke KPPN.

E. TATA REKONSILIASI DENGAN BUN

Dokumen yang harus ditatausahakan oleh Bendahara Penerima pada

penatausahaan pendapatan negara pada kantor/satuan kerja di lingkungan

kementerian/lembaga adalah dokumen sumber penerimaan. Sesuai Peraturan

Direktur Jenderal Perbendaharaan Nomor PER-78/PB/2006, yang dimaksud

dengan dokumen sumber penerimaan yang selanjutnya disebut dokumen sumber

adalah dokumen yang digunakan sebagai dasar pencatatan penerimaan negara.

Seluruh dokumen sumber penerimaan negara dinyatakan sah setelah mendapat

Nomor transaksi Penerimaan Negara (NTPN) dan Nomor Transaksi Bank

(NTB)/Nomor Transaksi Pos (NTP)/Nomor Penerimaan Potongan (NPP). NTPN

adalah nomor yang tertera pada bukti penerimaan negara yang diterbitkan melalui

MPN.

NTB adalah nomor bukti transaksi penyetoran penerimaan negara yang

diterbitkan oleh Bank. NTP adalah nomor bukti transaksi penyetoran penerimaan

(6)

MODUL PENATAUSAHAAN PENERIMAAN NEGARA BUKAN PAJAK (PNBP) 27

penerimaan negara yang berasal dari potongan SPM yang diterbitkan oleh KPPN.

KPPN mengesahkan data penerimaan yang berasal dari potongan SPM yang sudah

diterbitkan SP2D untuk mendapatkan NTPN paling lambat setiap akhir hari

kerja.

Ketentuan tentang tatacara penyampaian laporan realisasi PNBP diatur dalam

pasal 8 Peraturan Menteri Keuangan Nomor 99/PMK.06/2006 yang menyebutkan

bahwa Satuan kerja selaku Kuasa Pengguna Anggaran wajib menyampaikan

pertanggungjawaban penerimaan negara dalam bentuk Laporan Realisasi Anggaran

yang dihasilkan melalui Sistem Akuntansi Instansi. Dengan demikian Satuan Kerja

Referensi

Dokumen terkait

Maka, sistem perpajakan dapat disebut juga sebagai metode pengelolaan pajak yang terutang oleh wajib pajak agar dapat mengalir ke kas negara berdasarkan peraturan

Penerimaan PPN berasal dari PPN terutang yang wajib disetorkan ke kas negara oleh PKP yang dalam penghitungan pajaknya terjadi Pajak Kurang Bayar (Pajak Keluaran lebih besar

Menyetorkan sumbangan yang dilarang ke kas Negara; * dan Apabila terdapat Partai Politik Peserta Pemilu menerima sumbangan yang dilarang maka wajib mematuhi ketentuan sebagai

Apabila dikemudian hari terdapat kelebihan atas pembayaran tersebut, kami bersedia untuk menyetor kelebihan tersebut ke Kas Negara. Demikian pernyataan ini kami buat

Penyetoran biaya Pendapatan Negara Bukan Pajak (PNBP) ke Kas Negara dan pengadministrasiannya dilakukan secara tertib, penyetorannya sesuai dengan Pasal 3 PP.No,53 Tahun

Maka, sistem perpajakan dapat disebut juga sebagai metode pengelolaan pajak yang terutang oleh wajib pajak agar dapat mengalir ke kas negara berdasarkan peraturan perundang- undangan